Anda di halaman 1dari 14

NASKAH SEMINAR TUGAS AKHIR

Kuat Tekan Beton dengan Pasir Besi Sebagai Bahan Tambah Pengganti Semen
(Cementitious)1

(Compressive Strength Concrete with Iron Sand Of Additives For Cement Substitute)

Created by SURYA HADI, AHMAD2


ABSTRAK :
Untuk memproduksi beton berkinerja tinggi (high performance) diperlukan bahan
halus yang ditentukan oleh ASTM sebagai subsitusi semen untuk mengurangi porositas
beton. Pasir besi yang mempunyai komposisi SiO2 = 40,32%, Fe203 = 27,61%, Na2O =
6,58%, NaCl = 0,09%, dan ukuran butiran 80-100 mesh berpotensi untuk digunakan sebagai
bahan pengganti semen dalam produksi beton berkinerja tinggi.
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pemakaian pasir besi
dalam campuran beton terhadap kuat tekan, berat jenis yang dihasilkan dan nilai slumpnya.
Subsitusi pasir besi dalam campuran beton diambil mulai dari 10%, 20%, 30%, 40%, dan
50% dari berat semen. Sampel pengujian dipakai pada silinder beton dengan ukuran
diameter 7,5 cm dan tinggi 15 cm. Untuk mengetahui kuat tekan beton optimum dan berat
jenis beton dilakukan pengujian kuat tekan pada umur 28 hari.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pemakaian pasir besi sebagai pengganti
semen dalam campuran beton cenderung mengalami penurunan kuat tekan beton, berturut-
turut kuat tekan beton rata-rata mulai dari beton normal, 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50%
pasir besi adalah 34,271 MPa; 35,269 MPa; 39,922 MPa; 24,271 MPa; 21,490 MPa; 19,281
MPa. Untuk pengujian berat jenis beton, setiap penambahan prosentae pasir besi
menyebabkan terjadinya kenaikan berat jenis beton berturut-turut mulai dari beton normal,
10%, 20%, 30%, 40%, dan 50% pasir besi adalah 2,356 gr/cm3; 2,397 gr/cm3; 2,409 gr/cm3;
2,442 gr/cm3; 2,461 gr/cm3; dan 2,496 gr/cm3, atau mengalami kenaikan rata-rata 1,147%.
Sedangkan untuk nilai slump beton rata-ratanya relatif meningkat, berturut-turut 30mm,
50mm, 160mm, 150mm, 180mm, dan 190mm.
Subject : Beton
Kata kunci : kuat tekan, berat jenis, pasir besi.

1
Naskah disampaikan pada seminar tugas akhir pada tanggal november 2010
2
Mahasiswa teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, NIM 20060110049
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu hasil dari sumber daya alam yang banyak di Indonesia yaitu pasir besi.
Secara umum pasir besi merupakan salah satu bahan baku dasar dalam industri besi baja
dimana keterdapatannya banyak dijumpai di daerah pesisir seperti di pesisir Jawa,
Sumatra, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Selain sebagai bahan baku industri besi baja,
pasir besi juga dapat dimanfaatkan pada industri semen, karena pasir besi mengandung
kadar Fe2O3, SiO2, MgO dan lain – lain.
Dalam usaha untuk menciptakan alternatif dan inovatif, maka pemanfaatan pasir
besi dapat diterapkan dalam pembuatan beton dalam bidang bahan bangunan. Untuk
memproduksi beton berkinerja tinggi diperlukan bahan halus yang ditentukan oleh ASTM
sebagai substitusi semen untuk mengurangi porositas beton. Pasir besi yang mempunyai
kandungan FeO2, SiO2, Na2O dan ukuran butiran 80 – 100 mesh berpotensi untuk
digunakan sebagai pengganti semen (cementitious) dalam produksi beton berkinerja
tinggi (high performance).
B. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah ;
1. Untuk mengetahui pengaruh pemakaian agregat pasir besi sebagai pengganti semen
(cementitious) dalam campuran beton terhadap kuat tekan beton.
2. Mengetahui pengaruh penggunaan pasir besi terhadap berat jenis beton dalam setiap
pengujian.
3. Mengetahui pengaruh penggunaan pasir besi terhadap nilai slump.

