P. 1
KERAJAAN SRIWIJAYA

KERAJAAN SRIWIJAYA

|Views: 100|Likes:
Dipublikasikan oleh Li_Nex

More info:

Published by: Li_Nex on Apr 22, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/13/2012

pdf

text

original

KERAJAAN SRIWIJAYA

Sriwijaya (atau juga disebut Srivijaya; Thai: ศรีวิชัย atau "Ṣ̄rī wichạy") adalah salah satu kemaharajaan maritim yang kuat di pulau Sumatera dan banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan membentang dari Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.[1][2] Dalam bahasa Sansekerta, sri berarti "bercahaya" dan wijaya berarti "kemenangan".[2] Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan.[3][4] Selanjutnya prasasti yang paling tua mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang, bertarikh 682.[5] Kemunduran pengaruh Sriwijaya terhadap daerah bawahannya mulai menyusut dikarenakan beberapa peperangan[2] diantaranya serangan dari raja Dharmawangsa Teguh dari Jawa di tahun 990, dan tahun 1025 serangan Rajendra Chola I dari Koromandel, selanjutnya tahun 1183 kekuasaan Sriwijaya dibawah kendali kerajaan Dharmasraya.[6]

Pembentukan dan pertumbuhan
Belum banyak bukti fisik mengenai Sriwijaya yang dapat ditemukan. [8] Kerajaan ini menjadi pusat perdagangan dan merupakan negara maritim, namun kerajaan ini tidak memperluas kekuasaannya di luar wilayah kepulauan Asia Tenggara, dengan pengecualian berkontribusi untuk populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil di barat. Beberapa ahli masih memperdebatkan kawasan yang menjadi pusat pemerintahan Sriwijaya, selain itu kemungkinan kerajaan ini biasa memindahkan pusat pemerintahannya, namun kawasan yang menjadi ibukota tetap diperintah secara langsung oleh penguasa, sedangkan daerah pendukungnya diperintah oleh datu setempat.

Di abad ke-7 ini. orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan yaitu Malayu dan Kedah menjadi bagian kemaharajaan Sriwijaya. Candi Borobudur. kemaharajaan ini telah menguasai bagian selatan Sumatera. pembangunannya diselesaikan pada masa Samaratungga Kekaisaran Sriwijaya telah ada sejak 671 sesuai dengan catatan I Tsing.Candi Gumpung. pulau Bangka dan Belitung. Thailand Selatan.[2] Berdasarkan prasasti Kota Kapur yang yang berangka tahun 686 ditemukan di pulau Bangka. Kerajaan Melayu yang ditaklukkan Sriwijaya. hingga Lampung. peristiwa ini bersamaan dengan runtuhnya Tarumanagara di Jawa . dari prasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 di diketahui imperium ini di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang. Prasasti ini juga menyebutkan bahwa Sri Jayanasa telah melancarkan ekspedisi militer untuk menghukum Bhumi Jawa yang tidak berbakti kepada Sriwijaya. Reruntuhan Wat (Candi) Kaew yang berasal dari zaman Sriwijaya di Chaiya. candi Buddha di Muaro Jambi.

