Anda di halaman 1dari 29

SIMULASI SISTEM DINAMIK KETERSEDIAAN BERAS

DI KABUPATEN PESISIR SELATAN

Zarmelia Mery
(di bawah bimbingan Santosa dan Andasuryani)

2011

ABSTRAK

Penelitian simulasi sistem dinamik ketersediaan beras di Kabupaten


Pesisir Selatan dilakukan dengan mencari informasi data pada Kantor BPS Pesisir
Selatan dan Sumatera Barat, kemudian mensimulasikan data tersebut
menggunakan program Dynamo Compiler. Penelitian ini bertujuan untuk melihat
prospek ketersediaan beras Kabupaten Pesisir Selatan pada masa mendatang
dengan memperhatikan kecenderungan persediaan dan permintaan beras di masa
lalu, sehingga dapat diketahui jumlah beras yang dapat memenuhi kebutuhan
penduduk jika dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan penduduk.

Simulasi sistem dinamik ketersediaan beras di Kabupaten Pesisir Selatan


dihitung dengan melihat angka Laju Produksi Sendiri ( 2,45x105 ton/thn), Laju
Konsumsi (0,293 kg/orang/hari), Laju Pengiriman Beras (4 ton/minggu), Laju
Penjualan Beras (0 kg), fraksi Laju Kelahiran (0,01 orang/thn) dan Laju Kematian
(rata-rata umur 66,2 thn) Penduduk Pesisir Selatan yang diambil pada buku Pesisir
Selatan dalam Angka. Dari hasil simulasi yang dilakukan untuk waktu 10 tahun,
didapatkan bahwa jumlah beras di setiap tahun mengalami peningkatan, yakni
dari 2,2x105 ton pada awal perhitungan menjadi 2,9x106 ton pada tahun ke
sepuluh. Sementara untuk jumlah penduduk terjadi penurunan, dari 415 124 orang
pada awal perhitungan menjadi 397 671,18 orang pada tahun ke sepuluh. Jumlah
2

penduduk yang selalu menurun disebabkan oleh rendahnya angka fraksi laju
kelahiran penduduk yaitu 0,01/thn.

PENDAHULUAN
Beras merupakan bahan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk
Indonesia, disamping jagung dan sagu. Oleh sebab itu perhatian akan beras tidak
ada henti-hentinya. Perhatian yang besar oleh pemerintah terhadap usaha
peningkatan produksi bahan pangan telah memperlihatkan hasil yang
menggembirakan sehingga pada akhirnya kita dapat berswasembada beras pada
tahun 1984, keadaan tersebut tentunya perlu dipertahankan hingga sekarang.
Keberhasilan swasembada beras yang sudah dicapai pada tahun 1984
tersebut telah menyebabkan terpenuhinya kebutuhan pangan dengan harga yang
dapat dipertahankan relatif stabil. Sementara itu produksi beras dapat berfluktuasi
dari tahun ke tahun karena pengaruh iklim, hama serta faktor-faktor alamiah
seperti bencana alam. Yang tidak kalah pentingnya juga adalah terjadinya mutasi
lahan-lahan produktif menjadi lokasi bangunan perumahan, pabrik-pabrik dan
sarana-sarana lainnya yang cukup besar dari tahun ke tahun.
Peranan Sektor Pertanian dalam pembentukan Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB) Propinsi Sumatera Barat tahun 2003 masih cukup tinggi yaitu
23,57 persen. Tingginya peranan sektor pertanian ini wajar mengingat lebih dari
50 % penduduk di Propinsi Sumatera Barat bekerja di sektor pertanian dan
menggantungkan kehidupan ekonominya di sektor pertanian. Kegiatan pertanian
telah menyatu dengan kultur masyarakat Sumatera Barat khususnya bagi
masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan. Ditunjang dengan keadaan tanah
yang subur dan iklim/ cuaca yang mendukung, maka keberadaan sektor pertanian
di Sumatera Barat akan memberikan nilai lebih bagi peningkatan kesejahteraan
masyarakat khususnya para petani. Pada tahun-tahun mendatang sektor pertanian
ini perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius mengingat potensi sumber daya
alam yang ada di Sumatera Barat ini adalah lebih banyak berada di sektor
pertanian, dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya, misalnya industri
pengolahan yang hanya memberikan kontribusi sebesar 12,29 persen terhadap
PDRB Sumatera Barat 2003 (BPS Sumbar, 2003).
3

Beras merupakan komoditas strategis di Indonesia, karena sebagian besar


penduduk Indonesia memerlukan beras untuk sumber karbohidrat sehari-hari.
Selain itu, disadari bahwa ekonomi Indonesia adalah ekonomi beras, apabila
terjadi gejolak pada harga maupun produksi beras, maka sendi-sendi
perekonomian akan ikut terpengaruh. Mengingat beras merupakan komoditi
strategis dalam kehidupan masyarakat sehingga memiliki nilai ekonomi yang
tinggi, maka dari itu kita perlu melihat aspek-aspek sebagai indikator penunjang
dalam peningkatan kualitas produksi maupun distribusi gabah, sehingga
ketersediaan beras dapat memenuhi permintaan/ kebutuhan masyarakat dengan
harga terjangkau (Marhillong, 2002).
Permintaan akan beras terus meningkat, ini disebabkan oleh bertambahnya
jumlah penduduk. Untuk memenuhi kebutuhan akan beras yang bertambah
tersebut, maka produksinya harus ditingkatkan pula baik dari segi kuantitas
maupun kualitasnya (Affandi, 1988).
Peningkatan jumlah penduduk harus diikuti dengan peningkatan produksi
pangan, khususnya beras yang merupakan bahan makanan pokok bagi sebagian
besar penduduk Indonesia, oleh sebab itu beras juga punya peranan penting dalam
perekonomian Indonesia. Untuk daerah Sumatera Barat produksi gabah pada
tahun 2001 sebesar 1,8 juta ton dengan luas panen 415,88 ribu Ha (BPS Sumatera
Barat, 2002).
Selama tahun 2003 produksi padi di Sumatera Barat mencapai 1 823 739
ton yang terdiri dari 1 802 622 ton padi sawah dan 21 117 ton padi ladang.
Berdasarkan hal itu dapat disimpulkan bahwa, pada tahun 2003 telah terjadi
penurunan produksi padi dibandingkan dengan produksi padi pada tahun 2002
yang tercatat sebanyak 1 875 834 ton. Kabupaten Pesisir Selatan merupakan
Kabupaten yang dapat memproduksi beras terbesar dengan urutan kelima dari
seluruh Kabupaten dan Kota yang ada di Sumatera Barat, yakni dengan persentase
11 %. Produksi beras terbesar di Sumatera Barat diperoleh dari daerah Solok (16
%), Pasaman (15 %), Agam (13 %) dan Padang Pariaman (12 %). Kabupaten
Pesisir Selatan mempunyai luas panen sebesar 42 969 Ha dengan rata-rata hasil
per hektar mencapai 44,64 kwintal/ ha, dan dengan hasil produksi mencapai 191
802 ton (BPS Sumbar, 2003).
4

