Anda di halaman 1dari 108

DRAFT

Januari 2011
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.......................................................................................................................... i

PENGANTAR ..................................................................................................................... iii

BAB I ................................................................................................................................... 1

KETENTUAN UMUM........................................................................................................... 1

1. Peran TNI AD............................................................................................................ 1

2. Kemampuan TNI AD................................................................................................. 2

3. Pengertian Operasi ................................................................................................... 3

4. Azas Perang ............................................................................................................. 4

5. Tataran Perang ......................................................................................................... 7

6. Konflik dan Operasi Militer ........................................................................................ 9

BAB II ................................................................................................................................ 15

HAKIKAT OPERASI .......................................................................................................... 15

7. Umum ..................................................................................................................... 15

8. Pengaruh Lingkungan Strategis Terhadap Penyelenggaraan Operasi ................... 15

9. Hakekat ancaman ................................................................................................... 16

10. Kerangka berpikir operasional............................................................................. 20

11. Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Operasi ................................................... 24

BAB III ............................................................................................................................... 29

OPERASI DARAT ............................................................................................................. 29

12. Daya Tempur....................................................................................................... 29

13. Sistem Operasi TNI AD ....................................................................................... 30

14. Jenis-Jenis Operasi Darat ................................................................................... 33

15. Penggunaan Jenis-Jenis Operasi Darat.............................................................. 41

BAB IV ............................................................................................................................... 54

OPERASI DARAT DALAM KAMPANYE MILITER ............................................................ 54

16. Pengertian Kampanye Militer .............................................................................. 54


ii

17. Pengalaman Kampanye Militer di Indonesia ....................................................... 55

18. Perencanaan Kampanye Militer .......................................................................... 63

BAB V ................................................................................................................................ 77

KOMANDO DAN PENGENDALIAN................................................................................... 77

19. Umum.................................................................................................................. 77

20. Konsep Dasar Tentang Komando dan Pengendalian ......................................... 77

21. Penyelenggaraan Komando dan Pengendalian dalam Operasi.......................... 85

22. Tataran Kewenangan Komando dan Pengendalian Operasi TNI AD.................. 91

23. Pengorganisasian................................................................................................ 92

BAB VI ............................................................................................................................... 96

LOGISTIK .......................................................................................................................... 96

24. Umum.................................................................................................................. 96

25. Karakteristik Logistik Operasi .............................................................................. 96

26. Prinsip-prinsip Dukungan Logistik ....................................................................... 97

27. Perencanaan Dukungan Logistik......................................................................... 98

28. Persiapan Dukungan Logistik.............................................................................. 99

29. Penyelenggaraan Dukungan Logistik................................................................ 100

30. Pengendalian Dukungan Logistik ...................................................................... 103


iii

PENGANTAR

Secara sederhana operasi dapat diartikan sebagai kegiatan yang tidak rutin dan
dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam konteks militer, operasi
adalah penggunaan kekuatan militer dalam rangka mencapai tujuan strategis yang
disusun dalam suatu rancang bangun operasi dan dilakukan dengan menyelenggarakan
operasi-operasi taktis, operasi-operasi besar maupun kampanye militer dalam batas ruang
dan waktu yang telah ditetapkan.

Operasi militer tidak dilakukan dalam ruang hampa, tetapi berada dalam suatu
lingkungan operasi yang kompleks dan dinamis. Lingkungan tersebut telah berkembang
sedemikian cepat dan ditandai dengan perubahan karakteristik konflik serta hakekat
ancaman. Perubahan-perubahan ini memerlukan sistem dan metode operasi militer yang
lebih adaptif agar penggunaan kekuatan militer dapat mencapai tujuan dan sasaran yang
ditetapkan secara efektif dan efisien.
Dengan memahami dinamika perkembangan lingkungan operasi, TNI AD telah
melakukan perubahan-perubahan mendasar pada semua aspek, diantaranya perubahan
doktrin operasional. Selain bersumber dari pengalaman perang sendiri, doktrin
operasional juga perlu menjadikan pengalaman perang bangsa lain sebagai sumber
sekunder karena perang adalah bagian dari peradaban manusia yang bersifat universal.
Dengan demikian maka doktrin operasional TNI AD dapat dijadikan pedoman dalam
penyelenggaraan operasi secara efektif.
Buku petunjuk lapangan tentang operasi TNI AD ini merupakan salah satu doktrin
operasional yang disusun dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang berkaitan
dengan operasi militer, khususnya operasi darat. Penulisan buku petunjuk ini merangkum
berbagai pengalaman operasi TNI AD pada masa lalu dan pengalaman operasi militer
negara-negara lain. Maksud pembuatan buku ini adalah untuk memberikan pemahaman
tentang kondisi lingkungan strategis dan dampak yang ditimbulkan dalam kaitannya
dengan perencanaan operasi militer. Pembuatan buku ini juga dimaksudkan untuk
memenuhi kebutuhan referensi bagi pengembangan ilmu militer di Indonesia. Buku ini
tidak bermaksud mengatur para perencana operasi militer, tetapi lebih sebagai salah satu
sumber informasi yang dapat memberikan inspirasi dalam rangka perencanaan operasi
militer.
BAB I
KETENTUAN UMUM

Bahwa Indonesia tidak cukup dipertahankan oleh tentara saja,


maka perlu sekali mengadakan kerja sama yang seerat-
eratnya dengan golongan serta badan-badan di luar tentara…
Panglima Besar Jenderal Sudirman

1. Peran TNI AD
Sesuai amanat UU RI Nomor 34 Tahun 2004, TNI berperan sebagai alat negara
dibidang pertahanan yang dalam melaksanakan tugasnya berdasarkan kebijakan dan
keputusan politik negara. Peran tersebut diwujudkan dalam rangka mendukung salah satu
kewajiban negara, yaitu menjamin keamanan negara dan keselamatan bangsa. Untuk
melaksanakan kewajiban tersebut, negara memberikan tugas konstitusional kepada TNI
untuk menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah serta melin-
dungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan
terhadap keutuhan bangsa dan negara.
Dari uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa peran suatu organisasi ada,
karena diperlukan untuk mendukung keberhasilan tugas pokok organisasi induknya.
Dengan demikian peran TNI AD juga ada, karena diperlukan untuk mendukung
keberhasilan tugas pokok TNI. Dihadapkan dengan tugas pokok TNI, maka TNI AD
berperan sebagai penangkal dan penindak terhadap setiap bentuk ancaman militer dan
ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah
dan keselamatan bangsa serta sebagai pemulih terhadap kondisi keamanan negara di
darat yang terganggu akibat kekacauan keamanan
Setiap perencana operasi di lingkungan TNI AD harus memahami peran tersebut
dan menjadikannya sebagai salah satu pertimbangan dalam menyusun setiap rencana
operasi, sehingga setiap operasi yang dilaksanakan satuan-satuan TNI AD dapat
memberikan andil bagi terlaksananya tugas pokok TNI. Pada tataran operasional, peran
TNI AD dijabarkan dalam tugas-tugas operasi, baik dalam rangka operasi militer untuk
perang maupun operasi militer selain perang. Tugas-tugas operasi yang dilakukan dalam
rangka mendukung tugas pokok TNI AD adalah:
 Perang terbatas menghadapi kekuatan militer negara lain yang melakukan pelanggaran
wilayah perbatasan di darat.
 Perang gerilya menghadapi kekuatan militer negara lain yang melakukan agresi militer.
 Mengatasi gerakan separatisme bersenjata.
 Mengatasi pemberontakan bersenjata.
 Mengatasi aksi terorisme.
 Mengamankan wilayah perbatasan di darat.
 Mengamankan objek vital nasional yang bersifat strategis.
 Melaksanakan tugas perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan politik luar negeri.
 Mengamankan Presiden dan wakil presiden beserta keluarganya.
 Membantu tugas pemerintahan di daerah.
2

 Membantu kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka tugas keamanan dan
ketertiban masyarakat yang diatur dalam undang-undang.
 Membantu mengamankan tamu negara setingkat kepala dan perwakilan pemerintah
asing yang sedang berada di Indonesia.
 Membantu menaggulangi akibat bencana alam, pengungsian dan pemberian bantuan
kemanusiaan.
 Membantu pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan.
2. Kemampuan TNI AD
Peran TNI AD hanya mungkin diwujudkan apabila didukung dengan kemampuan
utama (core capabilities) yang dapat didayagunakan dalam pelaksanaan tugas-tugas
operasional yang dipercayakan kepada satuan-satuan jajaran TNI AD. Dalam Doktrin
Kartika Eka Pakçi dijelaskan bahwa kemampuan TNI AD mencakup:
a. Kemampuan Tempur. Kemampuan tempur adalah kemampuan untuk
melaksanakan pertempuran, baik pada tingkat strategis maupun taktis pada
berbagai karakter wilayah tugas, baik sebagai satuan utama operasional maupun
sebagai satuan bantuan.
b. Kemampuan Intelijen. Kemampuan intelijen adalah kemampuan untuk
melaksanakan segala usaha, pekerjaan dan kegiatan yang berkaitan dengan
penyelidikan, pengamanan dan penggalangan, baik yang bersifat strategis maupun
taktis dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas-tugas TNI AD.
c. Kemampuan Teritorial. Kemampuan teritorial adalah kemampuan untuk
melaksanakan segala usaha, pekerjaan dan kegiatan yang berkaitan dengan
penyiapan potensi wilayah menjadi kekuatan pertahanan negara di darat.
Kemampuan ini adalah kemampuan khas yang tidak dimiliki oleh organisasi militer
lain di dunia. Kemampuan ini telah melekat dalam organisasi TNI sejak perjuangan
untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara Republik Indonesia.
d. Kemampuan Pengamanan. Kemampuan pengamanan adalah kemampuan
untuk melaksanakan segala usaha, pekerjaan dan kegiatan yang berkaitan dengan
pemberian proteksi terhadap suatu obyek yang bernilai strategis yang berupa
obyek vital nasional, wilayah perbatasan, presiden dan keluarganya maupun tamu
negara setingkat kepala negara/pemerintahan yang sedang berada di wilayah
Indonesia.
e. Kemampuan Dukungan. Kemampuan dukungan adalah kemampuan diluar
kemampuan tempur, intelijen, teritorial dan pengamanan yang diperlukan untuk
mendukung keberhasilan tugas pokok TNI AD, yang meliputi:
1) Kemampuan diplomasi militer yang diperlukan untuk mencegah
keinginan permusuhan dari negara lain dan melakukan negosiasi guna
penyelesaian konflik serta memulihkan hubungan dengan negara lain
pascakonflik. Kemampuan ini dilakukan melalui upaya kerjasama militer,
terutama dibidang pendidikan dan latihan yang dimaksudkan untuk
meningkatkan saling pengertian guna menangkal keinginan untuk memulai
konflik antar negara.
2) Kemampuan penguasaan teknologi militer yang diperlukan untuk
membangun kemandirian pertahanan negara sesuai dengan doktrin
pertahanan semesta. Kemampuan ini dilakukan melalui kerjasama dengan
industri strategis nasional dibidang rekayasa teknologi terapan yang dapat
dimanfaatkan dalam pelaksanaan tugas-tugas TNI AD di lapangan.
3

3) Kemampuan manajemen yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja


organisasi agar setiap tindakan dilakukan dengan tepat dan terukur.
Kemampuan manajemen juga diperlukan untuk meningkatkan efektivitas dan
efisiensi organisasi. Dalam batas-batas tertentu, kemampuan manajemen
juga diperlukan dalam operasi militer (nontempur) guna meningkatkan
proses pengambilan keputusan.
4) Kemampuan K4IPP (komando, kendali, komunikasi, komputer,
intelijen, pengamatan dan pengintaian) yang diperlukan untuk pengendalian
kegiatan operasional agar sesuai dengan rencana dan dapat menyesuaikan
dinamika yang terjadi dalam pelaksanaan.
5) Kemampuan melaksanakan bantuan kemanusiaan dan bantuan
penanggulangan akibat bencana alam. Kemampuan ini bukan merupakan
idle capacity, tetapi kemampuan yang dibangun dan dikembangkan secara
terstruktur di lingkungan organisasi TNI AD. Letak geografis Indonesia di
lintasan lingkaran gunung berapi global mewajibkan TNI AD untuk memiliki
kemampuan siap gerak guna membantu menanggulangi akibat bencana.
6) Kemampuan melaksanakan bantuan kepada Pemda dan Polri.
Kemampuan ini disiapkan untuk membantu Pemda dalam pemberdayaan
wilayah serta untuk mengantisipasi perkembangan kondisi keamanan
masyarakat yang dapat mengancam keamanan negara dan keselamatan
bangsa.
7) Kemampuan untuk turut serta dalam upaya mewujudkan perdamaian
dunia yang abadi. Kemampuan ini dibangun dan dikembangkan secara
terkoordinir di tingkat gabungan angkatan.
3. Pengertian Operasi
Kata ‘operasi’ memiliki pengertian yang sangat luas. Kata tersebut berasal dari
bahasa Inggris ‘operate’ yang berarti melakukan suatu pekerjaan. Dalam ilmu matematika,
operasi diartikan sebagai tindakan atau prosedur untuk menghasilkan suatu nilai keluaran
dari nilai atau nilai-nilai masukan. Dalam ilmu kedokteran, operasi diartikan sebagai
tindakan medis untuk memulihkan kesehatan pasien yang dilakukan di ruang bedah.
Dalam ilmu manajemen, operasi berkaitan dengan kegiatan untuk menghasilkan barang
atau jasa yang dilakukan dalam suatu perusahaan. Dalam ilmu komputer, operasi
diartikan sebagai pelaksanaan ‘perintah’ atau ‘perintah-perintah’ dalam suatu aplikasi atau
program.
Dalam konteks militer, operasi dapat diartikan secara sederhana sebagai tindakan
yang tidak bersifat rutin. Dalam pengertian yang lebih spesifik, TNI AD mendefinisikan
operasi sebagai usaha, pekerjaan dan kegiatan satuan-satuan TNI AD untuk
melaksanakan tugas-tugas strategis, taktis maupun administratif dalam ruang dan waktu
tertentu guna mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Suatu kegiatan dapat
dikategorikan sebagai operasi apabila ada empat dimensi yaitu:
 Dimensi satuan. Operasi hanya dapat dilakukan oleh satuan, bukan perorangan. Dalam
pelaksanaannya mungkin suatu tugas operasi bisa dilakukan oleh satu atau dua prajurit,
tetapi tugas-tugas tersebut dilakukan dalam rangka pelaksanaan tugas satuan. Misalnya
tugas pengamatan dan penggambaran dalam operasi intelijen yang dilakukan oleh satu
orang prajurit.
 Dimensi tugas. Tugas bisa bersifat strategis, taktis maupun administratif. Dalam kaitan
operasi, yang dimaksud dengan tugas adalah tugas-tugas yang diberikan oleh komando
atas, bukan tugas-tugas rutin yang dilakukan atas inisiatif sendiri.
4

 Dimensi ruang dan waktu. Operasi dilakukan dalam batas-batas wilayah dan waktu
yang telah ditentukan oleh komando atas. Pengertian wilayah dapat diartikan sebagai
bagian tertentu atau seluruh wilayah NKRI sesuai keputusan yang ditetapkan komando
atas. Operasi bisa dilakukan dalam waktu satu atau beberapa hari, tetapi bisa juga
dilakukan selama beberapa tahun. Lamanya operasi dapat ditentukan dalam perintah
operasi, tetapi dapat juga ditentukan dengan menggunakan parameter tercapainya
tujuan operasi.
 Dimensi tujuan dan sasaran. Suatu operasi harus mempunyai tujuan dan sasaran yang
jelas. Tujuan adalah kondisi akhir yang ingin dicapai oleh suatu satuan yang melaksa-
nakan operasi, sedangkan sasaran adalah apa yang harus dicapai. Pada operasi taktis,
tujuan dan sasaran biasanya berimpit, misalnya operasi serangan kampung bertujuan
menghancurkan pusat Kodal pemberontak, maka sasaran serangan adalah pusat Kodal
pemberontak. Pada tataran operasional, tujuan dan sasaran tidak selalu berimpit.
Misalnya, tujuan operasi mengatasi gerakan separatis bersenjata di suatu wilayah
adalah terintegrasinya wilayah tersebut dalam NKRI, sedangkan sasaran-sasaran
operasinya bisa bermacam-macam tergantung jenis operasi yang dilaksanakan,
misalnya sasaran operasi teritorial adalah terwujudnya simpati masyarakat setempat
terhadap TNI AD, sasaran operasi tempur adalah hancurnya kekuatan bersenjata
kelompok separatis, sasaran operasi khusus adalah terbongkarnya jaring klandestin dan
sebagainya.
4. Azas Perang
Keberhasilan operasi selain ditentukan oleh keunggulan daya tempur, juga
ditentukan oleh kemampuan panglima operasi dan para komandan dalam
mengimplementasikan azas-azas perang. Azas perang adalah kaidah-kaidah yang
bersumber dari keberhasilan peperangan masa lalu. Azas perang bersifat filosofis dan
bukan merupakan aturan baku yang bersifat dogmatis, tetapi lebih sebagai pedoman yang
perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan operasi dan disesuaikan dengan situasi yang
dihadapi. Dalam hal tertentu, beberapa azas sepertinya saling tumpang tindih atau saling
bertentangan. Oleh karena itu setiap perencana dan pelaksana operasi harus
menggunakan intuisinya secara tepat untuk menilai situasi yang dihadapi di daerah
operasi. Setiap negara menggunakan azas-azas perang yang berbeda sesuai
pengalaman sejarah yang pernah dilaluinya, namun ada beberapa azas yang diadopsi
secara universal yang bersumber dari sejarah peperangan berbagai negara pada masa
lalu. Berikut ini merupakan azas perang yang berlaku universal serta azas perang khas
Indonesia yang bersumber dari sejarah perjuangan TNI dalam merebut dan
mempertahankan kemerdekaan.
a. Azas Universal
1) Azas Tujuan. Setiap operasi militer harus dilaksanakan dengan
tujuan yang jelas, realistis dan dapat dicapai. Pada saat melaksanakan suatu
operasi, panglima operasi harus mendeskripsikan secara jelas hasil yang
ingin dicapai dan dampak strategisnya. Tujuan yang jelas akan
memudahkan panglima operasi untuk memusatkan kekuatan pasukannya
pada tugas yang paling penting. Tujuan yang realistis akan meningkatkan
inisiatif satuan bawah dan perorangan. Tujuan yang dapat dicapai akan
membantu panglima operasi untuk mengalokasikan daya tempur sacara
tepat sasaran.
2) Azas Ofensif. Tindakan ofensif dilaksanakan untuk mencapai hasil
yang menentukan, memperoleh kebebasan bertindak dan cepat tanggap
terhadap perubahan situasi. Tindakan ofensif akan menghasilkan inisiatif
dan sebaliknya, inisiatif diperlukan untuk melakukan tindakan ofensif. Cara
5

efektif untuk memperoleh hasil yang menentukan adalah dengan merebut,


mempertahankan dan mengeksploitasi inisiatif. Hal ini sangat penting untuk
menjaga kebebasan bertindak yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan
pasukan sendiri dan mengeksploitasi kelemahan musuh. Dengan melaksa-
nakan ofensif maka panglima operasi akan dapat merespon setiap
perubahan situasi dan perkembangan yang tidak terduga secara efektif.
3) Azas Mobilitas. Mobilitas diperlukan untuk melaksanakan tugas
secara responsif, mengeksploitasi kebebasan bertindak, mengembangkan
hasil yang dicapai dan mencegah kehancuran pasukan sendiri. Dengan
mobilitas maka kekuatan tempur dapat dipusatkan atau disebar sedemikian
rupa sehingga menempatkan musuh dalam posisi yang tidak
menguntungkan.
4) Azas Kesatuan Komando. Setiap operasi membutuhkan kesatuan
usaha di bawah satu tanggung jawab komando. Pengerahan daya tempur
dalam operasi membutuhkan kesatuan komando di bawah satu panglima
operasi yang memimpin dan mengkoordinasikan seluruh tindakan dari
semua kekuatan. Pada operasi yang melibatkan instansi pemerintahan sipil
atau organisasi non pemerintah, seringkali wewenang komando tidak dapat
diterapkan secara efektif. Untuk itu dibutuhkan kerja sama dan koordinasi
yang ketat untuk membangun konsensus guna mencapai kesatuan
komando.
5) Azas Pemusatan. Kekuatan dipusatkan pada daerah operasi dan
sasaran tertentu untuk menjamin penyelesaian tugas yang menentukan.
Pemusatan kekuatan secara tepat akan mengacaukan musuh sehingga
tidak dapat bereaksi secara efektif. Pemusatan kekuatan tidak hanya
terbatas pada pemusatan tembakan, namun juga termasuk penggunaan
manuver secara cepat dan tepat dalam menghadapi situasi di daerah
operasi. Manakala kemampuan kita terbatas, maka pemusatan kekuatan
secara tepat akan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan menyebar
kekuatan pada wilayah yang luas.
6) Azas Penghematan. Penggunaan sumber daya dalam operasi harus
efisien tanpa mengorbankan efektivitas dalam pencapaian hasil yang
optimal. Komandan hanya mengerahkan kekuatan minimal yang diperlukan
untuk menjalankan operasi (essential force), sedangkan kekuatan yang lebih
besar dialokasikan untuk pelaksanaan operasi yang lebih menentukan.
Meskipun hal ini mengandung risiko, namun penting untuk keberhasilan
pencapaian tujuan operasi yang lebih besar.
7) Azas Keamanan. Tindakan keamanan terhadap personel, materiel
kegiatan dan bahan keteerangan dilakukan untuk mencegah rongrongan
musuh atau lawan atau akibat kelalaian. Pengamanan dimaksudkan untuk
melindungi dan memelihara kekuatan tempur sendiri. Untuk memperoleh
keamanan, panglima operasi harus melindungi pasukannya dari setiap
ancaman, gangguan, pendadakan, sabotase dan pengintaian musuh. Salah
satu faktor penting untuk memperoleh keamanan adalah tindakan
pengelabuan dan tipuan.
8) Azas Kesederhanaan. Rencana dan perintah operasi harus
sesederhana dan sejelas mungkin. Tingkat kesederhanaan akan sangat
tergantung pada situasi yang dihadapi. Rencana sederhana yang
dilancarkan tepat waktu jauh lebih baik daripada rencana yang rumit namun
terlambat dilaksanakan. Pada lingkungan operasi yang melibatkan banyak
6

unsur non militer, maka kesederhanaan menjadi sangat penting untuk


menghindari keraguan, kebingungan dan kesalahpahaman.
9) Azas Pendadakan. Pendadakan dapat memberikan keunggulan di
pihak sendiri sehingga musuh tidak dapat bereaksi secara cepat dan tepat.
Hal ini diperoleh dengan menyerang musuh pada saat dan tempat yang tidak
terduga sehingga musuh tidak siap untuk bereaksi. Faktor penting dalam
pencapaian pendadakan meliputi kecepatan, keamanan operasi dan peng-
gunaan kemampuan secara asimetris.
10) Azas Kekenyalan. Setiap operasi menuntut tingkat kekenyalan yang
tinggi. Kekenyalan akan memungkinkan panglima operasi dan para
komandan untuk menyesuaikan tindakannya terhadap perkembangan situasi
yang tidak terduga serta untuk mengeksploitasi setiap peluang yang ada
untuk memperoleh keunggulan terhadap musuh. Untuk itu, panglima operasi
dan para komandan harus dapat berpikir secara kenyal dan cepat dalam
mengambil keputusan. Kekenyalan akan diperoleh melalui perencanaan
yang sederhana, kesatuan usaha dan pemeliharaan keseimbangan.
11) Azas Kedalaman. Kedalaman akan menjamin kesinambungan ope-
rasi. Operasi yang dilakukan secara mendalam akan memberikan tekanan
terhadap musuh secara terus menerus dan menjamin kesinambungan ope-
rasi yang dilancarkan. Kedalaman operasi memungkinkan seorang panglima
operasi untuk memelihara tekanan terhadap musuh, memperoleh inisiatif
dan mengeksploitasi setiap keberhasilan yang diperoleh.
12) Azas Kesemestaan. Kesemestaan berarti seluruh kekuatan dan
sumber daya yang ada dikerahkan untuk pelaksanaan operasi. Penyeleng-
garaan berbagai operasi dilaksanakan dengan mengerahkan segenap
komponen baik militer maupun non militer guna tercapainya tujuan operasi.
13) Azas Keunggulan Moril. Keunggulan moril merupakan faktor non
fisik yang sangat menentukan keberhasilan tugas. Keunggulan moril yang
dilandasi motivasi yang kuat dapat diperoleh melalui semangat juang yang
tinggi, hubungan atasan dan bawahan yang kohesif, latihan yang keras,
dukungan yang memadai dan prosedur operasional yang jelas.
b. Azas Khusus
1) Azas Perlawanan Teratur dan Terus Menerus. Operasi dilaksana-
kan melalui serangkaian tindakan yang teratur dan terus menerus dalam
rangka memberikan perlawanan yang berkelanjutan guna mencapai tujuan
dan sasaran yang telah ditetapkan.
2) Azas Tidak Kenal Menyerah. Operasi dilaksanakan dengan motivasi
yang tinggi, kegigihan dan semangat yang tidak mengenal menyerah untuk
mencapai tujuan. Namun demikian motivasi, kegigihan dan semangat yang
tinggi tidak berarti mengabaikan keamanan yang dapat menimbulkan korban
yang sia-sia.
3) Azas Kesatuan Ideologi dan Politik. Pelaksanaan operasi harus
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta kebijakan politik negara yang
tertuang dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyeleng-
gara operasi harus memahami hal ini sehingga operasi yang dilaksanakan
tidak bertentangan dengan ideologi dan politik negara.
4) Azas Penyebaran untuk Menghindari Pemusnahan. Penempatan
pasukan dan instalasinya dilaksanakan secara tersebar, namun tetap dalam
7

jangkauan komando dan pengendalian. Penyebaran dilaksanakan untuk


menghindari kehancuran total.
5. Tataran Perang
Tataran perang pada hakekatnya adalah pembagian tingkatan peperangan. Konsep
tentang tataran perang menjelaskan hubungan antara tindakan taktis yang dilakukan oleh
pasukan di lapangan dengan tujuan strategis yang ditetapkan oleh panglima TNI. Dalam
berbagai literatur militer klasik, tataran perang dibagi menjadi dua, yaitu tataran strategis
dan taktis. Selama perang dunia kedua, konsep pembagian tataran perang tersebut masih
digunakan sebagai acuan dalam menyusun rencana kampanye militer negara-negara
sekutu. Dalam perkembangannya, tataran perang mengalami evolusi dengan
diperkenalkannya tataran operasional pada perang Korea. Sejak saat itu, negara-negara
Blok Barat membagi tataran perang menjadi tiga tingkatan, yaitu tataran strategis,
operasional dan taktis. Batas antara ketiga tingkatan tersebut tidak dapat dilihat dengan
jelas karena ketiganya memiliki keterkaitan erat. Setiap komandan harus memahami
hubungan antara tataran perang yang satu dengan tataran perang yang lain agar dapat
mengalokasikan kekuatan dan memberikan tugas-tugas secara tepat kepada satuan
bawahannya di medan pertempuran.
Dalam peperangan reguler, perbedaan antara tataran strategis, operasional dan
taktis dapat dibedakan berdasarkan tujuan yang harus dicapai. Pada tataran strategis,
kegiatan dilaksanakan untuk mencapai tujuan strategis yang ditetapkan oleh pengambil
keputusan pada tingkat nasional. Pada tataran operasional, kegiatan dilaksanakan untuk
mencapai tujuan operasional yang ditetapkan panglima operasi. Tujuan operasional
menghubungkan tindakan-tindakan satuan taktis dengan tujuan strategis. Pada tataran
taktis, kegiatan dilaksanakan untuk mencapai tujuan taktis, yaitu memenangkan pertem-
puran dalam waktu yang relatif singkat.
Dalam peperangan non reguler, tataran perang yang satu dengan tataran perang
yang lain sulit untuk dibedakan. Masing-masing tataran perang dapat saling tumpang
tindih atau menyatu dalam satu spektrum perang. Hal ini terjadi karena tindakan satuan
dapat diarahkan untuk mencapai tujuan taktis, operasional dan tujuan strategis sekaligus.
Misalnya, dalam suatu operasi, satuan taktis dapat ditugaskan untuk merebut sasaran
yang bernilai strategis. Hal ini merupakan akibat dari bersatunya beberapa front (politik,
klandestin dan militer) dalam suatu operasi. Secara sederhana, masing-masing tataran
dapat dijelaskan sebagai berikut:

Gambar-1
TATARAN PERANG
8

a. Tataran Strategis. Secara umum, strategi diartikan sebagai seni dan ilmu
mengembangkan dan menggunakan berbagai kekuatan nasional, baik dalam masa
damai maupun dalam masa perang guna mendukung pencapaian tujuan nasional
yang ditetapkan oleh politik. Strategi militer yang berasal dari kebijakan nasional
dan menjadi dasar untuk semua operasi militer. Dalam konteks perang, tataran
strategis adalah suatu tataran perang, dimana tujuan perang ditentukan oleh
pengambil keputusan pada tingkat nasional. Kegiatan pada tataran ini diarahkan
untuk mencapai tujuan strategis yang merupakan penjabaran dari kepentingan
nasional. Upaya pencapaian tujuan strategis dilakukan dengan mengerahkan
kekuatan nasional yang meliputi kekuatan militer, ekonomi, diplomasi dan
informasi. Penggunaan kekuatan militer pada tataran strategis diatur dan
dikendalikan oleh Panglima TNI.
Dalam mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan
menjamin keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman, upaya perta-
hanan negara diselenggarakan dengan strategi pertahanan berlapis. Strategi ini
bertumpu pada upaya pertahanan negara yang memadukan pertahanan militer
dengan pertahanan non militer sebagai satu kesatuan pertahanan negara yang
utuh. Karakteristik strategi pertahanan berlapis diwujudkan melalui keterpaduan
pendayagunaan lapis pertahanan militer dan lapis pertahanan non militer yang
saling menyokong dalam menghadapi setiap bentuk ancaman.
b. Tataran Operasional. Tataran operasional adalah tingkat dimana kampanye
militer dan operasi-operasi besar dilakukan secara berkelanjutan untuk mencapai
tujuan strategis dalam suatu daerah operasi. Tataran ini membentuk ‘benang
merah’ antara tindakan taktis dengan tujuan strategis. Fokus pada tingkat ini adalah
pada operasional penggunaan kekuatan militer dalam rangka mencapai tujuan
strategis melalui desain operasi, pengorganisasian daerah operasi, penyeleng-
garaan kampanye militer maupun operasi-operasi besar.
Tataran operasional berada diantara tataran strategis dan tataran taktis.
Pada tataran ini, satuan-satuan melakukan serangkaian kegiatan taktis dalam
rangka mencapai tujuan strategis. Rangkaian kegiatan tersebut dapat dilakukan
secara serentak atau berurutan dan dikendalikan oleh seorang panglima operasi di
daerah operasi dalam kurun waktu yang telah direncanakan. Kegiatan pada tataran
operasional berada dalam ruang dan waktu yang lebih luas dibandingkan dengan
tataran taktis. Dalam kaitan ini, panglima operasi membagi daerah tanggung jawab
komando operasi kepada satuan bawahannya dengan mempertimbangkan faktor
tugas, medan, musuh dan pasukan sendiri. Secara geografis, operasi dapat
dipahami sebagai perluasan dimensi ruang dan waktu dari taktik. Komandan satuan
taktis memberikan fokus pada pertempuran melawan musuh, sedangkan panglima
operasi melihat lebih luas pada dimensi ruang, waktu dan kegiatan. Upaya
panglima operasi dimaksudkan untuk menciptakan kondisi yang paling
menguntungkan bagi para komandan satuan taktis. Panglima operasi juga
mengantisipasi hasil pertempuran pada tingkat taktis dan mengeksploitasi hasil
tersebut untuk mendapatkan keuntungan operasional yang lebih besar.
c. Tataran Taktis. Kegiatan pada tataran taktis meliputi pengaturan pasukan
sendiri untuk melaksanakan pertempuran di dalam daerah operasi. Pengaturan
tersebut termasuk pengorganisasian pasukan, penempatan pasukan dan penen-
tuan bentuk manuver dihadapkan dengan kondisi medan maupun musuh. Kegiatan
pada tataran taktis dapat berupa satu atau beberapa pertempuran dalam satu
daerah operasi yang berlangsung dalam waktu relatif singkat (dalam hitungan
menit, jam atau hari).
9

Taktik adalah seni sekaligus ilmu. Aspek seni dalam taktik mencakup tiga hal
yang saling terkait, yaitu pengaturan pasukan untuk melaksanakan tugas, pengam-
bilan keputusan dalam ketidakpastian dan minimalisasi dampak pertempuran terha-
dap prajurit. Sedangkan aspek ilmu dalam taktik berkaitan dengan pengetahuan
tentang teknik, prosedur dan kemampuan pasukan sendiri maupun musuh.
6. Konflik dan Operasi Militer
Pemahaman tentang konflik akan membantu para perencana dan pelaksana
operasi militer dalam menggunakan sumberdaya yang tersedia untuk mencapai tujuan
operasi karena pada dasarnya operasi militer digelar dalam rangka mencegah, mengatasi
dan meminimalkan kerusakan akibat konflik. Saat ini dunia dipenuhi dengan konflik
kepentingan, mulai dari masalah ekonomi, politik, sosial maupun masalah lain. Dalam
menyikapi konflik tersebut, sebagian negara telah menggunakan kekerasan sebagai
sarana penyelesaian. Pada penghujung abad ke-20 sampai awal abad ke-21 sejarah
mencatat terjadinya konflik kekerasan di beberapa belahan dunia, seperti Peru–Equador,
Arab–Israel, Inggris–Argentina, Israel–Palestina dan sebagainya. Konflik seperti itu bisa
saja terjadi antara Indonesia dengan negara-negara tetangga. Bersyukur bahwa para
pemimpin negara-negara Asia Tenggara telah merintis hubungan regional yang mengikat
negara-negara anggotanya untuk mencegah konflik dan apabila tidak dapat dicegah,
maka setiap negara anggota berkewajiban menyelesaikannya dengan “cara-cara” ASEAN.
Namun dalam kenyataannya, pilihan penyelesaian dengan cara-cara damai kadang
sangat terbatas, sehingga tidak jarang negara-negara anggota menggunakan cara-cara
provokatif yang menjadikan hubungan bilateral antar negara menjadi terganggu, seperti
yang terjadi di perbatasan Thailand–Cambodia beberapa waktu lalu.
Konflik juga terjadi secara internal di dalam negeri, ketika kepentingan primordial
dan kedaerahan mengambil alih kepentingan nasional di daerah. Dengan bersembunyi di
balik demokratisasi, aktor-aktor daerah yang ingin berkuasa di luar struktur kekuasaan
yang telah terlegitimasi mencoba melakukan petualangan politik untuk mendapatkan
pengaruh dalam masyarakat dan melakukan tindakan-tindakan perlawanan terhadap
pemerintah yang sah, baik di tingkat daerah maupun pusat. Perkembangan yang terjadi di
wilayah Papua mengindikasikan adanya kepentingan daerah yang mengarah pada konflik
vertikal. Hal ini juga terjadi di Aceh dan Maluku. Semua itu membuktikan bahwa konflik
vertikal telah menjadi ancaman nyata yang harus menjadi perhatian pemerintah.
Apabila telah terjadi konflik, pemerintah berkewajiban melakukan langkah-langkah
penyelesaian yang paling beradab dengan tetap menyiapkan kemungkinan terburuk
apabila konflik tidak dapat dikendalikan dengan cara-cara tersebut. Pemahaman tentang
anatomi konflik akan membantu pemerintah dalam menyelesaikan berbagai konflik yang
mungkin terjadi secara beradab dan risiko yang seminimal mungkin. Konflik adalah
fenomena sosial yang bersifat dinamis, sulit dikendalikan dan sulit diprediksi baik tujuan,
sasaran, waktu, tempat, bentuk pelibatan dan cara-caranya. Konflik mengandung sifat
ketidakteraturan dan ketidakpastian karena berbagai faktor, antara lain faktor medan
operasi, koordinasi yang buruk, ketidakcukupan dan ketidakakuratan informasi serta
kesalahan manusia. Faktor-faktor ini saling berinteraksi sehingga tugas-tugas paling
sederhanapun menjadi sulit diselesaikan.
a. Dasar Penggolongan Konflik. Meskipun tidak ada dua konflik yang sama,
namun ada beberapa parameter yang dapat digunakan untuk menggolongkan
bentuk-bentuk konflik. Penggolongan konflik tersebut memungkinkan suatu
pengertian yang lebih mendalam tentang sifat dasar konflik dan sumber daya yang
diperlukan untuk menyelesaikannya. Untuk kepentingan penyelenggaraan operasi
militer, konflik dapat dikategorikan berdasakan parameter luas wilayah dimana
konflik terjadi, tingkat kekerasan yang digunakan oleh pihak-pihak yang terlibat dan
waktu berlangsungnya konflik.
10

1) Skala konflik. Skala konflik menggambarkan ukuran luas wilayah


dimana konflik terjadi. Konflik skala kecil biasanya melibatkan sekelompok
masyarakat di suatu wilayah karena adanya perebutan kepentingan
ekonomi, politik maupun sebab-sebab lainnya. Konflik skala kecil mudah
ditangani apabila dilakukan sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih
besar. Namun apabila penanganannya tidak dilakukan dengan benar, konflik
dapat meluas ke wilayah lain yang lebih luas. Konflik komunal bernuansa
SARA yang terjadi di Maluku merupakan contoh konflik yang meluas dengan
cepat akibat lambatnya penanganan oleh pemerintah setempat.
2) Intensitas konflik. Intensitas konflik berkenaan dengan tingkat
kekerasan dan besarnya sumber daya yang digunakan dalam konflik.
Intensitas konflik akan meningkat jika kekerasan sering terjadi dengan
menggunakan sarana kekerasan yang dapat menimbulkan korban yang
lebih besar. Tinggi rendahnya intensitas konflik sangat sulit ditentukan
karena sangat bervariasi dan tergantung dari cara-cara penggunaan
kekerasan, peralatan yang digunakan serta besar kecilnya keterlibatan
personel dalam konflik.
3) Waktu konflik. Konflik dapat berlangsung lama atau singkat,
tergantung pada besar kecilnya kepentingan yang diperjuangkan oleh
masing-masing pihak yang terlibat dalam konflik, besar kecilnya skala konflik
serta tinggi rendahnya intensitas konflik. Selain itu, lamanya konflik juga
dapat disebabkan oleh kecepatan pemerintah dalam mengangani konflik
yang timbul tahap awal terjadinya konflik. Penanganan konflik yang tidak
tepat dapat mengakibatkan konflik berlangsung lama dan dan
berkepanjangan.
Penanganan konflik tidak boleh mempertimbangkan salah satu parameter
konflik saja. Dalam konflik skala kecil, bisa saja dilakukan tindakan kekerasan
dengan intensitas tinggi sehingga dapat berkembang menjadi konflik skala besar
dalam waktu yang relatif singkat. Sebaliknya, konflik intensitas rendah mungkin
tidak dapat ditangani dengan segera dan menjadi konflik yang berkepanjangan
karena adanya perebutan kepentingan yang bersifat permanen. Oleh karena itu,
penggunaan kekuatan militer dalam penanganan konflik tidak boleh menggunakan
parameter-parameter penyebab konflik, tetapi harus dilakukan penilaian terhadap
dampak yang mungkin ditimbulkan. Manakala suatu konflik membahayakan
keamanan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa, maka pemerintah
harus mempertimbangkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer. Batas-batas
penggunaan kekuatan militer dalam mengatasi konflik harus diatur dalam peraturan
perundang-undangan agar tidak terjadi penyalahgunaan kekuatan (power abuse)
untuk kepentingan politik yang sempit.
b. Tahapan Konflik. Secara umum konflik mengalami evolusi melalui tiga fase,
yaitu prakonflik, konflik dan pasca konflik, akan tetapi biasanya situasi dan kondisi
yang mengarah pada terjadinya konflik bersifat dinamis dan sulit diprediksi.
Beberapa situasi mungkin saja tidak meningkat menjadi konflik yang berkembang
besar. Sebagai kemungkinan lainnya, suatu konflik dapat diselesaikan dan hubung-
an antara pihak-pihak yang bersengketa kembali ke tahap prakonflik. Meskipun
upaya-upaya dalam penyelesaian konflik umumnya ada pada setiap tahapan
prakonflik, konflik dan pasca konflik, namun kesiapan satuan jajaran TNI AD yang
mampu bertindak dalam menunjang kebijakan nasional tetap dipelihara di semua
tahap konflik.
1) Pada tahap prakonflik, pihak-pihak yang bertikai biasanya memper-
timbangkan atau mengancam akan menggunakan kekuatan militer untuk
11

mencapai tujuan akhir mereka baik secara terbuka maupun tersembunyi


untuk memperoleh pendadakan. Pihak-pihak ketiga kemungkinan menjadi
terlibat dalam upaya-upaya untuk mencegah penyebaran konflik.
2) Pada tahap konflik, para pelaku utama berupaya memaksakan
kehendak mereka terhadap musuh dengan menggunakan semua unsur
kekuatan nasional yang ada, khususnya kekuatan militer. Kemauan untuk
berperang didasari oleh tiga faktor, yakni keputusan pemimpin politik,
dukungan rakyat dan kemampuan angkatan bersenjata. Kemauan musuh
untuk berperang lazimnya dikalahkan bila biaya yang dirasakan untuk
mengejar suatu tujuan lebih besar daripada hasil yang mungkin diperoleh.
3) Pada tahap pasca konflik, pihak-pihak bertikai berhenti mengambil
jalan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka. Kekuatan militer bisa
digunakan untuk menstabilkan situasi pasca konflik dan menciptakan kondisi
bagi lembaga-lembaga negara dan masyarakat sipil untuk muncul kembali.
Kegagalan untuk mendamaikan pihak-pihak bertikai pada tahap ini bisa
menciptakan penyebab mendasar timbulnya konflik pada masa depan.
Dalam tahap ini, pihak-pihak baru mungkin saja menjadi terlibat karena
alasan kemanusiaan, politik atau ekonomi.
Dengan meningkatnya saling ketergantungan antar negara di era globalisasi
saat ini, kekuatan multinasional akan melerai pihak-pihak yang bertikai untuk
segera menghentikan konflik yang berlangsung. Organisasi-organisasi regional
seperti ASEAN akan sangat berkepentingan dalam terciptanya perdamaian di
kawasan. Dalam upaya penggunaan kekuatan militer untuk mengembalikan kondisi
damai, maka dibutuhkan keterpaduan peran tiga kekuatan nasional lainnya yaitu
diplomasi, informasi dan ekonomi. Upaya untuk mengembalikan kondisi ke
perdamaian yang stabil akan sia-sia tanpa didukung oleh kekuatan militer yang
efektif. Keberhasilan dari setiap kampanye dan operasi militer dalam menciptakan
kondisi perdamaian akan sangat tergantung keterpaduan antara upaya militer dan
non militer.
c. Spektrum Konflik. Pengertian konflik dalam konteks keamanan negara
dapat digambarkan dalam satu spektrum. Titik ekstrem sebelah kiri menunjukkan
kondisi aman, relatif tidak ada ancaman dan dalam status wilayah tertib sipil. Pada
situasi rawan dapat diklasifikasikan sebagai keadaan konflik intensitas rendah
seperti konflik komunal yang meluas, konflik vertikal, teror, sabotase, tingkat
kriminal dan kerusuhan lokal. Apabila konflik terus meningkat sampai memasuki
situasi gawat, status wilayah beralih dari tertib sipil menjadi keadaan darurat sipil.
Apabila konflik terus berkembang dan eskalasi ancaman terus meningkat, maka
status wilayah dari darurat sipil dapat menjadi darurat militer. Pernyataan keadaan
darurat sipil/militer merupakan keputusan politik yang dikeluarkan Presiden atas
persetujuan DPR. Dalam keadaan darurat perang, konflik yang terjadi adalah akibat
dari agresi/invasi militer baik secara langsung maupun tidak langsung dari negara
asing yang bermusuhan dengan Indonesia dengan cara menduduki sebagian atau
seluruh wilayah NKRI dan Presiden telah menyatakan keadaan darurat perang.
Eskalasi ancaman tidak harus selalu bersifat eskalatif dalam waktu panjang, namun
dapat juga berlangsung dalam waktu relatif singkat. Keadaan ini juga tergantung
pada ketanggapan pemerintah dalam menilai situasi dan mengambil langkah-
Iangkah pencegahan atau keberhasilan pihak-pihak yang berlawanan dalam
melakukan langkah-langkah perdamaian.
1) Damai stabil. Dalam kondisi damai stabil persaingan dan kekerasan
masih terjadi namun tidak ada kekerasan yang bernuansa militer. Kegiatan
oleh aktor internasional terbatas pada interaksi yang damai di bidang politik,
12

ekonomi, sosial, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Interaksi yang


damai tersebut dapat pula berupa persaingan yang sehat, kerja sama dan
bantuan. Meskipun ketegangan sewaktu-waktu terjadi seluruh pihak
menyadari pentingnya penyelesaian konflik dengan tidak menggunakan
cara-cara kekerasan.
2) Damai tidak stabil. Kondisi damai stabil akan bergeser kepada damai
tidak stabil apabila satu pihak atau lebih mengancam atau menggunakan
kekerasan untuk mencapai tujuan mereka. Kondisi damai tidak stabil ini juga
dapat terjadi akibat berkurangnya tingkat kekerasan pada suatu konflik
bersenjata. Situasi di Maluku dan Poso pasca konflik komunal merupakan
contoh kondisi perdamaian tidak stabil, dimana kondisi ini perlu terus dijaga
dan dipelihara untuk mencegah kembali meletusnya konflik. Untuk menjaga
agar kondisi ini tidak memburuk kepada konflik kekerasan yang lebih tinggi,
maka operasi perdamaian perlu dilaksanakan dengan melibatkan seluruh
komponen bangsa dan kekuatan nasional lainnya guna mengembalikan
kondisi kepada perdamaian yang stabil.
Pada kondisi damai tidak stabil dapat terjadi konflik yang melibatkan
gerakan terorganisir untuk menggulingkan pemerintah yang sah dalam
bentuk pemberontakan bersenjata atau gerakan separatis bersenjata. Pem-
berontak dan kelompok separatis menggunakan taktik gerilya dan teror
untuk mencapai tujuan politiknya. Insurjensi dapat berakar pada perma-
salahan sosial yang kronis, kondisi ekonomi yang buruk dan kurangnya rasa
keadilan. Insurjensi dapat berkembang setelah berakhirnya suatu perang
terbuka atau merupakan lanjutan dari kondisi damai tidak stabil yang
semakin memburuk.
3) Perang. Perang adalah konflik bersenjata, dimana seluruh kekuatan
militer dan sumber daya dikerahkan dan kelangsungan hidup pihak yang
terlibat dalam keadaan bahaya. Perang biasanya melibatkan negara maupun
koalisinya. Dalam perang masing-masing pihak yang bertikai mengerahkan
kekuatan bersenjata konvensional untuk memperoleh supremasi militer
dengan melancarkan operasi militer. Selain itu, perang juga dapat dilakukan
secara terbatas oleh pihak-pihak yang berkonflik dengan mengerahkan
sebagian kekuatan di sekitar perbatasan namun dengan tetap menyiagakan
seluruh kekuatan nasional. Pada masa lalu, perang dilakukan dengan
operasi militer secara konvensional dengan skala besar. Namun dalam
perkembangannya, penggunaan operasi militer secara konvensional telah
mengalami evolusi. Selain menggunakan cara-cara konvensional, perang
juga dilakukan dengan cara-cara non konvensional, terutama oleh pihak
yang inferior.
Pada kenyataannya konflik tidak selalu berlangsung secara berurutan dari
keadaan damai yang tidak stabil menuju kondisi insurjensi dan akhirnya menyulut
perang terbuka. Hal sebaliknya dapat terjadi dimana perang terbuka dan insurjensi
dapat memicu terjadinya konflik-konflik lanjutan di suatu wilayah sehingga mencip-
takan ketidakstabilan yang dapat mengancam keutuhan negara dan keselamatan
bangsa. Selain itu tingkat kekerasan dapat melompat dari satu titik ke titik lain di
sepanjang spektrum konflik. Sebagai contoh dari kondisi aman tidak stabil dapat
langsung memicu terjadinya perang terbuka, sebaliknya perang terbuka dapat
berakhir secara tiba-tiba menjadi keadaan aman yang stabil. Oleh karena itu ketiga
spektrum konflik ini bukan merupakan hal yang mutlak. Spektrum konflik akan
memberikan gambaran yang jelas dalam memahami eskalasi keke-rasan serta
pengerahan kekuatan nasional dalam penyelesaian suatu konflik.
13

