Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Profil Bacharuddin Jusuf Habibie


Bacharuddin Jusuf Habibie (lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni
1936; umur 74 tahun) adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Ia
menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada
tanggal 21 Mei 1998. Jabatannya digantikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
yang terpilih sebagai presiden pada 20 Oktober 1999 oleh MPR hasil Pemilu
1999. Dengan menjabat selama 2 bulan dan 7 hari sebagai wakil presiden, dan 1
tahun dan 5 bulan sebagai presiden, Habibie merupakan Wakil Presiden dan juga
Presiden Indonesia dengan masa jabatan terpendek.

B. Latar Belakang
Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi
Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Alwi Abdul Jalil
Habibie lahir pada tanggal 17 Agustus 1908 di Gorontalo dan R.A. Tuti Marini
Puspowardojo lahir di Yogyakarta 10 November 1911. Ibunda R.A. Tuti Marini
Puspowardojo adalah anak seorang spesialis mata di Yogya, dan ayahnya yang
bernama Puspowardjojo bertugas sebagai penilik sekolah. B.J. Habibie adalah
salah satu anak dari tujuh orang bersaudara.
B.J. Habibie menikah dengan Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei
1962, dan dikaruniai dua orang putra, yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.
Ia belajar teknik mesin di Institut Teknologi Bandung tahun 1954. Pada 1955-
1965 ia melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat
terbang, di RWTH Aachen, Jerman Barat, menerima gelar diplom ingineur pada
1960 dan gelar doktor ingineur pada 1965 dengan predikat summa cum laude.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Perkembangan Politik Setelah 21 Mei 1998


1. Pengangkatan Habibie Menjadi Presiden Republik Indonesia
Setelah B.J. Habibie dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia pada
tanggal 21 Mei 1998. Tugas Habibie menjadi Presiden menggantikan Presiden
Soeharto sangatlah berat yaitu berusaha untuk mengatasi krisis ekonomi yang
melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997.
Habibie yang manjabat sebagai presiden menghadapi keberadaan
Indonesia yang serba parah, baik dari segi ekonomi, politik, sosial, dan budaya.
Langkah-langkah yang dilakukan oleh Habibie adalah berusaha untuk dapat
mengatasi krisis ekonomi dan politik. Untuk menjalankan pemerintahan, Presiden
Habibie tidak mungkin dapat melaksanakannya sendiri tanpa dibantu oleh
menteri-menteri dari kabinetnya.
Pada tanggal 22 Mei 1998, Presiden Republik Indonesia yang ketiga B.J.
Habibie membentuk kabinet baru yang dinamakan Kabinet Reformasi
Pembangunan. Kabinet itu terdiri atas 16 orang menteri, dan para menteri itu
diambil dari unsur-unsur militer (ABRI), Golkar, PPP, dan PDI.
Dalam bidang ekonomi, pemerintahan Habibie berusaha keras untuk
melakukan perbaikan. Ada beberapa hal yang dilakukan oleh pemerintahan
Habibie untuk meperbaiki perekonomian Indonesia antaranya :

• Merekapitulasi perbankan
• Merekonstruksi perekonomian Indonesia.
• Melikuidasi beberapa bank bermasalah.
• Manaikan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat hingga di
bawah Rp.10.000,-
• Mengimplementasikan reformasi ekonomi yang diisyaratkan oleh IMF.

Presiden Habibie sebagai pembuka sejarah perjalanan bangsa pada era


reformasi mangupayakan pelaksanaan politik Indonesia dalam kondisi yang

2
transparan serta merencanakan pelaksanaan pemilihan umum yang langsung,
umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Pemilihan umum yang akan diselenggarakan
di bawah pemerintahan Presiden Habibie merupakan pemilihan umum yang telah
bersifat demokratis. Habibie juga membebaskan beberapa narapidana politik yang
ditahan pada zaman pemerintahan Soeharto. Kemudian, Presiden Habibie juga
mencabut larangan berdirinya serikat-serikat buruh independent.