Produksi padi di Pesisir Selatan pada tahun 2003 mengalami penurunan


sebanyak 25,716 ton. Berkurangnya produksi padi tersebut antara lain disebabkan
karena luas panen berkurang sebanyak 6,880 ha. Berkurangnya luas panen
disebabkan karena pengaruh musim kemarau, sehingga beberapa irigasi sederhana
tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, akibatnya lahan tidak dapat ditanami
sebanyak 2-3 kali setahun. Namun bila diperhatikan, rata-rata produksi padi per
hektarnya meningkat dari 49,26 kuintal per ha pada tahun 2002 menjadi 50,01
kuintal per ha pada tahun 2003. Produktivitas padi di Kabupaten Pesisir Selatan
dapat dilihat pada lampiran 23. Hal ini dimungkinkan karena pemakaian pupuk
yang cukup seimbang sehingga menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi
lebih baik yang pada akhirnya hasil per ha tanaman menjadi bertambah (BPS
Pessel, 2003).
Produksi padi di Pesisir Selatan pada tahun 2004 mengalami peningkatan
sebanyak 32,651 ton dibandingkan tahun sebelumnya. Bertambahnya produksi
padi tersebut antara lain disebabkan karena luas panen bertambah serta
pertambahan rata-rata produksi untuk setiap hektarnya. Bertambahnya luas tanam
dan luas panen disebabkan karena pengaruh musim, sehingga penanaman sawah
rawa lebak yang sekaligus juga merupakan salah satu program penambahan areal
sawah di Kabupaten Pesisir Selatan dapat dilakukan. Demikian juga halnya
dengan beberapa irigasi sederhana yang kembali dapat berfungsi sebagaimana
mestinya, akibatnya lahan dapat ditanami sebanyak 2-3 kali setahun (BPS Pessel,
2004).
Jumlah penduduk Kabupaten Pesisir Selatan tahun 2003 tercatat sebanyak
415 124 jiwa, yang terdiri dari 204 359 jiwa laki-laki dan 210 765 jiwa
perempuan, dengan jumlah rumah tangga sebanyak 93 763, dengan ratio jenis
kelamin (sex ratio) sebesar 96,96 % yang artinya jumlah penduduk perempuan
lebih banyak dibanding penduduk laki-laki. Ratio jenis kelamin pada tahun 2003
sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2002, yakni dari 96,62 % pada 2002
menjadi 96,96 % pada 2003. Artinya jika penduduk perempuan berjumlah 100
orang, maka penduduk laki-laki berjumlah 96,96 orang. Kepadatan penduduk
Kabupaten Pesisir Selatan pada tahun 2003 tercatat sekitar 72 jiwa per kilometer
persegi. Jika dibandingkan dengan tahun 2002 berarti telah terjadi kenaikan 3 jiwa
5

per meter persegi. Pada tahun 2003 terjadi lonjakan pertumbuhan penduduk yang
cukup tinggi, yaitu 4,41 persen. Sementara pada tahun 2002 pertumbuhan
penduduk hanya mencapai 0,86 persen (BPS Pessel, 2003).
Mengingat adanya keterbatasan untuk terus meningkatkan produksi atas
pemenuhan kebutuhan akan beras yang diiringi dengan pertumbuhan penduduk
yang semakin melonjak di Kabupaten Pesisir Selatan tersebut, penulis mencoba
melakukan penelitian ini.
Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat prospek ketersediaan beras di
Kabupaten Pesisir Selatan pada masa yang akan datang dengan memperhatikan
kecenderungan persediaan dan permintaan (supply and demand) beras pada masa
yang telah lalu. Hal ini dapat ditentukan dengan melihat angka Laju Produksi
(LPS), Laju Konsumsi (LKS) serta Laju Kelahiran (LKL) dan Laju Kematian
(LKM) penduduk dan juga dengan memperhatikan Laju Pengiriman Beras (LPB)
dan Laju Penjualan Beras (LPJ) masyarakat Pesisir Selatan
Dari penelitian ini diharapkan kita dapat mengetahui jumlah persediaan
beras di masa mendatang dapat memenuhi kebutuhan penduduk atau tidak jika
dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan penduduk, sehingga dapat diantisipasi
jika terjadi kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan penduduk.

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai Februari tahun 2006.
Tempat dilaksanakan penelitian ini adalah di Laboratorium Komputer Program
Studi Teknik Pertanian Universitas Andalas.

Bahan dan Alat

Bahan-bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah


komputer, alat tulis, buku, disket, data-data dan sebagainya. Komputer yang
digunakan dalam penelitian ini adalah PENTIUM-MMX CPU AT 233 MHz
dengan MEMORY TEST 65536 K OK, COPYRIGHT (C) 1995.

