Anda di halaman 1dari 60

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hanya dalam beberapa hari setelah konsepsi sampai kematian, jantung terus
menerus berdetak. Pada kenyataanya, sepanjang rentang usia manusia rata-rata,
jantung berkontraksi sekitar tiga miliar kali, tidak pernah beristirahat, kecuali
sepersekian detik diantara denyutan. Dalam sekitar tiga minggu setelah
pembuahan, bahkan sebelum ibu dapat memastikan bahwa ia hamil, jantung
mudigah yang sedang berkembang sudah mulai berfungsi. Diyakini bahwa
jantung merupakan organ pertama yang berfungsi. Pada saat ini mudigah manusia
manusia memiliki panjang beberapa millimeter, seukuran dengan huruf besar pada
halaman ini.

Mengapa jantung berkembang sedemikian dini, dan mengapa sangat penting


seumur hidup ? Hal itu karena system sirkulasi adalah system transportasi tubuh.
Mudigah manusia dengan memiliki yolk yang sangat sedikit untuk persediaan
makanan, bergantung pada pembentukan system sirkulasi yang dapat berinteraksi
dengan sirkulasi ibuuntuk menyerap dan membagikan nutrient yang sangat
penting untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan ke jaringan-jaringan yang
sedang berkembang. Demikianlah awal kisah mengenai system sirkulasi, yang
seumur hidup terus berfungsi sebagai saluran vital untuk mengangkut bahan-
bahan yang mutlak dibutuhkan oleh sel-sel tubuh.

System sirkulasi terdiri dari tiga komponen dasar yaitu :

1. Jantung berfungsi sebagai pompa yang melakukan tekanan terhadap


darah untuk menimbulkan gradient tekanan yang diperlukan agar darah
dapat mengalir ke jaringan. Darah, seperti cairan lain, mengalir dari daerah
bertekanan lebih tinggi ke daerah bertekanan lebih rendah sesuai
penurunan tekanan gradient tekanan.

Sistem Kardiovaskuler 1
2. Pembuluh darah berfungsi sebagai saluran untuk mengarahkan dan
mendistribusikan darah dari jantung ke semua bagian tubuh dan kemudian
mengembalikanya ke jantung.
3. Darah berfungsi sebagai medium transportasi tempat bahan-bahan yang
akan disalurkan dilarutkan atau diendapkan.

Darah berjalan secara kontinu melalui system sirkulasi ke dan dari jantung
melalui dua lengkung vaskuler (pembuluh darah) tepisah, keduanya berawal dan
berakhir di jantung (lihat gambar). Sirkulasi paru terdiri dari lengkung tertutup
pembuluh-pembuluh yang mengangkut darah antara jantung dan paru, sedangkan
sirkulasi sistemik terdiri dari pembuluh-pembuluh yang mengangkut darah antara
jantung dan system organ.

Sistem Kardiovaskuler 2
1.2. Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :

✔ Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui letak dan posisi jantung


pada tubuh manusia.
✔ Mengenal lebih dalam organ-organ jantung dan katup-katupnya
✔ Memahami dan mengerti aktivitas listrik jantung dan EKG
(Elektrokardiogram) yang normal dan yang ada kelainan.
✔ Dapat memehami cara kerja jantung yang normal dan abnormal
✔ Dapat membedakan bunyi-bunyi jantung yang normal dan abnormal
(bising jantung)
✔ Untuk acuan kita sebagai seorang perawat yang propesional.

Sistem Kardiovaskuler 3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 JANTUNG

Gambar : jantung

Jantung merupakan organ utama dalam system kardiovaskuler. Jantung


dibentuk oleh organ-organ muscular, apex dan basis cordis, atrium kanan dan kiri

Sistem Kardiovaskuler 4
serta ventrikel kanan dan kiri. Ukuran jantung kira-kira panjang 12 cm, lebar 8-9
cm serta tebal kira-kira 6 cm.Berat jantung sekitar 7-15 ons atau 200
sampai 425 gram dan sedikit lebih besar dari kepalan tangan. Setiap
harinya jantung berdetak 100.000 kali dan dalam masa periode itu
jantung memompa 2000 galon darah atau setara dengan 7.571 liter
darah.

2.1.1 Letak dan Posisi Jantung

Gambar 1 : letak dan posisi jantung pada thorack

Posisi jantung terletak diantar kedua paru dan berada ditengah tengah dada,
bertumpu pada diaphragm thoracis dan berada kira-kira 5 cm diatas processus
xiphoideus. Pada tepi kanan cranial berada pada tepi cranialis pars cartilaginis
costa III dextra, 1 cm dari tepi lateral sternum. Pada tepi kanan caudal berada pada
tepi cranialis pars cartilaginis costa VI dextra, 1 cm dari tepi lateral sternum. Tepi
kiri cranial jantung berada pada tepi caudal pars cartilaginis costa II sinistra di tepi
lateral sternum, tepi kiri caudal berada pada ruang intercostalis 5, kira-kira 9 cm di
kiri linea medioclavicularis.

Sistem Kardiovaskuler 5
2.1.2 Ruang Jantung

Gambar 2. Ruang Jantung

Ruang dalam jantung dibagi menjadi 4, yaitu :

1. Atrium Kanan (Serambi Kanan)

Atrium kanan yang berdinding tipis ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan
darah dan sebagai penyalur darah dari vena-vena sirkulasi sistemik yang mengalir
ke ventrikel kanan. Darah yang berasal dari pembuluh vena ini masuk ke dalam
atrium kanan melalui vena kava superior, vena kava inverior dan sinus koronarius.
Dalam muara vena kava tidak terdapat katup - katup sejati. Yang memisahkan
vena kava dari atrium jantung ini hanyalah lipatan katup atau pita otot yang
rudimenter. Oleh karena itu, peningkatan tekanan atrium kanan akibat bendungan
darah disisi kanan jantung akan dibalikan kembali ke dalam vena sikulasi
sistemik. Sekitar 75% aliran balik vena kedalam atrium kanan akan mengalir
secara pasif kedalam ventrikel kanan melalui katup trikuspidalis. 25% sisanya
akan mengisi ventrikel selama kontraksi atrium. Pengisian ventrikel secara aktif
ini disebut atrialkick. Hilangnya atrialkick pada disritmia jantung dapat
menurunkan pengisian ventrikel sehingga menurunkan curah ventrikel.

Sistem Kardiovaskuler 6
2. Ventrikel Kanan ( Bilik Kanan)

Pada kontraksi ventrikel, setiap ventrikel harus menghasilkan kekuatan yang


cukup besar untuk dapat memompa darah yang diterimanya dari atrium ke
sirkulasi pulmonar maupun sirkulasi sistemik. Ventrikel kanan berbentuk bulan
sabit yang unik, guna menghasilkan kontraksi bertekanan rendah yang cukup
untuk mengalirkan darah kedalam arteria pulmonalis. Sirkulasi paruh merupakan
sistem aliran darah bertekanan rendah, dengan resistensi yang jauh lebih kecil
terhadap aliran darah ventrikel kanan, dibandingkan tekanan tinggi sirkulasi
sistemik terhadap aliran darah dari ventrikel kiri. Oleh karena itu, beban kerja
ventrikel kanan jauh lebih ringan dari pada ventrikel kiri. Akibatnaya, tebal
dinding ventrikel kanan hanya 1/3 dari dinding ventrikel kiri. Untuk menghadapi
tekanan paru yang meningkat secara perlahan, seperti pada kasus hipertensi
pulmonar progresif maka sel otot ventrikel kanan mengalami hipertrofi untuk
memperbesar daya pompa agar dapat mengatasi peningkatn resistensi pulmonar,
dan dapat mengosongkan ventrikel. Tetapi pada kasus resistensi paru yang
meningkat secara akut (seperti pada emboli paru masif) maka kemampuan
pemompaan venrikel kanan tidak cukup kuat sehingga dapat tejadi kematian.

3. Atrium Kiri (Serambi Kiri)

Atrium kiri menerima darah teroksigenasi dari paru-paru melalui keempat


vena pulmonalis. Antara vena pumonalis dan atrium kiri tidak terdapat katup
sejati. Oleh karena itu, perubahan tekanan atrium kiri mudah membalik secara
retrograd ke dalam pembuluh paru-paru. Peningkatan akut tekanan atrium kiri
akan menyebabkan bendungan paru. Atrium kiri memiliki dinding yang tipis dan
bertekanan rendah. Darah mengalir dari atrium kiri ke dalam ventrikel kiri melalui
katup mitralis.

4. Ventrikel Kiri (Bilik Kiri)

Ventrikel kiri menghasilkan tekanan yang cukup tinggi untuk mengatasi


tahanan sirkulsi sistemik, dan mempertahankan aliran darah kejaringan perifer.
Ventrikel kiri mempunyai otot-otot yang tebal dengan bentuk yang menyerupai
lingkaran sehingga mempermudah pembentukan tekanan tinggi selama ventrikel

Sistem Kardiovaskuler 7
berkontraksi. Bahkan sekat pembatas kedua ventrikel (septum interventrikularis)
juga membantu memperkuat tekanan ynang ditimbulkan oleh seluruh ruang
ventrikel selama kontraksi. Pada saat kontraksi, tekanan ventrikel kiri meningkat
sekitar lima kali lebih tinggi dari pada ventrikel kanan ; bila ada hubungan
abnormal antara kedua ventrikel (seperti pada kasus robeknya septum
interventrikularis pasca – infark miokardium), maka darah akan mengalir dari kiri
ke kanan melalui robekan tersebut. Akibatnaya terjadi penurunan jumlah aliran
darah dari ventrikel kiri melalui katup aorta ke dalam aorta.

2.1.1 Katub Jantung

Gambar 3. Katub pada Jantung

Darah mengalir melalui jantung dalam satu arah tetap dari vena ke atria ke
ventrikel ke arteri. Adanya empat katup jantung satu arah memastikan darah

Sistem Kardiovaskuler 8
mengalir satu arah. Katup-katup terletak sedemikian rupa sehingga mereka
membuka dan menutup secara pasif karena perbedaan tekanan, serupa dengan
tekanan pintu satu arah. Gradient tekanan ke arah depan mendorong katup
terbuka, seperti anda membuka pintu dengan mendorong salah satu sisinya,
sementara gradient tekanan ke arah belakang mendorong katup menutup, seperti
anda mendorong ke pintu sisi lain yang berlawanan untuk menutupnya.
Perhatikan bahwa gradient ke arah belakang dapat mendorong katup menutup,
tetapi tidak dapat membukanya : yaitu, katup jantung bukan seperti pintu ayun
ditempat minuman.

Keempat katup jantung berfungsi untuk mempertahankan aliran darah searah


melalui bilik - bilik jantung. Ada 2 jenis katup : katup antrioventrikularis (AV),
yang memisahkan atrium dengan ventrikel dan katup semilunaris, yang
memisahkan arteria pulmonalis dan aorta dari ventrikel yang bersangkutan. Katup
- katup ini membuka dan menutup secara pasif, menanggapi tekanan dan volume
dalam bilik dan pembuluh darah jantung.

Gambar 4. Katup Jantung

1. Katup Atrioventrikularis (AV)

Sistem Kardiovaskuler 9
Katup atrioventrikularis terdiri dari katup trikuspidalis dan katub mitralis.
Daun-daun katup atrioventrikularis halus tetapi tahan lama. Katup trikuspidalis
yang terletak antara atrium dan ventrikel kanan mempunyai 3 buah daun katup.
Katup mitralis yang memisahkan atrium dan ventrikel kiri, merupakan katup
bikuspidalis dengan dua buah daun katup. Daun katup dari kedua katup ini
tertambat melalui berkas-berkas tipis jaringan fibrosa yang disebut
kordatendinae. Kordatendinae akan meluas menjadi otot kapilaris, yaitu tonjolan
otot pada dinding ventrikel. Kordatendinae menyokong katup pada waktu
kontraksi ventrikel untuk mencegah membaliknya daun katup ke dalam atrium.
Apabila kordatendinae atau otot papilaris mengalami gangguan (rupture, iskemia),
darah akan mengalir kembali ke dalam atrium jantung sewaktu ventrikel
berkontraksi.