di awal abad ke-8 berada di bawah kendali Sriwijaya.Barat dan Holing (Kalingga) di Jawa Tengah yang kemungkinan besar akibat serangan Sriwijaya. Setelah Dharmasetu. Laut China Selatan. yang terletak di sebelah utara Langkasuka. Tidak seperti Dharmasetu yang ekspansionis. Samaratungga menjadi penerus kerajaan. Ia berkuasa pada periode 792 sampai 835. ditemukan reruntuhan candicandi Sriwijaya di Thailand dan Kamboja. Untuk mencegah hal tersebut.[2] . Di abad ke-7. antara lain Tarumanegara dan Holing berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Di abad ini pula. Laut Jawa. ia membangun candi Borobudur di Jawa Tengah yang selesai pada tahun 825. Selat Sunda. juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya. memutuskan hubungan dengan Sriwijaya di abad yang sama.[2] Di masa berikutnya. [2] Di akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa. Sriwijaya meneruskan dominasinya atas Kamboja. Berdasarkan observasi. dan Selat Karimata. Menurut catatan. Selama masa kepemimpinannya. Sriwijaya tumbuh dan berhasil mengendalikan jalur perdagangan maritim di Selat Malaka. Ekspansi kerajaan ini ke Jawa dan Semenanjung Malaya. Maharaja Dharmasetu melancarkan beberapa serangan ke kota-kota pantai di Indochina. Samaratungga tidak melakukan ekspansi militer. Pan Pan dan Trambralinga. sampai raja Khmer Jayawarman II. pendiri imperium Khmer. pelabuhan Cham di sebelah timur Indochina mulai mengalihkan banyak pedagang dari Sriwijaya. Kota Indrapura di tepi sungai Mekong. tetapi lebih memilih untuk memperkuat penguasaan Sriwijaya di Jawa. menjadikan Sriwijaya mengontrol dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara. pada masa ini pula wangsa Sailendra bermigrasi ke Jawa Tengah dan berkuasa disana. Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi bagian kerajaan.

di propinsi Surat Thani.Untuk memperkuat posisinya atas penguasaan pada kawasan di Asia Tenggara. pada prasasti Nalanda berangka 860 mencatat bahwa raja Balaputradewa mendedikasikan sebuah biara kepada Universitas Nalanda. Setelah kejatuhan Sriwijaya. Thailand Selatan. dan secara teratur mengantarkan utusan beserta upeti. Banyak sejarawan mengklaim bahwa Chaiya. namun menjadi buruk setelah Rajendra Chola I naik tahta yang melakukan penyerangan di abad ke-11. Sriwijaya juga berhubungan dekat dengan kerajaan Pala di Benggala. Relasi dengan dinasti Chola di selatan India juga cukup baik. sebagai ibu kota kerajaan tersebut. dari prasasti Leiden disebutkan raja Sriwijaya di Kataha Sri Mara-Vijayottunggawarman telah membangun sebuah vihara yang dinamakan dengan Vihara Culamanivarmma. di mana raja Sriwijaya di Kadaram mengirimkan utusan yang meminta dikeluarkannya pengumuman pembebasan cukai pada kawasan sekitar Vihara Culamanivarmma tersebut. dan Khirirat Nikhom. Thatong (Kanchanadit). Kemudian hubungan ini kembali membaik pada masa Kulothunga Chola I. Namun demikian pada masa ini Sriwijaya .[17] Pada masa awal kerajaan Khmer merupakan daerah jajahan Sriwijaya. pengaruh Sriwijaya nampak pada bangunan pagoda Borom That yang bergaya Sriwijaya. Sriwijaya menjalin hubungan diplomasi dengan kekaisaran China. Chaiya terbagi menjadi tiga kota yakni (Mueang) Chaiya.

Dari catatan sejarah dan bukti arkeologi. antara lain: Sumatera. Kamboja. Sriwijaya juga disebut berperan dalam menghancurkan kerajaan Medang di Jawa. Sriwijaya mengakumulasi kekayaannya sebagai pelabuhan dan gudang perdagangan yang melayani pasar Tiongkok.[2] dan Filipina. Jawa. Masa keemasan Kemaharajaan Sriwijaya bercirikan kerajaan maritim. dalam prasasti Pucangan disebutkan sebuah peristiwa Mahapralaya yaitu peristiwa hancurnya istana Medang di .[19] Dominasi atas Selat Malaka dan Selat Sunda. dan India. Thailand.dianggap telah menjadi bahagian dari dinasti Chola. pada abad ke-9 Sriwijaya telah melakukan kolonisasi di hampir seluruh kerajaan-kerajaan Asia Tenggara.[18] Model kapal tahun 800-an Masehi yang terdapat pada candi Borobudur. dari kronik Tiongkok menyebutkan bahwa Kulothunga Chola I (Ti-hua-ka-lo) sebagai raja San-fo-ts'i membantu perbaikan candi dekat Kanton pada tahun 1079. mengandalkan hegemoni pada kekuatan armada lautnya dalam menguasai alur pelayaran. pada masa dinasti Song candi ini disebut dengan nama Tien Ching Kuan dan pada masa dinasti Yuan disebut dengan nama Yuan Miau Kwan. jalur perdagangan. menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal yang mengenakan biaya atas setiap kapal yang lewat. Semenanjung Malaya. Vietnam. memungut cukai serta untuk menjaga wilayah kedaulatan dan kekuasaanya. menguasai dan membangun beberapa kawasan strategis sebagai pangkalan armadanya dalam mengawasi. melindungi kapal-kapal dagang.