Metode
6

Metode penelitian yang dilakukan adalah metode simulasi. Penelitian ini


dilakukan dengan mengumpulkan data terhadap jumlah penduduk dan konsumsi
beras di Kabupaten Pesisir Selatan berdasarkan Laju Kelahiran (LKL), Laju
Kematian (LKM), Laju Produksi Sendiri (LPS) serta Laju Konsumsi (LKS)
masyarakat Pesisir Selatan. Data ini diperoleh dari buku Pesisir Selatan Dalam
Angka 2003 yang diterbitkan oleh Biro Pusat Statistik Pesisir Selatan. Selanjutnya
data yang diperoleh diproyeksikan untuk beberapa tahun ke depan dengan
menggunakan komputer dengan program Dynamo Compiller dengan software
Professional Dynamo Plus Version 2.1. Untuk mendapatkan hasil yang akurat,
penelitian ini juga dilakukan berdasarkan perhitungan secara manual, untuk
mengetahui adanya kesalahan-kesalahan dalam perhitungan melalui komputer.

Pengamatan
Pengamatan yang dilakukan adalah dengan mengetahui jumlah konsumsi
beras yang dibutuhkan oleh masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan dalam tiap
tahunnya. Pengamatan didasarkan pada diagram alir simulasi sistem dinamik
tentang konsumsi beras di Kabupaten Pesisir Selatan, disajikan pada Gambar 1.
7

LPB LPJ

BERAS
LPS LKS

IP
HPT
PROD EFF 2
LUAS
EFF 1

KKH_C
KKH_A
PK
PK C PKL
K KKH_B C P_PKLC
P_PKK
P_PKC

PENDUDUK

LKL LKM

RATA-UMUR
FPWKL

Gambar 1. Diagram Alir Sistem Dinamik Konsumsi Beras


8

Keterangan simbol-simbol yang dipakai :

Level

Laju

Konstanta

Aliran Informasi

Aliran Bahan

Sumber/ Penyerap

Tambahan

Peubah dan dimensi satuan yang dipakai pada Gambar 1 disajikan pada
Tabel 4.
Tabel 1. Peubah dan Dimensi Satuan Sistem Dinamik Ketersediaan Beras

Peubah Keterangan Satuan

PENDUDUK Penduduk Orang


LKL Laju kelahiran penduduk Orang/ tahun
LKM Laju kematian penduduk Orang/ tahun
FPWKL Fraksi kelahiran per tahun (tahun)-1
RATA_UMUR Umur rata-rata penduduk Tahun
BERAS Total beras pada daerah tersebut kg

Tabel 1. Lanjutan
LPS Laju produksi beras sendiri kg/ tahun
LUAS Luas sawah di kabupaten tersebut Ha
PROD Produktivitas sawah (kg gabah/ ha)
EFF 1 Efisiensi penggilingan beras (tidak bersatuan)
9

EFF 2 Efisiensi pengeringan gabah (tidak bersatuan)


IP Intensitas pertanaman (tahun)-1
LKS Laju konsumsi beras kg/ tahun
HPT Banyaknya hari tiap tahun hari/ tahun
LPB Laju pengiriman beras ke daerah kg/ tahun
tersebut dari kabupaten/ kota lain
LPJ Laju penjualan beras ke kota lain kg/ tahun
PKK Jumlah penduduk dengan tingkat Orang
kesejahteraan kurang
KKH_A Jumlah konsumsi beras penduduk kg/kapita/hari
kesejahteraan kurang
P_PKK Fraksi jumlah penduduk dengan (desimal)
tingkat kesejahteraan kurang
PKC Jumlah penduduk dengan tingkat Orang
kesejahteraan cukup
KKH_B Jumlah konsumsi beras penduduk kg/kapita/hari
kesejahteraan cukup
P_PKC Fraksi jumlah penduduk dengan (desimal)
tingkat kesejahteraan cukup
PKLC Jumlah penduduk dengan tingkat Orang
kesejahteraan lebih dari cukup
P_PKLC Fraksi jumlah penduduk tingkat (desimal)
kesejahteraan lebih dari cukup
KKH_C Konsumsi penduduk kesejahteraan kg/kapita/hari
lebih dari cukup
Diagram Sebab-Akibat dan Umpan Balik pada Ketersediaan Beras
disajikan pada Gambar 2.

LPB LPJ

LPS BERAS LKS

LUAS
PROD EFF 2 IP HPT
EFF 1

PKLC
PKC
PKK
KKH_A KKH_B KKH_C
P_PKLC
P_PKC
P_PKK
10

LKL PENDUDUK LKM

FPWKL RATA-UMUR

Gambar 2. Diagram Lingkar Sebab-Akibat Sistem Ketersediaan Beras

List Program Dynamo :


NOTE PROGRAM DINAMIK KETERSEDIAAN BERAS
L BERAS.K=BERAS.J+(DT)(LPS.JK-LKS.JK+LPB.JK-LPJ.JK)
N BERAS=BERAS1
NOTE BERAS= JUMLAH BERAS YANG TERDAPAT DI KABUPATEN(kg)
L PENDUDUK.K=PENDUDUK.J+(DT)(LKL.JK-LKM.JK)
N PENDUDUK=PENDUDUK1
NOTE PENDUDUK= JUMLAH PENDUDUK(Orang)
R LPB.KL=CPB
NOTE LPB= LAJU PENGIRIMAN BERAS DARI KOTA LAIN(kg/tahun)
C CPB=
NOTE CPB= KONSTANTA PENGIRIMAN BERAS(kg/thn)
R LPJ.KL=CPJ
NOTE LPJ= LAJU PENJUALAN BERAS(kg/thn)
C CPJ=
NOTE CPJ= KONSTANTA PENJUALAN BERAS(kg/thn)
R LPS.KL=PROD*LUAS*EFF1*EFF2*IP
NOTE LPS= LAJU PRODUKSI SENDIRI(kg/thn)
C PROD=
NOTE PROD= PRODUKTIVITAS SAWAH(kg/Ha)
C LUAS=
NOTE LUAS= LUAS AREAL SAWAH YANG DITANAMI(Ha)
C EFF1=
NOTE EFF1= EFISIENSI PEMBERASAN(Tidak bersatuan)
C EFF2=
11

NOTE EFF2= RENDEMEN PENGERINGAN GABAH(Tidak bersatuan)