Sistem Kardiovaskuler 10
Gambar 5: Pencegahan pembalikan katup AV, pembalikan katup AV dicegah
oleh ketegangan pada daun katup yang timbulkan oleh korda tendine
sewatktu otot papilaris berkontraksi

2. Katup Semilunaris

Kedua katup semilunaris sama bentuknya ; katup ini terdiri dari 3 daun katup
simetris yang menyerupai corong yang tertambat kuat pada annulus fibrosus.
Katup aorta terletak antara ventrikel kiri dan aorta, sedangkan katup pulmonalis
terletak antara ventrikel kanan dan arteria pulmonalis. Katup semilunaris
mencegah aliran kembali darah dari aorta atau arteria pulmonalis ke dalam
ventrikel, sewaktu ventrikel dalam keadaan istirahat. Tepat di atas daun aorta,
terdapat kantung menonjol dari dinding aorta dan arteria pulmonalis, yang disebut
sinus valsalva. Muara arteria koronaria terletak di dalam kantung-kantung
tersebut. Sinus-sinus ini melindungi muara koronaria tersebut dari penyumbatan
oleh daun katup, pada waktu katup aorta terbuka.

Sistem Kardiovaskuler 11
2.1.1 Lapisan Jantung

2.1.4.1 Epikardium

Epicardium adalah lapisan paling luar dari jantung,tersusun dari lapisan sel-sel
mesotelial yang berada di atas jaringan ikat. Pada epicardium terdapat
pericardium.

Sistem Kardiovaskuler 12
Pericardium merupakan lapisan jantung sebelah luar yang merupakan selaput
yang membungkus jantung dimana teridiri antara lapisan fibrosa dan serosa,
dalam cavum pericardii berisi 50 cc yang berfungsi sebagai pelumas agar tidak
ada gesekan antara pericardium dan epicardium. Epikardium adalah lapisan paling
luar dari jantung yang dibentuk oleh lamina viseralis dari perikardium.
Epikardium berupa membrana serosa yang padat dengan ketebalan yang
bervariasi, banyak mengandung serabut elastis yang berbentuk lembaran, terutama
dibagian provundal. Epikardium melekat erat pada miokardium, membungkus
vasa, nervi dan corpus adiposum, jaringan lemak banyak ditemukan pada jantung.
Kumpulan ganglion padat terdapat pada subepikardium terutama pada tempat
masuknya vena kava kranialis. Lamina parietalis perikardium juga berupa
membran serosa yaitu suatu membran yang terdiri dari jaringan ikat yang
mengandung jala serabut elastis, kolagen, fibroblast, makrofafiksans dan ditutup
oleh mesothelium. Epikardium tersusun atas lapisan sel-sel mesotelial yang
berada diatas jaringan ikat. Jantung bekerja selama kita masih hidup, karena itu

Sistem Kardiovaskuler 13
membutuhkan makanan yang dibawa oleh darah, pembuluh darah yang terpenting
dan memberikan darah untuk jantung dari aorta asendens dinamakan arteri
coronaria.

2.1.4.2 Miokardium

Lapisan otot jantung menerima darah dari arteri koronaria, arteri koronaria kiri
bercabang menjadi arteri desenden anterior dan tiga arteri sirkumfleks. Arteri
koronaria kanan memberikan darah untuk sinoatrial node, ventrikal kanan dan
permukaan diafragma ventrikel kanan. Vena koronaria mengembalikan darah ke
sinus kemudian bersikulasi langsung ke dalam paru-paru. Miokardium merupakan
lapisan inti dari jantung yang terdiri dari otot-otot jantung yang berkontraksi
untuk memompa darah, otot-otot jantung ini membentuk bundalan-bundalan otot
yaitu :

1. Bundalan otot atria,susunanya sangat tipis,kurang teratur serabut-


serabutnya, dan disusun dalam dua lapisan. Lapisan luar mencakup
kedua atria serabut luar dan paling nyata. Di bagian depan atria,
beberapa serabut masuk kedalam septum atrioventrikular. Lapisan

Sistem Kardiovaskuler 14
dalam terdiri dari serabut-serabut berbentuk lingkaran. Ini terdapat
dibagian kiri atau kanan dan basis cordis yang membentuk serambi atau
aurikula cordis
2. Bundalan otot ventrikuler, yang membentuk bilik jantung yang dimulai
dari cincin atrio ventrikuler sampai di apek jantung.
3. Bundalan otot atrio ventrikuler, yang merupakan dinding pemisah
antara serambi dan bilik jantung(atrium dan ventrikal).

Ketebalan miokardium bervariasi dari satu ruang jantung ke ruang


lainnya.Serabut otot yang tersusun dalam berkas – berkas spiral melapisi ruang
jantung. Kontraksi miokardium “menekan” darah keluar ruang menuju arteri
besar. Jaringan otot ini hanya terdapat pada lapisan tengah dinding jantung.
Strukturnya menyerupai otot lurik, meskipun begitu kontraksi otot jantung secara
refleks serta reaksi terhadap rangsang lambat. Fungsi otot jantung adalah untuk
memompa darah ke luar jantung. Miokardium yaitu jaringan utama otot jantung
yang bertanggung jawab atas kemampuan kontraksi jantung. Ketebalannya
beragam paling tipis pada kedua atrium dan yang paling tebal di ventrikel kiri.
Miocardium atrium lebih tipis dari ventriculus. Berkas-berkas serabut otot jantung
yang merupakan sisa-sisa semasa embrio diketemukan sebagai tonjolan-tonjolan
di permukaan dalam sebagai trabeculae carneae. Serabut elastis di antara serabut
otot jantung terdapat di dinding ventriculus, sedang di dinding atrium terdapat
lebih banyak serabut elastisnya. Jaringan pengikat di antara berkas-berkas otot
jantung banyak mengandung serabut retikuler. Miokardium terdiri atas otot
jantung yang melanjutkan diri ke epikardium dan endokardium. Elemen elastis
hanya sedikit ditemukan pada ventrikel kecuali pada tunika adventitia vasa yang
besar. Pada arteri terdapat jala serabut elastis yang berjalan kesegala arah diantara
otot dan melanjutkan diri ke lapisan serabut elastis pada epikardium dan
endokardium dan pada dinding vena yang besar. Diantara otot jantung ditemukan
fibril retikuler. Didalam miokardium terdapat juga vasa, nervi dan ujung serabut
purkinje.

Tiap-tiap sel otot jantung saling berhubungan untuk membentuk serat yang
bercabang-cabang, dengan sel-sel yang berdekatan dihubungkan ujung ke

Sistem Kardiovaskuler 15
ujungpada struktur khusus yang dikenal sebagai diskus interkalatus (intercalated
disk). Didalam sebuah diskus interkalatus terdapat dua jenis pertautan membrane:
desmoson dan gap junction (lihat gambar 11). Desmosom, sejinis kaut lekat yang
secara mekanis menyatukan sel-sel, banyak dijumpai dijaringan, misalnya jantung
yang saling mendapat tekanan mekanis. Pada interval tertentu disepanjang diskus
interkaltus, kedua membrane berhadapan saling mendekat untuk membentuk gap
junction, yaitu daerah-daerah dengan resistensi listrik yang rendah dan
memungkinkan potensial aksi menyebar dari satu sel jantung ke sel dekatnya.

Gambar 11 : organisasi serat otot jantung

2.1.4.3 Endokardium

Merupakan lapisan terakhir atau lapisan paling dalam pada jantung.


Endocardium terdiri dari jaringan endotel atau selaput lendir yang melapisi
permukaan rongga jantung. Lapisan endokardium atrium jantung lebih tebal
dibanding ventrikel jantung. Sebaliknya untuk lapisan miokardium, ventrikel
jantung memiliki lapisan miokardium lebih tebal dibanding atrium jantung. Dan
lapisan miokardium ventrikel kiri jantung lebih tebal dibanding ventrikel kanan.

Sistem Kardiovaskuler 16
Pada lapisan endokardium ventrikel terdapat serabut Purkinje yang menjadi salah
satu penggerak sistem impuls konduksi jantung, yang membuat jantung bisa
berdetak. Dinding dalam atrium (endokardium)diliputi oleh membrane yang
mengilat dan terdiri dari jaringan endotel atau selaput lender yang licin
(endokardium)kecuali aurikula dan bagian depan sinus vena kava.di bagian ini
terdapatbundelan otot parallel yang berjalan ke depan Krista. Ke arah aurikula
dari ujung bawah Krista terminalis terdapat sebuah lipatan endokardium yang
menonjol dan dikenal sebagai valvula vena kava inverior yang berjalan di depan
muara vena inverior menuju ke sebelah tepid an disebut vossa ovalis. Diantara
atrium kanan dan ventrikel kanan terdapat hubungan melalui orifisium artikular.

2.1.5 Pembuluh Darah pada Jantung

2 kelompok pembuluh darah utama yang mengalirkan darah dari dan ke


jantung:

1. Pembuluh Pulmonaris

2. Pembuluh Sistemik

Pembuluh pulmonaris:

• arteri pulmonaris –> mengangkut darah “kotor” dari ventrikel kanan


ke paru-paru

• vena pulmonaris –> mengangkut darah “bersih” dari paru-paru ke


atrium kiri

–> Paru-paru tempat pertukaran gas CO2 dan O2

Pembuluh sistemik:

Sistem Kardiovaskuler 17
Arteri sistemik : membawa darah “bersih” dari ventrikel kiri ke sirkulasi
sistemik melalui aorta, cabang-cabang aorta:

• a. koronaria : ke jantung

• a. karotis : ke leher, kepala dan otak

• a. subklavia : ke lengan dan daerah dada

• a. abdominalis: ke organ-organ abdomen

• a. iliofemoralis: ke panggung dan tungkai

Vena sistemik : membawa darah “kotor” kembali ke atrium kanan melalui


vena kava superior dan vena kava inferior

–> vena yang bermuara ke v. kava superior:

• v. jugular : dari kepala

• v.subklavia dan inominatum: dari lengan dan dada

Sistem Kardiovaskuler 18
–> vena yang bermuara ke v. kava inferior : v. iliofemoralis: dari
tungkai dan panggul

2.1.6 Persarafan Jantung

Jantug dipersarafi oleh serabut simpatis, parasimpatis dan system saraf


antonom melalui pleksus kardiakus. Saraf simpatis berasal dari trunkus simpatikus
bagian servikal dan torakal bagian atas dan saraf simpatis berasal dari n. vagus.
Serabut eferen post-ganglion berjalan ke nodus sinus artialis dan nodus
atrionventrikularis yang tersebar kebagian jantung yang lain. Serabut eferen
berjalan bersama nervus vagus dan berperan sebagai reflex kardiovaskular yang
berjaln bersama saraf simpatis.

System kardiovaskular banyak dipersyarafi oleh serabut-serabut system syaraf


otonom. System syaraf otonom dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu ; system
parasimpatis dan simpatis dengan efek yang saling berlawanan dan bekerja
bertolak belakang untuk mempengaruhi perubahan pada denyut jantung.
Contohnya, stimulasi system simpatis bisanya disertai oleh hambatan system
parasimpatis. Sebaliknya stimulasi parasimpatis dan hambatan simpatis
merupakan dua kejadian yang terjadi serentak. Kerja yang bertolak belakang ini
mempertinggi ketelitian pengaturan saraf oleh system saraf otot.