Gambar-2
SPEKTRUM KONFLIK

d. Penggunaan Kekuatan Nasional dalam Resolusi Konflik. Dalam upaya


penyelesaian konflik dengan negara lain maupun dengan non state actor,
pemerintah perlu mengerahkan kekuatan nasionalnya secara efektif dan efisien.
Kekuatan nasional tersebut terdiri dari soft power (kekuatan lunak) yang berupa
kekuatan diplomasi, informasi dan ekonomi maupun hard power (kekuatan keras)
yang berupa kekuatan militer. Jenis dan komposisi kekuatan nasional yang
dikerahkan akan tergantung pada tingkat konflik yang sedang dihadapi dan
kemauan pihak lain untuk mengakhiri konflik. Dalam kondisi damai, penggunaan
soft power lebih diutamakan karena mengandung risiko kerusakan yang kecil,
namun hard power harus disiagakan untuk mendukung kekuatan soft power.
Penyiagaan hard power dimaksudkan untuk menangkal penggunaan hard power
oleh pihak lawan. Sebaliknya, dalam kondisi perang terbuka penggunaan hard
power menjadi pilihan utama untuk menekan lawan, dibarengi dengan pengerahan
soft power secara tepat untuk mengoptimalkan efektivitas penggunaan hard power.
Dalam sejarah perang universal, penggunaan soft power kadang-kadang
menjadi penentu kemenangan perang antar negara. Misalnya pada perang Mesir-
Israel pada tahun 1973, Presiden Anwar Sadat dengan piawai menarik keterlibatan
Amerika Serikat untuk memberikan keuntungan strategis bagi Mesir sehingga
semenanjung Sinai bisa kembali ke pangkuan Mesir setelah dikuasai Israel sejak
tahun 1967, walaupun kekuatan militernya menderita kekalahan di mandala
operasi.
Pada perebutan Irian Barat, penggunaan hard power secara besar-besaran
yang diikuti dengan penggunaan diplomasi dan penggunaan informasi secara
efektif telah memaksa Belanda menyerahkan kekuasaan atas Irian Barat kepada
pemerintah Indonesia. Selain karena tekanan di forum internasional, pemerintah
Belanda juga tidak berani menghadapi risiko kehancuran kekuatan militernya yang
ada di wilayah Irian Barat karena kekuatan militer Indonesia yang memiliki
keunggulan komparatif siap menghancurkan kekuatan Belanda.
Penggunaan hard power dan soft power pada operasi Timor Timur merupa-
kan pelajaran berharga bukan hanya untuk TNI tetapi juga bagi otoritas sipil pada
tingkat nasional. Dalam masalah tersebut, keberhasilan penggunaan hard power
tidak segera diikuti dengan penggunaan soft power secara tepat untuk mencapai
tujuan strategis yang telah ditetapkan. Integrasi Timor Timur mungkin akan tercapai
apabila penggunaan kekuatan diplomasi, informasi dan ekonomi dilakukan pada
14

saat operasi militer mencapai puncak keberhasilan, yaitu ketika rakyat Timor Timur
menghargai TNI sebagai “tentara pembebas”. Pemerintah memanfaatkan keberha-
silan penggunaan hard power untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dan politik
sesaat. Seharusnya pemerintah menggunakan soft power untuk memperbesar hasil
yang dicapai hard power dalam rangka mencapai tujuan strategis dan politis yang
lebih luas, misalnya menggelar penentuan pendapat rakyat sesegera mungkin.
Kenyataannya, penentuan pendapat rakyat baru dilakukan puluhan tahun setelah
penggunaan hard power tidak efektif lagi.
Belajar dari pengalaman sendiri dan pengalaman bangsa-bangsa lain pada
masa lalu, maka TNI senantiasa membangun kemampuan dan kekuatannya agar
menjadi national hard power yang mampu menangkal setiap ancaman terhadap
kedaulatan NKRI. Selain itu, TNI juga mengembangkan potensi soft power yang
dimilikinya agar dapat didayagunakan untuk mencegah dan mengatasi konflik di
dalam negeri secara efektif.
e. Penggunaan Kekuatan Militer dalam Konflik. Dari gambar-2 terlihat
bahwa kekuatan militer beroperasi pada sepanjang spektrum konflik. Pada situasi
tertentu dibutuhkan pengerahan kekuatan militer secara masif untuk mengeliminir
suatu ancaman. Tujuan akhir dari pengerahan kekuatan militer pada hakikatnya
adalah untuk mereduksi kekerasan menjadi minimal. Lingkungan operasi dewasa
ini menuntut kekuatan militer untuk senantiasa mengevaluasi metode yang
digunakan dan beradaptasi dengan lingkungan secara terus menerus.
Penggunaan kekuatan TNI AD dalam operasi tidak hanya untuk
mengalahkan musuh namun yang lebih penting adalah untuk mewujudkan kondisi
damai. Maka setiap perencana operasi TNI AD senantiasa mempertimbangkan
dampak lanjutan penggunaan kekuatan TNI AD terhadap kondisi sosial pasca
operasi. Menghancurkan musuh atau merebut sasaran-sasaran operasional di
daerah operasi mungkin sulit dilakukan, tetapi yang lebih sulit adalah mewujudkan
kondisi damai pasca konflik. Pengalaman operasi mengatasi konflik komunal di
Poso, Maluku dan Maluku Utara adalah bukti nyata tentang sulitnya mewujudkan
kondisi damai pasca operasi.
Operasi yang dilaksanakan pada satu tahap akan berpengaruh langsung
terhadap tahap selanjutnya. Dalam setiap pelaksanaan operasi, panglima operasi
mewujudkan situasi yang kondusif bagi keberhasilan operasi selanjutnya. Maka
setiap panglima operasi harus mampu memvisualisasikan dan memprediksi
kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan menyiapkan langkah-langkah
kontinjensi agar tujuan operasi dapat tercapai. Pada gilirannya dapat benar-benar
mewujudkan kondisi damai dan memberikan peluang kepada otoritas sipil di daerah
untuk memelihara kondisi damai yang telah diwujudkan.
Dalam setiap operasi militer, TNI AD dituntut untuk senantiasa mengubah
taktik, teknik dan prosedur karena lingkungan operasi senantiasa berupah secara
dinamis. Dalam operasi tempur, perubahan-perubahan lebih disebabkan oleh faktor
musuh yang berupaya mencari peluang untuk menggagalkan operasi kita.
Sedangkan dalam operasi nontempur, perubahan bisa terjadi karena dinamika
perubahan kondisi masyarakat. Oleh karena itu TNI AD harus menjadi learning
organisation yang selalu belajar dari pengalaman operasi masa lalu dan masa kini
untuk meraih sukses pada setiap operasi yang akan datang.
15

BAB II
HAKIKAT OPERASI

Seorang ahli perang mendekati sasarannya secara tidak


langsung. Memilih jalan yang berliku, berjalan ribuan li untuk
menghindari dan membuat musuh tidak waspada. Ahli perang
itu akan memperoleh kebebasan bertindak. Dia akan
menghindari situasi statis. Serangan langsung terhadap kota
dilakukan apabila tidak ada pilihan lain. Pengepungan akan
menghabiskan prajurit dan memboroskan waktu dan pada
gilirannya akan menghilangkan inisiatif
Sun Tzu

7. Umum
Operasi diperlukan untuk menghadapi ancaman yang terjadi karena adanya
dinamika lingkungan strategis pada lingkup global, regional maupun nasional. Setiap jenis
ancaman memerlukan penanganan secara spesifik dengan menggunakan sumberdaya
tertentu sesuai karakteristik ancaman yang dihadapi. Pemahamanan tentang hakikat
operasi mengalir dari kerangka berpikir operasional yang mencakup dimensi lingkungan
operasi, daerah operasi dan penduduk. Kerangka berpikir operasional pada hakekatnya
adalah pengaturan kekuatan sendiri dalam ruang dan waktu yang tersedia untuk
mencapai tujuan operasional dihadapkan dengan kondisi musuh dan daerah operasi.
Pemahaman tentang hakikat operasi tidak dapat dipisahkan dari faktor-faktor yang
mempengaruhinya, yaitu faktor tugas pokok, medan, musuh, pasukan sendiri dan faktor
penduduk.
8. Pengaruh Lingkungan Strategis Terhadap Penyelenggaraan Operasi
Globalisasi telah membawa pengaruh positif maupun negatif bagi dunia. Saling
ketergantungan ekonomi antar negara akan memicu peningkatan perekonomian di
kawasan dan dunia. Di lain pihak distribusi kekayaan yang tidak merata akan lebih
melebarkan jurang antara kelompok kaya dan miskin. Mereka yang tidak mampu
mengimbangi laju globalisasi akan tertinggal. Kondisi ini sangat potensial untuk memicu
konflik. Globalisasi juga telah memunculkan non state actor dalam bidang ekonomi,
informasi dan militer. Kekuasaan dan pengaruh pemerintah akan semakin berkurang
seiring bangkitnya kekuatan baru dari organisasi non pemerintah. Selain itu golongan
yang tidak mampu akan rentan terhadap pengaruh dan rekrutmen dari kelompok ekstrem.
Akibatnya mereka akan mudah menganut paham radikal untuk mengekspresikan rasa
frustrasi dan kekecewaan mereka.
Kemajuan teknologi yang pesat seperti perkembangan komputer, internet dan
satelit telah mentransformasi dunia sejak beberapa dekade terakhir. Teknologi informasi
telah memungkinkan pertukaran informasi berlangsung dalam hitungan detik. Jangkauan
dan pengaruh media informasi dalam operasi akan berpengaruh sama bagi pihak-pihak
yang terlibat dalam konflik. Tidak hanya negara, namun kelompok-kelompok radikal telah
mempunyai akses yang sama terhadap produk-produk berteknologi tinggi. Hal ini akan
berpengaruh besar dalam lingkungan operasi dimana pemerintah maupun musuh akan
memanfaatkan secara maksimal perkembangan teknologi guna mencapai tujuannya.
Dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, Indonesia menyimpan potensi
instabilitas dan radikalisme. Dengan berkembangnya jumlah penduduk kelas menengah,
maka kebutuhan kualitas hidup yang lebih baik akan meningkat pula. Urbanisasi yang
16

terus berlangsung dapat menjadi pemicu meningkatnya angka kriminalitas di lingkungan


perkotaan. Masalah pengangguran, polusi, kondisi sanitasi, kesehatan yang buruk dan
pelayanan kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi akan menimbulkan ketidakpuasan di
sebagian masyarakat sehingga berpaling pada ideologi radikal.
Indonesia terdiri dari beragam suku, etnis dan budaya yang tersebar di seluruh
wilayah nusantara. Kondisi ini menuntut pemahaman kondisi sosial budaya yang
mendalam pada setiap operasi militer yang dilaksanakan. Seperti halnya konflik budaya,
konflik etnis akan muncul apabila identitas etnis tertentu merasa tertantang oleh
perubahan sosial sebagai akibat modernisasi dan globalisasi. Selanjutnya kecenderungan
menunjukkan bahwa ideologi agama akan semakin mendominasi kekuatan sosial politik.
Agama adalah aspek kehidupan yang seringkali menimbulkan pergesekan dan konflik.
Radikalisme yang didasari oleh pemahaman agama yang keliru akan menjadi daya tarik
bagi mereka yang merasa menjadi korban dari globalisasi ekonomi dan budaya.
Posisi Indonesia secara geografis menyimpan potensi bencana alam yang dapat
terjadi sepanjang tahun. Pada musim penghujan bencana banjir datang, sebaliknya pada
musim kemarau bencana kekeringan dan kebakaran hutan mengancam. Sebagian
bencana itu bersifat alami. Hampir seluruh pulau di Indonesia menjadi bagian dari
lingkaran gunung berapi global (ring of fire). Sebagai konsekuensinya, bencana gunung
berapi merupakan ancaman rutin setiap tahun. Selain itu posisi geologis Indonesia yang
merupakan pertemuan tiga lempeng tektonik besar yang labil, yaitu lempeng Indo-
Australia, Eurasia dan Pasifik, membuat wilayah Indonesia rentan terhadap bencana
tsunami dan gempa bumi.
Berbagai kecenderungan dalam lingkungan strategis merupakan tantangan dan
hambatan, yang apabila tidak dikelola dengan benar dapat berkembang menjadi
gangguan, bahkan dapat menjadi ancaman yang membahayakan kedaulatan negara,
keutuhan wilayah negara dan keselamatan segenap bangsa. Dalam kondisi itu, pelibatan
kekuatan TNI AD untuk melaksanakan tugas-tugas operasional akan menjadi salah satu
pilihan yang mungkin akan diambil pemerintah dalam proses pengambilan keputusan
politik dan strategi nasional. Untuk itu, para perencana operasi darat harus memiliki
ketertarikan untuk memahami dan mampu menganalisis perkembangan lingkungan
strategis dan pengaruhnya terhadap penyelenggaraan operasi darat.
9. Hakekat ancaman
Pemahaman tentang hakekat ancaman perlu dimiliki oleh setiap perencana dan
penyelenggara operasi darat, karena penyelenggaraan operasi darat pada dasarnya
dilakukan untuk menghadapi ancaman di wilayah daratan. Hakekat ancaman mencakup
keseluruhan konsep tentang AGHT (ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan)
sebagai berikut:
 Ancaman adalah suatu kondisi atau upaya yang bersifat dan atau bertujuan mengubah
dan merombak sistem yang berlaku secara paksa yang dilaksanakan secara
konsepsional, sehingga dapat membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah
negara dan keselamatan segenap bangsa. Ancaman bisa berasal dari luar negeri yang
berupa agresi, invasi, infiltrasi, perang informasi, aksi teror dan sebagainya. Ancaman
juga bisa berasal dari dalam negeri, misalnya pemberontakan bersenjata, gerakan
separatis bersenjata, aksi teror dan sebagainya.
 Gangguan adalah suatu kondisi yang bersifat menghambat atau menghalangi secara
tidak konsepsional yang berasal dari luar sistem kehidupan nasional, misalnya konflik
perbatasan, sengketa wilayah, pelanggaran wilayah daratan, eksploitasi kekayaan alam
di wilayah daratan dan sebagainya.
17

 Hambatan adalah suatu kondisi yang bersifat menghambat atau menghalangi secara
tidak konsepsional yang berasal dari dalam sistem kehidupan nasional, misalnya
bencana alam, konflik komunal, tindakan anarkhi dan sebagainya.
 Tantangan adalah suatu kondisi atau upaya yang bersifat atau bertujuan menggugah
kemampuan mengatasi masalah, misalnya kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari
ribuan pulau, jumlah penduduk yang besar, kritik membangun yang disampaikan melalui
media masa dan sebagainya.
Dalam kaitannya dengan penyelenggaraan operasi darat, ancaman bisa dipahami
sebagai keseluruhan kondisi atau usaha, kegiatan dan tindakan yang berasal dari dalam
maupun luar negeri yang dapat membahayakan kedaulatan negara dan keutuhan wilayah
serta keselamatan bangsa. Ancaman dapat bersumber dari suatu negara, bangsa,
organisasi, kelompok, kondisi ataupun fenomena alam. Untuk mencegah, mengatasi dan
memitigasi ancaman ini dibutuhkan pengerahan seluruh instrumen kekuatan nasional,
baik diplomasi, informasi, militer dan ekonomi. Secara umum ancaman dapat digolongkan
menjadi dua kategori utama yaitu ancaman militer dan non militer. Musuh dapat
menggunakan salah satu atau kombinasi dari kedua ancaman tersebut untuk mencapai
tujuannya.
a. Ancaman Militer. Ancaman militer bersumber dari negara, kelompok
ataupun organisasi yang menggunakan kemampuan dan kekuatan militer dalam
suatu pertikaian bersenjata atau konflik. Ancaman militer mempunyai karakteristik
yang beragam. Ancaman militer dapat bersumber dari penggunaan kekuatan militer
suatu negara ataupun yang berasal dari gerakan kekuatan bersenjata suatu
kelompok tertentu yang dapat mengancam kedaulatan negara dan keselamatan
bangsa. Yang termasuk ancaman militer antara lain agresi militer, pelanggaran
wilayah, pemberontakan bersenjata, terorisme dan konflik komunal.
1) Agresi militer. Agresi merupakan tingkatan tertinggi dari ancaman
militer dan merupakan bentuk ancaman militer yang paling berbahaya
karena akan langsung mengancam kedaulatan, keutuhan wilayah negara
serta keselamatan bangsa. Situasi lingkungan strategis global dan regional
yang semakin dinamis serta perkembangan ancaman yang semakin
kompleks telah membuat kemungkinan ancaman agresi militer menjadi
semakin sulit diprediksi. Agresi militer tidak hanya terbatas pada invasi yaitu
pengerahan kekuatan militer untuk menduduki suatu negara lain, namun
agresi dapat berupa aksi militer lain seperti bombardemen dan blokade
wilayah suatu negara. Agresi militer dapat pula berupa keberadaan kekuatan
militer asing di wilayah NKRI tanpa adanya kesepakatan dari pemerintah
Indonesia. Pengiriman suatu kelompok bersenjata untuk menciptakan
kekacauan di wilayah NKRI juga dapat digolongkan sebagai bentuk agresi
militer. Ancaman agresi juga termasuk tindakan suatu negara yang
memperbolehkan penggunaan wilayahnya oleh negara lain untuk
melancarkan operasi militer terhadap Indonesia.
2) Pelanggaran wilayah. Kondisi geografis Indonesia yang berbatasan
dengan sejumlah negara membuat Indonesia sangat rawan terhadap
pelanggaran wilayah oleh negara lain. Konsekuensi Indonesia sebagai
negara kepulauan yang memiliki wilayah sangat luas dan terbuka adalah
tingginya peluang terjadinya pelanggaran wilayah. Pelanggaran wilayah baik
di darat, laut dan udara yang dilakukan negara lain merupakan ancaman
terhadap kedaulatan negara dan kewibawaan pemerintah serta kehormatan
bangsa Indonesia. Kekuatan postur pertahanan yang tangguh akan
memberikan efek tangkal bagi negara lain untuk tidak melakukan
pelanggaran wilayah. Diplomasi yang efektif merupakan upaya pencegahan
18

dan penyelesaian terhadap terjadinya pelanggaran wilayah oleh negara lain.


Namun apabila upaya ini tidak berhasil maka penggunaan kekuatan militer
sebagai jalan terakhir harus siap dilaksanakan sesuai aturan pelibatan dalam
penanganan pelanggaran wilayah.
3) Separatisme. Seiring dengan globalisasi serta perkembangan nilai-
nilai demokrasi dan hak azasi manusia, kelompok-kelompok tertentu
berusaha memanfaatkan isu tersebut untuk memisahkan diri dari NKRI.
Separatisme masih dan tetap akan menjadi ancaman serius bagi keutuhan
NKRI. Sejarah telah menunjukkan bahwa gerakan separatisme di berbagai
wilayah telah muncul dan berkembang sejak Indonesia berdiri. Momentum
demokratisasi terutama setelah era reformasi dimanfaatkan oleh kelompok
separatis untuk mencapai tujuan politiknya dengan menggunakan pola
perjuangan militer dan non militer untuk mendapatkan perhatian dan
dukungan dari luar negeri. Oleh karena itu dalam mencegah dan mengatasi
separatisme, pendekatan non militer dengan melibatkan tokoh masyarakat,
tokoh agama dan tokoh adat harus dikedepankan guna meredam bibit
separatisme. Penggunaan kekuatan militer dalam mengatasi ancaman
separatisme melalui operasi militer selain perang (OMSP) digunakan dengan
mengembangkan konsep operasi yang tepat dan efektif disesuaikan dengan
situasi dan kondisi yang ada.
4) Pemberontakan bersenjata. Pemberontakan bersenjata adalah suatu
gerakan terorganisir yang ditujukan untuk menggulingkan pemerintahan
yang sah melalui tindakan subversi dan konflik bersenjata. Ancaman ini
muncul dari kelompok-kelompok tertentu di dalam negeri dan dapat pula
didukung oleh kekuatan asing. Sejumlah aksi pemberontakan yang pernah
terjadi di Indonesia antara lain pemberontakan DI/TII, PRRI/Permesta, Kahar
Muzakar dan G30S/PKI. Pemberontakan bersenjata tersebut tidak hanya
merongrong kewibawaan pemerintah dan mengganggu jalannya roda
pemerintahan, namun juga mengancam kedaulatan negara dan keselamatan
bangsa.
5) Terorisme. Ancaman terorisme tergolong dalam ancaman militer
karena terorisme tidak memandang atau memilih targetnya sehingga sangat
membahayakan keselamatan bangsa dan mengancam kredibilitas negara.
Dengan mengikuti perkembangan politik, lingkungan strategis dan teknologi,
ancaman terorisme telah berkembang luas dan menjadi ancaman global.
Dari beberapa aksi teror di Indonesia dalam dekade terakhir menunjukkan
jaringan terorisme telah bersifat internasional dengan cakupan operasi lintas
negara di kawasan. Dengan kondisi sebagian masyarakat Indonesia yang
masih berkemampuan ekonomi serta berlatar belakang pendidikan rendah
maka kelompok-kelompok teroris akan tetap mudah menyebarkan
ajarannya, mendapatkan tempat berlindung, membangun jaringan serta
merekrut kader-kader baru.
6) Konflik komunal. Kondisi masyarakat Indonesia yang terdiri dari
beragam suku, agama, ras dan golongan membuat Indonesia rawan akan
konflik komunal. Implikasi dari heterogenitas demografi Indonesia adalah
potensi konflik yang berdimensi suku, agama, ras dan antar golongan
(SARA). Dalam karakteristik demografi seperti itu, isu primordialisme
menjadi sensitif karena dapat dijadikan alat untuk kepentingan tertentu yang
dapat menimbulkan konflik komunal. Konflik ini pada umumnya bersumber
dari fanatisme suku, daerah ataupun agama yang sempit. Selain itu faktor
keadilan dan ketidakpuasan pada penegakan hukum dan masih rendahnya
19

kedewasaan berpolitik suatu kelompok juga dapat memicu konflik ini.


Beberapa dekade terakhir ini Indonesia telah mengalami beberapa konflik
komunal yang menimbulkan korban yang tidak sedikit. Konflik di Kalimantan,
Poso dan Maluku merupakan contoh konflik komunal yang dipicu oleh
pertentangan antara dua pihak yang bernuansa SARA. Konflik ini tidak
hanya mengancam jiwa masyarakat banyak dan mengganggu stabilitas
keamanan negara, namun juga dapat mengancam integritas NKRI. Konflik
komunal pada dasarnya merupakan ranah fungsi pertahanan non militer,
namun apabila dibiarkan akan dapat bereskalasi secara cepat sehingga
mengancam keselamatan bangsa atau berakibat terganggunya roda
pemerintahan atau pelayanan umum. Konflik komunal dapat pula
dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memprovokasi atau memecah
belah masyarakat. Atas pertimbangan tersebut, maka untuk mengatasi
konflik komunal, instrumen pertahanan dapat dilibatkan sesuai peraturan
perundang-undangan.
b. Ancaman Nonmiliter. Berbeda dengan ancaman militer yang menggunakan
kekuatan bersenjata dan bersifat fisik, maka ancaman non militer menggunakan
faktor-faktor non militer yang dapat membahayakan kedaulatan dan integritas
wilayah negara dan mengancam keselamatan bangsa. Ancaman non militer
merupakan ancaman yang bersifat non fisik dan multidimensi yang mencakup
dimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, teknologi dan informasi serta
dimensi keselamatan umum. Seiring globalisasi dan dengan semakin berkem-
bangnya demokrasi maka ancaman yang bersifat non militer tersebut akan lebih
mendominasi konflik-konflik di berbagai belahan dunia.
1) Ancaman berdimensi ideologi. Meskipun komunisme sudah bukan
merupakan paham yang populer semenjak berakhirnya perang dingin,
namun ancaman ideologi komunis sebagai bahaya laten di Indonesia tetap
harus diwaspadai. Seluruh komponen bangsa harus selalu waspada
terhadap bangkitnya komunisme dengan gaya baru melalui penetrasi dan
infiltrasi ke dalam elemen-elemen masyarakat. Selanjutnya menguatnya isu
radikalisme berbasis agama beberapa waktu terakhir ini telah mengguncang
sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Ancaman berdimensi ideologi
tersebut dapat merongrong kewibawaan pemerintah, memicu disintegrasi
bangsa dan mengancam keutuhan NKRI.
2) Ancaman berdimensi politik. Ancaman berdimensi politik dapat
bersumber dari dalam maupun luar negeri. Dari dalam negeri, kondisi politik
yang tidak stabil dapat mengganggu stabilitas nasional. Pada puncaknya,
pengerahan massa yang melemahkan dan menumbangkan kekuasaan
pemerintahan yang sah merupakan ancaman berdimensi politik dalam
negeri. Gerakan separatisme seringkali menggunakan dimensi politik selain
kekuatan bersenjata untuk mencapai tujuannya. Dari luar negeri, ancaman
berdimensi politik dapat berupa intimidasi, provokasi dan tekanan politik
yang dilakukan oleh suatu negara terhadap Indonesia. Sesuai diktum
Clausewitz yang menyatakan bahwa perang merupakan kelanjutan dari
politik dengan cara lain, maka ancaman berdimensi politik memiliki dampak
yang besar bagi kedaulatan negara.
3) Ancaman berdimensi ekonomi. Ancaman berdimensi ekonomi
mencakup ancaman dari dalam dan luar negeri. Ancaman dari dalam dapat
berupa inflasi, angka pengangguran yang tinggi, minimnya infrastruktur,
distribusi pendapatan yang tidak merata serta ekonomi biaya tinggi.
Ketimpangan distribusi pendapatan akan berdampak kepada kesenjangan
20

sosial antara yang punya dan yang tidak punya. Kesenjangan ekonomi dan
ketimpangan distribusi pendapatan antara pusat dan daerah juga dapat
menjadi pemicu konflik horisontal maupun vertikal. Ancaman ekonomi dari
luar dapat berupa tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap pihak asing
akibat pinjaman dan hutang luar negeri yang besar. Pembatasan kuota,
embargo dan blokade ekonomi merupakan ancaman dimensi ekonomi yang
dapat diterapkan negara luar terhadap Indonesia.
4) Ancaman berdimensi sosial budaya. Ancaman berdimensi sosial
dapat digolongkan menjadi ancaman internal dan eksternal. Ancaman yang
bersifat internal antara lain isu kemiskinan dan keterbelakangan pada
sebagian rakyat Indonesia, rasa ketidakadilan serta karakter kekerasan yang
melekat pada sebagian etnis bangsa. Permasalahan tersebut merupakan
masalah sosial yang dapat memicu terjadinya separatisme, terorisme dan
konflik komunal yang bernuansa SARA. Ancaman yang bersifat eksternal
meliputi masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan norma dan nilai-
nilai luhur bangsa. Dengan kemajuan teknologi informasi, maka penetrasi
nilai-nilai budaya luar yang negatif seperti pornografi dan peredaran
narkotika akan sulit disaring dan dibendung. Akibatnya generasi muda
Indonesia akan terancam degradasi moral.
5) Ancaman berdimensi teknologi dan informasi. Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi selain membawa manfaat juga berdampak
kepada ancaman seperti berkembangnya cyber crime, kejahatan perbankan
dan kejahatan lain yang memanfaatkan kemajuan iptek. Masih minimnya
pengakuan dan penghargaan pada kemampuan dan karya teknologi anak
bangsa juga telah mengakibatkan “brain drain”, dengan perpindahan para
ilmuwan dan tenaga-tenaga profesional bangsa ke luar negeri.
6) Ancaman berdimensi keselamatan umum. Ancaman yang berdimensi
keselamatan umum meliputi bencana alam, keamanan transportasi dan
bencana kelaparan. Bencana dapat berupa bencana alam seperti gempa
bumi, gunung berapi dan tsunami, sedangkan bencana yang dipicu oleh ulah
manusia seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, kekeringan dan
bencana lainnya. Selain bencana, ancaman berdimensi keselamatan umum
lainnya adalah keamanan transportasi darat, laut maupun udara. Masih
kurangnya kesadaran masyarakat untuk mematuhi aturan yang ada, menjadi
salah satu pemicu jatuhnya korban dari aspek keselamatan transportasi.
10. Kerangka berpikir operasional
Dalam rangka perencanaan operasi, panglima operasi menempatkan konsep
operasinya dalam kerangka berpikir operasional. Kerangka berpikir tersebut mencakup
pengaturan kekuatan sendiri dalam ruang dan waktu yang tersedia untuk mencapai tujuan
operasional dihadapkan dengan kondisi musuh dan daerah operasi. Secara spesifik,
kerangka berpikir operasional mencakup tiga dimensi, yaitu lingkungan operasi, daerah
operasi dan penduduk. Dengan memahami kerangka berpikir tersebut, panglima operasi
diharapkan dapat memusatkan kekuatannya secara tepat untuk mencapai tujuan
operasional dihadapkan pada situasi yang berlaku.
a. Lingkungan Operasi. Lingkungan operasi adalah suatu kondisi yang luas
dan dinamis yang berpengaruh terhadap penyelenggaraan operasi. Dalam OMP,
lingkungan operasi adalah kondisi nasional secara keseluruhan yang meliputi
aspek geografi, demografi, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan keamanan
negara. Sedangkan dalam OMSP, lingkungan operasi mungkin tidak seluas OMP
namun tetap mencakup semua kehidupan nasional. Perbedaan tersebut terutama
21

disebabkan oleh perbedaan karakteristik kedua operasi tersebut.


Dengan semakin dinamis dan kompleksnya lingkungan operasi, maka kerja
sama dan koordinasi antara unsur-unsur TNI AD dengan instansi sipil terkait sangat
dibutuhkan. Sebagai contoh pelibatan media untuk menyampaikan informasi
tentang jalannya operasi sangat penting guna mendapatkan efek yang diinginkan
kepada masyarakat. Selain faktor geografis dan demografis, kondisi sosial dan
budaya dari lingkungan operasi juga menambah kompleksitas operasi yang
dilaksanakan.
Pemahaman tentang lingkungan operasi akan sangat membantu panglima
operasi dalam menyusun rencana dan menyelenggarakan operasi karena setiap
operasi militer tidak berada di ruang hampa. Setiap operasi berada dalam
lingkungan yang kompleks. Panglima operasi juga harus memahami hubungan
timbal balik antara kondisi lingkungan dengan operasi yang sedang berlangsung.
Selain dipengaruhi oleh lingkungan, operasi itu sendiri mempengaruhi perubahan
kondisi lingkungan.
Selain harus dipahami oleh panglima operasi dan para komandan, dinamika
lingkungan operasi juga harus dipahami oleh seluruh individu yang terlibat dalam
operasi darat. Setiap individu harus memahami bahwa lingkungan operasi bersifat
dinamis dan mencakup seluruh aspek militer dan non militer serta melintasi semua
tataran perang yang ada. Tindakan-tindakan perorangan di daerah operasi tidak
hanya mengandung resiko perorangan seperti luka-luka atau kematian. Tindakan
perorangan di daerah operasi juga dapat berpengaruh langsung terhadap pengam-
bilan keputusan taktis, operasional maupun strategis. Pengaruh itu dapat bersifat
positif yang mengarahkan pada keberhasilan operasi atau bersifat negatif yang
menggagalkan keseluruhan operasi. Hal ini antara lain disebabkan oleh pengguna-
an teknologi komunikasi dan teknologi informasi modern yang memungkinkan
penyebaran informasi secara real time.
Tindakan ceroboh seperti menggunakan telepon seluler di daerah operasi
untuk berkomunikasi dengan keluarga yang berada di pangkalan misalnya, dapat
menyebabkan bocornya bahan keterangan tentang pasukan sendiri ke tangan
musuh karena ketidakamanan sistem komunikasi seluler. Contoh tindakan ceroboh
lain adalah menggunakan fasilitas video pada telepon genggam untuk merekam
kegiatan di daerah operasi dan menyebarkannya melalui internet yang bisa diakses
secara global oleh siapapun. Semua tindakan ceroboh tersebut secara langsung
maupun tidak langsung bisa berpengaruh negatif terhadap proses pengambilan
keputusan operasi, bahkan dapat menggagalkan pencapaian tujuan operasi secara
keseluruhan.
b. Daerah Operasi. Daerah operasi adalah wilayah geografis dimana suatu
operasi dilaksanakan. Daerah operasi harus memungkinkan panglima operasi
untuk menggunakan kekuatan pasukannya secara optimal. Untuk kepentingan
operasional, panglima operasi dapat membagi daerah operasi menjadi beberapa
bagian untuk dipertanggungjawabkan kepada satuan bawahan. Masing-masing
bagian dapat saling berbatasan atau berdiri sendiri sesuai tugas yang akan
diberikan kepada masing-masing satuan. Pembagian daerah operasi harus
mempertimbangkan kemampuan pengendalian dan tercapainya kesatuan tindakan.
Sedangkan pertimbangan untuk menentukan luasnya daerah operasi yang akan
dipertanggungjawabkan kepada suatu satuan adalah kemampuan gerakan dan
manuver serta kemampuan tembakan satuan tersebut. Pembagian daerah operasi
meliputi:
22

1) Mandala. Mandala mencakup daerah yang luas, dimana suatu


kampanye militer diselenggarakan. Mandala dibagi menjadi dua bagian yaitu
Daerah Belakang dan Mandala Operasi. Daerah Belakang adalah daerah
dimana Komando Mandala melakukan kegiatan administrasi untuk
mendukung kampanye militer. Mandala Operasi adalah daerah dimana
Komando Mandala melancarkan kampanye militer. Mandala Operasi meliputi
Daerah Komunikasi dan Daerah Tempur. Daerah Komunikasi adalah
bagian dari Mandala Operasi dimana terdapat jalur-jalur logistik utama. Di
daerah ini Komando Mandala melaksanakan kegiatan-kegiatan persiapan,
misalnya latihan pendahuluan bagi satuan-satuan yang akan melaksanakan
operasi-operasi besar. Daerah Tempur adalah bagian dari Mandala Operasi
dimana Komando Mandala menyelenggarakan operasi-operasi besar. Di
bagian belakang Daerah Tempur terdapat Daerah Bekal, yang merupakan
pusat dukungan tempur. Sedangkan bagian terdepan dari Daerah Tempur
disebut Daerah Tempur Depan, dimana seluruh rangkaian operasi
dilancarkan. Penggunaan kata ‘tempur’ tidak berarti bahwa hanya operasi
tempur saja yang dilaksanakan di daerah ini. Di daerah ini juga dilancarkan
operasi-operasi nontempur yang mendukung pencapaian tujuan operasi
secara keseluruhan, misalnya operasi teritorial, operasi informasi, operasi
psikologi dan operasi lainnya.

Gambar-3
PEMBAGIAN MANDALA

2) Sektor. Guna mendukung kelancaran pelaksanaan operasi, panglima


operasi mengorganisir daerah operasi secara tepat. Pengorganisasian
daerah operasi adalah pengaturan satuan bawahan sesuai dengan tujuan,
ruang dan waktu yang tersedia untuk melaksanakan operasi. Panglima
operasi mengorganisir satuannya dan memberikan tugas-tugas kepada
satuan bawahannya sedemikian rupa sehingga semua tindakan yang
dilakukan satuan bawah dapat terfokus pada tugas pokok. Fokus pada tugas
pokok tidak mengharuskan semua satuan bawahan melakukan tindakan
operasional secara bersamaan, tetapi disesuaikan dengan faktor ruang dan
waktu serta karakteristik satuan bawahan yang bersangkutan.
23

Gambar-4
SEKTOR DAN PETAK

Untuk mengektifkan pengendalian seluruh rangkaian operasi,


Panglima operasi dapat membagi Daerah Tempur Depan menjadi beberapa
sektor, masing-masing dipertanggungjawabkan kepada seorang Komandan
Sektor. Komandan Sektor bertanggung jawab atas perencanaan dan
pelaksanaan operasi di sektornya dan berkoordinasi dengan Komandan
Sektor lain yang berbatasan. Perencanaan yang dibuat oleh Komandan
Sektor harus ‘terokestrasi’ dengan rencana kampanye yang disusun
Komando Mandala. Artinya, operasi-operasi yang dilaksanakan harus
berpedoman pada pokok-pokok keinginan panglima operasi (commanders
intent) dan harus diarahkan pada sasaran-sasaran operasional yang telah
ditetapkan Komando Mandala.
Batas-batas sektor secara geografis harus ditetapkan agar dapat
dijadikan salah satu sarana koordinasi oleh satuan-satuan pelaksana operasi
di lapangan. Pertimbangan yang digunakan dalam pembagian sektor tidak
semata-mata berdasarkan faktor geografis, tetapi harus mempertimbangkan
faktor-faktor tugas, musuh dan kekuatan pasukan sendiri yang akan
dipertanggungjawabkan kepada Komandan Sektor. Kadang-kadang
Panglima operasi memberikan sektor yang lebih luas kepada seorang
Komandan Sektor berdasarkan kepercayaan Panglima operasi terhadap
kemampuan Komandan Sektor dan pasukannya.
Komandan Sektor adalah komandan pada tataran operasional,
sehingga harus memiliki pemahaman secara menyeluruh tentang kampanye
yang sedang digelar di Mandala Operasi serta mampu merencanakan
rangkaian operasi dalam satu konsep operasi yang komprehensif.
Komandan sektor harus dapat menggunakan sumber daya yang
dipertanggungjawabkan padanya untuk mencapai sasaran-sasaran
operasional yang telah ditetapkan oleh Panglima operasi.
3) Petak. Petak adalah daerah di dalam Sektor dimana satuan
melaksanakan tugas-tugas taktis sesuai rencana operasi yang telah disusun
Komandan Sektor. Suatu Petak dapat berbatasan dengan Petak lain atau
berdiri sendiri di dalam Sektor. Pemberian tanggung jawab berupa Petak
biasanya bersifat temporer untuk melaksanakan tugas tertentu, misalnya
menyerang musuh yang sedang bertahan sementara di suatu ketinggian.
24

Komandan satuan dalam Petak bertanggung jawab penuh terhadap


tindakan-tindakan taktis yang dilakukan satuannya. Komandan satuan
menggunakan batas Petak satuannya sebagai salah satu sarana koordinasi
dengan satuan tetangga atau satuan atasan. Besar kecilnya petak yang
diberikan kepada suatu satuan tergantung besar kecilnya satuan,
kemampuan satuan, ada dan tidaknya satuan lain yang dapat memberikan
bantuan, bentuk medan dan sebagainya.
c. Penduduk. Faktor penduduk menjadi bagian penting yang harus dipertim-
bangkan dalam penyelenggaraan operasi karena operasi militer kontemporer tidak
akan terlepas dari daerah operasi yang berpenduduk. Dalam OMSP, penduduk
akan menjadi obyek perebutan pengaruh. Oleh karena itu komando operasi harus
memenangkan perebutan opini penduduk setempat serta mencegah agar
penduduk tidak dijadikan sebagai bagian dari usaha subversi, infiltrasi dan
pengacauan oleh pihak musuh. Penduduk akan selalu menjadi sasaran musuh
untuk dieksploitasi dalam mencapai tujuannya. Kedekatan dengan penduduk dalam
daerah operasi harus senantiasa diupayakan tanpa mengabaikan tindakan
keamanan dan sikap waspada. Kedekatan dengan penduduk akan menjadikan
pasukan sendiri lebih mengenal dan merasakan dinamika sosial yang berkembang
di daerah operasi sehingga akan mempermudah jalan untuk merebut hati
penduduk.
Pengelompokan penduduk terjadi berdasarkan suku, golongan, budaya,
agama dan kepentingan. Pengelompokan penduduk juga terjadi karena perbedaan
dislokasi. Misalnya, masyarakat pedesaan dan perkotaan memiliki subkultur yang
menimbulkan permasalahan yang berbeda. Menghadapi kenyataan ini, maka
berbagai kelompok masyarakat secara keseluruhan harus dilihat sebagai suatu
sistem sosial yang terintegrasi. Perbedaan pandangan dan sikap yang ada dalam
masyarakat harus dikelola dengan baik, agar tidak memperbesar jurang pemisah
antar kelompok masyarakat. Kesadaran masyarakat harus ditumbuhkan dan
diarahkan untuk hidup berdampingan secara damai. Dengan demikian, peluang
musuh untuk menguasai penduduk menjadi semakin kecil.
11. Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Operasi
Keberhasilan operasi darat ditentukan oleh berbagai faktor yang berada dalam
lingkungan operasi. Baik faktor yang bersifat fisik maupun non fisik. Faktor-faktor tersebut
secara berdiri sendiri maupun bersamaan mempengaruhi jalannya operasi secara positif
atau negatif tergantung pada kemampuan panglima operasi dan para komandan di
lapangan untuk mengelolanya. Faktor-faktor tersebut adalah tugas, medan, musuh,
pasukan sendiri dan penduduk.
a. Tugas Pokok. Operasi darat adalah operasi yang kompleks karena
melibatkan berbagai jenis operasi yang dilaksanakan secara bersamaan di suatu
daerah operasi, terlepas apakah itu OMP atau OMSP. Oleh karena itu tugas pokok
pada tataran operasional bersifat luas dan mencakup berbagai aspek serta
mengarah pada pencapaian tujuan akhir strategis yang dikehendaki Panglima TNI.
Pada operasi tempur, tugas pokok satuan relatif mudah diidentifikasi karena
sasaran-sasaran operasional dalam operasi tempur bersifat fisik, misalnya
penghancuran instalasi komando dan pengendalian, penghancuran pusat
dukungan logistik musuh dan sebagainya. Namun pada operasi non tempur, tugas
pokok satuan operasional bersifat non fisik sehingga sulit diidentifikasi, misalnya
pembentukan opini penduduk lokal dalam operasi penerangan, perebutan simpati
penduduk dalam operasi teritorial. Maka keberhasilan tugas pokok tidak hanya
diukur dari besarnya kekuatan musuh yang dapat dihancurkan, tetapi harus dilihat
juga dampak lain yang dapat ditimbulkan oleh operasi terhadap lingkungan operasi.
25