C IP=
NOTE IP= INDEKS PERTANAMAN(kali/thn)
R LKS.KL=(KKH_A*PKK.K+KKH_B*PKC.K+KKH_C*PKLC.K)*HPT
NOTE LKS= LAJU KONSUMSI BERAS(kg/thn)
C KKH_A=
NOTE KKH_A= KONSUMSI BERAS HARIAN PENDUDUK
KESEJAHTERAAN KURANG(kg/hari)
C KKH_B=
NOTE KKH_B= KONSUMSI BERAS HARIAN PENDUDUK
KESEJAHTERAAN CUKUP(kg/hari)
C KKH_C=
NOTE KKH_C= KONSUMSI BERAS PENDUDUK KESEJAHTERAAN
LEBIH DARI CUKUP(kg/hari)
C HPT=
NOTE HPT= JUMLAH HARI DALAM SATU TAHUN(hari/thn)
R LKL.KL=PENDUDUK.K*FPWKL
NOTE LKL= LAJU KELAHIRAN PENDUDUK(Orang/Thn)
C FPWKL=
NOTE FPWKL= FRAKSI KELAHIRAN PER TAHUN(tahun-1)
R LKM.KL=PENDUDUK.K/RATA_UMUR
NOTE LKM= LAJU KEMATIAN PENDUDUK(Orang/Thn)
C RATA_UMUR=
NOTE RATA_UMUR= RATA-RATA UMUR PENDUDUK(Tahun)
A PKK.K=PENDUDUK.K*P_PKK
NOTE PKK= JUMLAH PENDUDUK KESEJAHTERAAN KURANG(Orang)
C P_PKK=
NOTE P_PKK= FRAKSI PENDUDUK KESEJAHTERAAN KURANG(tidak
bersatuan)
A PKC.K=PENDUDUK.K*P_PKC
NOTE PKC= JUMLAH PENDUDUK KESEJAHTERAAN CUKUP(Orang)
C P_PKC=
12

NOTE P_PKC= FRAKSI PENDUDUK KESEJAHTERAAN CUKUP(tidak


bersatuan)
A PKLC.K=PENDUDUK.K*P_PKLC
NOTE PKLC= JUMLAH PENDUDUK KESEJAHTERAAN LEBIH DARI
CUKUP(Orang)
C P_PKLC=
NOTE P_PKLC= FRAKSI PENDUDUK KESEJAHTERAAN LEBIH DARI
CUKUP(tidak bersatuan)
SAVE BERAS,PENDUDUK,LPB,LPJ,LPS,LKS,LKL,LKM
SPEC DT=1/LENGTH=10/SAVPER=1/PRTPER=1/PLTPER=1

Laju Produksi Sendiri (LPS)

Laju produksi sendiri merupakan kemampuan Kabupaten Pesisir Selatan


dalam menghasilkan padi dan beras dalam tiap tahunnya. Jumlah produksi beras
yang terdapat di Kabupaten Pesisir Selatan dihitung berdasarkan tingkat
produktivitas sawah per hektarnya, jumlah areal sawah yang ditanami, indeks
pertanaman yang diartikan berapa kali sawah ditanami dalam satu tahun serta
efisiensi total penggilingan gabah menjadi beras. Laju produksi sendiri ini
dihitung dengan rumus :
LPS = A x P x IP x η1 x η2 …………………………(1)
dengan :
LPS = laju produksi sendiri (kg/ tahun)
A = luas sawah (Ha)
P = produktivitas sawah (kg gabah kering panen/ Ha)
IP = intensitas tanam (kali/thn)
η1 = efisiensi penggilingan beras (kg beras/ kg gabah)
η2 = efisiensi pengeringan gabah
13

Efisiensi penggilingan beras diartikan sebagai perbandingan dari beras


sosoh yang dihasilkan dengan bahan baku/ gabah kering giling (GKG) yang
dimasukkan ke penggilingan. Nilai efisiensi penggilingan dari gabah kering
menjadi beras dapat dihitung berdasarkan rumus:
Berat beras sosoh
η1 = Berat Gabah Kering Giling x 100 % ……………………….(2)

Laju Konsumsi (LKS)

Laju konsumsi merupakan jumlah beras yang dikonsumsi oleh penduduk


Kabupaten Pesisir Selatan dalam tiap tahunnya. Laju konsumsi ini dipengaruhi
oleh seberapa banyak jumlah beras yang dikonsumsi oleh tiap orang dalam satu
hari dalam tiap tahunnya. Laju konsumsi didasarkan jumlah konsumsi penduduk
dengan tingkat kesejahteraan kurang, yang makan dua kali sehari, jumlah
konsumsi penduduk dengan tingkat kesejahteraan cukup dan jumlah konsumsi
penduduk dengan tingkat kesejahteraan lebih dari cukup, yang makan tiga kali
sehari. Konsumsi beras rata-rata dari data yang diperoleh ditunjukkan bahwa
penduduk mengkonsumsi 8,8 kg beras per bulannya. Hasil jumlah laju konsumsi
dapat dihitung dengan rumus :
LKS = { (PKK x KKH_A) + (PKC x KKH_B) + (PKLC x KKH_C) }
x HPT……………………………………………….(3)
dengan :
LKS = Laju konsumsi penduduk (kg/ tahun)
PKK = Jumlah penduduk tingkat kesejahteraan kurang (orang)
KKH_A = Konsumsi penduduk tingkat kesejahteraan kurang per hari
(kg/hari)
PKC = Jumlah penduduk dengan tingkat kesejahteraan cukup
(orang)
KKH_B = Konsumsi penduduk tingkat kesejahteraan cukup per hari
(kg/hari)
PKLC = Penduduk tingkat kesejahteraan lebih dari cukup (orang)
14

KKH_C = Konsumsi penduduk tingkat kesejahteraan lebih dari cukup


per hari (kg/hari)

