Anda di halaman 1dari 17

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Pelvic Inflammatory Disease (PID) adalah istilah klinis umum untuk
infeksi traktus genital atas. Terdapat sekitar 1 juta kasus PID di Amerika Serikat
setiap tahunnya. Prevalensi ini meningkat pada negara berkembang dengan
masyarakat sosioekonomik rendah.
Lebih dari seperempat pasien PID membutuhkan rawatan di rumah sakit.
Resiko meningkat pada daerah dengan prevalensi penyakit menular seksual tinggi
akibat dari aktivitas seksual bebas dan berganti pasangan. Negara berkembang
seperti Indonesia memiliki segala resiko yang menyebabkan rentannya terjadi PID
pada wanita Indonesia.
Untuk itu, diperlukan pencegahan dan penatalaksanaan yang tepat untuk
mengurangi prevalensi PID. Karenanya, dibutuhkan pengetahuan tentang PID
agar dapat dicegah, didiagnosa dini, dan ditatalaksana dengan cepat dan segera.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk membahas lebih
lanjut dan menambah wawasan pembaca mengenai PID dalam populasi secara
umum, deteksi dini, manifestasi klinis dan cara penatalaksanaannya secara tepat.
Dan untuk memenuhi persyaratan kepaniteraan klinik poliklinik ginekologi
minggu 8 departemen obstetri dan ginekologi.

Makalah Ginekologi | 1
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 PELVIC INFLAMMATORY DISEASE


2.1.1 Definisi
Pelvic inflammatory disease (PID) adalah penyakit infeksi dan inflamasi
pada traktur reproduksi bagian atas, termasuk uterus, tuba fallopi, dan struktur
penunjang pelvis.1 PID merupakan sebuah spektrum infeksi pada traktus genitalia
wanita yang termasuk di dalamnya endometritis, salpingitis, tuba-ovarian abses,
dan peritonitis.2
PID biasanya disebabkan oleh kolonisasi mikroorganisme di endoserviks
yang bergerak ke atas menuju endometrium dan tuba fallopi. Inflamasi dapat
timbul kapan saja dan pada titik manapun di traktus genitalia.3

2.1.2 Epidemiologi dan Faktor Resiko


Epidemiologi
PID adalah masalah kesehatan yang cukup sering. Sekitar 1 juta kasus PID
terjadi di Amerika Serikat dalam setahun dan total biaya yang dikeluarkan
melebihi 7 juta dollar per tahun. Lebih dari seperempat kasus PID membutuhkan
rawatan inap. PID menyebabkan 0,29 kematian per 1000 wanita usia 15-44
tahun.4 Diperkirakan 100000 wanita menjadi infertil diakibatkan oleh PID.2
WHO mengalami kesulitan dalam menentukan prevalensi PID akibat dari
beberapa hal termasuk kurangnya pengenalan penyakit oleh pasien, kesulitan
akses untuk merawat pasien, metode subjektif yang digunakan untuk
mendiagnosa, dan kurangnya fasilitas diagnosti pada banyak negara berkembang,
dan sistem kesehatan masyarakat yang sangat luas.1

Faktor Resiko
Terdapat beberapa faktor resiko terjadinya PID, namun yang utama adalah
aktivitas seksual. PID yang timbul setelah periode menstruasi pada wanita dengan

