Anda di halaman 1dari 25

PEMBANGUNAN EKONOMI DI

INDONESIA DALAM RANGKA


EKONOMI GLOBAL

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah


Pengantar Ekonomi Pembangunan pada Program Studi Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon

Oleh :

Nama : Adwin Hadi Saktiawan


NPM : 109040062
Tingkat/Kelas : II/Akuntansi C
Jurusan : Akuntansi

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI
CIREBON
2011
KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT. karena berkat rahmat-
Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “PENGEMBANGAN
EKONOMI DI INDONESIA DALAM RANGKA EKONOMI GLOBAL”.
Dalam menyusun makalah ini penulis banyak mendapatkan bimbingan dan
bantuan berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan kali ini penulis ingin
menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus dan mendalam kepada:
1. Dosen Mata kuliah Pengantar Ekonomi Pembangunan Bapak Suwarno yang
telah memberikan bimbingan ilmu kepada kami selama 1 semester ini.

2. Teman-teman kelas Akuntansi C yang telah mendukung pembuatan makalah ini.

3. Rekan-rekan semua yang lainnya yang juga ikut membantu.

4. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Tingkat 2.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat


kekurangan, maka saran dari berbagai pihak, penulis harapkan untuk memperbaiki
dan melengkapi makalah ini.
Harapan penulis semoga hasil penelitian dan analisa ini bermanfaat untuk
perkembangan ilmu pengetahuan khususya dibidang ilmu akuntansi dan bisnis.
Semoga segala kebaikan dari pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam
penyusunan makalah ini kiranya mendapatkan limpahan rahmat dan karunia dari
Allah SWT.
Cirebon, Januari 2011

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................... ii

DAFTAR ISI ..................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................... 1

BAB II PENJELASAN .................................................................... 2

A. Strategi dalam Menghadapi Ekonomi Global ........................... 2

B. Sumber Daya manusia (SDM) ..................................................... 4

C. Globalisasi dan Indonesia 2030 ................................................... 11

1. Lompatan besar ..................................................................... 12

2. Inovasi ..................................................................................... 14

3. Pragmatisme ........................................................................... 16

D. Dampak Globalisasi Ekonomi Dan Pengaruh Globalisasi


Negatif & Positif Bagi Indonesia ................................................. 18

BAB III KESIMPULAN ................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 22

iii
BAB I

PENDAHULUAN

SEJAK awal kemerdekaan, bangsa Indonesia telah mempunyai perhatian besar


terhadap terciptanya masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana termuat dalam
alinea keempat Undang-Undang Dasar 1945. Program-program pembangunan yang
dilaksanakan selama ini juga selalu memberikan perhatian besar terhadap upaya
pengentasan kemiskinan karena pada dasarnya pembangunan yang dilakukan
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meskipun demikian,
masalah kemiskinan sampai saat ini terus-menerus menjadi masalah yang
berkepanjangan (Hamonangan Ritonga, 2004).

PADA umumnya, partai-partai peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2004 juga


mencantumkan program pengentasan kemiskinan sebagai program utama dalam
platform mereka. Pada masa Orde Baru, walaupun mengalami pertumbuhan ekonomi
cukup tinggi, yaitu rata-rata sebesar 7,5 persen selama tahun 1970-1996, penduduk
miskin di Indonesia tetap tinggi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di


Indonesia tahun 1996 masih sangat tinggi, yaitu sebesar 17,5 persen atau 34,5 juta
orang. Hal ini bertolak belakang dengan pandangan banyak ekonom yang
menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat meningkatkan
pendapatan masyarakat dan pada akhirnya mengurangi penduduk miskin.

Perhatian pemerintah terhadap pengentasan kemiskinan pada pemerintahan


reformasi terlihat lebih besar lagi setelah terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan
tahun 1997. Meskipun demikian, berdasarkan penghitungan BPS, persentase
penduduk miskin di Indonesia sampai tahun 2003 masih tetap tinggi, sebesar 17,4
persen, dengan jumlah penduduk yang lebih besar, yaitu 37,4 juta orang.

Bahkan, berdasarkan angka Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional


(BKKBN) pada tahun 2001, persentase keluarga miskin (keluarga prasejahtera dan
sejahtera I) pada 2001 mencapai 52,07 persen, atau lebih dari separuh jumlah
keluarga di Indonesia. Angka- angka ini mengindikasikan bahwa program-program
penanggulangan kemiskinan selama ini belum berhasil mengatasi masalah
kemiskinan di Indonesia.

1
BAB II

PENJELASAN

A. Strategi dalam Menghadapi Ekonomi Global

Berkaitan dengan penerapan otonomi daerah sejak tahun 2001, data dan
informasi kemiskinan yang ada sekarang perlu dicermati lebih lanjut, terutama
terhadap manfaatnya untuk perencanaan local (Hamonangan Ritonga, 2004).

Strategi untuk mengatasi krisis kemiskinan tidak dapat lagi dilihat dari satu
dimensi saja (pendekatan ekonomi), tetapi memerlukan diagnosa yang lengkap dan
menyeluruh (sistemik) terhadap semua aspek yang menyebabkan kemiskinan secara
lokal.

Data dan informasi kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran sangat diperlukan
untuk memastikan keberhasilan pelaksanaan serta pencapaian tujuan atau sasaran
dari kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan, baik di tingkat nasional,
tingkat kabupaten/kota, maupun di tingkat komunitas.

Masalah utama yang muncul sehubungan dengan data mikro sekarang ini
adalah, selain data tersebut belum tentu relevan untuk kondisi daerah atau komunitas,
data tersebut juga hanya dapat digunakan sebagai indikator dampak dan belum
mencakup indikator-indikator yang dapat menjelaskan akar penyebab kemiskinan di
suatu daerah atau komunitas.

Dalam proses pengambilan keputusan diperlukan adanya indikator-indikator


yang realistis yang dapat diterjemahkan ke dalam berbagai kebijakan dan program
yang perlu dilaksanakan untuk penanggulangan kemiskinan. Indikator tersebut harus
sensitif terhadap fenomena-fenomena kemiskinan atau kesejahteraan individu,
keluarga, unit-unit sosial yang lebih besar, dan wilayah.

Kajian secara ilmiah terhadap berbagai fenomena yang berkaitan dengan


kemiskinan, seperti faktor penyebab proses terjadinya kemiskinan atau pemiskinan
dan indikator-indikator dalam pemahaman gejala kemiskinan serta akibat-akibat dari
kemiskinan itu sendiri, perlu dilakukan. Oleh karena itu, pemerintah kabupaten/kota
dengan dibantu para peneliti perlu mengembangkan sendiri sistem pemantauan
kemiskinan di daerahnya, khususnya dalam era otonomi daerah sekarang. Para

2
peneliti tersebut tidak hanya dibatasi pada disiplin ilmu ekonomi, tetapi juga disiplin
ilmu sosiologi, ilmu antropologi, dan lainnya.

