Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH SEJARAH KOTA

KOTA BOGOR 2009

FIRDHA WIDYANTARI (0906635904)


RANGGA DAUD (0906636024)
SUPARJO ROHMAN (0906523965)

ILMU SEJARAH

UNIVERSITAS INDONESIA

2010
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejalan dengan perubahan zaman, dimana manusia semakin berkembang dan


maju, baik di bidang sosial, ekonomi maupun budaya. Perubahan ataupun kemajuan
ini juga sering diikuti perubahan wilayah dimana manusia itu hidup atau tinggal.
Suatu wilayah yang awalnya hanya sekedar kampung atau desa, semakin lama
kemudian berkembang menjadi sesuatu yang dikenal dengan nama kota.

Kota sendiri memiliki pengertian sebagai suatu sistem jaringan kehidupan


manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan
strata sosial ekonomi yang heterogen dan coraknya materialistis (Bintarto, 1984:36).
Kota memiliki bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan non
alami dengan gejala-gejala pemusatan penduduk yang cukup besar, dengan corak
kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibandingkan dengan daerah
belakangnya. Kawasan yang disebut kota, penduduknya bukan bermata pencaharian
yang berkaitan dengan alam (petani, peternak), melainkan di bidang pemerintahan,
perda gangan, kerajinan, pengolahan bahan mentah, industri, dan jasa.

Jumlah kota di Indonesia semakin lama semakin bertambah baik dalam


jumlahnya maupun jenisnya1. Salah satu kota yang dikenal di Indonesia adalah
Bogor. Bogor merupakan salah satu daerah yang berada di Provinsi Jawa Barat Kota
Bogor mempunyai sejarah yang panjang dalam Pemerintahan,mengingat sejak zaman
Kerajaan Pajajaran sesuai dengan bukti-bukti yang ada seperti dari Prasasti Batu
Tulis, nama-nama kampung seperti dikenal dengan nama Lawanggintung, Lawang
Saketeng, Jerokuta, Baranangsiang dan Leuwi Sipatahunan diyakini bahwa Pakuan
sebagai Ibukota Pajajaran terletak di Kota Bogor.

1
Di Indonesia masyarakatnya mengenal Kota Kecamatan, Kota
Administratif, Kota Kabupaten dan lain sebagainya.
1.2 Tujuan

Tujuan kelompok kami memilih topik bahasan tentang Kota Bogor ini adalah
untuk membahas dan menjelaskan ciri-ciri apa sajakah yang dimiliki Bogor untuk
dapat dikatakan sebagai sebuah kota dengan berpedoman pada teori atau pendapat
para ahli tentang pengertian dan ciri kota itu sendiri. Selain itu, makalah ini pun
dibuat untuk memenuhi tugas ujian akhir semester.

1.3 Ruang Lingkup

Judul yang dipilih kelompok kami adalah “Kota Bogor 2009”. Tahun 2009
dipilih sebagai judul topik ini dikarenakan pada tahun tersebut kondisi fisik maupun
tata letak Kota Bogor berada dalam kondisi terbaru sehingga dalam beberapa tahun
kdepan tidak akan terlalu ada perbedaan yang mencolok.
1.4 Rumusan Masalah

Topik yang kelompok kami bahas adalah Kota Bogor, maka permasalahan
pokok dalam makalah ini adalah :

Bagaimanakah Kota Bogor pada tahun 2009 ?

Permasalahan ini timbul karena melihat banyak sekali perubahan yang terjadi
di Kota Bogor sekarang baik dari segi pemerintahan, fasilitas masyarakat dan juga
tata letak jika dibandingkan dengan Kota Bogor pada masa sebelum kemerdekaan
dan pasca kemerdekaan sekitar tahun 80-an.

Dari permasalahan pokok tersebut dapat diturunkan beberapa permasalah lain,


seperti:

1. Apa yang menyebabkan Bogor dikatakan sebagai sebuah kota ?

2. Bagaimanakah proses ini terbentuk ?

3. Karakteristik apa sajakah yang mendukung terjadinya proses ini ?


BAB II PEMBAHASAN

Kota Bogor mempunyai sejarah yang panjang dalam Pemerintahan,


mengingat sejak zaman Kerajaan Pajajaran sesuai dengan bukti-bukti yang ada
seperti dari Prasasti Batu Tulis, nama-nama kampung seperti dikenal dengan nama
Lawanggintung, Lawang Saketeng, Jerokuta, Baranangsiang dan Leuwi Sipatahunan
diyakini bahwa Pakuan sebagai Ibukota Pajajaran terletak di Kota Bogor.