Tugas pokok Komando Pelaksana Operasi biasanya bersifat luas yang


diantaranya mencakup tujuan akhir strategis yang harus dicapai. Untuk itu panglima
operasi menganalisa tugas pokok yang diterima dari komando atas dan
merumuskan tugas-tugas esensial yang harus dilaksanakan dalam rangka
mencapai tujuan akhir strategis yang dikehendaki. Selanjutnya panglima operasi
merumuskan sasaran-sasaran operasional serta menyusun garis-garis operasi
yang akan dijadikan pedoman bagi para komandan bawahan untuk mencapai
sasaran-sasaran operasi yang tertuju pada center of gravity musuh. Hasil analisis
tersebut kemudian disusun dalam pokok-pokok keinginan panglima operasi untuk
disampaikan kepada staf dan para komandan bawahan. Pokok-pokok keinginan
panglima operasi tersebut merupakan referensi bagi staf untuk mengembangkan
rencana-rencana operasi secara lebih rinci dan dijadikan pedoman bagi para
komandan satuan yang terlibat dalam operasi.
b. Medan. Keberhasilan operasi darat sangat tergantung pada pemahaman
panglima operasi dan para komandan terhadap kondisi medan di daerah operasi
yang menjadi tanggung jawabnya. Oleh karena itu panglima operasi harus memiliki
pengetahuan yang mendalam tentang medan, mampu menemukan aspek medan
yang membatasi operasi dan memberikan peluang untuk melakukan tindakan taktis
guna menghancurkan musuh di daerah operasinya. Dalam pertempuran darat,
faktor medan memainkan peran yang penting karena karakteristik medan Indonesia
yang sangat beragam. Mulai dari daerah pantai yang berawa sampai hutan tropis
yang ditumbuhi pepohonan lebat, mulai dari daerah tidak berpenduduk sampai
daerah perkotaan yang berpenduduk padat. Semua itu harus menjadi bahan
pertimbangan panglima operasi dan staf dalam menyusun rencana operasi.
Kondisi infrastruktur di Indonesia juga sangat beragam. Pulau Jawa, Bali
dan Sumatra memiliki infrastruktur seperti jaringan jalan, pelabuhan, bandar udara,
jaringan telekomunikasi yang relatif memadai. Sedangkan di pulau-pulau lain,
kondisi infrastruktur yang ada masih relatif terbatas. Kondisi ini menyebabkan
karakteristik operasi darat di Indonesia sangat unik dan beragam tergantung pada
dimana operasi akan dilaksanakan. Operasi militer yang dilaksanakan di Pulau
Jawa mungkin akan lebih mudah dilaksanakan karena didukung oleh sarana
infrastruktur yang memadai untuk melakukan kegiatan operasional. Namun operasi
militer di Papua, Maluku, Nusa Tenggara dan pulau-pulau lainnya relatif lebih sulit
ditinjau dari kondisi infrastruktur yang ada.
Berdasarkan pengalaman sejarah operasi TNI AD dan pengalaman negara-
negara lain, operasi darat pada masa mendatang akan lebih banyak dilakukan di
daerah urban yang memiliki karakteristik khas. Di daerah tersebut, kondisi
infrastruktur relatif kompleks dan dapat digunakan sebagai sarana musuh untuk
menurunkan efektivitas satuan yang sedang beroperasi, misalnya penggunaan
jaringan air minum untuk menyebarkan penyakit saluran pencernaan (misalnya:
disentri dan kolera) di lingkungan prajurit yang berada di daerah belakang.
Kompleksitas daerah urban juga menjadi persoalan tersendiri yang harus
diantisipasi panglima operasi dan staf perencana operasi. Kondisi bangunan yang
sangat padat misalnya, akan menjadi tempat berlindung musuh yang sempurna
karena dapat terhindar dari peninjauan dan tembakan lintas datar maupun lintas
lengkung pasukan kita.
Faktor cuaca juga sangat berpengaruh terhadap penyelenggaraan operasi.
Kondisi cuaca secara langsung akan berpengaruh terhadap kemampuan prajurit
dalam melaksanakan kegiatan operasi di lapangan. Misalnya pada suhu dan
kelembaban udara yang relatif tinggi, penyakit-penyakit tropis seperti malaria,
demam berdarah dan penyakit menular lainnya mudah menyebar. Apabila tidak
26

diantisipasi dengan benar, kondisi cuaca seperti itu akan mempengaruhi


kemampuan prajurit dan efektivitas satuan dalam melaksanakan kegiatan
operasional. Dalam operasi yang relatif lama, perubahan musim juga perlu
diantisipasi dalam rangka meminimalisir dampak negatifnya terhadap kondisi
kesehatan prajurit.
Selain mempengaruhi kemampuan prajurit, aspek cuaca juga dapat
berpengaruh terhadap kondisi peralatan yang digunakan dalam operasi. Oleh
karena itu pemilihan peralatan yang akan digunakan pada operasi darat harus
dilakukan secara selektif agar mampu mengatasi pengaruh kondisi cuaca di daerah
operasi. Sistem pemeliharaan juga perlu disiapkan dengan baik agar peralatan
yang digunakan dalam operasi dapat digunakan lebih lama sehingga tidak
mengganggu kesinambungan operasi yang sedang dilaksanakan.
c. Musuh. Kondisi lingkungan strategis pada era globalisasi telah mengubah
karakteristik konflik antar negara. Sebagian besar negara yang terlibat konflik
dengan negara lain berupaya mencari solusi terhormat dengan menggunakan
kekuatan diplomasi. Masing-masing berusaha menahan diri untuk tidak
menggunakan kekuatan militer karena terlalu mahal untuk mengoperasikannya dan
terlalu mahal untuk menanggung akibatnya purna konflik. Penggunaan kekuatan
militer hanya mungkin dilakukan oleh negara adidaya atau negara-negara yang
didukung oleh negara adidaya. Itu pun apabila ada alasan yang sangat kuat, yaitu
apabila negara lain memulai lebih dahulu. Fakta-fakta konflik antar negara yang
terjadi pasca PD II menunjukkan bahwa penggunaan pasukan darat dalam konflik
biasanya dilakukan setelah infrastruktur pertahanan utama dilumpuhkan. Artinya,
penggunaan kekuatan darat lebih bersifat legitimatif, yaitu untuk menunjukkan
kemenangan yang sesungguhnya kepada masyarakat dunia sekaligus untuk
melakukan pendudukan secara fisik.
Karakteristik konflik seperti itulah yang akan dihadapi Indonesia pada masa
mendatang. Penyiapan kekuatan TNI AD untuk melaksanakan OMP tetap harus
dilakukan dalam rangka menghadapi kemungkinan terburuk, manakala pemimpin
politik di tingkat nasional memilih memulai konflik dengan negara lain. Apabila hal
itu terjadi, maka TNI AD harus mengefektifkan infrastruktur perang gerilya yang
sudah disiapkan selama masa damai untuk menghadapi kekuatan darat negara
lawan plus negara adidaya yang mendukungnya.
Fakta-fakta konflik masa lalu merupakan indikasi bahwa bentuk konflik yang
paling mungkin dihadapi adalah konflik internal. Dalam konflik internal pada masa
lalu, TNI AD berperan sebagai kekuatan utama untuk mengatasi masalah yang
dihadapi pemerintah di daerah konflik. Musuh yang dihadapi dalam konflik internal
memiliki karakteristik khusus yang harus ditangani secara benar. Selain
menggunakan kekuatan bersenjata, musuh juga menggunakan kekuatan non lethal
yang bermacam-macam bentuknya. Mulai dari kekuatan politik, kekuatan
klandestin, kekuatan psikologi massa, kekuatan finansial, kekuatan moril dan
kekuatan non reguler lain yang tidak kalah membahayakan dibandingkan kekuatan
bersenjata. Disamping potensi lokal, musuh juga dapat mengeksploitir potensi
media nasional dan internasional untuk memperoleh dukungan masyarakat dalam
negeri maupun masyarakat internasional.
Musuh akan menggunakan kekuatannya secara non reguler dan asimetrik
karena mereka tahu bahwa satuan-satuan TNI AD terlalu kuat untuk dilawan
dengan cara-cara reguler. Mereka akan berupaya mengulur-ulur waktu dengan
melakukan perlawanan berlarut untuk melelahkan dan menurunkan moril pasukan
TNI AD dan apabila memungkinkan mereka akan menggunakan kekuatan
bersenjatanya pada waktu dan tempat yang tidak diperkirakan sebelumnya.
27

Dukungan masyarakat internasional yang mereka peroleh melalui manipulasi media


massa kemungkinan akan dieksploitir untuk memperkuat kekuatan bersenjata
melalui jalur-jalur ilegal yang terbuka luas dari segala penjuru dunia.
Untuk menghadapi kemungkinan konflik pada masa mendatang, TNI AD
harus menyiapkan kemampuannya untuk melakukan OMSP dan OMP secara
benar dan berkesinambungan. Organisasi satuan-satuan TNI AD perlu disusun
secara fleksibel agar dapat menyesuaikan dengan lingkungan operasi darat yang
berlaku. Doktrin harus disusun secara komprehensif agar dapat digunakan sebagai
acuan dalam penyelenggaraan OMP maupun OMSP. Doktrin tersebut selalu diuji
melalui sistem latihan yang realistis, keras dan menantang. Sistem pendidikan
perwira harus dapat menghasilkan pemimpin-pemimpin lapangan yang berkarakter,
memiliki integritas tinggi dan fleksibel agar dapat memimpin pasukannya dalam
berbagai situasi sulit yang mungkin akan dihadapi di daerah operasi.
d. Pasukan Sendiri. Operasi darat yang akan dihadapi pada masa mendatang
akan sangat kompleks, yaitu gabungan antara peperangan non reguler dan
asimetrik dengan kompetisi untuk memenangkan ”hati rakyat”. Untuk itu, setiap
Kodam sebagai kompartemen strategis harus menyiapkan semua sumber daya
yang ada secara optimal untuk melaksanakan operasi darat di wilayahnya. Selain
organisasi struktural yang sudah ada, Kodam juga harus menyiapkan organisasi
operasional yang siap pakai apabila terjadi konflik di wilayahnya. Penyiapan
tersebut harus dilakukan secara dini dari kekuatan organiknya.
OMSP adalah operasi yang melelahkan karena kompleksitas permasalahan
yang harus dihadapi pasukan di daerah operasi. Maka para prajurit sebagai ”alat
utama sistem senjata” TNI AD harus dibekali dengan kemampuan non reguler
selain kemampuan tempur yang menjadi kompetensi utamanya, terutama
kemampuan intelijen dan kemampuan teritorial. Kemampuan penyesuaian dengan
adat istiadat lokal juga perlu dibekalkan kepada prajurit agar dapat hidup dan
menyatu dengan masyarakat pada saat terjadi konflik. Semua itu dalam rangka
memenangkan hati rakyat yang merupakan center of gravity yang harus
diperebutkan dengan musuh. Sekali rakyat berpihak kepada pasukan sendiri maka
segala usaha harus dilakukan untuk mempertahankannya.
Dukungan pemerintah dan unsur-unsur lain di daerah operasi berperan
penting dalam mencapai keberhasilan OMSP. Oleh karena itu kerja sama dengan
aparat pemerintah dan unsur-unsur pendukung sipil lain di daerah operasi harus
dijalin semenjak perencanaan operasi, bahkan jauh sebelum terjadinya konflik.
Pada saat terjadi konflik, dukungan pemerintah dan unsur-unsur sipil yang ada di
daerah operasi perlu dikelola dan dikendalikan dengan benar. Mereka harus tahu
dimana keberadaan mereka dalam garis-garis operasi yang disusun komando
pelaksana operasi. Mereka tidak boleh dibiarkan bergerak sendiri-sendiri karena
akan menjadi kontra produktif dan menghambat operasi pokok yang sedang
berlangsung.
Harus disadari, bahwa pemerintah daerah dan unsur-unsur sipil di daerah
konflik juga berupaya mendapatkan kepentingan mereka sendiri. Menghadapi
situasi seperti ini, panglima operasi dan staf serta para komandan bawahan harus
mampu mengelola conflict of interest dengan kepala dingin dan tetap menjadikan
sasaran operasional dan tujuan akhir strategis sebagai referensi. Selama berada
dalam garis-garis operasi yang telah ditentukan, maka kepentingan sektoral
pemerintah daerah dan unsur-unsur sipil lainnya dapat ditolerir. Namun apabila
kepentingan sektoral tersebut sudah mengganggu aliran garis-garis operasi menuju
sasaran operasional dan tujuan akhir strategis maka panglima operasi harus
menggunakan kekuasaan hukum darurat yang berlaku di daerah konflik untuk
28

menghentikan kegiatan-kegiatan sektoral yang menghambat pencapaian sasaran


operasi dan tujuan akhir strategis. Apabila kekuasaan darurat masih berada pada
penguasa sipil setempat (dalam kondisi darurat sipil), panglima operasi
menggunakan rantai komando yang ada agar conflict of interest yang menghambat
operasi dapat diselesaikan pada tingkat yang lebih tinggi.
Dalam OMSP, satuan-satuan akan terpisah-pisah jauh di dalam daerah
operasi. Maka pertimbangan penggunaan sarana komunikasi perlu mendapat
prioritas dalam perencanaan operasi. Penggunaan jaringan komunikasi organik
harus benar-benar aman dari jangkauan musuh. Panglima operasi harus dapat
memetik pelajaran berharga dari operasi-operasi darat yang pernah dilakukan pada
masa lalu. Banyak rencana tindakan taktis yang jatuh ke tangan musuh sehingga
tidak menghasilkan apa-apa, bahkan menimbulkan korban di pihak sendiri akibat
penggunaan jaringan komunikasi yang tidak aman secara teknis maupun
prosedural. Penggunaan infrastruktur sipil mungkin dapat meningkatkan
kemampuan operasional Komando Pelaksana Operasi namun keamananannya
tidak dapat dijamin. Untuk itu, prosedur komunikasi harus diatur dan dikendalikan
secara ketat. Penggunaan sarana komunikasi pribadi prajurit harus dilarang, tetapi
komunikasi prajurit dengan keluarganya di home base perlu diakomodir untuk
meningkatkan moril. Komando pelaksana operasi harus menyediakan sarana
komunikasi yang memadai dan aman.
e. Penduduk. Dalam OMSP, penduduk akan menjadi salah satu obyek
perebutan pengaruh antara pasukan sendiri dengan musuh. Perlindungan
penduduk dari kekerasan yang timbul dalam konflik merupakan salah satu bentuk
kepatuhan dan penghormatan TNI AD terhadap hak azasi manusia dan hukum
humaniter yang berlaku universal. Komando pelaksana operasi harus mengadopsi
hukum humaniter sebagai bagian dari rules of engagement (aturan pelibatan) dan
menjamin implementasinya di daerah operasi. Para prajurit harus benar-benar
memahami ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam hukum humaniter dan
mampu mengaplikasikannya di lapangan secara benar. Setiap tindakan militer yang
dilakukan prajurit harus benar-benar terlindungi secara hukum. Tidak boleh ada
prajurit yang dihukum karena ketidaktahuan mereka tentang hukum humaniter,
sebaliknya tidak boleh ada prajurit yang ragu-ragu melakukan tindakan militer
karena takut melanggar hukum.
Penggunaan tenaga penduduk dalam OMSP adalah sah selama hanya
melakukan kegiatan non militer seperti kegiatan bantuan kemanusiaan untuk
merebut simpati masyarakat di daerah tertentu. Keikutsertaan penduduk setempat
secara sukarela dalam OMSP harus dimanfaatkan dengan benar karena kerelaan
penduduk untuk membantu pasukan sendiri merupakan indikator keberhasilan
Komando Pelaksana Operasi dalam merebut hati dan pikiran rakyat. Penggunaan
tenaga penduduk oleh satuan-satuan taktis harus dilaporkan kepada Komando
Pelaksana Operasi untuk menjamin pengendalian yang terpusat dalam rangka
mencegah timbulnya pelanggaran hukum humaniter dan hak azasi manusia.
29

BAB III
OPERASI DARAT

Perang gerilya tidak dapat secara sendiri membawa


kemenangan terakhir, perang gerilya hanyalah untuk memeras
musuh. Kemenangan terakhir hanyalah dapat dengan tentara
yang teratur dalam perang biasa, karena hanya tentara
demikianlah yang dapat melakukan ofensif dan hanya
ofensiflah yang dapat menaklukkan musuh.
Jenderal A.H Nasution

12. Daya Tempur


Kemampuan utama TNI AD adalah melaksanakan pertempuran, baik dalam rangka
OMP maupun OMSP. Untuk itu pasukan TNI AD yang digelar untuk melaksanakan
operasi darat harus memiliki daya tempur. Daya tempur adalah totalitas dari sarana
pertempuran yang dapat digunakan terhadap musuh pada waktu dan tempat yang
ditentukan. Untuk membentuk daya tempur, panglima operasi harus memusatkan
kekuatan pasukan yang dimilikinya pada waktu dan tempat yang tepat melalui
perencanaan yang matang. Dalam OMSP, penggunaan daya tempur harus disinerjikan
dengan penggunaan kekuatan nontempur yang ada di daerah operasi karena kekuatan
nontempur tersebut dapat menggandakan daya tempur pasukan TNI AD dalam mencapai
tujuan operasional. Daya tempur dapat dibedakan menjadi daya tempur yang bersifat fisik
dan daya tempur yang bersifat nonfisik.
a. Daya Tempur yang Bersifat Fisik. Daya tempur yang bersifat fisik adalah
kemampuan yang terbentuk sebagai resultan dari potensi yang ada pada doktrin,
personel, Alutsista, perlengkapan, logistik serta komando dan pengendalian. Daya
tempur yang bersifat fisik memiliki beberapa unsur yang apabila dipadukan secara
tepat akan menghasilkan kekuatan yang dapat menghilangkan kemauan musuh
untuk melakukan perlawanan, bahkan dapat menghancurkan kekuatan musuh
secara fisik. Unsur-unsur tersebut adalah daya tembak, daya gerak, daya gempur
dan daya hancur.
1) Daya Tembak. Daya tembak adalah kemampuan membinasakan
musuh atau memaksanya tidak berdaya dengan menggunakan alat-alat
senjata secara tepat guna dan tepat sasaran.
2) Daya Gerak. Daya gerak adalah kemampuan mendekatkan diri pada
sasaran atau berpindah kedudukan untuk melakukan pertempuran secara
cepat dan tepat dalam ruang dan waktu yang tersedia.
3) Daya Gempur. Daya gempur adalah kemampuan menghancurkan
musuh dengan melakukan pertempuran jarak dekat sehingga musuh
terpaksa menyerah atau dihancurkan.
4) Daya Hancur. Daya hancur adalah kemampuan menghancurkan
musuh dengan memusatkan kekuatan secara massif sehingga musuh tidak
berdaya atau kehilangan momentum untuk melanjutkan pertempuran.
Untuk memperoleh hasil optimal dari penggunan daya tempur yang bersifat
fisik, panglima operasi menyusun pasukannya berdasarkan fungsi dan potensi yang
dimiliki satuan sesuai karakteristik masing-masing. Untuk itu maka satuan-satuan
jajaran TNI AD dikelompokkan menjadi Satuan Tempur, Satuan Bantuan Tempur,
30

Satuan Bantuan Administrasi, Satuan Intelijen, Satuan Kewilayahan dan Satuan


Khusus. Pengelompokkan satuan tersebut dimaksudkan untuk memberikan
kemudahan bagi komandan dalam menentukan cara bertindak dalam ruang dan
waktu yang tersedia guna mencapai sasaran operasional yang ditentukan.
b. Daya Tempur yang Bersifat Nonfisik. Daya tempur yang bersifat nonfisik
adalah kemampuan yang terbentuk dari gabungan unsur intelek dan mental yang
bersifat meliputi motivasi, emosi, kecerdasan dan kepemimpinan. Meskipun tidak
secara langsung dapat menentukan kemenangan pertempuran, daya tempur
nonfisik tidak boleh diabaikan dalam proses pengambilan keputusan dalam
pertemputan. Daya tempur nonfisik adalah pengganda sekaligus sebagai
penggerak daya tempur yang bersifat fisik. Tanpa daya tempur nonfisik, maka
unsur-unsur daya tempur fisik tidak akan berfungsi secara efektif di medan
pertempuran.
Dengan memahami peran penting daya tempur nonfisik, maka TNI AD
mengembangkan daya tempur nonfisik secara berkesinambungan. Daya tempur
nonfisik tersebut dibentuk melalui pelatihan yang realistis, keras dan menantang.
Daya tempur nonfisik juga dikembangkan melalui pendidikan. Maka TNI AD perlu
mengembangkan sistem pendidikan agar terwujud sistem pendidikan TNI AD yang
berkelas dunia. Disamping itu, penugasan yang progresif juga memungkinkan
keberhasilan setiap individu dalam mengatasi kompleksitas dan dinamika situasi
yang akan dihadapi di medan pertempuran.
13. Sistem Operasi TNI AD
Sistem operasi TNI AD memiliki karakteristik khas yang terbentuk oleh sejarah TNI
AD yang terlibat langsung dalam berbagai operasi selama masa perjuangan merebut dan
mempertahankan kemerdekaan. Selama masa tersebut, para pendahulu TNI AD telah
melahirkan konsep pertahanan negara yang dikenal dengan sistem pertahanan semesta.
Sistem pertahanan semesta itulah yang di kemudian hari memberikan ‘bentuk’ pada
sistem operasi TNI AD. Sistem operasi TNI AD adalah totalitas dari berbagai unsur yang
saling terkait dan membentuk kemampuan satuan-satuan TNI AD sehingga siap
melaksanakan tugas-tugas tempur dan nontempur, baik dalam rangka OMP maupun
OMSP. Sistem operasi TNI AD meliputi gabungan fungsi-fungsi intelijen, teritorial,
manuver, mobilitas dan lawan mobilitas, tembakan, perlindungan, dukungan, komando
dan pengendalian serta informasi.
a. Intelijen. Intelijen sebagai salah satu elemen daya tempur mencakup
kegiatan pencarian dan pengolahan keterangan tentang medan dan musuh yang
diperlukan dalam perencanaan, persiapan dan pelaksanaan operasi. Intelijen juga
diperlukan sebagai dasar dalam menyusun rencana pengamanan. Kegiatan
intelijen tempur pada hakikatnya adalah upaya terorganisir yang dilakukan
panglima operasi untuk mengumpulkan dan menganalisa keterangan tentang
kondisi medan, cuaca dan musuh di daerah pertempuran yang menjadi tanggung
jawabnya. Fungsi intelijen tempur adalah tugas-tugas yang memungkinkan
panglima operasi dan para komandan memperoleh pemahaman tentang musuh,
medan dan penduduk secara lebih mendalam sehingga dapat mengambil
keputusan secara tepat manakala menghadapi permasalahan operasional dan
taktis di medan operasi.
b. Teritorial. Kemanunggalan TNI-rakyat yang terbentuk dalam sejarah bangsa
Indonesia merupakan salah satu faktor yang membuat sistem operasi TNI AD
berbeda dengan sistem operasi angkatan darat negara-negara lain di dunia. Dalam
berbagai operasi yang pernah dilakukan satuan-satuan TNI AD di dalam negeri
maupun di luar negeri, kemanunggalan TNI-rakyat adalah invisible power
31

(kekuatan tak nampak) yang memungkinkan satuan-satuan TNI AD menyelesaikan


tugas-tugas dengan berhasil dan disegani prajurit-prajurit negara lain. Untuk
mewujudkan kemanunggalan TNI-rakyat, setiap prajurit dan satuan TNI AD
melaksanakan fungsi teritorial, yaitu segala usaha, pekerjaan dan kegiatan yang
berkaitan dengan penyiapan potensi wilayah menjadi kekuatan pertahanan negara
di darat. Dalam konteks operasi, fungsi teritorial terutama diarahkan untuk
memenangkan upaya perebutan hati dan pikiran penduduk di daerah operasi
melalui kegiatan komunikasi sosial ataupun karya bhakti
c. Manuver. Manuver adalah kemampuan gerak pasukan untuk mencapai
keunggulan relatif ditinjau dari aspek disposisi pasukan sendiri terhadap musuh di
daerah operasi. Manuver mencakup pendayagunaan gerakan pasukan di medan
tempur yang dikombinasikan dengan tembakan. Satuan-satuan Infanteri
merupakan inti dari subsistem manuver yang bertugas menghancurkan musuh,
merebut dan atau menduduki medan, sedangkan elemen lainnya mendukung
tugas-tugas satuan Infanteri sebagai sistem manuver. Komandan dapat
mempertimbangkan penggunaan kendaraan taktis darat atau udara (Penerbad)
untuk meningkatkan manuver pasukan sendiri guna memperoleh keunggulan taktis
terhadap musuh.
d. Mobilitas dan Lawan Mobilitas. Mobilitas dan lawan mobilitas memberikan
kebebasan manuver pasukan sendiri dan membatasi ruang gerak musuh serta
mencegah kehancuran unsur utama pasukan sendiri dari tindakan penghancuran
oleh musuh. Pada dasarnya setiap satuan harus melaksanakan tindakan-tindakan
yang diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan mobilitas pasukan sendiri.
Setiap satuan juga harus melakukan tindakan-tindakan untuk meningkatkan
kemampuan lawan mobilitas guna mengurangi efektivitas manuver musuh. Secara
fungsional, unsur Zeni bertanggung jawab langsung untuk meningkatkan mobilitas
dan lawan mobilitas pasukan sendiri di medan pertempuran. Dalam proses
perencanaan operasi, Perwira Zeni membantu komandan untuk mengintegrasikan
rencana mobilitas dan lawan mobilitas dalam rencana operasi secara keseluruhan.
d. Bantuan Tembakan. Subsistem bantuan tembakan adalah kegiatan yang
berhubungan dengan penggunaan tembakan mematikan (lethal fire) untuk
menghancurkan sasaran secara fisik maupun tembakan tidak mematikan (nonlethal
fire) untuk mempengaruhi pikiran lawan (misalnya informasi, media, psikologi,
propaganda dan sebagainya). Subsistem bantuan tembakan mengkoordinir
kegiatan akuisisi sasaran dan melancarkan penggunaan bantuan tembakan darat
untuk menghancurkan sasaran di daerah operasi. Untuk itu, subsistem bantuan
tembakan melakukan kompilasi data sasaran, mengalokasikan tembakan pada
waktu dan tempat yang tepat dengan menggunakan aset yang tepat.
Panglima operasi memberikan petunjuk penggunaan subsistem bantuan
tembakan, terutama yang berkaitan dengan tingkat kehancuran yang diinginkan,
waktu serta tujuan yang ingin dicapai dari kehancuran sasaran. Pakorbantem
kemudian merencanakan, mengkoordinasikan subsistem bantuan tembakan
sedemikian rupa sehingga sinkron dengan rencana manuver. Penggunaan media,
psikologi dan propaganda harus direncanakan dengan cermat agar tepat sasaran
dengan dampak kerusakan lanjutan (colateral damage) yang minimal. Sekali
penggunaan media, psikologi dan propaganda dilancarkan, pengendaliannya harus
dilakukan secara ketat agar tidak berdampak negatif terhadap pasukan sendiri.
e. Perlindungan. Perlindungan adalah fungsi yang memungkinkan panglima
operasi dan para komandan mengaplikasikan daya tempur secara maksimal.
Fungsi perlindungan dapat membantu panglima operasi untuk memelihara
integritas pasukan dan daya tempur serta memberikan kebebasan bertindak dalam
32

batas ruang dan waktu yang ada. Salah satu fungsi perlindungan adalah
pertahanan udara yang bertujuan untuk melindungi satuan dari ancaman udara
musuh. Selain pertahanan udara, fungsi perlindungan juga mencakup perlindungan
informasi, keamanan daerah operasi, perlindungan kesehatan pasukan,
perlindungan nubika dan sebagainya.
f. Dukungan. Fungsi dukungan adalah kegiatan yang berhubungan dengan
penyediaan dukungan dan pelayanan untuk meyakinkan kebebasan bertindak,
memperluas pencapaian operasi dan memperpanjang daya tahan. Dukungan
tempur menentukan kedalaman dan durasi operasi TNI AD. Dukungan tempur juga
diperlukan untuk mempertahankan inisiatif yang telah diperoleh. Dukungan tempur
mencakup fungsi penyediaan logistik, pelayanan personil dan dukungan pelayanan
kesehatan yang diperlukan untuk memelihara momentum operasi hingga
penyelesaian tugas. Subsistem dukungan tempur berfungsi memberikan dukungan
administrasi dan dukungan lainnya guna meningkatkan daya tahan operasi
pasukan sendiri.
g. Komando dan Pengendalian. Unsur komando dan pengendalian
mencakup kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan wewenang oleh panglima
operasi dalam pelaksanaan operasi tempur. Dihadapkan dengan perkembangan
teknologi informasi, karakteristik pertempuran darat mengalami perubahan
mendasar. Seorang panglima operasi dapat mengendalikan pasukan dalam daerah
yang lebih luas secara real time. Teknologi komunikasi yang ada saat ini
memungkinkan panglima operasi untuk mengaplikasikan wewenang komandonya
secara lebih efektif dalam pertempuran. Unsur komando dan pengendalian juga
berkaitan erat dengan kepemimpinan karena pertempuran darat mencakup dimensi
manusia yang dilengkapi dengan sistem senjata.
Kepemimpinan adalah efek pengganda sekaligus pemersatu daya tempur.
Kepercayaan diri, kompetensi dan pemimpin yang baik akan meningkatkan unsur
daya tempur lainnya secara berlipat ganda. Kepemimpinan adalah proses
mempengaruhi seseorang dengan memberikan saran, petunjuk dan motivasi pada
saat operasi agar dapat menyelesaikan tugas. Pemimpin militer memberikan
inspirasi dan mempengaruhi bawahannya agar dapat menyelesaikan tugas satuan,
fokus dalam berpikir dan mengambil keputusan. Pemimpin militer mampu
meyakinkan prajuritnya memiliki keinginan untuk menang. Dalam OMSP, pemimpin
harus melakukan komunikasi sosial secara efektif agar penggunaan daya tempur
satuannya tertuju pada sasaran yang tepat.
h. Informasi. Walaupun tidak mematikan, informasi sama ampuhnya dengan
unsur-unsur daya tempur yang lain. Di Timor Timur dan Aceh, tidak sedikit
pemberontak yang “turun gunung” dan menyerahkan senjatanya tanpa setetes
darah pun yang tertumpah melalui pertempuran. Sejarah juga mencatat bahwa
kantong-kantong gerilya TNI banyak yang selamat dari gempuran pasukan
Belanda. Semua itu disebabkan oleh keampuhan informasi. Oleh karena itu,
panglima operasi dan para komandan di daerah operasi tidak boleh meremehkan
peran informasi dalam mendukung tercapainya sasaran-sasaran operasi.
Selain membentuk opini musuh dan penduduk di daerah operasi, informasi
juga dapat mempengaruhi lingkungan operasi secara keseluruhan. Pada tataran
operasional, peran informasi bahkan dapat menentukan kemenangan. Karena
secara logis, kecukupan informasi akan mengurangi friksi dan ketidakpastian serta
akan meningkatkan peluang dan kesempatan untuk memenangkan pertempuran di
daerah operasi. Informasi adalah sumber tenaga bagi unsur-unsur lain yang
membentuk daya tempur.
33

14. Jenis-Jenis Operasi Darat


Ada beberapa jenis operasi yang dapat dilakukan satuan-satuan TNI AD dalam
melaksanakan tugas pokoknya. Masing-masing jenis operasi bisa dilakukan secara berdiri
sendiri atau dilakukan secara bersamaan dengan operasi lain. Dalam operasi yang sangat
sederhana, panglima operasi bisa menggunakan satu jenis operasi sampai sasaran dan
tujuan operasi tercapai. Dalam operasi yang kompleks panglima operasi menggunakan
beberapa jenis operasi sekaligus agar sasaran-sasaran operasional dapat dicapai secara
optimal. Pemilihan jenis operasi, selain mempertimbangkan tujuan dan sasaran operasi
juga perlu mempertimbangkan karakteristik dan kemampuan satuan yang tersedia agar
dapat dicapai hasil yang optimal. Apabila tidak tersedia satuan yang sesuai dengan jenis
tugas yang akan dilakukan, maka panglima operasi dapat melatih pasukan lain untuk
melaksanakan tugas tersebut. Namun apabila satuan yang sesuai telah tersedia, panglima
operasi segera mengganti pasukan yang telah ditugaskan sebelumnya dengan satuan
yang sesuai. Sebelum mengganti pasukan yang sedang bertugas, panglima operasi
mempertimbangkan hasil operasi yang telah dicapai satuan yang akan diganti agar
momentum operasi tetap terpelihara. Apabila menurut penilaian panglima operasi
penggantian pasukan akan menghilangkan momentum operasi, maka pergantian dapat
ditunda sampai tercapainya sasaran operasi yang diberikan kepada satuan yang akan
diganti.
a. Operasi Tempur. Dalam operasi tempur satuan-satuan TNI AD mendaya-
gunakan daya tempurnya untuk menghancurkan musuh dan menduduki atau
menguasai medan. Operasi tempur dapat berupa serangan maupun operasi
pertahanan yang pemilihannya dilakukan berdasarkan pertimbangan kondisi
musuh, medan dan pasukan sendiri.
1) Operasi Serangan. Serangan adalah bentuk operasi tempur yang
dapat menentukan kemenangan. Tujuan serangan adalah untuk mengalah-
kan musuh dengan menggunakan daya tempur yang dimiliki dengan cara
menghancurkan kekuatannya secara fisik, mengilangkan kemauan bertem-
purnya atau keduanya. Hilangnya keinginan bertempur musuh dapat dicapai
dengan menghancurkan kesatuan tindakan musuh, memecah belah dan
mengisolasi kekuatan utama musuh, menurunkan moril musuh,
menghilangkan kemampuan pengendalian musuh dan sebagainya.
Selain itu, operasi serangan juga dapat diarahkan untuk mencapai
tujuan-tujuan lain dalam rangka mendukung operasi besar secara keselu-
ruhan. Tujuan-tujuan tersebut antara lain untuk mengumpulkan informasi
yang diperlukan bagi pelaksanaan operasi secara keseluruhan, memberikan
tekanan secara terus menerus terhadap musuh, mengganggu tindakan
ofensif musuh, melakukan tipuan-tipuan, menghancurkan daya guna
komando dan pengendalian musuh, menceraiberaikan pasukan musuh,
merebut suatu medan dan sebagainya.
Untuk melaksanakan serangan, panglima operasi menentukan
sasaran-sasaran dan mengatur penggunaan kekuatan tempurnya untuk
mencapai sasaran-sasaran tersebut. Para komandan taktis merencanakann
dan melaksanakan tindakan-tindakan taktis untuk menyerang titik-titik krusial
musuh di daerah operasi sesuai konsep umum operasi yang disusun
panglima operasi dan stafnya. Tindakan-tindakan taktis dapat dilakukan
secara simultan atau berturut-turut guna memberikan tekanan terus menerus
terhadap musuh sehingga musuh kehilangan kebebasan bertindak.
Untuk menghilangkan inisiatif musuh, maka tindakan-tindakan taktis
dalam serangan diarahkan pada sumber kekuatan musuh dan menciptakan
34

kondisi untuk mencapai keberhasilan operasional. Untuk mencapai kesatuan


tindakan, panglima operasi merumuskan sasaran-sasaran dengan jelas dan
mengendalikan pelaksanaan tindakan-tindakan taktis satuan bawahannya
secara efektif. Hubungan yang erat antar satuan harus diciptakan dan
dipelihara selama pelaksanaan operasi.
Dalam operasi serangan, pendadakan merupakan salah satu kunci
untuk mencapai keberhasilan. Pada tataran operasional, pendadakan dapat
dicapai dengan menggunakan tipuan taktis, penggunaan sarana mobilitas
udara, tembakan senjata bantuan, pemilihan waktu dan rute gerakan menuju
sasaran yang tidak lazim dan sebagainya. Pada operasi Trikora,
penyusupan pasukan darat melalui pantai-pantai rawa merupakan contoh
penggunaan rute yang tidak lazim untuk memperoleh pendadakan. Dengan
menggunakan rute tersebut, pasukan darat menyusup ke dalam daerah
musuh secara rahasia sehingga membuat satuan-satuan Belanda terkepung
oleh kantong-kantong yang dikuasai pasukan kita. Sedangkan pada operasi
Dwikora, operasi serangan yang dilakukan pasukan resmi maupun tidak
resmi mengalami kegagalan karena tidak mampu menciptakan pendadakan
terhadap musuh. Gerakan pasukan kita justru masuk ke dalam perangkap
yang sudah disiapkan musuh.
Pasukan penyerang disusun secara mendalam yang terdiri dari unsur
penyerang dan unsur bantuan. Unsur penyerang bertugas melakukan
serangan terhadap sasaran dengan menggunakan daya gerak, daya tembak
dan daya gempur secara tepat sehingga tidak memberikan peluang kepada
musuh untuk mengorganisir perlawanan. Unsur bantuan dapat diberi tugas
bantuan tembakan, pengamanan dan tugas-tugas lain untuk memperbesar
hasil unsur penyerang. Selain kedua unsur tersebut, panglima operasi dapat
mengalokasikan unsur-unsur lain yang diperlukan untuk memberikan
perkuatan kepada pasukan penyerang.
Penyiapan dukungan dalam operasi serangan harus mempertimbang-
kan faktor kecepatan agar pasukan penyerang dapat mempertahankan
tempo operasi dan memelihara momentum operasi secara konsisten.
Kecepatan pemberian dukungan operasi akan memungkinan pasukan
penyerang memberikan tekanan terhadap musuh secara terus menerus,
sehingga musuh akan kehilangan inisiatif dan kemauan untuk melakukan
perlawanan.
Operasi serangan memerlukan pengendalian yang fleksibel karena
pasukan penyerang tidak dalam kondisi statis, tetapi melakukan gerakan-
gerakan di daerah operasi secara tersebar. Komandan harus mengarahkan
pasukannya sedemikian rupa sehingga terwujud kesatuan komando
sehingga dapat memusatkan daya tempurnya pada sasaran yang telah
ditetapkan.
2) Operasi Pertahanan. Operasi pertahanan merupakan operasi tempur
yang dilaksanakan guna mematahkan serangan musuh, merebut waktu,
menghemat kekuatan dan mengembangkan kondisi yang menguntungkan
untuk memelihara kesinambungan operasi. Tujuan utama pertahanan adalah
untuk mencegah atau mengalahkan serangan musuh. Pertahanan yang baik
dapat memperdaya tindakan musuh dan menciptakan kesempatan untuk
mengambil inisiatif. Pertahanan juga dapat dilakukan untuk menghemat
kekuatan agar dapat mengerahkan kekuatan yang menentukan di tempat
lain dalam daerah operasi. Pertahanan juga dapat dilakukan untuk
mempertahankan medan-medan penting agar tidak diduduki musuh.
35

Pertahanan tidak dapat menentukan kemenangan, namun dapat


menciptakan situasi yang memungkinkan pasukan untuk mendapatkan
kembali inisiatif bertempur. Pertahanan pada hakikatnya adalah suatu
bentuk perlawanan terhadap serangan musuh. Pasukan yang melaksanakan
pertahanan menggagalkan serangan dan menghancurkan pasukan
penyerang sebanyak mungkin. Mereka juga mempertahankan penguasaan
wilayah, sumber daya dan masyarakat.
Operasi pertahanan yang baik ditandai dengan kesiapan, keamanan
dan fleksibilitas. Pasukan bertahan mendayagunakan seluruh sarana guna
mengacaukan kekuatan musuh. Pasukan yang bertahan harus mencari cara
untuk meningkatkan kebebasan bertindak dengan menghalau pasukan
musuh yang menyerang. Komandan menggunakan peluang yang ada untuk
membalikkan keadaan menjadi penyerang walaupun hanya bersifat
sementara. Pada saat kerugian pasukan penyerang mulai meningkat, maka
saat itulah mereka mulai goyah dan pergeseran inisiatif berpindah kepada
pihak bertahan.
Dalam OMSP, operasi pertahanan dapat dilakukan untuk melindungi
rakyat, objek vital dan infrastruktur dari tindak kekerasan musuh. Pertahanan
terhadap penduduk dan objek vital memungkinkan pasukan TNI AD untuk
menerima dukungan yang lebih besar dari rakyat setempat. Dengan
memberikan perlindungan terhadap obyek vital yang ada di daerah operasi,
pasukan sendiri menutup peluang musuh untuk memanfaatkan obyek vital
tersebut untuk kepentingan operasionalnya.
Penyelenggaraan dukungan dalam operasi pertahanan diarahkan
untuk meningkatkan daya tahan pasukan sendiri terhadap serangan musuh.
Namun demikian, dukungan operasi harus tetap fleksibel agar dapat
mengantisipasi perubahan yang terjadi di daerah operasi, baik yang bersifat
taktis maupun operasional. Bahkan dukungan operasi pertahanan harus
disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan peralihan operasi dari
pertahanan ke serangan.
Komando dan pengendalian operasi pertahanan dilakukan secara
ketat guna mempertahankan integritas tindakan pertahanan. Komando dan
pengendalian harus dapat menjamin kesinambungan perlawanan dari
semua unsur dalam pertahanan sehingga tidak memberikan peluang bagi
musuh musuh untuk mengembangkan inisiatif di daerah pertempuran.
b. Operasi Intelijen. Operasi intelijen berbeda dengan kegiatan intelijen yang
dilakukan satuan taktis. Operasi intelijen dilakukan oleh satuan-satuan intelijen
yang pengendaliannya langsung berada di bawah panglima operasi. Satuan-satuan
tersebut terdiri dari satuan intelijen organik Kodam setempat yang menjadi inti
kekuatan operasi intelijen, karena lebih mengenal daerah operasi. Untuk menutup
keterbatasan satuan intelijen organik Kodam, maka satuan tersebut dapat diperkuat
satuan tugas intelijen yang dibentuk khusus.
Dalam operasi darat, operasi intelijen berperan sebagai operasi bantuan
yang dilaksanakan untuk mendapatkan keterangan tentang musuh dan daerah
operasi yang luas dan kompleks. Operasi intelijen juga dapat digelar untuk
mencegah musuh mendapatkan keterangan tentang pasukan sendiri serta
menghilangkan pengaruh musuh di daerah operasi. Operasi intelijen dalam operasi
darat dilakukan dengan mendayagunakan kekuatan intelijen taktis yang ada di
daerah operasi. Panglima operasi juga dapat memanfaatkan unsur-unsur intelijen
strategis yang ada di daerah operasinya untuk memperkuat satuan intelijen taktis
36

yang ada. Dalam satu daerah operasi, kendali terhadap semua unsur intelijen harus
berada pada panglima operasi guna menjamin kesatuan tindakan untuk mencapai
sasaran operasi dan tujuan akhir strategis yang diharapkan.
Pengerahan kemampuan intelijen di daerah operasi akan sangat membantu
panglima operasi dalam memastikan lokasi musuh, kondisi medan operasi dan
keberpihakan masyarakat di daerah operasi. Penggunaan tenaga manusia dalam
operasi intelijen sangat efektif untuk mengumpulkan keterangan di daerah operasi
saat ini. Namun demikian, dihadapkan dengan perkembangan karakteristik dan
lingkungan operasi darat yang semakin kompleks, penggunaan teknologi untuk
melaksanakan operasi intelijen menjadi keharusan bagi satuan-satuan intelijen agar
dapat memberikan kebutuhan intelijen kepada panglima operasi secara optimal.
Dengan menggunakan teknologi, penyebaran keterangan juga dapat dilakukan
secara lebih meluas kepada satuan-satuan yang sedang beroperasi di daerah yang
relatif luas. Peran operasi intelijen dalam operasi darat juga mencakup
pengamanan kegiatan pasukan sendiri dengan melakukan lawan penyelidikan serta
pengendalian pengaruh musuh di daerah operasi. Kegiatan taktis dan teknis yang
dapat dilaksanakan dalam operasi intelijen meliputi:
1) Kegiatan penyelidikan. Kegiatan ini bertujuan untuk mencari
keterangan tentang musuh, kondisi daerah operasi serta kondisi masyarakat
di daerah operasi. Pelaksanaan penyelidikan di daerah operasi harus
dilaksanakan secara terkoordinasi dengan operasi-operasi lain yang sedang
dilakukan. Satuan-satuan intelijen melaksanakan penyelidikan dengan
menggunakan teknik-teknik penyusupan, penelitian maupun pengamatan.
Baik dengan menggunakan tenaga manusia maupun dengan menggunakan
bantuan teknologi penginderaan jarak jauh.
Bahan keterangan yang diperoleh melalui kegiatan-kegiatan teknis di
daerah operasi perlu diolah agar dapat dimanfaatkan bagi kepentingan
operasi lain yang memerlukannya. Dalam pengolahan bahan keterangan,
komandan satuan intelijen harus memiliki pemahaman yang menyeluruh
tentang pelaksanaan operasi serta sasaran-sasaran operasional yang telah
ditetapkan panglima operasi. Untuk menjamin keterpaduan tindakan di
daerah operasi, maka pengendalian operasi intelijen harus terpusat, dimana
komandan satuan intelijen bertanggung jawab langsung kepada panglima
operasi.
Dalam OMSP, penyelidikan dilakukan secara terbuka maupun
tertutup. Penyelidikan secara terbuka dapat dilakukan untuk mencari
keterangan yang berkaitan dengan kondisi daerah operasi dan keterangan
tentang penduduk yang ada di daerah operasi. Sedangkan penyelidikan
untuk memperoleh keterangan tentang musuh dilakukan secara tertutup.
2) Kegiatan pengamanan. Kegiatan pengamanan bertujuan untuk
mencegah musuh memperoleh keterangan tentang pasukan sendiri dan
mencegah musuh melakukan tindakan-tindakan yang dapat menggagalkan
penyelidikan sendiri, mencegah upaya penggalangan musuh serta
mencegah penyusupan musuh ke pusat kendali pasukan sendiri.
Pengamanan dilakukan dengan teknik lawan intelijen dalam rangka
menghilangkan daya guna intelijen musuh. Teknik-teknik yang biasa
digunakan dalam pengamanan antara lain adalah lawan penyelidikan dan
lawan penggalangan, baik secara berdiri sendiri maupun secara terpadu.
Dalam OMSP, pengamanan dapat diarahkan untuk mengamankan center of
gravity yang bersifat non fisik, misalnya pengamanan terhadap dukungan
37

masyarakat terhadap pemerintah yang sah.