C. Batasan Masalah
Batasan-batasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Menggunakan FAS (faktor air semen) sebesar 0,32
2. Pasir besi sebagai bahan subsitusi pengganti semen (cementitious) berasal dari Pantai
Trisik, kabupaten kulon progo (pesisir selatan jawa) dan lolos saringan no 0,15 mm,
3. Penggunaan pasir besi sebagai pengganti semen (cementitious) sebesar 10%, 20%,
30%, 40%, dan 50% dari berat semen, dan sebagai pembanding yaitu beton normal
(0% pasir besi)
4. Penelitian menggunakan benda uji yang berupa silinder dengan ukuran diameter 7,5
cm dan tinggi 15 cm, dengan sampel 5 buah per setiap proporsi penggunaan pasir
besi.
5. Pengujian kuat tekan beton dilakukan pada umur 28 hari.
6. Metode perancangan beton yaitu dengan metode Standar Nasional Indonesia (SK.SNI
03-xxxx-2002)

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Umum
Beton adalah campuran antara semen Portland atau sembarang semen hidrolik yang
lain, agregat halus, agregat kasar, dan air dengan atau tanpa menggunakan bahan
tambahan (mulyono, 2005), Sedangkan menurut (Nawy 1985, dalam Mulyono, 2005),
beton didefenisikan sebagai sekumpulan interaksi mekanis dan kimiawi dari material
pembentuknya.
B. Kelebihan dan Kekurangan Beton
Kelebihan beton antara lain adalah :
1. Harganya relatif murah.
2. Beton termasuk bahan yang berkekuatan tekan tinggi.
3. Beton segar dapat dengan mudah diangkut maupun dicetak dalam bentuk apapun dan
ukuran seberapapun tergantung keinginan.
4. Kuat tekannya yang tinggi mengakibatkan jika dikombinasikan dengan baja tulangan
(yang kuat tariknya tinggi) dapat dikatakan mampu dibuat untuk struktur berat.
5. Beton segar dapat disemprotkan dipermukaan beton lama yang retak maupun diisikan
kedalam retakan beton dalam proses perbaikan.
6. Beton segar dapat dipompakan sehingga memungkinkan untuk dituang pada tempat-
tempat yang posisinya sulit.
7. Beton termasuk tahan aus dan tahan kebakaran.
Kekurangan beton antara lain :
1. Beton mempunyai kuat tarik yang rendah, sehingga mudah retak.
2. Beton segar mengerut saat pengeringan dan beton keras mengembang jika basah.
3. Beton keras mengembang dan menyusut bila terjadi perubahan suhu.
4. Beton sulit untuk dapat kedap air secara sempurna.
5. Beton bersifat getas ( tidak daktail ).
C. Bahan Penyusun Beton
1. Semen Portland
Semen portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara
menghaluskan klinker yang terutama terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat
hidrolis dengan gips sebagai bahan tambah ( PUBI-1982 ) dalam Tjokrodimuljo,
1996.
2. Agregat
Agregat adalah butiran mineral alami yang berfungsi sebagai bahan pengisi
dalam campuran mortar/beton. Agregat ini kira-kira menempati sebanyak 70%
volume mortar/beton. Walaupun namanya hanya sebagai bahan pengisi, akan tetapi
agregat sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat mortar/beton sehingga pemilihan
agregat merupakan suatu bagian penting dalam pembuatan mortar/beton (
Tjokrodimuljo, 1996 ).
3. Air
Air diperlukan untuk bereaksi dengan semen sehingga terjadi reaksi kimia
yang menyebabkan pengikatan dan berlangsungnya proses pengerasan pada beton,
serta untuk menjadi bahan pelumas antara butir-butir agregat agar mudah dikerjakan
dan dipadatkan. Untuk bereaksi dengan semen, air hanya diperlukan 25% dari berat
semen saja. Selain itu, air juga digunakan untuk perawatan beton dengan cara
pembahasan setelah di cor (Tjokrodimujo, 1996).
4. Bahan Tambah
Bahan tambah adalah suatu bahan berupa bubuk atau cairan yang ditambahkan
kedalam campuran adukan beton selama pengadukan, dengan tujuan untuk mengubah
sifat adukan atau betonnya baik pada saat masih segar maupun setelah mengeras
(Tjokrodimuljo,1996).
D. Pasir besi
Secara umum pasir besi terdiri dari mineral opak yang bercampur dengan butiran-
butiran dari mineral non logam seperti kuarsa, kalsit, feldspar, ampibol, piroksen, biotit,
dan tourmalin. Mineral tersebut terdiri dari magnetit, titaniferous magnetit, ilmenit,
limonit, dan hematit. Titaniferous magnetit adalah bagian yang cukup penting merupakan
ubahan dari magnetit dan ilmenit. Mineral bijih pasir besi terutama berasal dari batuan
basaltik dan andesitik volkanik.
Kegunaan pasir besi selain untuk industri logam besi juga dapat dimanfaatkan pada
industri semen, peranan pasir besi dalam proses produksi semen adalah sebagai pengatur
suhu saat terbentuknya klingker semen, (Tjokrodimuljo, 2007).