Pakuan sebagai pusat Pemerintahan Pajajaran terkenal pada pemerintahan


Prabu Siliwangi (Sri Baginda Maharaja) yang penobatanya tepat pada tanggal 3 Juni
1482, yang selanjutnya hari tersebut dijadikan hari jadi Bogor, karena sejak tahun
1973 telah ditetapkan oleh DPRD Kabupaten dan Kota Bogor sebagai hari jadi Bogor
dan selalu diperingati setiap tahunnya sampai sekarang.

Sebagai akibat penyerbuan tentara Banten ke Pakuan Pajajaran catatan


mengenai Kota Pakuan tersebut hilang, baru terungkap kembali setelah datangnya
rombongan ekspidisi orang-orang Belanda yang dipimpin oleh Scipio dan Riebeck
pada tahun 1687, dan mereka meneliti Prasasti Batutulis dan situs-situs lainya yang
meyakini bahwa di Bogorlah terletak pusat Pemerintahan Pakuan Pajajaran. Pada
tahun 1745 Gubernur Jendral Hindia Belanda pada waktu itu bernama Baron Van
Inhoff membangun Istana Bogor, seiring dengan pembangunan jalan Raya Daenless
yang menghubungkan Batavia dengan Bogor, sehingga keadaan Bogor mulai
bekembang.

Pada masa pendudukan Inggris yang menjadi Gubernur Jendralnya adalah


Thomas Rafless, beliau cukup berjasa dalam mengembangkan Kota Bogor, dimana
Istana Bogor direnofasi dan sebagian tanahnya dijadikan Kebun Raya (Botanikal
Garden), beliau juga memperkejakan seorang Planner yang bernama Carsens yang
menata Bogor sebagai tempat peristirahatan yang dikenal dengan Buitenzoorg.

Setelah Pemerintahan kembali kepada Hindia Belanda pada tahun1903, terbit


Undang-undang Desentralisasi yang bertujuan menghapus sistem pemerintahan
tradisional diganti dengan sistem administrasi pemerintahan modern sebagai
realisasinya dibentuk Staadsgemeente diantaranya adalah.

1. Gemeente Batavia ( S. 1903 No.204 )

2. Gemeente Meester Cornelis ( S. 1905 No.206 )

3. Gemeente Buitenzoorg ( S. 1905 No.208 )

4. Gemeente Bandoeng ( S. 1906 No.121 )

5. Gemeente Cirebon ( S. 1905 No.122 )

6. Gemeente Soekabumi ( S. 1914 No.310 )

(Regeringsalmanak Voor Nederlandsh Indie 1928 : 746-748)

Pembentukan Gemeente tersebut bukan untuk kepentingan penduduk Pribumi


tetapi untuk kepentingan orang-orang Belanda dan masyarakat Golongan Eropa dan
yang dipersamakan (yang menjadi Burgermeester dari Staatsgemeente Buitenzoorg
selalu orang-orang Belanda dan baru tahun 1940 diduduki oleh orang Bumiputra
yaitu Mr. Soebroto).

Pada tahun 1922 sebagai akibat dari ketidakpuasan terhadap peran


desentralisasiyang ada maka terbentuklah Bestuursher Voorings Ordonantie atau
Undang-undang perubahan tata Pemerintahan Negeri Hindia Belanda (Staatsblad
1922 No. 216), sehinga pada tahun 1992 terbentuklah Regentschaps Ordonantie
(Ordonantie Kabupaten) yang membuat ketentuan-ketentuan daerah Otonomi
Kabupaten (Staatsblad 1925 No. 79).

Propinsi Jawa Barat dibentuk pada tahun 1925 (Staatsblad 1924 No. 378 bij
Propince West Java) yang terdiri dari 5 keresidenan, 18 Kabupaten (Regentscape) dan
Kotapraja (Staads Gemeente), dimana Buitenzoorg (Bogor) salah satu Staads
Gemeente di Propinsi Jawa Barat di bentuk berdasarkan (Staatsblad 1905 No. 208 jo.
Staatsblad 1926 No. 368), dengan pripsip Desentralisasi Modern, dimana kedudukan
Bugermeester menjadi jelas.

