Anda di halaman 1dari 61

ISSN 1979-6560

Jurnal

Volume 5, Nomor 13, Januari 2009

* Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi


Rencana Penambangan dan Pengolahan Pasir Besi di
Pantai Selatan Kulon Progo, Yogyakarta

* Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara


Nonkarbonisasi Skala Kecil dari Batubara Kadar Abu
Tinggi

* Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi


Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4
Pengembangan buah naga oleh petani dan di pantai
selatan Kabupaten Kulon Progo
* Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah
Batubara Kalimantan Timur dan Karakteristik
Pembakarannya

* Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa


Fosfat Akibat Pelindian dengan Aspergillus Niger

Contoh limbah batubara SL dengan pembakar siklon

PUSLITBANG TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA


tek MIRA
ISSN 1979 – 6560

Jurnal
Teknologi Mineral dan Batubara
Volume 5, Nomor 13, Januari 2009
No Akreditasi : 36/Akred-LIPI/P2MBI/9/2006

Daftar Isi
‰ Daftar Isi ................................................................................................................................................. i
‰ Sekapur Sirih .......................................................................................................................................... ii
‰ Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan dan Pengolahan
Pasir Besi di Pantai Selatan Kulon Progo, Yogyakarta .................................................................... 1 - 16
Bambang Yunianto
‰ Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Skala Kecil dari Batubara
Kadar Abu Tinggi .......................................................................................................................... 17 - 30
Suganal
‰ Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik: Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4 .................... 31 - 39
Slamet Suprapto

‰ Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan Timur


dan Karakteristik Pembakarannya................................................................................................ 40 - 46
Stefano Munir dan Ikin Sodikin

‰ Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian


dengan Aspergillus Niger ............................................................................................................. 47 - 56
Tatang Wahyudi
‰ Petunjuk Bagi Penulis .......................................................................................................................... 57

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara terbit pada bulan Januari, Mei, September dan memuat karya ilmiah yang
berkaitan dengan litbang mineral dan batubara mulai dari eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, lingkungan, kebijakan
dan keekonomiannya.
Redaksi menerima sumbangan naskah yang relevan dengan substansi terbitan ini.
Biaya langganan : Rp 105.000,-/tahun di luar ongkos kirim, harga eceran Rp 35.000,-/eksemplar.

EDITOR IN CHIEF : Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara
PEMIMPIN REDAKSI : Hadi Nursarya
REDAKTUR PELAKSANA : Umar Antana
EDITOR : Binarko Santoso (Ketua), Tatang Wahyudi, Sri Handayani, Datin Fatia Umar, Jafril, Miftahul
Huda, Husaini, I. G. Ngurah Ardha, Siti Rafiah Untung dan Fauzan
STAF REDAKSI : Umar Antana, Nining Trisnamurni, Mining Emiliastuti, Rusmanto, Bachtiar Effendi dan
Arie Aryansyah
PENERBIT : Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara
ALAMAT REDAKSI : Jl. Jend. Sudirman 623 Bandung 40211
Telpon : (022) 6030483 - 5, Fax : (022) 6003373
e-mail : publikasitekmira@tekmira.esdm.go.id / publikasitekmira@yahoo.com

Keterangan gambar sampul depan : Pengembangan buah naga oleh petani di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo (atas); Contoh limbah
batubara SL dengan pembakar siklon (bawah)

i
Sekapur Sirih
Pada awal 2009 ini, Undang-Undang Nomor 4/2009 tentang pertambangan mineral dan batubara telah
diterbitkan untuk menggantikan Undang-Undang Nomor 11/1967 yang dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan
perkembangan dan tuntutan zaman. Hal-hal penting yang tertera pada klausul-klausul undang-undang baru
tersebut, terkait erat dengan masalah peningkatan nilai tambah mineral, pendayagunaan dan peningkatan
pemanfaatan potensi sumber daya mineral dan batubara, penciptaan daya tarik investasi dan perlindungan
lingkungan serta konservasi sumber daya mineral dan batubara. Semua hal ini juga sejalan dengan paradigma
baru dalam pengelolaan sumber daya mineral dan batubara yang dikenal dengan istilah praktek-praktek
pertambangan dengan baik dan benar (good mining practices). Apabila hal-hal ini benar-benar dilaksanakan
oleh para pemangku kepentingan pertambangan sesuai dengan semangat baru tersebut, beragam permasalahan
pertambangan yang rentan terhadap konflik kepentingan antarsektor pembangunan dan masyarakat sekitar
operasi penambangan, dapat diantisipasi dan diminimalisasikan sedini mungkin.

Pada nomor terbitan jurnal kali ini, beragam makalah ilmiah yang mendukung paradigma baru bidang
pertambangan tersebut mencakup permasalahan lingkungan sosial-ekonomi dan peningkatan kelitbangan
dalam bidang teknologi mineral dan batubara. Kajian permasalahan lingkungan dan sosial-ekonomi rencana
tambang pasir besi menggambarkan dengan jelas konflik kepentingan dalam penggunaan lahan antarsektor
pertambangan dan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat sekitar lokasi tambang. Permasalahan ini
bersumber dari kurangnya sosialisasi dan koordinasi antarsektor tersebut. Konflik ini dapat memicu pengurangan
minat berinvestasi dalam sektor pertambangan, karena adanya ketidakpastian hukum dan tumpang-tindih
penggunaan lahan. Proses pembuatan briket batubara nonkarbonisasi dari batubara kadar abu tinggi merupakan
usaha pemanfaatan batubara secara nasional sesuai dengan rancangan pengelolaan energi nasional untuk
memenuhi pencapaian energi bauran pada 2025. Batubara berkadar abu tinggi di Indonesia dapat digunakan
untuk pembuatan briket batubara yang memenuhi persyaratan teknis dan lingkungan. Blending batubara
untuk pembangkit listrik dilakukan untuk mengatasi masalah pemasokan batubara untuk PLTU Suralaya.
Sistem blending ini dapat dilakukan dengan mencampurkan antara batubara peringkat rendah dengan peringkat
tinggi sesuai dengan spesifikasi parameter kualitas batubara Indonesia yang terkait dengan nilai kalornya.
Hubungan antara parameter karakteristik limbah batubara dan karakteristik pembakarannya menunjukkan
potensi pemanfaatan limbah batubara yang dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif untuk bahan bakar
langsung dengan menggunakan pembakar siklon. Perubahan morfologi dan kimia batuan pembawa fosfat
dengan pelindian mikroorganisme menyisakan ampas pelindian. Pengujian kimia dan mikroskopis yang telah
dilakukan terhadap ampas tersebut menunjukkan kinerja yang baik dengan melakukan pengaturan pH untuk
mengurangi keikutsertaan unsur-unsur pengotornya dalam proses pelindiannya.

Peningkatan kelitbangan dalam bidang teknologi mineral dan batubara yang tertuang dalam makalah-makalah
tersebut perlu terus ditingkatkan, karena kualitas mineral dan batubara Indonesia harus memenuhi spesifikasi
keteknikannya untuk menghasilkan komoditas yang dapat dimanfaatkan, baik secara langsung oleh para
penggunanya di tanah air maupun sebagai komoditas ekspor. Dengan demikian, optimalisasi pemanfaatan
sumber daya mineral dan batubara tersebut dapat terlaksana, sesuai dengan arahan yang telah tertuang dalam
undang-undang dan paradigma baru dalam mengelola sumber daya mineral dan batubara.

Editor

ii
KAJIAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN DAN SOSIAL
EKONOMI RENCANA PENAMBANGAN DAN
PENGOLAHAN PASIR BESI DI PANTAI SELATAN KULON
PROGO, YOGYAKARTA

BAMBANG YUNIANTO

Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara,


Jl. Jenderal Sudirman No. 623, Bandung – 40211
Telp. 022 – 6030483 Ext. 227 e-mail : yunianto@tekmira.esdm.go.id

Naskah masuk : 11 Nopember 2008, revisi pertama : 06 Desember 2008, revisi kedua : 12 Desember 2008,
revisi terakhir : Januari 2009

SARI

Rencana penambangan dan pengolahan pasir besi oleh PT. Jogja Magasa Mining (PT. JMM) untuk menghasilkan
pig iron di Kabupaten Kulon Progo, DIY, ditolak sebagian masyarakat petani yang mengusahakan lahan tersebut,
dengan alasan masalah lingkungan dan sosial ekonomi. Wilayah Kontrak Karya (KK) PT. JMM, termasuk PT.
Krakatau Steel (PT. KS) dan Indo Mines Ltd. berada dalam lahan Pakualaman pada kawasan sepanjang 22
kilometer pesisir Kulon Progo, di wilayah Kecamatan Temon, Wates, Panjatan dan Galur.

Deposit pasir besi sekitar 33,6 juta ton. Produksi direncanakan 500.000 ton per tahun dan umur tambang
diperkirakan sampai 25 tahun. Penambangan menerapkan tambang kering dan proses ekstraksi dilakukan dengan
teknologi Autokumpu seperti yang diterapkan di New Zealand Steel. Reklamasi akan dilakukan sejauh 200
meter ke darat dengan dibuat gumuk artifisial dan ditanami cemara udang. Saat ini kegiatan PT. JMM dan Indo
Mines Ltd. sedang memasuki tahap studi kelayakan dan AMDAL yang dibantu oleh UGM.

Berdasarkan analisis, permasalahan bersumber dari kurangnya sosialisasi dan koordinasi antara sektor pertanian
dengan pertambangan. Secara prosedural perizinan, seluruh tahapan telah sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku di Indonesia dan praktek-praktek pertambangan internasional. Menurut Bappeda Kabupaten
Kulon Progo, kegiatan PT. JMM dan Indo Mines Ltd. tidak menyalahi tata ruang kawasan pantai pesisir selatan
dan sudah sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Sedangkan secara ekonomi, beberapa keuntungan
yang akan diperoleh pemerintah dan masyarakat, antara lain terbukanya lapangan pekerjaan yang sangat luas
baik pada kegiatan penambangan, pengolahan, maupun industri pendukungnya; peningkatan PAD, meningkatkan
pendapatan masyarakat sekitar lingkar proyek melalui program pengembangan masyarakat, membantu industri
baja nasional (PT. Krakatau Steel), dan merupakan satu-satunya industri pig iron di Asia Tenggara.

Kata kunci:pasir besi, rencana penambangan dan pengolahan, konflik sektoral, isu lingkungan dan sosial ekonomi

Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan ... Bambang Yunianto 1
ABSTRACT

The plan of mining and processing of iron sand carried out by PT. Jogja Magasa Mining (PT. JMM) to produce
pig iron in the Kulon Progo Regency-DIY, is rejected by some farmer communities that have used the land due
to the environmental and socio-economic issues. The area of the work-contract of the company, including PT.
Krakatau Steel (PT. KS) and Indo Mines Ltd. is located in the Pakualaman land along 22 km of the Kulon Progo
coast of the Districts of Temon, Wates, Panjatan and Galur.

The iron sand deposit is 33.6 million tons. The production is planned to be 500,000 tons/year, whilst the age
of the mining is assumed 25 years. The mining will apply dry mining method; and the process of extraction
will use autokumpu technology as applied in the New Zealand Steel. Reclamation will be conducted in a 200
m long toward inland by making an artificial dune with plants of cemara udang. Nowadays, the company
activity is reaching the stages of feasibility study and environmental impact study assisted by Gajah Mada
University.

According to the analyses, the issues are caused by the lack of socialisation and coordination between the
sectors of agriculture and mining. Procedurally, all the stages are in accordance with the national prevailing
regulations and the international mining practices. According to the Agency for Regional Development Plan-
ning of the regency, the mining activity is in a line with the spatial use of the south coastline. Economically,
some benefits that will be obtained by the regional government and the community consist of wide job
opportunities from the mining operation, processing, supporting industries; increase of the regional revenue,
improvement of the community prosperity around the project through the community empowerment program,
increase the national steel industry (PT. KS), and it will be the sole pig iron industry in the Asean region.

Keywords: iron sand, mining and processing plans, sectoral conflict, environmental and socio-economic issues

1. PENDAHULUAN Wilayah konsesi KK PT. JMM (termasuk PT. KS dan


Indo Mines) meliputi kawasan sepanjang 22 kilo-
Polemik mengenai isu rencana penambangan dan meter pesisir Kulon Progo, yang berada dalam wilayah
pengolahan pasir besi untuk menghasilkan pig iron di 4 kecamatan, yaitu Temon, Wates, Panjatan dan
Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta terus bergulir. Galur. Menurut status tanah, kawasan pantai selatan
Permasalahan tersebut masih tetap akan berlanjut tersebut terbagi dua, kawasan pantai sebelah timur
mengingat banyak pemangku kepentingan (stakehold- Sungai Progo ke arah Kabupaten Bantul merupakan
ers) yang terlibat, baik di daerah maupun Pusat dan milik kraton Yogyakarta (Sultan Ground), sedangkan
lokasi kegiatan meliputi wilayah yang luas di 4 kawasan pantai sebelah barat Sungai Progo ke arah
Kecamatan di Kabupaten Kulon Progo, yaitu Temon, Kutoarjo merupakan tanah Pakualaman/ Pakualam
Wates, Panjatan dan Galur. Ground (BPS Kabupaten Kulon Progo, 2007).

Pada awalnya, kegiatan pertambangan pasir besi yang Permasalahan mulai terjadi, meskipun status tanah
akan dilakukan PT. Jogja Magasa Mining (PT. JMM) merupakan tanah Pakualaman, karena wilayah
ini berizin Kuasa Pertambangan (KP) Eksplorasi tersebut sudah sejak lama dibudidayakan oleh
Bupati Kulon Progro. Proyek tersebut merupakan masyarakat pantai sebagai lahan pertanian, maka
kerja sama antara PT. Krakatau Steel (PT. KS) dan sebagian besar masyarakat menolak untuk dijadikan
PT. JMM. PT KS saat ini adalah salah satu perusahaan lahan pertambangan. Masyarakat daerah ini
baja hilir terbesar di Indonesia. Indo Mines Ltd. mengolah lahan tersebut menjadi lahan pertanian
merupakan perusahaan tambang dari Australia, yang sejak sebelum tahun 2000, yang mendapat bantuan
akan membangun pabrik untuk mengolah pasir besi, dan dukungan proyek pengembangan pertanian
dengan nilai investasi 600 juta dolar AS. Oleh karena kawasan pantai. Setelah berbagai proyek pertanian
ada unsur penanaman modal asing (PMA), maka masuk, secara signifikan lahan pertanian tersebut
Kuasa Pertambangan (KP) Eksplorasi Bupati Kulon mampu ditingkatkan produktivitasnya, dan
Progo tersebut ditingkatkan menjadi KK pertambangan. masyarakat kawasan pantai ini banyak mengalami

2 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 1 – 16
kemajuan, sehingga muncul perlawanan dari pengolahan dan analisis data menggunakan teknik
beberapa kelompok tani, seperti Paguyuban Petani deskriptif, kompilasi dan eksplanatori.
Lahan Pantai (PPLP) Kulon Progo, Kelompok Tani
Ngudi Rejeki, Kelompok Tani Karangwuni, Wates.
3. RENCANA PENAMBANGAN DAN
Dalam proses selanjutnya, sejalan dengan semakin PENGOLAHAN PASIR BESI
gencarnya sosialisasi yang dilakukan oleh PT. JMM
(Indo Mines Ltd. dan PT. KS), baik sosialisasi ke 3.1. Lokasi dan Wilayah Konsesi PT. JMM
masyarakat langsung, atau melalui orang-orang kunci
(formal dan nonformal) masyarakat pantai, maupun Lokasi rencana kegiatan pertambangan pasir besi PT.
sosialisasi yang dilakukan melalui dinas dan di JMM terletak di pesisir selatan Kabupaten Kulon
hadapan DPRD Kabupaten Kulon Progo, suara pro Progo, meliputi 4 kecamatan, yaitu Galur, Temon,
dan kontra terhadap kehadiran proyek tersebut mulai Wates dan Panjatan (Gambar 1). Luas konsesi Kuasa
terpecah. Masyarakat dan kelompok tani Desa Pertambangan (KP) PT. JMM sesuai Keputusan
Banaran yang dulunya menolak kini menjadi Depperindagkoptamb No. KP008/KPTS/KP/EKPL/X/
mendukung setelah mendapat kepastian mengenai 2005 yang diperbaharui dengan No. 11/KPTS/KP/
lahan garapannya dan manfaat yang akan didapat EKPL/X/2006 adalah ± 4.000 ha, meliputi 4
dari adanya proyek tersebut. kecamatan dengan desa-desa: Jangkaran, Sindutan,
Palihan, Glagah, Karangwuni, Garongan, Pleret,
Maksud penulisan ini adalah menginventarisasi Bugel, Karangsewu dan Banaran (Gambar 2).
permasalahan mengenai rencana kegiatan Selanjutnya, KP PT. JMM tersebut ditingkatkan
penambangan dan pengolahan pasir besi di pantai menjadi Kontrak Karya (KK) dengan menggandeng
selatan Kabupaten Kulon Progo, DIY untuk mencari Indo Mines PTY Ltd. dengan luas ± 3000 ha,
pemecahannya yang terbaik, dan dapat memberi meliputi desa-desa: Karangwuni, Garongan, Pleret,
masukan kepada pihak-pihak yang terkait dalam Bugel, Karangsewu, dan Banaran seperti ditunjukkan
penyelesaian permasalahan tersebut. oleh Gambar 3 (PT. JMM, 2006).

3.2. Kegiatan Eksplorasi


2. METODOLOGI
PT. JMM telah menyelesaikan aktivitas eksplorasi
Metodologi yang dilakukan menggunakan pasir besi di Kulon Progo pada akhir 2006. Eksplorasi
pendekatan multidisiplin ilmu, yaitu digunakannya dilakukan pada area sekitar 2 x 22 km, dengan
berbagai parameter keilmuan dalam membahas melakukan pemboran eksplorasi pada 929 titik
permasalahan utama yang dikaji. Secara umum dengan kedalaman rata-rata 16 meter. Tidak dijumpai
penelitian dilakukan dengan survei lapangan ke lokasi resistensi dari warga didaerah eksplorasi karena semua
rencana penambangan dan pengolahan pasir besi di kewajiban yang berupa ganti rugi dan lain-lainnya
pantai selatan Kabupaten Kulon Progo, DIY, yang diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Hasil
dilakukan pada 28 April – 2 Mei 2008. Dalam survei laporan eksplorasi pasir besi Kulon Progo telah
lapangan, selain dilakukan pendataan pada sumber mendapatkan sertifikasi internasional dari JORC
data utama juga dilakukan pendataan pada pemilik (Joint Ore Reserve Committee) suatu badan
kepentingan lainnya. akreditasi cadangan mineral internasional. Dari hasil
eksplorasi diperoleh kesimpulan bahwa total
Metode penelitian yang diterapkan menggabungkan cadangan pasir besi Kulon Progo adalah sekitar 605
penelitian kuantitatif dan kualitatif. Teknik penelitian juta ton dengan kandungan Fe sekitar 10.8% dan
yang digunakan adalah observasi, inventarisasi data, proporsi tertinggi cadangan pasir besi pada kedalaman
dokumentasi, dan wawancara langsung ke sumber 6-8 meter dari permukaan dengan total cadangan
data. Jenis data yang dikumpulkan dan digunakan sekitar 273 juta ton dengan kandungan Fe sekitar
dalam kajian berupa data primer dan data sekunder. 14,2%. (PT. JMM, 2006a).
Data primer berupa informasi yang langsung berasal
dari responden, sedangkan data sekunder berupa data Kegiatan eksplorasi dilakukan dengan metode Aircore
dan informasi dari PT. JMM dan dinas terkait, baik Drilling sebanyak 929 titik lubang bor. Hasil
di tingkat kabupaten, provinsi maupun pusat. Teknik pemboran telah dianalisis di Laboratorium Konsultan

Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan ... Bambang Yunianto 3
 

Gambar 1. Lokasi rencana penambangan pasir besi PT. JMM di pantai selatan
Kabupaten Kulon Progo

4 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 1 – 16
 

Gambar 2. Peta lokasi wilayah KP PT. JMM

Gambar 3. Peta lokasi wilayah KK PT. JMM - Indo Mines Ltd.

Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan ... Bambang Yunianto 5
Geologi Mackay & Schnellman Pty Ltd menggunakan minimal 4,5 juta ton Fe, cukup untuk memasok
JOCR Standard. Secara garis besar hasil eksplorasi produksi minimal 300.000 ton pig iron per tahun
sebagai berikut: selama 15 tahun.

a) Di sepanjang 22 km dan lebar 1,8 km wilayah d) Dengan jumlah cadangan yang ada di zona
pantai selatan Kabupaten Kulon Progo terdapat ekonomis wilayah KK, produksi per tahun,
cadangan mineral pasir besi 240 juta ton, permukaan rata-rata air tanah di wilayah KK dan
dengan kadar 14% Fe. juga berdasarkan faktor wind blow, maka lama
penambangan akan berkisar kurang lebih 25
b) Hasil tes awal dengan menggunakan teknologi tahun. Produksi akan dilakukan sebesar 500.000
Autokumpu, menunjukkan bahwa pasir besi di ton/ tahun, atau 41.000 ton/ bulan (PT. JMM,
Kulon Progo dapat ditingkatkan perolehannya 2006b).
(recovery) dari 14% Fe menjadi 50% Fe hanya
dengan menggunakan satu proses/tingkat 3.3. Rencana Penambangan, Pengolahan Pasir
konsentrasi gaya berat (gravity concentration). Besi dan Pengelolaan Lingkungan
Apabila dilakukan dengan beberapa tingkat
(multiple stage), yaitu gravity concentration dan Areal penambangan berada pada jarak sekitar 200
magnetic separation kadar perolehan Fe akan meter dari garis pantai ke arah darat, dan akan dibuatkan
dapat ditingkatkan sampai 58 - 60%. Teknik ’barrier’ atau tanggul dan ditanami pohon cemara
tersebut telah dilakukan selama 30 tahun untuk udang, sebagai pencegah abrasi. Berdasarkan penelitian
operasi pengayaan pasir besi di New Zealand, Suhardi (PT. JMM, 2006b), Kepala Laboratorium
dengan produksi 700.000 ton pig iron per tahun. Fisiologi Pohon dan Bioteknologi Kehutanan UGM,
tanaman ini sangat efektif untuk pencegahan abrasi,
c) Cadangan pasir besi di Kabupaten Kulon Progo erosi dan peredam tsunami dan telah terbukti pada
(untuk kedalaman sampai dengan 6 meter) setara percobaan di sepanjang pantai Samas dan Pandansimo
dengan 33,6 juta ton Fe, hal ini melebihi dari (Skema rencana penambangan dapat dilihat pada
kebutuhan minimum Indo Mines Limited, yaitu Gambar 4 dan 5).

