Anda di halaman 1dari 122

BAHAN PERKULIAHAN

MATA KULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN (MPK)


PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKn)

Kata Pengantar
Daftar Pustaka

Bab I Pendahuluan
1.1 Dasar Pemikiran MPK PKn
1.2 Landasan Yuridis MPK PKn
1.3 Visi dan misi MPK PKn
1.4 Kompetensi dasar MPK PKn

Bab II Pengantar Pendidikan Kewarganegaraan


2.1 Pengertian dan latar belakang PKn
2.2 Sejarah dan perkembangan PKn
2.3 Substansi kajian PKn
2.4 Metodologi dan tujuan pembelajaran PKn

Bab III Filsafat Pancasila


3.1 Pengertian Pancasila
3.2 Pancasila sebagai sistem filsafat
3.3 Susunan isi arti Pancasila
3.4 Asal mula Pancasila sebagai ideologi
3.5 Pancasila sebagai ideologi terbuka

Bab IV Identitas Nasional


4.1 Pengertian identitas nasional
4.2 Lambang-lambang negara
4.3 Nilai-nilai budaya bangsa
4.4 Etika dan moral bangsa

Bab V Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia


5.1 Pengertian warga negara, penduduk, dan rakyat
5.3 Hak-hak warga negara
5.4 Kewajiban warga negara
Bab VI Demokrasi Indonesia
6.1 Pengertian negara, teori, terjadinya negara, sifat dan unsur-unsur negara
6.2 Pengertian dan konsep demokrasi
6.3 Demokrasi dalam sistem NKRI

Bab VII Hak Asasi Manusia


7.1 Pengertian HAM
7.2 Latar belakang munculnya HAM
7.3 Perkembangan konsep hukum internasional tentang HAM
7.4 Pelaksanaan HAM di Indonesia

Bab VIII Penegakan, Peningkatan dan Kesadaran Hukum (Rule Of Law)


8.1 Pengertian Rule of Law
8.2 Sistem Pemerintahan Negara
8.3 Amandemen UUD 1945
8.4 Kesadaran Hukum WNI

Bab IX Geopolitik (Wawasan Nusantara)


9.1 Pengertian Wanus
9.2 Latar belakang terbentuknya Wanus
9.4 Konsepsi Wanus
9.4 Perwujudan Wanus
9.5 Unsur dasar Wanus

Bab X Geostrategi (Ketahanan Nasional)


10.1 Pengertian Tannas
10.2 Latar belakang Tannas
10.3 Konsepsi Tannas
10.4 Hakikat dan wujud Tannas
10.5 Bela negara dan sistem pertahanan dan keamanan negara

Bab XI Polstranas (Politik Strategi Nasional)


11.1 Pengertian Polstranas
11.2 Sistem politik Indonesia
11.3 Konsep strategi nasional dan implementasi
11.4 Wujud politik dan strategi nasional Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Dasar Pemikiran MPK PKn


Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian adalah kelompok
bahan kajian dan pelajaran untuk mengembangkan manusia Indonesia yang
beriman dan bertaqwa terhadap TYME dan berbudi pekerti luhur,
berkepribadian mantap, dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan. MPK bertujuan untuk pendayaan wawasan,
pendalaman intensitas, pemahaman dan pengayaan bahan kajian agar mampu
membangun kesadarannya sendiri guna membentuk manusia Indonesia
seutuhnya. Kesemua mata kuliah dalam kelompok MPK termasuk pendidikan
afektif, yaitu untuk mewujudkan nilai dasar agama dan kebudayaan serta
kesadaran berbangsa dan bernegara dalam menerapkan ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni yang dikuasainya dengan rasa tanggung jawab
kemanusiaan.

1.2 Landasan Yuridis MPK PKn


Pendidikan Kewarganegaraan diajarkan khususnya pada lingkungan
pendidikan tinggi di Indonesia, berlandaskan pada :
1) Pembukaan UUD 1945 dalam alinea II dan IV, tersurat dalam cita-cita dan
tujuan nasional bangsa Indonesia.
2) Batang Tubuh UUD 1945 pasal 31 ayat 1-5 tentang Pendidikan.
3) Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik IndonesiaNomor
232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi
dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa, dan Nomor 045/U/2002 tentang
Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi, antara lain ditegaskan jenis kurikulum inti
Program Diploma dan Sarjana, meliputi kelompok Mata Kuliah
Pengembangan Kurikulum (MPK), Mata Kuliah Keilmuan dan Keterampilan
(MKK), Kelompok Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB), Mata Kuliah
Perilaku Berkarya (MPB), Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB).
4) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 37 ayat 2 menjelaskan bahwa
kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat Pendidikan Agama, Pendidikan
Kewarganegaraan, dan Bahasa.
5) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan mewajibkan kurikulum tingkat satuan
pendidikan tinggi memuat mata kuliah Pendidikan Agama, Pendidikan
Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia, serta Bahasa Inggris, dan
kurikulum tingkat satuan pendidikan tinggi Program Diploma dan Sarjana
wajib memuat mata kuliah yang bermuatan kepribadian, kebudayaan, serta
mata kuliah statistika dan atau matematika.
6) Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor
43/DIKTI/Kep/2006 menetapkan tentang visi dan misi kelompok Mata Kuliah
Pengembangan Kepribadian, yaitu meliputi kompetensi Pendidikan Agama,
Pendidikan Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia.

1.3 Visi dan Misi MPK PKn


Pendidikan Kewarganegaraan yang berhasil akan menumbuhkan dan
membuahkan sikap mental yang cerdas, penuh rasa tanggung jawab dari
peserta didik. Sikap mental ini disertai dengan perilaku, sebagai berikut:
(1) Beriman dan bertaqwa kepada TYME dan menghayati nilai-nilai falsafah
bangsa;
(2) Berbudi pekerti luhur, berdisiplin dalam masyarakat, berbangsa, dan
bernegara;
(3) Rasional, dinamis, dan sadar akan hak dan kewajiban sebagai warga
negara;
(4) Bersifat profesional yang dijiwai oleh kesadaran bela negara sebagai warga
negara; serta
(5) Aktif memanfaatkan ipteks untuk kepentingan kemanusiaan, bangsa, dan
negara.
Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi
Nomor 43/DIKTI/Kep/2006 menetapkan tentang visi dan misi kelompok Mata
Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK), yaitu:
A. Visi
Sumber nilai dan pedoman dalam pengembangan dan penyelenggaraan
program studi guna mengantarkan mahasiswa memantapkan
kepribadiannya sebagai manusia yang berkarakter Indonesia seutuhnya.
B. Misi
Membantu mahasiswa memantapkan kepribadiannya agar secara konsisten
mampu mewujudkan nilai-nilai dasar keagamaan dan kebudayaan,
semangat kebangsaan dan cinta tanah air sepanjang hayat dalam
menguasai, menerapkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni yang dimilikinya dengan rasa tanggung jawab.

1.4 Kompetensi Dasar MPK PKn


Standar kompetensi yang wajib dikuasai mahasiswa, meliputi
pengetahuan tentang nilai-nilai agama, budaya, dan kewarganegaraan serta
mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara, kompetensi dasar untuk mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan
adalah membimbing mahasiswa menjadi ilmuwan dan profesional yang
memiliki semangat kebangsaan dan cinta tanah air, demokratis yang
berkeadaban, menjadi warga Negara yang memiliki daya saing, berdisiplin, dan
berpartisipasi aktif dalam membangun kehidupan yang damai berdasarkan
sistem nilai Pancasila.
Selanjutnya, melalui Pendidikan Kewarganegaraan ini kompetensi yang
diharapkan adalah mampu memahami, menganalisis dan menjawab masalah-
masalah yang dihadapi oleh masyarakat, bangsa, dan negara secara
berkesinambungan dan konsisten dengan cita-cita dan tujuan nasional, seperti
yang digariskan dalam Pembukaan UUD 1945.
BAB II
PENGANTAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

2.1 Pengertian dan Latar Belakang PKn


A. Pengertian PKn
Kata kewarganegaraan dalam bahasa Latin disebut Civicus. Selanjutnya,
kata Civicus diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi kata Civic yang artinya
mengenai warga negara atau kewarganegaraan. Dari kata Civic lahir kata Civic
yaitu ilmu kewarganegaraan, dan Civic Education, yaitu Pendidikan
Kewarganegaraan.
Pelajaran Civics atau kewarganegaraan telah dikenal di Indonesia sejak
zaman kolonial Belanda dengan nama Burgerkunde. Pelajaran ini pada
hakikatnya untuk kepentingan penguasa kolonial, yang pada saat itu diberikan
di sekolah guru, sedangkan kebanyakan sekolah lanjutan mendapat pelajaran
Staats Inricting (Tata Negara).
Terdapat dua buku pelajaran Civics yang digunakan, yaitu :
1) Indische Burgerscapkunde yang disusun oleh P. Tromps diterbitkan oleh
penerbit J.B. Wolters Maatschappij N.V. Groningen tahun 1934.
2) Rech en Plicht yang disusun oleh J.B. Vortman diterbitkan oleh G.C.T. van
Dorp dan Co. N.V. tahun 1940.
Selanjutnya, Pendidikan Kewarganegaraan sebagai mata kuliah wajib
yang harus ditempuh mahasiswa di Peguruan Tinggi. Pendidikan
Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi sekarang ini diwujudkan dengan mata
kuliah Pendidikan Kewarganegaraan berdasarkan SK Dirjen Dikti
No.267/Dikti/Kep/2000 tentang Penyempurnaan Kurikulum Mata Kuliah
Pengembangan Kepribadian Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan
Tinggi. Kemudian penjabaran operasional mata kuliah Pendidikan
Kewarganegaraan lebih lanjut diatur dengan SK Dirjen Dikti No.
38/Dikti/Kep/2002 tentang Rambu-Rambu Pelaksanaan Mata Kuliah
Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.
Menurut Pasha (2002:12) pengertian Pendidikan Kewarganegaraan
merupakan materi perkuliahan yang menyangkut pemahaman tentang
persatuan dan kesatuan, kesadaran warga negara dalam bernegara, hak dan
kewajiban warga negara dalam berbangsa dan bernegara, serta pendidikan
bela negara. Lalu, Azra (2001:7) Pendidikan Kewarganegaraan adalah
pendidikan yang cakupannya lebih luas dari pendidikan demokasi dan
pendidikan HAM. Zamroni dalam Tim ICCE UIN Jakarta (2001:7) bahwa
Pendidikan Kewarganegaraan adalah pendidikan demokrasi yang bertujuan
untuk mempersiapkan warga masyarakat berpikir kritis dan bertindak
demokratis.
Berbeda dengan pendapat di atas, Soemantri dalam Tim ICCE UIN
Jakarta (2001:8) mengenai Pendidikan Kewarganegaraan sebagai kegiatan
yang meliputi seluruh program sekolah yang meliputi berbagai macam kegiatan
mengajar yang dapat menumbuhkan hidup dan perilaku yang lebih baik dalam
masyarakat demokratis. Sedangkan, menurut Civitas Internasional dalam Tim
ICCE UIN Jakarta (2001:8) bahwa Civic Education atau Pendidikan
Kewarganegaraan adalah pendidikan yang mencakup pemahaman dasar
tentang cara kerja demokrasi dan lembaga-lembaganya, tentang rule of law,
HAM, penguatan keterampilan partisipatif yang demokratis, pengembangan
budaya demokrasi dan perdamaian.
Dikemukakan oleh Puskur dalam Depdiknas (2003:2) bahwa
Kewarganegaraan (Citizenship) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan
pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa,
usia dan suku bangsa untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas,
terampil dan berkarakter yang diamanatkan Pancasila dan UUD 1945.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan
Kewarganegaraan adalah Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata kuliah
yang diajarkan di perguruan tinggi yang berisi program pendidikan dan
mencakup pemahaman tentang masalah kebangsaan, pendidikan bela negara,
kewarganegaraan dalam hubungannya dengan negara, demokrasi, HAM,
penegakan rule of law, dan masyarakat madani.

B. Latar Belakang PKn


Perjalanan panjang sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang dimulai
sejak, sebelum, dan selama penjajahan. Kemudian dilanjutkan dengan era
perebutan dan mempertahankan kemerdekaan sampai dengan era pengisian
kemerdekaan menimbulkan kondisi dan tuntutan yang berbeda sesuai dengan
zamannya. Dalam kaitannya dengan semangat perjuangan bangsa, maka
perjuangan non fisik sesuai dengan bidang profesi masing-masing memerlukan
sarana kegiatan pendidikan bagi setiap warga negara Indonesia pada
umumnya. Selain itu juga bagi mahasiswa sebagai calon cendekiawan pada
khususnya yaitu melalui Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).
Masyarakat dan pemerintah suatu negara berupaya untuk menjamin
kelangsungan hidup serta kehidupan generasi penerusnya secara berguna. Hal
ini tentunya sesuai dengan kemampuan spiritual dan berkaitan dengan
kemampuan kognitif dan psikomotorik. Generasi penerus tersebut diharapkan
akan mampu mengantisipasi hari depan mereka yang senantiasa berubah dan
selalu terkait dengan konteks dinamika budaya, bangsa, negara, dan hubungan
internasional. Jadi, hakikat Pendidikan Kewarganegaraan dimaksudkan dan
memiliki wawasan kesadaran bernegara untuk bela negara dan memiliki pola
pikir, sikap, dan perilaku sebagai pola tindak kecintaan pada tanah air
berdasarkan Pancasila.
Selain itu, pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas
Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertawa terhadap TYME, berbudi
luhur, kepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, disiplin,
beretos kerja, profesional, bertanggung jawab dan produktif serta sehat jasmani
dan rohani. Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik,
mempertebal cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan,
kesetiakawanan sosial, kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai
jasa para pahlawan dan berorientasi kepada masa depan. Hal tersebut
tentunya dipupuk melalui Pendidikan Kewarganegaraan.

2.2 Sejarah dan perkembangan PKn


Semangat perjuangan bangsa Indonesia yang tak kenal lelah menyerah
telah terbukti pada perang kemerdekaan 17 Agustus 1945. Semangat
perjuangan bangsa tersebut dilandasi oleh keimanan serta ketaqwaan kepada
TYME dan keikhlasan untuk berkorban. Semangat perjuangan bangsa
merupakan kekuatan mental dan spritual yang dapat melahirkan sikap dan
perilaku heroik dan patriotik serta menumbuhkan kekuatan kesanggupan dan
kemauan yang luar biasa. Semangat perjuangan bangsa inilah yang harus
dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia.
Nilai-nilai perjuangan bangsa Indonesia dalam perjuangan fisik merebut,
mempertahankan dan mengisi kemerdekaan telah mengalami pasang surut
sesuai dengan dinamika kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Globalisasi ditandai oleh adanya pengaruh lembaga-lembaga kemasyarakatan
internasional, negara-negara maju yang ikut mengatur percaturan perpolitikan,
perekonomian, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan global.
Globalisasi yang ditandai oleh pesatnya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, khususnya dibidang informasi komunikasi dan
transfortasi membuat dunia menjadi transparan seolah-olah menjadi sebuah
kampung tanpa mengenal batas. Kondisi ini menciptakan struktur baru, yaitu
struktur global. Kemudian, semangat perjuangan bangsa yang merupakan
kekuatan mental spiritual telah melahirkan kekuatan yang luar biasa dalam
masa perjuangan fisik, sedangkan dalam menghadapi globalisasi dan menatap
masa depan untuk mengisi kemerdekaan. Bangsa Indonesia memerlukan
perjuangan non fisik sesuai dengan kapasitas masing-masing. Inilah yang
melatar belakangi adanya Pendidikan Kewarganegaraan.
Adapun kegiatan yang bisa dilakukan adalah mempelajari Pendidikan
Kewarganegaraan dengan sungguh-sungguh dan menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pada tahun 1950 dalam suasana Indonesia merdeka, kedua buku teks
tersebut di atas menjadi buku pegangan guru Civics di sekolah menengah atas,
tetapi dalam mata pelajaran yang terurai pada SMA tahun 1950 iitu dikatakan
bahwa kewarganegaraan yang diberikan disamping tata negara adalah tugas
dan kewajiban warga negara terhadap pemerintah, masyarakat, keluarga, dan
diri sendiri. Pelajaran tersebut tidak diberikan secara ilmu pengetahuan
melainkan sebagai dasar yang berjiwa nasional serta kewarganegaraan yang
baik (good citizenship).
Materi buku ini meliputi, antara lain :
a. Akhlaq, pendidikan, pengajaran, dan ilmu pengetahuan
b. Kehidupan rakyat, kesehatan, imigrasi, perusahaan, peerburuhan, agraria,
kemakmuran rakyat, kewanitaan, dan lain-lain
c. Kesadaran dalam dan luar negeri, pertahanan rakyat, perwakilan,
pemerintah, dan soal-soal internasional.
Pada tahun 1955 terbit buku tentang kewarganegaraan berbahasa
Indonesia dengan judul Inti Pengetahuan Warga Negara disusun oleh J.C.T.
Simorangkir, Gusti Mayur, dan Sumintarjo. Tujuan pelajaran tersebut adalah
untuk membangkitkan dan memeliharakeinsyafan dan kesadaran bahwa warga
negara Iindonesia memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat,
dan negara (good citizen).
Materi buku ini meliputi, antara lain :
a. Tanah airku Indonesia Raya
b. Bendera dan Lambang Negara
c. Warga Negara Beserta Hak dan Kewajibannya
d. Ketatanegaraan
e. Keuangan Negara
f. Pajak dan Perekonomian
Pada tahun 1991 mata pelajaran civics digunakan untyuk memberi
pengertian tentang pidato kenegaraan presiden ditambah dengan pancasila,
sejarah pergerakan, hak dan kewajiban warga Negara. Ditahun itu juga istilah
kewarganegaraan diganti dengan istilah kewargaan Negara atas prakarsa Dr.
Sahardjo dengan alas an untuk menyesuaikan dengan pasal 26 ayat 2 UUD
1945 yang menekankan pada warga yang mengandung pengertian atas hak
dan kewajiban terhadap Negara.
Pada tahun 1966 buku di atas dilarang digunakan sebagai buku pegagan
di sekolah-sekolah untuk mengatasi kekosongan materi civics , meliputi
pancasila, UUD 1945, ketetapan MPR dan PBB, ditambah dengan orde baru,
sejarah Indonesia dan ilmu bumi Indonesia.
Pada tahun 1972 diselenggarakan seminar nasional pengajaran dan
pendidikan civics di tawang mangu sukarata. Dengan hasil yang memberikan
ketegasan terhadap istilah civics, sebagai berikut:
1. Istilah civics diganti dengan istilah ilmu kewargaan Negara, yaitu suatu
disiplin yang objek studynya mengenai peranan warga Negara dalam bidang
spiritual, social, ekonomi, politik, yuridis, cultural sesuai dan sejauh yang
diatur dalam pembukaan UUD 1945 dan batang tubuh UUD 1945.
2. Civics Education diganti dengan istilah Pendidikan Kewargaan Negara, yaitu
suatu program pendidikan yang tujuan utamanya membina warga neagara
menjadi lebih baik menurut syarat-syarat, criteria, dan ukuran ketentuan
pembukaan UUD 1945 dan batang tubuh UUD 1945. Bahannya diambil dari
ilmu kewargaan Negara termasuk kewiraan nasional, filsafat Pancasila,
mental Pancasila dan filsafat pendidikan nasional serta menuju kedudukan
para warga Negara yang diharapkan di masa depan (Supriatnoko dalam
Kansil, 2009:12).
Pada tahun 1975 disusun buku pokok kewiraan bagi mahasiswa dan
diterbitkan pertama kali sebagai buku kewiraan untuk mahasiswa pada tahun
1979 yang digunakan sebagai bahan perkuliahan Pendidikan Kewiraan di
perguruan tinggi. Pada tahun 1987 buku tersebut mengalami perubahan dan
perbaikan. Lalu, pada tahun 1981 ditetapkan Pedoman Kurikulum Inti bagi
Perguruan Tinggi sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Nomor 0212/U/1981, dan disusul dengan Penerapan Kurikulum
Inti Mata Kuliah Dasar Umum oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi
(Kep.No.25/Dikti/Kep/1985).
Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan
Menteri Pertahanan dan Keamanan pada tanggal 1 Februari 1985
menggariskan Pola Pembinaan Pendidikan Kewiraan di lingkungan Perguruan
Tinggi. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1985 tentang Sistem Pendidikan
Nasional yang digunakan sebagai dasar penyelenggaraan pendidikan tinggi
pada Pasal 39 Ayat 2 menyebutkan bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur, dan
jenjang pendidikan wajib memuat (1) Pendidikan Agama, (2) Pendidikan
Pancasila, dan (3) Pendidikan Kewarganegaraan yang mencakup pengetahuan
dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antara warga negara dan
negara serta Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN). Di dalam
operasionalnya ketiga mata kuliah wajib tersebut dihimpun ke dalam kelompok
Mata Kuliah Pembinaan Kepribadian sebagai bagian dari kurikulum inti yang
berlaku secara nasional.
PPBN bertujuan meningkatkan kesadaran bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara, meningkatkan keyakinan terhadap Pancasila sebagai falsafah
bangsa dan ideologi negara, meningkatkan kesadaran untuk rela berkorban
demi bangsa dan Negara Indonesia, serta memberikan kemampuan awal bela
negara. Pelaksanaan PPBN melalui dua tahap, yaitu tahap awal dan tahap
lanjutan. Pada tahap awal diberikan kepada peserta didik di tingkat SD sampai
SM dengan kegiatan kepramukaan. Pada tingkat lanjutan diberikan kepada
mahasiswa di perguruan tinggi dalam bentuk Pendidikan Kewiraan.
Pendidikan Kewiraan sebagai pendidikan yang membekali mahasiswa
berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat diandalkan menjadi
seorang warga negara yang bela Negara dan NKRI. Pendidikan Kewiraan
bersifat intrakurikuler dan wajib, menitikberatkan kepada kemampuan
penalaran ilmiah yang sikap kognitif dan afektif tentang bela negara dalam
rangka ketahanan nasional.
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 056/U/1994, yang
mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1990, menetapkan
status Pandidikan Agama, Pendidikan Pancasila, dan Pendidikan
Kewarganegaraan dalam kurikulum pendidikan tinggi sebagai mata kuliah wajib
untuk setiap program studi dan bersifat nasional. GBPP Pendidikan Kewiraan
ditetapkan dalam Keputusan Dikti Nomor 151/Dikti/Kep/2000. Selanjutnya,
melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor
267/Dikti/Kep/2000 tentang Penyempurnaan Kurikulum Inti Mata Kuliah
Pengembangan Kepribadian Pendidikan Kewarganegaraan di perguruan tinggi.
Pendidikan Kewiraan diintegrasikan dan menjadi bagian dari Pendidikan
Kewarganegaraan.
Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor
38/Dikti/Kep/2002 dibentuk kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian
(MPK) di perguruan tinggi. Pembentukan MPK didasarkan atas pertimbangan:
1. Berdasarkan Kepmendiknas Nomor 232/U/2000 tentang Pedoman
Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar
Mahasiswa telah ditetapkan bahwa Pendidikan Agama, Pendidikan
Pancasila, dan Pendidikan Kewarganegaraan merupakan kelompok MPK
yang wajib diberikan dalam kurikulum setiap prodi atau kelompok prodi.
2. Sebagai pelaksana butir 1 di atas dipandang perlu menetapkan rambu-
rambu pelaksanaan MPK di perguruan tinggi.
Selanjuttnya, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional pada Pasal 37 Ayat 2 menyebutkan bahwa isi kurikulum
pendidikan tinggi wajib memuat Pendidikan Agama, Pendidikan
Kewarganegaraan, dan Bahasa. Di dalam operasionalnya ketiga mata kuliah
wajib tersebut dihimpun ke dalam kelompok MPK.
Pada tahun 2006 Dirjen Dikti mengeluarkan Keputusan Nomor
43/Dikti/Kep/2006 tentang Rambu-rambu Pelaksanaan Kelompok Kelompok
MPK di perguruan tinggi sebagai penyempurnaan dari Keputusan Nomor
38/Dikti/Kep/2002, menetapkan Pendidikan Agama, Pendidikan
Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia sebagai mata kuliah yang dihimpun
dalam kelompok MPK.

2.3 Substansi Kajian PKn


Substansi kajian mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan berdasarkan
Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor
43/DIKTI/Kep/2006/ tentang Rambu-rambu Pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah
Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi, meliputi :
I. PENDAHULUAN
Topik kajian Pendahuluan mencakup materi bahasan tentang :
1) Dasar pemikiran MPK PKn
2) Landasan yuridis MPK PKn
3) Visi dan misi MPK PKn
4) Kompetensi dasar MPK PKn

a. Indikator Kompetensi :
Mahasiswa mampu menjelaskan pola pikir pembahasan bahan ajar
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan general education untuk
membangun karakter bangsa guna memperkuat bela negara.
b. Indikator Sikap :
Mahasiswa mampu menunjukkan sikap sebagai warga negara yang
beriman, bertaqwa, dan berbudi pekerti luhur serta mempertahankan
sikap toleransi, semangat pluralisme, serta rela berkorban demi bangsa
dan negara.

II. PENGANTAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN


Topik kajian Pengantar Pendidikan Kewarganegaraan mencakup materi
bahasan tentang :
1) Pengertian dan latar belakang PKn
2) Sejarah dan perkembangan PKn
3) Substansi Kajian PKn
4) Metodologi dan tujuan pembelajaran PKn

III. FILSAPAT PANCASILA


Topik kajian Pancasila mencakup materi bahasan tentang :
1) Pengertian Pancasila
2) Pancasila sebagai sistem filsafat
3) Susunan isi arti Pancasila
4) Asal mula Pancasila sebagai ideologi nasional
5) Pancasila sebagai ideologi terbuka

a. Indikator Kompetensi :
Mahasiswa mampu menjelaskan prinsip dan nilai dasar pancasila
sebagai kesatuan sistem fisafat dan ideologi bangsa sehingga
mahasiswa mampu menganalisis dan ikut serta menyelesaikan persoaan
bangsa dengan berlandaskan pada system nilai tersebut.
b. Indikator Sikap :
Mahasiswa mampu mempertahankan pancasila sebagai falsafah bangsa
dan ideologi Negara serta mampu mempraktikkan sifat dan keadaan
yang berketuhanan, berkemanusiaan, berpersatuan, berkerakyatan, dan
berkeadilan social dalam kehidupan pribadi dan sosial.
IV. IDENTITAS NASIONAL
Topik kajian Identitas Nasional mencakup materi bahasan tentang :
1) Pengertian Identitas Nasional
2) Lambang-lambang negara
3) Nilai-nilai budaya bangsa
4) Etika dan moral bangsa

a. Indikator Kompetensi :
Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian, ciri khas yang menjadi
identitas nasional bangsa Indonesia, serta kandungan nilai-nilainya
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
b. Indikator Sikap :
Mahasiswa mampu menunjukkan kkesadaran mengenai Pancasila
sebagai identitas nasional bangsa Indonesia serta mempraktikkan
prinsip, konsep, dan nilai dasar Pancasila sebagai pribadi yang berjiwa,
berkarakter, dan berbudaya Indonesia.

V. HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA INDONESIA


Topik kajian Warga Negara Indonesia mencakup materi bahasan tentang :
1) Pengertian Warga Negara Indonesia
2) Hak Warga Negara Indonesia
3) Kewajiban Warga Negara Indonesia

a. Indikator Kompetensi :
Mahasiswa mampu menjelaskan makna Negara dan isi konstitusi dalam
mengisi kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
b. Indikator Sikap :
Mahasiswa mampu mempertahankan system politik dan ketatanegaraan
berdasarkan konstitusi Undang-Undang Dasar 1945 serta memegang
teguh Undang-Undang Dasar 1945 sebagai sumber hokum tertinggi
daalm penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbagsa, dan
bernegara.
VI. DEMOKRASI INDONESIA
Topik kajian Demokrasi Indonesia mencakup materi bahasan tentang :
1) Pengertian negara, teori terjadinya negara, sifat dan unsur-unsur negara
2) Pengertian dan Konsep demokrasi
3) Demokrasi dalam sistem NKRI

a. Indikator Kompetensi :
Mahasiswa mampu menjelaskan cara menerapkan konsep demokrasi
berdasarkan nilai dasar pacaila sehingga mahasiswa terbiasa
mempraktikkannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
bernegara.
b. Indikator Sikap :
Mahasiswa mampu menunjukkan sikap demokrasi yang berkeadaban
berdasarkan landasan idil pancasila dan mampu mempraktikkan konsep
demokrasi pancasila berdasarkan paham kekeluargaan dan gotong
royong untuk mewujudkan keadilan sosial

VII.HAK ASASI MANUSIA


Topik kajian Hak Asasi Manusia mencakup materi bahasan tentang :
1) Pengertian Hak Asasi Manusia
2) Latar belakang munculnya Hak Asasi Manusia
3) Perkembangan Hak Asasi Manusia
4) Pelaksanaan Hak Asasi Manusia di Indonesia
a. Indikator Kompetensi :
Mahasiswa mampu menjelaskan cara menerapkan hak asasi manusia
dan rule of law sehingga keduanya dapat ditegakkan dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
b. Indikator Sikap :
Mahasiswa mampu memperkasai pelaksanaan ham di Indonesia
berdasarkan falsafah dan ideologi pancasila dan Undang-Undang Dasar
1945, dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan mampu
mempraktikkan prinsip rule of law berdasarkan falsafah dan ideologi
pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945.
VIII. PENEGAKAN HUKUM (RULE OF LAW)
Topik kajian Penegakan Hukum atau Rule of Law mencakup bahasan
tentang :
1) Pengertian Penegakan Hukum atau Rule of Law
2) Sistem pemerintahan negara
3) Amandemen UUD 1945
4) Kesadaran hukum Warga Negara Indonesia

a. Indikator Kompetensi :
Mahasiswa mampu
b. Indikator Sikap :
Mahasiswa mampu

IX. GEOPOLITIK (WAWASAN NUSANTARA)


Topik kajian Wawasan Nusantara mencakup materi bahasan tentang :
1) Pengertian Wawasan Nusantara
2) Latar belakang terbentuknya wawasan nasional Indonesia
3) Konsepsi wawasan nusantara
4) Perwujudan wawasan nusantara
5) Unsur dasar wawasan nusantara

a. Indikator Kompetensi :
Mahasiswa mampu menjelaskan cara menerapkan konsep dan bentuk
geopolitik di Indonesia sebagai wawasan kebangsaan sehingga mantap
dalam sikap, pendirian, dan kesadarannya dalam mempersamakan
persepsi guna mewujudkan persatuan dan kesatuan sebagai bangsa
Indonesia.
b. Indikator Sikap :
Mahasiswa mampu memegang teguh wawasan nusantara sebagai
landasan visional di dalam mewujudkan cita-cita proklamasi dan tujuan
nasional, dan mampu mendukung pelimpahan wewenang kepada
daerah didalam merealisasikan geopolitik wawasan nusantara untuk
menjamin tetap tegaknya NKRI.
X. GEOSTRATEGIS (KETAHANAN NASIONAL)
Topik kajian Ketahanan Nasional mencakup materi bahasan tentang :
1) Pengertian Pertahanan Nasional
2) Latar belakang pertahanan nasional
3) Hakikat dan perwujudan pertahaan nasional
4) Aspek ketahanan nasional
5) Bela negara serta Sistem pertahanan dan keamanan

a. Indikator Kompetensi :
Mahasiswa mampu menjelaskan cara menerapkan konsep dan bentuk
geostrategik Indonesia sebaggai ketahanan nasional sehingga
mahasiswa berperan dalam melaksanakan pembangunan untuk
mewujudkan cita-cita proklamasi dan tujuan nasional.
b. Indikator Sikap :
Mahasiswa mampu menunjukkan sikap ulet dan tangguh di dalam
membagun ketahanan nasional, dan mampu menunjukkan kemampuan
dan kekuatan didalam menghadapi dan menggagalkan ancaman,
gangguan, hambatan, daan tantangan yang akan melemahkan dan
memakan ketahanan nasional.