Ukuran-ukuran kemiskinan yang dirancang di pusat belum sepenuhnya


memadai dalam upaya pengentasan kemiskinan secara operasional di daerah.
Sebaliknya, informasi-informasi yang dihasilkan dari pusat tersebut dapat
menjadikan kebijakan salah arah karena data tersebut tidak dapat
mengidentifikasikan kemiskinan sebenarnya yang terjadi di tingkat daerah yang lebih
kecil. Oleh karena itu, di samping data kemiskinan makro yang diperlukan dalam
sistem statistik nasional, perlu juga diperoleh data kemiskinan (mikro) yang spesifik
daerah. Namun, sistem statistik yang dikumpulkan secara lokal tersebut perlu
diintegrasikan dengan sistem statistik nasional sehingga keterbandingan
antarwilayah, khususnya keterbandingan antarkabupaten dan provinsi dapat tetap
terjaga.

Dalam membangun suatu sistem pengelolaan informasi yang berguna untuk


kebijakan pembangunan kesejahteraan daerah, perlu adanya komitmen dari
pemerintah daerah dalam penyediaan dana secara berkelanjutan. Dengan adanya
dana daerah untuk pengelolaan data dan informasi kemiskinan, pemerintah daerah
diharapkan dapat mengurangi pemborosan dana dalam pembangunan sebagai akibat
dari kebijakan yang salah arah, dan sebaliknya membantu mempercepat proses
pembangunan melalui kebijakan dan program yang lebih tepat dalam pembangunan.

Keuntungan yang diperoleh dari ketersediaan data dan informasi statistik


tersebut bahkan bisa jauh lebih besar dari biaya yang diperlukan untuk kegiatan-
kegiatan pengumpulan data tersebut. Selain itu, perlu adanya koordinasi dan kerja
sama antara pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder), baik lokal maupun
nasional atau internasional, agar penyaluran dana dan bantuan yang diberikan ke
masyarakat miskin tepat sasaran dan tidak tumpang tindih.

Ketersediaan informasi tidak selalu akan membantu dalam pengambilan


keputusan apabila pengambil keputusan tersebut kurang memahami makna atau arti
dari informasi itu. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya kemampuan teknis dari
pemimpin daerah dalam hal penggunaan informasi untuk manajemen.

Sebagai wujud dari pemanfaatan informasi untuk proses pengambilan


keputusan dalam kaitannya dengan pembangunan di daerah, diusulkan agar
dilakukan pemberdayaan pemerintah daerah, instansi terkait, perguruan tinggi dan
3
lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam pemanfaatan informasi untuk kebijakan
program.

Kegiatan ini dimaksudkan agar para pengambil keputusan, baik pemerintah


daerah, dinas-dinas pemerintahan terkait, perguruan tinggi, dan para LSM, dapat
menggali informasi yang tepat serta menggunakannya secara tepat untuk membuat
kebijakan dan melaksanakan program pembangunan yang sesuai.

Pemerintah daerah perlu membangun sistem pengelolaan informasi yang


menghasilkan segala bentuk informasi untuk keperluan pembuatan kebijakan dan
pelaksanaan program pembangunan yang sesuai. Perlu pembentukan tim teknis yang
dapat menyarankan dan melihat pengembangan sistem pengelolaan informasi yang
spesifik daerah. Pembentukan tim teknis ini diharapkan mencakup pemerintah daerah
dan instansi terkait, pihak perguruan tinggi, dan peneliti lokal maupun nasional, agar
secara kontinu dapat dikembangkan sistem pengelolaan informasi yang spesifik
daerah.

Berkaitan dengan hal tersebut, perlu disadari bahwa walaupun kebutuhan


sistem pengumpulan data yang didesain, diadministrasikan, dianalisis, dan didanai
pusat masih penting dan perlu dipertahankan, sudah saatnya dikembangkan pula
mekanisme pengumpulan data untuk kebutuhan komunitas dan kabupaten.

Mekanisme pengumpulan data ini harus berbiaya rendah, berkelanjutan, dapat


dipercaya, dan mampu secara cepat merefleksikan keberagaman pola pertumbuhan
ekonomi dan pergerakan sosial budaya di antara komunitas pedesaan dan kota, serta
kompromi ekologi yang meningkat.

B. Sumber Daya manusia (SDM)

Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam
reformasi ekonomi, yakni bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan
memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global yang
selama ini kita abaikan. Dalam kaitan tersebut setidaknya ada dua hal penting
menyangkut kondisi SDM Indonesia, yaitu:
Pertama adanya ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja dan angkatan kerja.
Jumlah angkatan kerja nasional pada krisis ekonomi tahun pertama (1998) sekitar
92,73 juta orang, sementara jumlah kesempatan kerja yang ada hanya sekitar 87,67
juta orang dan ada sekitar 5,06 juta orang penganggur terbuka (open unemployment).

4
Angka ini meningkat terus selama krisis ekonomi yang kini berjumlah sekitar 8 juta
(Didin S. Damanhuri, 2003).

Kedua, tingkat pendidikan angkatan kerja yang ada masih relatif rendah.
Struktur pendidikan angkatan kerja Indonesia masih didominasi pendidikan dasar
yaitu sekitar 63,2 %. Kedua masalah tersebut menunjukkan bahwa ada kelangkaan
kesempatan kerja dan rendahnya kualitas angkatan kerja secara nasional di berbagai
sektor ekonomi.

Lesunya dunia usaha akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan sampai saat
ini mengakibatkan rendahnya kesempatan kerja terutama bagi lulusan perguruan
tinggi. Sementara di sisi lain jumlah angkatan kerja lulusan perguruan tinggi terus
meningkat. Sampai dengan tahun 2000 ada sekitar 2,3 juta angkatan kerja lulusan
perguruan tinggi. Kesempatan kerja yang terbatas bagi lulusan perguruan tinggi ini
menimbulkan dampak semakin banyak angka pengangguran sarjana di Indonesia.

Menurut catatan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti)


Depdiknas angka pengangguran sarjana di Indonesia lebih dari 300.000 orang.

Fenomena meningkatnya angka pengangguran sarjana seyogyanya perguruan


tinggi ikut bertanggungjawab. Fenomena penganguran sarjana merupakan kritik bagi
perguruan tinggi, karena ketidakmampuannya dalam menciptakan iklim pendidikan
yang mendukung kemampuan wirausaha mahasiswa.

Masalah SDM inilah yang menyebabkan proses pembangunan yang berjalan


selama ini kurang didukung oleh produktivitas tenaga kerja yang memadai. Itu
sebabnya keberhasilan pembangunan yang selama 32 tahun dibanggakan dengan
tingkat pertumbuhan rata-rata 7%, hanya berasal dari pemanfaatan sumberdaya alam
intensif (hutan, dan hasil tambang), arus modal asing berupa pinjaman dan investasi
langsung. Dengan demikian, bukan berasal dari kemampuan manajerial dan
produktivitas SDM yang tinggi. Keterpurukan ekonomi nasional yang
berkepanjangan hingga kini merupakan bukti kegagalan pembangunan akibat dari
rendahnya kualitas SDM dalam menghadapi persaingan ekonomi global.

