Anda di halaman 1dari 5

Etiologi maloklusi :

1. Etiologi lokal
Faktor dental

Gigi adalah tempat utama dalam etiologi dari kesalahan bentuk dentofacial dalam
berbagai macam cara. Variasi dalam ukuran, bentuk, jumlah dan posisis gigi semua dapat
menyebabkan maloklusi.
Hal yang sering dilupakan adalah kemungkinan bahwa malposisisi dapat
menyebabkan malfungsi, secara tidak langsung malfungsi merubah pertumbuhan tulang.
Yang sering bermasalah adalah gigi yang terlalu besar ( www.scribd.com )
Beberapa contoh kelainan gigi yang menyebabkan terjadinya maloklusi adalah
hipodontia, supernumerary gigi, bentuk gigi konus, bentuk gigi tuberkel, mikrodontia,
makrodontia, dan terjadinya tanggalnya gigi yang terlalu cepat yang tidak sesuai dengan
waktu normalnya.
Tidak adanya salah satu atau beberapa benih gigi ( hipodontia ) dapat
menyebabkan maloklusi. Keparahan maloklusi efek dari hipodontia ini tergantung pada
jumlah gigi yang tidak terbentuk. Misalnya tidak terbentuknya gigi caninus, maka rahang
atas dan rahang bawah tidak mendapatkan kunci oklusi yang tepat. Hal inilah yang dapat
menyebabkan maloklusi.
Tumbuhnya gigi yang berlebihan atau sering disebut supernumerary gigi juga
mempengaruhi perkembangan oklusi. Jika pada seseorang memiliki rahang yang tidak
terlalu besar dan seseorang tersebut memiliki kelainan supernumerary gigi maka akan
terjadi berjejalnya gigi – geligi yang dapat menyebabkan maloklusi.
Selain dua contoh kelainan pada gigi di atas kelainan bentuk gigi konus dan
tuberkel juga dapat mempengaruhi perkembangan oklusi. Gigi berbentuk konus biasanya
berukuran kecil dan tidak dapat berkontak dengan gigi antagonisnya, sehingga dapat
menyebabkan maloklusi. Selain itu gigi berbentuk konus juga sering tumbuh sebagai
supernumerary teeth yang tumbuh pada labial antara insisivus sentral RA. Hal ini akan
mempengaruhi pertumbuhan gigi insisivus sentral yang bisa berakibat retrusi pada gigi
insisivus sentral RA sehingga mengakibatkan maloklusi. Kelainan bentuk gigi tuberkel
juga memiliki efek yang hampir sama dengan kelainan bentuk gigi konus, hanya saja
berbeda tempat. Gigi tuberkel biasa tumbuh pada bagian palatal antara gigi insisivus
sentral RA. Efek dari kelainan ini mempengaruhi pertumbuhan gigi insisivus sentral RA
yang dapat mengakibatkan protrusinya gigi-gigi tersebut dan pada akhirnya
menyebabkan maloklusi.
Kelainan gigi yang lain adalah mikrodontia dan makrodontia. Mikrodontia dapat
menyebabkan diastema pada lengkung gigi sehingga menyebabkan terjadinya maloklusi.
Sedangkan makrodontia dapat menyebabkan berjejalnya gigi – geligi pada lengkung gigi,
sehingga mengakibatkan kelainan kontak gigi – geligi atau maloklusi.
Selain terjadinya anomaly gigi – geligi penyebab maloklusi pada faktor dental
adalah tanggalnya gigi yang terlalu cepat. Tanggalnya gigi susu yang terlalu cepat akan
mempengaruhi erupsi gigi permanen nantinya. Gigi permanen dapat tumbuh dengan tidak
sempurna atau bertumbuh dengan posisi yang tidak sesuai dengan posisi yang tapat. Hal
inilah yang dapat menyebabkan terjadinya maloklusi. ( foster. 1997 )

Etiologi umum :

1. Herediter
Herediter telah lama dikenal sebagai penyebab maloklusi. Kesalahan asal genetic dapat
menyebabkan penampilan gigi sebelum lahir / mereka tidak dapat dilihat sampai 6 tahun
setelah kelahiran (contoh : pola erupsi gigi). Peran herediter dalam pertumbuhan
craniofacial dan etiologi kesalahan bentuk dentalfacial telah menjadi banyak subjek
penelitian. Genetic gigi adalah kesamaan dalam bentuk keluaraga sangat sering terjadi
tetapi jenis transmisi / tempat aksi genetiknya tidak diketahui kecuali pada beberapa
kasus ( contoh : absennya gigi / penampilan beberapa syndrome craniofacial).
Sebagai contoh orantua laki – laki memiliki rahang yang besar dan gigi yang besar pula,
namun memiliki lengkung gigi yang normal dan rapi menikah dengan orangtua
perempuan yang memiliki rahang yang kecil dan gigi – geligiyang kecil – kecil pula,
memiliki lengkung rahang yang normal dan kedudukan gigi – geligi yang rapi. Maka
perkiraan keturunan bisa terjadi keadaan anak dimana memiliki rahang yang kecil namun
gigi - geligiyang besar – besar sehingga terjadinya berjejalnya gigi geligi yang akhrinya
menyebabkan maloklusi.
2. Kebiasaan buruk
Terdapat bermacam-macam kebiasaan buruk dalam mulut anak, antara lain bernafas
melalui mulut, menjulurkan lidah, menggigit jari, mengisap jari, menghisap bibir.
Kebiasaanburuk pada seseorang bisa berdiri sendiri-sendiri atau terjadi bersama-sama
dengan kebiasaanburuk lainnya. Artinya pada pasien yang  sama dapat terjadi
beberapa kebiasaan buruk (Yuniasih E.N. dan Soenawan H., 2006)