XI. POLSTRANAS
Topik kajian Politik dan Strategi Nasional mencakup bahasan tentang :
1) Pengertian Politik Strategi Nasional
2) Sistem politik Indonesia
3) Konsep strategi nasional dan implementasinya
4) Wujud Politik Startegi Nasional

a. Indikator Kompetensi :
Mahasiswa mampu

b. Indikator Sikap :
Mahasiswa mampu
2.4 Metodologi dan Tujuan Pembelajaran PKn
A. Metodologi Pembelajaran PKn
1) Proses Pembelajaran yang diselenggarakan, secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi untuk berpartisifasi aktif serta
memberikan kesempatan bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian
dengan menempatkan mahasiswa sebagai subjek pendidikan mitra
dalam proses pembelajaran dan sebagai anggota keluarga, masyarakat,
dan warganegara.
2) Pembelajaran yang diselenggarakan merupakan proses yang mendidik,
didalamnya terjadi pembahasan kritis analitis, induktif dan deduktif, dan
reflektif melalui dialog kreatif pertisifatory untuk nencapai pemahaman
tentang kebenaran substansi dasar kajian, berkarya nyata dan untuk
menumbuhkan motivasi belajar sepanjang hidup.
3) Bentuk aktivitas pembelajaran, dengan cara kuliah tatap muka, ceramah,
diskusi interaktif, studi kasus, penugasan mandiri dalam bentuk
mengerjakan soal-soal latihan dan penugasan kelompok dalam bentuk
pembuatan makalah, tugas baca, seminar kecil, kegiatan kokurikuler,
dan lain-lain.
4) Motivasi menumbuhkan kesadaran bahwa pembelajaran pengembangan
kepribadian merupakan kebutuhan hidup untuk dapat eksis di dalam
masyarakat global.

B. Tujuan Pembelajaran PKn


Adapun tujuan mata kuliah PKn ini, antara lain:
1) Secara Umum
a. Membentuk warga negara yang baik dan cerdas yang mampu
mendukung pembangunan dan juga kelangsungan bangsa dan negara.
Konsep good citizenship tentunya amat tergantung dari pandangan
hidup dan sistem politik negara yang bersangkutan.
b. Memberikan pengetahuan dan kemampuan dasar kepada mahasiswa
mengenai hubungan antara warga negara dengan negara serta
Pendidikan Pendahuluan Bela Negara agar menjadi warga negara yang
dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.
2) Secara Khusus
a. Agar mahasiswa dapat memahami dan melaksanakan hak dan
kewajiban secara santuun, jujur, demokratis serta ikhlas sebagai warga
negara Indonesia terdidik dan bertanggung jawab.
b. Agar mahasiswa menguasai dan memahami berbagai masalah dasar
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta dapat
mengatasinya dengan pemikiran kritis dan bertanggung jawab yang
berlandaskan Pancasila, Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional.
c. Agar mahasiswa memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-
nilai kejuangan, cinta tanah air, serta rela berkorban bagi nusa dan
bangsa.
BAB III
FILSAFAT PANCASILA

3.1 Pengertian Filsafat Pancasila dan Ideologi Pancasila


Secara etimologis, kata filsafat berasal dari bahasa Yunani philen yang
berarti cinta dan sophos yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat menurut asal
katanya berarti cinta pada kebijaksanaan. Cinta dalam arti yang luas sebagai
keinginan sungguh-sungguh terhadap sesuatu, sedangkan kebijaksanaan
dapat diartikan sebagai kebenaran sejati. Oleh karena itu, secara sederhana
pemahaman filsafat adalah keinginan yang sungguh-sungguh untuk mencari
kebenaran sejati. Sementara menurut Mohammad Noor Syam dalam
psp.ugm.ac.id/pancasila/FILSAFAT_PANCASILA_2009_pak%20Noorsyam.doc
). diakses tanggal 20 Juni 2010 bahwa istilah filsafat secara etimologis
terbentuk dari kata bahasa Yunani, yaitu filos dan sophia. Filos berarti friend,
love dan sophia berati learning, wisdom. Jadi, makna filsafat adalah orang yang
bersahabat dan mencintai ilmu pengetahuan, serta bersikap arif bijaksana.
Belajar filsafat berarti mencari kebenaran sedalam-dalamnya, kemudian
menghasilkan sikap hidup arif bijaksana, seperti para pemikir filsafat (filosof).
Sesungguhnya nilai ajaran filsafat telah berkembang, terutama di wilayah
Timur Tengah sejak sekitar 6000-600 SM, di Mesir dan sekitar sungai Tigris
dan Eufrat sekitar 5000-1000 SM. Selain itu, di daerah Palestina/Israel sebagai
doktrin Yahudi sekitar 4000-1000 SM. Juga di India sekitar 3000-1000 SM serta
Cina sekitar 3000-500 SM.
Nilai filsafat berwujud kebenaran sedalam-dalamnya, bersifat
fundamental, universal dan hakiki. Oleh karenanya dijadikan filsafat hidup oleh
pemikir dan penganutnya, sedangkan pemikiran filsafat yang dianggap tertua di
Eropa (Yunani) baru berkembang sekitar 650 SM. Jadi, pemikiran filsafat tertua
bersumber dari wilayah Timur Tengah; sinergis dengan ajaran nilai religious.
Fenomena demikian merupakan data sejarah budaya sebagai peradaban
monumental, karena Timur Tengah diakui sebagai pusat berkembangnya
ajaran agama supranatural (agama wahyu, revealation religions). Kita juga
maklum, bahwa semua Nabi/Rasul berasal dari wilayah Timur Tengah (Yahudi,
Kristen dan Islam). Berdasarkan data demikian kita percaya bahwa nilai filsafat
sinergis dengan nilai-nilai theisme religious. Karena itu pula, kami menyatakan
bahwa nilai filsafat Timur Tengah dianggap sebagai sumur madu peradaban
umat manusia karena kualitas dan integritas intrinsiknya yang fundamental-
universal theisme religious.
Nilai ajaran filsafat Barat adalah nilai filsafat natural dan rasional (ipteks)
yang dianggap sebagai sumur susu peradaban. Makna uraian di atas adalah
manusia atau bangsa yang ingin sehat dan jaya. Hendaknya memadukan nilai
theisme religious dengan ipteks. Sebagaimana pribadi manusia yang ingin
sehat minumlah susu dengan madu. Artinya, budaya dan peradaban yang luhur
dan unggul akan berkembang berdasarkan nilai-nilai (moral) agama dan ipteks.
Budaya dan peradaban modern mengakui bahwa perkembangan ipteks
dan kebudayaan manusia bersumber dan dilandasi oleh ajaran nilai filsafat.
Oleh karena itu pula, filsafat diakui sebagai induk ipteks atau philosophy as the
queen and as the mother of knowledge as well). Nilai filsafat menjangkau alam
metafisika dan misteri alam semesta serta visi-misi penciptaan manusia. Alam
semesta dengan hukum alam memancarkan nilai supranatural dan
suprarasional sebagaimana rohani manusia dan martabat budi nuraninya juga
memancarkan integritas suprarasional. Sistem filsafat dan cabang-cabangnya
termasuk sistem ideologi dalam kepustakaan modern diakui sebagai
Kultuurwissenschaft, dan atau Geistesswissenschaft (terutama filsafat hukum,
filsafat politik, filsafat manusia, filsafat ilmu, filsafat ekonomi dan filsafat etika).
Menurut pendapat Notonagoro (dalam Supriatnoko, 2009:17) pengertian
filsafat Pancasila mempunyai sifat mewujudkan ilmu filsafat, yaitu ilmu yang
memandang Pancasila dari sudut hakikat. Pengertian hakikat adalah unsur-
unsur yang tetap dan tidak berubah pada suatu objek. Hakikat abstrak diartikan
sebagai sifat tidak berubah akan terlepas dari perubahan keadaan, tempat, dan
waktu. Pengertian hakikat abstrak dimungkinkan bahkan diharuskan pada
rumusan sila-sila Pancasila. Rumusan sila-sila Pancasila itu terdiri atas kata-
kata pokok dan kata-kata sifat. Kata-kata pokok terdiri atas kata-kata dasar,
yaitu Tuhan, manusia, satu, rakyat, dan adil. Empat sila dibubuhi awalan ke-
dan akhiran -an dan satu pe-an. Kedua macam awalan dan akhiran itu, menurut
bahasa menjadikan abstrak dari kata dasarnya. Pengertian yang demikian
disebut pengertian yang abstrak umum universal. Isinya sedikit tetapi luasnya
tidak terbatas, artinya meliputi segala hal dan keadaan yang terdapat pada
bangsa dan negara Indonesia dalam jangka waktu yang tidak terbatas.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat Pancasila adalah
refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila sebagai dasar negara dan
kenyataan budaya bangsa, dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok
pengertiannya yang mendasar dan menyeluruh.
Selanjutnya, secara etimologis kata ideologi berasal dari bahasa Yunani
idea yang berarti gagasan atau cita-cita dan logos yang berarti ilmu sebagai
hasil pemikiran. Jadi, secara sederhana pemahaman ideologi adalah suatu
gagasan atau cita-cita yang berdasarkan hasil pemikiran. Dalam arti luas,
ideologi diartikan sebagai keseluruhan gagasan, cita-cita, keyakinan-keyakinan,
dan nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi sebagai pedoman. Sementara dalam
arti sempit, ideologi diartikan sebagai ggagasan atau teori yang menyeluruh
tentang makna hidup dan nilai-nilai yang hendak menentukan dengan mutlak
bagaimana manusia harus berpikir, bersikap, dan bertindak.
Pancasila sebagai ideologi diartikan sebagai keseluruhan pandangan,
cita-cita, dan keyakinan bangsa Indonesia mengenai sejarah, masyarakat,
hukum dan negara Indonesia sebagai hasil kristalisasi nilai-nilai yang sudah
ada di bumi Indonesia bersumber pada adat-istiadat, budaya, agama, dan
kepercayaan TYME. Pancasila sebagai ideologi digali dan ditemukan dari
kekayaan rohani, moral, dan budaya masyarakat Indonesia serta bersumber
dari pandangan hidup bangsa. Oleh karena itu, ideologi Pancasila milik semua
rakyat dan bangsa Indonesia. Dengan demikian, rakyat Indonesia berkewajiban
untuk mewujudkan ideologi Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Oleh karena ideologi Pancasila bersumber pada
manusia Indonesia, maka ideologi Pancasila merupakan ideologi terbuka.
Ideologi yang dapat beradaptasi terhadap proses kehidupan baru dan mampu
bersaing dengan bangsa-bangsa lain tetapi konsisten mempertahankan
identitas dalam ikatan persatuan Indonesia.
3.2 Pancasila Sebagai Sistem Filsafat
Pancasila bagi masyarakat Indonesia bukanlah sesuatu yang asing.
Pancasila terdiri dari lima sila yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945
alinea ke-4 dan diperuntukkan sebagai dasar negara Indonesia. Namun, saat
ini terutama di era reformasi dan globalisasi membicarakan Pancasila dianggap
sebagai keinginan untuk kembali orde baru. Oleh karena itu, kajian Pancasila
pada bab ini berpijak dari kedudukan Pancasila sebagai filosofi bangsa, dasar,
dan ideologi nasional.
Bangsa Indonesia sebelum mendirikan negara Indonesia sudah memiliki
nilai-nilai luhur yang diyakini sebagai suatu pandangan hidup, jiwa, dan
kepribadian dalam pergaulan. Nilai-nilai luhur yang dimiliki masyarakat
Indonesia terdapat dalam adat istiadat, budaya, agama, kepercayaan terhadap
adanya Tuhan. Nilai-nilai luhur itu kemudian menjadi tolok ukur kebaikan yang
berkenaan dengan hal-hal yang bersifat mendasar dan abadi, seperti cita-cita
yang ingin diwujudkannya dalam hidup manusia.
Pandangan hidup yang terdiri atas kesatuan rangkaian nilai-nilai luhur itu
merupakan suatu wawasan yang menyeluruh terhadap kehidupan itu sendiri.
Pandangan hidup atau weltanschauung berfungsi sebagai kerangka acuan,
baik untuk menata kehidupan pribadi maupun dalam interaksi manusia dengan
komunitas dan alam sekitarnya. Ketika cita-cita menjadi bangsa yang bersatu
sudah sangat bulat untuk hidup bersama atau living together dalam suatu
negara merdeka, para pendiri negara Indonesia merdeka sampai pada suatu
pertanyaan yang mendasar di atas apakah negara Indonesia merdeka ini
didirikan?. Pertanyaan ini muncul untuk menjawab kenyataan bahwa bangsa
Indonesia yang menegara tidak mungkin memiliki pandangan hidup atau
falsafah hidup yang sa ma dengan bangsa lain, karena nilai-nilai luhur yang
dimiliki tiap bangsa berbeda.
Untuk mengetahui secara mendalam tentang Pancasila diperlukan
pendekatan filosofis. Pancasila dalam pendekatan filsafat adalah ilmu
pengetahuan yang mendalam mengenai Pancasila. Filsafat Pancasila secara
ringkas dapat didefinisikan sebagai refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila
dalam bangunan bangsa dan negara Inndonesia (Syarbaini, 2003).
Selanjutnya, Pancasila dalam pendekatan filsafat akan dibahas menjadi
dua bagian, berikut ini.
1) Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Berdasarkan pemikiran filsafat Pancasila pada dasarnya merupakan suatu
nilai. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, yaitu nilai ketuhanan, nilai
kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan. Nilai
berasal dari bahasa Inggris value dan bahasa Latin valere artinya kuat, baik,
dan berharga. Jadi, nilai adalah suatu penghargaan atau kualitas terhadap
suatu hal yang dapat menjadi dasar penentu tingkah laku manusia. Ciri-ciri
nilai adalah suatu yang abstrak bersifat normatif sebagai motivator/daya
dorong manusia dalam bertindak.
2) Perwujudan nilai Pancasila sebagai norma bernegara.
Ada hubungan antara nilai dengan norma. Norma atau kaidah adalah aturan
atau pedoman bagi manusia dalam berperilaku sebagai perwujudan dari
nilai. Nilai yang abstrak dan normatif dijabarkan dalam wujud norma.
Nilai-nilai luhur yang diyakini sebagai suatu pandangan hidup yang
berkembang dalam masyarakat Indonesia sebelum menegara itulah yang
kemudian oleh para pendiri negara digali kembali, ditemukan, dirumuskan, dan
selanjutnya disepakati dalam rapat Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) sebagai dasar filsafat negara atau
filosofische grondslag dari negara yang akan didirikan. Nilai-nilai luhur yang
diyakini sebagai suatu pandangan hidup masyarakat Indonesia itu terdiri atas
keimanan dan ketaqwaan, nilai keadilan dan keberadaban, nilai persatuan dan
kesatuan, nilai mufakat, dan nilai kesejahteraan. Nilai-nilai luhur tersebut
kemudian disepakati oleh para pendiri negara sebagai dasar filsafat negara
Indonesia merdeka, yang oleh Ir. Soekarno diusulkan bernama Pancasila.
Menurut PPKI, rumusan nilai dasar Negara tersebut diformulasikan
kembali sebagai lima sila Pancasila dengan urutan berikut ini.
1) Ketuhanan Yang Maha Esa;
2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab;
3) Persatuan Indonesia;
4) Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan; dan
5) Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Pada tanggal 18 Agustus 1945, PPKI menetapkan Pancasila secara
resmi sebagai pandangan hidup bangsa dan pandangan hidup negara. Dengan
demikian, Pancasila adalah filsafat negara yang lahir sebagai cita-cita bersama
atau collective ideology dari seluruh bangsa Indonesia. Dikatakan sebagai
filsafat, karena Pancasila merupakan hasil perenungan jiwa yang mendalam,
yang dilakukan oleh para pendiri negara Indonesia.
Dalam pengertian inilah, maka sebelum masyarakat Indonesia menjadi
bangsa yang menegara, nilai-nilai luhur Pancasila telah menjadi bagian dari
kehidupan diri pribadi dan masyarakatnya. Setelah masyarakat Indonesia
menjadi bangsa dalam NKRI, nilai-nilai Pancasila itu dilembagakan sebagai
pandangan hidup bangsa dan juga dilembagakan sebagai pandangan hidup
bangsa. Pandangan hidup bangsa dapat disebut sebagai ideologi bangsa dan
pandangan hidup negara dapat disebut ideologi negara.
Transformasi pandangan hidup masyarakat menjadi padangan hidup
bangsa dan akhirnya menjadi ideologi negara dimaksudkan untuk
memungkinkan bangsa Indonesia dalam mengelola bangsa dan negara
memiliki satu kesatuan sistem filsafat yang jelas dan sama. Dengan demikian
bangsa Indonesia memiliki satu pedoman dan sumber nilai sebagai hasil karya
besar bangsa Indonesia di dalam memecahkan berbagai persoalan politik,
ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan keamanan serta hukum dalam gerak
kemajuan bangsa dan negara Indonesia, yaitu Pancasila.
Secara ontologis, epistemologis dan axiologis sistem filsafat Pancasila
mengandung ajaran tentang potensi dan martabat kepribadian manusia (SDM)
yang dianugerahi martabat mulia sebagaimana terjabar dalam ajaran HAM
berdasarkan filsafat Pancasila ! Keunggulan dan kemuliaan ini merupakan
anugerah dan amanat Tuhan Yang Maha Esa, Allah Yang Maha Kuasa, Maha
Rahman dan Maha Rahim sebagai tersurat di dalam Pembukaan UUD
Proklamasi 1945 sebagai asas kerokhanian bangsa dan NKRI.
Sesungguhnya ajaran filsafat merupakan sumber, landasan dan identitas
tatanan atau sistem nilai kehidupan umat manusia. Sedemikian berkembang,
maka khasanah ajaran nilai filsafat kuantitati-kualitatif terus meningkat; terbukti
dengan berbagai aliran (sistem) filsafat yang memberikan identitas berbagai
sistem budaya, sistem kenegaraan dan peradaban bangsa-bangsa modern.
Nilai-nilai filsafat, termasuk filsafat Pancasila ditegakkan (dan
dibudayakan) dalam peradaban manusia modern khususnya bangsa Indonesia,
terutama :
1. Aktualisasi Integritas Sistem Kenegaraan Pancasila-UUD Proklamasi 45;
2. Aktualisasi nilai kebangsaan dan kenegaraan Indonesia Raya; dan
3. Secara ontologis-axiologis bangsa Indonesia belum secara signifikan
melaksanakan visi-misi yang diamanatkan oleh sistem filsafat Pancasila,
sebagaimana terjabar dalam UUD Proklamasi 1945. Dalam dinamika
peradaban modern, semua bangsa berkembang dan menegakkan tatanan
kehidupan nasionalnya dengan sistem kenegaraan. Sistem kenegaraan ini
dijiwai, dilandasi dan dipandu oleh sistem filsafat dan atau sistem ideologi;
seperti theokratisme, liberalisme-kapitalisme, sosialisme, zionisme,
marxisme-komunisme-atheisme, naziisme, fascisme, serta Pancasilaisme.
Agar lebih jelas mengenai Pancasila sebagai kesatuan sistem filsafat
memiliki dasar ontologis, dasar epistemologis, dan dasar aksiologis.
A. Dasar Ontologis
Ontologi adalah cabang filsafat yang mengkaji tentang hakikat segala
sesuatu yang ada atau untuk menjawab pertanyaan “apakah kenyataan itu?”.
Pancasila terdiri atas lima sila yang saling mengikat, sedangkan subjek
pendukung pokok sila-sila Pancasila adalah manusia. Secara filsafat, Pancasila
merupakan dasar filsafat negara. Dengan demikian, hakikat dasar ontologis
sila-sila Pancasila secara ontologis memiliki hakikat mutlak monopluralis, yaitu
memiliki susunan kodrat, sifat kodrat, dan kedudukan kodrat. Jadi, Pancasila
secara hierarkis sila-silanya saling menjiwai dan dijiwai satu sama lain.
Selanjutnya, Pancasila secara dasar filsafat negara Indonesia memiliki
susunan lima sila yang merupakan suatu persatuan dan kesatuan serta
mempunyai sifat dasar kesatuan yang mutlak, yaitu berupa sifat kodrat
monodualis. Sebagai konsekuensinya, nilai-nilai Pancasila yang merupakan
satu kesatuan yang utuh dengan sifat dasar mutlaknya berupa sifat kodrat
manusia tersebut menjadi dasar dan jiwa bagi bangsa Indonesia. Hal ini berarti
bahwa dalam setiap aspek penyelenggaraan negara harus berpedoman dan
bersumber pada nilai-nilai Pancasila, seperti bentuk negara, sifat negara, tujuan
negara, tugas dan kewajiban negara dan warga negara, sistem hukum negara,
moral negara, dan segala aspek penyelenggaraan negara lainnya.
B. Dasar Epistemologis
Epistemologis adalah cabang ilmu filsafat yang mengkaji tentang apakah
kebenaran atau apakah hakikat ilmu pengetahuan. Upaya untuk mendapatkan
jawaban tentang kebenaran dilakukan pembuktian melalui ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, kajian epistemilogisfilsafat Pancasila dimaksudkan sebagai
upaya untuk mencari hakikat Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan.
Ada tiga persoalan mendasar dalam kajian epistemologis, yaitu :
(1) Sumber pengetahuan manusia;
(2) Teori kebenaran pengetahuan manusia; dan
(3) Watak pengetahuan manusia.
C. Dasar Aksiologis
Aksiologi adalah cabang ilmu filsafat yang mengkaji tentang nilai praktis
atau manfaat suatu pengetahuan. Kajian aksiologi filsafat Pancasila pada
hakikatnya mengkaji tentang nilai praktis atau manfaat suatu pengetahuan
tentang Pancasila. Dengan demikian, dasar aksiologi Pancasila mengandung
arti bahwa pembahasan tertuju pada filsafat nilai Pancasila. Dalam memandang
tentang nilai, sebagai berikut :
(1) Menurut sudut pandang subjektif, bahwa sesuatu bernilai karena berkaitan
dengan subjek pemberi nilai, yaitu manusia.
(2) Menurut sudut pandang objektif, bahwa hakikatnya sesuatu itu melekat
pada dirinya sendiri memang bernilai.

3.3 Susunan Isi Arti Pancasila


Pancasila sebagai suatu sistem susunan pengetahuan memiliki susunan
bersifat formal logis dalam arti susunan sila-sila Pancasila sebagaimana telah
dibahas pada bagian epistemologis. Adapun susunan isi arti sila-sila Pancasila,
meliputi tiga hal, yaitu : (1) isi arti Pancasila yang abstrak umum universal; (2)
isi arti Pancasila yang umum kolektif; dan (3) isi arti Pancasila yang khusus
kongkrit.
Pertama, isi arti Pancasila yang abstrak umum universal merupakan inti
dari atau esensi Pancasila sehingga menjadi pangkal tolak pelaksanaan pada
bidang-bidang kenegaraan, tertib hukum Indonesia, dan realisasi praktisnya
dalam berbagai bidang kehidupan konkrit. Isi arti Pancasila yang abstrak umum
universal sebagai prinsip dasar umum merupakan pengertian yang sama bagi
bangsa Indonesia. Realisasi pelaksanaan Pancasila dalam kehidupan
memerlukan pengkhususan isi rumusannya yang secara abstrak umum
universal menjadi pengertian yang umum kolektif dan khusus konkret. Isi arti
umum kolektif adalah realisasinya dalam bidang-bidang kehidupan. Pancasila
sebagai pedoman dan sumber nilai kolektif bangsa dan negara Indonesia
terutama dalam tertib hukum Indonesia, sedangkan isi arti khusus konkrit
dimaksudkan bagi realisasi praktis dalam suatu lapangan kehidupan tertentu
sehingga memiliki sifat khusus konkrit.
Isi arti Pancasila yang abstrak umum universal yang bersumber dari
hakikat Tuhan, manusia, satu, rakyat, adil merupakan konsep filsafat Pancasila
yang bercorak tematis. Selanjutnya, diuraikan menjadi isi arti Pancasila yang
umum kolektif dan khusus konkret sebagai sistem etika Pancasila yang
bercorak normatif, yaitu bahwa hakikat manusia adalah untuk memiliki sifat dan
keadaan yang berketuhanan, berkemanusiaan, berpersatuan, berkerakyatan,
berkeadilan sosial dalam praktik kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.

3.4 Asal Mula Pancasila Sebagai Ideologi


Nilai Filsafat Pancasila berkembang dalam budaya dan peradaban
Indonesia terutama sebagai jiwa dan asas kerokhanian bangsa dalam
perjuangan kemerdekaan dari kolonialisme-imperialisme 1596-1945. Nilai
filsafat Pancasila baik sebagai pandangan hidup (filsafat hidup,
Weltanschauung) bangsa, sekaligus sebagai jiwa bangsa (Volksgeist, jatidiri
nasional) memberikan identitas dan integritas serta martabat (kepribadian)
bangsa dalam budaya dan peradaban dunia modern; sekaligus sumber
motivasi dan spirit perjuangan bangsa Indonesia.
Nilai filsafat Pancasila secara filosofis-ideologis dan konstitusional
berkembang dalam sistem kenegaraan Indonesia yang dinamakan sebagai
sistem kenegaraan Pancasila yang terjabar dalam UUD 1945. Jadi, tegaknya
bangsa dan NKRI sebagai bangsa merdeka, berdaulat, bersatu dan
bermartabat amat ditentukan oleh tegaknya integritas sistem kenegaraan
Pancasila dan UUD 1945.
Berdasarkan analisis normatif filosofis-ideologis dan konstitusional,
semua komponen bangsa wajib setia dan bangga (mengikat, memaksa)
kepada sistem kenegaraan Pancasila sebagaimana terjabar dalam UUD 1945,
termasuk kewajiban bela negara. Sebagai bangsa dan negara modern, kita
mewarisi nilai-nilai fundamental filosofis-ideologis sebagai pandangan hidup
bangsa (filsafat hidup, Weltanschauung) yang telah menjiwai dan sebagai
identitas bangsa (jatidiri nasional, Volksgeist) Indonesia. Nilai-nilai fundamental
warisan sosio-budaya Indonesia ditegakkan dan dikembangkan dalam sistem
kenegaraan Pancasila, sebagai pembudayaan dan pewarisan bagi generasi
penerus.
Kehidupan nasional sebagai bangsa merdeka dan berdaulat sejak
Proklamasi 17 Agustus 1945 berwujud NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD
1945. Sistem NKRI ditegakan oleh kelembagaan negara (suprastruktur)
bersama semua komponen bangsa, yakni infrastruktur dan warganegara
berkewajiban menegakkan asas normatif filosofis-ideologis secara
konstitusional, yakni UUD 1945 seutuhnya sebagai wujud kesetiaan dan
kebanggaan nasional.
Nilai-nilai fundamental dimaksud terutama filsafat hidup
(Weltanschauung) bangsa yang oleh pendiri negara (PPKI) dengan jiwa hikmat
kebijaksanaan dan kenegarawanan, musyawarah mufakat menetapkan dan
mengesahkan sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Berdasarkan legalitas
dan otoritas PPKI sebagai pendiri negara, maka UUD 1945 sesungguhnya
mengikat (imperatif) seluruh komponen bangsa untuk setia menegakkan dan
membudayakannya.
Selanjutnya, asal mula terbentuknya Pancasila sebagai ideologi bangsa
dan negara Indonesia, dapat ditelusuri dari proses pembentukannya, berikut ini.
1) Kausa Materialis
Pancasila yang sekarang menjadi ideologi negara bersumber pada bangsa
Indonesia. Artinya bangsa Indonesia sebagai kausa materialis (asal mula
bahan) dari adanya Pancasila. Nilai-nilai Pancasila digali dari kekayaan
bangsa Indonesia, berupa adat istiadat, budaya, dan nilai religius yang
terpelihara dan berkembang sebagai pandangan hidup atau ideologi
bangsa.
2) Kausa Formalis
Kausa formalis (asal mula bentuk) Pancasila sebagai ideologi negara
merujuk kepada bagaimana proses Pancasila itu dirumuskan menjadi
Pancasila yang terkandung pada Pembukaan UUD 1945, yaitu berasal
mula bentuk pada pidato Ir. Soekarno yang selanjutnya dibahas dalam
sidang BPUPKI khsususnya mengenai bentuk rumusan dan nama.
3) Kausa Efisien
Kausa efisien adalah asal mula karya yang menjadikan Pancasila dari calon
ideologi negara menjadi ideologi negara adalah PPKI yang berperan
sebagai pembentuk negara. Sebagai pemegang kuasa pembentuk negara,
PPKI mengesahkan Pancasila menjadi ideologi negara yang sah setelah
melalui pembahasan mendalam pada sidang-sidang BPUPKI.
4) Kausa Finalis
Pancasila dirumuskan dan dibahas pada sidang-sidang para pendiri negara
untuk diwujudkan sebagai ideologi negara yang sah. Kausa finalis (asal
mula tujuan) mewujudkan Pancasila sebagai ideologi negara yang sah
adalah para anggota BPUPKI dan Panitia Sembilan. Para anggota dari
badan itulah yang menentukan tujuan dirumuskannya Pancasila ditetapkan
oleh PPKI sebagai ideologi negara yang sah.

3.5 Hakikat dan Fungsi Ideologi Pancasila


A. Hakikat Ideologi Pancasila
Pada hakikatnya ideologi Pancasila tidak lain adalah hasil refleksi
bangsa Indonesia berkat kemampuannya mengadakan distansi terhadap dunia
kehidupannya. Antara keduanya, yaitu ideologi dan kenyataan hidup bangsa
terjadi hubungan dialektis, sehingga berlangsung pengaruh timbal balik yang
terwujud dalam interaksi yang disatu pihak memacu ideologi makin realitas dan
dilain pihak mendorong bangsa Indonesia untuk teruus berusaha mendekati
bentuk yang ideal. Ideologi mencerminkan cara berpikir bangsa Indonesia,
namun juga membentuk bangsa Indonesia menuju cita-cita. Dengan demikian
ideologi bukanlah sebuah pengetahuan teoritis belaka tetapi merupakan
sesuatu yang dihayati menjadi sebuah keyakinan.
Ideologi Pancasila adalah satu pilihan yang jelas membawa komitmen
bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkannya. Oleh karena itu, semakin
mendalam kesadaran ideologis setiap bangsa Indonesia akan berarti semakin
tinggi pula rasa komitmennya untuk melaksanakannya. Komitmen itu tercermin
dalam sikap setiap orang Indonesia yang meyakini ideologisnya sebagai
ketentuan-ketentuan normatif yang harus ditaati dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

B. Fungsi Ideologi Pancasila Sebagai Ideologi Negara


Pancasila sebagai ideologi negara memberikan orientasi yang lebih
eksplisit dan terarah kepada keseluruham sistem masyarakat dalam berbagai
aspeknya dan dilakukan dengan cara dan penjelasan yang lebih logis dan
sistematis. Pancasila sebagai ideologi negara berawal dalam fungsinya sebagai
pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia. Kemudian oleh para pendiri
negara prinsip-prinsip dasarnya dieksplisitasi lebih lanjut ke dalam kondisi hidup
modern dan dibersihkan dari unsur-unsur magis atau mistik. Ideologi Pancasila
bukanlah agama. Pedoman dan sumber nilai bermsyarakat yang diberikan oleh
ideologi Pancasila ditujukan langsung untuk kehidupan dunia ini.
Merujuk pada uraian di atas, maka fungsi ideologi Pancasila bagi bangsa
dan negara Indonesia adalah untuk memberikan :
(1) Struktur kognitif berupa keseluruhan pengetahuan yang dapat menjadi
landasan untuk memahami dan menafsirkan dunia dan kejadian alam
sekitar;
(2) Orientasi dasar dengan membuka wawasan yang memberikan makna serta
menunjukkan tujuan dalam kehidupan bangsa dan negara Indonesia;
(3) Norma-norma yang menjadi pedoman dan sumber nilai bagi bangsa
Indonesia untuk melangkah dan bertindak;
(4) Bekal dan jalan bagi orang perorangan untuk menemukan identitasnya
sebagai bangsa Indonesia;
(5) Kekuatan yang mampu mengyemangati dan mendorong bangsa Indonesia
untuk menjalankan aktivitas dan mencapai tujuan; dan
(6) Pendidikan bagi masyarakat untuk memahami, menghayati, serta
mempolakan tingkah lakunya sesuai dengan orientasi dan norma-norma
yang terkandung di dalam ideologi Pancasila.

