Anda di halaman 1dari 122

BAHAN PERKULIAHAN MATA KULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN (MPK) PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKn)

Kata Pengantar Daftar Pustaka

Bab I Pendahuluan

1.1 Dasar Pemikiran MPK PKn

1.2 Landasan Yuridis MPK PKn

1.3 Visi dan misi MPK PKn

1.4 Kompetensi dasar MPK PKn

Bab II Pengantar Pendidikan Kewarganegaraan 2.1 2.2 2.3 2.4 Pengertian dan latar belakang PKn Sejarah
Bab II Pengantar Pendidikan Kewarganegaraan
2.1
2.2
2.3
2.4
Pengertian dan latar belakang PKn
Sejarah dan perkembangan PKn
Substansi kajian PKn
Metodologi dan tujuan pembelajaran PKn
Bab III Filsafat Pancasila
3.1
Pengertian Pancasila

3.2 Pancasila sebagai sistem filsafat

3.3 Susunan isi arti Pancasila

3.4 Asal mula Pancasila sebagai ideologi

3.5 Pancasila sebagai ideologi terbuka

Bab IV Identitas Nasional

4.1 Pengertian identitas nasional

4.2 Lambang-lambang negara

4.3 Nilai-nilai budaya bangsa

4.4 Etika dan moral bangsa

4.3 Nilai-nilai budaya bangsa 4.4 Etika dan moral bangsa Bab V Hak dan Kewajiban Warga Negara

Bab V Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia

5.1

Pengertian warga negara, penduduk, dan rakyat

5.3

Hak-hak warga negara

Bab VI Demokrasi Indonesia

6.1 Pengertian negara, teori, terjadinya negara, sifat dan unsur-unsur negara

6.2 Pengertian dan konsep demokrasi

6.3 Demokrasi dalam sistem NKRI

Bab VII Hak Asasi Manusia

7.1 Pengertian HAM

7.2 Latar belakang munculnya HAM

7.3 Perkembangan konsep hukum internasional tentang HAM

7.4 Pelaksanaan HAM di Indonesia

Bab VIII Penegakan, Peningkatan dan Kesadaran Hukum (Rule Of Law)

8.1

Pengertian Rule of Law Sistem Pemerintahan Negara Amandemen UUD 1945 Kesadaran Hukum WNI

Pemerintahan Negara Amandemen UUD 1945 Kesadaran Hukum WNI 8.2 8.3 8.4 9.1 9.2 Bab IX Geopolitik
8.2 8.3 8.4 9.1 9.2
8.2
8.3
8.4
9.1
9.2
UUD 1945 Kesadaran Hukum WNI 8.2 8.3 8.4 9.1 9.2 Bab IX Geopolitik (Wawasan Nusantara) Pengertian
UUD 1945 Kesadaran Hukum WNI 8.2 8.3 8.4 9.1 9.2 Bab IX Geopolitik (Wawasan Nusantara) Pengertian
UUD 1945 Kesadaran Hukum WNI 8.2 8.3 8.4 9.1 9.2 Bab IX Geopolitik (Wawasan Nusantara) Pengertian

Bab IX Geopolitik (Wawasan Nusantara)

Pengertian Wanus

Latar belakang terbentuknya Wanus

9.4 Konsepsi Wanus

9.4 Perwujudan Wanus

9.5 Unsur dasar Wanus

Bab X Geostrategi (Ketahanan Nasional)

10.1 Pengertian Tannas

10.2 Latar belakang Tannas

10.3 Konsepsi Tannas

10.4 Hakikat dan wujud Tannas

10.5 Bela negara dan sistem pertahanan dan keamanan negara

Bab XI Polstranas (Politik Strategi Nasional)

11.1 Pengertian Polstranas

11.2 Sistem politik Indonesia

11.3 Konsep strategi nasional dan implementasi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Dasar Pemikiran MPK PKn

Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran untuk mengembangkan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap TYME dan berbudi pekerti luhur, berkepribadian mantap, dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. MPK bertujuan untuk pendayaan wawasan, pendalaman intensitas, pemahaman dan pengayaan bahan kajian agar mampu membangun kesadarannya sendiri guna membentuk manusia Indonesia

seutuhnya. Kesemua mata kuliah dalam kelompok MPK termasuk pendidikan afektif, yaitu untuk mewujudkan nilai dasar agama dan kebudayaan serta kesadaran berbangsa dan bernegara dalam menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang dikuasainya dengan rasa tanggung jawab kemanusiaan.

1.2
1.2
yang dikuasainya dengan rasa tanggung jawab kemanusiaan. 1.2 Landasan Yuridis MPK PKn Pendidikan Kewarganegaraan
yang dikuasainya dengan rasa tanggung jawab kemanusiaan. 1.2 Landasan Yuridis MPK PKn Pendidikan Kewarganegaraan
yang dikuasainya dengan rasa tanggung jawab kemanusiaan. 1.2 Landasan Yuridis MPK PKn Pendidikan Kewarganegaraan
yang dikuasainya dengan rasa tanggung jawab kemanusiaan. 1.2 Landasan Yuridis MPK PKn Pendidikan Kewarganegaraan
yang dikuasainya dengan rasa tanggung jawab kemanusiaan. 1.2 Landasan Yuridis MPK PKn Pendidikan Kewarganegaraan

Landasan Yuridis MPK PKn

Pendidikan Kewarganegaraan diajarkan khususnya pada lingkungan pendidikan tinggi di Indonesia, berlandaskan pada :

1) Pembukaan UUD 1945 dalam alinea II dan IV, tersurat dalam cita-cita dan tujuan nasional bangsa Indonesia. 2) Batang Tubuh UUD 1945 pasal 31 ayat 1-5 tentang Pendidikan. 3) Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik IndonesiaNomor 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa, dan Nomor 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi, antara lain ditegaskan jenis kurikulum inti Program Diploma dan Sarjana, meliputi kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum (MPK), Mata Kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK), Kelompok Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB), Mata Kuliah Perilaku Berkarya (MPB), Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB).

4) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 37 ayat 2 menjelaskan bahwa kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Bahasa. 5) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mewajibkan kurikulum tingkat satuan pendidikan tinggi memuat mata kuliah Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia, serta Bahasa Inggris, dan kurikulum tingkat satuan pendidikan tinggi Program Diploma dan Sarjana wajib memuat mata kuliah yang bermuatan kepribadian, kebudayaan, serta mata kuliah statistika dan atau matematika. 6) Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 43/DIKTI/Kep/2006 menetapkan tentang visi dan misi kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian, yaitu meliputi kompetensi Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia.

Pengembangan Kepribadian, yaitu meliputi kompetensi Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia.
Pengembangan Kepribadian, yaitu meliputi kompetensi Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia.
Pengembangan Kepribadian, yaitu meliputi kompetensi Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia.
Pengembangan Kepribadian, yaitu meliputi kompetensi Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia.

1.3 Visi dan Misi MPK PKn Pendidikan Kewarganegaraan yang berhasil akan menumbuhkan dan membuahkan sikap mental yang cerdas, penuh rasa tanggung jawab dari peserta didik. Sikap mental ini disertai dengan perilaku, sebagai berikut:

Sikap mental ini disertai dengan perilaku, sebagai berikut: (1) Beriman dan bertaqwa kepada TYME dan menghayati
Sikap mental ini disertai dengan perilaku, sebagai berikut: (1) Beriman dan bertaqwa kepada TYME dan menghayati

(1) Beriman dan bertaqwa kepada TYME dan menghayati nilai-nilai falsafah bangsa; (2) Berbudi pekerti luhur, berdisiplin dalam masyarakat, berbangsa, dan bernegara; (3) Rasional, dinamis, dan sadar akan hak dan kewajiban sebagai warga negara; (4) Bersifat profesional yang dijiwai oleh kesadaran bela negara sebagai warga negara; serta (5) Aktif memanfaatkan ipteks untuk kepentingan kemanusiaan, bangsa, dan negara. Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 43/DIKTI/Kep/2006 menetapkan tentang visi dan misi kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK), yaitu:

A. Visi Sumber nilai dan pedoman dalam pengembangan dan penyelenggaraan program studi guna mengantarkan mahasiswa memantapkan kepribadiannya sebagai manusia yang berkarakter Indonesia seutuhnya.

B. Misi Membantu mahasiswa memantapkan kepribadiannya agar secara konsisten mampu mewujudkan nilai-nilai dasar keagamaan dan kebudayaan, semangat kebangsaan dan cinta tanah air sepanjang hayat dalam menguasai, menerapkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang dimilikinya dengan rasa tanggung jawab.

1.4 Kompetensi Dasar MPK PKn Standar kompetensi yang wajib dikuasai mahasiswa, meliputi pengetahuan tentang nilai-nilai agama, budaya, dan kewarganegaraan serta mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sementara, kompetensi dasar untuk mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan adalah membimbing mahasiswa menjadi ilmuwan dan profesional yang memiliki semangat kebangsaan dan cinta tanah air, demokratis yang berkeadaban, menjadi warga Negara yang memiliki daya saing, berdisiplin, dan berpartisipasi aktif dalam membangun kehidupan yang damai berdasarkan sistem nilai Pancasila. Selanjutnya, melalui Pendidikan Kewarganegaraan ini kompetensi yang diharapkan adalah mampu memahami, menganalisis dan menjawab masalah- masalah yang dihadapi oleh masyarakat, bangsa, dan negara secara berkesinambungan dan konsisten dengan cita-cita dan tujuan nasional, seperti yang digariskan dalam Pembukaan UUD 1945.

berkesinambungan dan konsisten dengan cita-cita dan tujuan nasional, seperti yang digariskan dalam Pembukaan UUD 1945.
berkesinambungan dan konsisten dengan cita-cita dan tujuan nasional, seperti yang digariskan dalam Pembukaan UUD 1945.
berkesinambungan dan konsisten dengan cita-cita dan tujuan nasional, seperti yang digariskan dalam Pembukaan UUD 1945.
berkesinambungan dan konsisten dengan cita-cita dan tujuan nasional, seperti yang digariskan dalam Pembukaan UUD 1945.
berkesinambungan dan konsisten dengan cita-cita dan tujuan nasional, seperti yang digariskan dalam Pembukaan UUD 1945.
berkesinambungan dan konsisten dengan cita-cita dan tujuan nasional, seperti yang digariskan dalam Pembukaan UUD 1945.

BAB II PENGANTAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

2.1 Pengertian dan Latar Belakang PKn A. Pengertian PKn Kata kewarganegaraan dalam bahasa Latin disebut Civicus. Selanjutnya, kata Civicus diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi kata Civic yang artinya mengenai warga negara atau kewarganegaraan. Dari kata Civic lahir kata Civic yaitu ilmu kewarganegaraan, dan Civic Education, yaitu Pendidikan Kewarganegaraan. Pelajaran Civics atau kewarganegaraan telah dikenal di Indonesia sejak zaman kolonial Belanda dengan nama Burgerkunde. Pelajaran ini pada hakikatnya untuk kepentingan penguasa kolonial, yang pada saat itu diberikan di sekolah guru, sedangkan kebanyakan sekolah lanjutan mendapat pelajaran Staats Inricting (Tata Negara). Terdapat dua buku pelajaran Civics yang digunakan, yaitu :

lanjutan mendapat pelajaran Staats Inricting (Tata Negara). Terdapat dua buku pelajaran Civics yang digunakan, yaitu :
lanjutan mendapat pelajaran Staats Inricting (Tata Negara). Terdapat dua buku pelajaran Civics yang digunakan, yaitu :
lanjutan mendapat pelajaran Staats Inricting (Tata Negara). Terdapat dua buku pelajaran Civics yang digunakan, yaitu :
lanjutan mendapat pelajaran Staats Inricting (Tata Negara). Terdapat dua buku pelajaran Civics yang digunakan, yaitu :

1) Indische Burgerscapkunde yang disusun oleh P. Tromps diterbitkan oleh penerbit J.B. Wolters Maatschappij N.V. Groningen tahun 1934. 2) Rech en Plicht yang disusun oleh J.B. Vortman diterbitkan oleh G.C.T. van Dorp dan Co. N.V. tahun 1940. Selanjutnya, Pendidikan Kewarganegaraan sebagai mata kuliah wajib yang harus ditempuh mahasiswa di Peguruan Tinggi. Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi sekarang ini diwujudkan dengan mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan berdasarkan SK Dirjen Dikti No.267/Dikti/Kep/2000 tentang Penyempurnaan Kurikulum Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi. Kemudian penjabaran operasional mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan lebih lanjut diatur dengan SK Dirjen Dikti No. 38/Dikti/Kep/2002 tentang Rambu-Rambu Pelaksanaan Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Menurut Pasha (2002:12) pengertian Pendidikan Kewarganegaraan merupakan materi perkuliahan yang menyangkut pemahaman tentang

Pasha (2002:12) pengertian Pendidikan Kewarganegaraan merupakan materi perkuliahan yang menyangkut pemahaman tentang
Pasha (2002:12) pengertian Pendidikan Kewarganegaraan merupakan materi perkuliahan yang menyangkut pemahaman tentang

persatuan dan kesatuan, kesadaran warga negara dalam bernegara, hak dan kewajiban warga negara dalam berbangsa dan bernegara, serta pendidikan bela negara. Lalu, Azra (2001:7) Pendidikan Kewarganegaraan adalah pendidikan yang cakupannya lebih luas dari pendidikan demokasi dan pendidikan HAM. Zamroni dalam Tim ICCE UIN Jakarta (2001:7) bahwa Pendidikan Kewarganegaraan adalah pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk mempersiapkan warga masyarakat berpikir kritis dan bertindak demokratis. Berbeda dengan pendapat di atas, Soemantri dalam Tim ICCE UIN Jakarta (2001:8) mengenai Pendidikan Kewarganegaraan sebagai kegiatan yang meliputi seluruh program sekolah yang meliputi berbagai macam kegiatan mengajar yang dapat menumbuhkan hidup dan perilaku yang lebih baik dalam masyarakat demokratis. Sedangkan, menurut Civitas Internasional dalam Tim ICCE UIN Jakarta (2001:8) bahwa Civic Education atau Pendidikan Kewarganegaraan adalah pendidikan yang mencakup pemahaman dasar tentang cara kerja demokrasi dan lembaga-lembaganya, tentang rule of law, HAM, penguatan keterampilan partisipatif yang demokratis, pengembangan budaya demokrasi dan perdamaian. Dikemukakan oleh Puskur dalam Depdiknas (2003:2) bahwa Kewarganegaraan (Citizenship) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia dan suku bangsa untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil dan berkarakter yang diamanatkan Pancasila dan UUD 1945. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan adalah Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata kuliah yang diajarkan di perguruan tinggi yang berisi program pendidikan dan mencakup pemahaman tentang masalah kebangsaan, pendidikan bela negara, kewarganegaraan dalam hubungannya dengan negara, demokrasi, HAM, penegakan rule of law, dan masyarakat madani.

