Anda di halaman 1dari 17

KEINDAHAN SENI PERTUNJUKAN TEATER

(Konsep Seni Plato dan Aristoteles dalam Ranah Kajian Seni Pertunjukan Teater)

Teater merupakan kisah kehidupan manusia yang disusun untuk


ditampilkan sebagai pertunjukkan di atas pentas oleh para pelaku dengan dan
ditonton oleh publik (penonton).1
Baru dapat disebut seni pertunujukan teater apabila sudah dipentaskan,dan
teater selalu bersifat "Actor oriented" (berorientasi pada pelaku pemain).
Tanda-tanda kehidupan, simbol-simbol norma, tanda-tanda kebahasaan,
simbol-simbol kejahatan, dsb dirangkai oleh penulis naskah dan dibawakan oleh
actor di atas panggung untuk disampaikan kepada penonton. Dialog dan lakuan
actor di atas panggung tanpa adanya motivasi yang diresepsi dari tanda dan simbol
kehidupan tidak akan bermakna. Lebih tidak bermakna lagi jika lakuan actor tidak
dapat diinterpretasi atau diterima penonton.
Teater sebagai sebuah seni pertunjukan tidak telepas dari aspek tanda dan
simbol kehidupan manusia. Kehidupan manusia yang merupakan bahan bakar
penciptaan bagi penulis maupun pekerja seni teater lainnya akan membangun
karya seni pertunjukan penuh dengan tanda dan simbol-simbol kehidupan. Tanda
dan simbol tersebut sifatnya universal. Keuniversalan kehidupan manusia yang
diangkat sebagai bahan bakar seni pertunjukan merupakan berbagai hal yang
harmoni, indah, dan atau normatif.
Konsep-konsep tentang seni keindahan banyak diungungkapkan oleh Plato
khususnya dalam Ion, Phaedros, Nomos, dan Republik/ Politea. Plato percaya
bahwa segala sesuatu yang indah adalah benar dalam arti sederhana hakiki, jelas,
sempurna, tidak lekang oleh panas dan hujan alias langgeng dan penuh vitalitas.
Plato dapat dikatakan sebagai seorang seniman yang idealis dalam menulis.

Idea/ Eidos Idealis Teater


Plato mengemukakan bahwa manusia menghasilkan karya-karya dalam
sistem yang kualitasnya terukur. Seni yang terukur dalam artian ide. Ide bukanlah
kondisi mental, gagasan atau pikiran. Plato melihat semua benda senantiasa

1 Herman J Waluyo. Drama Teori dan Pengajarannya. Hanindita Graha Widya Bandung 2002

1
memiliki bentuk dasar yang terukur sebagi rumusan atau formulasi geometris.
Contoh sebuah botol akan terdiri dari beberapa idea yang pada prinsipnya adalah
lingkaran dan silinder, sementara buku memiliki idea kotak persegi panjang.2
Jika dirujuk pada seni pertunjukan teater maka bentuk-bentuk seni
pertunjukan akan terdiri dari beberapa ide yang pada prinsipnya adalah
penampilan, pemain, dan penonton.
Kemurnian dan kejelasan idea inilah yang oleh Plato disebut baik dan
disetarakan dengan indah. Semetara hubungan yang proporsional dan terukur tepat
menciptakan sesuatu dirasakan sebagai harmoni.
Penampilan bagi Plato adalah ide yang mengikuti prinsip-prinsip hakiki
yang berangkat dari kesempurnaan. Kesempurnaan atau keutuhan akan mampu
merengkuh baik dan buruk ke dalam kesamaan. Sama bukan berarti kompromi
atau sepakat tetapi saling mengenal sebagai pasangan yang tak akan bisa saling
meniadakan.
Kecocokan dan keselarasan yang terukur bukan kebetulan. Karya-karya
yang berupa lirik atau seni pertunjukan dikatagorikan oleh Plato sebagai seni yang
bendawi dalam kaitannya dengan besaran proposional dan terukur.
Titik tolak penciptaan dan produksi karya-karya seni dikatagorikan seni
yang imitatif, imitatif bukan dalam artian sebagai tiruan saja. Seni pertunjukan
sebagai sesuatu yang menggambarkan kebajikan dan keburukan yang dimiliki oleh
alam.
Sementara menurut Aristoteles berkesenian dan berkarya adalah proses
pembelajaran yang dihasilkan oleh adanya daya kreasi dalam menanggapi realitas.
Menurut Aristoteles karya hanya akan menjadi suatu barang seni sejauh bukan
reproduksi sebab karya seni harus diciptakan sistemnya sebelum diproduksi.
Dalam seni pertunjukan teater kejelasan atau kemurnian ide yang oleh Plato
disetarakan dengan keindahan seni akan menjadi bahan dasar dalam proses
penciptaan teater. Seni pertunjukan khususnya teater, tanpa ide yang merupakan
gambaran kebajikan dan keburukan alam akan tidak terjadi proses kreatif seperti