3.6 Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka


A. Prinsip dan Faktor Pendorong Keterbukaan Pancasila
Sejak ditetapkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 sebagai
ideologi bangsa dan negara, Pancasila memiliki sifat hakikat sebagai ideologi
terbuka. Pada prinsipnya, yaitu :
(1) Keterbukaan ideologi Pancasila bukan berarti membuka pintu lebar-lebar
untuk menerima begitu saja hal-hal dari luar yang bertentangan dengan
nilai-nilai Pancasila, tetapi dalam prinsip untuk memperkaya wawasan dan
orientasi dalam hidup bermasyarakat, berbangs, dan bernegara.
(2) Keterbukaan ideologi Pancasila menjamin tidak totaliter. Maksudnya adalah
warganegara sebagai makhluk individu sekaligus sebagai makhluk sosial.
(3) Keterbukaan menjadikan Pancasila tidak eksklusif, artinya nilai-nilai dasar
Pancasila dapat menyaring unsur-unsur baru yang dapat memperkaya
perkembangan dan pelaksanaan ideologi Pancasila secara positif ke arah
kemajuan kehidupan bangsa dan negara.
(4) Keterbukaan mendorong Pancasila menjadi dinamis. Oleh karena, setiap
warga negara Indonesia berkewajiban untuk mengubah nilai dasar
Pancasila menjadi operasional ke dalam sistem kehidupan kenegaraan
secara nasional.
Beberapa faktor yang mendorong Pancasila sebagai ideologi terbuka,
antara lain :
a) Kenyataan bahwa dalam proses pembangunan nasional, dinamika
masyarakat Indonesia berkembang dengan sangat cepat sehingga
memerlukan kejelasan sikap secara ideologis.
b) Kenyataan menunjukkan bahwa bangkrutnya ideologi tertutup, seperti
komunisme cenderung mengisolasi diri dari perkembangan lingkungan.
c) Pengalaman sejarah politik bangsa Indonesia masa lalu, seperti pada
waktu besarnya pengaruh komunisme. Pancasila pernah menjadi doktrin
yang kaku.
d) Tekad untuk membangkitkan kembali kesadaran bangsa Indonesia
terhadap nilai-nilai dasar Pancasila yang bersifat abadi dan hasrat
mengembangkannya secara kreatif-dinamis dalam rangka mewujudkan
cita-cita tujuan nasional.

B. Tiga Dimensi Ideologi Pancasila


Pancasila sebagai ideologi memiliki dimensi-dimensi realitas, idealitas,
dan fleksibilitas.
1. Dimensi Realitas
Nilai yang terkandung dalam Pancasila bersumber dari nilai-nilai yang riil
dan hidup di dalam masyarakat sehingga nilai-nilai dasar ideologi Pancasila
hidup tertanam dan berakar dalam masyarakat. Ideologi Pancasila
bersumber dari pandangan hidup yang terpelihara dalam adat istiadat,
budaya, agama dan kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap TYME.
2. Dimensi Idealitas
Ideologi Pancasila mengandung cita-cita yang ingin dicapai dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Cita-cita bangsa
Indonesia telah dicantumkan dengan jelas pada Alinea II Pembukaan UUD
1945 yang juga berfungsi sebagai penuangan cita-cita Proklamasi
Kemerdekaan.
3. Dimensi Fleksibilitas
Ideologi Pancasila bersifat terbuka dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan
bangsa Indonesia sebab memiliki kemampuan berinteraksi dan
memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan pemikiran
baru yang relevan dengan perubahan dan kemajuan zaman.
C. Tingkatan Nilai Ideologi Pancasila
Pancasila sebagai ideologi terbuka mengandung nilai dasar yang bersifat
tetap, tidak berubah, dan tidak langsung, serta dapat dioperasionalkan. Untuk
dapat diterapkan dalam bentuk pola pikir yang dinamis dan konseptual, nilai
dasar Pancasila harus diuraikan terlebih dahulu ke dalam nilai instrumental
kemudian ke dalam nilai praksis. Oleh karena itu, ada tiga tingkatan nilai dalam
ideologi Pancasila, yaitu:
a) Nilai Dasar
Nilai atau norma dasar Pancasila merupakan wujud dari isi arti Pancasila
yang abstrak umum universal, bersifat tidak berubah, tidak terikat dengan
tempat dan waktu. Nilai dasar ini berbentuk kaidah-kaidah hakiki
menyangkut eksistensi negara, cita-cita, tujuan, tatanan dasar dan ciri-ciri
khasnya.
b) Nilai Instrumental
Nilai instrumental menjadi sarana mewujudkan nilai dasar. Nilai
instrumental merupakan wujud dari isi arti Pancasila yang umum kolektif,
penerapannya secara kontekstual disesuaikan dengan tuntutan zaman,
akan terkristalisasi dalam lembaga-lembaga yang sesuai dengan
kebutuhan tempat dan waktu. Nilai instrumental dapat berbentuk kebijakan,
strategi, organisasi, sistem, rencana, atau program-program yang
merupakan tindak lanjut dari nilai dasar.
c) Nilai Praksis
Nilai praksis merupakan wujud dari isi arti Pancasila yang khusus konkret.
Nilai praksis adalah wahana pelaksanaan nilai dasar dan instrumental
secara nyata dan sesungguhnya. Nilai praksis sebagai wahana untuk
menunjukkan bahwa nilai dasar berfungsi dalam kehidupan sekaligus
sebagai sarana mengevaluasi atas keberhasilan atau kegagalan
pelaksanaan nilai dasar dalam sesuatu bidang kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.
BAB IV
IDENTITAS NASIONAL

4.1 Pengertian Identitas Nasional


Istilah identitas nasional dapat disamakan dengan identitas kebangsaan.
Secara etimologis, identitas nasional berasal dari kata identitas dan nasional.
Kata identitas berasal dari bahasa Inggris yaitu identity yang berarti ciri, tanda,
atau jati diri yang diimiliki oleh seseorang, kelompok, masayarakat bahkan
bangsa. Sementara nasional berasal dari kata national yang diartikan sebagai
kelompok persekutuan hidup manusia yang lebih besar. Oleh karena itu,
identitas nasional merujuk pada identitas bangsa dalam pengertian politik atau
politic unity.
Identitas nasional Indonesia yang menunjukkan pada identitas-identitas
yang sifatnya nasional. Beberapa bentuk identitas nasional Indonesia, sebagai
berikut :
a) Bahasa nasional;
b) Dasar negara;
c) Lagu kebangsaan;
d) Lambang negara;
e) Semboyan negara;
f) Bendera negara;
g) Konstitusi negara;
h) Bentuk negara;
i) Konsepsi; dan
j) Kebudayaan nasional.

4.2 Unsur Pembentuk Identitas Nasional


Adapun unsur pembentuk identitas nasional bangsa Indonesia, yaitu:
1) Wilayah geografi
Wilayah geografi Indonesia secara historis adalah wilayah yang semula
menjadi wilayah kekuasaan dua kerajaan besar, yakni Sriwijaya dan
Majapahit, meliputi seluruh wilayah nusantara, sebagian Thailand,
Malaysia, Singapura, sampai ke Filipina. Ketika bangsa Indonesia
menyatakan diri menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, secara
politik par pendiri negara menetapkan bahwa wilayah geografi yang
menjadi identitas negara Indonesia adalah seluruh wilayah nusantara yang
meliputi seluruh bekas jajahan Belanda.
2) Suku bangsa
Suku bangsa sebagai unsur pembentuk identitas nasional dibagi ke dalam
dua kelompok, yaitu suku bangsa askriptif dan kelompok migran. Suku
bangsa askriptif adalah suku bangsa yang sudah ada di wilayah geografi
nusantara, sedangkan kelompok migran adalah mereka yang telah
menyatakan diri menjadi warga negara dan setia terhadap Pancasila
sebagai pandangan hidup bangsa, ideologi dan dasar negara. Kelompok
migran di Indonesia meliputi, migran dari Asia (Tionghoa, Arab, dan India),
migran dari Eropa (Belanda, Jerman, Italia), migran dari Amerika (Kanada
dan Amerika Serikat), migran dari Afrika (Mesir dan Nigeria). Oleh karena
itu, bangsa Indonesia terbentuk dari ras dan suku bangsa yang majemuk,
sebagian besar termasuk suku bangsa askriptif. Secara keseluruhan, di
Indonesia terdapat lebih kurang 300 suku bangsa dengan bahasa dan
dialek yang berbeda.
3) Agama
Agama menjadi unsur pembentuk identitas nasional berdasarkan realitas
bahwa bangsa Indonesia tergolong sebagai rakyat agamis, yang secara
sadar bersama-sama membangun hubungan yang rukun antar umat
seagama dan antar umat beragama. Bagi bangsa Indonesia, kemajemukan
dalam beragama merupakan anugerah dari TYME yang wajib disyukuri dan
dikelola secara wajar. Sebagai upaya mencegah resiko konflik antar umat
beragama diantaranya adalah saling mengakui secara positif keberadaan
agama dan para pemeluk serta saling menghormati prinsip satu sama lain.
4) Kebudayaan
Kebudayaan menjadi unsur pembentuk identitas nasional karena realitas
bahwa kebudayaan yang dipelihara dan berkembang di dalam lingkungan
setiap suku bangsa berisi nilai-nilai dasar yang secara kolektif digunakan
oleh para pendukungnya untuk menafsiirkan dan memahami lingkungan
serta digunakan sebagai pedoman berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai
dengan lingkungan yang dihadapi.
5) Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia yang sekarang digunakan sebagai bahasa pemersatu
bangsa Indonesia berawal dari bahasa Melayu. Dalam interaksi antar suku
bangsa yang mendiami kepulauan nusantara, bahasa melayu telah menjadi
bahasa penghubung (lingua franca) jauh sebelum kemerdekaan. Dalam
fungsinya sebagai bahasa penghubung itulah bahasa melayu kemudian
ditetapkan oleh para pemuda dari Sabang sampai Merauke sebagai bahasa
persatuan dalam ikrar Sumpah Pemuda.

4.3 Perjuangan Menjadi Satu Bangsa


Bangsa yang sekarang disebut bangsa Indonesia terbentuk dari
kumpulan berbagai suku bangsa yang khususnya telah mendiami kepulauan
nusantara. Mereka hidup berkelompok sebagai rakyat dalam wilayah kerajaan-
kerajaan. Bangsa Indonesia mengalami berbagai era pemerintahan kerajaan,
dari kerajaan bbercorak Hindu dan Budha sampai pada kerajaan yang bercorak
Islam. Setiap kerajaan merupakan sebuah pemerintahan otonom yang saling
menjaga hubungan baik satu sama lain, akan tetapi berjalan secara sendiri.
Perlawanan yang tersebar di setiap daerah ataupun peperangan
melawan penjajah yang dilakukan oleh pemimpin keadaerahan, kepala suku,
bahkan raja sekalipun belum mampu mengusir penjajah dari bumi nusantara
secara keseluruhan. Dampak langsung dari kejadian sebagai bangsa yang
terjajah adalah rakyat Indonesia mengalami keterbelakangan, kebodohan, dan
kemiskinan akibat ditutupnya kesempatan belajar bagi rakyat pribumi.
Kesadaran bangsa Indonesia bangkit untuk berbangsa sejalan dengan
terjadinya pergolakan kebangkitan bangsa-bangsa terjajah di dunia untuk
membentuk negara merdeka, berdaulat, dan mengatur diri sendiri menurut
kekuatan sendiri. Dr. Wahidin Sudirohusodo merupakan orang yang berjasa
membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia untuk membangun jiwa
kebangsaan. Atas semangat tersebutlah pada tanggal 20 Mei 1908 berdirilah
organisasi pergerakan nasional pertama yang diberi nama “Boedi Oetomo”,
didirikan oleh Sutomo, Suradji, dan Gunawan Mangunkusumo di Jakarta.
Sejak itu semangat kebangsaan bangsa Indonesia semakin berapi,
terbukti dengan lahirnya berbagai organisasi pergerakan nasional, seperti
Sarekat Islam, Indische Partij, PNI, Partai Indonesia, serta berbagai organisasi
pemuda lainnya, misalnya Jong Java, Jong Sumatra, dan lain-lain.
Pada tahun 1928 tokoh-tokoh organisasi pergerakan nasional dan
organisasi pemuda mengadakan Kongres Pemuda I dengan menghasilkan
kesepakatan untuk menggalang persatuan dari seluruh organisasi pergerakan
dan organisasi pemuda untuk melawan penjajah Belanda. Kebulatan tekad
untuk menjadi bangsa Indonesia ditindaklanjuti dengan mengadakan Kongres
Pemuda II dan pada tanggal 28 Oktober 1928 menghasilkan ikrar yang dikenal
dengan Sumpah Pemuda. Sosok perjuangan semakin jelas, baik secara politik
maupun fisik. Organisasi pergerakan nasional dengan tokoh pemuda mencapai
kata sepakat bahwa kemerdekaan Indonesia dapat diwujudkan dengan syarat
adanya persatuan dan kesatuan nasional. Diantara para tokoh pergerakan dan
pemuda itu adalah Ir. Soekarno yang mempunyai semangat nasionalisme.
Perang Dunia II berperan dalam menghentikan penjajahan Belanda
atas bangsa Indonesia, tetapi kemudian bangsa Indonesia jatuh ke dalam
penjajahan Jepang. Guna mendapatkan simpati rakyat Indonesia membantu
Jepang melawan tentara Sekutu, pemerintah pendudukan Jepang pada tanggal
29 April 1945 membentuk BPUPKI yang diberi tugas untuk mempersiapkan
Indonesia merdeka.

4.4 Konsep Pancasila Identitas Nasional


Konsep yang terdapat di dalam Pancasila sebagai identitas nasional
bangsa Indonesia, meliputi:
1) Konsep tentang hakikat eksistensi manusia
2) Konsep pluralistik
3) Konsep harmoni dan keselarasan
4) Konsep kekeluargaan dan gotong royong
5) Konsep integralistik
6) Konsep kerakyatan
7) Konsep kebangsaan
4.5 Pemberdayaan Identitas Nasional
A. Keterkaitan Identitas Nasional dan Globalisasi
Dalam konteks pergaulan dan hubungan antarbangsa di dunia, bangsa
Indonesia tidak dapat menghindar dari pengaruh globalisasi di berbagai bidang
kehidupan. Globalisasi adalah masuk atau mewabahnya pengaruh dari suatu
negara dalam pergaulan dunia. Proses globalisasi mengandung implikasi
bahwa suatu suatu aktivitas yang sebelumnya terbatas jangkauannya secara
nasional, namun secara bertahap dapat diterapkan di berbagai negara yang
dianggap sebagai semboyan yang bernilai universal.
Semboyan globalisasi bila dicermati secara kebangsaan Indonesia
merupakan instrumen atau sarana untuk menyebarluaskan ideologi liberal atau
liberaisme, terutama melalui bidang sosial-budaya, ekonomi, politik, serta
pertahanan dan keamanan negara.
Bagi bangsa Indonesia, globalisasi harus dipandang sebagai instrumen
yang pantas dipahami sebagai konsep pergaulan dan hubungan internasional
dalam urusan ekonomi antarbangsa dan sebagai faktor yang memperkaya
serta memajukan iptek bagi pembangunan bangsa dan negara Indonesia.
Dalam bidang sosial-budaya, nilai individualistis yang dibawa gobalisasi bernilai
positif untuk membangkitkan semangat kerja keras, meningkatkan kemampuan
dan keterampilan sebagai hasil proses liberalisasi pendidikan dan pengaruh
kemajuan ipteks untuk mampu bersaing dengan banggsa-bangsa lain dalam
mengolah sumber daya alam.
Di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi, globalisasi menjadi
instrumen efektif dalam melahirkan berbagai sikap perilaku yang bertentangan
dengan nilai keimanan dan ketaqwaan sebagai nilai tertinggi dari Pancasila.
Sementara di bidang ekonomi, globalisasi menanamkan lliberalisasi
perdagangan dalam kehidupan ekonomi. Upaya-upaya ke arah liberalisasi
perdagangan atau perdagangan bebas mulai digerakkan pada tahun 1947 pada
pertemuan dunia pertama di Jenewa yang melahirkan GATT (General
Agreement on Tarrifs and Trade).
Dalam bidang politik, globalisasi menanamkan liberalisasi politik dalam
kehidupan politik. Mendasarkan pada prinsip sekuler dalam kehidupan politik
adalah menjauhkan segala hal yang berbau agama. Ideologi liberal kemudian
dijadikan dasar filsafat bagi adanya kedaulatan manusia yang mewujud ke
dalam kedaulatan rakyat. Kedaulatan rakyat itu diterapkan dalam sistem
demokrasi melalui pemilu dan proses-proses politik untuk mengatur kehidupan
bernegara.
Dalam bidang pertahanan dan keamanan, globalisasi memunculkan
sikap arogan dan ingin menang sendiri. Kebebasan individu dijadikan dasar
untuk mempengaruhi dan menguasai kehidupan bangsa-bangsa di dunia.
Eksploitasi dan monopoli sistem persenjataan adalah pusat perhatiannya,
menjadi alat untuk menghancurkan bangsa-bangsa terutama bangsa-bangsa
yang tidak menganut ideologi liberal. Sistem ini sangat bertentangan dengan
Pancasila sebagai identitas nasional bangsa dan negara Indonesia yang lebih
mendasarkan pada nilai-nilai persatuan dan kesatuan di dalam pembangunan
sistem pertahanan dan keamanan yang dikenal dengan nama Sistem
Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta atau SISHANKAMRATA.

B. Revitalisasi Ideologi Pancasila Sebagai Pemberdayaan Identitas Nasional


Globalisasi dalam konteks ekonomi merupakan peluang yang dapat
dimanfaatkan sebagai potensi pasar yang luas dan sumber dana dan teknologi
serta menjadi alternatif pilihan produk berkualitas dan murah. Globalisasi telah
berhasil membuat bangsa Indonesia saat ini menjadi ragu-ragu terhadap nilai-
nilai dasar Pancasila yang telah disepakati bersama sebagai identitas nasional.
Untuk memberdayakan Pancasila kembali menjadi identitas nasional
dalam konteks kehidupan kebangsaan Indonesia. Upaya-upaya pokok yang
secara terus menerus dilakukan adalah :
(a) Memperkuat kesadaran terhadap ideologi Pancasila;
(b) Memperkuat daya tahan;
(c) Meningkatkan daya saing; dan
(d) Memperkuat semangat kebangsaan.
BAB V
HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA INDONESIA

5.1 Pengertian Warga Negara, Penduduk, dan Rakyat


A. Warga Negara
Istilah warga negara berasal dari bahasa Inggris citizen yang berarti
warga negara, penduduk dari suatu kota, sesama warga negara, sesama
penduduk, orang setanah air, dan bawahan atau kawula. Sementara menurut
AS. Hikam dalam Ghazali (2004), warga negara sebagai terjemahan dari citizen
yaitu anggota dari suatu komunitas yang membentuk negara itu sendiri.
Warga mengandung arti peserta, anggota atau warga dari suatu
oorganisasi perkumpulan, sedangkan warga negara artinya warga atau anggota
dari suatu negara. Jadi, dapat disimpulkan bahwa warga negara adalah
anggota dari suatu negara.
Selanjutnya, kewarganegaraan atau citizenship artinya keanggotaan
yang menunjukkan hubungan atau ikatan antara warga negara dengan warga
negara. Istilah kewarganegaraan dibedakan menjadi dua, yaitu :
1) Kewarganegaraan dalam arti yuridis dan sosiologis
a. Kewarganegaraan dalam arti yuridis ditandai dengan adanya ikatan
hukum antara warga negara dengan negara.
b. Kewarganegaraan dalam arti sosiologis tidak ditandai dengan ikatan
hukum tetapi ikatan emosional, seperti ikatan perasaan, ikatan
keturunan, ikatan nasib, ikatan sejarah tanah air.
2) Kewarganegaraan dalam arti formal dan material
a. Kewarganegaraan dalam arti formal menunjukkan pada tempat
kewarganegaraan.
b. Kewarganegaraan dalam arti material yaitu adanya hak dan kewajiban
warga negara.

B. Penduduk
Penduduk adalah orang-orang yang berada di dalam suatu wilayah
yang terikat oleh aturan-aturan yang berlaku dan saling berinteraksi satu sama
lain secara terus menerus / kontinu. Dalam sosiologi, penduduk adalah
kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu.
Penduduk suatu negara atau daerah bisa didefinisikan menjadi dua, yaitu (1)
orang yang tinggal di daerah tersebut; dan (2) orang yang secara hukum
berhak tinggal di daerah tersebut. Dengan kata lain orang yang mempunyai
surat resmi untuk tinggal di situ. Misalkan bukti kewarganegaraan, tetapi
memilih tinggal di daerah lain. Kepadatan penduduk dihitung dengan membagi
jumlah penduduk dengan luas area dimana mereka tinggal.
Masalah-masalah kependudukan dipelajari dalam ilmu Demografi.
Berbagai aspek perilaku menusia dipelajari dalam sosiologi, ekonomi, dan
geografi. Demografi banyak digunakan dalam pemasaran, yang berhubungan
erat dengan unit-unit ekonomi, seperti pengecer hingga pelanggan potensial.

C. Rakyat
Rakyat adalah penduduk Indonesia yang telah setuju dengan berdirinya
Negara Republik Indonesia dan memberikan mandat kepada sekelompok orang
Indonesia yang rela melepaskan haknya sebagai rakyat untuk bersedia
mengelola pemerintahan Negara Republik Indonesia yang dimandatkan atas
kedaulatan rakyat dan hanya mengabdi kepada rakyat.

5.3 Hak-hak warga negara


Berikut ini adalah hak dan kewajiban negara terhadap warga negara
pada dasarnya merupakan kewajiban warga negara terhadap negara. Adapun
ketentuan tersebut, sebagai berikut :
(1) Hak negara untuk ditaati hukum dan pemerintahan;
(2) Hak negara untuk dibela;
(3) Hak negara untuk menguasai sistem hukum yang adil;
(4) Hak negara untuk menjamin hak asasi warga negara;
(5) Hak negara untuk mengembangkan sistem pendidikan nasional;
(6) Hak negara untuk memberi jaminan sosial; dan
(7) Hak negara untuk memberi kebebasan beribadah.
Adapun hak warga negara, antara lain :
a) Pasal 27
b) Pasal 28
c) Pasal 28 Ayat A-J
d) Pasal 29 Ayat 1 dan 2
e) Pasal 30 Ayat 1
f) Pasal 31 Ayat 1 dan 2
g) Pasal 32 Ayat 1
h) Pasal 33 Ayat 1
i) Pasal 33 Ayat 1, 2, 3, 4, dan 5
j) Pasal 34

5.4 Kewajiban warga negara


Adapun kewajiban warga negara, antara lain :
a) Pasal 27 Ayat 1
b) Pasal 27 Ayat 3
c) Pasal 30 Ayat 1
BAB VI
DEMOKRASI INDONESIA

6.1 Pengertian negara, teori terjadi negara, sifat dan unsur-unsur negara
A. Pengertian Negara
Secara literal istilah negara merupakan terjemahan dari kata-kata
asing, yakni state (bahasa Inggris), staat (bahasa Belanda dan Jerman) dan
etat (bahasa Perancis). Kata staat, state, etate itu diambil dari kata bahasa latin
status atau statum, yang berarti keadaan yang tegak dan tetap atau sesuatu
yang memiliki sifat-sifat yang tegak dan tetap.
Dalam konsepsi Islam, dengan mengacu pada al-Quran dan al-Sunnah,
tidak ditemukan rumusan tentang negara secara eksplisit, hanya saja dalam al-
Quran dan al-Sunnah terdapat prinsip-prinsip dasar dalam bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Selain itu, konsep islam tentang negara juga berasal
dari 3 tahap paradigma, yaitu:
a) Paradigma tentang teori khilafah yang dipraktikan sesudah Rasulullah Saw,
terutama biasanya merujuk pada masa Khulafa al Rasyidun;
b) Paradigma yang bersumber pada teori imamah dalam paham islam Syi’ah;
c) Paradigma yang bersumber dari teori imamah atau pemerintahan.

B. Tujuan Negara
Tujuan negara adalah :
a) Memperluas kekuasaan
b) Menyelenggarakan ketertiban hukum
c) Mencapai kesejahteraan umum
Menurut Plato bahwa memajukan kesusilaan manusia, sebagai
perseorangan (individu) dan sebagai makhluk sosial. Menurut Roger H. Soltau:
Memungkinkan rakyatnya berkembang serta menyelenggarakan daya ciptanya
sebebas mungkin (the freest possible development and creative self-expression
of its members).
Tujuan negara Republik Indonesia: “Memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”
C. Unsur-Unsur Negara
Dalam rumusan Konveni Montevideo tahun1933 disebbutkan negara
harus memiiki tiga unsur penting yaitu rakyat, wilayah dan pemerintah. Sejalan
dengan itu, Mac Iver merumuskan bahwa suatu negara harus memenuhi 3
unsur pokok yaitu pemerintahan, rakyat dan wilayah tertentu. Ketiga unsur ini
oleh Mahfud MD disebut sebagai unsur konstitutif.
1) Rakyat
Setiap negara tidak mungkin bisa ada tanpa adanya warga atau rakyatnya.
Unsur rakyat ini sangat penting dalam sebuah negara, karena secara konkret
rakyatlah yang memiliki kepentingan agar negara itu dapat berjalan baik.
2) Wilayah
Wilayah dalam sebuah negara merupakan unsur yang harus ada, karena
tidak mungkin ada negara tanpa ada batas-batas teritoral yang jelas.
Sebagai contoh, pada tahun 1860, Kursi Suci (Holy See, Papacy) adalah
sebuah negara, karena menguasai sebagian wilayah Italia dari pantai barat
sampai ke bagian timur jazirah Italia. Secara mendasar, wilayah dalam
sebuah negara biasanya mencangkup daratan (wilayah darat), perairan
(wilayah laut/perairan) dan udara (wilayah udara).
a. Daratan (wilayah darat)
Wilayah darat suatu negara dibatasi oleh wilayah darat dan atau laut
(perairan) negara lain. Pembatasan wilayah suatu negara biasanya
ditentukan berdasarkan perjanjian.
b. Perairan (wilayah laut/perairan)
Perairan atau laut yang menjadi bagian atau termasuk wilayah suatu
negara disebut perairan atau laut teritorial dari negara bersangkutan.
c. Udara (wilayah udara)
Udara yang berada di atas wilayah darat dan wilayah laut teritorial suatu
negar merupakan bagian dari wilayah udara sebuah negara.
3) Pemerintah
Pemerintah adalah alat kelengkapan negara yang bertugas memimpin
organisasi negara untuk mencapai tujuan negara. Oleh karenanya,
pemerintah seringkali menjadi personifikasi sebuah negara.
D. Teori Terbentuknya Negara
1. Teori Kontrak Sosial (Social Contrac)
Teori kontrak sosial atau teori perjanjian masyarakat beranggapan
bahwa negara dibentuk berdasarkan perjanjian-perjajnjian masyarakat. Teori ini
adalah salah satu teori yang terpenting mengenai asal-usul negara.
1) Thomas Hobbes (1588-1679) : Hobbes mengemukakan bahwa kehidupan
manusia terpisah dalam 2 zaman, yakni keadaan selama belum ada negara.
2) John Locke (1632-1704) : Bagi Locke, keadaan alamiah ditafsirkan sebagai
suatu keadaan dimana manusia hidup bebas dan sederajat, menurut
kehendak hatinya sendiri.
3) Jean Jacques Rousseau (1712-1778) : Rousseau merupakan tokoh yang
pertama kali menggunakan istilah kontrak sosial (social contract).
2. Teori Ketuhanan
Negara dibentuk oleh tuhan dan pemimpin-pemimpin negara ditunjuk
oleh tuhan. Raja dan pemimpin-pemimpin negara hanya bertanggung jawab
pada tuhan dan tidak pada siapapun.
3. Teori Kekuatan
Negara yang pertama adalah hasil dominasi dari kelompok yan kuat
terhadap kelompok yang lemah. Negara terbentuk dengan penakhlukan dan
pendudukan. Dengan penaklukan dan pendudukan dari sekelompok etnis yang
lebih kuat atas kelompok etnis yang lebih lemah.
4. Teori Organis
Negara dianggap atau disamakan dengan makhluk hidup, manusia
atau binatang. Individu yang merupakan kompenen-kompenen negara
dianggap sebagai sel-sel dari makhluk hidup itu. Kehidupan korporal dari
negara dapat disamakan sebagai tulang belulang manusia, undang-undang
sebagai urat syaraf, raja (kaisar) sebagai kepala dan para individu sebagai
daging makhluk hidup itu.
5. Teori Historis
Lembaga-lembaga sosial tidak dibuat, tetapi tumbuh secara
evolusioner sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan manusia.
6.2 Pengertian dan konsep demokrasi
Kata demokrasi dapat ditinjau dari dua sudut pandang, yaitu :
a. Pengertian Secara Etimologis
Dari sudut bahasa, demokrasi berasal dari bahasa Yunani demos
berarti rakyat dan cratos atau cratein berarti pemerintahan atau kekuasaan.
Konsep negara demokratis ini muncul dan dipraktekkan pada abad ke-4 sampai
ke-6 SM. Demokrasi yang dipraktekkan pada waktu itu adalah demokrasi
langsung atau direct democracy.
Demokrasi langsung artinya hak rakyat untuk membuat keputusan-
keputusan politik dijalankan secara langsung oleh seluruh rakyat atau warga
negara. Hal ini dapat dilakukan karena pada saat itu Yunani masih berbentuk
negara kota atau polis yang penduduknya terbatas. Namun, seiring dengan
berjalannya waktu pada saat ini orang lebih mengenal pelaksanaan demokrasi
secara tidak langsung atau demokrasi perwakilan.
b. Pengertian Secara Terminologis
Dari sudut iistilah, pengertian demokrasi dikemukakan oleh beberapa
ahli politik, sebagai berikut :
1) Abraham Lincoln
Demokrasi adalah pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat atau
government of the people, by the people, and for the people.
2) Harris Soche
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan rakyat, karena itu kekuasaan
pemerintahan itu melekat pada diri rakyat.
3) Henry B. Mayo
Demokrasi adalah sistem politik yang menunjukkan bahwa kebijaksanaan
umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara
efektif oleh rakyat dalam pemilihan umum.
4) International Commision for Jurrist
Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan, dimana hak untuk membuat
keputusan-keputusan politik diselenggararakan oleh warga negara melalui
wakil-wakil yang dipilih oleh mereka dan bertanggung jawab kepada mereka
melalui suatu proses pemilihan yang bebas.
6.3 Demokrasi dalam sistem NKRI
A. Demokrasi pada Periode 1945-1959
Demokrasi pada masa ini dikenal dengan sebutan demokrasi
parlementer. Sistem parlementer yang mulai berlaku sebulan sesudah
kemerdekaan diproklamirkan dan kemudian diperkuat dalam Undang-Undang
Dasar 1945 dan 1950, ternyata kurang cocok untuk Indonesia. Undang-Undang
Dasar 1950 menetapkan berrlakunya sistem parlementer dimana bbadan
eksekutif terdiri dari Preiden sebagai kepala negara konstitusional
(constitutional head) beserta menteri-menterinya yang mempunyai tanggung
jawab politik. Disamping itu trenyata ada beberapa kekuatan sosial dan politik
yang tidak memperoleh saluran dan tempat yang realistis dalam konstelasi
politik, padahal merupakan kekuatan yang paling penting.

B. Demokrasi pada Peiode 1959-1965


Ciri-ciri periode ini adalah dominasi dari presiden, terbatasnya peranan
partai politik, berkembangnya pengaruh komunis dan meluasnya peranan ABRI
sebagai unsur sosial politik. Dekrit president 5 juli dapat dipandang sebagai
suatu usaha mencari jalan keluar dari kemacetan politik melalui pembentukan
kepemimpinan yang kuat.Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong yang
mengganti Dewan Perwakilan Rakyat hasil pemilihan umum ditonjolkan
peranannya sebagai pembantu pemerintah sedangkan fungsi kontrol
ditiadakan. Selain itu terjadi penyelewengan dibidang perundang-undangan
dimana berbagai tindakan pemerintah dilaksanakan melalui penetapan
presiden Yng memakai Dekrit 5 Juli sebagai sumber hukum.
Dalam pandangan Ahmad Syafi’i Ma’arif demokrasi terpimpin
sebenarnya ingin menempatkan Soekarno sebagai ayah dalam famili besar
yang bernama Indonesia dengan kekuasaan terpusat berada ditangannya.