HAM, penegakan rule of law , dan masyarakat madani. B. Latar Belakang PKn Perjalanan panjang sejarah
HAM, penegakan rule of law , dan masyarakat madani. B. Latar Belakang PKn Perjalanan panjang sejarah
HAM, penegakan rule of law , dan masyarakat madani. B. Latar Belakang PKn Perjalanan panjang sejarah
HAM, penegakan rule of law , dan masyarakat madani. B. Latar Belakang PKn Perjalanan panjang sejarah
HAM, penegakan rule of law , dan masyarakat madani. B. Latar Belakang PKn Perjalanan panjang sejarah
HAM, penegakan rule of law , dan masyarakat madani. B. Latar Belakang PKn Perjalanan panjang sejarah

B. Latar Belakang PKn Perjalanan panjang sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang dimulai sejak, sebelum, dan selama penjajahan. Kemudian dilanjutkan dengan era

perebutan dan mempertahankan kemerdekaan sampai dengan era pengisian kemerdekaan menimbulkan kondisi dan tuntutan yang berbeda sesuai dengan zamannya. Dalam kaitannya dengan semangat perjuangan bangsa, maka perjuangan non fisik sesuai dengan bidang profesi masing-masing memerlukan sarana kegiatan pendidikan bagi setiap warga negara Indonesia pada umumnya. Selain itu juga bagi mahasiswa sebagai calon cendekiawan pada khususnya yaitu melalui Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Masyarakat dan pemerintah suatu negara berupaya untuk menjamin kelangsungan hidup serta kehidupan generasi penerusnya secara berguna. Hal ini tentunya sesuai dengan kemampuan spiritual dan berkaitan dengan kemampuan kognitif dan psikomotorik. Generasi penerus tersebut diharapkan akan mampu mengantisipasi hari depan mereka yang senantiasa berubah dan selalu terkait dengan konteks dinamika budaya, bangsa, negara, dan hubungan internasional. Jadi, hakikat Pendidikan Kewarganegaraan dimaksudkan dan memiliki wawasan kesadaran bernegara untuk bela negara dan memiliki pola pikir, sikap, dan perilaku sebagai pola tindak kecintaan pada tanah air berdasarkan Pancasila. Selain itu, pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertawa terhadap TYME, berbudi luhur, kepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, disiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab dan produktif serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik, mempertebal cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan, kesetiakawanan sosial, kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan dan berorientasi kepada masa depan. Hal tersebut tentunya dipupuk melalui Pendidikan Kewarganegaraan.

tentunya dipupuk melalui Pendidikan Kewarganegaraan. 2.2 Sejarah dan perkembangan PKn Semangat perjuangan bangsa
tentunya dipupuk melalui Pendidikan Kewarganegaraan. 2.2 Sejarah dan perkembangan PKn Semangat perjuangan bangsa
tentunya dipupuk melalui Pendidikan Kewarganegaraan. 2.2 Sejarah dan perkembangan PKn Semangat perjuangan bangsa
tentunya dipupuk melalui Pendidikan Kewarganegaraan. 2.2 Sejarah dan perkembangan PKn Semangat perjuangan bangsa
tentunya dipupuk melalui Pendidikan Kewarganegaraan. 2.2 Sejarah dan perkembangan PKn Semangat perjuangan bangsa
tentunya dipupuk melalui Pendidikan Kewarganegaraan. 2.2 Sejarah dan perkembangan PKn Semangat perjuangan bangsa

2.2 Sejarah dan perkembangan PKn Semangat perjuangan bangsa Indonesia yang tak kenal lelah menyerah telah terbukti pada perang kemerdekaan 17 Agustus 1945. Semangat perjuangan bangsa tersebut dilandasi oleh keimanan serta ketaqwaan kepada TYME dan keikhlasan untuk berkorban. Semangat perjuangan bangsa merupakan kekuatan mental dan spritual yang dapat melahirkan sikap dan

perilaku heroik dan patriotik serta menumbuhkan kekuatan kesanggupan dan kemauan yang luar biasa. Semangat perjuangan bangsa inilah yang harus dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia. Nilai-nilai perjuangan bangsa Indonesia dalam perjuangan fisik merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan telah mengalami pasang surut sesuai dengan dinamika kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Globalisasi ditandai oleh adanya pengaruh lembaga-lembaga kemasyarakatan internasional, negara-negara maju yang ikut mengatur percaturan perpolitikan, perekonomian, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan global. Globalisasi yang ditandai oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya dibidang informasi komunikasi dan transfortasi membuat dunia menjadi transparan seolah-olah menjadi sebuah kampung tanpa mengenal batas. Kondisi ini menciptakan struktur baru, yaitu struktur global. Kemudian, semangat perjuangan bangsa yang merupakan kekuatan mental spiritual telah melahirkan kekuatan yang luar biasa dalam masa perjuangan fisik, sedangkan dalam menghadapi globalisasi dan menatap masa depan untuk mengisi kemerdekaan. Bangsa Indonesia memerlukan perjuangan non fisik sesuai dengan kapasitas masing-masing. Inilah yang melatar belakangi adanya Pendidikan Kewarganegaraan. Adapun kegiatan yang bisa dilakukan adalah mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan dengan sungguh-sungguh dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pada tahun 1950 dalam suasana Indonesia merdeka, kedua buku teks tersebut di atas menjadi buku pegangan guru Civics di sekolah menengah atas, tetapi dalam mata pelajaran yang terurai pada SMA tahun 1950 iitu dikatakan bahwa kewarganegaraan yang diberikan disamping tata negara adalah tugas dan kewajiban warga negara terhadap pemerintah, masyarakat, keluarga, dan diri sendiri. Pelajaran tersebut tidak diberikan secara ilmu pengetahuan melainkan sebagai dasar yang berjiwa nasional serta kewarganegaraan yang baik (good citizenship). Materi buku ini meliputi, antara lain :

a. Akhlaq, pendidikan, pengajaran, dan ilmu pengetahuan

baik ( good citizenship ). Materi buku ini meliputi, antara lain : a. Akhlaq, pendidikan, pengajaran,
baik ( good citizenship ). Materi buku ini meliputi, antara lain : a. Akhlaq, pendidikan, pengajaran,
baik ( good citizenship ). Materi buku ini meliputi, antara lain : a. Akhlaq, pendidikan, pengajaran,
baik ( good citizenship ). Materi buku ini meliputi, antara lain : a. Akhlaq, pendidikan, pengajaran,
baik ( good citizenship ). Materi buku ini meliputi, antara lain : a. Akhlaq, pendidikan, pengajaran,
baik ( good citizenship ). Materi buku ini meliputi, antara lain : a. Akhlaq, pendidikan, pengajaran,

b. Kehidupan rakyat, kesehatan, imigrasi, perusahaan, peerburuhan, agraria, kemakmuran rakyat, kewanitaan, dan lain-lain

c. Kesadaran dalam dan luar negeri, pertahanan rakyat, perwakilan, pemerintah, dan soal-soal internasional. Pada tahun 1955 terbit buku tentang kewarganegaraan berbahasa

Indonesia dengan judul Inti Pengetahuan Warga Negara disusun oleh J.C.T.

Simorangkir, Gusti Mayur, dan Sumintarjo. Tujuan pelajaran tersebut adalah untuk membangkitkan dan memeliharakeinsyafan dan kesadaran bahwa warga negara Iindonesia memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, dan negara (good citizen). Materi buku ini meliputi, antara lain :

a.

Tanah airku Indonesia Raya Bendera dan Lambang Negara

: a. Tanah airku Indonesia Raya Bendera dan Lambang Negara b. c. d. e. f. Warga
b. c. d. e. f.
b.
c.
d.
e.
f.
Indonesia Raya Bendera dan Lambang Negara b. c. d. e. f. Warga Negara Beserta Hak dan
Indonesia Raya Bendera dan Lambang Negara b. c. d. e. f. Warga Negara Beserta Hak dan
Indonesia Raya Bendera dan Lambang Negara b. c. d. e. f. Warga Negara Beserta Hak dan
Indonesia Raya Bendera dan Lambang Negara b. c. d. e. f. Warga Negara Beserta Hak dan

Warga Negara Beserta Hak dan Kewajibannya Ketatanegaraan Keuangan Negara

Pajak dan Perekonomian Pada tahun 1991 mata pelajaran civics digunakan untyuk memberi pengertian tentang pidato kenegaraan presiden ditambah dengan pancasila, sejarah pergerakan, hak dan kewajiban warga Negara. Ditahun itu juga istilah kewarganegaraan diganti dengan istilah kewargaan Negara atas prakarsa Dr. Sahardjo dengan alas an untuk menyesuaikan dengan pasal 26 ayat 2 UUD 1945 yang menekankan pada warga yang mengandung pengertian atas hak dan kewajiban terhadap Negara. Pada tahun 1966 buku di atas dilarang digunakan sebagai buku pegagan di sekolah-sekolah untuk mengatasi kekosongan materi civics , meliputi pancasila, UUD 1945, ketetapan MPR dan PBB, ditambah dengan orde baru, sejarah Indonesia dan ilmu bumi Indonesia. Pada tahun 1972 diselenggarakan seminar nasional pengajaran dan pendidikan civics di tawang mangu sukarata. Dengan hasil yang memberikan ketegasan terhadap istilah civics, sebagai berikut:

1. Istilah civics diganti dengan istilah ilmu kewargaan Negara, yaitu suatu disiplin yang objek studynya mengenai peranan warga Negara dalam bidang spiritual, social, ekonomi, politik, yuridis, cultural sesuai dan sejauh yang diatur dalam pembukaan UUD 1945 dan batang tubuh UUD 1945. 2. Civics Education diganti dengan istilah Pendidikan Kewargaan Negara, yaitu suatu program pendidikan yang tujuan utamanya membina warga neagara menjadi lebih baik menurut syarat-syarat, criteria, dan ukuran ketentuan pembukaan UUD 1945 dan batang tubuh UUD 1945. Bahannya diambil dari ilmu kewargaan Negara termasuk kewiraan nasional, filsafat Pancasila, mental Pancasila dan filsafat pendidikan nasional serta menuju kedudukan para warga Negara yang diharapkan di masa depan (Supriatnoko dalam Kansil, 2009:12). Pada tahun 1975 disusun buku pokok kewiraan bagi mahasiswa dan diterbitkan pertama kali sebagai buku kewiraan untuk mahasiswa pada tahun 1979 yang digunakan sebagai bahan perkuliahan Pendidikan Kewiraan di perguruan tinggi. Pada tahun 1987 buku tersebut mengalami perubahan dan perbaikan. Lalu, pada tahun 1981 ditetapkan Pedoman Kurikulum Inti bagi Perguruan Tinggi sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0212/U/1981, dan disusul dengan Penerapan Kurikulum Inti Mata Kuliah Dasar Umum oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi

(Kep.No.25/Dikti/Kep/1985).

Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan Menteri Pertahanan dan Keamanan pada tanggal 1 Februari 1985 menggariskan Pola Pembinaan Pendidikan Kewiraan di lingkungan Perguruan Tinggi. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1985 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang digunakan sebagai dasar penyelenggaraan pendidikan tinggi pada Pasal 39 Ayat 2 menyebutkan bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan wajib memuat (1) Pendidikan Agama, (2) Pendidikan Pancasila, dan (3) Pendidikan Kewarganegaraan yang mencakup pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antara warga negara dan negara serta Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN). Di dalam operasionalnya ketiga mata kuliah wajib tersebut dihimpun ke dalam kelompok

Pendahuluan Bela Negara (PPBN). Di dalam operasionalnya ketiga mata kuliah wajib tersebut dihimpun ke dalam kelompok
Pendahuluan Bela Negara (PPBN). Di dalam operasionalnya ketiga mata kuliah wajib tersebut dihimpun ke dalam kelompok
Pendahuluan Bela Negara (PPBN). Di dalam operasionalnya ketiga mata kuliah wajib tersebut dihimpun ke dalam kelompok
Pendahuluan Bela Negara (PPBN). Di dalam operasionalnya ketiga mata kuliah wajib tersebut dihimpun ke dalam kelompok
Pendahuluan Bela Negara (PPBN). Di dalam operasionalnya ketiga mata kuliah wajib tersebut dihimpun ke dalam kelompok
Pendahuluan Bela Negara (PPBN). Di dalam operasionalnya ketiga mata kuliah wajib tersebut dihimpun ke dalam kelompok

Mata Kuliah Pembinaan Kepribadian sebagai bagian dari kurikulum inti yang berlaku secara nasional. PPBN bertujuan meningkatkan kesadaran bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, meningkatkan keyakinan terhadap Pancasila sebagai falsafah bangsa dan ideologi negara, meningkatkan kesadaran untuk rela berkorban demi bangsa dan Negara Indonesia, serta memberikan kemampuan awal bela negara. Pelaksanaan PPBN melalui dua tahap, yaitu tahap awal dan tahap lanjutan. Pada tahap awal diberikan kepada peserta didik di tingkat SD sampai SM dengan kegiatan kepramukaan. Pada tingkat lanjutan diberikan kepada mahasiswa di perguruan tinggi dalam bentuk Pendidikan Kewiraan. Pendidikan Kewiraan sebagai pendidikan yang membekali mahasiswa berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat diandalkan menjadi seorang warga negara yang bela Negara dan NKRI. Pendidikan Kewiraan bersifat intrakurikuler dan wajib, menitikberatkan kepada kemampuan penalaran ilmiah yang sikap kognitif dan afektif tentang bela negara dalam rangka ketahanan nasional. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 056/U/1994, yang mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1990, menetapkan status Pandidikan Agama, Pendidikan Pancasila, dan Pendidikan Kewarganegaraan dalam kurikulum pendidikan tinggi sebagai mata kuliah wajib untuk setiap program studi dan bersifat nasional. GBPP Pendidikan Kewiraan ditetapkan dalam Keputusan Dikti Nomor 151/Dikti/Kep/2000. Selanjutnya, melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 267/Dikti/Kep/2000 tentang Penyempurnaan Kurikulum Inti Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Pendidikan Kewarganegaraan di perguruan tinggi. Pendidikan Kewiraan diintegrasikan dan menjadi bagian dari Pendidikan Kewarganegaraan. Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 38/Dikti/Kep/2002 dibentuk kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) di perguruan tinggi. Pembentukan MPK didasarkan atas pertimbangan:

1. Berdasarkan Kepmendiknas Nomor 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar

Kepmendiknas Nomor 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar
Kepmendiknas Nomor 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar
Kepmendiknas Nomor 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar
Kepmendiknas Nomor 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar
Kepmendiknas Nomor 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar
Kepmendiknas Nomor 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar

Mahasiswa telah ditetapkan bahwa Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila, dan Pendidikan Kewarganegaraan merupakan kelompok MPK yang wajib diberikan dalam kurikulum setiap prodi atau kelompok prodi. 2. Sebagai pelaksana butir 1 di atas dipandang perlu menetapkan rambu- rambu pelaksanaan MPK di perguruan tinggi. Selanjuttnya, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 37 Ayat 2 menyebutkan bahwa isi kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Bahasa. Di dalam operasionalnya ketiga mata kuliah wajib tersebut dihimpun ke dalam kelompok MPK. Pada tahun 2006 Dirjen Dikti mengeluarkan Keputusan Nomor 43/Dikti/Kep/2006 tentang Rambu-rambu Pelaksanaan Kelompok Kelompok MPK di perguruan tinggi sebagai penyempurnaan dari Keputusan Nomor 38/Dikti/Kep/2002, menetapkan Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia sebagai mata kuliah yang dihimpun dalam kelompok MPK.

sebagai mata kuliah yang dihimpun dalam kelompok MPK. 2.3 Substansi Kajian PKn Substansi kajian mata kuliah
sebagai mata kuliah yang dihimpun dalam kelompok MPK. 2.3 Substansi Kajian PKn Substansi kajian mata kuliah
sebagai mata kuliah yang dihimpun dalam kelompok MPK. 2.3 Substansi Kajian PKn Substansi kajian mata kuliah
sebagai mata kuliah yang dihimpun dalam kelompok MPK. 2.3 Substansi Kajian PKn Substansi kajian mata kuliah
sebagai mata kuliah yang dihimpun dalam kelompok MPK. 2.3 Substansi Kajian PKn Substansi kajian mata kuliah
sebagai mata kuliah yang dihimpun dalam kelompok MPK. 2.3 Substansi Kajian PKn Substansi kajian mata kuliah

2.3 Substansi Kajian PKn Substansi kajian mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 43/DIKTI/Kep/2006/ tentang Rambu-rambu Pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi, meliputi :

I. PENDAHULUAN Topik kajian Pendahuluan mencakup materi bahasan tentang :

1)

2) Landasan yuridis MPK PKn

3) Visi dan misi MPK PKn

Dasar pemikiran MPK PKn

4)

Kompetensi dasar MPK PKn

a.

Indikator Kompetensi :

Mahasiswa mampu menjelaskan pola pikir pembahasan bahan ajar Pendidikan Kewarganegaraan merupakan general education untuk membangun karakter bangsa guna memperkuat bela negara.

b. Indikator Sikap :

Mahasiswa mampu menunjukkan sikap sebagai warga negara yang beriman, bertaqwa, dan berbudi pekerti luhur serta mempertahankan sikap toleransi, semangat pluralisme, serta rela berkorban demi bangsa dan negara.

II. PENGANTAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Topik kajian Pengantar Pendidikan Kewarganegaraan mencakup materi bahasan tentang :

1) Pengertian dan latar belakang PKn 2) Sejarah dan perkembangan PKn 3) Substansi Kajian PKn 4) Metodologi dan tujuan pembelajaran PKn

Kajian PKn 4) Metodologi dan tujuan pembelajaran PKn III. 1) 2) 3) FILSAPAT PANCASILA Topik kajian
Kajian PKn 4) Metodologi dan tujuan pembelajaran PKn III. 1) 2) 3) FILSAPAT PANCASILA Topik kajian
III. 1) 2) 3)
III.
1)
2)
3)
4) Metodologi dan tujuan pembelajaran PKn III. 1) 2) 3) FILSAPAT PANCASILA Topik kajian Pancasila mencakup
4) Metodologi dan tujuan pembelajaran PKn III. 1) 2) 3) FILSAPAT PANCASILA Topik kajian Pancasila mencakup

FILSAPAT PANCASILA

Topik kajian Pancasila mencakup materi bahasan tentang :

Pengertian Pancasila Pancasila sebagai sistem filsafat Susunan isi arti Pancasila

4) Asal mula Pancasila sebagai ideologi nasional

5) Pancasila sebagai ideologi terbuka

a. Indikator Kompetensi :

sebagai ideologi terbuka a. Indikator Kompetensi : Mahasiswa mampu menjelaskan prinsip dan nilai dasar

Mahasiswa mampu menjelaskan prinsip dan nilai dasar pancasila sebagai kesatuan sistem fisafat dan ideologi bangsa sehingga mahasiswa mampu menganalisis dan ikut serta menyelesaikan persoaan bangsa dengan berlandaskan pada system nilai tersebut.

b. Indikator Sikap :

Mahasiswa mampu mempertahankan pancasila sebagai falsafah bangsa dan ideologi Negara serta mampu mempraktikkan sifat dan keadaan yang berketuhanan, berkemanusiaan, berpersatuan, berkerakyatan, dan berkeadilan social dalam kehidupan pribadi dan sosial.

IV.

IDENTITAS NASIONAL Topik kajian Identitas Nasional mencakup materi bahasan tentang :

1)

Pengertian Identitas Nasional

2)

Lambang-lambang negara

3) Nilai-nilai budaya bangsa

4)

Etika dan moral bangsa

a.

Indikator Kompetensi :

Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian, ciri khas yang menjadi identitas nasional bangsa Indonesia, serta kandungan nilai-nilainya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

b.

Indikator Sikap :

V.
V.

Mahasiswa mampu menunjukkan kkesadaran mengenai Pancasila sebagai identitas nasional bangsa Indonesia serta mempraktikkan prinsip, konsep, dan nilai dasar Pancasila sebagai pribadi yang berjiwa, berkarakter, dan berbudaya Indonesia.

pribadi yang berjiwa, berkarakter, dan berbudaya Indonesia. HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA INDONESIA Topik kajian Warga
pribadi yang berjiwa, berkarakter, dan berbudaya Indonesia. HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA INDONESIA Topik kajian Warga
pribadi yang berjiwa, berkarakter, dan berbudaya Indonesia. HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA INDONESIA Topik kajian Warga
pribadi yang berjiwa, berkarakter, dan berbudaya Indonesia. HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA INDONESIA Topik kajian Warga
pribadi yang berjiwa, berkarakter, dan berbudaya Indonesia. HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA INDONESIA Topik kajian Warga

HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA INDONESIA Topik kajian Warga Negara Indonesia mencakup materi bahasan tentang :

1) Pengertian Warga Negara Indonesia 2) Hak Warga Negara Indonesia 3) Kewajiban Warga Negara Indonesia

a. Indikator Kompetensi :

Mahasiswa mampu menjelaskan makna Negara dan isi konstitusi dalam mengisi kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

b. Indikator Sikap :

Mahasiswa mampu mempertahankan system politik dan ketatanegaraan berdasarkan konstitusi Undang-Undang Dasar 1945 serta memegang teguh Undang-Undang Dasar 1945 sebagai sumber hokum tertinggi daalm penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbagsa, dan bernegara.

VI. DEMOKRASI INDONESIA Topik kajian Demokrasi Indonesia mencakup materi bahasan tentang :

1)

2) Pengertian dan Konsep demokrasi

3) Demokrasi dalam sistem NKRI

Pengertian negara, teori terjadinya negara, sifat dan unsur-unsur negara

a. Indikator Kompetensi :

Mahasiswa mampu menjelaskan cara menerapkan konsep demokrasi berdasarkan nilai dasar pacaila sehingga mahasiswa terbiasa mempraktikkannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa bernegara.

b. Indikator Sikap :

1)
1)

Mahasiswa mampu menunjukkan sikap demokrasi yang berkeadaban berdasarkan landasan idil pancasila dan mampu mempraktikkan konsep demokrasi pancasila berdasarkan paham kekeluargaan dan gotong royong untuk mewujudkan keadilan sosial

dan gotong royong untuk mewujudkan keadilan sosial VII.HAK ASASI MANUSIA Topik kajian Hak Asasi Manusia
dan gotong royong untuk mewujudkan keadilan sosial VII.HAK ASASI MANUSIA Topik kajian Hak Asasi Manusia
dan gotong royong untuk mewujudkan keadilan sosial VII.HAK ASASI MANUSIA Topik kajian Hak Asasi Manusia
dan gotong royong untuk mewujudkan keadilan sosial VII.HAK ASASI MANUSIA Topik kajian Hak Asasi Manusia
dan gotong royong untuk mewujudkan keadilan sosial VII.HAK ASASI MANUSIA Topik kajian Hak Asasi Manusia

VII.HAK ASASI MANUSIA Topik kajian Hak Asasi Manusia mencakup materi bahasan tentang :

Pengertian Hak Asasi Manusia Latar belakang munculnya Hak Asasi Manusia Perkembangan Hak Asasi Manusia Pelaksanaan Hak Asasi Manusia di Indonesia

2)

3)

4)

a. Indikator Kompetensi :

Mahasiswa mampu menjelaskan cara menerapkan hak asasi manusia dan rule of law sehingga keduanya dapat ditegakkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

b. Indikator Sikap :

Mahasiswa mampu memperkasai pelaksanaan ham di Indonesia berdasarkan falsafah dan ideologi pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan mampu mempraktikkan prinsip rule of law berdasarkan falsafah dan ideologi pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945.

VIII. PENEGAKAN HUKUM (RULE OF LAW) Topik kajian Penegakan Hukum atau Rule of Law mencakup bahasan tentang :

1) Pengertian Penegakan Hukum atau Rule of Law 2) Sistem pemerintahan negara 3) Amandemen UUD 1945 4) Kesadaran hukum Warga Negara Indonesia

a. Indikator Kompetensi :

Mahasiswa mampu

b. Indikator Sikap :

Mahasiswa mampu

IX. 1)
IX.
1)

5)

mampu b. Indikator Sikap : Mahasiswa mampu IX. 1) 5) GEOPOLITIK (WAWASAN NUSANTARA) Topik kajian Wawasan
mampu b. Indikator Sikap : Mahasiswa mampu IX. 1) 5) GEOPOLITIK (WAWASAN NUSANTARA) Topik kajian Wawasan
mampu b. Indikator Sikap : Mahasiswa mampu IX. 1) 5) GEOPOLITIK (WAWASAN NUSANTARA) Topik kajian Wawasan
mampu b. Indikator Sikap : Mahasiswa mampu IX. 1) 5) GEOPOLITIK (WAWASAN NUSANTARA) Topik kajian Wawasan
mampu b. Indikator Sikap : Mahasiswa mampu IX. 1) 5) GEOPOLITIK (WAWASAN NUSANTARA) Topik kajian Wawasan

GEOPOLITIK (WAWASAN NUSANTARA) Topik kajian Wawasan Nusantara mencakup materi bahasan tentang :

Pengertian Wawasan Nusantara

2) Latar belakang terbentuknya wawasan nasional Indonesia

3) Konsepsi wawasan nusantara

4) Perwujudan wawasan nusantara

Unsur dasar wawasan nusantara

a. Indikator Kompetensi :

Mahasiswa mampu menjelaskan cara menerapkan konsep dan bentuk geopolitik di Indonesia sebagai wawasan kebangsaan sehingga mantap dalam sikap, pendirian, dan kesadarannya dalam mempersamakan persepsi guna mewujudkan persatuan dan kesatuan sebagai bangsa Indonesia.

b. Indikator Sikap :

Mahasiswa mampu memegang teguh wawasan nusantara sebagai landasan visional di dalam mewujudkan cita-cita proklamasi dan tujuan nasional, dan mampu mendukung pelimpahan wewenang kepada daerah didalam merealisasikan geopolitik wawasan nusantara untuk menjamin tetap tegaknya NKRI.

X.

GEOSTRATEGIS (KETAHANAN NASIONAL) Topik kajian Ketahanan Nasional mencakup materi bahasan tentang :

1)

Pengertian Pertahanan Nasional

2)

Latar belakang pertahanan nasional

3) Hakikat dan perwujudan pertahaan nasional

4)

5) Bela negara serta Sistem pertahanan dan keamanan

Aspek ketahanan nasional

a. Indikator Kompetensi :

Mahasiswa mampu menjelaskan cara menerapkan konsep dan bentuk geostrategik Indonesia sebaggai ketahanan nasional sehingga mahasiswa berperan dalam melaksanakan pembangunan untuk mewujudkan cita-cita proklamasi dan tujuan nasional. Indikator Sikap :

berperan dalam melaksanakan pembangunan untuk mewujudkan cita-cita proklamasi dan tujuan nasional. Indikator Sikap :
berperan dalam melaksanakan pembangunan untuk mewujudkan cita-cita proklamasi dan tujuan nasional. Indikator Sikap :
berperan dalam melaksanakan pembangunan untuk mewujudkan cita-cita proklamasi dan tujuan nasional. Indikator Sikap :
berperan dalam melaksanakan pembangunan untuk mewujudkan cita-cita proklamasi dan tujuan nasional. Indikator Sikap :

Mahasiswa mampu menunjukkan sikap ulet dan tangguh di dalam membagun ketahanan nasional, dan mampu menunjukkan kemampuan dan kekuatan didalam menghadapi dan menggagalkan ancaman, gangguan, hambatan, daan tantangan yang akan melemahkan dan memakan ketahanan nasional.

b.
b.
yang akan melemahkan dan memakan ketahanan nasional. b. XI. POLSTRANAS Topik kajian Politik dan Strategi Nasional

XI. POLSTRANAS

Topik kajian Politik dan Strategi Nasional mencakup bahasan tentang :

1)

Pengertian Politik Strategi Nasional

2)

Sistem politik Indonesia

3) Konsep strategi nasional dan implementasinya

4)

Wujud Politik Startegi Nasional

a.

Indikator Kompetensi :

Mahasiswa mampu

b.

Indikator Sikap :

Mahasiswa mampu

2.4 Metodologi dan Tujuan Pembelajaran PKn A. Metodologi Pembelajaran PKn 1) Proses Pembelajaran yang diselenggarakan, secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi untuk berpartisifasi aktif serta memberikan kesempatan bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian dengan menempatkan mahasiswa sebagai subjek pendidikan mitra dalam proses pembelajaran dan sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan warganegara. 2) Pembelajaran yang diselenggarakan merupakan proses yang mendidik, didalamnya terjadi pembahasan kritis analitis, induktif dan deduktif, dan reflektif melalui dialog kreatif pertisifatory untuk nencapai pemahaman tentang kebenaran substansi dasar kajian, berkarya nyata dan untuk menumbuhkan motivasi belajar sepanjang hidup. 3) Bentuk aktivitas pembelajaran, dengan cara kuliah tatap muka, ceramah, diskusi interaktif, studi kasus, penugasan mandiri dalam bentuk mengerjakan soal-soal latihan dan penugasan kelompok dalam bentuk pembuatan makalah, tugas baca, seminar kecil, kegiatan kokurikuler, dan lain-lain. 4) Motivasi menumbuhkan kesadaran bahwa pembelajaran pengembangan kepribadian merupakan kebutuhan hidup untuk dapat eksis di dalam masyarakat global.

hidup untuk dapat eksis di dalam masyarakat global. B. Tujuan Pembelajaran PKn Adapun tujuan mata kuliah
hidup untuk dapat eksis di dalam masyarakat global. B. Tujuan Pembelajaran PKn Adapun tujuan mata kuliah
hidup untuk dapat eksis di dalam masyarakat global. B. Tujuan Pembelajaran PKn Adapun tujuan mata kuliah
hidup untuk dapat eksis di dalam masyarakat global. B. Tujuan Pembelajaran PKn Adapun tujuan mata kuliah
hidup untuk dapat eksis di dalam masyarakat global. B. Tujuan Pembelajaran PKn Adapun tujuan mata kuliah
hidup untuk dapat eksis di dalam masyarakat global. B. Tujuan Pembelajaran PKn Adapun tujuan mata kuliah

B. Tujuan Pembelajaran PKn Adapun tujuan mata kuliah PKn ini, antara lain:

1) Secara Umum a. Membentuk warga negara yang baik dan cerdas yang mampu mendukung pembangunan dan juga kelangsungan bangsa dan negara. Konsep good citizenship tentunya amat tergantung dari pandangan hidup dan sistem politik negara yang bersangkutan. b. Memberikan pengetahuan dan kemampuan dasar kepada mahasiswa mengenai hubungan antara warga negara dengan negara serta Pendidikan Pendahuluan Bela Negara agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.