2 Bagus P. Wiryomartono. Pijar-Pijar Penyingkap Rasa. Sebuah Wacana Seni dan Keindahan.
Jakarta. Gramedia 2001

2
yang diungkap oleh Aristoteles. Tidak akan ada suatru proses pembelajaran dalam
menanggapi realita.
Pencipta/ seniman yang merespon realita kebajikan dan keburukan alam
dalam proses penciptaan seni pertunjukan juga tidak mendapatkan proses
pembelajaran bersama pemain/ aktor/ tokoh dan penonton dalam satu pertunjukan
tertentu. Ketepatan dan keproporsioanal dalam proses penciptaan yang dilakukan
oleh seniman tentunya akan menciptakan pula keharmonisan.
Sesuai dengan prinsip Plato bahwa penampilan berangkat dari
kesempurnaan maka seni pertunjukan haruslah berangkat dari kesempurnaan,
adanya keterukuran ide yang proporsional yang menjadi satu kesatuan dan tidak
saling bertentangan sehingga tercipta keindahan yang harmoni.

Kebenaran dan keindahan Seni Teater


Kebenaran dan keindahan menurut pandangan Plato merupakan satu
kesatuan bagai bola cahaya yang tidak terpisahkan. Kebenaran adalah
ketersingkapan yang ada, dalam arti hadir dan mengalir sebagai kejadian yang
meperlihatkan diri keasliannya. Semetara hubungan yang proporsional dan terukur
tepat akan menciptakan sesuatu keharmonisan.
Keindahan bukan diartikan kenikmatan sensasi atau kenyamanan namun
lebih pada pengertian terciptanya dan terbentuknya sesuatu keselarasan dalam
sistem produksi maupun penampilannya.
Asli atau otentik sangat penting dipahami sebagai benar atau tidaknya
sesuatu `berada`. Asli dan tidak asli adalah masalah etika atau moral yang
merupakan dampak atau pancaran yang dihasilkan oleh suatu rangkaian dan
hubungan antar elemen dalam sistemi. Kebenaran dalam arti keaslian sesuatu
adalah bila tidak diingkarinya suatu kerjasama yang selaras antar elemen yang
terlibat, sehingga tidak terjadi kekerasan dalam arti hakiki.3
Karya seni pertunjukan teater merupakan tiruan dalam rangka
menghadirkan kebenaran dalam wilayah yang sengaja dibuat manusia sebagai

3 Bagus P. Wiryomartono. Pijar-Pijar Penyingkap Rasa. Sebuah Wacana Seni dan Keindahan.
Jakarta. Gramedia 2001

3
pertunjukan. Karya seni pertunjukan merupakan mimesis realitas bukan imitasi
dari tampilan ke tampilan.
Realitas yang ditampakkan sebagai sejumlah unsur oleh pencipta/ seorang
penulis naskah, sutradara dan aktor merupakan gambaran yang dapat dimengerti,
yang menampilkan kodrat manusia , atau sebagai kebenaran yang universal, yang
berlaku dimana-mana dan pada segala zaman.
Teater sebagai sebuah karya seni pertunjukan akan mengangkat pesan
tentang kehidupan, tentang norma, tentang kebaikan, keburukan, kejahatan, dan
berbagai watak karakter manusia untuk ditampilkan di atas panggung.

Mimesis
Mimesis memandang karya seni sebagai tiruan atau pembayangan dunia
kehidupan nyata. Konsep tersebut dikemukakan oleh Plato. Seni hanyalah tiruan
alam. Sedangkan Aristoteles menyatakan bahwa tiruan itu justru membedakannya
dari segala sesuatu yang nyata dan umum, karena seni merupakan aktivitas
manusia dengan proses pembelajaran yang dihasilkan adanya daya kreasi delam
menanggapi realita.
Mimesis yang dimaksudkan adalah daya representasi dari keilahian yang
muncul sebagai kesempurnaan berkarya. Mimesis yang dimaksudkan bukan
wujudnya namun kondisi atau keadaan yang membawa keilahian hadir dan ikut
bermain. Mimesis memuat transformasi daya dan kekuatan di luar kendali manusia
ke dalam karya.4
Dengan daya keilahian akan muncul keterlibatan penonton, pemain dan
semua yang hadir dalam emosi yang tidak terkendali namun mengalir bersama.
Dalam seni pertunjukan khususnya teater konsep mimesis dalam pengertian adanya
daya keilahian atau kekuatan diluar kendali manusia dalam karya sangat menonjol.
Ada keterlibatan secara emosional ketika penonton menikmati pertunjukan.
Refensi atau pengalaman batin penonton akan diselaraskan atau disejajarkan
dengan kisahan-kisahan yang dihadirkan oleh pencipta melalui tokoh-tokoh/ peran
dalam sebuah pertunjukan. Dengan penekanan bahwa suara, syair, gerak dan

4 Bagus P. Wiryomartono. Pijar-Pijar Penyingkap Rasa. Sebuah Wacana Seni dan Keindahan.
Jakarta. Gramedia 2001

4
suasana yang berasal dari para pemain dan pencipta/ seniman yang hadir dalam
seni pertunjukan hanya imitasi atau representasi dari daya dan kekautan-kekuatan
di luar kesadaran dan kendali manusia.
Aristoteles mengembangkan pengertian mimesis dari Plato, Aristoteles
mengutarakan pandangannya tentang seni tidak lagi sebagai suatu copy atau
jiplakan melainkan sebagai suatu ungkapan atau perwujudan mengenai
universalia (konsep-konsep umum) bukan seperti pandangan Plato, yakni dunia
ide.5