C. Demokrasi pada Periode 1965-1998


Landasan formil dari periode ini adalah Pacasila, Undang-Undang Dasar
1945 serta ketetapan-ketetapan MPRS. Bebarapa perumusan tentang
demokrasi Pancasila sebagai berikut:
a) Demokrasi dalam bidang politik pada hakekatnya adalah menegakkan
kembali asas-asas hukum dan kepastian hukum;
b) Demokrasi dalam bidang ekonomi pada hakekatnya adalah kehidupan yang
layak bagi semua warga negara;
c) Demokrasi dalam bidang hukum pada hakekatnya bahwa pengakuan dan
perlindungan HAM, peradilan yang bebas dan tidak memihak.
Menurut Rusli Karim rezim orde baru, ditandai oleh :
1) Dominannya peranan ABRI;
2) Birokratisasi dan sentralisasi pengambilan keputusan politik;
3) Pengebirian peran dan fungsi pertai politik;
4) Campur tangan pemerintah dalam berbagai urusan partai politik dan publik;
5) Masa mengambang;
6) Monolitisasi ideologi negara; serta
7) Inkoorporasi lembaga non pemerintah

D. Demokrasi pada Periode 1998 sampai sekarang


Runtuhnya rezim otoriter Orde Baru telah membawa harapan baru bagi
tumbuhnya demokrasi Indonesia. Sukses atau gagalnya transisi demokrasi
sangat bergantung pada empat faktor kunci, yakni (1) komposisi elite politik; (2)
desain institusi politik; (3) kultur politik atau perubahan sikap terhadap politik
dikalangan ellite dan non ellite; dan (4) peran civil society.
Menurut Sorensen transisi bentuk pemerintahan (rezim) non demokratis
menjadi demokratis, seperti yang tengah terjadi diIndonesia dalam tiga tahun
terakhir merupakan proses yang sangat lama dan komplek karena melilbatkan
beberapa tahap. Pertama, tahap persiapan ( preparatory phase) yang ditandai
dengan pergulatan dan pergolakan politik yang berakhir dengan jatuhnya rezim
non demokratis. Kedua, tahap penentuan (decision phase) dimana unsur-unsur
penegak demokrasi dibangun dan dikembangkan. Ketiga, tahap konsolidasi
(democratic phase). Dimana demokrasi baru dikembangkan lebih lanjut
sehingga praktik demokrasi menjadi bagian yang mapan dari budaya politik.
Dalam kaitan dengan transisi menuju demokrasi, Indonesia saat ini tengah
berada dalam fase kedua dan ketiga.
Selain itu, demokrasi dalam sistem NKRI dimulai dengan adanya:
1. Demokrasi Desa
Menurut Moh. Hatta dalam Padmo Wahyono (1990) desa-desa di
Indonesia sudah menjalankan demokrasi, misalnya dengan pemilihan Kepala
Desa dan adanya rembug desa. Hal inilah yang dinamakan sebagai demokrasi
desa. Demokrasi desa memiliki lima unsur, yaitu rapat, mufakat, gotong royong,
hak mengadakan proses bersama, dan hak menyingkir dari kekuasaan raja
absolut. Masih menurut Moh. Hatta, demokrasi di Indonesia dibedakan menjadi
tiga bagian, yakni :
(1) Demokrasi di bidang politik.
(2) Demokrasi di bidang ekonomi.
(3) Demokrasi di bidang sosial.

2. Demokrasi Pancasila
Demokrasi yang berkembang di Indonesia dan bersumber dari
ideologisnya adalah Demokrasi Pancasila. Pancasila adalah ideologi nasional
yakni seperangkat nilai yang dianggap baik, sesuai, dan menguntungkan
bangsa. Adapun nilai-nilai demokrasi yang terjabar dalam nilai-nilai luhur
Pancasila, sebagai berikut :
(1) Kedaulatan rakyat;
(2) Republik;
(3) Negara berdasar atas hukum;
(4) Pemerintahan yang konstitusional;
(5) Sistem perwakilan;
(6) Prinsip musyawarah; dan
(7) Prinsip ketuhanan.
BAB VII
HAK ASASI MANUSIA

7.1 Pengertian HAM


Hak asasi manusia adalah hak dasar yang melekat dan dimiliki setiap
manusia sebagai anugerah TYME. Pasha (2002) menyatakan bahwa yang
dimaksud dengan HAM ialah hak-hak dasar yang dibawa manusia sejak lahir
dan melekat pada esensinya sebagai anugerah Allah SWT. Sementara Ghazali
(2004) menyatakan bahwa HAM merupakan hak-hak dasar yang dibawa sejak
lahir dan melekat dengan potensinya sebagai makhluk dan wakil Tuhan.
Pengakuan terhadap HAM memiliki dua landasan, sebagai berikut :
(1) Landasan yang langsung dan pertama
Adalah kodrat manusia, yakni sama derajat dan martabatnya.
(2) Landasan yang lebih dalam dan kedua
Adalah Tuhan menciptakan manusia, yakni semua manusia merupakan
makhluk dari pencipta yang sama yaitu TYME.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa ada yang berpendapat sebenarnya HAM
bermula dari yang dikenal dengan istilah right of man untuk menggantikan
natural right. Istilah natural right berasal dari konsep John Locke (1932-1704)
mengenai hak-hak alamiah manusia. Hak tersebut meliputi hak untuk hidup,
hak kemerdekaan, hak milik, dan sebagainya.
Akhir-akhir ini masalah HAM (HAM) menjadi masalah yang sering dibicarakan,
mulai dari dimasukkannya masalah HAM ini ke dalam UUD 1945 yang di amandemen,
terlebih lagi banyaknya peristiwa yang terjadi (baik di Indonesia maupun di luar negeri)
yang melanggar HAM. Salah satu contohnya adalah masih belum jelasnya penyebab
kematian aktivis HAM Munir, bahkan jika di suatu negara terjadi pelanggaran HAM,
maka masalah ini akan menjadi “senjata yang ampuh bagi negara lain (dunia
internasional) untuk menjatuhkan wibawa dari negara yang mengalami permasalahan
HAM tersebut.
Sebelum kita memahami apa arti Hak-hak Asasi Manusia (HAM), baiklah
kita pahami dulu arti HAM ditinjau dari asal katanya. Hak-hak asasi manusia
terdiri atas tiga kata, yang pertama adalah kata “hak”, kedua kata “asasi”, dan
ketiga adalah “manusia’.
Kata hak diartikan bermacam-macam, Winataputra (2003:6.3))
menyebutkan bahwa hak diartikan sebagai sesuatu yang benar, kewenangan,
kekuasaan untuk berbuat sesuatu atau kekuasaan yang benar atas sesuatu
atau untuk menuntut sesuatu. Sedangkan “asasi” berarti bersifat dasar atau
hak pokok yang dimiliki oleh manusia, seperti hak hidup, hak berbicara, dan hak
mendapat perlindungan. Selanjutnya manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan
Yang Maha Kuasa yang paling sempurna diantara mahluk-mahluk lain ciptaan-
Nya.
Mengingat sifatnya mendasar manusia, maka HAM dianggap sebagai
hak yang tidak dapat dicabut atau dihilangkan. Dengan kata lain, HAM perlu
mendapat jaminan oleh negara atau pemerintah, oleh karenanya siapa saja
yang melanggarnya harus mendapat sanksi yang tegas.
Baiklah, jika anda telah mendiskusikannya, cobalah Anda pahami
pengertian HAM di bawah ini, sehingga Anda dapat memastikan apakah
sejumlah daftar yang saudara buat tadi adalah memang termasuk HAM
ataukah bukan ?
HAM dapat diartikan sesuatu yang benar, HAM adalah hak-hak yang
telah dimiliki seseorang sejak ia lahir dan merupakan pemberian dari Tuhan.
Dasar-dasar HAM tertuang dalam deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat
(Declaration of Independence of USA) dan tercantum dalam UUD 1945
Republik Indonesia, seperti pada pasal 27 ayat 1, pasal 28, pasal 29 ayat 2,
pasal 30 ayat 1, dan pasal 31 ayat 1 (UUD 1945 sebelum amandemen),
sedangkan di dalam UUD 1945, masalah HAM diatur secara khusus mulai
pasal 28a-28j. Contoh HAM : Hak untuk hidup, Hak untuk memperoleh
pendidikan, Hak untuk hidup bersama-sama seperti orang lain, Hak untuk
mendapatkan perlakuan yang sama, Hak untuk mendapatkan pekerjaan.
Hari HAM dirayakan tiap tahun oleh banyak negara di seluruh dunia setiap
tanggal 10 Desember. Ini dinyatakan oleh International Humanist and Ethical Union
(IHEU) sebagai hari resmi perayaan kaum Humanisme. Tanggal ini dipilih untuk
menghormati Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengadopsi dan
memproklamasikan Deklarasi Universal HAM, sebuah pernyataan global tentang HAM,
pada 10 Desember 1948. Peringatan dimulai sejak 1950 ketika Majelis Umum
mengundang semua negara dan organisasi yang peduli untuk merayakan.
Pengertian HAM beraneka ragam antara lain dapat ditemukan dan
penglihatan dimensi visi, perkembangan. Deklarasi HAM Universal/ PBB
(Universal Declaration of Human Right/UDHR) dan menurut UU No. 39 Tahun
1999.
Hak-hak asasi manusia terkait dengan martabat manusia. Tentang
manusia bermartabat, baik dan mulia pada umumnya ditanggapi dari dua
pendekata dan orientasi (pandangan). Pertama, pendekatan dan orientasi
status, yang menempatkan martabat manusia sebagai hadiah atau pemberian
atau takdir Tuhan. Prinsipnya, bahwa Tuhan telah menciptakan manusia dalam
sebaik-baik makhluk. Manusia dengan akan dan pikirannya telah menjadi
makhuk yang paling sempurna diantara makhluk-mkhluk lainnya. Dengan
begitu, manusia mau tidak mau (given) menyandang martabat yang tinggi.
Kedua, pendekatan dan orientasi prestasi. Pandekatan dan pandangan
prestasi (achievement oriented), menyatakan bahwa martabat manusia tidak
given tetapi harus dicapai setelah manusia berjuang dan berusaha meperoleh
martabat mulai dengan jerih payah dan kegigihan. Dalam pandangan prestasi,
martabat manusia tidak dapat dipertahankan apabila manusia berkinerja
(mencapai prestasi) yang rendah atau buruk. Memang ada pengakuan bahwa
ketika lahir manusia memiliki derajat yang mulia, tetapi sepanjang hidupnya
martabat itu akan dipertaruhkan menurut amal perbuatannya.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, bagaimanakah kaitannya
dengan persoalan hak asasi manusia? Hak asasi manusia itu given atau
prestasi, atau kedua-duanya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perhatikan
definisi hak asasi manusia menurut Undang-Undang No. 39 Tahun 1999
tentang Hak Asasi Manusia yang ada di bawah ini.
Hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat
dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan
merupakan anugerahnya yang wajib dihoramati, dijunjung tinggi, dan
dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi
kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia (UU No.
39 Tahun 1999, pasal 1 angka 1).

Menurut definisi tersebut, perlu dipahami bahwa hak asasi manusia tidaklah
bersumber dari penguasa, negara, atau hukum, melainkan semata-mata
bersumber dari Tuhan. Dengan demikian, hak asasi manusia tidak dapat
dikurangi (non derogable right). Tindakan yang diperlukan dari negara dan
hukum adalah suatu pengakuan dan jaminan perlindungan terhadap hak asasi
manusia tersebut. ebelum kita memahami apa arti Hak-hak Asasi Manusia
(HAM), baiklah kita pahami dulu arti HAM ditinjau dari asal katanya. Hak-hak
asasi manusia terdiri atas tiga kata, yang pertama adalah kata “hak”, kedua
kata “asasi”, dan ketiga adalah “manusia’.
Kata hak diartikan bermacam-macam, Winataputra (2003:6.3))
menyebutkan bahwa hak diartikan sebagai sesuatu yang benar, kewenangan,
kekuasaan untuk berbuat sesuatu atau kekuasaan yang benar atas sesuatu
atau untuk menuntut sesuatu. Sedangkan “asasi” berarti bersifat dasar atau
hak pokok yang dimiliki oleh manusia, seperti hak hidup, hak berbicara, dan hak
mendapat perlindungan. Selanjutnya manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan
Yang Maha Kuasa yang paling sempurna diantara mahluk-mahluk lain ciptaan-
Nya.
Mengingat sifatnya mendasar manusia, maka HAM dianggap sebagai
hak yang tidak dapat dicabut atau dihilangkan. Dengan kata lain, HAM perlu
mendapat jaminan oleh negara atau pemerintah, oleh karenanya siapa saja
yang melanggarnya harus mendapat sanksi yang tegas.
Pengertian HAM beraneka ragam antara lain dapat ditemukan dan
penglihatan dimensi visi, perkembangan. Deklarasi HAM Universal/ PBB
(Universal Declaration of Human Right/UDHR) dan menurut UU No. 39 Tahun
1999.
Konsep HAM dilihat dari dimensi visi mencakup visi filsafati, visi
yuridis-konstitusional dan visi politik (Saafroedin Bahar. 1944:82). Visi filsafati
sebagian besar berasal dari teologi agama-agama. Yang jati diri manusia pada
tempat yang tinggi sebagai makhluk Tuhan. Visi yuridis-konstitusional
mengaitkan pemahaman HAM itu dengan, tugas, hak, wewenang dan tanggung
jawab negara sebagai suatu nation-state. Sedangkan visi politik memahami
HAM dalam kenyataan hidup sehari-hari yang umumnya berwujud pelanggaran
HAM baik oleh sesama warga masyarakat yang lebih kuat maupun oleh oknum-
oknum pejabat pemerintah
Dilihat dari perkembangan HAM maka konsep, HAM mencakup generasi I,
generasi II, generasi II I dan pendekatan struktural (T.Mulya Lubis, 1987: 3-6).
Generasi I konsep HAM sarat dengan hak-hak yuridis, seperti tidak disiksa
dan di-tahan, hak akan equality before thelaw (persamaan di hadapan hukum),
hak akan fair trial (peradilan yang jujur), praduga tak bersalah dan sebagainya.
Generasi 1 ini merupakan reaksi terhadap kehidupan kenegaraan yang totaliter
dan fasistis yang mewarnai tahun-tahun sebelum Perang Dunia II. Generasi II
konsep HAM merupakan perluasan secara horizontal generasi I, sehingga
konsep HAM mencakup juga bidang social, ekonomi, politik dan budaya.
Generasi II merupakan terutama sebagai reaksi bagi negara dunia ketiga yang
telah memperoleh kemerdekaan dalam rangka mengisi kemerdekaannva
setelah Perang Dunia II
Generasi III konsep HAM. merupakan ramuan dari hak hukum, sosial.
ekonomi, politik dan budaya menjadi apa yang disebut hak akan pembangunan
(the right to development). HAM diniia i sebagai totalitas yang tidak boleh
dipisah-pisahkan. Dengan derniikian, HAM sekaligus menjadi satu masalah
antar d isip lin yang harus didekati secara interdisipliner.
Pendekatan struktural (melihat akibat kebijakan pemerintah yang
diterapkan) dalam HAM seharusnya merupakan generasi IV dari konsep HAM.
Karena dalam real itas masalah-masalah pelanggaran HAM cenderung
merupakan akibat kebijakan yang tidak berpihak pada HAM. Misalnya,
berkembangnya sistem sosial yang memihak ke atas dan mernelaratkan
mereka yang dibawah, suatu pola hubungan yang "repressive". Sebab jika
konsep ini tidak dikembang-kan, maka yang kita lakukan hanya memperbaiki
gejala, bukan penyakit. Dan perjuangan HAM akan berhenti sebagai
pelampiasan emosi (emotional outlet).
Pengertian HAM menurut UDHR dapat ditemukan dalam Mukaddimah
yang pada prinsipnya dinyatakan bahwa HAM merupakan pengakuan akan
martabat yang terpadu dalam diri setiap orang akan hak-hak yang sama dan
takteralihkan dari semua anggota keluarga manusia ialah dasar dari
kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia (Maurice Cranston, 1972:127).
UU No.39 Tahun 1999 tentang HAM, mengartikan HAM adalah
seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai
makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib
dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah, dan
setiap orang demi kehormatan dan perlindungan harkat dan martabat manusia.
UU No.39 Tahun 1999 juga mendefinisikan kewajiban dasar manusia adalah
seperangkat kewajiban yang apabila tidak dilaksanakan tidak memungkinkan
terlaksana dan tegaknya HAM.
Pengertian HAM menurut UDHR sering dinilai masih pada tahap' Generasi 1
Konsep HAM. yaitu isinya sarat dengan hak-hak yuridik dan politik. Sedang kan jika
memperhatikan pengertian HAM menurut UU No. 39 Tahun 1999. tampak
mengandung visi filsafati dan visi yuridis konstitusional. Kemudian pengertian HAM
menurut visi politik dapat diidentikan dengan pendekatan struktural. karena keduanya
lebih menonjolkan pengertian HAM dalam kehidupan sehari-hari yang cenderung
banyak pelanggaran.
Memperhatikan berbagai pengertian /konsep/definisi hak asasi tersebut
di atas dapat disimpulkan bahwa HAM merupakan hak yang melekat (inheren)
pada setiap orang yang merupakan karunia Tuhan YME, bukan pemberian
negara pemerintah dan atau orang lain, kewajiban dan vvajib dijunjung tinggi
oleh negara. pemerintah dan atau orang lain, kewajiban dan tidak boleh
dihilangkan atau dihapus oleh siapapun Negara pemerintah dan atau orang lain,
masyarakat) dengan alasan apapun (pembangunan, perang. sengketa
bersenjata. dan atau keadaan darurat). Karena kebutuhan dasar manusia
dimanapun pada hakekatnya sama seperti hak atas hidup, bebas
mengeluarkan pikirannya, bebas dari rasa takut, tidak ingin dieksploitasi, hidup
bahagia dan lain - lain, maka HAM merupakan sesuatu yang bersifat universal.
Definisi memang penting untuk ditempatkan pada awal perbincangan
suatu hal. Karena melalui definisi yang tepat, kita akan sampai pada konsep
suatu hal. Untuk itu, Ibnu Sina pernah berkomentar: “tanpa definisi kita tidak
akan pernah sampai pada “ (http://id.wikipedia.org/wiki/Ideologi).
Secara harfiah, istilah hak (asasi) manusia merupakan terjemahan dari
human rights yang berarti hak manusia (tanpa asasi). Di Indonesia, istilah
tersebut ditambahi dengan kata (hak) asasi yang merupakan terjemahan dari
basic rights. Hal ini rupanya dimaksudkan untuk menegaskan dan
membedakan antara hak manusia yang asasi dan hak manusia yang tidak
asasi. Agar kita dapat memperoleh suatu konsep yang tepat mengenai hak
asasi manusia itu, di bawah ini disajikan beberapa definisi tentang hak asasi
manusia.
Menurut Notonagoro (dalam Chaidir Basrie, 2004:3) “Hak ialah kuasa
untuk menerima atau melakukan sesuatu atau yang semestinya diterima atau
dilakukan oleh pihak tertentu, dan tidak dapat oleh pihak lain manapun juga
yang pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa olehnya.”
Minto Rahayu (2007:146) mendefinisikan human right sebagai
“perlindungan terhadap seseorang dari penindasan oleh siapupun, Negara,
atau bukan Negara”.
Menurut Tilaar (dalam A.T. Soegito, 2005:1), hak asasi manusia adalah
“hak-hak yang melekat pada diri manusia, dan tanpa hak-hak itu manusia tidak
dapat hidup layak sebagai manusia. Hak asasi manusia adalah hak yang
dimiliki manusia yang telah diperoleh dan di bawanya bersamaan dengan
kelahirannya, atau kehadirannya di dalam kehidupan masyarakat.”
Dari beberapa definisi tersebut di atas dapatlah diambil suatu
pengertian sebagai berikut. Pertama, hak asasi manusia itu bersifat umum
(universal). Artinya, beberapa hak yang dimiliki manusia tanpa berbedaan atas
bangsa, ras, agama, atau jenis kelamin. Kedua, hak asasi manusia itu bersifat
supralegal. Artinya, adanya tidak tergantung kepada adanya suatu Negara atau
undang-undang dasar maupun kekuasaan pemerintah, bahkan memiliki
kewenangan lebih tinggi, karena hak asasi manusia itu dimiliki manusia bukan
karena kemurahan atau pemberian Negara, melainkan karena berasal dari
sumber yang lebih tinggi.
Hari HAM dirayakan tiap tahun oleh banyak negara di seluruh dunia setiap
tanggal 10 Desember. Ini dinyatakan oleh International Humanist and Ethical Union
(IHEU) sebagai hari resmi perayaan kaum Humanisme. Tanggal ini dipilih untuk
menghormati Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengadopsi dan
memproklamasikan Deklarasi Universal HAM, sebuah pernyataan global tentang HAM,
pada 10 Desember 1948. Peringatan dimulai sejak 1950 ketika Majelis Umum
mengundang semua negara dan organisasi yang peduli untuk merayakan.
Realitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara akhir-
akhir ini menunjukkan, betapa pentingnya setiap warga negara untuk ikut
terlibat dalam perikehidupan bersama yang lebih intensif. Sebagaimana kita
ketahui saat ini kita telah berada dalam perikehidupan global yang penuh
dengan tantangan dan persaingan. Tantangan dan persaingan yang terjadi
tidak lagi bersumber dari dalam negeri, tetapi juga berasal dari dunia
internasional di luar negeri. Berkaitan dengan permasalahan hak asasi
manusia, maka bangsa Indonesia tidak dapat hanya berpegang kepada nilai-nilai
luhur bangsa sendiri, tetapi juga harus merujuk nilai-nilai universal, yang
bersumber dari kesepakatan-kesepakatan (konvensi) internasional.
Pada era globalisasi dan pasar bebas dunia, dimana bangsa Indonesia
ikut terlibat di dalamnya, maka tidak ada pilihan lain bahwa warga negara
bersama pemerintah harus peka dan berkomitmen tinggi terhadap masalah-
masalah yang terkait dengan hak asasi manusia. Masalah hak asasi manusia
tersebut menyangkut seluruh aspek kehidupan bangsa, baik di bidang ekonomi,
sosial, budaya, politik, serta pertahanan dan keamanan.
Selanjutnya baca dengan cermat deskripsi tentang teori Erich From
tentang “Syndrome of Decay” atau simdom pembusukan, yang disadari atau
tidak sedang melanda perikehidupan bangsa kita belakangan ini. Erich From
dalam teori Syndrome of Decay, menyatakan bahwa perikehidupan
bermasyarakat akan dihantui oleh munculnya gejala pembusukan. Sekurang-
kurangnya ada dua sindrom pembusukan yang dapat diidentifikasi. Pertama,
masyarakat mengalami kondisi mental-spiritual yang sangat rapuh, baik
ditingkat elit maupun rakyat bawah yang sering disebut sebagai masyarakat
akar rumput (grassroots). Perilaku amoral, asusila, dan gejala-gejala buruk
lainnya sudah menjadi hal yang dianggap biasa. Pada titik tertentu bahkan
telah dipersepsi sebagai budaya dan kebiasaan yang melekat pada
masyarakat. Misalnya, perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme telah dilakukan
secara terbuka oleh aparatur pemerintah dari pusat sampai tingkat paling
bawah. Akibatnya tidak ada lagi sikap percaya kepada pemimpin, dan lama-
kelamaan berkembang menjadi saling curiga diantara sesama warga dan
kelompok.
Kedua, hilangnya perasaan akan nilai-nilai kemanusiaan, seperti
memudarnya sikap ramah, toleran, rukun, dan suka menolong, dan tiba-tiba
berubah menjadi sikap beringas, ganas, dan barbarian (suka bertikai).
Misalnya, karena persoalan sepele, semisal perkelaian antarpemuda biasa
didramatisir sebagai pertikaian atarras, antaretnis, dan antaragama. Akibatnya,
masyarakat begitu mudah tersulut perilaku merusak, menghancurkan, bahkan
mengalirkan darah sesamanya.
Alternatif penyembuhan dari sindrom pembusukan tersebut tidak ada
lain, kecuali melalui pembalikan dari itu semua, yakni sindrom pertumbuhan
(syndrome of growth). Fromm mendefinisikan sindrom pertumbuhan sebagai
cinta kehidupan, cinta antarsesama, dan cinta akan kemerdekaan.
Gejala-gejala seperti yang dideskripsikan di atas merupakan fakta
kehidupan yang sarat dengan isu-isu hak asasi manusia. Gejala-gejala tersebut
tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan dapat terjadi di mana saja di seluruh
masyarakat manusia di dunia ini. Pengalaman kehidupan menunjukkan hal itu
dengan berbagai tonggak sejarah perjuangan dan pengakuan hak asasi
manusia.
Adapun tonggak-tonggak sejarah hak asasi manusia dimaksud adalah:
1. Di Inggris
a. Magna Charta di Inggris (15 Juni 1215).
Pemikiran HAM di Inggris lebih banyak dipengaruhi oleh ajaran
empirisme. Ajaran empirisme mengikuti jejak Francis Bacon pada abad 17 yang
memulai menggunakan pendekatan induktif melalui pengamatan dan
eksperimentasi di dalam memperoleh pengetahuan. Menurut empirisme,
pengetahuan itu hanya dapat dibentuk melalui pengalaman sebagai
sumbernya. Oleh karena itu pemikiran HAM di Inggris dipengaruhi oleh: (a) adat
dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat, (b) menghormati kekuasaan
kerajaan (raja).
Thomas Hobbes (1588-1679) mengajarkan bahwa semua manusia itu
memiliki sifat yang sama. Dalam keadaan alamiah, tiap manusia ingin
mempertahankan kebebasannya dan kebebasan orang lain. Manusia
dipandang sebagai homo homini lupus yaitu naluri manusia itu bagaikan
serigala untuk selalu ingin mempertahankan dirinya sendiri, bersaing, dan
saling menerkam sesamanya. Konflik dan pertikaian akan muncul manakala
manusia mengikuti nalurinya itu. Menurut pengalaman, supaya tidak terjadi
pertengkaran dan peperangan, manusia harus mengikuti akal sehat yaitu
melepaskan hak untuk bebas berbuat sekehendak sendiri dengan bersatu
melalui perjanjian sosial (du contract social). Perjanjian itu bukan dibuat antara
penguasa dan warga negara tetapi dibuat sendiri oleh warga negara tersebut.
Mereka bersepakat untuk membuat perjanjian membentuk penguasa atau
pemerintah. Setelah pemerintahan terbentuk maka hak-hak warga negara
menjadi hilang dan warga negara tidak dapat memberontak. Orang banyak
yang dipersatukan dalam perjanjian sosial itu disebut commonwealth. Di dalam
commonwealth yang diutamakan adalah perdamaian dan keamanan seluruh
warga negara. Kewajiban pemerintah adalah mengusahakan perdamaian dan
perlindungan warga negara sehingga merasa aman. Menurut Hobbes,
kekuasaan pemerintahan itu ada pada raja dan gereja. Warga negara tinggal
menaati kekuasaan raja dan berbakti pada Tuhan. Hak asasi manusia dipahami
dalam hubungan antara warga negara dan pemerintah yang diatur dalam
hukum perjanjian dan hukum Tuhan (agama).
Tokoh lain dari empirisme Inggris adalah John Locke (1632-1704).
Ajarannya tidak jauh berbeda dengan Thomas Hobbes. Menurutnya,
pengalaman menjadi sumber pengetahuan. Suatu perbuatan dikatakan etis
apabila: (a) menaati perintah Tuhan, (b) menaati undang-undang supaya
dikatakan tidak salah, (c) sesuai dengan pendapat umum tentang kebajikan.
Bagi Locke, negara tidak boleh mencampuri agama. Negara tidak boleh
meniadakan agama. Warga negara bebas menganut kebebasan beragama.
Hak negara hanya menghancurkan teori-teori atau ajaran yang membahayakan
keberadaan negara. Supaya negara tidak sewenang-wenang, maka
kekuasaannya dipisahkan menjadi: (a) legislatif yaitu kekuasaan membuat
undang-undang, (b) eksekutif yaitu kekuasaan untuk melaksanakan
pemerintahan negara, (c) federatif yaitu kekuasaan untuk menentukan perang
dan damai. Ketiga kekuasaan tersebut tidak boleh mencampuri satu dengan
lainnya. Hak asasi manusia diatur sesuai dengan ketiga jenis kekuasaan
tersebut.
Pemikiran Locke kemudian dilanjutkan oleh J.J. Rousseau yang
memandang manusia itu sebagai makhluk alamiah. Hukum alam berlaku dalam
kehidupan masyarakat. Dalam keadaan alamiah itu manusia memiliki
kebebasan, hak hidup, dan hak milik. Hidup seseorang tergantung pada
perlindungan undang-undang sebagai kehendak umum. Undang-undang
mengatur bahwa masyarakat mempunyai kehendak umum melalui suara
terbanyak. Ketentuan suara terbanyak itu diatur di dalam perjanjian masyarakat
(contract social). Di dalam perjanjian itu orang menyerahkan hak-haknya
kepada masyarakat. Mereka tunduk pada pemerintahan yang adil. Kekuasaan
untuk menetapkan undang-undang di dalam negara dibentuk melalui perjanjian
antara penguasa dan rakyat. Perjanjian masyarakat sebagai kehendak umum
itu melindungi agar hak-hak individu tidak dilanggar individu lainnya.
Pemikiran beberapa tokoh tersebut di atas, memberikan inspirasi untuk
memperjuangkan HAM di Inggris. Menurut Magna Charta (Al Hakim, 2002)
kekuasaan Raja (John Lackland) harus dibatasi. Hak asasi manusia lebih
penting daripada kekuasaan Raja. Tidak seorang pun warga negara Inggris
yang merdeka dapat ditahan, dirampas harta kekayaannya, diperkosa,
diasingkan, disiksa, atau dengan cara apapun diperkosa hak-haknya kecuali
dengan pertimbangan hukum. HAM dan hukum yang membatasi kekuasaan
Raja agar tidak melakukan kesewenang-wenangan.
Pada tahun 1629 masyarakat mengajukan Petition of Right (petisi hak
asasi manusia) yang berisi tentang pajak yang dipungut kerajaan harus
mendapat persetujuan parlemen Inggris. Selain itu, tidak seorang pun dapat
ditangkap tanpa tuduhan dan bukti-bukti yang sah.

b) Habeas Corpus Act ( 1679)


Pada tahun 1679 dibuatlah suatu ketentuan di dalam Habeas Corpus Act yang
menyatakan bahwa penangkapan terhadap seseorang hanya dapat dilakukan apabila
disertai dengan surat-surat yang lengkap dan sah. Habeas Corpus Act adalah suatu
dokumen yang memuat pernyataan tentang perlindungan terhadap kebebasan yang
dimiliki oleh setiap warga negara. Undang-undang ini menyatakan bahwa: “Sebuah
undang-undang harus melindungi kebebasan warga negara.” Undang-undang yang
dibuat di Inggris ini bertujuan untuk mencegah pemenjaraan yang sewenang-wenang.
Setiap orang yang ditahan dalam waktu tiga hari, maka harus segera dihadapkan
kepada seorang hakim serta diberitahukan kepadanya atas tuduhan apa ia ditahan.

c). Bill of Right (1689)


Setelah Habeas Corpus Act ( 1679) dinyatakan, maka di lanjutkan dengan
aturan baru yang dibuat pada tahun 1689 yaitu Bill of Right yang menyatakan bahwa
pemungutan pajak harus mendapat persetujuan parlemen dan parlemen dapat
mengubah keputusan Raja. Bill of Right adalah suatu piagam yang berisi pernyataan
bahwa Raja William di Inggris harus mengakui hak-hak parlemen, serta kebebasan
berbicara atau mengeluarkan pendapat.
Berbagai ketentuan HAM dan hukum tersebut bertujuan untuk membatasi
kekuasaan Raja agar tidak sewenang-wenang dan melindungi warga negara sebagai
manusia.