2) Secara Khusus

a. Agar mahasiswa dapat memahami dan melaksanakan hak dan kewajiban secara santuun, jujur, demokratis serta ikhlas sebagai warga negara Indonesia terdidik dan bertanggung jawab.

b. Agar mahasiswa menguasai dan memahami berbagai masalah dasar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta dapat mengatasinya dengan pemikiran kritis dan bertanggung jawab yang berlandaskan Pancasila, Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional.

c. Agar mahasiswa memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai- nilai kejuangan, cinta tanah air, serta rela berkorban bagi nusa dan bangsa.

sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai- nilai kejuangan, cinta tanah air, serta rela berkorban bagi
sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai- nilai kejuangan, cinta tanah air, serta rela berkorban bagi
sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai- nilai kejuangan, cinta tanah air, serta rela berkorban bagi
sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai- nilai kejuangan, cinta tanah air, serta rela berkorban bagi
sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai- nilai kejuangan, cinta tanah air, serta rela berkorban bagi

BAB III FILSAFAT PANCASILA

3.1 Pengertian Filsafat Pancasila dan Ideologi Pancasila Secara etimologis, kata filsafat berasal dari bahasa Yunani philen yang berarti cinta dan sophos yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat menurut asal katanya berarti cinta pada kebijaksanaan. Cinta dalam arti yang luas sebagai keinginan sungguh-sungguh terhadap sesuatu, sedangkan kebijaksanaan dapat diartikan sebagai kebenaran sejati. Oleh karena itu, secara sederhana pemahaman filsafat adalah keinginan yang sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran sejati. Sementara menurut Mohammad Noor Syam dalam

psp.ugm.ac.id/pancasila/FILSAFAT_PANCASILA_2009_pak%20Noorsyam.doc

). diakses tanggal 20 Juni 2010 bahwa istilah filsafat
). diakses tanggal 20 Juni 2010 bahwa istilah filsafat
). diakses tanggal 20 Juni 2010 bahwa istilah filsafat
). diakses tanggal 20 Juni 2010 bahwa istilah filsafat
). diakses tanggal 20 Juni 2010 bahwa istilah filsafat
). diakses tanggal 20 Juni 2010 bahwa istilah filsafat

). diakses tanggal 20 Juni 2010 bahwa istilah filsafat secara etimologis terbentuk dari kata bahasa Yunani, yaitu filos dan sophia. Filos berarti friend, love dan sophia berati learning, wisdom. Jadi, makna filsafat adalah orang yang bersahabat dan mencintai ilmu pengetahuan, serta bersikap arif bijaksana. Belajar filsafat berarti mencari kebenaran sedalam-dalamnya, kemudian menghasilkan sikap hidup arif bijaksana, seperti para pemikir filsafat (filosof). Sesungguhnya nilai ajaran filsafat telah berkembang, terutama di wilayah Timur Tengah sejak sekitar 6000-600 SM, di Mesir dan sekitar sungai Tigris dan Eufrat sekitar 5000-1000 SM. Selain itu, di daerah Palestina/Israel sebagai doktrin Yahudi sekitar 4000-1000 SM. Juga di India sekitar 3000-1000 SM serta Cina sekitar 3000-500 SM. Nilai filsafat berwujud kebenaran sedalam-dalamnya, bersifat fundamental, universal dan hakiki. Oleh karenanya dijadikan filsafat hidup oleh pemikir dan penganutnya, sedangkan pemikiran filsafat yang dianggap tertua di Eropa (Yunani) baru berkembang sekitar 650 SM. Jadi, pemikiran filsafat tertua bersumber dari wilayah Timur Tengah; sinergis dengan ajaran nilai religious. Fenomena demikian merupakan data sejarah budaya sebagai peradaban monumental, karena Timur Tengah diakui sebagai pusat berkembangnya ajaran agama supranatural (agama wahyu, revealation religions). Kita juga maklum, bahwa semua Nabi/Rasul berasal dari wilayah Timur Tengah (Yahudi,

Kristen dan Islam). Berdasarkan data demikian kita percaya bahwa nilai filsafat sinergis dengan nilai-nilai theisme religious. Karena itu pula, kami menyatakan bahwa nilai filsafat Timur Tengah dianggap sebagai sumur madu peradaban umat manusia karena kualitas dan integritas intrinsiknya yang fundamental- universal theisme religious. Nilai ajaran filsafat Barat adalah nilai filsafat natural dan rasional (ipteks) yang dianggap sebagai sumur susu peradaban. Makna uraian di atas adalah manusia atau bangsa yang ingin sehat dan jaya. Hendaknya memadukan nilai theisme religious dengan ipteks. Sebagaimana pribadi manusia yang ingin sehat minumlah susu dengan madu. Artinya, budaya dan peradaban yang luhur dan unggul akan berkembang berdasarkan nilai-nilai (moral) agama dan ipteks. Budaya dan peradaban modern mengakui bahwa perkembangan ipteks dan kebudayaan manusia bersumber dan dilandasi oleh ajaran nilai filsafat. Oleh karena itu pula, filsafat diakui sebagai induk ipteks atau philosophy as the queen and as the mother of knowledge as well). Nilai filsafat menjangkau alam metafisika dan misteri alam semesta serta visi-misi penciptaan manusia. Alam semesta dengan hukum alam memancarkan nilai supranatural dan suprarasional sebagaimana rohani manusia dan martabat budi nuraninya juga memancarkan integritas suprarasional. Sistem filsafat dan cabang-cabangnya termasuk sistem ideologi dalam kepustakaan modern diakui sebagai Kultuurwissenschaft, dan atau Geistesswissenschaft (terutama filsafat hukum, filsafat politik, filsafat manusia, filsafat ilmu, filsafat ekonomi dan filsafat etika). Menurut pendapat Notonagoro (dalam Supriatnoko, 2009:17) pengertian filsafat Pancasila mempunyai sifat mewujudkan ilmu filsafat, yaitu ilmu yang memandang Pancasila dari sudut hakikat. Pengertian hakikat adalah unsur- unsur yang tetap dan tidak berubah pada suatu objek. Hakikat abstrak diartikan sebagai sifat tidak berubah akan terlepas dari perubahan keadaan, tempat, dan waktu. Pengertian hakikat abstrak dimungkinkan bahkan diharuskan pada rumusan sila-sila Pancasila. Rumusan sila-sila Pancasila itu terdiri atas kata- kata pokok dan kata-kata sifat. Kata-kata pokok terdiri atas kata-kata dasar, yaitu Tuhan, manusia, satu, rakyat, dan adil. Empat sila dibubuhi awalan ke- dan akhiran -an dan satu pe-an. Kedua macam awalan dan akhiran itu, menurut

dan adil. Empat sila dibubuhi awalan ke- dan akhiran -an dan satu pe-an. Kedua macam awalan
dan adil. Empat sila dibubuhi awalan ke- dan akhiran -an dan satu pe-an. Kedua macam awalan
dan adil. Empat sila dibubuhi awalan ke- dan akhiran -an dan satu pe-an. Kedua macam awalan
dan adil. Empat sila dibubuhi awalan ke- dan akhiran -an dan satu pe-an. Kedua macam awalan
dan adil. Empat sila dibubuhi awalan ke- dan akhiran -an dan satu pe-an. Kedua macam awalan
dan adil. Empat sila dibubuhi awalan ke- dan akhiran -an dan satu pe-an. Kedua macam awalan

bahasa menjadikan abstrak dari kata dasarnya. Pengertian yang demikian disebut pengertian yang abstrak umum universal. Isinya sedikit tetapi luasnya tidak terbatas, artinya meliputi segala hal dan keadaan yang terdapat pada bangsa dan negara Indonesia dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat Pancasila adalah refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa, dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok pengertiannya yang mendasar dan menyeluruh. Selanjutnya, secara etimologis kata ideologi berasal dari bahasa Yunani idea yang berarti gagasan atau cita-cita dan logos yang berarti ilmu sebagai hasil pemikiran. Jadi, secara sederhana pemahaman ideologi adalah suatu gagasan atau cita-cita yang berdasarkan hasil pemikiran. Dalam arti luas, ideologi diartikan sebagai keseluruhan gagasan, cita-cita, keyakinan-keyakinan, dan nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi sebagai pedoman. Sementara dalam arti sempit, ideologi diartikan sebagai ggagasan atau teori yang menyeluruh tentang makna hidup dan nilai-nilai yang hendak menentukan dengan mutlak bagaimana manusia harus berpikir, bersikap, dan bertindak. Pancasila sebagai ideologi diartikan sebagai keseluruhan pandangan, cita-cita, dan keyakinan bangsa Indonesia mengenai sejarah, masyarakat, hukum dan negara Indonesia sebagai hasil kristalisasi nilai-nilai yang sudah ada di bumi Indonesia bersumber pada adat-istiadat, budaya, agama, dan kepercayaan TYME. Pancasila sebagai ideologi digali dan ditemukan dari kekayaan rohani, moral, dan budaya masyarakat Indonesia serta bersumber dari pandangan hidup bangsa. Oleh karena itu, ideologi Pancasila milik semua rakyat dan bangsa Indonesia. Dengan demikian, rakyat Indonesia berkewajiban untuk mewujudkan ideologi Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Oleh karena ideologi Pancasila bersumber pada manusia Indonesia, maka ideologi Pancasila merupakan ideologi terbuka. Ideologi yang dapat beradaptasi terhadap proses kehidupan baru dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain tetapi konsisten mempertahankan identitas dalam ikatan persatuan Indonesia.

dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain tetapi konsisten mempertahankan identitas dalam ikatan persatuan Indonesia.
dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain tetapi konsisten mempertahankan identitas dalam ikatan persatuan Indonesia.
dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain tetapi konsisten mempertahankan identitas dalam ikatan persatuan Indonesia.
dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain tetapi konsisten mempertahankan identitas dalam ikatan persatuan Indonesia.
dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain tetapi konsisten mempertahankan identitas dalam ikatan persatuan Indonesia.
dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain tetapi konsisten mempertahankan identitas dalam ikatan persatuan Indonesia.

3.2 Pancasila Sebagai Sistem Filsafat Pancasila bagi masyarakat Indonesia bukanlah sesuatu yang asing. Pancasila terdiri dari lima sila yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 dan diperuntukkan sebagai dasar negara Indonesia. Namun, saat ini terutama di era reformasi dan globalisasi membicarakan Pancasila dianggap sebagai keinginan untuk kembali orde baru. Oleh karena itu, kajian Pancasila pada bab ini berpijak dari kedudukan Pancasila sebagai filosofi bangsa, dasar, dan ideologi nasional. Bangsa Indonesia sebelum mendirikan negara Indonesia sudah memiliki nilai-nilai luhur yang diyakini sebagai suatu pandangan hidup, jiwa, dan kepribadian dalam pergaulan. Nilai-nilai luhur yang dimiliki masyarakat Indonesia terdapat dalam adat istiadat, budaya, agama, kepercayaan terhadap adanya Tuhan. Nilai-nilai luhur itu kemudian menjadi tolok ukur kebaikan yang berkenaan dengan hal-hal yang bersifat mendasar dan abadi, seperti cita-cita yang ingin diwujudkannya dalam hidup manusia. Pandangan hidup yang terdiri atas kesatuan rangkaian nilai-nilai luhur itu merupakan suatu wawasan yang menyeluruh terhadap kehidupan itu sendiri. Pandangan hidup atau weltanschauung berfungsi sebagai kerangka acuan, baik untuk menata kehidupan pribadi maupun dalam interaksi manusia dengan komunitas dan alam sekitarnya. Ketika cita-cita menjadi bangsa yang bersatu sudah sangat bulat untuk hidup bersama atau living together dalam suatu negara merdeka, para pendiri negara Indonesia merdeka sampai pada suatu pertanyaan yang mendasar di atas apakah negara Indonesia merdeka ini didirikan?. Pertanyaan ini muncul untuk menjawab kenyataan bahwa bangsa Indonesia yang menegara tidak mungkin memiliki pandangan hidup atau falsafah hidup yang sa ma dengan bangsa lain, karena nilai-nilai luhur yang dimiliki tiap bangsa berbeda. Untuk mengetahui secara mendalam tentang Pancasila diperlukan pendekatan filosofis. Pancasila dalam pendekatan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mendalam mengenai Pancasila. Filsafat Pancasila secara ringkas dapat didefinisikan sebagai refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila dalam bangunan bangsa dan negara Inndonesia (Syarbaini, 2003).

sebagai refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila dalam bangunan bangsa dan negara Inndonesia (Syarbaini, 2003).
sebagai refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila dalam bangunan bangsa dan negara Inndonesia (Syarbaini, 2003).
sebagai refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila dalam bangunan bangsa dan negara Inndonesia (Syarbaini, 2003).
sebagai refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila dalam bangunan bangsa dan negara Inndonesia (Syarbaini, 2003).
sebagai refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila dalam bangunan bangsa dan negara Inndonesia (Syarbaini, 2003).
sebagai refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila dalam bangunan bangsa dan negara Inndonesia (Syarbaini, 2003).

Selanjutnya, Pancasila dalam pendekatan filsafat akan dibahas menjadi dua bagian, berikut ini.

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Berdasarkan pemikiran filsafat Pancasila pada dasarnya merupakan suatu nilai. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, yaitu nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan. Nilai berasal dari bahasa Inggris value dan bahasa Latin valere artinya kuat, baik, dan berharga. Jadi, nilai adalah suatu penghargaan atau kualitas terhadap

suatu hal yang dapat menjadi dasar penentu tingkah laku manusia. Ciri-ciri nilai adalah suatu yang abstrak bersifat normatif sebagai motivator/daya dorong manusia dalam bertindak. 2) Perwujudan nilai Pancasila sebagai norma bernegara. Ada hubungan antara nilai dengan norma. Norma atau kaidah adalah aturan atau pedoman bagi manusia dalam berperilaku sebagai perwujudan dari nilai. Nilai yang abstrak dan normatif dijabarkan dalam wujud norma. Nilai-nilai luhur yang diyakini sebagai suatu pandangan hidup yang berkembang dalam masyarakat Indonesia sebelum menegara itulah yang kemudian oleh para pendiri negara digali kembali, ditemukan, dirumuskan, dan selanjutnya disepakati dalam rapat Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) sebagai dasar filsafat negara atau filosofische grondslag dari negara yang akan didirikan. Nilai-nilai luhur yang diyakini sebagai suatu pandangan hidup masyarakat Indonesia itu terdiri atas keimanan dan ketaqwaan, nilai keadilan dan keberadaban, nilai persatuan dan kesatuan, nilai mufakat, dan nilai kesejahteraan. Nilai-nilai luhur tersebut kemudian disepakati oleh para pendiri negara sebagai dasar filsafat negara Indonesia merdeka, yang oleh Ir. Soekarno diusulkan bernama Pancasila. Menurut PPKI, rumusan nilai dasar Negara tersebut diformulasikan kembali sebagai lima sila Pancasila dengan urutan berikut ini. 1) Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab; 3) Persatuan Indonesia;

1)

dengan urutan berikut ini. 1) Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab; 3)
dengan urutan berikut ini. 1) Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab; 3)
dengan urutan berikut ini. 1) Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab; 3)
dengan urutan berikut ini. 1) Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab; 3)
dengan urutan berikut ini. 1) Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab; 3)
dengan urutan berikut ini. 1) Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab; 3)

4) Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan; dan 5) Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Pada tanggal 18 Agustus 1945, PPKI menetapkan Pancasila secara resmi sebagai pandangan hidup bangsa dan pandangan hidup negara. Dengan demikian, Pancasila adalah filsafat negara yang lahir sebagai cita-cita bersama atau collective ideology dari seluruh bangsa Indonesia. Dikatakan sebagai filsafat, karena Pancasila merupakan hasil perenungan jiwa yang mendalam, yang dilakukan oleh para pendiri negara Indonesia. Dalam pengertian inilah, maka sebelum masyarakat Indonesia menjadi bangsa yang menegara, nilai-nilai luhur Pancasila telah menjadi bagian dari kehidupan diri pribadi dan masyarakatnya. Setelah masyarakat Indonesia menjadi bangsa dalam NKRI, nilai-nilai Pancasila itu dilembagakan sebagai pandangan hidup bangsa dan juga dilembagakan sebagai pandangan hidup bangsa. Pandangan hidup bangsa dapat disebut sebagai ideologi bangsa dan pandangan hidup negara dapat disebut ideologi negara. Transformasi pandangan hidup masyarakat menjadi padangan hidup bangsa dan akhirnya menjadi ideologi negara dimaksudkan untuk memungkinkan bangsa Indonesia dalam mengelola bangsa dan negara memiliki satu kesatuan sistem filsafat yang jelas dan sama. Dengan demikian bangsa Indonesia memiliki satu pedoman dan sumber nilai sebagai hasil karya besar bangsa Indonesia di dalam memecahkan berbagai persoalan politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan keamanan serta hukum dalam gerak kemajuan bangsa dan negara Indonesia, yaitu Pancasila. Secara ontologis, epistemologis dan axiologis sistem filsafat Pancasila mengandung ajaran tentang potensi dan martabat kepribadian manusia (SDM) yang dianugerahi martabat mulia sebagaimana terjabar dalam ajaran HAM berdasarkan filsafat Pancasila ! Keunggulan dan kemuliaan ini merupakan anugerah dan amanat Tuhan Yang Maha Esa, Allah Yang Maha Kuasa, Maha Rahman dan Maha Rahim sebagai tersurat di dalam Pembukaan UUD Proklamasi 1945 sebagai asas kerokhanian bangsa dan NKRI.