Pada masa pendudukan Jepang kedudukan pemerintahan di Kota Bogor


menjadi lemah karena pemerintahan dipusatkan pada tingkat keresidenan yang
berkedudukan di Kota Bogor, pada masa ini nama-nama lembaga pemerintahan
berubah namanya yaitu: Keresidenan menjadi Syoeoe, Kabupaten/Regenschaps
menjadi ken, Kota/Staads Gemeente menjadi Si, Kewedanaan menjadi/Distrik
menjadi Gun, Kecamatan/Under Districk menjadi Soe dan desa menjadi Koe.

Pada masa setelah kemerdekaan, yaitu setelah pengakuan kedaulatan RI


Pemerintahan di Kota Bogor namanya menjadi Kota Besar Bogor yang dibentuk
berdasarakan Udang-undang Nomor 16 Tahun 1950.

Selanjutnya pada tahun 1957 nama pemerintahan berubah menjadi Kota Praja
Bogor, sesuai dengan Undang-undang Nomor. 1Tahun 1957, kemudian dengan
Undang-undang Nomor 18 tahun 1965 dan Undang-undang No. 5 Tahun 1974
berubah kembali menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Bogor.

Dengan diberlakukanya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999, Kotamadya


Daerah Tingkat II Bogor dirubah menjadi Kota Bogor.

Kota Bogor sendiri merupakan Kota Satelit, sama halnya dengan Depok,
Bogor merupakan daerah penyokong kota besar, dalam hal ini Jakarta, dalam
memenuhi kebutuhan hidup kota besar tersebut, seperti misalnya banyak jasa maupun
bahan konsumsi yang disalurkan Bogor ke Jakarta baik dalam bahan mentah industri,
bahan jadi maupun hasil-hasil pertanian seperti beras. Masyarakat Bogor sendiri
merupakan kaum komuter karena sebagian masyarakatnya bekerja di kota-kota lain
sekitarnya termasuk Jakarta.
Menurut pendapat Jorge Hardoy2, suatu wilayah dapat dikatakan sebagai
sebuah kota apabila memiliki sepuluh ciri karakteristik yaitu, memiliki ukuran dan
penduduk yang besar dilihat dari zaman dan lokasinya; Bersifat permanen; Mencapai
kepadatan tertentu (menurut zaman dan lokasi); Jelas struktur dan tata ruangan seperti
terlihat misalnya dari jalur-jalur jalan di dalamnya; Merupakan tempat manusia
tinggal dan bekerja; Memiliki fungsi minimum, seperti adanya pasar, pusat
administrasi dan politik, pusat militer, pusat keagamaan, dan pusat cendikia;
Mempunyai penduduk heterogen yang diklasifikasikan secara hierarkis; Merupakan
suatu pusat ekonomi yang memiliki hubungan dengan daerah pertanian di tepi kota,
dan yang melakukan kegiatan memproses bahan mentah dari pertanian itu;
Merupakan suatu pusat pelayanan bagi daerah-daerah yang berada di sekitarnya;
Merupakan suatu pusat penyebaran falsafah hidup yang dimiliki (sesuai dengan
zaman dan lokasi).

1. Memiliki ukuran dan penduduk yang besar dilihat dari zaman dan
lokasinya
Kota Bogor adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini
terletak 54 km sebelah selatan Jakarta, dan wilayahnya berada di tengah-tengah
wilayah Kabupaten Bogor. Luasnya 11.850 Ha, dan jumlah penduduknya 750.250
jiwa (2006). Bogor dikenal dengan julukan kota hujan, karena memiliki curah hujan
yang sangat tinggi. Kota Bogor terdiri atas 6 kecamatan yaitu, Kecamatan Bogor
Utara, Kecamatan Bogor Timur, Kecamatan Bogor Selatan, Kecamatan Bogor Barat,
Kecamatan Bogor Tengah dan Kecamatan Tanah Sareal. Bogor juga memiliki 68
kelurahan. Untuk mengetahui lebih jelas tentang penduduk di Kota Bogor dapat
dijelaskan pada tabel berikut :

2
Jorge Hardoy adalah mantan President dari International Institute for
Environment and Development, dan salah seorang penulis buku yang berjudul
Environmental Problems in a Urbanizing World Finding Solution in Africa, Asia,
and Latin America.
DEMOGRAFI
JUMLAH PENDUDUK KOTA BOGOR PER KECAMATAN
MENURUT JENIS KELAMIN TAHUN 2006

Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah


Bogor
77.254 73.881 151.135
Selatan
Bogor
38.307 38.958 77.265
Timur
Bogor
64.148 61.710 125.858
Utara
Bogor
86.496 84.148 170.644
Barat
Bogor
46.235 46.620 92.855
Tengah
Tanah
67.006 65.487 132.493
Sareal
Jumlah 379.446 370.804 750.250

2. Bersifat permanen
Propinsi Jawa Barat dibentuk pada tahun 1925 (Staatsblad 1924 No. 378 bij
Propince West Java) yang terdiri dari 5 keresidenan, 18 Kabupaten (Regentscape) dan
Kotapraja (Staads Gemeente), dimana Buitenzoorg (Bogor) salah satu Staads
Gemeente di Propinsi Jawa Barat di bentuk berdasarkan (Staatsblad 1905 No. 208 jo.
Staatsblad 1926 No. 368), dengan pripsip Desentralisasi Modern, dimana kedudukan
Bugermeester menjadi jelas.
Pada masa pendudukan Jepang kedudukan pemerintahan di Kota Bogor
menjadi lemah karena pemerintahan dipusatkan pada tingkat keresidenan yang
berkedudukan di Kota Bogor, pada masa ini nama-nama lembaga pemerintahan
berubah namanya yaitu: Keresidenan menjadi Syoeoe, Kabupaten/Regenschaps
menjadi ken, Kota/Staads Gemeente menjadi Si, Kewedanaan menjadi/Distrik
menjadi Gun, Kecamatan/Under Districk menjadi Soe dan desa menjadi Koe.
Pada masa setelah kemerdekaan, yaitu setelah pengakuan kedaulatan RI
Pemerintahan di Kota Bogor namanya menjadi Kota Besar Bogor yang dibentuk
berdasarakan Udang-undang Nomor 16 Tahun 1950.3

3. Mencapai kepadatan tertentu (menurut zaman dan lokasi)


Menurut sensus penduduk tahun 2006, jumlah penduduk kota Bogor sebanyak
750.250 jiwa dengan luas wilayah 11.850 Ha. Kepadatan penduduk Kota
Bogor sendiri sekitar 64 jiwa per Ha.
4. Jelas struktur dan tata ruangan seperti terlihat misalnya dari jalur-jalur
jalan di dalamnya
Terlampir
5. Merupakan tempat manusia tinggal dan bekerja
Sebagai sebuah kota, tentunya Bogor memiliki penduduk dan fasilitas
pendukung kehidupan didalamnya, misalnya saja perumahan dan lahan untuk
membuka suatu lapangan pekerjaan. Diketahui dari data tahun 20064, tanah di Kota
Bogor banyak digunakan untuk :
Perumahan : 69,88 %
Pertanian : 10.05 %
Jalan : 5,31 %
Jasa dan Perdagangan: 3,52 %
Sungai dan Danau : 2,89 %

Diketahui juga bahwa terdapat beberapa industri kecil, sedang maupun besar
yang ad di Kota Bogor, seperti :
Industri Textile

3
http://id.wikisource.org/wiki/Undang-
Undang_Republik_Indonesia_Nomor_16_Tahun_1950
4
www.kotabogor.go.id
Sejak tahun 2003 telah berdiri 194 unit industri textil besar maupun kecil yang
produksinya tidak hanya dipasarkan secara lokal tetapi juga dipasarkan
diberbagai daerah di Indonesia dan di ekspor ke luar negeri.
Industri Farmasi
Kota Bogor memiliki satu industri farmasi yang terletak di daerah Bogor
Selatan yang target pasarnya adalah domestik dan internasional. Ada juga 1
unit yang memproduksi kapsul kosong untuk obat-obatan di daerah Bogor
Utara.
Industri Pembentukan Karet
Ada beberapa usaha kecil dan informal di daerah Tanah Sareal dan Bogor
Selatan yang biasa membentuk karet dari bahan mentah menjadi setengah
jadi. Terdapat pula pabrik ban “Good Year” yang mengolah karet menjadi
bahan jadi.
Industri Peralatan Metal
Industri ini dapat memproduksi sekitar 84.200 unit tiap tahunnya. Industri ini
berlokasi di daerah Bogor Selatan.