2. Amerika
a. Declaration of Independence (1776)
Bangsa Amerika berasal dari kaum imigran berbagai negara Eropa, Asia,
Afrika, dan Australia. Kaum imigran tersebut semula berpikir secara sempit
untuk kepentingannya sendiri. Mereka mempunyai kebiasaan dan pengalaman
sendiri yang dibawa dari negaranya. Sebelum merdeka, masyarakat kolonial
Inggris dari berbagai belahan bumi dibawa ke Amerika untuk bekerja dan
mengabdi kepada pemerintah kerajaan Inggris Raya. Keanekaragaman bangsa
Amerika tersebut sebagai potensi negara harus diterima dan diberdayakan
demi kejayaan Amerika. Ketika Amerika masih di bawah pemerintahan kolonial
Inggris, masyarakat diperlakukan secara tidak adil.
Pada tahun 1776 bangsa Amerika menyatakan kemerdekaan dari
pemerintahan kerajaan Inggris melalui Declaration of Independence. Rakyat
Amerika yang bersifat heterogen harus dapat hidup berdampingan secara
damai. Hak-hak asasi masyarakat harus dijamin dan dilindungi tanpa
pengecualian. Untuk itu disusun suatu UUD yang menerima aspirasi seluruh
rakyat. Di dalam deklarasi kemerdekaan tersebut
Declaration of Independence merupakan Piagam Hak-hak Asasi Manusia
karena memuat pernyataan: “bahwa sesungguhnya semua bangsa diciptakan sama
sederajat oleh Maha Penciptannya. Bahwa semua manusia dianugerahi oleh
Penciptanya hak hidup, kemerdekaan dan kebebasan untuk menikmati kebahagiaan”.

b) The four Freedoms (1941)


Ketika sedang berkecamuk perang dunia ke II, Presiden Franklin Delano
Roosevelt di hadapan konggres Amerika (1941) menyatakan ada empat
kemerdekaan (The Four Freedoms) yaitu: (a) freedom of speech and
expression (kebebasan berbicara dan berpendapat), (b) freedom of Religon (
kebebasan beragama), (c) freedom from fear (bebas dari rasa takut) dan (d)
freedom from want (bebas dari kekurangan dan kelaparan/kemiskinan).
3. Prancis (Declaration des droits de`lHomme et du Citoyen, 1789)
Pemikiran yang berkembang di Prancis lebih banyak bercorak
rasionalisme. Artinya rasio dijadikan sumber dan ukuran untuk menentukan
kebenaran. Dengan metode keraguan metodis, Rene Descates sebagai bapak
rasionalisme modern menyatakan bahwa semua hal dapat diragukan kecuali
aku yang sedang berpikir. Katanya, cogito ergo sum artinya aku berpikir maka
aku ada. Keberadaanku ditentukan oleh cara berpikirku. Menurutnya hak asasi
manusia terletak pada kebebasan untuk berpikir dan berkehendak. Kebebasan
adalah ciri khas kesadaran yang berpikir. Kebebasan manusia mengambil
bagian dari kebebasan Tuhan artinya dalam menjalankan kebebasan, manusia
tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh Tuhan.
Perjuangan rakyat Prancis berhasil dalam meraih hak-hak asasi yang
dirampas oleh penguasa raja dimulai ketika mereka berhasil membatasi
kekuasaan melalui revolusi Prancis. Ditandai dengan hancurnya penjara
Bastille sebagai simbol penindasan hak asasi manusia, rakyat Prancis
mengumandangkan liberty, equality, dan legality. Semua orang memiliki hak
untuk merdeka atau bebas, perlakuan yang sama dan adil serta perlindungan
hukum.
Rasionalisme tumbuh subur di Prancis dan dikembangkan lebih lanjut oleh
Auguste Comte. Menurutnya masyarakat itu berkembang melalui tiga tahap:
 tahap teologis dimana kehidupan masyarakat ditentukan oleh
kepercayaan pada kekuatan adi kodrati,
 tahap metafisis dimana kehidupan masyarakat ditentukan oleh kekuatan
berpikir rasional, dan
 tahap positif dimana kehidupan masyarakat ditentukan oleh ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Hak asasi manusia berkembang dan dipahami sesuai dengan perkembangan
rasional positif, sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Pada tahap
positif, masyarakat modern memahami hak asasi secara ilmiah. Hak asasi
diletakkan dalam perkembangan ipteks. Perkembangan teknologi
telekomunikasi dan informasi membuat arus informasi semakin cepat diterima
masyarakat sehingga tumbuh kesadaran akan hak-haknya sebagai manusia.
Perhatian HAM di Prancis memperoleh inspirasi dari revolusi
kemerdekaan Amerika. Perjuangan bangsa Prancis dalam mewujudkan HAM
secara rasional ditandai dengan dirobohkannya penjara Bastille. Robohnya
penjara tersebut sebagai tonggak hancurnya kekuasaan yang represif dan
melanggar HAM. Revolusi Prancis (1789) dimulai dengan dideklarasikan
Declaration des droits de`lHomme et du Citoyen (deklarasi tentang hak asasi
manusia dan penduduk). Deklarasi tersebut berisi tentang pernyataan bahwa
manusia itu dilahirkan dalam keadaan bebas dan mempunyai kedudukan yang
sama, dan sesungguhnya tujuan dari segala persekutuan politik ialah
memelihara hak-hak bawaan kodrat manusia yang tidak dapat dialihkan.
Kemerdekaan yang dimaksudkan dalam deklarasi tersebut adalah semua orang
boleh bertindak sesukanya asal tidak merugikan orang lain. Sejak itu, Prancis
merayakan kemerdekaan sebagai negara modern dengan semboyan liberty
(kemerdekaan), equality (persamaan), dan egality (persaudaraan).

4) Universal Declaration Of Human Rights / UDHR ( PBB 1948)


Pada tanggal 10 Desember 1948 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa
dan menyatakan mengadopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang penuh teks
yang muncul di halaman berikut ini. Berikut ini sejarah Majelis bertindak atas nama
semua negara-negara Anggota untuk mempropagandakan teks Deklarasi dan
"menyebabkan ia harus disebarluaskan, ditampilkan, dan membaca expounded
terutama di sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan lainnya, tanpa berdasarkan
status politik negara atau wilayah. "
Alinea pertama Mukadimah Pernyataan Sedunia tentang Hak-hak Asasi
Manusia tersebut menyatakan: ”Bahwa sesungguhnya hak-hak kodrati yang diperoleh
setiap manusia berkat pemberian Tuhan Seru Sekalian Alam, tidak dapat dipisahkan
dari hakikatnya, dan karena itu setiap manusia berhak akan kehidupan yang layak,
kebebasan, keselamatan, dan kebahagiaan pribadinya.”.
Piagam PBB ini terdiri atas pembukaan dan 30 pasal. Adapun isi pembukaan
tersebut adalah sebagai berikut :
PREAMBUL
Sedangkan pengakuan terhadap martabat dan melekat pada hak-
hak yang sama dan tidak dapat dicabut dari semua anggota
keluarga manusia adalah dasar kemerdekaan, keadilan dan
perdamaian di dunia,
Menimbang bahwa mengabaikan dan hak asasi manusia telah
mengakibatkan perbuatan yang biadab outraged dengan hati nurani
umat manusia, dan terbentuknya suatu dunia di mana manusia akan
menikmati kebebasan berbicara dan beragama serta kebebasan
dari ketakutan dan kekurangan telah dinyatakan sebagai cita-cita
tertinggi dari masyarakat umum,
Sedangkan ia sangat penting, jika manusia itu tidak akan memaksa
untuk meminta bantuan, sebagai jalan terakhir, untuk
pemberontakan menentang kezaliman dan penindasan, hak asasi
manusia yang harus dilindungi oleh supremasi hukum,
Sedangkan ia sangat penting untuk mendorong perkembangan
hubungan antara bangsa-bangsa yang ramah,
Sedangkan bangsa dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang ada
dalam Piagam reaffirmed iman mereka di dasar hak asasi manusia,
akan martabat dan nilai seseorang manusia dan hak-hak yang sama
laki-laki dan perempuan, dan telah bertekad untuk menggalakkan
kemajuan sosial dan taraf hidup yang lebih baik dalam kemerdekaan
yang lebih luas,
Negara-Negara Anggota telah berjanji untuk mencapai kemajuan
dalam kerjasama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa, promosi
universal dan ketaatan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan
fundamental,
Sedangkan yang umum memahami hak-hak dan kebebasan-
kebebasan tersebut sangat penting untuk pelaksanaan realisasi dari
janji ini,
Sekarang, demikian Majelis Umum memperkenalkan Universal
Declaration of Human Rights sebagai satu standar umum
keberhasilan untuk semua bangsa dan semua negara, di akhir
bahwa setiap individu dan setiap organ masyarakat, dengan
mengingat Pernyataan ini selalu diingat, harus berusaha keras
dengan mengajar dan pendidikan untuk meningkatkan rasa hormat
terhadap hak-hak dan kebebasan dan dengan langkah-langkah
progresif, nasional dan internasional, untuk memastikan mereka
universal dan efektif pengakuan dan pemeliharaan, baik oleh
bangsa-bangsa dari Negara-Negara Anggota sendiri maupun oleh
bangsa-bangsa dari wilayah di bawah kekuasaan hukum mereka.
Pasal 1.
Semua orang dilahirkan merdeka dan setara dalam martabat dan rights.Mereka
dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam
semangat persaudaraan.

Pasal 2.
Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan yang
termaktub di dalam Pernyataan ini tanpa perkecualian apapun, seperti ras,
warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pendapat lain, asal
nasional atau sosial, hak milik, kelahiran atau status lainnya. Selain itu, tidak
ada perbedaan harus dilakukan atas dasar politik, berhubung dgn hukum atau
status internasional negara atau wilayah yang dimiliki oleh seseorang, baik
bersifat independen, trust, non-self-pemimpin yang lain atau di bawah batasan
kedaulatan.
Pasal 3.
Setiap orang berhak untuk hidup, kebebasan dan keselamatan individu.

Pasal 4.
Tidak seorang pun akan diselenggarakan di perbudakan atau diperhambakan,
perbudakan dan perdagangan budak harus dilarang dalam segala bentuk.

Pasal 5.
Tidak seorang pun boleh disiksa atau diperlakukan secara kejam, ganas atau
perlakuan atau hukuman menghinakan.

Pasal 6.
Setiap orang berhak atas pengakuan di mana-mana sebagai orang di depan
hukum.

Pasal 7.
Semua orang sama di depan hukum dan berhak tanpa diskriminasi sama untuk
perlindungan hukum. Semua berhak atas itu.

Pasal 8.
Setiap orang perlindungan yang sama terhadap setiap bentuk diskriminasi yang
melanggar Deklarasi ini dan terhadap segala hasutan yang mengarah pada
diskriminasi semacam berhak atas bantuan yang efektif dari pengadilan
nasional yang kompeten untuk tindakan pelanggaran hak-hak dasar yang
diberikan kepadanya oleh konstitusi atau oleh hukum.

Pasal 9.
Tidak seorang pun boleh sewenang-wenang penangkapan, penahanan atau
pembuangan.

Pasal 10.
Setiap orang berhak penuh untuk kesetaraan yang adil dan terbuka oleh
pengadilan yang independen dan imparsial hakim, dalam menetapkan hak dan
kewajiban-kewajibannya serta dalam setiap tuntutan pidana yang dijatuhkan
kepadanya.

Pasal 11.
(1) Setiap orang yang dituntut dengan hukuman pelanggaran berhak untuk
disangka bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya menurut hukum dalam
suatu pengadilan di mana dia memiliki semua jaminan yang diperlukan
untuk pembelaannya.
(2) Tidak seorang pun akan diselenggarakan bersalah atas pelanggaran
hukuman pada setiap perbuatan atau kelalaian yang tidak merupakan suatu
pelanggaran hukuman, di bawah undang-undang nasional atau
internasional, ketika perbuatan tersebut dilakukan. Juga tidak yang akan
dikenakan hukuman berat dari salah satu yang telah berlaku pada saat
hukuman pelanggaran tersebut dilakukan.

Pasal 12.
Tidak seorang pun boleh sewenang-wenang gangguan dengan pribadinya,
keluarganya, rumah atau korespondensi, atau serangan ke atas
kehormatannya dan nama baiknya. Setiap orang berhak mendapat
perlindungan hukum terhadap gangguan atau serangan seperti itu.

Pasal 13.
(1) Setiap orang berhak atas kebebasan bergerak dan berdiam di dalam batas-
batas setiap negara.
(2) Setiap orang berhak meninggalkan sesuatu negeri, termasuk negerinya
sendiri, dan berhak kembali ke negerinya.

Pasal 14.
(1) Setiap orang berhak mencari dan menikmati suaka di negara-negara lain
dari pengejaran.
(2) Ha ini tidak berlaku untuk kasus penuntutan yang benar-benar timbul
karena kejahatan non-politik atau perbuatan-perbuatan yang bertentangan
dengan tujuan dan dasar Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pasal 15.
(1) Setiap orang berhak atas kewarganegaraan.
(2) Tidak seorang pun boleh sewenang-wenang deprived of his negaraannya
atau ditolak hak untuk mengubah kewarganegaraan itu.

Pasal 16.
(1) Pria dan wanita yang sudah dewasa, dengan tidak dibatasi kebangsaan,
kewarga-negaraan atau agama, berhak untuk nikah dan untuk membentuk
keluarga. Mereka berhak memperoleh hak yang sama seperti perkawinan,
selama perkawinan dan pada saat perceraian.
(2) Pernikahan akan memasuki hanya dengan bebas dan persetujuan penuh
oleh kedua mempelai.
(3) Keluarga adalah kesatuan alamiah dan fundamental dari masyarakat dan
berhak mendapat perlindungan dari masyarakat dan Negara.

Pasal 17.
(1) Setiap orang berhak memiliki harta, baik sendiri maupun bersama-sama
dengan orang lain.
(2) Tidak seorang pun boleh sewenang-wenang deprived of his property.

Pasal 18.
Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran, hati nurani dan agama; hak ini
termasuk kebebasan untuk mengubah agamanya atau kepercayaan, dan
kebebasan, baik sendiri maupun dengan orang lain dan masyarakat umum atau
swasta, untuk nyata nya agama atau kepercayaan dalam pengajaran, praktek ,
ibadah dan ketaatan.

Pasal 19.
Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat;
hak ini termasuk kebebasan memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk
mencari, menerima dan menyampaikan informasi dan ide melalui media
apapun dan berapapun frontiers.

Pasal 20.
(1) Setiap orang berhak atas kebebasan berkumpul dan berserikat secara
damai.
(2) Tidak seorang pun boleh dipaksa untuk memasuki sesuatu perkumpulan.

Pasal 21.
(1) Setiap orang berhak turut serta dalam pemerintahan negerinya, secara
langsung atau melalui wakil-wakil yang dipilih secara bebas.
(2) Setiap orang berhak atas kesempatan yang sama untuk diangkat dalam
jabatan pemerintahan negerinya.
(3) Kehendak rakyat harus menjadi dasar kekuasaan pemerintah; ini harus
dinyatakan dalam pemilihan berkala dan asli yang harus oleh universal dan
kesetaraan hak dan harus dilaksanakan oleh rahasia suara atau setara
gratis voting prosedur.

Pasal 22.
Setiap orang, sebagai anggota masyarakat, berhak atas jaminan sosial dan
berhak melaksanakan dengan perantaraan usaha-usaha nasional dan
kerjasama internasional dan sesuai dengan organisasi serta sumber-sumber
kekayaan dari setiap Negara, dari ekonomi, sosial dan budaya sangat
diperlukan untuk hak martabat dan pertumbuhan bebas pribadinya.

Pasal 23.
(1) Setiap orang berhak atas pekerjaan, berhak dengan bebas memilih
pekerjaan, dan hanya untuk kondisi baik, dan berhak atas perlindungan dari
pengangguran.
(2) Setiap orang, tanpa diskriminasi, berhak atas pengupahan yang sama
untuk pekerjaan yang sama.
(3) Setiap orang yang melakukan pekerjaan berhak atas pengupahan yang adil
dan baik yang menjamin kehidupannya dan keluarganya, suatu kehidupan
yang pantas untuk manusia yang bermartabat, dan jika perlu, dengan cara
lain dengan perlindungan sosial.
(4) Setiap orang berhak mendirikan dan memasuki serikat-serikat pekerja
untuk melindungi kepentingannya.

Pasal 24.
Setiap orang berhak atas istirahat dan liburan, termasuk jam kerja dan hari libur
berkala, dengan menerima upah.

Pasal 25.
(1) Setiap orang berhak atas taraf hidup yang memadai untuk kesehatan dan
kesejahteraan dirinya dan keluarganya, termasuk pangan, pakaian,
perumahan dan perawatan kesehatannya serta pelayanan sosial yang
diperlukan, dan hak untuk keamanan dalam hal pengangguran, sakit, cacat,
menjadi janda, mencapai usia lanjut atau mengalami kekurangan mata
pencarian yang lain keadaan yang berada di luar kekuasaannya.
(2) ibu dan anak-anak berhak mendapat perawatan dan bantuan. Semua anak,
baik yang dilahirkan di dalam maupun di luar perkawinan, harus mendapat
perlindungan sosial yang sama.

Pasal 26.
(1) Setiap orang berhak mendapat pendidikan. Pendidikan harus gratis,
setidak-tidaknya untuk tingkat sekolah rendah dan pendidikan dasar.
Pendidikan rendah harus diwajibkan. Teknis dan profesional pendidikan
harus dibuat tersedia secara umum dan pendidikan tinggi harus secara adil
dapat diakses oleh semua orang, berdasarkan kepantasan.
(2) Pendidikan harus ditujukan ke arah perkembangan penuh manusia dengan
kepribadian dan memperkuat hak asasi manusia dan kebebasan
fundamental. Pendidikan harus menggalakkan saling pengertian, toleransi
dan persahabatan di antara semua bangsa, kelompok ras maupun agama,
serta harus memajukan kegiatan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk
memelihara perdamaian.
(3) Orang tua mempunyai hak utama untuk memilih jenis pendidikan yang akan
diberikan kepada anak-anak mereka.

Pasal 27.
(1) Setiap orang berhak untuk berpartisipasi secara bebas dalam kehidupan
kebudayaan masyarakat, untuk mengecap kenikmatan kesenian dan
berbagi dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan manfaatnya.
(2) Setiap orang berhak mendapat perlindungan atas kepentingan-kepentingan
moril dan material yang diperoleh sebagai hasil dari ilmiah, kesusasteraan
atau artistik produksi yang dia adalah penulis.

Pasal 28.
Setiap orang berhak atas suatu tatanan sosial dan internasional di mana hak-
hak dan kebebasan-kebebasan yang termaktub di dalam Pernyataan ini dapat
dilaksanakan sepenuhnya.

Pasal 29.
(1) Setiap orang mempunyai kewajiban terhadap masyarakat di mana saja
yang kosong dan penuh pengembangan pribadinya adalah mungkin.
(2) Dalam menjalankan hak-hak dan kebebasan-kebebasannya, setiap orang
harus tunduk hanya seperti itu karena keterbatasan yang ditentukan oleh
undang-undang semata-mata untuk tujuan pengamanan karena pengakuan
dan penghormatan terhadap hak-hak dan kebebasan orang lain dan tentu
saja memenuhi persyaratan moralitas , ketertiban umum dan kesejahteraan
umum dalam suatu masyarakat yang demokratis.
(3) Hak-hak dan kebebasan Mei sama sekali tidak dapat dilaksanakan
bertentangan dengan tujuan dan dasar Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pasal 30.
Tidak satu pun di dalam Pernyataan ini boleh ditafsirkan memberikan sesuatu
Negara, kelompok ataupun seseorang, hak untuk terlibat di dalam kegiatan apa
pun atau melakukan perbuatan yang bertujuan untuk pemusnahan atas hak
dan kebebasan-kebebasan yang tercantum di sini.

7.2 Latar Belakang Munculnya HAM


HAM sebagai hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat
qodratidan fundamental sebagai suatu anugerah Allah yang harus dihormati,
dijaga dan dilindungi oleh setiap individu, masyarakat atau negara. Hakekat
HAM merupakan upaya menjaga keselamatan eksistensi manusia secara utuh
melalui sksi keseimbangan yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban,
serta keseimbangan antara kepentingan perseorangan dengan kepentingan
umum. Begitu juga upaya menghormati, melindungi dan menjunjung tinggi
HAM, menjadi kewajiban dan tanggung jawab bersama antara individu,
pemerintah (aparatur pemerintahan baik sipil maupun militer) dan negara.
Berdasarkan beberapa rumusan HAM diatas, dapat ditarik kesimpulan tentang
beberapa ciri pokok hakikat HAM yaitu:
a) HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi.HAM adalah bagian dari
manusia secara otomatis;
b) HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandag jenis kelamin, ras,
agama, etnis, pandangan politik atau asal-usul sosial dan bangsa;
c) HAM tidak bisa dilanggar. Tidak seorang pun yang mempunyai hak untuk
membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM
walaupun negara membuat hukum yang tidak dilindungi melanggar HAM.

Tentang macam-macam hak asasi manusia ada berbagai pandangan.


Thomas Hobbes berpendapat bahwa satu-satunya hak asasi adalah hak hidup.
Bagi John Locke dan Liberalisme klasik, hak asasi meliputi hak hidup (the right
to life), kemerdekaan {the right to liberty) dan hak milik (the right to property)
(Rodee & Anderson. 1988 : 194). Pendapat John Locke ini sahgat dipengaruhi
oleh gagasan hukum alam (natural law) ketika dalam keadaan alamiah (state of
nature), yaitu suatu keadaan di mana belum terdapat kekuasaan dan
otorita.apa-apa, semua orang sama sekali bebas dan sama derajatnya. Dalam
perkembangan selanjutnya, diantara orang - orang itu sering terjadi
percekcokan karena perbedaan pemilikan nana benda dan karena ada orang
yang hidup di atas penderitaan orang lain. Kondisi seperti itu telah menggeser
keadaan alamiah ke keadaan perang (state war), menimbulkan pemikiran untuk
melindungi ketiga hak-hak fundamental di atas (hak hidup, merdeka dan
memiliki). Untuk itu kemudian berkumpul dan mengadakan perjanjian untuk
ber-masyarakat untuk menyerahkan sebagian hak-hak mereka kepada.seorang
pemimpin yang bertugas untuk melindungi ketiga hak tersebut sebagai hak
individu dan masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari dirinya dan
diserahkan kepada pemimpin/ in casu negara dan diterima manusia sejak lahir
dan bukan merupakan pemberian hukum manusia atau masyarakat (Baut
S:Harman. 1988:6-7).
Dalam UDHR yang memuat 30 pasal, 31 ayat apabila ditelaah lebih
lanjut secara garis besar macam - macam hak asasi manusia dapat
dikelompokan ke dalam tiga bagian yaitu :
a. hak - hak politik dan yuridik;
b. hak - hak atas martabat dan integritas manusia. Dan
c. hak - hak sosial ekonomi dan budaya (Baut&Harman, 1988:9).
Perbedaan hak politik dengan hak sipil dapat dikemukakan bahwa hak
politik merupakan hak yang didapat oleh seseorang dalam hubungan sebagai
seorang anggota di dalam lembaga politik. seperti: hak memiiih, hak dipilih, hak
mencalonkan diri untuk menduduki jabatan-jabatan poiitik, hak memegang
jabatan-jabatan umum dalam negara atau hak yang mcnjadikan seseorang ikut
serta di dalam mengatur kepentingan negara atau pemerintahan (Abdul Karim
Zaidan.l983:l9). Dengan kata lain lapangan hak-hak poiitik sangat luas sekali
mencakup asas-asas masyarakat. dasar-dasar negara, tata hukum. partisipasi
rakyat didalamnya. pembagaian kekuasaan dan batas-batas kewenangan
penguasa terhadap warga negaranya (Subhi Mahmassan 1993:54). Sedangkan
yang dimaksud hak-hak sipil dalam pengertian yang luas. mencakup hak-hak
ekonomi sosial dan kebudayaan merupakan hak yang dinikmati oleh manusia
dalam huburigannya dengan warga negara yang lainnya. dan tidak ada
hubungannva dengan penyelenggaraan kekuasaan negara salah satu jabatan
dan kegiatannya (Subhi, 1993:236).
Dalam Perjanjian tentang Hak-hak Sipil dan Politik dan Perjanjian
lentang hak hak Sosial. Ekonomi dan Budaya. Macam- macam HAM dapat
dikemukakan sebagai berikut. Yang termasuk hak - hak sipil dan politik antara
lain:
a. hak atas hidup.
b. hak atas kebebasan dan keamanan diriina.
c. hak atas keamanan di muka badan-badan peradilan.
d. hak atas kebebasan berpikir.
e. hak mempunyai keyakinan (conscience), beragama.
f. hak untuk mempunyai pendapat tanpa mengalami gangguan.
g. hak atas kebebasan berkumpul secara damai.
h. Hukum untuk berserikat martabat dan integritas manusia, dan hak - hak
sosial, ekonomi dan budaya (Baut&Harman. 1988 : 9).

Perbedaan hak po lit ik dengan hak sipil dapat dikemukakan bahwa


hak politik merupakan hak yang didapat oleh seseorang dalam hubungan
seorang anggota di dalam lembaga politik. Seperti : hak memilih, hak dipilih, hak
mencalonkan diri untuk menduduki jabatan-jabatan politik. hak mcmegang
jabatan-jabatan umum dalam negara atau hak yang menjadikan seseorang ikut
serta di dalam mengatur kepentingan negara atau pemerintahan (Abdul Karim
Zaidan.l983:l9). Dengan kata lain lapangan hak-hak politik sangat luas sekali
mencakup asas-asas masyarakat, dasar-dasar negara, tata hukum, partisipasi
rakyat didalamnya, pembagaian kekuasaan dan batas-batas kewenangan
penguasa terhadap warga negaranya (Subhi Mahmassan 1993:54). Sedangkan
yang dimaksud hak-hak sipil dalam pengertian sang luas. mencakup hak-hak
ekonomi, sosial dan kebudayaan merupakan hak yang dinikmati oleh manusia
daiam huburigannya dengan warga negara yang lainnya. dan tidak ada
hubungannya dengan penyelenggaraan kekuasaan negara salah satu jabatan
dan k e g i a t a n n y a ( Subhi.1993:236).
Dalam Perjanjian tentang hak-hak Sipil dan Politik dan Perjanjian tentang
Hak - hak Sosial, Ekonomi dan Budaya, macam - macam HAM dapat
dikemukakan sebagai berikut. Yang termasuk hak - hak sipil dan politik antara
lain:
1. hak atas hidup.
2. hak atas kebebasan dan keamanan dirinya.
3. hak atas keamanan di muka badan-badan peradilan.
4. hak atas kebebasan berpikir mempunyai keyakinan (conscience),
beragama.
5. hak untuk mempunyai pendapat tanpa mengalami gangguan.
6. hak atas kebebasan berkumpul secara damai.
7. hak untuk berserikat.

Sedangkan macam - macam HAM menurut Perjanjian tentang hak-hak


Ekonomi, Sosial dan Budaya mencakup antara lain :
1. hak atas pekerjaan.
2. hak untuk membentuk serikat kerja.
3. hak atas pensiun.
4. hak atas tingkat kehidupan yang layak bagi diriina serta keluarganya.
termasuk makanan, pakaian dan perumahan yang layak.
5 . hak atas pendidikan (Miriam Budiardjo, 1922 : I 2 7 ).

Pembagian hak asasi manusia sang agak mirip dengan kedua pendapat
tersebut di atas adalah yang mengikuti pembedaan sebagai berikut :
a. Hak asasi pribadi (personal rights) meliputi hak kemerdekaan memeluk
agama, beribadah menurut agama masing-masing, mengemukaan
pendapat, dan kebebasan berorganisasi atau berpartai.
b. Hak asasi ekonomi (property rights) meliputi hak memiliki sesuatu, hak
membeli dan menjual sesuatu, hak mengadakan suatu perjanjian atau
kontrak, dan hak memilih pekerjaan
c. Hak asasi mendapatkan pengayoman dan perlakukan yang sama dalam
keadilan dan pemerintahan, atau dapat disebut sebagai hak persamaan
hukum (rights of lega lequality).
d. Hak asasi politik (political rihts) meliputi hak untuk diakui sebagai warga
negara yang sederajat, oleh karena itu setiap warga negara wajar mendapat hak
itu serta dalam mengolah dan menata serta menentukan warna politik dan
kemajuan negara
e. Hak asasi sosial dan kebudayaan (social and culture rights) meliputi hak
kebebasan mendapatkan pengajaran atau hak pendidikan serta hak
pengembangan kebudayaan.
f. Hak asasi perlakuan yang sama dalam tata peradilan dan perlindungan
hukum (procedural rights) meliputi hak perlakukan yang wajar dan adil
dalam penggeledahan (rasia, penangkapan, peradilan dan pembelaan
hukum).
Semua manusia tanpa terkecuali mempunyai hak-hak tersebut di atas,
oleh sebab itu di mana pun dan kapan pun pengakuan dan perlindungan
terhadap hak asasi manusia harus ada.
Pendapat lain tentang macam - macam hak asasi manusia dikemukakan
Franz Magnis Suseno (1987: 125 - 130) yang mengelompokanya menjadi
empat kelompok yaitu hak asasi negatif atau liberal, hak asasi aktif atau
demokratis, hak asasi positif dan hak asasi sosial. Uraian masing - masing
sebagai berikut:
1. Hak Asasi Negatif atau Liberal.
Kelompok hak asasi pertama ini diperjuangkan oleh liberalisme dan
pada hakekatnya mau melindungi kehidupan pribadi manusia terhadap campur
tangan negara dan kekuatan-kekuatan sosial lain. Hak asasi ini didasarkan pada
kebebasan dan hak individu untuk mengurus diri sendiri dan oleh karena itu juga
disebut hak - hak kebebasan (liberal). Sedangkan dikatakan negatif, karena
prinsip yang dianutnya bahwa kehidupan saya (pribadi) tidak boleh dicampuri
pihak luar. Kehidupan pribadi merupakan otonomi setiap orang yang harus
dihormati. Otonomi ini merupakan kedaulatan atasinya sendiri merupakan dasar
segala usaha lain, maka hak asasi negatif ini tetap merupakan inti hak asasi
manusia. .Macam -macam hak asasi manusia negatif antara lain :
 hak atas hidup.
 hak keutuhan jasmani.
 kebebasan bergerak.
 kebebasan untuk memilih jodoh.
 perlindungan terhadap hak milik.
 hak untuk mengurus kerumahtanggaan sendiri.
 hak untuk memilih pekerjaan dan tempat tinggal.
kebebasan beragama.
 kebebasan untuk mengikuti suara hati sejauh tidak mengurangi
 kebebasan serupa orang lain,
 kebebasan berpikir.
 kebebasan untuk berkumpul dan berserikat.
 hak untuk tidak ditahan secara sewenang - wenang.

Dasar hak ini adalah keyakinan akan kedaulatan rakyat yang menuntut
agar rakyat memerintah dirinya sendiri dan setiap pemerintah di bawah
kekuasaan rakyat.
Hak ini disebut aktif karena merupakan hak atas suatu aktivitas manusia
untuk ikut menentukan arah perkembangan masyarakat/ negaranya. Yang
termasuk hak asasi aktif. antara lain :
a. hak untuk memilih wakil dalarn badan pembuat undang-undang;
b. hak untuk mengangkat dan mengontrol pemerintah:
c. hak untuk menyatakan pendapat;
d. hak atas kebebasan pers;
e. hak untuk membentuk perkumpulan politik.

2. Hak Asasi Aktif atau Demokratis -


Kalau hak-hak negatif menghalau campur tangan negara dalam urusan
pribadi manusia, maka sebaliknya hak - hak positif justru menuntut prestasi-
prestasi tertentu dari negara.