PENANAMAN
CEMARA UDANG
(PENCEGAH ABRASI
PEREDAM TSUNAMI)
PRE-CONCENTRATION PLANT PENAMBANGAN

Tree

Tree

LAUT

PRA KONSENTRAT BIJI BESI

PANTAI
(AREA PENAMBANGAN)
200M

Gambar 4. Skema rencana penambangan pasir besi PT. JMM di Kabupaten Kulon Progo

6 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 1 – 16
Gambar 5. Skema cara penambangan

Sistem penambangan menggunakan metode dalam proses pencucian dan penyaringan, dengan
pengupasan (strip mine) secara kering. Hal ini menggunakan air laut atau air tawar sebagai bahan
berbeda dengan yang dilakukan PT Antam Tbk. pada pencuci. Melalui proses penyaringan dan pemisahan
tambang pasir besi Cilacap dan Kutoarjo yang gaya berat (gravity concentration) akan diperoleh
menggunakan monitor air dengan menerapkan 20% pre-konsentrat mineral besi, sedangkan sisanya
metode tambang semprot. Pengolahan dan sebanyak 80% berupa pasir halus akan dikembalikan
peleburannya akan menerapkan teknologi lagi ke lokasi galian tambang sebagai bagian dari proses
Outokumpu seperti yang dilakukan di New Zealand reklamasi. Pre-konsentrat mineral besi (20%) akan
Steel dan menjadi yang pertama di Indonesia. diangkut dan kemudian diproses di pabrik konsentrat,
Penambangan dilakukan per blok, dengan umur dengan alat pemisah magnetik, menghasilkan min-
tambang per blok 8-12 bulan. Oleh karena itu, eral besi/logam yang terpisahkan dari pasir halus,
penambangan dapat berpindah ke blok selanjutnya sehingga beratnya menjadi hanya 10% dari total
apabila blok sebelumnya telah selesai ditambang galian pasir besi dan sisanya akan dikembalikan lagi
dan direklamasi. Kedalaman penggalian kurang lebih ke lokasi galian tambang sebagai bahan reklamasi.
6 m dengan total penurunan lahan maksimal 80 cm
(PT. JMM, 2007). Pada tahun kedua setelah penambangan, daerah
bekas area penambangan akan dapat ditanami
Untuk mendapatkan produk pig iron sekitar 1 juta kembali dengan produk agrikultur yang lebih bernilai
ton per tahun, maka setiap tahun perlu dilakukan ekonomis. Berdasarkan wawancara langsung dengan
penambangan pada areal sejauh 200-400 m dari bibir Tejoyuwono Notohadiprawiro Dosen Ilmu Tanah
pantai pada batas pasang tertinggi dengan kedalaman UGM, menyatakan bahwa area lahan pasir besi bukan
sekitar 6 m. lahan yang bernilai pertanian. Dengan dihilangkan
kandungan logamnya, dan ditambah dengan tanah
Pasir besi yang digali akan diangkut dan dimasukkan dan dipupuk, maka daerah reklamasi akan menjadi

Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan ... Bambang Yunianto 7
lebih subur dan bernilai pertanian. pasir besi sampai dengan proses pembuatan pig iron
sebagai bahan baku utama baja, sebagaimana
Rencana pembangunan pabrik pengolahan pasir besi ditunjukkan oleh bagan alir pada Gambar 6 dan 7.
terpola dalam kerangka industri baja terpadu, yaitu
industri baja yang dimulai dari proses penambangan Industri baja terpadu ini menganut kriteria berikut:

PENAMBANGAN
PASIR BESI

VANADIUM SLAG
(BAHAN BAKU BAJA
KONSENTRAT BATUBARA TAHAN KARAT)
PASIR BESI

PASIR BESI

CONCENTRATOR PABRIK BESI


(DENGAN MAGNIT) WANTAH
(PIG IRON) PIG IRON
PENCUCIAN DAN KONSENTRAT (BAHAN BAKU BAJA)
PENYARINGAN PASIR BESI

PASIR HALUS

BATUKAPUR
PASIR
SLAG (DAPAT DIPAKAI
BAHAN PERKERASAN
KONSTRUKSI JALAN)
REKLAMASI
CATATAN : DALAM JANGKA PANJANG
AKAN DIKEMBANGKAN INDUSTRI BILLET BAJA

Gambar 6. Bagan alir rencana industri baja terpadu di Kabupaten Kulon Progo

Gambar 7. Pasir besi dikirim ke pabrik peleburan untuk diolah

8 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 1 – 16
a) Untuk pabrik pengolahan diharapkan tidak jauh lain yang diperlukan sehingga diharapkan
dari lokasi penambangan. produksi pertanian meningkat.
b) Bahan pendukung untuk konstruksi pabrik dan d) Setelah selesai direklamasi, lahan akan
proses pengolahan semua tersedia di wilayah difungsikan kembali sebagai lahan pertanian
Kulon Progo seperti mangan, andesit, atau sesuai peruntukannya.
batugamping, tanah liat.
c) Ini salah satu alasan pabrik pengolahan ada di Pembangunan berbagai sarana pendukung akan
Kulon Progo, supaya bersatu dengan kegiatan direncanakan sebagai berikut:
penambangan sebagai sumber bahan bakunya a) Sarana transportasi akan menggunakan dan
yang juga terdapat di Kabupaten Kulon Progo. mengembangkan sarana jalan yang sudah ada
d) Metode pengolahan mengacu pada apa yang dan membuat sarana jalan yang baru sesuai
dilakukan di New Zealand dengan menggunakan dengan kebutuhan industri.
3 macam alternatif pengolahan (PT. JMM, b) Jalur transportasi kereta api dibutuhkan untuk
2007). menghubungkan industri pengolahan dengan
pelabuhan terdekat di Pulau Jawa, untuk keluar
Dalam pengelolaan lingkungan diterapkan teknik masuk hasil produksi dan bahan pendukung
reklamasi/pengembalian fungsi lahan seperti industri.
ditunjukkan pada Gambar 8, dengan tahapan sebagai c) Pasokan listrik dapat bersumber dari PLN atau
berikut: akan dibuat pembangkit tenaga listrik sendiri.
a) Material bukan pasir besi setelah dipisahkan d) Kebutuhan air untuk industri maupun konsumsi
langsung dikembalikan. akan memanfaatkan sumber air laut ataupun
b) Reklamasi diwajibkan untuk setiap blok dengan air sungai.
teknik pengembalian perlajur sehingga proses e) Untuk konstruksi pabrik, kantor, jalan dan
reklamasi beriringan dengan proses pemukiman karyawan akan memanfaatkan
penambangan/pengolahan. sumber daya lokal yang ada di Kabupaten Kulon
c) Lahan hasil reklamasi akan dibuat lebih subur Progo (PT. JMM, 2007).
dengan penambahan pupuk organik dan bahan

Gambar 8. Tahapan reklamasi dan bentuk penampang lahan setelah reklamasi

Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan ... Bambang Yunianto 9
4. PERMASALAHAN DAN ANALISIS teknis dan ilmiah. Dja’far Shiddieq ahli tanah
PENYELESAIANNYA UGM menyatakan bahwa pemerintah kolonial
Belanda pun tidak melakukan penambangan
4.1. Permasalahan pasir besi di wilayah itu karena dampaknya yang
dianggap berbahaya terhadap keseimbangan
Berdasarkan inventarisasi di lapangan terdapat ekologis di wilayah itu. Di dunia ini hanya ada
beberapa permasalahan, yaitu: tiga gumuk pasir yang bergerak, satu di antaranya
a) Permasalahan mulai terjadi, meskipun status tanah di kawasan pesisir selatan Yogyakarta. Kombinasi
sebagian besar merupakan tanah Pakualam, karena penanaman cemara udang dan gumuk-gumuk
wilayah tersebut sudah sejak lama dibudidayakan pasir bentukan alam itu merupakan penahan
oleh masyarakat pantai sebagai lahan pertanian, tsunami alamiah yang paling efektif. Menurut
maka sebagian besar masyarakat menolak untuk Sudaryatno dari Fakultas Geografi UGM, lapisan
dijadikan lahan pertambangan (contoh pertanian pasir di bawah permukaan tanah sangat berguna
rakyat lihat Gambar 9 dan contoh infrastruktur untuk meredam gempa. Jika pasir diambil, fungsi
di pantai selatan lihat Gambar 10). itu hilang. Ia juga mengingatkan terjadinya

Gambar 9 dan 10. Pengembangan buah naga oleh petani dan infrastruktur di pantai selatan
Kabupaten Kulon Progo

Selain merusak lingkungan, penambangan pasir eksploitasi lebih jauh dan lebih dalam dari
besi dianggap akan mengancam kelangsungan semula yang direncanakan. Risiko kerusakan
pertanian lahan pasir. Masyarakat daerah ini alam yang menyertainya akan lebih hebat (PT.
mengolah lahan tersebut menjadi lahan pertanian JMM, 2007). Wilayah eksploitasi lahan di
sejak sebelum tahun 2000, yang mendapat wilayah itu terbagi atas tiga kepemilikan, yakni
bantuan dan dukungan proyek pengembangan tanah milik bersertifikat, tanah desa dan tanah
pertanian kawasan pantai. Setelah berbagai milik dinasti Pakualam (Pakualam Ground).
proyek pertanian masuk, secara signifikan lahan Tanggal 7 Januari 2003, KGPAA Pakualaman
pertanian tersebut mampu ditingkatkan IX mengeluarkan surat kepada Kepala Badan
produktivitasnya, dan masyarakat kawasan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah
pantai ini banyak mengalami kemajuan, sehingga (Bapedalda) Provinsi DIY, bernomor X/PA/
muncul perlawanan dari beberapa kelompok 2003. Isinya antara lain bahwa lahan itu dapat
tani, seperti Paguyuban Petani Lahan Pantai dikembangkan untuk kegiatan pertanian lahan
(PPLP) Kulon Progo, Kelompok Tani Ngudi pasir, tidak diizinkan mengubah sifat fisik dan
Rejeki, Kelompok Tani Karangwuni-Wates. hayati, seperti untuk penambangan pasir, dan
ada sanksi terhadap pelanggar.
b) Berbagai pihak yang memiliki kepentingan
terkait dengan kegiatan di kawasan pantai c) Dalam proses selanjutnya, sejalan dengan
tersebut menyampaikan pendapat, dari aspek semakin gencarnya sosialisasi yang dilakukan

10 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 1 – 16
oleh PT. JMM (Indo Mines Ltd. dan PT. KS), Pengembangan Sektor lain.
baik sosialisasi ke masyarakat langsung, atau
melalui orang-orang kunci (formal dan Pengawasan dan pembinaan dalam tahapan
nonformal) masyarakat pantai, maupun penambangan dan pengolahan adalah:
sosialisasi yang dilakukan melalui dinas dan di a) Dalam proses penambangan dan pengolahan
hadapan DPRD Kabupaten Kulon Progo, maka perusahaan wajib mengikuti kaidah-kaidah
suara pro dan kontra terhadap kehadiran proyek penambangan dan pengolahan yang baik dan
tersebut mulai terpecah. Masyarakat dan benar serta sesuai dengan ketentuan yang
kelompok tani Desa Banaran yang dulunya berlaku.
menolak, kini menjadi mendukung setelah b) Perusahaan wajib memberikan laporan
mendapat kepastian mengenai lahan garapannya penambangan dan pengolahan secara periodik
dan manfaat yang akan didapat dari adanya sesuai ketentuan yang berlaku.
proyek tersebut. c) Aktivitas perusahaan di lapangan akan selalu
mendapat pengawasan dan pembinaan dari instansi
4.2. Analisis Penyelesaian Permasalahan yang berwenang dalam sektor pertambangan dan
instansi terkait lainnya sesuai dengan
Dalam pembahasan berikut akan dianalisis beberapa kewenangannya masing-masing, baik di daerah
permasalahan di atas berdasarkan akar masalah yang maupun pusat.
dijadikan polemik.
Sedangkan pada tahap konstruksi, PT. JMM dan Indo
1) Proses Perizinan Rencana Penambangan dan Mines akan menempuh beberapa hal:
Pengolahan Pasir Besi a) Tahapan konstruksi dilakukan apabila hasil studi
kelayakan menyatakan bahwa rencana kegiatan
Rencana penambangan dan pengolahan pasir besi pengolahan dinyatakan layak secara teknis,
PT. JMM dan Indo Mines Ltd. telah memenuhi ekonomis, lingkungan, sosial kemasyarakatan dan
prosedur perizinan di Sektor ESDM, tahapan tersebut sesuai dengan peraturan perundang - undangan
adalah: yang berlaku.
a) Tanggal 6 Oktober 2005 PT. JMM mengajukan b) Konstruksi meliputi pabrik, sarana jalan, pemukiman
eksplorasi pasir besi. karyawan, pembangkit listrik, kebutuhan air dan
b) KP Eksplorasi No. 008/KPTS/KP/EKKPL/X/2005 sarana pendukung lainnya yang menunjang
luas 4.076,7 Ha (Wates, Temon, Panjatan, Galur). kegiatan industri.
c) 30 Juni 2005 Indo Mines, Ltd (Australia) c) Pembangunan konstruksi diharapkan semaksimal
bergabung karena mempunyai teknologi mungkin memanfaatkan sumber daya lokal (ma-
Autokumpu pengolahan pasirbesi menjadi pig terial, kontraktor, tenaga kerja dan lain-lain).
iron.
d) Tanggal 25 Maret 2006 PT. JMM melakukan Jadi secara prosedur perizinan seluruhnya telah sesuai
eksplorasi dengan 929 titik bor, dan telah dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
melaporkan hasil eksplorasi sebanyak 14 vol- di Indonesia, dan sudah sesuai dengan praktek-
ume. praktek pertambangan yang diakui secara
e) Dalam tahun 2008 akan melakukan Studi internasional. Namun, hal tersebut perlu terus
Kelayakan, AMDAL, dan melanjutkan pilot menerus disosialisasikan kepada seluruh pemangku
proyek penambangan pasir besi sebagai model kepentingan yang terkait dengan kegiatan
penambangan nantinya. penambangan dan pengolahan pasir besi tersebut,
terutama pemangku kepentingan di daerah dan
Dalam kajian lingkungan yang dijadikan pedoman masyarakat yang nantinya akan terkena dampak
adalah: langsung adanya kegiatan tersebut.
a) Perusahaan wajib melakukan studi lingkungan
melalui penyusunan dokumen AMDAL. 2) Keterkaitan Pengolahan Pasir Besi dengan
b) Penyusunan dilakukan oleh konsultan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan
lingkungan yang mempunyai kompetensi dan Sektor Lain
kredibilitas yang diakui secara nasional dan
internasional, dan hasilnya diuji oleh komisi Kebijakan Penataan Tata Ruang bersifat dinamis dan
AMDAL provinsi dan atau pusat. dievaluasi setiap 5 tahun. Kegiatan pengolahan pasir
c) Perusahaan wajib mengikuti Kebijakan besi dapat disinergikan dengan kegiatan lain dalam
Pemerintah tentang Tata Ruang Wilayah dan satu kawasan yang dapat diatur melalui RTRW juga

Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan ... Bambang Yunianto 11
dalam Rencana Detil Tata Ruang Kawasan pantai a) Aspek pertanian: peningkatan kualitas lahan
selatan Kulon Progo, karena pengolahan pasir besi pasca tambang dan pengolahan, peningkatan
bersifat sementara. Berdasarkan koordinasi dengan produksi hasil pertanian, peningkatan nilai
Bappeda Kabupaten Kulon Progo, kegiatan PT. JMM tambah usaha sektor pertanian.
dan Indo Mines Ltd. tidak menyalahi tata ruang b) Aspek pendidikan: program beasiswa, program
kawasan pantai pesisir selatan dan sudah sesuai pengembangan sarana pendidikan, program
RTRW seperti ditunjukkan oleh Gambar 11 dan pengembangan sumber daya manusia.
Gambar 12 (Bappeda Kabupaten Kulon Progo, c) Aspek kesehatan: pembangunan sarana-
2005). prasarana kesehatan, peningkatan mutu
kesehatan masyarakat.
Sementara itu, terkait dengan sektor lain, kesuburan d) Aspek budaya: pelestarian dan pengembangan
tanah setelah ditambang menurut Tejoyuwono budaya lokal.
Notohadiprawiro (UGM), area lahan pasir besi e) Aspek sosial: pengembangan kelompok-
adalah bukan lahan yang bernilai pertanian. Namun, kelompok sosial kemasyarakatan, pembinaan
setelah dihilangkan kandungan logamnya, dan generasi muda, pembinaan dan peningkatan
ditambah dengan tanah dan dipupuk, maka daerah peran perempuan.
reklamasi akan menjadi lahan yang lebih subur dan f) Aspek keagamaan: pembangunan sarana-
bernilai pertanian (PT. JMM, 2007). prasarana ibadah, pembinaan dan peningkatan
kualitas dalam melaksanakan ibadah.
3) Manfaat Proyek bagi Masyarakat Lingkar Proyek g) Aspek ekonomi: pembinaan dan pengembangan
dan yang Terkena Dampak UMKM, penguatan dan pembinaan
kelembagaan ekonomi pedesaan.
Penduduk yang terkena dampak penambangan akan h) Aspek sarana umum: peningkatan infrastruktur
diberi ganti rugi yang layak dan wajar, serta akan di lingkungan kawasan industri.
dipekerjakan dalam proses penambangan,
pembibitan dan penanaman cemara udang, proses 4) Keterkaitan Rencana Kegiatan dengan Kebijakan
reklamasi, perbaikan mutu tanah dan pemupukan. Baja Nasional
Pada tahun kedua, setelah reklamasi pada area
penambangan tahun pertama, penduduk/petani dapat Indonesia yang dikenal kaya sumber daya alam harus
memanfaatkan kembali tanah eks penambangan, dengan mengimpor 100 % bahan baku baja dan 60-70 %
tanaman yang lebih bernilai ekonomis. Berikut scrap baja untuk keperluan industri bajanya. Ini masih
manfaat dari aspek penyerapan tenaga kerja: ditambah teknologi pengolahan baja yang tidak
a) Pada area pra-penambangan, lahan mungkin efisien, karena menggunakan sumber energi gas yang
hanya bisa memberi manfaat ekonomis pada semakin meningkat harganya.
10 petani, tengkulak cabai dan semangka.
b) Pada masa penambangan akan terserap tenaga DIY memiliki potensi yang luar biasa sumber daya
kerja minimum 100 tenaga kerja secara langsung alam bahan baku baja yang berupa pasir besi,
dan sekitar 100 secara tidak langsung (sektor khususnya di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo.
angkutan, pemasok, komunikasi dan lainnya). Jika potensi ini dapat dimanfaatkan dan dikelola
c) Pada masa konstruksi pabrik peleburan pig iron, dengan baik akan menghasilkan sekitar 1 juta ton
yang akan dimulai pada tahun 2008, setidak- pig iron, berarti paling tidak akan memenuhi sekitar
tidaknya akan terserap secara langsung 500 50% bahan baku baja nasional yang sampai saat ini
tenaga kerja. masih diimpor. Saat ini bahan baku baja yang berupa
d) Setelah pabrik peleburan besi wantah mulai “biji besi terolah” 100% masih impor dari Amerika
beroperasi, setidak-tidaknya akan dibutuhkan Selatan, ongkos angkutnya sekitar $60 per ton. Bila
sekitar 2000 tenaga kerja langsung untuk mampu memproduksi sendiri bahan baku baja, dari
memproduksi 1 juta ton pig iron per tahun. ongkos angkut akan bisa menghemat sekitar
$50,000,000 per tahun. Contoh lain, Industri
Untuk jangka panjang diharapkan akan berkembang Pengecoran Logam Klaten, tetangga DIY, hanya 25 km
industri turunan dari industri peleburan pig iron yang dari Jogya. Industri ini masih membeli bahan baku
amat luas yang akan memberi manfaat ekonomis yang berupa pig iron impor dengan harga sekitar Rp
bagi kemajuan masyarakat Kulon Progo dan 4000-5000/kg berarti sekitar $400-550/ton. Di negara
sekitarnya (BPS Kabupaten Kulon Progo, 2008). asal harganya hanya sekitar $300-350/ton. Oleh
Berikut manfaat sosial kemasyarakat berdasar hasil karena itu, industri ini sulit berkompetisi di pasaran
kajian sementara: ekspor. Kalau PT. JMM bisa memproduksi pig iron,

12 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 1 – 16
Gambar 11. Rencana tata ruang kawasan pantai selatan tahun 2005-2015
U

Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan ... Bambang Yunianto 13
14
U

Gambar 12. Peta rencana pemanfaatan lahan kawasan pantai selatan Kabupaten Kulon Progo

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 1 – 16
maka akan sangat membantu, karena harga bahan KGPA Paku Alam IX No. 055/JMM/IX/2006 tgl
baku pasti akan lebih murah 20-30% dari bahan baku 22 September 2006.
impor (PT. JMM, 2007). DIY khususnya Kabupaten
Kulon Progo memiliki potensi yang amat besar untuk
didirikannya suatu industri baja terpadu, mulai dari 5. PENUTUP
penambangan bahan baku sampai industri
pengolahan bahan baku baja. Berdasarkan telaahan dari beberapa sudut pandang
terhadap permasalahan penolakan sebagian
Berdasarkan kajian ekonomi sementara, rencana masyarakat petani (isu lingkungan dan sosial ekonomi)
pembangunan pabrik pengolahan pasir besi di terkait rencana penambangan dan pengolahan pasir
Kabupaten Kulon Progo adalah: besi oleh PT. JMM di pantai selatan Kabupaten
a) Potensi bahan baku (pasir besi) tersebar di Kulon Progo tersebut, sebetulnya bersumber dari
beberapa wilayah Indonesia tetapi sampai saat kurangnya sosialisasi dan koordinasi di antara
ini Indonesia belum memiliki teknologi untuk pemangku kepentingan, terutama antara sektor
mengolah pasir besi menjadi pig iron. pertanian dengan sektor pertambangan. Beberapa hal
b) Industri pig iron di Kulon Progo direncanakan yang dijadikan dasar adalah:
juga akan memanfaatkan bahan baku dari daerah a) Secara prosedur perizinan di bidang pertam-
lain di Indonesia. bangan, seluruh tahap telah dan akan dipenuhi
c) Industri pig iron direncanakan akan dikembangkan oleh PT. JMM dan Indo Mines Ltd.
menjadi industri baja di Kulon Progo. b) Secara tata ruang pemanfataan lahan, kegiatan
d) Prospek investasi untuk pengembangan industri tersebut sudah sesuai dengan RTRW Kabupaten
di atas diperkiraan mencapai US$ 600 juta (Rp. Kulon Progo.
5,4 triliun). c) Secara sosial ekonomi masyarakat dan pemda,
kegiatan tersebut akan membuka peluang kerja,
Beberapa keuntungan yang akan diperoleh meningkatkan pendapatan masyarakat, dan
pemerintah dan masyarakat antara lain: PAD, serta pengaruh ekonomi dari sektor-sektor
a) Terbukanya lapangan pekerjaan yang sangat luas lain yang terkait.
baik di industri utama maupun industri pendu- d) Secara kepentingan nasional dapat memasok
kungnya sehingga mengurangi pengangguran di kebutuhan pig iron PT. KS yang masih
Kulon Progo mengimpor bahan baku, dan mendukung
b) Peningkatan pendapatan pemerintah/Daerah kebijakan baja nasional sejalan dengan rencana
yang sangat besar dari pajak, royalti, land rent, pembangunan pabrik baja di Kalimantan
retribusi, dan pendapatan lain yang sesuai dengan Selatan.
peraturan yang berlaku, sehingga akan
mempercepat proses pembangunan yang Untuk itu, dalam penyelesaian setiap permasalahan
berujung pada peningkatan kesejahteraan harus dilakukan kegiatan sosialisasi secara struktural
masyarakat di Kabupaten Kulon Progo. dan komprehensif terhadap seluruh pemangku kepentingan
c) Dengan adanya program pengembangan yang terkait dengan rencana kegiatan tersebut.
masyarakat (Community Development) akan
membantu mengembangkan masyarakat
terutama dalam bidang ekonomi, pertanian, DAFTAR PUSTAKA
pendidikan, sosial, kesehatan, budaya,
keagamaan dan lainnya. Anonim, 2005. Peraturan Bupati Kabupaten Kulon
d) Industri ini akan menjadi satu-satunya industri Progo No. 40 Tahun 2005 tentang Rencana Tata
yang memproduksi pig iron di Asia Tenggara Ruang Kawasan Pantai Selatan Tahun 2005-
dan akan dikembangkan sampai menjadi industri 2015, Wates.
baja di Kulon Progo.
e) Perusahaan yang telah menyatakan akan Bappeda Kabupaten Kulon Progo, 2005. Rencana
membeli pig iron adalah PT. Krakatau Steel Detail Tata Ruang Kawasan Pantai Selatan
(sesuai Head of Agreement 22 Januari 2007). Kabupaten Kabupaten Kulon Progo Tahun 2005
f) Lokasi pabrik dan area eksploitasi akan – 2015, Wates.
disesuaikan dengan Rencana Pengembangan
Wilayah Pemkab Kulon Progo dan Pemprov DIY BPS Kabupaten Kulon Progo, 2008. Kabupaten Kulon
termasuk kepemilikan lahan masyarakat dan Progo dalam Angka 2006/2007, Wates.
Puropakualaman (sesuai surat PT. JMM kpd

Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan ... Bambang Yunianto 15
BPS Kabupaten Kulon Progo, 2008. Produk Domestik PT. Jogja Magasa Mining, 2006b. Ringkasan hasil
Regional Bruto Kabupaten Kulon Progo 2002- eksplorasi pasir besi pada wilayah KK PT. JMM
2007, Wates. dan PT. Indo Mines Ltd.