6. Memiliki fungsi minimum, seperti adanya pasar, pusat administrasi dan


politik, pusat militer, pusat keagamaan, dan pusat cendikia
Mendukung point sebelumnya, untuk mendukung kehidupan penduduknya,
Kota Bogor memiliki fungsi minimum lain seperti terlihat pada daftar
dibawah ini :
Pusat Administrasi, Politik dan Militer
• Balai Kota Bogor
• Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bogor
• Kodam Siliwangi

Wisata dan rekreasi


* Kebun Raya Bogor
Sebuah kebun penelitian besar yang terletak di Kota Bogor, Indonesia.
Luasnya mencapai 80 hektar dan memiliki 15.000 jenis koleksi pohon dan
tumbuhan. Saat ini Kebun Raya Bogor ramai dikunjungi sebagai tempat
wisata, terutama hari Sabtu dan Minggu. Di sekitar Kebun Raya Bogor
tersebar pusat-pusat keilmuan yaitu Herbarium Bogoriense, Museum
Zoologi, dan IPB.
* Istana Bogor
Merupakan salah satu dari enam Istana Presiden Republik Indonesia
yang mempunyai keunikan tersendiri. Keunikan ini dikarenakan aspek
historis, kebudayaan, dan fauna yang menonjol. Salah satunya adalah
adanya rusa-rusa yang indah yang didatangkan langsung dari Nepal dan
tetap terjaga dari dulu sampai sekarang.
* Prasasti Batu tulis
Merupakan prassati peniggalan jaman Kerajaan Padjadjaran yang ditulis
dalam bahasa Jawa kuno yang isinya menyebutkan Raja Pakuan
Padjadjaran yang bernama Prabu Purana dinobatkan kembali dengan nama
Sri Paduka Maharaja Ratu Haji dalam tahun yang tidak jelas karena ada
huruf yang kosong, sehingga ada berbagai macam penafsuran Prasasti ini
disimpan di tepi jalan raya Batutulis, Bogor, sekitar 2 km dari pusat kota.
* CICO-Cimahpar Integrated Conservation Offices
Merupakan kawasan pendidikan dan konservasi dengan pendekatan
kepada alam, terletak di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara
Kota Bogor. Kawasan ini memiliki beberapa fasilitas pendukung seperti
gedung perkantoran, wisma, asrama (dormitory), serta kebun buah, sayur
dan tanaman obat. Tempat ini dilengkapi dengan fasilitas panjat tebing,
kegiatan luar, dan area outbond. Kawasan ini didedikasikan untuk
kepentingan konservasi.

* Dramaga
Terletak di bagian barat dari kota, tepatnya sekitar 12 Km dari pusat Kota
Bogor. Wilayah Dramaga merupakan sentra pruduksi manisan basah dan
kering, baik itu dari buah-buahan (pala, mangga, jambu batu, kemang,
pepaya, kweni, salak, kedondong, atau caruluk) maupun dari bahan
sayuran (wortel, labu siam, pare, lobak, bligo, serta ubi jalar).
* Plaza Kapten Muslihat (Taman Topi)
Didalam Plaza Kapten Muslihat terdapat sebuah taman yang diberi nama
Taman Ade Irma Suryani, sebelumnya taman ini memiliki nama Taman
Kebon Kembang tempat orang berwisata, namun pada tahun 1980-an
taman ini berubah fungsi menjadi terminal angkutan kota karena letaknya
yang strategis di muka Stasiun Bogor. Terminal tersebut kemudian
direnovasi menjadi Plaza Kapten Muslihat yang mengusung konsep
Bangunan berbentuk Topi, sehingga masyarakat pun menyebutnya dengan
Taman Topi. Pada saat itu Plaza Kapten Muslihat merupakan salah satu
alternatif tempat berwisata sebelum ledakan mal dan plaza melanda
Bogor. Taman topi dilengkapi berbagai wahana permainan namun pada
sejak tahun 1994 sampai saat ini (tahun 2007) tempat ini menjadi tidak
terawat baik karena dikepung oleh pedagang kaki lima dan angkutan kota.
Didalamnya juga terdapat pula Pusat Informasi Kepariwisataan atau
Tourist Information Centre.
* Taman Kencana
Adalah sebuah taman kecil yang digunakan untuk tempat rekreasi anak-
anak kecil, kaum muda maupun orang tua yang melepas lelah setelah
capai berjalan-jalan di lapangan Sempur ataupun Kebun Raya. Taman ini
ramai pada hari minggu saat para orang tua dan anak-anak sedang libur.
Dahulu di tengah Taman Kencana terdapat sebuah batu prasasti buatan
yang berbentuk elips dan berukuran ±2×2×2 meter. pada batu ini terdapat
sebuah tulisan dalam bahasa Indonesia tapi diukir menyerupai tulisan
Sansekerta. hingga pada akhirnya batu tersebut diangkat kira-kira antara
tahun 2000 sampai 2005.
* Lapangan Sempur
Lapangan yang dahulu merupakan lahan kosong yang dipergunakan
sebagai lapangan upacara untuk memperingati HUT Republik Indonesia
setiap tanggal 17 Agustus ini, sekarang sudah dikelola oleh Dinas
Pemakaman dan Pertamanan Kota Bogor. Lapangan ini sekarang
dijadikan sebagai tempat olah raga dan lapangan multifungsi. Di lapangan
ini terdapat wall-climb, lapangan basket, lapangan utama untuk bermain
bola dan soft/baseball, run-track, lapangan voli beralaskan pasir pantai,
area untuk senam. Pada hari minggu tempat ini akan menjadi pasar
dadakan, banyak pedagang makanan ataupun alat-alat yang menggelar
dagangannya disini setiap hari minggu. Lapangan ini juga sering
digunakan untuk berbagai event musik.
* Rancamaya
* Puncak
Kawasan wisata perbukitan yang terletak disebelah timur kota Bogor,
dikelilingi oleh Gunung Gede dan Gunung Pangrango.
* Situ Gede atau Setu Gede
Danau kecil di barat laut kota Bogor, di tepi hutan penelitian Darmaga.
* Kampung Jawa
* Gunung Bunder
* Gunung Pancar
* Gunung Gede
* Gunung Salak
* Situ Gede
The Jungle Water Park