Kenyataan ini belum menjadi kesadaran bagi bangsa Indonesia untuk kembali
memperbaiki kesalahan pada masa lalu. Rendahnya alokasi APBN untuk sektor
pendidikan -- tidak lebih dari 12% -- pada peme-rintahan di era reformasi. Ini
menunjukkan bahwa belum ada perhatian serius dari pemerintah pusat terhadap

5
perbaikan kualitas SDM. Padahal sudah saatnya pemerintah baik tingkat pusat
maupun daerah secara serius membangun SDM yang berkualitas. Sekarang bukan
saatnya lagi Indonesia membangun perekonomian dengan kekuatan asing. Tapi
sudah seharusnya bangsa Indonesia secara benar dan tepat memanfaatkan potensi
sumberdaya daya yang dimiliki (resources base) dengan kemampuan SDM yang
tinggi sebagai kekuatan dalam membangun perekonomian nasional.

Orang tidak bekerja alias pengangguran merupakan masalah bangsa yang tidak
pernah selesai. Ada tiga hambatan yang menjadi alasan kenapa orang tidak bekerja,
yaitu hambatan kultural, kurikulum sekolah, dan pasar kerja. Hambatan kultural yang
dimaksud adalah menyangkut budaya dan etos kerja. Sementara yang menjadi
masalah dari kurikulum sekolah adalah belum adanya standar baku kurikulum
pengajaran di sekolah yang mampu menciptakan dan mengembangkan kemandirian
SDM yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Sedangkan hambatan pasar kerja
lebih disebabkan oleh rendahnya kualitas SDM yang ada untuk memenuhi kebutuhan
pasar kerja.

Ekonomi abad ke-21, yang ditandai dengan globalisasi ekonomi, merupakan


suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, di mana negara-negara di seluruh
dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan
batas teritorial negara. Globalisasi yang sudah pasti dihadapi oleh bangsa Indonesia
menuntut adanya efisiensi dan daya saing dalam dunia usaha. Dalam globalisasi yang
menyangkut hubungan intraregional dan internasional akan terjadi persaingan
antarnegara. Indonesia dalam kancah persaingan global menurut World
Competitiveness Report menempati urutan ke-45 atau terendah dari seluruh negara
yang diteliti, di bawah Singapura (8), Malaysia (34), Cina (35), Filipina (38), dan
Thailand (40).

Perwujudan nyata dari globalisasi ekonomi yang akan dihadapi bangsa


Indonesia antara lain terjadi dalam bentuk-bentuk berikut: Produksi, di mana
perusahaan berproduksi di berbagai negara, dengan sasaran agar biaya produksi
menjadi lebih rendah. Hal ini dilakukan baik karena upah buruh yang rendah, tarif
bea masuk yang murah, infrastruktur yang memadai ataupun karena iklim usaha dan
politik yang kondusif. Dunia dalam hal ini menjadi lokasi manufaktur global.

Pembiayaan. Perusahaan global mempunyai akses untuk memperoleh pinjaman


atau melakukan investasi (baik dalam bentuk portofolio ataupun langsung) di semua

6
negara di dunia. Sebagai contoh, PT Telkom dalam memperbanyak satuan
sambungan telepon, atau PT Jasa Marga dalam memperluas jaringan jalan tol telah
memanfaatkan sistem pembiayaan dengan pola BOT (build-operate-transfer)
bersama mitrausaha dari mancanegara.
Tenaga kerja. Perusahaan global akan mampu memanfaatkan tenaga kerja dari
seluruh dunia sesuai kelasnya, seperti penggunaan staf profesional diambil dari
tenaga kerja yang telah memiliki pengalaman internasional dan\atau buruh diperoleh
dari negara berkembang. Dengan globalisasi maka human movement akan semakin
mudah dan bebas.

Jaringan informasi. Masyarakat suatu negara dengan mudah dan cepat


mendapatkan informasi dari negara-negara di dunia karena kemajuan teknologi,
antara lain melalui: TV, radio, media cetak dan lain-lain. Dengan jaringan
komunikasi yang semakin maju telah membantu meluasnya pasar ke berbagai
belahan dunia untuk barang yang sama. Sebagai contoh KFC, Hoka Hoka Bento,
Mac Donald, dll melanda pasar di mana-mana. Akibatnya selera masyarakat dunia --
baik yang berdomisili di kota maupun di desa-- menuju pada selera global.

Perdagangan. Hal ini terwujud dalam bentuk penurunan dan penyeragaman


tarif serta penghapusan berbagai hambatan nontarif. Dengan demikian kegiatan
perdagangan dan persaingan menjadi semakin ketat dan fair. Bahkan, transaksi
menjadi semakin cepat karena "less papers/documents" dalam perdagangan, tetapi
dapat mempergunakan jaringan teknologi telekomunikasi yang semakin canggih.

Dengan kegiatan bisnis korporasi (bisnis corporate) di atas dapat dikatakan


bahwa globalisasi mengarah pada meningkatnya ketergantungan ekonomi
antarnegara melalui peningkatan volume dan keragaman transaksi antarnegara
(cross-border transactions) dalam bentuk barang dan jasa, aliran dana internasional
(international capital flows), pergerakan tenaga kerja (human movement) dan
penyebaran teknologi informasi yang cepat. Sehingga secara sederhana dapat
dikemukakan bahwa globalisasi secara hampir pasti telah merupakan salah satu
kekuatan yang memberikan pengaruh terhadap bangsa, masyarakat, kehidupan
manusia, lingkungan kerja dan kegiatan bisnis corporate di Indonesia. Kekuatan
ekonomi global menyebabkan bisnis korporasi perlu melakukan tinjauan ulang
terhadap struktur dan strategi usaha serta melandaskan strategi manajemennya
dengan basis entrepreneurship, cost efficiency dan competitive advantages.

7
Masalah daya saing dalam pasar dunia yang semakin terbuka merupakan isu
kunci dan tantangan yang tidak ringan. Tanpa dibekali kemampuan dan keunggulan
saing yang tinggi niscaya produk suatu negara, termasuk produk Indonesia, tidak
akan mampu menembus pasar internasional. Bahkan masuknya produk impor dapat
mengancam posisi pasar domestik. Dengan kata lain, dalam pasar yang bersaing,
keunggulan kompetitif (competitive advantage) merupakan faktor yang desisif dalam
meningkatkan kinerja perusahaan. Oleh karena itu, upaya meningkatkan daya saing
dan membangun keunggulan kompetitif bagi produk Indonesia tidak dapat ditunda-
tunda lagi dan sudah selayaknya menjadi perhatian berbagai kalangan, bukan saja
bagi para pelaku bisnis itu sendiri tetapi juga bagi aparat birokrasi, berbagai
organisasi dan anggota masyarakat yang merupakan lingkungan kerja dari bisnis
corporate.

