Anda di halaman 1dari 4

c 


   c  Memory Disorder
Oleh Karina Maharani P. (0906487865)

   
Memori dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam menyimpan dan mengingat
kembali suatu informasi. Kelainan pada pembentukan memori berkisar dari ringan ke berat, yang
semuanya adalah hasil dari kerusakan pada neuroanatomicalnya. Memory disorder dapat bersifat
progresif seperti pada pendeita Alzheimer ataupun tiba ʹ tiba seperti pada penderita trauma
kepala.1
Memory disorder dapat disebabkan oleh beberapa hal2 :
1.VKelainan degeneratif, seperti Alzheimer dan Huntington
2.VKorsakoff syndrome yang disebabkan kecanduan alkohol;
3.VTrauma;
4.VBedah otak (daerah lobus temporal);
5.VInfeksi mikroba (virus, bakteri, jamur, dan parasit)
6.VGangguan vaskular (termasuk pendarahan subaracnoid yang diakibatkan aneurisma);
7.VInfark otak (disebabkan infark jantung dan keracunan CO)
8.VTumor otak
Pada LTM ini penulis akan lebih membahas mengenai hubungan infeksi mikroba khususnya virus
terhadap memory disorder ini.


    

Kita dapat membedakan dua macam virus yang menimbulkan manifestasi neurologik. Virus yang
tergolong pada virus neurotropik memang mempunyai sifat untuk ditangkap oleh sel saraf. Jenis
virus lain, yaitu yang dinamakan viserotropik, mempunyai kecenderungan untuk tertangkap oleh sel
mukosa traktus digestivus, tetapi pada kondisi ʹ kondisi tertentu virus viserotropik mendapat
kesempatan untuk tiba di sel ʹ sel saraf juga. Kondisi tersebut ialah :
1. Jumlah virus yang melakukan invasi besar sekali
2. Daya ketahanan tubuh yang rendah, misalnya karena penyakit kronis, karena reaksi alergik, dan
lain lain.
3. Karena bantuan biokimiawi kepada susunan saraf berkurang, akibat kerusakan di organ.
Untuk menginfeksi sistem saraf virus haruslah melewati sawar darah otak. Bagaimana caranya? Virus
menggunakan sel ʹ sel imun yang ada di dalam darah menuju otak. Hal ini disebabkan sel makrofag
seperti monosit mampu untuk melewati sawar darah otak tersebut. Setelah proses invasi berhasil,
timbullah manifestasi lokalisatorik. Manifestasi berupa memory disorder sangat dikaitkan dengan
meningitis dan ensefalitis serta infeksi virus HIV. Pada paragraf berikutnya penulis akan membahas
patogenesisnya yang mengakibatkan kerusakan jaringan saraf sehingga timbullah memory disorder.

3
Virus yang biasanya menyebabkan kondisi ini biasanya tergolong enterovirus. Anggota ʹ anggotanya
antara lain ialah virus poliomielitis, virus Coxsackie, dan virus ʹ virus ECHO. Mereka semua
melakukan invasi dan penetrasi melalui usus. Mereka ditemukan di feses dan sekresi nasofarings.
Selanjutnya, mereka ditemukan di cairan serebrospinal dan akhirnya menyebabkan meningitis.
Virus ECHO dinamakan demikian sebagai singkatan dari ͞Enteric Cytophatic Human Orphan͟. Dahulu
virus tersebut dianggap sebagai virus yang tidak mempunyai hubungan apapun dengan penyakit.
Maka dari itu dinamakan orphan yang artinya yatim piatu. Tetapi kini virus tersebut terbukti
mempunyai hubungan dengan meningitis.
Hubungan meningitis dengan kerusakan jaringan otak adalah meningitis akan memunculkan proses
peradangan pada otak sehingga terjadi nekrosis likuefaktif.
Ensefalitis3
Ensefalitis mencakup berbagai variasi dari yang ringan sampai yang parah sekali dengan koma dan
kematian. Proses radangnya jarang terbatas pada jaringan otak saja, tetapi hampir selalu mengenai
selaput otak juga. Maka dari itu, adalah lebih tepat untuk menyebutnya meningoensefalitis.
Biasanya ensefalitis virus dibagi menjadi tiga kelompok :
1. Ensefalitis primer yang bisa disebabkan oleh infeksi virus kelompok polio herpes simpleks,
influenza, ECHO, Coxsackie, dan virus arbo.
2. Ensefalitis primer yang tidak diketahui penyebabnya.
3. Ensefalitis para infeksiosa yanitu ensefalitis yang timbul sebagai komplikasi penyakit virus yang
sudah dikenal seperti rubeola, varisela, herpes zoster, parotitis epidemika, dan mononukleosis
infeksiosa.
Hubungan ensefalitis dengan kerusakan jaringan otak adalah munculnya proses peradangan pada
otak sehingga terjadi nekrosis likuefaktif.

Î
   
Virus herpes simpleks ini umumnya disebarkan
secara intrauterine dari ibu ke fetus. Ada dua cara
penularannya yaitu via vagina dan via plasenta.
Pada anak ʹ anak dan orang dewasa, ensefalitis
virus herpes simpleks merupakan manifestasi
reaktivasi dari infeksi yang laten. Dalam hal
tersebut virus herpeks simpleks berdiam dalam
jaringan otak secara endosimbiotik. Reaktivitas
herpes simpleks dapat disebabkan oleh faktor ʹ
faktor yang pernah disebut di atas, yaitu
penyinaran ultraviolet dan gangguan hormonal.