PT. Jogja Magasa Mining, 2006a. Aplikasi Kontrak PT. Jogja Magasa Mining, 2007. Bahan sosialisasi
Karya untuk Pengembangan Pasir Besi di rencana penambangan pasir besi di Kabupaten
Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Kulon Progo kepada masyarakat.

16 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 1 – 16
RANCANGAN PROSES PEMBUATAN BRIKET BATUBARA
NONKARBONISASI SKALA KECIL DARI BATUBARA
KADAR ABU TINGGI

SUGANAL

Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA)


Jl. Jenderal Sudirman No. 623, Bandung
email : suganal@tekmira.esdm.go.id

Naskah masuk : 11 November 2008, revisi pertama : 06 Desember 2008, revisi kedua : 12 Desember 2008,
revisi terakhir : Januari 2008

ABSTRAK

Blue print Pengelolaan Energi Nasional 2006 mengarahkan bahwa penggunaan batubara perlu ditingkatan dari
15,34% menjadi 33% dalam energi bauran pada tahun 2025. Salah satu sasaran pemanfaatan batubara adalah
industri kecil dan rumah tangga. Akan tetapi, sistem pembakaran batubara pada rumah tangga dan industri
kecil umumnya menggunakan sistem grate atau kisi, sehingga memerlukan butiran batubara berbutir besar (±
4 cm). Oleh karena itu perlu dilakukan pembriketan batubara. Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan
penelitian pembuatan briket batubara dari batubara kadar abu tinggi termasuk pembuatan rancangan proses
serta biaya investasi agar dapat diterapkan pada masyarakat.

Hasil menunjukkan bahwa bahan pengikat proses pembriketan adalah molases, ukuran serbuk batubara – 3
mm dan tekanan pembriketan 200 kg/cm2. Untuk pembuatan briket batubara skala kecil dengan kapasitas 2,5
ton/jam diperlukan peralatan utama yang terdiri atas jaw crusher, hammer mill, double roll mixer, dan mesin
briket sistem double roll. Kebutuhan dana investasi sebesar Rp 1,58 miliar dengan jumlah karyawan 13 orang.

Kata kunci : briket batubara, kadar abu tinggi, rancangan proses,investasi

ABSTRACT

Blue Print of the 2006 National Energy Management appointed that the use of coal needs to be increased from
15.34% to 33% in the 2025 energy mix. Among the target, the use of coal is for small scale industries and
households. However, coal burning system in households and small scale industries are generally applied
grate system, which needs large coal particles (±4 cm). For this reason, coal briquetting is considered neces-
sary. Based on this purpose, research on briquetting by using coal with high ash content was carried out
including the design of process, therefore it can be applied widely.

Result shows that the briquette binder was molasses, size of coal particles was - 3 mm, and pressure of 2.0 kg/
cm2. A small scale coal briquetting with the capacity of 2.5 ton/hour requires main equipments such as jaw
crusher, hammer mill, double roll mixer, and double roll briquetting machine. Investment cost was Rp 1.58
million, with 13 employees.

Keywords : coal briquette, high ash content, design process, investment

Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil ... Suganal 17
1. PENDAHULUAN Tujuan penelitian ini adalah merancangan proses
pembuatan briket batubara nonkarbonisasi skala kecil
Blue print Pengelolaan Energi Nasional 2006 menggunakan batubara dengan kadar abu tinggi
mengarahkan bahwa penggunaan batubara perlu melalui teknologi pembuatan briket batubara
ditingkatkan dari 15,34% pada tahun 2005 menjadi sederhana, untuk memacu peningkatan produksi dan
33% dalam bauran energi pada tahun 2025 (Pusat penggunaan secara nasional.
Informasi Energi, 2006). Berdasarkan informasi dari
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral,
penggunaan batubara sebagai sumber energi masih 2. TINJAUAN PUSTAKA
dapat bertahan sampai 146 tahun, sedangkan minyak
bumi hanya dapat bertahan sampai 23 tahun 2.1. Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi
(Yusgiantoro, 2006). Meskipun cadangan batubara
cukup besar, umumnya sebagian dari batubara Briket adalah perubahan bentuk material yang pada
tersebut adalah batubara peringkat rendah dengan awalnya berupa serbuk atau bubuk seukuran pasir
kadar air tinggi dan mudah pecah terkena terpaan menjadi material yang lebih besar dan mudah dalam
perubahan cuaca. Penggunaan batubara peringkat penanganan atau penggunaannya (http://
rendah akan tepat untuk kegiatan rumah tangga dan www.komarindustries.com). Perubahan ukuran ma-
industri kecil padat energi yang tidak memerlukan terial tersebut dilakukan melalui proses
panas tinggi. Namun, penggunaan batubara pada penggumpalan dengan penekanan dan penambahan
rumah tangga dan industri kecil umumnya atau tanpa penambahan bahan pengikat. Dalam hal
menggunakan sistem grate atau kisi, sehingga briket batubara, bahan baku batubara yang beraneka
memerlukan butiran batubara berbutir besar (± 4 cm). ragam ukuran butirnya, diseragamkan melalui
Oleh karena itu perlu pembriketan batubara (Suganal, pemecahan, penggerusan dan pengayakan kemudian
2004). dicetak dengan mesin briket. Ukuran butir briket
batubara sekitar 4 - 12 cm tergantung kebutuhan
Meskipun briket batubara telah disosialisasikan sejak penggunaan (Schinzel, 1961 ).
lama, kuantitas penggunaannya masih sangat kecil,
yaitu hanya ± 27.000 ton per tahun. Hal ini antara Secara garis besar pembuatan briket batubara
lain karena sulitnya penyalaan awal mengingat briket nonkarbonisasi meliputi:
batubara merupakan bahan bakar padat. - penggerusan batubara,
- pencampuran dengan bahan pengikat,
Upaya perbaikan cara penyalaan dan memperkecil - pencetakan, dan
biaya produksi dilakukan dengan menggunakan anglo - pengeringan.
atau kompor briket batubara yang dilengkapi dengan
blower, agar pasokan udara pembakar cukup lancar, Bagan alir secara umum terlihat pada Gambar 1.
terus menerus dan memperkecil radiasi panas dari
bagian bawah anglo (Suganal, dkk, 2006 ). Batubara dari stockpile digerus menggunakan alat
jaw crusher dan hammer mill. Produk dari jaw crusher
Pemanfaatan batubara dalam bentuk briket batubara berukuran – 2 cm, kemudian dilanjutkan penggerusan
saat ini adalah sangat tepat, terutama untuk dengan hammer mill sampai berukuran – 3 mm.
kebutuhan industri kecil dan rumah tangga mengingat Perpindahan bahan pada proses penggerusan
minyak tanah semakin langka. Harga briket batubara dilakukan menggunakan conveyor belt atau pneu-
bila disetarakan dengan harga minyak tanah jauh matic conveyor.
lebih rendah sehingga cocok digunakan untuk rumah
tangga dan industri kecil (Suganal, dkk, 2008). Serbuk batubara dengan ukuran – 3 mm (- 8 mesh)
Sementara itu, sebagian batubara Indonesia berkadar ditambahkan bahan pengikat berupa tepung tapioka
abu tinggi dan relatif kurang diminati oleh industri atau serbuk tanah liat – 60 mesh atau molases.
besar maupun sebagai komoditas ekspor. Jumlah bahan pengikat yang optimal adalah
(Suganal, 2004) :
Atas dasar beberapa pertimbangan tersebut di atas, - jika menggunakan tepung tapioka maksimum
maka dilakukan penelitian pembriketan batubara sekitar 3% berat,
sebagai upaya untuk memanfaatkan batubara dengan - jika menggunakan serbuk tanah liat sekitar 10%,
kadar abu tinggi tersebut, untuk pengganti minyak - jika menggunakan molases sekitar 8%.
tanah pada industri kecil maupun rumah tangga.

18 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 17 – 30
Biomassa

Gambar 1. Bagan alir pembuatan briket batubara nonkarbonisasi (Maruyama, 2002; Suganal, 2004).

Pencampuran bahan pengikat dilaksanakan dalam terdapat sedikit perbedaan karena adanya
suatu mixer. Umumnya digunakan roll mixer. Untuk penambahan biomassa dan acapkali ditambahkan
pencampuran bahan pengikat berupa tepung tapioka, pula serbuk kapur padam. Serbuk kapur padam
terlebih dahulu tepung tapioka ini dibuat gel. Cara berfungsi sebagai material pengikat senyawa sulfur
yang sederhana adalah mencampur tapioka dengan agar lebih bersifat ramah lingkungan. Pada
air dengan kompsisi 1:8, kemudian dipanaskan pembuatan briket biobatubara, bahan baku batubara
sampai membentuk gel. Cara lain adalah dan biomassa terlebih dahulu mengalami proses
mencampurkan batubara dengan tapioka dalam pengeringan, sehingga produk briket tak perlu
kondisi kering kemudian disemprotkan uap basah dikeringkan kembali. (Maruyama, T, 2002 ; http:/
dari boiler. Campuran batubara dengan bahan www.nedo.go.jp/sekitan). Pencetakan briket
pengikat disebut adonan yang siap untuk dicetak biobatubara dilaksanakan dengan mesin double roll
dalam mesin briket. bertekanan tinggi, yaitu 3 ton/cm².

Untuk bahan pengikat berupa serbuk tanah liat, 2.2. Rancangan Proses Pembuatan Briket
pencampuran dapat langsung dilaksanakan dalam Batubara Nonkarbonisasi
mixer dengan cara menambahkan tepung tanah liat
sebanyak 10% dari berat batubara. Pencampuran Dalam rangka realisasi suatu produksi diperlukan
berlangsung pada kondisi kering kemudian rancangan proses yang antara lain meliputi
ditambahkan air sampai terbentuk adonan yang pembuatan neraca massa dan neraca energi,
lembab. penentuan jenis peralatan atau perangkat produksi,
perhitungan dimensi dan kapasitas peralatan dan
Pencetakan briket dilakukan dengan mesin briket. perkiraan harga peralatan.
Untuk briket bentuk bantal umumnya dicetak dengan
mesin briket double roll (http:/www.det.csiro.au/ Pada pembuatan briket batubara terdapat beberapa
energy center). Tekanan pembriketan adalah 200 kg/ tahap proses yang relatif sederhana, yaitu
cm2. Untuk briket batubara bentuk sarang tawon penggerusan batubara, pencampuran bahan pengikat,
dicetak dengan mesin briket tipe silinder. Briket pembriketan dan pengeringan. Penggerusan batubara
batubara nonkarbonisasi tanpa bahan pengikat pada dapat menggunakan jaw crusher dan dilanjutkan
umumnya menggunakan mesin briket double roll dengan hammer mill (Perry, 2008). Pencampuran
tetapi bertekanan tinggi (>200 kg/cm2) (Clark, 2005; bahan pengikat dipilih double roll mixer atau pan
http:/www.det.csiro.au/energy center) muller (Perry, 2008). Alat pencampur tersebut berupa
dua buah roda berputar ber keliling dalam suatu
Pembuatan briket biobatubara juga merupakan bejana dan dilengkapi dengan scrapper (penggaru)
pembuatan briket batubara nonkarbonisasi, namun untuk mengaduk material obyek pencampuran. Tahap

Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil ... Suganal 19
pembriketan batubara cukup dilakukan dengan mesin shatter test. Metode analisis menggunakan ASTM;
briket sistem double roll atau double roll press ma- untuk VM D-3175 – 1989; moisture D-3173-1979;
chine (Perry, 2008). Pengeringan briket batubara nilai kalor D-5865-04 sedangkan untuk kadar abu
umumnya dilakukan dengan cara penjemuran di D-3174-04. Kegiatan analisis berlangsung di
udara terbuka, kecuali untuk kapasitas besar sekitar Laboratorium Batubara Pusat Penelitian dan
lebih dari 10 ton per jam. Pengering yang umum Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara,
digunakan adalah band dryer. Bandung.

3.2. Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi


3. METODOLOGI
Penelitian pembuatan briket batubara nonkarbonisasi
Kegiatan rancangan proses pembuatan briket batubara dibuat dalam dua jenis, yaitu briket biobatubara dan
dari batubara kadar abu tinggi meliputi beberapa briket batubara. Briket biobatubara dibuat dengan
kegiatan, yaitu : mencetak adonan yang berupa campuran dari
· Analisis contoh bahan baku (batubara) dan batubara, serbuk kayu sebagai biomassa, serbuk kapur
produk (briket batubara); padam sebagai desulfurization agent dan molases
· Pembuatan briket batubara nonkarbonisasi; dan sebagai bahan pengikat, sedangkan briket batubara
· Penyusunan rancangan proses pembuatan briket dibuat hanya dari campuran batubara dan bahan
batubara nonkarbonisasi. pengikat tepung tapioka atau molases.

3.1. Analisis Contoh Bahan Baku dan Produk 3.2.1. Pembuatan briket biobatubara

Batubara kadar abu tinggi sebagai bahan baku yang Prosedur pembuatan briket biobatubara dapat dilihat
berasal dari Kalimantan Selatan dan batubara hasil pada Gambar 2.
pembriketan sebagai produk dianalisis terhadap
proksimat (kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, Bahan baku terdiri atas :
karbon padat), nilai kalor dan sulfur total. Selain itu - Batubara, digerus dengan jaw crusher dan ham-
untuk briket batubara juga dilakukan pengujian drop mer mill sampai menghasilkan batubara dengan

serbuk gergaji  Bahan imbuh
±  20 % air   (kapur padam)

Dryer 120oC
Batubara
±  10  % 
± 5% air air

Crusher Cutter

Ø< 3mm,
Kadar air 5% Ø< 3mm,
Kadar air 5 %
 
Molases Mixer
Adonan  Ø< 3mm,   
briket kadar  air 10%

Mesin Briket

Briket basah

Keranjang Berkisi

Briket biobatubara
     

Gambar 2. Bagan alir pembuatan briket biobatubara

20 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 17 – 30
ukuran butir – 3mm. dan kapur padam. Komposisi tersebut merupakan
- Serbuk kayu, sebagai biomassa dikeringkan dan komposisi ideal berdasarkan hasil penelitian
digerus dengan mesin cutter sampai berukuran pembuatan briket biobatubara di Pilot Plant Briket
- 3 mm dan kadar air 10%. Biobatubara, Palimanan (Suganal, 2003; Suganal
- Serbuk kapur padam, berukuran – 3mm dan 2004). Adonan yang diperoleh dicetak dengan mesin
kadar air 5%. briket double roll tipe kenari pada tekanan
- Molases dengan kadar air 32%. pembriketan 3 ton/cm2. Briket biobatubara yang
terbentuk dimasukkan dalam keranjang berkisi dan
Prosedur pembuatan briket biobatubara : dikeringkan di udara terbuka. Produk briket
Semua bahan baku berupa batubara, serbuk kayu, biobatubara dianalisis dan dicocokkan dengan
serbuk kapur padam dan molases dimasukkan ke unit standar baku mutu.
mixer untuk dilakukan pengadukan agar mendapatkan
campuran bahan yang merata dan disebut adonan. 3.2.2. Pembuatan briket batubara
Komposisi adonan adalah batubara = 90%, serbuk
kayu = 5%, kapur padam = 5%, molases = 5% Pembuatan briket batubara dilakukan sesuai dengan
dari jumlah berat campuran batubara, serbuk kayu bagan alir seperti terlihat pada Gambar 3.

Kadar air ± 5% 
Ø> 5 cm

Crusher
Batubara
Kadar air ± 5% 
Ø~ 1‐2 cm
Mill
Batubara
Kadar air ± 5% 
Ø~ ‐3 mm (‐8mesh)
Gel tapioka Mixer
Adonan briket

Mesin Briket

Briket basah

Keranjang Berkisi

Briket Batubara

Gambar 3. Bagan alir pembuatan briket batubara

Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil ... Suganal 21
Bahan baku terdiri atas : briket batubara yang menghendaki kadar sulfur total
· batubara, digerus dengan jaw crusher dan ham- 1,0%. Namun kadar abu relatif sangat tinggi dan
mer mill sampai berukuran - 3 mm, nilai kalor relatif rendah sehingga bahan pengikat
· tepung tapioka, dibuat menjadi gel dengan cara yang akan ditambahkan harus serendah mungkin,
mencampur 5 kg tapioka dengan 100 liter air misalnya tapioka atau molases. Meskipun nilai kalor
panas dan diaduk sampai homogen. batubara relatif rendah,

Prosedur pembuatan briket batubara : Tabel 1. Hasil analisis batubara


Batubara serbuk dicampur dengan gel tepung tapioka
dalam roll mixer dengan komposisi 90% batubara No Parameter Nilai
serbuk dan 10 % gel tepung tapioka membentuk
1 Total kelembaban % 5,34
adonan briket batubara. Komposisi adonan tersebut
2 Air lembab, %, adb 2,55
merupakan komposisi ideal berdasarkan rekaman
3 Kadar abu, % adb 38,39
catatan pada kegiatan ujicoba produksi briket
4 Kadar zat terbang, % adb 28,72
batubara nonkarbonisasi di Pilot Plant Briket
5 Kadar karbon padat, % adb 30,34
Biobatubara Palimanan (Suganal, 2003). Adonan
6 Kadar sulfur total, % adb 0,57
yang diperoleh dicetak dengan mesin briket double
7 Nilai kalor, kkal/kg adb 4.555
roll tipe kenari pada tekanan pembriketan 3 ton/cm2.
Briket batubara yang terbentuk dimasukkan dalam
keranjang berkisi dan dikeringkan di udara terbuka. diperkirakan masih memenuhi batas minimal nilai
Produk briket batubara dianalisis dan dicocokkan briket batubara nonkarbonisasi, yaitu 4.400 kkal/kg.
dengan standar baku mutu yang tercantum pada Hal yang menguntungkan pada batubara Kalimantan
Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Selatan tersebut di atas adalah kadar sulfur total
Nomor 047 Tahun 2006 tertanggal 11 September cukup rendah, yaitu 0,56 %. Berdasarkan standar
2006 tentang Pedoman Pembuatan dan Pemanfaatan baku mutu bahan baku briket batubara adalah
Briket Batubara dan Bahan Bakar Padat Berbasis maksimum 1,0 % (Peraturan Menteri Energi dan
Batubara. Sumber Daya Mineral Nomor 047 tahun 2006,
tertanggal 11 September 2006, tentang Pedoman
3.3. Penyusunan Rancangan Proses Pembuatan Pembuatan dan Pemanfaatan Briket Batubara dan
Briket Batubara Nonkarbonisasi Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara).

Berdasarkan data komposisi adonan briket batubara 4.2. Kualitas Briket Batubara Nonkarbonisasi
dari hasil percobaan pembuatan briket batubara
nonkarbonisasi tersebut dan data parameter proses 4.2.1. Kualitas briket biobatubara
lainnya pada penelitian briket batubara terdahulu
(Suganal 2003; Suganal, 2004) segera dibuat neraca Berdasarkan hasil analisis batubara sebagai bahan
massa untuk menghitung kebutuhan peralatan dan baku pembuatan briket biobatubara diketahui bahwa
spesifikasinya yang dilanjutkan dengan penyusunan kadar air total batubara sangat kecil, yaitu 5,34%
tata letak peralatan dan perkiraan harga peralatan. dan kadar air lembab hanya 2,55%, maka pembriketan
Perkiraan harga dari tiap peralatan didapat dari batubara dapat langsung dilaksanakan tanpa harus
bengkel pembuat peralatan. Sebagai pelengkap dikeringkan dengan mesin pengering atau dryer.
disusun kebutuhan bangunan dan perkiraan biayanya
berdasarkan data yang didapat dari perusahaan yang Pengamatan selama proses pencetakan briket,
bergerak di sektor bangunan sipil pabrik. Kebutuhan diketahui bahwa rendemen atau perolehan
tenaga operator juga disajikan dalam tulisan ini. pembriketan hanya mencapai 80%. Hal ini berarti
sejumlah 20% adonan terdapat tidak tercetak dengan
baik atau 20% briket yang tidak sempurna
4. HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN pencetakannya. Dengan demikian, briket yang tidak
sempurna harus dilakukan pembriketan ulang.
4.1. Analisis Bahan Baku Batubara
Hasil analisis fisik briket biobatubara sebagai
Hasil analisis batubara dapat dilihat pada Tabel 1. berikut:
Berdasarkan hasil analisis dalam tabel tersebut, dapat Kuat tekan rata-rata : 48,2 kg/cm2
disimpulkan bahwa kadar sulfur total cukup rendah, Berat /butir : 17,08 gram
lebih rendah daripada standar baku mutu bahan baku

22 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 17 – 30
Jenis analisis fisik lainnya adalah drop shatter test yang Rendahnya nilai kalor briket biobatubara disebabkan
hasilnya dibandingkan dengan distribusi ukuran briket oleh penambahan biomassa dan penambahan kapur.
biobatubara sebelum dilaksanakan drop shatter test. berupa serbuk gergaji yang digunakan mempunyai
Hasil drop shatter test dapat dilihat pada Tabel 2. nilai kalor sekitar 3.500 kkal/kg dan kadar abu
umumnya kurang dari 5% (Perry, 2008), sehingga
penambahan tersebut akan mengurangi nilai kalor
Tabel 2. Distribusi ukuran briket biobatubara hasil briket biobatubara. Penambahan serbuk kapur
juga menimbulkan penurunan nilai kalor dan
No. Bukaan Fraksi berat Fraksi berat menambah kadar abu karena kapur bersifat inert dan
ayakan, briket awal, briket setelah tidak mempunyai nilai kalor (bahan anorganik tanpa
mm % drop shatter unsur karbon). Pada penelitian pembuatan briket
test, % biobatubara sebelumnya (Maruyama, 2002),
diperlukan penambahan serbuk kapur sebagai mate-
1 -50 + 37,5 - -
rial pengikat gas SO2 dalam gas buang pembakaran
2 -37,5 + 25 9,33 11,97
briket tersebut. Demikian pula penambahan
3 -25 + 19,0 85,71 69,57
biomassa bertujuan mempercepat terjadi penyalaan
4 -19,0 + 12,5 0,86 4,26
awal karena biomassa mempunyai kadar zat terbang
5 -12,5 + 6,3 1,19 3,65
lebih besar dibanding batubara (Suganal, 2004).
6 -6,3 + 3,35 0,60 1,62
7 - 3,35 2,31 8,93
Hasil percobaan tersebut di atas menunjukkan bahwa
pembuatan briket biobatubara dari batubara kadar
abu tinggi dengan bahan pengikat molases
Berdasarkan Tabel 2, terlihat bahwa fraksi kumulatif menghasilkan sifat fisik yang baik tetapi sifat
distribusi ukuran butir briket biobatubara yang kimianya sedikit di bawah persyaratan baku mutu
dominan (+ 19 mm) adalah sebesar 95,04%. Setelah briket batubara. Dengan demikian, untuk pembuatan
dilakukan pengujian drop shatter test, fraksi butiran briket biobatubara dalam skala komersial tidak perlu
dengan ukuran + 19 mm menjadi 81,54%. Dengan penambahan kapur, agar briket batubara yang
demikian perubahan ukuran butir yang terjadi relatif dihasilkan masih mempunyai nilai kalori di atas
kecil, yaitu 13,5%. Analisis drop shatter test tersebut persyaratan baku mutu.
memberikan indikasi bahwa dalam transportasi
maupun penyimpanan yang rentan terhadap gesekan 4.2.2. Kualitas briket batubara
atau jatuh dari suatu ketinggian, perubahan ukuran
(remuk) yang dialami relatif kecil. Spesifikasi briket Pengamatan selama proses pencetakan briket,
biobatubara dapat dilihat pada Tabel 3. diketahui bahwa rendemen atau perolehan
pembriketan mencapai 90%. Hal ini berarti sejumlah
10% adonan tidak tercetak dengan baik atau 10%
briket tidak sempurna pencetakannya. Briket yang
Tabel 3. Hasil analisis briket biobatubara tidak sempurna pada umumnya dilakukan
pembriketan ulang. Jika dibandingkan dengan
No Parameter Nilai pembuatan briket biobatubara tersebut di atas, maka
1 Air lembab, %, adb 3,71 perolehan pencetakan briket batubara lebih
2 Kadar abu, % adb 36,71 mendekati sempurna. Pada prinsipnya mencetak
3 Kadar zat terbang, % adb 31,65 adonan briket tanpa campuran biomassa akan lebih
4 Kadar karbon padat, % adb 27,93 mudah karena batubara tidak bersifat kenyal saat
5 Kadar sulfur total, % adb 0,66 ditekan pada pencetakan.
6 Nilai kalor, kkal/kg, adb 4.289
Hasil analisis fisik briket batubara adalah :
Kuat tekan rata-rata : 37,8 kg/cm²
Berat /butir : 11,67 gram
Dari Tabel 3, dapat dilihat bahwa kadar sulfur sangat
rendah sehingga masih dalam ambang batas yang Perbandingan sifat fisik dari briket biobatubara
diizinkan sesuai spesifikasi standar briket batubara. berbahan pengikat molases dengan briket batubara
Namun nilai kalor juga rendah, bahkan kurang dari berbahan pengikat tepung tapioka menunjukan
4.400 kkal/kg, yaitu batas terendah persyaratan baku bahwa pembriketan dengan bahan pengikat molas-
mutu standar briket batubara nonkarbonisasi. ses mempunyai sifat fisik lebih tinggi.

Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil ... Suganal 23
Tabel 4. Distribusi ukuran briket batubara briket batubara sebelumnya (Suganal, 2003; Suganal,
2004), maka diperoleh hal hal penting sebagai
No Bukaan ayakan, Fraksi berat Fraksi berat berikut:
mm briket awal, briket setelah - penambahan biomassa dan serbuk kapur padam
% drop shatter akan menurunkan nilai kalor briket batubara dan
test,% menambah kadar abu briket batubara,
1 -37,5 + 25 - - - penggunaan tepung kanji relatif tidak
2 -25 + 19,0 59,39 37,80 memengaruhi nilai kalor, namun sifat fisik
3 -19,0 + 12,5 27,27 32,52 briket batubara kurang kuat,
4 -12,5 + 6,3 5,66 13,41 - penggunaan molases relatif tidak menurunkan
5 -6,3 + 3,35 1,74 3,66 nilai kalor, sifat fisik briket batubara relatif baik,
6 -3,35 5,86 11,99 - meskipun penambahan biomassa dapat
mempercepat penyalaan awal briket batubara,
namun sifat biomassa yang kenyal acapkali
Berdasarkan Tabel 4, terlihat bahwa fraksi kumulatif briket yang dihasilkan menjadi kurang kuat,
distribusi ukuran butir briket batubara yang dominan - tidak diperlukan penambahan serbuk kapur
(+19 mm) adalah sebesar 59,39%. Jika dibandingkan padam, karena kadar sulfur total bahan baku
dengan briket biobatubara berbahan pengikat molases batubara cukup rendah, yaitu 0,57 %.
pada Tabel 2, maka terlihat bahwa briket batubara
dengan bahan pengikat kanji kurang kuat. Setelah Atas pertimbangan hasil penelitian pembuatan briket
dilakukan pengujian drop shatter test, fraksi butiran batubara dari batubara kadar abu tinggi dan hasil
dengan ukuran + 19 mm menjadi 37,80%. Hal ini penelitian tentang briket batubara sebelumnya, maka
menunjukkan bahwa sifat fisik briket batubara pada penerapan skala komersial dipilih bahan
dengan bahan pengikat tepung tapioka mempunyai pengikat molases tanpa penambahan biomassa
kecenderungan remuk lebih besar dibandingkan maupun serbuk kapur padam agar mutu briket
dengan briket batubara berbahan pengikat molases. batubara terjamin sesuai baku mutu yang telah
Spesifikasi briket batubara dapat dilihat pada Tabel 5. ditetapkan, yaitu Peraturan Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral Nomor 047 tahun 2006,
tertanggal 11 September 2006, tentang Pedoman
Pembuatan dan Pemanfaatan Briket Batubara dan
Tabel 5. Hasil analisis briket batubara
Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara.

No Parameter Nilai
1 Air lembab, %, adb 4,29 5. KONSEP RANCANGAN PABRIK BRIKET
2 Kadar abu, % adb 35,27 BATUBARA NONKARBONISASI SKALA
3 Kadar zat terbang, % adb 30,81 KECIL
4 Kadar karbon padat, % adb 29,63
5 Kadar sulfur total, % adb 0,68 Kapasitas pabrik briket batubara skala kecil adalah
6 Nilai kalor, kkal/kg, adb 4.412 2,5 ton/jam briket batubara. Berdasarkan hasil analisis
batubara dan briket batubara serta data percobaan
lainnya dibuat neraca massa dan energi secara
Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 5, terlihat sederhana seperti tercantum pada Gambar 4, dan
bahwa mutu briket batubara dengan bahan pengikat perhitungan peralatan untuk merealisasikan operasi
tepung tapioka mempunyai sifat kimia yang lebih dari masing-masing tahap proses (Perry, 2008;
baik dibandingkan dengan briket biobatubara Schinzel, 1961). Peralatan utama tersebut antara lain
berbahan pengikat molases. Dalam hal nilai kalor, jaw crusher, hammer mill, double roll mixer dan
briket batubara tersebut masih dalam nilai yang mesin briket. Spesifikasi dari peralatan terlihat pada
diizinkan (> 4.400 kkal/kg adb). Tabel 6.

Berdasarkan hasil analisis bahan baku berupa Peralatan proses pabrik briket batubara ditempatkan
batubara kadar abu tinggi, analisis fisik melalui uji pada suatu bangunan berdasarkan prinsip ergonomis
drop shatter test dan uji kuat tekan serta analisis agar pelaksanaan produksi berlangsung lancar dan
kimia melalui uji proksimat dan nilai kalor terhadap tidak terjadi duplikasi gerak manusia maupun alat.
produk briket biobatubara dan briket batubara yang Tata letak peralatan terlihat pada Gambar 5.
telah diuraikan di atas, dan hasil kegiatan penelitian Rangkaian peralatan disusun menjadi bagan alir

24 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 17 – 30
Basis : 1 jam operasi

Molases Entalpi pada 25 ºC ~ 0 kkal

140 kg Ø = ukuran butiran batubara


Q = 0 kkal
o
Temp : 25 C

    Double Roll      
Jaw Crusher  Hammer Mill Mesin Briket
Mixer  

Batubara Batubara Batubara Adonan briket


Molases : 140 kg
Ø > 50 mm Ø : 3-25 mm Ø < 3 mm -
2.397 kg 2.397 kg 2.397 kg Batubara : 2.397 kg
Q = 0 kkal Q = 0 kkal Q = 0 kkal 3.537 kg
o o o
Temp : 25 C Temp : 25 C Temp : 25 C Q = 0 kkal
o
Temp : 25 C

Briket batubara basah


Uap air 37 kg 2.537 kg
Q = 0 kkal
Temp : 25oC
Briket Batubara

2.500 kg Keranjang Berkisi
 
Q = 0 kkal
Temp : 25oC

Gambar 4. Neraca massa dan neraca energi

Tabel 6. Kebutuhan peralatan

No. Nama Alat Spesifikasi Fungsi Jumlah


1 Mesin Briket Tipe: double roll Mencetak adonan 1 unit
Tipe Telur Sistem feeding : gravitasi/vertical feeding briket batubara
Kapasitas : 2,5 ton/jam menjadi briket
Roll, shaft & bearing : batubara
- Diameter roll : 620 mm
- Cetakan : sistem segmen, 12 segmen
- Bahan cetakan : Baja cor FC 30 tahan tumbukan
- Bentuk briket : telur/jengkol
- Ukuran briket : 52x52x35 mm
- Berat briket : ± 60 gram per butir
- Main shaft : Baja poros high tensile strength
- Main Bearing : self Aligning spherical
roller bearings
Bahan Konstruksi:
- Rangka, besi profil, 15 cm x 10 cm x 12 cm
- Hooper, transmision cover dan lain-lain:
plat mild steel 5 mm
Daya : motor listrik 10 HP, 220/380 V
Sistem Transmisi:
Elektro Motor - V Belt & Pulley - Gear Box -
Chain & Sprocket - Gear
- V Belt : 2 baris type B
- Chain & Sprocket : RS 100
- Gearbox: Worm Gear
- Gear: Spur Gear, module 11,5 mm

Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil ... Suganal 25
Tabel 6. Kebutuhan peralatan (lanjutan)

No. Nama Alat Spesifikasi Fungsi Jumlah


2 Double Roll Tipe/Jenis : Pan Mixer Mencampur bahan 3 unit
Mixer dengan Blade pengaduk baku berupa
Diameter shell = ±120 cm, tinggi ±120 cm batubara halus
- Daya : motor listrik 7,5 HP, 220/380 Volt (- 3 mm) dan
- Kapasitas : 200 Kg/batch, waktu 1 batch = molases.
15 s/d 20 menit
- Sistem Transmisi : Vertical Gear Box, chain &
sprocket, V belt
- Putaran : 20 s/d 30 RPM
Bahan Konstruksi:
- Shell, plat mild steel 5 mm
- Alas shell, plat mild steel 12 mm
Blade pengaduk, plat mild steel 6 mm
- Kaki penyangga, pipa Ø 4"
- Rangka alas kaki penyangga, besi profil 10 mm
Main Shaft & Bearing :
- Main shaft : Baja poros high tensile strength
2½ inc
Main Bearing : Tapered roller Bearings 2½ inc

3 Hammer Tipe : Modified Squirel Cage Mill Menggiling batubara 1 unit


Mill Daya: motor listrik 10 HP, 220/380 Volt (1400 rpm) ukuran sedang

Kapasitas: 1000 s/d 2000 Kg/jam (3mm – 25 mm)


Besar butir output <3 mm menjadi
Feeding System : Screw feeder variable speed batubara berukuran
Bahan Konstruksi: – 3 mm
- Rumah Crusher, plat mild steel 10 mm dan 5 mm
- Rotor penghancur, baja dengan pelapis tahan gesek
(sistim las/ manganase steel
- Saringan, plat baja 6 mm
- Rangka, kaki penyangga, besi profil 6 cm x 8 cm x
10 cm
- Cover system transmisi, plat mild steel 2 mm,
3 mm atau 4 mm
- Hooper, plat mild steel 5 mm
Main Shaft & Bearing :
- Main shaft: Baja poros high tensile strength 2"
- Main Bearing ; Self Aligning Spherical Roller
Bearings 2"

4 Jaw Crusher Tipe: Togle Jaw Crusher Memecah batubara 1 unit


Gap & Opening : 175 x 200 mm ukuran > 50 mm
Daya : motor listrik 3 HP, 220/380 V menjadi ukuran
Putaran : ± 450 RPM sedang
Kapasitas : 1000 s/d 2000 Kg/jam 3 mm – 25 mm
Ukuran besar butir output: 3 s/d 25 mm.
Bahan Konstruksi:
- Rumah Crusher, plat mild steel 12 mm atau 14 mm
- Jaw plate, plat baja dengan pelapis tahan gesek
(sistim las)/ manganase 1 steel

26 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 17 – 30
Tabel 6. Kebutuhan peralatan (lanjutan)

No. Nama Alat Spesifikasi Fungsi Jumlah


- Rangka, kaki penyangga, besi profil 15 cm
- Cover system transmisi, plat mild steel 2 mm -
4 mm
- Hooper, plat mild steel 5 mm
Main Shaft & Bearing :
- Main shaft: Baja poros high tensile strength
Bearing : Self Aligning Spherical Roller Bearings
2 “ – 3”

5 Conveyor Tipe : V flat belt Conveyor Memindahan 4 unit


Belt: lebar = 40 cm, tebal = 7,5 mm material (batubara
Panjang : 4 s/d 10 m tergantung keperluan atau adonan briket)
Kapasitas: 1250 Kg/jam dari satu lokasi ke
Daya : motor listrik 2 HP, 220/380 V lokasi lainnya sesuai
System transmisi: V belt, Gear box, Chain & sprocket posisi yang
Bahan Konstruksi: diinginkan
- Rangka utama, besi kanal C 15
- Kaki penyangga, besi profil L 7 cm
- Cover system transmisi, plat mild steel 2 mm
3 mm
- Drum, pipa 0 8"
- Roll penyangga belt bagian bawah, pipa ø 3"
Main Shaft & Bearing :
- Main shaft: Baja poros high tensile strength 1½”
- Bearing : Pillow Block Bearings 1½”
- 35 – 40 cm lebar conveyor
6 Silo Kotak penampung batubara halus, kapasitas 12,5 m3 Menyimpan 2 unit
Ukuran kotak penampung = 3,6 x 2,4 x 1,2 m batubara halus
Tinggi Total : 3,55 m sebelum dicampur
Bahan Konstruksi: dalam double roll
- Body, plat 6 mm mixer
- Kaki penyangga, besi profil kanal 10 cm

Tabel 7. Kebutuhan dana peralatan


X Rp 1.000,-

No Nama alat Fungsi Jumlah Harga per unit Harga total


1 Mesin Briket Mencetak adonan briket batubara 1 unit Rp 134.000,- Rp 134.000,-
Tipe Telur menjadi briket batubara
2 Double Roll Mencampur bahan baku berupa 3 unit Rp 33.600,- Rp 100.800,-
Mixer batubara halus (- 3mm) dengan
molases
3 Hammer Mill Menggiling batubara ukuran sedang 1 unit Rp 86.000,- Rp 86.000,-
(3mm – 25 mm) menjadi batubara
berukuran – 8 mesh
4 Jaw Crusher Memecah batubara ukuran > 50 mm 1 unit Rp 36.000,- Rp 36.000,-
menjadi ukuran sedang 3 mm – 25 mm
5 Conveyor Memindahan material (batubara atau 4 unit Rp 22.000,- Rp 88.000,-
adonan briket) dari satu lokasi ke lokasi
lainnya sesuai posisi yang diinginkan

Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil ... Suganal 27
Tabel 7. Kebutuhan dana peralatan (lanjutan)
X Rp 1.000,-

No Nama alat Fungsi Jumlah Harga per unit Harga total


6 Silo Menyimpan batubara halus sebelum 2 unit Rp 30.000,- Rp 60.000,-
dicampur dalam mixer

Catatan : harga tahun 2007


Jumlah Rp 504.800.000,-

Tabel 8. Kebutuhan dana bangunan

No. Nama Bangunan Fungsi luas Harga total


1 Bangunan pabrik Tempat melaksanakan operasi 450 m2 Rp. 737.436.000,-
produksi briket batubara
2 Gedung pengepakan Tempat pelaksanaan pengepakan 81 m2 Rp.80.000.000,-
produk briket batubara siap dikirim ke
konsumen.
3 Stockpile Tempat penimbunan bahan baku batubara 150 m2 Rp.18.937.000,-
4 Mes Karyawan Tem tinggal karyawan pabrik briket abtubara 90 m2 Rp.163.747.000,-
5 Penyiapan lahan Menyediakan lahan siap bangun 5.000 m2 Rp. 70.000.000,-

Catatan : harga tahun 2007


Jumlah = RP 1.070.120.000,-

Jumlah kebutuhan dana = Rp 504.800.000,- + RP 1.070.120.000,- = Rp 1.574.920.000,-

Gambar 5. Tata letak peralatan

28 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 17 – 30
Gambar 6. Bagan alir pembuatan briket batubara nonkarbonisasi skala kecil

Tabel 9. Kebutuhan tenaga kerja sebagai operator peralatan

No. Unit Alat Kualifikasi Fungsi/jabatan Jumlah


1 Mesin Briket Tamatan STM Mesin Mengoperasikan mesin briket/operator 1 orang
Tipe Telur
2 Double Roll Tamatan STM mesin Mengoperasikan unit double roll mixer/ 2 orang
Mixer operator
3 Hammer Mill Tamatan STM Mesin Mengoperasikan unit hammer mill/operator 1 orang
4 Jaw Crusher Tamatan STM Mesin Mengoperasikan unit jaw crusher /operator 1 orang
5 Conveyor Tamatan STM Mesin Mengoperasikan conveyor 1 orang
6 Silo Tamatan STM Mesin Mengatur laju pengeluarn dan penyimpanan 1 orang
serbuk batubara

Tabel 10. Kebutuhan tenaga kerja total

No. Unit Spesifikasi Fungsi/jabatan Jumlah


1 Mesin pabrik Tamatan STM Mesin Mengoperasikan mesin pabrik /operator 7 orang
2 Pengeringan Tamatan SLTP Mengatur proses pengeringan briket secara 2 orang
manual
3 Pengepakan Tamatan SLTP Mengepak produk briket batubara siap 2 orang
dikirim ke konsumen
4 Administrasi/kantor Tamatan SLTA Mengatur administrasi kegiatan pabrik 1 orang
5 Manager D3 Teknik Industri Menjalankan operasional pabrik 1 orang

proses seperti terlihat pada Gambar 6. Perkiraan harga 6. KESIMPULAN


pada tahun 2007 dari tiap peralatan dan bangunan
tercantum pada Tabel 7 dan Tabel 8. Pada saat ini – Batubara Kalimantan Selatan dengan kadar abu
telah cukup banyak bengkel permesinan yang berhasil tinggi, yaitu 38,39 %, nilai kalor 4.555 kkal/kg
membuat peralatan pembuatan briket batubara skala dapat digunakan untuk pembuatan briket
kecil. Untuk wilayah Jawa, bengkel bengkel tersebut batubara dengan bahan pengikat molases atau
terdapat di Bekasi, Bandung, Tegal dan lain lain. tepung tapioka;

Untuk kepentingan operasi pabrik briket tersebut – Mutu briket batubara hasil percobaan masih
diperlukan tenaga terampil untuk menjalankan memenuhi persyaratan briket batubara dengan
mesin-mesin maupun perlistrikan lingkungan pabrik. nilai kalor 4.412 kkal/kg;
Kebutuhan tenaga tercantum pada Tabel 9,
sedangkan kebutuhan tenaga secara keseluruhan – Bahan baku briket batubara relatif kering, maka
tercantum pada Tabel 10. pembuatan briket tidak perlu melalui tahap

Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil ... Suganal 29
pengeringan. Seminar nasional III, Jaringan Kerjasama Kimia
Indonesia, Yogyakarta, Agustus 2003.
– Untuk menjaga penurunan nilai kalor, tidak
disarankan penambahan bahan pengikat berupa Suganal, 2004. Penggunaan Serbuk Gergaji Pada Pi-
serbuk tanah liat dan material imbuh lain seperti lot Plant Briket Biobatubara Palimanan,
serbuk kapur padam dan lainnya, sedangkan Prosiding Seminar Kimia Nasional XIV, Jurusan
bahan pengikat yang disarankan adalah molases. FMIA UGM, Yogyakarta 6-7 September 2004.

– Untuk pembuatan briket skala kecil dengan Suganal, dkk., 2006. Modifikasi Kompor Briket
kapasitas 2,5 ton/jam, diperlukan dana investasi Batubara sebagai Upaya Peningkatan
sebesar Rp 1,58 miliar, jumlah karyawan 13 Penggunaan Briket Batubara dan Batubara Skala
orang. Nasional Pada Industri Kecil Padat Energi dan
Rumah Tangga, Prosiding Seminar Kimia
– Peralatan dan mesin relatif sederhana dan dapat Nasional XV, Jaringan Kerjasama Kimia Analitik
dirakit di dalam negeri Indonesia, Yogyakarta, 7 Desember 2006.

Suganal, dkk., 2008. Perangkat Pembakaran Batubara


DAFTAR PUSTAKA Pada Industri Kecil dan Rumah Tangga dalam
Rangka Optimalisasi Energi Nasional, Prosiding
Clark, K., 2005, Evaluation of coal from PT Berau’s Seminar Nasional Rekayasa Kimia dan Proses
coal lati and Bunyu mine for binderless coal 2008, Jurusan Teknik Kimia, Universitas
briquetting, Binderless Coal Briquetting com- Diponegoro Semarang.
pany Pty Limited
Yusgiantoro, P, 2006. Peran Strategis Gasifikasi
Maruyama, T., 2002. Bio Coal Plant Project, http:/ Batubara Untuk Memperkuat Ketahanan Energi
www.unire-jp.com/engbicoal. Nasional, Paparan Seminar Gasifikasi Batubara
Peringkat Rendah, Jakarta, Mei 2006.
Perry, R.H., 2008. Chemical Engineers’ Handbook,
Seventh edition, Mc Graw Hill Book, India. ………….,2005, Binderless Coal Briquetting com-
pany, http:/www.coalbriquettes.com/bb activi-
Pusat Informasi Energi, 2006. Blue print Pengelolaan ties
Energi Nasional, Departemen Energi Dan
Sumber Daya Mineral. …………., 2007. The Komar Briquetting System,
http:/www.komarindustries.com
Schinzel, W., 1961. Briquetting, dalam Martin
AE(editor), Chemistry of Coal Utilization, John …………., 2007. Binderless Briquetting of Coal,
Wiley&Son, Texas, USA: 609-665. http:/www.det.csiro.au/energy center

Suganal, 2003. Pengembangan Produk Pilot Plant …………., 2007. Briquette Production Technology,
Briket Biobatubara Di Palimanan, Prosiding http:/www.nedo.go.jp/sekitan

30 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 17 – 30
BLENDING BATUBARA UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK
STUDI KASUS PLTU SURALAYA UNIT 1- 4

SLAMET SUPRAPTO

Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA)


Jl. Jenderal Sudirman No. 623, Bandung

Naskah masuk : 26 Mei 2008, revisi pertama : 12 Desember 2008, revisi kedua : 19 Januari 2009,
revisi terakhir : Januari 2009

SARI

PLTU Suralaya unit 1-4 yang mulai beroperasi pada akhir tahun 80-an didesain sesuai dengan kualitas batubara
Air Laya, Sumatera Selatan yang termasuk batubara subbituminus dengan parameter kualitas tertentu. Penggunaan
batubara lain yang spesifikasinya tidak sesuai dengan kualitas batubara Air Laya tersebut dapat mengganggu
kelancaran pengoperasian ketel uap pembangkit. Dalam rangka melihat kemungkinan penerapan sistem blend-
ing batubara untuk pembangkit tersebut, telah diadakan kajian kemungkinan blending batubara Indonesia.
Kajian dilakukan berdasarkan pengumpulan data spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya unit 1-4 dan data
kualitas batubara Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa untuk mengatasi masalah pasokan batubara
untuk PLTU Suralaya unit 1-4, sistem blending dapat dilakukan antara batubara peringkat rendah (lignit) dan
batubara peringkat tinggi (bituminus) sesuai dengan spesifikasi parameter kualitas batubara, terutama nilai
kalor. Namun demikian, batubara peringkat tinggi umumnya mempunyai sifat ketergerusan rendah, sehingga
parameter ini perlu diperhatikan mengingat parameter ini cenderung bersifat nonaditif. Pengujian penggerusan
dan pembakaran dalam skala yang mendekati kondisi nyata di lapangan perlu dilakukan untuk mengevaluasi
batubara hasil blending.

