Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perlindungan konsumen merupakan masalah kepentingan manusia, oleh karenanya

menjadi harapan bagi semua bangsa di dunia untuk dapat mewujudkannya. Tanggal 20

April 1999, Indonesia memiliki instrumen hukum yang integratif dan komprehensif yang

mengatur tentang perlindungan konsumen yaitu dengan diterbitkannya Undang-Undang

Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. 1 Pengaturan perlindungan

konsumen tersebut dilakukan dengan 2 :

a. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur keterbukaan

akses dan informasi, serta menjamin kepastian hukum

b. Melindungi kepentingan konsumen pada khususnya dan kepentingan seluruh pelaku

usaha

c. Meningkatkan kualitas barang dan pelayanan jasa

d. Memberikan perlindungan kepada konsumen dari praktek usaha yang menipu dan

menyesatkan

e. Memadukan penyelenggaraan, pengembangan dan pengaturan perlindungan konsumen

dengan bidang-bidang perlindungan pada bidang-bidang lain.

Perlindungan konsumen yang dijamin oleh Undang-Undang Nomor 8

Tahun 1999 tentang Perlindungan konsumen adalah adanya kepastian hukum terhadap

                                                            
1
Rachmadi Usman, Hukum Ekonomi Dalam Dinamika (Jakarta: Djambatan, 2000), hlm. 195
2
 Husni Syawali, Hukum Perlindungan Konsumen (Bandung: PT. Mandar Maju, 2000), hlm. 7  
 
 
Universitas Sumatera Utara
segala perolehan kebutuhan konsumen. Kepastian hukum itu meliputi segala upaya

berdasarkan hukum untuk memberdayakan konsumen memperoleh atau menentukan

pilihannya atas barang dan/atau jasa kebutuhan serta mempertahankan atau membela hak-

haknya apabila dirugikan oleh perilaku pelaku usaha sebagai penyedia kebutuhan

konsumen 3 .

Perlindungan terhadap konsumen dipandang semakin penting, mengingat makin

pesat dan lajunya ilmu pengetahuan serta teknologi yang merupakan motor penggerak bagi

produktivitas dan efisiensi produsen atas barang dan/atau jasa yang dihasilkannya dalam

rangka mencapai sasaran usaha. Dalam rangka mengejar dan mencapai kedua hal tersebut,

akhirnya baik langsung atau tidak langsung, konsumenlah yang pada umumnya akan

merasakan dampaknya. Dengan demikian, upaya-upaya untuk memberikan perlindungan

yang memadai terhadap kepentingan konsumen merupakan suatu hal yang penting dan

mendesak untuk segera dicari solusinya, terutama di Indonesia mengingat sedemikian

kompleksnya permasalahan yang menyangkut perlindungan konsumen.

Pemerintah bertanggung jawab sepenuhnya untuk menjamin diperolehnya hak

konsumen, dengan dijaminnya hak-hak konsumen tersebut akan menciptakan iklim usaha

yang sehat. Dalam rangka menciptakan iklim dunia usaha yang sehat perlu dilakukan

koordinasi di antara sesama instansi teknis terkait untuk meluruskan dan mendudukkan

suatu permasalahan yang menyangkut perlindungan konsumen, dalam hal ini permasalahan

yang akan dikaji adalah pengoplosan beras.

                                                            
3
  Lihat, Pasal 7 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang
menyatakan beberapa kewajiban pelaku usaha atas upaya perlindungan konsumen.
 
 
Universitas Sumatera Utara
Pengoplosan beras menjadi sangat penting untuk dikaji lebih mendalam lagi

disebabkan beras merupakan komoditas pangan yang sangat strategis, tidak hanya bagi

Indonesia tapi juga bagi negara-negara di dunia terutama di belahan Asia. Beras di

Indonesia tidak hanya menjadi persoalan ekonomi. Tidak mengherankan apabila beras

selalu menjadi masalah penting, tidak saja bagi petani, tetapi juga bagi ekonom, politikus

dan para elite, karena itu kebijakan di bidang beras akan menjadi fokus perhatian semua

pihak. 4

Dari sisi konsumen, peran penting beras melebihi kentang, jagung, gandum dan

serealia lainnya. Fungsi strategisnya terletak pada posisinya yang menjadi pangan pokok

(staple food) bagi sekitar 3(tiga) miliar orang atau separuh penduduk dunia. Di banyak

Negara Asia, beras menyediakan 30% - 80 % kebutuhan konsumsi kalori per kapita dan

menjadi gantungan hidup sebagian besar penduduk Asia khususnya masyarakat yang

berpendapatan rendah. 5 Untuk masyarakat Indonesia, beras merupakan sumber utama

kalori dengan konsumsi kalori total mencapai 54,3 % artinya lebih dari setengah asupan

kalori bersumber dari beras, demikian pula dengan konsumsi protein, beras merupakan

sumber protein penting karena lebih dari 40 % pemasukan protein disumbang melalui

beras. 6 Tingkat partisipasi konsumsi beras diperkotaan maupun di pedesaan, baik di Jawa

maupun di luar Jawa, sangat tinggi; 97-100%. 7

                                                            
4
 Khudori, Ironi Negeri Beras (Yokjakarta: INSISTPress, 2008), hlm. v 
5
 Ibid. 
6
 Harianto. “Pendapatan, Harga dan Konsumsi Beras”, dalam Achmad Suryana dan Sudi Mardianto.
Bunga Rampai Ekonomi Beras. Jakarta: LPEM FE.UI, 2001
7
  Suroso dan Sulastri. “Perkembangan Produksi dan Kebutuhan Impor Beras Serta Kebijakan
Pemerintah Untuk Melindungi Petani”, Dalam Achman Suryana dan Sudi Mardianto. Bunga Rampai
Ekonomi Beras, (Jakarta: LPEM, Fakultas Ekonmi UI, 2001) Hlm. 42
 
 
Universitas Sumatera Utara
Konsekuensi dari data-data ini menjelaskan bahwa seseorang yang mengkonsumsi

beras dalam jumlah yang cukup, sangat kecil kemungkinanya untuk kekurangan kalori dan

protein. Sebaliknya, seseorang yang kekurangan mengkonsumsi beras, sementara

kandungan kalori dan protein pangan substitusi tidak terlalu baik, besar kemungkinan akan

kekurangan kalori dan protein. Artinya beras menjadi andalan konsumen dalam

mempertahankan kehidupannya.