Makalah Ginekologi | 2
aktivitas seksual berjumlah sekitar 85%, sedangkan 15% disebabkan karena luka
pada mukosa misalnya akbiat AKDR atau kuretase.4
Resiko juga meningkat berkaitan dengan jumlah pasangan seksual. Wanita
dengan lebih dari 10 pasangan seksual cenderung memiliki peningkatan resiko
sebesar 3 kali lipat.4
Usia muda juga merupakan salah satu faktor resiko yang disebabkan oleh
kurangnya kestabilan hubungan seksual dan mungkin oleh kurangnya imunitas.4
Factor resiko lainnya yaitu pemasangan kontrasepsi, etnik, status
postmarital dimana resiko meningkat 3 kali dibanding yang tidak menikah, infeksi
bakterial vaginosis, dan merokok.4 Peningkatan resiko PID ditemukan pada etnik
berkulit putih dan pada golongan sosioekonomik rendah. PID sering muncul pada
usia 15-19 tahun dan pada wanita yang pertama kali berhubungan seksual.1
Pasien yang digolongkan memiliki resiko tinggi untuk PID adalah wanita
berusia dibawah 25 tahun, menstruasi, memiliki pasangan seksual yang multipel,
tidak menggunakan kontrasepsi, dan tinggal di daerah yang tinggi prevalensi
penyakit menular seksual. PID juga sering timbul pada wanita yang pertama kali
berhubungan seksual. Pemakaian AKDR meningkatkan resiko PID 2-3 kali lipat
pada 4 bulan pertama setelah pemakaian, namun kemudian resiko kembali
menurun. Wanita yang tidak berhubungan seksual secara aktif dan telah menjalani
sterilisasi tuba, memiliki resiko yang sangat rendah untuk PID.1

2.1.3 Etiologi
PID biasanya disebabkan oleh mikroorganisme penyebab penyakit
menular seksual seperti N. Gonorrhea dan C. Trachomatis. Mikroorganisme
endogen yang ditemukan di vagina juga sering ditemukan pada traktus genitalia
wanita dengan PID. Mikroorganisme tersebut termasuk bakteri anaerob seperti
prevotella dan peptostreptokokus seperti G. vaginalis. Bakteri tersebut bersama
dengan flora vagina menyebar secara asenden dan secara enzimatis merusak
barier mukosa serviks.3
N. gonorrhea dan C. Trachomatis telah diduga menjadi agen etiologi
utama PID, baik secara tunggal maupun kombinasi.2 C. trachomatis adalah bakteri

Makalah Ginekologi | 3
intraseluler patogen. Secara klinis, infeksi akibat parasit intraseluler obligat ini
bermanifestasi dengan servisitis mukopurulen.1
Bakteri fakultatif anaerob dan flora endogen vagina dan perineum juga
diduga menjadi agen etiologi potensial untuk PID. Yang termasuk diantaranya
adalah Gardnerella vaginalis, Streptokokus agalactiae, Peptostreptokokus,
Bakteroides, dan mycoplasma genital, serta ureaplasma genital. Patogen
nongenital lain yang dapat menyebabkan PID yaitu haemophilus influenza dan
Haemophilus parainfluenza.2
Actinomices diduga menyebabkan PID yang dipicu oleh penggunaan
AKDR. Pada negara yang kurang berkembang, PID mungkin disebabkan juga
oleh salpingitis granulomatosa yang disebabkan Mycobakterium tuberkulosis dan
Schistosoma.2

2.1.4 Patofisiologi
PID disebabkan oleh penyebaran mikroorganisme secara asenden ke
traktus genital atas dari vagina dan serviks. Mekanisme pasti yang bertanggung
jawab atas penyebaran tersebut tidak diketahui, namun aktivitas seksual mekanis
dan pembukaan serviks selama menstruasi mungkin berpengaruh.2
Banyak kasus PID timbul dengan 2 tahap. Tahap pertama melibatkan
akuisisi dari vagina atau infeksi servikal. Penyakit menular seksual yang
menyebabkannya mungkin asimptomatik. Tahap kedua timbul oleh penyebaran
asenden langsung mikroorganisme dari vagina dan serviks. Mukosa serviks
menyediakan barier fungsional melawan penyebaran ke atas, namun efek dari
barier ini mungkin berkurang akibat pengaruh perubahan hormonal yang timbul
selama ovulasi dan mestruasi. Gangguan suasana servikovaginal dapat timbul
akibat terapi antibiotik dan penyakit menular seksual yang dapat mengganggu
keseimbangan flora endogen, menyebabkan organisme nonpatogen bertumbuh
secara berlebihan dan bergerak ke atas. Pembukaan serviks selama menstruasi
dangan aliran menstrual yang retrograd dapat memfasilitasi pergerakan asenden
dari mikrooragnisme. Hubungan seksual juga dapat menyebabkan infeksi asenden