3. Hak Asasi Positif


Paham hak asasi positif berdasarkan anggapan bahwa negara bukan
tujuan pada dirinya sendiri, melainkan merupakan lembaga yang diciptakan
dan dipelihara oleh masyarakat untuk memberikan pelayanan-pelayanan
tertentu (pelayanan publik). Oleh karena itu tidak boleh ada anggota masyarakat
yang tidak mendapat pelayanan itu hanya karena ia terlaiu miskin untuk
membayar biayanya. Yang termasuk hak asasi positif antara lain :
 hak atas perlindungan hukum (misalnya : hak atas perlakuan yang sama di
depan hukum. hak atas keadilan);
 hak warga masyarakat atas kewarganegaraan.

4. Hak Asasi Sosial


Hak asasi sosial ini merupakan paham tentang kewajiban negara untuk
menjamin hasil kerja kaum buruh yang wajar dan merupakan hasil kesadaran
kaum borjuis melawan kaum buruh. Hak asasi sosial mencerminkan
kesadaran bahwa setiap anggota masyarakat berhak atas bagian yang adil
dari harta benda material dan kultural bangsanya dan atas bagian yang wajar
dari hasil nilai ekonomis. Hak ini hars dijamin dengan tindakan negara. Yang
termasuk hak asasi sosial antara lain
a. hak atas jaminan sosial;
b. hak atas pekerjaan;
c. hak membentuk serikat kerja;
d. hak atas pendidikan;
e. hak ikut serta dalam kehidupan kultural masyarakatnya.

7.3 Perkembangan Konsep Hukum Internasional Tentang HAM


Perkembangan pemikiran HAM dunia bermula dari adanya piagam
Magna Charta, The American Declaration (berpandang bahwa manusia adalah
merdeka sejak didalam perut ibunya, sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir
ia harus dibelenggu), The French Declaration (tidak boleh ada penang-kapan
dan penahanan yang semena-mena termasuk penangkapan tanpa alasan yng
syah dan penahanan tanpa surat perintah yang dikeluarkan oleh pejabat yang
syah. dalam kaitan itu berlaku prinsip resumption of innocent, artinya orang-
orang yang ditangkap, kemudian ditahan dan dituduh, berhak dinyatakan tidak
bersalah, sampai ada keputusan pengadilan berkekuatan hukum tetap
menyatakan bersalah), dan The Four Freedom.
Selain itu, perkembangan pemikiran HAM dalam empat generasi:
1) Generasi Pertama : Pengertian HAM hanya berpusat pada bidang hukum
politik. Fokus pemikiran HAM generasi pertama pada bidang hukum dan
politik disebabkan oleh dampak dan situasi perang dunia ll, totaliterisme dan
adanya keinginan negara-negara baru yang merdeka untuk menciptakan
suatu tertib hukum yang baru.
2) Generasi Kedua : Pemikiran HAM tidak saja menuntut hak yuridis melainkan
juga hak-hak sosial,ekonomi, politik, dan budaya.
3) Generasi Ketiga : Keadilan dan pemenuhan hak asasi haruslah dimulai sejak
pembangunan itu sendiri, bukan setelah pembangunan itu selesai. Agaknya
pepatah kuno “justice delayed,justice deny” tetap berlaku untuk kita semua.

4) Generasi Keempat : Pemikiran ham generasi keempat dipelopori oleh


negara-negara dikawasan asia yang pada tahun 1983 melahirkan deklarasi
hak asasi manusia yang disebut declaration of the basic duties of asia people
and goverment. Deklarasi ini lebih maju dari rumusan generasi ketiga,karena
tidak mencakup tuntutan struktural tetapi juga berpihak terciptanya tatanan
sosial yang berkeadilan.

6.4 Perkembangan Wawasan Bangsa Indonesia Tentang HAM


Menurut John Stuart Mills sebagaimana yang terdapat di dalam bukunya
Tilaar (2001) yang berjudul Demensi-demensi Hak Asasi Manusia dalam
Kurikulum Persekolahan Indonesia (A.T. Soegito, 2005:5), pelaksanaan hak
asasi manusia dapat dibedakan dalam arti ideal dan pragmatis. Secara ideal,
dalam pelaksanaan hak asasi manusia Negara tidak dibenarkan mencampuri
hak asasi manusia setiap warga Negara, apalagi menindasnya atau
menghilangkannya. Sedangkan secara pragmatis, pelaksanaan hak asasi
manusia acapkali dipengaruhi oleh muatan local atau kepentingan subyektif
bangsa tersebut, khususnya pemerintah penguasa Negara yang bersangkutan.
Ini memberi suatu isyarat kepada penguasa agar memiliki kearifan dalam
mengambil suatu kebijakan pembangunan yang biasanya memiliki implikasi
dengan hak asasi manusia.
Sejalan dengan amanat konstitusi, Indonesia berpandangan bahwa
pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia harus didasarkan kepada
prinsip bahwa hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial budaya dan hak
pembangunan meupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan,
baik dalam penerapan, pemantauan maupun pelaksanannya (Hasan Wirajuda,
2005 dalam A.T. Soegito, 2005:5).
Program penegakan hukum dan hak asasi manusia (PP No.7/2005)
yang meliputi pemberantasan korupsi, anti terorisme, dan pembasmian
penyalahgunaan narkotika dan obat berbahaya harus dilakukan secara tegas,
tidak diskriminatif, dan konsisten. Beberapa kegiatan yang relevan meliputi hal-
hal sebagai berikut ini.
1. Penguatan upaya-upaya pemberantasan korupsi melalui Rencana Aksi
Nasional (RAN) Pemberantasan Korupsi 2004-2009; Penguatan
pelaksanaan RAN Hak Asasi Manusia 2004-2009; RAN Penghapusan
Eksploitasi Seksual Komersial Anak; RAN Penghapusan Bentuk-bentuk
Pekerjaan Terburuk untuk Anak; dan Program nasional bagi anak
Indonesia 2015.
2. Pelaksanaan RAN Hak asasi Manusia 2004-2009 sebagai gerakan
nasional.
3. Penyelenggaraan audit regular atas kekayaan seluruh pejabat
pemerintah dan pejabat Negara.
4. Peninjauan serta penyempurnaan berbagai konsep dasar dalam rangka
mewujudkan proses hokum yang lebih sederhanan, cepat, tepat dan
dengan biaya yang terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.
5. Pembenahan system manajemen penanganan perkara yang menjamin
akses public, pengembangan system pengawasan yang transparan dan
akuntabel.
6. Pengembangan system manajemen kelembagaan hokum yang
transparan.
7. Penyelamatan bahan bukti akuntabilitas kinerja yang berupa
dokumen/arsip lembaga Negara dan badan pemerintahan untuk
mendukung penegakan hokum dan hak asasi manusia.
8. Pembaharuan materi hokum yang terkait dengan pemberantasan
korupsi, dan masih banyak lagi yang serupa itu (lihat A.T. Soegito, 2005:
6-7)
Secara khusus untuk menciptakan kondisi yang lebih kondusif dalam
rangka perlindungan dan penegakan hak asasi manusia di Indonesia dilakukan
beberapa langkah sebagai berikut: pembentukan kantor-kantor perwakilan
Komisi Nasional di daerah, meningkatkan pemahaman tentang hak asasi
manusia kepada masyarakat luas termasuk aparatur negara dengan
melaksanakan pendidikan dan pelatihan hak asasi manusia secara
berkelanjutan (lihat A.T. Soegito, 2005:7).
Pencapaian Indonesia sejak tahun 1991-2004 dalam pemajuan dan
perlindungan hak asasi manusia dapat diikuti dari berbagai kegiatan yang
dilakukan oleh pemerintah Indonesia (Hasan Wirajuda, 2005 dalam A.T.
Soegito, 2005: 7-8) sebagai berikut ini.
Departemen Luar Negeri Indonesia bekerjasama dengan pusat HAM
PBB telah menyelenggarakan serangkaian lokakarya, yaitu Lokakarya Nasional
HAM ke-1 pada tanggal 21-22 Januari 1991, Lokakarya Regional PBB ke-2
pada tanggal 26-28 Januari 1993, dan Lokakarya Nasional HAM ke-1 telah
merekomendasikan pembentukan Komisi Nasional HAM, yang akhirnya
dibentuk pada tanggal 7 Juni 1993 melalui Keppres No. 50/1993.
Selanjutnya, Indonesia menyelenggarakan Lokakarya Nasional HAM ke-
2 tahun 1994. Sesuai dengan salah satu rekomendasi lokakarya tersebut,
Departemen Luar Negeri membentuk Kelompok Kerja HAM yang terdiri dari
berbagai unsur departemen dan lembaga terkait. Kelompok Kerja HAM tersebut
berhasil menyusun seuatu RAN HAM Indonesia yang memuat langkah-langkah
nyata pemajuan dan penghormatan HAM yang dilakukan pada tingkat nasional
dalam kurun waktu 5 tahun, yakni mulai dari tahun 1998-2003.
Komisi Anti Kekerasan terhadap Perempuan telah dibentuk pada tahun
1998 dengan Keppres No. 181 tahun 1988, dan Komisi Perlindungan Anak
Indonesia dibentuk pada tahun 2003 melalui Keppres No. 77 tahun 2003.
Perlu ditegaskan di sini, semua instrumen hak asasi manusia dalam
skop nasional dan local sebagaimana yang seudh diutarakan di atas
merupakan suatu bukti perhatian Negara Indonesia terhadap pengaturan hak
asasi manusia yang implikasinya pada upaya-upaya penegakan hak asasi
manusia di Indonesia.

Untuk jelasnya bahwa implementasi HAM di Indonesia, meliputi :


2.4.1. Jaminan HAM dalam UUD 1945 dan Undang - Undang No. 39 Tahun
1999
Tentang jaminan HAM dalam UUD1945 Kuntjoro Purbopranoto (1982:26-29)
memberikan pandangan belum disusun secara sistematis dan hanya empat
pasal memuat ketentuan-ketentuan tentang hak asasi, yakni pasal 27, 28, 29
dan 31. Meskipun demikian. bukan ber-arti kurang mendapat perhatian, akan
tetapi karena susunan pertarna UUD 1945 adalah merupakan inti-inti dasar
kenegaraan.
Dari keempat pasal tersebut, terdapat lima pokok mengenai HAM yang
terdapat dalam batang tubuh UUD 1945. Pertama, tentang kesamaan
kedudukan dan kewajiban warganegara di dalam hukum dan di muka
pemerintahan( Pasal 27 ayat 1). Kedua, hak setiap warga negara atas pekerjaan
dan penghidupan yang layak (Pasal 27 ayat 2). Ketiga, kemerdekaan berserikat
dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya
ditetapkan dengan UU (Pasal 28). Keempat, kebebasan asasi untuk memeluk
agama bagi penduduk di jamin oleh Negara (Pasal 29 ayat 2). Kelima, hak atas
pengajaran (Pasal 31 ayat 1). Masuk-nya pasal-pasal di atas tidak lepas dari
perdebatan yang mendahuluinya antara kelompok yang keberatan (terutama
Soekarno dan Soepomo) dan yang meng-hendaki justru dimasukkan (terutama
Moh. Hatta) dalam UUD 1945.
Dengan demikian memahami pokok-pokok HAM dalam UUD 1945
referensinya yang akurat adalah pendapat Bung Hatta, yang esensinya
mencegah berkembangnya Negara Kekuasaan. Bung Hatta tampak bersifat
buruk sangka terhadap kekuasaan (negara). Dalam kenyataan empirik
memang pelanggaran HAM terutama dilakukan oleh penguasa. Pemikiran
bahwa HAM bersifat individualisme dan dipertentangkan dengan kedaulatan
rakyat dan keadilan sosial seperti yang dikemukakan Bung Karno yang sampai
saat ini masih tampak dianut terutama oleh penguasa, kiranya bukan rujukan
yang akurat dalam rangka memahami jaminan HAM "dalam UUD 1945.
Dalam era reformasi sekarang ini, upaya untuk menjabarkan ketentuan
HAM telah dilakukan melalui amandemen UUD 1945 ke dua (Tahun 2000) dan
diundangkan-nya UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM. Dalam amandemen
kedua tersebut, ada titel Bab yang secara eksplisit menggunakan istilah HAM
yaitu Bab XA yang berisikan pasal 28A s/d 28.J (perubahan pasal 28). Dalam
UU No.39 Tahun 1999 tampak jaminan HAM lebih terinci lagi. Hal itu terlihat
dari jumlah bab dan pasal-pasal yang dikandungnva relatif banyak yaitu terdiri
atas XI bab dan 106 pasal. Apabila dicermati jaminan HAM dalam UUD 1945
dan penjabarannya dalam UU No. 39 Tahun 1999, secara garis besar meliputi :
1. Hak untuk hidup (misalnya hak mempertahankan hidup, memperoleh
kesejahteraan lahir batin, memperoleh lingkungan hidup yang baik dan
sehat);
2. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan.
3. Hak mengembangkan diri (misalnya hak pemenuhan kebutuhan dasar,
meningkatkan kuaiitas hidup, memperoleh manfaat dari iptek, memperoleh
informasi, melakukan pekerjaan sosial);
4. Hak memperoieh keadilan (misalnya hak kepastian hukum, persamaan di
depan hukum);
5. Hak atas kebebasan pribadi (misalnya hak : memeluk agama, keyakinan
politik, memilih status kewarganegaraam berpendapat dan menyebarluas
kannya, mendirikan parpol, LSM dan organisasi lain, bebas bergerak dan
bertempat tinggal.
6. Hak atas rasa aman (misalnya hak : memperoleh suaka politik,
perlindungan terhadap ancaman ketakutan, melakukan hubungan
komunikasi,perlindungan terhadap penyiksaan, penghilangan dengan
paksa dan penghilangan nyawa);
7. Hak atas; kesejahteraan (misalnya hak : milik pribadi dan kolektif, memperoleh
pekerjaan yang layak, mendirikan serikat kerja, bertempat tinggal yang
layak, kehidupan yang layak, dan jaminan sosial);
8. Hak turut serta daiam pemerintahan (misalnya hak : memilih dan dipilih
dalam pemilu, partisipasi langsung dan tidak langsung, diangkat daiam
jabatan pemerintah, mengajukan usulan kepada pemerintah);
9. Hak wanita (hak yang sama/tidak ada diskriminasi antara wanita dan pria
daiam bidang politik, pekerjaan, status kewarganegaraan, keluarga/
perkawinan);
10. Hak anak (misalnya hak perlindungan oleh orang tua, keluarga. masyarakat
dan Negara, beribadah menurut agamanya, berekspresi, perlakuan khusus
bagi anak cacat, perlindungan dari eksploitasi ekonomi, pekerjaan,
pelecehan sexual, per-dagangan Anak, penyalahgunaan narkotika,
psikotropika dan zat adiktif lainnya).
4.2. Ratifikasi Jaminan HAM secara normatif
Ratifikasi jaminan HAM secara normatif, disamping dapat dilihat pada
konstitusi dan perundang-undangan yang ada, juga dapat dilihat pada apa yang
telah diratifikasi negara Rl terhadap konvensi internasional tentang HAM.
Beberapa konvensi internasional berkaitan dengan HAM yang telah diratifikasi
antara lain sebagat berikut:
1) Keputusan Presiden No. 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Convention on
the Rights of the Child (Konvensi tentang Hak-hak Anak).

Majelis Umum PBB dalam sidangnya yang ke 44 pada bulan Desember


1989 telah berhasil menyepakati sebuah Resolusi PBB No. 44/25 tanggal 5
Desember 1989 tentang Convention on the Rights (Wayan Parthiana, 1990
:3-11). Deklarasi PBB mengenai Hak-hak Anak tahun 1959 (Declaration on
the Rights of the Child of 1959) dan deklarasi PBB tentang Tahun anak-anak
Internasional (Declaration on the International Year of the Child (1979).
Bahkan jauh sebelumnya, Liga Bangsa-Bangsapun telah menaruh perhatian
yang serius" tentang masalah anak-anak ini, yang terbukti dengan dikeluar-
kannya Deklarasi Jenewa 1924 (Geneve Declaration of 1924) tentang
pembentukan Uni Internasional Dana dan Keselamatan Anak-Anak (Save
the Children Fund International Union). Demikian puia PBB secara khusus
memiliki salah satu organ khusus yang berkenaan dengan anak-anak yakni
UNICEF( United Nations Children's Fund/Dari PBB untuk Anak-Anak).
2) UU No. 8 Tahun 1998 tentang Pengesahan Convention Against Fortune and
Other Cruel In human or Degradi Treatment (konvensi Menentang
Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak
Manusiawi atau Merendahkan Martabat Manusia).

Ketentuan pokok konvensi ini mengatur pelarangan penyiksaan baik fisik


maupun mental, dan perlakuan atau penghukuman lain yang kejam, tidak
manusiawi, atau merendahkan martabat manusia yang dilakukan oleh atau
atas hasutan dari atau dengan persetujuan/sepengetahuan pejabat publik
dan orang lain yang bertindak dalam jabatannya. Ini berarti negara RI yang
telah meratifikasi wajib mengambil langkah-langkah legeslatif, administratif,
hukum dan langkah-langkah efektif lain guna mencegah tindakan
penyiksaan (tindak pidana) di dalam wilayah yuridiksinya. Misalnya langkah
yang dilakukan dengan memperbaiki cara interograsi dan pelatihan bagi
setiap aparatur penegak hukum dan pejabat publik lain yang
bertanggungjawab terhadap orang-orang yang dirampas kemerdekaannya.

4.3 Indikator Pelaksanaan HAM di Indonesia


Meskipun di Indonesia telah ada jaminan secara konstitusional maupun
telah dibentuk lembaga untuk penegakanya, tetapi belum menjamin bahwa
HAM di-laksanakan dalam kenyataan kehidupan sehari-hari atau dalam
pelaksanaan pembangunan. Lukman Soetrisno (Paul S.Baut, 1989:221)
mengajukan indikator bahwa suatu pembangunan telah melaksanakan HAM
apabila telah menunjukan adanya indikator-indikator, sebagai berikut :
Pertama, dalam bidang politik berupa kemauan pemerintah dan
masyarakat untuk mengakui pluralisme pendapat dan kepentingan dalam
masyarakat;
Kedua, dalam bidang sosial berupa 1) perlakukan yang sama oleh
hukum antara wong cilik dan priyayi dan 2) toleransi dalam masyarakat
terhadap perbedaan atau latar belakang agama dan ras warga negara
Indonesia, dan
Ketiga, dalam bidang ekonomi dalam bentuk tidak adanya monopoli
dalam sistem ekonomi yang berlaku.
Ketiga indikator tersebut jika dipakai untuk melihat pelaksanaan
pembangunan di Indonesia dewasa ini di bidang politik, sosial dan ekonomi
masih jauh dari yang diharapkan. Kehidupan politik masih cenderung didominasi
konflik antar elit politik sering berimbas pada konflik dalam masyarakat (konflik
horizontal) dan elit politik lebih memperhatikan kepentingan diri/kelompoknya,
sementara kepentingan masyarakat sebagai konstiuennya diabaikan Di bidang
hukum masih terlihat lemahnya penegakan hukum, banyak pejabat yang
melakukan pelanggaran hukum sulit dijamah oleh hukum, sementara keiika
pelanggaran itu dilakukan oleh wong cilik hukum tampak begitu kuat
cengkramannya. Dalam masyarakat juga masih tampak kurang adanya
toleransi terhadap perbedaan agama, ras, konflik. Berbagai konflik dalam
masyarakat paling tidak di permukaan masih sering terdapat nuansa SARA.
Sedangkan di bidang ekonomi masih tarnpak dikuasai oleh segelintir orang
(konglomerat) yang menunjukkan belum adanya kesempatan yang sama untuk
berusaha.
Kondisi tersebut merupakan salah satu faktor mengapa Indonesia
begitu sulit untuk keluar dari krisis politik, ekonomi dan sosial. Ini berarti harus
diakui bahwa dalam pelaksanaan HAM masih banyak terjadi pelanggaran
dalam berbagai bidang kehidupan. Pelanggaran baik dilakukan oleh penguasa
maupun masyarakat, namun ada kecenderungan pihak penguasa lebih
dominan, karena sebagai pemegang kekuasaan dapat secara leluasa untuk
memenuhi kepentingan yang seringkali dilakukan dengan cara-cara manipulasi
sehingga mengorbankan hak-hak pihak lain.

2.4.2 Kategori Pelanggaran HAM


Hampir dapat dipastikan dalam kehidupan sehari-hari kita temui
pelanggaran HAM baik di Indonesia maupun di belahan dunia lain. Pelanggaran
itu baik yang dilakukan oleh negara/pemerintah maupun oleh masyarakat.
Richard Falk (Mulyana W. Kusunah, 1981 : 71) mengembangkan suatu standar
guna mengukur derajat keseriusan pelanggaran HAM. Hasilnya adalah
disusunnya kategori-kategori pelanggaran HAM yang dianggap kejam, yaitu :
a) Pembunuhan besar-besaran (genocide).
b) Rasialisme resmi,
c) Terorisme resmi berskala besar.
d) Pemerintahan totaliter.
e) Penolakan secara sadar untuk memenuhi kebutuhan - kebutuhan dasar
manusia.
f) Perusakan kualitas lingkungan (esocide).
g) Kejahatan-kejahatan perang.

Akhir-akhir ini di dunia Internasional maupun di Indonesia, dihadapkan


banyak pelanggaran HAM dalam wujud teror Leiden & Schmit (Bayo Ala, 1985:
79) mengartikan teror sebagai tindakan berasal dari suatu kekecewaan atau
keputusasaan, biasanya disertai dengan ancaman-ancaman hak
berkemanusiaan dan tak mengenal belas kasihan terhadap kehidupan dan
barang-barang dilakukan dengan cara-cara melanggar hukum. 'Teror dapat
dalam bentuk pembunuhan, penculikan, sabotase. subversif, penyebaran
desas-desus, pelanggaran peraturan hukum, main hakim sendiri, pembajakan
dan penyanderaan. Teror dapat dilakukan oleh pemerintah maupun oleh
masyarakat (oposan).
Teror sebagai bentuk pelanggaran HAM yang kejam (berat). karena
menimbulkan ketakutan sehingga rasa aman sebagai hak setiap orang tidak
lagi dapat dirasakan. Dalam kondisi ketakutan maka seseorang/masyarakat
sulit untuk melakukan hak/kebebasan yang lain, sehingga akan menimbulkan
kesulitan dalam upaya mengembangkan kehidupan yang lebih maju dan
bermartabat

4.5 Contoh Pelanggaran HAM


Banyak pelanggaran HAM di Indonesia, baik yang dilakukan pemerintah.
aparat keamanan maupun oleh masyarakat. Contoh-contoh pelanggaran HAM
oleh pemerintah dan atau aparat keamanan antara lain sebagai berikut :
Pertama, kasus Marsinah, kasus ini berawal dari unjuk rasa dan
pemogokan yang dilakukan buruh PT.CPS pada tanggal 3-4 Mei 1993. Aksi ini
berbuntut dengan di PHK-nya 13 buruh. Marsinah menuntut dicabutnya PHK
yang menimpa kawan-kawannya Pada 5 Mei 1993 Marsinah 'menghilang'. dan
akhirnya pada 9 Mei 1993. Marsinah ditemukan tewas dengan kondisi yang
mengenaskan di hutan Wilangan Nganjuk. Perkembangan pengusutan kasus
ini menghasilkan keterlibatan 6 anggota TNI-AD dari kesatuan Danintel Kodam,
Kopassus. 20 Polri serta 1 orang Kejaksaan. Namun perlakuan Kodim tidak
berhenti pada PHK 13 orang dan matinya Marsinah. karena pada tanggal 7 Mei
1993 masih ada 8 orang buruh PT.CPS di PHK oleh Kodim di markas Kodim
(Prisma 4, April 1994 : 71-73, Saurip Kadi, 2000: 24).
Kedua, Kasus Universitas Muslim Indonesia (UMI), Ujung Pandang, 26
April 1996. Awal dari kerusuhan tersebut bermula pada aksi unjuk rasa maha-
siswa UM1 terhadap kenaikan tarif angkutan kota (Pete-pete) yang
memberatkan kalangan pelajar dan mahasiswa yang dikenai aturan lebih dari
yang ditetapkan Menteri Perhubungan sebesar Rp. 100. Namun sayangnya.
aparat keamanan bersikap berlebihan dan represif dalam menghadapi
pengunjuk rasa tersebut sehingga pecah insiden berdarah yang menimbulkan
korban jiwa di pihak mahasiswa dengan cara menyerbu kampus UMI dan
menembak dengan peluru tajam sehsngga jatuh korban (Surip Kadi, 2000 :
27).
Ketiga. kasus pembunuhan Tengku Bantaqiah, 23 Juii 1999. Tengku
Bantaqiah adalah seorang tokoh ulama terkemuka di Aceh. Kasus ini bermula
dari informasi adanya sejumlah senjata di salah seorang tokoh Dayah Bale.
Untuk mendalami informasi tersebut pada tanggal 23 Juli 1999, Danrem
menugaskan Kasi Intelnya untuk melaksanakan penyelidikan. Operasi ini
ternyata mengakibat-kan pengikut Tengku Bantaqiah ditembaki oleh aparat
setempat. Sebanyak 51 orang termasuk Tengku Bantaqiah tewas. Berdasarkan
penyelidikan, sebanyak 24 anggota TNI dinyatakan sebagai tersangka,
termasuk di dalamnya Letkol Inf Sudjono. Hilangnya Letkol Inf Sudjono (Kasi
Intel Korem 011/Lilawangsa) tentu saja membuat penyelesaian kasus ini
menjadi terhambat, karena motivasi pem-bantaian itu menjadi; kabur. Apakah
pembantaian itu merupakan kebijakan yang diambil dalam satu kerangka
kebijakan mengatasi masalah Aceh ataukah semata-mata karena tindakan
yang diambil atas pertimbangan kondisi lapangan Saurip Kadi. 2000: 36).
Beberapa pelanggaran HAM yang lain yang sedang dituntut oleh
masyarakat untuk diselesaikan melalui Pengadilan HAM antara lain. Kasus
Trisakti Mei 1998) yang menewaskan 4 mahasiswa. Kasus Pasca Jejak
Pendapat di orang Timur yang ditandai dengan praktek bumi hangus,
pembunuhan massa di Suai, pembunuhan di Los Palos, Maliana, Liquisa dan
Dili. Kasus Pasca jaja pendapat di Timtim sekarang mulai di sidangkan lewat
Peradilan HAM.

2.4.3 Faktor Penyebab Terjadinya Pelanggaran HAM


Mengapa pelanggaran HAM sering terjadi di Indonesia, meskipun
seperti telah dikemukakan di atas telah dijamin secara konstitusional dan telah
dibentuknya lembaga penegakan HAM. Apabila dicermati secara seksama
ternyata faktor penyebabnya kompleks. Faktor-faktor penyebabnya antara lain:
(1) masih belum adanya kesepahaman pada tataran konsep HAM antara
universalisme dan partikularisme, (2) adanya dikhotomi antara individualisme
dan kolektivisme. (3) kurang berfungsinya lembaga-lembaga penegak hukum
(polisi, jaksa dan pengadilan), dan (4) pemahaman belum merata baik
dikalangan sipil, maupun militer.
4.7 Lembaga HAM
Saat ini lembaga resmi oleh pemerintah seperti Komnas HAM
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Peradilan HAM dan
lembaga - lembaga yang dibentuk oleh masyarakat terutama dalam bentuk
LSM prodemokrasi dan HAM.
a. Komisi Nasional HAM
Komisi Nasional (Komnas) HAM pada awalnya dibentuk dengan
Kcpres No. 50 Tahun 1993 sebagai respon terhadap tuntutan masyarakat
niaupun tekanan dunia intemasional perlunya penegakan HAM di Indonesia.
Kemudian dengan lahirnya UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM. yang
didalamnya mengatur tentang Komnas HAM ( Bab VIII, pasal 75 s/d. 99),
Komnas HAM yang terbentuk dengan Kepres tersebut harus menyesuaikan
dengan UU No.39 Tahun 1999.
b. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan dibentuk
berdasarkan Kepres No. 181 Tahun 1998. Dasar pertimbangan
pembentukan Komisi Nasional ini sebagai upaya mencegah terjadinya dan
menghapus segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

c. Pengadilan HAM
Pengadilan HAM sebagai peradilan khusus di lingkungan peradilan
umum. Contoh Pengadilan HAM di daerah kabupaten atau daerah kota yang
daerah hukumnya meliputi daerah hukum Pengadilan Negeri yang
bersangkutan. Pengadilan HAM dibentuk berdasarkan UU No. 26 Tahun 2000.
Peradilan HAM memiliki wewenang memeriksa dan memutus perkara
pelanggaran HAM yang berat, termasuk yang dilakukan di luar tentorial
wilayah negara Rl oleh warga negara Indonesia.

d. LSM Prodemokrasi dan HAM


Disamping lembaga penegakan HAM yang dibentuk oleh pemerintah,
masyarakatpun terutama melalui LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) atau
NGO (Non Governmental Organization) yang programnya berfokus pada
demokratisasi dan pengembangan HAM (LSM Prodemokrasi dan HAM ). Yang
termasuk LSM ini antara lain YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum
Indonesia), Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekersan).

e. Pembelajaran
Pembelajaran tentang HAM, terutama bagaimana upaya untuk
memberikan pemahaman yang benar tentang pengertian HAM dan upaya-
upaya penegakannya. Dua masalali ini tampak mienjadi persoaian paling
mendasar yang dihadapi sekarang ini. Oleh karena itu, pembelajaran tentang
HAM disamping menuntut materi yang luas, mendalam dan jelas juga hams
dikaitkan dengan kenyataan dafam kehidupan sehari-hari. Untuk itu
pembelajarannya menghendaki metoda pembelajaran yang lebih
mengedepankan observasi, discovery, pemecahan masaiah, dan inkuiri.
Sedangkan media pembelajaran tidak sekedar visual, tetapi audio-visual
seperti rekaman video berbagai peristiwa pelanggaran HAM di Indonesia
maupun dunia internasional.
Dalam pembelajaran tentang HAM misalnya dapat diberikan sebagai
contoh-nya, ketika mengajarkan topik tentang "Pelanggaran HAM". Dalam
pembelajaran topik tersebut Guru bisa berangkat dari cerita tentang
pelanggaran HAM atau memperlihatkan ''gambar tentang pelanggaran hak
asasi manusia", juga bias bertitik tolak dari "Rekaman video tentang
pelanggaran HAM". juga bisa bermula dari "Apa yang dilihat/ kesan siswa
tentang pelanggaran HAM". Kemudian siswa secara individual atau kelompok
diminia untuk membuat konsep tentang pelanggaran HAM. akibat-akibat apa
yang timbul ketika terjadi pelanggaran HAM. Kemudian diminta memberikan
alasan mengapa pelanggaran HAM perlu dicegah. Dengan cara pembelajaran
yang demikian siswa tidak saja aktif. tetapi juga merangsang kreativitas dan
kemampuan dalam mengatasi berbagai persoalan sosial khususnya yang
terkait dengan HAM.

2.4.5 Indikator pelaksanaan HAM


Semenjak berakhirnya perang dingin, maka isu global beralih dari
komunisme dan pertentangan antara blok barat dan blok timur ke masalah baru
yaitu masalah hak asasi manusia, masalah lingkungan, dan masalah
liberalisme perdagangan. Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bagian
dari masyarakat dunia tidak terlepas dari isu hak asasi manusia yang melanda
hampir semua negara di dunia.
Isu-isu mengenai hak asasi manusia dewasa ini bukan lagi berkisar
seputar masalah pengakuan dan jaminan perlindungan terhadap hak asasi
manusia, karena hampir di semua negara, baik dalam konstitusinya maupun
dalam peraturan peundang-undangan, telah diberikan pengakuan dan jaminan
terhadap ahak asasi manusia, disamping telah adanya bebrapa konvensi PBB
tentang HAM. Masalahnya sekarang tertuju pada isu-isu penegakan dan
pemajuan hak asasi manusia itu.
Pengakuan dan jaminan perlindungan hak asasi manusia di Indonesia
telah cukup banyak diberikan, baik yang ditemukan dalam nilai-nilai yang
terkandung dalam Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, serta peraturan
perundang-undagan lainnya. Untuk jelasnya dapat kita rinci sebagai berikut.
a. Pancasila.
b. Pengakuan dan jaminan perlindungan HAM tercermin dalam nilai-nilai
Pancasila, misalkan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan,
dan keadilan sosial.
a. Undang-Undang Dasar 1945.
c. Selain sebagai landasan konstitusional UUD 1945 setelah amandemen
pada Bab XA memuat secara khusus dalam satu bab tersendiri tentang
HAM yang diuraikan dalam 10 pasal mulai pasal 28A samapai dengan
pasal 28J
a. Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia
b. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
c. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi
Manusia
d. Peraturan perundang-undangan lainnya (KUH Pidana, UU Pemilu, UU
Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, UU tentang Partai Politik, UU tentang
Pers, UU Perlindungan Anak, UU Perburuhan, dan lain-lain.)