Pada umumnya kebijakan perberasan berhubungan dengan ketersediaaan atau

produksi beras serta harga beras yang beredar di pasaran. Untuk kebijakan harga produksi

berorientasi kepada perlindungan harga petani (floor price/harga dasar) dan perlindungan

terhadap konsumen (ceiling price/batas harga eceran tertinggi). Kedua harga produksi

tersebut merupakan petunjuk tentang turut campur tangan pemerintah terhadap sistem

pasar. 8

Masalah perberasan di Indonesia yang sering menjadi fenomena adalah

melonjaknya harga beras yang cukup tinggi disebabkan tingginya permintaan pada saat

menjelang hari-hari besar keagamaan seperti menjelang Ramadhan, Idul Fitri, Natal dan

Tahun Baru serta pada saat-saat adanya Pemilihan Umum. Selain itu beberapa faktor

utama penyebab naiknya harga beras (Tahun 2010) adalah karena : 9

                                                            
8
Khudori, Ironi Negeri Beras Op.cit, hlm. 90 
9
http://www.indotops.com/ diakses, tanggal 24-01-2010
 
 
Universitas Sumatera Utara
a. Pengaruh psikologis dari kebijakan perberasan Indonesia

Yaitu adanya kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan setiap

tahunnya. Untuk tahun 2010, HPP naik 10 persen dibandingkan HPP Tahun 2009

(Instruksi Presiden-Nomor.7 Tahun 2009). 10

b. Mundurnya masa tanam yang mengakibatkan mundurnya panen, sehingga masa

paceklik menjadi lebih panjang.

c. Beras bersubsidi (Rasdi) yang belum berjalan penuh atau optimal.

d. Ekspektasi pedagang dengan gencarnya berita tentang kenaikan harga beras dunia.

e. Spekulasi kenaikan harga pupuk yang diperkirakan berlaku mulai bulan April 2010.

f. Hambatan transportasi akibat gangguan cuaca.

g. Stok beras di tingkat petani dan di tingkat penggilingan/pedagang mulai menipis.

Apabila terjadi lonjakan harga beras di pasaran, pada umumnya akan

mempengaruhi kemampuan daya beli masyarakat terhadap komoditi pangan tersebut,

utamanya masyarakat yang berpenghasilan menengah ke bawah, sementara di sisi lain para

pelaku usaha akan mengalami penurunan penjualan. Keadaan seperti ini tentu akan

mempengaruhi stabilitas nasional karena kenaikan harga beras berkonstribusi cukup

signifikan pada kenaikan harga umum atau inflasi. Oleh karena itu banyak kebijakan yang

                                                            
10
  Instruksi Presiden Nomor.7 Tahun 2009, Jakarta: 28 Desember 2009, Harga Gabah Kering
Panen dengan kadar air maksimum 25 % dan kadar hampa/kotoran maksimum 10% adalah Rp 2.640,-
/kg di petani, atau Rp 2.685,-/kg di penggilingan. Gabah Kering Giling dengan kadar air maksimum 14% dan
kadar hampa/kotoran maksimum 3% adalah Rp 3.300,-/kg di penggilingan, atau Rp 3.345,-/kg di gudang
Bulog. Beras dengan kadar air maksimum 14%, bulir patah maksimum 20%, kadar menir maksimum 2% dan
derajat sosoh minimum 95% adalah Rp 5.060,-/kg di gudang BULOG. Tahun 2009 harga beras sebesar Rp.
4.060/KG

 
 
Universitas Sumatera Utara
diambil pemerintah untuk mengatasi lonjakan harga beras di pasar domestik, mulai dari

pelaksanaan impor beras sampai kepada pelaksanaan operasi pasar yang dilakukan oleh

Perum BULOG. Untuk tahun 2010, Operasi Pasar dilaksanakan sesuai dengan instruksi

Menteri Perdagangan kepada Perum BULOG melalui surat No. 56/M-DAG/SD/1/2010

tanggal 13 Januari 2010.

Masalah pengoplosan beras harus diberikan pada proporsi yang sebenarnya

sehingga diperoleh pemahaman dan tindakan yang sama di dalam menyelenggarakan

perlindungan konsumen. Di Indonesia, istilah oplos sering dikonotasikan dengan usaha

mencampur dengan maksud untuk mengambil keuntungan tanpa mengindahkan kualitas.

Misalnya tindakan pengoplosan solar atau diesel dengan minyak tanah bersubsidi. Cara

sedemikian ini dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan yang besar tetapi tindakan ini

sudah jelas mengakibatkan kerusakan mesin dan membohongi serta merugikan konsumen.

Cara mengoplos yang demikian dapat dikategorikan sebagai penipuan dan bertentangan

dengan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dan dapat

dipidanakan. 11

Tindakan mencampur beras antara suatu kualitas dengan kualitas lain yang

berbeda, misalnya beras kualitas satu dicampur dengan beras kualitas dua, tiga ataupun

kualitas dibawahnya, perlu dikaji lebih mendalam lagi apakah tindakan yang salah dan

merugikan masyarakat/konsumen atau melanggar undang-undang perlindungan konsumen.