Makalah Ginekologi | 4
akibat dari kontraksi uterus mekanis yang ritmik. Bakteri dapat terbawa bersama
sperma menuju uterus dan tuba.1
Faktor resiko meningkat pada wanita dengan pasangan seksual multipel,
punya riwayat penyakit menular seksual sebelumnya, pernah PID, riwayat
pelecehan seksual, berhubungan seksual usia muda, dan mengalami tindakan
pembedahan.1,2 Usia muda mengalami peningkatan resiko akibat dari peningkatan
permeabilitas mucosal serviks, zona servical ektopi yang lebih besar, proteksi
antibody chlamidya yang masih rendah, dan peningkatan perilaku beresiko.1
Prosedur pembedahan dapat menghancurkan barier servikal, sehingga menjadi
predisposisi terjadi infeksi.1

Figure 16.1 Micro-organisms originating in the endocervix ascend into the


endometrium, fallopian tubes, and peritoneum, causing pelvic inflammatory
disease (endometritis,salpingitis,peritonitis).3

AKDR telah diduga merupakan predisposisi terjadinya PID dengan


memfasilitasi transmisi mikroorganisme ke traktus genitalia atas.2 Kontrasepsi
oral justru mengurangi resiko PID yang simptomatik, mungkin dengan
meningkatkan viskositas mukosa oral, menurunkan aliran menstrual antegrade
dan retrograde, dan memodifikasi respon imun local.1
Pada traktus bagian atas, jumlah mikroba dan factor host memiliki peranan
terhadap derajat inflamasi dan parut yang dihasilkan. Infeksi uterus biasanya

Makalah Ginekologi | 5
terbatas pada endometrium, namun dapat lebih invasive pada uterus yang gravid
atau postpartum. Infeksi tuba awalnya melibatkan mukosa, tapi inflamasi
transmural yang dimediasi komplemen yang bersifat akut dapat timbul cepat dan
intensitas terjadinya infeksi lanjutan pun meningkat. Inflamasi dapat meluas ke
struktur parametrial, termasuk usus. Infeksi dapat pula meluas oleh tumpahnya
materi purulen dari tuba fallopi atau via penyebarana limfatik dalam pelvis
menyebabkan peritonitis akut atau perihepatitis akut.1

2.1.5 Jenis - Jenis


Beberapa jenis inflamasi yang termasuk PID dan sering ditemukan
adalah :
Salpingitis
Mikroorganisme yang tersering menyebabkan salpingitis adalag N.
Gonorhea dan C. trachomatis. Salpingitis timbul pada remaja yang memiliki
pasangan seksual multiple dan tidak menggunakan kontrasepsi. Gejala meliputi
nyeri perut bawah dan nyeri pelvis yang akut. Nyeri dapat menjalar ke kaki. Dapat
timbul sekresi vagina. Gejala tambahan berupa mual, muntah, dan nyeri kepala.4
Temuan laboratorium yaitu normal leukosit atau leukositosis.4
Penatalaksanaan adalah dengan antimicrobial terapi. Pasien harus dihospitalisasi,
tirah baring, dan diberi pengobatan empirik.4 Prognosis bergantung pada terapi
antimicrobial spectrum luas dan istirahat yang total. Komplikasi berupa
hidrosalping, pyosalping, abses tubaovarian, dan infertilitas.4

Abses Tuba Ovarian


Abses ini dapat muncul setelah onset salpingitis, namun lebih sering akibat
infeksi adnexa yang berulang. Pasien dapat asimptomatik atau dalam keadaan
septic shock. Onset ditemukan 2 minggu setelah menstruasi dengan nyeri pelvis
dan abdomen, mual, muntah, demam, dan takikardi. Seluruh abdomen tegang dan
nyeri. Leukosit dapat rendah, normal, atau sangat meningkat.4
Diagnosa diferensial yaitu kista ovarium, neoplasma ovarium, kehamilan
ektopik, dan periapendiceal abses. Penatalaksanaan awal dengan antibiotik. Jika

Makalah Ginekologi | 6
massa tidak mengecil setelah 2-3 minggu terapi antibiotic, merupakan indikasi
pembedahan.4