Disamping itu, negara kita telah meratifikasi beberapa konvensi PBB tentang
HAM kurang lebih 17 konvensi, diantaranya yaitu:
a. International Convention on The Elimation of All Form Racial Discrimination
(1965). konvensi Penghapusan Segala bentuk Diskriminasi Rasial
b. International Convention on The Suppression and Punishment of The Crime
of Aprtheid (1973). Konvensi tentang apartheid
c. ILO Convention Concering Equal Renumeration for Men and Women
Workers for work of Equal Value (1951). Konvensi tentang persamaan upah
pekerja perempuan dan laki-laki.
d. Convention on The Political Right of Women (1952). Konvensi mengenai
Hak Politik perempuan

Kita juga telah mendeklarasikan Rencana Aksi Nasional Hak-hak Asasi


Manusia Indonesia 1998-2003 yang diantara programnya secara bertahap akan
diratifikasi beberapa konvensi PBB tentang HAM. Dengan rencana aksi tersebut
sampai sekarang telah diratifikasi beberapa konvensi, yaitu:
a. Konvensi menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman Lain yang
Kejam, Tidak Manusiawi dan Meendahkan.
b. Konvensi tentang Hak-hak Ekonomi, Politik dan Budaya
Kita juga telah mempunyai Komite Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas
HAM), yaitu suatu badan independen yang bertugas memantau pelaksanaan
hak asasi manusia di Indonesia. Semua itu bertujuan untuk pemajuan dan
perlindungan hak-hak asasi manusia Indonesia.
Walaupun demikian dimana-mana sekarang masih saja terjadi
pelanggaran terhadap hak asasi manusia, seperti di Aceh, Maluku, Sampit,
Poso, kasus-kasus perburuhan, kemiskinan, kebodohan, meningkatnya angka
korban kriminalitas dan lain-lain. Sehingga permasalahan utamanya adalah
penegakan hak asasi manusia itu sendiri. Penegakan hak asasi manusia
merupakan upaya secara sadar untuk melindungi dan mewujudkan hak-hak
asasi manusia dan memberikan tindakan atau sanksi yang tegas kepada
semua pihak yang melakukan pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia
tanpa terkecuali.
Pelanggaran terhadap hak asasi manusia tidak selalu merupakan
dominasi negara terhadap rakyatnya, tetapi pelanggaran hak asasi manusia
juga dapat dilakukan oleh orang per orang atau individu terhadap orang atau
individu yang lain atau bahkan negara kepada negara yang lain. Demikian pula
sebaliknya penegakan hak asasi manusia sebenarnya bukan hanya merupakan
kewajiban negara akan tetapi merupakan kewajiban setiap individu manusia
dan semua negara di dunia.
Pelanggaran dan pemerkosaan terhadap hak-hak asasi manusia
merupakan kenyataan negatif yang akan selalu diiringi dengan upaya untuk
mengatasinya secara positif. Upaya penegakan hak asasi manusia di Indonesia
bukan tidak pernah dilakukan bahkan sudah terlihat upaya-upaya serius untuk
tegaknya hak asasi manusia di Indonesia, dengan atau tanpa tekanan dari
dunia internasional. Akan tetapi masih banyak hambatan dan dan tantangan
menuju tegaknya HAM di Indonesia. Hambatan yang sekaligus merupakan
tantangan dalam penegakan hak asasi manusia di Indonesia diantaranya
adalah berikut :
1. Hak asasi adalah sebuah idealisme yang sudah bersifat mondial dan
universal. Akan tetapi HAM juga setidak-tidaknya di Indonesia masih barang
yang dapat dikatakan relatif baru yang masih terasa asing dalam
kebudayaan kita. Kenyataan masih membuktikan pengetahuan tentang HAM
hanya dimiiliki dan mungkin diamalkan oleh sebagian kecil dari kalangan kita,
bahkan sebagian besar masyarakat masyarakat hanya tahu sedikit atau tidak
tahu sama sekali tentang hak-hak fundamental yang dimilikinya itu.
Sementara pertentangan kehidupan sosial agama dan etnis, permusuhan
antar suku, perbedaan kehidupan sosial, ekonomi, politis dan ketidakpuasan
lainnya yang bersifat umum tidak jarang mengundang meletupnya amarah
sosial di kalangan masyarakat. Tragisnya, ditengah situasi seperti itu justru
hukum dan HAM menjadi terinjak-injak kembali. Sehingga tantangan ke depan
adalah bagaimana mensosialisikan HAM dan segala hal yang tekait ke
seluruh lapisan masyarakat indonesia dimanapun mereka berada.
Pendidikan tentang HAM harus dilakukan sejak dini dalam masyarakat.
2. Kondisi ketimpangan dan ketidakadilan dalam berbagai bidang. Sampai
kapanpun HAM tidak akan dapat ditegakkan dalam kondisi masyarakat yang
timpang dan tidak adil. Kondisi ekonomi yang sangat timpang, ada yang
miskin sekali dan ada yang sangat kaya apalagi ketimpangan tersebut
tercipta karena ketidakadilan, maka penegakan hak asasi manusia hanya
akanmenjadi slogan saja. Kondisi dimana ada ketimpangan sosial ada yang
sangat maju sekali ada yang masih sangat tertinggal. Sehingga
tantangannya adalah bagaimana membuat situasi masyarakat yang sangat
kondusif untuk penegakan HAM dengan menghilangkan ketimpangan dan
ketidakadilan yang terjadi di masyarakat.
3. Kondisi negara kita yang secara umum masih termasuk negara-negara
miskin yang terlilit utang yang besar dengan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme
yang masih dominan. Kondisi seperti ini akan menghambat upaya
penegakan hak asasi manusia
4. Masih kurangnya kesadaran aparat penegak hukum dalam melaksanakan
tugasnya dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip penegakan HAM. Hal
ini terjadi dikarenakan beberapa faktor diantaranya karena kurangnya
pengetahuan aparat penegak hukum itu sendiri tentang HAM atau HAM
dipandang memperlambat atau mempersulit aparat penegak hukum dalam
menjalankan tugas. Sehingga tantangan ke depan adalah bagaimana
menciptakan aparat-aparat penegak hukum yang tetap mau menghormati
HAM dalam menjalankan tugasnya dengan memperbaiki sistem rekruitmen
dan sistem pendidikannya.
5. Masih terlihatnya dominasi kekuasaan terhadap hukum. Tegaknya hukum
dapat dikatakan juga tegaknya pula HAM. Kalau kekuasaan masih
mempengaruhi hukum, maka yang terjadi adalah tidak berdayanya hukum
pada saat berhadapan dengan orang atau kelompok-kelompok yang punya
kekuasaan, sehingga hukum akan sulit ditegakkan untuk kalangan mereka.
Demikia pula pada saat kekuasaan melakukan pelanggaran-pelanggaran
terhadap HAM maka akan sangat sulit untuk mengambil tindakan yang tegas
dan adil. Tantangan ke depan adalah bagaimana membuat lembaga hukum
yang independen (bebas) dari pengaruh kekuasaan dengan tatanan
masyarakat yang demokratis.
6. Masih lemahnya posisi lembaga-lembaga yang khusus dibentuk dalam
penegakan HAM di Indonesia, seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia,
dan Pengadilan Hak Asasi Manusia Indonesia. Sehingga lembaga-lembaga
ini harus lebih diberdayakan dengan memberikan dukungan dan
kewenangan yang lebih baik dalam penegakan HAM
7. Masih lemah dan kurangnya peran serta masyarakat dalam pengawasan
terhadap penegakan HAM baik secara perorangan, kelompok atau
organisasi.
8. Besarnya jumlah penduduk dan kondisi geografis Indonesia juga masih
merupakan hambatan dan tantangan dalam penegakan HAM. Jumlah
penduduk yang besar menuntut pula investasi dan modal yang sangat besar
dalam pengakan hak asasi manusia dalam paradigma pemerataan. Luasnya
wilayah dan kondisi kepulauan yang ada menuntut pula investasi dan energi
yang sangat besar untuk penegakan HAM. Contoh hak akan rasa aman
untuk kondisi kependudukan dan wilayah Indonesia menuntut Kepolisian
yang seimbang dengan jumlah penduduk dan merata di seluruh wilayah.
Pemberantasan Kemiskinan dan keterbelakangan masih menjadi pekerjaan
yang tidak kunjung selesai karena kondisi kependudukan dan geografis.
BAB VIII
PENEGAKAN, PENINGKATAN DAN KESADARAN HUKUM
(RULE OF LAW)

8.1 Pengertian Rule of Law


Rule of Law (RoL) adalah sebuah konsep hukum yang sesungguhnya
lahir dari sebuah bentuk protes terhadap sebuah kekuasaan yang absolute di
sebuah Negara. Dalam rangka membatasi kekuasaan yang absolute tersebut
maka diperlukanlah pembatasan-pembatasan terhadap kekuasaan itu,
sehingga kekuasaan tersebut ditata agar tidak melanggar kepentingan Asasi
dari masyarakat, dengan demikian masyarakat terhindar dari tindakan-tindakan
melawan hukum yang dilakukan oleh penguasa.
Rule of Law pada hakekatnya adalah memposisikan hukum sebagai
landasan bertindak dari seluruh elemen bangsa dalam sebuah Negara. Rule of
Law dapat dilaksanakan dengan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia karena
salah satu ciri dari Rule of Law (Negara Hukum) adalah terlindunginya Hak
Asasi Manusia di Negara yang bersangkutan.
Dalam kaitannya dengan materi kuliah pendidikan Kewarganegaraan
maka pembahasan tentang Rule of Law dan Hak Asasi Manusia menjadi
penting agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami bagaimana konsep
Rule of Law dan Hak Asasi Manusia serta keterkaitan antara Rule of Law dan
Hak Asasi Manusia tersebut dalam pelaksanaannya khususnya di Indonesia.

Konsep Dasar / Definisi Rule of Law


1.1 Asal Usul Rule of Law (RoL)
RoL merupakan satu doktrin dalam hukum yang muncul pada abad ke
19, bersamaan dengan kelahiran Negara konstitusi dan demokrasi. Kehadiran-
nya boleh disebut sebagai reaksi dan koreksi terhadap Negara absolute yang
telah berkembang sebelumnya. Negara absolute sebagai perkembangan
keadaan di Eropa yaitu Negara yang terdiri atas wilayah-wilayah otonom.
Negara absolute (sebagai Negara modern) menyerap kekuasaan yang semula
ada pada wilayah-wilayah ke dalam satu tangan yaitu tangan raja.
Rule of Law lahir dengan semangat yang tinggi bersama-sama dengan
demokrasi, parlemen dan sebagainya, kemudian Rule of Law mengambil alih
dominasi yang dimiliki ancient regime yang terdiri dari golongan-golongan
gereja, ningrat, prajurit dan kerajaan. Munculnya keinginan untuk melakukan
pembatasan yuridis terhadap kekuasaan, pada dasarnya disebabkan oleh
politik kekuasaan yang cenderung korup. Hal ini dikhawatirkan akan
menjauhkan fungsi dan peran Negara bagi kehidupan individu dan masyarakat.
Atas dasar pengertian tersebut maka terdapat keinginan yang sangat besar
untuk melakukan pembatasan terhadap kekuasaan secara normative yuridis ,
untuk menghindari kekuasaan yang dispotik. Dalam hubungan inilah maka
kedudukan konstitusi sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Oleh karena
itu lahirlah Negara konstitusi yang melahirkan doktrin Rule of Law, inilah awal
dari kelahiran Doktrin Egalitarian dalam hukum yang menjadi ciri utama Rule of
Law. Disinilah kemudian Rule of Law merupakan doktrin dengan semangat dan
idealism keadilan yang tinggi seperti supremasi hukum dan kesamaan setiap
orang di depan hukum.
Pemerintahan yang demokratis di bawah RoL yang dinamis memiliki
syarat-syarat yaitu :
1. Perlindungan konstitusional, artinya selain menjamin hak-hak individual,
konstitusi harus pula menentukan teknis procedural untuk memperoleh
perlindungan atas hak-hak yang dijamin.
2. Lembaga kehakiman yang bebas dan tidak memihak,
3. Pemilihan umum yang bebas
4. Kebebasan menyatakan untuk menyatakan pendapat.
5. Kebebasan berserikat/berorganisasi dan berposisi.
6. Pendidikan kewarganegaraan.

1.2 Definisi Rule of Law


Menurut Albert Venn Dicey dalam “Introduction to the Law of the
Constitution” memperkenalkan istilah the rule of law yang secara sederhana
diartikan suatu keteraturan hukum. Menurut Dicey, terdapat tiga unsure yang
pundamental dalam rule of law yaitu :
1. Supremasi aturan-aturan hukum, tidak adanya kekuasaan yang sewenang-
wenang dalam arti seseorang Hanya boleh dihukum jikalau memang
melanggar hukum
2. Kedudukan yang sama di muka hukum, hal ini berlaku baik bagi
masyarakat biasa maupun pejabat Negara
3. Terjaminnya hak-hak asasi manusia oleh UU serta keputusan-keputusan
UU
Suatu hal yang harus diperhatikan bahwa jika dalam suatu hubungan jika
memperlakukan prinsip tersebut maka negara terbatas dalam pengertian
hukum formal yaitu Negara tidak bersifat proaktif, melainkan pasif. Sikap
Negara yang seperti ini dikarenakan Negara hanya menjalankan dan taat pada
apa yang tercantum dalam konstitusi semata. Dengan perkataan lain Negara
tidak hanya sebagai penjaga malam. Dalam pengertian seperti ini seakan-akan
Negara tidak berurusan dengan kesejahteraan rakyat. Setelah pertengahan
abad ke-20 mulai bergeser, bahwa Negara harus bertanggungjawab terhadap
kesejahteraan rakyatnya. Untuk itu Negara tidak hanya sebagai penjaga malam
saja, melainkan harus aktif melaksanakan upaya-upaya untuk mewujudkan
kesejahteraan masyarakat dengan cara mengatur kehidupan social ekonomi.
Gagasan baru inilah yang kemudian dikenal dengan welfare state atau Negara
hukum material.
Bagi Negara Indonesia ditentukan secara yuridis formal bahwa Negara
Indonesia adalah Negara yang berdasarkan pada hukum. Hal itu tercantum
dalam pembukaan UUD 1945 alinea IV yang secara eksplisit menjelaskan
bahwa “maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu
Undang-Undang Dasar Negara Indonesia”. Hal ini mengandung arti bahwa
suatu keharusan Negara Indonesia yang didirikan itu berdasarkan atas
Undang-undang Dasar Negara.
Menurut Friedman, sebenarnya antara pengertian rule of law dan
rechtsstaat saling mengisi. Oleh karena itu, berdasarkan bentuknya sebenarnya
rule of law adalah kekuasaan public yang diatur secara legal. Oleh karena itu
setiap organisasi atau persekutuan hidup dalam masyarakat termasuk Negara,
mendasarkan pada suatu rule of law. Berdasarkan pengertian tersebut maka
pengertian Negara yang legal senantiasa menegakkan rule of law. Dalam
hubungan ini, pengertian rule of law berdasarkan subtansi atau isinya sangat
berkaitan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam suatu
Negara. Konsekuensinya, setiap Negara akan mengatakan berdasarkan pada
rule of law dalam kehidupan kenegaraan, meskipun Negara tersebut adalah
negara otoriter.
Atas dasar alasan tersebut maka diakui bahwa sulit menentukan
pengertian rule of law secara universal karena setiap masyarakat melahirkan
pengertian secara berbeda pula, dalam hubungan inilah maka rule of law dalam
hal munculnya bersifat endogen. Artinya muncul dan berkembang dari suatu
masyarakat tertentu. Oleh Philipus M. Hardjon, disebutkan rule of law memiliki
ciri yang evolusioner dimana gerakan masyarakat menghendaki bahwa
kekuasaan raja maupun penyelenggara Negara harus dibatasi dan diatur
melalui suatu peraturan perundang-undangan yang dalam pelaksanaanya juga
berhubungan dengan segala peraturan perundang-undangan itulah yang sering
diistilahkan dengan rule of law.

1.3 Perkembangan Rule di Dunia


Rule of Law merupakan doktrin dengan semangat dan idialisme keadilan
yang tinggi, seperti “Supremasi hukum” dan “Kesamaan setiap orang di depan
hukum”. Oleh Friedman Rule of Law dibagi dalam pengertian “formal” dan “
Hakiki”. Dalam pengertian formal Rule of law tidak lain adalah “organized public
Power” atau kekuasaan umum yang terorganisasikan. Sedangkan Rule of Law
dalam pengertian “Hakiki” (materiil) adalah sangat erat hubungannya dengan
menegakkan “the rule of law”, karena dalam pengertian hakiki telah
menyangkut ukuran-ukuran tentang hukum yang baik dan hukum yang buruk (
Just and unjust law ).
Rule of Law juga terkait erat dengan “ keadilan”, sedang rasa keadilan
tiap Negara berbeda satu dengan lainnya. Meskipun demikian, inti dari
pengertian rule of law, tetap sama ialah bahwa rule of law harus menjamin apa
yang oleh masyarakat/bangsa yang bersangkutan di pandang sebagai keadilan,
khususnya keadilan sosial. Keberadaan ada atau tidaknya rule of law di suatu
Negara ditentukan oleh ada tidaknya keadilan yang dapat dinikmati oleh setiap
anggota masyarakat.
Wieldon lebih tegas lagi menyebutkan bahwa rule of law tidak saja
memiliki suatu system peradilan yang sempurna diatas kertas saja akan tetapi
ada tidaknya rule of law di dalam suatu Negara ditentukan oleh kenyataan,
apakah rakyatnya benar-benar dapat menikmati keadilan dalam arti perlakuan
yang adil, baik dari sesama warganegaranya, maupun dari pemerintahnya.
Oleh karena itu “ the enforcement of the rules of law “ , atau pelaksanaan
kaidah-kaidah hukum yang berlaku di dalam suatu Negara itu senantiasa
mengandung suatu persyaratan (premis) bahwa kaidah-kaidah yang
dilaksanakan atau enforced itu merupakan hukum yang adil artinya kaidah
hukum yang menjamin perlakukan yang adil (sesuai dengan faham masyarakat
yang bersangkutan tentang keadilan sosial).
Terkait dengan perkembangan Rule of Law di beberapa Negara di dunia.
Menarik untuk melihat penelitian tentang RoL yang dilakukan oleh Prof. Dr.
Sunarjati Hartono,SH di Negara Inggris, Amerika Serikat dan Belanda.
Penelitian yang bersifat historis-komparatif tentang rule of law tersebut
menyimpulkan bahwa :
1. Setiap bangsa memiliki faham rule of law yang berbeda satu sama lain
karena setiap bangsa/Negara memiliki rule of sendiri-sendiri;
2. Hal ini mengakibatkan bahwa penegakan rule of law tidak dengan sendirinya
mengakibatkan tegaknya Negara hukum. Bahkan penegakan the rule of law
itu akan memungkinkan berdirinya suatu Negara kekuasaan;
3. Oleh karena itu supaya tercipta suatu Negara hukum yang membawa
keadilan bagi seluruh rakyat yang bersangkutan, penegakan rule of law
harus diartikan secara hakiki (materiil), yaitu dalam arti “ pelaksanaan dari
just law”;
4. Pelaksanaan the rule of law dan terjaminnya Negara hukum (di Inggris) tidak
saja warga negaranya tunduk dan harus tunduk pada hukum, tetapi juga
pemerintahannya, pemerintah sebagai “ untergeordnet “ pada hukumnya;
5. Faham the rule of law di Inggris diletakkan pada hubungan antara hukum
dan keadilan, di Amerika diletakkan pada hak-hak asasi manusia, dan di
Belanda faham rule of law lahir dari faham kedaulatan Negara, melalui faham
kedaulatan hukum, dengan memberi kewenangan yang tinggi kepada hakim
untuk mengawasi pelaksanaan tugas kekuatan pemerintah.
6. Menjelaskan konsep, jenis, implementasi dan instrumen HAM di Indonesia.
7. Menguraikan lembaga-lembaga di Indonesia

8.2 Sistem Pemerintahan Negara


8.3 Amandemen UUD 1945
Setiap UUD (konstitusi) yang tertulis selalu mencantumkan pasal
tentang perubahan konstitusi tersebut. Mengapa perlu adanya pasal tentang
perubahan? Hal ini disebabkan karena suatu UUD (konstitusi) walaupun
dirancang untuk jangka waktu yang lama, selalu akan tertinggal dari
peerkembangan masyarakat sehingga suatu saat UUD itu perlu diubah.
Dengan kata lain, yaitu untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi
dengan pertimbangan pertama, politik/masyarakat akan berkembang; dan
kedua, UUD/konstitusi itu bersifat statis sehingga akan ketinggalan zaman.
Contohnya dalam pasal 7 UUD1945 tidak diatur berapa kali masa jabatan
seorang presiden dapat dipilih kembali (sehingga presiden orde baru berkuasa
32 tahun). Aturan tersebut sudah tidak sesuai dengan tuntutan masyaakat yang
menghendaki adanya pembatasa masa jabatan presiden sehingga paal 7
tersebut di-amandemen , dimana seorang presiden /wakil presiden hanya dapat
dipilih kenbali untuk satu kali masa jabatan.
Perlu anda pahami bahwa mengubah UUD dapat berarti 2, yaitu:
pertama, mengubah sesuatu yang sudah diatur dalam UUD itu, dan kedua,
menambahkan sesuatu yang belum Diatur dalam UUD (Sri Soemantri, 1979)
termasuk pengertian yang mana yang dianut UUD 1945? Jika dikaji, tidak ada
ketentuan mengenai maksud perubahan yang dikehendaki UUD tersebut.
Namun, berdasarkan kenyataan setelah dilakukan dua kali perubahan (tahun
1999 dan 2000). Ternyata meliputi kedua pengertian tersebut. Artinya ada
perubahan yang berarti menambahkan sesutau yang belum diatur ( misalnya
tentang HAM pasal 28A-28J) dan ada pula yang berarti mengubah yang sudah
diatur ( misalnya pasal 5 ayat 1 yang semula president memegang kekuasaan
membentuk UU diubah menjadi presiden berhak mengajukan rancangan UU).
Pertanyaan kita sekarang adalah ”bagaimana cara dan persyaratan
untuk melakukan perubahan UUD 1945 “? Dan “ bagian mana saja yang dapat
diubah”? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita lihat
bagaimana cara perubahan konstitusi yang rigit menurut para ahli.
C.F.STRONG (1960) mengemukakan bahwa konstitusi dapat diubah oleh (a)
kekuasaan legislatif, dengan pembatasan tertentu; (b) rakyat melaluui
refrendum; (c) sejumlah negara bagian (untuk negara serikat); dan (d) dengan
kebiasaan ketatanegaraan. Sedangkan menurut Ismail Suny dapat dengan (a)
perubahan resmi; (b) penafsiran hakim; (c) kebiasaan ketatanegaraan.
Untuk mengetahui cara mengubah UUD1945. anda buka pasal 37
UUD 1945 yang menegaskan bahwa untuk mengubah UUD sekurang-
kurangnya 2/3 dari pada jumlah anggota MPR harus hadir (ayat 1); dan pada
ayat 2 disebutkan bahwa putusan diambil dengan persetujuan sekurang-
kurangnya 2/3 darripada jumlah anggota yang hadir. Berdasarkan pasal 37
tersebut maka terdapat 2 syarat yang harus dipenuhi untuk mengubah UUD
1945 yaitu pertama, syarat kehadiran atau Quorum, yitu sekurang-kurangnya
2/3 dari seluruh anggota MPR harus hadir. Syarat kedua adalah syarat sah nya
keputusan yaitu sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota MPR yang hadir
harus hadir menyetujui.
Jika dihubungkan dengan pendapat ISMAIL SUNY dan C.F.STRONG,
cara yang ditempuh untuk mengubah UUD 1945, yaitu dengan cara perubahan
resmi (diatur dalam pasal 37) melalui kekuasaan legislatif (dalam hal ini rakyat
indonesia). Jadi, yang berwenang mengubah UUD 1945 yaitu MPR yang juga
sebagai lembaga yang menetapkan UUD. Artinya penetapan dan pengubahan
UUD 1945 dilakukan oleh suatu lembaga yang sama.
Pertanyaan berikut yang perlu dijawab adalah bagian mana yang boleh
diubah? Seperti telah anda pahami bahwa UUD 1945 terdiri dari pembukaan,
batang tubuh dan penjelasannya merupakan satu rangkaian kesatuan yang
tidak terpisahkan dalam ketetapan MPRS No.XX/MPRS/1966 (sekarang sudah
diganti) ditegaskan bahwa pembukaan UUD 1945 sebagai pernyataan
kemerdekaan yang terperinci yang mengandung cita-cita luhur proklamasi 17
Agustus 1945 dan yang memuat Pancasila sebagai dasar negara tidak dapat
diubah oleh siapapun termasuk MPR hasil pemilihan umum karena mengubah
pembukaan berarti pembubaran negara (negara proklamasi 17 Agustus 1945).
Hal ini berarti yang dapat diubah oleh MPR bagian batang tubuh dan
penjelasan UUD 1945.
Sebagaimana telah diungkapkan dimuka bahwa UUD 1945 telah
mengalami dua kali perubahan, yaitu tahun 1999 dan tahun 2000. perubahan
(amandemen) pertama terhadap UUD 1945 meliputi pasal 5 ayat 1, pasal 7,
pasal 9, pasal 13 ayat2 ditambah ayat3, pasal 14, pasal 15, pasal 17 ayat 2 dan
hal yang penting yang menunjukkan disatu pihak mengurangi dominasi
keekuasaan presideen dan dilain pihak menambah kekuasaan DPR seebagai
lembaga legislatif yang mewakili rakyat. Hal-hak tersebut diantaranya adalah :
a. Pemegang kekuasaan membentuk Undang-Undang yang semula dipegang
oleh presiden (pasal 5 ayat 1), beralih ketangan DPR (amandemen pasal 20
ayat1)
b. Periode masa jabatan presiden dan wakil presiden dalam jabatan yang
sama yang semula tidak dibatasi, berubah (dibatasi) menjadi maksimal dua
kali masa jabatan (amandemen pasal 7)
c. Dalam hal presiden mengangkat dan menerima duta, yang semula tidak ada
ketentuan untuk melibatkan DPR, berubah bahwa dalam mengangkat duta,
presiden harus memperhatikan pertimbangan DPR (amandemen pasal 13
ayat 2 dan 3)
d. Dalam hal presiden memberi amenestti dan rehabilitasi, presiden harus
memperhatikan pertimbangan DPR (pasal 14 ayat 2)
Masalah apa yang diubah pada amandemen kedua UUD1945? Pada
tanggal 18 Agustus tahun 2000 MPR menetapkan perubahan kedua UUDD
1945 dengan mengubah/menambah: pasal 18, pasal 18A, pasal 18B, pasal 19,
pasal 20 ayat 5, pasal 20A, pasal 22A, pasal 22B, Bab IXA, pasal 25 E, Bab X,
pasal 26 ayat 2 dan 3, pasal 27 ayat 3, Bab XA, pasal 28A-28J, Bab XII, pasal
30, Bab XV, pasal 36A-36C. Hal-hal yang diubah itu menyangkut, antara lain:
1. pengaturan tentang pemerintahan daerah dalam rangka melaksanakan
otonomi daerah yang luas, nyata, dan bertanggung jawab (mengubah pasal
18 dan menambah pasal 18A dan 18B)
2. penegasan tentang pengisian keanggotaan DPR, yaituu melalui pemilihan
umum (amandemen pasal 19)
3. penegasan tentang fungsi DPR dan hak-hak DPR (pasal 20A ayat 1-4);
4. pengaturan secara tegas tentang hak asasi manusia (amandemen pasal
28A-28J)
5. penegasan tentang pertahanan dan keamanan negara (amandemen pasal
30 ayat 1-5);
6. penegasan tentang lambang negara (pasal 36A) dan lagu kebangsaan
(pasal 36B).

8.4 Otonomi Daerah


a. Pengertian Otonomi Daerah
Otonomi Daerah adalah kemandirian suatu daerah dalam kaitan
pembuatan dan pengambilan keputusan mengenai kepentingan daerahnya
sendiri. Lalu, desentralisasi yaitu pelimpahan kewenangan dan tanggung jawab
dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.

b. Visi Otonomi Daerah


a) Politik
Harus dipahami sebagai sebuah proses untuk membuka ruang bagi
lahirnya kepala pemerintahan daerah yang dipilih secara demokratis,
memungkinkan berlangsungnya penyelenggaraan pemerintahan yang
responsif.
b) Ekonomi
Terbukanya peluang bagi pemerintah daerah mengembangkan kebijakan
regional dan lokal untuk mengoptimalkan pendayagunaan potensi
ekonomi didaerahnya
c) Sosial
Menciptakan kemampuan masyarakat untuk merespon dinamika
kehidupan disekitarnya.
c. Konsep Dasar Otonomi Daerah:
1) Penyerahan sebanyak mungkin kewenangan pemerintahan dalam
hubungan domestik kepada daerah.
2) Penguatan peran DPRD sebagai representasi rakyat lokal dalam
pemilihan dan penetapan kepala daerah
3) Pembangunan tradisi politik yang lebih sesuai dengan kultur berkualitas
tinggi tingkat akseptabilitas yang tinggi pula
4) Peningkatan efektifitas fungsi-fungsi pelayanan eksekutif
5) Peningkatan efesiensi administrasi keuangan daerah
6) Pengaturan pembagian sumber-sumber pendapatan daerah, pemberian
keleluasaan kepada daerah dan optimalisasi upaya pemberdayaan
masyarakat.

d. Model Desentralisasi
1) Dekonsentralisasi
Merupakan pembagian kewenangan dan tanggung jawab administratif
antara departemen pusat dengan pejabat pusat di lapangan tanpa adanya
penyerahan kewenangan untuk mengambil keputusan atau keleluasaan
untuk membuat keputusan.
2) Delegasi
Pelimpahan pengambilan keputusan dan kewenangan manajerial untuk
melakukan tugas-tugas khusus kepada suatu organisasi yang tidak secara
langsung berada dibawah pengawasan pemerintah pusat.
3) Devolusi
Transfer kewenangan untuk pengambilan keputusan, keuangan dan
manajemen kepada unit otonomi pemerintah daerah.
4) Privatisasi
Tindakan pemberian kewenangan dari pemerintah kepada badan-badan
sukarela, swasta, dan swadaya masyarakat.