                                                            
11
Rahardi Ramelan, “Oplos Atau Blending”, http://www.leapidea.com/presentation?id=93.
di akses tanggal 08 Februari 2010
 
 
Universitas Sumatera Utara
B. Perumusan Masalah :

Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, maka pokok permasalahan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah tindakan pengoplosan beras ditinjau dari Undang-undang

Perlindungan konsumen.

2. Bagaimanakah pembinaan dan pengawasan terhadap perdagangan beras.

3. Bagaimana perlindungan hukum terhadap konsumen dari tindakan pengoplosan beras

ditinjau dari Undang-Undang Perlindungan konsumen.

C. Tujuan penelitian:

Berdasarkan permasalahan yang diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan

beberapa tujuan dari penelitian ini yaitu :

1. Untuk mengetahui dan mengkaji pengoplosan beras apakah perbuatan yang melanggar

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.

2. Untuk mengetahui pembinaan dan pengawasan terhadap perdagangan beras.

3. Untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap konsumen dari tindakan

pengoplosan beras.

 
 
Universitas Sumatera Utara
D. Manfaat Penelitian :

Manfaat dari penelitian ini dibedakan dalam manfaat teoritis dan manfaat praktis

yaitu :

1. Manfaat Teoritis :

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis sebagai berikut :

a. Memberikan manfaat dalam bentuk sumbang saran untuk perkembangan ilmu

hukum pada umumnya dan pada khususnya yang berhubungan dengan

perdagangan beras.

b. Masukan bagi penegak hukum yang ingin memperdalam, mengembangkan dan

menambah pengetahuan tentang pelaksanaan pengoplosan beras sesuai undang-

undang dan ketentuan yang berlaku.

c. Menambah kasanah perpustakaan.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis sebagi berikut :

a. Sebagai masukan bagi pemerintah dan penegak hukum dalam menangani masalah

pelaksanaan pengoplosan beras .

b. Memberikan informasi dan menambah wawasan pemikiran bagi masyarakat tentang

pelaksanaan pengoplosan beras yang benar sesuai ketentuan yang berlaku.

c. Sebagai bahan masukan bagi penyempurnaan perundang-undangan nasional

khususnya yang berhubungan dengan masalah kebijakan perberasan.

 
 
Universitas Sumatera Utara
E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan informasi yang ada dan dari penelusuran yang dilakukan di

Kepustakaan Universitas Sumatera Utara dan Kepustakaan Sekolah Pasca Sarjana

Universitas Sumatera Utara, maka Penelitian dengan judul “PENGOPLOSAN BERAS

DALAM PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG

PERLINDUNGAN KONSUMEN, belum pernah ada yang melakukan penelitian

sebelumnya. Dengan demikian, maka dari segi keilmuan penelitian ini dapat dikatakan asli,

sesuai dengan asas-asas keilmuan yang jujur, rasional dan obyektif serta terbuka. Semua

ini merupakan implikasi etis dari proses menemukan kebenaran ilmiah sehingga penelitian

ini dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya secara ilmiah .

F. Kerangka Teori dan konsepsi

1. Kerangka Teori

No state shall make on enforce any law wich shall abridge the privileges or
immunities of citizens…, nor shall any state deprive any person of life, liberty, or property
without due process of law, nor deny any person within its jurisdiction the equal protection
of the laws.
(Tidak satu Negara pun dapat membuat atau menjalankan hukum yang dapat
mengurangi hak dan kekebalan dari warga negara…, juga tidak satu negara pun yang dapat
menghilangkan kehidupan, kebebasan, atau hak milik dari seseorang tanpa melalui proses
hukum yang adil, tidak ada satu negara pun yang dapat menolak perlakuan yang sama
terhadap warga negaranya di depan hukum)
(Amandemen XIV dari Konstitusi Negara Amerika serikat) 12

                                                            
12
 Munir Fuadi, Dinamika Teori Hukum, (Ciawi-Bogor: Ghalia Indonesia, 2007), hlm. 110 
 
 
Universitas Sumatera Utara
Keadilan dapat dibagi ke dalam tiga kategori yaitu ; 13

a. Keadilan Kumutatif,

b. Keadilan Distributif dan

c. Keadilan Hukum.

Keadilan kumutatif merupakan suatu keputusan yang konstan untuk memberikan

setiap orang haknya (to give each one his due) dengan tujuan untuk menyesuaikan atau

menyeimbangkan interaksi antar individu, sehingga masing-masing bisa memperoleh

haknya secara sama. Jadi keadilan kumutatif merupakan keadilan yang berasal dari suatu

kebajikan yang khusus dan pada prinsipnya memberlakukan asas “sama rata sama rasa”

tanpa melihat pada kualifikasi pencari keadilan tersebut, jadi keadilan kumutatif

memberlakukan orang secara sama (equal).

Keadilan distributif diartikan sebagai suatu keputusan yang konstan dari negara

sebagai otoritas kekuasaan untuk memberikan setiap orang akan haknya, dengan tujuan

untuk mendistribusikan barang-barang yang dapat dimiliki dalam jenis dan jumlah yang

masing-masing bervariasi, sesuai dengan jasa baik (merits), kecurangan/ketercelaan

(demerits), kemampuan dan kebutuhan dari setiap individu dalam suatu masyarakat.

Sehingga terhadap keadilan distributif ini ada yang menganggap sebagai bagian dari

“keadilan untuk memberi hasil ( remunerative justice) atau keadilan untuk

mempertahankan hak (vindicative justice). Dalam hal ini, keadilan distributif memberikan

setiap orang sesuai prestasinya, atau memberikan setiap orang sesuai tingkat kesalahannya,

karena itu berbeda dengan keadilan kumutatif yang menekankan kepada pengertian

                                                            
13
 Ibid 
 
 
Universitas Sumatera Utara
“kesamaan”, sedangkan keadilan distributif lebih menekankan kepada pengertian

“proporsional”.