Jawa Timur.[20] Hal ini dapat dikaitkan dengan adanya berita utusan San-fo-ts'i ke Cina tahun 1028. Selama beberapa dekade berikutnya seluruh imperium Sriwijaya telah berada dalam pengaruh dinasti Chola. mengirim ekspedisi laut untuk menyerang Sriwijaya. Penurunan Tahun 1017 dan 1025.[21] Kawasan Sriwijaya dalam prasasti Tanjore Nama kawasan Pannai Malaiyur Mayirudingam Ilangasogam Mappappalam Mevilimbangam Valaippanduru Takkolam Madamalingam Ilamuri-Desam Nakkavaram Kadaram Tambralingga Lamuri Nikobar Kedah Langkasuka Keterangan Pannai Malayu . sekaligus berhasil menawan raja Sriwijaya yang berkuasa waktu itu Sangrama-Vijayottunggawarman. kerajaan Chola telah menaklukan daerah-daerah koloni Sriwijaya. India selatan. raja dari dinasti Chola di Koromandel. Rajendra Chola I. pada tahun 1006 atau 1016 menyerang dan menyebabkan terbunuhnya raja Medang terakhir Dharmawangsa Teguh. berdasarkan prasasti Tanjore bertarikh 1030. Meskipun demikian Rajendra Chola I tetap memberikan peluang kepada raja-raja yang ditaklukannya untuk tetap berkuasa selama tetap tunduk kepadanya. di mana Haji Wurawari dari Lwaram yang kemungkinan merupakan raja bawahan Sriwijaya.

