Anda di halaman 1dari 4

Psikopat Di Sekitar Kita

Oleh : dr. Dian Nugroho, dr. Penggalih Mahardika

Istilah psiko (psycho) atau psiki (psyche) berasal dari Yunani yang berarti jiwa.
Psikopatologi yaitu ilmu yang mempelajari tentang kelainan atau gangguan emosi dan perilaku.
Dalam psikiatri, psikopat atau sosiopat ataugangguan karakter cukup sulit menerima terapi.
Sebelum jauh membahas Psikopat, ada baiknya kita tinjau sejenak, apa itu psikopat? Apa
penyebabnya(Etiologi)? Bagaimana mendeteksinya? Dan bisakah disembuhkan?
Apa itu Psikopat ?
Psikopat adalah suatu gejala kelainan kepribadian yang sejak dulu dianggap berbahaya dan
mengganggu masyarakat. Dr. Hervey Cleckley, psikiater yang dianggap salah satu peneliti perintis
tentang Psikopat, menulis dalam bukunya “The Mask of Sanity” (1947, dalam Hare, 1993),
menggambarkan Psikopat sebagai pribadi yang “likeable, charming, intelligent, alert, impressive,
confidence-inspiring, an a great success with the ladies”, tetapi sekaligus juga “irresponsible, self
destructive, and the like”. Demikian pula Dr. Robert Hare, dalam bukunya “Without Conscience:
The disturbing world of the Psychopaths among us“ (1993) masih bergelut dengan isu yang sama,
yaitu kepribadian psikopat yang nampaknya baik hati, tetapi sangat merugikan masyarakat.
Namun perlu dicatat, bahwa istilah Psikopat, yang sejak 1952 diganti dengan Sosiopat dan dalam
DSM II 1968 resmi dinamakan Sosiopat (Ramsland, tanpa tahun) itu, justru tidak bisa ditemukan
dalam DSM IV. Yang ada dalam manual baku yang digunakan oleh para psikiater di seluruh
Amerika Serikat (dan diacu juga oleh para psikolog klinis dan psikiater dan psikolog di Indonesia)
itu adalah 10 jenis Kelainan Kepribadian (Personality Disorders) (American Psychiatric
Association, 1994: 629).
Seorang psikopat dapat melakukan apa saja yang diinginkan dan yakin bahwa yang
dilakukannya itu benar. Sifatnya yang pembohong, manipulatif, tanpa rasa kasihan atau rasa
bersalah setelah menyakiti orang lain, tanpa ekspresi, sulit berempati dengan orang lain dan mudah
mengancam siapa saja, bahkan kadang-kadang ia dapat bertindak kejam tanpa pandang bulu.
Pembicaraan mengenai dirinya sangat melambung tinggi dan melihat kelemahan dirinya ada pada
orang lain dan tidak peduli terhadap siapapun.
Di Amerika Serikat, Psikopat cukup banyak. Di Indonesia data pastinya memang belum
ada. Dra. Tieneke Syaraswati, DNS, Ed, M.Fil, A.And dari FKUI mensinyalir jumlahnya pasti
banyak.
Apa penyebabnya (etiologi) ?
Sama seperti definisi dan ruang lingkup, tidak berbicara jelas tentang faktor-faktor
penyebab kelainan kepribadian yang bernama psikopat ini. Sampai saat ini, banyak penelitian yang
mendukung berbagai aspek penyebab kelainan ini antara lain:
1. Kelainan di otak.
Hubungan antara gejala Psikopat dengan kelainan sistem serotonin, kelainan struktural (“…
decreased prefrontal grey matter, decreased posterior hippocampal volume and increased
callosal white matter) dan kelainan fungsional (… dysfunction of particular frontal and
temporal lobe) otak. (Pridmore, Chambers & McArthur 2005).
2. Lingkungan.
Mereka yang berkepribadian psikopat memiliki latar belakang masa kecil yang tidak memberi
peluang untuk perkembangan emosinya secara optimal. (Kirkman, 2002).
3. Kepribadian sendiri.
Adanya korelasi antara perilaku orang-orang dengan sindrom psikopat, dengan skor yang
tinggi dalam tes kepribadian Revised NEO Personality Inventory (NEO-P-I-R,1992). (Miller &
Lynam, 2003)
Selain beberapa penelitian diatas masih banyak lagi penelitian tentang etiologi psikopat. Sebagian
besar psikolog dan psikiater masih berpegang pada faktor lingkungan dalam timbulnya kepribadian
psikopat ini.
Bagaimana mendeteksinya ?
Walaupun tidak dapat menentukan penyebabnya, saat ini terdapat alat yang baik untuk