III.LANDASAN TEORI
A. Kuat Tekan Beton
Kuat tekan beton mengidentifikasikan mutu dari sebuah struktur. Semakin tinggi
tingkat kekuatan struktur yang dikehendaki, semakin tinggi pula mutu beton yang
dihasilkan. Kekuatan tekan beton adalah perbandingan beban terhadap luas penampang
beton. Kuat tekan silinder beton dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

P
f’c =
A ……………………………………………………… (1)
Dengan : f’c = Kuat tekan silinder beton
P = Beban maksimum
A = Luas penampang benda uji
Berdasarkan kuat tekannya, beton dapat dibagi menjadi beberapa jenis seperti
terlihat dalam Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Jenis beton menurut kuat tekannya

Jenis beton Kuat tekan (MPa)


Beton sederhana (plain concrete) Sampai 10 MPa
Beton normal (beton biasa) 15 – 30 MPa
Beton pra tegang 30 – 40 MPa
Beton kuat tekan tinggi 40 – 80 MPa
Beton kuat tekan sangat tinggi > 80 MPa
Sumber : Tjokrodimuljo, 2007
B. Faktor Air Semen ( FAS )
Faktor air semen berpengaruh terhadap proses hidrasi, sehingga untuk mengatasi
retak-retak pada pembentukan beton dengan mengatur faktor air semen yang dipakai. Jika
suatu adukan (spesi) beton terlalu banyak mengandung air maka volume pori-pori akan
bertambah, akibatnya beton lebih berpori sehingga kekuatan beton menjadi berkurang.
C. Berat Jenis
Berat jenis digunakan untuk menentukan volume yang diisi oleh agregat. Berat
jenis dari agregat pada akhirnya akan menentukan berat jenis dari beton sehingga secara
langsung menentukan banyaknya campuran agregat dalam campuran beton.

D. Nilai Slump
Nilai slump merupakan pengukuran terhadap tingkat kelecakan (cair atau kental)
suatu campuran beton, yang berguna untuk memprediksi tingkat kemudahan pengerjaan
beton. Semakin besar nilai slump berarti betonnya encer, maka adukan beton semakin
mudah untuk dikerjakan, akan tetapi mutu beton yang dihasilkan kurang baik. Sebaliknya
semakin kecil niali slump berarti betonnya kental dan pengerjaan beton akan semakin
sulit.
E. Perencanaan Campuran Beton
Tujuan dari perancangan campuran beton adalah untuk menentukan jumlah
komposisi yang tepat antara semen, agregat halus dan agregat kasar, air dan dengan atau
tanpa bahan tambah.
F. Perawatan
Perawatan beton ialah suatu tahap akhir pekerjaan pembetonan, yaitu menjaga
agar permukaan beton segar selalu lembab, sejak dipadatkan sampai proses hidrasi cukup
sempurna (Tjokrodimuljo,1996).

IV. METODE PENELITIAN


A. Bagan Alir Penelitian
Pelaksanaan penelitian sesuai dengan bagan alir penelitian pada Gambar 4.1.

Mulai

Persiapan Alat dan Bahan

Pemeriksaan Bahan Susun


Beton : Agregat Halus, Agregat
Kasar, pasir besi

tidak
Memenuhi
Syarat

ya

Perancangan campuran

Pengadukan bahan susun beton

Pengujian slump

Pembuatan dan perawatan


benda uji beton

Pengujian Benda Uji : (uji berat jenis


beton, uji kuat tekan beton)