Keadilan hukum (legal justice) berarti keadilan telah dirumuskan oleh hukum

dalam bentuk hak dan kewajiban, dimana pelanggaran terhadap keadilan ini akan

ditegakkan lewat proses hukum, umumnya oleh pengadilan. Namun ada pengertian lain

dari keadilan hukum ini yang sebenarnya lebih merupakan keadilan sosial, yaitu suatu

keputusan yang konstan dari warga negara untuk memberikan kepada negara hak dari

negara tersebut, dengan tujuan untuk menyesuaikan setiap tindakan individu dengan

kepentingan bersama dalam negara. 14

Seorang guru besar dalam bidang filosofis moral dari Glasgow University pada

tahun 1750, sekaligus pula sebagai ahli teori hukum, “Bapak ekonomi modern” yakni

Adam Smith mengatakan bahwa tujuan keadilan adalah untuk melindungi dari kerugian

(the end of justice is to secure from injury). 15

Teori Keadilan Adam Smith, hanya menerima satu konsep atau teori keadilan

yaitu keadilan kumutatif. Alasannya, yang disebut keadilan sesungguhnya hanya punya

satu arti yaitu keadilan kumutatif yang menyangkut kesetaraan, keseimbangan,

keharmonisan hubungan antara satu orang atau pihak dengan orang atau pihak lain. 16

Prinsip keadilan kumutatif tersebut adalah sebagai berikut;

                                                            
14
Ibid, hlm 118
15
R.L. Meek, D.D. Raphael dan P.G. Stein, dalam Bismar Nasution, Mengkaji Ulang Hukum Sebagai
Landasan Pembangunan Ekonmi. Hal. 5
16
 http://m31ly.wordpress.com/2009/11/13/6/, Keadilan Dalam Bisnis, diakses tanggal 14 Mei 2010
 
 
Universitas Sumatera Utara
1. Prinsip No Harm

Prinsip keadilan kumutatif menurut Adam Smith adalah no harm, yaitu tidak merugikan

dan melukai orang lain baik sebagai manusia, anggota keluarga atau anggota masyarakat

baik menyangkut pribadinya, miliknya atau reputasinya. Pertama, keadilan tidak hanya

menyangkut pemulihan kerugian, tetapi juga menyangkut pencegahan terhadap

pelanggaran hak dan kepentingan pihak lain. Kedua, pemerintah dan rakyat sama-sama

mempunyai hak sesuai dengan status sosialnya yang tidak boleh dilanggar oleh kedua

belah pihak. Pemerintah wajib menahan diri untuk tidak melanggar hak rakyat dan

rakyat sendiri wajib mentaati pemerintah selama pemerintah berlaku adil, maka hanya

dengan inilah dapat diharapkan akan tercipta dan terjamin suatu tatanan sosial yang

harmonis. Ketiga, keadilan berkaitan dengan prinsip ketidakberpihakan (impartiality),

yaitu prinsip perlakuan yang sama didepan hukum bagi setiap anggota masyarakat.

2. Prinsip Non-Intervention

Di samping prinsip no harm, juga terdapat prinsip no intervention atau tidak ikut campur

dan prinsip perdagangan yang adil dalam kehidupan ekonomi. Prinsip ini menuntut agar

demi jaminan dan penghargaan atas hak dan kepentingan setiap orang, tidak seorangpun

diperkenankan untuk ikut campur tangan dalam kehidupan dan kegiatan orang lain.

Campur tangan dalam bentuk apapun akan merupakan pelanggaran terhadap hak orang

tertentu yang merupakan suatu harm (kerugian) dan itu berarti telah terjadi

ketidakadilan.

 
 
Universitas Sumatera Utara
3. Prinsip Keadilan Tukar

Prinsip keadilan tukar atau prinsip pertukaran dagang yang fair, terutama terwujud dan

terungkap dalam mekanisme harga dalam pasar. Dalam keadilan tukar ini, Adam Smith

membedakan antara harga alamiah dan harga pasar atau harga aktual. Harga alamiah

adalah harga yang mencerminkan biaya produksi yang telah dikeluarkan oleh produsen,

yaitu terdiri dari tiga komponen biaya produksi berupa; upah buruh, keuntungan untuk

pemilik modal, dan sewa. Sedangkan harga pasar atau harga aktual adalah harga yang

aktual ditawarkan dan dibayar dalam transaksi dagang di dalam pasar.

Pelaku usaha dan konsumen adalah dua pihak yang saling memerlukan. Pelaku

usaha perlu menjual barang dan jasanya kepada konsumen. Sebaliknya konsumen

memerlukan barang dan/atau jasa yang dihasilkan dan dijual oleh pelaku usaha guna

memenuhi keperluannya sehingga kedua belah pihak saling memperoleh manfaat atau

keuntungan.

Dalam prakteknya sering kali konsumen dirugikan oleh pelaku usaha yang tidak

jujur, nakal yang jika ditinjau dari aspek hukum merupakan tindak pelanggaran hukum.

Akibatnya konsumen menerima barang dan atau jasa tidak sesuai dengan kualitas, kuantitas

dan harganya. Di sisi lain karena ketidak tahuan dan kekurang sadaran konsumen akan

hak-haknya maka konsumen menjadi korban pelaku usaha 17 .

Lemahnya posisi konsumen dibandingkan posisi produsen juga disebabkan karena

mulai dari proses sampai hasil produksi barang dan atau jasa yang dihasilkan tanpa campur

                                                            
17
Abdul Halim Barkatullah , Hukum Perlindungan Konsumen, (Banjarmasin: FH. Unlam Press, 2008),
hlm. V.
 
 
Universitas Sumatera Utara
tangan konsumen sedikitpun. 18 Pada peristiwa semacam inilah dibutuhkan hukum untuk

memberikan perlindungan konsumen.