Dialektika dan Silogisme Teater


Selain pemain (actor) ada bagian penting dalam sebuah pertunjukan teater
yaitu staf produksi. Staf Produksi teater pada umumnya terdiri dari manager
setingkat direktur perusahaan sampai pada petugas lapangan.6 Staf produksi teater
dijelaskan seperti di bawah ini berikut termasuk tugas dan fungsinya.
a. Produser
Memiliki tugas mengurus produksi secara keseluruhan dan menetapkan
personal (karyawan, petugas), anggaran biaya, program kerja, fasilitas, dan
sebagainya.
b. Direktor (sutradara)
Sebagai koordinator pelaksanaan tugas-tugas penggarapan teater drama,
seperti menyiapkan aktor, mengkoordinasi pekerja teater dsb.
c. Stage Manager
Bertugas memimpin pertunjukan atau pementasan dalam artian pemimpin
langsung dilapangan pada saat pertunjukan, membantu sutradara dalam
mengkoordinasi dan persiapan pemain dan pekerja teater.
d. Designer
Menyiapkan aspek-aspek visual: stage/ setting, property/ dekorasi, lighting/
tata lampu, costume/ make-up, sound, dan lain-lain.
e. Pekerja Teater/ Crew

5 Bagus P. Wiryomartono. Pijar-Pijar Penyingkap Rasa. Sebuah Wacana Seni dan Keindahan.
Jakarta. Gramedia 2001
6 Maryaeni Teori Drama Departeman Pendidikan dan Kebudayaan IKIP Malang, 1992

5
Para pekerja yang bertanggung jawab dibagian pentas (stage crew), dibagian
perlengkapan pentas/ dekorasi (properti crew), tata lampu (light crew), tata
busana dan tata rias (costume crew),serta tata suara/musik (sound crew).
Staf produksi dalam melaksanakan tugasnya merupakan satu kesatuan.
Salah satu staf tidak berfungsi baik maka staf yang lain akan mengalami hambatan
dalam melaksanakan pementasan. Pekerjaan pertunjukan teater akan timpang dan
tidak sempurna pelaksanaannya meskipun kemungkinan tugas dan fungsi tersebut
bisa digantikan atau diwakili oleh staf yang lain.
Sebagai satu kesatuan, staf produksi adalah sebuah sistem. Setiap sistem
terdiri atas empat hal.7 Yang pertama adalah obyek: bagian-bagian, unsur-unsur,
atau variabel-variabel di dalam sistem. Obyek bersifat fisik atau abstrak atau
kedua-duanya, bergantung pada sifat sistem. Kedua, sistem terdiri atas atribut-
atribut: kualitas atau sifat-sifat sistem dan obyek-obyeknya. Ketiga, sistem
memiliki hubungan-hubungan internal antara obyek-obyeknya. Keempat, sistem
ada dalam lingkungan.
Dengan demikian, sistem merupakan seperangkat hal/ benda yang saling
mempengaruhi satu sama lain dalam suatu lingkungan dan membentuk pola lebih
besar yang berbeda dari setiap bagian-bagiannya.8
Plato membuka pemahaman seni dalam ranah kajian sistematik yang
kemudian dikenal sebagai dialektika.9 Karya perlu didekati dan dipahami secara
metodis melalui dialektika.
Produksi karya seni pertunjukan teater berikut elemen pendukungnya
merupakan satu sistematika yang utuh dan menyatu. Jika mengikuti konsep
sistematika Plato bahwa segala sesuatu dapat dilihat hakikat, derajat, dan
katagorinya maka sistematika yang dimaksud Plato tersebut akan mampu
memaparkan, membedakan dan memilah-milah karya seni pertunjukan teater
dalam kaitannya dengan produksi karya.

7 A. D. Hall dan R. E. Fagen, Definition of a System, dalam Modern Systems Research for the
Behavioral Scientist, ed. W. Buckley (Chicago: Aldine, 1968) dalam Littlejohn, Stephen W. Teori
Komunikasi Manusia (terjemahan)
8 Littlejohn, Stephen W. Teori Komunikasi Manusia terjemahan dari Theory of Human
Communication. Pasca Sajana UM Malang
9 Bagus P. Wiryomartono. Pijar-Pijar Penyingkap Rasa. Sebuah Wacana Seni dan Keindahan.
Jakarta. Gramedia 2001