Analisa Hasil dan Hitungan

Selesai

Gambar 4.1 Bagan Alir Penelitian


B. Bahan Penelitian
Bahan-bahan penyusun campuran beton yang akan digunakan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
1.Semen portland normal (Tipe I) merek Tiga Roda kapasitas 40 kg,
2.Agregat kasar berupa agregat yang dipecah (split) asal Clereng, Kulon Progo,
3.Agregat halus berupa agregat alami asal Sungai Progo
4.Agregat pasir besi dari Pantai Trisik Kabupaten Kulon Progo (pesisir selatan jawa)
5.Air diambil dari Laboratorium Teknologi Bahan Konstruksi Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
C. Alat- Alat yang Digunakan
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini dari mulai pemeriksaan bahan dan
pengujian benda uji, antara lain :
1. Saringan standar ASTM dengan ukuran 19,52 mm; 12,5 mm; 9,52 mm; 4,75 mm;
2,36 mm; 1,18 mm; 0,60 mm; 0,30 mm; 0,15 mm.
2. Shave shaker machine, digunakan untuk mengayak agregat halus.
3. Oven, untuk mengeringkan sampel dalam pemeriksaan bahan-bahan yang akan
digunakan dalam campuran beton.
4. Desikator, untuk mempercepat pendinginan bahan-bahan penyusun setelah di oven.
5. Gelas ukur dan piknometer, untuk menakar volume air.
6. Timbangan, untuk mengetahui berat bahan-bahan penyusun.
7. Kerucut konus dan batang penumbuk, digunakan untuk pengujian pasir dalam kondisi
jenuh kering muka (Saturated Surface Dry).
8. Mesin Los Angeles, untuk menguji tingkat keausan agregat kasar.
9. Mistar dan kaliper, untuk mengukur slump dan dimensi alat dan benda uji yang
digunakan.
10. Concrete mixer/Molen, digunakan untuk mengaduk dan mencampur bahan-bahan
penyusun beton.
11. Kerucut Abrams dengan ukuran diameter atas 100 mm, diameter bawah 200 mm,
tinggi 300 mm dan baja penumbuk.
12. Sekop, cetok dan nampan, untuk menampung dan menuangkan adukan beton ke
dalam cetakan.
13. Cetakan beton berbentuk silinder ukuran diameter 75 mm dan tinggi 150 mm.
14. Mesin uji tekan beton
D. Pelaksanaan Penelitian
Pelaksanaan penelitian dimulai dari persiapan bahan dan alat, pemeriksaan bahan
susun, pembuatan mix design hingga pengujian kuat tekan benda uji.
1. Pemeriksaan bahan susun beton
a. Pemeriksaan agregat halus (pasir progo) dan pasir besi
Tabel 4.1 Hasil pemeriksaan Agregat halus (pasir progo) dan pasir besi
Agregat halus (pasir progo) Bahan tambah (pasir besi)
1. Pemeriksaan Modulus Halus Butir Modulus Halus Butir
gradasi agregat (MHB) = 3,679 % (MHB) = 2,569 %
Daerah 2 Daerah 4
pasir agak kasar Pasir halus
2. Pemeriksaan berat Berat jenis = 2,73 Berat jenis = 3,456
jenis dan
penyerapan air Penyerapan air = 1,55 % Penyerepan air = 0,4016 %
agregat
3. Pemeriksaan 3,15 % 0,7 %
kadar lumpur
agregat
4. Pemeriksaan 0,81 % 5,345 %
kadar air agregat
5. Pemeriksaan berat 1,55 gr/cm3 1,66 gr/cm3
satuan agregat
Sumber : data hasil pemeriksaan bahan susun beton, 2010
b. Pemeriksaan agregat kasar
Tabel 4.2 Hasil pemeriksaan agregat kasar
1. Pemeriksaan berat jenis dan Berat jenis = 2,563
penyerapan air agregat kasar Penyerapan air = 0,68 %
2. Pemeriksaan keausan agregat 38,56 %
kasar
3. Pemeriksaan kadar lumpur 3,2 %
agregat kasar
4. Pemeriksaan kadar air agregat 0,7 %
kasar
5. Pemeriksaan berat satuan agregat 1,509 gr/ cm3
kasar
Sumber : data hasil pemeriksaan bahan susun beton, 2010
c. Pemeriksaan unsur pasir besi
Tabel 4.3 Susunan Unsur Pasir Besi (dalam satuan % berat)

Senyawa Nama umum kandungan dalam 100%


pasir besi
SiO2 Silika 40,32
Na2O Natrium 6,58
Fe2O3 Besi 27,61
NaCl Kandungan garam 0,09
Sumber : lab Kimia BPPTK, 2010
2. Perancangan campuran bahan susun beton (mix design)
Dalam perancangan campuran bahan-bahan susun beton (Mix Design) ini
menggunakan SK SNI 03-xxxx-2002 (Tjokrodimuljo, 2007).
Tabel 4.4 Data perancangan campuran bahan susun beton (mix design)