Rahman dan Maha Rahim sebagai tersurat di dalam Pembukaan UUD Proklamasi 1945 sebagai asas kerokhanian bangsa
Rahman dan Maha Rahim sebagai tersurat di dalam Pembukaan UUD Proklamasi 1945 sebagai asas kerokhanian bangsa
Rahman dan Maha Rahim sebagai tersurat di dalam Pembukaan UUD Proklamasi 1945 sebagai asas kerokhanian bangsa
Rahman dan Maha Rahim sebagai tersurat di dalam Pembukaan UUD Proklamasi 1945 sebagai asas kerokhanian bangsa
Rahman dan Maha Rahim sebagai tersurat di dalam Pembukaan UUD Proklamasi 1945 sebagai asas kerokhanian bangsa
Rahman dan Maha Rahim sebagai tersurat di dalam Pembukaan UUD Proklamasi 1945 sebagai asas kerokhanian bangsa

Sesungguhnya ajaran filsafat merupakan sumber, landasan dan identitas tatanan atau sistem nilai kehidupan umat manusia. Sedemikian berkembang, maka khasanah ajaran nilai filsafat kuantitati-kualitatif terus meningkat; terbukti dengan berbagai aliran (sistem) filsafat yang memberikan identitas berbagai sistem budaya, sistem kenegaraan dan peradaban bangsa-bangsa modern. Nilai-nilai filsafat, termasuk filsafat Pancasila ditegakkan (dan dibudayakan) dalam peradaban manusia modern khususnya bangsa Indonesia, terutama :

1. Aktualisasi Integritas Sistem Kenegaraan Pancasila-UUD Proklamasi 45; 2. Aktualisasi nilai kebangsaan dan kenegaraan Indonesia Raya; dan 3. Secara ontologis-axiologis bangsa Indonesia belum secara signifikan melaksanakan visi-misi yang diamanatkan oleh sistem filsafat Pancasila, sebagaimana terjabar dalam UUD Proklamasi 1945. Dalam dinamika peradaban modern, semua bangsa berkembang dan menegakkan tatanan kehidupan nasionalnya dengan sistem kenegaraan. Sistem kenegaraan ini dijiwai, dilandasi dan dipandu oleh sistem filsafat dan atau sistem ideologi; seperti theokratisme, liberalisme-kapitalisme, sosialisme, zionisme, marxisme-komunisme-atheisme, naziisme, fascisme, serta Pancasilaisme. Agar lebih jelas mengenai Pancasila sebagai kesatuan sistem filsafat memiliki dasar ontologis, dasar epistemologis, dan dasar aksiologis.

A. Dasar Ontologis

Ontologi adalah cabang filsafat yang mengkaji tentang hakikat segala sesuatu yang ada atau untuk menjawab pertanyaan “apakah kenyataan itu?”. Pancasila terdiri atas lima sila yang saling mengikat, sedangkan subjek pendukung pokok sila-sila Pancasila adalah manusia. Secara filsafat, Pancasila merupakan dasar filsafat negara. Dengan demikian, hakikat dasar ontologis sila-sila Pancasila secara ontologis memiliki hakikat mutlak monopluralis, yaitu

memiliki susunan kodrat, sifat kodrat, dan kedudukan kodrat. Jadi, Pancasila secara hierarkis sila-silanya saling menjiwai dan dijiwai satu sama lain. Selanjutnya, Pancasila secara dasar filsafat negara Indonesia memiliki susunan lima sila yang merupakan suatu persatuan dan kesatuan serta mempunyai sifat dasar kesatuan yang mutlak, yaitu berupa sifat kodrat

yang merupakan suatu persatuan dan kesatuan serta mempunyai sifat dasar kesatuan yang mutlak, yaitu berupa sifat
yang merupakan suatu persatuan dan kesatuan serta mempunyai sifat dasar kesatuan yang mutlak, yaitu berupa sifat
yang merupakan suatu persatuan dan kesatuan serta mempunyai sifat dasar kesatuan yang mutlak, yaitu berupa sifat
yang merupakan suatu persatuan dan kesatuan serta mempunyai sifat dasar kesatuan yang mutlak, yaitu berupa sifat
yang merupakan suatu persatuan dan kesatuan serta mempunyai sifat dasar kesatuan yang mutlak, yaitu berupa sifat
yang merupakan suatu persatuan dan kesatuan serta mempunyai sifat dasar kesatuan yang mutlak, yaitu berupa sifat

monodualis. Sebagai konsekuensinya, nilai-nilai Pancasila yang merupakan satu kesatuan yang utuh dengan sifat dasar mutlaknya berupa sifat kodrat manusia tersebut menjadi dasar dan jiwa bagi bangsa Indonesia. Hal ini berarti bahwa dalam setiap aspek penyelenggaraan negara harus berpedoman dan

bersumber pada nilai-nilai Pancasila, seperti bentuk negara, sifat negara, tujuan negara, tugas dan kewajiban negara dan warga negara, sistem hukum negara, moral negara, dan segala aspek penyelenggaraan negara lainnya.

B. Dasar Epistemologis

Epistemologis adalah cabang ilmu filsafat yang mengkaji tentang apakah kebenaran atau apakah hakikat ilmu pengetahuan. Upaya untuk mendapatkan

jawaban tentang kebenaran dilakukan pembuktian melalui ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, kajian epistemilogisfilsafat Pancasila dimaksudkan sebagai upaya untuk mencari hakikat Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan. Ada tiga persoalan mendasar dalam kajian epistemologis, yaitu :

(2) C.
(2)
C.
mendasar dalam kajian epistemologis, yaitu : (2) C. (1) Sumber pengetahuan manusia; Teori kebenaran pengetahuan
mendasar dalam kajian epistemologis, yaitu : (2) C. (1) Sumber pengetahuan manusia; Teori kebenaran pengetahuan
mendasar dalam kajian epistemologis, yaitu : (2) C. (1) Sumber pengetahuan manusia; Teori kebenaran pengetahuan
mendasar dalam kajian epistemologis, yaitu : (2) C. (1) Sumber pengetahuan manusia; Teori kebenaran pengetahuan
mendasar dalam kajian epistemologis, yaitu : (2) C. (1) Sumber pengetahuan manusia; Teori kebenaran pengetahuan

(1) Sumber pengetahuan manusia;

Teori kebenaran pengetahuan manusia; dan

(3) Watak pengetahuan manusia.

Dasar Aksiologis

Aksiologi adalah cabang ilmu filsafat yang mengkaji tentang nilai praktis atau manfaat suatu pengetahuan. Kajian aksiologi filsafat Pancasila pada hakikatnya mengkaji tentang nilai praktis atau manfaat suatu pengetahuan tentang Pancasila. Dengan demikian, dasar aksiologi Pancasila mengandung arti bahwa pembahasan tertuju pada filsafat nilai Pancasila. Dalam memandang tentang nilai, sebagai berikut :

(1) Menurut sudut pandang subjektif, bahwa sesuatu bernilai karena berkaitan dengan subjek pemberi nilai, yaitu manusia. (2) Menurut sudut pandang objektif, bahwa hakikatnya sesuatu itu melekat pada dirinya sendiri memang bernilai.

3.3 Susunan Isi Arti Pancasila Pancasila sebagai suatu sistem susunan pengetahuan memiliki susunan bersifat formal logis dalam arti susunan sila-sila Pancasila sebagaimana telah dibahas pada bagian epistemologis. Adapun susunan isi arti sila-sila Pancasila,

meliputi tiga hal, yaitu : (1) isi arti Pancasila yang abstrak umum universal; (2) isi arti Pancasila yang umum kolektif; dan (3) isi arti Pancasila yang khusus kongkrit. Pertama, isi arti Pancasila yang abstrak umum universal merupakan inti dari atau esensi Pancasila sehingga menjadi pangkal tolak pelaksanaan pada bidang-bidang kenegaraan, tertib hukum Indonesia, dan realisasi praktisnya dalam berbagai bidang kehidupan konkrit. Isi arti Pancasila yang abstrak umum universal sebagai prinsip dasar umum merupakan pengertian yang sama bagi bangsa Indonesia. Realisasi pelaksanaan Pancasila dalam kehidupan memerlukan pengkhususan isi rumusannya yang secara abstrak umum universal menjadi pengertian yang umum kolektif dan khusus konkret. Isi arti umum kolektif adalah realisasinya dalam bidang-bidang kehidupan. Pancasila sebagai pedoman dan sumber nilai kolektif bangsa dan negara Indonesia terutama dalam tertib hukum Indonesia, sedangkan isi arti khusus konkrit dimaksudkan bagi realisasi praktis dalam suatu lapangan kehidupan tertentu sehingga memiliki sifat khusus konkrit. Isi arti Pancasila yang abstrak umum universal yang bersumber dari hakikat Tuhan, manusia, satu, rakyat, adil merupakan konsep filsafat Pancasila yang bercorak tematis. Selanjutnya, diuraikan menjadi isi arti Pancasila yang umum kolektif dan khusus konkret sebagai sistem etika Pancasila yang bercorak normatif, yaitu bahwa hakikat manusia adalah untuk memiliki sifat dan keadaan yang berketuhanan, berkemanusiaan, berpersatuan, berkerakyatan, berkeadilan sosial dalam praktik kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

praktik kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 3.4 Asal Mula Pancasila Sebagai Ideologi Nilai Filsafat
praktik kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 3.4 Asal Mula Pancasila Sebagai Ideologi Nilai Filsafat
praktik kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 3.4 Asal Mula Pancasila Sebagai Ideologi Nilai Filsafat
praktik kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 3.4 Asal Mula Pancasila Sebagai Ideologi Nilai Filsafat
praktik kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 3.4 Asal Mula Pancasila Sebagai Ideologi Nilai Filsafat
praktik kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 3.4 Asal Mula Pancasila Sebagai Ideologi Nilai Filsafat

3.4 Asal Mula Pancasila Sebagai Ideologi Nilai Filsafat Pancasila berkembang dalam budaya dan peradaban Indonesia terutama sebagai jiwa dan asas kerokhanian bangsa dalam perjuangan kemerdekaan dari kolonialisme-imperialisme 1596-1945. Nilai filsafat Pancasila baik sebagai pandangan hidup (filsafat hidup, Weltanschauung) bangsa, sekaligus sebagai jiwa bangsa (Volksgeist, jatidiri nasional) memberikan identitas dan integritas serta martabat (kepribadian)

bangsa dalam budaya dan peradaban dunia modern; sekaligus sumber motivasi dan spirit perjuangan bangsa Indonesia. Nilai filsafat Pancasila secara filosofis-ideologis dan konstitusional berkembang dalam sistem kenegaraan Indonesia yang dinamakan sebagai sistem kenegaraan Pancasila yang terjabar dalam UUD 1945. Jadi, tegaknya bangsa dan NKRI sebagai bangsa merdeka, berdaulat, bersatu dan bermartabat amat ditentukan oleh tegaknya integritas sistem kenegaraan Pancasila dan UUD 1945. Berdasarkan analisis normatif filosofis-ideologis dan konstitusional, semua komponen bangsa wajib setia dan bangga (mengikat, memaksa) kepada sistem kenegaraan Pancasila sebagaimana terjabar dalam UUD 1945, termasuk kewajiban bela negara. Sebagai bangsa dan negara modern, kita mewarisi nilai-nilai fundamental filosofis-ideologis sebagai pandangan hidup bangsa (filsafat hidup, Weltanschauung) yang telah menjiwai dan sebagai identitas bangsa (jatidiri nasional, Volksgeist) Indonesia. Nilai-nilai fundamental warisan sosio-budaya Indonesia ditegakkan dan dikembangkan dalam sistem kenegaraan Pancasila, sebagai pembudayaan dan pewarisan bagi generasi penerus. Kehidupan nasional sebagai bangsa merdeka dan berdaulat sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 berwujud NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sistem NKRI ditegakan oleh kelembagaan negara (suprastruktur) bersama semua komponen bangsa, yakni infrastruktur dan warganegara berkewajiban menegakkan asas normatif filosofis-ideologis secara konstitusional, yakni UUD 1945 seutuhnya sebagai wujud kesetiaan dan kebanggaan nasional. Nilai-nilai fundamental dimaksud terutama filsafat hidup (Weltanschauung) bangsa yang oleh pendiri negara (PPKI) dengan jiwa hikmat kebijaksanaan dan kenegarawanan, musyawarah mufakat menetapkan dan mengesahkan sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Berdasarkan legalitas dan otoritas PPKI sebagai pendiri negara, maka UUD 1945 sesungguhnya mengikat (imperatif) seluruh komponen bangsa untuk setia menegakkan dan membudayakannya.

maka UUD 1945 sesungguhnya mengikat (imperatif) seluruh komponen bangsa untuk setia menegakkan dan membudayakannya.
maka UUD 1945 sesungguhnya mengikat (imperatif) seluruh komponen bangsa untuk setia menegakkan dan membudayakannya.
maka UUD 1945 sesungguhnya mengikat (imperatif) seluruh komponen bangsa untuk setia menegakkan dan membudayakannya.
maka UUD 1945 sesungguhnya mengikat (imperatif) seluruh komponen bangsa untuk setia menegakkan dan membudayakannya.
maka UUD 1945 sesungguhnya mengikat (imperatif) seluruh komponen bangsa untuk setia menegakkan dan membudayakannya.
maka UUD 1945 sesungguhnya mengikat (imperatif) seluruh komponen bangsa untuk setia menegakkan dan membudayakannya.

Selanjutnya, asal mula terbentuknya Pancasila sebagai ideologi bangsa

dan negara Indonesia, dapat ditelusuri dari proses pembentukannya, berikut ini.

1)

Kausa Materialis Pancasila yang sekarang menjadi ideologi negara bersumber pada bangsa Indonesia. Artinya bangsa Indonesia sebagai kausa materialis (asal mula bahan) dari adanya Pancasila. Nilai-nilai Pancasila digali dari kekayaan bangsa Indonesia, berupa adat istiadat, budaya, dan nilai religius yang terpelihara dan berkembang sebagai pandangan hidup atau ideologi bangsa. Kausa Formalis Kausa formalis (asal mula bentuk) Pancasila sebagai ideologi negara merujuk kepada bagaimana proses Pancasila itu dirumuskan menjadi Pancasila yang terkandung pada Pembukaan UUD 1945, yaitu berasal mula bentuk pada pidato Ir. Soekarno yang selanjutnya dibahas dalam sidang BPUPKI khsususnya mengenai bentuk rumusan dan nama. Kausa Efisien Kausa efisien adalah asal mula karya yang menjadikan Pancasila dari calon ideologi negara menjadi ideologi negara adalah PPKI yang berperan sebagai pembentuk negara. Sebagai pemegang kuasa pembentuk negara, PPKI mengesahkan Pancasila menjadi ideologi negara yang sah setelah melalui pembahasan mendalam pada sidang-sidang BPUPKI. Kausa Finalis Pancasila dirumuskan dan dibahas pada sidang-sidang para pendiri negara untuk diwujudkan sebagai ideologi negara yang sah. Kausa finalis (asal mula tujuan) mewujudkan Pancasila sebagai ideologi negara yang sah adalah para anggota BPUPKI dan Panitia Sembilan. Para anggota dari badan itulah yang menentukan tujuan dirumuskannya Pancasila ditetapkan oleh PPKI sebagai ideologi negara yang sah.

ditetapkan oleh PPKI sebagai ideologi negara yang sah. 2) 3) 4) 3.5 Hakikat A. Hakikat Ideologi
ditetapkan oleh PPKI sebagai ideologi negara yang sah. 2) 3) 4) 3.5 Hakikat A. Hakikat Ideologi
ditetapkan oleh PPKI sebagai ideologi negara yang sah. 2) 3) 4) 3.5 Hakikat A. Hakikat Ideologi
ditetapkan oleh PPKI sebagai ideologi negara yang sah. 2) 3) 4) 3.5 Hakikat A. Hakikat Ideologi

2)

3)
3)
ditetapkan oleh PPKI sebagai ideologi negara yang sah. 2) 3) 4) 3.5 Hakikat A. Hakikat Ideologi

4)