6
Produser, sutradara, stage manager, designer, dan pekerja teater adalah
bagian atau unsur-unsur dalam sebuah sistem. Sistem yang dimaksud adalah sistem
produksi seni pertunjukan teater. Mereka saling memperngaruhi satu dengan yang
lain dalam satu lingkungan yaitu produksi seni dan membentuk pola-pola
hubungan kerja internal yang berbeda satu dengan yang lain dan membangun pola
tersebut menjadi pola-pola yang lebih besar.
Pemilahan tugas dan fungsi elemen pembangun seni pertunjukan teater
tetap menjadi penting untuk mengenal karakteristik masing-masing dalam satu
kesatuan sistematik. Pemilahan bukan berarti memecah belah tanpa tujuan, namun
dalam artian mencari keutuhannya. Seuatu yang ada senantiasa terkait dengan yang
lain sehingga menjalin satu totalitas makna. Sebuah perwujudan merupakan
bagian-bagian yang dikenal sebagai elemen dan komponen totalitas yang satu.
Sebuah sistem akan memiliki karakteristik tertentu. Kualitas sistem dalam
seni pertunjukan teater adalah tidak saling mengucilkan dan atau mengecilkan
tugas dan fungsi satu dengan yang lain, tetapi masing-masing berhubungan dengan
cara tertentu dengan kualitas masing-masing.
Seorang produser pada dasarnya tidak mudah untuk memecat atau
memberhentikan sutradara, actor atau pekerja seni lainnya. Mereka terikat oleh
satu aturan sistem yang sejak awal telah disepakati. Kesepakatan sebagai hubungan
yang harmonis dalam bentuk kerja dan dituangkan dalam bentuk kontrak kerja.
Keutuhan dan saling tergantung dalam sistem merupakan suatu keutuhan
yang unik.10 Melibatkan pola hubungan yang berbeda dari setiap sistem lainnya.
Sesuatu yang utuh jelas lebih utama daripada jumlah bagian-bagiannya. Sistem
adalah produk kekuatan-kekuatan atau interaksi-interaksi antara bagian-bagiannya.
Sekelompok orang yang berdiri dalam deretan pada terminal bus bukan sistem,
tetapi sekelompok orang yang duduk di sekitar meja, yang melakukan percakapan
merupakan sebuah sistem. Tiap bagian dari sistem dibatasi oleh

10 Rapoport, Foreword ; Hall and Fagen, Definition. dalam Littlejohn, Stephen W. Teori
Komunikasi Manusia (terjemahan)

7
ketergantungannya pada bagian-bagian lain dan pola salingtergantung tersebut
mengorganisir sistem.11
Saling ketergantungan antara variabel-variabel suatu sistem dapat
diungkapkan sebagai serangkaian asosiasi, atau korelasi. Korelasi, dua variabel
atau lebih berubah secara bersama-sama. Dalam sebuah proses produksi
misalnya, kecemasan sutradara dengan kemarahan produser mungkin berkorelasi.
Korelasi bisa yang kuat atau lemah, bergantung bagaimana jalinan
ketergantungan masing-masing dalam sebuah sistem. Dalam suatu sistem produksi
seni yang kompleks, banyak variabel saling berhubungan satu dengan yang lain
dalam suatu jaringan pengaruh yang berubah-ubah kekuatannya. Misalnya actor
yang bersemangat, sutradara yang frustrasi, atau pekerja teater yang menarik diri,
dan penyesalan stake holder mungkin terikat bersama-sama dalam suatu kelompok
teater.
Sistem cenderung saling melekat satu dengan yang lain sebagai satu
keutuhan. Unsur sistem merupakan bagian dari sistem dan sistem merupakan
bagian dari sistem yang lebih besar.12 Ada semacam hirarki dalam rangkain sistem,
subsistem, dan sub-sub sistem.
Seorang sutradara akan menjadi pemimpin dan acuan bagi actor dan
pekerja seni teater lainnya. Apapun yang menjadi instruksi sutradara harus
dilakukan oleh actor dan pekerja seni lainnya. Hal ini menyangkut tugas dan fungsi
sutradara dalam rangkaian sistem bahwa paling tidak sutradara sudah memahami
lebih dahulu naskah atau ceritanya. Namun demikian diatas sutradara masih ada
unsur atau variabel yang harus dipatuhi oleh sutradara yaitu produser ataupun stake
holder. Penyandang dana sebagai stake holder punya kekuatan dalam hal
kekuangan, namun akan tidak berdaya dan tidak mengahasilkan apa-apa jika tidak
memilki sumber daya manusia yang disebut sutradara, actor maupun pekerja seni
lainnya.

11 Magoroh Maruyama, dalam Mindscape: The Epistemology of Magoroh Maruyama,eds. Michael


T. Caley and Daiyo Sawada (Amsterdam: Gordon and Breach, 1994) dalam Littlejohn, Stephen W.
Teori Komunikasi Manusia (terjemahan)
12 Arthur Koestler, W. Ross Ashby, Principles of the Self-Organizing System, dalam Principles
of Self-Organization, eds. H. von Foester and G. Zopf (New York: Pergamon, 1962) dalam
Littlejohn, Stephen W. Teori Komunikasi Manusia (terjemahan)