Baroreseptor / presoreseptor, terletak dilengkung aorta dan sinus karotikus.


Reseptor ini peka sekali terhadap perubahan dinding pembuluh darah akibat
perubahn tekanan arteri. Kemoreseptor yag terletak dalam badan karotis dan
aorta, terangsang melalui penurunan kadar oksigen dalam arteria, peningkatan
tekanan karbondioksida dan peningkatan kadar ion hydrogen (penurunan pH
darah). Apabila reseptor terangsang akan timbul dua jenis respons refleks:
peningkatan kecepatan denyut jantung (reflex Bainbridge) dan dieresis, yang
menyebabkan penurunan volume. Jalur aferen dalam nervus vagus dan
glosofaringeus membawa impuls dari reseptor ke otak. Pusat vasomotor atau
pusat pengaturan kardioaskular terletak pda bagian atas medulla oblongata dan
pons bagian bawah. Pusat kardioregulator ini menerima impuls dari baroresesptor
dan kemoreseptor, dan meneruskanya kejantung dan pembuluh darah melalui
serabut syaraf parasimpatis dan simpatis. Pusa-pusat otak yang lebih tinggi seperti

Sistem Kardiovaskuler 19
korteks serebri dan hipotalamus jua dpat mempengaruhi aktivitas saraf otonom
melalui medulla oblongata. Reseptor terletak pada system penghantar jantung,
miokardium dan otot polos pembuluh darah. Stimulasi reseptor akan mengubah
denyut jantung, kecepatan konduksi AV, kekuatan kontraksi mokardium dan
diameter pembuluh darah. Serabut-serabut parasimpatis mempersarafi nodus SA,
otot-otat atrium, dan nodus AV melalui nervus vagus. Serabut parasimpatis juga
meluas sampai ke otot ventrikal, tetapi jalur ini tampaknya kurang memiliki
makna.
Serabut simpatis menyebar keseluruh system konduksi dan miokardium, juga
pada otot polos pembuluh darah. Stimulasi simpatis atau adrenergikjuga
menyebabkan melepasnya epinefrin dan beberapa norepinefrin dari medulla
adrenal. Respons jatung terhadap stimulasi simpatis diperantai oleh pengikatan
norepinefrin dan epinefrin ke reseptoradrenergik tertentu: reseptor alfa terletak
pada sel-sel otot polos embuluh darah,menyebabkan terjadinya vasokonstriksi dan
reseptor beta yang terletak pada nodus AV, nodus SA, dan miokardium,
menyeabkan peningktan denyut jantung, peningkatan kecepatan hantaran
melewati nodus AV, dan peningkatan kontraksi miokardium, stimulasi reseptor
ini menyebabkan vasodilatasi. Hubungan system saraf simpatis dan parasimpatis
bekerja untuk menstabilkan tekanan darah arteri dan curah jantung untuk
mengatur aliran darah sesuai kebutuhan tubuh. Curah jantung dan tekanan arteria
dapat ditinggikan melalui rangsangan pada saraf simpatis dan hambatan pada
saraf parasimpatis. Hal ini dapat menigkatkan kecepatan denyut jantung,
meningkatkan kekuatn kontraksi, dan vasokonstriksi.

2.1.6.1 Saraf Pengontrol Jantung

Walaupun jantung dapat berdenyut sendiri dan mengatur kecepatan dan


kekuatan dari denyutanya terhadap sejumlah darah yang memasuki jantung
mempunyai dua saraf yang mengontrol fungsi nodus SA dan menyiapkan jantung
bila terjadi perubahan keadaan. Serat simpatis menjalar dari ganglia pada bagian
servikal dari trunkus simpatis dan mengirimkan impuls yang menstimulus nodus
SA kedalam aktvitas yang lebih cepat dan meningkatkan kekuatan kontraksi.
Serat parasimpatis mencapai jantung melalui percabang nervus vagus (saraf
cranial ke-X) dan mengirimkan impuls yang melambatkan nodus SA dan

Sistem Kardiovaskuler 20
mengurangi kekuatan kontraksi. Pusat saraf tertinggi yang terlibat adalah : kortek
serebral, hipotalamus. Pusat jantung pada medulla oblongata terdiri dari : a.Pusat
aselerator jantung

Pusat inhibitor jantung

Pengaruh frekuensi jantung pada fungsi jantung sebagai pompa


pada umumnya, semakin banyak jantung berdenyut per menit, semakin banyak
darah yang dapat dipompa, tetapi banyak pembatasan penting. Misalnya waktu
frekuensi jantung meningkat diatas tingkat kritis, kekuatan jantung itu sendiri
menurun mungkin karena penggunaan zat-zat metabolik yang berlebihan pada
otot jantung. Selain itu, periode diastole antara kontraksi-kontraksi sedikit
berkurang sehingga darah tidak mempunyai waktu untuk mengalir secara adekuat
dari atrium kedalam ventrikel. Berdasarkan alasan ini bila frekuensi jantung
secara arti visial ditingkatkan dengan perangsangan listrik, jantung mempunyai
puncak kemampuaan untuk memompa darah dalam jumlah besar pada frekuensi
jantung antara 100 dan 150 denyutan per menit. Pengaturan syaraf pada kekuatan
kontraksi jantung. Kedua atrium secar khusus dipsyarafi baik dari syaraf simpatis
dan parasimpatis dalam jumlah besar, tetapi vemtrikel terutama dipersyarafi oleh
syaraf simpatis dan serabut-serabut parasimpatis yang jauh lebih sedikit. Pada
umumnya, perangsangan simpatis meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung,
sedangkan perangsangan parasimpatis menurunkan kekuatan kontraksi. Dalam
keadaan normal, serabut syaraf simpatis yang menuju ke jantung secar terus
menuerus merangsang dengan frekuensi rendah yang mempertahankan kekuatan
kontraksi ventrikel sekitar 20 % diatas kekuatan kontaraksinya tanpa
perangsangan simpatis sama ksekali. Oleh karena itu, salah satu cara dimana
sistem syaraf dapat menurunkan kekuatan kontraksi ventrikel adalah
memperlambat atau menghentikan penyebaran impuls simpatis kejantung.
Sebaiknya, perangsangan simpatis maksimal dapat meningkatkan kekuatan
kontraksi ventrikel sekitar 100% lebih besar dari normal. Perangsangan
parasimpatis maksimum pada jantung menurunkan kekuatan kontraksi ventrikel
sekitar 30%. Jadi, efek parasimpatisrelatif kecil dibandingkan dengan efek
simpatis.

Sistem Kardiovaskuler 21
2.1.7 Sistem Sirkulasi

2.1.7.1 Sirkulasi paru

Darah yang kembali dari sirkulasi sistemik (dari seluruh tubuh) masuk ke
atrium kanan melalui vena besar yang dikenal sebagai vena kava. Darah tersebut
telah diambil O2-nya dan ditambahi dengan CO2. Darah yang miskin akan oksigen
tersebut mengalir dari atrium kanan melalui katup trikuspidalis ke ventrikel
kanan, yang memompanya keluar melalui arteri pulmonalis ke paru. Dengan
demikian, sisi kanan jantung memompa darah yang miskin oksigen ke
sirkulasi paru. Di dalam paru, darah akan kehilangan CO2-nya dan menyerap O2
segar sebelum dikembalikan ke atrium kiri melalui vena pulmonalis. Darah kaya
oksigen yang kembali ke atrium kiri ini melalui katub bikuspid atau mitral
kemudian mengalir ke dalam ventrikel kiri , bilik pompa yang memompa atau
mendorong darah ke semua sistim tubuh kecuali paru.

Sistem Kardiovaskuler 22
2.1.7.2 Sirkulasi sistemik

Darah kaya oksigen kemudian mengalir ke dalam ventrikel kiri, bilik pompa
yang memompa atau mendorong darah ke semua sistim tubuh kecuali paru
melalui arteri besar yang membawa darah menjauhi ventrikel kiri yag disebut
aorta. Aorta bercabang menjadi arteri besar dan mendarahi berbagai jaringan
tubuh.

Darah arteri yang sama tidak mengalir dari jaringan ke jaringan. Jaringan akan
mengambil O2 dari darah dan menggunakannya untuk menghasilkan energi.
Dalam prosesnya, sel-sel jaringan akan membentuk CO2 sebagai produk buangan
atau produk sisa yang ditambahkan ke dalam darah. Kemudian darah yang
menjadi kekurangan O2 dan mengandung CO2 berlebih akan kembali ke sisi kanan
jantung dan memasuki siklus paru. Selesailah satu siklus dan terus menerus
berulang siklus yang sama setiap saat.

Kedua sisi jantung akan memompa darah dalam jumlah yang sama. Volume
darah yang beroksigen rendah yang dipompa ke paru oleh sisi jantung kanan
memiliki volume yang sama dengan darah beroksigen tinggi yang dipompa ke

Sistem Kardiovaskuler 23
jaringan oleh sisi kiri jantung. Sirkulasi paru adalah sistim yang memiliki tekanan
dan resistensi rendah, sedangkan sirkulasi sistemik adalah sistim yang memiliki
tekanan dan resistensi yang tinggi. Oleh karena itu, walaupun sisi kiri dan kanan
jantung memompa darah dalam jumlah yang sama, sisi kiri melakukan kerja yang
lebih besar karena ia memompa volume darah yang sama ke dalam sistim dengan
resistensi tinggi. Dengan demikian otot jantung di sisi kiri jauh lebih tebal
daripada otot di sisi kanan sehingga sisi kiri adalah pompa yang lebih kuat.

Darah mengalir melalui jantung dalam satu arah tetap yaitu dari vena ke
atrium ke ventrikel ke arteri. Adanya empat katup jantung satu arah
memastikan darah mengalir satu arah. Katup jantung terletak sedemikian rupa
sehingga mereke membuka dan menutup secara pasif karena perbedaan gradien
tekanan. Gradien tekanan ke arah depan mendorong katup terbuka sedangkan
gradien tekanan ke arah belakang mendorong katup menutup.

2.1.7.3.Sirkulasi Koroner

Efisiensi jantung sebagai pompa bergantung pada nutrisi dan oksigenesi otot
jantung melalui sirkulasi koroner. Sirkulasi koroner meliputi seluruh permukaan
epikardium jantung, membawa oksigen dan nutrisi ke miokardium melalui
cabang-cabang intermiokardial yang kecil-kecil. Untuk dapat mengetahui akibat
penyakit jantung koroner, maka kita harus mengenal terlebih dahulu distribusi
arteria koronaria ke otot jantung dan system konduksi

Jantung menerima O2 melalui arteri koronaria

Dua cabang utama a. koronaria:

1. A koronaria kiri
• A desending aterior
• A sirkumfleksa
1. A koronaria kanan
• interventrikuler posterior
• desending posterior

arteri untuk nodus sinoatrial dan nodus atrioventrikuler

Sistem Kardiovaskuler 24
1. Gangguan pada aliran darah ---> O2 untuk miokardium kurang
2. Pembentukan obstruksi lemak (plak ateromatous) sepanjang dinding
pembuluh darah (aterosklerosis) --> aliran darah berkurang untuk periode
waktu lama
3. Konstriksi/spasme atau trombus ---> aliran darah dapat berkurang dengan
cepat dan intermiten
4. Gangguan aliran pembuluh darah yang berat ---> nyeri dada (angina
pektoris)
5. Vena koronaria membawa darah “kotor” dari otot jantung, bermuara ke
atrium kanan

Sistem Kardiovaskuler 25
2.1.7.3.Sirkulasi darah

Sirkulasi darah janin

Peredaran darah terjadi pada janin dalam kandungan agak berlainan dengan
perdaran darah orang yang telah dilahirkan atau orang dewasa. Keistimewaan
perdaran darah janin dalam kandungan yaitu oksigen dan zat makanan yang
diperlukan diambil dari darah ibu.