3.5 Hakikat

A. Hakikat Ideologi Pancasila

Pada hakikatnya ideologi Pancasila tidak lain adalah hasil refleksi bangsa Indonesia berkat kemampuannya mengadakan distansi terhadap dunia

dan Fungsi Ideologi Pancasila

kehidupannya. Antara keduanya, yaitu ideologi dan kenyataan hidup bangsa terjadi hubungan dialektis, sehingga berlangsung pengaruh timbal balik yang terwujud dalam interaksi yang disatu pihak memacu ideologi makin realitas dan dilain pihak mendorong bangsa Indonesia untuk teruus berusaha mendekati bentuk yang ideal. Ideologi mencerminkan cara berpikir bangsa Indonesia, namun juga membentuk bangsa Indonesia menuju cita-cita. Dengan demikian ideologi bukanlah sebuah pengetahuan teoritis belaka tetapi merupakan sesuatu yang dihayati menjadi sebuah keyakinan. Ideologi Pancasila adalah satu pilihan yang jelas membawa komitmen bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkannya. Oleh karena itu, semakin mendalam kesadaran ideologis setiap bangsa Indonesia akan berarti semakin tinggi pula rasa komitmennya untuk melaksanakannya. Komitmen itu tercermin dalam sikap setiap orang Indonesia yang meyakini ideologisnya sebagai ketentuan-ketentuan normatif yang harus ditaati dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. B. Fungsi Ideologi Pancasila Sebagai Ideologi Negara
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. B. Fungsi Ideologi Pancasila Sebagai Ideologi Negara
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. B. Fungsi Ideologi Pancasila Sebagai Ideologi Negara
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. B. Fungsi Ideologi Pancasila Sebagai Ideologi Negara
B.
B.
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. B. Fungsi Ideologi Pancasila Sebagai Ideologi Negara Pancasila

Fungsi Ideologi Pancasila Sebagai Ideologi Negara

Pancasila sebagai ideologi negara memberikan orientasi yang lebih eksplisit dan terarah kepada keseluruham sistem masyarakat dalam berbagai aspeknya dan dilakukan dengan cara dan penjelasan yang lebih logis dan sistematis. Pancasila sebagai ideologi negara berawal dalam fungsinya sebagai pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia. Kemudian oleh para pendiri negara prinsip-prinsip dasarnya dieksplisitasi lebih lanjut ke dalam kondisi hidup modern dan dibersihkan dari unsur-unsur magis atau mistik. Ideologi Pancasila bukanlah agama. Pedoman dan sumber nilai bermsyarakat yang diberikan oleh ideologi Pancasila ditujukan langsung untuk kehidupan dunia ini. Merujuk pada uraian di atas, maka fungsi ideologi Pancasila bagi bangsa dan negara Indonesia adalah untuk memberikan :

(1) Struktur kognitif berupa keseluruhan pengetahuan yang dapat menjadi landasan untuk memahami dan menafsirkan dunia dan kejadian alam sekitar; (2) Orientasi dasar dengan membuka wawasan yang memberikan makna serta menunjukkan tujuan dalam kehidupan bangsa dan negara Indonesia;

(3) Norma-norma yang menjadi pedoman dan sumber nilai bagi bangsa Indonesia untuk melangkah dan bertindak; (4) Bekal dan jalan bagi orang perorangan untuk menemukan identitasnya sebagai bangsa Indonesia; (5) Kekuatan yang mampu mengyemangati dan mendorong bangsa Indonesia untuk menjalankan aktivitas dan mencapai tujuan; dan (6) Pendidikan bagi masyarakat untuk memahami, menghayati, serta mempolakan tingkah lakunya sesuai dengan orientasi dan norma-norma yang terkandung di dalam ideologi Pancasila.

3.6 Pancasila

A. Prinsip dan Faktor Pendorong Keterbukaan Pancasila Sejak ditetapkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 sebagai ideologi bangsa dan negara, Pancasila memiliki sifat hakikat sebagai ideologi terbuka. Pada prinsipnya, yaitu :

Sebagai Ideologi Terbuka

terbuka. Pada prinsipnya, yaitu : Sebagai Ideologi Terbuka (1) Keterbukaan ideologi Pancasila bukan berarti membuka
terbuka. Pada prinsipnya, yaitu : Sebagai Ideologi Terbuka (1) Keterbukaan ideologi Pancasila bukan berarti membuka
terbuka. Pada prinsipnya, yaitu : Sebagai Ideologi Terbuka (1) Keterbukaan ideologi Pancasila bukan berarti membuka
terbuka. Pada prinsipnya, yaitu : Sebagai Ideologi Terbuka (1) Keterbukaan ideologi Pancasila bukan berarti membuka
terbuka. Pada prinsipnya, yaitu : Sebagai Ideologi Terbuka (1) Keterbukaan ideologi Pancasila bukan berarti membuka
terbuka. Pada prinsipnya, yaitu : Sebagai Ideologi Terbuka (1) Keterbukaan ideologi Pancasila bukan berarti membuka

(1) Keterbukaan ideologi Pancasila bukan berarti membuka pintu lebar-lebar untuk menerima begitu saja hal-hal dari luar yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, tetapi dalam prinsip untuk memperkaya wawasan dan orientasi dalam hidup bermasyarakat, berbangs, dan bernegara. (2) Keterbukaan ideologi Pancasila menjamin tidak totaliter. Maksudnya adalah warganegara sebagai makhluk individu sekaligus sebagai makhluk sosial. (3) Keterbukaan menjadikan Pancasila tidak eksklusif, artinya nilai-nilai dasar Pancasila dapat menyaring unsur-unsur baru yang dapat memperkaya perkembangan dan pelaksanaan ideologi Pancasila secara positif ke arah kemajuan kehidupan bangsa dan negara. (4) Keterbukaan mendorong Pancasila menjadi dinamis. Oleh karena, setiap warga negara Indonesia berkewajiban untuk mengubah nilai dasar Pancasila menjadi operasional ke dalam sistem kehidupan kenegaraan secara nasional. Beberapa faktor yang mendorong Pancasila sebagai ideologi terbuka, antara lain :

a) Kenyataan bahwa dalam proses pembangunan nasional, dinamika masyarakat Indonesia berkembang dengan sangat cepat sehingga memerlukan kejelasan sikap secara ideologis.

b) Kenyataan menunjukkan bahwa bangkrutnya ideologi tertutup, seperti komunisme cenderung mengisolasi diri dari perkembangan lingkungan.

c) Pengalaman sejarah politik bangsa Indonesia masa lalu, seperti pada waktu besarnya pengaruh komunisme. Pancasila pernah menjadi doktrin yang kaku.

d) Tekad untuk membangkitkan kembali kesadaran bangsa Indonesia terhadap nilai-nilai dasar Pancasila yang bersifat abadi dan hasrat mengembangkannya secara kreatif-dinamis dalam rangka mewujudkan cita-cita tujuan nasional.

1.
1.
dalam rangka mewujudkan cita-cita tujuan nasional. 1. B. Tiga Dimensi Ideologi Pancasila Pancasila sebagai
dalam rangka mewujudkan cita-cita tujuan nasional. 1. B. Tiga Dimensi Ideologi Pancasila Pancasila sebagai
dalam rangka mewujudkan cita-cita tujuan nasional. 1. B. Tiga Dimensi Ideologi Pancasila Pancasila sebagai
dalam rangka mewujudkan cita-cita tujuan nasional. 1. B. Tiga Dimensi Ideologi Pancasila Pancasila sebagai
dalam rangka mewujudkan cita-cita tujuan nasional. 1. B. Tiga Dimensi Ideologi Pancasila Pancasila sebagai

B. Tiga Dimensi Ideologi Pancasila Pancasila sebagai ideologi memiliki dimensi-dimensi realitas, idealitas, dan fleksibilitas.

Dimensi Realitas Nilai yang terkandung dalam Pancasila bersumber dari nilai-nilai yang riil dan hidup di dalam masyarakat sehingga nilai-nilai dasar ideologi Pancasila hidup tertanam dan berakar dalam masyarakat. Ideologi Pancasila bersumber dari pandangan hidup yang terpelihara dalam adat istiadat, budaya, agama dan kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap TYME.

2. Dimensi Idealitas Ideologi Pancasila mengandung cita-cita yang ingin dicapai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Cita-cita bangsa Indonesia telah dicantumkan dengan jelas pada Alinea II Pembukaan UUD 1945 yang juga berfungsi sebagai penuangan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan.

3. Dimensi Fleksibilitas Ideologi Pancasila bersifat terbuka dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia sebab memiliki kemampuan berinteraksi dan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan pemikiran baru yang relevan dengan perubahan dan kemajuan zaman.

C. Tingkatan Nilai Ideologi Pancasila Pancasila sebagai ideologi terbuka mengandung nilai dasar yang bersifat tetap, tidak berubah, dan tidak langsung, serta dapat dioperasionalkan. Untuk dapat diterapkan dalam bentuk pola pikir yang dinamis dan konseptual, nilai

dasar Pancasila harus diuraikan terlebih dahulu ke dalam nilai instrumental kemudian ke dalam nilai praksis. Oleh karena itu, ada tiga tingkatan nilai dalam ideologi Pancasila, yaitu:

Nilai Dasar Nilai atau norma dasar Pancasila merupakan wujud dari isi arti Pancasila yang abstrak umum universal, bersifat tidak berubah, tidak terikat dengan tempat dan waktu. Nilai dasar ini berbentuk kaidah-kaidah hakiki menyangkut eksistensi negara, cita-cita, tujuan, tatanan dasar dan ciri-ciri khasnya. Nilai Instrumental Nilai instrumental menjadi sarana mewujudkan nilai dasar. Nilai instrumental merupakan wujud dari isi arti Pancasila yang umum kolektif, penerapannya secara kontekstual disesuaikan dengan tuntutan zaman, akan terkristalisasi dalam lembaga-lembaga yang sesuai dengan kebutuhan tempat dan waktu. Nilai instrumental dapat berbentuk kebijakan, strategi, organisasi, sistem, rencana, atau program-program yang merupakan tindak lanjut dari nilai dasar.

c) Nilai Praksis Nilai praksis merupakan wujud dari isi arti Pancasila yang khusus konkret. Nilai praksis adalah wahana pelaksanaan nilai dasar dan instrumental secara nyata dan sesungguhnya. Nilai praksis sebagai wahana untuk menunjukkan bahwa nilai dasar berfungsi dalam kehidupan sekaligus sebagai sarana mengevaluasi atas keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan nilai dasar dalam sesuatu bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

a)

b)
b)
atau kegagalan pelaksanaan nilai dasar dalam sesuatu bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. a) b)
atau kegagalan pelaksanaan nilai dasar dalam sesuatu bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. a) b)
atau kegagalan pelaksanaan nilai dasar dalam sesuatu bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. a) b)
atau kegagalan pelaksanaan nilai dasar dalam sesuatu bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. a) b)
atau kegagalan pelaksanaan nilai dasar dalam sesuatu bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. a) b)

BAB IV IDENTITAS NASIONAL

4.1 Pengertian Identitas Nasional

Istilah identitas nasional dapat disamakan dengan identitas kebangsaan. Secara etimologis, identitas nasional berasal dari kata identitas dan nasional. Kata identitas berasal dari bahasa Inggris yaitu identity yang berarti ciri, tanda, atau jati diri yang diimiliki oleh seseorang, kelompok, masayarakat bahkan bangsa. Sementara nasional berasal dari kata national yang diartikan sebagai kelompok persekutuan hidup manusia yang lebih besar. Oleh karena itu, identitas nasional merujuk pada identitas bangsa dalam pengertian politik atau politic unity.

a) b) c) d)
a)
b)
c)
d)
pengertian politik atau politic unity . a) b) c) d) Identitas nasional Indonesia yang menunjukkan pada
pengertian politik atau politic unity . a) b) c) d) Identitas nasional Indonesia yang menunjukkan pada
pengertian politik atau politic unity . a) b) c) d) Identitas nasional Indonesia yang menunjukkan pada
pengertian politik atau politic unity . a) b) c) d) Identitas nasional Indonesia yang menunjukkan pada
pengertian politik atau politic unity . a) b) c) d) Identitas nasional Indonesia yang menunjukkan pada

Identitas nasional Indonesia yang menunjukkan pada identitas-identitas yang sifatnya nasional. Beberapa bentuk identitas nasional Indonesia, sebagai berikut :

Bahasa nasional; Dasar negara; Lagu kebangsaan; Lambang negara;

e) Semboyan negara;

f) Bendera negara;

g) Konstitusi negara;

h) Bentuk negara;

i) Konsepsi; dan

j) Kebudayaan nasional.

4.2

Unsur Pembentuk Identitas Nasional Adapun unsur pembentuk identitas nasional bangsa Indonesia, yaitu:

1)

Wilayah geografi Wilayah geografi Indonesia secara historis adalah wilayah yang semula menjadi wilayah kekuasaan dua kerajaan besar, yakni Sriwijaya dan Majapahit, meliputi seluruh wilayah nusantara, sebagian Thailand, Malaysia, Singapura, sampai ke Filipina. Ketika bangsa Indonesia

menyatakan diri menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, secara politik par pendiri negara menetapkan bahwa wilayah geografi yang menjadi identitas negara Indonesia adalah seluruh wilayah nusantara yang meliputi seluruh bekas jajahan Belanda. Suku bangsa Suku bangsa sebagai unsur pembentuk identitas nasional dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu suku bangsa askriptif dan kelompok migran. Suku bangsa askriptif adalah suku bangsa yang sudah ada di wilayah geografi nusantara, sedangkan kelompok migran adalah mereka yang telah menyatakan diri menjadi warga negara dan setia terhadap Pancasila

sebagai pandangan hidup bangsa, ideologi dan dasar negara. Kelompok migran di Indonesia meliputi, migran dari Asia (Tionghoa, Arab, dan India), migran dari Eropa (Belanda, Jerman, Italia), migran dari Amerika (Kanada dan Amerika Serikat), migran dari Afrika (Mesir dan Nigeria). Oleh karena itu, bangsa Indonesia terbentuk dari ras dan suku bangsa yang majemuk, sebagian besar termasuk suku bangsa askriptif. Secara keseluruhan, di Indonesia terdapat lebih kurang 300 suku bangsa dengan bahasa dan dialek yang berbeda. Agama Agama menjadi unsur pembentuk identitas nasional berdasarkan realitas bahwa bangsa Indonesia tergolong sebagai rakyat agamis, yang secara sadar bersama-sama membangun hubungan yang rukun antar umat seagama dan antar umat beragama. Bagi bangsa Indonesia, kemajemukan dalam beragama merupakan anugerah dari TYME yang wajib disyukuri dan dikelola secara wajar. Sebagai upaya mencegah resiko konflik antar umat beragama diantaranya adalah saling mengakui secara positif keberadaan agama dan para pemeluk serta saling menghormati prinsip satu sama lain.

4) Kebudayaan Kebudayaan menjadi unsur pembentuk identitas nasional karena realitas bahwa kebudayaan yang dipelihara dan berkembang di dalam lingkungan setiap suku bangsa berisi nilai-nilai dasar yang secara kolektif digunakan oleh para pendukungnya untuk menafsiirkan dan memahami lingkungan

2)

3)
3)
nilai-nilai dasar yang secara kolektif digunakan oleh para pendukungnya untuk menafsiirkan dan memahami lingkungan 2) 3)
nilai-nilai dasar yang secara kolektif digunakan oleh para pendukungnya untuk menafsiirkan dan memahami lingkungan 2) 3)
nilai-nilai dasar yang secara kolektif digunakan oleh para pendukungnya untuk menafsiirkan dan memahami lingkungan 2) 3)
nilai-nilai dasar yang secara kolektif digunakan oleh para pendukungnya untuk menafsiirkan dan memahami lingkungan 2) 3)
nilai-nilai dasar yang secara kolektif digunakan oleh para pendukungnya untuk menafsiirkan dan memahami lingkungan 2) 3)

5)

serta digunakan sebagai pedoman berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan lingkungan yang dihadapi. Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia yang sekarang digunakan sebagai bahasa pemersatu bangsa Indonesia berawal dari bahasa Melayu. Dalam interaksi antar suku bangsa yang mendiami kepulauan nusantara, bahasa melayu telah menjadi bahasa penghubung (lingua franca) jauh sebelum kemerdekaan. Dalam fungsinya sebagai bahasa penghubung itulah bahasa melayu kemudian ditetapkan oleh para pemuda dari Sabang sampai Merauke sebagai bahasa persatuan dalam ikrar Sumpah Pemuda.