8
Sistem merupakan serangkaian kompleksitas yang semakin bertambah.
Sistem lebih besar dimana salah satu sistemnya merupakan bagian darinya disebut
suprasistem, dan sistem lebih kecil yang terkandung dalam suatu sistem disebut
subsistem. Tim produksi adalah suprasistem dari produser, sutradara,stage manger,
designer, dan crew sebagai subsistem. Sutradara adalah suprasistem dari actor,
pemusik, penata lampu, penata panggung sebagai subsistem.
Plato melihat segala sesuatu yang indah dan benar senantiasa utuh dan
memiliki sistematika yang jelas. Segala sesuatu yang benar tidak kontradiktif di
dalam dan justru saling melengkapi dan memperkuat adanya indikasi dan sifat
keutuhan.13
Plato juga meyakini adanya realitas sistem yang tidak pernah berubah.
Yang berubah hanya tampilan dan bentuk yang tertangkap panca indera manusia.
Realitas diatur dan terstruktur oleh sistem yang dapat dipahami oleh akal sehat.
Bagi Plato segala sesuatu yang baik dan indah berasal dari satu realitas.
Sementara filsafat Aristoteles yang berinduk pada kajian dan analisis
terhadap gejala-gejala alamiah dan perilaku manusia menganggap bahwa seni dan
berkesenian dalam pemikiran Aristoteles masuk dalam wilayah produktif.
Aristoteles membuka wacana kemungkinan rekonsiliasi antar wilayah yang ada di
luar dan di dalam benak melelaui pengendapan pengalaman. Aristoteles selalu
mengembalikan pada bendanya yang konkret dalam arti hadir dan dapat dirasakan
kehadirannya dihadapan kita.14
Aristoteles memulai tradisi pengamatan terhadap gejala dan indikasi-
indikasi dalam memahami akibat-akibat atau pengaruh. Setiap gejala-gejala
memiliki sumber yang dapat ditelusuri dalam kaitannya dengan hubungan dan
kausalitas. Semua gejala dapat diamati dan ditelusurin kaitannya melalui hukum
atau kaidah. Hukum atau kaidah yang oleh Aristoteles disebut sebagai silogisme.
Aristoteles lebih menonjolkan wacana logika lebih dahulu dalam kaitannya dengan
metode penalaran berfikir yang benar sementara Plato cenderung
memformulasikan setiap konsep sebelum mengkaji sesuatu.

13 Bagus P. Wiryomartono. Pijar-Pijar Penyingkap Rasa. Sebuah Wacana Seni dan Keindahan.
Jakarta. Gramedia 2001

14 Bagus P. Wiryomartono. Pijar-Pijar Penyingkap Rasa. Sebuah Wacana Seni dan Keindahan.
Jakarta. Gramedia 2001

9
Drama is designed to be acted on the stage. Unsur-unsur pembangun teater
adalah (1) lakuan, (2) panggung, (3) busana, (4) rias, (5) cahaya, dan (6) musik.
Keenam unsur tersebut tidak lepas dari peran sutradara sebagai seniman penafsir
(interpretative artist). Disamping itu, ada elemen-elemen lain yang tidak kalah penting
(1) acting, (2) staging, dan (3) audience.15
Tiga elemen tersebut merupakan unsur penting teater. Acting selalu berkaitan dengan
peran dan pemeranan, yang sekaligus berkaitan dengan motivasi. Selain itu,
berhubungan pula dengan panggung (staging) sebagai media lakuan. Panggung merupakan
penggabungan semua unsur yang terkait dengan kebutuhan teater, panggung bukan hanya
daerah permainan atau lokasi saja namun panggung dihadirkan secara lengkap dengan alat
kelengkapan/ property diperlukan. Hal ini dimaksudkan untuk mencapai dampak estetis
dikenal dengan aspek komposisi.
Acting seorang actor atau bagaimana pemeranan yang diperankannya
memerlukan motivasi yang masing-masing actor akan ada korelasinya.
Ketergantungan seorang actor dengan actor lainnya diikat bersama-sama dengan
naskah, dialog ataupun alur cerita.
Dalam sebuah pementasan, jika seorang actor lepas dari cerita dalam naskah
atau ada dialog-dialognya keluar dari naskah maka akan terjadi kegagalan.
Ketergantungan antar actor sebagai sebuah sistem menjadi kacau dan tidak
harmonis. Ketidakharmonisan ini akan berakibat pula tidak tersampaikannya pesan
sebagai tanda dan simbol-simbol kehidupan dalam seni pertunjukan teater.
Dialog yang dibawakan actor merupakan salah satu aspek esensial yang ada
dalam seni pertunjukan teater. Bukan berarti bahwa kekhasan teater hanya terletak
pada dialog, melainkan banyak hal yang menjadikan dialog menjadi ciri khas
teater, apalagi jika dikembalikan pada aspek-aspek kehidupan.16
Dalam kehidupan sehari-hari komunikasi antar manusia begitu penting.
Mutlak manusia sangat butuh berkomunikasi dengan orang lain untuk
menyampaikan gagasan, pikiran, perasaan. Dengan berkomunikasi kita dapat
mengetahui watak seseorang secara jelas. Komunikasi seperti ini membuka