Jumlah Penduduk

Struktur penduduk merupakan aspek yang statis, merupakan gambaran


atau potret dari hasil sensus penduduk pada hari sensus tertentu. Sesudah sensus
tersebut penduduk akan berubah dari basis penduduk tadi. Unsur-unsur
kependudukan merupakan unsur-unsur yang dinamis yang terdiri dari kelahiran,
kematian, dan migrasi. Penelitian ini menghitung jumlah penduduk berdasarkan
laju kelahiran dan laju kematian penduduk Kabupaten Pesisir Selatan dalam tiap
tahunnya. Laju kelahiran dihitung dari perbandingan jumlah bayi yang lahir
dengan jumlah total penduduk pada tahun itu. Laju kematian dihitung berdasarkan
rata-rata umur penduduk yang dilihat dari angka harapan hidup. Angka harapan
hidup adalah angka yang menggambarkan rata-rata umur yang bisa dicapai oleh
seorang bayi yang baru lahir. Angka ini erat kaitannya dengan angka kematian
bayi dan angka kematian balita. Semakin rendah angka kematian bayi dan balita
maka semakin tinggi angka harapan hidupnya. BPS Psisir Selatan mencatat bahwa
angka harapan hidup untuk penduduk Pesisir Selatan tahun 2004 adalah 66,2
tahun.

Asumsi

Dalam pendugaan permintaan dan persediaan (supply and demand) dari


tahun 2003 tersebut diasumsikan :
1. Nilai konversi dari gabah kering menjadi beras relatif tetap
2. Nilai produktifitas lahan untuk tanaman relatif tetap
3. Luas areal lahan relatif tetap
4. Intensitas penanaman relatif tetap
5. Konsumsi beras per kapita untuk setiap tingkat kesejahteraan relatif tetap
6. Persentase jumlah penduduk berdasarkan tingkat kesejahteraan relatif tetap
7. Konversi gabah dari gabah kering panen menjadi gabah kering giling adalah
tertentu. Kadar air gkp = 25 % w.b, kadar air gkg = 13 % w.b, sehingga
efisiensinya = 88 %.
15

8. Rendemen giling = 64 %
9. Perpindahan penduduk dianggap sama, penduduk datang sama dengan
penduduk pergi.
16

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian simulasi sistem dinamik terhadap ketersediaan beras di


Kabupaten Pesisir Selatan ini dihitung dengan menggunakan dua cara, yakni
melalui metoda simulasi pada komputer dengan program dynamo compiler, serta
melalui perhitungan secara manual dengan menggunakan kalkulator sebagai alat
penghitung. Perhitungan dalam penelitian ini menggunakan angka-angka yang
merupakan faktor ideal tanpa memperhatikan adanya gangguan terhadap produksi
yang meliputi bencana alam, hama dan penyakit serta faktor iklim. Data yang
digunakan hanya untuk perhitungan simulasi, belum merupakan data yang
sebenarnya.
Perhitungan Laju Produksi Sendiri
Perhitungan terhadap Laju Produksi Sendiri ini didasarkan pada data
yang terdapat dalam buku Pesisir Selatan dalam Angka 2002 dan buku Pesisir
Selatan dalam Angka 2003. Perhitungan Laju Produksi Sendiri ini merupakan
hasil perkalian terhadap faktor-faktor penanaman, yang terdiri dari luas lahan
yang ditanami, produktivitas sawah, indeks penanaman, serta efisiensi
pengeringan gabah dan efisiensi penggilingan beras.
Luas lahan di sini adalah luas panen padi sawah dan luas panen padi
ladang dalam Ha/ unit waktu. Produktivitas adalah hasil gabah per hektar lahan,
baik lahan sawah ataupun lahan ladang (ton gabah kering per ha). Untuk
menghitung suplai beras, ditunjukkan bahwa produktivitas lahan sawah pada
tahun 2003 adalah 2,2x105 ton gabah kering per hektar, dan prodiktivitas lahan
ladang adalah sebesar 374 ton gabah kering per hektar. Hal ini dikarenakan usaha
tanam padi ladang hanya dilakukan di beberapa daerah saja.
Efisiensi pengeringan gabah adalah rendemen pengeringan gabah dari
gabah kering panen (GKP) menjadi gabah kering giling (GKG). Efisiensi
pemberasan adalah rendemen hasil penggilingan gabah menjadi beras.
Indeks penanaman padi dilakukan sebanyak 1-3 kali dalam setahun,
sehingga dalam hal ini dilakukan tiga kali perhitungan, yaitu untuk indeks
penanaman 1 kali setahun, 2 kali setahun dan untuk indeks penanaman 3 kali
17

setahun. Untuk mengetahui perbedaan angka laju produksi dengan indeks


penanaman 1 kali, 2 kali dan 3 kali setahun tersebut, dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Laju Produksi dengan Nilai Indeks Penanaman Berbeda
Indeks Penanaman (kali) Laju Produksi (kg/thn)
1 1,23x108
2 2,45x108
3 3,67x108

Dari Tabel 2 tersebut dapat diketahui bahwa, semakin sering dilakukannya


penanaman, maka akan didapatkan semakin tingginya angka laju produksi beras
sendiri. Angka yang diperoleh tersebut juga digunakan untuk perhitungan melalui
simulasi, dengan menggunakan nilai indeks penanaman yang paling sering
dilakukan yakni 2 kali penanaman dalam setahun. Grafik peningkatan angka laju
produksi yang dibedakan atas indeks penanaman dapat dilihat pada Gambar 3.
Peningkatan angka laju produksi menunjukkan nilai koefisien deterministik = 1,
dengan regresi linier y = 108 x + 0 ,0667 dengan y (laju produksi, kg/thn) dan x
(indeks penanaman, kali).