2. Kebebasan Menyampaikan Pendapat


Pada masa pemerintahan Habibie, orang bebas mengemukakan
pendapatnya di muka umum. Presiden Habibie memberikan ruang bagi siapa saja
yang ingin menyampaikan pendapat, baik dalam bentuk rapat-rapat umum
maupun unjuk rasa atau demontrasi. Namun khusus demontrasi, setiap organisasi
atau lembaga yang ingin melakukan demontrasi hendaknya mendapatkan izin dari
pihak kepolisian dan menentukan tempat untuk melakukan demontrasi tersebut.
Hal ini dilakukan karena pihak kepolisian mengacu kepada UU No.28 tahun 1997
tentang Kepolisian Republik Indonesia.
Namun, ketika menghadapi para pengunjuk rasa, pihak kepolisian sering
menggunakan pasal yang berbeda-beda. Pelaku unjuk rasa yang di tindak dengan
pasal yang berbeda-beda dapat dimaklumi karena untuk menangani penunjuk rasa
belum ada aturan hukum jelas.
Untuk menjamin kepastian hukum bagi para pengunjuk rasa, pemerintahan
bersama (DPR) berhasil merampungkan perundang-undangan yang mengatur
tentang unjuk rasa atau demonstrasi. adalah UU No. 9 tahun 1998 tentang
Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.
Adanya undang – undang tersebut menunjukkan bahwa pemerintah
memulai pelaksanaan sistem demokrasi yang sesungguhnya. Namun sayangnya,
undang-undang itu belum memasyarakat atau belum disosialisasikan dalam
kehidupan masarakat. Penyampaian pendapat di muka umum dapat berupa suatu
tuntutan, dan koreksi tentang suatu hal.

3
3. Masalah Dwifungsi ABRI
Menanggapi munculnya gugatan terhadap peran dwifungsi ABRI
menyusul turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan, ABRI melakukan langkah-
langkah pembaharuan dalam perannya di bidang sosial-politik.
Setelah reformasi dilaksanakan, peran ABRI di Perwakilan Rakyat DPR
mulai dikurangi secara bertahap yaitu dari 75 orang menjadi 38 orang. Langkah
lain yang di tempuh adalah ABRI semula terdiri dari empat angkatan yaitu
Angkatan Darat, Laut, dan Udara serta Kepolisian RI, namun mulai tanggal 5 Mei
1999 Polri memisahkan diri dari ABRI dan kemudian berganti nama menjadi
Kepolisian Negara. Istilah ABRI pun berubah menjadi TNI yang terdiri dari
Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara.

4. Reformasi Bidang Hukum


Pada masa Pemerintahan Presiden B.J. Habibie dilakukan reformasi di
bidang hukum Reformasi hukum itu disesuaikan dengan aspirasi yang
berkembang dimasyarakat. Tindakan yang dilakukan oleh Presiden Habibie untuk
mereformasi hukum mendapatkan sambutan baik dari berbagai kalangan
masyarakat, karena reformasi hukum yang dilakukannya mengarah kepada
tatanan hukum yang ditambakan oleh masyarakat.
Ketika dilakukan pembongkaran terhadapat berbagai produksi hukum atau
undang-undang yang dibuat pada masa Orde Baru, maka tampak dengan jelas
adanya karakter hukum yang mengebiri hak-hak.
Selama pemerintahan Orde Baru, karakter hukum cenderung bersifat
konservatif, ortodoks maupun elitis. Sedangkan hukum ortodoks lebih tertutup
terhadap kelompok-kelompok sosial maupun individu didalam masyarakat. Pada
hukum yang berkarakter tersebut, maka porsi rakyat sangatlah kecil, bahkan bias
dikatakan tidak ada sama sekali.
Oleh karena itu, produk hukum dari masa pemerintahan Orde Baru sangat
tidak mungkin untuk dapat menjamin atau memberikan perlindungan terhadap
Hak-hak Asasi Manusia (HAM), berkembangnya demokrasi serta munculnya
kreativitas masyarakat.

4
5. Sidang Istimewa MPR
Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, telah dua kali lembaga
tertinggi Negara melaksanakan Sidang Istimewa, yaitu pada tahun 1967 digelar
Sidang Istimewa MPRS yang kemudian memberhentikan Presiden Soekarno dan
mengangkat Soeharto menjadi Presiden Rebuplik Indonesia. Kemudian Sidang
Istimewa yang dilaksanakan antara tanggal 10 – 13 Nopember 1998 diharapkan
MPR benar-benar menyurahkan aspirasi masyarakat dengan perdebatan yang
lebih segar, lebih terbuka dan dapat menampung, aspirasi dari berbagai kalangan
masyarakat. Hasil dari Sidang Istimewa MPR itu memutuskan 12 Ketetapan.