Ling-ya-si-kia (Langkasuka). Si-lan (Kamboja). dan 13 potong pakaian. Sumatera. Pa-lin-fong (Palembang). Selanjutnya dalam berita Cina yang berjudul Sung Hui Yao disebutkan bahwa kerajaan San-fo-tsi pada tahun 1082 masih mengirimkan utusan pada masa Cina di bawah pemerintahan Kaisar Yuan Fong. Lan-wu-li (Lamuri di Aceh). Ji-lo-t'ing (Cherating. walaupun sumber Tiongkok tetap menyebut San-fo-tsi sebagai kerajaan yang berada di kawasan laut Cina Selatan. istilah San-fo-tsi terutama pada tahun 1178 tidak lagi identik dengan Sriwijaya. Hal ini karena dalam Pararaton telah menyebutkan Malayu. Berdasarkan sumber Tiongkok pada buku Chu-fan-chi[22] yang ditulis pada tahun 1178. serta menyerahkan pula 227 tahil perhiasan.[2] Pengaruh invasi Rajendra Chola I. Kien-pi (Jambi). yang merupakan surat dari putri raja yang diserahi urusan negara San-fo-tsi. terhadap hegemoni Sriwijaya atas raja-raja bawahannya melemah. yakni San-fo-ts'i dan Cho-po (Jawa). Tong-ya-nong (Terengganu). Fo-lo-an (muara sungai Dungun daerah Terengganu sekarang). Kilantan (Kelantan). selatan Thailand).Namun demikian pada masa ini Sriwijaya dianggap telah menjadi bagian dari dinasti Chola. pantai timur semenanjung malaya).[6][10] Namun demikian. sedangkan rakyat San-fo-ts'i memeluk Budha. pantai timur Semenanjung Malaya). dari daftar 15 negeri bawahan San-fotsi tersebut merupakan daftar jajahan kerajaan Dharmasraya. sampai muncul Dharmasraya sebagai kekuatan baru yang kemudian menguasai kembali wilayah jajahan Sriwijaya mulai dari kawasan Semenanjung Malaya. Chaiya sekarang. dan kemudian menghadiahkan Arca Amoghapasa . Kemudian juga mengirimkan utusan berikutnya di tahun 1088. Duta besar tersebut menyampaikan surat dari raja Kien-pi bawahan San-fo-tsi. rumbia. selatan Thailand). dan memiliki 15 daerah bawahan yang meliputi. dan Sin-t'o (Sunda). Pa-t'a (Sungai Paka. beberapa daerah taklukan melepaskan diri. dari kronik Tiongkok menyebutkan bahwa pada tahun 1079 Kulothunga Chola I (Ti-hua-ka-lo) raja dinasti Chola disebut juga sebagai raja San-fo-ts'i. Kia-lo-hi (Grahi. melainkan telah identik dengan Dharmasraya. sampai Jawa bagian barat. Ts'ien-mai (Semawe. Pong-fong (Pahang). Di Jawa dia menemukan bahwa rakyatnya memeluk agama Budha dan Hindu. pantai timur semenanjung malaya). disebutkan Kertanagara raja Singhasari mengirim sebuah ekspedisi Pamalayu atau Pamalayu. yang kemudian mengirimkan utusan untuk membantu perbaikan candi dekat Kanton. Chou-JuKua menerangkan bahwa di kepulauan Asia Tenggara terdapat dua kerajaan yang sangat kuat dan kaya. Tan-ma-ling (Tambralingga. Ligor.

mandala dan bhūmi. yang menguraikan tentang daerah jajahan Majapahit juga sudah tidak menyebutkan lagi nama Sriwijaya untuk kawasan yang sebelumnya merupakan kawasan Sriwijaya. Struktur pemerintahan Pembentukan satu negara kesatuan dalam dimensi struktur otoritas politik Sriwijaya. dan dalam lingkaran raja terdapat secara berurutan yuvarāja (putra mahkota). Menurut Casparis. vanua. samaryyāda. tempat disimpan mas dan hasil cukai (drawy) sebagai kawasan yang mesti dijaga.[24] Prasasti Telaga Batu banyak menyebutkan berbagai jabatan dalam struktur pemerintahan kerajaan pada masa Sriwijaya. Kadātuan dan vanua ini merupakan satu kawasan inti bagi Sriwijaya itu sendiri. Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa di Dharmasraya sebagaimana yang tertulis pada prasasti Padang Roco. (tnah rumah) tempat tinggal bini hāji. Begitu juga dalam Nagarakretagama. yang terhubung dengan jalan khusus (samaryyāda-patha) yang dapat bermaksud kawasan pedalaman. pratiyuvarāja (putra mahkota kedua) dan rājakumāra (pewaris berikutnya). prasasti Ligor di selatan Thailand. Sementara pada prasasti Sojomerto . Hubungan dengan dinasti Sailendra Munculnya keterkaitan antara Sriwijaya dengan dinasti Sailendra dimulai karena adanya nama Śailendravamśa pada beberapa prasasti diantaranya pada prasasti Kalasan di pulau Jawa. dan prasasti Nalanda di India. Penguasa Sriwijaya disebut dengan Dapunta Hyang atau Maharaja.[23] Kadātuan dapat bermakna kawasan dātu. Sedangkan mandala merupakan suatu kawasan otonom dari bhūmi yang berada dalam pengaruh kekuasaan kadātuan Sriwijaya. Kadātuan ini dikelilingi oleh vanua. Peristiwa ini kemudian dikaitkan dengan manuskrip yang terdapat pada prasasti Grahi. samaryyāda merupakan kawasan yang berbatasan dengan vanua. dapat dilacak dari beberapa prasasti yang mengandung informasi penting tentang kadātuan. yang dapat dianggap sebagai kawasan kota dari Sriwijaya yang didalamnya terdapat vihara untuk tempat beribadah bagi masyarakatnya.kepada raja Melayu.