Hal ini dimungkinkan karena adanya hal-hal berikut ini :

a. Foramen ovale : lubang diantara atrium deksra dan atrium sinistra.


Lubang ini akan tertutup sesudah bayi lahir.
b. Dustus ateriosus botalli : pebulu darah yang menghubungkan arteri
pulmonalis dengan aorta.
c. Duktus vonosus : pe,bulu darah yang menghubungkan umbilikalis dengan
vena kava inferior.

Sistem Kardiovaskuler 26
d. Plasenta : jaringan dinding rahim yang banyak mempunyai jonjot
mengandung pembulu darah yang berfungsi sebagai tempat pertukaran zat,
dimana zat yang di perlukan akan diambil dari darah ibu dan yang tidak
berguna akan dikeluarkan. Plasenta terbentuk kira-kira minggu kedelapan
yang menempel pada endometriumdan terikat kuat sampai bayi lahir.
Fungsi plasenta :
 Menydiakan makanan untuk janin dalam kandungan yang di ambil
dari darah ibu,
 Bekerja sebagai paru-paru fetus dengan menyediakan oksigen pada
janin dalam kandungan,
 Menyingkirkan sisa pembakaran dari janin,
 Penghalang mikroorganisme penyakit masuk ke dalam janin.
a. vena umbilikasis : yaitu pembulu darah yang membawa darah dari
plasenta ke peredaran darah janin. Darah yang dibawa oleh vena
umbilikasis banyak mengandung zat makanan dan oksigen .
b. arteri umbilikasis : pembulu darah yang membawa darah janin ke
plasenta jumlahnya sua buah. Kedua pebulu darah ini membawa zat sisa
makanan dan karbon sioksida dari tubuh bayi ke dalam plsenta. Arteri dan
vena umbilikasis tebungkus menjadi satu dalam satu saluran yang disebut
duktus umbilikasis atau tali pusat.

Jalannya peredaran darah

Dari plasenta melalui vena umbilikalis, darah yang banyak mengandung zat
makanan dan oksigen dialirkan kedalam tubuh janin melalui vena kava inferior
dan vena porta menuju atrium dekstra.

Dari atrium sinistra melalui foramen ovale. Darah yang berasal dari ventrikel
sinistra diedarkan ke seluruh tubuh dan dari ventrikel dekstra melalui arteri
pulmonalis menuju paru-paru, karena paru-paru belum bekerja maka darah dari
arteri pulmonalis tersebut malalui duktus arteriosus botali masuk ke aorta dan
diedarkan ke seluruh tubuh.

Sistem Kardiovaskuler 27
Darah yang telah digunakan oleh janin banyak mengandung zat-zat sisa
pembakaran dan sisa makanan. Darah ini berjalan melalui arteri aliaka interna
masuk ke arteri umbilikalis melalui duktus umbilikalis masuk ke plasenta.

Perubahan pada waktu bayi lahir

Pada saat lahir, bayi akan segera menagis dengan kuat sambil bernafas
sehingga udara akan diisap ke paru-paru. Pada saat itu paru-paru mengmbang dan
terjadilah perubahan yang besar dalam tubuh bayi.

Saat paru-paru mengembang akan menarik darah dari arteri pulmonalis


sehingga duktus arterius botali tertutup. Pada saat darah mengalir ke paru-paru,
oksigen yang terkandung dalam darah akan diidap masuk ke ruang alveoli
sedangkan korbon dioksiada akan dikeluarkan aleh paru-paru melalui jalan
pernafasan.

Darah yang sudah dibersikan oleh paru-paru akan dialikan ke vena


pulmonalis menyebabkan septum antara atrium dekstra dan atrium sinistra
mendapat tekanan yang kuat sehingga klep yang terdapat pada foramen ovale
tertutup. Pada saat tali pusat diikat dan di potong, hubungan perdaran darah antara
bayi dan ibu terputus.

Sistem Kardiovaskuler 28
Gambar : sirkulasi janin

2.1.8 Aktivitas Listrik Jantung (Sistem Konduksi)

2.1.8.1 Nodus sinoatrium adalah pemacu jantung normal.

Jantung berkontraksi atau berdenyut secara berirama akibat potensial aksi


yang ditimbulkan sendiri, suatu sifat yang sering dikenal sebagai otoritmisitas

Terdapat 2 jenis khusus sel otot jantung :

1. Sembilan puluh Sembilan persen sel otot jantung adalah sel kontraktif,
yang melakukan kerja mekanis, yaitu memompa. Sel-sel pekerja ini dalam
keadaan normal tidak menghasilakan sendiri potensial aksi.
2. Sebaliknya, sebagian kecil sel sisianya, sel otoritmik, tidak berkontraksi
tapi mengkhususkan diri mencetuskan dan menghantarkan potensial aksi
yang bertanggung jawab untuk kontraksi sel-sel pekerja.

Sistem Kardiovaskuler 29
Berbeda dengan sel saraf dan sel otot rangka, yang membranya tetap berada
pada potensial istirahat yang konstan yang kecuali apabila dirangsang. Sel-sel
otoritmik jantung tidak memiliki potensial istirahat. Sel-sel tersebut
memperlihatkan aktivitas pemacu (pacemaker activity), yaitu membrane meraka
secara perlahan mengalami depolarisasi, atau bergeser, atara potensial-potensial
aksi sampai ambang tercapai, pada saat membrane mengalami potensial aksi (lihat
gambar 13). Melalui siklus pergeseran dan pembentukan potensial aksi yang
berulang-ulang tersebut, sel-sel otoritmis ini secara siklis mencetuskan potensial
aksi, yang kemudia menyebar keseluruh jantung untuk mencetuskan denyut secara
berirama tanpa perangsangan saraf apapun.

Sel-sel jantung yang mampu mengalami otoritmisitas ditemukan dilokasi-


lokasi berikut ini (lihat gambar 14) :

1. Nodus sinoatrium (SA), daerah kecil khusus di dinding atrium kanan


dekat lubang (muara) vena kava superior.
2. Nodus atrioventrikel (AV), sebuah berkas kecil sel-sel otot jantung
khusus didasar atrium kanan dekat septum, tepat diatas peraturan atrium
dan ventrikel.
3. Berkas his (berkas atrioventrikel), suatu jaras sel-sel khusus yang
berasal dari nodus AV dan masuk ke septum antarventrikel, tempat berkas
tersebut bercabang membentuk berkas kanan dan kiri yang berjalan
kebawah melalui spetum, melingkari ujung bilik septum, melingkari ujung
bilik ventrikel, dan kembali ke atrium di sepanjang diding luar.
4. Serat purkinje, serat-serat terminal halus yang berjalan dari berkas his
dan menyebar keseluruh miokardium ventrikel seperti ranting-ranting
pohon.

Sistem Kardiovaskuler 30
Gambar 14 : system penghantar khusus pada jantung

Pada perbandingan dua sel otoritmik (lihat gambar 15), sel A memiliki
kecepatan dipolarisasi yang lebih besar dan dengan demikian, sel A mencapai
ambang lebih cepat dan menghasilkan potensial aksi lebih cepat dari pada sel B.
sel-sel jantung yang memiliki kecepatan pembentukan potensial aksi tertinggi
terletak di nodus SA. Sekali potensial aksi timbul disalah satu otot jantung,
potensial aksi tersebut akan menyebar ke seluruh miokardium melalui gap
junction dan system penghantar khusus. Oleh karena itu, nodus SA, yang dalam
keadaan normal memprlihatkan kecepatan otoritmisitas tertinggi, yaitu 70-80
potensial aksi/menit, menjalankan bagian jantung sisanya dengan kecepatan ini
dikenal sebagai pemacu (pacemaker, penentu irama) jantung. Jaringan otoritmik
lain tidak mampu menjalankan kecepatan mereka yang rendah, karena mereka
sudah diaktifkan oleh potensial aksi yang berasal dari nodus SA sebelum mereka
mencapai kambang dengan irama mereka yang lebih lambat.

Analogi berikut memperlihatkan bagaimana nodus SA mendorong bagian


jantung lain dengan kecepatan pemacunya. Misalnya sebuah kereta terdiri dari
seratus gerbong, tiga diantaranya adalah lokomotif yang mampu berjalan sendiri,

Sistem Kardiovaskuler 31
Sembilan puluh tujuh gerbong lainya harus ditarik agar dapat bergerak. Salah satu
lokomotif (nodus SA) dapat berjalan sendiri 70 mil/jam, lokomotif lain (nodus
AV) 50 mil/jam dan lokomotif terakhir (serabut purkinje) 30 mil/jam. Apabila
seluruh gerbong tersebut disatukan lokomotif yang mampu berjalan dengan
kecepatan 70 mil/jam akan menarik gerbong lainya dengan kecepatan tersebut.
Lokomotif yang bergerak lebih lambat akan tertarik dengan kecepatan lebih tinggi
oleh lokomotif tercepat dan demikian, tindak mampu berjalan dengan kecepatan
mereka sendiri yang lebih lambat selama mereka ditarik oleh lokomotif tercepat.
Kesembilan puluh tujuh gerbong lainya (sel-sel pekerja kontraktil, nonotoritmik),
yang tidak mampu berjalan sendiri, akan berjalan dengan kecepatan apapun yang
ditentukan oleh lokomotif tercepat yang menarik mereka.

Apabila karena suatu hal lokomotif tercepat rusak (kerusakan pada nodus SA),
lokomotif tercepat kedua (nodus AV) akan mengambil alih dan kereta akan
berjalan dengan kecepatan 50 mil/jam yaitu, apabila nodus SA nonfungsional.
Nodus AV akan menjalankan aktivitas pemacu (lihat gambar 19). Jaringan
otoritmik bukan nodus SA adalah pemacu laten yang dapat mengambil alih,
walaupun dengan keceptan yang lebih rendah, apabila pemacu normal tidak
bekerja. Apabila hantaran impuls antara atrium dan ventrikel terhambat, atrium
akan terus berdenyut dengan kecepatan 70 kali/menit, dan jaringan ventrikel, yang
tidak dijalankan oleh kecepatan nodus SA yang lebih tinggi, berdenyut dengan
kecepatan 30 kali/menit yang dimulai oleh sel otoritmik ventrikel (serabut
purkinje). Situasi ini dapat diperbandingkan dengan rusaknya lokomotif ke dua
(nodus AV), sehingga lokomotif utama (nodus SA) terputus dari lokomotif ketiga
(serabut purkinje) dan gerbong lainya. Lokomotif utama terus melaju dengan
kecepatan 70 mil/jam sementara bagian kereta lainya berjalan dengan kecepatan
30 mil/jam. Fenomena seperti itu, yang dikenal sebagai blok jantung total
(complete heart block), timbul apabila jaringan penghantar antara atrium dan
ventrikel rusak dan tidak berfungsi. Kecepatan denyut ventrikel 30 kali/menit
hanya akan dapat menunjang gaya hidup yang sangat santai pada kenyataanya
pasien biasanya menjadi koma. Pada keadaan-keadaan dengan kecepatan denyut
jantung sangat rendah, misalnya kegagalan nodus SA atau blok jantung, dapat
digunakan alat pacu buatan (aktifisial pacemaker). Alat yang ditanam tersebut

Sistem Kardiovaskuler 32
secara ritmis menghasilkan inpuls yang menyebar keseluruh jantung untuk
menjalakan baik atrium maupun ventrikel dengan kecepatan lazim.