2.1.6 Diagnosis
Secara tradisional, diagnosa PID didasarkan pada trias tanda dan gejala
yaitu, nyeri pelvik, nyeri pada gerakan serviks, dan nyeri tekan adnexa, dan
adanya demam. Namun, saat ini telah terdapat beberapa variasi gejala dan tanda
yang membuat diagnosis PID lebih sulit.3 beberapa wanita yang mengidap PID
bahkan tidak bergejala.3

Table 16.4 Clinical Criteria for the Diagnosis of Pelvic Inflammatory Disease3
Gejala
Tidak penting
Tanda
Nyeri tekan organ pelvis
Leukorrhea dan mucopurulen endoservisitis
Kriteria tambahan untuk meningkatkan spesifisitas diagnose
Biopsy endometrium yang menunjukkan endometritis
Paningkatan C-reactive protein atau erythrocyte sedimentation rate
Suhu lebih dari 38°C
Leukositosis
Test Positif untuk gonorrhea atau chlamydia
Criteria rumit
Ultrasound menunjukkan tubo-ovarian abscess
Laparoscopi menunjukkan konfirmasi salpingitis

Penegakan diagnosa dimulai dengan anemnese, dimana pasien dapat


mengeluhkan gejala yang bervariasi. Gejala muncul pada saat awal siklus
menstruasi atau pada saat akhir menstruasi.1 Nyeri abdomen bagian bawah
dijumpai pada 90% kasus dengan kriteria nyeri tumpul, bilateral, dan konstan.1,2

Makalah Ginekologi | 7
Nyeri diperburuk oleh gerakan, olahraga, atau koitus.1 Nyeri dapat juga dirasakan
seperti tertusuk, terbakar, atau kram. Nyeri biasanya berdurasi <7 hari.4
Sekresi cairan vagina terjadi pada 75% kasus. Demam dengan suhu >38º,
mual, dan muntah.1,2 gejala tambahan yang lain meliputi perdarahan per vaginam,
nyeri punggung bawah, dan disuria.2 Nyeri organ pelvis dijumpai pada PID.
Adanya nyeri pada pergerakan serviks menandakan adanya inflamasi peritoneal
yang menyebabkan nyeri saat peritoneum teregang pada pergerakan serviks dan
menyebabkan tarikan pada adnexa.3
PID dapat didiagnosa dengan riwayat nyeri pelvis, sekresi cairan vagina,
nyeri tekan adnexa, demam, dan peningkatan leukosit.5

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, biasanya didapati :
• Nyeri tekan perut bagian bawah1,2
• Pada pemeriksaan pelvis dijumpai : sekresi cairan mukopurulen, nyeri
pada pergerakan serviks, nyeri tekan uteri, nyeri tekan adnexa yang
bilateral2
• Mungkin ditemukan adanya massa adnexa2
Beberapa tanda tambahan adalah :
• Suhu oral lebih dari 38ºC1,2

Pemeriksaan Laboratorium
• Pada pemeriksaan darah rutin dijumpai jumlah leukosit lebih dari 100.000
pada 50% kasus.2 Hitung leukosit mungkin normal, meningkat, atau
menurun, dan tidak dapat digunakan untuk menyingkirkan PID.4
• Peningkatan erythrocyte sediment rate digunakan untuk membantu
diagnose namun tetap tidak spesifik.1,2
• Peningkatan c-reaktif protein, tidak spesifik.1
• Pemeriksaan DNA dan kultur gonorrhea dan chlamidya digunakan untuk
mengkonfirmasi PID.1,2

Makalah Ginekologi | 8
• Urinalisis harus dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi
saluran kemih.1

Pemeriksaan Radiologi
• Transvaginal ultrasonografi : pemeriksaan ini memperlihatkan adnexa,
uterus, termasuk ovaroium.6 Pada pemeriksaan ini PID akut Nampak
dengan adanya ketebalan dinding tuba lebih dari 5 mm, adanya septa
inkomplit dalam tuba, cairan mengisi tuba fallopi, dan tanda cogwheel.2
Tuba fallopi normal biasanya tidak terlihat pada USG.5
• CT digunakan untuk mendiagnosa banding PID. Penemuan CT pada PID
adalah servisitis, ooforitis, salpingitis, penebalan ligament uterosakral, dan
adanya abses atau kumpulan cairan pelvis.1,2 Penemuan CT scan tidak
spesifik pada kasus PID dimana tidak bukati abses.6
• MRI jarang mengindikasikan PID. Namun jika digunakan akan terlihat
penebalan, tuba yang berisi cairan dengan atau tanpa cairan pelvis bebas
atau kompleks tubaovarian.1,2