15 Maryaeni. Buku II Teater. Malang: Proyek IKIP Malang 1995.


16 Maryaeni Teori Drama Departeman Pendidikan dan Kebudayaan IKIP Malang 1992

10
kemungkinan seseorang memahami orang lain dan memungkinkan terjadinya
proses pikiran seseorang mempengaruhi pikiran orang lainnya.17
Hanya melalui bahasa yang diwujudkan dalam bentuk dialog, kita dapat
memahami siapa dan bagaimana lawan bicara kita. Lebih-lebih bila dialog tersebut
disertai dengan lakuan akan lebih memperjelas maknanya.
Charles Morris, pakar semiotik dalam berbagai tulisannya menunjukkan
bahwa seluruh tindakan manusia melibatkan tanda dan makna dalam berbagai
macam cara yang menarik perhatian. Setiap ada tindakan orang akan menjadi
sadar terhadap tanda, menginterpretasikan tanda dan kemudian memutuskan
bagaimana meresponnya.18
Simbol-simbol dari penulis naskah yang dibawakan oleh actor melalui
interpreatsi sutradara berfungsi untuk mengkomunikasikan konsep, gagasan umum,
pola, atau bentuk. Oleh Susane Langer konsep disebut makna yang dipegang
bersama, tetapi masing-masing orang juga akan memiliki kesan atau makna
pribadi yang mengisi gambaran umum tersebut. Kesan pribadi merupakan
konsepsi orang tersebut.19
Makna terdiri atas konsepsi pribadi individu dan konsep umum yang
dipegang bersama-sama dengan orang-orang lain. Misalnya, karakter tokoh
Jumena dalam naskah Sumur Tanpa Dasar karya Arifin C Noor yang menjadi
sumber inspirasi penulis dalam penciptaan teater penuh dengan simbol-simbol
makna pribadi maupun makna umum. Makna umum dalam naskah tersebut dapat
diakses oleh siapa saja yang membacanya, mempelajarinya atau memainkannya.
Makna merupakan kesan yang diakui secara umum. Jumena adalah tokoh
yang memiliki watak dasar pendirian yang kuat, pendirian yang kuat inilah yang
menjadikan ketidakyakinan Jumena terhadap segala sesuatu meski disisi lain
Jumena adalah sosok yang religius. Makna pribadi adalah makna yang dimiliki
Arifin C Noor terhadap Jumena dan orang-orang lain yang telah mempelajarinya
termasu penulis.

17 Weaver 1949 dalam Dani Vardiansyah. Filsafat Ilmu Komunikasi, Suatu Ppengantar. Jakarta.
Indeks. Gramedia. 2005
18 George Herbert Mead, Mind, Self, and Society (Chicago: University of Chicago Press, 1934)
dalam Littlejohn, Stephen W. Teori Komunikasi Manusia (terjemahan)
19 Susane Langer dalam Littlejohn, Stephen W. Teori Komunikasi Manusia (terjemahan)

11
Yang lebih penting lagi adalah bagaimana seorang actor memberi muatan
makna dialog agar dapat menumbuhkan pengertian bagi lawan bicara maupun
penonton sebagai penerima pesan. Ketepatan actor memberi muatan pada kalimat-
kalimat yang didialogkannya akan menciptakan komunikasi yang sempurna.
Contoh:
.
Juki : Kenapa?
Jumena : Kamu lupa, gaji diperusahaan kita rata-rata setengah kali
lebih besar dibanding dengan perusahaan-perusahaan
lain?
Jumena : Orang-orang disini rupa-rupanya hanya terdiri dari usus
dan kantong sperma saja. Sehingga tidak bisa berfikir,
sengaja saya beri mereka gaji lebih besar dengan harapan
mereka punya kebiasaan menabung sendiri. Tapi apa yang
terjadi justru makin lapar dan lagi dengan sistem upah
semacam itu saya kira bisa sedikit menyederhanakan
administrasi kita.
Juki : Saya cuma mengajukan jalan tengah. Saya hanya kuatir
lama-lama perusahaan akan ambruk .
Jumena : Lebih dulu mereka yang ambruk. Saya masih cukup
punya
uang simpanan sampai usia saya berlipat dua.
Waktu itu tiba-tiba semua lampu padam
Edan : (Senang sekali) Kiamat.. ternyata kiamat lebih cepat
daripada perkiraan ahli meteorologi. Saya datang Tuan,
hallo, sahabatku (eksit)
Jumena : (teriak-teriak, histeris) Lampu! Lampu!
Saya tidak mau kecurian
Lampu!
Muncul perempuan tua membawa lillin, segera Jumena mendekatinya
P Tua : Lampu seluruh kota mati Gan
Jumena : Kurang terang! Buka dan nyalakan semua petromak!
.
Jika dibaca dari kutipan dialog naskah Sumur Tanpa Dasar di atas perlu
dipahami jika seorang actor akan memerankan tokoh Jumena maka harus
memahami bahwa Jumena merasa kuatir keadaan hartanya serta keadaan lain yang
tidak mendukungnya. Muatan emosi dan konsep tentang kekuatiran dan rasa
percaya diri harus dikuasai dahulu oleh actor. Hal ini dimaksudkan agar actor tepat
dalam menyampaikan pesan tentang kekuatiran dan rasa tidak percaya dan dapat
dipahami oleh penonton.