2.1.8.2 Penyebaran eksitasi jantung dikoordianasi untuk memastikan


agar pemompa efisien

Agar jantung berfungsi secara efisien, penyebaran eksitasi harus mempunyai


tiga criteria :

1. Eksitasi dan kontraksi atrium harus selesai sebelum kontraksi ventrikel


dimulai.
2. Eksitasi serat-serat otot jantung harus dikoordinasi untuk memastikan
bahwa setiap bilik jantung berkontraksi sebagai satu-kesatuan untuk
menghasilkan daya pompa yang efisien.
3. Pasangan atrium dan pasangan ventrikel harus secara fungsional harus
terkoordinasi, sehingga kedua anggota p[asangan tersebut berkontraksi
secara simultan.

2.1.8.2 Eksitasi atrium

Suatu potensial aksi yang berasal dari nodus SA pertama kali menyebar ke
kedua atrium, terutama dari sel ke sel melalui gap junction. Selain itu, beberapa
jalur penghantar khusus yang batasnya tidak jelas mempercepat penghantar inpuls
melalui atrium :

• Jalur antaratrium berjalan dari nodus SA di dalam atrium kanan ke


atrium kiri. Karena adanya jalur ini, gelombang eksitasi dapat menyebar
melintasi gap junction diseluruh atrium kiri pada saat yang sama dengan
penyebara eksitasi di atrium kanan. Hal ini memastikan bahwa kedua
atrium mengalami depolarisasi untuk berkontraksi sedikit banyak secara
simultan.
• Jalur antarnodus berjalan dari nodus SA ke nodus AV. Nodus AV adalah
satu-satunya titik kontak listrik antara atrium dan ventrikel dengan kata
lain karena atrium dan ventrikel secara structural dihubungkan oleh

Sistem Kardiovaskuler 33
jaringan ikat yang tidak menghantarkan listrik, satu-satunya cara agar
potensial aksi dapat menyebar ke ventrikel adalah dengan melawati nodus
AV. Jalur penghantar antarnodus mengarahkan penyebaran potensial aksi
yang berasal dari nodus SA ke nodus Av untuk memastikan kontraksi
sekuensial ventrikel setelah kontraksi atrium.

2.1.8.2 Transmisi antara atrium dan ventrikel

Potensial aksi relative lebih lamabat melalui nodus AV. Kelambanan ini
menguntungkan karena menyediakan waktu agar terjadi pengisisn ventrikel
sempurna impuls tertunda sekitar 0,1 detik (perlambat an nodus AV, AV noday
delay) yang memungkinkan atrium mengalami depolarisasi sempurana dan
berkontraksi , mengosongkan isi mereka ke dalam ventrikel, sebelum depolarisasi
dan kontraksi ventrikel terjadi.

2.1.8.3 Eksitasi ventrikel

Setelah perlambatan tersebut, impuls dengan cepat berjalalan melalui berkash


his dan keseluruh miokardium ventrikel melalui serabut-serabut purkinje.

System penghantar ventrikel lebih terorganisasi dan lebih penting dari pada
jalur penghantar antaratrium dan antar nodus. Karena masa ventrikel jauh lebih
besar dari pada masa atrium harus terdapat system penghantar yang cepat untuk
segera menyebarkan eksitesi di ventrikel. Jika proses depolarisasi ventrikel
keseluruhan bergantung pada penyebaran impuls sel ke sel melalui gap junction,
jaringan ventrikel yang berdekatan dengan nodus AV akan tereksitasi dan
berkontraksi sebelum impuls sampai ke apeks jantung. Hal ini tentu saja
menyebabkan pemompaan tidak efektif. Perambatan potensial aksi secara cepat
melalui berkas his dan pendistribusianya secara difus dan cepat keseluruh jaringan
purkinje menyebabkan pengaktifan sel-sel miokardium ventrikel di kedua bilik
hamper terjadi secara bersamaan. Hal ini memastikan bahwa kontraksi yang
terjadi adalah tunggal, terkoordinasi, dan mulus yang dapat secara efisien
menyemprotkan darah ke dalam sirkulasi paru dan sistemik pada saat yang sama.

Sistem Kardiovaskuler 34
2.1.9 Proses Mekanisme Siklus Jantung

2.1.9.1.Jantung secara berselang–seling berkoontraksi untuk


mengosongkan isi dan berelaksasi untuk mengisi.

Siklus jantung terdiri dari periode sistol (kontraksi dan pengosongan isi) dan
dilastol (relaksasi dan pengisian jantung) bergantian. Atrium dan vantrikel dan
mengalami siklus sistole dan diastole yang terpisah. Kontraksi terjadi akibat
penyebaran eksitasi otot jantung, sedangkan relaksasi timbul setelah repolarisasi
otot jantung. Pembahasan berikut berkaitan dengan berbagai proses yang terjadi
secara bersamaan selama siklus jantung, termasuk gambaran EKG, prubahan
tekanan, perubahan volume, aktivitas katub, dan bunyi jantung. Referensi ke (
lihat gambar) akan mempermudah pembahasan ini. Yang akan dijelaskan hanylah
kejadian-kejadian disisi kiri jantung, tetapi perlu diingat bahwa disisi kanan
jantung juga berlangsung kejadian yang sama, kecuali bahwa tekanannya lebih
rendah. Pembahasan kita akan di awali dan diakhiri oleh diastol ventrikel untuk
menyelesaikan satu siklus penuh jantung.

Sistem Kardiovaskuler 35
Selama diastol ventrikel dini, atrium juga masih berada dalam keadaan diastol.
Tahap ini sesuai dengan interval TP pada EKG-interval setelah repolarisasi
ventrikel dan sebelum depolarisasi atrium berikutnya. Karena aliran masuk darah
yang kontinu dari system vena ke dalam atrium, tekanan atrium sedikit melebihi
tekanan ventrikel walaupun kedua bilik tersebut melemas ( lihat gambar 9-20 ).
Akibatnya, volume ventrikel perlahan-lahan meningkatkan bahkan sebelum
atrium berkontraksi (titik 2). Pada akhir diastol ventrikel, nodus SA mencapai
ambang dan membentuk potensial aksi. Impuls sebagai gelombang P (titik 3).
Depolarisasi atrium menimbulkan kontraksi atrium, yang memeras lebih banyak
darah ke dalam ventrikel, sehingga terjadi peningkatan kurva tekanan atrium (titik
4).proses pengabungan eksitasi-kontraksi terjadi selama jeda singkat antara
gelombang P dan peningkatan tekanan atrium. Peningkatan tekanan ventrikel
yang menyertai (titik 5) yang berlangsung bersamaan dengan peningkatan tekanan
atrium disebabkan oleh penambahan volume darah ke ventrikel oleh kontraksi
atrium (titik 6 dan jantun B). selama kontraksi atrium, tekanan atrium tetap sedikit
lebih tinggi daripada tekanan ventrikel, sehingga katub AV tetap tebuka.
Diastol ventrikel berakhir pada awal kontraksi ventrikel. Pada saat ini,
kontraksi atrium dan pengisian ventrikel telah selesai. Volume darah di ventrikel
pada akhir diastol (titik 7) dikenal sebagai volume diastolic akhir (end diastolic
volume, EDV), yang besarnya sekitar 135 ml. selama siklus ini tidak ada lagi
darah yang ditambahkan ke ventrikel. Dengan demikian, volume diastolic akhir
adalah jumlah darah maksimum yang akan dikandung ventrikel selama siklus ini.
Setelah eksitasi atrium, impuls berjalan melaui nodus AV dan system
penghantar khusus untuk merangsang ventrikel. Secara simulat, terjadi kontraksi
atrium telah selesai. Kompleks QRS yang mengawali eksitasi ventrikel ini (titik
8), menginduksi kontraksi ventrikel. Kurva tekanan ventrikel menigkat secara
cepat segera setelah kompleks QRS muncul. Mengisyaratkan pemulaan sistol
ventrikel (titik 9). Jeda singkat antara kompleks QRS dan awitan sebenarnya sistol
ventrikel adalah waktu yang diperlukan untuk berlangsung proses pengabungan
eksitasi-kontraksi. Ketika kontraksi ventrikel dimulai, tekanan ventrikel segera
melebihi tekanan atrium. Perbedaan tekanan yang terbalik ini mendorong ketup
AV menutup (titik 9).

Sistem Kardiovaskuler 36
Setelah tekanan ventrikel melebihi tekanan atrium dan katub AV telah
tertutup, tekanan harus teus meningkat sebelum tekanan tersebut dapat melebihi
tekanan aorta untuk membuka katub aorta. Dengan demikian, terdapat periode
waktu singkat antara penutupan katub AV dan pembukaan katub aorta pada saat
ventrikel menjadi suatu bilik tertutup (titik 10). Karena katub tertutup, tidak ada
darah yang mesuk atau keluar ventrikel vebtrikel selama waktu ini. Interval ini
disebut sebagai periode kontraksi ventrikel isovolumetrik (isovolumetric berarti
“volume dan panjang konstan”) (jantung C). karena ada darah yang masuk atau
keluar ventrikel, volume bilik ventrikel tetap dan penjang serat-serat otot juga
tetap. Keadaan isovolumetrik ini serupa dengan kontraksi isometric pada otot
rangka. Selama periode kontraksi ventrikel isovolumatrik, tekanan ventrikel terus
meningkat karena volume tetap (titik 11).
Pada saat tekanan ventrikel melebihi tekanan aorta (titik 12), katub aorta
dipaksa membuka dan darah mulai menyemprot (jantung D), karva tekanan aorta
meningkat ketika darah dipaksa berpindah dari ventrikel ke dalam aorta lebih
cepat daripada darah yang mengalir ke pembulu-pembulu yang lebih kecil di
ujung yang lain (titik 13). Volume ventrikel berkurang secara drastis sewaktu
darah dengan cepat dipompa ke luar (titik 14). Sistol ventrikel dan fase ejeksi
(penyedotan) ventrikel.
Ventrikel tidak mengosongkan diri secara sempurna selama penyemprotan.
Dalam keadaan normal, hanya sekitar separuh dari jumlah darah yang terkandung
di dalam ventrikel pada akhir diastol dipompa ke luar selama sistol. Jumlah darah
yang tersisa di ventrikel pada akhir sistol ketika fase ejeksi usai disebut sebagai
volume sitolik akhir (and-systolic volume, EVS),yang besarnya sekitar 65 ml
(titik 15). Ini adalah jumlah darah paling sedikit yang terdapat di dalam ventrikel
selama siklus ini.
Jumlah drah yang dipopa ke luar dari setiap ventrikel pada setiap kontraksi
sikenal sebagai volume/ ini sekuncup (stroke volume,SV);SC setara dengan
volume diastolic akhir dikurangi volume systolic akhir; dengan kata lain,
perbedaan antara volume setelah darah di ventrikel sebelum kontraksi dan volume
setelah kontraksi adalah jumlah darah yang disemprotkan selama kontraksi. Pada