Kata Kunci: batubara, pembangkit listrik, blending, peringkat

ABSTRACT

The design of Suralaya Power Plant unit 1-4 that started to operate at the end of nineteen eighties was based on
Air Laya coal, South Sumatera with certain quality parameters. The use of other coal that has different quality
with the Air Laya coal can disturb the operation power plant boiler. In relation to the possibility of develop-
ment of coal blending for the Suralaya Power Plant, study on the possibility of blending system for Indonesian
coal has been carried out. The study was based on the literature study of coal design parameter of the Suralaya
Power Plant and Indonesia coal data. Results of the study showed that to overcome the problem of coal supply
the Suralaya Power Plant unit 1-4, coal blending system can be carried out between low rank coal (lignite) and
high rank coal (bituminous) based on the coal quality parameter specification, especially calorific value.
However, the high rank coal generally has low grindability index, and therefore this parameter needs to be
considered since it tends to be nonadditive. Tests on coal mill and coal combustion at higher scale that close
to the real practical condition need to be carried out for evaluating the coal blend results.

Keywords: coal, power plant, blending, rank

Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4, Slamet Suprapto 31
1. PENDAHULUAN ini umumnya batubara subbituminus dan bituminus
yang sebagian besar sudah dialokasikan untuk
Mengingat potensinya yang paling besar di Indone- memenuhi kontrak jangka panjang untuk ekspor atau
sia, batubara telah ditetapkan sebagai bahan bakar kebutuhan dalam negeri. Sedangkan batubara lignit
alternatif utama pengganti bahan bakar minyak. Pada baru mulai dieksploitasi terutama untuk memenuhi
tahun 2025, sumbangan batubara dalam bauran kebutuhan dalam negeri.
energi (energy mix) nasional diproyeksikan menjadi
yang terbesar, yakni 33% dibanding sumber energi Karakteristik pembakaran batubara dalam pembangkit
lainnya (Suprapto, 2007). Dalam rangka mencapai listrik sangat dipengaruhi oleh kualitas batubara,
sasaran tersebut, upaya peningkatan dan diversifikasi sehingga keterlambatan pasokan batubara Air Laya
penggunaan batubara terus dilakukan, baik sebagai ke PLTU Suralaya dapat menganggu kelancaran
bahan bakar langsung maupun melalui konversi operasi pembangkit. Untuk mengatasi ketergantungan
menjadi bahan bakar gas atau bahan bakar cair. Untuk terhadap pasokan dari satu jenis batubara atau
pemanfaatan batubara sebagai bakar pembangkit pemasok tersebut, PT Indonesia Power (anak
listrik, saat ini sedang dibangun rencana 10.000 MW perusahaan PT PLN Persero) akan membangun coal
PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) berbahan bakar blending plant (Kompas, 2008) di PLTU Suralaya.
batubara (MinergyNews.Com, 2007). Walaupun blending batubara sudah umum dilakukan
dalam pembangkit listrik, kajian yang mendalam
Walaupun pembangkit-pembangkit baru mulai perlu dilakukan mengingat bervariasinya parameter
dibangun, bukan berarti pembangkit-pembangkit kualitas batubara. Apalagi spesifikasi atau persyaratan
listrik yang sudah lama akan ditinggalkan, karena kualitas batubara untuk PLTU tidak hanya ditentukan
perannya dalam menunjang kelistrikan nasional tetap berdasarkan parameter nilai kalor.
dibutuhkan. Untuk pembangkit listrik yang akan
dibangun tersebut direncanakan digunakan batubara
lignit dengan nilai kalori ± 4.000 kal/g (as received). 2. TINJAUAN PUSTAKA
Sedangkan PLTU-PLTU yang sudah ada yang
dibangun pada antara 1980-an sampai 1990-an 2.1. Batubara Untuk Pembangkit Listrik
didesain berdasarkan batubara yang mempunyai nilai
kalor lebih dari 5.000 kal/g dan bahkan ada yang Batubara merupakan bahan bakar padat yang
lebih dari 6000 kal/g. PLTU Suralaya, Banten terbentuk secara alamiah akibat pembusukan sisa
contohnya yang dibangun pada tahun akhir 1980-an tanaman purba dalam waktu jutaan tahun. Oleh
didesain untuk batubara subbituminus dengan nilai karena itu, karakteristik dan kualitas batubara sangat
kalornya rata-rata ± 5.200 kal/g atau PLTU Ombilin bervariasi dan tidak homogen dibandingkan dengan
kapasitas didesain menggunakan batubara peringkat bahan bakar yang telah mengalami proses
bituminus dengan nilai kalori lebih dari 6000 kal/g pengolahan dalam pabrik, seperti misalnya bahan
(KONEBA, 2002). bakar minyak. Selain tingkat pembatubaraan atau
peringkat (rank), kualitas suatu endapan batubara
PLTU Suralaya yang mulai beroperasi pada akhir juga dipengaruhi oleh lingkungan pengendapannya.
tahun 1980-an saat ini masih merupakan salah satu Batubara peringkat yang lebih tinggi seperti batubara
andalan bagi sistem kelistrikan Jawa dan Bali. PLTU bituminus dan antrasit mempunyai nilai kalor tinggi
Suralaya Unit 1-4 (4x400 MW) dirancang berdasarkan dan kadar air rendah. Sebaliknya, batubara peringkat
kualitas batubara Air Laya, Sumatera Selatan yang rendah seperti lignit dan batubara subbituminus
termasuk dalam peringkat subbituminus dengan nilai mempunyai kadar air tinggi dan nilai kalor rendah.
kalor lebih dari 5000 kal/g. Batubara dengan nilai Di samping itu, lingkungan pengendapan dan cara
kalor 5.000-an tersebut sudah mulai sulit diperoleh penambangan dapat memengaruhi kadar abu serta
di pasaran. Batubara Indonesia yang masih belum karakteristik abu (komposisi dan titik leleh abu).
banyak dimanfaatkan adalah batubara lignit dengan Tambahan lagi, batubara peringkat rendah umumnya
nilai kalor ± 4.000 kal/g. mempunyai kecenderungan swabakar yang tinggi dan
mempunyai sifat fisik yang rendah (mudah hancur).
Endapan batubara Indonesia sebagian besar terdiri Hal ini mengakibatkan kualitas endapan batubara
atas batubara peringkat rendah, yakni lignit 58,7%, bervariasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya, atau
subbituminus 26,7%, sementara peringkat tinggi bahkan dapat bervariasi dari lapisan satu ke lapisan
yakni bituminus 14,3% dan antrasit hanya 0,3% lainnya pada daerah atau cekungan geologis yang
(Suprapto, 2007). Batubara yang diekspoitasi saat sama.

32 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor13, Januari 2009 : 31 – 39
Karakteristik pembakaran batubara dalam sebuah 2.2. Blending Batubara
pembangkit listrik terutama dipengaruhi oleh (Reid,
1991): Blending merupakan cara terbaik untuk memperbaiki
- kualitas atau karakteristik batubara; dan menyatukan sifat dan kualitas batubara dari
- batasan yang ditentukan oleh desain boiler, daerah atau dengan jenis yang berbeda, sehingga
posisi burner, konfigurasi fisik dan luas memungkinkan dapat memenuhi persyaratan
perpindahan panas dalam ketel uap (boiler); konsumen. Biasanya blending dilakukan antara
- kondisi operasional. batubara peringkat rendah dan peringkat tinggi, kadar
abu tinggi dan abu rendah, kadar belerang tinggi dan
Mengingat hal tersebut di atas, maka idealnya desain belerang rendah. Dalam suatu pembangkit listrik,
suatu pembangkit listrik berbahan bakar batubara dibuat sistem blending dapat memberikan banyak
berdasarkan kualitas batubara yang akan digunakan. keuntungan di antaranya:
Atau sebaliknya, batubara yang dipasok untuk sebuah - meningkatkan kelenturan (fleksibilitas) dan
pembangkit listrik seharusnya sesuai dengan spesifikasi memperluas kisaran batubara yang dapat
yang dipersyaratkan. Sering terjadi, keterlambatan digunakan;
pasokan batubara sesuai spesifikasi menyebabkan - diversifikasi pasokan batubara untuk keamanan
digunakannya batubara lain yang kualitasnya tidak pasokan;
memenuhi spesifikasi. Hal ini dapat mengganggu - membantu mengatasi masalah yang terjadi
kelancaran pengoperasian pembangkit listrik. apabila digunakan batubara yang di luar
spesifikasi.
Beberapa pengaruh yang dapat terjadi jika
menggunakan batubara di luar spesifikasi (off de- Kualitas batubara campuran (hasil blending)
sign) pada pembangkit yang telah ada (existing) di umumnya dihitung berdasarkan rata-rata berat data
antaranya adalah kinerja penggerus, pengendapan analisis dan pengujian yang diperoleh dari masing-
abu (slagging dan fouling) dan karakteristik dan masing batubara individu (yang dicampur). Data
efisiensi pembakaran. Kinerja mesin penggerus (pul- kualitas tersebut kemudian digunakan untuk
verizer) biasanya berhubungan dengan nilai kalor dan memprediksi karakteristik pembakaran dalam ketel
sifat ketergerusan (HGI, hardgrove grindability in- uap. Namun tidak semua parameter kualitas batubara
dex) (Savage, 1974). Apabila digunakan batubara campuran dapat diprediksi menggunakan data
dengan kalori lebih rendah dari spesifikasi, maka kualitas hasil perhitungan rata-rata berat. Parameter-
diperlukan jumlah batubara yang lebih banyak, parameter air, kadar abu, zat terbang, karbon padat,
sehingga penggerus kemungkinan perlu ditambah atau karbon total, hidrogen, sulfur, nitrogen, oksigen,
penggerus cadangan perlu dioperasikan. Operasi klorin, kadar maseral, dan nilai kalor cenderung
PLTU tanpa penggerus cadangan ini sangat riskan bersifat aditif, sehingga dapat menggunakan
dan dapat mengganggu kelangsungan operasi PLTU. perhitungan tersebut. Sedangkan nilai muai bebas,
HGI menentukan cocok tidaknya batubara dengan titik leleh abu dan HGI umumnya cenderung bersifat
penggerus yang ada. Batubara keras atau dengan HGI nonaditif. Menurut Hower (1988) HGI dapat bersifat
rendah tidak cocok digerus pada penggerus yang aditif hanya untuk blending antara batubara dengan
dirancang untuk batubara lunak (HGI tinggi). peringkat yang sama. Sedangkan Riley (1989)
Pengendapan (deposisi) abu pada permukaan area menyatakan bahwa HGI dapat bersifat aditif asalkan
perpindahan panas pada sebuah ketel uap adalah perbedaan nilai HGI masing-masing batubara yang
salah satu masalah yang paling serius yang dapat di-blending tidak lebih dari 10.
terjadi jika menggunakan batubara di luar spesifikasi.
Kecenderungan pembentukan endapan abu Paramater yang nonaditif tersebut menyebabkan
tergantung komposisi dan titik leleh abu batubaranya. evaluasi terhadap batubara blending untuk
Selain kinerja mesin penggerus dan pengendapan pembangkit listrik menjadi kompleks. Kebanyakan
abu, penggunaan batubara di luar spesifikasi juga analisis dan pengujian parameter nonaditif di
dapat mengganggu karakteristik dan efisiensi laboratorium tidak merefleksikan kondisi
pembakaran. Jika pembakaran tidak sempurna, maka pembakaran yang sebenarnya dalam pembangkit
efisiensi menurun dan kadar karbon dalam abu listrik. Oleh karena itu, selain analisis dan pengujian
meningkat. Hal ini dapat mengganggu kinerja elec- laboratorium, masih diperlukan pengujian
trostatic precipitator yang berfungsi menangkap abu pembakaran dengan kondisi yang mendekati kondisi
terbang (fly ash) dan selanjutnya juga mempersulit di lapangan. Bahkan banyak peneliti dan operator
pemanfaatan abu. PLTU batubara kemudian mengembangkan model

Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4, Slamet Suprapto 33
berdasarkan data parameter nonaditif laboratorium, terutama melalui laporan dan internet. Di samping
pengujian pembakaran skala bangku (bench scale) itu, untuk melengkapi data batubara Peranap
dan kondisi nyata di lapangan. dilakukan analisis dan pengujian contoh batubara
di laboratorium. Untuk batubara bituminus, datanya
Secara matematis, mem-blending dua jenis batubara dikumpulkan dari laporan dan internet. Data batubara
relatif mudah, tetapi untuk tiga atau lebih jenis tersebut didasarkan pada nilai kalor batubara >6.000
batubara akan menjadi lebih kompleks, karena kal/g.
terdapat lebih banyak parameter dan kemungkinan
kombinasi blending. Oleh karena itu, software 3.3. Pengolahan Data
komputer yang sekarang banyak terdapat di pasaran
dapat digunakan. Software tersebut dikembangkan Data kualitas batubara yang dikumpulkan umumnya
menggunakan persamaan linier untuk parameter masih bervariasi dasar analisisnya, seperti dasar
kualitas batubara yang bersifat aditif, terutama nilai contoh asal (as received), dasar kering udara (air dried
kalor, kadar abu dan kadar belerang. basis) dan dasar kering (dry basis). Agar sesuai dengan
spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya, maka
Rumus linier sederhana untuk blending batubara yang semaksimal mungkin data tersebut dikonversikan ke
menggunakan parameter aditif adalah sebagai berikut dasar contoh asal.
(Carpenter, 1995):
Karakteristik abu yang terdiri dari indeks penerakan
Xb = α1X1 + α2X2 + …. αnXn dan indeks fouling yang menyatakan kecenderungan
abu batubara membentuk endapan terak (slagging)
Xb = parameter kualitas produk blending dan fouling dihitung menggunakan data komposisi
α1 = proporsi batubara ke 1 dalam blending abu dan titik leleh abu batubara.
α2 = proporsi batubara ke 2 dalam blending
αn = proporsi batubara ke n dalam blending
X1 = parameter kualitas batubara ke 1 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
X2 = parameter kualitas batubara ke 2
Xn = parameter kualitas batubara ke n 4.1. Spesifikasi Batubara Untuk PLTU

Spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya yang


3. METODOLOGI didasarkan atas kualitas batubara Air Laya dapat
dilihat pada Tabel 1. Spesifikasi tersebut (Kannan,
3.1. Pengumpulan spesifikasi batubara untuk 1985) sesuai untuk batubara peringkat subbituminus
PLTU Suralaya dengan nilai kalor dan kadar air masing 5.242 kal/g
(as received) dan 23,60%, dengan pembatasan nilai
PLTU Suralaya yang terletak di Merak, Banten yang kalor minimum 4.225 kal/g dan kadar air maksimum
mempunyai kapasitas terpasang sebesar 3.400 MW 28,30%. Yang dimaksud dengan batas minimum
terdiri dari 7 unit, yakni 4 x 400 MW (unit 1-4) dan nilai kalor tersebut adalah batubara dengan nilai kalor
3 x 600 MW (unit 5-7). Batubara Air Laya, Sumatera 4.225 kal/g masih dapat digunakan dan menghasilkan
Selatan yang digunakan untuk dasar pembuatan keluaran (daya) listrik sesuai kapasitas pembangkit
desain PLTU Suralaya unit 1-4. Pengumpulan data asalkan seluruh fasilitas penanganan (handling) dan
dilakukan melalui penulusuran makalah dan laporan penggiling (mill) dijalankan. Batubara dengan nilai
yang berhubungan dengan PLTU Suralaya. kalor lebih rendah dari batas minimum tersebut juga
bisa digunakan, tetapi keluaran listrik akan turun
3.2. Pengumpulan Data Batubara Indonesia walaupun semua fasilitas penanganan dan penggiling
batubara dijalankan. Parameter kualitas bersifat aditif
Pertimbangan pertama dalam pengumpulan data lainnya, yakni kadar abu dan kadar belerang masing-
batubara adalah didasarkan pada peringkatnya, yakni masing 7,80% (maksimum 12,80%) dan 0,40%
batubara lignit (nilai kalor rendah, 4000-an kal/g atau (maksimum 0,90%). Sedangkan parameter kualitas
kurang) dan batubara bituminus (nilai kalor tinggi, yang bersifat non-aditif, yakni diantaranya HGI 61,8
6.000-an kal/g). Untuk kelompok batubara lignit (minimum 48), titik leleh abu 1.279°C (minimum
digunakan dua contoh, yakni batubara dari daerah 1010°C), indeks penerakan “medium” dan indeks
Musi Banyuasin dan Peranap (keduanya Sumatera fouling “tinggi”.
Selatan). Data kualitas batubara dikumpulkan

34 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor13, Januari 2009 : 31 – 39
Tabel 1. Spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya unit 1-4

Parameter (as received) Minimum Maksimum Rata-rata


Kadar air, % - 28,30 23,60
Kadar abu, % - 12,80 7,80
Nilai kalor, kal/g 4,225 - 5.242
Sulfur, % - 0,90 0,40
HGI 48 - 61,8
Tititk leleh abu 1.010 - 1.279
(Deformasi awal), °C
Indeks penerakan - - medium
Indeks fouling - - tinggi

Catatan: as received = dasar contoh asal

4.2. Kualitas Batubara Indonesia 1.350°C. Oleh karena itu, indeks penerakan batubara
Peranap termasuk klasifikasi “tinggi” dan batubara
Data kualitas batubara Indonesia yang terdiri atas Bara Mutiara Prima termasuk “rendah”. Sedangkan
batubara peringkat rendah, batubara peringkat tinggi indeks fouling keduanya termasuk klasifikasi
dapat dilihat pada Tabel 2 dan 3 (Asosiasi “rendah”.
Pertambangan Batubara Indonesia, 2008). Batubara
peringkat rendah mempunyai nilai kalor dicirikan Apabila kedua batubara peringkat rendah tersebut
terutama oleh tingginya kadar air dan rendahnya nilai digunakan untuk PLTU Suralaya unit 1-4, maka pa-
kalor. Dari data dua contoh batubara peringkat rameter kualitas yang tidak memenuhi spesifikasi
rendah yang dikaji, batubara Peranap dan Bara adalah nilai kalornya. Normalnya untuk
Mutiara Prima mempunyai kadar air total masing- mengoperasikan 1 unit kapasitas 400 MW
masing 49% dan 30% dan dengan nilai kalor 3.234 menggunakan batubara Air Laya dibutuhkan ± 170
kal/g dan 4.400 kal/g (as received). Namun demikian, ton batubara/jam. Apabila digunakan batubara Bara
kedua batubara tersebut termasuk bersih dengan Mutiara Prima, maka untuk menghasilkan listrik yang
masing-masing kadar abu 1,19% dan 4,30% dan sama dibutuhkan ± 202 ton batubara/jam.
kadar belerang 0,11% dan 0,30%. Kedua batubara Sedangkan jika menggunakan batubara Peranap, maka
tersebut mempunyai sifat ketergerusan menengah, dibutuhkan 275 ton batubara/jam. Mesin penggiling
yakni masing-masing 54 dan 60. Titik leleh abu yang tersedia untuk untuk 1 unit 400 MW tersebut
batubara Peranap cukup rendah, yakni dengan tersedia sebanyak 5 buah yang masing-masing
deformasi awal 1.200°C dibanding abu batubara berkapasitas 65 ton batubara/jam (KONEBA, 2002).
Bara Mutiara Prima yang deformasi awalnya sebesar Normalnya, apabila digunakan batubara Air Laya

Tabel 2. Data kualitas batubara Indonesia peringkat rendah

Parameter Peranap Bara Mutiara Prima


(as received) (Sumsel) (Sumsel)
Kadar Air, % 49,00 30,00
Kadar Abu, % 1,19 4,30
Nilai Kalor, kal/g 3.234 4.400
Sulfur, % 0,11 0,30
HGI 54 60
Deformasi awal abu, °C 1.200 1.350
Indeks Penerakan tinggi* rendah*
Indeks Fouling rendah* Rendah

Catatan: * dihitung dari kadar abu dan titik leleh abu ( Lampiran 1)

Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4, Slamet Suprapto 35
hanya dioperasikan 3 buah mesin, sehingga 2 mesin Yang masih perlu dipertimbangkan adalah HGI
lainnya untuk cadangan. Apabila digunakan batubara batubara peringkat tinggi, yang ternyata kebanyakan
Bara Mutiara Prima dibutuhkan 4 mesin, sedangkan kurang dari 50. Walaupun HGI batubara peringkat
1 mesin untuk cadangan. Tetapi apabila digunakan rendah umumnya tinggi, mengingat parameter ini
batubara Peranap, maka seluruh mesin harus cenderung nonaditif maka HGI hasil blending belum
dioperasikan, sehingga tidak ada cadangan. tentu sesuai perhitungan. Apabila nilai HGI hasil
Pengoperasian seluruh mesin penggerus tersebut blending ternyata lebih rendah dari nilai perhitungan
dapat menimbulkan risiko gangguan terhadap operasi maka kapasitas atau keluaran penggerus turun atau
pembangkit listrik mengingat perlunya waktu kehalusan produk penggerusan dapat menurun.
perawatan setiap mesin. Oleh karena itu, untuk Menurunnya keluaran penggerus dapat menurunkan
mengatasi masalah tersebut diperlukan blending keluaran listrik. Sedangkan menurunnya kehalusan
plant guna meningkatkan nilai kalor batubara batubara dapat menyebabkan menurunnya efisiensi
peringkat rendah yang tersedia. pembangkit dan meningkatnya kadar karbon tak
terbakar dalam abu batubara. Untuk mengkaji lebih
Data kualitas batubara peringkat tinggi yang dikaji mendalam, maka pengujian penggerusan dan
adalah sebanyak 14 buah, berasal dari Sumatera dan pembakaran skala yang lebih besar seperti skala meja
Kalimantan. Selain dicirikan oleh tingginya nilai kalor atau skala yang lebih mendekati kapasitas nyata di
dan rendahnya kadar air, batubara-batubara tersebut lapangan perlu dilakukan sebelum mengaplikasikannya
umumnya mempunyai sifat ketergerusan rendah atau pada kondisi sebenarnya.
sulit digerus dengan HGI kurang dari 50. Batubara
Danau Mas Hitam mempunyai HGI bervariasi antara Batubara Kartika Selabumi mempunyai nilai kalor
40-60. Sedangkan batubara Kartika Selabumi yang cukup tinggi, yaitu 7.889 kal/g dan juga HGI yang
mempunyai HGI tinggi atau mudah digerus, yakni tinggi yakni 80, tetapi nilai muai bebasnya sangat
sebesar 80. Tetapi batubara ini juga mempunyai nilai tinggi mencapai 9. Normalnya, nilai muai bebas
bebas yang tinggi yakni 9, tidak seperti umumnya batubara untuk pembangkit listrik maksimum 4
batubara Indonesia yang mempunyai nilai muai bebas (Rance, 1975). Tambahan lagi nilai muai bebas
rendah. merupakan parameter nonaditif, sehingga
karakteristik pembakaran batubara hasil blending
Kadar abu dan kadar belerang batubara peringkat batubara ini tidak dapat diprediksi dari masing-
tinggi bervariasi, masing-masing antara 2,0% sampai masing batubara yang akan di-blending.
19,48% dan 0,15% sampai 2,56%. Sedangkan data
indeks penerakan dan indeks fouling hanya tersedia Selain HGI, karakteristik abu yakni kecenderungan
untuk batubara Kartika Selabumi dan Lana Harita. penerakan dan fouling juga perlu dipertimbangkan.
Batubara Selabumi mempunyai indeks penerakan dan Mengingat data indeks penerakan dan indeks foul-
indeks fouling klasifikasi “rendah”. Sedangkan untuk ing kebanyakan tidak tersedia, maka parameter
batubara Lana Harita klasifikasi “rendah” dan “me- tersebut perlu dilengkapi. Apalagi jika hasil uji di
dium”. laboratorium dan perhitungan menyatakan
kecenderungan kedua indeks tersebut termasuk
4.3. Blending Batubara klasifikasi “tinggi”, maka uji pembakaran pada
kondisi yang mendekati ketel uap perlu dilakukan.
Blending yang dilakukan didasarkan pada Pengendapan terak abu terjadi di daerah ruang bakar
pencampuran kalori rendah dengan kalori tinggi atau atau radiasi, sedangkan endapan fouling terjadi pada
antara batubara peringkat rendah dengan peringkat daerah yang lebih dingin yakni pada pipa-pipa ketel
tinggi. Berdasarkan data kualitas tersebut di atas, uap. Apabila terak abu yang menempel di dinding
blending batubara Indonesia antara peringkat rendah tungku (ruang bakar) sulit diambil maka perpindahan
dan peringkat tinggi dapat dimungkinkan untuk panas ke dinding akan menurun dan selanjutnya
memenuhi persyaratan nilai kalor sebesar 5.242 kal/ efisiensi pembakaran juga menurun (Elliot, 1981).
g (as received) dan parameter yang bersifat aditif
lainnya, seperti misalnya kadar air, kadar abu dan Endapan fouling yang terjadi pada pipa ketel uap
kadar belerang. Dengan menggunakan rumus menyebabkan penyempitan pada deretan pipa yang
(perhitungan rata-rata) linier, maka jumlah proporsi selanjutnya mempercepat laju alir gas buang. Hal
masing-masing batubara yang dicampur dapat ini dapat menyebabkan naiknya suhu gas buang dan
ditentukan untuk memenuhi parameter spesifikasi juga erosi terhadap pipa ketel uap.
ketel uap PLTU Suralaya 1-4.