Prosedur Lain
Laparoskopi adalah standar baku untuk diagnosis defenitif PID.
Mengevaluasi cairan di dalam abdomen dilakukan untuk menginterpretasi
kerusakan. Pus menunjukkan adanya abses tubaovarian, rupture apendiks, atau
abses uterin. Darah ditemukan pada ruptur kehamilan ektopik, kista korpus
luteum, mestruasi retrograde, dll.4
Criteria minimum pada laparoskopi untuk mendiagnosa PID adalah edema
dinding tuba, hyperemia permukaan tuba, dan adanya eksudat pada permukaan
tuba dan fimbriae. Massa pelvis akibat abses tubaovarian atau kehamilan ektopik
dapat terlihat.1
Endometrial biopsi dapat dilakukan untuk mendiagnosa endometritis
secara histopatologis.1

2.1.7 Diagnosa Differensial

Makalah Ginekologi | 9
Beberapa diagnosa banding untuk PID adalah :
• tumor adnexa1
• appendicitis1
• servisitis1
• kista ovarium1
• torsio ovarium1
• aborsi spontan1
• infeksi saluran kemih1
• kehamilan ektopik1
• endometriosis1

2.1.8 Pencegahan
Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Pencegahan dapat dilakukan dengan mecegah terjadi infeksi yang
disebabkan oleh kuman penyebab penyakit menular seksual, terutama
chlamidya. Peningkatan edukasi masyarakat, penapisan rutin, diagnosis
dini, serta penanganan yang tepat terhadap infeksi chlamidya berpengaruh
besar dalam menurunkan angka PID. Edukasi hendaknya focus pada
metode pencegahan penyakit menular seksual, termasuk setia terhadap
satub pasangan, menghindari aktivitas seksual yang tidak aman, dan
menggunakan pengaman secara rutin.1,2
2. Adanya program penapisan penyakit menular seksual dapat mencegah
terjadinya PID pada wanita. Mengadakan penapisan terhadap pria perlu
dilakukan untuk mencegah penularan kepada wanita.1
3. Pasien yang telah didiagnosa dengan PID atau penyakit menular seksual
harus diterapi hingga tuntas, dan terapi juga dilakukan terhadap
pasangannya untuk mencegah penularan kembali.1
4. Wanita usia remaja harus menghindari aktivitas seksual hingga usia 16
tahun atau lebih.2
5. Kontrasepsi oral dikatakan dapat mengurangi resiko PID.2

Makalah Ginekologi | 10
6. Semua wanita berusia 25 tahun ke atas harus dilakukan penapisan terhadap
chlamidya tanpa memandang faktor resiko.2

2.1.9 Penatalaksanaan1
CDC memperbaharui panduan untuk diagnosis dan manajemen PID.
Panduan CDC terbaru membagi criteria diagnostic menjadi 3 grup :
1. Grup 1 : minimum kriteria dimana terapi empiris diindikasikan bila
tidak ada etiologi yang dapat dijelaskan. Kriterianya yaitu adanya
nyeri tekan uterin atau adnexa dan nyeri saat pergerakan serviks.
2. Grup 2 : kriteria tambahan mengembangkan spesifisitas diagnostic
termasuk kriteria berikut : suhu oral >38,3ºC, adanya secret
mukopurulen dari servical atau vaginal, peningkatan erythrocyte
sedimentation rate, peningkatan c-reactif protein, adanya bukti
laboratorium infeksi servikalis oleh N. gonorhea atau C.
trachomatis.
3. Grup 3 : kriteria spesifik untuk PID didasarkan pada prosedur yang
tepat untuk beberapa pasien yaitu konfirmasi laparoskopik,
ultrasonografi transvaginal yang memperlihatkan penebalan, tuba
yang terisi cairan dengan atau tanpa cairan bebas pada pelvis, atau
kompleks tuba-ovarian, dan endometrial biopsy yang
memperlihatkan endometritis.
Kebanyakan pasien diterapi dengan rawatan jalan, namun terdapat indikasi
untuk dilakukan hospitalisasi yaitu :
• Diagnosis yang tidak jelas
• Abses pelvis pada ultrasonografi
• Kehamilan
• Gagal merespon dengan perawatan jalan
• Ketidakmampuan untuk bertoleransi terhadap regimen oral
• Sakit berat atau mual muntah
• Imunodefisiensi