400000000
y = 1E+08x + 0.0667
350000000 R2 = 1
Laju Produksi (kg/thn)

300000000
250000000 Indeks
Penanaman
200000000 Laju
150000000 Produksi
Linear (Laju
100000000 Produksi)
50000000
0
1 2 3
Indeks Penanaman (kali)

Gambar 3. Grafik Angka Laju Produksi Sendiri

Dalam perhitungan ini diasumsikan bahwa jumlah produksi beras di


Kabupaten Pesisir Selatan adalah sama, yakni sebesar 2,45x108 kg/ tahun, dengan
nilai produktivitas, luas lahan, indeks penanaman dan efisiensi adalah tetap,
sehingga diperoleh angka laju produksi yang sama setiap tahunnya. Angka yang
18

diperoleh ini juga dimasukkan ke dalam program dynamo untuk dilakukan


simulasi dengan komputer.
Laju Konsumsi
Perbedaan pendapatan di daerah pedesaan dan perkotaan mengakibatkan
daya beli terhadap beras juga berbeda-beda, baik dari segi kualitas maupun
kuantitasnya. Tingkat konsumsi beras per kapita adalah berbeda atas
penggolongan tingkat kesejahteraan penduduk. Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN) Pesisir Selatan menggolongkan tingkat
kesejahteraan penduduk atas tiga tingkatan, yaitu penduduk dengan tingkat
kesejahteraan kurang, yang terdiri atas kelompok keluarga pra sejahtera dan
keluarga sejahtera I, penduduk dengan tingkat kesejahteraan cukup yang
digolongkan pada kelompok KS II dan penduduk dengan tingkat kesejahteraan
lebih dari cukup yang digolongkan pada kelompok KS III dan KS III+. Dari
penelitian yang dilakukan oleh Sutanto dan Avenzora (1999), penduduk
perkotaan maupun pedesaan mengkonsumsi beras sebanyak 8,8 kg per bulannya,
dengan jumlah konsumsi per hari berbeda untuk tiap tingkatan kesejahteraan.
Penduduk dengan tingkat kesejahteraan kurang mengkonsumsi beras sebanyak
dua kali dalam sehari karena adanya keterbatasan dalam pendapatan, sedangkan
penduduk dengan tingkat kesejahteraan cukup dan lebih dari cukup mampu
mengonsumsi beras sebanyak tiga kali dalam sehari. Berdasarkan hal itu,
penduduk dengan tingkat kesejahteraan kurang mengkonsumsi beras sebanyak
0,196 kg/ kapita/ hari dan penduduk dengan tingkat kesejahteraan cukup dan lebih
dari cukup mengkonsumsi beras sebanyak 0,293 kg/ kapita/ hari. Grafik tingkat
laju konsumsi masyarakat ditunjukkan pada Gambar 4.
19

38000000

Laju Konsumsi (kg/thn)


37500000 y = -187273x + 4E+07
R2 = 0.998
37000000
36500000 LKS
36000000 Linear
35500000 (LKS)

35000000
34500000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Waktu (tahun)

Gambar 4. Grafik Laju Konsumsi Beras


Grafik angka laju konsumsi penduduk terhadap beras menunjukkan
penurunan seiring berkurangnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun. Penurunan
grafik angka laju konsumsi tersebut menunjukkan nilai koefisien deterministik =
0,998, dengan regresi linear y = -187273x + 4x107, y (laju konsumsi, kg/thn) dan
x (waktu, tahun).
Dari data jumlah penduduk berdasarkan tingkat kesejahteraannya,
tersebut dapat diambil persentase dari tiap tingkat kesejahteraan, persentase 47,11
% untuk penduduk dengan tingkat kesejahteraan kurang, 34,68 % untuk penduduk
dengan tingkat kesejahteraan cukup, dan persentase untuk penduduk tingkat
kesejahteraan lebih dari cukup adalah 18,21 %.

Jumlah Penduduk
Pertumbuhan penduduk yang dilihat dari angka laju kelahiran,
menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun. Penurunan ini disebabkan oleh
rendahnya angka fraksi laju kelahiran, yaitu hanya sebesar 0,01/ tahun. Pada awal
perhitungan angka laju kelahiran adalah sebesar 4 151,24 orang/ tahun, dan pada
tahun ke sepuluh angka laju kelahiran menurun menjadi 3 944,1 orang/ tahun.
Grafik penurunan angka laju kelahiran ditunjukkan oleh Gambar 5. Dari grafik
dapat dilihat bahwa penurunan angka laju kelahiran menunjukkan nilai koefisien
deterministik = 1, dengan y = -20,713x + 4171,1 dengan y (laju kelahiran,
orang/tahun) dan x (waktu, tahun).
20

4200

Laju Kelahiran (orang/tahun)


4150 y = -20.713x + 4171.1
4100 R2 = 1
4050
4000 LKL
3950
3900 Linear
3850 (LKL)
3800
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Waktu (tahun)

Gambar 5. Grafik Angka Laju Kelahiran


Angka laju kelahiran dihitung berdasarkan jumlah bayi yang lahir dalam
setahun dibagi dengan jumlah penduduk pada tahun itu. Penurunan angka jumlah
penduduk juga menyebabkan berkurangnya angka laju kematian. Angka laju
kematian dihitung dari pembagian antara jumlah penduduk dengan rata-rata umur
penduduk, yakni dengan angka harapan hidup penduduk Pesisir Selatan yang
dianggap sampai pada umur 66,2 tahun. Laju kematian penduduk pada awal
perhitungan adalah sebesar 6 270,76 orang/ tahun, pada tahun ke sepuluh angka
laju kematian menjadi 5 957,84 orang/ tahun. Berkurangnya jumlah peduduk di
Kabupaten Pesisir Selatan, juga mengakibatkan berkurangnya tingkat konsumsi
masyarakat, terutama beras. Penurunan angka laju kematian penduduk
ditunjukkan oleh Gambar 6. Grafik penurunan angka laju kematian menunjukkan
penurunan secara linear, yakni dengan nilai koefisien deterministik = 0,9999
dengan nilai y = -31,294x + 6300,9 y (laju kematian, orang/tahun) dan x (waktu,
tahun).
21

6300

Laju Kematian (orang/tahun)


6200 y = -31.294x + 6300.9
R2 = 0.9999
6100
6000 LKM

Linear
5900
(LKM)
5800
5700
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Waktu (tahun)