12
Techne
Salah satu konsep Plato tentang seni adalah: Techne. Techne terbatas pada
pengertian ketrampilan pengrajin yang membuat peralatan dan hiasan. Techne
adalah sistem pengetahuan dan ketrampilan manusia yang membawa segala
sesuatu dari gelap menjadi terang.20
Techne berarti teknik yang terukur dimana transformasi prinsip-prinsip
bilangan (numerik) dan perbandingan perbandingan terukur menjadi penting.
Techne dalam kaitannya dengan produk dan benda oleh Plato dikatakan sebagai
kuantitas yang terukur sehingga terjadi proporsi dan komposisi yang tepat, tidak
kurang, tidak lebih. Techne sebagi produk karya tangan manusia senantiasa
teramati sebagi wujud yang kualitasnya terukur oleh pengamatan.
Dialog-dialog yang diucapkan actor atau pemain harus selaras dengan
penggambaran lakuan di atas panggung. Ketepatan penyampaian pesan tentang
kehidupan akan berpengaruh terhadap kebermaknaan proses pertunjukan. Techne
yang diungkap Plato menjadi tidak tepat jika tetap dipahami terbatas pada
ketrampilan pengarajin yang membuat peralatan dan perhiasan.
Actor tidak sekedar trampil berdialog sesuai naskah namun actor perlu
memahami benar apa-apa yang ingin disampaikan oleh pengarang yang sarat
dengan pesan kehidupan.
Perlu dilakukan proses analisis dialog oleh actor utamanya sebelum
pemanggungan di mulai agar memperoleh gambaran yang nyata tentang apa yang
sebenarnya difokuskan dalam dialog tersebut.
Analisis dialog dapat dilakukan secara sederhana dalam bentuk yang mirip
dengan memenggal-menggal kalimat menjadi bagian-bagian yang sesuai dengan
maksud yang ingin disampaikan. Tekanan pada beberapa bagian kalimat perlu juga
diberikan agar lebih mengekspresikan muatan emosinya.21
Jika actor tidak mampu menerjemahkan dialog-dialog dan memperkuatnya
dengan lakuan-lakuan di atas panggung maka yang terjadi adalah kesalahpahaman

20 Bagus P. Wiryomartono. Pijar-Pijar Penyingkap Rasa. Sebuah Wacana Seni dan Keindahan.
Jakarta. Gramedia 2001

21 Maryaeni Teori Drama Departeman Pendidikan dan Kebudayaan IKIP Malang 1992

13
atau tidak munculnya keselarasan dan harmoni antar actor sebagai pembawa pesan
dengan penonton.

Realitas Simbol Dan Pesan


Seniman sejati akan mampu melihat kesamaan setiap karya karena
mengenal realitasnya. Realitas bagi Plato adalah sumber dari segala tampilan.
Tanpa mengenal realitas mustahil seorang seniman mampu menghasilkan karya
yang benar. Realitas adalah pengetahuan sejati tentang sesuatu atau benda.
Pengetahuan sejati inilah yang membuat sosok atau perwujudannya bisa terjadi.
Pengetahuan sejati merupakan kumpulan yang utuh tentang ada/ berada yang
menjadi sumber terjadinya aneka wujud dalam konsep yang sama.
Sebagai salah satu unsur pembangun teater, lakuan mendapat perhatian
lebih saat penggarapan atau latihan pementasan. Lakuan merupakan unsur seni
pertunjukan teater yang diperhatikan oleh penonton, bukan siapa yang
memerankan, melainkan bagaimana ia memerankan peran. Lakuan yang mewujud
bersama dialog ataupun yang mendukung dialog di atas pentas pada hakikatnya
merupakan pengejawantahan simbol dan tanda sebagai pesan.
Dialog yang isinya membicarakan orang lain, akan diikuti lakuan misalnya
menggebu-gebu, penuh gairah, dan semangat. Hal ini dilakukan dengan motivasi
untuk mempengaruhi lawan bicara/ lawan main dengan tujuan memperoleh respon
positif pula dari penonton.. Apabila dialog dilakukan seorang diri (monolog) maka
harus dilakukan seolah-olah bersama orang lain, dan lakuannya pun juga sama
ketika ada orang lain yang di ajak bicara. Dengan demukian maknanya dan
ditujukan kepada siapa dapat dipahami dengan jelas
Dialog oleh para actor lewat arahan sutradara sangat menentukan lancer
tidaknya sebuah i pertunjukan seni teater. Actor akan sia-sia demikian juga
penonton jika dalam satu pertunjukan tidak terjadi kelancaran penyampaian pesan
maupun penerimaan pesan dalam wujud simbol-simbol yang merupakan rangkaian
realitas kehidupan di dunia nyata.
Penafsiran tanda dan simbol sebagai pesan pertama kali dilakukan oleh
sutradara lewat naskah drama yang masih berupa literary work. Sutradara sebagai
seniman penafsir merupakan orang yang menentukan. Apabila penafsiran sutradara

14
terhadap tanda dan simbol-simbol kehidupan dalam naskah salah atau
dipersepsikan berbeda maka akan salah pula actor memerankannya. Apa yang
diwujudkan di panggung harus sesuai dengan gagasan naskah yang telah ditelaah.
Segala sesuatu yang masih terselubung dalam naskah harus dipecahkan dahulu
oleh sutradara bersama aktor dan pekrja lainnya dan kemudian dikomunikasikan
pada audience/ penonton.
Dengan demikian untuk memperoleh hasil yang maksimal demi
kepentingan keberhasilan pertunjukan diperlukan keterbukaan dan interaksi
sutradara, actor dan yang lainnya pada realitas seperti yang diungkap Plato.
Diharapkan dengan pemahaman kedlaman realitas tersebut akan mampu menguak
tabir kehidupan dan mengejawantahkan pada seni pertunjukan teater dalam wujud
tanda dan simbol-simbol