    
Gangguan kognitif yang terkait dengan penyakit HIV secara luas disebut ½  ementia Complex
(ADC). Istilah ini mencakup defisit kognitif, perubahan perilaku, dan keterlibatan segi motorik.
Mereka yang terkena dampak defisit tersebut mungkin di tiap dari 3 aspek memiliki tingkat
keparahan yang berbeda-beda.
Pada tahun 1991, American Academy of Neurology mendefinisikan defisit neurokognitif akibat HIV
sebagai demensia terkait HIV (HAD) dan gangguan motor ringan kognitif (MCMD). Pada tahun 2007,
Antinori et al mengusulkan kriteria yang lebih halus untuk mendiagnosis kerusakan kognitif terkait
dengan HIV. Mereka mengusulkan 3 hal : penurunan neurokognitif asimtomatik (ANI), gangguan
neurokognitif ringan terkait HIV (MND), dan demensia terkait HIV (HAD). Standar pengujian
neuropsikologi berupa penilaian domain kognisi seperti bahasa, perhatian, memori, kecepatan
pemrosesan informasi, dan persepsi dan keterampilan motorik. Untuk mencapai salah satu diagnosa
di atas pasien harus tidak memiliki etiologi lain dari demensia dan tidak memiliki efek pengganggu
penggunaan zat atau kelainan psikis lainnya.

c 

HIV memasuki SSP dengan menginfeksi makrofag dan monosit yang bisa melewati sawar darah otak
pada hari ke 14 setelah infeksi. Setelah masuk, monosit akan aktif sehingga berubah menjadi
makrofag Virion yang ada di makrofag aktif akan dikeluarkan ke jaringan otak. Partikel-partikel virus
tersebut menstimulasi mikroglia otak dan makrofag tak terinfeksi untuk memulai suatu kaskade
inflamasi yang menghasilkan serangkaian sinyal intraseluler dalam sel-sel otak. Hal ini
mengakibatkan kerusakan pada jaringan parenkim otak. Peradangan ini dikenal sebagai HIV
ensefalitis.
Studi Imunohistokimia menunjukkan bahwa virus paling padat terletak di basal ganglia, daerah
subkortikal, dan korteks frontal. Perubahan patologis yang terlihat di otopsi juga didominasi di
daerah subkortikal, daerah substansi abu ʹ abu di dalam serebri (ganglia basal dan talamus) dan
substansi alba. Pada proses peradangan makrofag yang terinfeksi atau sel mikroglia mengeluarkan
proinflammatory neurotoksin diffusable selular, berupa tumor nekrosis faktor alfa-(TNF-alpha),
sitokin, interleukin, kemokin, oksida nitrat, dan asam amino eksitatori. Agen - agen ini sangat
neurotoksik karena menciptakan lingkungan inflamasi yang akan mengaktifkan mikroglia yang tidak
terinfeksi. Akibatnya banyak mikroglia yang merusak astrosit sekitarnya dan neuron. HIV tidak
langsung menginfeksi neuron, tetapi neuron rusak oleh pengaruh berbagai agen properadangan
neurotoksin.
Dengan menggunakan teknik imunohistokimia, banyak produk virus HIV telah terlibat dalam
demensia HIV. Ganglia basal menunjukkan immunostaining tertinggi yaitu oleh antigen HIV p24
antin.Beberapa studi menunjukkan bahwa ekspresi gp41 di ganglia basal dan lobus frontal secara
signifikan berkorelasi dengan keparahan demensia. Protein virus lain, termasuk lemak dan gp120,
hadir dalam jumlah besar di otak pasien dengan demensia HIV. Gp120 menyebabkan kematian
neuron in vitro dan disertai dengan pembukaan saluran kalsium dalam membran saraf.
Banyak penelitian telah menjelaskan bahwa p53 (tumor supresor gene) tampaknya memiliki peran
ganda dalam patogenesis penyakit ini. Protein tat HIV dan gp120 menyebabkan mikroglia
melepaskan faktor yang mempromosikan aktivasi p53 neuron. Semua jenis 3 sel dalam otak
(mikroglia, astrosit, dan neuron) mengumpulkan p53, yang akhirnya menyebabkan kematian sel baik
karena apoptosis, cedera oksidatif, dan kerusakan DNA.
Singkatnya, baik bagian virus (misalnya, gp120, gp41, lemak) dan produk mikroglia (misalnya, TNF-
alpha, sitokin, oksida nitrit, interleukin, quinolates, dan faktor aktivasi platelet) dapat memperkuat
atau berkontribusi langsung terhadap kerusakan jaringan saraf.

 c 
1. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. (2007). NINDS Agnosia Information Page.
Retrieved on May 17, 2010 from http://www.ninds.nih.gov/disorders/agnosia/agnosia.htm
2. Gelder, MG, Lopez-lebor,JJ, Andreasen, N.New Oxford Text Book of Psychiatry.Oxford : Oxford
University Press, 2006.hal 55.
3. Mahardjono, M, Sidharta, P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta : Dian Rakyat;2008.hal 308 ʹ 317.
4. Dementia Due to HIV Disease. [homepage on the Internet]. USA: Medscape; 2010 [cited: 2010
May 17]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/292225-overview.