Gambar 6. Grafik Angka Laju Kematian


Laju Pembelian dan Penjualan
Laju pembelian dihitung dari jumlah beras yang dibeli dari kota lain oleh
salah satu pedagang yang ada di ibu kota kabupaten. Beras yang dibeli berasal
dari Kota Solok dan Batusangkar, dengan total jumlah mencapai 4x10 3 kg/
minggu, atau setara dengan 2,1x105 kg/ tahun, sedangkan untuk laju penjualan
beras kabupaten ke kota lain dianggap nol (0).
Hasil Simulasi pada Kondisi Beras Mulu-Mula = 0
Pada kondisi ini jumlah beras mula-mula di Kabupaten Pesisir Selatan
dianggap sama dengan nol, artinya tidak ada beras di Kabupaten Pesisir Selatan
pada waktu itu. Laju pembelian dan penjualan juga dianggap sama dengan nol.
Dengan angka laju produksi yang tetap, jumlah beras pada sepuluh tahun yang
akan datang didapatkan terus meningkat, hal ini disebabkan karena angka laju
produksi yang tinggi dan jumlah penduduk yang semakin menurun. Jumlah beras
pada awal perhitungan adalah sebanyak 0 kg, pada tahun ke sepuluh dengan
adanya peningkatan jumlah produksi, diperoleh jumlah beras menjadi 2,09x109
kg. Grafik hasil simulasi dengan kondisi beras mula-mula adalah nol dapat dilihat
pada Gambar 7. Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan
jumlah beras dari tahun ke tahun yang menunjukkan peningkatan dengan nilai
koefisien deterministik = 1, dengan nilai y = 2x108 x – 2x108 , y (jumlah beras,
kg) dan x(waktu).
22

2500000000
y = 2E+08x - 2E+08
R2 = 1
2000000000
Jumlah Beras (kg)

LPS
1500000000

1000000000 BERAS

500000000
Linear
(BERAS)
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
-500000000
Waktu (tahun)

Gambar 7. Grafik Hasil Simulasi dengan Kondisi Awal = 0

Hasil Simulasi Jika Ada Beras yang Dijual ke Luar Kabupaten


Pada kondisi ini, jumlah beras mula-mula dan angka laju pembelian
ditetapkan sama dengan nol, dan angka laju penjualan dimisalkan 103 ton/ tahun
atau 106 kg/ tahun. Dari hasil simulasi yang dilakukan, didapatkan bahwa jumlah
beras pada masa sepuluh tahun yang akan datang juga terus meningkat, hal ini
juga disebabkan oleh tingginya angka laju produksi dan menurunnya angka
jumlah penduduk. Jumlah beras mula-mula adalah 0 kg, pada akhir perhitungan
jumlah beras menjadi 2,08x108 kg. Grafik hasil simulasi jika ada beras yang dijual
di luar Kabupaten dapat dilihat pada Gambar 8. Hubungan antara jumlah beras
setelah dijual ke luar Kabupaten Pesisir Selatan (y, kg) dengan waktu (x, tahun)
adalah y = 2x108 x – 2x108 , dengan koefisien deterministik r2 = 1, y (jumlah
beras, kg) dan x (waktu).
23

2500000000
y = 2E+08x - 2E+08
R2 = 1
2000000000
Jumlah Beras (kg)

1500000000 LPJ

1000000000 BERAS

500000000
Linear
0 (BERAS)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
-500000000
Waktu (tahun)

Gambar 8. Grafik Hasil Simulasi jika Ada Beras yang Dijual ke Luar
Kabupaten

Simulasi selama 1 Abad (100 tahun)


Hasil simulasi yang dilakukan untuk masa selama 100 tahun juga
menunjukkan peningkatan jumlah beras di Kabupaten Pesisir Selatan. Simulasi ini
menggunakan angka-angka yang sama dengan simulasi selama 10 tahun yang
juga menunjukkan adanya peningkatan jumlah beras tiap tahunnya. Jumlah beras
pada awal perhitungan adalah sebanyak 2,18x108 kg menjadi 2,18x1010 kg pada
100 tahun berikutnya. Grafik hasil simulasi untuk jangka waktu 100 tahun dapat
dilihat pada Gambar 9. Dari grafik dapat dilihat bahwa peningkatan jumlah beras
hasil simulasi selama 1 Abad menunjukkan peningkatan secara linier, yakni
dengan nilai koefisien deterministik (r2) = 0,9999 dengan persamaan regresi antara
jumlah beras (y, kg) dan waktu (x, tahun) adalah y = 2x109 x – 2x109.
24

25000000000 y = 2E+09x - 2E+09


R2 = 0.9999

20000000000 LKS
Jumlah Beras (kg)

LPB
15000000000
LPJ

LPS
10000000000
BERAS
5000000000 Linear
(BERAS)
0
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Waktu (tahun)

Gambar 9. Grafik Hasil Simulasi Ketersediaan Beras selama Satu Abad


25

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Dari hasil pengolahan data yang dilakukan dengan metode simulasi
terhadap ketersediaan beras di Kabupaten Pesisir Selatan dapat disimpulkan
bahwa :
1. Jumlah penduduk di Kabupaten Pesisir Selatan mengalami penurunan di
setiap tahunnya. Hal ini disebabkan oleh rendahnya angka fraksi laju
kelahiran yakni 0,01/ tahun yang juga menyebabkan rendahnya angka laju
kematian.
2. Laju konsumsi masyarakat Pesisir Selatan mengalami penurunan seiring
dengan menurunnya jumlah penduduk. Jumlah konsumsi masyarakat
terhadap beras rata-rata mencapai 8,8 kg/ bulan. Angka laju produksi
didapatkan sama setiap tahunnya, tanpa memperhitungkan adanya
gangguan terhadap faktor produksi, yakni sebesar 2,45x108 kg/ tahun. Dari
angka laju produksi, laju pengiriman beras yang tetap pada setiap
tahunnya dan laju penjualan beras Kabupaten ke Kota lain dianggap nol,
serta semakin berkurangnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun,
diperoleh adanya peningkatan jumlah beras yang terdapat di Kabupaten
Pesisir Selatan.
3. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari simulasi terhadap jumlah beras di
Kabupaten Pesisir Selatan dan terhadap jumlah penduduk di Kabupaten
Pesisir Selatan diketahui bahwa terjadinya peningkatan jumlah beras dari
tahun ke tahun, sehingga Pesisir Selatan tidak perlu lagi mendatangkan
beras dari Kota lain dan Pesisir Selatan juga dapat menjual berasnya ke
Kota lain setelah terpenuhinya kebutuhan akan beras dari waktu ke waktu.
Saran
Dari hasil penelitian ini disarankan agar penduduk dapat meningkatkan
kualitas dari jenis beras yang ditanam, sehingga mampu bersaing dengan daerah
lain, dalam hal produksi dan penjualan beras. Untuk peneliti selanjutnya
disarankan untuk mengkaji laju konsumsi masyarakat berdasarkan tingkat umur
sehingga lebih mudah dalam penghitungan angka laju konsumsi masyarakat
tersebut.
26
27

