Anda di halaman 1dari 10

BUDAYA KESEHATAN

BUDAYA KESEHATAN

PENGERTIAN BUDAYA

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang
berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut
culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa
diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani.Kata culture juga kadang
diterjemahkan sebagai"kultur"dalam bahasa Indonesia. Kebudayaan sangat erat
hubungannya dengan masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks,


yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat
istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota
masyarakat.

Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu


yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh
masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil
karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Menurut konsep budaya Leinenger, karakteristik budaya dapat digambarkan sebagai


berikut:

Budaya merupakan pengalaman yang bersifat universal sehingga tidak ada dua budaya
yang sama persis.
Budaya bersifat stabil, tetapi juga dinamis karena budaya itu diturunkan kepada generasi
berikutnya sehingga mengalami perubahan.
Budaya diisi dan ditentukan oleh kehidupan manusianya sendiri tanpa disadari.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan yaitu
sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran
manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia
sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata,
misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan
lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan
kehidupan bermasyarakat.

Beberapa pendapat ahli yang mengemukakan komponen atau unsur kebudayaan antara
lain sebagai berikut.

a. Melville J. Herskovits (2007) menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:

alat-alat teknologi
sistem ekonomi
keluarga
kekuasaan politik

b. Bronislaw Malinowski (2007) mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:

sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat
untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
organisasi ekonomi
alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah
lembaga pendidikan utama)
organisasi kekuatan (politik)

WUJUD DAN KOMPONEN BUDAYA

a.Wujud Budaya

MenurutD. Oneil(2006), wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas,


dan artefak.

1. Gagasan (Wujud ideal)

Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan,
nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat
diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam
pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu
dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan
buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.

Contoh: Konsep manusia perlu berpakaian. Didasarkan pada rasa susila yaitu anusia malu
jika telanjang. Dari konsep diatas, didapatkan fungsi pakaian yaitu untuk melindungi
tubuh dari cuaca panas, dingin dan tantangan alam, untukmempercantik diri serta
memenuhi norma agama dan etika.

2. Aktivitas (tindakan)

Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam
masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini
terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta
bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata
kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan
didokumentasikan.

Contoh: Sebagai aplikasi dari gagasan yang dikemukakan, manifestasi pelaksanaanya


dilakukan kegiatan pabrik tekstil, penjahit, toko pakaian, peragaan busana, mencuci
pakaian dan sebagainya

3. Artefak (karya)

Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan
karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat
diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud
kebudayaan.

Contoh: Benda hasil budayanya berupa baju seragam, baju olahraga, baju pesta dan
sebagainya

Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak
bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan
ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak)
manusia.

b. Komponen Budaya

Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen


utama:

1. Kebudayaan material

Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret.
Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari
suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya.
Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang,
stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.

2. Kebudayaan nonmaterial

Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke


generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

Unsur-unsur budaya
1. Peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)

Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan.Teknologi menyangkut cara-cara


atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan.
Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-
cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil
kesenian.Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup
dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga
sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu: alat-alat produktif, senjata, wadah,
alat-alat menyalakan api, makanan, pakaian, tempat berlindung dan perumahan, alat-alat
transportasi

2. Sistem mata pencaharian hidup.

Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah-masalah
mata pencaharian tradisional saja, di antaranya: berburu dan meramu, beternak, bercocok
tanam di ladang, menangkap ikan

3. Sistem kekerabatan dan organisasi social

Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. M.
Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapatdipergunakan
untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Kekerabatan
adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah
atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu,
cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Dalam kajian sosiologi-
antropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif
kecil hingga besar seperti keluarga ambilineal, klan, fatri, dan paroh masyarakat. Di
masyarakat umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti keluarga inti,
keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilateral.Sementara itu, organisasi sosial
adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum
maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi
masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup
bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan
tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.

4. Bahasa.

Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling
berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa
isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan
bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat
istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya
dengan segala bentuk masyarakat.Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi
menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat
untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi
sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan
dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuna,
dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

5. Kesenian

Karya seni dari peradaban Mesir kuno.Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika)
yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata
ataupun telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia
menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan
kesenian yang kompleks.

6. Sistem kepercayaan

Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai
dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara
bersamaan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini,
yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan
dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat
dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta.