3) Kegiatan penggalangan. Dalam lingkungan operasi saat ini,
penggalangan sangat diperlukan karena berkaitan dengan upaya
menghilangkan daya guna sistem pengambilan keputusan musuh di daerah
operasi. Penggalangan di daerah operasi selalu dilaksanakan secara
tertutup dengan menggunakan teknik-teknik penggalangan. Tujuan
penggalangan adalah untuk menghilangkan daya guna pengambilan
keputusan musuh, melemahkan kekuatan psikis dan moril musuh,
menghilangkan pengaruh psikis musuh di daerah operasi. Dalam
pelaksanaannya, satuan tugas penggalangan melakukan koordinasi dengan
satuan teritorial setempat yang agar tidak terjadi tumpang tindih kegiatan di
lapangan.
Penggalangan tidak diarahkan pada sasaran yang luas seperti opini
penduduk, tetapi difokuskan pada sasaran-sasaran yang berkaitan dengan
kegiatan pengambilan keputusan pihak musuh, misalnya unsur pimpinan
dan aktor-aktor yang berpengaruh besar dalam pengambilan keputusan.
Pendekatan yang digunakan dalam penggalangan dapat secara langsung
maupun tidak langsung tergantung pada kondisi sasaran. Pendekatan
langsung biasanya mengandung risiko yang lebih tinggi karena para
pelaksana operasi akan melakukan kontak-kontak langsung dengan
sasaran.
Satuan-satuan intelijen harus mampu menyelenggarakan dukungan bagi
pasukannya sendiri agar dapat mempertahankan kerahasiaan tindakan yang
diperlukan untuk keberhasilan operasi. Dukungan logistik untuk memelihara
kesinambungan operasi intelijen harus dikoordinasikan dengan komandan satuan
intelijen, terutama yang berkaitan dengan metode dan sarana yang dapat
digunakan dalam distribusi bekal.
Panglima operasi mengendalikan pelaksanaan operasi intelijen yang digelar
di daerah operasi guna menjamin tercapainya sasaran operasi. Namun demikian
panglima operasi tidak secara langsung mengeluarkan perintah-perintah yang
dapat menyebabkan hilangnya kerahasiaan operasi intelijen. Panglima operasi
harus memberikan kewenangan pengendalian yang sebesar-besarnya kepada
komandan satuan intelijen untuk mengendalikan satuannya mencapai sasaran
operasional yang telah ditetapkan. Komandan satuan intelijen melakukan
koordinasi dengan satuan intelijen lain dan satuan-satuan non intelijen agar tidak
terjadi salah pengertian yang dapat mengakibatkan kegagalan operasi pokok.
c. Operasi Teritorial. Operasi teritorial adalah bentuk operasi darat yang
dilaksanakan oleh satuan teritorial diperkuat unsur-unsur lain yang diperlukan.
Dalam penyelenggaraan operasi darat pada OMSP, komando kewilayahan
setempat secara otomatis beralih menjadi satuan tugas teritorial yang berada di
bawah komando pelaksana operasi. Dengan demikian, tugas-tugas pembinaan
yang bersifat rutin beralih menjadi tugas-tugas operasional untuk mencapai sasaran
operasional yang ditetapkan panglima operasi.
Tujuan operasi teritorial dalam operasi darat antara lain untuk meningkatkan
daya guna operasi tempur melalui aplikasi kemampuan teritorial kepada komando
pelaksana operasi. Kemampuan teritorial mutlak diperlukan agar panglima operasi
dan para komandan memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang lingkungan
operasi yang dihadapi. Selain itu, operasi teritorial juga bertujuan untuk
mendapatkan dukungan masyarakat setempat terhadap pasukan sendiri,
meningkatkan semangat perlawanan rakyat terhadap musuh, membantu
38

pengendalian penduduk dan pengungsi, melakukan rehabilitasi daerah yang rusak


akibat pertempuran.
Untuk melaksanakan operasi teritorial, struktur komando kewilayahan yang
ada tetap dipertahankan, kecuali apabila diperlukan operasi teritorial berskala besar
yang memerlukan dukungan unsur-unsur lain yang cukup besar. Operasi teritorial
dilaksanakan dengan operasi bhakti, didukung dengan teknik komunikasi sosial.
Selama pelaksanaan operasi darat, pengendalian operasi teritorial berada di bawah
panglima operasi. Untuk menjamin keberhasilan operasi, komandan satuan tugas
teritorial melakukan koordinasi dengan pimpinan aparat pemerintahan sipil
setempat.
Dalam OMP yang dilakukan dengan perang gerilya, peran komando
kewilayahan sangat krusial, yaitu sebagai fasilitator bagi pasukan reguler yang
bertugas melakukan aksi-aksi pertempuran. Dalam perannya tersebut, komando
kewilayahan menyediakan dan memelihara kerahasiaan “kantong-kantong gerilya”,
menjadi penghubung antara pasukan reguler dengan rakyat guna menjamin
kesinambungan dukungan logistik wilayah, mencari keterangan tentang musuh dan
pengaruh musuh terhadap penduduk dan sebagainya.
d. Operasi Pengamanan. Operasi pengamanan adalah operasi yang
dilaksanakan oleh satuan-satuan tempur, intelijen, teritorial dan satuan lainnya
guna memberikan perlindungan terhadap suatu obyek dari upaya gangguan,
perusakan atau penghancuran oleh musuh. Obyek yang dimaksud dalam operasi
pengamanan dapat berupa VVIP, obyek vital nasional yang bersifat strategis,
wilayah perbatasan atau daerah rawan konflik.
Perumusan tujuan operasi pengamanan disesuaikan dengan karakter obyek
yang dilindungi dan kemungkinan tindakan musuh terhadap obyek pengamanan.
Obyek pengamanan yang relatif kecil biasanya akan menjadi sasaran gangguan,
perusakan atau penghancuran musuh. Oleh karena itu, operasi pengamanan
terhadap obyek seperti ini diarahkan untuk memberikan perlindungan secara fisik.
Misalnya, pada pengamanan VVIP, operasi diarahkan untuk memberikan
perlindungan secara fisik terhadap diri pribadi dan atau kegiatan VVIP dari
kemungkinan upaya musuh maupun faktor-faktor lain (bencana, kecelakaan dan
sebagainya) yang dapat membahayakan jiwa atau menggagalkan kegiatan yang
akan dilakukan VVIP. Sedangkan pada pengamanan obyek vital nasional, operasi
diarahkan untuk memberikan perlindungan secara fisik terhadap obyek vital
nasional strategis dari kemungkinan penguasaan atau penghancuran oleh musuh.
Untuk mengamankan obyek yang luas, operasi pengamanan tidak mungkin
diarahkan untuk memberikan perlindungan fisik terhadap seluruh obyek tetapi
harus diarahkan untuk mencegah tindakan musuh yang membahayakan obyek
yang dilindungi. Misalnya, pada operasi pengamanan wilayah perbatasan
diarahkan untuk mencegah inflitrasi musuh atau mencegah pengaruh negatif
musuh terhadap masyarakat di wilayah perbatasan darat. Pada operasi
pengamanan daerah rawan konflik komunal diarahkan untuk mencegah provokasi
lawan terhadap kelompok masyarakat yang ada di dearah operasi.
Komando dan pengendalian operasi pengamanan dilakukan untuk menjamin
terwujudnya kesatuan tindakan guna memberikan perlindungan optimal terhadap
obyek pengamanan serta mencegah musuh melakukan upaya yang
membahayakan kondisi obyek. Bentuk dan susunan markas komando dalam
operasi pengamananan disesuaikan dengan kebutuhan operasi. Prinsip kesatuan
komando harus dipegang teguh oleh panglima operasi dan para komandan di
daerah operasi.
39

e. Operasi Khusus. Operasi khusus adalah suatu operasi yang dilaksanakan


oleh pasukan khusus yang ditujukan terhadap sasaran strategis dan terpilih yang
dikuasai atau dipengaruhi lawan. Cabang-cabang operasi khusus meliputi operasi
komando dan operasi Sandhi Yudha
1) Operasi Komando. Operasi komando adalah bentuk operasi tempur
yang dilaksanakan oleh pasukan khusus yang berkemampuan para
komando terhadap sasaran fisik yang bersifat strategis di daerah kekuasaan
musuh. Operasi komando dilaksanakan apabila memungkinkan diperoleh
keuntungan strategis dengan menggunakan skala prioritas. Oleh karena itu
operasi komando membutuhkan perencanaan yang lengkap, terperinci dan
terkoordinasikan dengan operasi lainnya dalam rangka mencapai tujuan
yang strategis. Operasi komando dapat dikatagorikan ke dalam beberapa
jenis operasi yaitu:
a) Raid. Raid adalah operasi komando yang dilakukan dengan
serbuan pendadakan terhadap sasaran terpilih yang berada di daerah
musuh atau daerah yang dikuasai musuh tanpa bermaksud untuk
menduduki sasaran dalam waktu lama. Raid dapat digunakan untuk
tugas-tugas penghancuran instalasi vital musuh, pembebasan
tawanan, penculikan tokoh-tokoh musuh serta meloloskan personel
sendiri dari daerah musuh.
b) Perebutan Cepat (Coup de Main). Perebutan cepat adalah
operasi komando yang dilakukan dengan kegiatan serbuan secara
cepat dan tepat terhadap obyek-obyek vital musuh atau bagian
medan penting yang dikuasai oleh musuh.
c) Penyekatan. Penyekatan adalah operasi komando yang
dilaksanakan untuk mengisolasi dan menghancurkan kekuatan
musuh, baik sasaran yang bersifat taktis maupun strategis.
d) Pengintaian Jarak Jauh. Pengintaian jarak jauh dilaksanakan
oleh personel berkemampuan Parako yang dilengkapi perlengkapan
khusus untuk melaksanakan kegiatan patroli di wilayah musuh guna
memperoleh intelijen tentang musuh.
2) Operasi Sandhi Yudha. Operasi sandhi yudha adalah operasi
intelijen taktis maupun strategis dengan mengutamakan pendayagunaan
potensi wilayah setempat sebagai sarana di daerah yang dikuasai atau
dipengaruhi lawan. Operasi ditujukan terhadap sasaran strategis terpilih
guna mempercepat proses penciptaan kondisi baik sebelum, selama
maupun setelah perang yang dilaksanakan oleh satuan sandi yudha.
Operasi sandi yudha dilaksanakan oleh satuan sandi yudha dengan
mengutamakan pelipatgandaan kekuatan dan pendayagunaan potensi
setempat sebagai sarana, di daerah yang dikuasai atau dipengaruhi oleh
lawan, ditujukan terhadap sasaran yang bernilai strategis terpilih guna
mempercepat proses pematangan kondisi yang diinginkan, baik sebelum,
selama maupun setelah perang. Tujuan operasi ini adalah untuk
mempercepat proses penciptaan atau pematangan suatu kondisi yang
diinginkan oleh pimpinan sesuai tugas pokok yang diberikan.
f. Operasi Psikologi. Operasi psikologi pada hakikatnya merupakan bagian
integral dari operasi informasi yang dilaksanakan dengan menyebarkan berita-
berita yang dirancang untuk mempengaruhi emosi, motivasi dan perilaku musuh,
penduduk, tokoh masyarakat dan aparat pemerintah daerah setempat agar
menguntungkan bagi pelaksanaan operasi darat.
40

Operasi psikologi adalah operasi yang sulit, terutama untuk mengendalikan


dampak sampingan dan dampak lanjutan yang tidak dikehendaki. Oleh karena itu,
operasi ini harus direncanakan dan dikendalikan oleh personel yang memiliki
keahlian khusus bidang psikologi massa dengan dibantu ahli di bidang publisistik.
Pengendalian operasional operasi psikologi dapat dilakukan oleh komandan
satuan tugas operasi informasi, komandan satuan tugas intelijen atau di bawah
kendali langsung panglima operasi. Penentuan pengendalian dilakukan
berdasarkan pertimbangan dampak yang diinginkan dari pelaksanaan operasi.
Semakin luas dan strategis dampak yang diharapkan, maka komando
pengendalian harus berada pada tataran yang lebih tinggi.
g. Operasi Informasi. Operasi informasi merupakan salah satu bentuk yang
bertujuan untuk memperoleh keunggulan informasi sehingga dapat mendukung
kelancaran pelaksanaan operasi lain yang sedang digelar di daerah operasi.
Panglima operasi menyelenggarakan operasi informasi untuk melaksanakan tugas-
tugas:
1) Mengganggu sistem informasi musuh dalam rangka menghilangkan
efektivitas aliran informasi musuh.
2) Mengamankan sistem informasi pasukan sendiri dari tindakan
perusakan maupun gangguan musuh.
3) Mengelabuhi musuh dengan menyebarkan informasi palsu berkenaan
dengan rencana-rencana operasi pasukan sendiri.
4) Mempengaruhi pikiran dan opini musuh dan penduduk di daerah
operasi sehingga menguntungkan bagi penyelenggaraan operasi secara
keseluruhan.
5) Menghancurkan sistem informasi musuh, baik yang bersifat fisik
maupun non fisik dengan menggunakan sistem senjata teknologi pernika
aktif.
Pelaksanaan operasi informasi dalam operasi darat harus diintegrasikan dan
dikoordinasikan dengan operasi-operasi lainnya. Untuk memberikan hasil yang
optimal, pelaksanaan operasi informasi sebaiknya dirancang dalam satu garis
operasi atau paralel dengan operasi intelijen dan operasi teritorial.
Pengendalian operasi informasi dapat dipusatkan pada panglima operasi
atau di bawah kendali panglima operasi intelijen, disesuaikan dengan sifat-sifat
sasaran operasinya. Apabila sasaran operasi informasi mengarah langsung pada
center of gravity musuh, maka pengendalian sebaiknya dilakukan secara terpusat
agar panglima operasi dapat secara langsung mengetahui dampak operasi
informasi terhadap pencapaian sasaran operasi darat secara keseluruhan. Apabila
sasarannya bersifat taktis, maka pengendalian operasi informasi dapat
didelegasikan kepada komandan satuan tugas intelijen.
h. Operasi Bantuan Kemanusiaan. Operasi bantuan kemanusiaan dapat
dilakukan secara mandiri dalam mengatasi bencana atau sebagai bagian integral
dari operasi darat yang digelar dalam rangka OMSP. Operasi ini dilaksanakan oleh
satuan-satuan bantuan yang terdiri dari unsur kesehatan, unsur angkutan
darat/air/udara, unsur zeni konstruksi dan unsur-unsur lain yang diperlukan. Tujuan
operasi ini adalah untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada penduduk di
daerah operasi yang mengalami penderitaan akibat pertempuran ataupun bencana
alam.
41

Pada OMSP yang melibatkan operasi tempur, garis operasi bantuan


kemanusiaan berada pada atau paralel dengan garis operasi teritorial. Oleh karena
itu, penyelenggaraan operasi bantuan kemanusiaan dikoordinasikan dengan
penyelenggaraan operasi teritorial dan operasi lain yang terkait agar pelaksana-
annya tidak mengganggu garis operasi utama yang langsung mengarah pada
center of gravity musuh. Koordinasi juga perlu dilakukan untuk mewujudkan
sinkronisasi tindakan dan penghematan sumber daya yang akan dikerahkan.
Komandan operasi bantuan kemanusiaan harus dapat meminimalisir korban dan
kerugian harta benda sekaligus mengeksploitasi keadaan yang berlaku untuk
memenangkan “hati dan pikiran” rakyat korban bencana.
Pada operasi bantuan kemanusiaan yang dilaksanakan pada masa damai,
semua upaya difokuskan untuk penyelamatan jiwa dan mengurangi dampak
bencana semaksimal mungkin. Analisis yang mendalam tentang dampak bencana
akan membantu panglima operasi untuk memfokuskan kegiatan operasi pada
sasaran yang tepat. Koordinasi awal dengan instansi pemerintah daerah setempat
(apabila masih efektif) mungkin dapat membantu panglima operasi dan staf untuk
menyusun prioritas sasaran operasi dan pengalokasian sumber daya secara tepat.
Pengendalian operasi bantuan kemanusiaan yang dilaksanakan dalam
rangka OMSP yang melibatkan operasi tempur dapat diserahkan kepada
komandan satuan tugas operasi bantuan kemanusiaan atau kepada komandan
satuan tugas teritorial. Sedangkan pada operasi yang berdiri sendiri pada masa
damai, pengendalian operasi dilakukan oleh komandan satuan tugas yang ditunjuk.
15. Penggunaan Jenis-Jenis Operasi Darat.
Penyelenggaraan operasi darat pada dasarnya adalah implementasi tugas-tugas
konstitusional TNI AD yang diamanatkan dalam Undang-Undang RI Nomor 34 Tahun
2004. Pada pasal 7 disebutkan bahwa tugas pokok TNI adalah menegakan kedaulatan
negara, mempertahankan keutuhan wilayah negara kesatuan Republik Indonesia yang
berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 serta melindungi

Gambar-5
PENGGUNAAN JENIS-JENIS OPERASI DARAT
42

segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan
terhadap keutuhan bangsa dan negara. Tugas pokok tersebut diimplementasikan dalam
operasi militer untuk perang dan operasi militer selain perang. Tugas-tugas operasional
pada operasi militer untuk perang meliputi perang terbatas melawan kekuatan militer
negara lain yang melakukan invasi terbatas dan perang semesta melawan kekuatan
militer negara lain yang melakukan agresi militer. Sedangkan tugas-tugas operasional
pada operasi militer selain perang meliputi tugas-tugas mengatasi gerakan separatis
dan pemberontakan bersenjata; mengatasi aksi terorisme; pengamanan wilayah
perbatasan; pengamanan objek vital nasional; pengamanan presiden dan wakil presiden
beserta keluarganya; pengamanan tamu negara setingkat kepala; bantuan kepolisian;
bantuan pemerintahan di daerah; bantuan penanggulangan akibat bencana; bantuan
kemanusiaan; bantuan SAR dan operasi perdamaian.
a. Tugas-tugas Operasional pada Operasi Militer untuk Perang (OMP).
Terlepas dari ada dan tidaknya kemungkinan konflik bersenjata dengan negara lain,
TNI AD harus senantiasa menyiapkan kekuatan dan kemampuannya untuk
menghadapi kemungkinan terburuk. TNI AD akan menjadi elemen penentu
kedaulatan negara manakala kekuatan bersenjata musuh telah menginjakkan
kakinya di wilayah daratan Indonesia. Untuk itu, satuan TNI AD harus siap
melaksanakan tugas-tugas tempur dan non tempur dalam OMP.
Operasi OMP diselenggarakan untuk menghadapi kekuatan militer asing
yang telah mengganggu kedaulatan NKRI di wilayah daratan. Ada dua
kemungkinan tugas operasional yang dapat dilaksanakan sesuai dengan tingkatan
konflik yang dihadapi. Pertama adalah perang terbatas di wilayah perbatasan yang
dilakukan apabila terjadi pelanggaran wilayah perbatasan darat oleh kekuatan
bersenjata negara lain. Kedua adalah perang terbuka melawan negara agresor
atau gabungan beberapa negara yang melakukan agresi militer di wilayah
Indonesia.
1) Perang terbatas untuk mengatasi pelanggaran wilayah perbatasan
darat oleh kekuatan bersenjata negara lain. Untuk melaksanakan tugas ini,
maka jenis operasi yang dapat digunakan adalah operasi tempur dengan
didukung operasi lain, yaitu operasi intelijen, operasi teritorial, operasi
informasi dan bentuk-bentuk operasi militer lain yang diperlukan.
Operasi tempur menjadi operasi pokok yang dilaksanakan dengan
menggunakan taktik, teknik dan prosedur pertempuran reguler. Karena kita
tidak akan memulai perang, maka bentuk operasi yang paling mungkin
dilakukan adalah operasi pertahanan aktif, yaitu suatu bentuk operasi
pertahanan yang mengkombinasikan penggunaan tembakan bantuan dan
penempatan pasukan di titik-titik kuat untuk menghancurkan pasukan lawan
yang mencoba memasuki daerah pertahanan. Bentuk operasi serangan
dilakukan oleh satuan-satuan taktis terhadap kedudukan musuh yang
berhasil masuk ke wilayah RI. Pelaksanaan serangan dilakukan dengan
taktik, teknik dan prosedur reguler maupun non reguler sesuai kondisi taktis
yang dihadapi di daerah operasi.
Operasi militer akan dimulai ketika upaya diplomasi menemui jalan
buntu. Panglima Kodam yang bertanggung jawab atas wilayah perbatasan
darat terkait melakukan persiapan-persiapan dengan menggelar satuan-
satuan tempur utama organiknya di sekitar wilayah perbatasan. Tembakan
bantuan ditempatkan pada posisi yang memungkinkan melakukan tembakan
ke kedudukan musuh, dengan sendirinya diperlukan senjata Armed yang
memiliki jarak tembak yang memadai. Unsur manuver ditempatkan di titik-
titik kuat di sekitar jalan-jalan pendekat yang mungkin digunakan musuh
43

untuk melakukan infiltrasi. Pada tahapan berikutnya apabila musuh berhasil


melakukan infiltrasi, maka dilakukan operasi serangan untuk menghancur-
kan kekuatan musuh tersebut.
Peran operasi intelijen sangat krusial dalam mendukung operasi,
terutama untuk memenuhi kebutuhan intelijen yang diperlukan panglima
operasi untuk menyusun rencana operasi dan mengendalikan pelaksanaan
operasi. Penggunaan intelijen manusia kemungkinan kurang efektif karena
adanya keterbatasan pada aturan pelibatan. Maka perlu dikembangkan
intelijen teknologi yang dapat melipatgandakan kemampuan intelijen
manusia tanpa melanggar aturan pelibatan.
Operasi informasi dan operasi psikologi dapat dilakukan untuk
mempengaruhi opini masyarakat di sekitar wilayah perbatasan agar
memberikan dukungan terhadap pelaksanaan operasi darat yang sedang
berlangsung. Operasi teritorial digelar untuk mengendalikan penduduk atau
pengungsi yang meninggalkan tempat tinggalnya menuju daerah yang relatif
aman. Apabila operasi berlangsung cukup lama, maka operasi teritorial
selanjutnya diarahkan untuk membangun semangat perlawanan masyarakat
agar memiliki daya tangkal terhadap usaha-usaha musuh yang akan
mempengaruhi opini mereka. Operasi-operasi lain digelar sesuai keperluan,
namun harus diingat bahwa semakin banyak operasi yang digelar akan
semakin menyulitkan tercapainya kesatuan tindakan. Oleh karena itu apabila
operasi-operasi tersebut memang benar-benar diperlukan, maka panglima
operasi harus merancang struktur komando dan pengendalian secara tepat.
Berdasarkan catatan sejarah konflik pasca PD II, operasi seperti ini
dilaksanakan dalam kurun waktu yang relatif singkat, tergantung pada cepat
atau lambatnya campur tangan negara untuk meredakan konflik. Namun
demikian kita tidak boleh berharap bahwa campur tangan negara lain selalu
akan membawa perdamaian. Campur tangan juga dapat berupa bantuan
atau perkuatan dari negara-negara sekutu dari negara musuh. Maka perlu
disiapkan kemungkinan terburuk, manakala negara kita harus berhadapan
dengan beberapa negara sekaligus yang akan melakukan agresi ke dalam
wilayah kedaulatan NKRI di darat.
2) Perang semesta melawan negara agresor atau gabungan beberapa
negara yang melakukan agresi militer di wilayah Indonesia. Apabila negara
kita menghadapi konflik bersenjata secara terbuka, baik sebagai kelanjutan
dari konflik terbatas maupun konflik dengan negara agresor, maka operasi
darat dilakukan untuk mendukung pelaksanaan perang gerilya sesuai sistem
pertahanan semesta. Perang gerilya adalah “perang mobil” sehingga
menuntut pengorganisasian satuan-satuan darat secara fleksibel.
Untuk melakukan perang gerilya, maka semua satuan darat harus
merubah bentuk agar lebih compatible dengan situasi yang akan dihadapi
dalam operasi. Satuan-satuan penyelenggara fungsi logistik tetap melaksa-
nakan fungsinya dan dikoordinir oleh komando kewilayahan setempat.
Satuan-satuan bantuan tempur ‘mematisurikan’ senjata-senjata berat dan
menyembunyikannya di tempat yang telah disiapkan oleh satuan teritorial.
Satuan-satuan lainnya mereorganisasi satuannya menjadi satuan-satuan
Infanteri. Sedangkan satuan Infanteri tetap menggunakan bentuk organisasi
yang ada. Satuan-satuan tersebut akan menjadi titik-titik kuat dan bertang-
gung jawab menguasai kantong-kantong gerilya yang telah disiapkan oleh
satuan teritorial setempat. Setiap kantong gerilya sebaiknya diduduki satuan
tempur reguler maksimal setingkat kompi. Pasukan yang lebih besar akan
44

menyulitkan keamanan dan penyediaan logistik wilayah.


Garis-garis komando tetap berlaku dalam perang gerilya agar setiap
tindakan taktis yang dilakukan oleh satuan gerilya mengarah pada tujuan
operasional dan tujuan strategis. Hubungan antar kantong gerilya dilakukan
dengan menggunakan sarana komunikasi yang paling aman, yaitu kurir yang
terlatih. Penggunaan alat komunikasi elektronika harus dibatasi karena dapat
menunjukkan keberadaan pasukan sendiri kepada musuh.
Satuan teritorial berperan penting dalam pelaksanaan perang gerilya.
Pertama, tetap memelihara territorial awareness yang dibentuk melalui
pembinaan teritorial selama masa damai. Kedua, menyiapkan kantong-
kantong perlawanan yang akan ditempati satuan tempur. Ketiga, memelihara
hubungan antar kantong perlawanan dalam rangka menjamin koordinasi dan
sinkronisasi tindakan-tindakan taktis yang akan dilakukan oleh satuan
tempur yang ada di kantong perlawanan. Keempat, menyediakan dukungan
logistik wilayah bagi satuan tempur. Kelima mempengaruhi masyarakat
untuk tetap mendukung perjuangan pasukan gerilya.
Satuan-satuan reguler yang menjadi titik-titik kuat dari mandala
gerilya melakukan tindakan-tindakan taktis secara berkala terhadap sasaran-
sasaran terpilih dalam rangka memberikan tekanan terus menerus terhadap
pasukan musuh. Tujuannya adalah untuk membuat musuh tidak merasa
aman dan turun moril. Setiap gerakan pasukan reguler harus dilakukan
dengan kekuatan yang relatif kecil agar tidak mudah terdeteksi musuh,
karena seperti diketahui, kemampuan teknologi penginderaan jarak jauh
yang dilakukan satelit dapat mengidentifikasi obyek di permukaan bumi
dengan ketelitian yang tinggi. Tindakan-tindakan taktis dengan skala besar
dilaksanakan sewaktu-waktu dengan maksud untuk menunjukkan kekuatan
pasukan kita.
Seluruh kekuatan darat bersama dengan dibantu masyarakat partisan
melancarkan operasi-operasi tempur dengan menggunakan taktik non
reguler dan asimetrik untuk melemahkan kekuatan musuh secara fisik
maupun moril. Serangan-serangan yang dilancarkan harus menjadikan
musuh merasa terkepung pasukan kita dari segala penjuru. Untuk itu, taktik,
teknik, rute, kekuatan yang digunakan dan waktu operasi harus berubah-
ubah secara tidak teratur agar tidak mudah diantisipasi musuh.
Komando dan pengendalian dalam perang gerilya disusun secara
kenyal. Pendelegasian wewenang komando diserahkan sampai ke tingkat
kompi yang berada di kantong gerilya. Namun demikian pengendalian
terpusat harus tetap ada untuk melakukan rencana-rencana operasional
untuk melemahkan pasukan musuh. Panglima Kodam memegang
kekuasaan wilayah dan mengendalikan seluruh operasi darat yang ada di
daerah kekuasaannya. Hal ini perlu dilakukan untuk menjamin agar semua
tindakan taktis yang dilakukan di daerah operasi mengarah pada sasaran
operasi dan tujuan akhir yang diharapkan. Untuk itu, komunikasi dengan
para komandan kantong gerilya harus dipelihara secara konsisten.
b. Tugas-tugas Operasional pada Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
OMSP adalah segala bentuk pengerahan dan penggunaan kekuatan TNI dalam
menghadapi segala bentuk ancaman non tradisional, termasuk ancaman yang
berupa bencana alam. Ancaman non tradisional pada awalnya merupakan
ancaman terhadap keamanan dan ketertiban publik yang dilakukan oleh aktor non
negara. Pada tingkat eskalasi tertentu, ancaman dapat berkembang sampai pada
45

taraf yang membahayakan keselamatan bangsa. Untuk mencegah dampak yang


lebih luas dan mengatasi ancaman yang mungkin timbul di wilayah daratan, maka
perlu digelar suatu operasi darat.
Tugas-tugas operasional dalam rangka OMSP dapat bersifat tempur
maupun non tempur. Keduanya memiliki sifat-sifat dasar yang berbeda. Operasi
darat yang bersifat tempur digelar untuk menghadapi kekuatan bersenjata di dalam
negeri, misalnya pemberontakan dan gerakan separatis bersenjata, aksi terorisme
pengamanan wilayah perbatasan, pengamanan objek vital nasional dan
pengamanan VVIP. Sedangkan operasi darat yang bersifat non tempur digelar
untuk membantu pemerintah di daerah dalam mengatasi permasalahan sosial
yang, membantu kepolisian, membantu penanggulangan akibat bencana,
memberikan bantuan kemanusiaan, membantu upaya SAR dan melaksanakan
perdamaian dunia dibawah bendera PBB.
1) Tugas-tugas operasional yang bersifat tempur. Operasi darat yang
bersifat tempur adalah operasi darat yang digelar untuk mengatasi kekuatan
bersenjata musuh di dalam negeri. Baik yang berupa pemberontak
bersenjata, kelompok separatis bersenjata, kelompok teroris bersenjata
maupun kelompok bersenjata lain yang berupaya mengganggu stabilitas
keamanan negara. Mereka bisa melakukan gerakan secara berdiri sendiri
maupun dibantu oleh kekuatan asing yang memiliki kepentingan di
Indonesia.
a) Operasi dalam rangka mengatasi pemberontak atau gerakan
separatis bersenjata. Operasi ini pernah digelar pemerintah beberapa
waktu lalu, seperti operasi mengatasi GAM di Aceh dan OPM di
Papua. Operasi-operasi tersebut sangat kompleks, karena kelompok
separatis melakukan perjuangan di segala lini, mulai dari sektor
ekonomi, politik dan diplomasi, klandestin serta menggunakan
kekuatan bersenjata. Oleh karena itu, selain tindakan-tindakan
persuasif pada tataran strategis, TNI menggelar operasi tempur dan
operasi-operasi non tempur secara terpadu untuk menghancurkan
kekuatan bersenjata musuh dan komponen-komponen pendukung-
nya.
Jenis-jenis operasi yang dapat digunakan dalam operasi
mengatasi pemberontak dan gerakan separatis bersenjata meliputi
operasi intelijen, operasi teritorial, operasi tempur, operasi khusus,
operasi informasi dan operasi lain yang disesuaikan dengan kondisi
daerah operasi. Pemilihan operasi jenis operasi yang akan dijadikan
operasi pokok harus mempertimbangkan dampak politis yang
ditimbulkannya. Terutama manakala panglima operasi memutuskan
untuk menjadikan operasi tempur sebagai operasi pokok.
Operasi-operasi yang digelar TNI dalam mengatasi masalah
separatisme dan pemberontakan bersenjata menggunakan tema
operasi lawan insurjensi. Secara definitif, operasi lawan insurjensi
adalah tindakan yang diambil oleh pemerintah, penduduk sipil, politik,
ekonomi, para militer dan militer dalam menghadapi insurjen. Tujuan
operasi lawan insurjensi adalah mengalahkan kekuatan separatis
bersenjata, mengurangi semangat perlawanan dan membangun
kembali legitimasi pemerintah yang sah.
Musuh yang dihadapi dalam operasi tersebut adalah insurjen
yang mempengaruhi masyarakat setempat untuk menerima ideologi
46

mereka. Bila cara-cara persuasif tidak dapat diterima maka insurjensi


akan menggunakan metode-metode lain untuk mencapai atau meraih
tujuan mereka. Metode ini meliputi intimidasi, sabotase dan subversi,
propaganda, teror dan tekanan militer. Terkadang insurjensi mencoba
mengorganisir masyarakat ke dalam gerakan massa, tujuannya
adalah membuat pemerintah menjadi tidak efektif. Beberapa dari
insurjensi ini adalah insurjensi transnasional, sehingga operasi lawan
insurjensi yang digelar menjadi lebih kompleks.
Kebanyakan operasi lawan insurjensi dilaksanakan pada tatar-
an satuan kecil seperti regu, peleton atau kompi. Namun demikian,
operasi yang lebih besar juga dilaksanakan secara konsisten untuk
mengalahkan insurjensi. Pertempuran yang berlangsung dalam
operasi lawan insurjensi kemungkinan berdampak negatif terhadap
masyarakat. Oleh karenanya para prajurit harus benar-benar
mematuhi aturan pelibatan dan hukum humaniter serta menghormati
hak azasi manusia.
Untuk mengurangi dampak sosial dan psikologis yang
ditimbulkan oleh penggunaan kekerasan, panglima operasi juga harus
merencanakan operasi teritorial, operasi informasi, operasi psikologi
dan operasi bantuan kemanusiaan secara terpadu. Perencanaan
operasi-operasi non tempur dalam operasi lawan insurjensi tidak
dilakukan setelah terjadinya pertempuran, tetapi dilakukan dalam satu
konsep operasi besar pada tahap perencanaan operasi. Dalam
perencanaan tersebut panglima operasi menganalisis tujuan akhir
yang diharapkan serta mempertimbangkan berbagai aspek
operasional yang berpengaruh serta menjadikan semua komponen
dari disain operasi seperti yang dijelaskan pada bab II sebagai
template.
Berdasarkan pengalaman operasi lawan insurjensi yang
pernah dilakukan negara-negara lain, pasukan yang besar disiapkan
untuk merespons ancaman yang cukup besar dan membahayakan
kelangsungan operasi secara keseluruhan. Namun masalah-masalah
taktis yang timbul di daerah operasi tetap diatasi oleh satuan-satuan
kecil. Satuan-satuan kecil tersebut akan melakukan pertempuran di
segala kondisi medan yang ada di daerah operasi. Apabila operasi
intelijen, operasi informasi dan operasi psikologi tidak mampu
memisahkan insurjen dari penduduk, maka satuan tempur terpaksa
harus bertempur di daerah penduduk dengan risiko kerusakan sosial
yang lebih besar.
Insurjen kadang-kadang memanfaatkan media untuk
memperoleh dukungan dari masyarakat di luar daerah konflik terdekat
atau dukungan dari negara lain, baik dukungan moril maupun
dukungan finansial. Untuk itu mereka mencari akses ke media massa
nasional untuk menyuarakan kepentingan insurjen kepada
masyarakat yang berempati. Penggunaan situs internet cenderung
semakin meningkat karena sangat efektif untuk menarik empati
kelompok intelektual yang memiliki daya tekan cukup kuat terhadap
pemerintah pusat. Untuk mengatasi hal ini, operasi informasi tidak
boleh dilakukan secara tradisional, seperti menggunakan lawan opini
di media massa pemerintah. Biasanya lawan opini seperti itu tidak
akan ditengok oleh pembaca. Lawan opini harus dikemas secara
47

profesional sehingga menarik pembaca untuk memberikan perhatian


khusus.
Keberadaan wartawan dan para peliput berita, di satu sisi
menguntungkan komando operasi untuk menyampaikan pesan-pesan
tentang kondisi operasi dalam rangka memperoleh dukungan
masyarakat nasional maupun internasional. Namun kadangkala
kepentingan profit media massa lebih mengemuka sehingga tujuan
penggunaan media massa untuk menarik simpati masyarakat tidak
tercapai. Bahkan bisa sebaliknya, misalnya kasus penyanderaan
wartawan salah satu media elektronik nasional oleh GAM telah
merugikan kepentingan operasi militer yang sedang berlangsung.
Satuan-satuan tempur terpaksa dikerahkan untuk mencari korban,
bahkan memakan waktu cukup lama. Ketika korban ditemukan, pihak
GAM justru memanipulasi keadaan untuk memojokkan komando
operasi pada posisi yang tidak menguntungkan di mata masyarakat.
Keberadaan organisasi non pemerintah di daerah operasi juga
bersifat dilematik. Panglima operasi tidak mungkin melarang
keberadaan mereka di daerah operasi apabila pemerintah telah
mengizinkan mereka untuk memasuki daerah operasi. Dalam kondisi
seperti ini, panglima operasi harus melakukan langkah-langkah
antisipatif agar organisasi non pemerintah tersebut tidak melakukan
tindakan yang menguntungkan kepentingan musuh dan menghambat
pelaksanaan operasi.
b) Operasi dalam rangka memerangi terorisme. Terorisme adalah
penggunaan kekerasan untuk menciptakan rasa takut, dimana
rangkaian tindakan ini ditujukan kepada pemerintah atau masyarakat
dengan tujuan akhir yang bersifat politik, agama ataupun ideologis.
Taktik ini biasa digunakan dalam menghadapi lawan yang tidak dapat
dikalahkan secara konvensional. Tindakan yang dilakukan mulai dari
pembunuhan hingga penggunaan senjata yang dapat menimbulkan
korban massal. Perang melawan terorisme meliputi tindakan defensif
untuk mengurangi kerawanan terhadap tindakan teroris serta tindakan
ofensif guna melumpuhkan terorisme. Perang melawan terorisme
memerlukan perencanaan secara komprehensif dan diaplikasikan
dalam tindakan-tindakan taktis yang meliputi tindakan anti terorisme
dan lawan terorisme.
(1) Anti Terorisme. Anti terorisme adalah operasi yang
bersifat defensif untuk menangkal dan mencegah kerawanan
individu maupun obyek-obyek vital dari kemungkinan serangan
teroris. Penangkalan dimaksudkan untuk memaksa teroris
membatalkan niatnya untuk melakukan aksi-aksi teror.
Sedangkan tindakan pencegahan lebih bersifat pasif dan
melibatkan masyarakat untuk secara swakarsa mencegah
timbulnya aksi-aksi teror oleh kelompok teroris.
Guna mencapai tujuan operasi secara berhasil dan
efisien, maka setiap Kodam berkewajiban menyusun rencana
operasi anti terorisme secara sistematik. Pertama, perlu
dilakukan perkiraan ancaman dan kerawanan secara terus
menerus untuk menilai kondisi masyarakat dan kemungkinan
adanya ancaman teroris. Kedua, menyusun dan mensosi-
alisasikan protap-protap anti terorisme dengan melibatkan
48

komponen masyarakat. Ketiga, melatih masyarakat untuk


melakukan tindakan anti terorisme di lingkungan sosial masing-
masing. Keempat, melakukan kerja sama dengan pemerintah
daerah setempat untuk meningkatkan kemampuan manajemen
risiko terhadap kemungkinan ancaman terorisme.
(2) Lawan Terorisme. Operasi lawan terorisme meliputi
tindakan ofensif yang dilaksanakan untuk mencegah, melum-
puhkan serta menghentikan aksi teroris. Tindakan lawan
terorisme termasuk penyerangan terhadap organisasi dan
fasilitas teroris. Tindakan lawan terorisme adalah tindakan
taktis yang bersifat khusus dan hanya dilakukan oleh satuan-
satuan yang terlatih. Di tingkat pusat, TNI AD menyiapkan
kemampuan satuan Penanggulangan Teror organik Kopassus
untuk melaksanakan tugas-tugas lawan terorisme secara
terpusat. Di tingkat Kotama operasional, Kodam membentuk
satuan lawan terorisme minimal satu kompi yang secara
struktural merupakan satuan organik Batalyon Infanteri Raider.
Penyelenggaraan operasi lawan terorisme di daerah
dikendalikan oleh Panglima Kodam dengan mengerahkan
satuan yang memiliki kemampuan lawan terorisme. Satuan
Penanggulangan Teror Kopassus dapat di-BP-kan kepada
Pangdam untuk memperkuat satuan organik Kodam.
Koordinasi dengan kepolisian daerah dan pemerintah daerah
harus dilakukan secara erat dalam rangka mengurangi dampak
kerusakan yang ditimbulkan oleh penyelenggaraan operasi.
Aspek legal formal harus menjadi salah satu
pertimbangan utama dalam penyelenggaraan operasi lawan
terorisme agar setiap tindakan prajurit yang melakukan tugas-
tugas operasi terlindungi secara hukum. Karena secara legal
formal terorisme di Indonesia dikategorikan sebagai tindakan
kriminal, sehingga penanganannya harus dilakukan berda-
sarkan hukum acara pidana yang berlaku. Panglima operasi
harus menjamin bahwa prajurit-prajurit yang ditugaskan dalam
operasi lawan terorisme benar-benar memahami aspek hukum
yang terkait dengan masalah terorisme.
Jenis-jenis operasi yang dapat digunakan dalam operasi
mengatasi terorisme antara lain operasi intelijen, operasi teritorial,
operasi khusus dan operasi informasi dan operasi lain sesuai
kebutuhan taktis yang dihadapi di daerah operasi. Pada operasi lawan
terorisme yang dilakukan dalam ruang dan waktu terbatas (misalnya,
pembebasan sandera), operasi khusus dilaksanakan sebagai operasi
pokok dengan didukung jenis-jenis operasi lain yang diperlukan. Pada
operasi anti terorisme yang memakan waktu lama, operasi teritorial
bisa dipilih sebagai operasi pokok yang diarahkan untuk mening-
katkan kepekaan masyarakat terhadap ancaman terorisme. Kepekaan
masyarakat terhadap ancaman terorisme akan mempersempit ruang
gerak teroris, sehingga memungkinkan pelaksanaan operasi lawan
terorisme untuk menghancurkan kekuatan teroris secara fisik.
c) Operasi pengamanan wilayah perbatasan. Operasi penga-
manan wilayah perbatasan dilakukan selain menunjukkan kehadiran
permanen juga dilakukan untuk mengamankan wilayah dan penduduk
49

di sekitar perbatasan dari kemungkinan ancaman, baik dari dalam


maupun dari luar negeri. Jenis-jenis operasi yang dapat digunakan
dalam operasi pengamanan wilayah perbatasan antara lain operasi
pengamanan yang didukung dengan intelijen, operasi teritorial,
operasi informasi dan operasi lain yang diperlukan. Dalam operasi
pengamanan wilayah perbatasan, operasi tempur harus disiapkan
untuk menghadapi kontinjensi yang mungkin terejadi. Pemilihan
operasi pokok disesuaikan dengan perkembangan situasi taktis yang
dihadapi di daerah operasi. Manakala kondisi masih damai stabil,
maka operasi teritorial dapat dipilih sebagai operasi pokok dengan
didukung operasi intelijen. Meskipun kondisi damai stabil, operasi
tempur harus disiapkan untuk mengantisipasi situasi yang sewaktu-
waktu berubah.
Satuan-satuan yang ditugaskan dalam operasi pengamanan
wilayah perbatasan harus memiliki kemampuan komunikasi sosial
yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas negosiasi dengan
‘mitra’ yang bertugas di seberang perbatasan. Satuan pelaksana
operasi melakukan kegiatan taktis yang diperlukan sesuai dengan
dinamika lingkungan operasi yang dihadapi di daerah operasi seperti
patroli, menduduki pos-pos pengamanan, memeriksa orang-orang
yang keluar masuk perbatasan dan sebagainya. Satuan juga
melakukan operasi informasi misalnya penyiaran radio) dan
melakukan kegiatan teritorial secara terus menerus untuk
meningkatkan kesadaran bela negara masyarakat di sekitar wilayah
perbatasan serta kegiatan lain yang diperlukan untuk mencapai tujuan
operasi.
Dukungan logistik dilakukan oleh unsur-unsur logistik komando
operasi dengan melakukan kegiatan distribusi bekal dan pelayanan
dengan menggunakan metode yang tepat. Satuan-satuan pelaksana
operasi pengamanan wilayah perbatasan biasanya menduduki
medan-medan yang relatif terisolir, maka kegiatan pelayanan
personel harus direncanakan secara cermat guna memelihara moril
prajurit yang sedang bertugas.
Pengendalian operasi taktis dilakukan oleh para komandan
satuan taktis, sedangkan pengendalian seluruh operasi dilakukan oleh
panglima operasi. Koordinasi antar satuan biasanya sulit dilakukan
karena faktor medan, maka penggunaan sarana komunikasi satelit
lebih diutamakan agar panglima operasi dapat memantau dinamika
operasi secara real time.
d) Operasi pengamanan obyek vital nasional. Operasi penga-
manan obyek vital nasional yang bersifat strategis bertujuan untuk
mencegah kerugian materiil yang dapat berdampak negatif terhadap
keamanan nasional. Ancaman terhadap obyek vital nasional dapat
berupa tindakan sabotase oleh kelompok masyarakat tertentu untuk
memperoleh kepentingan kelompoknya. Mereka bisa menggunakan
alat perusak yang dibawa manusia atau alat angkut darat maupun
udara yang dikendalikan dari jauh. Maka satuan-satuan pengamanan
obyek vital nasional yang bernilai strategis perlu dilatih dan dilengkapi
dengan peralatan khusus, misalnya peralatan penjinak bahan
peledak. Untuk menghadapi ancaman dari udara, panglima operasi
bisa mengerahkan kemampuan pertahanan udara aktif dari unsur-
50

unsur Arhanud TNI AD yang ada dibawah komandonya.