Realitas globalisasi yang demikian membawa sejumlah implikasi bagi


pengembangan SDM di Indonesia. Salah satu tuntutan globalisasi adalah daya saing
ekonomi. Daya saing ekonomi akan terwujud bila didukung oleh SDM yang handal.
Untuk menciptakan SDM berkualitas dan handal yang diperlukan adalah pendidikan.
Sebab dalam hal ini pendidikan dianggap sebagai mekanisme kelembagaan pokok
dalam mengembangkan keahlian dan pengetahuan.

Pendidikan merupakan kegiatan investasi di mana pembangunan ekonomi


sangat berkepentingan. Sebab bagaimanapun pembangunan ekonomi membutuhkan
kualitas SDM yang unggul baik dalam kapasitas penguasaan IPTEK maupun sikap
mental, sehingga dapat menjadi subyek atau pelaku pembangunan yang handal.
Dalam kerangka globalisasi, penyiapan pendidikan perlu juga disinergikan dengan
tuntutan kompetisi. Oleh karena itu dimensi daya saing dalam SDM semakin menjadi
faktor penting sehingga upaya memacu kualitas SDM melalui pendidikan merupakan
tuntutan yang harus dikedepankan.
Salah satu problem struktural yang dihadapi dalam dunia pendidikan adalah bahwa
pendidikan merupakan subordinasi dari pembangunan ekonomi. Pada era sebelum
reformasi pembangunan dengan pendekatan fisik begitu dominan. Hal ini sejalan
dengan kuatnya orientasi pertumbuhan ekonomi. Visi pembangunan yang demikian
kurang kondusif bagi pengembangan SDM, sehingga pendekatan fisik melalui
pembangunan sarana dan prasarana pendidikan tidak diimbangi dengan tolok ukur
kualitatif atau mutu pendidikan.

8
Problem utama dalam pembangunan sumberdaya manusia adalah terjadinya
missalocation of human resources. Pada era sebelum reformasi, pasar tenaga kerja
mengikuti aliran ekonomi konglomeratif. Di mana tenaga kerja yang ada cenderung
memasuki dunia kerja yang bercorak konglomeratif yaitu mulai dari sektor industri
manufaktur sampai dengan perbankan. Dengan begitu, dunia pendidikan akhirnya
masuk dalam kemelut ekonomi politik, yakni terjadinya kesenjangan ekonomi yang
diakselerasi struktur pasar yang masih terdistorsi.
Kenyataan menunjukkan banyak lulusan terbaik pendidikan masuk ke sektor-sektor
ekonomi yang justru bukannya memecahkan masalah ekonomi, tapi malah
memperkuat proses konsentrasi ekonomi dan konglomerasi, yang mempertajam
kesenjangan ekonomi. Hal ini terjadi karena visi SDM terbatas pada struktur pasar
yang sudah ada dan belum sanggup menciptakan pasar sendiri, karena kondisi makro
ekonomi yang memang belum kondusif untuk itu. Di sinilah dapat disadari bahwa
visi pengembangan SDM melalui pendidikan terkait dengan kondisi ekonomi politik
yang diciptakan pemerintah.

Sementara pada pascareformasi belum ada proses egalitarianisme SDM yang


dibutuhkan oleh struktur bangsa yang dapat memperkuat kemandirian bang sa. Pada
era reformasi yang terjadi barulah relatif tercipta reformasi politik dan belum terjadi
reformasi ekonomi yang substansial terutama dalam memecahkan problem struktural
seperti telah diuraikan di atas. Sistem politik multipartai yang telah terjadi dewasa ini
justru menciptakan oligarki partai untuk mempertahankan kekuasaan. Pemilu 1999
yang konon merupakan pemilu paling demokratis telah menciptakan oligarki politik
dan ekonomi. Oligarki ini justru bisa menjadi alasan mengelak terhadap
pertanggungjawaban setiap kegagalan pembangunan.

Dengan demikian, pada era reformasi dewasa ini, alokasi SDM masih belum
mampu mengoreksi kecenderungan terciptanya konsentrasi ekonomi yang memang
telah tercipta sejak pemerintahan masa lalu. Sementara di sisi lain Indonesia
kekurangan berbagai keahlian untuk mengisi berbagai tuntutan globalisasi.
Pertanyaannya sekarang adalah bahwa keterlibatan Indonesia pada liberalisasi
perdagangan model AFTA, APEC dan WTO dalam rangka untuk apa? Bukankah
harapannya dengan keterlibatan dalam globalisasi seperti AFTA, APEC dan WTO
masalah kemiskinan dan pengangguran akan terpecahkan.

Dengan begitu, seandainya bangsa Indonesia tidak bisa menyesuaikan terhadap


pelbagai kondisionalitas yang tercipta akibat globalisasi, maka yang akan terjadi
9
adalah adanya gejala menjual diri bangsa dengan hanya mengandalkan sumberdaya
alam yang tak terolah dan buruh yang murah. Sehingga yang terjadi bukannya
terselesaikannya masalah-masalah sosial ekonomi seperti kemiskinan, pengangguran
dan kesenjangan ekonomi, tetapi akan semakin menciptakan ketergantungan kepada
negara maju karena utang luar negeri yang semakin berlipat.

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi tuntutan globalisasi seyogyanya


kebijakan link and match mendapat tempat sebagai sebuah strategi yang
mengintegrasikan pembangunan ekonomi dengan pendidikan. Namun sayangnya ide
link and match yang tujuannya untuk menghubungkan kebutuhan tenaga kerja
dengan dunia pendidikan belum ditunjang oleh kualitas kurikulum sekolah yang
memadai untuk menciptakan lulusan yang siap pakai. Yang lebih penting dalam hal
ini adalah strategi pembangunan dan industrialisasi secara makro yang seharusnya
berbasis sumberdaya yang dimiliki, yakni kayanya sumberdaya alam (SDA). Kalau
strategi ini tidak diciptakan maka yang akan terjadi adalah proses pengulangan
kegagalan karena terjebak berkelanjutannya ketergantungan kepada utang luar
negeri, teknologi, dan manajemen asing. Sebab SDM yang diciptakan dalam
kerangka mikro hanya semakin memperkuat proses ketergantungan tersebut.

Bangsa Indonesia sebagai negara yang kaya akan SDA, memiliki posisi
wilayah yang strategis (geo strategis), yakni sebagai negara kepulauan dengan luas
laut 2/3 dari luas total wilayah; namun tidak mampu mengembalikan manfaat sumber
kekayaan yang dimiliki kepada rakyat. Hal ini karena strategi pembangunan yang
diciptakan tidak membangkitkan local genuin. Yang terjadi adalah sumber kekayaan
alam Indonesia semakin mendalam dikuasai oleh asing. Sebab meskipun andaikata
bangsa ini juga telah mampu menciptakan SDM yang kualifaid terhadap semua level
IPTEK, namun apabila kebijakan ekonomi yang diciptakan tidak berbasis pada
sumberdaya yang dimiliki (resources base), maka ketergantungan ke luar akan tetap
berlanjut dan semakin dalam.