Sampai saat ini secara universal diakui adanya hak-hak konsumen yang secara

universal pula harus dilindungi dan dihormati yaitu : 19

a. Hak keamanan dan keselamatan

b. Hak atas informasi

c. Hak untuk memilih

d. Hak untuk di dengar

e. Hak atas lingkungan hidup

Dalam konteks hukum perlindungan konsumen terdapat prinsip-prinsip yang

berlaku dalam bidang hukum. Prinsip-prinsip itu ada yang masih berlaku sampai sekarang

tetapi ada pula yang ditinggalkan seiring dengan tuntutan kesadaran hukum masyarakat

yang terus meningkat. Prinsip-prinsip yang muncul tentang kedudukan kosumen dalam

hubungan hukum dengan pelaku usaha berangkat dari doktrin atau teori yang dikenal dalam

perjalanan sejarah hukum perlindungan konsumen, termasuk dalam kelompok ini adalah: 20

a. Let the buyer beware (caveat emptor)

b. The due care theory

c. The prifity of contract

d. Prinsip kontrak bukan merupakan syarat

                                                            
18
 Husni Syawali, op.cit., hlm. 37  
19
 Ibid, hlm. 39
20
Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia. (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia
2006), hlm 63 
 
 
Universitas Sumatera Utara
1. Let the buyer beware (caveat emptor)

Doktrin ini sebagai embrio dari lahirnya sengketa di bidang transaksi konsumen. Asas

ini berasumsi pelaku usaha dan konsumen adalah dua pihak yang sangat seimbang

sehingga tidak perlu ada proteksi apapun bagi si konsumen. Tentu saja dalam

perkembangannya konsumen tidak mendapat akses informasi yang sama terhadap

barang atau jasa yang dikonsumsinya, ketidakmampuan itu bisa karena keterbatasan

pengetahuan konsumen, tetapi terlebih-lebih lagi banyak disebabkan oleh ketidak

terbukaan pelaku usaha terhadap produk yang ditawarkan.

2. The due care theory

Doktrin ini menyatakan pelaku usaha mempunyai kewajiban untuk berhati-hati dalam

memasyarakatkan produk baik barang maupun jasa. Selama berhati-hati dengan

produknya, ia tidak dapat dipersalahkan. Jika ditafsirkan secara a-contrario, maka

untuk mempersalahkan si pelaku usaha seseorang harus dapat membuktikan pelaku

usaha itu melanggar prinsip kehati-hatian. Ditinjau dari beban pembuktian, tampak si

penggugat (konsumen) harus membentangkan bukti-bukti. Si pelaku usaha (tergugat)

cukup bersikap menunggu. Berdasarkan bukti-bukti dari si penggugat barulah ia

membela dirinya, misalnya dengan memberikan bukti-bukti kontra yang menyatakan

dalam peristiwa tadi sama sekali tidak ada kelalaian (negligence). Dalam realita agak

sulit bagi konsumen untuk menghadirkan bukti-bukti guna memperkuat gugatannya,

sebaliknya sipelaku usaha dengan berbagai keunggulannya (secara ekonomis, sosial,

 
 
Universitas Sumatera Utara
psikologis, bahkan politis) relatif lebih mudah berkelit, menghindar dari gugatan

demikian, disinilah kelemahan teori ini.

3. The prifity of contract

Doktrin ini menyatakan pelaku usaha mempunyai kewajiban untuk melindungi

konsumen, tetapi hal itu baru dapat dilakukan jika diantara mereka telah terjalin suatu

hubungan kontraktual. Pelaku usaha tidak dapat disalahkan atas hal-hal di luar yang

diperjanjikan. Artinya konsumen boleh menggugat berdasarkan wanprestasi

(contractual liability). Di tengah minimnya peraturan perundang-undangan di bidamg

konsumen, sangat sulit menggugat dengan dasar perbuatan melawan hukum (tortius

liability). Walaupun secara yuridis sering dinyatakan, antara pelaku usaha dan

konsumen berkedudukan sama, tetapi faktanya konsumen adalah pihak yang selalu

didikte menurut kemauan si pelaku usaha.

4. Prinsip kontrak bukan merupakan syarat

Seiring dengan bertambah kompleksnya transaksi konsumen, prinsip the privity of

contract tidak mungkin lagi dipertahankan secara mutlak untuk mengatur hubungan

antara pelaku usaha dan konsumen. Jadi kontrak bukan lagi merupakan syarat untuk

menetapkan eksistensi suatu hubungan hukum.

Dalam etika bisnis, dikenal adanya etika pengakuan yang melihat adanya asimetri

dalam tugas dan kewajiban manusia, disamping itu terdapat teori pemeliharaan hak yang

mengakui tanggung jawab produsen atau penjual atas produk sebagai hasil hubungan yang

asimetri antara pihak konsumen (yang lebih lemah) dan pihak produsen atau pemasok

 
 
Universitas Sumatera Utara
(yang lebih kuat). Teori ini melindungi hak-hak pihak yang lemah dan mendukung gagasan

suatu masyarakat moral yang mempraktikkan keadilan.21

Keperluan adanya hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen,

merupakan suatu hal yang tidak dapat dielakkan, sejalan dengan tujuan pembangunan

nasional kita yaitu pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Membahas keperluan

hukum untuk memberikan perlindungan bagi konsumen Indonesia, hendaknya terlebih

dahulu kita melihat situasi peraturan perundang-undangan Indonesia khususnya peraturan

atau keputusan yang memberikan perlindungan bagi masyarakat, sehingga bentuk hukum

perlindungan konsumen yang ditetapkan sesuai dengan yang diperlukan bagi konsumen

Indonesia dan keberadaannya tepat apabila diletakkan didalam kerangka sistem hukum

nasional Indonesia. 22

Di dalam Undang-undang Perlindungan Konsumen, tidak hanya mencantumkan

hak-hak dan kewajiban-kewajiban dari konsumen, melainkan juga hak-hak dan kewajiban-

kewajiban pelaku usaha, namun kelihatan bahwa hak yang diberikan kepada konsumen

(yang diatur dalam Pasal 4 UUPK ), lebih banyak dibandingkan dengan hak pelaku usaha

(yang dimuat pada Pasal 6 UUPK ), dan kewajiban pelaku usaha (dalam Pasal 7 UUPK )

lebih banyak dari kewajiban konsumen (yang dimuat dalam Pasal 5 UUPK) 23 .