BUDAYA KESEHATAN INDONESIA

Indonesia sebagai Negara agraris, sebagian besar penduduknya bermukim di daerah


pedesaan dengan tingkat pendidikan mayoritas sekolah dasar dan belum memiliki budaya
hidup sehat. Hidup sehat adalah hidup bersih dan disiplin sedangkan kebersihan dan
kedisiplinan itu sendiri belum menjadi budaya sehari-hari. Budaya memeriksakan secara
dini kesehatan anggota keluarga belum tampak. Hal ini terlihat dari banyaknya klien yang
datang ke pelayanan kesehatan untuk memeriksakan keadaan kesehatan sebagai tindakan
kuratif belum didukung sepenuhnya oleh upaya promotif dan preventif, misalnya gerakan
3M pada pencegahan demam berdarah belum terdengar gaungnya jika belum mendekati
musim hujan atau sudah ada yang terkena demam berdarah.

Menanamkan budaya hidup sehat harus sejak dini dengan melibatkan pranata yang ada di
masyarakat, seperti posyandu atau sekolah. Posyandu yang ada di komunitas seharusnya
diberdayakan untuk menanamkan perilaku hidup bersih,sehat, dan berbudaya pada anak.

Di dalam masyarakat sederhana, kebiasaan hidup dan adatistiadat dibentuk untuk


mempertahankan hidup diri sendiri, dan kelangsungan hidup suku mereka. Berbagai
kebiasaan dikaitkan dengan kehamilan, kelahiran, pemberian makanan bayi, yang
bertujuan supaya reproduksi berhasil, ibu dan bayi selamat. Dari sudut pandangan
modern, tidak semua kebiasaan itu baik. Ada beberapa yang kenyataannya malah
merugikan. Kebiasaan menyusukan bayi yang lama pada beberapa masyarakat,
merupakan contoh baik kebiasaan yang bertujuan melindungi bayi. Tetapi bila air susu
ibu sedikit, atau pada ibu-ibu lanjut usia, tradisi budaya ini dapat menimbulkan masalah
tersendiri. Dia berusaha menyusui bayinya, dan gagal. Bila mereka tidak mengetahui
nutrisi mana yang dibutuhkan bayi (biasanya demikian), bayi dapat mengalami malnutrisi
dan mudah terserang infeksi.

Menjadi sakit memang tidak diharapkan oleh semua orang apalagi penyakit-penyakit
yang berat dan fatal. Masih banyak masyarakat yang tidak mengerti bagaimana penyakit
itu dapat menyerang seseorang. Ini dapat dilihat dari sikap mereka terhadap penyakit itu
sendiri. Ada kebiasaan dimana setiap orang sakit diisolasi dan dibiarkan saja. Kebiasaan
ini mungkin dapat mencegah penularan dari penyakit-penyakit infeksi seperti cacar atau
TBC. Bentuk pengobatan yang diberikan biasanya hanya berdasarkan anggapan mereka
sendiri tentang bagaimana penyakit itu timbul. Kalau mereka anggap penyakit itu
disebabkan oleh hal-hal yang supernatural atau magis, maka digunakan pengobatan
secara tradisional. Pengobatan modern dipilih bila mereka duga penyebabnya faktor
alamiah. Ini dapat merupakan sumber konflik bagi tenaga kesehatan, bila ternyata
pengobatan yang mereka pilih berlawanan dengan pemikiran secara medis. Di dalam
masyarakt industri modern, iatrogenic disease merupakan problema. Budaya modern
menuntut merawat penderita di rumah sakit, padahal rumah sakit itulah tempat ideal bagi
penyebaran kuman-kuman yang telah resisten terhadap antibiotika.

KEPERAWATAN TRANSKULTURAL

Keperawatan transkultural adalah suatu pelayanan keperawatan yang berfokus pada


analisa dan studi perbandingan tentang perbedaan budaya (Leinenger, 1987).
Keperawatan transkultural merupakan ilmu dan kiat yang humanis, yamh difokuskan
pada perilaku individu atau kelompok, serta proses untuk mempertahankan atau
meningkatkan perilaku sehat atau perilaku sakit secara fisik dan psikokultural sesuai latar
belakang budaya ( Leininger, 1984). Pelayanan keperawatan transkultural diberikan
kepada pasien sesuai dengan latar belakang budayanya.