36 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor13, Januari 2009 : 31 – 39
Tabel 3. Data kualitas contoh batubara Indonesia peringkat tinggi

Parameter Allied Indo Kaltim Prima Kideco Multi Harapan PTBA Anugerah Sari Andara
(as received) Coal Coal Utama Bara Kaltim Persada
Parambahan Prima Mandau, Payau, Busang Lumut Anugerah Muara
Melawan Bungo
Kadar Air, % 11 9,5 18 (adb) 16 12 14-18 10,11 (adb)
Kadar Abu, % 9 3,8 2,0 4,72 3,70 - 9,26 2,81 - 4,69 19,48 (adb)
Nilai Kalor, kal/g 7.000 6.240-6.294 5.600 - 6.250 6.040 6.021 - 6.947 6.200 - 6.400 5.949
Sulfur, % 1 0,54 0,15 0,94 0,22 - 1,44 0,28 - 0,66 0,83 (adb)
HGI 45 - 50 48 48 – 50 45 45 - 55 46 - 49 48
Deformasi awal abu, °C - - 1.150-1.200 - - 1.200 1.300
Indeks Slagging - - - - - - -
Indeks Fouling - - - - - - -

Parameter Danau Fajar Gunung Bayan Indominco Mandiri Inti Kartika Selabumi Lana Harita
(as received) Mas Hitam Bumi Sakti Pratama Mandiri Perkasa Mining Indonesia
Bayan Bontang Blok A Block III
Kadar Air, % 14 8 (adb) 3 - 6 (adb) 15,5 - 17,00 19,5 8 -
Kadar Abu, % 13 - 19 (adb) 7 (adb) 6 - 15 (adb) 4,5-5,5 (adb) 4,65 (adb) 3,78 7,0 (adb)
Nilai Kalor, kal/g 5.900 - 6.500 (adb) 6.700 (adb) 6.000 - 7.500 6.100 - 6.500 (adb) 6.210 7.889 6.977
Sulfur, % 1,0 (adb) 0,8-2,56 (adb) 0,5-0-0,80 (adb) 0,70 (adb) 0,85 1,16 (adb)
HGI 40 - 60 42 - 46 45 – 50 45 – 46 47 80 43
Deformasi awal abu, °C 1.280 - 1.250 - 1.490 1.220 >1.200

Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4, Slamet Suprapto
Indeks Penerakan - - - - - rendah* rendah*
Indeks Fouling - - - - - rendah* medium*
Nilai Muai Bebas - — - - - 9 -

Catatan: adb = air dried basis (dasar kering udara)


* = dihitung berdasarkan komposisi dan titik leleh abu (Lampiran 1)

37
5. PENUTUP Hower, J.C., 1988. Additivity of hardgrove
grindability index: a case study. Journal of Coal
- Blending merupakan cara terbaik untuk mengatasi Quality, 7(2), 68-70.
masalah ketersediaan batubara dan ketergantungan
terhadap satu sumber pemasok batubara untuk Kannan, V., 1985. Design considerations for Suralaya
pembangkit listrik di Indonesia. Unit 1 & 2 Steam generators. Presented at the
Electric Indonesia Exhibition, Jakarta, October
- Untuk mengatasi masalah pasokan batubara 29 – November 2, 1985.
pada PLTU Suralaya unit 1-4, sistem blending
dapat dilakukan antara batubara peringkat Kompas, 2008. CBC Dibangun Atasi Kelangkaan
rendah (lignit) dan batubara peringkat tinggi Batubara. 26 Pebruari 2008.
(bituminous) sesuai dengan spesifikasi param-
eter kualitas batubara, terutama nilai kalor. KONEBA, 2002. Kuisioner Data PLTU Suralaya. 1
November 2002.
- Batubara peringkat tinggi umumnya mempunyai
sifat ketergerusan rendah atau sulit digerus dan MinergyNews.Com, 2007. Program 10 Ribu MW
parameter ini perlu diperhatikan karena Hanya untuk 3 Tahun. Kamis 13 Desember 2007
cenderung tidak bersifat aditif sehingga hasil
blending dengan batubara peringkat rendah tidak Rance, H.C., 1975. Coal Quality Parameters and
dapat diprediksi menggunakan rumus linier. their influence in coal utilization. Shell Inter-
national Petroleum Co. Ltd., Jakarta.
- Data komposisi abu dan titik leleh abu batubara
peringkat tinggi perlu dilengkapi agar dapat Reid, W.T., 1991. Coal Ash – Its effects on com-
digunakan untuk mengevaluasi kemungkinan bustion systems. In: Elliot, M.A. (Ed.), Chem-
pembentukan endapan terak dan endapan foul- istry of coal utilization. 2nd Suppl. Vol. John
ing dalam pembakaran batubara hasil blending. Wiley & Sons, New York, 1389-1445.

- Pengujian pengerusan dan pembakaran dalam Riley, J.T., Gilleland, S.R., Forsyhte, R.F., Graham,
skala yang mendekati kondisi nyata di lapangan H.D. and Hayes, F.J., 1989. Non-aditif ana-
perlu dilakukan untuk mengevaluasi batubara lytical values for coal blend. Proceeding of the
hasil blending. 7th international conference on coal testing.
Charleston, West Virginia, 21-23 March.

DAFTAR PUSTAKA Savage, K.I., 1974. Pulverizing characteristics of coal


hardgrove grindability index. Keystone Coal In-
Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia, 2008. dustry Manual.
Kualitas Batubara.http/www.apbi-icma.
Suprapto, S., 2007. Gasifikasi batubara sebagai al-
Carpenter, A.M., 1995. Coal Blending for Power ternative pengganti BBM. Makalah disampaikan
Station. IEA Coal Research, London. pada Forum Litbang Energi dan Sumber Daya
Mineral, Jakarta, 21-22 November 2007.
Elliot, M.A. (ed.), 1981. Chemistry of coal utiliza-
tion. Second Suppl. Vol., John Wiley & Sons,
New York.

38 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor13, Januari 2009 : 31 – 39
Lampiran 1. Komposisi dan titik leleh abu batubara Peranap, Bara
Mutiara Prima, Kartika Selabumi Mining dan Lana Harita

Komponen, % Peranap Bara Mutiara Prima Kartika Lana


Sela Harita
Bumi Indonesia
SiO2 55,73 - 33,61 40,31
Al2O3 15,51 - 24,13 29,56
Fe2O3 8,19 - 5,82 23,65
CaO 9,66 - 4,01 4,84
MgO 2,12 - 1,22 1,94
K2O 0,73 - 1,01 2,15
Na2O 0,81 - 0,65 0,54
TiO2 0,77 - 0,50 1,29
MnO2 0,50 - 0,14 0,21
SO3 3,68 - 2,45 2,36
P2O5 0,07 - 0,02 0,86
-
Titik Leleh Abu, °C
Reduksi Oksidasi
Deformasi awal 1.200 1.290 1.350 1.220 >1.200
Pelunakan 1.249 1.300 1.360 - >1.200
Hemisfer 1.261 1.310 1.370 - >1.200
Flow 1.385 1.500 1.600 1.420 >1.200

Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4, Slamet Suprapto 39
HUBUNGAN ANTARA PARAMETER KARAKTERISTIK
LIMBAH BATUBARA KALIMANTAN TIMUR DAN
KARAKTERISTIK PEMBAKARANNYA

STEFANO MUNIR DAN IKIN SODIKIN

Pusat Penelitian dan Pegembangan Teknologi Mineral dan Batubara


Jl. Jenderal Sudirman No. 623, Bandung – 40211
Telp. : (022) 6030483 Fax. : (022) 6038027
e-mail : stefano@tekmira.esdm.go.id dan ikin@tekmira.esdm.go.id

Naskah masuk : 23 Desember 2008, revisi pertama : 16 Januari 2009, revisi kedua : 28 Januari 2009,
revisi terakhir : Januari 2009

ABSTRAK

Limbah batubara (sludge) didefinisikan sebagai bahan karbonan, berasal dari endapan batuan sedimen yang
mengandung bahan organik sehingga dapat terbakar. Karakteristik limbah batubara tergantung pada karakteristik
batubara sumbernya dan pada umumnya berperingkat rendah (low rank coal). Tipe limbah batubara yang
dikaji dalam tulisan ini adalah slurry (=SL) sebagai limbah sisa proses pencucian batubara. Contoh diambil
dari 3 (tiga) perusahaan tambang batubara yang terletak di sepanjang Sungai Mahakam di Kabupaten Kutai
Kartanegara, Propinsi Kalimantan Timur (Kaltim), yaitu PT. Multi Harapan Utama (MHU), PT. Tanito Harum
(TH), dan PT. Bukit Baiduri Energi (BBE) yang masing-masing mempunyai unit pencucian batubara dengan
skala produksi di atas 1 juta ton batubara per tahun.

Karakteristik limbah batubara ditentukan berdasarkan parameter analisis proksimat seperti air-lembab (Mois-
ture =M), abu (Ash =A), zat-terbang (Volatile Matter =VM) dan karbon tertambat (Fixed Carbon =FC), dan
analisis ultimat seperti karbon (Carbon =C), hidrogen (Hydrogen =H), dan oksigen (Oxygen =O). Sedangkan
karakteristik pembakaran yang memengaruhi kinerja tungku siklon ditentukan oleh nilai kalori, suhu nyala,
titik pijar dan suhu pembakaran maksimum yang ditentukan oleh parameter analisis proksimat dan ultimat.
Selain itu dilakukan analisis ayak untuk mengetahui distribusi ukuran partikel dari contoh batubara SL yang
diteliti. Pembakar siklon dipilih, karena dapat menangani limbah batubara yang berkualitas rendah (low grade
coal) dengan kisaran nilai kalori 3000 – 5000 kal/gr, M dan A tinggi di atas 25% dan fuel ratio (FC/VM) sekitar
satu. Besar butir limbah batubara tipe SL Kaltim sesuai dengan ukuran untuk umpan pembakar siklon, sehingga
limbah batubara dapat langsung dibakar dengan sistem tersebut. Hasil menunjukkan bahwa limbah batubara
tipe SL dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif sebagai bahan bakar langsung pada industri.

Kata kunci : batubara, slurry (SL), karakteristik limbah, karakteristik pembakaran

40 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor13, Januari 2009 : 40 – 46
ABSTRACT

Sludge is defined as a carbonaceous material, derived from sedimentary rock deposit containing organic mat-
ters so as to become combustible. The characteristic of sludge depends on the type of its source coal, most of
which are low rank coal. The type of the researched sludge was slurry (SL) in form of the coal washing plant
residue of which its samples were taken from the three coal mine located and selected alongside of Mahakam
river in Kutai Kartanegara regency, East Kalimantan province, that are PT. Multi Harapan Utama (MHU), PT.
Tanito Harum (TH), and PT Bukit Baiduri Energi (BBE) with respective coal production capacities of above one
million tons of coal per annum.

The characteristic of sludge was determined by the proximate analyses such as moisture (M), ash (A), volatile
matter (VM) and fixed carbon (FC) and ultimate analyses such as carbon (C), hydrogen (H) and oxygen (O).
Whereas in terms of the characteristic of its combustion that affects the performance of cyclone furnace was
determined by calorific value, ignition temperature, glow point and maximum combustion temperature that
were determined by parameters of the proximate and the ultimate analyses. On the other hand the distribution
of particle sizes was determined by sizing analysis. The cyclone furnace was selected, because it might handle
the sludge as low grade coal within a low calorific value in the range of 3.000-5.000 cal/gr, high moisture and
ash contents of above 25% and fuel ratio about one. Particle size of SL from Kaltim was similar to the particle
size for feeding of cyclone combustion, therefore it can be utilized directly. Result indicates that the sludge of
SL type can be utilized as alternative fuel for direct combustion in industry.

Keywords : coal, slurry(SL), sludge characteristic, combustion characteristic

1. PENDAHULUAN yang dikembangkan, yaitu crushing and screening


untuk produksi batubara dari tambang yang telah
Potensi sumber daya batubara Indonesia yang ditaksir memenuhi persyaratan kualitas (spesifikasi) pasar dan
sebanyak 93,4 milyar ton (MEMR, 2008) tersebar di pencucian batubara (coal washing) untuk produksi
Provinsi Sumatera Selatan 40,13%, Kalimantan batubara dari tambang yang belum memenuhi
Timur 28,37%, dan Kalimantan Selatan 17,7% dan spesifikasi pasar sehingga menghasilkan produk
sisanya di provinsi-provinsi lain. Produksi batubara batubara yang dapat dijual dengan ukuran – 50 mm.
dari Kalimantan Timur adalah yang terbesar yaitu Sisa industri pertambangan batubara disebut limbah
sekitar 57% dari produksi batubara nasional batubara (sludge) terdiri dari 3 (tiga) tipe, yaitu slurry
sebesar185 juta ton (2007) dan ini akan terus = SL, dirty coal = DC, dan coal fines = CF. Limbah
meningkat sesuai dengan pertumbuhan produksi SL merupakan sisa proses pencucian yang ditampung
batubara nasional sekitar 12,02 juta ton per tahun (dikumpulkan dan disimpan) dalam sistem
(Suhala, 2008). penampungan limbah batubara yang standar (sludge
disposal system) dengan menggunakan kolam
Pada prinsipnya, kegiatan operasi penambangan di pengendapan (settling pond), timbunan (stockpiles)
setiap lokasi tambang batubara pada umumnya atau lubang galian tanah (landfill). Tipe limbah
menghasilkan 3 (tiga) produk, yaitu batubara yang batubara SL dijadikan objek penelitian dalam tulisan
dapat dijual (saleable coal), limbah batubara (sludge) ini karena mempunyai prospek yang menjanjikan
dan air buangan akhir tambang (effluent). Batubara dipandang dari segi jumlah (quantity) dan kualitasnya
hasil penambangan (Run of Mine-Coal atau raw coal) (quality) sebagai sumber energi alternatif dalam
perlu diolah terlebih dahulu atau tidak, tergantung rangka mendukung kebijakan konservasi batubara
pada karakteristik kualitas endapan lapisan batubara nasional yang berwawasan lingkungan. Potensi SL
yang ditambang. Berdasarkan parameter pengotornya belum dikelola secara komersial, sehingga masih
seperti kadar air-lembab (% M), abu (% A) dan Sul- dianggap sebagai batubara yang tidak dapat
fur (% S) serta nilai kalori, batubara dapat dipasarkan (non-marketable coal, JICA, 2007).
diklasifikasikan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu Akumulasi jumlah limbah batubara tipe SL ini akan
batubara kualitas rendah yang masih perlu dicuci semakin besar sesuai dengan jumlah tambang
dan batubara kualitas tinggi yang tidak perlu dicuci. batubara yang beroperasi di daerah Kaltim dan umur
Biasanya ada 2 (dua) tipe unit pengolahan batubara pengoperasian setiap tambang batubara yang

Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan ... Stefano Munir dan Ikin Sodikin 41
bersangkutan. Karena itu, fasilitas penampungan 2. METODOLOGI
limbah batubara perlu dikelola secara benar
mengingat akan terbatasnya lahan dan dampak 2.1. Bahan Uji
lingkungan yang ditimbulkannya, terutama
percemaran sistem aliran sungai di sekitar tambang- Ada 3 (tiga) contoh limbah batubara tipe SL dari
tambang batubara, terutama yang terletak di ketiga perusahaan tambang batubara Kaltim yang
sepanjang Sungai Mahakam. dipilih untuk penelitian ini yaitu SL – MHU, SL –
TH, dan SL – BBE. Karena ukuran partikel ketiga
Sebenarnya semua tipe limbah batubara tersebut di contoh SL ini telah sesuai dengan kisaran ukuran
atas adalah bahan karbonan (carbonaceous materi- umpan yang biasa digunakan untuk pembakar siklon
als) yang karakteristiknya tergantung pada karakteristik yaitu – 4 mesh maupun lebih halus lagi sampai –
batubara sumbernya yang pada umumnya berperingkat 32 mesh, maka persiapan bahan uji untuk program
rendah dari lignit sampai subbituminus (low rank percobaan pembakaran dengan pembakar siklon
coal), sehingga berpotensi cenderung untuk cukup dilakukan melalui pengeringan udara pada
terjadinya swabakar. Ada 3 (tiga) perusahaan tambang suhu kamar.
batubara yang diambil contoh limbah batubaranya,
terutama untuk tipe SL di sepanjang Sungai Mahakam 2.2. Karakteristik Limbah Batubara
dan dipilih sebagai wakil Provinsi Kaltim yang
terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu PT. Karakteristik limbah batubara tipe SL ditentukan
Multi Harapan Utama (MHU), PT. Tanito Harum melalui analisis proksimat dengan parameter
(TH), dan PT. Bukit Baiduri Energi (BBE). Kriteria komponen-komponen M, A, VM dan FC dan analisis
pemilihan berdasarkan pada : ultimat dengan parameter unsur-unsur karbon (C),
hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), sulfur (S)
- Perusahaan tambang batubara harus mempunyai serta pengujian sifat fisik seperti nilai kalori dan berat
unit pencucian batubara dengan peralatan grav- jenis. Di samping itu analisis ayak untuk mengetahui
ity concentration (wash breaker, jig atau distribusi ukuran partikel dengan karakteristik
hydrocyclone); dan kualitas per fraksi ukuran yaitu + 2 mm; - 2 mm +
- Tambang harus mempunyai kapasitas produksi 1 mm; - 1mm + 0,5 mm; - 0,5 mm + 75 µm; - 75
>1 juta ton batubara per tahun. µm juga dilakukan, sehingga dapat diketahui
pengaruh distribusi ukuran partikel terhadap kadar
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan abu dan nilai kalorinya.
antara parameter karakteristik limbah batubara Kaltim
dengan karakteristik pembakarannya dalam rangka 2.3. Karakteristik Pembakaran Limbah Batubara
mengevaluasi kinerja keterbakarannya apakah dapat
dikembangkan sebagai sumber energi alternatif atau Karakteristik pembakaran limbah batubara
tidak. dipengaruhi oleh parameter karakteristik limbah
batubaranya sendiri, yaitu dari parameter analisis
Pemilihan tipe tungku dan metode pembakaran proksimat dan analisis ultimat (Tsai, 1982).
limbah batubara dengan pembakar siklon yang Sedangkan kinerja pembakaran limbah batubara
dikembangkan dalam penelitian ini didasarkan pada dinilai dengan beberapa parameter seperti suhu titik
fakta bahwa pembakar siklon dapat membakar nyala (ignition point) hasil analisis thermogravimetry
batubara berkadar rendah (low grade coal) dengan (TGA), titik pijar (glow point) hasil pengamatan pada
kadar air-lembab (% M) dan kadar abu (% A) yang silica tube furnace dan suhu maksimum hasil
tinggi sampai 25 %. Sistem tungku siklon yang pembakarannya dengan pembakar siklon dalam
dikembangkan dapat membakar ukuran umpan hubungannya dengan parameter karakteristiknya.
batubara yang umum digunakan, yaitu sekitar – 4 Kriteria penilaian karakteristik pembakaran limbah
mesh (4,76 mm) atau lebih halus sampai – 30 mesh batubara adalah semakin tinggi suhu titik nyala dan
(0,595 mm = 595 ìm) (Current Technology, 2007; titik pijar, semakin sulit bahan tersebut untuk
Sumaryono dkk, 2007). Ukuran partikel batubara dibakar. Sedangkan kriteria penilaian kinerja
umpan ini hampir sama dengan ukuran partikel SL pembakarannya adalah semakin tinggi suhu
sebagai tipe limbah batubara utama, yang harus dikelola maksimum yang dicapai selama pembakaran dengan
oleh setiap perusahaan tambang batubara melalui siklon semakin tinggi kinerja pembakarannya.
sistem manajemen penampungan yang standar.

42 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor13, Januari 2009 : 40 – 46
2.4. Program Ujicoba Pembakaran nilai optimal karakteristik pembakarannya. Kegiatan
percobaan pembakaran dari ketiga contoh limbah
a. Peralatan batubara SL tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.

Pada prinsipnya rancangan pembakar siklon yang


benar dapat dilihat pada Gambar 1. Udara
pembakaran berupa udara primer maupun udara
tersier digunakan untuk menghasilkan gerakan
berputar dari partikel-partikel batubara atau limbah
batubara umpan di dalam ruangan pembakaran
siklon. Aksi gerakan berputar (sentrifugal)
ditingkatkan oleh pasokan udara sekunder dengan
kecepatan tinggi secara tangensial, sehingga
menghasilkan semburan nyala api keluar dari ruangan
siklon dan setiap partikel umpan terbakar habis (burn
out) dengan meninggalkan residu atau lelehan abu
(slag).

Dimensi rancangan pembakar siklon yang digunakan


dalam penelitian ini adalah 40 x 100 cm dengan SL MHU
ukuran partikel batubara umpan – 30 mesh (595 ìm
atau 0,595 mm) (Sumaryono, dkk., 2007).