6. Pemilihan Umum Tahun 1999


Pemilihan Umum yang dilaksanakan tahun 1999 menjadi sangat penting,
karena pemilihan umum tersebut diharapkan dapat memulihkan keadaan
Indonesia yang sedang dilanda multikrisis. Pemilihan umum tahun 1999 juga
merupakan ajang pesta rakyat Indonesia dalam menunjukkan kehidupan
berdemokrasi. Maka sifat dari pemilihan umum itu adalah langsung, umum,
bebas, rahasia, jujur, dan adil.
Presiden Habibie kemudian menetapkan tanggal 7 Juni 1999 sebagai
waktu pelaksanaan pemiliahan umum tersebut. Selanjutnya lima paket undang-
undang tentang politik dicabut. Sebagai gantinya DPR berhasil menetapkan tiga
undang-undang politik baru. Ketiga udang-undang itu disahkan pada tanggal 1
Februari 1999 dan ditandatangani oleh Presiden Habibie. Ketiga udang-udang itu
antara lain undang-undang partai politik, pemilihan umum, susunan serta
kedudukan MPR, DPR dan DPRD.
Munculnya undang-undang politik yang baru memberikan semangat untuk
berkembangnya kehidupan politik di Indonesia. Dengan munculnya undang-
undang politik itu partai-partai politik bermunculan dan bahkan tidak kurang dari
112 partai politik telah berdiri di Indonesia pada masa itu. Namun dari sekian
banyak jumlahnya, hanya 48 partai politik yang berhasil mengikuti pemilihan
umum. Hal ini disebabkan karena aturan seleksi partai-partai politik diberlakukan
dengan cukup ketat.

5
Pelaksanaan pemilihan umum ditangani oleh sebuah lembaga yang
bernama Komisi Pemilihan Umum (KPU). Anggota KPU terdiri dari wakil-wakil
dari pemerintah dan wakil-wakil dari partai-partai politik peserta pemilihan
umum.
Banyak pengamat menyatakan bahwa pemilihan umum tahun 1999 akan
terjadi kerusuhan, namun pada kenyataannya pemilihan umum berjalan dengan
lancar dan aman. Setelah penghitungan suara berhasil diselesaikan oleh Komisi
Pemilihan Umum (KPU), hasilnya lima besar partai yang berhasil meraih suara-
suara terbanyak di anataranya PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Persatuan
pembangunan, Partai Pembangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional. Hasil
pemilihan umum tahun 1999 hingga saat terakhir pengumuman hasil perolehan
suara dari partai-partai politik berjalan dengan aman dan dapat di terima oleh
suara partai peserta pemilihan umum.

B. Masa Kepresidenan
Habibie mewarisi kondisi kacau balau pasca pengunduran diri Soeharto
akibat salah urus di masa orde baru, sehingga menimbulkan maraknya kerusuhan
dan disintegerasi hampir seluruh wilayah Indonesia. Segera setelah memperoleh
kekuasaan Presiden Habibie segera membentuk sebuah kabinet. Salah satu tugas
pentingnya adalah kembali mendapatkan dukungan dari Dana Moneter
Internasional dan komunitas negara-negara donor untuk program pemulihan
ekonomi. Dia juga membebaskan para tahanan politik dan mengurangi kontrol
pada kebebasan berpendapat dan kegiatan organisasi.
Pada era pemerintahannya yang singkat ia berhasil memberikan landasan
kokoh bagi Indonesia, pada eranya dilahirkan UU Anti Monopoli atau UU
Persaingan Sehat, perubahan UU Partai Politik dan yang paling penting adalah
UU otonomi daerah. Melalui penerapan UU otonomi daerah inilah gejolak
disintergrasi yang diwarisi sejak era Orde Baru berhasil diredam dan akhirnya
dituntaskan di era presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tanpa adanya UU
otonomi daerah bisa dipastikan Indonesia akan mengalami nasib sama seperti Uni
SovietYugoslavia. dan