724 Utusan ke Khalifah Muawiyah I dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz Utusan ke Tiongkok 728-742 Lieou-t'eng-wei-kong 743774 775 Sri Maharaja Sriwijaya Pindah ke Jawa (Jawa Tengah atau Yogyakarta) Dharanindra atau Rakai Panangkaran Shih-li-fo-shih Belum ada berita pada periode ini Prasasti Ligor B tahun 775 di Nakhon Si Thammarat. didasarkan atas Carita Parahiyangan[27] kemudian dikaitkan dengan beberapa prasasti lain di Jawa yang berbahasa Melayu Kuna diantaranya prasasti Sojomert Para Maharaja Sriwijaya[2][6] Tahun Nama Raja Ibukota Prasasti. Walau asal-usul dinasti ini masih diperdebatkan sampai sekarang. selatan Thailand dan menaklukkan Kamboja Wangsa Sailendra mengantikan Wangsa Sanjaya Prasasti Kelurak 782 di sebelah utara kompleks Candi Prambanan Jawa Prasasti Kalasan tahun 778 di Candi Kalasan 671 Dapunta Hyang atau Sri Jayanasa Srivijaya Shih-li-fo-shih Sri Indrawarman 702 Shih-li-t-'o-pa-mo Rudra Vikraman 728 Sriwijaya Shih-li-fo-shih Sriwijaya 778 . menyebabkan salah satu keluarga dalam dinasti ini pindah ke Jawa.[26] Sementara Poerbatjaraka berpendapat bahwa dinasti ini berasal dari Nusantara. catatan pengiriman utusan ke Tiongkok serta peristiwa Catatan perjalanan I Tsing di tahun 671685.dijumpai nama Dapunta Selendra. keduanya berasal dari Kalinga di selatan India. Talang Tuo (684). penaklukan Jawa Prasasti Kedukan Bukit (683).[11] Majumdar berpendapat dinasti Sailendra ini terdapat di Sriwijaya (Suwarnadwipa) dan Medang (Jawa). Penaklukan Malayu. Karang Brahi dan Palas Pasemah Utusan ke Tiongkok 702-716.[25] Kemudian Moens menambahkan kedatangan Dapunta Hyang ke Palembang. Kota Kapur (686).

Rakai Pikatan Kehilangan kekuasaan di Jawa. Tanjore. Ha-ch'i-su-wa-ch'a-p'u (Haji Sumatrabhumi (?)). Catatan Atiśa. gelar haji biasanya untuk raja bawahan Diserang oleh Rajendra Chola I dan menjadi tawanan Prasasti Tanjore bertarikh 1030 pada candi Rajaraja. Utusan ke Tiongkok 988-992-1003.782 Samaragrawira atau Rakai Warak Samaratungga atau Rakai Garung Jawa Prasasti Nalanda dan prasasti Mantyasih tahun 907 Prasasti Karang Tengah tahun 824. dan kembali ke Suwarnadwipa Prasasti Nalanda tahun 860. pembangunan candi untuk kaisar Cina yang diberi nama cheng tien wan shou Prasasti Leiden & utusan ke Tiongkok 1008 Utusan San-fo-ts'i ke Tiongkok 1017: dengan raja.(Suwarnadwipa) tian-hwa San-fo-ts'i Sri MaraVijayottunggawarman Se-li-ma-la-pi San-fo-ts'i Kataha 1008 1017 1025 SangramaVijayottunggawarman Sriwijaya Kadaram 1030 1079 . Hie-tche (Haji) 990 Jawa menyerang Sriwijaya. 825 menyelesaikan pembangunan candi Borobudur Kebangkitan Wangsa Sanjaya. India 792 Jawa 840 856 861959 960 Balaputradewa Suwarnadwipa Belum ada berita pada periode ini Sri Udayaditya Warmadewa Se-li-hou-ta-hia-li-tan Sriwijaya Utusan ke Tiongkok 960. & 962 San-fo-ts'i Utusan ke Tiongkok 980 & 983: dengan raja. India Dibawah Dinasti Chola dari Koromandel Utusan San-fo-ts'i dengan raja Kulothunga Chola I (Ti-hua-ka-lo) ke Tiongkok 1079 membantu memperbaiki 980 Sri Cudamani Warmadewa 988 Sriwijaya Malayagiri Se-li-chu-la-wu-ni-fu-ma.