Udara sekunder
Udara primer
Batubara

Udara
tersier Lubang pengeluaran terak

Lubang pengeluaran
terak utama

Gambar 1. Skema rancangan pembakar SL- TH


siklon (Wikipedia. Com; 2007)

b. Prosedur

Prosedur percobaan dirancang menurut karakteristik


pembakaran limbah batubara yang diuji. Setiap
bahan uji SL yang sudah kering di udara, dimasukkan
ke dalam penandon umpan berupa hopper dan
kemudian diumpankan dengan bantuan blower ke
dalam ruangan pembakar siklon yang telah
dipanaskan terlebih dahulu dengan bantuan kayu
bakar atau karet ban bekas sampai mencapai suhu
450 o C sebagai pematik (igniter). Selanjutnya,
perkembangan suhu pembakaran yang dihasilkan
dicatat melalui pencatat suhu indicator thermo-
SL BBE
couple dengan interval waktu 5 menit selama 15 Gambar 2. Kegiatan percobaan pembakaran
menit. Suhu maksimum rata-rata hasil pembakaran 3 (tiga) contoh limbah batubara SL
dari setiap contoh limbah batubara diambil sebagai dengan pembakar siklon

Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan ... Stefano Munir dan Ikin Sodikin 43
3. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 menunjukkan bahwa karakteristik SL dari
masing-masing perusahaan pertambangan batubara
3.1. Karakteristik Limbah Batubara selain tergantung dari karakteristik batubara
sumbernya, juga dipengaruhi oleh proses pencucian
Karakteristik limbah batubara tipe SL dari 3 (tiga) dengan peralatan yang digunakan seperti drum
perusahaan tambang batubara di Kaltim dapat dilihat washer, jig, hydrocyclone dan screen (0,25mm – 0,5
pada Tabel 1 dan hasil analisis ayak pada Tabel 2. mm). Karakteristik SL dari masing-masing perusahaan

Tabel 1. Karakteristik limbah batubara tipe SL dari MHU, TH dan BBE

SL
Parameter
MHU TH BBE
Analisis proksimat :
Air lembab (IM), %, adb 3,46 7,93 11,96
Abu (A), %, adb 56,70 31,13 17,30
Zat terbang (VM), %, adb 26,44 30,14 34,56
Karbon tertambat (FC), %, adb 13,40 30,80 36,18
Nilai kalori, kal/gr, adb 2.413 4.436 4.758
Fuel Ratio (FC/VM) 0,51 1,02 1,05
Berat jenis (TSG) 2,33 1,59 1,53
Analisis ultimat :
Karbon (C), %, adb 22,02 47,44 51,20
Hidrogen (H), %, adb 1,68 3,84 4,25
Oksigen (O), %, adb 11,37 16,05 23,55
Nitrogen (N), %, adb 0,27 0,92 0,88
Sulfur (S), %, adb 7,96 0,62 2,82

Tabel 2. Hasil analisis ayak, analisis proksimat , fuel ratio, dan nilai kalori limbah batubara tipe SL dari
MHU, TH dan BBE

% massa % kumulatif Analisa proksimat (%), adb Fuel Nilai


Ukuran fraksi massa ratio kalori,
tertahan tertahan IM A VM FC (FC/VM) kal/gr,adb
MHU + 2 mm 19,19 19,19 3,78 54,47 26,6 15,15 0,57 2.594
- 2 mm + 1 mm 9,14 28,33 4,78 44,49 30,48 20,25 0,66 3.277
- 1 mm + 0,5 mm 24,36 52,69 3,76 52,4 28,72 15,12 0,53 2.631
- 0,5 mm + 75 µm 45,51 98,2 2,43 60,59 24,22 12,76 0,53 1.892
- 75 µm 1,8 100 4,33 60,53 24,15 10,99 0,45 1.895
TH + 2 mm 47,93 47,93 7,24 38,7 28,01 26,05 0,93 3.851
- 2 mm + 1 mm 7,15 55,08 6,7 36,66 30,5 26,14 0,86 4.224
- 1 mm + 0,5 mm 4,68 59,76 7,3 30,32 33,82 28,56 0,84 4.686
- 0,5 mm + 75 µm 30,57 90,33 9,33 8,72 37,56 44,39 1,18 6.128
- 75 µm 9,67 100 6,77 42,32 27,4 23,51 0,86 3.636
BBE + 2 mm 1,90 1,9 13,52 6,93 40,66 38,89 0,96 5.690
- 2 mm + 1 mm 5,2 7,1 12,95 5,54 39,81 41,7 1,05 5.778
- 1 mm + 0,5 mm 16,18 23,28 12,78 6,17 39,6 41,45 1,05 5.798
- 0,5 mm + 75 µm 66,51 89,79 11,34 14,61 35,55 38,5 1,08 5.032
- 75 µm 10,21 100 6,58 49,59 24,95 18,88 0,76 3.683

44 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor13, Januari 2009 : 40 – 46
pertambangan batubara menunjukkan bahwa Dari Gambar 3 dan 4, terlihat bahwa menurunnya
kandungan abu yang tinggi sangat memengaruhi ukuran partikel menyebabkan menurunnya nilai
kandungan nilai kalori dan berat jenis yang kalori, dengan nilai kalori yang terendah sebesar
sebenarnya. Begitu pula tinggi rendahnya kandungan 1895 kal/gr pada fraksi ukuran terkecil – 75 µm. SL
karbon dan oksigen akan memengaruhi kandungan MHU yang merupakan limbah pengolahan dengan
nilai kalori. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa cyclone classifier dan screen 0,25 mm mempunyai
naiknya kadar abu akan menurunkan nilai kalori yang nilai kalori yang terendah, yaitu dari 1.892 kal/gr
diikuti oleh naiknya kadar karbon dan oksigen. sampai 3.277 kal/gr. SL TH dengan drum washer,
Sedangkan kandungan sulfur yang tinggi akan cyclone classifier dan screen 0,5 mm dari 3.636 kal/
memengaruhi kinerja peralatan pembakaran dan gas gr sampai 6.128 kal/gr dan SL BBE dengan cyclone
buang hasil pembakaran. Gambar 3 menunjukkan classifier dan screen 0,5 mm dari 3.683 kal/gr sampai
grafik hubungan antara kadar abu dengan ukuran 5.798 kal/gr. Dengan kata lain bahwa semakin halus
fraksi dan Gambar 4 grafik hubungan antara nilai (– 75 µm) fraksi ukuran SL semakin rendah nilai
kalori dengan ukuran fraksi. kalorinya, baik pada fraksi ukuran – 0,5 mm + 75
µm maupun pada fraksi ukuran terhalus – 75 µm.
Fraksi-fraksi ukuran partikel yang sangat halus ini
70
60
biasanya dianggap sebagai slime, sehingga teknik
pengolahan untuk pemisahannya dari fraksi-fraksi
A BU , %

50
40
30 yang kasar harus dilakukan dengan proses desliming
melalui cara decantation untuk meningkatkan nilai
20
10
0
+2mm - 2mm -1mm - 0.5mm - 75µm
kalori limbah batubara tipe SL tersebut.
+1mm +0.5mm +75µm
UKURAN FRAKSI
Distribusi ukuran partikel semua contoh tipe limbah
batubara SL telah memenuhi spesifikasi sebagai
MHU TH BBE

umpan untuk pembakar siklon, walaupun semakin


Gambar 3. Hubungan antara kadar halus fraksi ukuran partikelnya semakin tinggi kadar
abu dengan ukuran fraksi
abu, sehingga akan menurunkan nilai kalori.

3.2. Karakteristik Pembakaran Limbah Batubara


7000
NILAI KALORI (kal/gram)

6000
Karakteristik pembakaran limbah batubara tipe SL
dapat dilihat pada Tabel 3.
5000
4000
3000
2000
1000 Tabel 3 menunjukkan bahwa naiknya titik nyala dan
0
+2mm - 2mm -1mm - 0.5mm - 75µm
titik pijar dipengaruhi oleh fuel ratio. Semakin tinggi
+1mm +0.5mm +75µm kadar fixed carbon atau fuel ratio, semakin tinggi
titik nyala atau titik pijarnya. Sedangkan suhu
UKURAN FRAKSI

maksimum siklon dipengaruhi oleh kadar abu, nilai


MHU TH BBE

Gambar 4. Hubungan antara nilai kalori kalor dan ukuran partikel umpan, yaitu semakin
dengan ukuran fraksi rendah kadar abu limbah batubara akan semakin

Tabel 3. Karakteristik pembakaran limbah batubara

Parameter SL
MHU TH BBE
Karakteristik pembakaran :
Nilai kalori, kal/gr,adb 2.413 4.436 4.758
Titik Nyala TGA, oC tdd 261 340
Titik Pijar Silica Tube Furnace, oC 470 360 418
Suhu maks. pembakaran siklon, oC 431 566 529
Catatan : tdd = tidak dapat ditentukan

Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan ... Stefano Munir dan Ikin Sodikin 45
tinggi nilai kalornya. Semakin halus ukuran partikel daya energi alternatif untuk industri.
umpan siklon semakin tinggi suhu maksimum yang
dicapai sehingga kinerja pembakar siklon meningkat.
Titik nyala untuk SL MHU tidak dapat ditentukan DAFTAR PUSTAKA
karena kandungan abu yang cukup tinggi mencapai
60,59%. Current Technology, Methods of Burning Coal, 27
Desember 2007. http://me-roboto.me.uiuc.edu/
Pada prinsipnya, semua contoh limbah batubara tipe kawka/Public/coal/tech.html
SL menunjukkan kinerja keterbakaran dari yang
terrendah (SL–MHU), sedang (SL-TH), dan tinggi (SL- JICA team, 2007, Summary of Draft Final Report :
BBE) sehingga masih dapat dimanfaatkan sebagai The Master Plan Study on Pollution Risk Miti-
sumber energi alternatif untuk bahan bakar langsung. gation Program for Sustainable Coal Develop-
Sedangkan kandungan sulfur yang tinggi akan ment in East Kalimantan Province in the Re-
memengaruhi kinerja peralatan pembakaran dan gas public of Indonesia, Lokakarya Program Peduli
buang hasil pembakaran. Mahakam, ESDM dan JICA Jakarta.

Ministry of Energy and Mineral Resources, 2008.


4. KESIMPULAN DAN SARAN Indonesia Energy Statistics.

4.1. Kesimpulan Suhala, S., 2008. Perkembangan Industri


Pertambangan Batubara Nasional Peluang dan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik Tantangannya, APBI-ICMA, Bandung.
pembakaran limbah batubara tipe SL dengan
pembakar siklon, kinerja pembakarannya dapat diurut Sumaryono, Munir, S., Yaskuri, dan Fahmi
menurut kemudahan keterbakarannya dari yang pal- Sulistyohadi, F., 2007. Pembangunan Pilot Plant
ing rendah, yaitu SL – MHU, sedang SL – TH, tinggi Teknologi Pembakaran Batubara Dengan
SL – BBE. Secara umum, ketiga limbah batubara tipe Pembakar Siklon, Laporan Intern Puslitbang
SL yang diteliti masih dapat dimanfaatkan sebagai Teknologi Mineral dan Batubara, Bandung.
sumber energi alternatif untuk bahan bakar langsung
dengan menggunakan pembakar siklon. Tsai, S.C., 1982. Fundamentals of Coal Beneficiation
and Utilization, Elsevier Scientific Publishing
4.2. Saran Company, Amsterdam.

Limbah batubara tipe SL yang banyak tersebar di Wikipedia. Com, 20 Oktober 2007, Cyclone fur-
beberapa perusahaan tambang batubara dan belum nace : Definition from Answers. Com, http://
dimanfaatkan di Provinsi Kaltim perlu dikelola www.answers.com/topic/cyclone-furnace
dengan baik agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber

46 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor13, Januari 2009 : 40 – 46
PERUBAHAN MORFOLOGI DAN KIMIA BATUAN
PEMBAWA FOSFAT AKIBAT PELINDIAN DENGAN
ASPERGILLUS NIGER

TATANG WAHYUDI

Pusat Peneltian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara,


Jl. Jend. Sudirman 623 Bndung, Tlp. 022-6030483

Naskah masuk : 06 Januari 2008, revisi pertama : 13 Juni 2008, revisi kedua : 20 September 2008,
revisi terakhir : Januari 2009

ABSTRACT

Bioleaching, utilizing oxalic acid medium generated by the phosphorous oxidizing capabilities of Aspergillus
niger in 10 days, has proved to be useful in releasing phosphorous from its rocks. In terms of evaluating process
performance, microscopic and chemical studies were conducted to bioleaching. The results show several
features occur during the process. Porosity and permeability developments on the surface of dahlite and calcite
during bioleaching process imply that the process is effective to leach such minerals. Both are competent
agents for leaching solution to contact with the required elements available within the minerals. The detected
pits on the mineral surface reflect solution activity when leached the materials.

Keywords: phosphate-bearing rocks, dahlite, calcite, microscopic feature, bioleaching, oxalic acid

SARI

Pelindian dengan mikroorganisme (bioleaching) menggunakan kapang Aspergillus niger selama 10 hari terhadap
batuan pembawa fosfat Cijulang menyisakan ampas pelindian yang menarik untuk dikaji. Analisis kimia dan
mikroskopik terhadap percontoh ampas pelindian tersebut menunjukkan bahwa pada kondisi percobaan tertentu,
metode tersebut efektif untuk mengolah fosfat. Fitur mikroskopi yang terdeteksi pada mineral dahlit dan kalsit
adalah berkembangnya porositas dan permeabilitas yang terbentuk selama proses pelindian. Kedua hal ini
merupakan sarana efektif bagi larutan pelindi untuk kontak dengan permukaan batuan fosfat, meningkatkan
kelarutan matriks material dan memperbesar jalan bagi larutan meresap ke bagian tubuh mineral. Fitur terdeteksi
lainnya berupa alur-alur pada permukaan mineral yang merupakan refleksi aktivitas larutan pelindi ketika
‘memakan’ komponen yang terkandung dalam material terlindi.

Kata kunci: batuan pembawa fosfat, dahlit, kalsit, fitur mikroskopi, bioleaching, asam oksalat

1. PENDAHULUAN endapan fosfat berkadar rendah berada di Cijulang,


Ciamis-Jawa Barat (± 14% kadar P2O5). Banyak
Endapan fosfat alam Indonesia kadarnya bervariasi, pakar yang telah mencoba untuk meningkatkan kadar
tetapi pada umumnya mempunyai kadar rendah. fosfat dari daerah ini dengan berbagai cara
Fosfat berkadar tinggi memang ada, hanya sebarannya pengolahan, baik secara fisika maupun kimia.
bersifat sporadis dan cadangannya kecil. Salah satu Pengolahan secara fisika melalui peremukan (crush-

Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan ... Tatang Wahyudi 47
ing), pencampuran (blending), pengeringan (drying) Laboratorium Preparasi. Ukuran partikel yang diambil
dan penggerusan (grinding) telah dilakukan oleh Tim untuk keperluan penelitian adalah -140+200 dan -
Bimbingan Pertambangan Fosfat dari Pusat 200 mesh contoh awal. Pada tahap awal, percontoh
Pengembangan Teknologi Mineral pada 1984. diuji komposisi kimianya dengan metode kimia
Hasilnya memang belum bisa memenuhi spesifikasi basah di Laboratorium Pengujian Kimia. Selanjutnya
yang dibutuhkan oleh industri yaitu 36% kadar P2O5 untuk mengetahui komposisi mineral head sample,
(Ardha dkk.1991) juga telah melakukan serangkaian dilakukan pengujian dengan teknik difraksi sinar-x
proses untuk meningkatkan kadar fosfat melalui (XRD) menggunakan alat difraktometer sinar-x
pencucian, flotasi, kalsinasi dan pemisahan secara Shimadzu XRD-7000. Dalam hal ini, batuan fosfat
magnetik dan mampu meningkatkan kadar fosfat yang sudah digerus halus dianalisis menggunakan
sampai 30% . Pengolahan secara kimia juga telah radiasi Cu-Ká. Informasi mengenai fasa serta struktur
dilakukan melalui proses pelarutan HCl tersirkulasi mikro yang terdapat dalam percontoh head sample
walaupun hasilnya hanya mampu meningkatkan juga diperoleh melalui analisis mikroskop polarisasi
kadar fosfat dari 17, 29 menjadi 23,79% dengan yang dilengkapi dengan pengujian SEM-EDX untuk
perolehan 70,18% (Ardha, 1997). Kendala yang mengetahui komposisi unsur-unsur yang terdapat
dihadapi dalam mengolah fosfat dengan cara-cara pada permukaan percontoh spesimen.
di atas adalah mahalnya biaya pengolahan dan belum
dapat diturunkannya material pengotor dalam jumlah Penelitian perubahan morfologi dan kimia batuan
signifikan. pembawa fosfat akibat pelindian dengan kapang
menggunakan ampas hasil pelindian dengan kode
Salah satu pengolahan alternatif untuk meningkatkan percontoh A1, A2, A3, B1, B2 dan B3. Kode A dan
kadar fosfat adalah pelindian dengan jasad renik B menunjukkan ukuran fraksi umpan pelindian
(micro organism) tertentu (kapang atau bakteri) masing-masing -140+200 mesh untuk A dan -200
seperti Aspergillus niger, Thiobacillus ferrooxidans, mesh untuk B. Angka 1, 2 dan 3 di depan huruf A
Leptospirillum ferrooxidans, Thiobacillus thiooxidans dan B mengacu kepada persen padatan yang
dan lain-lain (http://www.moonminer.com/ digunakan pada saat pelindian yaitu 5, 10 dan 20%.
bioleaching.html). Batuan fosfat Cijulang diolah Kepada percontoh tersebut dilakukan pengujian
dengan proses tersebut pada skala laboratorium mikroskop polarisasi dan kimia untuk mengetahui
dengan memanfaatkan kapang Aspergillus niger perkembangan yang terjadi setelah batuan tersebut
dengan waktu pemrosesan selama 10 hari. Dalam dilindi dengan kapang selama 10 hari.
proses ini, kapang mengeluarkan asam oksalat sebagai
hasil samping proses fermentasi asam sitrat yang
berperan dalam proses pelindian. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Limbah pelindian berupa ampas padat menarik untuk 3.1. Bahan Baku (Head Sample)
dikaji. Melalui pengujian difraksi sinar-x (XRD),
mikroskop optik dan SEM-EDX dapat diperoleh Analisis unsur-unsur dan mineralogi percontoh
informasi mineralogi mengenai fasa, tekstur dan batuan fosfat menunjukkan hadirnya mineral fosfat
struktur mikro yang terdapat dalam limbah padat yang tergolong ke dalam hidroksilapatit. Mineral
tersebut. Interpretasi terhadap informasi tersebut tersebut adalah dahlit yang mempunyai formula
yang dipadu dengan pengujian kimia diharapkan Ca5(PO4,CO3)3 dan kolofan – sejenis apatit dengan
dapat mengungkap kinerja proses bioleaching. formula empiris Ca5(PO4)2.5(CO3)0.5F dalam jumlah
Maksud penelitian ini adalah mengevaluasi yang relatif lebih sedikit dibandingkan dahlit.
kenampakan tekstur dan struktur mikro yang terdapat Keberadaan dahlit dan kolofan diduga akibat
pada percontoh ampas hasil bioleaching. Tujuannya pengayaan batugamping oleh kotoran burung (guano)
untuk mengetahui efek proses tersebut terhadap dan air laut (http://en.wikipedia.org/wiki/Phos-
batuan fosfat yang dilindi. phate). Dahlit memperlihatkan struktur menyerat dan
perawakan radial sedangkan kolofan menunjukkan
struktur rekahan. Ditinjau dari segi pengolahan min-
2. BAHAN DAN METODE eral, kondisi ini menguntungkan karena memudahkan
larutan pelindi untuk meresap ke bagian-bagian
Percontoh batuan fosfat untuk keperluan penelitian tertentu tubuh mineral, sehingga unsur-unsur tertentu
ini diperoleh dari daerah Cijulang yang dikenal yang diinginkan akan mudah dilepaskan. Namun,
berkadar rendah. Hasil pemercontohan kemudian kesulitan peningkatan kadar fosfat disebabkan oleh
dikering-ovenkan untuk kemudian difraksinasi di ikut terlindinya unsur-unsur pengotor. Selain kedua

48 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 47 – 56
mineral fosfat di atas, percontoh batuan fosfat juga Belerang yang terdeteksi dapat berasal dari material
disusun oleh kalsit (CaCO3), kuarsa (SiO2), mineral sulfit atau sulfat seperti mineral gipsum atau
opak (opaque) dan fragmen batuan. Mineral opak CaSO4·2(H2O). Mineral tersebut memang tidak
kemungkinannya berupa magnetit atau hematit hasil terdeteksi pada batuan yang dijadikan spesimen
pelapukan mineral induknya yang berasal dari pengujian mikroskop optik atau SEM, tetapi indikasi
fragmen batuan. Informasi mineralogi di atas ke arah itu ada, mengingat batuan fosfat Cijulang
diperoleh dari pengujian dengan mikroskop optik. terdapat di area yang berbatasan dengan laut. Pada
Gambar 1 memperlihatkan sebagian komposisi min- 3,5% salinitas air laut, unsur-unsur belerang dan
eral percontoh batuan fosfat head sample. kalsium masing-masing berkadar 904 dan 411 ppm.

a b c
Gambar 1. Tiga mineral utama yang terdapat dalam percontoh batuan fosfat Cijulang; ; a - dahlit
(D), b - kolofane (Cl) dan c - kalsit (C)

Pengujian unsur-unsur yang terdapat pada permukaan Kuantitas yang relatif cukup untuk terjadinya
sayatan poles percontoh batuan fosfat Cijulang pengayaan Ca dan S pada batuan fosfat (http://
dilakukan dengan SEM-EDX. Metode pengujiannya www.seafriends.org.nz/oceano/seawater.htm).
adalah pemetaan secara sinar-x. Hasil analisis Kehadiran unsur-unsur bukan pembentuk fosfat pada
menunjukkan adanya unsur fosfor (P), kalsium (Ca), batuan fosfat Cijulang merupakan unsur-unsur
karbon (C), aluminum (Al), besi (Fe), silikon (Si) pengotor yang tidak diharapkan, apabila mineral fosfat
and oksigen (O). Tabel 1 dan Gambar 2 memper- ini diolah untuk keperluan industri tertentu.
lihatkan unsur-unsur yang terdeteksi. Fosfor diduga
berasal dari dahlit dan kolofan, sedangkan kalsium Pemetaan unsur-unsur pada salah satu mineral dahlit
berasal dari dahlit, kolofan dan kalsit. Aluminum yang terdapat dalam spesimen sayatan poles batuan
dan silikon kemungkinan berasal dari mineral silikat fosfat memperlihatkan kalsium lebih banyak
yang terkandung dalam fragmen batuan, sedangkan terkonsentrasi di bagian kiri bawah sampai tengah
besi diduga berasal dari mineral silikat atau opak. mineral (Gambar 3) yang ditunjukkan oleh skala

Tabel 1. Unsur-unsur pada spesimen percontoh batuan


fosfat yang terdeteksi dengan SEM-EDX metode
x-ray mapping

Unsur teridentifikasi Intensitas (counts) Energyi (keV)


Fosfor (15P32) 30,720 2.013
Kalsium (20Ca40) 64,000 3.690
Karbon (6C12) 48,960 0.277
Aluminum (13Al27) 17,280 1.486
Besi (26Fe56) 02,560 6.398
Silikon (14Si28) 25,280 1.739
Belerang (16S32) 06,080 2.307
Oksigen (8O16) 27,200 0.521

Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan ... Tatang Wahyudi 49
Gambar 2. Komposisi unsur yang terdapat pada batuan fosfat Cijulang yang dianalisis dengan
metode energy-dispersive x-ray (EDX)

warna merah keunguan, sedangkan konsentrasi mineral. Satu area berwarna putih di bagian kiri atas
karbon terbanyak terdapat di bagian kiri dan kanan foto mengandung unsur besi terkonsentrasi paling
mineral. Fosfor paling banyak terkonsentrasi di banyak. Bagian ini diduga mineral opak. Besi sebagai
bagian kiri bawah dan tengah atas mineral. bagian mineral silikat, sebarannya hampir mengikuti
Walaupun konsentrasi unsur terbanyak masing- pola sebaran aluminum dan silikon.
masing unsur pembentuk fosfat terpisah-pisah (tidak
mengelompok menjadi satu), tidak berarti bagian Terdapatnya dua noktah putih mengandung Al dan
tepi mineral tersebut tidak terdapat P atau C. Kedua Si pada hasil pemetaan secara sinar-x menunjukkan
jenis unsur tersebut secara menyeluruh terdapat pada bahwa area tersebut adalah partikel silikat. Pengujian
dahlit hanya konsentrasinya di bagian pinggir min- percontoh batuan fosfat Cijulang dengan XRD
eral tidak sebanyak di bagian tengah mineral. menunjukkan adanya mineral monmorilonit sebagai
Keterangan yang sama berlaku untuk unsur mineral silikat. Di samping itu, terdeteksi pula
pembentuk fosfat lainnya (P); dan ini berarti pada adanya mineral silikat – kuarsa. Kedua mineral ini
bagian tengah mineral masih terdapat unsur fosfor. berasal dari lapukan fragmen batuan. Pengujian XRD
Namun kuantitasnya dibandingkan dengan kuantitas ini hanya mendeteksi dahlit sebagai mineral fosfat.
P di bagian kiri bawah dan atas adalah lebih kecil. Kalsit tidak terdeteksi. Diasumsikan, percontoh yang
Jika dilihat pada Gambar 3; aluminum, silikon dan dianalisis untuk XRD ini (berasal dari bongkah yang
besi terkonsentrasi paling banyak pada bagian kanan dipreparasi sampai fraksi -200 mesh) memang tidak
atas foto dan noktak-noktah yang tersebar di bagian mengandung mineral tersebut seperti terlihat pada
kiri atas dan kanan bawah. Diduga pada bagian- Tabel 2. Keberadaan kalsit memang hanya terdeteksi
bagian tersebut, material silikat berasosiasi dengan oleh pengujian mikroskop optik saja melalui
mineral dahlit. Khusus untuk unsur belerang, pada penelusuran pada spesimen yang memerlukan waktu
gambar terdapat dua noktah putih yang dikelilingi lama (karena kecilnya kuantitas mineral tersebut
oleh warna merah (sudut kiri atas dan tengah kanan dalam percontoh).
gambar). Ada kemungkinan kedua noktah tersebut
adalah gipsum yang berasosiasi dengan dahlit; Pengujian kimia batuan fosfat Cijulang head sample
selebihnya unsur belerang merupakan unsur mengidentifikasi beberapa unsur dalam bentuk
pengganggu yang menyebar di seluruh permukaan oksidanya (Tabel 3). Percontoh yang dianalisis adalah

50 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 47 – 56
Gambar 3. Pengujian SEM-EDS metode x-ray mapping pada batuan fosfat Cijulangmendeteksi
adanya 8 unsur, yaitu kalsium (Ca), karbon (C), fosfor (P), aluminum (Al), silikon (Si), besi
(Fe), belerang (S) dan oksigen (O)

Tabel 2. Pengujian mineralogi batuan fosfat Cijulang


dengan metode XRD

Mineral teridentifikasi Formula mineral


Dahlit Ca5(PO4,CO3)3F
Monmorilonit Na(Al, Mg)2 Si4O10 (OH)2. 4H2O
Kuarsa SiO2

bongkah yang telah difraksinasi menjadi tiga (3) mineral fosfat (dahlit) yang terbebaskan sehingga ada
ukuran partikel yaitu -100+140, -140+200 dan - kenaikan kadar P2O5 walaupun tidak signifikan.
200 mesh. Dari ketiga percontoh, kuantitas fosfat
dalam bentuk P2O5 berkisar antara 18 sampai 19%. Kuantitas fosfat hasil pengujian kimia tidak berbeda
Kelihatannya, makin halus partikel makin banyak jauh dengan hasil pengujian terhadap percontoh

Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan ... Tatang Wahyudi 51
Tabel 3. Pengujian kimia terhadap percontoh batuan fosfat Cijulang

Kode SiO2 Al2O3 Fe2O3 K2O Na2O CaO MgO TiO2 P2O5
%
-100+140 17,82 0,15 6,00 0,209 0,091 22,19 0,550 0,467 18,26
-140+200 16,39 9,52 5,83 0,208 0,068 23,61 0,534 0,457 19,54
-200 16,71 7,71 5,70 0,212 0,069 23,37 0,535 0,437 19,56

sejenis dengan metode SEM-EDX (Tabel 4). juga oksigen dalam bentuk unsur. Hasil pengujian
Walaupun kuantitas yang diperoleh untuk P2O5 pada kimia terhadap unsur belerang dilakukan dalam
pengujian terahir lebih rendah dibandingkan dengan bentuk belerang trioksida (SO3) menunjukkan hasil
hasil pengujian kimia (hanya 12,04%), angka tersebut nihil. Bila mengacu kepada hasil analisis SEM-EDX
masih dalam kisaran wajar, yaitu pada angka belasan yang menunjukkan kandungan belerang pada partikel
persen. Ada keterbatasan pada pengujian SEM-EDX, yang dideteksi hanya 0,82% (Tabel 4), hal ini dapat
yaitu material uji terbatas pada material yang terlihat dimengerti. Kemungkinan pada percontoh uji untuk
pada monitor saja. Pada perbesaran tertentu biasanya analisis kimia, kandungan belerangnya memang
hanya satu atau dua partikel yang termuat pada rendah (dalam unit ppb). Karbon (C) memang tidak
monitor. Jadi hasil yang diperoleh hanya mewakili dianalisis untuk keperluan penelitian ini karena
partikel yang terpampang pada layar, tidak mewakili fasilitas pengujiannya belum tersedia.
keseluruhan persentase yang ada.
Sebenarnya ada perbedaan yang mendasar mengenai
Sebenarnya ada perbedaan yang mendasar mengenai pengujian secara SEM-EDX dengan metode kimia;
pengujian secara SEM-EDX dengan metode kimia; yang pertama, pengujiannya lebih bersifat kualitatif

Tabel 4. Hasil pengujian SEM-EDS metode x-ray mapping untuk head sample fosfat Cijulang

Element (keV) mass % Error % At % Compound mass % Cation K


CK 0,277 36,58 0,47 78,91 C 38,58 0,00 11,6433
O 24.41
Al K 1,486 2,82 0,62 1,32 Al2O3 5,33 1,65 2,5885
Si K 1,739 3,27 0,56 2,95 SiO2 7,01 1,83 3,6325
PK 2,013 5,25 0,63 2,14 P2O5 12,04 2,67 8,7698
SK 2,307 0,82 0,62 0,65 SO3 2,05 0,40 1,2755
Ca K 3,690 21,84 0,55 13,76 CaO 30,55 8,57 37,3861
Fe K 6,398 5,02 1,05 2,27 FeO 6,46 1,41 6,7918
Total 100,00 100,00 100,00 16,53

yang pertama, pengujiannya lebih bersifat kualitatif dibandingkan dengan yang kedua. Walaupun
dibandingkan dengan yang kedua. Walaupun tercantum angka-angka yang menunjukkan kuantitas,
tercantum angka-angka yang menunjukkan kuantitas, informasi yang diperoleh tidak mewakili keseluruhan
informasi yang diperoleh tidak mewakili keseluruhan percontoh yang ada; hanya untuk partikel terdeteksi
percontoh yang ada; hanya untuk partikel terdeteksi saja. Hal ini berbeda dengan pengujian secara kimia,
saja. Hal ini berbeda dengan pengujian secara kimia, angka yang ditunjukkan relatif mewakili kandungan
angka yang ditujukkan relatif mewakili kandungan unsur-unsur yang ada pada percontoh uji. Unsur
unsur-unsur yang ada pada percontoh uji. Unsur oksigen (O) yang terdeteksi oleh pengujian dengan
oksigen (O) yang terdeteksi oleh pengujian dengan metode SEM sebenarnya sama dengan oksigen yang
metode SEM sebenarnya sama dengan oksigen yang terdeteksi oleh pengujian kimia. Keduanya sudah
terdeteksi oleh pengujian kimia. Keduanya sudah diubah ke dalam bentuk oksida (Tabel 3 dan 4);
diubah ke dalam bentuk oksida (Tabel 3 dan 4); memang hasil pengujian SEM-EDX mencantum-kan
memang hasil pengujian SEM-EDX mencantumkan juga oksigen dalam bentuk unsur. Hasil pengujian

52 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 47 – 56
kimia terhadap unsur belerang dilakukan dalam
bentuk belerang trioksida (SO3) menunjukkan hasil
nihil. Bila mengacu kepada hasil analisis SEM-EDX
yang menunjukkan kandungan belerang pada partikel
yang dideteksi hanya 0,82% (Tabel 4), hal ini dapat
dimengerti. Kemungkinan pada percontoh uji untuk
analisis kimia, kandungan belerangnya memang
rendah (dalam unit ppb). Karbon (C) memang tidak
dianalisis untuk keperluan penelitian ini karena
fasilitas pengujiannya belum tersedia.

3.2. Ampas Pelindian


Gambar 4. Distribusi mineral yang tersisa
Pelindian terhadap batuan fosfat Cijulang telah dalam dalam ampas hasil
pelindian
dilakukan menggunakan metode bioleaching. Dalam
hal ini, asam oksalat yang merupakan metabolit hasil
ekskresi kapang Aspergillus niger merupakan media
pelindi untuk melarutkan fosfat. Hasil pelindian Pada percontoh asli (head sample yang belum
berupa filtrat dan ampas; yang disebut terakhir berupa mengalami pelindian), terlihat bahwa mineral dahlit
padatan dan dianalisis dengan mikroskop optik untuk (D) mempunyai struktur menyerat secara radial
mengetahui sejauh mana perubahan yang terjadi (Gambar 1a). Pelindian yang berlangsung selama 10
pada mineral fosfat Cijulang setelah dilindi oleh hari menyisakan ampas yang masih mengandung
asam oksalat tersebut. Hasil pengamatan mikroskop mineral dahlit (percontoh A1, A3, B2 dan B3).
optik pada ampas tersebut ditabulasikan untuk Struktur menyerat pada mineral ini terlihat makin
divisualkan seperti tertera pada Gambar 4. Dari melebar yang diduga sebagai akibat masuknya
gambar tersebut terlihat bahwa kalsit merupakan larutan pelindi melalui struktur tersebut. Makin lebar
mineral yang paling dominan dalam ampas. struktur ini makin intensif proses pelindian
Kuantitasnya berkisar antara 95 -99%. Walaupun berlangsung. Selain struktur menyerat, pada percontoh
kuantitasnya tidak sebanyak mineral kalsit, mineral uji terdapat pula struktur spons seperti diperlihatkan
opak merupakan mineral dominan kedua setelah oleh kalsit (C) semua percontoh ampas yang diuji
kalsit. Mineral ini terdapat pada semua percontoh dengan mikroskop optik (Gambar 5a –f). Fitur ini
yang diuji secara mikroskop optik. Dari kondisi ini menunjukkan porositas dan permeabilitas yang
dapat diketahui bahwa kedua jenis mineral ini tidak mengembang sebagai akibat proses pelindian oleh
mengalami perubahan yang signifikan setelah asam oksalat atau karena rusaknya permukaan kalsit
pelindian atau relatif tidak terlindi. Dari keenam (C). Dalam hal ini, material karbonat akan dengan
percontoh, dahlit terlindi dengan baik pada mudah terangkat dari struktur mineralnya. Struktur
percontoh, A2 dan B1; empat percontoh lainnya ini juga merupakan sarana efektif bagi larutan pelindi
(A1,A3, B2 dan B3) masih menyisakan dahlit cukup untuk kontak dengan permukaan batuan fosfat,
banyak sebagai mineral yang tidak terlindi. Jika dahlit meningkatkan kelarutan matriks material dan
terlindi habis pada percontoh A1, A2 dan B1, kuarsa memperbesar jalan bagi larutan meresap ke bagian
dan fragmen batuan masing-masing habis terlindi tubuh mineral (Meyer dan Yen, 2002). Di lihat dari
pada percontoh A1, B1 dan B2 serta A2, A3 dan tampilannya, mineral kalsit mengalami pengecilan
B1. Terlindinya kuarsa dan fragmen batuan yang ukuran terutama bila dibandingkan dengan kalsit
keduanya merupakan sumber mineral silikat dengan yang belum mengalami pelindian (Gambar 1c).
berbagai kandungan unsur pengotornya; sebenarnya Muszer dan Karas (2003) menyebutkan bahwa makin
merugikan proses karena unsur-unsur pengotor juga kecil ukuran butiran, makin efektif proses disolusi
ikut terlindi. Wahyudi dkk. (2008) menyarankan yang terjadi pada material karbonat.
untuk mengatur pH larutan dengan pengadukan
berkecepatan rendah, agar logam-logam pengotor Keenam foto di atas memperlihatkan adanya alur-
dalam larutan atau filtrat hasil pelindian dapat alur (pits, tanda panah putih). Pada dahlit terlihat
dipisahkan sehingga diperoleh fosfat dengan seperti retakan-retakan di permukaan mineral tersebut
kemurnian lebih tinggi. (Gambar 5a, c, e dan f) sedangkan pada kalsit
tampilannya sangat halus (Gambar 5c dan f). Meyer
Hasil uji mikroskop optik terhadap enam percontoh dan Yen (2002) menyebutkan bahwa alur-alur
ampas hasil pelindian telah dilakukan (Gambar 5). tersebut adalah bekas larutan pelindi ketika kontak

Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan ... Tatang Wahyudi 53
Gambar 5. Fotomikrograf mineral pembawa fosfat Cijulang; a, b, c, d, e, dan f adalah mineral
pembawa fosfat yang telah mengalami pelindian asam oksalat dengan masing-masing
dengan kode percontoh A1, A2, A3, B1, B2, B3. D – dahlit, C – kalsit, K – kuarsa, MO – mineral
opak, FB – fragmen batuan.

dengan permukaan material terlindi. Alur ini percontoh A2 dan B1. Hal ini berarti bahwa mate-
merefleksikan kuantitas material yang telah terlindi rial fosfat pada percontoh A2 dan B1 terlindi relatif
pada area tersebut. Bentuknya yang tidak beraturan habis sedangkan pada keempat percontoh lainnya,
merupakan efek khas kinerja larutan pelindi (http:// asam oksalat hasil ekskresi Aspergillus niger belum
www.anl.gov). Kinerja tersebut dapat diketahui mampu melindi total material fosfat dalam umpan
secara kuantitatif dengan mengukur luas dan lebar pelindian. Bila mengacu kepada Gambar 3, 4 dan 5
alur melalui metode luas permukaan (surface area). ada kesesuaian antara hasil pengujian mikroskop
Rodriguez-Lorenzo, Vallet-Reg dan Ferreira (2001) optik dengan analisis kimia – fosfat terlindi habis
telah melakukan hal ini untuk hidroksilapatit sintetis, pada percontoh A2 dan B1. Kenampakan
tetapi metode tersebut belum dapat diterapkan pada mikroskopik pada kedua percontoh tersebut hanya
penelitian ini. Pada Gambar 5b dan d, kalsit sisa-sisa (remnants) material karbonat.
merupakan mineral dominan yang terdeteksi pada
percontoh uji. Tidak ditemukan adanya dahlit pada
kedua percontih uji. Diasumsikan mineral tersebut
pada percontoh uji ini telah terlindi habis dan
terubah menjadi filtrat sehingga fitur pits yang
menjadi penanda bekas kontak antara larutan pelindi
dengan mineral terlindi tidak ditemukan lagi.

Analisis kimia terhadap ampas hasil pelindian


menguji oksida-oksida sejenis seperti tercantum
pada Tabel 3. Karena kuantitasnya relatif kecil (<
0,5%); oksida-oksida kalium, natrium, magnesium
tidak ditampilkan pada Gambar 6. Dari histogram
terlihat bahwa kalsium dan kuarsa masih mempunyai
kuantitas yang lebih besar dibandingkan ketiga
oksida lainnya. Oksida fosfat terdeteksi pada Gambar 6. Distribusi oksida-oksida yang
tersisa pada 6 percontoh ampas
percontoh A1, A3, B2 dan B3; tidak terdeteksi pada
pelindian bioleaching

54 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 47 – 56
4. KESIMPULAN DAN SARAN Selain itu, penggunaan jasad renik lain seperti
Baccillus sp. sebagai media pelindi batuan pembawa
Batuan pembawa fosfat (phosphate-bearing rocks) fosfat layak dicoba untuk mengetahui kinerjanya
dari daerah Cijulang disusun oleh fragmen batuan, apakah lebih baik dari kinerja kapang atau tidak.
mineral opak, kuarsa, kalsit, dahlit dan kolofan. Dua
mineral yang disebut terakhir merupakan mineral
fosfat yang tergolong ke dalam kelompok UCAPAN TERIMAKASIH
hidroksilapatit. Dahlit memperlihatkan struktur mikro
radial menyerat sedangkan struktur mikro yang Penulis mengucapkan terimakasih kepada Prof. Ris.
terdapat pada kolofan berupa rekahan (fracture). Ngurah Ardha, M.Met.E atas masukan-masukan yang
diberikan selama penulisan makalah; Dra. Sri
Pengujian secara kimia terhadap head sample Handayani, M.Sc. yang telah melakukan proses
menunjukkan bahwa batuan fosfat Cijulang berkadar bioleaching batuan fosfat Cijulang, sehingga
rendah (18 – 19%). Bila mengacu kepada hasil x- percontoh ampas yang dihasilkan dapat dikaji
ray mapping salah satu partikel mineral fosfat (dahlit), kembali secara kimia dan mineralogi. Penelitian ini
distribusi unsur-unsur penyusun mineral fosfat didanai oleh Proyek Penelitian dan Pengembangan
tersebut (Ca, P, C dan O) tidak merata. Hal ini Mineral Tahun Anggaran 2008.
menguatkan bahwa endapan fosfat Cijulang memang
berkadar rendah.
DAFTAR PUSTAKA
Pengujian secara kimia dan mikroskop optik terhadap
enam percontoh ampas pelindian bioleaching Ardha, N., Soenara, T., Purnomo, H. dan Rasyad,
menunjukkan bahwa material fosfat terlindi habis S.S., 1991. Upaya Peningkatan Mutu Fosfat dari
pada percontoh A2 dan B1, namun masih tersisa Batuan fosfat Kadar Rendah Cijulang – Ciamis.
pada empat percontoh lainnya. Terlepas dari kuantitas Laporan Teknik Penelitian. n. 148. Pusat
persen ekstraksi yang diperoleh, kondisi percoban Pengembangan Teknologi Mineral.
bioleaching untuk percontoh A2 (-140 mesh+200
mesh, 10% padatan) dan B1 (-200 mesh, 5% Ardha, N., 1997. Uji Pelindian batugamping
padatan) efektif dalam melepaskan unsur fosfor dari Fosfatan dengan Asam dan asam Tersirkulasi
ikatannya. untuk Peningkatan Kadar Fosfat. Makalah Teknik
no. 1. thn. 6, h. 1 – 7. Pusat Penelitian dan
Selama pelindian, terjadi pengembangan porositas Pengembangan Teknologi Mineral.
dan permeabilitas pada mineral yang terlindi.
Contoh kongkrit ditunjukkan oleh mineral kalsit http://www.anl.gov, diakses pada 03/02/09, jam
yang memperlihatkan struktur spons yang tersusun 14.40
karena pengecilan ukuran partikel kalsit atau rusaknya
permukaan kalsit. Pengembangan porositas dan http://www.moonminer.com/bioleaching.html,
permeabilitas juga terjadi pada dahlit dan mineral diakses pada 05/02/09, jam 11.05
lain. Pada dahlit ditunjukkan dengan semakin
lebarnya struktur menyerat yang dimilikinya. Kondisi http://www.seafriends.org.nz/oceano/seawater.htm,
ini berakibat pada semakin luasnya permukaan diakses pada 02/02 , jam 11.00
partikel untuk kontak dengan media pelindi yang
ditunjukkan dengan terdeteksinya alur-alur halus yang http://en.wikipedia.org/wiki/Phosphate, diakses pada
merupakan refleksi aktifitas larutan pelindi ketika 02/02/09 , jam 9.55
‘memakan’ komponen-komponen yang ada pada
mineral tersebut. Meyer, W.C. dan Yen, T.F. 2002. The Effect of
Bioleaching on Green River Oil Shale. Depart-
Pengujian kimia dan mikroskopi terhadap ampas ment of Geological Sciences and Chemical En-
hasil pelindian bioleaching menggunakan kapang gineering, University of Southrn California, CA
Aspergillus niger tidak bersifat selektif dalam melindi 9007. h. 94 – 98.
unsur-unsur yang terdapat dalam batuan fosfat.
Disarankan pada penelitian lanjutan yang akan Muszer, Antoni dan Karas, Henry. 2003. Applica-
dilakukan pada skala meja dilakukan pengaturan pH tion Of Microscopic Mineralogical Analysis Of
dengan pengadukan berkecepatan rendah, untuk Copper Concentrate After Bioleaching Process.
mengurangi ikut terlindinya unsur-unsur pengotor. Mineralogical Society of Poland – Special Pa-

Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan ... Tatang Wahyudi 55
pers v 22. MSP – Poland. Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, Pusat
Pengembangan Teknologi Mineral.
Rodriguez-Lorenz, L.M., Vallet-Reg, M. dan Ferreira,
J.M.F. 2001. Fabrication of hydroxyapatite bod- Wahyudi, T. dkk. 2008. Pengembangan Bioteknologi
ies by uniaxial pressing from a precipitated untuk Pengolahan Mineral (Studi Kasus :
powder. Biomaterials n. 22, h. 583-588. Ekstraksi Fosfat dari Endapan Fosfat Alam
dengan Metode Bioleaching). Laporan Teknik
Tim Bimbingan Pertambangan Fosfat. 1984. Penelitian (dalam proses cetak). Bandung:Puslitbang
Bimbingan Pertambangan Fosfat di Batukaras Teknologi Mineral dan Batubara.
Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis.

56 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor 13, Januari 2009 : 47 – 56
Petunjuk Bagi Penulis

1. Naskah dan berkas dalam disket/CD dikirim ke 7. Nama penulis diketik pada halaman pertama
Pemimpin Redaksi Jurnal tekMIRA, Jl. Jend. di bawah judul naskah. Nama organisasi,
Sudirman No. 623 Bandung 40211. Naskah alamat, nomor telpon dan faksimili, serta alamat
dalam disket/CD akan sangat membantu dalam e-mail (bila ada).
proses peredaksian.
8. Intisari (abstract) naskah memuat ringkasan yang
2. Naskah harus asli dan belum pernah diterbitkan jelas. Kata kunci ditulis dalam Bahasa Indone-
dalam publikasi lain. Judul naskah harus bersifat sia dan Inggris.
deskriptif dan ringkas.
9. Hanya rumus matematika yang penting yang
3. Redaksi akan melakukan seleksi dan dimuat dalam naskah.
memberitahukan ke penulis, bila naskah sudah
diterima atau bila naskah tidak sesuai untuk 10. Daftar pustaka ditulis secara alfabetis. Urutan
penerbitan ini. penulisan : nama penulis, tahun penerbitan,
judul referensi, penerbit, kota tempat buku
4. Naskah diketik dalam dua spasi menggunakan diterbitkan dan halaman.
kertas ukuran A4 dengan lebar margin kanan
dan atas 3 cm serta kiri dan bawah 2 cm. 11. Hanya artikel-artikel yang dipublikasikan yang
dimasukkan sebagai referensi. Bilamana me-
5. Gambar dan tabel harus diberi judul dengan ngacu kepada artikel yang tidak dipublikasikan,
jelas dan dalam kertas terpisah serta ditunjukkan agar dijelaskan cara memperoleh bahan
mengenai penempatan gambar dan tabel tersebut.
tersebut dalam naskah tulisan. Foto harus jelas
dan siap untuk dicetak (tidak dalam bentuk 12. Catatan kaki supaya dihindarkan.
negatif film). Peta maksimum berukuran A4 dan
harus memakai skala dan arah utara. Semua huruf 13. Izin untuk memproduksi hak cipta material
dalam peta harus jelas dan bila ukuran peta adalah tanggung jawab penulis. Pengutipan
harus diperkecil, tinggi huruf dalam peta seminimal mungkin. Bila pengutipan melebihi
tersebut tidak lebih kecil dari 1,5 mm. 250 kata penulis harus memperoleh izin tertulis
dari penerbit dan penulis referensi yang
6. Jumlah halaman naskah tidak ditentukan. bersangkutan.
Naskah ditulis secara ringkas sesuai isinya.

Petunjuk Bagi Penulis 57