4.3 Perjuangan Menjadi Satu Bangsa Bangsa yang sekarang disebut bangsa Indonesia terbentuk dari kumpulan berbagai suku bangsa yang khususnya telah mendiami kepulauan nusantara. Mereka hidup berkelompok sebagai rakyat dalam wilayah kerajaan- kerajaan. Bangsa Indonesia mengalami berbagai era pemerintahan kerajaan, dari kerajaan bbercorak Hindu dan Budha sampai pada kerajaan yang bercorak Islam. Setiap kerajaan merupakan sebuah pemerintahan otonom yang saling menjaga hubungan baik satu sama lain, akan tetapi berjalan secara sendiri. Perlawanan yang tersebar di setiap daerah ataupun peperangan melawan penjajah yang dilakukan oleh pemimpin keadaerahan, kepala suku, bahkan raja sekalipun belum mampu mengusir penjajah dari bumi nusantara secara keseluruhan. Dampak langsung dari kejadian sebagai bangsa yang terjajah adalah rakyat Indonesia mengalami keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan akibat ditutupnya kesempatan belajar bagi rakyat pribumi. Kesadaran bangsa Indonesia bangkit untuk berbangsa sejalan dengan terjadinya pergolakan kebangkitan bangsa-bangsa terjajah di dunia untuk membentuk negara merdeka, berdaulat, dan mengatur diri sendiri menurut kekuatan sendiri. Dr. Wahidin Sudirohusodo merupakan orang yang berjasa membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia untuk membangun jiwa kebangsaan. Atas semangat tersebutlah pada tanggal 20 Mei 1908 berdirilah organisasi pergerakan nasional pertama yang diberi nama “Boedi Oetomo”, didirikan oleh Sutomo, Suradji, dan Gunawan Mangunkusumo di Jakarta.

nasional pertama yang diberi nama “Boedi Oetomo”, didirikan oleh Sutomo, Suradji, dan Gunawan Mangunkusumo di Jakarta.
nasional pertama yang diberi nama “Boedi Oetomo”, didirikan oleh Sutomo, Suradji, dan Gunawan Mangunkusumo di Jakarta.
nasional pertama yang diberi nama “Boedi Oetomo”, didirikan oleh Sutomo, Suradji, dan Gunawan Mangunkusumo di Jakarta.
nasional pertama yang diberi nama “Boedi Oetomo”, didirikan oleh Sutomo, Suradji, dan Gunawan Mangunkusumo di Jakarta.
nasional pertama yang diberi nama “Boedi Oetomo”, didirikan oleh Sutomo, Suradji, dan Gunawan Mangunkusumo di Jakarta.
nasional pertama yang diberi nama “Boedi Oetomo”, didirikan oleh Sutomo, Suradji, dan Gunawan Mangunkusumo di Jakarta.

Sejak itu semangat kebangsaan bangsa Indonesia semakin berapi, terbukti dengan lahirnya berbagai organisasi pergerakan nasional, seperti Sarekat Islam, Indische Partij, PNI, Partai Indonesia, serta berbagai organisasi pemuda lainnya, misalnya Jong Java, Jong Sumatra, dan lain-lain. Pada tahun 1928 tokoh-tokoh organisasi pergerakan nasional dan organisasi pemuda mengadakan Kongres Pemuda I dengan menghasilkan kesepakatan untuk menggalang persatuan dari seluruh organisasi pergerakan dan organisasi pemuda untuk melawan penjajah Belanda. Kebulatan tekad untuk menjadi bangsa Indonesia ditindaklanjuti dengan mengadakan Kongres Pemuda II dan pada tanggal 28 Oktober 1928 menghasilkan ikrar yang dikenal dengan Sumpah Pemuda. Sosok perjuangan semakin jelas, baik secara politik maupun fisik. Organisasi pergerakan nasional dengan tokoh pemuda mencapai kata sepakat bahwa kemerdekaan Indonesia dapat diwujudkan dengan syarat adanya persatuan dan kesatuan nasional. Diantara para tokoh pergerakan dan pemuda itu adalah Ir. Soekarno yang mempunyai semangat nasionalisme. Perang Dunia II berperan dalam menghentikan penjajahan Belanda atas bangsa Indonesia, tetapi kemudian bangsa Indonesia jatuh ke dalam penjajahan Jepang. Guna mendapatkan simpati rakyat Indonesia membantu Jepang melawan tentara Sekutu, pemerintah pendudukan Jepang pada tanggal 29 April 1945 membentuk BPUPKI yang diberi tugas untuk mempersiapkan Indonesia merdeka.

yang diberi tugas untuk mempersiapkan Indonesia merdeka. 4.4 Konsep Pancasila Identitas Nasional Konsep yang
yang diberi tugas untuk mempersiapkan Indonesia merdeka. 4.4 Konsep Pancasila Identitas Nasional Konsep yang
yang diberi tugas untuk mempersiapkan Indonesia merdeka. 4.4 Konsep Pancasila Identitas Nasional Konsep yang
yang diberi tugas untuk mempersiapkan Indonesia merdeka. 4.4 Konsep Pancasila Identitas Nasional Konsep yang
yang diberi tugas untuk mempersiapkan Indonesia merdeka. 4.4 Konsep Pancasila Identitas Nasional Konsep yang
yang diberi tugas untuk mempersiapkan Indonesia merdeka. 4.4 Konsep Pancasila Identitas Nasional Konsep yang

4.4 Konsep Pancasila Identitas Nasional Konsep yang terdapat di dalam Pancasila sebagai identitas nasional bangsa Indonesia, meliputi:

1)

Konsep tentang hakikat eksistensi manusia

2)

Konsep pluralistik

3)

Konsep harmoni dan keselarasan

4)

Konsep kekeluargaan dan gotong royong

5)

Konsep integralistik

6)

Konsep kerakyatan

7)

Konsep kebangsaan

4.5 Pemberdayaan Identitas Nasional A. Keterkaitan Identitas Nasional dan Globalisasi Dalam konteks pergaulan dan hubungan antarbangsa di dunia, bangsa Indonesia tidak dapat menghindar dari pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan. Globalisasi adalah masuk atau mewabahnya pengaruh dari suatu negara dalam pergaulan dunia. Proses globalisasi mengandung implikasi bahwa suatu suatu aktivitas yang sebelumnya terbatas jangkauannya secara nasional, namun secara bertahap dapat diterapkan di berbagai negara yang dianggap sebagai semboyan yang bernilai universal. Semboyan globalisasi bila dicermati secara kebangsaan Indonesia merupakan instrumen atau sarana untuk menyebarluaskan ideologi liberal atau liberaisme, terutama melalui bidang sosial-budaya, ekonomi, politik, serta pertahanan dan keamanan negara. Bagi bangsa Indonesia, globalisasi harus dipandang sebagai instrumen yang pantas dipahami sebagai konsep pergaulan dan hubungan internasional dalam urusan ekonomi antarbangsa dan sebagai faktor yang memperkaya serta memajukan iptek bagi pembangunan bangsa dan negara Indonesia. Dalam bidang sosial-budaya, nilai individualistis yang dibawa gobalisasi bernilai positif untuk membangkitkan semangat kerja keras, meningkatkan kemampuan dan keterampilan sebagai hasil proses liberalisasi pendidikan dan pengaruh kemajuan ipteks untuk mampu bersaing dengan banggsa-bangsa lain dalam mengolah sumber daya alam. Di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi, globalisasi menjadi instrumen efektif dalam melahirkan berbagai sikap perilaku yang bertentangan dengan nilai keimanan dan ketaqwaan sebagai nilai tertinggi dari Pancasila. Sementara di bidang ekonomi, globalisasi menanamkan lliberalisasi perdagangan dalam kehidupan ekonomi. Upaya-upaya ke arah liberalisasi perdagangan atau perdagangan bebas mulai digerakkan pada tahun 1947 pada pertemuan dunia pertama di Jenewa yang melahirkan GATT (General Agreement on Tarrifs and Trade). Dalam bidang politik, globalisasi menanamkan liberalisasi politik dalam kehidupan politik. Mendasarkan pada prinsip sekuler dalam kehidupan politik

menanamkan liberalisasi politik dalam kehidupan politik. Mendasarkan pada prinsip sekuler dalam kehidupan politik
menanamkan liberalisasi politik dalam kehidupan politik. Mendasarkan pada prinsip sekuler dalam kehidupan politik
menanamkan liberalisasi politik dalam kehidupan politik. Mendasarkan pada prinsip sekuler dalam kehidupan politik
menanamkan liberalisasi politik dalam kehidupan politik. Mendasarkan pada prinsip sekuler dalam kehidupan politik
menanamkan liberalisasi politik dalam kehidupan politik. Mendasarkan pada prinsip sekuler dalam kehidupan politik
menanamkan liberalisasi politik dalam kehidupan politik. Mendasarkan pada prinsip sekuler dalam kehidupan politik

adalah menjauhkan segala hal yang berbau agama. Ideologi liberal kemudian dijadikan dasar filsafat bagi adanya kedaulatan manusia yang mewujud ke dalam kedaulatan rakyat. Kedaulatan rakyat itu diterapkan dalam sistem demokrasi melalui pemilu dan proses-proses politik untuk mengatur kehidupan bernegara. Dalam bidang pertahanan dan keamanan, globalisasi memunculkan sikap arogan dan ingin menang sendiri. Kebebasan individu dijadikan dasar untuk mempengaruhi dan menguasai kehidupan bangsa-bangsa di dunia. Eksploitasi dan monopoli sistem persenjataan adalah pusat perhatiannya, menjadi alat untuk menghancurkan bangsa-bangsa terutama bangsa-bangsa yang tidak menganut ideologi liberal. Sistem ini sangat bertentangan dengan Pancasila sebagai identitas nasional bangsa dan negara Indonesia yang lebih mendasarkan pada nilai-nilai persatuan dan kesatuan di dalam pembangunan sistem pertahanan dan keamanan yang dikenal dengan nama Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta atau SISHANKAMRATA.

sistem pertahanan dan keamanan yang dikenal dengan nama Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta atau SISHANKAMRATA.
sistem pertahanan dan keamanan yang dikenal dengan nama Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta atau SISHANKAMRATA.
sistem pertahanan dan keamanan yang dikenal dengan nama Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta atau SISHANKAMRATA.
sistem pertahanan dan keamanan yang dikenal dengan nama Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta atau SISHANKAMRATA.

B. Revitalisasi Ideologi Pancasila Sebagai Pemberdayaan Identitas Nasional Globalisasi dalam konteks ekonomi merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan sebagai potensi pasar yang luas dan sumber dana dan teknologi serta menjadi alternatif pilihan produk berkualitas dan murah. Globalisasi telah berhasil membuat bangsa Indonesia saat ini menjadi ragu-ragu terhadap nilai- nilai dasar Pancasila yang telah disepakati bersama sebagai identitas nasional. Untuk memberdayakan Pancasila kembali menjadi identitas nasional dalam konteks kehidupan kebangsaan Indonesia. Upaya-upaya pokok yang secara terus menerus dilakukan adalah :

pokok yang secara terus menerus dilakukan adalah : (a) Memperkuat kesadaran terhadap ideologi Pancasila;
pokok yang secara terus menerus dilakukan adalah : (a) Memperkuat kesadaran terhadap ideologi Pancasila;

(a)

Memperkuat kesadaran terhadap ideologi Pancasila;

(b)

Memperkuat daya tahan;

(c)

Meningkatkan daya saing; dan

(d)

Memperkuat semangat kebangsaan.

BAB V HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA INDONESIA

5.1 Pengertian Warga Negara, Penduduk, dan Rakyat

A. Warga Negara Istilah warga negara berasal dari bahasa Inggris citizen yang berarti

warga negara, penduduk dari suatu kota, sesama warga negara, sesama penduduk, orang setanah air, dan bawahan atau kawula. Sementara menurut AS. Hikam dalam Ghazali (2004), warga negara sebagai terjemahan dari citizen yaitu anggota dari suatu komunitas yang membentuk negara itu sendiri. Warga mengandung arti peserta, anggota atau warga dari suatu oorganisasi perkumpulan, sedangkan warga negara artinya warga atau anggota dari suatu negara. Jadi, dapat disimpulkan bahwa warga negara adalah anggota dari suatu negara. Selanjutnya, kewarganegaraan atau citizenship artinya keanggotaan yang menunjukkan hubungan atau ikatan antara warga negara dengan warga negara. Istilah kewarganegaraan dibedakan menjadi dua, yaitu :

a.
a.
Istilah kewarganegaraan dibedakan menjadi dua, yaitu : a. 1) Kewarganegaraan dalam arti yuridis dan sosiologis
Istilah kewarganegaraan dibedakan menjadi dua, yaitu : a. 1) Kewarganegaraan dalam arti yuridis dan sosiologis
Istilah kewarganegaraan dibedakan menjadi dua, yaitu : a. 1) Kewarganegaraan dalam arti yuridis dan sosiologis
Istilah kewarganegaraan dibedakan menjadi dua, yaitu : a. 1) Kewarganegaraan dalam arti yuridis dan sosiologis
Istilah kewarganegaraan dibedakan menjadi dua, yaitu : a. 1) Kewarganegaraan dalam arti yuridis dan sosiologis

1) Kewarganegaraan dalam arti yuridis dan sosiologis

Kewarganegaraan dalam arti yuridis ditandai dengan adanya ikatan

hukum antara warga negara dengan negara.

2)

b. Kewarganegaraan dalam arti sosiologis tidak ditandai dengan ikatan hukum tetapi ikatan emosional, seperti ikatan perasaan, ikatan keturunan, ikatan nasib, ikatan sejarah tanah air.

Kewarganegaraan dalam arti formal dan material

a. Kewarganegaraan dalam arti formal menunjukkan pada tempat kewarganegaraan.

b. Kewarganegaraan dalam arti material yaitu adanya hak dan kewajiban

warga negara.