1 Deviasi standar ( S ) -
2 Nilai tambah ( m ) 10 Mpa
3 Kuat tekan beton yg disyaratkan, pada umur 28 hari 42 Mpa
(dari RKS dan lampiran IV), ( fc’ )
4 Kuat tekan rata-rata perlu ( f’cr = fc’ + m ) 52 Mpa
5 Jenis semen (pilih : biasa atau cepat keras) Type 1
6 Jenis agregat
a. Jenis agregat halus (pilih : alami/pecahan) Alami
b. Jenis agregat kasar (pilih : alami/pecahan) Batu pecah
7 Faktor air-semen (dari lampiran III dan lampiran IV) 0,32
8 Nilai slump 75-150 mm
9 Ukuran maksimum butir agregat 10 mm
10 Kebutuhan air per meter kubik beton 233,25 lt/m3
11 Kebutuhan semen per meter kubik beton 728,906 Kg/m3
12 Jenis agregat halus (tulis : 1, 2, 3, atau 4) Daerah no. 2
13 Proporsi berat agregat halus terhadap campuran 48 %
14 Berat jenis agregat campuran 2,6364
15 Perkiraan berat beton per meter kubik 2370 Kg/m3
16 Kebutuhan agregat campuran per meter kubik beton 1407,84 Kg/m3
17 Kebutuhan agregat halus per meter kubik beton 675,765 Kg/m3
18 Kebutuhan agregat kasar per meter kubik beton 732,079 Kg/m3
Sumber : Tjokrodimuljo, 2007
Tabel 4.5. Kebutuhan bahan susun beton tiap 1 adukan beton

Rencana Pembuatan
Kebutuhan Bahan Dasar Beton
Beton
Volume Berat Air Semen Pasir Besi Agregat Agregat
(m3) (Kg) (Kg) (Kg) (Kg) Halus (Kg) kasar (Kg)
1 m3 2370 233,25 728,906 - 675,765 732,079
Per Satu Adukan volume 1 adukan dibuat 1,5 silinder normal = 0,0079522 m3
0% pasir
18,847 1,855 5,796 - 5,374 5,822
besi
10% pasir
18,847 1,855 5,217 0,5796 5,374 5,822
besi
20% pasir
18,847 1,855 4,637 1,1593 5,374 5,822
besi
30% pasir
18,847 1,855 4,057 1,7389 5,374 5,822
besi
40% pasir
18,847 1,855 3,478 2,3186 5,374 5,822
besi
50% pasir
18,847 1,855 2,898 2,898 5,374 5,822
besi
Sumber : data hasil perhitungan kebutuhan bahan susun beton, 2010
V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Uji Slump Beton Segar
Tabel 5.1. Hasil uji slump beton segar dengan variasi proporsi pasir besi
kadar Air Semen pasir besi Pasir progo Agr. kasar Slump Slump
pasir besi (liter) (kg) (kg) (kg) (kg) (mm) rata-rata
(%) (mm)
0% 1,855 5,796 - 5,374 5,822 30 30
30
10 % 1,855 5,217 0,5796 5,374 5,822 52 50
48
20 % 1,855 4,637 1,1593 5,374 5,822 159 160
161
30 % 1,855 4,057 1,7389 5,374 5,822 155 150
145
40 % 1,855 3,478 2,3186 5,374 5,822 180 180
180
50 % 1,855 2,989 2,989 5,374 5,822 189 190
191
Sumber : data hasil uji slump beton segar, 2010

200
180
Nilai Slump (mm)

160
140
120
100
80
60
40
20
0
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60%

Proporsi pasir besi

Gambar 5.1. Pengaruh proporsi pasir besi terhadap nilai slump


Seperti terlihat dalam Gambar 5.1. Semakin besar penambahan proporsi pasir
besi dalam campuran beton, maka didapat nilai slump yang hasilnya cenderung
semakin besar pula. Hal ini disebabkan karena pasir besi mempunyai gradasi agregat
pasir halus atau berada pada daerah 4 (Tabel 4.1), sedangkan pasir progo mempunyai
gradasi agregat pasir agak halus atau berada di daerah 2 (Tabel 4.1). Dengan demikian
semakin banyak penggunaan pasir besi mengakibatkan gesekan antar butiran atau
ikatan antar partikel penyusun betonnya kurang kuat, sehingga mempengaruhi nilai
slump atau kelecakannya (nugraha;antoni, 2007).
B. Hasil pengujian berat jenis beton
Tabel 5.2. Hasil uji berat jenis beton dengan proporsi pasir besi yang berbeda
proporsi Sampel Ukuran silinder Berat Volume beton Berat jenis BJ
pasir benda Diameter Tinggi beton (gr) (mm3) (gr/mm3) rata-rata
besi uji (mm) (mm) (gr/cm3)