Stasiun kereta dan bis


* Stasiun Bogor
Merupakan stasiun utama kota Bogor yang merupakan warisan dari zaman
Belanda. Dahulu sekitar tahun 1960-an stasiun ini melayani
keberangkatan ke Yogyakarta melalui Sukabumi dan Bandung.
* Baranang Siang

Tempat Ibadah dan Pusat Keagamaan


• Mesjid Raya Bogor
• Masjid Agung Bogor
• Gereja Katedhral
• Klenteng Hok Tek Bio
• Vihara

Museum dan perpustakaan


* Museum Etnobotani
Museum Etnobotani diresmikan pada tahun 1982 oleh Prof. DR. BJ.
Habibie. Didalamnya terdapat 2.000 artefak etnobotani dan berbagai
diorama pemanfaatan flora.
* Museum Zoologi
Museum Zoologi didirikan pada tahun 1894 dengan nama Museum
Zoologicum Bogoriensis.
* Herbarium Bogoriense
Terletak di Jalan Ir. H. Juanda, di sebelah Barat Kebun Raya Bogor. Di
dalamnya tersimpan dan dipamerkan berbagai jenis daun dan buah yang
telah dikeringkan, berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan luar
negeri
* Museum Tanah
Museum Tanah didirikan pada tanggal 29 September 1988. Museum ini
merupakan tempat penyimpanan jenis contoh tanah yang terdapat di
Indonesia yang disajikan dalam ukuran Kecil berupa makromonolit.

* Museum Pembela Tanah Air (PETA)


Didirikan pada tahun 1996 oleh Yayasan Perjuangan Yanah Air, dan
diresmikan oleh H. M. Soeharto (Presiden RI ke II).Didalamnya memuat
14 Diorama sebagai salah satu bentuk perwujudan dalam perjalanan
proses pergerakan kebangsaan terjadi ketika pada tanggal 3 Oktober 1943
bertempat dibekas Kesatriaan tentara KNIL / Belanda, Pabaton
* Museum Perjuangan
* Perpustakaan Bogor.
Didirikan pada tahun 1842 di dalam lingkungan Kebun Raya Bogor oleh
ahli botani Belanda, Dr. J. Pierot. Koleksinya sekitar 300.000 jilid buku,
2.000 judul majalah ilmiah dan lebih dari 100.000 barang cetakan lainnya.
Koleksinya meliputi buku-buku ilmu pengetahuan alam murni dan praktis,
dengan mengutamakan biologi, yang diperoleh dari hasil pertukaran
dengan lembaga-lembaga ilmiah dan ahli-ahli botani dan biologi di
seluruh dunia. Koleksi perpustakaan ini paling baik dan lengkap di Asia
Tenggara.
Perguruan Tinggi
• Institut Pertanian Bogor
• Universitas Pakuan
• Universitas Ibn Khaldun
• Universitas Kesatuan
• Universitas Nusa Bangsa