Jenis operasi yang dapat digunakan pada pengamanan obyek
vital nasional antara lain adalah operasi pengamanan dengan
didukung operasi intelijen, operasi teritorial dan operasi non tempur
lainnya sesuai kebutuhan. Operasi tempur disiapkan untuk
mengantisipasi kemungkinan penggunaan kekuatan bersenjata oleh
musuh, baik dari darat maupun dari udara.
Perencanaan operasi pengamanan obyek vital nasional harus
dikoordinasikan dengan otoritas sipil yang bertanggungjawab atas
pengoperasian obyek vital nasional terkait. Koordinasi diperlukan
untuk mengetahui titik-titik rawan yang harus dilindungi, dampak yang
mungkin ditimbulkan oleh tindakan taktis pasukan sendiri, langkah-
langkah penyelamatan personel apabila terjadi serangan terhadap
obyek dan sebagainya.
Operasi dilakukan dengan mengerahkan satuan-satuan yang
terlatih untuk melakukan tindakan taktis dan teknis guna memini-
malisir peluang musuh untuk melakukan tindakan penyerangan atau
sabotase terhadap obyek yang dilindungi. Pasukan pengamanan
disusun dalam perimeter yang berlapis-lapis untuk memperkecil
peluang musuh melakukan serangan terhadap obyek. Selain itu,
satuan pelaksanaan operasi harus dilengkapi dengan peralatan
khusus yang diperlukan untuk melakukan tugasnya.
Komando dan pengendalian operasi pengamanan obyek vital
nasional harus terpusat. Penggunaan fasilitas K4IPP harus dikoordi-
nasikan dengan pihak pengelola obyek vital nasional karena biasanya
pihak pngelola telah memasang sistem sensor yang berfungsi untuk
mendeteksi kemungkinan ancaman.
e) Operasi pengamanan VVIP. Operasi Pengamanan VVIP
adalah segala usaha, pekerjaan, kegiatan dan tindakan yang
dilakukan terus menerus untuk menjaga keselamatan jiwa VVIP dari
segala situasi dan kondisi yang dapat mengganggu ataupun
mengancam keselamtan jiwa VVIP. Yang dimaksud dengan VVIP
disini adalah Presiden RI beserta keluarganya dan Wakil Presiden RI
beserta keluarganya serta kepala pemerintahan negara sahabat
setingkat kepala negara beserta keluarganya yang berkunjung ke
Indonesia.
Operasi pengamanan menjadi operasi pokok, sedangkan
operasi tempur, intelijen, teritorial dan operasi lainnya bersifat
membantu. Pelaksanaan operasi pengamanan VVIP di darat
dilaksanakan dengan membentuk ring pengamanan. Satuan-satuan
TNI AD melaksanakan pengamanan tidak langsung jarak jauh yang
berada dalam ring dua dan ring tiga. Sedangkan ring satu merupakan
tanggung jawab pasukan pengamanan Presiden. Kegiatan-kegiatan
yang dilakukan dalam operasi pengamanan VVIP di wilayah meliputi:
(1) Pengamanan rute dan perjalanan. Pengamanan obyek
selama di perjalanan adalah pengamanan yang dilaksanakan
di sepanjang rute perjalanan, di rangkaian kendaraan selama
obyek berada di kendaraan.
51

(2) Pengamanan kompleks/tempat acara. Kompleks/tempat


acara merupakan tempat yang dikunjungi atau sebagai tujuan
utama obyek di daerah. Tempat ini sangat bervariasi dapat
berupa tempat kedatangan atau keberangkatan obyek seperti
bandara, pelabuhan, gedung atau lapangan tempat suatu
acara dilaksanakan. Kompleks juga termasuk tempat
bermalam obyek selama melaksanakan kunjungan di daerah.
(3) Penyelamatan. Kegiatan penyelamatan terhadap dilaku-
kan oleh tim penyelamatan dalam keadaan darurat yang
bersifat taktis maupun medis manakala terjadi situasi yang
diperkirakan dapat membahayakan keamanan dan
keselamatan VVIP.
(4) Pengawalan dan protokoler. Pengawalan selama perja-
lanan di darat dilaksanakan oleh satuan Polisi Militer dibantu
oleh unsur instansi terkait dan susunan konvoi dibentuk sesuai
dengan kebutuhan tanpa mengabaikan aspek keamanan.
2) Tugas-tugas operasional yang bersifat non tempur. Operasi darat
yang bersifat non tempur dilaksanakan dengan mengerahkan satuan-satuan
TNI AD, tanpa menggunakan kemampuan tempurnya. Tujuan operasi darat
yang bersifat non tempur adalah untuk menanggulangi dampak kerusakan
akibat bencana dan mengembalikan stabilitas keamanan wilayah pasca
bencana. Bentuk-bentuk operasi bantuan dapat berupa operasi bantuan
kemanusiaan, operasi bantuan pemerintahahan di daerah maupun operasi
bantuan kepolisian
a) Operasi bantuan kemanusiaan. Satuan-satuan non tempur
merupakan kekuatan inti dalam pelaksanaan operasi dengan tugas
menyelenggarakan fungsinya dengan melaksanakan kegiatan-
kegiatan penyelamatan, konstruksi dan rehabilitasi infrastruktur,
penanganan hukum dan kegiatan lain yang diperlukan. Misalnya,
satuan Zeni melaksanakan kegiatan rekonstruksi, revitalisasi fasilitas
umum dan kegiatan lain yang diperlukan dalam batas-batas
kemampuan yang dimilikinya. Satuan kesehatan melaksanakan
kegiatan penyelamatan, pertolongan medis dan kegiatan lain yang
terkait dengan masalah kesehatan manusia dan lingkungan. Satuan
perbekalan dan angkutan melaksanakan kegiatan dukungan angkutan
darat dan air serta melakukan pendistribusian bantuan materiil
kepada para korban. Satuan Penerbad melaksanakan kegiatan
dukungan angkutan udara untuk pertolongan korban maupun untuk
pendistribusian bantuan materiil di tempat-tempat yang sulit dijangkau
sarana angkutan darat.
Satuan-satuan tempur dan bantuan tempur juga dapat
dikerahkan untuk membantu satuan-satuan “fungsional” dengan
menggunakan kemampuan dasar prajurit yang berkaitan dengan
tugas-tugas bantuan seperti kemampuan Longmalap, kemampuan
intelijen, kemampuan teritorial, kemampuan survival dan sebagainya.
Tugas-tugas yang dapat diberikan kepada satuan tempur dan
bantuan tempur antara lain memberikan bantuan tenaga manusia
untuk melakukan tugas-tugas satuan “fungsional”, atau menga-
mankan harta benda korban bencana dari tindakan-tindakan oknum
yang tidak bertanggung jawab.
52

Karena fokus pada korban bencana, para prajurit yang


melaksanakan tugas operasi bantuan kadang-kadang ‘terlupakan’.
Oleh karena itu, staf logistik operasi harus menyusun rencana
dukungan operasi dengan cermat agar kebutuhan prajurit selama
pelaksanaan operasi tercukupi. Kegiatan dukungan dalam operasi
bantuan kemanusiaan merupakan kunci keberhasilan operasi secara
keseluruhan.
Kegiatan satuan-satuan darat dikendalikan oleh panglima
operasi yang secara keseluruhan berada di bawah kendali operasi
kepala pemerintah daerah sebagai penguasa darurat sipil setempat.
Pada saat terjadi penurunan kondisi keamanan di daerah bencana,
panglima operasi menyiapkan satuannya untuk melakukan tindakan-
tindakan pencegahan yang diperlukann sesuai aturan pelibatan yang
berlaku.
b) Operasi bantuan kepada kepolisian. Aturan pelibatan dasar
dalam operasi ini adalah bahwa operasi dilaksanakan hanya atas
permintaan. Dalam operasi ini, satuan darat tidak menggunakan
kemampuan tempur. Kemampuan yang dapat digunakan dalam
operasi bantuan kepolisian antara lain kemampuan hukum,
kemampuan penerangan dan kemampuan lain yang diperlukan.
Kemampuan tempur tidak digunakan dalam operasi bantuan
kepolisian karena secara legal formal tindakan taktis tempur tidak
diperlukan dan tidak terlindungi secara hukum.
Dalam pelaksanaan operasi bantuan kepada kepolisian, para
komandan dan prajurit harus benar-benar memahami aspek hukum
dari operasi yang sedang dilaksanakan. Untuk membantu para
komandan, pada setiap satuan (setingkat kompi) harus ditempatkan
seorang Perwira Hukum. Tindakan-tindakan kekerasan hanya dilaku-
kan apabila terpaksa dan disesuaikan dengan aturan pelibatan yang
berlaku.
Pengendalian kegiatan unsur-unsur TNI AD pada operasi
bantuan kepolisian berada pada kepala kepolisian yang bertanggung
jawab atas pelaksanaan operasi kepolisian yang sedang dilaksa-
nakan. Koordinasi dengan satuan-satuan dari angkatan lain yang
terlibat operasi harus dilakukan secara ketat untuk menjamin
kesatuan tindakan.
c) Operasi bantuan pemerintahan di daerah. Operasi bantuan
pemerintahan di daerah digelar manakala terjadi keadaan darurat,
dimana pemerintahan sipil tidak dapat berfungsi karena masalah
keamanan atau kerusakan infrastruktur akibat bencana. Operasi ini
dimaksudkan untuk membantu pemerintah daerah dalam
menyelenggarakan fungsi-fungsi pemerintahan baik sebagian atau
secara keseluruhan. Tujuannya adalah untuk memulihkan kembali
fungsi pemerintahan di daerah secara utuh.
Jenis operasi yang dapat digelar dalam memberikan bantuan
pemerintahan di daerah adalah operasi teritorial, operasi informasi
dan operasi lain yang diperlukan. Kekuatan utama yang dilibatkan
dalam operasi ini adalah komando kewilayahan setempat dibantu
dengan satuan-satuan lain yang diperlukan. Selama fungsi
pemerintahan belum berfungsi ‘normal’, unsur-unsur pelaksana
53

operasi mengambil alih tugas-tugas pemerintahan yang tidak


berfungsi. Keterlibatan TNI AD secara berangsur-angsur dikurangi
sesuai perkembangan yang terjadi di lapangan. Komandan
menggunakan parameter-parameter pemerintahan untuk mengukur
kemampuan otoritas sipil dalam melaksanakan fungsinya, bukan
menggunakan parameter keamanan.
Dukungan operasi bantuan pemerintahan di daerah harus
dikoordinasikan dengan pemerintah pusat. Penggunaan aset TNI AD
dalam operasi ini harus diadministrasikan dengan baik untuk
menghidari penyalahgunaan oleh pihak-pihak yang berupaya meng-
gagalkan operasi.
Pengendalian operasi bantuan pemerintahan di daerah
dilakukan oleh panglima operasi dengan menggunakan fasilitas
komando dan pengendalian organik. Namun apabila fasilitas
komando dan pengendalian pemerintahan sipil masih berfungsi
dengan baik, maka fasilitas tersebut harus digunakan secara optimal
karena fasilitas itulah yang nantinya akan difungsikan untuk
menyelenggarakan fungsi-fungsi pemerintahan pada kondisi normal.
54

BAB IV
OPERASI DARAT DALAM KAMPANYE MILITER

Jenderal Sudirman pernah mengisahkan bahwa sewaktu


Panglima Diponegoro diburu oleh Belanda, maka beliau lewat
di depan pondok. Seorang perempuan segera menyapu bekas
kudanya dan waktu musuh datang, tiada dapat diikuti lagi
jejaknya dan tiada seorang pun yang “mengetahui”…….
Jenderal A.H Nasution

16. Pengertian Kampanye Militer


Kita terkadang terjebak pada pendapat yang menyatakan bahwa setiap operasi
gabungan adalah kampanye militer atau pendapat yang menyatakan bahwa kampanye
militer harus dilakukan dengan menggelar operasi gabungan. Baik kampanye militer
maupun operasi gabungan termasuk dalam kategori operasi militer. Namun dengan
merujuk pada definisi kampanye militer yang berlaku universal, kampanye militer tidak
harus dilakukan dengan operasi gabungan saja, tetapi dapat juga dilakukan dengan
serangkaian operasi matra tunggal atau serangkaian operasi gabungan, atau kombinasi
antara operasi gabungan dengan operasi matra tunggal.
Kampanye militer dapat didefinisikan sebagai rangkaian operasi militer yang saling
berhubungan dan dilaksanakan dalam ruang dan waktu tertentu guna mencapai tujuan
yang bersifat strategis, baik untuk kepentingan militer maupun untuk kepentingan
nasional. Dari definisi tersebut, terdapat empat dimensi yang melengkapi karakteristik
kampanye militer, yaitu:
 Dimensi tujuan. Kampanye militer berada pada tataran operasional dan strategis.
Oleh karenanya, penyelenggaraan kampanye militer diarahkan untuk mencapai tujuan
strategis yang telah ditetapkan Panglima TNI. Berdasarkan tujuan strategis tersebut,
panglima operasi merumuskan tujuan dan sasaran-sasaran operasional serta
mengorganisir pasukan yang ada dibawah komandonya serta memberikan tugas-tugas
operasional untuk mencapai sasaran-sasaran operasional yang telah ditetapkan.
 Dimensi kegiatan. Kampanye merupakan rangkaian dari beberapa operasi besar
(battle, bukan combat) yang saling berhubungan. Masing-masing operasi memiliki
tujuan operasional yang dideduksi dari tujuan strategis. Kampanye militer bukan satu
operasi besar atau beberapa operasi yang dilakukan bersama-sama di suatu daerah
operasi.
 Dimensi ruang. Kampanye militer dilakukan dalam daerah operasi yang relatif luas
sehingga memerlukan pendelegasian wewenang pengendalian operasi dari panglima
operasi kepada para komandan untuk menyusun rencana taktis masing-masing
dengan berpedoman pada pokok-pokok keinginan panglima operasi.
 Dimensi waktu. Kampanye militer adalah rangkaian operasi militer yang kompleks,
sehingga jarang sekali diselesaikan dalam waktu singkat. Kampanye militer mungkin
dilakukan dalam hitungan satu atau dua bulan bahkan beberapa tahun, selama tujuan
strategis belum tercapai. Namun demikian, penentu kebijakan politik negara dapat
menghentikan kampanye militer apabila tujuan strategis telah dicapai.
Definisi tersebut menyiratkan bahwa kampanye militer tidak harus dilakukan
dengan operasi gabungan, tetapi bisa dilakukan oleh satuan-satuan dari satu angkatan
atau beberapa angkatan yang melakukan operasi secara terkoordinir di daerah operasi
55

yang sama. Apabila ada tujuan strategis yang ditetapkan Panglima TNI, maka TNI AD
dapat menyelenggarakan kampanye militer dengan cara menggelar operasi-operasi darat
yang dilakukan secara berangkai dibawah kendali seorang panglima operasi.
Untuk lebih memahami pengertian kampanye militer, pada bab ini diuraikan
pegalaman kampanye militer yang pernah dilakukan di Indonesia. Untuk kampanye militer
gabungan akan menggunakan contoh Operasi Penumpasan PRRI dan Operasi Trikora,
sedangkan kampanye militer yang dilakukan satuan-satuan darat akan menggunakan
contoh Perang Kemerdekaan II.
17. Pengalaman Kampanye Militer di Indonesia
a. Kampanye Militer Darat. Sebelum digunakannya pesawat udara dalam
peperangan, hampir semua kampanye militer dilakukan oleh satuan-satuan darat.
Misalnya kampanye militer yang dilancarkan oleh tentara Perancis dibawah
Napoleon pada akhir abad IX. Contoh kampanye militer darat yang pernah
dilakukan di Indonesia adalah Perang Kemerdekaan II yang dimulai sejak Belanda
gagal menggunakan perjanjian Renville untuk melegitimasi kekuasaannya di
seluruh wilayah Indonesia.
Kampanye militer ini pada dasarnya merupakan bentuk perlawanan
bersenjata atas tindakan militer Belanda yang bermaksud meniadakan negara
republik Indonesia yang didukung TNI. Meskipun organisasi TNI pada saat itu
belum sempurna, persiapan kampanya militer telah dilakukan sejak TNI melakukan
‘hijrah‘ dari kantong-kantong gerilya ke wilayah Republik Indonesia. Secara de
facto, kampanye militer mulai dilancarkan sejak dikeluarkannya Perintah Siasat
Nomor 1 pada tanggal 9 Nopember 1949 oleh Panglima Besar Sudirman. Perintah
tersebut adalah petunjuk-petunjuk strategis dan konsep-konsep operasional yang
memberikan arahan garis besar tentang bagaimana kampanye militer harus
dilakukan.
Untuk mengawali kegiatan kampanye militer, maka satuan-satuan TNI yang
masih berada di wilayah Republik Indonesia (Yogyakarta) melakukan gerakan
penyusupan ke basis operasi yang berada di Jawa Timur dan Jawa Barat.
Sebagian kekuatan tetap berada di Yogyakarta dan Jawa Tengah untuk
melancarkan operasi-operasi ofensif terhadap kekuatan Belanda yang ada di
daerah tersebut. Komando dan pengendalian kampanye militer yang dilakukan
Panglima Besar bersifat mobil guna menghindari penghancuran oleh Belanda.
Untuk itu, pemberian perintah-perintah dan laporan dari satuan-satuan pelaksana
operasi dilakukan melalui kurir.
Pulau Jawa dibagi menjadi beberapa wehrkreise yang menjadi basis operasi
bagi pasukan TNI. Para Komandan Wehrkreise bertanggung jawab untuk
melaksanakan operasi di wilayahnya masing-masing. Operasi dilaksanakan dengan
menggunakan taktik gerilya karena kekuatan pasukan TNI tidak seimbang
dibandingkan dengan kekuatan Belanda, terutama ditinjau dari kelengkapan
persenjataan. Di sektor Jawa Timur, Brigade III melaksanakan aksi-aksi ofensif
untuk mengganggu pasukan Belanda yang menguasai pusat-pusat kota. Di sektor
Jawa Barat, Brigade XIII juga melaksanakan aksi-aksi ofensif terhadap sasaran-
sasaran yang berupa fasilitas militer yang dikuasai Belanda.
Aksi-aksi ofensif tersebut disadari tidak mungkin memberikan kemenangan
yang menentukan. Oleh karenanya aksi-aksi ofensif tersebut dilakukan secara
sporadis untuk memberikan tekanan secara terus-menerus guna menurunkan moril
pasukan Belanda. Aksi-aksi ofensif biasanya dilaksanakan pada malam hari guna
memperoleh pendadakan dan menghindari perlawanan yang kuat dari pasukan
Belanda. Selain itu, TNI juga melancarkan aksi-aksi ofensif yang relatif besar untuk
56

menunjukkan eksistensi TNI kepada dunia luar dan meningkatkan kepercayaan


rakyat terhadap pemerintah RI yang didukung TNI. Operasi-operasi besar tersebut
adalah serangan umum di Yogyakarta pada tanggal 1 Maret 1949 dan serangan
umum di Surakarta pada tanggal 10 Agustus 1949.
Serangan umum yang dilancarkan di Yogyakarta pada tanggal 1 Maret 1949
dilaksanakan mulai pagi hingga siang hari. Serangan umum tersebut dilancarkan
oleh pasukan dari Wehrkreise III dengan melakukan operasi serangan dari
berbagai arah sehingga pasukan Belanda tidak bisa mengkonsolidasikan
kekuatannya untuk melakukan perlawanan terhadap pasukan TNI dalam waktu
singkat. Pendadakan yang diperoleh dari kerahasiaan rencana operasi telah
memberikan inisiatif kepada pasukan Wehrkreise III untuk memperoleh keunggulan
taktis, walaupun bersifat sementara. Tujuan operasional serangan tersebut adalah
untuk mendapat penguasaan wilayah selama beberapa jam pada siang hari. Hal itu
dilakukan guna memberikan keuntungan bagi kepentingan politik RI di luar negeri,
khususnya perjuangan para diplomat RI di PBB.
Serangan umum juga dilakukan di Surakarta pada tanggal 7 sampai 10
Agustus 1949. Operasi serangan yang dipimpin Letkol Slamet Riyadi ini dilakukan
dari berbagai penjuru kota sehingga memaksa Belanda untuk menghadapi
beberapa front sekaligus. Waktu serangan dipilih dengan memperhitungkan
keuntungan strategis yang bisa diperoleh dari serangan tersebut. Sesuai
kesepakatan yang telah dicapai antara para pemimpin politik RI dengan perwakilan
pemerintah Belanda, kedua pihak akan melakukan gencatan senjata pada tanggal
11 Agustus 1945. Setelah menunjukkan kemampuannya dalam pertempuran yang
berlangsung selama 4 hari 4 malam di seluruh kota, pasukan TNI tetap dapat
berkeliaran di dalam kota dan pasukan Belanda tidak bisa berbuat apa-apa karena
terikat oleh kesepakatan gencatan senjata.
Dalam Perang Kemerdekaan II, TNI memang tidak mendapat kemenangan
taktis maupun operasional. Namun berkat semua upaya taktis dan operasional
yang dilakukan TNI dalam kampanye militer tersebut, pemerintah RI memperoleh
keuntungan strategis dan politis di mata internasional. Aksi-aksi ofensif yang
dilancarkan selama Perang Kemerdekaan II tersebut dipancarluaskan ke berbagai
penjuru dunia atas bantuan pemerintah Burma. Keuntungan tersebut dimanfaatkan
dengan baik oleh para diplomat RI di PBB untuk memperkuat dukungan dari
negara-negara sahabat dan menekan Belanda agar bersedia berunding. Mereka
akhirnya berhasil memaksa pemerintah kerajaan Belanda untuk berunding dalam
Konferensi Meja Bundar dan mengakui kedaulatan RI. TNI memang tidak
memenangi pertempuran tetapi bangsa Indonesia memenangi perang dan
kedaulatan Republik Indonesia dapat ditegakkan.
b. Kampanye Militer Gabungan. Untuk memberikan gambaran tentang
kampanye militer yang dilakukan secara gabungan, kita dapat belajar dari
pengalaman sejarah TNI. Pada bab ini diuraikan sejarah singkat operasi Trikora
dan operasi Tujuh Belas Agustus, dimana satuan-satuan TNI AD terlibat dalam
kampanye militer yang terdiri dari rangkaian operasi gabungan dan operasi-operasi
angkatan yang dilaksanakan secara tersinkronisasi untuk mencapai tujuan strategis
yang telah ditetapkan.
1) Operasi Penumpasan PRRI. Operasi penumpasan PRRI dapat
dikategorikan sebagai kampanye militer gabungan karena pada operasi ini
dilakukan untuk mencapai tujuan strategis yang ditetapkan oleh pemerintah,
yaitu untuk menjaga keutuhan wilayah NKRI yang terancam oleh gerakan
PRRI di Sumatera. Untuk itu Markas Besar Angkatan Perang RI menggelar
beberapa operasi besar dengan mengerahkan kekuatan angkatan darat,
57

angkatan laut dan angkatan udara. Operasi besar yang digelar meliputi:
 Operasi Tegas untuk menghancurkan kekuatan pemberontak dan
menguasai Pekanbaru dan Riau Daratan
 Operasi Sapta Marga untuk menghancurkan kekuatan pemberontak dan
menguasai Medan dan Sumatera Utara
 Operasi 17 Agustus untuk menghancurkan kekuatan pemberontak dan
menguasai padang dan Sumatera Barat
 Operasi Sadar untuk menghancurkan kekuatan pemberontak dan
menguasai Palembang dan Sumatera Selatan.
Untuk melancarkan pelaksanaan operasi-operasi besar tersebut,
dibentuk komando-komando gabungan. Masing-masing komando gabungan
bertugas merencanakan dan melaksanakan operasi besar dan rangkaian
operasi taktis yang diperlukan untuk merebut sasaran operasional yang telah
ditetapkan.
a) Operasi Tegas. Sebelum operasi tempur dilancarkan, komando
Operasi Tegas telah melancarkan operasi intelijen ke daerah musuh
untuk memperoleh intelijen tentang gelar, kemampuan dan kekuatan
pemberontak serta melakukan kontak dengan satuan setempat yang
masih setia kepada pemerintah RI. udara
Operasi tempur pertama dilakukan dengan melakukan serbuan
lintas udara ke lapangan udara Pekanbaru oleh PGT AURI dan
RPKAD pada tanggal 12 Maret 1958. Pasukan lain melakukan
pendaratan melalui laut di sekitar Dumai, kemudian melakukan link-up
dengan pasukan yang telah berhasil menguasai Pekanbaru. Operasi
selanjutnya dilakukan untuk memulihkan kondisi keamanan wilayah
pacca Operasi Tegas. Operasi lanjutan ini dilakukan bersama-sama
dengan satuan-satuan lokal yang masih setia dengan pemerintah
NKRI.
Kekuatan Angkatan Udara dan Angkatan Laut dikerahkah
untuk mendukung operasi yang dilancarkan di wilayah daratan.
Misalnya, unsur-unsur angkatan laut dikerahkan untuk mendukungn
pendaratan dan melakukan penyekatan laut untuk memutus jalur
komunikasi pemberontak ke dunia luar. Sedangkan unsur-unsur
angkatan udara memberikan dukungan udara, baik dukungan
angkutan udara maupun bantuan tembakan udara.
Keberhasilan Operasi Tegas menguasai Pekanbaru dan kota-
kota sekitarnya di daerah Riau daratan telah memberikan tekanan
moril musuh yang berada di daerah Sumatera Utara dan Sumatera
Barat sehingga secara tidak langsung telah memberikan keunggulan
moril terhadap pasukan yang melaksanakan operasi di daerah lain.
b) Operasi Sapta Marga. Operasi intelijen dalam rangka Operasi
Sapta Marga dilakukan dengan menyusupkan satuan-satuan intelijen
ke daerah operasi di sekitar Medan, Tapanuli dan beberapa daerah
lainnya. Selain untuk mendapatkan intelijen tentang musuh, operasi
intelijen juga dilakukan untuk melakukan link-up dengan pasukan
setempat yang masih setia dengan pemerintah RI.
Operasi operasi pokok ditandai dengan operasi lintas udara
yang dilakukan oleh RPKAD untuk membantu satuan lokal yang
58

sedang menghadapi pasukan musuh yang relatif lebih kuat. Operasi


lintas udara juga dilakukan di sekitar Belawan untuk membebaskan
pasukan lokal yang terjepit pasukan musuh.
Operasi Sapta Marga meraih sukses dengan dikuasainya Kota
Medan dan kota-kota utama di Sumatera Utara sehingga sisa-sisa
pasukan pemberontak tercerai-berai ke daerah pedalaman. Selanjut-
nya digelar operasi-operasi lanjutan yang bertujuan mengeksploitasi
keberhasilan operasi selanjutnya serta memulihkan kondisi keamanan
wilayah. Sebagian kekuatan yang berada di bawah komando operasi
Sapta Marga digerakkan kearah Sumatera Barat untuk mendukung
pelaksanaan operasi 17 Agustus.
c) Operasi 17 Agustus. Operasi yang dilaksanakan di Sumatera
Barat ini merupakan operasi terbesar yang digelar dalam operasi
penumpasan pemberontakan PRRI. Pemilihan Sumatera Barat
didasari oleh pertimbangan bahwa daerah tersebut merupakan basis
kekuatan PRRI, dimana para petinggi politik dan militer gerakan PRRI
berada.
Tujuan operasi ini adalah untuk merebut Kota Padang dan
kota-kota penting lainnya dari pendudukan pasukan pemberontak.
Perebutan Kota Padang dimulai pada tanggal 17 April 1958, didahului
dengan operasi amfibi dan pendaratan administrasi melalui laut.
Bersanaan dengan itu dilakukan operasi lintas udara di sekitar
pangkalan udara Tabing untuk membentuk tumpuan udara bagi
pendaratan pasukan berikutnya melalui udara. Setelah semua
pasukan telah didaratkan, operasi darat lanjutan digelar untuk
menguasai Kota Padang dan kota-kota lainnya yang masih dikuasai
oleh pasukan pemberontak.
Setelah kekuatan utama pemberontak berhasil dihancurkan,
operasi dilanjutkan oleh satuan-satuan setempat. Selain untuk
memulihkan kondisi keamanan, operasi-operasi lanjutan juga
dilakukan dengan tujuan untuk memberikan tekanan secara terus-
menerus terhadap sisa-sisa pemberontak yang masih ada. Operasi-
operasi lanjutan yang dilaksanakan selama dua tahun tersebut telah
memaksa pada pemberontak menyerahkan diri.
d) Operasi Sadar. Operasi ini dimulai pada awal Mei 1958 dengan
tujuan untuk mengatasi gangguan yang dilancarkan oleh simpatisan
PRRI dan mencegah pelarian pemberontak PRRI dari wilayah
Sumatera bagian utara ke Sumatera Selatan.
Operasi pengamanan yang dilancarkan di Sumatera Selatan ini
telah berhasil memulihkan kondisi keamanan wilayah di Sumatera
Selatan. Keberhasilan operasi Sadar di Sumatera Selatan menandai
berakhirnya kampanye militer yang digelar di sebagian Pulau
Sumatera.
2) Operasi Trikora. Operasi Trikora adalah kampanye militer gabungan
dua tahun yang dilancarkan untuk membebaskan wilayah Irian Barat dari
cengkeraman Belanda dan mengintegrasikannya sebagai bagian dari NKRI.
Kampanye militer ini dimulai pada tanggal 19 Desember 1961, ketika
Presiden Soekarno mengumumkan pelaksanaan Operasi Trikora dalam
sebuah pidato di Alun-alun Utara Yogyakarta yang diikuti dengan
pembentukan Komando Mandala melalui keputusan Presiden No. I/1962
59

tanggal 2 Januari 1962.


Tugas komando mandala adalah merencanakan, menyiapkan dan
menyelenggarakan kampanye militer untuk merebut Irian Barat sebagai
bagian integral wilayah NKRI. Komando Mandala ini berpusat di Makassar
dan bertanggung jawab atas daerah operasi yang mencakup wilayah Kodam
XIII/Merdeka, Kodam XIV/ Hasanuddin, Kodam XV/Pattimura, Kodamar
VI/Udayana, Korud II dan Korud IV.
Pada tahap awal kampanye, Komando Mandala melancarkan operasi
intelijen untuk menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi penyeleng-
garaan penentuan pendapat rakyat. Bersamaan dengan penciptaan kondisi
tersebut, pemerintah membangun kekuatan angkatan bersenjata modern
yang lebih kuat daripada kekuatan Belanda yang tergelar di Irian Barat. Hal
ini dimaksudkan sebagai tindakan penangkalan agar Belanda secara
sukarela menyerahkan hak Indonesia atas wilayah Irian Barat.
Dari tiga strategi yang telah disusun, pemerintah memilih untuk
merebut dan mempertahankan seluruh Irian Barat dalam waktu secepat-
cepatnya untuk memperoleh kekuasaan de facto atas seluruh wilayah
tersebut. Pilihan strategi tersebut didasarkan pada keyakinan yang
berkembang pada saat itu bahwa pilihan strategi perang konvensional lebih
menguntungkan, karena kalah menangnya perang dipandang dari segi
kehancuran musuh dan pendudukan wilayah sebagai kemenangan perang.
Dalam kampanye militer tersebut TNI menyusun rencana kampanye
untuk melancarkan kampanye militer dengan pentahapan operasi sebagai
berikut:
a) Tahap infiltrasi. Infiltrasi dalam jangka waktu 10 bulan dimulai
awal 1962 sampai akhir 1962. Infiltrasi dilaksanakan melalui laut dan
udara dengan menggunakan beberapa kapal selam, kapal atas
permukaan dan pesawat-pesawat udara. Sejumlah 10 kompi inti
angkatan darat, laut dan udara dan dikerahkan untuk menyusup ke
daerah-daerah yang tidak dikuasai lawan untuk menciptakan kondisi
yang menguntungkan bagi tahap operasi berikutnya, antara lain
dengan melakukan operasi penerangan untuk memperoleh dukungan
penduduk setempat dan membentuk kantong-kantong perlawanan
Republik Indonesia di Irian Barat. Selain kompi inti tersebut juga
disusupkan sejumlah sukarelawan Kantong-kantong perlawanan
tersebut disiapkan sebagai daerah basis operasi untuk operasi
berikutnya.
b) Tahap eksploitasi. Eksploitasi dilakukan dengan menggelar
operasi ofensif secara besar-besaran untuk merebut dan menduduki
Irian Barat. Operasi yang diberi nama Operasi Jayawijaya tersebut
disiapkan sejak awal tahun 1962 dengan menyiapkan kekuatan utama
yang akan melakukan penyerangan. Beberapa perintah operasi untuk
melancarkan Operasi Jayawijaya telah dikeluarkan sejak 19 Juli 1962.
Hari “H” operasi ditentukan tanggal 17 Agustus 1962. Sampai dengan
15 Agustus 1962 semua pasukan penyerang telah siap di daerah
kumpul depan mulai dari Pulau Morotai di utara sampai dengan
Kepulauan Aru di selatan.
Kapal-kapal ALRI dan pesawat-pesawat udara AURI telah
disiapkan untuk mendaratkan pasukan penyerang ke daratan Irian
Barat melalui beberapa jurusan. Bersamaan dengan itu, infiltrasi terus
60

dilanjutkan untuk memperkuat para gerilyawan yang telah berhasil


membentuk kantong-kantong perlawanan di wilayah Irian Barat,
antara lain di Sorong, Fak Fak, Biak dan Kaimana.
c) Tahap konsolidasi. Tahap konsolidasi akan dilaksanakan
setelah tahap eksploitasi selesai dilaksanakan. Selain untuk
mengkonsolidasikan semua kekuatan militer yang dikerahkan dalam
operasi, konsolidasi juga disiapkan untuk menerima peralihan
kekuasaan pemerintahan Irian Barat dari pemerintah Belanda ke
pemerintah RI.
Pada kenyataannya, pertempuran besar antara pasukan RI tidak
dilaksanakan karena pada tanggal 16 Agustus 1962 Presiden RI
mengeluarkan perintah penghentian permusuhan karena Belanda di Irian
Barat karena pemerintah Belanda telah sepakat untuk menyerahkan
kekuasaan atas Irian Barat kepada pemerintahan peralihan yang disponsori
PBB, untuk selanjutnya diserahkan kepada pemerintah Indonesia setelah
penentuan pendapat rakyat Irian Barat.
Kampanye militer berakhir dengan ditandatanganinya Perjanjian New
York, yang secara resmi mengakhiri sengketa Indonesia dengan Belanda
atas Irian Barat. Walaupun decisive battle antara Indonesia dan Belanda
tidak terjadi, Operasi Trikora dapat dianggap sukses karena sasaran-
sasaran operasional berhasil dicapai dan mengarah pada tercapainya tujuan
strategi.
c. Pelajaran yang dapat dipetik. Belajar dari operasi-operasi militer tersebut
dapat diambil suatu definisi umum bahwa kampanye militer merupakan salah satu
kegiatan perang yang berbentuk rangkaian operasi militer yang saling berhubungan
dan dilaksanakan dalam ruang dan waktu yang cukup luas guna mencapai tujuan
dan sasaran yang bersifat strategis. Selain itu, kita dapat mempelajari beberapa hal
yang bermanfaat dalam rangka mewujudkan kesiapan kampanye militer pada masa
mendatang.
1) Karakteristik kampanye militer. Berdasarkan kampanye militer yang
pernah dilakukan, ada beberapa karakteristik kampanye militer yang perlu
dipahami oleh para perencana kampanye militer sebagai berikut:
a) Kampanye militer sangat terkait dengan kepentingan politik dan
strategis, memiliki implikasi politis dan strategis, serta didukung oleh
aspek-aspek non militer. Karakteristik ini menjadikan kampanye militer
semakin kompleks. Perencanaan kampanye militer idealnya mengalir
dari tujuan strategis yang ditetapkan oleh pemerintah untuk kepen-
tingan strategis nasional. Dalam kaitan ini, perencana kampanye
militer harus bisa menarik benang merah antara kepentingan strategis
nasional dengan kepentingan strategis militer sehingga keduanya
berada pada aliran yang sama. Namun kadang-kadang kepentingan
strategis nasional justru mengalir dari kepentingan strategis militer,
seperti yang terjadi pada Perang Kemerdekaan II. Saat Yogyakarta
sebagai ibukota Republik Indonesia telah dibombardir tentara sekutu,
Panglima Besar Jenderal Sudirman membuat keputusan ketika
Presiden mengajak Panglima Besar untuk tetap tinggal di Yogyakarta:
“Tidak bisa, saya tentara. Tempat saya yang terbaik di tengah-tengah
anak buah dan saya akan meneruskan perjuangan, met of zonder
pemerintah, TNI akan berjuang terus.” Dalam pernyataan tersebut,
Panglima Besar memproyeksikan suatu tujuan strategis nasional
61

dibalik tujuan strategis militer yang beliau pahami betul, namun tidak
dipahami oleh pemimpin-pemimpin sipil pada saat ini.
b) Kampanye militer merupakan rangkaian dari beberapa operasi,
baik yang bersifat defensif maupun ofensif. Karakteristik inilah yang
membedakan kampanye militer dengan operasi militer biasa. Maka
dapat dikatakan bahwa setiap kampanye militer adalah operasi militer,
tetapi tidak setiap operasi militer dapat disebut kampanye militer.
Dalam kampanye militer biasanya ada satu atau beberapa operasi
besar yang dijadikan tema operasi. Operasi-operasi besar tersebut
ditempatkan pada garis-garis operasi yang langsung mengarah pada
center of gravity musuh dan tujuan akhir kampanye.
c) Kampanye militer memerlukan perencanaan yang kompre-
hensif dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Dengan adanya
beberapa operasi militer dalam satu mandala, maka perencanaan
harus dilakukan secara cermat dengan mempertimbangkan faktor-
faktor lingkungan operasi yang berpengaruh, termasuk kondisi politik,
ekonomi dan sosial budaya yang berlaku secara nasional.
d) Kampanye militer dilaksanakan dalam jangka waktu yang
cukup lama. Lamanya waktu kampanye terutama disebabkan oleh
adanya beberapa sasaran operasional yang harus dicapai serta
adanya tujuan akhir yang bersifat strategis. Selain itu, keberhasilan
kampanye militer tidak semata-mata ditentukan oleh tercapainya
sasaran-sasaran operasional saja, tetapi juga sangat tergantung pada
pencapaian tujuan strategis penggunaan kekuatan nasional lainnya,
yaitu politik dan diplomasi, ekonomi serta informasi.
e) Kampanye militer diselenggarakan dalam suatu mandala yang
relatif luas. Luasnya mandala kampanye militer disebabkan oleh
adanya operasi-operasi besar yang harus dilaksanakan secara
berturut-turut atau serempak. Operasi-operasi besar itu biasanya
memerlukan pengerahan kekuatan militer yang relatif besar sehingga
memerlukan daerah operasi.
f) Kampanye militer dapat dilakukan oleh satu angkatan atau
lebih. Kampanye militer tidak selalu bersifat gabungan, tergantung
dari karakteristik operasi militer yang akan dilaksanakan, terutama
kondisi daerah operasi dan musuh yang dihadapi dalam mandala
kampanye. Kampanye militer yang dilaksanakan di darat dalam
rangka OMSP guna menghadapi insurjen, penggunaan kekuatan
angkatan laut dan udara kemungkinan tidak diperlukan.
2) Penyelenggaraan kampanye militer. Dari tiga contoh kampanye militer
tersebut, dapat diambil pelajaran berharga untuk diaplikasikan pada konsep
penyelenggaraan kampanye militer pada masa yang akan datang. Ketiga
kampanye militer memberikan beberapa pelajaran tentang bagaimana
mengorganisir kekuatan untuk sebuah kampanye militer, kemudian
menggelar kekuatan untuk melaksanakan operasi dan tindakan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
a) Pengorganisasian kekuatan. Pada Perang Kemerdekaan II,
pengorganisasian kekuatan sebenarnya telah dimulai semenjak
Perang Kemerdekaan I. Perintah Siasat Nomor 1 menjadi petunjuk
strategis untuk melakukan pengorganisasian kekuatan TNI dalam
bentuk wehrkreise yang siap melancarkan operasi gerilya dari basis
62

operasi masing-masih.
Pada operasi penumpasan PRRI, satuan-satuan yang akan
dilibatkan dalam operasi diorganisir berdasarkan tugas-tugas yang
akan mereka lakukan. Unsur-unsur angkatan udara diorganisir secara
terpusat untuk mendukung pelaksanaan operasi darat dan operasi
laut yang akan digelar di Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat dan
Sumatera Selatan.
Pengorganisasian operasi Trikora dilaksanakan dengan
matang dan komprehensif serta dilakukan dalam waktu yang cukup
lama sejak perundingan-perundingan yang dilaksanakan sebelum
tahun 1960 hingga pengumuman operasi Trikora oleh Presiden
Soekarno pada tahun 1961 yang diikuti dengan pembentukan
Komando Mandala pada awal 1962. Bahkan sebelum pembentukan
Mandala, pemerintah membangun kekuatan angkatan bersenjata
dengan memodernisasi sistem senjata yang diperoleh dari Uni Soviet.
Mobilisasi umum juga dilakukan dengan membentuk pasukan
sukarelawan secara besar-besaran.
b) Penggelaran kekuatan. Pada perang kemerdekaan II,
penggelaran kekuatan dilakukan dengan membagi wilayah tanggung
jawab wehrskreise menjadi beberapa subwehrkreise untuk
memberikan tekanan psikologis sedemikian rupa sehingga pasukan
Belanda merasa terkepung oleh kekuatan APRI. Gelar kekuatan
seperti ini dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa keunggulan
kekuatan fisik ada di tangan Belanda. Dengan gelar seperti ini,
pasukan TNI akan dapat menghindari penghancuran sekaligus
memberikan pendadakan terhadap pasukan Belanda yang bertahan
secara statis.
Pada operasi penumpasan pemberontakan PRRI, penggelaran
kekuatan dilakukan dengan membagi daerah operasi menjadi
beberapa sektor, yaitu Sumatera Selatan, Riau, Sumatera Utara dan
Sumatera Barat. Penggelaran kekuatan seperti itu dilakukan
berdasarkan pertimbangan intelijen musuh yang tersebar di daerah-
daerah tersebut.
Pada Operasi Trikora, Indonesia melakukan infiltrasi untuk
menempatkan kekuatan di daerah musuh dalam bentuk kantong-
kantong daerah bebas Republik Indonesia di Irian Barat. Untuk
melancarkan operasi serangan, pasukan Komando Mandala disusun
menjadi bagian pertahanan, bagian penipuan, bagian penghubung,
bagian pengangkut, bagian logistik dan bagian penyerang. Angkatan
udara membentuk kesatuan-kesatuan tempur yang terpencar di
beberapa pangkalan udara untuk mendukung pelaksanaan operasi
serangan. Untuk membantu operasi serangan, angkatan laut juga
menyusun kekuatan kapal cepat torpedo, kapal selam dan satuan
tugas amfibi.
c) Pelaksanaan kampanye militer. Pada perang kemerdekaan
II, operasi dilakukan dengan menggunakan pendekatan tidak
langsung dan pendekatan langsung. Pendekatan langsung diarahkan
pada kekuatan-kekuatan militer Belanda di Yogyakarta. Sedangkan
pendekatan tidak langsung dilakukan dengan menggunakan taktik
gerilya yang dilakukan oleh satuan-satuan dibawah wehrkreise III
63

secara terus menerus untuk melemahkan moril pasukan Belanda. TNI


menggunakan konsep peperangan assimetrik berdasarkan
pertimbangan keperimbangan kekuatan dimana keunggulan berada
dipihak musuh.
Pada operasi penumpasan pemberontakan PRRI, operasi
dilaksanakan dengan melakukan serangan langsung ke pusat-pusat
kekuatan musuh. Tujuannya adalah untuk merebut tempat-tempat
strategis yang dikuasai musuh dan menghancurkan pusat-pusat
kekuatan musuh di kota-kota penting yang dikuasainya.
Pada Operasi Trikora, satuan-satuan TNI secara gabungan
melakukan infiltrasi di daerah musuh dalam rangka menyiapkan
serangan besar terhadap satuan-satuan Belanda yang ada di Irian
Barat. Hal ini dilakukan setelah kekuatan TNI mencapai tiga kali lebih
besar dibandingkan dengan kekuatan Belanda. Strategi ini sejalan
dengan konsep offense-defense balance dalam force to space ratio.
Menurut Liddell Hart, apabila musuh kuat, pasukan yang ingin
menyerang secara langsung harus tiga kali lipat lebih kuat daripada
pasukan lawan.
18. Perencanaan Kampanye Militer
Berpedoman pada pernyataan “kita cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan”,
maka bangsa Indonesia harus selalu menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan
terburuk. Untuk itu, TNI sebagai alat negara dibidang pertahanan harus senantiasa
melakukan langkah-langkah strategis untuk mempersiapkan jajarannya guna menghadapi
kemungkinan penggunaan kekuatan TNI untuk menghadapi ancaman terhadap kedau-
latan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa. Sesuai dengan tetarannya,
perencanaan kampanye militer dapat dibedakan menjadi perencanaan stretegis dan
perencanaan operasional.
a. Perencanaan strategis. Kebijakan pertahanan negara yang tertuang dalam
Doktrin Pertahanan Negara, Strategi Pertahanan Negara dan Postur Pertahanan
Negara mengasumsikan bahwa agresi militer merupakan salah satu ancaman yang
perlu diperhatikan dalam menyusun konsep pertahanan negara. Dengan asumsi
itu, konsep penyelenggaraan pertahanan negara yang dituangkan dalam dokumen-
dokumen tersebut adalah sistem pertahanan semesta dengan menempatkan
pertahanan militer sebagai prioritas penyusunan pertahanan yang bertumpu pada
kekuatan TNI sebagai komponen utama yang dipersiapkan untuk menghadapi
ancaman militer yang dilaksanakan dengan pola OMP maupun OMSP.
Penyelenggaraan OMP menggunakan segenap komponen pertahanan
negara yang terdiri atas komponen utama, komponen cadangan dan komponen
pendukung. Dalam kerangka pertahanan militer, TNI menyelenggarakan perenca-
naan strategis mengimplementasikannya dalam bentuk gelar kekuatan. Dalam
kaitan itu, TNI digelar secara kenyal untuk memenuhi tuntutan strategi pertahanan
dan strategi militer untuk kepentingan penangkalan maupun penindakan.
Penggelaran tersebut merupakan implementasi konsep pertahanan militer berlapis
yang mengedepankan upaya penangkalan ancaman yang diikuti oleh penindakan
apabila musuh militer memasuki wilayah NKRI dan selanjutnya dikembangkan
konsep perang berlarut apabila musuh berhasil memasuki wilayah daratan dan
melakukan penguasaan atas wilayah NKRI.
Pertahanan untuk tujuan perang berlarut merupakan lapis terakhir dari
sistem pertahanan Indonesia yang menentukan hidup matinya bangsa Indonesia.
Sebagai lapis terakhir, Strategi Perang Berlarut merupakan bentuk Perang
64