Kreatifitas
Plato melihat karya seni dalam dua arah yaitu kreatif dan akuisitif. Kreatif
adalah kondisi mental yang memungkinkan terjadinya proses produksi sesuatu
yang sebelumnya tak pernah ada. Sesuatu yang baru bukan hanya bentuknya saja
tetapi juga gagasan-gagasannya. Kreatif bukan berarti dipaksakan demi alasan
perdagangan, peningkatan jumlah, dan kapasitas atau dorongan hasrat manusia
yang cenderung menguasai kendali. Kreatif terdorong oleh kesempurnaan
mendengar dan membaca sehingga memperoleh pengetahuan sejati (eidos) tentang
sesuatu..
Imitasi yang tidak sejati biasanya tercampur aduk dan hidup bersam opini,
penilaian, dan penampilan yang mengulang yang pernah ada tanpa ada pemahaman
baru dari yang dilihat. Dorongan akuisitif dari berkarya umumnya menghasilkan
imitasi yang sumbernya bukan keilahian tetapi keakuan manusia yang diwakili
oleh keinginan dalam menguasai dan mengendalikan dunia.
Menurut Plato Karya seni tidak bisa dinilai atau dihargai jika bukan oleh
mereka yang tahu sesuatunya sehingga kebenaranlah yang terlihat. Orang yang
bisa melihat karya seni akan tahu mana yang mimesis sejati dari kebenaran atau
tiruan yang lahir dari hasrat dan keinginan manusia belaka. Orang yang bisa
melihat karya seni yang indah mengerti proses produksi dari karya. Hanya dengan

15
pemahaman produksi seseorang bisa sampai pada pengetahuan bagaimana
kebenaran dihadirkan dalam bentuk dan wujud.

Penutup
Dari abad ke abad pandangan Plato dan Aristoteles mengenai mimesis
telah dioper oleh berbagai teori estetika (filsafat mengenai keindahan), entah
menurut bentuk yang asli, entah dalam bentuk yang sedikit diubah. Pada zaman
Renaissance kita berjumpa dengan suatu tafsiran mengenai konsep mimesis ala
Plato yang telah dipengaruhi oleh pandangan Plotinus, seorang filsuf Yunani yang
hidup pada abad ke-3 M. Teori ini menafsirkan seni tidak sebagai suatu
pencerminan tentang kenyataan indrawi, melainkan sebagai suatu pencerminan
langsungmengenai ide-ide. Pandangan ini kemudian melahirkan pendapat, bahwa
susunan kata dalam sebuah karya sastra tidak menjiplak begitu saja secara dangkal
kenyataan indrawi, melainkan mencerminkan suatu kenyataan hakiki yang lebih
luhur. Lewat pencerminan kita dapat menyentuh sebuah dimensi lain yang lebih
mendalam. Pendapat ini dijabarkan secara tematik dalam motif cermin. Cermin
membuka kesempatan untuk memasuki sebuah dunia lain.
Konsep mimesis ala Aristoteles sering ditafsirkan secara sempit.
Menampilkan yang universal dalam perbuatan manusia lalu ditafsirkan seolah-olah
seorang pengarang menciptakan tipe-tipe sosial yang khas bagi suatu tempat atau
kurun waktu tetentu.
Semenjak zaman romantik teori mimemis yang klasik digeserkan. Aliran
Romantik memperhatikan yang aneh-aneh, yang tidak riil, yang tidak masuk akal.
Apakah dalam sebuah karya seni kenyataan indrawi ditampilkan sehingga kita
dapat mengenalnya kembali, tidak diutamakan lagi. Tekanan yang diberikan
kepada struktur sebuah karya sastra dapat dilacak kembali pada Aristoteles. Sambil
membahas drama Yunani, pujangga itu mengatakaban, bahwa plot atau alur drama
bukan suatu urutan peristiwa belaka yang tak ada hubungan yang satu dengan yang
lain, melainkan merupakan sebuah kesatuan organik; justru karena kebertautannya,
darma itu memaparkan suatu pengertian mengenai perbuatan-perbuatan manusia.

16
DAFTAR BACAAN

Harymawan, RMA. 1980. Dramaturgi. Bandung: PT. Rosdakarya.


Littlejohn, Stephen W. Teori Komunikasi Manusia (terjemahan) dari Theory of
Human Communication. (materi kuliah) Pasca Sajana UM Malang
Maryaeni. 1992. Teori Drama. Malang. Departeman Pendidikan dan Kebudayaan
Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Maryaeni.1995. Buku II Teater. Malang: Proyek IKIP Malang
Vardiansyah, Dani. 2005. Filsafat Ilmu Komunikasi, Suatu Ppengantar. Jakarta.
Indeks. Gramedia
Waluyo, Herman J, Prof. Dr. 2002. Drama Teori dan Pengajarannya. Bandung:
Hanindita Graha Widya.
Wiryomartono, Bagus P.2001.Pijar-Pijar Penyingkap Rasa. Sebuah Wacana Seni
dan Keindahan. Jakarta. Gramedia

17