1. Tujuan Keperawatan Transkultural

Tujuan pengguanaan keperawatan transkultural adalah pengembangan sains dan


keilmuan yang humanis sehingga tercipta praktik keperawatan pada kebudayaan (kultur
—culture) yang spesifik dan universal (Leininger,1978). Kebudayaan yang spesifik
adalah kebudayaan dengan nilai dan norma yang spesifik yang tidak dimiliki oleh
kelompok lain seperti pada suku Osing, Tengger,ataupun Dayak. Sedangkan, kebudayaan
yang universal adalah kebudayaan dengan nilai dan norma yang diyakini dan dilakukan
oleh hamper semua kebudayaan seperti budaya olahraga untuk mempertahankan
kesehatan.

Negosiasi budaya adalah intervensi dan implementasi keperawatan untuk membantu


klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatannya.
Perawat membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih
mendukung peningkatan status kesehatan. Misalnya, jika klien yang sedang hamil
mempunyai pantangan untuk makan makanan yang berbau amis seperti ikan, maka klien
tersebut dapat mengganti ikan dengan sumber protein nabati yang lain.

Restrukturisasi budaya perlu dilakukan bila budaya yang dimiliki merugikan status
kesehatan klien. Perawat berupaya melakukan strukturisasi gaya hidup klien yang
biasanya merokok menjadi tidak merokok. Seluruh perencanaan dan implementasi
keperawatan dirancang sesuai latar belakang budaya sehingga budaya dipandang sebagai
rencana hidup yang lebih baik setiap saat, pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang
lebih menguntungkan dan sesuai dengan keyakinan yang dianut.

PERAN PERAWAT DALAM MENGHADAPI ANEKA BUDAYA

Peran merupakan seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap
seseorang, sesuai kedudukannya dalam suatu system. Peran perawat dipengaruhi oleh
keadaan social baik dari dalam maupun dari luar profesi keperawatan dan bersifat
konstan.

Doheny (1982) mengudentifikasi beberapa elemen peran perawat professional meliputi:

1. Care giver

Sebagai pelaku atau pemberi asuhan keperawatan, perawat dapat memberikan pelayanan
keperawatan secara langsung dan tidak langsung kepada klien, menggunakan pendekatan
proses keperawatan yang meliputi : melakukan pengkajian dalam upaya mengumpulkan
data dan evaluasi yang benar, menegakkan diagnosis keperawatan berdasarkan hasil
analisis data, merencanakan intervensi keperawatan sebagai upaya mengatasi masalah
yang muncul dan membuat langkah atau cara pemecahan masalah, melaksanakan
tindakan keperawatan sesuai dengan rencana yang ada, dan melakukan evaluasi
berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukannya.

Dalam memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan, perawat memperhatikan


individu sebagai makhluk yang holistic dan unik.Peran utamanya adalah memberikan
asuhan keperawatan kepada klien yang meliputi intervensi atau tindakan keperawatan,
observasi, pendidikan kesehatan, dan menjalankan tindakan medis sesuai dengan
pendelegasian yang diberikan.

2. Client advocate
Sebagai advokat klien, perawat berfungsi sebagai penghubung antar klien dengan tim
kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien, membela kepentingan klien dan
membantu klien memahami semua informasi dan upeya kesehatan yang diberikan oleh
tim kesehatan dengan pendekatan tradisional maupun professional. Peran advokasi
sekaligus mengharuskan perawat bertindak sebagai narasumber dan fasilitator dalam
tahap pengambilan keputusan terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani oleh klien.
Dalam menjalankan peran sebagai advokat, perawat harus dapat melindungi dan
memfasilitasi keluarga dan masyarakat dalam pelayanan keperawatan.

Selain itu, perawat juga harus dapat mempertahankan dan melindungi hak-hak klien,
antara lain :

Hak atas informasi ; pasien berhak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan
peraturan yang berlaku di Rumah Sakit/ sarana pelayanan kesehatan tempat klien
menjalani perawatan
Hak mendapat informasi yang meliputi antara lain; penyakit yang dideritanya, tindakan
medic apa yang hendak dilakukan, alternative lain beserta resikonya, dll

3. Counsellor

Tugas utama perawat adalah mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap
keadaan sehat sakitnya. Adanya pula interaksi ini merupakan dasar dalam merencanakan
metode untuk meningkatkan kemampuan adaptasinya. Memberikan konseling/
bimbingan kepada klien, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan sesuai
prioritas. Konseling diberikan kepada individu/keluarga dalam mengintegrasikan
pengalaman kesehatan dengan penglaman yang lalu, pemecahan masalah difokuskan
pada masalah keperawatan, mengubah perilaku hidup kearah perilaku hidup sehat.