Sistem Kardiovaskuler 37
contoh kita, volume diastolic akhir adalah 135 ml, volume systolic akhir 65 ml,
dan volume secukup adalah 70ml.
Gelombang T menandakan repolarisasi yang terjadi di akhir sistol ventrikel
(titik 16). Ketika ventrikel mulai berelaksasi karena repolarisasi, tekanan ventrikel
turun dibawah tekanan aorta dan katub aorta menutup (titik 17). Penutupan katub
aorta menimbulkan gangguan atau takik pada kurva tekanan aorta (titik 18) yang
dikenal sebagai takik dikrotik (ditrotik notch). Tidak ada lagi darah yang keluar
dari ventrikel selama siklus ini karena katub aorta telah tertutup. Namun katub
AV belum terbuka karena tekanan ventrikel masih lebih tinggi daripada tekana
atrium. Dengan demikian, semua katub sekali lagi tertutup dalam waktu singkat
yang dikenal sebagai relaksasi ventrikel isovolumentrik (titik 19 dan jantung E).
panjang serat otot dan volume bilik (titik 20) tidak berubah. Tidak ada darah yang
masuk atau keluar seiring dengan relaksasi ventrikel dan tekanan terus turun.
Sewaktu tekanan ventrikel turun sibawah tekanan atrium, katub AV membuka
(titik 21) dan pengisian ventrikel terjadi kembali. Diastol ventrikel mencakup
periode relaksasi ventrikel isovolumetrik dan fase pengisian ventrikel.
Repolarisasi atrium dan depolarisasi ventrikel terjadi secara bersamaan,
sehingga atrium berada dalam diastol ventrikel sepanjang sistol ventrikel. Darah
terus mengalir dari vena pulmonalis ke dalam atrium kiri. Karena darah yang
masuk ini terkumpul di atrium, tekanan atrium terus meningkat (titik 22). Sewaktu
AV terbuka pada akhir sistol ventrikel, darah darah yang terkumpul di atrium
selama sistol ventrikel dengan cepat mengalir ke ventrikel. Dengan demikian,
mula-mula pengisian ventrikel berlangsung cepat (titik 23) karena peningkatan
tekanan atrium akibat pinimbunandarah di atrium. Kemudian pengisian ventrikel
melambat (titik 24) karena darah yang tertimbun tersebut telah disalurkan ke
ventrikel, dan tekanan atrium mulai turun. Selama periode penurunan pengisian
ini, darah terus mengalir dari vena-vena pilmonalis ke dalam atrium kiri dan
melalui katub AV yang terbuka ke dalam ventrikel kiri. Selam diastol ventrikel
tahap akhir, sewaktu pengisian ventrikel berlangsung lambat, nodus SA kembali
mengeluarkan potensial aksi (titik 25) dan siklus jantung dimulai kembali.
Sebagian besar pengisian ventrikel harus terjadi pada awal diastol saat fase
pengisian cepat. Ketika kecepatan denyut jantung meningkat, durasi diastol

Sistem Kardiovaskuler 38
berkurang jauh lebih besar daripada penurunan lama sistol. Sebagai contoh,
apabila kecepatan denyut jantung meningkat dari 75 menjadi 180 kali per menit,
durasi diastol berkurang sekitar 75% dari 500 mdet menjadi 125 mdet. Hal ini
sangat mengurangi waktu yang tersedia untuk relaksasi dan pengisian ventrikel.
Namun, karena sebagai besar pengisian ventrikel terjadi pada awal diastol,
pengisian tidak terlalu terganggu ketika kecepatan denyut jantung meningkat,
misalnya ketika berolahraga ( lihat gambar).
Namun, terdapat batas sampai serapa cepat dapat berdenyut tanpa mengalami
penurunan periode diastol sampai ke titik tertentu pengisian ventrikel sangat
terganggu.pada kecepatan denyut jantung yang melebihi 200 kali per menit, waktu
diastolick terlalu singkat untuk pengisian ventrikel yang adekuat. Apabila
pengisian tidak adekuat, curah jantung berkurang. Dalam keadaan normal,
kecepatan ventrikel tidak melebihi 200 kali per menit karena periode refrakter
nodus AV yang relatif lama tidak akan memungkinkan pengahantaran impuls ke
ventrikel lebih cepat dari pad tingkat tersebut.

Sistem Kardiovaskuler 39
Gambar 9.20.

2.1.10 Bunyi Jantung

Sistem Kardiovaskuler 40
Bunyi normal jantung, S1 dan S2 terutama dihasilkan oleh penutupan katup
jantung. Waktu antara S1 dan S2 berhubungan dengan sistolik dan normalnya
lebih pendek dari waktu dan antara S2 dan S1(diastolic).Bila frekuensi bunyi
jantung meningkat diastole akan memendek.

2.1.10.1 Bunyi pertama jantung (S1)

Bunyi LUB yang rendah disebabkan oleh penutupan katup mitral dan
trikuspidialis, lamanya kira-kira 0,15detik dan frekuensinya 25-45 Hz.
Terpisahnya bunyi jantung pertama dan kedua adalah karena penutupan kedua
katup yang tidak bersamaan sebagai akibat dari kontraksi ventrikel yang satu
terjadi setelah kontraksi ventrikel yang lain.

sistolik diastolic sistolik diastolic sistolik

S1 S2 S1 S2 S1 S2

2.1.10.2 Bunyi kedua (S2)

Bunyi DUP yang lebih pendek dan nyaring yang disebabkan oleh menutupnya
katup aorta dan pulmonal segera setelah sistolik ventrikel berakhir.Frekuensinya
50Hz dan berakhir 0,15 detik. Bunyi ini keras dan tajam ketika tekanan diastolic
dalam aorta atau arteri pulmonalis meningkat. Masing-masing katup menutup
dengan kuat pada akhir sistolik. Pemisahan bunyi jantung kedua kedalam bunyi
inspeksi adalah normal dan terdengar sangat keras pada orang yang masih muda.
Hal ini dikarenakan sedikit agak bertundanya penutupan katup pulmonaris karena
aliran darah keventrikel kanan.

2.1.10.3 Bunyi ketiga (Gallop S3)

Bunyi ini lemah, didengar kira-kira sepertiga jalan diastolic. Pada individu
muda ini bertepatan dengan masa pengisian cepat ventrikel. Hal ini mungkin
disebabkan oleh getaran yang timbul karena desakan darah yang lamanya 0,1
detik.Maka bunyi jantung menjadi triplet dan menimbulkan efek akustik seperti
gallop kuda,bunyi ini terjadi pada awal diastolic, selama fase pengisian cepat

Sistem Kardiovaskuler 41
siklus jantung atau pada akhir kontraksi atrium disebut suara ketiga (S3).Suara ini
terdengar pada pasien yang mengalami penyakit miokard atau yang menderita
gagal jantung kongestif dan yang ventrikelnya gagal menyemburkan semua darah
selama sistolik. Gallop S3 terdengar pada pasien yang berbaring pada sisi kiri.

S1 S2 S3 S1 S2 S3 S1 S2 S3

2.1.10.4 Bunyi ke empat

Bunyi ini terkadang dapat didengar sebelum bunyi pertama bila tekanan
atrium tinggi atau ventrikel kaku seperti pada hipertrofi ventikel.

S4 S1 S2 S4 S1 S2 S4 S1 S2

2.1.11 Pengaturan Denyut Jantung

Denyut jantung dimulai dan dipertahankan oleh jantung itu sendiri


Otot jantung mempunyai 4 kemampuan:

1. Automaticity

2. Conductivity

3. Excitability

4. Contractility

2.1.11.1 Automaticity

Kemampuan intrinsik otot jantung (nodus SA) untuk secara spontan


menghasilkan impuls listrik

Impuls spontan —> perubahan potensial listrik dari sel otot jantung (depolarisasi)
Depolarisasi spontan terjadi secara ritmik dan memulai terjadinya kontraksi
jantung.

2.1.11.2 Conductivity

Kemampuan untuk menghantarkan keadaan fisik seperti suara, panas atau


impuls sel miokardium dapat menghantarkan impuls sepanjang sel. Sel-sel
konduksi membangun sistem konduksi jantung.

2.1.11.3 Excitability

Sistem Kardiovaskuler 42
Kemampuan sel otot jantung untuk memberikan respon terhadap rangsangan
dari luar sel yang dirangsang memberikan respon berupa depolarisasi, perubahan
potensial yang terjadi akan menginduksi sel di dekatnya untuk depolarisasi terjadi
karena perpindahan ion-ion sodium, potasium dan kalsium di dalam dan di luar
sel.

2.1.11.4 Contractility

Sifat semua sel otot, kemampuan sel untuk memendekkan panjangnya


dalam memberikan respon terhadap rangsangan kontraktilitas miokardium
membuat aksi pemompaan jantung yang menyemburkan darah ke seluruh sistem
sirkulasi

2.1.12 EKG (Elektrokardiogram)

Rekaman (catatan) yang dihasilkan adalah eletrokardiogram atau EKG.


Sebenarnya istilah yang digunakan adalah EKG, karena teknik ini dikembangkan
oleh seorang ilmuan berbahasa jerman, Willian Einthoven, dan “kardia” adalah
kata untuk jantung dalam bahasa jerman. Terdapat tiga pokok penting yang perlu
diingat ketika mempertimbangkan apa yang sebenarnya diwakili oleh EKG.

1. EKG adalah suatu rekaman mengenai sebagian aktivitas listrik di cairan-


cairan tubuh yang diinduksi oleh impuls jantung yang mencapai permukan
tubuh, bukan rekaman langsung aktivitas listrik jantung yang sebenarnya.
2. EKG adalah rekaman kompleks yang menggambarkan penyebaran
keseluruhan aktivitas di jantung selama reporalisasi dan depolarisasi. EKG
bukan bukan merupakan catatan mengenai sebuah potensial aksi di sebuah
sel pada saat. Pada setiap saat rekaman mewakili jumlah aktivitas listrik di
semua sel otot jantung, yang sebagian mungkin sedang mengalami
potensial aksi, sementara yang lain mungkin belum diaktifkan.
3. Rekaman mencerminkan perbandingan voltase yang terdektesi oleh
elektroda di dua titik yang berbeda di tubuh.

Untuk menghasilkan perbandingan standar, rekaman EKG rutin terdiri dari


dua belas system elektroda konvensional, atau lead. Sewaktu sebuah mesin
elektroda kardiogram dihubungkan dengan elektroda pencatatan di dua titik pada

Sistem Kardiovaskuler 43
tubuh, susunan spesifik dari tiap-tiap pasangan koneksi itu disebut lead. Kedua
belas lead tersebut masing-masing merekam aktivitas listrik dijantung dari lokasi
yang berbeda-enam susunan listrik dari ekstermitas dan enam lead dada di
berbahgai tempat disekitar jantung. Kedua belas lead tersebut digunakan secara
rutin di semua rekaman EKG sebagai dasar untuk perbandingan dan untuk
mengenali adanya deviasi dari normal (lihat gambar).

2.1.12.1Komponen pada rekaman EKG

Interpretasi mengenai konfigurasi gelombang yang direkam dari setiap lead


bergantung pada pengetahuan menyeluruh mengenai rangkaian penyebaran
eksitasi di jantung serta posisi jantung relative terhadap penempatan elektroda.
EKG normal memperlihatkan tiga bentuk gelombang tersendiri : gelombang P,
kompleks QRS, dan gelombang T (lihat gambar). (huruf-huruf tersebut tidak

Sistem Kardiovaskuler 44
menyatakan hal khusus kecuali urutan gelombang. Eithoven sekedar
menggunakan alphabet tengah ketika member nama gelombang-gelombang
tersebus).

• Gelombang P mewakili depolarisasi atrium.


• Kompleks QRS mewakili depolarisasi ventrikel
• Gelombang T mewakili repolarisasi ventrikel.