1 75,750 153,25 1632,5 690646,22 2,364.10-3


2 75,500 153,70 1627 688109,656 2,364.10-3
0% 3 75,450 153,30 1610 685410,139 2,349.10-3 2,356
4 76,175 152,55 1622 695227,623 2,333.10-3
5 76,025 152,85 1643 693854,137 2,368.10-3
1 75,250 151,10 1611 671997,031 2,397.10-3
2 75,575 152,30 1631 683197,229 2,387.10-3
10 % 3 75,725 153,60 1678 691766,714 2,426.10-3 2,397
4 75,450 152,525 1642 681945,084 2,408.10-3
5 75,475 153,05 1620 684745,929 2,366.10-3
1 75,600 152,225 1670 683312,641 2,444.10-3
2 75,200 151,325 1618 672103,636 2,407.10-3
20 % 3 77,650 151,950 1718 719570,758 2,386.10-3 2,408
4 75,520 151,800 1628 679963,523 2,394.10-3
5 75,300 152,650 1639 679792,928 2,411.10-3
1 75,700 152,600 1660 686809,311 2,417.10-3
2 75,450 153,200 1670 684963,035 2,438.10-3
30 % 3 75,500 152,300 1681 681841,904 2,465.10-3 2,442
4 75,000 153,525 1659 678252,673 2,446.10-3
5 75,775 154,225 1700 695499,065 2,444.10-3
1 75,000 152,300 1659 672840,789 2,466.10-3
2 75,000 150,450 1642 664667,739 2,470.10-3
40 % 3 75,900 150,300 1678 680036,798 2,468.10-3 2,461
4 75,050 152,050 1659 672632,270 2,466.10-3
5 77,250 151,250 1726 708895,535 2,435.10-3
1 75,275 151,900 1680 676003,872 2,485.10-3
2 75,375 150,600 1664 672000,357 2,476.10-3
50 % 3 75,400 151,550 1696 676688,060 2,506.10-3 2,496
4 75,150 151,050 1672 669990,401 2,496.10-3
5 75,500 153,000 1724 684975,780 2,517.10-3
Sumber : data hasil uji berat jenis beton, 2010

2,520
2,500
BJ beton (gr/cm3 )

2,480
2,460
2,440
2,420
2,400
2,380
2,360
2,340
2,320
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60%

proporsi pasir besi

Gambar 5.2. Pengaruh proporsi pasir besi terhadap berat jenis beton
Dari Gambar 5.2. dapat dilihat bahwa semakin besar proporsi penambahan pasir
besi akan menaikkan berat jenis beton. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian
yang telah dilakukan oleh Rafii dan Hakim (2000), yang mengatakan bahwa semakin
besar prosentase penambahan pasir besi akan menaikkan berat jenis beton yang
dihasilkan. Peningkatan berat jenis beton secara umum disebabkan karena berat jenis
pasir besi lebih besar dibandingkan dengan berat jenis pasir dari sungai progo.
Semakin besar prosentase pasir besi, maka beton yang dihasilkan mempunyai berat
jenis yang semakin besar pula.