Oleh karena itu harus ada shifting paradimn, agar proses pembangunan mampu
mendorong terbentuknya berbagai keahlian yang bisa mengolah SDA dan bisa
semakin memandirikan struktur ekonomi bangsa. Supaya visi tersebut pun terjadi di
berbagai daerah, maka harus ada koreksi total kebijakan pembangunan di tingkat
makro dengan berbasiskan kepada pluralitas daerah. Dengan demikian harapannya
akan tercipta SDM yang mampu memperjuangkan kebutuhan dan penguatan
masyarakat lokal. Karena untuk apa SDM diciptakan kalau hanya akan menjadi
10
perpanjangan sistem kapitalisme global dengan mengorbankan kepentingan lokal dan
nasional.

C. Globalisasi dan Indonesia 2030 (Sri Hartati Samhadi, 2006)

Abad ke-21 adalah abad milik Asia. Pada tahun 2050 separuh lebih produk
nasional bruto dunia bakal dikuasai Asia. China, menggusur Amerika Serikat, akan
menjadi pemain terkuat dunia, diikuti India di posisi ketiga. Lalu, apa peran dan di
mana posisi Indonesia waktu itu?

China dan India dengan segala ekspansinya, berdasarkan sejumlah parameter


saat ini dan prediksi ke depan, sudah jelas adalah pemenang dalam medan
pertarungan terbuka dunia di era globalisasi, di mana tidak ada lagi sekat-sekat bukan
saja bagi pergerakan informasi, modal, barang, jasa, manusia, tetapi juga ideologi
dan nasionalisme negara.

Globalisasi ekonomi dan globalisasi korporasi juga memunculkan barisan


korporasi dan individu pemain global baru. Lima tahun lalu, 51 dari 100 kekuatan
ekonomi terbesar sudah bukan lagi ada di tangan negara atau teritori, tetapi di tangan
korporasi.

Pendapatan WalMart, jaringan perusahaan ritel AS, pada tahun 2001 sudah
melampaui produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebagai negara. Penerimaan
perusahaan minyak Royal Dutch Shell melampaui PDB Venezuela, salah satu
anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang berpengaruh.

Pendapatan perusahaan mobil nomor satu dunia dari AS, General Motor, kira-
kira sama dengan kombinasi PDB tiga negara: Selandia Baru, Irlandia, dan Hongaria.
Perusahaan transnasional (TNCs) terbesar dunia, General Electric, menguasai aset
647,483 miliar dollar AS atau hampir tiga kali lipat PDB Indonesia.

Begitu besar kekuatan uang dan pengaruh yang dimiliki korporasi-korporasi ini
sehingga mampu mengendalikan pengambilan keputusan di tingkat pemerintahan
dan menentukan arah pergerakan perdagangan dan perekonomian global.

Pada awal dekade 1990-an terdapat 37.000 TNCs dengan sekitar 170.000
perusahaan afiliasi yang tersebar di seluruh dunia. Tahun 2004 jumlah TNCs
meningkat menjadi sekitar 70.000 dengan total afiliasi 690.000. Sekitar 75 persen

11
TNCs ini berbasis di Amerika Utara, Eropa Barat, serta Jepang, dan 99 dari 100
TNCs terbesar juga dari negara maju.

Namun, belakangan pemain kelas dunia dari negara berkembang, terutama


Asia, mulai menyembul di sana-sini. Dalam daftar 100 TNCs nonfinansial terbesar
dunia (dari sisi aset) versi World Investment Report 2005, ada nama seperti
Hutchison Whampoa Limited (urutan 16) dari Hongkong, Singtel Ltd (66) dari
Singapura, Petronas (72) dari Malaysia, dan Samsung (99) dari Korea Selatan.

Sementara dalam daftar 50 TNCs finansial terbesar dunia, ada tiga wakil dari
China, yakni Industrial & Commercial Bank of China (urutan 23), Bank of China
(34), dan China Construction Bank (39).

1. Lompatan besar

Menurut data United Nations Conference on Trade and Development, pada


tahun 2004 China adalah eksportir terbesar ketiga di dunia untuk barang
(merchandise goods) dan kesembilan terbesar untuk jasa komersial, dengan pangsa 9
dan 2,8 persen dari total ekspor dunia.

Volume ekspor China mencapai 325 miliar dollar AS tahun 2002 dan tahun
lalu 764 miliar dollar AS. Manufaktur menyumbang 39 persen PDB China. Output
manufaktur China tahun 2003 adalah ketiga terbesar setelah AS dan Jepang. Di
sektor jasa, China yang terbesar kesembilan setelah AS, Jepang, Jerman, Inggris,
Perancis, Italia, Kanada, dan Spanyol.

Sementara India peringkat ke-20 eksportir merchandise goods (1,1 persen) dan
peringkat ke-22 untuk jasa komersial (1,5 persen). Produk nasional bruto (GNP)
China tahun 2050 diperkirakan 175 persen dari GNP AS, sementara GNP India
sudah akan menyamai AS dan menjadikannya perekonomian terbesar ketiga dunia,
mengalahkan Uni Eropa dan Jepang.

Ketika China membuka diri pada dunia dua dekade lalu, orang hanya
membayangkan potensi China sebagai pasar raksasa dengan lebih dari semiliar
konsumen sehingga sangat menarik bagi perusahaan ritel dan manufaktur dunia.
Belakangan, China bukan hanya menarik dan berkembang sebagai pasar, tetapi juga
sebagai basis produksi berbagai produk manufaktur untuk memasok pasar global.
China awal abad ke-21 ini seperti Inggris abad ke-19 lalu.

12
China tidak berhenti hanya sampai di sini. Jika pada awal 1990-an hanya
dipandang sebagai lokasi menarik untuk basis produksi produk padat karya
sederhana, dewasa ini China membuktikan juga kompetitif dalam berbagai industri
berteknologi maju. Masuknya China dalam keanggotaan Organisasi Perdagangan
Dunia (WTO) semakin melapangkan jalan bagi negeri Tirai Bambu ini untuk
menjadi kekuatan yang semakin sulit ditandingi di pasar global.

Di sektor padat karya, seperti tekstil dan pakaian jadi, diakhirinya rezim kuota
di negara-negara maju membuat ekspor China membanjiri pasar dunia dan membuat
banyak industri tekstil dan pakaian jadi di sejumlah negara berkembang pesaing
harus tutup. Pangsa ekspor pakaian dari China diperkirakan akan melonjak dari
sekitar 17 persen dari total ekspor dunia saat ini menjadi 45 persen pada paruh kedua
dekade ini.

Hal serupa terjadi pada produk-produk berteknologi tinggi. Bagaimana China


menginvasi dan membanjiri pasar global dengan produk-produknya, dengan
menggusur negara-negara pesaing, bisa dilihat dari data WTO berikut.