Hal-hal penting berikut mengenai perekaman EKG juga perlu diketahui :

1. Pembentukan potensial aksi di nodus SA tidak menimbulkan aktivitas


listrik yang mampu mencapai permukan tubuh, sehingga depolarisasi
nodus SA tidak menimbulkan gelombang. Dengan demikian, gelombang
yang pertama tercatat, gelombang P, terjadi ketika impuls menyebar
keseluruh atrium.
2. Pada EKG normal, tidak terdapat gelombang terpisah untuk repolarisasi
atrium secara nolmal berlangsung bersamaan dengan depolrisasi ventrikel
dan tertutupi oleh kompleks QRS.
3. Gelombang P jauh lebih kecil dari pada kompleks QRS karena atrium
memiliki masa otot yang jauh lebih kecil dari pada ventrikel, sehingga
menghasilkan lebih sedikit aktivitas listrik.
4. Terdapat tiga keadaan pada saat aliran arus di otot jantung tidak terjadi dan
EKG tetap berda di garis dasar.
a. Selama pelambatan nodus AV. Pelambatan ini tercermin dalam
interval waktu antara akhir gelombang P dan permulaan gelombang
QRS. Interval ini dikenal sebagai segmen PR (disebut segmen PR dan
bukan segmen PQ karena defleksi Q kecil dan kadang-kadang tidak
tampak, sedangkan defleksi R adalah gelombang yang dominan pada
kompleks QRS). Arus mengalir melalui nodus AV, tetapi kekuatanya
terlalu kecil untuk dapat terdeteksi oleh elektroda EKG.
b. Ketika ventrikel mengalami depolarisasi sempurna dan sel-sel
kontraktil jantung sedang berada dalam fase datar dari potensial aksi
sebelum kembali mengalami repolarisasi, tergambar segmen ST.
segmen ini adalah interval antara QRS dan T, segmen ini bersesuaian
dengan waktu selama pengaktifan ventrikel selesai dan ventrikel
berkontraksi serta mengosongkan isinya.
c. Ketika otot jantung beristirahat total dan sedang berlangsung proses
pengisian ventrikel, setelah gelombang T dan sebelum gelombang P
berikutnya. Segmen waktu ini disebut interval TP.

Sistem Kardiovaskuler 45
Kelainan kecepatan denyut jantung

Takikarida

Ekstrasistol

Fibrilasi ventrikel

Sistem Kardiovaskuler 46
Blok jantung total

2.1 PEMBULUH DARAH

2.2.1 Sistem arteri

Sistem Kardiovaskuler 47
Terdiri dari lapisan :

• TUNICA INTIMA

a) ENDOTEL = epitel squamosa sederhana yang melapisi arteri, jantung,


klep, dan valvula. Fungsinya permeabilitas, transpor, sintesis, dan sekresi
ACE

b) JARINGAN IKAT SUBENDOTEL

c) LAMINA ELASTICA NTERNA = berfungsi komunikasi antar sel

• TUNICA MEDIA = terdiri dari sel otot polos, sel elastin, dan serabut
jaringan ikat

• TUNICA ADVENTITIA = terdiri dari sel, serabut jaringan ikat, tempat


melekatnya pembuluh darah ke struktur sekitarnya, syaraf, pembuluh
darah kecil, serta limfe

Pada saat keluar dari jantung, darah mempunyai tekanan yang tinggi
arteri mempunyai dinding yang tebal, berotot dan agak elastic makin jauh dari
jantung, arteri besar menjadi lebih berotot, dan jumlah jaringan elastis berkurang
arteri akan bercabang-cabang menjadi lebih kecil dan lebih banyak, arteri yang
terkecil disebut arteriol kapiler merupakan perpanjangan dari tunika intima
arteriol, menghubungkan arteriol dan venul —> menjembatani penyediaan darah
ke jaringan dan pengembalian darah ke jantung

Sistem vena:

Dibandingkan dengan arteri: diameter lebih besar, dinding lebih tipis, lebih lunak
dan relatif tidak berotot tekanan aliran darah balik ke jantung lebih rendah
vena yang terkecil disebut venul vena dan venul mempunyai katup-katup untuk
mencegah aliran balik dari darah Vena: pembuluh darah yang membawa darah ke
jantung Arteri: pembuluh darah yang membawa darah dari jantung
Mikrosirkulasi: sirkulasi darah melalui pembuluh darah yang paling kecil —>
diperlukan untuk kehidupan jaringan

Sistem Kardiovaskuler 48
Mikrosirkulasi :

berfungsi untuk menyediakan O2 dan nutrisi untuk jaringan dan mengeluarkan


CO2 dan zat-zat sisa terdiri dari arteriol, kapiler dan venul aliran darah melalui
kapiler menyediakan pertukaran gas dan nutrisi antara darah dan jaringan —>
aliran nutrisi darah yang tidak melalui kapiler —> aliran nonnutrisi atau shunt

Otot polos arteriol dapat berkontraksi —> dapat menyempit —> menimbulkan
tahanan terhadap aliran darah —> mengatur jumlah darah yang melalui
mikrosirkulasi ke jaringan O2 berdifusi ke jaringan dan CO2 masuk ke kapiler
karena perbedaan tekanan Aliran nutrisi dan zat-zat sisa dalam melintasi dinding
pembuluh darah —> karena perbedaan tekanan

Aliran darah diatur oleh: pusat vasomotor di otak berhubungan dengan sel otot
polos arteriol zat-zat metabolit lokal, katekolamin, norepinefrin, perubahan pH,
perubahan tekanan oksigen, beberapa obat-obatan.

2.2.2. Sirkulasi Darah Aorta

Sistem Kardiovaskuler 49
1. Aorta asendens : muncul pada basis ventrikel sinistra berjalan ke atasa
dan depan, panjangnya kira-kira 5cm, mempunyai dua cabang yaitu arteri
koronia dekstra dan arteri koronia sinstra.
a. Arteri koronia dekstra : berasal dari sinus anterior memberikan darah
untuk jantung kanan, memperdarahi sel otot miokardium.
b. Arteri koronia sinistra : memberikan darah untuk jantung kiri berasal
dari sinus posterior aorta untuk memperdarahi otot lapisan jantung
miokardium.
1. Arkus aorta : merupakan lanjutan aorta asendens melengkung kea rah
kiri, terletak di belakang manubrium sterni berjalan ke atas, ke belakang
dank ke kiri trakea sedikit turun ke bawah sampai vertebra torokalis
keempat. Arkus aorta mempnyai cabang-cabang sebagai berikut :
a. Arteri brakhiosepalika (arteri anonima) : merupakan arteri terbesar
setelah aorta, mempunyai cabang.
1. Arteri korotis komunis dekstra, memberikan darah untuk kepala,
2. Arteri subklavia dekstra memberikan darah untuk anggota gerak
atas bagian kanan.

b. Arteri subklavia sinistra: memberikan darah untuk kepala.

c. Arteri karotis komunis sinistra: memberikan darah untuk anggota gerak


atas bagian kiri.

3. Aorta desendens: merupakan lanjutan dari arkus aorta menurun mulai dari
vertebrata torakalis IV. Setelah itu berjalan di sebelah kiri korpus
vertebra setinggi angulus sterni, kemudian berlanjut pada mediastinum
posterior sampai vertebrae XII melewati hiatus aortikus diafragma
berlanjut sampai vertebra lumbalis IV kemudian bercabang dua menjadi
aorta torakalis dan aorta abdominalis.

a. Aorta torakalis: merupakan lanjutan dari arkus aorta, menurun mulai


dari vertebra torakalis ke-4 sampai vertebra lumbalis IV. Aorta
berjalan di sebelah kiri korpus vertebra setinggi angulus sterni
kemudian berjalan ke bawah manubriun sterni posterior sampai

Sistem Kardiovaskuler 50
vertebra XII melewati hiatus aortikus diafragma di garis tengah
berlanjut ke bawah sampai ke lumbalis IV. Aorta torakalis mempunyai
cabang-cabang yaitu rongga torak dan dinding torak.

b. Aorta abdominalis: mulai pada vertebra torakalis XII sampai ke


lumbikalis IV. Aorta abdominalis bercabang dua, yaitu arteri iliaka
kommunis dekstra dan arteri iliaka kommunis sinistra.

Vena Yang Masuk Ke Jantung

1. vena kava superior: vena besar yang menerima darah dari bagian atas
leher dan kepala yang dibentuk oleh persatuan dua vena brakiosepalika
yang masuk ke atrium dekstra.vena azigos bersatu pada permukaan
posterior vena kava superior sebelum masuk ke perikardium.
2. vena kava inferior: merupakan vena besar yang menerima darah darah
dari alat tubuh bagian bawah,menembus sentrum tendinium setinggi
vertebra torakalis dan masuk ke bagian bawah atrium dekstra.
3. vena pulmonalis: dua vena pulmonalis yang meninggalkan paru-paru
membawa darah beroksigen(banyak mengandung oksigen) dan masuk ke
atrium sinistra.

Vena Yang Bermuara Ke Vena Kava Superior

vena yang berawaltepat di belakang angulus ,mandibulare dan menyatu


dengan vena aurikularisa posterior lalu melintas muskulus sternocledomastoideus
tepat di atas klavikula dan menembus fasia servikalis frofunda dan mencurahkan
isinya ke vena subklavia.vena ini memiliki cabang-cabang berikut.

1. vena aurikularis posterior:turun melintasi muskulus


sternokledomastoideus tepat di atas klavikula menembus fasia servikalis
profunda.
2. vena retro mandibularis:menerima darah dari mandibularis.
3. vena subklavia:cabang dari vena aurikularis posterior.

Sistem Kardiovaskuler 51
4. vena jugularis eksrterna posterior: bergabung dengan vena jugularis
eksterna untuk mengurus bagian kulit kepala dan leher.
5. vena suprakapularis :menerima darah dari otot bahu bagian atas.
6. vena jugularis anterior:berawal tepat di bawah dagu, menyatu turu ke
leher atas jugularis lalu berjalan ke bawah ke muskulus
sternokledomastoideus dan mencurahkan isinya ke vena jugularis eksterna.

Vena yang bermuara ke vana kava inferior

1. Vena torasika interna: bersatu membentuk pembuluh darah tunggal dan


mengalirkan darah ke vena brakiosepalika.
2. Vena dinding anterior dan lateral abdomen: darah yang yang berasal
dari pembuluh ini di kumpulkan ke jalinan vena-vena,dari umbilikus di
alirkan ke vena aksilaris melalui vena torakalis dan ke bawah vena
femoralis melalui vena epigastrika superfisialis.
a. Vena savena magna :menghubungkan vena melalui umbilikalis
sepanjang ligamentum terres ke vena porta dan membentuk
anastomisis vena porta dan vena sisztemik yang penting.
b. Vena epigastrika superior,vena efigastrika inferior dan vena
sirkumfleksa ileum fropundus mengalirkandarah ke venma iliaka
eksterna.
c. Vena intrerkostalis posterior mengalirkan darah ke vena azigo,vena
lumbaris dan vena kava inferior.
1.2.3. Sirkulasi Kapiler

Kapiler adalah pembuluh darah yang sangat kecil di sebut juga pembuluh rambut.
Pada umumnya kapiler meliputi sel-sel jaringan karena secara langsung
berhubungan dengan sel. Pembuluh kapiler terdiri atas kapiler arteri dan kapiler
vena.

1. Kapiler arteri. Kapiler arteri merupakan tempat berakhirnya arteri.


Semakin kecil arteri maka akan semakin hilang lapisan dinding arteri
sehingga kapiler hanya mempunyai satu lapisan yaitu lapisan endotelium.

Sistem Kardiovaskuler 52
Lapisan ini sangat tipis sehingga memungkinkan cairan darah/limfe
merembes keluar jaringan membawa air, mineral, dan zat makanan. Proses
pertukaran gas pertukaran antara pembuluh kapiler dengan jaringan sel
kapiler arteri bertujuan menyediakan oksigen dan menyingkirkan karbon
dioksida.
2. Kapiler vena. Lapisan kapiler vena hampir sama dengan kapiler arteri.
Fungsi kapiler vena adalah membawa zat sissa yang tidak terpakai oleh
jaringan berupa zat ekskresi dan karbon dioksida. Zatsissa tersebut di
bawa keluar dari tubuh melalui venolus, vena, dan akhirnya keluar tubuh
melalui tiga proses yaitu pernapasan, keringat dan feses.