Pertokoan dan Pasar


• Mall Jambu Dua
• Ekalokasari
• Bogor Trade Mall
• Botani Square
• Taman Topi Square
• Pasar Bogor
• Pasar Ciluar
• Pasar Anyar

7. Mempunyai penduduk heterogen yang diklasifikasikan secara hierarkis


Letak Kota Bogor yang berada di pinggir Jakarta, menjadikan Kota
Bogor sebagai salah satu tempat tinggal orang-orang dari berbagai wilayah
lain di Indonesia. Hal ini menjadikan masyarakat Kota Bogor bersifat
heterogen.
8. Merupakan suatu pusat ekonomi yang memiliki hubungan dengan
daerah pertanian di tepi kota, dan yang melakukan kegiatan memproses
bahan mentah dari pertanian itu
Kota Bogor merupakan tempat memproses hasil pertanian dari Kabupaten
Bogor. Beberapa contoh hasilnya

9. Merupakan suatu pusat pelayanan bagi daerah-daerah yang berada di


sekitarnya
Bogor menjadi pusat peralatan logam bagi daerah-daerah sekitarnya, seperti
Depok, Jakarta, Sukabumi, dan lain-lain.
10. Merupakan suatu pusat penyebaran falsafah hidup yang dimiliki (sesuai
dengan zaman dan lokasi).
Bogor menjadi pusat penyebaran gaya hidup dan kuliner. Misalnya roti unyil yang
merupakan makanan
BAB III KESIMPULAN

Setelah memperhatikan teori dan pembahasan di atas, dapatlah kita


simpulkan bahwa Bogor adalah Kota. Jika melihat teori Bintarto, berdasarkan jumlah
penduduknya, Bogor termasuk kota sedang (750.000 jiwa) hal ini terlihat dari data
statistik 2006 dan dari Undang-Undang no.16 tahun 1950 yang mensahkan secara
hukum tentang penetapan Kota Bogor. Proses yang dijalani Bogor untuk menjadi
sebuah kota memakan waktu yang relatif panjang, hal ini bisa dilihat sejarahnya dari
masa pemerintahan Hindia-Belanda sejak pembengunan Istana Bogor oleh prakarsa
Baron van Inhoff, dibangunnya jalan raya Anyer-Panarukan yang menghubungkan
Bogor dan Batavia secara langsung sekaligus membuka akses masuk Bogor sampai
dengan tercantumnya Bogor menjadi kota di Indonesia dalam Undang-Undang No.16
tahun 1950. Untuk menegaskan dirinya sebagai sebuah kota, Bogor memiliki 10 ciri
sesuai dengan pendapat Jorge Hardoy yaitu, memiliki ukuran dan penduduk yang
besar dilihat dari zaman dan lokasinya; Bersifat permanen; Mencapai kepadatan
tertentu (menurut zaman dan lokasi); Jelas struktur dan tata ruangan seperti terlihat
misalnya dari jalur-jalur jalan di dalamnya; Merupakan tempat manusia tinggal dan
bekerja; Memiliki fungsi minimum, seperti adanya pasar, pusat administrasi dan
politik, pusat militer, pusat keagamaan, dan pusat cendikia; Mempunyai penduduk
heterogen yang diklasifikasikan secara hierarkis; Merupakan suatu pusat ekonomi
yang memiliki hubungan dengan daerah pertanian di tepi kota, dan yang melakukan
kegiatan memproses bahan mentah dari pertanian itu; Merupakan suatu pusat
pelayanan bagi daerah-daerah yang berada di sekitarnya; Merupakan suatu pusat
penyebaran falsafah hidup yang dimiliki (sesuai dengan zaman dan lokasi).
DAFTAR PUSTAKA

F.E. Compton&Company. Compton’s Pictured Encyclopedia. 1963 Edition.


USA.