Pangsa China di pasar elektronik AS meningkat dari 9,5 persen (tahun 1992)
menjadi 21,8 persen (1999). Sementara pada saat yang sama, pangsa Singapura turun
dari 21,8 persen menjadi 13,4 persen. Kontribusi China terhadap produksi personal
computer dunia naik dari 4 persen (1996) menjadi 21 persen (2000), sementara
kontribusi ASEAN secara keseluruhan pada kurun waktu yang sama menciut dari 17
persen menjadi 6 persen.

Pangsa China terhadap total produksi hard disk dunia juga naik dari 1 persen
(1996) menjadi 6 persen (2000), sementara pangsa ASEAN turun dari 83 persen
menjadi 77 persen. Pangsa China untuk produksi keyboard naik dari 18 persen
(1996) menjadi 38 persen (2000), sementara pangsa ASEAN tergerus dari 57 persen
menjadi 42 persen.

Semua gambaran itu jelas memperlihatkan China terus naik kelas, membuat
lompatan besar dari waktu ke waktu, dan pada saat yang sama terus memperluas
diversifikasi produk dan pasarnya. Gerakan sapu bersih China di berbagai macam
industri—mulai dari yang berintensitas teknologi sangat sederhana hingga intensitas
teknologi dan nilai tambah sangat tinggi—ini semakin mempertegas posisi China
sebagai the world’s factory memasuki abad ke-21.

13
Sementara pada saat yang sama, negara-negara tetangganya justru mengalami
hollowing out di industri manufaktur berteknologi tinggi dengan cepat. Di industri
berintensitas teknologi rendah yang cenderung padat karya, China menekan negara-
negara seperti Vietnam dan Indonesia yang basis industrinya masih sempit, yakni
teknologi yang tidak terlalu complicated dan bernilai tambah rendah.

Sementara di industri yang berintensitas teknologi tinggi, China semakin


menjadi ancaman tidak saja bagi negara seperti Taiwan dan Korsel, tetapi juga AS
dan Jepang. China tidak hanya membanjiri dunia dengan garmen, sepatu, dan
mainan, tetapi juga produk-produk komputer, kamera, televisi, dan sebagainya.

China memasok 50 persen lebih produksi kamera dunia, 30 persen penyejuk


udara (air conditioners/AC), 30 persen televisi, 25 persen mesin cuci, 20 persen
lemari pendingin, dan masih banyak lagi.

2. Inovasi

Bagaimana China bisa melakukan itu semua? Ada beberapa faktor. Pertama,
perusahaan-perusahaan teknologi asing, menurut Deloitte Research, sekarang ini
berebut masuk untuk investasi di China, antara lain agar bisa memanfaatkan akses ke
pasar China yang sangat besar dan bertumbuh dengan cepat. Kedua, perusahaan-
perusahaan lokal yang menarik modal dari investor China di luar negeri (terutama
Taiwan) juga semakin terampil memproduksi barang-barang berteknologi tinggi.

Tidak statis di industri padat karya yang mengandalkan upah buruh murah,
China kini mulai lebih selektif menggiring investasi ke industri yang menghasilkan
high end products dan padat modal. Ini antara lain untuk mengurangi ketergantungan
pada tenaga kerja murah yang mulai berkurang ketersediaannya.

Ketiga, perguruan-perguruan tinggi di China mampu mencetak barisan insinyur


baru dalam jumlah besar setiap tahunnya, dengan upah yang tentu relatif murah
dibandingkan jika menyewa insinyur asing. Setiap tahun, negara ini menghasilkan 2
juta-2,5 juta sarjana, dengan 60 persennya dari jurusan teknologi (insinyur). Sebagai
perbandingan, di Indonesia lulusan jurusan teknologi hanya 18 persen, AS 25 persen,
dan India 50 persen.

Untuk mendukung pertumbuhan industri teknologi tinggi padat modal yang


menghasilkan high end products, pemerintahan China juga sangat agresif mendorong

14
berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan (R&D), sejalan dengan ambisinya
menjadi The Fastest Growing Innovation Centre of the World, dengan tahapan,
strategi, dan implementasi yang sangat jelas untuk sampai ke sana.

Hampir di setiap ibu kota provinsi ada R&D centre-nya. Positioning strategy
ini mengindikasikan China mulai masuk babak kedua dalam pembangunan
ekonominya.

Ketiga, negara ini relatif memiliki infrastruktur yang sangat bagus untuk
mengangkut komponen dan barang dari luar dan juga di seluruh penjuru negeri.
China, dengan 1,3 miliar penduduk, memiliki 88.775 kilometer jalan arteri dan
100.000 kilometer jalan tol, atau rasio panjang jalan per sejuta penduduk 1.384
kilometer.

Sebagai perbandingan, Indonesia dengan 220 juta penduduk baru memiliki


jalan arteri 26.000 kilometer dan jalan tol 620 kilometer (121 kilometer per sejuta
penduduk). Itu pun sebagian besar dalam kondisi rusak. Pelabuhan-pelabuhan di
China sudah mampu melayani seperlima volume kontainer dunia dan negara ini terus
membangun jalan-jalan tol dan pelabuhan-pelabuhan baru.

Keempat, kebijakan pemerintah yang sangat mendukung, termasuk perizinan


investasi, perpajakan, dan kepabeanan. Kelima, pembangunan zona-zona ekonomi
khusus (20 zona) sebagai mesin pertumbuhan ekonomi sehingga perkembangan
ekonomi bisa lebih terfokus dan pembangunan infrastruktur juga lebih efisien.

Hasilnya, tahun 2004 China berhasil menarik investasi langsung asing 60,6
miliar dollar AS dan 500 perusahaan terbesar dunia hampir seluruhnya melakukan
investasi di sana. Bagaimana kompetitifnya China bisa dilihat di tabel. Di sini
kelihatan China sudah memperhitungkan segala aspek untuk bisa bersaing dan
merebut abad ke-21 dalam genggamannya.

Hal serupa terjadi pada India yang mengalami pertumbuhan pesat sejak
program liberalisasi dengan membongkar ”License raj" pada era Menteri Keuangan
Manmohan Singh tahun 1991. India kini sudah masuk tahap kedua strategi
pembangunan ekonomi dengan menggunakan teknologi informasi (IT) sebagai basis
pembangunan ekonominya.

15
Hampir seluruh pemain bisnis IT dunia sudah membuka usahanya di India,
terutama di Bangalore. Tahun 2006, pendapatan dari IT India mencapai 36 miliar
dollar AS. Malaysia, Thailand, dan Filipina juga beranjak ke produk-produk yang
memiliki tingkat teknologi lebih kompleks dan bernilai tambah tinggi. Singapura dan
Korsel mengarah ke teknologi informasi dan perancangan produk.

3. Pragmatisme

Bagaimana dengan Indonesia? Prinsip globalisasi adalah adanya pembagian


kerja untuk mencapai efisiensi. Sinyalemen bahwa Indonesia dengan tenaga kerja
melimpah dan upah buruh murah hanya kebagian industri ”peluh” (sweatshop)
seperti pakaian jadi dan alas kaki dalam rantai kegiatan produksi global, terbukti
sebagian besar benar.