Semesta yang melibatkan seluruh bangsa Indonesia untuk mempertahankan tetap


tegaknya NKRI. Strategi Perang Berlarut dilaksanakan manakala perlawanan
konvensional yang mengintegrasikan upaya pertahanan militer dan pertahanan non
militer tidak memberikan hasil. Maka, demi kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI,
perang berlarut menjadi pilihan dan diselenggarakan secara total, tanpa mengenal
menyerah dan berlangsung di seluruh wilayah yang dikuasai musuh. Strategi
Perang Berlarut menggunakan taktik perang gerilya untuk menguras kemampuan
lawan dan pada saat yang tepat melancarkan serangan balas yang menentukan
untuk mengusir lawan keluar dari wilayah NKRI. Disamping untuk menghadapi
ancaman militer yang berasal dari luar, pertahanan militer yang disusun dalam
sistem pertahanan negara juga diarahkan untuk melaksanakan tugas-tugas OMSP
dengan bentuk yang telah diatur dalam undang-undang antara lain untuk
menghadapi ancaman separatisme, pemberontakan bersenjata, terorisme,
pelanggaran wilayah dan memberikan bantuan Polri maupun otoritas sipil dalam
menangani berbagai konflik sosial dan bencana alam yang terjadi di seluruh
wilayah NKRI. Untuk itu maka TNI melakukan perencanaan strategis yang meliputi
pembangunan kekuatan dan gelar kekuatan agar siap melaksanakan tugas-tugas
operasional.
1) Pembangunan kekuatan. Dengan bentuk geografis dan kondisi sosial
yang unik dan potensi ancaman yang beragam, pembangunan kekuatan TNI
disiapkan untuk mendukung strategi pertahanan negara, dengan TNI
sebagai komponen utama. Dihadapkan pada kondisi tersebut dan
kompleksitas tugas dalam rangka OMP dan OMSP, maka organisasi TNI AD
disusun berdasarkan kompartementasi strategis untuk mewadahi gelar
satuan yang tersebar di seluruh wilayah NKRI. Di sisi lain, TNI AD juga
menyusun organisasi “siap pakai” untuk melakukan tugas-tugas kontinjensi
dalam bentuk Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) bersama-sama
dengan angkatan lain.
Salah satu hal penting yang juga perlu dipersiapkan adalah
pengorganisasian komponen cadangan pertahanan negara. Sesuai dengan
Postur Pertahanan Negara yang dirumuskan oleh Kementerian Pertahanan
tahun 2007, penyusunan komponen cadangan diselenggarakan dalam
rangka sistem pertahanan semesta yang ditujukan untuk menghasilkan efek
penangkalan. Untuk tujuan tersebut, pengorganisasian komponen cadangan
disesuaikan dengan susunan komando kewilayahan yang ada. Misalnya,
komponen cadangan darat disusun di tiap-tiap Kodam. Saat ini komponen
cadangan yang telah terbentuk masih merupakan model yang akan
dikembangkan pada masa mendatang.
Sesuai dengan dokumen Kodam Sebagai Kompartemen Strategis
2003, kekuatan komponen cadangan tersebut tersusun dalam kompi-kompi
Bala Cadangan yang disebar di delapan Kodam dengan jumlah keseluruhan
sekitar 900 orang. Selain dalam bentuk Bala Cadangan, juga terdapat unsur
Mahasiswa dan Alumni Mahasiswa yang sudah mendapat pelatihan dasar
kemiliteran yang tersusun dalam organisasi Menwa dan Alumni Menwa.
Hingga saat ini jumlah Menwa dan Alumni Menwa masing-masing sekitar
25.000 orang dan 62.000 orang. Selain yang disebutkan di atas, yang
tergabung dalam kekuatan nyata Cadangan Pertahanan adalah anggota
veteran berjumlah sekitar 30.000 orang dimana sebagian sudah berusia
lanjut.
Komponen cadangan ini idealnya dapat digerakkan untuk mendukung
komponen utama apabila sewaktu-waktu diperlukan guna menyeleng-
65

garakan sebuah kampanye militer di seluruh wilayah NKRI. Proses


perencanaan, pengorganisasian, penyiapan hingga pelaksanaan kampanye
tersebut dilaksanakan melalui proses perencanaan yang berlaku secara
umum mulai dari analisa tugas, analisa lingkungan dan ancaman hingga
penyusunan rencana dalam bentuk Rencana Operasi atau Rencana
Kontinjensi.
2) Gelar kekuatan. Organisasi yang telah terbentuk disusun dan digelar
untuk mencapai tujuan strategis, baik yang bersifat penangkalan maupun
penindakan. Selain gelar kekuatan tersebar di tiap-tiap kompartemen
strategis, juga disiapkan gelar kekuatan terpusat yang sewaktu-waktu siap
dikerahkan ke berbagai wilayah NKRI. Satuan-satuan TNI AD yang berada
di bawah jajaran Kostrad dibentuk menjadi PPRC yang memiliki kesiapan
dan kemampuan operasional tinggi dan dengan cepat dapat digerakkan
untuk melaksanakan operasi militer guna mengatasi persoalan di daerah
tertentu dalam wilayah NKRI. PPRC TNI merupakan suatu Komando
Gabungan Khusus yang tugas pokoknya melaksanakan operasi tempur
untuk penindakan awal terhadap serangan atau ancaman secara cepat di
suatu wilayah Rl dalam rangka pertahanan keamanan negara. Mengingat
operasi yang dilaksanakan oleh TNI tidak semuanya bersifat konvensional,
maka satuan-satuan yang berada dalam struktur organisasi PPRC harus
dibekali kemampuan beradaptasi dengan keberagaman tugas yang mungkin
dihadapi.
Dengan prinsip kesemestaan dalam sistem pertahanan negara yang
menempatkan TNI sebagai komponen utama, konsep perang berlarut
merupakan pilihan paling realistis. Oleh karena itu gelar komando
kewilayahan merupakan pilihan yang tepat untuk mengelola potensi
pertahanan yang ada di wilayah agar dapat ditransformasikan menjadi
komponen cadangan dan komponen pendukung yang efektif. Dengan
demikian, eksistensi komando kewilayahan pada dasarnya merupakan salah
satu wujud kesiapan TNI AD untuk menggelar kampanye militer guna
mempertahankan kedaulatan wilayah NKRI dari setiap bentuk ancaman baik
militer maupun non militer yang datang dari luar maupun dalam negeri. Gelar
komando kewilayahan diarahkan untuk mewujudkan kepekaan teritorial yang
tinggi guna mengantisipasi setiap ancaman yang mungkin timbul baik dari
dalam maupun luar negeri secara dini. kepekaan teritorial ini harus menjadi
kemampuan dan karakter dasar para prajurit TNI AD yang bertugas di
komando teritorial yang juga harus didukung dengan sistem K4IPP yang
memadai. Dengan terbentuknya kepekaan teritorial seperti ini, maka setiap
kemungkinan ancaman yang timbul akan dapat diantisipasi dengan cepat
dan dilakukan penindakan yang perlu agar tidak berkembang menjadi
ancaman besar yang membahayakan kedaulatan NKRI.
b. Perencanaan Operasional. Perencanaan kampanye militer pada dasarnya
adalah aplikasi prosedur pemecahan persoalan dalam skala besar melalui sebuah
disain operasi. Perencanaan bertujuan untuk menetapkan sasaran serta merinci
tujuan-tujuan operasional dan bagaimana melakukannya untuk mencapai sasaran
yang telah ditetapkan. Meskipun perencanaan kampanye militer merupakan sebuah
proses formal, namun seni dan intuisi untuk menyelenggarakan kampanye militer
tetap memainkan peran yang penting, terutama dalam menghadapi ketidakpastian
dan situasi-situasi di mana diperlukan tindakan-tindakan yang mendesak.
Kebebasan bertindak dalam operasi juga diperlukan sehingga naluri seorang
panglima operasi untuk mengambil tindakan-tindakan cepat menjadi kunci
66

keberhasilan kampanye militer. Proses perencanaan kampanye militer meliputi


serangkaian langkah prosedural. Namun, proses ini harus fleksibel sehingga
memberikan ruang bagi pengembangan naluri panglima operasi. Secara garis
besar, proses perencanaan kampanye militer mencakup beberapa langkah sebagai
berikut:
1) Pertama, menganalisa situasi. Karena kampanye militer berada pada
tataran operasional namun dapat membawa implikasi strategis dan politis,
maka analisa situasi dilakukan dengan memperhatikan semua faktor yang
berpengaruh. Bidang-bidang yang harus dianalisa mencakup masalah
pemerintahan, politik luar negeri dan diplomasi, ekonomi dan distribusi
kekayaan, kemanusiaan dan masalah-masalah kesehatan, masalah
keamanan dan kriminalitas dalam masyarakat, etnik dan agama, media
masa dan sebagainya. Proses analisa ini akan memberikan pemahaman
yang lengkap kepada panglima operasi selaku pengambil keputusan tentang
situasi nyata yang akan dihadapi serta akar permasalahan yang perlu
dijadikan pertimbangan. Dengan kelengkapan pemahaman ini, maka
diharapkan perencanaan operasional dan taktis dapat dilakukan dengan
tepat.
2) Kedua, identifikasi dan analisa masalah. Langkah kedua ini
merupakan langkah yang dilakukan secara paralel. Pada saat seorang
panglima operasi melakukan analisa tugas pokok, maka staf melanjutkan
evaluasi terhadap faktor-faktor lingkungan dan situasi yang sedang
berlangsung sebagai hasil dari analisa yang dilakukan pada langkah
pertama. Kedua proses ini kemudian digabungkan untuk mendapatkan
analisa lanjutan yang bermuara pada garis besar rencana kampanye untuk
dijadikan sebagai petunjuk awal atau rencana sementara yang harus
dikerjakan. Langkah kedua ini mencakup kegiatan analisa tugas pokok,
penilaian terhadap faktor-faktor yang berpengaruh dan membuat petunjuk
perencanaan.
a) Analisa tugas pokok. Analisa tugas pokok dalam perencanaan
kampanye militer harus memiliki fokus kepada pencapaian sasaran
operasional. Sasaran operasional ini kemudian akan menjadi bagian
dari sasaran strategis yang ingin dicapai. Pada tahap ini pertanyaan-
pertanyaan dan pertimbangan yang digunakan memiliki lingkup yang
lebih luas. Setelah menganalisa tugas pokok, panglima operasi mulai
merumuskan sasaran-sasaran kampanye militer yang akan
dimasukkan dalam petunjuk perencanaan kepada staf.
b) Evaluasi faktor-faktor yang berpengaruh oleh staf. Dalam
waktu yang bersamaan, para perwira staf melakukan evaluasi
terhadap berbagai faktor yang berpengaruh, khususnya yang
berkaitan dengan situasi yang sedang berkembang dan
kemungkinan-kemungkinan yang dapat menunjang pemecahan
masalah. Faktor-faktor yang dinilai meliputi faktor cuaca, medan dan
karakteristik lain yang berkaitan dengan pelaksanaan operasi serta
kemungkinan-kemungkinan perubahan yang terjadi. Disamping
mengevaluasi faktor lingkungan, staf juga membuat evaluasi tentang
hal-hal yang berkaitan dengan pasukan sendiri, pasukan kawan serta
musuh yang dimungkinkan akan berpengaruh pada jalannya
kampanye atau operasi. Tujuan dari proses ini adalah untuk
memperoleh pemahaman yang lengkap dan utuh tentang karakter
fisik dan psikologis semua elemen yang terlibat dalam kampanye,
67

baik pasukan sendiri, kawan, musuh maupun lingkungan.


c) Petunjuk perencanaan panglima operasi. Panglima operasi dan
staf menggabungkan hasil analisa masing-masing dan
mendiskusikannya untuk kemudian membangun sebuah garis besar
rencana kampanye. Rencana garis besar ini setidaknya memuat
sasaran-saran operasional yang realistis, langkah-langkah serta
sumber daya yang diperlukan untuk mencapai sasaran-sasaran
tersebut. Mereka akan secara bersama-sama memilih dan
menganalisa faktor-faktor yang berpengaruh, sesuai dengan informasi
penting yang telah didapatkan, khususnya informasi tentang
kelemahan sendiri yang harus mendapatkan perhatian. Selanjutnya
panglima operasi akan membuat dan menyampaikan petunjuk-
petunjuk perencanaan yang akan digunakan oleh staf untuk mengolah
semua elemen yang tersedia guna mendukung keinginan-keinginan
panglima operasi.
3) Ketiga, pengembangan rencana kampanye dan operasi pendahuluan.
Hasil analisa dan evaluasi yang dilakukan pada langkah-langkah
sebelumnya kemudian akan digunakan oleh panglima operasi dan staf untuk
membangun sebuah rencana kampanye. Rencana kampanye ini juga dapat
dijadikan sebagai langkah awal untuk menyusun rencana operasi dalam
ruang dan waktu yang lebih sempit dan menjadi bagian dari kampanye.
Sasaran operasional dan garis besar yang telah ditetapkan kemudian
digunakan untuk mengembangkan rencana kampanye itu sendiri. Titik-titik
krusial dan hal-hal lain yang mendukung pencapaian sasaran perlu
diidentifikasi secara jelas. Sasaran operasional dapat di kelompok-
kelompokkan secara tematis ke dalam garis-garis operasi, yang akan
membantu penggambaran keseluruhan kampanye. Garis-garis operasi akan
menjadi alat kendali bagi pasukan dimana mereka dapat bertindak sebagai
kekuatan inti atau mendukung kekuatan yang lain. Apabila kerangka ini telah
terbangun, maka panglima operasi dan staf kemudian menganalisa sasaran
operasional dan menentukan kekuatan yang diperlukan untuk mencapainya.
Jika rencana kampanye memuat perencanaan untuk jangka panjang,
maka rencana operasi pendahuluan lebih membahas perencanaan jangka
pendek yang akan dilaksanakan pada tahap awal kampanye. Panglima
operasi dan staf memilih unsur-unsur yang akan dikerahkan pada saat-saat
awal kampanye militer.
4) Keempat, mengembangkan rencana operasi. Setelah langkah-
langkah sebelumnya diselesaikan, maka langkah berikutnya adalah
mengembangkan rencana operasi yang meliputi kegiatan pengembangan
cara bertindak, penilaian terhadap cara bertindak dan pembuatan keputusan
panglima operasi serta penyusunan perintah operasi.
c. Rancangan Operasi. Dalam proses perencanaan kampanye militer,
panglima operasi menyusun rancangan operasi untuk memudahkan panglima
operasi dalam membentuk rencana operasi yang utuh dan mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Penyusunan rancangan operasi pada hakikatnya merupakan
esensi dari “seni operasi” untuk memenangkan pertempuran dan perang. Panglima
harus menyusun rancangan operasi pada saat mengembangkan rencana
kampanye. Selain berfungsi untuk memvisualisasikan rencana kampanye militer,
rancangan operasi juga berfungsi sebagai salah satu alat kendali kampanye militer
pada tahap pelaksanaan.
68

Setiap negara mempunyai bentuk rancangan operasi yang berbeda-beda,


tergantung pengalaman perang yang pernah dilakukannya sepanjang sejarah
keberadaan negara masing-masing. Namun ada beberapa bentuk rancangan
operasi yang berlaku secara universal, yaitu:
1) Tujuan Akhir dan Sasaran Operasional. Tujuan akhir adalah kondisi
akhir yang bersifat strategis bagi militer maupun kepentingan nasional.
Tujuan akhir yang bersifat strategis nasional adalah suatu kondisi yang
mengarah pada tujuan nasional yang ditetapkan oleh pimpinan nasional.
Sedangkan tujuan akhir yang bersifat strategis militer adalah tercapainya
kemenangan militer yang akan mengantar pada tujuan akhir yang bersifat
nasional yang dinyatakan oleh pimpinan tertinggi dalam lingkungan militer.
Sasaran operasional adalah sasaran militer yang ingin dicapai dalam
pelaksanaan operasi atau kampanye militer dalam rangka mencapai tujuan
akhir dan ditentukan oleh panglima operasi yang ditunjuk. Sebagai contoh,
sasaran operasional dalam operasi Trikora adalah hancurnya satuan-satuan
militer Belanda yang tersebar di wilayah Irian Barat. Tujuan akhir yang
bersifat militer adalah tidak berfungsinya dukungan militer terhadap
pemerintahan pendudukan Belanda di Irian Barat, sedangkan tujuan akhir
yang bersifat nasional adalah tegaknya kedaulatan RI atas Irian Barat dan
terintegrasinya wilayah NKRI dari Sabang sampai Merauke.
Penilaian terhadap sasaran operasional sangat krusial bagi
suksesnya operasi militer. Oleh karena itu kewajiban pertama yang harus
dilakukan oleh panglima operasi adalah menentukan kriteria keberhasilan
operasi yang akan mengarah pada tercapainya tujuan akhir yang ditetapkan
oleh Panglima TNI sebagai pimpinan strategis. Sekali kriteria keberhasilan
tersebut telah ditetapkan, semua kegiatan operasional harus diarahkan pada
tercapainya kondisi tersebut. Kemampuan untuk melakukan analisa
terhadap petunjuk-petunjuk strategis Panglima TNI merupakan kunci sukses
operasi militer. Untuk itu, panglima operasi harus senantiasa memelihara
hubungan dengan Panglima TNI guna menjamin terwujudnya kesatuan
komando dan kesatuan tindakan di daerah operasi. Sasaran operasional
yang telah mendapat persetujuan Panglima TNI merupakan titik awal untuk
memulai perencanaan operasi militer.
Sasaran operasional harus ditetapkan secara jelas dan tegas agar
para komandan taktis dapat mengembangkan inisiatifnya di daerah operasi
yang menjadi tanggung jawabnya. Penentuan sasaran yang jelas akan
memberikan kebebasan bertindak sendiri dan menekan kebebasan
bertindak musuh. Dalam OMP, sasaran operasional biasanya sangat mudah
diidentifikasi. Namun dalam OMSP, sasaran operasional tidak selalu mudah
diidentifikasi karena permasalahan operasional yang dihadapi relatif lebih
kompleks. Kemampuan panglima operasi untuk memahami dan
menganalisis tujuan akhir merupakan prasyarat mutlak untuk menentukan
sasaran operasional. Namun, kadang-kadang kesulitan merumuskan
sasaran operasional tidak hanya disebabkan oleh ketidakmampuan
panglima operasi tetapi dapat pula disebabkan oleh tidak jelasnya tujuan
akhir yang ditetapkan pada tingkat strategis. Kekalahan Jerman dalam PD-II
di daratan Eropa, salah satunya disebabkan oleh ketidakjelasan tujuan akhir
yang ditetapkan oleh Hitler sebagai pemimpin nasional yang terlalu
mencampuri urusan operasional. Kondisi politik yang tidak menentu juga
dapat mempengaruhi penetapan sasaran operasional, seperti yang terjadi di
Timor Timur pasca lengsernya Presiden Suharto. Saat itu, tujuan akhir
69

mengalami pergeseran yang menyebabkan panglima operasi kesulitan


mengidentifikasi tujuan operasional yang harus dicapai.
2) Center of Gravity. Center of gravity adalah elemen yang sangat
mutlak dipertimbangkan dalam perencanaan operasi. Secara bebas, center
of gravity dapat diterjemahkan sebagai pusat kekuatan, namun itu belum
dapat menggambarkan konsep yang terkandung di dalamnya. Secara
spesifik, center of gravity dapat didefinisikan sebagai kondisi, kemampuan
atau tempat yang merupakan sumber kebebasan bertindak, sumber
kekuatan dan sumber kemauan bertempur bagi pasukan. Center of gravity
merupakan salah satu “pisau analisis” yang sangat penting dalam
perencanaan operasi militer yang pembahasannya selalu berkaitan dengan
sasaran operasi dan tujuan akhir karena penghancuran center of gravity
musuh akan mengarah pada kemenangan pasukan sendiri sehingga dapat
mencapai sasaran operasi dan tujuan akhir strategis yang diharapkan.
Center of gravity dapat bersifat fisik, seperti pusat pemerintahan,
pusat komando dan pengendalian dan sebagainya. Dapat pula bersifat non
fisik, seperti dukungan masyarakat internasional, pendapat umum, tujuan
politik dan sebagainya. Center of gravity yang bersifat fisik mudah dikenal
karena dapat dilihat secara nyata namun yang bersifat non fisik sulit sekali
dikenali sehingga memerlukan analisa yang mendalam untuk
mengidentifikasikannya. Idealnya dalam suatu operasi terdapat satu center
of gravity. Kondisi ini memudahkan pasukan sendiri untuk mencapai sasaran
operasional dan tujuan akhir. Namun sejarah perang membuktikan bahwa
center of gravity biasanya terpecah menjadi beberapa bagian sehingga
persoalan operasional yang dihadapi menjadi demikian kompleks.
Keberhasilan menentukan center of gravity merupakan awal yang
baik bagi pelaksanaan operasi secara keseluruhan. Apabila center of gravity
musuh telah berhasil dirumuskan, maka langkah-langkah perencanaan
berikutnya harus difokuskan pada center of gravity tersebut. Penentuan
center of gravity pada tataran operasi merupakan tanggung jawab staf atau
satuan intelijen komando operasi. Sedangkan pada tataran strategis
merupakan tanggung jawab staf intelijen Panglima TNI atau Badan Intelijen
Strategis TNI. Perlu digarisbawahi bahwa ada keterkaitan yang sangat erat
antara center of gravity operasional dengan center of gravity strategis.
Penghancuran center of gravity operasional akan memudahkan
penghancuran center of gravity strategis. Oleh karena itu komunikasi antara
badan-badan maupun staf intelijen komando operasi dengan Badan Intelijen
Strategis TNI harus dilakukan secara intensif sebelum dan selama operasi
berlangsung.
Kita seringkali salah kaprah dalam menerapkan istilah center of
gravity karena kita tidak dapat membedakan batas-batas tataran perang
strategis, operasional maupun taktis, terutama dalam OMSP. Di negara-
negara Barat, konsep center of gravity hanya dikenal pada tataran strategis
dan operasional, sedangkan pada tataran taktis konsep yang menyerupai
dengan center of gravity adalah sasaran. Perbedaan yang mendasar adalah,
bahwa konsep center of gravity mengandung pengertian sebagai pusat dari
berbagai subsistem pertempuran yang saling berkaitan sedangkan
pengertian sasaran lebih sederhana, yaitu sesuatu yang harus direbut,
dikuasai atau dihancurkan.
Center of gravity pada OMP relatif lebih mudah dikenali karena lebih
cenderung bersifat fisik, sedangkan pada OMSP lebih bersifat non fisik.
70

Apabila center of gravity bersifat fisik maka pemilihan pendekatan operasi


lebih mudah dilakukan, misalnya dalam pertempuran Ambarawa, center of
gravity pasukan Belanda adalah unsur logistik yang ada di Semarang. Tanpa
logistik yang memadahi Belanda tidak akan mampu bertahan dalam waktu
lama di Ambarawa, sehingga pasukan Divisi Sudirman memusatkan
perhatian pada jalur logistik dari arah Semarang yang mengakibatkan
pasukan Belanda tidak mampu melakukan perlawanan dan akhirnya
meloloskan diri dari kepungan pasukan Sudirman. Sebaliknya, identifikasi
center of gravity yang bersifat non fisik sulit dilakukan, misalnya dalam
operasi di Timor Timur, Kolakops TNI seringkali mengalami kesulitan karena
kegagalan pengidentifikasian center of gavity musuh yang bersifat strategis
maupun operasional sehingga operasi kehilangan fokus. Pada gilirannya,
operasi berlangsung lama tanpa pencapaian sasaran operasional, apalagi
mencapai tujuan akhir. Kesulitan untuk mengidentifikasi center of gravity
dalam operasi militer tidak selalu datang dari ketidakmampuan panglima
operasi, tetapi juga karena dalam operasi yang berlangsung lama, center of
gravity strategis mengalami evolusi. Sebagai contoh, pada awal perang Irak,
pasukan Amerika dengan mudah menaklukkan Sadam Husen karena
berhasil menghancurkan kekuatan utama Garda Revolusi sebagai center of
gravity operasional. Ketika pasukan Amerika tetap bercokol di Irak untuk
melanjutkan operasi, mereka menghadapi kekuatan musuh yang sangat cair
sehingga center of gravity musuh sulit untuk diidentifikasi.
Dalam suatu operasi, tidak ada rumus yang mengatakan bahwa
center of gravity harus dihancurkan dengan serangan langsung, terutama
apabila yang menjadi center of gravity adalah kekuatan utama pasukan
musuh yang sangat kuat. Dalam kondisi seperti itu, maka perlu dilakukan
pendekatan tidak langsung dalam pelaksanaan operasi. Misalnya dengan
mencari titik-titik lemah musuh, atau dengan melemahkan kemauan
bertempur musuh melalui pertempuran berlarut. Konsep perang gerilya yang
kita anut dalam OMP telah memberikan bukti nyata bahwa metode perang
berlarut adalah metode yang paling tepat untuk menghancurkan kekuatan
musuh secara perlahan tapi pasti.
3) Pendekatan Operasi. Dalam operasi dikenal dua pendekatan, yaitu
pendekatan langsung dan pendekatan tidak langsung. Pendekatan-
pendekatan operasi tersebut adalah metode dasar yang digunakan untuk
mencapai tujuan akhir operasi. Konsep dasar yang digunakan pada
pendekatan langsung adalah pengerahan daya tempur melalui rute yang
paling dekat atau cara yang paling cepat untuk mencapai tujuan operasi.
Apabila memilih menggunakan pendekatan ini, maka keunggulan daya
tempur harus di tangan sendiri. Keunggulan daya tempur dapat bersifat
kuantitatif maupun kualitatif. Dengan keunggulan tersebut, kekuatan sendiri
diorganisir dan dikerahkan untuk menghancurkan center of gravity musuh
sehingga tidak mampu melakukan perlawanan atau kehilangan kemauan
untuk melanjutkan perlawanan. Pengerahan kekuatan TNI dari daerah
belakang ke daerah pertempuran di daratan Irian Barat pada operasi Trikora
merupakan contoh penggunaan pendekatan langsung dalam operasi.
Pendekatan tidak langsung merupakan pendekatan yang paling
banyak digunakan dalam sejarah perang. Pertempuran dilakukan secara
terbatas dengan menggunakan kekuatan yang esensial (essential force)
dibarengi dengan operasi non tempur atau upaya lain di bidang ekonomi,
informasi dan diplomasi. Dalam peperangan non reguler, pendekatan tidak
71

langsung terbukti efektif untuk mencapai kemenangan perang. Filosof


perang China terkemuka, Sun Tzu, menekankan perlunya mengutamakan
pendekatan tidak langsung untuk memenangi peperangan.
Dalam prakteknya, pendekatan langsung dan tidak langsung hampir
selalu digunakan secara bersamaan dan saling mendukung. Apalagi pada
peperangan non reguler yang sangat kompleks, dimana tataran-tataran
perang tidak dapat lagi dibedakan dengan jelas. Pendekatan langsung
secara taktis harus dibarengi dengan pendekatan tidak langsung pada
tataran operasional maupun tataran strategis. Pada operasi di Aceh,
Kolaksops TNI menggunakan pendekatan tidak langsung dengan menggelar
operasi intelijen, operasi tempur, operasi teritorial, operasi psikologi dan
operasi penerangan secara simultan dan terintegrasi. Kedepan,
pengintegrasian pendekatan langsung dan pendekatan tidak langsung
secara tersinkronisasi akan menjadi kunci keberhasilan operasi.
4) Titik-titik Krusial. Titik-titik krusial adalah faktor yang berpengaruh
langsung dan menopang keberadaan center of gravity. Titik-titik krusial tidak
selalu berupa tempat yang bersifat fisik tetapi dapat juga berupa kegiatan
penting, fungsi utama pertempuran atau faktor kritis yang harus dilindungi
agar pasukan sendiri tetap memiliki kekuatan untuk mencapai tujuan
operasi. Dalam operasi biasanya terdapat beberapa titik krusial. Apabila
pasukan sendiri mampu melindungi titik-titik krusial tersebut, maka akan
mempermudah jalan untuk menghancurkan center of gravity musuh.
Sebaliknya musuh juga memiliki titik-titik krusial yang menopang center of
gravity-nya. Oleh karena itu panglima operasi harus mencurahkan tenaga
dan pikirannya untuk menemukan dan menghancurkan titik-titik krusial
musuh di daerah operasi yang menjadi tanggung jawabnya.
Dalam perencanaan operasi, panglima operasi harus melakukan
analisis yang mendalam untuk menentukan apa saja yang menjadi titik
krusial yang mengarah pada kehancuran center of gravity musuh dan
menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan titik-titik krusial tersebut.
Di sisi lain, panglima operasi juga harus melindungi titik-titik krusial yang
menopang center of gravity sendiri. Dalam perang kemerdekaan II kita
mengenal serangan umum 1 Maret 1949 yang menjadi salah satu
momentum sejarah Republik Indonesia. Serangan tersebut dilakukan
terhadap tangsi-tangsi militer Belanda yang ada di sekitar kota Yogyakarta
dengan tujuan untuk menunjukkan kepada dunia tentang eksistensi
Angkatan Perang dan Negara Republik Indonesia. Dalam konteks itu, tujuan
strategis yang ditetapkan oleh Panglima Besar adalah untuk memperoleh
pengakuan dunia terhadap keberadaan Republik Indonesia dan kota
Yogyakarta merupakan center of gravity karena dengan dikuasainya
Yogyakarta akan membuat semangat perjuangan bangsa Indonesia
berkobar kembali. Serangan diarahkan terhadap sasaran operasional yang
berupa tangsi-tangsi militer, dengan melakukan penghancuran terhadap titik-
titik krusial yang berupa gudang-gudang mesiu dan markas-markas penting
yang ada di dalam kota Yogyakarta. Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah
salah satu contoh operasi yang dirancang dengan melakukan analisa
terhadap komponen-komponen utama operasi secara mendalam dan benar
sehingga dapat mencapai tujuan akhir yang diinginkan, yaitu dukungan
internasional terhadap Indonesia yang akhirnya memaksa Belanda untuk
mengakui kedaulatan Negara Republik Indonesia.
Pemahaman tentang titik-titik krusial kadang-kadang tumpang tindih
72

dengan center of gravity. Titik-titik krusial bukan center of gravity, tetapi


ibarat bangunan, titik-titik krusial adalah tiang-tiang utama yang menopang
tegaknya center of gravity. Dalam kampanye militer, penghancuran atau
perebutan titik-titik krusial musuh biasanya dilakukan dengan operasi
tertentu atau dengan tindakan taktis sesuai dengan besar kecilnya titik-titik
krusial yang akan dihancurkan atau direbut. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa titik-titik krusial adalah titik-titik penting yang digunakan
sebagai pendekatan untuk menghancurkan center of gravity.
5) Garis-garis Operasi. Garis-garis operasi adalah gambaran tentang
bagaimana pasukan sendiri digunakan untuk mencapai center of gravity
melalui titik-titik krusial yang ada di daerah operasi. Garis-garis tersebut
menunjukkan ruang atau waktu yang menghubungkan pasukan sendiri
dengan serangkaian titik-titik krusial menuju ke center of gravity musuh.
Meskipun dapat bersifat fisik, garis-garis operasi tidak sama dengan poros
gerakan yang berlaku pada manuver taktis. Garis-garis operasi
menghubungkan titik krusial yang satu dengan titik krusial yang lain yang
harus diselesaikan dengan urutan yang logis agar dapat mencapai center of
gravity musuh.

Gambar-6
CONTOH GARIS-GARIS OPERASI MENGATASI PEMBERONTAKAN BERSENJATA

Garis-garis operasi dapat bersifat tunggal atau jamak. Operasi yang


memiliki satu garis operasi memungkinkan pemusatan kekuatan dan
kesederhanaan rencana. Sedangkan operasi yang memiliki beberapa garis
operasi akan meningkatkan kekenyalan dan memberikan banyak peluang
73

untuk mencapai keberhasilan. Selain itu, garis-garis operasi yang banyak


akan memaksa musuh membagi kekuatannya untuk menghadapi pasukan
kita pada beberapa garis operasi. Dalam operasi kontemporer, jarang
ditemui garis-garis operasi yang bersifat tunggal, terutama dalam OMSP
yang sangat kompleks.
Garis-garis operasi yang bersifat fisik dapat berupa garis dalam atau
garis luar. Pasukan yang beroperasi pada garis dalam bergerak dari titik
pusat ke arah musuh yang tersebar. Garis dalam memungkinkan satuan
yang lebih kecil menghadapi musuh yang relatif lebih besar dengan
kedudukan tersebar. Kemenangan pasukan Israel atas pasukan Mesir dan
Syiria pada tahun 1973 adalah contoh penggunaan garis dalam yang
sukses. Pasukan yang beroperasi pada garis luar bergerak secara memusat
dan mengepung musuh sehingga memungkinkan penghancuran musuh.
Taktik “supit urang” yang digunakan pasukan Sudirman ketika menyerang
Belanda di Ambarawa adalah contoh aplikasi penggunaan garis luar.
Pada OMSP, penyusunan garis-garis operasi relatif rumit karena
panglima operasi harus menggabungkan garis-garis operasi yang bersifat
fisik dengan garis-garis operasi yang bersifat non fisik. Hal ini menuntut
panglima operasi dan staf untuk melakukan analisis yang mendalam
terhadap karakteristik titik-titik krusial yang mengarah pada pencapaian
sasaran operasi dan center of gravity musuh. Gambar-5 adalah contoh
penyusunan garis-garis operasi dalam operasi OMSP yang sangat
sederhana. Dalam kenyataanya, garis-garis operasi dapat bercabang-
cabang menurut karakteristik operasi yang akan dilaksanakan.
6) Tempo. Dalam perencanaan operasi, faktor waktu memiliki arti
penting. Pasukan yang dapat mengatur penggunaan waktu akan
memperoleh inisiatif yang sangat penting dalam pencapaian sasaran operasi
maupun tujuan akhir strategis yang dikehendaki. Dalam kaitan ini, panglima
operasi harus mampu mengatur tempo operasi, yaitu pengaturan ritme
operasi untuk menempatkan musuh pada kondisi yang tertekan dan tidak
memiliki peluang untuk melakukan perlawanan yang berarti. Dalam OMSP,
pengaturan tempo yang baik akan memungkinkan transisi dari satu operasi
ke operasi lain secara mulus sehingga musuh tidak mendapat peluang untuk
melakukan perlawanan secara terkoordinir pada waktu dan tempat yang
tepat. Dalam OMSP yang tidak bersifat tempur, misalnya dalam operasi
penanggulangan bencana alam, pengaturan tempo operasi yang tepat dapat
mencegah timbulnya korban yang tidak perlu. Misalnya dengan pengaturan
kegiatan pengiriman bantuan obat-obatan, tenaga medis dan evakuasi
penanganan korban secara cepat.
Pada tahap awal operasi di Timor Timur, pelaksanaan operasi
dilakukan dengan tempo yang tinggi sehingga sasaran-sasaran operasional
dapat dicapai dalam waktu yang tidak terlalu lama. Transisi antara operasi
yang satu dengan operasi yang lain juga dilakukan dengan ritme yang tepat
sehingga titik-titik krusial dapat dilalui dengan baik. Pada perkembangan
berikutnya, perencanaan operasi kurang memperhatikan pentingnya penga-
turan tempo operasi, bahkan cenderung mengulur-ulur waktu sehingga
musuh memperoleh peluang untuk mengkonsolidasikan kekuatan dan
mengatur garis-garis operasinya dengan baik.
Pada tataran operasional, tempo operasi sangat dipengaruhi oleh
kesiapan pasukan untuk berpindah dari satu operasi ke operasi berikutnya.
Tempo juga dipengaruhi oleh proses pengambilan keputusan yang dilakukan
74

panglima operasi. Tempo yang tinggi dapat dicapai pada tataran operasional
dengan mengatur kegiatan-kegiatan taktis secara serempak. Dalam operasi
yang bertempo tinggi, pengendalian operasi harus dilakukan secara ketat
agar setiap perkembangan yang terjadi pada tiap-tiap garis operasi dapat
diikuti dan dimanfaatkan untuk memelihara kemajuan operasi. Tempo
operasi tidak identik dengan agresivitas pertempuran. Namun demikian
pertempuran yang agresif akan memberikan kontribusi bagi tercapainya
tempo yang tinggi.
7) Urutan operasi. Dalam kampanye militer, perencana kampanye perlu
menyusun urutan operasi yang harus dilakukan agar dapat mengeliminir
center of gravity musuh dalam batas ruang dan waktu yang ada. Urutan
operasi berkaitan erat dengan garis-garis operasi yang menggambarkan
kemajuan operasi dari satu titik krusial ke titik krusial yang lain. Jadi, urutan
operasi adalah urutan logis dari beberapa operasi yang harus dilakukan
untuk mencapai tujuan akhir operasi secara berdaya dan efektif.
Perencana operasi harus memiliki pemahaman tentang hubungan
antara operasi yang satu dengan operasi yang lain dikaitkan dengan ruang,
waktu dan pasukan yang tersedia. Selanjutnya perencana operasi juga
harus dapat merumuskan apakah suatu operasi akan dilakukan secara
berurutan atau serempak serta menentukan urut-urutan operasi yang akan
dilaksanakan. Suatu operasi dapat dilakukan secara berurutan atau
serempak tergantung pada pertimbangan panglima operasi terhadap faktor
tugas, medan, musuh dan pasukan sendiri. Apabila memungkinkan, operasi
dilakukan secara serempak untuk mengeksploitasi kelemahan musuh.
Dengan operasi serempak, musuh akan dihadapkan pada kesulitan untuk
membuat terlalu banyak pilihan cara bertindak dalam waktu yang sangat
terbatas. Operasi berturut-turut dilaksanakan untuk mencapai tujuan secara
bertahap. Hal itu dilakukan apabila kekuatan pasukan sendiri relatif terbatas
untuk melakukan operasi serempak.
8) Pentahapan Operasi. Pentahapan operasi adalah pengorganisasian
waktu operasi yang berlangsung lama menjadi beberapa tahap untuk
mencapai tujuan operasi. Pentahapan dilakukan apabila sasaran operasional
tidak mungkin dicapai dengan melakukan tindakan-tindakan taktis secara
bersamaan dalam daerah operasi yang luas. Pentahapan operasi akan
memudahkan pengendalian operasi pokok dalam rangka mencapai sasaran
operasional. Pada tahap awal biasanya perencana operasi akan membuat
perencanaan secara rinci, namun pada tahap-tahap berikutnya perencanaan
menjadi semakin kabur sehingga pelaksanaan operasi menjadi kehilangan
arah. Oleh karena itu panglima operasi harus mewaspadai para stafnya agar
tidak terjebak pada rutinitas operasi yang dapat menjauhkan pasukan sendiri
dari sasaran operasi maupun tujuan akhir yang dikehendaki. Pada setiap
tahapan operasi, panglima operasi harus selalu menjelaskan kembali
sasaran operasi yang dikehendaki dalam pokok-pokok keinginannya dalam
perintah-perintah parsiil secara jelas agar dapat dijadikan acuan dalam
perencanaan selanjutnya.
Dalam kampanye militer yang terdiri dari beberapa operasi,
pentahapan tiap-tiap operasi dapat dilakukan serentak maupun berturut-
turut. Dalam hal ini, pentahapan sebaiknya tidak dilakukan berdasarkan
skala waktu, tetapi berdasarkan kejadian-kejadian penting atau tercapainya
titik krusial pada operasi yang langsung mengarah pada sasaran operasi
pokok. Dalam OMSP, pentahapan juga dapat dilakukan karena adanya
75

perubahan kebijakan politik yang berpengaruh langsung pada tercapainya


tujuan akhir strategis yang dikehendaki. Dalam kaitan ini, perencana operasi
harus jeli dan dapat membedakan antara pentahapan operasi dengan jeda
operasi. Sejarah membuktikan bahwa karena kepatuhan pada kebijakan
politik yang dikeluarkan oleh pemerintah, panglima operasi kadang-kadang
memutuskan untuk memberlakukan jeda operasi tanpa mempertimbangkan
kemajuan yang telah dicapai oleh operasi militer sebelumnya.
9) Jeda Operasi. Jeda operasi adalah tindakan yang direncanakan
apabila pasukan sendiri mengalami hambatan dan tidak memungkinkan
untuk melanjutkan operasi. Baik yang disebabkan oleh kondisi medan,
tindakan musuh maupun kondisi pasukan sendiri. Keputusan untuk
melakukan jeda operasi harus dilakukan dengan cermat, jangan sampai jeda
operasi justru memberikan peluang kepada musuh untuk meraih keunggulan
di daerah operasi. Oleh karena itu keputusan untuk menentukan jeda
operasi tidak boleh didelegasikan kepada satuan taktis. Jeda operasi pada
operasi pokok hanya dilakukan secara terpaksa manakala pasukan sendiri
hampir mencapai titik kulminasi atau operasi pokok mengalami kegagalan.
Selain faktor-faktor operasional, jeda operasi juga dapat dilakukan
apabila ada perubahan tujuan akhir strategis. Perubahan tujuan akhir akan
mengubah karakteristik operasi secara keseluruhan sehingga diperlukan
waktu untuk mengatur kembali kegiatan-kegiatan pada seluruh garis operasi.
Namun harus diingat bahwa jeda operasi tidak boleh dilakukan pada semua
garis operasi karena akan mengakibatkan “terlepasnya” titik-titik krusial yang
telah dicapai pada operasi sebelumnya. Jeda kemanusiaan dalam operasi di
Aceh pasca pertemuan Helsinki merupakan contoh jeda operasi yang
dilakukan secara “menyeluruh” sehingga terjadi set back yang mengga-
galkan pencapaian sasaran operasional.
Apabila jeda operasi harus dilakukan pada satu garis operasi, maka
kegiatan pada garis operasi yang lain harus tetap berlangsung. Dalam
OMSP, pengaturan jeda operasi pada garis-garis operasi tertentu mungkin
bermanfaat untuk menyinkronisasikan tindakan-tindakan operasional secara
keseluruhan.
10) Titik Kulminasi. Titik kulminasi adalah suatu kondisi, manakala
pasukan sendiri tidak mampu lagi melanjutkan operasi karena kehilangan
keunggulan relatif terhadap musuh. Apabila melampaui kondisi tersebut,
pasukan sendiri akan menghadapi risiko kekalahan, bahkan kehancuran.
Dalam operasi reguler, titik kulminasi dapat dialami oleh pasukan penyerang
maupun pasukan bertahan. Pasukan penyerang akan mengalami titik
kulminasi manakala tidak mampu lagi melanjutkan serangan dan apabila
operasi harus dilanjutkan maka mereka harus mengubah posisi sebagai
pasukan bertahan. Sedangkan pasukan bertahan akan mengalami titik
kulminasi manakala tidak mampu bertahan dan melakukan serangan balas.
Dalam operasi non reguler, pasukan akan mencapai titik kulminasi ketika
kehilangan dukungan rakyat atau tidak mampu mengamankan pasukan
sendiri sehingga jatuh korban yang tidak perlu. Hal ini dapat terjadi manakala
pasukan sendiri menguasai daerah yang terlalu luas sehingga tidak dapat
mengendalikan situasi yang terjadi di daerah operasi atau tidak memiliki
kekuatan yang dibutuhkan untuk melanjutkan operasi.
Meskipun tidak dikehendaki, titik kulminasi dapat terjadi dalam
operasi. Maka dalam perencanaan operasi seorang panglima operasi harus
memprediksi kemungkinan terjadinya titik kulminasi dan melakukan rencana-
76

rencana kontinjensi untuk mencegah terjadinya titik kulminasi pada pasukan


sendiri. Panglima operasi harus mengusahakan tercapainya sasaran operasi
sebelum pasukannya mengalami titik kulminasi. Apa yang dialami Divisi ke-
16 Mesir dalam “Perang Enam Hari” tahun 1973 merupakan pelajaran
berharga bagi para perencana operasi. Para perencana di pusat operasi
terjebak dalam keyakinan yang berlebihan sehingga Divisi ke-16 Mesir
menderita kehancuran akibat mengalami titik kulminasi setelah berhasil
melintasi benteng Bar-Lev. Setelah masuk ke tepi timur Terusan Suez, Divisi
tersebut terkepung oleh pasukan Israel dan kondisi alam yang ganas tanpa
adanya dukungan logistik yang memadai.
11) Rencana Kontinjensi. Untuk mencegah dini terjadinya titik kulminasi
pada pasukan sendiri, panglima operasi harus menyiapkan rencana
kontinjensi. Rencana kontinjensi disusun bersamaan dengan rencana
operasi atau rencana kampanye dan terus dilakukan selama berlangsungnya
operasi. Hal itu harus dilakukan agar panglima operasi memiliki banyak
pilihan dalam mencapai sasaran operasi. Disamping itu, rencana kontinjensi
juga memberikan peluang kepada panglima operasi untuk mengendalikan
tempo operasi.
Dalam garis-garis operasi, rencana kontinjensi dibuat sebagai
cabang-cabang dari garis operasi yang ada. Cabang operasi tidak boleh
dibuat di sembarang tempat, tetapi difokuskan pada titik krusial tertentu yang
diperkirakan dapat membuat pasukan sendiri menghadapi titik kulminasi.
Apabila terlalu banyak cabang operasi, maka pasukan sendiri akan
kehilangan inisiatif dan kesatuan tindakan. Oleh karena itu penyusunan
rencana kontinjensi harus didasari oleh analisis mendalam terhadap
lingkungan operasi yang akan dihadapi selama operasi militer berlangsung.
Gambar berikut memberikan ilustrasi tentang cabang operasi yang
merupakan rencana kontinjensi.