C. Hasil pengujian kuat tekan beton


Tabel 5.3. Hasil uji kuat tekan beton dengan proporsi pasir besi yang berbeda
proporsi Sampel Ukuran silinder Luas Beban Fc’ Fc’
pasir besi benda uji Diameter Tinggi (mm2) maksimum (Mpa) rata-rata
(mm) (mm) (Kg) (Mpa)
1 75,750 153,25 4506,664 17098,50 37,220
2 75,500 153,70 4476,966 19170,00 42,006
0% 3 75,450 153,30 4471,038 16491,00 36,183 34,271
4 76,175 152,55 4557,375 10954,50 23,580
5 76,025 152,85 4539,445 14978,20 32,369
1 75,250 151,10 4447,366 14617,40 32,243
2 75,575 152,30 4485,865 18988,40 41,525
10 % 3 75,725 153,60 4503,690 21100,40 45,961 35,269
4 75,450 152,525 4471,038 13011,00 28,548
5 75,475 153,05 4474,001 12800,20 28,067
1 75,600 152,225 4488,833 18051,00 39,449
2 75,200 151,325 4441,458 17593,50 38,859
20 % 3 77,650 151,950 4735,576 18466,50 38,254 39,922
4 75,520 151,800 4479,338 18759,00 41,083
5 75,300 152,650 4453,278 19050,00 41,965
1 75,700 152,600 4500,716 12048,00 26,260
2 75,450 153,200 4471,038 12224,20 26,821
30 % 3 75,500 152,300 4476,966 10909,50 23,905 24,271
4 75,000 153,525 4417,865 12099,00 26,866
5 75,775 154,225 4509,639 8046,000 17,503
1 75,000 152,300 4417,865 8388,750 18,627
2 75,000 150,450 4417,865 10413,70 23,124
40 % 3 75,900 150,300 4524,530 8052,000 17,458 21,490
4 75,050 152,050 4423,757 11460,00 25,413
5 77,250 151,250 4686,913 10905,00 22,825
1 75,275 151,900 4450,322 9051,750 19,953
2 75,375 150,600 4462,154 9739,500 21,412
50 % 3 75,400 151,550 4465,114 9611,990 21,118 19,281
4 75,150 151,050 4435,554 8057,990 17,822
5 75,500 153,000 4476,966 7348,500 16,102
Sumber : data hasil uji kuat tekan beton, 2010
50

kuat tekan beton (Mpa)


45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60%

proporsi pasir besi

Gambar 5.3. Pengaruh proporsi pasir besi terhadap kuat tekan beton
Dari Gambar 5.3. didapat grafik penurunan kuat tekan beton dengan adanya
penambahan pasir besi sebagai pengganti semen, hal ini disebabkan karena beberapa
faktor, yaitu :
a. Semakin banyak pemakaian pasir besi, maka dapat menyebabkan nilai slump semakin
meningkat, dan sangat berpengaruh terhadap mutunya.
b. Pada saat proses percampuran adukan beton adanya perbedaan berat jenis bahan
beton, sehingga cenderung berat jenis yg lebih besar dalam hal ini yaitu pasir besi
akan mengendap dibawah, hal ini menyebabkan beton menjadi korosi.
c. Kandungan Fe2O3 pada pasir besi 27,61 % (Tabel 4.3), padahal proporsi Fe2O3 yang
optimum untuk semen adalah 0,5 sampai dengan 6 % (Tjokrodimulyo, 1995). Hal ini
menimbulkan ikatan dengan pasta semen menjadi kurang kuat.
d. Pasir besi mempunyai butiran yang kecil-kecil dan seragam dibandingkan sungai
progo, jika terlalu banyak digunakan atau melebihi batas tertentu, maka akan
mengakibatkan ikatan antara pasir besi dengan bahan penyusun adukan beton yang
lain kurang kuat, karna permukan pasir besi halus (kurang kasar).
.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Dari hasil pengujian silinder beton dengan pemakaian pasir besi sebagai pengganti
semen pada penelitian ini, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai beriku :
1. Pemakaian pasir besi sebagai pengganti semen (cementitious) dalam campuran beton
cenderung menyebabkan terjadinya penurunan kuat tekan beton (Gambar 5.3),
berturut-turut kuat tekan beton rata-rata mulai dari beton normal, 10%, 20%, 30%,
40%, dan 50% pasir besi adalah 34,271 MPa; 35,269 MPa; 39,922 MPa; 24,271 MPa;
21,490 MPa; 19,281 MPa.
2. Setiap penambahan prosentase pasir besi menyebabkan terjadinya kenaikan berat jenis
beton, berturut-turut mulai dari beton normal, 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50% pasir
besi adalah 2,356 gr/cm3; 2,397 gr/cm3; 2,409 gr/cm3; 2,442 gr/cm3; 2,461 gr/cm3; dan
2,496 gr/cm3. Atau mengalami kenaikan rata-rata 1,147%.
3. Nilai slump beton rata-rata untuk setiap penambahan proporsi pasir besi cenderung
mengalami peningkatan, mulai 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50% berturut-turut
adalah 30 mm, 50 mm, 160 mm, 150 mm, 180 mm, dan 190 mm.
B. Saran
Untuk menyempurnakan hasil penelitian serta untuk mengembangkan penelitian
lebih lanjut disarankan untuk melakukan penelitian dengan memperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
1. Dalam pembuatan beton dengan mutu yang bagus diperlukan material campuran yang
berkualitas. Bahan yang digunakan harus teruji dengan hasil yang baik. Disamping itu
ketelitian dan perencanaan campuran (mix design) serta ketelitian dalam penimbangan
bahan sangat menentukan kualitas beton yang dihasilkan.
2. Untuk mendapatkan hasil pengujian yang lebih baik, maka dibutuhkan jumlah benda
uji yang lebih banyak sesuai peraturan.
3. Kuat tekan beton yang direncanakan akan tercapai dengan baik, jika pada saat
pengadukan bahan penyusun beton diperhatikan agar adukan beton cukup merata dan
homogen yaitu dengan mencampurkan sedikit demi sedikit semua bahan penyusun
hingga warna mortar beton seragam dan tidak menggumpal.
4. Untuk penelitian lebih lanjut bahan material penyusun beton dapat diambil dari
tempat yang lebih variatif dan beragam.
5. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh penggunaan pasir besi dalam
campuran beton untuk meningkatkan mutu dan keekonomisan beton.
6. Bagian atas dan bawah benda uji diusahakan benar-benar rata. Hal ini dimaksudkan
pada waktu pengujian seluruh permukaan benda uji mendapat tekanan yang sama
untuk memperoleh hasil yang maksimal.
7. Beton yang dihasilkan dengan menggunakan agregat pasir besi memiliki berat jenis
yang cukup tinggi, sehingga beton ini cocok diterapkan untuk struktur yang
kestabilannya sebagian besar tergantung pada berat sendiri struktur, seperti pada
bangunan air.
DAFTAR PUSTAKA