kaum nasionalis Indonesia juga mengagungkan Sriwijaya sebagai sumber kebanggaan dan bukti kejayaan masa lampau Indonesia. berupa kemaharajaan yang terdiri atas persekutuan kerajaan-kerajaan bahari. .1082 10891177 1178 1183 Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa Dharmasraya candi Tien Ching di Kuang Cho (dekat Kanton) Utusan San-fo-ts'i dari Kien-pi (Jambi) ke Tiongkok 1082 dan 1088 Belum ada berita Laporan Chou-Ju-Kua dalam buku Chufan-chi berisi daftar koloni San-fo-ts'i Dibawah Dinasti Mauli. seperti lagu dan tarian tradisional Gending Sriwijaya. penemuan kembali kemaharajaan bahari ini oleh Coedès pada tahun 1920-an telah membangkitkan kesadaran bahwa suatu bentuk persatuan politik raya.[29] Kegemilangan Sriwijaya telah menjadi sumber kebanggaan nasional dan identitas daerah. Kerajaan Melayu. dan Sriwijaya Football Club (Klab sepak bola Palembang). semua dinamakan demikian untuk menghormati. memuliakan. dan merayakan kemaharajaan Sriwijaya yang gemilang. Sriwijaya Post (Surat kabar harian di Palembang). Di Indonesia. pernah bangkit. tumbuh. Sriwijaya Air (maskapai penerbangan). keluhuran Sriwijaya telah menjadi inspirasi seni budaya. Stadion Gelora Sriwijaya. nama Sriwijaya telah digunakan dan diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota. Di samping Majapahit. Prasasti Grahi tahun 1183 di selatan Thailand WARISAN SEJARAH Meskipun Sriwijaya hanya menyisakan sedikit peninggalan arkeologi dan terlupakan dari ingatan masyarakat pendukungnya. Demikian pula Kodam II Sriwijaya (unit komando militer). provinsi Sumatera Selatan. khususnya bagi penduduk kota Palembang. Hal yang sama juga berlaku bagi masyarakat selatan Thailand yang menciptakan kembali tarian Sevichai yang berdasarkan pada keanggunan seni budaya Sriwijaya. dan nama ini juga digunakan oleh Universitas Sriwijaya yang didirikan tahun 1960 di Palembang. PT Pupuk Sriwijaya (Perusahaan Pupuk di Sumatera Selatan). Sriwijaya TV. dan berjaya di masa lalu.