4. Educator

Sebagai pendidik klien perawat membantu klien meningkatkan kesehatannya malalui


pemberian pengetahuan yang terkait dengan keperawatan dan tindakan medic yang
diterima sehingga klien/keluarga dapat menerima tanggung jawab terhadap hal-hal yang
diketahuinya. Sebagai pendidik, perawat juga dapat memberikan pendidikan kesehatan
kepada kelompok keluarga yang beresiko tinggi, kadar kesehatan, dan lain sebagainya.

4. Collaborator

Perawat bekerja sama dengan tim kesehatan lain dan keluarga dalam menentukan rencan
maupun pelaksanaan asuhan keperawtan guna memenuhi kebutuhan kesehatan klien.

5. Coordinator
Perawat memanfaatkan semua sumber-sumber dan potensi yang ada, baik materi maupun
kemampuan klien secara terkoordinasi sehingga tidak ada intervensi yang terlewatkan
maupun tumpang tindih. Dalam menjalankan peran sebagai coordinator perawat dapat
melakukan hal-hal berikut:

Mengoordinasi seluruh pelayanan keperawatan


Mengatur tenaga keperawatan yang akan bertugas
Mengembangkan system pelayanan keperawatan
Memberikan informasi tentang hal-hal yang terkait dengan pelayanan keperawatan pada
sarana kesehatan

6. Change agent

Sebagai pembaru, perawat mengadakan inovasi dalam cara berpikir, bersikap, bertingkah
laku, dan meningkatkan keterampilan klien/keluarga agar menjadi sehat. Elemen ini
mencakup perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis dalam berhubungan
dengan klien dan cara memberikan keperawatan kepada klien

7. Consultan

Elemen ini secara tidak langsung berkaitan dengan permintaan klien terhadap informasi
tentang tujuan keperawatan yang diberikan. Dengan peran ini dapat dikatakan perawat
adalah sumber informasi yang berkaitan dengan kondisi spesifik lain.

Untuk menghadapi berbagai fenomena kebudayaan yang ada di masyarakat, maka


perawat dalam menjalankan perannya harus dapat memahami tahapan pengembangan
kompetensi budaya, yaitu:

Pertama:

Pahami bahwa budaya bersifat dinamis.


Hal ini merupakan proses kumulatif dan berkelanjutan
Hal ini dipelajari dan dibagi dengan orang lain.
Perilaku dan nilai budaya di tunjukkan oleh masyarakat
Budaya bersifat kreatif dan sangat bermakana dalam hidup.
Secara simbolis terlihat dari bahasa dan interaksi
Budaya menjadi acuan dalam berpikir dan bertindak

Kedua:

Menjadi peduli dengan budaya sendiri.


Proses pemikiran yang terjadi pada perawat juga terjadi pada yang lain, tetapi dalam
bentuk atau arti berbeda.
Bias dan nilai budaya ditafsirkan secara internal
Nilai budaya tidak selalu tampak kecuali jika mereka berbagi secara sosial dengan orang
lain dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga:
Menjadi sadar dan peduli dengan budaya orang lain trerutama klien yang diasuh oleh
perawat sendiri
Budaya menggambarkan keyakinan bahwa banyak ragam budaya yang ada sudah sesuai
dengan budayanya masing-masing
Penting untuk membangun sikap saling menghargai perbedaan budaya dan apresiasi
keamanan budaya
Mengembangkan kemampuan untuk bekerja dengan yang lain dalam konteks budaya,
diluar penilaian etnosentris

DAFTAR PUSTAKA

Effendy, Ferry. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori Dan Praktik Dalam
Keperawatan. Jakarta. Salemba Medika
Setiadi, Elly M, dkk. 2006. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta : Kencana
Sudarma, Momon. 2008. Sosiologi untuk Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika

SUMBER: http://dr-suparyanto.blogspot.com/2011/04/budaya-kesehatan.html