                                                            
21
 Ketut Rindjin, Etika Bisnis dan Implementasinya (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004) hlm.
88
22
Husni Syawali, op.cit, hlm. 8
23
Lihat Pasal 4 sampai dengan Pasal 7 Undang-Undang Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun
1999
 
 
Universitas Sumatera Utara
Sebagai konsekuensi dari hak konsumen, maka kepada pelaku usaha dibebankan

kewajiban-kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 7 Undang-Undang Perlindungan

konsumen, diantaranya : 24

a. Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya

b. Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan

barang dan/atau jasa serta memberikan penjelasan penggunaan, perbaikan dan

pemeliharaan.

c. Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak

diskriminatif

d. Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan

berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku.

e. Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang

dan/atau jasa tertentu, serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat

dan/atau diperdagangkan.

f. Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau jasa pergantian apabila barang dan/atau jasa

yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

Selain kewajiban pelaku usaha, di dalam Undang-Undang Perlindungan konsumen

juga diatur berbagai larangan bagi pelaku usaha sesuai Pasal 8 UUPK 25 . Secara garis besar

larangan yang dikenakan dalam Pasal 8 Undang-Undang Perlindungan Konsumen tersebut

dapat dibagi kedalam dua larangan pokok yaitu: 26

                                                            
24
Lihat Pasal 7 Undang-Undang Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999
25
 Lihat Pasal 8 Undang-Undang Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999
26
Abdul Halim Barkatullah, Op.cit., hlm.41
 
 
Universitas Sumatera Utara
a. Larangan mengenai produk itu sendiri, yang tidak memenuhi syarat dan standar yang

layak untuk dipergunakan atau dipakai atau dimanfaatkan oleh konsumen.

b. Larangan mengenai ketersediaan informasi yang tidak benar, dan tidak akurat, yang

menyesatkan konsumen.

Berbagai larangan bagi pelaku usaha sesuai Pasal 8 Undang-Undang Konsumen

baik larangan mengenai kelayakan produk, berupa barang dan/atau jasa pada dasarnya

berhubungan erat dengan karakteristik dan sifat dari barang dan/atau jasa yang

diperdagangkan. Kelayakan produk tersebut merupakan “standar minimum” yang harus

dipenuhi atau dimiliki oleh suatu barang dan/atau jasa tertentu sebelum barang dan/atau

jasa tersebut dapat diperdagangkan untuk dikonsumsi masyarakat luas. 27

Sebagai konsekuensi hukum dari pelanggaran yang diberikan undang-undang

tentang perlindungan konsumen dan sifat perdata dari hubungan hukum antara pelaku

usaha dan konsumen maka setiap pelanggaran yang dilakukan pelaku usaha yang

merugikan konsumen memberikan hak kepada konsumen yang dirugikan tersebut untuk

meminta pertanggungjawaban dari pelaku usaha yang merugikan serta menuntut ganti rugi

atas kerugian yang diderita oleh konsumen 28 .

Tanggung jawab untuk mengganti rugi tidak saja karena dilakukannya perbuatan

melanggar hukum, tetapi juga karena kelalaian atau kurang hati-hati, bahkan tanggung

jawab itu tidak hanya karena perbuatan atau tidak berbuat pelaku sendiri, tetapi juga karena

                                                            
27
Ibid hlm. 42
28
Gunawan Widjaja, Ahmad Yani, Hukum Tentang Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Gramedia
Pustaka utama, 2008), hlm. 3
 
 
Universitas Sumatera Utara
perbuatan atau tidak berbuat dari orang-orang yang menjadi atau termasuk tanggung

jawabnya (lihat Pasal 1366 dan Pasal 1367 KUHPerdata) 29

Tanggung jawab dalam hukum dibagi ke dalam asas tanggung jawab berdasarkan

kesalahan (liability based on fauld) dan tanggung jawab tanpa kesalahan (liability without

fauld). Pada tanggung jawab berdasarkan kesalahan pihak yang menuntut ganti rugi

(penggugat) diharuskan untuk membuktikan bahwa kerugian yang dialaminya disebabkan

oleh perbuatan dan kesalahan dari pihak yang ia tuntut untuk membayar ganti rugi tersebut

(tergugat), sedang pada asas tanggung jawab tanpa kesalahan (liability without fault)

seseorang bertanggung jawab begitu kerugian terjadi, terlepas dari ada tidaknya kesalahan

pada dirinya. 30

Prinsip tanggung jawab berdasarkan unsur kesalahan (fault liability atau liability

based on fauld) adalah prinsip yang cukup umum berlaku dalam hukum pidana dan

perdata. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, khususnya Pasal 1365, 1366 dan

1367, prinsip ini dipegang secara teguh. Prinsip ini menyatakan seseorang baru dapat

dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum jika ada unsur kesalahannya. Yang

dimaksud kesalahan adalah unsur yang bertentangan dengan hukum, tidak hanya

bertentangan dengan undang-undang, tetapi juga kepatutan dan kesusilaan dalam

masyarakat. 31

Harkristuti Harkrisnowo membedakan berbagai perilaku yang merugikan

konsumen yaitu merupakan perbuatan melawan hukum (sebagai kasus perdata) dan tindak

                                                            
29
 AZ. Nasution, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: CV. Triarga Utama, 2002), hlm
77.
30
 Abdul Halim Barkatullah, Op.Cit., hlm. 82
33 Pustaka Yustisia, KUHPer, KUHP, KUHAP, (Jakarta: PT. Buku Kita, 2008)
 