China, India, dan Malaysia juga memulai dengan sweatshop, tetapi kemudian
mampu meng-upgrade industrinya dengan cepat. Hal ini yang tidak terjadi di
Indonesia. Kebijakan Indonesia menghadapi globalisasi sendiri selama ini lebih
didasarkan pada sikap pragmatisme.

Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Hadi
Soesastro (Globalization: Challenge for Indonesia) mengatakan, kebijakan
pemerintah menghadapi globalisasi tidak didasarkan pada pertimbangan ideologis,
tetapi lebih pada penilaian obyektif apa yang bisa dicapai negara-negara Asia Timur
lain.

Apalagi, saat itu di antara negara-negara di kawasan Asia sendiri ada


persaingan, berlomba untuk meliberalisasikan perekonomiannya agar lebih menarik
bagi investasi global. Momentum ini didorong lagi oleh munculnya berbagai
kesepakatan kerja sama ekonomi regional seperti AFTA dan APEC.

Pemerintah meyakini melalui liberalisasi pasar, industri dan perusahaan-


perusahaan di Indonesia akan bisa menjadi kompetitif secara internasional. Sejak
pertengahan tahun 1980-an, Indonesia sudah mulai meliberalisasikan dan
menderegulasikan rezim perdagangan dan investasinya.

Selama periode 1986-1990, tidak kurang dari 20 paket kebijakan liberalisasi


perdagangan dan investasi diluncurkan. Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia
Timur yang memulai program liberalisasi ekonomi dengan liberalisasi rezim devisa.

16
Namun, dalam banyak kasus, paket kebijakan yang ditempuh pemerintah untuk
mendorong sektor swasta waktu itu cenderung reaktif dan tak koheren serta
diskriminatif karena sering kali tidak menyertakan kelompok atau sektor tertentu dari
program deregulasi. Jadi, tidak mendorong terjadinya persaingan yang sehat.

Pengusaha tumbuh dan menggurita bukan karena ia efisien dan kompetitif,


tetapi karena ia berhasil menguasai aset dan sumber daya ekonomi, akibat adanya
privelese atau KKN dengan penguasa.

Kini Indonesia terkesan semakin gamang menghadapi globalisasi, terutama di


tengah tekanan sentimen nasionalisme di dalam negeri. Di pihak pemerintah sendiri,
karena menganggap sudah sukses melaksanakan tahap pertama liberalisasi (first-
order adjustment) ekonomi, pemerintah cenderung menganggap sepele tantangan
yang menunggu di depan mata.

Ini tercermin dari sikap taken for granted dan cenderung berpikir pendek.
Padahal, tantangan akan semakin berat dan kompleks sejalan dengan semakin
dalamnya integrasi internasional. Belum jelas bagaimana perekonomian dan bangsa
ini menghadapi kompetisi lebih besar yang tidak bisa lagi dibendung.

Jika China yang the world’s factory dan India yang kini menjadi surga
outsourcing IT dunia berebut menjadi pusat inovasi dunia, manufacture hub, atau
mimpi-mimpi lain, Indonesia sampai saat ini belum berani mencanangkan menjadi
apa pun atau mengambil peran apa pun di masa depan. Jika Indonesia sendiri tak
mampu memberdayakan dan menolong dirinya serta membiarkan diri tergilas arus
globalisasi, selamanya bangsa ini hanya akan menjadi tukang jahit dan buruh.

Menurut seorang panelis, yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini adalah


visioning, repositioning strategy, dan leadership. Tanpa itu semua, kita tidak akan
pernah beranjak dari transformasi yang terus berputar-putar. Dengan visi jelas,
tahapan-tahapan yang juga jelas, dan komitmen semua pihak serta kepemimpinan
yang kuat untuk mencapai itu, tahun 2030 bukan tidak mungkin Indonesia juga bisa
bangkit kembali menjadi bangsa yang lebih bermartabat dan berdaya sebagai
pemenang dalam globalisasi.

17
D. Dampak Globalisasi Ekonomi Dan Pengaruh Globalisasi Negatif & Positif
Bagi Indonesia

Pengertian globalisasi diambil dari kata global yang artinya universal. menurut
wikipedia pengertian globalisasi tidak atau belum mempunya definisi tetap dan
mapan, globalisasi hanya merujuk pada definisi kerja (working definition), artinya
pengertian globalisasi bisa jadi sanagt luas cakupanya tergantung bagaimana
pengguna menempatkan. Ada sebagain yang berpendapat bahwa globalisasi
merupakan proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan
membawa seluruh bangsa dan negara berada dalam ikatan yang semakin kuat untuk
mewujudkan sebuah tatanan kehidupan baru atau kita bisa mengatikan kesatuan ko-
eksistensi yang nantinya akan mengahpus batas-batas geografis, ekonomi dan budaya
masyarakat. Penertian ini didukung oleh pihak yang mendukung terjadinya sebuah
evolusi sosial ekonomi dan budaya.

Namun bagi pihak yang tidak sependapat menyebutkan bahwa globalisasi


sebagai sebuah proyek rekayasa negara-negara adikuasa (kapitalis) untuk tetap
menjaga eksistensi dan pengaruhnya terhadap dunia terutama dunia ketiga. Stigma
negatif disematkan kepada globalisasi oleh para pendukung ide ini, globalisasi
dipandang hanya evlolusi dari kapitalisme dimana Negara-negara kaya akan
mengontrol perokonomian dunia sedangkan negara negara kecil atau yang sering
disebuk negara ketiga hanya dieksploitasi dan semakin terbenam karena tidak
mempunyai daya saing.

Salah satu tokoh yang berpendapat bahwa Globalisasi berdampak negatif


adalah Dosen dari Universitas Ohio Elizabeth Fuller Collins. Collins menyebutkan
bahwa dampak negatif globalisasi adalah bahwa kapitalisme pasar bebas yang
bersanding manis dengan istilah ekonomi neoliberal memperlakukan tenaga kerja,
uang, tanah dan sumber alam sebagai faktor produksi semata atau komoditas yang
diperjual belikan. Akibatnya, Suplay dan demand dari tenaga kerja, uang, tanah dan
sumber alam akan ditentukan dan menentukan harga di pasaran. Dampak langsung
yang diakibatkan kondisi ini adalah krisis finansial, instabilitas politik, dan ancaman
kelestarian lingkungan.