DAFTAR PUSTAKA
Affandi, Ahmad. 1988. Laporan Menteri Masa Bakti 1983-1988. Jakarta.
Afif, Saleh. 1992. Kebijaksanaan Pangan dalam Pembangunan Jangka Panjang
Ke Dua. Info Pangan dan Gizi, Vol. III. No. 3. 1993. Depkes RI.

Aisman. 1994. Analisis Sistem Distribusi Fisik Beras. Fakultas Pertanian.


Universitas Andalas. Padang.

______. 1995. Analisis Sistem Swasembada Beras. Fakultas Pertanian.


Universitas Andalas. Padang.

Arga, W. 1985. Dinamik dan Integer Programming. BPFE. Yogyakarta

Badan Pusat Statistik Kabupaten Pesisir Selatan. 2002. Pesisir Selatan Dalam
Angka. BPS Kabupaten Pesisir Selatan.

______. 2003. Pesisir Selatan Dalam Angka. BPS Kabupaten Pesisir Selatan.

______. 2004. Indikator Kesejahteraan Rakyat Pesisir Selatan. Kerjasama Badan


Perencanaan Pembangunan Daerah dengan BPS Pessel.

______. 2004. Pesisir Selatan Dalam Angka. BPS Kabupaten Pesisir Selatan.

Badan Pusat Statistik Propinsi Sumatera Barat. 2002. Sumatera Barat Dalam
Angka. BPS Propinsi Sumatera Barat.

______. 2003. Perkembangan Sektor Pertanian Sumatera Barat. BPS Sumatera


Barat.

______. 2003. Sumatera Barat Dalam Angka. BPS Propinsi Sumatera Barat.

Darsono, H. Mulyo dan Roswita. 1992. Beberapa Tindakan Menghadapi


Kelebihan Beras. Info Pangan dan Gizi, Vol. III, No. 2. 1992.
Departemen Kesehatan RI.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1993. Bahan Penataran P-4 1996/


1997. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Djojomartono, Moeljarno. 1993. Dalam Santosa. 2004. Pengantar Analisis


Sistem. Jilid I. Fakultas Pertanian. Universitas Andalas.

Esmay, M.L 1981. Pendekatan Sistem Pertanian untuk Mekanisasi Tepat Guna
pada Petani Kecil. Dalam : Seminar Regional Mekanisasi Tepat Guna
untuk Pengembangan Pedesaan yang Dikaitkan pada Pertanian Rakyat
di Asean. Departermen Mekanisasi Pertanian. Fatemata IPB. Bogor.

Gordon, Geoffrey. 1980. System Simulation. Prentincehal of India Privare limited.


New Delhi.
28

IRRI. 2001. Sekilas Kerja Sama Indonesia-IRRI Dampak dan Tantangan ke


Depan. IRRI.
Jalal, Fasli. 1992. Kebijaksanaan dari Program Pemerintah di Bidang
Penganekaragaman Pangan. Info Pangan dan Gizi, Vol. III. No. 2.
1992. Depkes RI.

Kakiay, Thomas J. 2003. Pengantar Sistem Simulasi. Andi. Yogyakarta.

Marhillong, F. A. 2002. Situasi dan Kondisi Panen Padi/ Gabah 1998-2002. BPS
Sumatera Barat.

Morrow. 1981. Analisa Sistem Industri Pangan. Institut Pertanian Bogor.

Mulyono, Sidik. 1981. Dalam Aisman. 1994. Analisis Sistem Distribusi Fisik
Beras. Fakultas Pertanian. Universitas Andalas.

Santosa. 2004. Pengantar Analisis Sistem. Jilid I. Fakultas Pertanian. Universitas


Andalas. Padang.

Santosa. 2005. Simulasi Dinamik dengan Dynamo Compiler. Jurnal Teknologi


Pertanian Andalas. Volume 9 No. 1 September 2005 : 22-30.

Sediaoetomo, A. D. 1989. Ilmu Gizi. Penerbit Dian Rakyat. Jakarta.

Simatupang, Pantjar. 2000. Dalam Taifur, W. D. 2005. Kemiskinan Mengikut


Sektor Pekerjaan dan Daerah di Provinsi Sumatera Barat, Indonesia.
Fakulti Ekonomi dan Pentadbiran. Universiti Malaya. Kuala Lumpur

Suharjo. 1992. Analisis Tipologi Makanan Pokok. Info Pangan dan Gizi, Vol. III.
No. 2. 1992. Depkes RI.

Suparyono dan Agustiono. 1993. Padi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sutanto, A. dan Avenzora, A. 1999. Pengukuran Tingkat Kemiskinan di Indonesia


1976-1999: Metoda BPS. Badan Pusat Statistik Jakarta.

Taha, A. Hamdy. 1987. Operations Research an Introduction. Fourth edition.


Macmillan Publishing Company. New York. 876 pp.

Taifur, W. D. 2005. Kemiskinan Mengikut Sektor Pekerjaan dan Daerah di


Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Fakulti Ekonomi dan Pentadbiran.
Universiti Malaya. Kuala Lumpur.

Winarno, F. G. 1981. Padi dan Beras. Puslitbang Teknologi Pangan. Institut


Pertanian Bogor
29

Catatan :
Makalah ini sebagian dari skripsi, dengan pembimbing Dr. Ir. Santosa, MP dan
Andasuryani, S.TP, MP, diuji pada tahun 2006, di Program Studi Teknik
Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas,
Padang.