8.5 Kesadaran hukum WNI


BAB IX
GEOPOLITIK (WAWASAN NUSANTARA)

9.1 Pengertian Wawasan Nusantara


Pengertian Wawasan Nusantara dapat diartikan secara etimologis dan
terminologis.
1. Secara Etimologis
Wawasan Nusantara berasal dari kata wawasan dan nusantara. Wawasan
berasal dari kata wawas (bahasa Jawa) yang berarti pandangan, tinjauan
atau penglihatan indrawi. Selanjutnya muncul kata mawas yang berarti
memandang, meninjau atau melihat. Wawasan artinya pandangan, tinjauan,
penglihatan tanggap indrawi. Wawasan berarti pula cara pandang dan cara
melihat.
2. Secara Termilogis.
Wawasan Nusantara menurut beberapa pendapat sebagai berikut:
a. Prof. Wan Usman
Wawasan Nusantara adalah cara pandang bangsa Indonesia mengenai
diri dan tanah airnya sebagai negara kepulauan dengan semua aspek
kehidupan yang beragam.
b. GBHN Tahun 1998
Wawasan Nusantara adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia
mengenal diri dan lingkungannya dengan mengutamakan persatuan dan
kesatuan bangsa serta kesatuan wilayahnya dalam penyelenggaraan
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Selain itu, hakikat Wawasan Nusantara adalah keutuhan bangsa dan
kesatuan wilayah nasional. Dengan kata lain, hakikat Wawasan Nusantara
adalah persatuan bangsa dan kesatuan wilayah. Bangsa Indonesia yang dari
aspek sosial budaya adalah beragam serta dari segi kewilayahan bercorak
nusantara, kita pandang merupakan satu kesatuan yang utuh. Dalam GBHN
disebutkan bahwa hakikat Wawasan Nusantara diwujudkan dengan
menyatakan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan sosial budaya dan
kesatuan pertahanan dan keamanan.
Wawasan Nusantara berkedudukan sebagai visi bangsa. Visi adalah
keadaan atau rumusan umum mengenai keadaan tertentu yang diinginkan.
Wawasan Nasional merupakan visi bangsa yang bersangkutan dalam menuju
konsep masa depan. Visi bangsa Indonesia sesuai dengan konsep Wawasan
Nusantara adalah menjadi bangsa yang satu dengan wilayah yang satu dan
utuh pula kedudukan Wawasan Nusantara sebagai salah satu konsep
ketatanegaraan RI dapat dilihat pada bagan berikut:

9.2 Latar Belakang Terbentunya Wawasan Nasional Bangsa


A. Segi Historis atau Sejarah
Dari segi historis, bangsa Indonesia menginginkan menjadi bangsa
yang bersatu dengan wilayah yang satu adalah karena dua hal, yaitu (1) kita
pernah mengalami kehidupan sebagai bangsa yang terjajah dan terpecah; dan
(2) kita pernah mengalami memiliki wilayah yang terpisah-pisah
Bangsa Indonesia pernah dijajah oleh bangsa barat yaitu Spanyol,
Portugis, Inggris dan Belanda. Selanjutnya, dalam kurun waktu terakhir
menjelang kemerdekaan, bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa Jepang.
Perkembangan semangat kebangsaan Indonesia dapat dikategorikan dalam
kurun waktu sebagai berikut:
1) Zaman Perintis 1908 yaitu kemunculan Pergerakan Nasional Budi Oetomo
2) Zaman Penegas yaitu dengan Ikrar Sumpah Pemuda
3) Zaman Pendobrak 1945 yaitu dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Keluarnya deklarasi Juanda 1957 telah melahirkan konsep Wawasan
Nusantara, dimana laut tidak lagi sebagai pemisah tetap dipakai sebagai
penghubung.

B. Segi Geografis dan Sosial Budaya


Dari segi geografis dan sosial budaya, Indonesia merupakan negara
dan bangsa dengan wilayah dan posisi yang unik serta bangsa yang heterogen,
keunikan wilayah dan heterogenitas bangsa Indonesia antara lain:
a) Indonesia bercirikan negara maritime/kepulauan;
b) Luas wilayah Indonesia 5,192 juta KM dengan rincian luas daratan adalah
2,027 juta KM dan luas laut adalah 3,166 juta KM;
c) Jarak utara selatan 1.888 KM dan jarak timur barat 5.110 KM;
d) Indonesia terletak diantara dua benua dan dua samudra (pos silang);
e) Indonesia terletak pada garis Khatulistiwa;
f) Indonesia berada pada iklim tropis dengan dua musim;
g) Indonesia menjadi pertemuan dua jalur pegunungan yaitu Mediterania dan
Sirkum Pasifik;
h) Berada pada 6 derajat LU-11 derajat LS serta 95 derajat BT-141 derajat BT;
i) Wilayah yang subur dan dapat huni;
j) Kaya akan flora dan fauna serta sumber daya alam;
k) Memiliki etnik dan kebudayaan yang sangat banyak; dan
l) Memiliki jumlah penduduk yang besar dengan jumlah diatas 220 juta.

C. Segi Geopolitis dan Kepentingan Nasional


Geopolitik adalah istilah pertama kali ditemukan oleh Freedich Ratzel
sebagai Ilmu Bumi Politik. Sebagai ilmu, geopolitik mempelajari fenomena
politik dari aspek geografi. Sementra untuk Indonesia orang yang pertama kali
mengaitkan geopolitk dengan bangsa Indonesia adalah Ir. Soekarno.
Berdasarkan geopolitik wilayah Indinesia adalah satu kesatuan wilayah dari
Sabang sampai Merauke yang terletak antara dua benua dan dua samudra.
Konsepsi Wawasan Nusantara dibangun atas geopolitik bangsa
Indonesia. Bangsa Indonesia memiliki pandangan sendiri mengenia wilayah
yang dikaitkan dengan politik/kekuasaan. Wawasan Nusantara sebagai
wawasan nasional dibentuk dan dijiwai oleh paham kekuasaan dan geopolitik
bangsa Indonesia (Sobana, 2005). Salah satu kepentingan nasional Indonesia
adalah bagaimana menjadikan bangsa dan wilayah ini senantiasa satu dan
utuh. Kepentingan nasional itu merupakan tuntutan lanjut dari cita-cita nasional,
tujuan dan visi nasional.

9.3 Konsepsi Wanus


Kata wawasan mengandung arti pandangan, tinjauan, penglihatan, atau
tanggap indrawi, sedangkan istilah nusantara dipergunakan untuk
mengggambarkan kesatuan wilayah perairan dan gugusan pulau-pulau
Indonesia yang terletak diantara Samudera Pasifik dan Samudera Indonesia
serta diantara Benua Asia dan Benua Australia. Untuk membina dan
menyelenggarakan kehidupan nasional, bangsa Indonesia merumuskan suatu
landasan visional yang dapat membangkitkan kesadaran untuk menjamin
persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan yang menjadi cara pandang
bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya. Landasan visional ini dikenal
dengan istilah Wawasan Kebangsaan atau Wawasan Nasional yang kemudian
diberi nama Wawasan Nusantara.
Wawasan Nusantara sebagai geopolitik Indonesia yang diberi
pengertian cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan
lingkungannya yang serba beragam dan bernilai strategis dengan
mengutamakan persatuan dan kesatuan wilayah dan tetap menghargai serta
menghormati kebhinekaan dalam setiap aspek kehidupan nasional untuk
mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia. Berarti jelaslah bahwa Wawasan
Nusantara sebagai geopolitik dan landasan visional bangsa Indonesia pada
hakikatnya merupakan perwujudan ideologi Pancasila. Wawasan Nusantara
mengarahkan visi bangsa Indonesia untuk mewujudkan kesatuan dan
keserasian dalam berbagai bidang kehidupan nasional.
Konsepsi Wawasan Nusantara dituangkan dalam peraturan perundang-
undangan, yaitu dalam ketetapan MPR mengenai GBHN secara berturut-turut
ketentuan tersebut adalah:
(1) TAP MPR No. IV/MPR/1973;
(2) TAP MPR No. IV/MPR/1978;
(3) TAP MPR No. II/MPR/1983;
(4) TAP MPR No. II/MPR/1988;
(5) TAP MPR No. II/MPR/1993; serta
(6) TAP MPR No II/MPR/1998.

9.4 Perwujudan Wawasan Nusantara


Perwujudan Wawasan Nusantara sebagai satu kesatuan politik,
ekonomi, sosial dan budaya serta pertahanan dan keamanan tercantum dalam
GBHN, sebagai berikut:
a. Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai satu Kesatuan Politik
Meliputi :
(1) Kewilayahan nasional;
(2) Persatuan dan kesatuan bangsa dalam mencapai cita-cita nasional;
(3) Kesatuan falsafah dan ideologi negara; dan
(4) Kesatuan hukum yang mengabdi kepada kepentingan nasional.
b. Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai satu Kesatuan Ekonomi
Meliputi :
(1) Kepemilikan bersama kekayaan efektif maupun potensi wilayah
nusantara;
(2) Pemerataan hasil pemamfaatan kekayaan wilayah nusantara;
(3) Keserasian dan keseimbangan tingkat pengembangan ekonomi seluruh
daerah.
c. Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai satu Kesatuan Sosial-Budaya
Meliputi:
(1) Pemerataan, kesembangan dan persamaan dalam kemajuan
masyarakat serta adanya;
(2) keselarasan kehidupan yang sesama dengan kemajuan bangsa; dan
(3) Mempersatukan corak ragam budaya yang ada sebagai kekayaan
nasional budaya bangsa.
d. Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai satu Kesatuan Pertahanan dan
Keamanan
Meliputi:
(1) Persamaan hak dan kewajiban bagi setiap warga negara dalam rangka
membela negara dan bangsa; dan
(2) Ancaman terhadap satu pulau atau daerah dianggap sebagai ancaman
terhadap seluruh bangsa dan negara.

9.5 Unsur Dasar Wawasan Nusantara


Konsepsi Wawasan Nusantara terdiri dari tiga unsur dasar yaitu:
a. Wadah (contour) adalah wadah kehidupan masyarakat, bangsa dan negara
yang meliputi seluruh wilayah Indonesia yang memiliki sifat serba nusantara
dengan kekayaan alam dan penduduk serta ragam busaya.
b. Isi (content) adalah aspirasi yang berkembang di masyarakat dan cita-cita
serta tujuan nasional yang terdapat dalam Pembukaan UUD.
c. Tata Laku (conduct) adalah hasil interaksi antara wadah dan isi yang terdiri
dari tata laku bathiniah dan lahiriah. Tata laku bathiniah mencerminkan jiwa,
semangat dan mentalitas yang baik dari bangsa Indonesia. Sedangkan, tata
laku lahiriah tercermin dalam tindakan perbuatan dan perilaku dari bangsa
Indonesia, yang kedua tersebut akan mencerminkan identitas jati diri atau
kepribadian bangsa Indonesia berdasarkan kekeluargaan dan kebersamaan.
BAB X
GEOSTRATEGI (KETAHANAN NASIONAL)

10.1 Pengertian Ketahanan Nasional


Terdapat tiga perspektif atau sudut pandang terhadap konsep
ketahanan nasional, sebagai berikut:
(1) Ketahanan Nasional sebagai kondisi.
Perspektif ini melihat ketahanan nasional sebagai suatu penggambaran
atas keadaan yang seharusnya dipenuhi.
(2) Ketahanan Nasional sebagai sebuah pendekatan, metode atau cara dalam
menjalankan suatu kegiatan khususnya pembangunan negara.
Sebagai suatu pendekatan, Ketahanan Nasional menggambarkan
pendekatan yang integral. Integral dalam artian pendekatan yang
mencerminkan antara segala aspek/isi, baik pada saat membangun
pemecahan masalah kehidupan.
(3) Ketahanan Nasional sebagai doktrin.
Ketahanan Nasional merupakan salah satu konsepsi khas Indonesia yang
berupa ajaran konseptual tentang pengaturan dalam penyelenggaraan
bernegara.
Berdasarkan ketiga pengertian ini, kita mengenal tiga wujud atau wajah
dari Ketahanan nasional (Chaidir Basrie, 2002) sebagai berikut:
a. Ketahanan Nasional sebagai kondisi.
b. Ketahanan Nasional sebagai metode.
c. Ketahanan Nasional sebagai doktrin.

10.2 Latar Belakang dan Proses Kajian Tannas


A. Sejarah Lahirnya Ketahanan Nasional
Konsepsi Ketahanan Nasional memiliki latar belakang sejarah
kelahirannya di Indonesia. Gagasan tentang ketahanan nasional bermula pada
awal tahun 1960-an pada kalangan militer angkatan darat dari SSKAD
sekarang SESKOAD (Sunardi, 1997). Masa itu addalah sedang meluasnya
pengaruh komunisme seperti Laos, Vietnam dan sebagainya yang meluas
sampai ke Indonesia?
Dalam pemikiran Lembanas tahun 1968 tersebut telah ada kemajuan
konsep tual berupa ditemukannya unsur-unsur dari tata kehidupan asional yang
berupa ideologi politik, dari tinggalnya konsep kekuatan, meskipun dalam
ketahanan nasional sendiri terdapat konsep kekuatan. Secara skematis,
rumusan konseptual ketahanan nasional dapat digambarkan sebagai berikut:
Dari sejarah tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep ketahanan
nasional Indonesia berawal dari konsepsi kekuatan nasional yang
dikembangkan oleh kalangan militer, pemikiran konseptual ketahanan nasional
ini mulai menjadi doktrin dasar nasional setelah dimasukkan dalam GBHN.

B. Ketahanan Nasional dalam GBHN


Konsepsi ketahanan nasional untuk pertama kalinya dimasukkan ke
dalam GBHN 1973 yaitu ketetapan MPR No. IV/MPR/1973. Rumusan
ketahanan nasional dalam GBHN 1998 sebagai berikut:
a. Untuk tetap memungkinkan berjalannya pembangunan nasional yang selalu
harus menuju ke tujuan yang ingin dicapai dan agar dapat secara efektif
diletakkan dari hambatan, tantangan, ancaman dan gangguan yang timbul
dari dalam maupun dari luar.
b. Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis yang merupakan integrasi dari
kondisi tiap aspek kehidupan bangsa dan negara.
c. Ketahanan nasional meliputi ketahanan ideologi, politik, ekonomi, sosial,
dan budaya serta pertahanan dan keamanan.
d. Ketahanan ideologi adalah kondisi mental bangsa Indonesia yang
berlandaskan keyakinan dan kebenaran ideologi pancasila yang
mengandung kemampuan untuk menggalang dan memelihara persatuan
dan kesatuan nasiona, kemampuan menangkal penetrasi ideologi asing
serta nilai-nilai yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.
e. Ketahanan politik adalah kondisi kehidupan politik bangsa Indonesia yang
berlandaskan demokrasi politik berdasarkan pancasila dan UUD1945 yang
mengandung kemampuan memelihara sistem politik yang sehat ddan
dinamis serta kemampuan menerapkan politik luar negeri yang bebas aktif.
f. Ketahanan ekonomi adalah kondisi kehidupan perekonomian bangsa yang
berlandaskan demokrasi ekonomi pancasila yang mengandung
kemampuan memelihara stabilitas ekonomi yang sehat dan dinamis serta
kamampuan menciptakan kemandirian ekonomi nasional dengan daya
saing tinggi dan mewujudkan kemakmuran rakyatyang adil dan merata.
g. Ketahanan sosial dan budaya adalah kondisi kehidupan sosial budaya yang
dijiwai kepribadian nasional berdasarkan pancasila yang mengandung
kemampuan membentuk dan mengembangkan kehidupan sosial da budaya
manusia dan masyarakat Indoesia yang beriman dan bertaqwa terhadap
TYME, rukun, bersatu, cinta tanah air, berkualitas, maju, dan sejahtera
dalam kehidupan yang serba selaras, serasi, seimbang serta kemampuan
menangkal penetrasi budaya asing yang tidak sesuai dengan kebudayaan
nasional.
h. Ketahanan pertahanan dan keamanan adalah kondisi daya tangkat bangsa
yang dilandasi kesadaran bela negara seluruh rakyat yang mengandung
kemampuan memelihara stabilitas pertahanan dan keamanan negara yang
dinamis. Mengamankan pembangunan dan hasil-hasilnya serta
kemampuan mempertahankan kedaulatan negara dan menangkal segala
bentuk ancaman.
10.3 Konsepsi Tannas
1. Konsep Hans J. Morgenthau
Morgenthau mengemukakan bahwa untuk membangun Ketahanan
Nasional suatu bangsa diperlukan sembilan gatra, yaitu:
(1) Stabilitas geografi;
(2) Kekuatan sumber daya alam;
(3) Kapasitas industri;
(4) Kesiapan militer;
(5) Kemampuan penduduk;
(6) Karakter bangsa yang berkualitas;
(7) Moril nasional yang kuat;
(8) Kualitas diplomasi; dan
(9) Kualitas pemerintahan.
2. Konsep Alfred Thayer Mahan
Mahan berpendapat bahwa Ketahanan Nasional suatu bangsa dapat
dibangun atas dasar pemenuhan enam gatra, yakni:
(1) Letak geografi;
(2) Bentuk wujud bumi;
(3) Luas wilayah;
(4) Jumlah penduduk;
(5) Watak nasional/bangsa; dan
(6) Sifat pemerintahan.
Berdasarkan konsep itu, Mahan juga menyatakan bahwa Ketahanan
Nasional tidak hanya bergantung pada luas wilayah daratan tetapi juga
bergantung pada faktor luas akses ke laut dan bentuk pantai dari wilayah
negara. Sehingga demikian ketahanan laut suatu negara dapat diciptakan atas
empat faktor, yaitu:
a. Situasi geografi;
b. Kekayaan alam;
c. Konfigurasi wilayah negara; dan
d. Jumlah penduduk.

3. Konsep Ray Cline


Cline menyatakan bahwa suatu negara dilihat atas dasar persepsi
negara lain termasuk didalamnya persepsi atas sistem penangkalannya.
Apabila suatu negara memiliki potensi geografi besar dan sumber kekayaan
alam yang besar pula, maka negara tersebut akan muncul sebagai negara yang
memiliki kekuatan besar. Sebaliknya, suatu negara kecil bagaimanapun
majunya tidak akan dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai negara besar.
Cline menyusun enam gatra yang diperlukan untuk membangun
Ketahanan Nasional suatu bangsa, yakni:
(1) Perceived power atau kekuatan nasional dipersepsikan negara lain;
(2) Critical mass atau strategi antara potensi penduduk dengan geografi;
(3) Kemampuan militer;
(4) Kemampuan ekonomi;
(5) Strategi nasional; dan
(6) Tekad rakyat untuk mewujudkan strategi nasional.

4. Konsep Ketahanan Nasional Republik Indonesia


Konsep Ketahanan Nasional Indonesia dikembangkan oleh Lemhannas
dan berisi daya keuletan (tenacity) dan daya tahan alam (resistence/resilience).
Konsep Ketahanan Nasional Indonesia melibatkan delapan gatra yang
dikelompokkan ke dalam trigatra dan pancagatra. Oleh sebab itu, konsep
Ketahanan Nasional Indonesia disebut sebagai konsep Astagatra.
Trigatra berisi aspek alamiah, meliputi :
(1) Letak geografi negara (Geografi);
(2) Keadaan dan kekayaan alam (Sumber Daya Alam);
(3) Keadaan dan kemampuan penduduk (Demografi).
Pancagatra berisi aspek sosial, meliputi :
(1) Ideologi;
(2) Politik;
(3) Ekonomi;
(4) Sosial-Budaya; dan
(5) Pertahanan dan Keamanan.

10.4 Hakikat dan Wujud Tannas


10.5 Pembelaan Negara dan Sistem Pertahanan dan Keamanan Negara
A. Pembelaan Negara
Terdapat hubungan antara Ketahanaa Nasional suatu negara dengan
pembelaan negara. Kegiatan pembelaan negara pada dasarnya merupakan
usaha dari warga negara untuk mewujudkan Ketahanan Nasional. Bela negara
biasanya selalu dikaitkan dengan militer, seolah-olah kewajiban dan tanggung
jawab untuk membela negara hanya terletak pada TNI. Padahal berdasarkan
Pasal 27 dan 30 UUD 1945, masalah bela negara dan pertahanan negara
merupakan hak dan kewajiban setiap WNI. Bela negara adalah upaya setiap
warga negara untuk mempertahankan Republik Indonesia terhadap ancaman,
baik dari luar maupun dalam negeri. Di masa demokrasi dan keterbukaan
sekarang ini, tentu muncul pertanyaan apakah bela negara masih relevan?
1. Makna Bela Negara
Membela negara merupakan kewajiban sebagai warga
negara.membela negara Indonesia adalah hak dan kewajiban setiap warga
negara Indonesia. Membela negara Indonesia adalah hak dan kewajiban dari
setiap WNI. Hal ini tercantum dalam Pasal 27 Ayat 3 UUD 1945 Amandemen
ke-2. Selain itu, dalam UU No.3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
Konsep Bela Negara dapat diuraikan secara fisik maupun non fisik.
Secara fisik, yaitu dengan memanggul bedil menghadapi serangan atau agresi
musuh. Bela negara secara fisik dilakukan untuk menghadapi ancaman dari
luar. Adapun bela negara secara non fisik dapat didefinisikan sebagai segala
upaya untuk mempertahankan NKRI dengan cara meningkatkan kesadaran
berbangsa dan bernegara, menanamkan kecintaan terhadap tanah air serta
berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara.
2. Peraturan Perundang-Undangan tentang Bela Negara
Ketentuan atau landasan hukum mengenai Bela Negara terdapat dalam
bagian pasal atau tubuh UUD 1945 berikut ini.
a. Pasal 27 ayat 3 dan Pasal 30 ayat 1-5;
b. UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI;
c. UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara; dan
d. UU No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia.
3. Keikutsertaan Warga Negara dalam Bela Negara
1) Bela negara secara fisik
Menurut UU No.32 Tahun 2006 tentang pertahanan negara disebutkan
bahwa keikutsertaan warga negara daam bela negara secara fisik dapat
dilakukan dengan menjadi anggota TNI dan pelatihan dasar militer, PDK ini
terdiri dari berbagai unsur, seperti Menwa, Wanra, Hansip, Mitra Babinsa dan
organisasi kemasyarakat pemuda atau OKP.
2) Bela Negara secara non-fisik
Menurut UU No.3 Tahun 2002, disebutkan bahwa keikutsertaan warga
negara dalam bela negara secara non-fisik dapat diselenggarakan melalui
pendidikan kewarganegaraan dan pengabdian sesuai dengan profesi. Acaman
dapat dikonsepsikan sebagai setiap usaha dan kegiatan, baik dari dalam negeri
maupun luar negeri yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan
wilayah negara dan keselamatan segenap bangsa. Ancaman inilah yang perlu
kita atasi melalui keikutsertaan warga negara dalam upaya bela negara.
Menurut UU No.20 Tahun 1982, ancaman mencangkup ancaman,
tantangan, hambatan dan gangguan. Sementara menurut UU No. 3 Tahun
2002 digunakan satu istilah yakni ancaman. Adapun bentuk-bentuk dari
ancaman militer mencangkup:
a) Agresi;
b) Pelanggaran Wilayah;
c) Spionase;
d) Sabotase;
e) Aksi Teror Bersenjata;
f) Pemberontakan Negara; dan
g) Perang Saudara.
Selain yang telah disebutkan di atas, macam-macam ancaman yang di
hadapi bangsa indonesia di masa depan antara teroris internasional, gerakan
separatis, aksi radikalisme, konflik komunal, kejahatan lintas negara, kegiatan
imigrasi gelap, gangguan keamanan laut, gangguan keamanan udara,
perusakan lingkungan, bencana alam dan dampaknya terhadap keselamatan
bangsa.
B. Sistem Pertahanan dan Keamanan Negara
Pertahanan dan keamanan adalah bidang kehidupan nasional
Indonesia yang diupayakan untuk melindungi kepentingan bangsa dan negara
demi tetap terwujudnya kondisi kelangsungan hidup dan perkembangan
kehidupan bangsa dan negara serta terpenuhinya hak dan kewajiban warga
negara dalam rangka pencapaian tujuan nasional. Pertahanan dan keamanan
NKRI dilaksanakan dengan menyusun, mengerahkan, dan menggerakkan
seluruh potensi dan kekuatan nasional secara terintegrasi dan terkoordinasi
dengan TNI dan Polri sebagai kekuatan inti.
Pertahanan dan keamanan negara bertujuan untuk menjamin tetap
tegaknya NKRI berandaskan Pancasila dan UUD 1945 terhadap segala
ancaman dari dalam maupun luar negeri demi tercapainya tujuan nasional. TNI
merupakan komponen inti yang bertanggung jawab di bidang pertahanan untuk
menghadapi ancaman dari luar negeri. Polri merupakan komponen inti yang
bertangggung jawab di bdang keamanan dan ketertiban masyarakat untuk
menghadapi ancaman dari dalam negeri. TNI dapat dilibatkan untuk ikut
menangani masalah keamanan apabila diminta oleh Polri atau Polri sudah tidak
mampu lagi karena eskalasi ancaman yang meningkat ke keadaan darurat.
Menyadari bentuk ancaman, baik dari luar maupun dalam negeri.
Konsep politik atau doktrin pertahanan dan keamanan NKRI defensif aktif di
bidang pertahanan dan preventif aktif di bidang keamanan. Defensif aktif dalam
arti bahwa walaupun melakukan pertahanan.
Berdasarkan doktrin pertahanan dan keamanan di atas, konsep
keamanan NKRI ditujukan untuk menggagalkan usaha-usaha dan kegiatan-
kegiatan infiltrasi dan subversi di bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial-
budaya, dan militer di dalam negeri. Pertahanan dan keamanan NKRI
diselenggarakan dengan Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta
(SISHANKAMRATA), yaitu suatu sistem pertahanan dan keamanan dengan
komponen-komponen yang terdiri atas seluruh potensi, kemampuan, dan
kekuatan nasional yang bekerja secara total, integral, serta berlanjut dalam
rangka mencapai Ketahanan Nasional.
Sistem tersebut bersifat total, kerakyatan, dan kewilayahan dengan
menggunakan dua cara pendekatan, yaitu pendekatan sistem senjata teknologi
(sistek) dan sistem senjata sosial (sissos) secara serasi. Sistek adalah suatun
keseluruhan yang teratur, berdaya dan berhasil guna, serta bersangkut paut
dari pengintegrasian semua unsur kekuatan fisik dan teknologi diwujudkan
dalam suatu pola yang merupakan kondisi serta alat untuk memenangkan
perang. Senjata diartikan sebagai sarana untuk melaksanakan sesuatu.
Kekuatan fisik dan teknologi diartikan sebagai kekuatan fisik manusia dan
perlengkapan teknologi termasuk keterampilan yang diperlukan untuk
memelihara atau membuat alat-alat perlengkapan tersebut.
Sissos adalah suatu keseluruhan yang teratur, berdaya dan berhasil
guna, serta saling bersangkut paut dari pengintegrasian semua unsur kekuatan
sosial berupa potensi ipoleksosbudhankam, diwujudkan dalam suatu pola yang
merupakan kondisi serta alat untuk mencapai tujuan. Pendayagunaan potensi
nasional dalam pertahanan dan keamanan negara dilakukan secara optimal
dan terkoordinasi untuk mewudjudkan kekuatan dan kemampuan pertahanan
dan keamanan negara yang menyeimbangkan dan menyelaraskan kepentingan
kesejahteraan dan keamanan. Sishankamrata diorganisasikan dalam satu
wadah tunggal, yaitu TNI dan Polri. Wadah ini dibangun dalam jati diri sebagai
tentara rakyat, tentara pejuang, dan tentara nasional yang mengabdi hanya
untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia.
BAB XI
POLSTRANAS (POLITIK STRATEGI NASIONAL)

11.1 Pengertian Politik Strategi Nasional


Kata politik secara etimologis berasal dari bahasa Yunani politeia dari
kata asal polis berarti kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri yaitu negara
dan teia berarti urusan. Sementara dalam bahasa Indonesia, politik dalam arti
poliitic mempunyai makna kepentingan umum warga negara suatu bangsa.
Politik merupakan suatu rangkaian asas, prinsip, keadaan, jalan, cara dan alat
yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu yang dikehendaki. Antara
politics dan policy memberikan asas, jalan, arah, dan medannya, sedangkan
policy memberikan pertimbangan tanpa pelaksanaan asas, jalan, cara, dan
arah itu sebaik-baiknya. Jadi, pengertian politik secara umum adalah
menyangkut proses penentuan tujuan negara dan cara melaksanakannya.
Pelaksanaan tujuan tersebut memerlukan kebijakan-kebijakan umum yang
menyangkut pengaturan, pembagian, atau alokasi sumber-sumber yang ada.
Sementara pengertian strategi berasal dari bahasa Yunani strategia
yang diartikan sebagai the art of the general atau seni seorang panglima yang
biasanya digunakan dalam peperangan. Dalam abad modern sekarang ini
penggunaan kata strategi tidak lagi terbatas pada konsep atau atau seorang
panglima atau militer dalam peperangan, tetapi sudah digunakan secara luas
termasuk dalam bidang ekonomi maupun olahraga. Kemudian, menurut Karl
von Clausewitz (1780-1831) berpendapat bahwa strategi adalah pengetahuan
tentang penggunaan pertempuran untuk memenangkan peperangan,
sedangkan perang itu sendiri merupakan kelanjutan dari politik.
Selanjutnya, politik nasional diartikan sebagai kebijakan umum dan
pengambilan kebijakan untuk mencapai suatu cita-cita dan tujuan nasional.
Dengan demikian definisi politik nasional adalah asas, haluan, usaha, serta
kebijakan negara tentang pembinaan dan penggunaan kekuatan nasional untuk
mencapai tujuan nasional. Jadi, strategi nasional adalah cara melaksanakan
politik nasional dalam mencapai sasaran dan tujuan yang ditetapkan oleh politik
nasional.
11.2 Sistem Politik Indonesia
11.3 Konsep Strategi Nasional dan Implementasi
Penyusunan politik strategi nasional perlu memahami pokok-pokok
pikiran yang terkandung terkadung dalam sistem manajemen nasional yang
berlandaskan ideologi Pancasila, UUD 1945, Wawasan Nusantara dan
Ketahanan Nasional. Landasan pemikiran dalam sistem manajemen nasional
ini sangat penting sebagai kerangka acuan dalam penyusunan politik dan
strategi nasional. Oleh karena itu, cita-cita nasional dan konsep strategis
bangsa Indonesia.
Politik strategi nasional yang telah berlangsung selama ini disusun
berdasarkan sistem kenegaraan menurut UUD 1945. Sejak tahun 1985 telah
berkembang pendapat yang mengatakan bahwa jajaran pemerintah dan
lembaga-lembaga yang tersebut dalam UUD 1945 merupakan suprastruktur
politik. Lembaga-lembaga itu adalah MPR, DPR, Presiden, BPK, dan MA.
Sementara badan-badan yang ada dalam masyarakat disebut sebagai
infrastruktur politik yang mencakup pranata politik yang ada dalam masyarakat,
seperti partai politik, organisasi kemasyarakatan, media massa, kelompok
kepentingan dan kelompok penekan.
Mekanisme penyusunan polstranas di tingkat suprastruktur politik yang
diatur oleh Presiden. Selain itu, proses penyusunan polstranas di tingkat
suprastruktur politik dilakukan setelah Presiden menerima GBHN. Proses
polstranas pada infrastruktur politik merupakan sasaran yang akan dicapai oleh
rakyat Indonesia. Sesuai dengan kebijakan politik nasional, penyelenggaraan
negara harus mengambil langkah-langkah pembinaan terhadap semua lapisan
masyarakat dengan mencantumkan sasaran sektoralnya.

11.4 Wujud Politik dan Strategi Nasional Indonesia


DAFTAR PUSTAKA

Pasha, Mustafa Kamal. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education).


Yogyakarta : Cipta Karya Mandiri.

Penabur Ilmu. 2007. UUD Republik Indonesia 1945 dan Perubahannya, Edisi
Baru. Jakarta : Penabur Ilmu.

Siswanto, Joko. 2006. ABC Pancasila; Refleksi Komprehensif Hal Ikhwal


Pancasila. Yogyakarta : Badan Penerbit Filsafat UGM.

Sumarsono, dkk. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta : Gramedia


Pustaka Utama.

Supriatnoko. 2008. Pendidikan Kewarganegaraan, Cetakan Kedua. Jakarta :


Penaku.

Syam, Mohammad Noor. 2009. Sistem Filsafat Pancasila; Tegak Sebagai


Sistem Kenegaraan Pancasila dan UUD Proklamasi 1945 dalam
psp.ugm.ac.id/...pancasila/.../FILSAFAT_PANCASILA_2009_pak%20No
orsyam.doc). diakses tanggal 20 Juni 2010.

Tim Dosen UGM, ed. Kaelan. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan untuk


Perguruan Tinggi, Edisi Reformasi. Yogyakarta : Paradigma.

Tim ICCE UIN Jakarta. 2001. Pendidikan Kewargaan (Civic Education);


Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani. Jakarta : ICCE
UIN Jakarta.

Winarno, Dwi. 2008. Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan Panduan


Kuliah di Perguruan Tinggi. Jakarta : Bumi Aksara.

Wiyono, Hadi dan Iswooro. 2007. Kewarganegaraan untuk SMP Kelas IX.
Jakarta : Ganexa Exact.

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Otonomi Daerah.