Pintu masuk ke kapiler dilingkari oleh sfingter yang terbentuk dari otot polos.
Bila sfingter maka darah akan memasuki kapiler tetapi bila tertutup maka darah
langsung masuk dari arteriole ke venolus dan tidak melalui kapiler.

Tekanan darah pada kapiler arteri turun sampai 30 mmHg, hingga di ujung
kapiler vena menjadi 10 mmHg. Tekanan kapiler akan meningkat bila arteriole
berdilatasi karena pada saat arteriole berdilatasi, sfinter kapiler juga akan relaksasi
sehingga banyak darah masuk ke dalam kapiler.

Kapiler membuka dan menutup dengan kecepatan 6-12 kali/menit. Relaksasi


kapiler terjadi sebagai respons terh ar oksigen yang terjadi dalam darah. Relaksasi
tersebut menimbulkan banyak darah yang mencapai jaringan sehingga terjadi
peningkatan aktivitas metabolik. Sfingter kapiler yang menuju ke kulit akan
berelaksasi sebagai respons terhadap peningkatan suhu tubuh, sedangkan
peningkatan sirkulasi melalui kapiler disebabkan oleh turunnya suhu tubuh.

2.3 DARAH

2.3.1 Volume Darah

Volume darah secara keseluruhan kira-kira satu per dua belas berat badan
atau lima liter.

Sistem Kardiovaskuler 53
Darah terdiri dari:

1. plasma:

• 55% dari volume total

• cairan kekuningan

2. elemen padat:

• 45% dari volume total

• sel-sel darah

Plasma darah terdiri dari:

• 90% air

• 7-8% protein dan metabolit yang larut

• protein plasma dapat dibagi menjadi 3 kelompok:

albumin: 60%, mempertahankan tekanan osmotik darah

globulin: alat transpor lipid dan vitamin

fibrinogen: berperan penting dalam mekanisme pembekuan darah

• 1-2%: urea, glukosa, asam amino, lemak, hormon dan vitamin

Plasma juga mengandung:

ion-ion kimia: sodium, potasium, kalsium dan magnesium

kation: klorida dan bikarbonat —> elektrolit, penting untuk mempertahankan


tekanan osmotik plasma dan kadar p

2.3.2 Sel-sel darah:

• platelet = trombosit:

○ berperan dalam pembekuan darah

○ turut serta mengontrol ukuran pembuluh darah melalui pelepasan


prostaglandin dan prostasiklin

• eritrosit:

○ berbentuk cakram kecil bikonkaf, cekung pada kedua sisinya

Sistem Kardiovaskuler 54
○ terdapat 5.000.000 sel darah dalam milimeter kubik darah

○ di bentuk di dalam sumsum tulang

○ bertugas membawa O2 dan CO2 yang terikat pada hemoglobin

• leukosit:

○ granulosit, limfosit, monosit, eosinofil, basofil

○ melawan infeksi dan berpartisipasi dalam respon imunologik

Golongan darah

• A, B, AB, O

• Rh(+), Rh (-)

Tekanan darah

satuan: mmHg

tekanan sistolik yaitu :

tekanan yang terjadi pada saat kontraksi puncak ventrikel = tekanan puncak yang
terjadi pada arteri oleh darah yang dipompa jantung selama kontraksi ventrikel
normal: + 120 mmHg

tekanan diastolik yaitu :

tekanan yang terjadi selama fase istirahat jantung antara 2 kontraksi ventrikel =
tahanan pada arteri elastis dan arteriol = tahanan pembuluh

normal: < 90 mmHg

Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah (blood pressure = BP) :

• perubahan curah jantung (cardiac output = CO)

• perubahan tahanan perifer total ( total peripheral resistance = TPR)

• dinyatakan dengan rumus; BP = CO X TPR

Curah jantung adalah volume darah yang dipompa oleh jantung dalam satu
menit normal: 5-6 liter/menit

Sistem Kardiovaskuler 55
rumus: CO = HR X SV

Isi sekuncup

dipengaruhi oleh:

• tekanan pengisian ventrikel

• kontraktilitas miokardium

• tahanan aliran darah

• melibatkan 2 faktor:

end-diastolic volume (EDV): volume darah pada akhir diastolik jumlah darah
dalam ventrikel setelah pengisian sebelum kontraksi end-systolic volume (ESV):
volume darah pada akhir sistolik volume darah yang tertinggal dalam ventrikel
setelah kontraksi

rumus: SV = EDV – ESV

Left ventricular ejection fraction = SV/EDV SV (normal): + 80 ml

Hukum Starling: makin besar regangan diastolik pada otot jantung, makin kuat
kontraksinya Peningkatan EDV —> peningkatan SV

Tahanan perifer total: jumlah tahanan yang dihasilkan oleh seluruh arteri dan
arteriol terhadap aliran darah diatur oleh tonus arterial dan arteriol

Pengukuran tekanan darah menggunakan:

• stetoskop

• sfignomanometer

cuff dipompa sampai mencapai tekanan yang cukup tinggi untuk menghentikan
aliran darah, tidak ada bunyi udara dikeluarkan perlahan-lahan:

suara yang pertama kali terdengar —> tekanan sistolik

suara mulai menghilang —> tekanan diastolik

Sistem Kardiovaskuler 56
BAB III

PENUTUP

1.1. Kesimpulan

Jantung terletak antara dua struktur tulang, sternum dan vertebra,


memungkinkan kita secara manual mendorong darah keluar dari jantung apabila
jantung tidak memompa secara efektif dengan menekan sternum secara berirama ,
maneuver ini menakan jantung antara sternum dan vertebra, sehingga darah
diperas seolah-olah jantung sedang berdenyut. Kompresi jantung eksternal ini ,
yang merupakan bagian dari Resusitas jantung Paru (RJP), sering berfungsi
sebagai tindakan darurat penyelamatan nyawa sampai terapi yang sesuai dapat
diberikan untuk memulihkan fungsi normal jantung.

Jantung terdiri dari 4 katup yaitu katup aorta, katup pulmonaris, katup
bicuspid dan katup mitral dan terdiri dari 4 bilik yaitu Atrium kanan,atrium kiri,
ventrikel kanan dan ventrikel kiri. Dan juga memiliki sistem listrik atau listrik
jantung yaitu: Nodus SA (sinoatrium), nodus AV (atrioventrikel), Berkas his dan
serat purkinje.

Jantung pada dasarnya adalah suatu pompa ganda yang menghasilkan tekanan
pendorong agar darah mengalir melalui sirkulasi sistemik. Jantung memiliki 4
bilik : atrium atau vena, dan sebuah ventrikel.

Otot jantung diberi oksigen dan nutrien oleh darah yang disalurkan oleh
sirkulasi koroner, bukan oleh darah didalam bilik-biliknya. Alirah darah koroner
dapat terganggu oleh pembentukan plak aterosklerotik, yang dapat menyebabkan
penyakit jantung iskemik yang keparahannya bervariasi dan dari nyeri dada ringan
sewaktu berolahraga sampai serangan jantung yang fatal. Penyebab ateroskleretik
tidak diketahui, tetapi tampaknya rasio kolesterol di dalam plasma berkaitan
dengan lipoprotein berdensitas tinggi (HDL) dibandingkan lipoprotein berdensitas
rendah (LDL) merupakan faktor penting.

Sistem Kardiovaskuler 57
Walaupun semua darah melewati jantung, otot jantung tidak mampu
mengektrasi O2 dari darah yang terdapat di bilik-biliknya. Otot jantung menerima
sebagian besar pasokan darahnya sewaktu jantung dalam keadaan ditasol.

Pada waktu normal otot jantung tetap menerima darah yang adekuat untuk
menunjang aktifitasnya, bahkan ketika berolahraga, saat kecepatan aliran darah
koroner meningkat sampai lima kali lipat dibandingkan kecepatanya saat istirahat.
Aliran darah koroner terutama disesuaikan terhadap perubahan kebutuhan jantung
akan oksigen.

Walaupun kurang memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan


energinya melalui metabolisme anaerobik dan sangat bergantung pada pasokan
O2, Jantung dapat mentolerir variasi pasokan nutrient yang sangat lebar. Jantung
terutama menggunakan asam lemak bebas dengan tingkat yang lebih kecil,
glukosa dan laktat sebagai sumber bahan bakar. Karena otot jantung terkenal
sangat adiktif dan dapat merubah jaluir metabolisme untuk menggunakan apapun
nutrient yang tersedia, bahaya utama dari gangguan aliran darah koroner bukanlah
bahan bakar tetapi defisiensi O2.

1.2.Saran

Dengan adanya makalah ini mudah-mudahan kita mampu memahami dan


mengetahui dari letak posisi jantung pada tubuh manisia, sirkulasi jantung,
aktivitas listrik jantung, dll yang berhubungan dengan aktivitas jantung atau
system kardiovaskuler. Tentunya kita sebagai seorang perawat harus mampu dan
menguasai system kardiovaskuler ini, karena dewasa ini semakin banya manusia
terserang penyakit jantung. Dan terpenting adalah pempelajari EKG
(elektrokardiogram).

Sistem Kardiovaskuler 58
DAFTAR PUSTAKA

A.P. Sylvia, RN, PhD, M.W. Lorraine. 2002. Pathophysiologi : Clinical Concepts
Of Disiase Processes. Jakarta : Kedokteran ECG.

Bates, B.A. 2005. Guide to Physical examination and History Taking “The
Cardiovascular system”9th ed. Philadelphian: Lippincott Co.

Berne, R. M. Cardiovascular Physiology. 6th ed. St. Louis: C. V. Mosby, 1992

Brown, M. S. and J. Goldstein. “How LDL Receptors influence Cholesterol and


Atherosclerosis.” Scientific American (November 1984).

Honig, C.R. Modem Cardiovascular Physiology. 2d ed. Boston: little, Brown,


1988.

http://ayoncrayon.blogspot.com/2010/10/anatomi-fisiologi-kardiovaskuler.html

http://fraxawant.wordpress.com/2008/07/16/anatomi-fisiolgi-sistem-cardivasculer/

http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1958045-sirkulasi-sistemik/

http://medicalnursing.blogspot.com/2008/05/anatomi-dan-fisiologi-jantung.html

http://www.google.co.id/images?
hl=id&source=imghp&biw=1366&bih=540&q=kardiovaskuler+sistem
&gbv=2&aq=2&aqi=g2&aql=&oq=kardiovaskuler&gs_rfai=

http://www.google.co.id/images?hl=id&biw=1366&bih=540&gbv=2&tbs=isch
%3A1&sa=1&q=EKG+NORMAL&aq=f&aqi=g6&aql=&oq=&gs_rfai
=

http://www.google.co.id/images?
hl=id&gbv=2&tbs=isch:1&&sa=X&ei=CX_0TMj0Go2OvQO9xdj4Bg

Sistem Kardiovaskuler 59
&ved=0CCAQBSgA&q=letak+dan+posisi+jantung+pada+thorax&spel
l=1&biw=1366&bih=540

Laurale, Sherwood.2001. Edisi 2 fisiologi Manusia Dari Sel ke system. Buku


Kedokteran EGC: Jakarta.

Little, R. C. Physiology of the Heart and Circulation. 4th ed. Chicago: Year Book
Medical Publishers, 1989.

Sayfudin. 2009. Anatomi Tubuh Manusia Untuk Mahasiswa Keperawatan.


Jakarta: Salemba Medika.

Udjianti, Wajan Yuni. 2010. Keperawatan Kardiovaskuler. Jakarta : Salemba


Medika.

Watson, W. 2006. Cardiovascular Exam, Examining the Heart and Circulatory


Sistem.

Sistem Kardiovaskuler 60