Jaya, Denny, 2010, Pengaruh Campuran Limbah Karbit dan Abu Sekam Padi Sebagai Bahan
Pengganti Semen dengan Proporsi Campuran 0%, 5%, 10%, 15%, 20% dari Berat
Semen Terhadap Kuat Tekan Beton, Tugas Akhir, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas
Teknik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta.
Kartini, 2009, Pengaruh Variasi Umur Beton Terhadap Nilai Kuat Tekan Beton dengan
Menggunakan Limbah Karbit 5% dan Fly ash 5% Sebagai Bahan Pengganti
Sebagian Semen, Tugas Akhir, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta.
Mulyono, T., 2005, Teknologi Beton, Andi , Yogyakarta.
Nugraha, P dan Antoni, 2007, Teknologi Beton, Andi, Yogyakarta.
Qomariah, 2006, Pengaruh Kehalusan Serbuk Pasir Besi Dalam Campuran Beton Terhadap
Kualitas Beton Mutu Tinggi, Staf Pengajar, Jurusan Teknik Sipil, Politeknik
Semarang, Semarang.
Rafii, Mohamad dan Lukman Hakim, M, 2000, Pengaruh Pemakaian Agregat Pasir Besi
Terhadap Kuat Desak Beton, Tugas Akhir, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik
Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
Suryadi, Akhmad, 2007, Hubungan Tegangan Regangan Beton Mutu Tinggi dengan Pasir
Besi Sebagai Cementitious, Intisari Theses, Civil Engineering, Institut Teknologi
Surabaya. Surabaya.
Suhilman, A.B dan Santoso, C.B., 2007, Pengaruh Limabah Karbit dan Fly Ash Terhadap
Kekuatan Mortar, Tugas Akhir, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan
Perencanaan, Universitas Kristen Petra, Surabaya.
Sumarni, Satyarno, Wijatna, 2007, Penggunaan Pasir Besi dan Barit Sebagai Agregat Beton
Berat Untuk Perisai Radiasi Sinar Gamma, Media Teknik Sipil, Jurusan Teknik Sipil,
Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
SK. SNI: 04-2834-2002
Saputro, A.B., 2008, Kuat Tekan dan Kuat Tarik Beton Mutu Tinggi Dengan Fly Ash Sebagai
Bahan Pengganti Sebagian Semen Dengan f’c 45 Mpa, Tugas Akhir, Jurusan Teknik
Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia,
Yogyakarta.
Tjokrodimuljo, K., 1996, Teknologi Beton, Edisi Kedua, Nafiri, Yogyakarta.
Tjokrodimuljo, K., 2007, Teknologi Beton, Edisi Pertama, KMTS FT UGM, Yogyakarta