mendiferensiasi antara orang-orang dengan gejala psikopat dengan yang tidak, yaitu Psychopath
Check List – Revised (PCL-R) yang dikembangkan oleh Prof.Robert Hare yang terdiri atas 20
kuesioner yang memiliki skor 0-2 di setiap pertanyaan. Sedikit kutipan dari 20 pertanyaan dalam
PCL-R tentang ciri-ciri psikopat, sebagai berikut :
1. Persuasif dan memesona di permukaan.
2. Menghargai diri yang berlebihan.
3. Butuh stimulasi atau gampang bosan.
4. Pembohong yang patologis.
5. Menipu dan manipulatif.
6. Kurang rasa bersalah dan berdosa.
7. Emosi dangkal.
8. Kasar dan kurang empati.
9. Hidup seperti parasit.
10. Buruknya pengendalian perilaku.
11. Longgarnya perilaku seksual
12. Masalah perilaku dini (sebelum usia 13 tahun).
13. Tidak punya tujuan jangka panjang yang realistis.
14. Impulsif.
15. Tidak bertanggung jawab atas kewajiban.
16. Tidak bertanggung jawab atas tindakan sendiri.
17. Pernikahan jangka pendek yang berulang.
18. Kenakalan remaja.
19. Melanggar norma.
20. Keragaman kriminal.
Indonesia saat ini menggunakan Tes Minessota Multiphasic Personality Inventory-2 (MMPI-2)
untuk mendeteksi kepribadian psikopat ini yang didalamnya terdapat skala klinis, Skala isi, dan
Skala penunjang. Pada awalnya tes MMPI-2 digunakan dalam pelayanan kesehatan jiwa,
kemudian meluas ke kalangan militer dan pemerintahan sebagai bagian dari seleksi dan rekruitmen
calon pegawai, pejabat (Legislatif & Eksekutif), termasuk calon presiden dan wakilnya.
Alat ukur lain yang digunakan berdasarkan teori yang sudah eksis (metode deduksi) adalah
Primitive Defense Guide (Helfgott, 2004), Rorschach (Cunliffe & Gacono, 2005), ToM (Theory of
Mind) (Dolan & Fullam, 2004; Ritchell, et al. 2003), SCT (Sentence Completion Test) (Endres,
2004), dan NEO PIR (Miller & Lynam, 2003).
Bisakah disembuhkan ?
Sebagai kelainan kepribadian yang belum bisa dipastikan penyebabnya, Psikopat belum
bisa dipastikan bisa disembuhkan atau tidak. Perawatan terhadap penderita psikopat menurut
pengamatan Hare, bukan saja tidak menyembuhkan, melainkan justru menambah parah gejalanya,
karena psikopat yang bersangkutan bisa semakin canggih dalam memanipulasi perilakunya yang
merugikan orang lain..Beberapa hal, kata Hare akan membaik sendiri dengan bertambahnya usia,
misalnya energi yang tidak sebesar waktu muda.
Menurut Tieneke, perilaku psikopatik biasanya muncul dan berkembang pada masa
dewasa, mencapai puncak di usia 40 tahun-an, mengalami fase plateau sekitar usia 50 tahun-an
lantas perlahan memudar. “ Psikopat juga bisa disebabkan kesalahan pola asuh.” Tambahnya.
Saran Tieneke, “Waspadai anak yang pemarah, suka berkelahi dan melawan, melanggar aturan
merusak, dan bengis terhadap hewan serta anak yang lebih kecil”.
Di sisi lain, Kirkman (2002) yang percaya bahwa psikopat terbentuk karena salah asuh
pada masa kecil, berpendapat bahwa Psikopat bisa dicegah sedini mungkin dengan memberikan
asuhan yang tepat sehingga meminimalkan resiko individu kekurangan afeksi pada masa kecilnya.
Indikasi KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dapat disebabkan karena kepribadian
Psikopat ternyata mungkin. Menurut Dr. Husein Anuz Sp.KJ, “Ayah yang Psikopat cenderung
memberikan anak yang psikopat juga.”. Ini menunjukkan besarnya peran faktor lingkungan.
Biasanya Anak akan meniru apa yang dilakukan Orang Tua nya, jadi tidak heran kasus KDRT
rata-rata disebabkan karena apa yang mereka perbuat kepada keluarganya saat ini seperti apa yang
orang tua mereka dulu perbuat terhadap keluarganya.
Yang terpenting adalah penanganan korban psikopat. Penanganan korban psikopat
seringkali harus mengalami proses penyembuhan yang panjang dan sulit. Umumnya mereka jatuh
dalam trauma yang mendalam. Jadi, tak perlu membuang waktu untuk mengubah Psikopat.
(siberklinik@sibermedik)

Anda mungkin juga menyukai