Makalah Ginekologi | 11
• Gagal untuk membaik secara klinis setelah 72 jam terapi rawat jalan
Terapi dimulai dengan terapi antibiotik empiris spectrum luas. Jika terdapat
AKDR, harus segera dilepas setelah pemberian antibiotic empiris pertama. Terapi
terbagi menjadi 2 yaitu terapi untuk pasien rawat inap dan rawat jalan.

Terapi pasien rawatan inap


Regimen A : berikan cefoxitin 2 gram iv atau cefotetan 2 gr iv per 12 jam
ditambah doxisiklin 100 mg per oral atau iv per 12 jam. Lanjutkan regimen ini
selama 24 jam setelah pasien pasien membaik secara klinis, lalu mulai doxisiklin
100 mg per oral 2 kali sehari selama 14 hari. Jika terdapat abses tubaovarian,
gunakan metronoidazole atau klindamisin untuk menutupi bakteri anaerob.
Regimen B : berikan clindamisin 900 mg iv per 8 jam tambah gentamisin 2 mg/kg
BB dosis awal iv diikuti dengan dosis lanjutan 1,5 mg/kg BB per 8 jam. Terapi iv
dihentikan 24 jam setelah pasien membaik secara klinis, dan terapi per oral 100
mg doxisiklin dilanjutkan hingga 14 hari.

Terapi pasien rawatan jalan


Regimen A : berikan ceftriaxone 250 mg im dosis tunggal tambah doxisiklin 100
mg oral 2 kali sehari selama 14 hari, dengan atau tanpa metronidazole 500 mg 2
kali sehari selama 14 hari.
Regimen B : berikan cefoxitin 2 gr im dosis tunggal dan proibenecid 1 gr per oral
dosis tunggal atau dosis tunggal cephalosporin generasi ketiga tambah dozisiklin
100 mg oral 2 kali sehari selama 14 hari dengan atau tanpa metronidazole 500 mg
oral 2 kali sehari selama 14 hari.

Pasien dengan terapi intravena dapat digantika dengan terapi per oral
setelah 24 jam perbaikan klinis. Dan dilanjutkan hingga total 14 hari. Penanganan
juga termasuk penanganan simptomatik seperti antiemetic, analgesia, antipiretik,
dan terapi cairan.

Makalah Ginekologi | 12
Terapi Pembedahan
Pasien yang tidak mengalami perbaikan klinis setelah 72 jam terapi harus
dievaluasi ulang bila mungkin dengan laparoskopi dan intervensi pembedahan.
Laparotomi digunakan untuk kegawatdaruratan sepeti rupture abses, abses yang
tidak respon terhadap pengobatan, drainase laparoskopi. Penanganan dapat pula
berupa salpingoooforektomi, histerektomi, dan bilateral salpingooforektomi.
Idealnya, pembedahan dilakukan bila infeksi dan inflamasi telah membaik.

Panduan CDC untuk penatalaksanaan PID3

Makalah Ginekologi | 13
2.1.10 Prognosis
Prognosis pada umunya baik jika didiagnosa dan diterapi segera. 2 Terapi
dengan antibiotik memiliki angka kesuksesan sebesar 33-75%. Terapi
pembedahan lebih lanjut dibutuhkan pada 15-20% kasus. Nyeri pelvis kronik
timbul oada 25% pasien dengan riwayat PID. Nyeri ini disangka berhubungan
dengan perubahan siklus menstrual, tapi dapat juga sebagai akibat perlengketan
atau hidrosalping. Gangguan fertilitas adalah masalah terbesar pada wanita
dengan riwayat PID. Rerata infertilitas meningkat seiring dengan peningkatan