 
Universitas Sumatera Utara
pidana. Undang-undang Perlindungan konsumen telah memberikan akses dan kemudahan

bagi hak-hak konsumen untuk mendapatkan ganti rugi dan sejumlah tuntutan yang

menyangkut kepentingan konsumen dengan dirumuskan sistem pertanggungjawaban

produk oleh pelaku usaha (product liability). 32

Tanggung jawab produk (product liability) adalah suatu tanggung jawab secara

hukum dari orang atau badan yang menghasilkan suatu produk (producer, manufacture)

atau dari orang atau badan yang bergerak dalam suatu proses untuk menghasilkan suatu

produk (prosessor, assembler) atau dari orang atau badan yang menjual dan

mendistribusikan (seller, distributor) produk tersebut. 33

Perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) dicantumkan dalam Pasal 1365

KUH Perdata yang berisi “ Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian

kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu,

mengganti kerugian tersebut”.

Pengertian perbuatan melawan hukum di Indonesia diterjemahkan dari bahasa

Belanda yaitu “Onrechtmatige daad”. Dalam istilah “melawan” melekat pada sifat aktif

dan pasif. Sifat aktif dapat dilihat apabila dengan sengaja melakukan suatu perbuatan yang

menimbulkan kerugian orang lain, jadi sengaja melakukan gerakan sehingga nampak

dengan jelas sifat aktifnya dari istilah “melawan” tersebut. Sebaliknya apabila ia dengan

sengaja diam saja atau dengan perkataan lain apabila ia dengan sikap pasif saja sehingga

                                                            
32
Harkristuti Harkrisnowo, “Perlindungan Konsumen Dalam Kerangka Sistem Peradilan di
Indonesia”.(Jakarta: Lokakarya Rancangan Undang-undang tentang Perlindungan konsumen, Kerjasama
Lembaga Penelitian Universitas Indonesia dengan Departemen Perindustrian dan Perdagangan 1996), hlm. 6
33
Ansorulloh Najmuddin, Dilema Perundang-undangan di Indonesia,
http://indoprogress.blogspot.com, diakses tanggal 11-04-2010
 
 
Universitas Sumatera Utara
menimbulkan kerugian pada orang lain maka ia telah “melawan” tanpa harus

menggerakkan badanya. 34

Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang lazim dikenal sebagai

Pasal tentang perbuatan melawan hukum, mengharuskan terpenuhinya 4 (empat) unsur

pokok yaitu :

a) Adanya perbuatan

b) Adanya unsur kesalahan

c) Adanya kerugian yang diderita

d) Adanya hubungan kausalitas antara kesalahan dan kerugian

1. Konsepsi

Peranan konsep dalam penelitian ini adalah untuk menghubungkan dunia teori dan

observasi, antara abstraksi dan realitas. Konsep diartikan sebagai kata yang menyatakan

abstraksi yang digeneralisasikan dalam hal-hal yang khusus, yang disebut dengan definisi

operasional. Pentingnya definisi operasional adalah untuk menghindarkan perbedaan

pengertian antara penafsiran dari suatu istilah yang dipakai. Selain itu dipergunakan juga

untuk memberikan pegangan pada proses penelitian ini.

Dalam penelitian ini ada dua variable yang terkait yaitu : Pertama, Pengoplos

beras dalam hal ini diartikan sebagai pelaku usaha. Kedua, Perlindungan konsumen. Dari

uraian kerangka teori di atas, peneliti akan menjelaskan beberapa konsep dasar yang akan

digunakan dalam tesis ini antara lain :

                                                            
34
Abdul Halim Barkatullah, Op.cit., hlm. 75-76
 
 
Universitas Sumatera Utara
1. Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum

untuk memberi perlindungan kepada konsumen. 35

2. Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam

masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun mahluk

hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan 36

3. Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk

badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau

melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri

maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam

berbagai bidang ekonomi. 37

4. Beras adalah butir padi yang telah dibuang kulit luarnya (biasa disebut sekam atau

epicarp) 38 , atau gabah yang telah dikupas dan telah terbebas dari bekatul. 39

5. Produk adalah barang atau jasa yang dibuat dan ditambah gunanya atau nilainya dalam

proses produksi dan menjadi hasil akhirnya dari proses produksi tersebut. 40

6. Dari penelusuran literatur yang ada, kata Oplos berasal dari Bahasa Belanda 41 . yaitu
42
“oplossen“ artinya; melebur, larut dan meluluh. Di Indonesia kata oplos sering

dikonotasikan dengan usaha mencampur.

                                                            
35
Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
36
Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
37
Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
38
 Khudori, op.cit., hlm v
39
Abdul Waris Patiwiri, Teknologi Penggilingan Padi, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2006)
hlm. 19
40
 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai pustaka,
1996) hlm. 254
41
http://www.sekolahvirtual.or.id/2009/10/kata-serapan-dari-bahasa-belanda-dalam-bahasa-indonesia-
k-o/, diakses tanggal 11-04-2010
 
 
Universitas Sumatera Utara
7. Mencampur adalah : menyatukan atau mengumpulkan (dua atau tiga macam benda

dsb) supaya bercampur 43 atau memadupadankan satu benda dengan satu atau beberapa

benda lainnya kemudian diolah dan diproses menjadi benda dengan nama yang lain 44 .

8. Perum BULOG adalah Perusahaan Umum BULOG yang selanjutnya disebut

Perusahaan adalah Badan Usaha Milik Negara sebagaimana diatur dalam Undang-

undang No. 9 Tahun 1969, dimana seluruh modalnya dimiliki Negara berupa kekayaan

Negara yang dipisahkan dan tidak terbagi atas saham. 45

9. Standar mutu beras adalah persyaratan standar mutu beras berdasarkan Standar

Nasional Indonesia (SNI) No. 01-6127-1999 yang terdiri dari komponen umum dan

komponen fisik beras.