Gambar-7
RENCANA KONTINJENSI DALAM GARIS OPERASI
77

BAB V
KOMANDO DAN PENGENDALIAN

Perang adalah realita tentang ketidakpastian, tiga perempat


dari faktor yang mendasari tindakan dalam sebuah perang
terbungkus dalam kabut ketidakpastian baik besar atau lebih
kecil. . . . Komandan harus bekerja dalam media di mana
matanya tidak dapat melihat, dimana keputusannya tidak
selalu bisa dimengerti dan dengan demikian, karena
perubahan yang terjadi secara konstan, ia jarang bisa
menyesuaikan.
Carl von Clausewitz

19. Umum
Komando adalah wewenang yang diberikan kepada panglima operasi, sedangkan
pengendalian adalah sarana yang digunakan oleh panglima operasi untuk
mengaplikasikan komandonya. Komando juga dapat diartikan sebagai tindakan untuk
mengambil keputusan, sedangkan pengendalian adalah proses untuk
mengimplementasikan keputusan. Dalam konteks operasi militer, komando dan
pengendalian tidak dapat dilakukan semata-mata secara prosedural atau teknis karena
banyak faktor lain yang berpengaruh dan harus dijadikan pertimbangan. Faktor daerah
operasi yang kompleks, musuh yang selalu mengancam dan kondisi pasukan sendiri yang
harus bermanuver tidak mungkin dikendalikan dengan menggunakan prosedur atau
aturan teknis yang kaku. Naluri pemimpin untuk berimprovisasi dalam menghadapi
perubahan lingkungan operasi sangat menentukan penyelenggaraan komando dan
pengendalian operasi militer.
20. Konsep Dasar Tentang Komando dan Pengendalian
a. Hubungan antara Komando dan Pengendalian. Persepsi yang berlaku
secara umum menganggap bahwa komando dan pengendalian harus berlangsung
pada arah yang sama, yaitu dari atas ke bawah, dari pimpinan tertinggi kepada
pelaksana sampai tingkat terendah. Seorang panglima operasi memiliki wewenang
untuk mengendalikan semua yang berada dibawah wewenang komandonya.
Panglima operasi berada pada posisi ‘pengendali’ terhadap bawahannya dan
sebaliknya bawahan berada pada posisi ‘dikendalikan’ atasannya. Pada
pelaksanaan operasi yang sebenarnya, komando dan pengendalian tidak selalu
berada pada arah yang sama. Komando dapat dilihat sebagai penerapan
wewenang yang mengalir dari atas ke bawah, sedangkan pengendalian merupakan
umpan balik atas akibat yang ditimbulkan dari sebuah tindakan operasional.
Seorang panglima operasi menerapkan komandonya dengan cara
memutuskan apa yang harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya.
Pengendalian dilakukan sebagai respons terhadap kegiatan yang dilakukan oleh
bawahan yang memungkinkan panglima operasi untuk melakukan modifikasi atau
perubahan perintah yang telah dikeluarkan sesuai perkembangan situasi yang
dihadapi. Jadi, pengendalian tidak semata-mata merupakan sesuatu yang
diterapkan oleh panglima operasi kepada bawahan, tetapi lebih merupakan reaksi
panglima operasi terhadap perubahan situasi. Dengan demikian, komando dan
pengendalian merupakan proses interaktif yang melibatkan seluruh bagian dari
sistem dan bekerja pada semua arah. Hasilnya merupakan sebuah sistem yang
78

saling mendukung dan saling melengkapi antara semua unsur sebagai satu
kesatuan yang utuh untuk dapat menghadapi setiap kemungkinan perubahan
situasi.
Panglima operasi tidak dapat menerapkan fungsi komandonya secara efektif
tanpa pengendalian yang benar. Sebaliknya, pengendalian juga tidak akan
berfungsi tanpa ada komando yang menegakkannya. Komando itu penting, tetapi
tidak akan efektif tanpa adanya pengendalian. Komando dan pengendalian
bukanlah merupakan proses searah atau proses top-down yang memaksakan
kendali atas bawahan. Komando dan pengendalian merupakan sebuah proses
multi arah dengan mengakomodir umpan balik dari bawah dan samping.
b. Peran Panglima operasi dalam Komando dan Pengendalian. Komando
dan pengendalian pada hakekatnya adalah kewenangan yang dimiliki panglima
operasi untuk memberikan perintah-perintah kepada bawahannya. Kewenangan
atau kekuasaan dapat diperoleh dari dua sumber. Pertama, sumber formal, yaitu
pangkat dan jabatan yang memiliki legalitas hukum yang kuat dalam organisasi
militer. Kedua, sumber praksis, yaitu pengaruh pribadi seseorang yang berasal dari
beberapa faktor seperti pengalaman, reputasi, kecakapan, karakter maupun
keteladanan. Gabungan yang selaras dari kedua hal inilah yang biasanya mampu
menggerakkan prajurit untuk melakukan kegiatan dalam operasi militer secara
efektif. Seorang panglima operasi yang berhasil biasanya memiliki legalitas
kewenangan yang diperoleh dari pangkat dan jabatannya dengan ditunjang oleh
rasa tanggung jawab atas setiap hal yang terjadi di satuannya serta karakter pribadi
yang mumpuni.
Komando dan pengendalian adalah penggunaan wewenang oleh panglima
operasi terhadap pasukannya untuk melaksanakan tugas. Panglima operasi
menyelenggarakan fungsi komando dan pengendalian melalui sebuah sistem
komando dan pengendalian yang berlaku. Komando dan pengendalian merupakan
salah satu pilar utama dari ilmu dan seni perang, karena pelaksanaan semua fungsi
militer dalam setiap operasi militer sangat tergantung pada integrasi dan
keselarasan dalam penyelenggaraannya. Komandan harus mampu
mengkombinasikan seni komando dan ilmu pengendalian untuk menyelesaikan
sebuah misi.
Panglima operasi memegang peran sentral dalam penyelenggaraan
komando dan pengendalian. Panglima operasi menilai situasi, membuat keputusan
dan mengarahkan tindakan-tindakan yang harus dilakukan oleh pasukannya.
Dalam operasi besar yang kompleks, panglima operasi harus dibantu oleh para
perwira staf. Komando dan pengendalian merupakan sistem yang meliputi
personel, manajemen informasi, prosedur serta alat perlengkapan lainnya yang
diperlukan untuk melaksanakan operasi. Komando dan pengendalian yang efektif
sangat penting bagi seorang panglima operasi untuk menjamin keberhasilan
operasi.
Tanggung jawab panglima operasi pada tataran operasional terfokus pada
pencapaian sasaran-sasaran operasional dan penghancuran center of gravity
musuh. Tindakan-tindakan yang diambil oleh panglima operasi harus mengarah
kepada pencapaian tugas pokok dan sasaran akhir yang telah ditetapkan. Demi
terlaksananya tanggung jawab ini, panglima operasi beserta staf harus memiliki
pemahaman yang baik tentang semua aspek yang terkait dengan komando dan
pengendalian operasi dan bagaimana mengaplikasikannya di medan pertempuran.
c. Sistem Informasi dalam Komando dan Pengendalian Operasi Militer.
Informasi merupakan unsur penting dalam komando dan pengendalian. Informasi
79

sangat diperlukan dalam proses pengambilan keputusan pada saat penyusunan


rencana operasi maupun pada saat panglima operasi dan para komandan
menghadapi perubahan situasi yang sangat dinamis selama operasi berlangsung.
Panglima operasi bisa memperoleh informasi yang lengkap secara cepat tentang
daerah operasi dan situasi musuh dengan memanfaatkan teknologi informasi.
Informasi juga dapat diolah dengan menggunakan perangkat komputer yang
memungkinkan penganalisaan informasi berlangsung lebih cepat, sehingga
keputusan dapat diambil dengan cepat.
Pengalaman menunjukkan bahwa kerugian personel dan materiil di daerah
operasi, sebagian disebabkan oleh ketidakcukupan informasi. Ketidakcukupan
informasi juga menyebabkan pelaksana operasi di tingkat taktis menghadapi situasi
yang tidak menentu dan akhirnya mengambil tindakan yang salah. Pengalaman
seperti itulah yang telah memotivasi penggunaan teknologi informasi dalam penye-
lenggaraan komando dan pengendalian. Pada saat ini bahkan telah dikembangkan
penggunaan teknologi informasi dalam komando dan pengendalian yang bersifat
mobile, sehingga para komandan satuan taktis memperoleh informasi yang
diperlukan dalam pengambilan keputusan sambil mengikuti gerakan pasukannya di
medan operasi.
Namun perlu dipahami bahwa komando dan pengendalian operasi tidak
semata-mata sebagai ilmu yang mengandalkan kecepatan pengolahan data secara
ilmiah. Komando dan pengendalian operasi juga sebagai seni yang memerlukan
ketajaman intuisi panglima operasi dan para komandan untuk menyesuaikan
dengan perubahan situasi yang terus berlangsung secara dinamis. Intuisi juga
diperlukan untuk mengambil keputusan yang tepat dalam mengatasi masalah yang
timbul akibat perubahan situasi di daerah operasi. Jadi, teknologi bukan penentu
akhir dalam sebuah sistem komando dan pengendalian operasi. Teknologi hanya
membantu panglima operasi dalam mempercepat proses pengambilan keputusan
yang didukung dengan informasi yang cukup.
Sasaran akhir operasi militer adalah hancurnya center of gravity musuh,
maka semua upaya harus dilakukan untuk menghancurkannya. Hal itu hanya
mungkin dilaksanakan apabila semua upaya dikendalikan secara sistematis dan
diarahkan pada center of gravity musuh melalui garis-garis operasi yang telah
ditetapkan. Untuk itu panglima operasi harus memiliki informasi yang relevan
tentang berbagai hal yang berpengaruh terhadap pelaksanaan operasi, baik
informasi yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus.
1) Informasi umum. Sistem komando dan pengendalian harus mampu
mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan faktor TUMMPAS dan
faktor penduduk yang dapat menggambarkan situasi operasi. Informasi
semaksimal mungkin bersifat real time sehingga memiliki nilai guna yang
tinggi. Dengan informasi yang real time, maka panglima operasi dan staf
pada semua tingkatan memiliki pemahaman tentang lingkungan operasi
yang seragam, pada gilirannya dapat mencapai kesatuan tindakan dalam
mencapai sasaran akhir yang ditetapkan. Termasuk dalam informasi umum
adalah informasi yang berkaitan dengan perintah, petunjuk, pedoman atau
prosedur. Sistem komando dan pengendalian yang baik harus dapat
menyediakan informasi ini secara jelas dan lengkap dari tingkat satuan
tertinggi hingga terendah agar tidak terjadi kesalahan dalam penjabaran
perintah-perintah operasi untuk mencapai sasaran yang ditetapkan.
2) Informasi khusus. Walaupun informasi tentang gambaran umum
operasi sudah diperoleh secara lengkap, namun selalu terbuka kemungkinan
untuk terjadinya situasi-situasi darurat akibat perubahan-perubahan
80

mendadak baik yang berkaitan dengan daerah operasi, musuh maupun


pasukan sendiri. Biasanya hal-hal seperti ini telah diantisipasi oleh panglima
operasi dan staf dalam tahap perencanaan melalui penyampaian UUK dan
PIL yang harus dicari oleh staf intelijen. Namun tetap saja muncul
perubahan-perubahan situasi yang tidak terduga dimana seorang panglima
operasi harus melakukan perkiraan cepat.
Agar dapat mendukung operasi secara berhasil dan efisien, maka sistem
informasi yang digunakan dalam penyelenggaraan operasi harus dapat diandalkan
dan memenuhi beberapa kriteria. Pertama, informasi harus akurat atau dapat
menggambarkan situasi yang sebenarnya. Kedua, informasi harus tepat waktu agar
tidak terjadi keterlambatan dalam pengambilan keputusan. Ketiga, informasi harus
tepat guna agar keputusan-keputusan yang diambil dapat menyelesaikan
persoalan-persoalan operasional yang timbul dalam daerah operasi. Keempat,
informasi harus lengkap dan mencakup informasi esensial yang diperlukan dalam
pengambilan keputusan. Kelima, informasi harus tepat sasaran.
d. Siklus Komando dan Pengendalian. Secara sederhana pelaksanaan
operasi dapat diartikan sebagai upaya untuk membuat suatu rencana menjadi
kegiatan nyata untuk menyelesaikan
tugas-tugas operasional. Sebagai-
mana telah dijelaskan sebelumnya,
pelaksanaan operasi dipenuhi de-
ngan ketidakpastian. Dengan meng-
gunakan sistem komando dan
pengendalian yang ada, setiap
panglima operasi memantau dan
memelihara kesinambungan operasi
serta mencegah musuh merebut
inisiatif sehingga dapat mengurangi
ketidakpastian. Panglima operasi
juga melakukan penilaian terhadap
setiap perubahan situasi yang ter-
jadi di daerah operasi dan memper-
kirakan berbagai kemungkinan yang
akan terjadi berdasarkan fakta dan
asumsi-asumsi. Panglima operasi Gambar-8
menganalisa keadaan secara terus SIKLUS KOMANDO DAN PENGENDALIAN
menerus dan membuat keputusan-
keputusan sesuai perubahan yang terjadi di daerah operasi. Akhirnya, panglima
operasi memberikan petunjuk-petunjuk agar keputusan yang telah dibuat dapat
dilaksanakan.
Panglima operasi menyelenggarakan komando dan pengendalian dengan
membuat rencana operasi, melakukan persiapan dan mengarahkan pelaksanaan
operasi pada sasaran-sasaran operasional yang telah ditetapkan. Selama itu pula
panglima operasi melakukan penilaian agar dapat menghasilkan keputusan terbaik
untuk mengantisipasi perubahan lingkungan operasi. Rangkaian kegiatan komando
dan pengendalian tersebut membentuk suatu siklus yang tidak terputus sampai
dengan tercapainya tujuan operasi.
Kegiatan perencanaan, persiapan dan pelaksanaan dalam suatu operasi
besar biasanya saling tumpang tindih. Misalnya, ketika komandan sedang
melakukan persiapan-persiapan untuk melakukan operasi serangan terhadap
kedudukan musuh, panglima operasi juga membuat perencanaan untuk operasi
81

lanjutan atau operasi psikologi dan operasi teritorial untuk mempengaruhi opini
masyarakat di daerah operasi. Pada saat yang bersamaan, panglima operasi juga
mengendalikan pelaksanaan operasi intelijen. Sedangkan kegiatan penilaian
adalah kegiatan yang dilakukan secara berkesinambungan selama ketiga proses
berlangsung.
1) Penilaian. Panglima operasi melakukan penilaian terhadap
perkembangan situasi untuk mengetahui kemajuan operasi yang sedang
dilaksanakan. Kegiatan penilaian dilakukan untuk mengetahui hambatan-
hambatan yang dihadapi pasukannya di lapangan serta mencari peluang-
peluang baru untuk mencapai sasaran-sasaran operasional. Hal itu
dilakukan dengan menarik benang merah antara rencana-rencana operasi
yang sudah dibuat dengan fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Panglima
operasi meneliti dengan seksama apakah rencananya dapat dilaksanakan
sesuai dengan pokok-pokok keinginan yang telah disampaikannya.
Untuk mengetahui perkembangan operasi secara faktual, panglima
operasi dapat turun langsung ke lapangan dengan tidak mengganggu
jalannya operasi. Cara lain yang biasa dilakukan oleh para komandan adalah
dengan menggunakan umpan balik dari para komandan bawahan, atau
bahkan langsung dari para prajurit di lapangan. Selama melakukan
penilaian, panglima operasi tidak boleh kehilangan fokus terhadap tugas,
medan, musuh dan pasukan sendiri serta faktor-faktor khusus yang
berpangaruh terhadap pencapaian sasaran.
Sebenarnya penilaian tidak hanya dilakukan pada tahap pelaksanaan,
tetapi juga dilakukan pada tahap perencanaan maupun tahap persiapan.
Selama perencanaan, penilaian dititikberatkan pada kondisi yang berlaku
pada saat itu guna merumuskan keriteria keberhasilan operasi, medapatkan
berbagai informasi yang diperlukan untuk merumuskan dan mengem-
bangkan cara bertindak, membuat keputusan serta merumuskan konsep-
konsep operasi. Selama persiapan, penilaian diarahkan untuk mengetahui
kesiapan satuan bawahan untuk melaksanakan operasi. Pada saat operasi
dinyatakan berakhir, panglima operasi mencatat hasil penilaian yang
dilakukannya dan menyusunnya secara sistematis dalam satu catatan yang
utuh untuk dijadikan pelajaran bagi pelaksanaan operasi selanjutnya.
Catatan inilah yang akan menjadi sumber bagi penyusunan doktrin.
Pembuatan catatan ini harus dilembagakan dalam rangka pegembangan
doktrin TNI AD pada masa mendatang.
2) Perencanaan. Rencana yang baik tidak terletak pada keindahan
disain operasi yang terkandung di dalamnya, tetapi lebih pada kemam-
puannya untuk menyesuaikan dengan kemungkinan perubahan yang
dihadapi selama operasi berlangsung. Jadi, rencana harus disusun sekenyal
mungkin dalam rangka menghadapi ketidakpastian di daerah operasi.
Perencanaan meliputi rangkaian kegiatan pengambilan keputusan
untuk menentukan cara bertindak dan pengorganisasian pasukan untuk
melaksanakan cara bertindak yang dipilih. Dalam proses perencanaan
operasi, TNI AD menggunakan prosedur hubungan komandn dan staf.
Beberapa negara menggunakan prosedur perencanaan operasi yang
berbeda-beda, misalnya angkatan darat Amerika Serikat menggunakan
military decision making process dan angkatan darat Kanada menggunakan
operation planning procedures. Masing-masing prosedur memiliki keunikan
tersendiri, namun ada beberapa langkah pokok yang selalu ada dalam
prosedur-prosedur tersebut, yaitu analisa tugas, pengembangan cara
82

bertindak, keputusan untuk menentukan cara bertindak dan penyu-


sunan perintah.
Proses perencanaan pada hakekatnya adalah pertukaran informasi
dan proses analisis terhadap fakta-fakta dan asumsi-asumsi untuk
menghasilkan keputusan kelompok. Namun dalam pelaksanaan prosedur
hubungan komandan dan staf, para perwira staf seringkali terjebak pada
upaya untuk menghasilkan produk-produk tertulis yang lengkap sehingga
terlalu banyak waktu yang tersita untuk berpikir secara individual sesuai
fungsinya. Dalam kondisi seperti ini, panglima operasi perlu melibatkan diri
secara langsung dalam proses perencanaan bersama-sama dengan para
perwira staf. Panglima operasi harus terlibat langsung dalam diskusi-diskusi
multi-arah yang terjadi selama proses perencanaan. Di satu sisi para perwira
staf tidak merasa terikat untuk menghasilkan produk tertulis yang lengkap
dan disisi lain panglima operasi akan memperoleh gambaran yang lebih
komprehensif tentang cara-cara bertindak yang dikembangkan oleh staf
sejak awal perencanaan. Pada gilirannya akan diperoleh keputusan-
keputusan yang sehat untuk dikembangkan dalam disain operasi.
Perencanaan operasi dapat bersifat rinci dengan menganalisis semua
faktor yang berpengaruh terhadap operasi. Perencanaan seperti ini biasanya
sudah mencakup prediksi perubahan situasi yang akan terjadi selama
operasi dan menyiapkan langkah-langkah kontinjensi untuk memperta-
hankan garis-garis operasi agar tetap mengarah ke sasaran-sasaran
operasional dan tujuan akhir operasi yang telah ditetapkan. Perencanaan
seperti ini digunakan sebelum suatu suatu operasi dimulai untuk
menghasilkan desain operasi secara menyeluruh.
Ketika operasi berlangsung, panglima operasi dan staf juga
melakukan perencanaan untuk mengatasi perubahan situasi yang
disebabkan tindakan musuh, ketidakcukupan intelijen tentang kondisi medan
dan cuaca yang menyebabkan kegagalah pasukan sendiri untuk mencapai
sasaran-sasaran operasional. Dalam situasi seperti ini, panglima operasi dan
staf akan dihadapkan pada keterbatasan waktu sehingga perlu
penyederhanaan prosedur perencanaan agar tindakan-tindakan taktis untuk
mengatasi masalah di lapangan dapat segera diambil.
Selain penyederhanaan prosedur perencanaan, panglima operasi
juga bisa membentuk satu atau lebih kelompok staf perencana yang
bertugas menyusun “cabang-cabang” rencana operasi yang disiapkan untuk
mengantisipasi perubahan situasi yang mungkin dihadapi pasukan di daerah
operasi. Staf ini sebaiknya berada di bawah koordinasi perwira staf operasi
agar cabang-cabang rencana yang dihasilkan tetap berada pada koridor
rencana “pokok” yang telah disusun sejak awal operasi. Para perwira staf
yang duduk dalam kelompok ini sebaiknya dipilih perwira-perwira yang
berpengalaman dan memiliki kemampuan “meramal” berbagai kemungkinan
yang dapat terjadi dalam operasi.
Inti dari semua jenis perencanaan operasi adalah perumusan cara
bertindak. Oleh karena itu, semua tenaga dan fikiran panglima operasi dan
staf harus difokuskan pada upaya perumusan dan pengembangan cara-cara
bertindak yang memenuhi kriteria-kriteria:
 Dapat dilakukan oleh pasukan sendiri dalam batas-batas ruang, waktu
dan sumberdaya yang tersedia.
83

 Resiko yang mungkin dihadapi harus “sebanding” dengan hasil yang


akan diperoleh dalam pelaksanaan operasi.
 Masih berada dalam koridor pokok-pokok keinginan panglima atasan.
 Masing-masing cara bertindak yang dikembangkan harus dapat
dibedakan dengan jelas.
Semakin banyak cara-cara bertindak yang dapat dikembangkan
selama proses perencanaan, semakin tinggi kemungkinan keberhasilan
operasi karena panglima operasi memiliki peluang untuk menentukan cara
bertindak terbaik untuk melaksanakan operasi. Meskipun demikian, bukan
berarti bahwa cara bertindak yang sedikit akan menghasilkan konsep
operasi yang lebih buruk. Bisa saja panglima operasi dan staf hanya
menemukan satu kemungkinan cara bertindak yang memenuhi kriteria
diatas, kemudian diolah menjadi konsep operasi yang baik. Maka cara
berpikir konservatif yang mengharuskan adanya dua cara bertindak yang
setara harus ditinggalkan.
Banyak sedikitnya cara bertindak yang dapat dikembangkan sangat
tergantung pada pengalaman panglima operasi dan staf, waktu yang
tersedia, kompleksitas operasi yang akan dilaksanakan serta dinamika yang
terjadi di daerah operasi. Pada OMSP non tempur, perumusan cara
bertindak juga tergantung pada tingkat kejelasan tujuan akhir yang
diinginkan oleh otoritas sipil, tarik menarik kepentingan kelembagaan serta
resiko politis yang mungkin harus ditanggung akibat pelaksanaan operasi.
Perencanaan yang efektif memerlukan kepekaan panglima operasi
dan staf dalam mengatur penggunaan waktu. Meskipun waktu yang tersedia
sangat terbatas, panglima operasi dan staf tetap dituntut membuat
perencanaan. Perencanaan harus diselesaikan secepat mungkin agar pada
komandan bawahan memiliki waktu yang cukup untuk membuat rencana
dan melakukan persiapan-persiapan yang diperlukan. Untuk mengatasi
keterbatasan waktu, panglima operasi dapat menggunakan teknik
perencanaan bersama atau perencanaan paralel dengan para komandan
bawahan. Perencanaan bersama adalah teknik perencanaan yang
melibatkan para komandan bawahan yang akan menjadi pelaksana rencana
operasi, sedangkan rencana paralel adalah teknik perencanaan yang
dilakukan oleh panglima operasi dan para komandan bawahan secara
bersamaan di tempat yang berbeda. Kedua teknik ini akan efektif apabila
dibarengi dengan pemberian perintah-perintah persiapan oleh panglima
operasi kepada para komandan bawahan.
3) Persiapan. Tahap persiapan dilakukan sebelum suatu operasi
dilaksanakan. Persiapan dimaksudkan untuk memberikan kesempatan
kepada satuan bawah untuk melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan
agar tugas pokok dapat dilaksanakann secara optimal. Tindakan persiapan
dapat bervariasi tergantung pada pokok dan tingkatan komando satuan yang
akan melaksanakan operasi. Tindakan-tindakan persiapan dapat berupa:
a) Latihan pendahuluan. Latihan pendahuluan adalah kegiatan
untuk mempraktekkan tindakan-tindakan taktis yang akan dilaksa-
nakan dalam pelaksanaan tugas yang sebenarnya. Dengan
melakukan latihan pendahuluan, panglima operasi dapat menemukan
hal-hal yang belum tercakup dalam rencana tetapi diperlukan untuk
menyelesaikan tugas pokok. Latihan pendahuluan juga dapat
meningkatkan pemahaman komandan bawahan terhadap rencana
84

yang telah dibuat sehingga dapat meningkatkan keyakinan dalam


pelaksanaannya.
b) Pemeriksaan. Pemeriksaan dilakukan panglima operasi dan
para komandan bawahan guna meyakinkan kesiapan peralatan dan
personel untuk melaksanakan tugas operasi. Lingkup pemeriksaan
sangat tergantung pada tingkatan satuan serta waktu yang tersedia.
Dalam waktu yang sempit, pemeriksaan harus difokuskan pada
unsur-unsur yang sangat esensial dan berpengaruh langsung
terhadap keberhasilan tugas.
c) Gerakan awal. Gerakan awal dilakukan untuk mendekatkan
satuan ke posisi dimana satuan tersebut akan melaksanakan operasi.
Pada tataran operasional, gerakan awal biasanya bersifat adminis-
tratif. Misalnya pada Operasi Trikora, Komando Mandala memajukan
satuan-satuan operasional dari pangkalan masing-masing di Pulau
Jawa ke daerah persiapan di Pulau Halmahera, Pulau Banda dan
beberapa pulau lain di sekitar Laut Aru.
d) Koordinasi. Koordinasi dilakukan untuk meningkatkan saling
pengertian antar perwira staf, antara perwira staf dengan para
komandan bawahan dan antar komandan bawahan yang akan
memimpin pelaksanaan operasi pasukannya. Pada OMSP koordinasi
sulit dilakukan, terutama dengan lembaga-lembaga sipil yang terlibat
dalam operasi karena adanya perbedaan budaya kerja. Lembaga-
lembaga sipil seringkali membawa agenda mereka sendiri yang tidak
pararel dengan garis-garis operasi yang telah disusun dalam disain
operasi. Dalam kondisi seperti ini, penempatan liasion dapat
mengurangi kendala komunikasi.
e) Penyempurnaan rencana. Pada tataran operasional, perkem-
bangan informasi berlangsung secara cepat dinamis. Rencana yang
telah disusun mungkin perlu penyesuaian agar dapat mengikuti
perubahan situasi yang terjadi di dalam lingkungan operasi. Bahkan
dalam kondisi tertentu perlu dilakukan perubahan tugas-tugas satuan
bawah yang memerlukan penyusunan rencana baru. Selama waktu
masih memungkinkan, penyempurnaan dan perubahan rencana
harus dilakukan guna menjamin tercapainya tujuan operasi secara
keseluruhan. Untuk itu, panglima operasi harus merumuskan
prosedur tetap operasi yang secara khusus mengatur tatacara
penyempurnaan dan perubahan rencana operasi guna mengurangi
kerawanan-kerawanan yang dapat mengakibatkan kegagalan operasi.
4) Pelaksanaan. Panglima operasi melaksanakan operasi mengerahkan
segenap kemampuan satuan bawahannya untuk menyelesaikan tugas-tugas
dan melakukan penilaian terhadap kemajuan operasi. Selama pelaksanaan,
panglima operasi melakukan kegiatan penilaian, membuat keputusan-
keputusan untuk mengatasi tindakan-tindakan musuh yang diramalkan serta
mengarahkan satuan-satuan bawah untuk melaksanakan tugas masing-
masing.
Komando dan pengendalian pada tahap pelaksanaan operasi
diarahkan untuk menjamin teraplikasikannya rencana operasi yang telah
dibuat dihadapkan dengan kondisi nyata di lapangan. Apabila rencana-
rencana yang telah dibuat aplikabel, maka operasi dapat dilanjutkan.
Sebaliknya apabila operasi mengalami hambatan, maka panglima operasi
85

perlu meneliti kembali apakah hal itu disebabkan oleh kegagalan


perencanaan atau sebab-sebab lain. Apabila hambatan operasi lebih
disebabkan oleh faktor perencanaan, maka panglima operasi perlu
melakukan memodifikasi konsep operasi tanpa mengubah tujuan operasi
semula.
Selama pelakanaan operasi perubahan-perubahan situasi akan terus
terjadi, baik disebabkan oleh tindakan musuh maupun perubahan lingkungan
operasi. Untuk mengatasi perubahan yang dapat diramalkan, panglima
operasi harus menyusun rencana-rencana cadangan untuk mengatasi
berbagai perubahan yang terjadi di daerah operasi. Sedangkan untuk
perubahan yang tidak dapat diramalkan, perlu dilakukan tindakan-tindakan
improvisasi. Untuk itu diperlukan proses pengambilan keputusan cepat agar
ritme operasi terus terpelihara. Ada dua kemungkinan keputusan yang dapat
diambil. Pertama, tetap melaksanakan operasi dengan melakukan sedikit
penyesuaian terhadap situasi yang berkembang di lapangan. Kedua,
melakukan modifikasi terhadap rencana yang telah dibuat, misalnya, dengan
memperkuat pasukan yang sedang melaksanakan operasi pokok, mengubah
konsep operasi. Perubahan konsep operasi dilakukan dengan
memperhitungkan resiko secara cermat dan hanya dilakukan apabila
terpaksa serta tidak ada pilihan lain.
21. Penyelenggaraan Komando dan Pengendalian dalam Operasi
a. Komando. Komando adalah kewenangan formal yang dimiliki oleh seorang
panglima operasi sebagai payung hukum untuk memberikan perintah kepada
bawahannya atas dasar kepangkatan atau jabatan. Komando mencakup
kewenangan dan tanggung jawab untuk mengelola semua sumberdaya yang
tersedia dan merencanakan penggunaannya dengan cara mengorganisir,
mengarahkan, mengkoordinasikan dan mengendalikannya untuk melaksanakan
tugas pokok.
Komando juga dapat diartikan sebagai kegiatan. Komando memang tidak
akan membuat musuh menyerah atau mencegah musuh menghentikan serangan-
nya, apalagi menjamin kemenangan. Komando juga tidak akan membuat prajurit
kenyang dan terpenuhi kebutuhannya. Namun semua kegiatan dalam pertempuran
tidak akan terlaksana tanpa komando yang efektif karena komando merupakan
fungsi operasional yang menjadi pusat dari fungsi-fungsi operasional lainnya.
Integrasi fungsi komando dengan fungsi-fungsi operasional lainnya akan
mengarahkan operasi pada sasaran-sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan.
Komando memudahkan panglima operasi dalam pembuatan keputusan yang
sehat, memotivasi dan mengarahkan pasukannya untuk melaksanakan tugas.
Untuk itu maka panglima operasi harus memahami doktrin, tujuan operasi, konsep
operasi, kemampuan dan batas-batas kemampuan pasukannya. panglima operasi
juga harus bisa menghitung resiko serta memahami dinamika operasi yang terjadi
di dalam dan di luar wewenang komandonya. Selain itu, panglima operasi harus
bisa memilih dan memutuskan cara-cara bertindak yang tepat serta meyakinkan
anggotanya untuk melaksanakan keputusan yang sudah dibuat.
1) Pengorganisasian komando. Komando mengintegrasikan kegiatan-
kegiatan pemecahan masalah, kecakapan memotivasi dan berkomunikasi
serta pemahaman tentang dinamika operasi. Untuk mengimplementasikan
komando dalam operasi secara efektif, panglima operasi harus
mengorganisir komandonya dengan baik. Beberapa prinsip yang perlu
dipertimbangkan panglima operasi dalam menyusun organisasi komandonya
86

adalah:
a) Kesatuan komando. Penyelenggaraan komando dalam
operasi militer harus dilakukan secara terpusat sehingga semua
personel yang terlibat di dalamnya memiliki kesamaan pemahaman
terhadap tugas yang harus dilaksanakan. Setiap komandan hanya
bertanggung jawab kepada satu komandan atasan. Hal ini dimaksud-
kan untuk menjamin kesatuan tindakan dan mencegah terjadinya
keragu-raguan dalam bertindak serta memperjelas tanggung jawab
apabila terjadi permasalahan.
b) Kerjasama. Penyelenggaraan komando harus bisa menjamin
kerjasama antar satuan yang ada dibawah suatu komando. Untuk itu
semua satuan yang ada dalam satu komando harus memiliki
kesamaan pandangan tentang tujuan operasi. Semua satuan harus
saling mengerti peran dan fungsi masing-masing dalam mencapai
tujuan operasi. Para komandan dalam yang ada dalam satu komando
harus memahami hubungan komando antara satuannya dengan
satuan lain yang ada di daerah operasi.
c) Keseimbangan. Yang dimaksud keseimbangan disini adalah
kesesuaian antara kemampuan komando dengan jumlah satuan
bawah yang harus dikendalikan. Keseimbangan komando dicapai
dengan mengatur rentang komando sedemikian rupa sehingga jumlah
satuan bawah masih dapat dikendalikan secara efektif oleh seorang
komandan.
d) Prosedur yang efektif. Prosedur operasi harus dibuat
sederhana dan kenyal agar dapat menyesuaikan dengan perubahan
yang terjadi daerah operasi. Meskipun prosedur tetap operasi dapat
menghemat waktu, namun tidak semua kegiatan harus dimuat dalam
prosedur tetap. Kegiatan taktis yang memerlukan intuisi adalah salah
satu contoh yang tidak bisa ‘di-protap-kan’.
e) Susunan komando yang dinamis. Susunan komando harus
bersifat dinamis, artinya disesuaikan dengan jenis dan betuk operasi
yang dilaksanakan. Misalnya, susunan komando untuk operasi
penanggulangan akibat bencana alam harus dibedakan dengan
susunan komando pada operasi mengatasi terorisme karena kedua
operasi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.
2) Rentang komando. Rentang komando adalah jumlah satuan bawah
yang bisa dikendalikan oleh seorang komandan secara langsung. Semakin
banyak satuan bawah akan semakin melebarkan rentang komando dan akan
mempersulit komandan untuk mengimplementasikan komandonya secara
efektif. Penggunaan teknologi komunikasi modern akan memungkinkan
rentang kendali yang lebih lebar, namun perlu dipahami bahwa komando
adalah fungsi individu komandan yang memiliki keterbatasan manusiawi.
3) Rantai komando. Setiap komandan satuan bertanggung jawab atas
pelaksanaan operasi yang dilakukan oleh satuannya dan mempertanggung
jawabkannya kepada pemegang komando yang lebih tinggi sesuai dengan
rantai komando yang berlaku. Rantai komando adalah ‘garis-garis’ komando
dimana seorang komandan mengimplementasikan komandonya dalam
kaitannya dengan komandan atasan dan para komandan bawahan. Rantai
komando yang efektif harus didukung dengan sistem komunikasi dan
prosedur tetap.
87

4) Hubungan Komando. Penentuan hubungan komando antara suatu


satuan dengan satuan lain di daerah operasi perlu dilakukan guna
memudahkan pendelegasian wewenang, pembagian tugas-tugas maupun
pelayanan administrasi. Hubungan komando juga akan menentukan status
suatu satuan dalam suatu rantai komando yang diatur sebagai berikut:
a) Bawah Perintah (BP). Komandan satuan penerima BP
berwenang untuk memberikan tugas maupun membagi-bagi satuan
BP untuk melaksanakan tugas-tugas sesuai kebutuhan taktis. Satuan
penerima BP bertanggungjawab atas kebutuhan logistik satuan BP.
Pemberian BP biasanya dilakukan untuk satuan-satuan yang memiliki
kesamaan fungsi yang akan melaksanakan operasi dalam waktu
relatif lama.
b) Bawah Komando Operasi (Bakoops). Komandan satuan
penerima Bakoops memiliki wewenang yang sama dengan satuan
penerima BP, namun tidak dituntut tanggung jawab untuk memenuhi
kebutuhan logistik satuan yang Bakoops. Satuan Bakoops memenuhi
kebutuhan logistiknya sendiri sampai dicabutnya status Bakoops.
Pemberian status Bakoops biasanya bersifat non permanen dan
harus segera dicabut setelah selesainya suatu tugas.
c) Bawah Kendali Operasi . Komandan satuan penerima BKO
berwenang memberikan tugas yang tetapi tidak membagi-bagi satuan
BKO. Satuan BKO memiliki tugas pokok yang khas, sehingga
penggunaannya harus disesuaikan dengan jenis tugas yang dapat
dilaksanakannya. Komandan satuan penerima BKO tidak dibebani
dengan tanggung jawab logistik yang dibutuhkan satuan BKO. Status
ini bisa diakhiri setelah tugas satu BKO selesai.

WENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB DANSAT PENERIMA


STATUS
MEMBERIKAN MEMBAGI PELAYANAN
WAKTU
TUGAS SATUAN ADMINISTRASI

Bawah Ya Ya Ya Sampai selesainya suatu


Perintah tugas atau adanya
pencabutan dari komando
(BP)
atasan pemberi BP
Bawah Ya Tidak Tidak Sampai selesainya suatu
Kendali tugas atau adanya
Operasi pencabutan dari komando
(BKO) atasan pemberi BKO

Bawah Ya Ya Tidak Sampai selesainya suatu


Komando tugas
Operasi
(Bakoops)

5) Markas Komando. (Membahas pengorganisasian markas komando


operasi secara hirarkhis: Kola, Kolakops, Koops, Satgas) Markas komando
operasi adalah fasilitas bagi panglima operasi dan stafnya untuk melakukan
kegiatan komando dan pengendalian hari demi hari terhadap satuan-satuan
88

yang sedang melaksanakan operasi. Di dalam markas komando ini panglima


operasi melaksanakan langkah-langkah perencanaan operasi, melakukan
penilaian terhadap pelaksanaan operasi dan membuat keputusan-keputusan
untuk memelihara kesinambungan operasi serta melakukan kegiatan lain
guna menjamin tercapainya tujuan operasi. Dengan dibantu para perwira
staf, panglima operasi mengefektifkan penggunaan wewenang komandonya
untuk mengendalikan satuan-satuan yang menjadi tanggung jawabnya untuk
mencapai tujuan akhir yang telah ditetapkan. Para perwira staf melakukan
koordinasi untuk menyamakan persepsi terhadap masalah-masalah
operasional yang dihadapi sehingga keputusan-keputusan yang diambil
panglima operasi dapat dikembangkan oleh satuan-satuan yang berada
dibawah komando dan pengendalian panglima operasi.
a) Susunan personel. Untuk mencapai efektivitas pengendalian,
organisasi markas komando operasi perlu disusun secara tepat.
Susunan personel dalam markas komando operasi terdiri dari unsur
pimpinan dan staf organik militer yang terdiri dari staf intelijen, staf
operasi, staf personel, staf logistik dan staf teritorial. Susunan
personel staf ini adalah susunan personel dasar yang harus ada
ketika komando operasi dibentuk. Staf inilah yang membantu
panglima operasi menyusun disain operasi dan menjabarkannya
menjadi konsep operasi kemudian menuangkannya dalam rencana
operasi.
Setelah operasi berlangsung, panglima operasi dapat
membentuk kelompok staf baru sesuai kebutuhan operasi. Misalnya
staf perencanaan yang berfungsi melakukan perkiraan dan menyusun
rencana kontinjensi guna mengantisipasi perubahan keadaan yang
tidak dapat diprediksi dalam perencanaan awal operasi. Selain itu
panglima operasi juga dapat membentuk staf fungsional seperti staf
penerangan, staf psikologi, staf operasi khusus dan sebagainya.
Pembentukan staf fungsional disesuaikan dengan macam operasi
yang digelar. Tidak ada aturan baku yang membatasi panglima
operasi untuk membentuk staf fungsional, tetapi panglima operasi
diharapkan menggunakan pertimbangan kepentingan operasional
dalam membentuk staf fungsional, antara lain skala operasi yang
akan dilaksanakan, luasnya daerah operasi, banyaknya macam
operasi dan sebagainya . Garis-garis operasi yang telah dibuat dapat
dijadikan salah satu alat bantu bagi panglima operasi sebelum
memutuskan perlu tidaknya membentuk staf fungsional.
Kelompok staf baru dapat berada di dalam atau terpisah dari
susunan staf organik yang sudah ada. Namun demikian, kegiatan staf
baru yang berkaitan langsung dengan pengendalian operasi-operasi
yang akan digelar (operasi psikologi, operasi penerangan, operasi
yustisi dan sebagainya) sebaiknya berada dibawah koordinasi staf
operasi. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin tercapainya sinkronisasi
semua operasi yang digelar serta untuk mewujudkan kesatuan
tindakan dalam rangka mencapai tujuan operasi.
b) Pengorganisasian. Dalam daerah operasi hanya ada satu
panglima operasi yang bertanggungjawab atas seluruh pelaksanaan
operasi yang dilaksanakan oleh satuan-satuan bawahannya. Namun
dengan luasnya daerah operasi dan kompleksitas permasalahan yang
dihadapi, maka panglima operasi dapat membagi daerah operasi
89

menjadi beberapa sektor sekaligus mendelegasikan wewenang


pengendalian operasi kepada para komandan sektor. Secara hirarkhis
organisasi markas komando dalam daerah operasi meliputi:
 Komando Mandala. Komando Mandala adalah komando tertinggi
yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan perang yang
dilaksanakan dalam rangka OMP. Panglima Komandala Mandala
membuat perencanaan dan merumuskan tujuan strategis serta
mengkoordinasikan penggunaan kekuatan militer dan nonmiliter
baik di dalam Mandala maupun di luar Mandala. Panglima
Komando Mandala dapat membentuk komano pelaksana operasi
yang bertanggungjawab merencanakan dan melaksanakan
operasi pada tataran operasional guna mencapai tujuan strategis
yang telah ditetapkan Panglima Komando Mandala.
 Komando Operasi. Komando Operasi adalah komando yang
dibentuk dalam rangka pelaksanaan OMSP di suatu wilayah
tertentu. Panglima Komando Operasi bertanggungjawab atas
seluruh rangkaian operasi yang digelar di daerah operasi yang
menjadi tanggung jawabnya. Batas-batas daerah operasi
ditentukan oleh Panglima TNI sesuai kebutuhan.
 Komando Sektor. Panglima Komando Operasi dapat membentuk
Komando Sektor dan menunjuk Komandan Sektor untuk
merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan operasi di
sektornya. Panglima Komando Operasi harus dapat mensinkron-
kan pencapaian sasaran operasional seluruh sektor yang ada
dalam daerah operasi.
 Satuan Tugas. Satuan tugas adalah unsur pelaksana operasi yang
melaksanakan tugas-tugas taktis di daerah operasi. Satgas dapat
berada dibawah kendali Komandan Sektor. Namun demikian,
untuk Satuan Tugas yang melaksanakan tugas-tugas khusus
dapat berada dibawah kendali Panglima Komando Operasi.
b. Pengendalian. Komando dan pengendalian adalah dua hal yang berbeda
namun memiliki keterkaitan yang sangat erat. Komando adalah fungsi individual
yang melekat pada setiap panglima operasi, sedangkan pengendalian merupakan
fungsi yang lahir dari perpaduan antara personel, peralatan, sistem komunikasi,
sistem informasi dan prosedur. Untuk mengimplementasikan komandonya dengan
baik, panglima operasi harus melakukan pengendalian secara efektif. Jadi,
pengendalian merupakan salah satu aspek dari komando. Pengendalian adalah
kegiatan yang dilakukan untuk menjamin terlaksananya prosedur dan tindakan
operasional maupun taktis serta untuk meyakinkan agar semua unsur
melaksanakan tugasnya guna mencapai sasaran operasional yang ditetapkan.
Pengendalian juga dapat diartikan sebagai proses, dimana panglima operasi dan
staf mengatur, mengarahkan dan mengkoordinir kegiatan pasukan yang menjadi
tanggung jawabnya.
1) Bentuk pengendalian. Secara umum terdapat dua bentuk
pengendalian yang dapat dilakukan oleh seorang panglima operasi dalam
sebuah operasi, yaitu pengendalian prosedural dan pengendalian positif.
Pengendalian prosedural adalah bentuk pengendalian operasi yang didasari
oleh pelaksanaan perintah yang telah diberikan, aturan-aturan, kebijakan
maupun doktrin yang berlaku. Pengendalian prosedural ini tidak memerlukan
campurtangan langsung panglima operasi karena perintah-perintah
90

dikeluarkan sebelum operasi dilaksanakan, sedangkan aturan, kebijakan dan


doktrin relatif bersifat tetap. Pengendalian positif adalah bentuk
pengendalian yang digunakan oleh panglima operasi untuk mengendalikan
jalannya operasi atas dasar penilaian situasi secara aktif, evaluasi terhadap
pelaksanaan tugas serta perkiraan-perkiraan yang mungkin terjadi untuk
dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Agar pengendalian dapat berjalan secara efektif, maka semua faktor
yang berpengaruh terhadap pelaksanaan operasi militer harus benar-benar
dipahami oleh panglima operasi dan stafnya. Efektivitas pengendalian juga
bergantung pada obyektivitas dalam menilai situasi yang dinamis, fakta-fakta
yang dihadapi, pengalaman operasi sebelumnya serta ketajaman dalam
melakukan analisa terhadap faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
pelaksanaan operasi. Pengendalian yang baik memungkinkan seorang
panglima operasi untuk mengembangkan inisiatif dan beradaptasi dengan
perubahan situasi yang terjadi guna mencapai tujuan yang ditetapkan. Untuk
mencapai tingkat pengendalian yang baik, panglima operasi dan staf harus
benar-benar memahami doktrin dan prosedur serta mendayagunakan
peralatan, sistem komunikasi dan sistem informasi secara optimal.
Pengendalian yang baik akan sangat membantu panglima operasi
dalam mengatasi ketidakpastian dan meminimalkan resiko, sekaligus
meningkatkan kecepatan untuk merespon permasalahan yang timbul selama
berlangsungnya operasi. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya,
ketidakpastian selalu hadir dalam setiap operasi militer. Dalam situasi seperti
itu, panglima operasi yang tidak berpengalaman akan mengendalikan
pasukan secara ketat dan berlebihan. Hal itu jutru akan akan melahirkan
keputusan-keputusan yang tidak sehat dan akan menghilangkan inisiatif
para komandan bawahan.
2) Alat kendali. Alat kendali merupakan salah satu sarana pengendalian
prosedural yang digunakan panglima operasi dan para komandan untuk
mempermudah koordinasi sehingga dapat menghemat waktu dan menghi-
langkan keragu-raguan para pelaksana operasi di lapangan. Pada tataran
taktis, alat kendali biasanya mudah dikenali karena lingkupnya yang relatif
sempit, misalnya alat kendali dalam operasi penyergapan antara lain
sasaran, titik berkumpul, garis taraf, garis berita dan sebagainya. Atau alat
kendali dalam operasi serangan yang meliputi batas-batas petak serangan,
daerah persiapan, pangkal serangan, garis awal, sasaran dan batas gerak
maju.
Pada tataran operasional, alat kendali tidak mudah dikenali karena
luasnya daerah operasi dan kompleksitas permasalahan yang dihadapi. Alat
kendali pada tataran operasional ditentukan panglima operasi pada saat
proses perencanaan operasi. Alat kendali pada tataran operasional dapat
berupa kendali waktu, geografis maupun peralihan kegiatan penting dalam
operasi.
a) Kendali waktu. Kendali waktu adalah alat kendali yang
digunakan untuk mengetahui dinamika operasi sejak operasi dimulai
sampai operasi dinyatakan selesai. Kendali waktu sangat penting
manakala para panglima dan para komandan kehilangan kontak atau
mengalami kendala dalam berkomunikasi di daerah operasi.
Beberapa contoh kendali waktu yang sering digunakan antara lain
hari “H” jam “J” yang digunakan sebagai awal dimulainya suatu
operasi.
91

b) Kendali geografis. Adalah alat kendali yang bersifat geografis


dan digunakan sebagai sarana koordinasi antar satuan dalam daerah
operasi, misalnya batas sektor, batas petak, sasaran dan sebagainya.
Panglima operasi menentukan alat kendali geografis berdasarkan
faktor-faktor tugas, medan, musuh dan pasukan sendiri.
c) Kendali kegiatan. PDalam perencanaan operasi, panglima
operasi bisa membagi waktu pelaksanaan operasi menjadi beberapa
tahapan. Peralihan dari tahap yang satu ke tahap yang lain
merupakan alat kendali panglima operasi dan para komandan di
daerah operasi untuk mengatur penggunaan sumber daya yang
dimilikinya secara efisien. Garis-garis operasi yang dibuat panglima
operasi merupakan alat kendali kegiatan yang biasa digunakan dalam
operasi yang sangat kompleks. Dengan menggunakan garis-garis
operasi, panglima operasi mensinkronisasikan operasi-operasi besar
yang digelar di daerah operasi yang menjadi tanggung jawabnya
dalam rangka mencapai tujuan operasional dan tujuan strategis yang
telah ditetapkan.
22. Tataran Kewenangan Komando dan Pengendalian Operasi TNI AD
Penyelenggaraan komando dan pengendalian operasi di lingkungan TNI AD
berpedoman pada ketentuan-ketentuan yang sudah diatur dalam Doktrin Kartika Eka
Pakçi, khususnya yang berkaitan dengan ketentuan tentang penggunaan kekuatan. Dalam
penyelenggaraan operasi darat, kewenangan komando dan pengendalian diatur sebagai
berikut:
a. Tingkat pusat. Wewenang dan tanggung jawab komando dan pengendalian
operasi yang melibatkan kekuatan TNI AD baik pada OMP maupun OMSP di
tingkat pusat berada pada Panglima TNI. Panglima TNI berwenang mengendalikan
serta membuat kebijakan yang berkaitan dengan penggunaan kekuatan TNI AD.
b. Tingkat Kotama.
1) Pada OMP. Wewenang dan tanggung jawab penggunaan kekuatan
TNI AD pada OMP berada pada Panglima TNI, sedangkan untuk komando
dan pengendalian penyelenggaraan operasi berada pada Pangdam.
Pembagian wewenang komando dan pengendalian operasi diatur sebagai
berikut:
a) Panglima TNI merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan
penggunaan kekuatan terpusat atau kekuatan kewilayahan.
b) Wewenang komando dan pengendalian operasi perlawanan
wilayah dapat didelegasikan kepada Pangdam.
2) Pada OMSP. Wewenang dan tanggung jawab penggunaan kekuatan
TNI AD pada OMSP di tingkat Kotama berada pada PanglimaTNI,
sedangkan komando dan pengendalian penyelenggaraan operasi diatur
sebagai berikut:
a) Operasi Tempur. Wewenang komando dan pengendalian
berada pada Pangkoops TNI yang ditunjuk oleh Panglima TNI.
b) Operasi Non Tempur.
(1) Yang bersifat pengamanan. Wewenang komando dan
pengendalian pengamanan wilayah perbatasan, pengamanan
obvitnas dan pengamanan Presiden, Wakil Presiden dan tamu
negara yang setingkat berada pada Pangdam.
92

(2) Yang Bersifat operasi bantuan.