6
Di bidang ekonomi, ia berhasil memotong nilai tukar rupiah terhadap
dollar masih berkisar antara Rp 10.000 – Rp 15.000. Namun pada akhir
pemerintahannya, terutama setelah pertanggungjawabannya ditolak MPR, nilai
tukar rupiah meroket naik pada level Rp 6500 per dolar AS nilai yang tidak akan
pernah dicapai lagi di era pemerintahan selanjutnya. Selain itu, ia juga memulai
menerapkan independensi Bank Indonesia agar lebih fokus mengurusi
perekonomian.
Salah satu kesalahan yang dinilai pihak oposisi terbesar adalah setelah
menjabat sebagai Presiden, B.J. Habibie memperbolehkan diadakannya
referendum provinsi Timor Timur (sekarang Timor Leste), ia mengajukan hal
yang cukup menggemparkan publik saat itu, yaitu mengadakan jajak pendapat
bagi warga Timor Timur untuk memilih merdeka atau masih tetap menjadi bagian
dari Indonesia. Pada masa kepresidenannya, Timor Timur lepas30 Agustus 1999.
Lepasnya Timor Timur di satu sisi memang disesali oleh sebagian warga negara
Indonesia, tapi disisi lain membersihkan nama Indonesia yang sering tercemar
oleh tuduhan pelanggaran HAM di Timor Timur. dari Negara Kesatuan Republik
Indonesia dan menjadi negara terpisah yang berdaulat pada tanggal
Kasus inilah yang mendorong pihak oposisi yang tidak puas dengan latar
belakang Habibie semakin giat menjatuhkan Habibie. Upaya ini akhirnya berhasil
dilakukan pada Sidang Umum 1999, ia memutuskan tidak mencalonkan diri lagi
setelah laporan pertanggungjawabannya ditolak oleh MPR.
Pandangan terhadap pemerintahan Habibie pada era awal reformasi
cenderung bersifat negatif, tapi sejalan dengan perkembangan waktu banyak yang
menilai positif pemerintahan Habibie. Salah pandangan positif itu dikemukan oleh
L. Misbah Hidayat Dalam bukunya Reformasi Administrasi: Kajian Komparatif
Pemerintahan Tiga Presiden.
Visi, misi dan kepemimpinan presiden Habibie dalam menjalankan agenda
reformasi memang tidak bisa dilepaskan dari pengalaman hidupnya. Setiap
keputusan yang diambil didasarkan pada faktor-faktor yang bisa diukur. Maka
tidak heran tiap kebijakan yang diambil kadangkala membuat orang terkaget-
kaget dan tidak mengerti. Bahkan sebagian kalangan menganggap Habibie apolitis
dan tidak berperasaan. Pola kepemimpinan Habibie seperti itu dapat dimaklumi

7
mengingat latar belakang pendidikannya sebagai doktor di bidang konstruksi
pesawat terbang. Berkaitan dengan semangat demokratisasi, Habibie telah
melakukan perubahan dengan membangun pemerintahan yang transparan dan
dialogis. Prinsip demokrasi juga diterapkan dalam kebijakan ekonomi yang
disertai penegakan hukum dan ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Dalam
mengelola kegiatan kabinet sehari-haripun, Habibie melakukan perubahan besar.
Ia meningkatkan koordinasi dan menghapus egosentisme sekotral antarmenteri.
Selain itu sejumlah kreativitas mewarnai gaya kepemimpinan Habibie dalam
menangani masalah bangsa.[4] Untuk mengatasi persoalan ekonomi, misalnya, ia
mengangkat pengusaha menjadi utusan khusus. Dan pengusaha itu sendiri yang
menanggung biayanya. Tugas tersebut sangat penting, karena salah satu
kelemahan pemerintah adalah kurang menjelaskan keadaan Indonesia yang
sesungguhnya pada masyarakat internasional. Sementara itu pers, khususnya pers
asing, terkesan hanya mengekspos berita-berita negatif tentang Indonesia
sehingga tidak seimbang dalam pemberitaan.
Habibie mewarisi kondisi kacau balau pasca pengunduran diri Soeharto
akibat salah urus di masa orde baru, sehingga menimbulkan maraknya kerusuhan
dan disintegerasi hampir seluruh wilayah Indonesia. Segera setelah memperoleh
kekuasaan Presiden Habibie segera membentuk sebuah kabinet. Salah satu tugas
pentingnya adalah kembali mendapatkan dukungan dari Dana Moneter
Internasional dan komunitas negara-negara donor untuk program pemulihan
ekonomi. Dia juga membebaskan para tahanan politik dan mengurangi kontrol
pada kebebasan berpendapat dan kegiatan organisasi.
Pada era pemerintahannya yang singkat ia berhasil memberikan landasan
kokoh bagi Indonesia, pada eranya dilahirkan UU Anti Monopoli atau UU
Persaingan Sehat, perubahan UU Partai Politik dan yang paling penting adalah
UU otonomi daerah. Melalui penerapan UU otonomi daerah inilah gejolak
disintergrasi yang diwarisi sejak era Orde Baru berhasil diredam dan akhirnya
dituntaskan di era presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tanpa adanya UU
otonomi daerah bisa dipastikan Indonesia akan mengalami nasib sama seperti Uni
Soviet dan Yugoslavia.