Makalah Ginekologi | 14
frekuensi infeksi. Resiko kehamilan ektopik meningkat pada wanita dengan
riwayat PID sebagai akibat kerusakan langsung tuba fallopi.1

2.1.11 Komplikasi
Abses tuba ovarian adalah komplikasi tersering dari PID akut, dan timbul
pada sekitar 15-30% wanita yang dirawat inap di RS. Sekuele yang
berkepanjangan, termasuk nyeri pelvis kronik, kehamilan ektopik, infertilitas, dan
kegagalan implantasi dapat timbul pada 25% pasien. Lebih dari 100000 wanita
diperkirakan akan mengalami infertilitas akibat PID.1,2
Keterlambatan diagnosis dan penatalaksanaan dapat menyebabkan sekuele
seperti infertilitas. Mortalitas langsung muncul pada 0,29 pasien per 100000 kasus
pada wanita usia 15-44 tahun. Penyebab kematian yang utama adalah rupturnya
abses tuba-ovarian.1 Kehamilan ektopik 6 kali lebih sering terjadi pada wanita
dengan PID.2

BAB 3
KESIMPULAN

Pelvic inflammatory disease (PID) adalah penyakit infeksi dan inflamasi pada
traktur reproduksi bagian atas, termasuk uterus, tuba fallopi, dan struktur
penunjang pelvis. PID biasanya disebabkan oleh mikroorganisme penyebab
penyakit menular seksual seperti N. Gonorrhea dan C. Trachomatis. PID
disebabkan oleh penyebaran mikroorganisme secara asenden ke traktus genital
atas dari vagina dan seviks. Mekanisme pasti yang bertanggung jawab atas

Makalah Ginekologi | 15
penyebaran tersebut tidak diketahui, namun aktivitas seksual mekanis dan
pembukaan serviks selama menstruasi mungkin berpengaruh. Secara tradisional,
diagnose PID didasarkan pada trias tanda dan gejala yaitu, nyeri pelvic, nyeri pada
gerakan serviks, dan nyeri tekan adnexa, dan adanya demam. Laparoskopi adalah
standar baku untuk diagnosis defenitif PID. Terapi dimulai dengan terapi
antibiotik empiris spectrum luas. Penanganan juga termasuk penanganan
simptomatik seperti antiemetic, analgesia, antipiretik, dan terapi cairan. Pasien
yang tidak mengalami perbaikan klinis setelah 72 jam terapi harus dievaluasi
ulang bila mungkin dengan laparoskopi dan intervensi pembedahan. Prognosis
pada umunya baik jika didiagnosa dan diterapi segera. Prognosis pada umunya
baik jika didiagnosa dan diterapi segera.

DAFTAR PUSTAKA

1. Shepherd, Suzanne M. Pelvic Inflammatory Disease. 2010. Diunduh dari :


http://emedicine.medscape.com/article/256448-print [diperbaharui tanggal
4 Februari 2010]
2. Reyes, Iris. Pelvic Inflammatory Disease. 2010. Diunduh dari :
http://emedicine.medscape.com/article/796092-print [diperbaharui tanggal
10 September 2010]

Makalah Ginekologi | 16
3. Berek, Jonathan S. 2007. Pelvic Inflammatory Disease dalam Berek &
Novak’s Gynekology 14th Edition. California : Lippincott William &
Wilkins.
4. Pernoll, Martin L. 2001. Pelvic Inflammatory Disease dalam Benson &
Pernoll’s handbook of Obstetric and Gynecology 10th edition. USA :
McGrawhill Companies.
5. Edmonds, Keith D. 2007. The Role of Ultrasound in Gynaecology dalam
Dewhurst’s Textbook of Obstetric and Gynaecology 7th edition. London :
Blackwell Publishing.
6. Mudgil, Shikha. 2009. Pelvic Inflammatory Disease/Tubo-ovarian
Abscess. Diunduh dari : http://emedicine.medscape.com/article/404537-
print [diperbaharui tanggal 10 Agustus 2009]

Makalah Ginekologi | 17