Penjelasan sederhana dari pernyataan diatas, jika tenaga kerja hanya dianggap
sebagai faktor produksi maka karyawan tidak lebih dari mesin atau robot. Upah
tenaga kerja akan ditekan serendah mungkin agar memberikan hasil maksimal dalam

18
mengeruk keuntungan, faktor humanisme akan dikesampingkan dan tentu sasaran
paling empuk untuk mensuplay tenaga kerja murah adalah negara berkembang atau
negara miskin yang "terjebak" dengan iming-iming investasi dan perkembangan
ekonomi semu. Pemilik modal akan meminta berbagai macam fasilitas seperti
pengurangan pajak, pasokan tenaga kerja murah dan tentu juga ketersediaan sumber
daya alam dan demi investasi negara berkembang akan mengamini semua
permintaan kapitalis akibatnya persis seperti yang terjadi di papua dengan freeport.
setiap hari freeport menghasilkan 225 ribu ton bijih emas, bahkan reuters pernah
melansir 4 bos besar freeport menerima tidak kurang Rp. 126,3 M / bulan atau 1,5 T /
tahun, bandingkan dengan APBD yang cuma ditargetkan 5,28 T. Apa yang diperoleh
papua dari kapitalisasi freeport? kemiskinan, Kerusakan hutan dan AIDS, maka
wajar jika kemudian globalisasi sebagai bentuk paling mutakhir dari kapitalisme
dianggap mengakibatkan dampak negatif yang luar biasa.

Lantas jika demikian apakah ada dampak positif globalisasi ? Sebagaiman


diyakini oleh pemerintah orde baru yang kemudian diadopsi sampai saat ini bahwa
globalisasi adalah sebuah keharusan dan tidak bisa terelakan karena memang
menjadi bagian dari proses perubahan sosial maka globalisasi akan berdampak
positif bagi pemilik modal atau yang memiliki kompetensi untuk bersaing.
Globalisasi akan memberikan ruang dan pasar serta peluang usaha semakin luas
dengan konsep bordeless maka kesempatan mengembangkan usaha akan semakin
terbuka lebar, dengan catatan ini hanya berlaku bagi mereka yang memiliki
kompetensi, bagaimana dengan rakyat Indonesia yang sebagian besar tidak memiliki
kompetensi? pada saat globalisasi berlaku penuh dengan hukum pasar yang banyak
berperan sedangkan peran pemerintah semakinberkurang maka jangan harap
berbagai macam subsidi dan bantuan - bantuan akan bisa dinikamati, gak akan ada
lagi kata mutiara cinta untuk rakyat, contoh kongkrit adalah pengahapusan subsidi
BBM yang dilakukan agar asing bisa ikut bermain dalam bisnis BBM adalah bentuk
nyata dari proses globalisasi, jangan heran jika suatu saat air juga diprivatisasi.

19
BAB III

KESIMPULAN

Kata globalisasi dalam dekade terakhir ini tidak saja menjadi konsep ilmu
pengetahuan sosial dan ekonomi, tetapi juga telah menjadi jargon politik, ideologi
pemerintahan (rezim), dan hiasan bibir masyarakat awam di seluruh dunia.
Teknologi informasi dan media elektronik dinilai sebagai simbol pelopor yang
mengintegrasikan seluruh sistem dunia, baik dalam aspek sosial, budaya, ekonomi
dan keuangan (Saepudin, 2010).

Globalisasi bukanlah sesuatu yang baru, semangat pencerahan eropa di abad


pertengahan yang mendorong pencarian dunia baru bisa dikategorikan sebagai arus
globalisasi. Revolusi industri dan transportasi di abad XVIII juga merupakan
pendorong tren globalisasi, yang membedakannya dengan arus globalisasi yang
terjadi dua-tiga dekade belakangan ini adalah kecepatan dan jangkauannya.
Selanjutnya, interaksi dan transaksi antara individu dan negara-negara yang berbeda
akan menghasilkan konsekuensi politik, sosial, dan budaya pada tingkat dan
intensitas yang berbeda pula. Masuknya Indonesia dalam proses globalisasi pada saat
ini ditandai oleh serangkaian kebijakan yang diarahkan untuk membuka ekonomi
domestik dalam rangka memperluas serta memperdalam integrasi dengan pasar
internasional (Saepudin, 2010).

Menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya


saing tinggi dalam persaingan global yang selama ini kita abaikan. Dalam kaitan
tersebut setidaknya ada dua hal penting menyangkut kondisi SDM Indonesia, yaitu:
Pertama adanya ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja dan angkatan kerja.
Jumlah angkatan kerja nasional pada krisis ekonomi tahun pertama (1998) sekitar
92,73 juta orang, sementara jumlah kesempatan kerja yang ada hanya sekitar 87,67
juta orang dan ada sekitar 5,06 juta orang penganggur terbuka (open unemployment).
Angka ini meningkat terus selama krisis ekonomi yang kini berjumlah sekitar 8 juta.

Globalisasi ekonomi dan globalisasi korporasi memunculkan barisan korporasi


dan individu pemain global baru. Kekuatan ekonomi terbesar sudah bukan lagi ada di
tangan negara atau teritori, tetapi di tangan korporasi.

globalisasi adalah sebuah keharusan dan tidak bisa terelakan karena memang
menjadi bagian dari proses perubahan sosial maka globalisasi akan berdampak
20
positif bagi pemilik modal atau yang memiliki kompetensi untuk bersaing.
Globalisasi akan memberikan ruang dan pasar serta peluang usaha semakin luas
dengan konsep bordeless maka kesempatan mengembangkan usaha akan semakin
terbuka lebar, dengan catatan ini hanya berlaku bagi mereka yang memiliki
kompetensi, bagaimana dengan rakyat Indonesia yang sebagian besar tidak memiliki
kompetensi? pada saat globalisasi berlaku penuh dengan hukum pasar yang banyak
berperan sedangkan peran pemerintah semakinberkurang maka jangan harap
berbagai macam subsidi dan bantuan - bantuan akan bisa dinikamati, gak akan ada
lagi kata mutiara cinta untuk rakyat, contoh kongkrit adalah pengahapusan subsidi
BBM yang dilakukan agar asing bisa ikut bermain dalam bisnis BBM adalah bentuk
nyata dari proses globalisasi, jangan heran jika suatu saat air juga diprivatisasi.

21
DAFTAR PUSTAKA

Damanhuri, Didin S. 2003. SDM Indonesia dalam Persaingan Global.


http://www.sinarharapan.co.id/berita/0306/13/opi01.html.
http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/ekonomi/eko61.htm

Gusbud. 2010. Dampak Globalisasi Ekonomi Dan Pengaruh Globalisasi Negatif &
Positif. http://www.gusbud.web.id/2010/01/dampak-globalisasi-ekonomi-dan-
pengaruh.html/.

Ritonga, Hamonangan. 2004. Mengapa Kemiskinan di Indonesia Menjadi Masalah


Berkelanjutan?. http://www.kompas.com/kompas-
cetak/0402/10/ekonomi/847162.htm.
http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/ekonomi/Eko41.htm.

Saepudin. 2010. Pengaruh Globalisasi Ekonomi dan Hukum Ekonomi Internasional


dalam Pembangunan Hukum Ekonomi Indonesia.
http://saepudinonline.wordpress.com/2010/03/22/pengaruh-globalisasi-
ekonomi-dan-hukum-ekonomi-internasional-dalam-pembangunan-hukum-
ekonomi-indonesia/.

Samhadi, Sri Hartati. 2006. Globalisasi dan Indonesia 2030.


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/20/sorotan/2658725.htm.
http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/ekonomi/eko26.htm.

22