8
Di bidang ekonomi, ia berhasil memotong nilai tukar rupiah terhadap
dollar masih berkisar antara Rp 10.000 – Rp 15.000. Namun pada akhir
pemerintahannya, terutama setelah pertanggungjawabannya ditolak MPR, nilai
tukar rupiah meroket naik pada level Rp 6500 per dolar AS nilai yang tidak akan
pernah dicapai lagi di era pemerintahan selanjutnya. Selain itu, ia juga memulai
menerapkan independensi Bank Indonesia agar lebih fokus mengurusi
perekonomian.
Salah satu kesalahan yang dinilai pihak oposisi terbesar adalah setelah
menjabat sebagai Presiden, B.J. Habibie memperbolehkan diadakannya
referendum provinsi Timor Timur (sekarang Timor Leste), ia mengajukan hal
yang cukup menggemparkan publik saat itu, yaitu mengadakan jajak pendapat
bagi warga Timor Timur untuk memilih merdeka atau masih tetap menjadi bagian
dari Indonesia. Pada masa kepresidenannya, Timor Timur lepas dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia dan menjadi negara terpisah yang berdaulat pada
tanggal 30 Agustus 1999. Lepasnya Timor Timur di satu sisi memang disesali
oleh sebagian warga negara Indonesia, tapi disisi lain membersihkan nama
Indonesia yang sering tercemar oleh tuduhan pelanggaran HAM di Timor Timur.
Kasus inilah yang mendorong pihak oposisi yang tidak puas dengan latar
belakang Habibie semakin giat menjatuhkan Habibie. Upaya ini akhirnya berhasil
dilakukan pada Sidang Umum 1999, ia memutuskan tidak mencalonkan diri lagi
setelah laporan pertanggungjawabannya ditolak oleh MPR.
Pandangan terhadap pemerintahan Habibie pada era awal reformasi
cenderung bersifat negatif, tapi sejalan dengan perkembangan waktu banyak yang
menilai positif pemerintahan Habibie. Salah pandangan positif itu dikemukan oleh
L. Misbah Hidayat Dalam bukunya Reformasi Administrasi: Kajian Komparatif
Pemerintahan Tiga Presiden.
Visi, misi dan kepemimpinan presiden Habibie dalam menjalankan agenda
reformasi memang tidak bisa dilepaskan dari pengalaman hidupnya. Setiap
keputusan yang diambil didasarkan pada faktor-faktor yang bisa diukur. Maka
tidak heran tiap kebijakan yang diambil kadangkala membuat orang terkaget-
kaget dan tidak mengerti. Bahkan sebagian kalangan menganggap Habibie apolitis
dan tidak berperasaan. Pola kepemimpinan Habibie seperti itu dapat dimaklumi

9
mengingat latar belakang pendidikannya sebagai doktor di bidang konstruksi
pesawat terbang. Berkaitan dengan semangat demokratisasi, Habibie telah
melakukan perubahan dengan membangun pemerintahan yang transparan dan
dialogis. Prinsip demokrasi juga diterapkan dalam kebijakan ekonomi yang
disertai penegakan hukum dan ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Dalam
mengelola kegiatan kabinet sehari-haripun, Habibie melakukan perubahan besar.
Ia meningkatkan koordinasi dan menghapus egosentisme sekotral antarmenteri.
Selain itu sejumlah kreativitas mewarnai gaya kepemimpinan Habibie
dalam menangani masalah bangsa. Untuk mengatasi persoalan ekonomi,
misalnya, ia mengangkat pengusaha menjadi utusan khusus. Dan pengusaha itu
sendiri yang menanggung biayanya. Tugas tersebut sangat penting, karena salah
satu kelemahan pemerintah adalah kurang menjelaskan keadaan Indonesia yang
sesungguhnya pada masyarakat internasional. Sementara itu pers, khususnya pers
asing, terkesan hanya mengekspos berita-berita negatif tentang Indonesia
sehingga tidak seimbang dalam pemberitaan.