10. Yang dimaksud dengan komponen umum adalah :

a. bebas hama dan penyakit,

b. bebas bau apek, asam atau bau asing lainnya,

c. bebas dari campuran bekatul dan

d. bebas dari tanda-tanda adanya bahan kimia yang membahayakan,

Sedangkan komponen fisik beras ditunjukkan pada tabel di bawah ini :

                                                                                                                                                                                     
42
  Susi Moeimam, Hein Steinhauer, Kamus Belanda-Indonesia (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utama, 2005)
43
 Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: PN. Balai Pustaka, 1976) hlm. 182
44
 http://albertusgoentoer, blogspot.com/2009/04/mencampur, diakses 10 Maret 2010. 
45
Bab I Pasal 1 butir (1) PP No. 7 Tahun 2003 tentang pendirian Perum BULOG

 
 
Universitas Sumatera Utara
Tabel.1. Komponen Fisik beras sesuai Standar Nasional Indonesia
(SNI) No. 01- 6127-1999 .

No Komponen Satuan Mutu Mutu Mutu Mutu Mutu


I II III IV V
Mutu

1 Derajat sosoh (min) (%) 100 100 100 95 85

2 Kadar Air (mak) (%) 14 14 14 14 15

3 Beras Kepala (min) (%) 100 95 84 73 60

4 Butir utuh (min) (%) 60 50 40 35 35

5 Butir Patah (mak) (%) 0 5 15 25 35

6 Butir Menir (mak) (%) 0 0 1 2 5

7 Butir merah (mak) (%) 0 0 1 3 3

8 Butir kuning/rusak (mak) (%) 0 0 1 3 5

9 Butir mengapur (mak) (%) 0 0 1 3 5

10 Butir asing (mak) (%) 0 0 0,02 0.05 0,2

11 Butir gabah (mak) (%) 0 0 1 2 3

12 Campuran Varietas lain (mak) (%) 5 5 5 10 10

Sumber: Abdul Waris Patiwiri, Teknologi Penggilingan Padi, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama,
2006) hlm. 20-21

 
 
Universitas Sumatera Utara
G. Metode Penelitian

1. Tipe atau jenis Penelitian

Metode penelitian yang dipergunakan untuk menjawab permasalahan yang ada

dalam tesis ini adalah metode pendekatan yuridis normatif yang dilakukan dengan cara

terlebih dahulu meneliti bahan-bahan kepustakaan yang relevan dengan permasalahan yang

diteliti dan mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan

perundang-undangan, putusan pengadilan dan pendapat ahli hukum maupun praktisi

hukum.

2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui penelitian

kepustakaan (library research) untuk mendapatkan konsepsi teori atau doktrin, pendapat

atau pemikiran konseptual yang berhubungan dengan objek telaah penelitian ini yang

dapat berupa perundang-undangan, buku, tulisan ilmiah dan karya-karya ilmiah lainnya.

Sumber data tersebut dikelompokkan dalam tiga bagian yaitu dari data bahan hukum

primer, sekunder dan tertier.

Bahan hukum primer yaitu bahan-bahan yang mengikat, terdiri dari norma atau

kaidah dasar yaitu Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, peraturan dasar yaitu batang

tubuh Undang-Undang Dasar 1945, Peraturan Perundang-undangan seperti Undang-

Undang atau Peraturan Pemerintah Penganti Undang-Undang, Peraturan Pemerintah,

Keputusan Presiden, Keputusan Menteri, Peraturan Daerah, badan hukum yang tidak

 
 
Universitas Sumatera Utara
dikodifikasikan seperti hukum adat, yurisprudensi, traktat, bahan hukum dari zaman

penjajahan yang hingga kini masih berlaku seperti Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Bahan Hukum sekunder yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan

mengenai badan hukum primer misalnya rancangan undang-undang, hasil penelitian

hukum, dan hasil karya ilmiah dari kalangan hukum.

Bahan hukum tertier yaitu bahan-bahan yang memberi petunjuk maupun

penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, misalnya kamus

(hukum), ensiklopedia dan lain-lain 46

3. Teknik Pengumpulan data

Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan cara studi

dokumen-dokumen yang relevan dengan penelitian ini di perpustakaan dan melakukan

identifikasi data. Data yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan tersebut selanjutnya

akan dipilah-pilah guna memperoleh pasal-pasal yang berisi kaedah-kaedah hukum yang

kemudian dihubungkan dengan permasalahan yang sedang dihadapi dan

disistematisasikan sehingga menghasilkan klasifikasi yang selaras dengan permasalahan

penelitian ini. Selanjutnya data yang diperoleh tersebut akan dianalisis secara induktif

kualitatif untuk sampai pada kesimpulan, sehingga pokok permasalahan yang ditelaah

dalam penelitian ini akan dapat dijawab.

                                                            
46
    Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, cetakan ketiga (Jakarta: Raja Grafindo Persada
2001) hlm. 116-117
 
 
Universitas Sumatera Utara
4. Metode analisis data

Data yang diperoleh dari hasil penelitian dikelompokkan menurut permasalahan

yang selanjutnya dilakukan analisis secara kualitatif. Analisis secara kualitatif

dimaksudkan bahwa analisis tidak tergantung dari jumlah data berdasarkan angka-angka

melainkan data yang dianalisis digambarkan dalam bentuk kalimat-kalimat. Pendekatan

yuridis normatif artinya data penelitian dianalisis menurut norma-norma hukum tertentu

dalam peraturan perundang-undangan.

Berdasarkan analisis terhadap pokok bahasan tersebut di atas, maka dapat

dilakukan penafsiran dengan metode interpretasi yang dikenal dalam ilmu hukum. Hasil

dari interpretasi yuridis ini, diharapkan dapat menjawab segala permasalahan hukum yang

diajukan dalam tesis ini secara lengkap.

 
 
Universitas Sumatera Utara