Mayhew, Susan dan Anne Penny. The Concise Oxford Dictionary of Geography.
1992. Oxford: Oxford University Press.

www.kotabogor.go.id diakses hari Selasa, 27 April 2010 pukul 14.15WIB

www.wikipedia.com diakses hari Selasa, 27 April 2010 pukul 14.12WIB


LAMPIRAN

UNDANG-UNDANG No. 16 TAHUN 1950

TENTANG

PEMBENTUKAN DAERAH-DAERAH KOTA BESAR DALAM


LINGKUNGAN PROPINSI DJAWA TIMUR, DJAWA TENGAH, DJAWA
BARAT DAN DALAM DAERAH ISTIMEWA JOGJAKARTA.

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.

Menimbang:

bahwa telah tiba saatnja untuk membentuk daerah-daerah Kota Besar jang
berhak mengatur dan mengurus rumah tangganja sendiri dalam lingkungan Propinsi
Djawa Timur, Djawa Tengah, Djawa Barat dan dalam Daerah Istimewa Jogjakarta
termaksud dalam Undang-undang No. 22 tahun 1948 tentang pemerintahan daerah;

Mengingat :

pasal 5 ajat (1), pasal 20 ajat (1), pasal IV Aturan Peralihan Undang-undang
Dasar, maklumat Wakil Presiden tanggal 16 Oktober 1945 No. X, Undang-undang
No. 22 tahun 1948, Undang-undang No 2, 10, 11 dan 3 tahun 1950;

Dengan persetudjuan Badan Pekerdja Komite Nasional Pusat:

MEMUTUSKAN:

I. Mencabut Undang-undang (ordonantie) Pembentukan Kota Surabaja (Stbl.


1928 No. 504), Kota Malang (Stbl. 1928 No. 501), Kota Madiun (Stbl. 1928 No.
449), Kota Kediri (Stbl. 1928 No. 498), Kota Semarang (Stbl. 1929 No. 390), Kota
Pekalongan (Stbl. 1929 No. 392), Kota Bandung (Stbl. 1926 No. 369), Kota Bogor
(Stbl. 1926 No. 368), Kota cirebon (Stbl. 19 [sic!] No. 370), Kota Jogjakarta
(Undang-undang No. 17 tahun 1947) dan Kota Surakarta (Undang-undang No. 16
tahun 1947).
II. Menetapkan pembentukan daerah-daerah Kota Besar dalam lingkungan
Propinsi jawa Timur, jawa Tengah, jawa Barat dan dalam Daerah Istimewa
Jogjakarta dengan peraturan sebagai berikut;

B A B I.

Peraturan Umum.

Pasal 1

Daerah-daerah yang meliputi daerah kota-kota Surabaja, Malang, Madiun,


Kediri, Semarang, Pekalongan, Bandung, Bogor, cirebon, Jogjakarta dan Surakarta
ditetapkan menjadi Kota Besar Surabaya, Malang, Madiun, Kediri, Semarang,
Pekalongan, Bandung, Bogor, cirebon, Jogjakarta dan Surakarta.

Pasal 2

(1). Pemerintahan Daerah Kota Besar tersebut dalam pasal 1 diatas


berkedudukan di Kota Surabaya, Malang, Madiun, Kediri, Semarang, Pekalongan,
Bandung, Bogor, cirebon, Jogjakarta dan Surakarta.

(2). Dalam waktu luar biasa kedudukan itu untuk sementara waktu oleh Kepala
Daerah Propinsi jawa Timur, jawa Tengah, jawa Barat dan Kepala Daerah Istimewa
Yogjakarta dapat dipindahkan ke lain tempat.

Pasal 3.

(1). Dewan Perwakilan Rakyat kota Besar

Surabaya terdiri dari 25 orang

Malang ,, ,, 20 ,, ;

Madiun ,, ,, 15 ,, ;

Kediri ,, ,, 15 ,, ;
Semarang ,, ,, 25 ,, ;

Pekalongan ,, ,, 15 ,, ;

Bandung ,, ,, 25 ,, ;

Bogor ,, ,, 15 ,, ;

Cirebon ,, ,, 15 ,, ;

Yogjakarta ,, ,, 20 ,, ;

Surakarta ,, ,, 21 ,,

(2). Anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Besar tersebut


dalam ayat 1 pasal ini, jang pertama terbentuk dengan undang-undang pemilihan,
meletakkan jabatannya bersama-sama pada 15 Juli 1955.

(3). Jumlah anggota Dewan Pemerintah Kabupaten-kabupaten terebut dalam


ajat (1) pasal ini, kecuali anggota Kepala Daerah, adalah sebanyak-banyaknya 5
orang.