Rasul. (1975). Ithaca. (1994). Jean Gelman (2003). Paul Michel (2006). Taylor. Geschiedenis van Nederlandsch Indië. Stapel. Pramono. 7. Amsterdam: N. St Petersburg. ISBN 981-4155-67-5. Cœdès.. entitled Chu-fan-chi. Budaya bahari. Bulletin de l'Ecole français d'Extrême-Orient 18 (6): 1-36. 14. Zainal Abidin (1979). Muljana.G. George (1930). 2. Jainal D. Brill Archive 13. Casparis. E. A. Joost van den Vondel. 18. MA. A record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago AD 671-695. Imprimerie Nationale. Ilmu politik Islam V. Quezon City: CARE Minorities. 10. Junjiro Takakusu. Sejarah nasional Indonesia: Jaman kuna. F. N. 9. New Haven and London: Yale University Press. (1938). by I-tsing. Stapel. Gabriel Ferrand. Nagapattinam to Suvarnadwipa: reflections on Chola naval expeditions to Southeast Asia. (1935). Part 1500. Kanisius. hlm. Institute of Southeast Asian. Mizan Pustaka. 5. Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Hirth. Cœdès. George (1918). 149. ISBN 0-300-10518-5. I p. 22. “Textes Chinois” 4. University of Hawaii Press.Rujukan Cœdès. PT Balai Pustaka. Munoz. Dr. (1896). Oxford.J. ISBN 0-8248-0368-X. 16. . Slamet (2006). LKiS Pelangi Aksara. Forgotten Kingdoms in Sumatra. ed. A. hlm. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Paris. "Le Royaume de Çriwijaya".W. Bulan Bintang. Sriwijaya. Early Indonesian Commerce: a study of the origins of Śrīvijaya.. Marwati Djoened Poesponegoro. Azyumardi (2006). (1992). pages 77. London. Azra. 6. "Les inscriptions malaises de Çrivijaya". R. H. N. ISBN 978-979-8451-62-1. ISBN 979-407-408-X 12. University of Madras. Krom. ISBN 979-413-290-X. 3. Chao Ju-kua. ISBN 979-433-430-8. Singapore: Editions Didier Millet. Sastri K. Islam in the Indonesian world: an account of institutional formation. ISBN 90-04-04172-9. (1922). Bulletin de l'Ecole français d'Extrême-Orient (BEFEO) 30: 29-80. Indonesia: Peoples and Histories. Ahmad. 8. Gramedia Pustaka Utama. ISBN 979-221351-1. (2003). Soekmono. ISBN 981-230-936-5. Oliver W. 17. The Indianized States of Southeast Asia. U. L’Empire Sumatranais de Crivijaya..M. Prof. Nugroho Notosusanto. Indonesian palaeography: a history of writing in Indonesia from the beginnings to C. George (1996). (2009). Wolters.V. J. 11. Sejarah Islam dan Umatnya sampai sekarang. H. PT. (1911). His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteen centuries. 20. 15. "Het Hindoe-tijdperk".W. (2002). di dalam F. Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia 2. vol. Agonies and Dreams: The Filipino Muslims and Other Minorities". 1. Azyumardi Azra. Jakarta: Mizan. The Cholas. Brill. J. Kulke. (1967). 21. 19. Cornell University Press. F. Djoko (2005).

"Le rois Çriwijaya de Suvarnadvipa". "Çriwijaya.L. Yāva en Katāha". "Kadātuan Śrīvijaya’—Empire or Kraton of Śrīvijaya? A Reassessment of the Epigraphic Data". "Preliminary report on the discovery of an Old malay inscription at Sojomerto". hlm. J.. Bulletin de l'Ecole français d'Extrême-Orient XXXIII: 121-144. Bandung: Masa Baru. (1993). (1956).. 23.N. Majumdar. 24. Prasasti Indonesia II: Selected Inscriptions from the 7th to the 9th century A.. H. MISI III: 241-251. Centrality: Indonesia's changing role in ASEAN Strategic Centrality: Indonesia's changing role in ASEAN.L. Vol. II. Bulletin de l’École Française d’Extreme Orient 80 (1): 159-180. A.C. 27. (2000). Smith. R. Casparis. . J. TBG LXXVII: 317-487. (1956). BKI 114: 254-264. R. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. 28. de Çailendra-en de Sanjāyavança". Poerbatjaraka..D.. "Çriwijaya. Boechari (1966). (1937). 9. (1933).Kulke.C. ISBN 981-230-103-8. 25. Moensr. 29. 26.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->