Klasifikasi kebiasaan buruk oral pada anak menurut Viken S. (1971)


s e b a g a i berikut :
1. Bernafas melalui mulut (mouth breathing)Bernafas melalui mulut dapat diklasifikasikan
menjadi tiga sebagai berikut :
a. Obstruktif : Anak yang mempunyai gangguan dalam menghirup udara
melaluisaluran hidung (nasal passage).
b. H a b i t u a l : D i s e b a b k a n k a r e n a k e b i a s a a n m e s k i p u n g a n g g u a n
y a n g a b n o r m a l sudah dihilangkan.
c. Anatomical  : Bila  anatomi  bibir  atas-bawah  pendek  sehingga  tidak
dapatmengatup sempurna tanpa ada usaha untuk menutupnya.

Anak yang mouth breathing biasanya berwajah sempit,  gigi anterior atas majuke arah
labial, dan bibir terbuka dengan bibir bawah yang terletak di belakang insisif atas.  Karena
kurangnya stimulasi muscular normal dari lidah  dan  karena adanyat e k a n a n
berlebih pada caninus dan daerah molar oleh otot orbicularis oris
d a n bucinator, maka segmen bukal dari maksila  berkontraksi mengakibatkan
maksilaberbentuk  V  dan  palatal  tinggi.  Sehingga  menurut  beberapa  pendapat
mouthbreathers cenderung memberikan klinis memilki wajah yang panjang (long
faced)dan sempit.Bila hal ini dilakukan terus menerus dapat mengakibatkan kelainan
berupagigi depan rahang atas baas mrongos (protusif) dan gigitan depan menjadi
terbuka(open bite).

 
2. Kebiasaan  menghisap ibu jari
Menghisap  ibu  jari  merupakan  kebiasaan  yang  umum  pada  anak.
Kebiasaanmenghisap ibu jari yang berkepanjangan dapat menyebabkan
maloklusi. MenurutProfit (2000), karakteristik maloklusi berhubungan dengan adanya
kombinasi tekananlangsung dari ibu jari dan perubahan pola tekanan pipi dan
bibir. Tekanan pipi padasudut mulut merupakan tekanan yang tertinggi,
Tekanan otot pipi terhadap gigi-gigi posterior  rahang  atas  ini  meningkat  akibat
kontraksi  otot buccinators selama mengisap  pada  saat  yang  sama.sehingga
memberikan  risiko  lengkung  maksilamenjadi berbentuk V.

3. Kebiasaan mendorong lidah (tongue thrusting)


Menurut Straub (1960), kebiasaan mendorong lidah dapat disebabkan karena
bottlefeeding  yang tidak tepat dan biasanya disertai dengn kebiasaan buruk
lain sepertikebiasaan menghisap ibu jari, menggigit bibir, dan menggigit kuku. Jika
kebiasaan initerus berlanjut akan menyebabkan open bite dan incomplete
coverbite serta ujung lidah terposisi lebih anterior dari normal.

4. Kebiasaan menggigit benda


Terdiri dari :
a. Menggigit kuku (nail biting) M e r u p a k a n k e b i a s a a n b u r u k o r a l d i m a n a
posisi gigi insisif atas dan bawahmengalami penekanan gigi pada
b a g i a n k u k u t e r s e b u t . M e u r u t F i n n ( 1 9 7 1 ) , kebiasaan menggigit kuku
adalah kebiasaan normal pada anak yang sebelumnyamemiliki kebiasaan
menghisap. Selain itu menurut Alexander dan Lane (1990), etiologi  menggigit
kuku  disebabkan  karena  stres,  imitasi  terhadap  anggotakeluarga, herediter,
transfer dari kebiasaan menghisap jari, dan kuku jari yang tidak rapi. Pada
beberapa kasus kebiasaan ini dapat menyebabkan atrisi pada gigianterior bawah.
b. Menggigit jari
Kebiasaan menggigit jari pada anak-anak timbul pada  usia 1-2
t a h u n . J i k a dibiarkan terus menerus sampai usia 5 tahun atau lebih dapat
berakibat kelainanpada posisi gigi. Jari akan menekan gigi rahang atas ke
depan dan gigi rahangbawah ke dalam, sehingga gigi tampak merongos (protusif).
( www.scribd.com )

Selain kebiasaan kebiasaan di atas, kebiasaan menopang dagu juga dapat mengakibatkan
pertumbuhan tulang rahang bawah yang tidak sempurna. Kebiasaan ini dapat
menyebabkan tidak simetrisnya antara kanan dan kiri tulang rahang tersebut karena
dalam kebiasaan ini dagu tertopang sebagian yang artinya sebagian rahang bawah
mendapat suatu tekanan sehingga pertumbuhan rahang tidak sempurna. Hal inilah yang
nantinya dapat menyebabkan maloklusi. ( foster. 1997 )

REFERENSI
Foster, T. D. 1997. Buku Ajar ORTODONDI. Edisi III. Jakarta : EGC
http://www.scribd.com/doc/47226871/BAB-I diakses tanggal 14 maret 2011
(http://www.scribd.com/doc/40690048/Oklusi-Dan-Maloklusi diakses tanggal 14 maret
2011

Anda mungkin juga menyukai