C. Masa Pasca Kepresidenan


Setelah ia turun dari jabatannya sebagai presiden, ia lebih banyak tinggal
di Jerman daripada di Indonesia. Tetapi ketika era kepresidenan Susilo Bambang
Yudhoyono, ia kembali aktif sebagai penasehat presiden untuk mengawal proses
demokratisasi di Indonesia lewat organisasi yang didirikannya Habibie Center.
Dibandingkan dengan para mantan presiden sebelum era Susilo Bambang
Yudhoyono, Habibie memperoleh nama harum di kalangan generasi muda pasca
reformasi. Hal ini disebabkan bahwa ia mungkin adalah satu-satunya presiden
dalam sejarah yang memegang negara yang mengalami disintergrasi parah,
birokrasi yang bobrok dan militer yang mentalnya rendah tapi berhasil
menyelamatkan negara tersebut dan memberi fondasi baru yang kokoh bagi
penerusnya. Memang pada masa Habibie Indonesia harus melepas Timor Timur,
tetapi ia berhasil mempertahankan wilayah eks Hindia Belanda tetap bersatu
dalam Republik Indonesia

10
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Salah satu kesalahan yang dinilai pihak oposisi terbesar adalah setelah
menjabat sebagai Presiden, B.J. Habibie memperbolehkan diadakannya
referendum provinsi Timor Timur (sekarang Timor Leste). Timor Timur
sebelumnya merupakan sebuah provinsi yang ke-27 menjadi bagian Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Timor Timur berintegrasi dengan wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia setelah dijajah oleh Portugal pada awal abad ke-
16. Wilayah provinsi ini meliputi bagian timur pulau Timor, pulau Kambing atau
Atauro, pulau Jaco dan sebuah eksklave di Timor bagian barat yang dikelilingi
oleh provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia mengajukan hal yang cukup
menggemparkan publik saat itu, yaitu mengadakan jajak pendapat bagi warga
Timor Timur untuk memilih merdeka atau masih tetap menjadi bagian dari
Indonesia. Pada masa kepresidenannya, Timor Timur lepas dari Negara Kesatuan
Republik Indonesia dan menjadi negara terpisah yang berdaulat pada tanggal 30
Agustus 1999. Lepasnya Timor Timur di satu sisi memang disesali oleh sebagian
warga negara Indonesia, tapi disisi lain membersihkan nama Indonesia yang
sering tercemar oleh tuduhan pelanggaran HAM di Timor Timur.
Kasus inilah yang mendorong pihak oposisi yang tidak puas dengan latar
belakang Habibie semakin giat menjatuhkan Habibie. Upaya ini akhirnya berhasil
dilakukan pada Sidang Umum 1999, ia memutuskan tidak mencalonkan diri lagi
setelah laporan pertanggungjawabannya ditolak oleh MPR.

B. Saran
Kelebihan :
• Habibie berusaha mendapatkan dukungan internasional melalui beragam
cara. Diantaranya, pemerintahan Habibie menghasilkan dua Undang-
Undang (UU) yang berkaitan dengan perlindungan atas hak asasi manusia.
• Pemerintahan Habibie berhasil mendorong ratifikasi empat konvensi
internasional dalam masalah hak-hak pekerja.

11
• Habibie berhasil mendapat kepercayaan dari IMF dan Bank Dunia yang
kemudian memutuskan untuk mencairkan program bantuan untuk
mengatasi krisis ekonomi sebesar 43 milyar dolar dan bahkan menawarkan
tambahan bantuan sebesar 14 milyar dolar.
• Pembentukan KOMNAS PEREMPUAN
• Berhasil melakukan perubahan dengan membangun pemerintahan yang
transparan dan dialogis.
• Menghapus egosentisme sekotral antarmenteri

Kelemahan :
• Habibie mengeluarkan kebijakan yang jauh lebih radikal dengan
menyatakan bahwa Indonesia akan memberi opsi referendum untuk
mencapai solusi final atas masalah Timor Timur. Hal ini pula lah yang
menyebabkan pidato pertanggung jawabannya ditolak oleh MPR
• Ketidakmampuannya bersikap sebagai seorang negarawan, sehingga ia
tampak kurang berwibawa dan kurang tegas.

12

Anda mungkin juga menyukai