(a) Wewenang komando dan pengendalian operasi
bantuan kemanusiaan, Operasi bantuan kepada Polri,
bantuan SAR, bantuan kemanusiaan, bantuan
pengungsian dan bantuan penanggulangan bencana
alam berada pada Pangdam.
(b) Operasi bantuan perdamaian dunia. Wewenang
komando dan pengendalian operasi perdamaian dunia
berada pada Komandan Kontingen yang ditunjuk
berdasarkan surat perintah Panglima TNI.
c. Tingkat Satuan Operasional.
1) Pada OMP. Wewenang komando dan pengendalian berada pada
komandan satuan TNI AD yang ditunjuk oleh komando atas.
2) Pada OMSP. Wewenang komando dan pengendalian
penyelenggaraan operasi diatur sebagai berikut:
a) Operasi Tempur. Wewenang komando dan pengendalian
berada pada komandan satuan TNI AD.
b) Operasi Non Tempur.
(1) Yang bersifat pengamanan. Wewenang komando dan
pengendalian pengamanan wilayah perbatasan, pengamanan
obvitnas dan pengamanan Presiden, Wakil Presiden dan tamu
negara yang setingkat berada pada Dansat sesuai dengan
lingkup tugas yang diterima.
(2) Yang Bersifat operasi bantuan.
(a) Wewenang komando dan pengendalian operasi
Bantuan kepada Pemda, Operasi Bantuan kepada Polri,
bantuan SAR, bantuan kemanusiaan, bantuan
pengungsian dan bantuan penanggulangan bencana
alam berada pada komandan satuan sesuai dengan
lingkup tugas dan tanggung jawab yang diberikan oleh
masing-masing instansi yang meminta bantuan.
(b) Wewenang komando dan pengendalian operasi
bantuan perdamaian dunia berada pada panglima
kontingen yang ditunjuk berdasarkan surat perintah
Panglima TNI.
23. Pengorganisasian
a. Prinsip-prinsip Pengorganisasian. Dalam operasi, satuan operasional
diorganisir sedemikian rupa agar dapat melakukan tugas-tugasnya secara mandiri.
Agar satuan-satuan operasional dapat melaksanakan tugasnya secara berdaya dan
berhasil guna maka perlu memperhatikan prinsip-prinsip pengorganisasian sebagai
berikut:
1) Kesatuan komando. Kesautan komando berarti bahwa setiap
tingkatan satuan hanya memiliki satu komando guna menjamin kesatuan
tindakan dalam operasi serta tidak menimbulkan keragu-raguan bagi
pelaksana operasi.
2) Kemampuan mengawasi. Kemampuan pengawasan seorang
93

komandan terhadap bawahannya relatif terbatas karena adanya hambatan-


hambatan geografis, psikologis dan hambatan lain yang dihadapi di daerah
operasi. Oleh karena itu, setiap pengorganisasian satuan untuk
melaksanakan operasi harus mempertimbangkan hambatan-hambatan di
daeran operasi yang akan membatasi kemampuan pengendalian.
3) Penentuan tugas yang homogen. Penyusunan satuan untuk
melaksanakan tugas semaksimal mungkin memperhatikan keterkaitan
fungsi-fungsi agar dapat bekerjasama dengan baik di daerah operasi.
4) Pendelegasian wewenang secara tepat. Untuk meningkatkan
pengendalian terhadap tugas-tugas organisasi, komandan dapat
mendelegasikan wewenang kepada komandan bawahan yang disesuaikan
dengan jenis dan beban tugas yang akan dihadapi oleh komandan bawahan.
Meskipun wewenang telah didelegasikan, tanggung jawab terhadap apa
yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh satuan bawah tetap ada pada
komandan atasan yang mendelegasikan wewenangnya.
b. Pengorganisasian Satuan Jajaran TNI AD. Organisasi TNI AD memiliki
keunikan dibandingkan dengan organisasi angkatan darat negara lain. Keunikan ini
terbentuk oleh sejarah perjuangan bangsa dalam merebut dan mempertahankan
kemerdekaan negara kesatuan Republik Indonesia. Secara umum, satuan-satuan
TNI AD melaksanakan tugas-tugas operasional dan tugas-tugas pembinaan. Yang
dimaksud dengan tugas-tugas operasional disini adalah tugas-tugas yang
berhubungan langsung dengan pelaksanaan tugas pokok TNI AD, sedangkan
tugas tugas pembinaan adalah tugas-tugas untuk menyiapkan infrastruktur dan
suprastruktur yang diperlukan untuk menjamin kesiapan operasional seluruh satuan
TNI AD.
Untuk mendukung pelaksanaan tugas-tugas tersebut, maka satuan-satuan
TNI AD diorganisir dalam satuan-satuan operasional dan satuan-satuan
pembinaan. Satuan operasional terdiri dari satuan-satuan teritorial dari tingkat
Korem, Kodim dan Koramil serta satuan satuan operasional yang disusun dalam
bentuk divisi, brigade, batalyon, detasemen sampai dengan kompi/baterai berdiri
sendiri. Satuan-satuan tersebut diorganisir dalam komando utama dan badan
pelaksana pusat TNI AD sebagai berikut:
1) Komando utama (Kotama). Kotama TNI AD meliputi Kotama
Operasional dan Kotama Pembinaan:
a) Kotama Operasional (Kotamaops). Kotamaops melaksanakan
tugas-tugas operasional yang secara hirarkhis bertanggung jawab
kepada Panglima TNI. Agar dapat melaksanakan tugas-tugas
operasional secara mandiri, setiap Kotamaops dilengkapi dengan
satuan-satuan tempur, bantuan tempur dan bantuan administrasi.
Besar kecilnya satuan-satuan tersebut disesuaikan dengan tantangan
tugas yang dihadapi masing-masing Kotamaops. Kotamaops TNI AD
terdiri dari Kotama Pusat dan Kotama Kewilayahan.
(1) Kostrad adalah Kotamaops terpusat yang dipimpin oleh
Panglima Kostrad.
(2) Kopassus adalah Kotamaops terpusat yang dipimpin
oleh Komandan Kopassus
(3) Kodam adalah Kotamaops kewilayahan yang dipimpin
oleh Panglima Kodam
94

Sebutan Panglima diberikan kepada pimpinan Kotamaops


yang secara organisasional dapat memimpin seluruh atau sebagian
satuan bawahannya dalam pelaksanaan tugas-tugas operasional.
Sedangkan pimpinan satuan yang melaksanakan tugas-tugas taktis
disebut dengan Komandan.
Sebutan Panglima selain diberikan kepada pemimpin
Kotamaops juga diberikan kepada pimpinan komando operasi dan
pimpinan satuan yang melaksanakan tugas-tugas pada tataran
operasional, serendah-rendahnya satuan setingkat divisi. Meskipun
bukan Kotamaops, divisi adalah satuan operasional yang dapat
menyelenggarakan tugas-tugas operasional karena dilengkapi
dengan unsur-unsur.
Pimpinan Kopassus disebut sebagai Komandan Kopassus
karena secara organisasional berperan sebagai pembina satuan-
satuan jajaran Kopassus. Karena karakteristik operasi khusus yang
khas, Komandan Kopassus tidak memimpin satuannya dalam
pelaksanaan tugas-tugas operasional.
b) Kotama Pembinaan (Kotamabin). Kotamabin melaksanakan
tugas-tugas pembinaan yang secara hirarkhis bertanggung jawab
kepada Kepala Staf TNI AD. Seluruh Kotamaops TNI AD secara
struktural juga berfungsi sebagai Kotamabin. Selain itu, kotama-
kotama yang menyelenggarakan fungsi-fungsi pembinaan doktrin,
pendidikan dan latihan juga merupakan Kotamabin TNI AD.
(1) Kostrad adalah Kotamabin TNI AD yang berfungsi
membina kesiapan operasional satuan-satuan di jajaran
Kostrad.
(2) Kopassus adalah Kotamabin TNI AD yang berfungsi
membina kesiapan operasional satuan-satuan di jajaran
Kopassus
(3) Kodam adalah Kotamabin TNI AD yang berfungsi
membina kesiapan operasional satuan-satuan di jajaran
Kodam
(4) Kodiklat TNI AD adalah Kotamabin TNI AD yang
berfungsi sebagai pusat pembina doktrin, organisasi,
pendidikan dan latihan, yang dipimpin oleh Komandan Jenderal
Kodiklat.
(5) Akademi Militer adalah Kotamabin TNI AD yang
berfungsi sebagai lembaga pendidikan, dipimpin oleh Gubernur
Akademi Militer.
(6) Seskoad adalah Kotamabin TNI AD yang berfungsi
sebagai lembaga pendidikan, dipimpin oleh Komandan
Seskoad.
(7) Secapaad adalah Kotamabin TNI AD yang berfungsi
sebagai lembaga pendidikan, dipimpin oleh Komandan
Secapaad.
Pimpinan Kodiklat disebut sebagai Komandan jenderal karena
memimpin satuan-satuan yang berbeda kecabangan dan
kesenjataan. Sebutan Gubernur bagi pimpinan Akademi Militer lebih
95

sebagai pemeliharaan nilai-nilai sejarah. Sebutan Komandan bagi


pimpinan Seskoad dan Secapaad karena membawahi satuan
pelaksana pendidikan.
2) Badan Pelaksana Pusat. Badan pelaksana pusat adalah badan-badan
yang menyelenggarakan pembinaan terhadap fungsi-fungsi TNI AD yang
dalam pelaksanaan tugasnya bertanggungjawab kepada Kepala Staf TNI
AD. Badan-badan tersebut dipimpin oleh Komandan, Direktur atau Kepala
Dinas sesuai tugas-tugas struktural yang menjadi tanggungnya. Sebutan
Komandan diberikan kepada pimpinan Balakpus yang memiliki satuan
pelasksana. Sebutan Direktur diberikan kepada pimpinan Balakpus yang
menyelenggarakan pembinaan fungsi-fungsi teknis militer umum
(kecabangan). Sebutan Kepala Dinas diberikan kepada pimpinan Balakpus
yang menyelenggarakan pembinaan fungsi-fungsi khusus (jasmani militer,
pembinaan mental, psikologi, penelitian dan pengembangan, sejarah, sistem
informasi dan penerangan).
96

BAB VI
LOGISTIK

Logistik tidak memenangkan perang, tapi tanpa logistik perang


tidak bisa dimenangkan
Napoleon Bonaparte

24. Umum
Operasi militer tidak akan terlaksana dengan baik tanpa adanya dukungan logistik.
Sejarah perang membuktikan bahwa logistik berperan penting dalam setiap operasi,
bahkan dapat menentukan keberhasilan operasi. Oleh karena itu, kegiatan dukungan
logistik dalam operasi militer harus direncanakan dan disiapkan secara cermat agar
sasaran-sasaran operasional yang telah ditetapkan dapat capai secara maksimal.
Kecukupan bekal dan sistem pelayanan yang baik sangat membantu pasukan operasional
untuk terus melanjutkan operasinya.
Pada tataran operasional, penyelenggaraan logistik ditujukan untuk mendukung
pelaksanaan operasi dalam rangka mencapai tujuan strategis. Penyelenggaraan logistik
harus sinkron dengan pelaksanaan operasi secara keseluruhan. Sinkronisasi dapat
dicapai apabila perencanaan logistik dilakukan dalam kerangka perencanaan operasi
secara keseluruhan. Koordinasi perwira logistik dengan perwira operasi harus dilakukan
secara terus menerus pada setiap tahapan operasi.
25. Karakteristik Logistik Operasi
Keterbatasan sumber daya menuntut penyelenggaraan dukungan logistik secara
hemat namun harus mampu memberikan dukungan bagi pasukan secara optimal. Para
perencana logistik harus dapat mewujudkan efisiensi penyelenggaraan logistik operasi.
Dukungan logistik operasi yang baik dapat diidentifikasi melalui beberapa karakteristik
yaitu mampu mengantisipasi kebutuhan pasukan, terintegrasi dengan rencana operasi,
mampu berimprovisasi untuk mengatasi permasalahan operasional, responsif dan
berkelanjutan. Karakteristik ini berlaku baik untuk OMP maupun OMSP. Masing-masing
karakteristik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Antisipatif. Antisipasi mengandung pengertian bahwa pejabat logistik
operasi harus mampu berfikir, bersikap dan bertindak proaktif. Penyelenggaraan
logistik harus dapat memaksimalkan penggunaan semua sumber daya yang
tersedia dan membuat prioritas kegiatannya pada hal-hal penting sesuai dengan
konsep operasi yang telah ditetapkan. Perwira logistik harus mengantisipasi setiap
kemungkinan berdasarkan pengalaman operasi sebelumnya. Perwira logistik harus
dilibatkan dalam proses analisa tugas, pengembangan dan pemilihan cara
bertindak, pembuatan keputusan panglima operasi sampai dengan perumusan
perintah operasi.
b. Integrasi. Penyelenggaraan logistik harus terintegrasi dengan konsep
operasi yang ditetapkan oleh panglima operasi. Agar terintegrasi yang baik, maka
staf operasi harus bekerja sama dengan perwira staf logistik sejak awal proses
perencanaan sampai dengan tercapainya tujuan akhir strategis. Pengintegrasian
logistik dilakukan pada tataran srategis, operasional sampai dengan tataran taktis.
Dengan terintegrasinya penyelenggaraan logistik dapat menghindarkan pasukan
dari permasalahan logistik sehingga dapat lebih fokus pada tugas untuk mencapai
sasaran operasional yang ditetapkan.
97

c. Improvisasi. Dinamika operasi yang tinggi seringkali menuntut dukungan


logistik secara cepat dalam jumlah besar. Untuk menghadapi situasi seperti ini,
maka pejabat logistik dituntut untuk mampu berimprovisasi dan mengembangkan
inisiatif agar momentum operasi tetap terpelihara. Improvisasi dapat dilakukan
dengan berbagai cara yang “tidak biasa”, misalnya dengan memanfaatkan
kemampuan logistik wilayah. Dalam kaitan ini, koordinasi dengan satuan teritorial
harus dilakukan secara ketat guna meminimalisir dampak negatif terhadap
dukungan rakyat di daerah operasi.
d. Responsif. Dalam pelaksanaan operasi, perubahan situasi akan
berlangsung dengan cepat, yang kadang-kadang tidak diduga sebelumnya. Untuk
mengatasi situasi seperti ini, dukungan logistik dituntut memiliki respon yang tinggi.
Perencanaan yang sederhana dan pelaksanaan yang fleksibel dapat meningkatkan
responsivitas dukungan logistik terhadap setiap perubahan situasi yang terjadi di
daerah operasi. Pengintegrasian rencana logistik dalam rencana operasi juga akan
meningkatkan responsivitas dukungan logistik.
e. Keberlanjutan. Dukungan logistik harus dapat diselenggarakan secara terus
menerus tanpa putus agar momentum operasi dapat dipelihara. Perwira staf logistik
harus melakukan koordinasi secara terus menerus dengan staf operasi untuk
mengetahui perkembangan operasi secara keseluruhan. Selain itu, perwira staf
logistik juga harus melakukan evaluasi terhadap ketersediaan bekal agar tidak
terjadi kekurangan selama pelaksanaan operasi.
26. Prinsip-prinsip Dukungan Logistik
Penyelenggaraan dukungan logistik harus memperhatikan prinsip dukungan logistik
yang berlaku secara umum yaitu:
a. Terarah pada tugas pokok. Penyelenggaraan dukungan logistik harus
diarahkan pada upaya pencapaian tugas pokok yang telah ditetapkan dan harus
menjamin pengintegrasian fungsi-fungsi dari unsur-unsur logistik yang terlibat
dalam operasi. Dihadapkan dengan kemampuan dukungan TNI AD secara
keseluruhan, maka pertimbangan dasar dari penyelenggaraan dukungan logistik
adalah untuk mencapai efektivitas pelaksanaan tugas satuan sekaligus
mempertimbangkan aspek penghematan.
b. Kelancaran dan kesibambungan. Penyelenggaraan dukungan logistik
harus dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas operasi secara berlanjut
sehingga unsur-unsur logistik yang telah tersusun dapat melaksanakan
kegiatannya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
c. Kesederhanaan. Dukungan logistik harus diselenggarakan secara
sederhana dengan mempertimbangkan aspek penghematan dalam penggunaan
sumber daya dan sarana yang terbatas.
d. Ketepatan. Penyelenggaraan dukungan logistik harus dapat dilakukan
secara tepat waktu, tepat guna, tepat jumlah dan tepat kualitas. Hal ini harus
didukung dengan tersedianya informasi yang tepat dan dapat dipertanggung
jawabkan yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan dukungan logistik.
e. Kekenyalan. Penyelenggaraan dukungan logistik harus menjamin agar
pelaksanaan fungsi logistik selalu dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan
perubahan keadaan operasi.
f. Kecukupan. Penyediaan logistik operasi harus dapat memenuhi kebutuhan
minimum yang diperlukan untuk memulai operasi. Suatu operasi militer tidak boleh
dimulai sebelum kebutuhan logistik terpenuhi pada tingkat minimum yang
98

diperlukan.
g. Survivabilitas. Untuk memelihara kesiambungan dukungan logistik, maka
kegiatan dukungan logistik harus terhindar dari penghancuran oleh musuh. Untuk
itu, perencanaan logistik harus diselaraskan dengan perencanaan operasi,
khususnya dalam hal penempatan instalasi logistik operasi serta pengamanannya.
h. Pemanfaatan sumber yang terbatas. Kebutuhan dan permintaan terhadap
sumber-sumber logistik selalu lebih banyak dari pada yang dapat disediakan. Hal
ini berarti menuntut para perencana dan penyelenggara dukungan logistik untuk
senantiasa mengalokasikan sumber-sumber logistik berdasarkan prioritas, yaitu
pada pencapaian tugas pokok secara optimal.
27. Perencanaan Dukungan Logistik
Penyelenggaraan dukungan logistik merupakan kegiatan yang kompleks dan
sebuah konsep yang saling berkait dan dapat memberikan keuntungan atau kerugian
pada kemampuan tempur suatu pasukan. Pemahaman terhadap konsep operasi tempur
secara komprehensif sangat diperlukan oleh perwira logistik untuk merencanakan
dukungan logistik sehingga rencana operasi yang dibuat akan seimbang dengan
kemampuan dukungan logistik yang tersedia. Dengan demikian, perencanaan dukungan
logistik yang tepat akan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kondisi darurat yang
menuntut dilakukannya improvisasi mendadak di bidang logistik selama pelaksanaan
operasi, karena biasanya akan memerlukan biaya yang jauh lebih mahal.
a. Kriteria perencanaan logistik. Dalam proses perencanaan logistik,
setidaknya terdapat empat kriteria yang harus diperhatikan yaitu kesesuaian,
kecukupan, titik kulminasi dan risiko.
1) Kriteria pertama adalah kesesuaian. Artinya, dukungan logistik harus
diberikan kepada satuan yang tepat pada waktu dan tempat yang tepat.
Walaupun terdapat berbagai keterbatasan, tetapi perencanaan logistik yang
dilakukan secara tepat akan memberikan dorongan kepada pasukan untuk
berada pada kondisi terbaiknya. Untuk dapat memenuhi tuntutan ini, maka
perencana logistik harus mampu mengantisipasi berbagai kemungkinan
yang terjadi di daerah operasi. Pasukan manuver mungkin memerlukan
instalasi logistik yang mobile untuk mendukung pasukan yang bergerak di
depan atau instalasi yang fleksibel untuk mendukung pengembangan
pasukan.
2) Kriteria kedua adalah kecukupan. Artinya, perencanaan logistik harus
benar-benar memperhatikan kebutuhan pasukan untuk melaksanakan
operasi. Untuk itu, komunikasi dan koordinasi antara perencana operasi dan
logistik harus dilakukan terus menerus. Setiap perubahan situasi yang timbul
selama pelaksanaan operasi harus dikoordinasikan untuk dapat melakukan
antisipasi dalam penyelenggaraan dukungan logistik selanjutnya.
3) Kriteria ketiga adalah mencegah titik kulminasi. Artinya, dukungan
logistik harus dilakukan untuk mencegah terjadinya titik kulminasi pasukan
sendiri. Apabila pasukan telah mencapai titik kulminasi, maka pasukan
sendiri akan mengalami hambatan untuk mencapai sasaran operasional.
Selain faktor-faktor medan dan musuh, titik kulminasi juga dapat disebabkan
oleh menipisnya persediaan munisi, sulitnya dorongan makanan ke pasukan
depan dan beberapa hal kritis lainnya. Kondisi seperti ini harus diantisipasi
oleh perencana logistik pada saat menyusun perencanaan operasi.
4) Kriteria terakhir adalah risiko operasi. Artinya, segala kemungkinan
risiko yang dapat dihadapi oleh pasukan manuver harus dipertimbangkan
99

dalam perencanaan dukungan logistik. Sebagai contoh, tempo operasi yang


cukup tinggi dapat menyebabkan gerakan dan pengembangan pasukan
secara cepat dan sulit diikuti oleh satuan logistik dalam memberikan
dukungan. Selain itu, dalam tempo operasi yang cepat, instalasi logistik juga
akan menjadi lebih rawan terhadap serangan musuh. Hal-hal seperti inilah
yang harus dipertimbangkan dengan cermat pada saat perencanaan logistik
dan diselaraskan dengan perencanaan operasi.
b. Integrasi logistik dalam perencanaan operasi. Dalam penyusunan
rencana dukungan logistik, perwira staf logistik pada tataran operasional harus
memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi setiap tahapan operasi. Mereka
harus mengidentifikasi masalah logistik yang dapat menghambat jalannya operasi
serta menemukan langkah-langkah untuk mengatasi masalah tersebut. Untuk itu,
perencanaan logistik harus disesuaikan dengan garis-garis operasi yang telah
dirancang dalam rangka mencapai tujuan operasi. Perencanaan logistik yang
disesuaikan dengan garis-garis operasi pada hakikatnya adalah pengintegrasian
rencana logistik dalam rencana operasi. Pengintegrasian rencana logistik dalam
rencana operasi harus dimulai sejak tahap pengembangan konsep operasi dan
berlanjut sampai dengan tahap pelaksanaan operasi.
1) Pada tahap pengembangan konsep operasi, perencana logistik harus
menyelaraskan prinsip-prinsip penyelenggaraan dukungan logistik dengan
azas-azas perang yang memberikan pedoman umum bagi para perencana
operasi.
2) Pada tahap perencanaan operasi, terdapat beberapa kriteria yang
digunakan untuk mengevaluasi efektivitas rencana yang disusun.
Perencanaan ini akan bermuara pada ditetapkannya sasaran, cara
mencapai sasaran, sarana dan risiko yang akan dihadapi dalam mencapai
sasaran tersebut. Hal ini juga berlaku dalam perencanaan bidang logistik.
Biasanya pada tahap ini akan timbul persoalan-persoalan akibat perbedaan
antara rencana-rencana operasi yang ideal dengan keterbatasan
kemampuan dukungan logistik. Untuk mengintegrasikan keduanya, maka
panglima operasi harus mampu memilih berbagai alternatif, misalnya
mengajukan tambahan kebutuhan logistik atau menyesuaikan rencana
operasi dengan kemampuan dukungan logistik yang tersedia.
3) Pada tahap pelaksanaan operasi, apabila rencana operasi dan
rencana logistik telah selaras maka panglima operasi dan staf melakukan
pengendalian melalui dengan menggunakan checklist yang telah disusun
agar pelaksanaan keduanya tetap berjalan dengan baik.
28. Persiapan Dukungan Logistik
Persiapan logistik untuk mendukung operasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh satuan-
satuan pelaksana dukungan logistik yang berada di daerah operasi dalam rangka
mengoptimalkan pencapaian sasaran operasional yang telah ditetapkan panglima operasi.
Persiapan tersebut mencakup penyusunan organisasi penyelenggaraan logistik, alih
fungsi sistem pelayanan menjadi sistem dukungan operasi, penyiapan instalasi-instalasi
logistik yang sudah tergelar maupun pembangunan instalasi lapangan tambahan,
penyiapan sistem informasi logistik dan sebagainya. Selama proses persiapan berlang-
sung, staf logistik menyusun perkiraan kebutuhan logistik berdasarkan rencana operasi
yang telah disusun. Perkiraan kebutuhan harus dibuat secermat mungkin untuk menjamin
ketersediaan bekal dan menjamin daya dukung sistem pelayanan secara optimal.
a. Pada OMP yang bersifat semesta, persiapan dukungan logistik difokuskan
pada mobilisasi kemampuan logistik wilayah yang selama masa damai dibina oleh
100

komando kewilayahan setempat. Sistem pelayanan logistik yang telah tergelar


selama masa damai diintegrasikan sedemikian rupa sehingga dapat menjadi
komplemen bagi sistem logistik wilayah. Gudang-gudang bekal, bengkel
pemeliharaan, instalasi rumah sakit dan instalasi logistik lainnya diupayakan tetap
berfungsi selama tahap operasi konvensional berlangsung. Manakala operasi
konvensional beralih ke operasi gerilya, dukungan logistik dengan sendirinya
melebur dalam sistem logistik wilayah.
b. Pada OMP yang bersifat terbatas, persiapan dukungan logistik dilakukan
dengan mendirikan instalasi-instalasi logistik di sekitar wilayah perbatasan darat.
Persiapan ini dilakukan berdasarkan rencana pelibatan pasukan TNI AD dalam
operasi militer yang mungkin digelar. Pendirian instalasi-instalasi logistik baru pada
dasarnya merupakan “perpanjangan tangan” dari instalasi logistik yang sudah
tergelar pada masa damai. Konsep ini dikembangkan agar kegiatan pembekalan
dan dukungan logistik dapat menjangkau pasukan yang berada di garis depan di
sekitar wilayah perbatasan. Pengalaman TNI AD pada tahap awal operasi di Timor
Timur harus dijadikan pelajaran berharga. Pada saat itu, satuan-satuan tempur TNI
AD beroperasi di daerah musuh hanya dengan bekal pokok yang dibawa prajurit.
Ketika pasukan memerlukan bekal ulang, dukungan bekal tidak dapat didorong
depan karena tidak adanya jaringan instalasi logistik yang dapat mendukung
pelaksanaan operasi. Akibatnya, pasukan yang berhasil menerobos ke daerah
musuh harus berupaya memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri disamping
melaksanakan tindakan-tindakan taktis. Pada gilirannya pelaksanaan operasi tidak
mencapai hasil optimal. Kedepan, persiapan logistik harus dilakukan jauh sebelum
operasi dimulai agar operasi-operasi awal dapat dilakukan dengan baik sehingga
berpengaruh positif terhadap operasi-operasi selanjutnya.
c. Pada operasi OMSP yang bersifat tempur, persiapan logistik dilakukan
dengan mengalihfungsikan sistem pelayanan logistik yang sudah tergelar menjadi
sistem dukungan logistik operasi. Penambahan instalasi logistik hanya dilakukan
apabila operasi yang akan dilakukan benar-benar memerlukannya, misalnya
apabila instalasi logistik yang sudah tergelar berada di dalam daerah yang dikuasai
musuh sehingga tidak mungkin difungsikan. Selain pengalihfungsian instalasi
logistik, langkah persiapan logistik yang sangat penting adalah koordinasi yang
berkaitan dengan penyusunan sistem pengamanan logistik. Sebagaimana
dijelaskan sebelumnya, OMSP adalah operasi yang non linier. Insurjen bisa
muncul, menyerang dan menghilang di tempat yang tidak diduga-duga. Mereka
akan menyerang dan menghancurkan instalasi logistik untuk melemahkan daya
tempur pasukan kita. Sistem pengamanan logistik tidak hanya mencakup
pengamanan instalasi logistik, tetapi juga mencakup pengamanan sistem distribusi
logistik.
Terlepas dari bentuk operasi yang akan dilaksanakan, pengorganisasian logistik
perlu dilakukan agar sistem dukungan logistik operasi dapat dilaksanakan secara optimal.
Sistem pelayanan yang sudah tergelar di wilayah Kodam perlu direorganisasi agar lebih
kompatibel untuk mendukung pelaksanaan operasi. Untuk itu, satuan-satuan bantuan
administrasi yang daerah operasi harus diorganisir dalam satu komando yang bertugas
menyelenggarakan dukungan logistik operasi. Penyatuan komando perlu dilakukan karena
dukungan logistik operasi harus disentralisasikan untuk menjamin kesinambungan
dukungan logistik dan sinkronisasi dengan pelaksanaan operasi secara keseluruhan.
29. Penyelenggaraan Dukungan Logistik
Keberhasilan operasi sangat tergantung pada penyelenggaraan logistik. Satuan-satuan
logistik yang melaksanakan fungsi pembekalan dan pelayanan merupakan faktor
pengganda kemampuan pasukan yang melaksanakan tugas-tugas tempur maupun non
101

tempur dalam rangka mencapai sasaran-sasaran operasional yang ditetapkan. Maka


setiap komandan satuan logistik harus memiliki pengetahuan yang luas tentang rencana-
rencana operasi dan mengikuti dinamika operasi secara terus menerus. Hal ini
dimaksudkan agar satuan-satuan logistik dapat memberikan dukungan logistik yang
dibutuhkan satuan-satuan yang sedang melaksanakan operasi.
a. Pada OMP yang bersifat semesta, penyelenggaraan dukungan logistik
bertumpu pada kemampuan dukungan logistik wilayah yang pelaksanaannya
dilakukan secara terdesentralisasi, mengikuti penyebaran pasukan yang berada di
kantong-kantong gerilya. Satuan-satuan dukungan logistik harus berpindah-pindah
mengikuti gerakan satuan-satuan tempur yang dibantu. Untuk itu, satuan logistik
disusun dalam kelompok-kelompok kecil dan harus selalu berhubungan dengan
aparat teritorial terkait. Teknik dan prosedur penyelenggaraan dukungan logistik
pada perang gerilya diatur secara khusus dalam buku petunjuk tersendiri.
b. Pada OMP yang bersifat terbatas, penyelenggaraan dukungan logistik
disesuaikan dengan konsep operasi yang dikembangkan Komando Mandala
Operasi. Distribusi bekal dilakukan dari daerah belakang ke daerah tempur dengan
menggunakan rute-rute perbekalan yang telah ditentukan. Pelayanan angkutan,
pemeliharaan, kesehatan dan pelayanan personel menggunakan instalasi-instalasi
lapangan yang digelar di mandala operasi. Pengamanan rute perbekalan dan
instalasi logistik disusun dalam prosedur pengamanan yang dilaksanakan oleh
satuan-satuan dukungan logistik sendiri. Perkuatan unsur pengamanan hanya
dilakukan apabila benar-benar diperlukan, misalnya apabila diketahui ada indikasi
musuh berhasil melakukan infiltrasi ke daerah belakang.
c. Pada OMSP, penyelenggaraan dukungan logistik bertumpu pada sistem
distribusi dan instalasi-instalasi logistik yang sudah tergelar di daerah operasi.
Penambahan instalasi logistik baru hanya dilakukan berdasarkan pertimbangan
besarnya satuan operasional yang harus didukung, besarnya daerah pengaruh
musuh di daerah operasi, keamanan dan sebagainya. Secara garis besar,
penyelenggaraan dukungan logistik pada tataran operasional diatur sebagai
berikut:
1) Pembekalan. Pembekalan pada tataran operasional mencakup
permintaan bekal, penerimaan bekal, penyimpanan, perawatan, distribusi
dan pengembalian bekal. Fungsi-fungsi tersebut harus dilaksanakan seirama
dengan dinamika operasi. Untuk itu para perencana dan pengendali kegiatan
perbekalan harus memahami pokok-pokok keinginan panglima operasi yang
disampaikan dalam petunjuk perencanaan maupun dalam rencana operasi.
Mereka harus tahu secara mendetail tentang satuan-satuan mana yang
harus diprioritaskan distribusi bekalnya, jenis dan jumlah bekal yang
dibutuhkan, dimana dan kapan bekal harus diberikan serta masalah-masalah
logistik lain yang akan berpengaruh terhadap jalannya operasi.
Pendistribusian bekal semaksimal mungkin menggunakan sistem
distribusi satuan dengan menggunakan sarana angkutan satuan pelayanan
lapangan yang ada. Penggunaan sistim distribusi titik bekal sedapat mungkin
dihindari karena akan mengurangi efektivitas satuan operasional. Satuan-
satuan operasional harus dibebaskan dari tugas-tugas administrasi agar
melaksanakan tugas-tugas operasional secara optimal.
Pada operasi lawan insurjensi, tindakan-tindakan taktis kebanyakan
dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil (regu/peleton) yang dikeluarkan
oleh batalyon. Kelompok-kelompok tersebut mungkin akan tersebar untuk
melaksanakan tugas-tugas taktis di beberapa tempat yang berjauhan. Selain
102

bekal pokok yang dibawa, mereka seringkali memerlukan bekal ulang yang
cukup banyak untuk melakukan tugas-tugas taktis dalam waktu relatif lama.
Dalam kondisi seperti ini, kemampuan batalyon untuk mendistribusikan bekal
ulang sangat terbatas sehingga perlu tindakan-tindakan dukungan logistik
yang “tidak biasa”, misalnya pendistribusian bekal ulang oleh satuan-satuan
logistik sampai ke titik bekal batalyon, kalau perlu bahkan sampai ke titik
bekal kompi.
Keberhasilan pembekalan dalam mendukung tugas-tugas satuan ope-
rasional sangat tergantung pada efektifitas sistem manajemen perbekalan.
Untuk itu, Komandan Satbanmin harus mengetahui prioritas kebutuhan bekal
dan batas-batas kemampuan Satbanmin dalam mendukung pelaksanaan
operasi. Dengan sistem manajemen perbekalan yang baik, diharapkan dapat
membantu meningkatkan daya tempur satuan-satuan operasional dalam
mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan.
Untuk kelancaran distribusi bekal, Komandan Satbanmin
berkoordinasi dengan staf operasi berkaitan dengan pengendalian gerakan
di daerah operasi. Selain untuk kelancaran distribusi bekal, koordinasi juga
diperlukan agar gerakan kafilah-kafilah perbekalan tidak mengganggu
gerakan satuan yang sedang melaksanakan kegiatan taktis di daerah
operasi.
2) Pelayanan angkutan. Jasa angkutan berperan penting dalam
membantu meningkatkan mobilitas personel maupun perbekalan di daerah
operasi. Dalam pelaksanaan operasi, TNI AD dapat memanfaatkan sarana
angkutan organik maupun angkutan sipil untuk meningkatkan mobilitas
personel dan materiil di daerah operasi. Penggunaan sarana angkutan sipil
harus dikoordinasikan dengan aparat teritorial terkait agar tidak mengganggu
upaya perebutan opini masyarakat di daerah operasi.
Komandan Satbanmin harus memperkirakan besarnya kebutuhan
angkutan yang meliputi jumlah dan moda angkutan yang diperlukan untuk
mendukung operasi. Selain itu, Komandan Satbanmin juga harus
menyediakan sistem pengendalian angkutan yang mengatur pergerakan
sarana angkutan di daerah operasi secara tertib sehingga tidak mengganggu
jalannya operasi secara keseluruhan.
Selain ketersediaan sarana angkutan, penyelenggaraan pelayanan
angkutan di daerah operasi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor tugas,
medan, musuh dan kekuatan pasukan sendiri serta faktor khusus yang
berkaitan dengan penduduk. Oleh karena itu perwira staf logistik harus
benar-benar memahami lingkungan operasi secara komprehensif dan
menjadikannya sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun perencanaan
pelayanan angkutan.
3) Pelayanan pemeliharaan. Kesiapan operasional senjata merupakan
salah satu prasyarat mutlak bagi satuan untuk melaksanakan operasi secara
berhasil dan efisien. Faktor cuaca dan intensitas pengunaan dapat
mengurangi kesiapan operasional senjata secara signifikan. Hal ini menuntut
kemampuan pemeliharaan yang handal agar semua senjata dapat
digunakan untuk secara optimal selama operasi berlangsung. Selain itu, juga
diperlukan suku cadang yang cukup dengan kualitas yang memadai serta
personel-personel pemeliharaan yang kompeten.
Dalam pelaksanaan operasi, bengkel-bengkel daerah harus dapat
menyediakan jasa perbaikan senjata, bukan sebagai tempat transit senjata
103

rusak. Maka setiap bengkel harus diawaki oleh personel yang kompeten
dalam bidangnya. Pada kondisi tertentu Komandan Satbanmin dapat
mendirikan instalasi pemeliharaan lapangan di sekitar kedudukan satuan
operasional agar dapat memberikan dukungan pemeliharaan apabila
sewaktu-waktu diperlukan. Pendirian instalasi pemeliharaan lapangan harus
dapat mengamankan dirinya sendiri agar tidak menjadi beban bagi pasukan
operasional.
4) Pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan pada tataran operasional
bertujuan untuk memelihara derajat kesehatan prajurit agar memiliki
kesiapan untuk melaksanakan tugas-tugas secara berkesinambungan
selama operasi berlangsung. Dalam operasi, fungsi kesehatan merupakan
sebuah sistem yang kompleks dan menjadi bagian integral dari
penyelenggaraan logistik operasi. Selain aspek dukungan operasi, fungsi
kesehatan juga mencakup pembekalan materiil kesehatan, penanganan
korban serta evakuasi dan hospitalisasi.
Perencana logistik harus mampu memperkirakan kebutuhan
pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kondisi operasi agar mampu
mengantisipasi berbagai kemungkinan persoalan medis yang terjadi selama
pelaksanaan operasi. Selama pelaksanaan operasi, perwira staf kesehatan
terus melakukan observasi dan memantau perkembangan operasi dan siap
melakukan langkah-langkah pelayanan yang diperlukan.
Dalam OMSP yang bersifat tempur, pelayanan kesehatan juga dapat
didayagunakan sebagai sarana untuk mendukung operasi teritorial dalam
rangka memenangkan opini rakyat. Dalam kondisi tertentu, penggunaan
pelayanan kesehatan bahkan dapat menjadi penentu keberhasilan operasi
teritorial, yaitu ketika pelayanan kesehatan mampu menyentuh aspek
kejiwaan musuh. Misalnya penanganan kesehatan terhadap keluarga musuh
yang kritis yang bermukim di perkampungan.
30. Pengendalian Dukungan Logistik
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa penyelenggaraan logistik operasi
harus terintegrasi dengan konsep operasi secara keseluruhan. Hal ini menuntut
pengintegrasian pengendalian dukungan logistik dalam sistem pengendalian operasi.
Pengintegrasian tersebut memungkinkan Komandan Satbanmin untuk terus mengikuti
dinamika operasi sekaligus membuat perkiraan kebutuhan dukungan logistik dalam
rangka ikut memelihara kesinambungan operasi. Pengintegrasian juga dapat menjamin
terpenuhinya pokok-pokok keinginan panglima operasi yang berkaitan dengan
penyelenggaraan dukungan logistik.
Secara normatif, panglima operasi bertanggung jawab untuk menyelenggarakan
pengendalian dukungan logistik. Namun tanggung jawab tersebut tidak mungkin
dilakukannya sendiri karena luasnya tanggung jawab pengendalian operasi secara
keseluruhan. Dalam pelaksanaannya, pengendalian dukungan logistik dilakukan oleh
Komandan Satbanmin dibantu perwira staf yang memiliki kompetensi dibidang logistik.
Kompleksitas dukungan logistik memerlukan sarana pengendalian berupa Posko-
satbanmin yang dilengkapi dengan peralatan komunikasi, database dan prosedur
pengendalian logistik. Sarana tersebut pada hakekatnya merupakan satu jalinan sistem
informasi logistik yang dapat meningkatkan efisiensi penyelenggaraan pengendalian.
Komadan Satbanmin mendayagunakan sistem informasi logistik untuk mendapatkan
informasi real time tentang perkembangan operasi dan informasi tentang kemampuan
serta batas kemampuan dukungan logistik sendiri, kemudian menjadikannya sebagai
pertimbangan dalam menyusun rencana pelaksanaan kegiatan dukungan logistik yang
104

diperlukan.
Database yang ada pada sistem informasi logistik berperan penting dalam
penyelenggaraan dukungan logistik, terutama sebagai sumber informasi tentang tingkat
kesiapan operasional satuan yang sedang beroperasi. Oleh karena itu database harus
dipelihara dan di-update agar Komandan Satbanmin dapat mengikuti perubahan tingkat
kesiapan operasional satuan selama operasi berlangsung. Informasi ini juga harus
disebarkan kepada unsur-unsur pelaksana dukungan logistik yang langsung melayani
satuan-satuan taktis di lapangan.