B. Penduduk

Penduduk adalah orang-orang yang berada di dalam suatu wilayah yang terikat oleh aturan-aturan yang berlaku dan saling berinteraksi satu sama

lain secara terus menerus / kontinu. Dalam sosiologi, penduduk adalah

kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu. Penduduk suatu negara atau daerah bisa didefinisikan menjadi dua, yaitu (1) orang yang tinggal di daerah tersebut; dan (2) orang yang secara hukum berhak tinggal di daerah tersebut. Dengan kata lain orang yang mempunyai surat resmi untuk tinggal di situ. Misalkan bukti kewarganegaraan, tetapi memilih tinggal di daerah lain. Kepadatan penduduk dihitung dengan membagi jumlah penduduk dengan luas area dimana mereka tinggal. Masalah-masalah kependudukan dipelajari dalam ilmu Demografi. Berbagai aspek perilaku menusia dipelajari dalam sosiologi, ekonomi, dan geografi. Demografi banyak digunakan dalam pemasaran, yang berhubungan erat dengan unit-unit ekonomi, seperti pengecer hingga pelanggan potensial.

ekonomi, seperti pengecer hingga pelanggan potensial. C. Rakyat Rakyat adalah penduduk Indonesia yang telah setuju

C. Rakyat Rakyat adalah penduduk Indonesia yang telah setuju dengan berdirinya Negara Republik Indonesia dan memberikan mandat kepada sekelompok orang Indonesia yang rela melepaskan haknya sebagai rakyat untuk bersedia mengelola pemerintahan Negara Republik Indonesia yang dimandatkan atas kedaulatan rakyat dan hanya mengabdi kepada rakyat.

atas kedaulatan rakyat dan hanya mengabdi kepada rakyat. 5.3 Hak-hak warga negara Berikut ini adalah hak
atas kedaulatan rakyat dan hanya mengabdi kepada rakyat. 5.3 Hak-hak warga negara Berikut ini adalah hak
atas kedaulatan rakyat dan hanya mengabdi kepada rakyat. 5.3 Hak-hak warga negara Berikut ini adalah hak
atas kedaulatan rakyat dan hanya mengabdi kepada rakyat. 5.3 Hak-hak warga negara Berikut ini adalah hak
atas kedaulatan rakyat dan hanya mengabdi kepada rakyat. 5.3 Hak-hak warga negara Berikut ini adalah hak

5.3 Hak-hak warga negara Berikut ini adalah hak dan kewajiban negara terhadap warga negara

pada dasarnya merupakan kewajiban warga negara terhadap negara. Adapun ketentuan tersebut, sebagai berikut :

(1) Hak negara untuk ditaati hukum dan pemerintahan; (2) Hak negara untuk dibela; (3) Hak negara untuk menguasai sistem hukum yang adil; (4) Hak negara untuk menjamin hak asasi warga negara; (5) Hak negara untuk mengembangkan sistem pendidikan nasional; (6) Hak negara untuk memberi jaminan sosial; dan (7) Hak negara untuk memberi kebebasan beribadah. Adapun hak warga negara, antara lain :

a) Pasal 27

c)

Pasal 28 Ayat A-J

d) Pasal 29 Ayat 1 dan 2

e) Pasal 30 Ayat 1

f) Pasal 31 Ayat 1 dan 2

g) Pasal 32 Ayat 1

h) Pasal 33 Ayat 1

i) Pasal 33 Ayat 1, 2, 3, 4, dan 5

j) Pasal 34

5.4 Kewajiban warga negara

Adapun kewajiban warga negara, antara lain :

a)

Pasal 27 Ayat 1 Pasal 27 Ayat 3 Pasal 30 Ayat 1

b) c)
b)
c)
warga negara Adapun kewajiban warga negara, antara lain : a) Pasal 27 Ayat 1 Pasal 27
warga negara Adapun kewajiban warga negara, antara lain : a) Pasal 27 Ayat 1 Pasal 27
warga negara Adapun kewajiban warga negara, antara lain : a) Pasal 27 Ayat 1 Pasal 27
warga negara Adapun kewajiban warga negara, antara lain : a) Pasal 27 Ayat 1 Pasal 27

BAB VI DEMOKRASI INDONESIA

6.1 Pengertian negara, teori terjadi negara, sifat dan unsur-unsur negara

A. Pengertian Negara

Secara literal istilah negara merupakan terjemahan dari kata-kata asing, yakni state (bahasa Inggris), staat (bahasa Belanda dan Jerman) dan etat (bahasa Perancis). Kata staat, state, etate itu diambil dari kata bahasa latin

status atau statum, yang berarti keadaan yang tegak dan tetap atau sesuatu yang memiliki sifat-sifat yang tegak dan tetap.

Dalam konsepsi Islam, dengan mengacu pada al-Quran dan al-Sunnah, tidak ditemukan rumusan tentang negara secara eksplisit, hanya saja dalam al- Quran dan al-Sunnah terdapat prinsip-prinsip dasar dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Selain itu, konsep islam tentang negara juga berasal dari 3 tahap paradigma, yaitu:

a) b) c)
a)
b)
c)
juga berasal dari 3 tahap paradigma, yaitu: a) b) c) Paradigma tentang teori khilafah yang dipraktikan
juga berasal dari 3 tahap paradigma, yaitu: a) b) c) Paradigma tentang teori khilafah yang dipraktikan
juga berasal dari 3 tahap paradigma, yaitu: a) b) c) Paradigma tentang teori khilafah yang dipraktikan
juga berasal dari 3 tahap paradigma, yaitu: a) b) c) Paradigma tentang teori khilafah yang dipraktikan
juga berasal dari 3 tahap paradigma, yaitu: a) b) c) Paradigma tentang teori khilafah yang dipraktikan

Paradigma tentang teori khilafah yang dipraktikan sesudah Rasulullah Saw, terutama biasanya merujuk pada masa Khulafa al Rasyidun; Paradigma yang bersumber pada teori imamah dalam paham islam Syi’ah; Paradigma yang bersumber dari teori imamah atau pemerintahan.

B. Tujuan Negara Tujuan negara adalah :

a) Memperluas kekuasaan

b) Menyelenggarakan ketertiban hukum

c) Mencapai kesejahteraan umum

Menurut Plato bahwa memajukan kesusilaan manusia, sebagai perseorangan (individu) dan sebagai makhluk sosial. Menurut Roger H. Soltau:

Memungkinkan rakyatnya berkembang serta menyelenggarakan daya ciptanya sebebas mungkin (the freest possible development and creative self-expression

of its members). Tujuan negara Republik Indonesia: “Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

C. Unsur-Unsur Negara Dalam rumusan Konveni Montevideo tahun1933 disebbutkan negara harus memiiki tiga unsur penting yaitu rakyat, wilayah dan pemerintah. Sejalan dengan itu, Mac Iver merumuskan bahwa suatu negara harus memenuhi 3 unsur pokok yaitu pemerintahan, rakyat dan wilayah tertentu. Ketiga unsur ini oleh Mahfud MD disebut sebagai unsur konstitutif. 1) Rakyat Setiap negara tidak mungkin bisa ada tanpa adanya warga atau rakyatnya. Unsur rakyat ini sangat penting dalam sebuah negara, karena secara konkret rakyatlah yang memiliki kepentingan agar negara itu dapat berjalan baik. 2) Wilayah Wilayah dalam sebuah negara merupakan unsur yang harus ada, karena tidak mungkin ada negara tanpa ada batas-batas teritoral yang jelas. Sebagai contoh, pada tahun 1860, Kursi Suci (Holy See, Papacy) adalah sebuah negara, karena menguasai sebagian wilayah Italia dari pantai barat sampai ke bagian timur jazirah Italia. Secara mendasar, wilayah dalam sebuah negara biasanya mencangkup daratan (wilayah darat), perairan (wilayah laut/perairan) dan udara (wilayah udara).

perairan (wilayah laut/perairan) dan udara (wilayah udara). a. Daratan (wilayah darat) Wilayah darat suatu negara
perairan (wilayah laut/perairan) dan udara (wilayah udara). a. Daratan (wilayah darat) Wilayah darat suatu negara
perairan (wilayah laut/perairan) dan udara (wilayah udara). a. Daratan (wilayah darat) Wilayah darat suatu negara
perairan (wilayah laut/perairan) dan udara (wilayah udara). a. Daratan (wilayah darat) Wilayah darat suatu negara
a.
a.
(wilayah laut/perairan) dan udara (wilayah udara). a. Daratan (wilayah darat) Wilayah darat suatu negara dibatasi

Daratan (wilayah darat)

Wilayah darat suatu negara dibatasi oleh wilayah darat dan atau laut (perairan) negara lain. Pembatasan wilayah suatu negara biasanya ditentukan berdasarkan perjanjian.

b. Perairan (wilayah laut/perairan) Perairan atau laut yang menjadi bagian atau termasuk wilayah suatu negara disebut perairan atau laut teritorial dari negara bersangkutan.

c. Udara (wilayah udara) Udara yang berada di atas wilayah darat dan wilayah laut teritorial suatu negar merupakan bagian dari wilayah udara sebuah negara.

3) Pemerintah Pemerintah adalah alat kelengkapan negara yang bertugas memimpin organisasi negara untuk mencapai tujuan negara. Oleh karenanya, pemerintah seringkali menjadi personifikasi sebuah negara.

D. Teori Terbentuknya Negara

1. Teori Kontrak Sosial (Social Contrac)

Teori kontrak sosial atau teori perjanjian masyarakat beranggapan bahwa negara dibentuk berdasarkan perjanjian-perjajnjian masyarakat. Teori ini adalah salah satu teori yang terpenting mengenai asal-usul negara. 1) Thomas Hobbes (1588-1679) : Hobbes mengemukakan bahwa kehidupan manusia terpisah dalam 2 zaman, yakni keadaan selama belum ada negara.

2) John Locke (1632-1704) : Bagi Locke, keadaan alamiah ditafsirkan sebagai suatu keadaan dimana manusia hidup bebas dan sederajat, menurut kehendak hatinya sendiri. 3) Jean Jacques Rousseau (1712-1778) : Rousseau merupakan tokoh yang pertama kali menggunakan istilah kontrak sosial (social contract).

2. 3.
2.
3.
istilah kontrak sosial (social contract) . 2. 3. Teori Ketuhanan Negara dibentuk oleh tuhan dan
istilah kontrak sosial (social contract) . 2. 3. Teori Ketuhanan Negara dibentuk oleh tuhan dan
istilah kontrak sosial (social contract) . 2. 3. Teori Ketuhanan Negara dibentuk oleh tuhan dan
istilah kontrak sosial (social contract) . 2. 3. Teori Ketuhanan Negara dibentuk oleh tuhan dan
istilah kontrak sosial (social contract) . 2. 3. Teori Ketuhanan Negara dibentuk oleh tuhan dan

Teori Ketuhanan

Negara dibentuk oleh tuhan dan pemimpin-pemimpin negara ditunjuk oleh tuhan. Raja dan pemimpin-pemimpin negara hanya bertanggung jawab pada tuhan dan tidak pada siapapun.

Teori Kekuatan Negara yang pertama adalah hasil dominasi dari kelompok yan kuat

terhadap kelompok yang lemah. Negara terbentuk dengan penakhlukan dan pendudukan. Dengan penaklukan dan pendudukan dari sekelompok etnis yang lebih kuat atas kelompok etnis yang lebih lemah.

4. Teori Organis

Negara dianggap atau disamakan dengan makhluk hidup, manusia atau binatang. Individu yang merupakan kompenen-kompenen negara dianggap sebagai sel-sel dari makhluk hidup itu. Kehidupan korporal dari negara dapat disamakan sebagai tulang belulang manusia, undang-undang

sebagai urat syaraf, raja (kaisar) sebagai kepala dan para individu sebagai daging makhluk hidup itu.

5. Teori Historis Lembaga-lembaga sosial tidak dibuat, tetapi tumbuh secara

evolusioner sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan manusia.

6.2 Pengertian dan konsep demokrasi Kata demokrasi dapat ditinjau dari dua sudut pandang, yaitu :

a. Pengertian Secara Etimologis

Dari sudut bahasa, demokrasi berasal dari bahasa Yunani demos berarti rakyat dan cratos atau cratein berarti pemerintahan atau kekuasaan.

Konsep negara demokratis ini muncul dan dipraktekkan pada abad ke-4 sampai ke-6 SM. Demokrasi yang dipraktekkan pada waktu itu adalah demokrasi langsung atau direct democracy.

Demokrasi langsung artinya hak rakyat untuk membuat keputusan- keputusan politik dijalankan secara langsung oleh seluruh rakyat atau warga negara. Hal ini dapat dilakukan karena pada saat itu Yunani masih berbentuk negara kota atau polis yang penduduknya terbatas. Namun, seiring dengan berjalannya waktu pada saat ini orang lebih mengenal pelaksanaan demokrasi secara tidak langsung atau demokrasi perwakilan.

b. 1)
b.
1)
secara tidak langsung atau demokrasi perwakilan. b. 1) Pengertian Secara Terminologis Dari sudut iistilah,
secara tidak langsung atau demokrasi perwakilan. b. 1) Pengertian Secara Terminologis Dari sudut iistilah,
secara tidak langsung atau demokrasi perwakilan. b. 1) Pengertian Secara Terminologis Dari sudut iistilah,
secara tidak langsung atau demokrasi perwakilan. b. 1) Pengertian Secara Terminologis Dari sudut iistilah,
secara tidak langsung atau demokrasi perwakilan. b. 1) Pengertian Secara Terminologis Dari sudut iistilah,

Pengertian Secara Terminologis Dari sudut iistilah, pengertian demokrasi dikemukakan oleh beberapa

ahli politik, sebagai berikut :

Abraham Lincoln Demokrasi adalah pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat atau government of the people, by the people, and for the people.

2) Harris Soche

3)

4)

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan rakyat, karena itu kekuasaan pemerintahan itu melekat pada diri rakyat. Henry B. Mayo Demokrasi adalah sistem politik yang menunjukkan bahwa kebijaksanaan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan umum. International Commision for Jurrist Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan, dimana hak untuk membuat keputusan-keputusan politik diselenggararakan oleh warga negara melalui wakil-wakil yang dipilih oleh mereka dan bertanggung jawab kepada mereka

diselenggararakan oleh warga negara melalui wakil-wakil yang dipilih oleh mereka dan bertanggung jawab kepada mereka

melalui suatu proses pemilihan yang bebas.

6.3 Demokrasi dalam sistem NKRI

A. Demokrasi pada Periode 1945-1959

Demokrasi pada masa ini dikenal dengan sebutan demokrasi parlementer. Sistem parlementer yang mulai berlaku sebulan sesudah kemerdekaan diproklamirkan dan kemudian diperkuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan 1950, ternyata kurang cocok untuk Indonesia. Undang-Undang Dasar 1950 menetapkan berrlakunya sistem parlementer dimana bbadan eksekutif terdiri dari Preiden sebagai kepala negara konstitusional (constitutional head) beserta menteri-menterinya yang mempunyai tanggung jawab politik. Disamping itu trenyata ada beberapa kekuatan sosial dan politik yang tidak memperoleh saluran dan tempat yang realistis dalam konstelasi politik, padahal merupakan kekuatan yang paling penting.

B.
B.
politik, padahal merupakan kekuatan yang paling penting. B. Demokrasi pada Peiode 1959-1965 Ciri-ciri periode ini adalah
politik, padahal merupakan kekuatan yang paling penting. B. Demokrasi pada Peiode 1959-1965 Ciri-ciri periode ini adalah
politik, padahal merupakan kekuatan yang paling penting. B. Demokrasi pada Peiode 1959-1965 Ciri-ciri periode ini adalah
politik, padahal merupakan kekuatan yang paling penting. B. Demokrasi pada Peiode 1959-1965 Ciri-ciri periode ini adalah
politik, padahal merupakan kekuatan yang paling penting. B. Demokrasi pada Peiode 1959-1965 Ciri-ciri periode ini adalah

Demokrasi pada Peiode 1959-1965

Ciri-ciri periode ini adalah dominasi dari presiden, terbatasnya peranan partai politik, berkembangnya pengaruh komunis dan meluasnya peranan ABRI sebagai unsur sosial politik. Dekrit president 5 juli dapat dipandang sebagai suatu usaha mencari jalan keluar dari kemacetan politik melalui pembentukan kepemimpinan yang kuat.Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong yang mengganti Dewan Perwakilan Rakyat hasil pemilihan umum ditonjolkan peranannya sebagai pembantu pemerintah sedangkan fungsi kontrol ditiadakan. Selain itu terjadi penyelewengan dibidang perundang-undangan

dimana berbagai tindakan pemerintah dilaksanakan melalui penetapan presiden Yng memakai Dekrit 5 Juli sebagai sumber hukum. Dalam pandangan Ahmad Syafi’i Ma’arif demokrasi terpimpin sebenarnya ingin menempatkan Soekarno sebagai ayah dalam famili besar yang bernama Indonesia dengan kekuasaan terpusat berada ditangannya.

C. Demokrasi pada Periode 1965-1998

Landasan formil dari periode ini adalah Pacasila, Undang-Undang Dasar 1945 serta ketetapan-ketetapan MPRS. Bebarapa perumusan tentang

demokrasi Pancasila sebagai berikut:

a)

b)

c)

Demokrasi dalam bidang politik pada hakekatnya adalah menegakkan kembali asas-asas hukum dan kepastian hukum;

Demokrasi dalam bidang ekonomi pada hakekatnya adalah kehidupan yang layak bagi semua warga negara;

Demokrasi dalam bidang hukum pada hakekatnya bahwa pengakuan dan perlindungan HAM, peradilan yang bebas dan tidak memihak. Menurut Rusli Karim rezim orde baru, ditandai oleh :

Dominannya peranan ABRI; Birokratisasi dan sentralisasi pengambilan keputusan politik; Pengebirian peran dan fungsi pertai politik; Campur tangan pemerintah dalam berbagai urusan partai politik dan publik; Masa mengambang; Monolitisasi ideologi negara; serta Inkoorporasi lembaga non pemerintah

1)

2)

3)

4)

5)

6) 7)
6)
7)
Inkoorporasi lembaga non pemerintah 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) D. Demokrasi pada Periode 1998
Inkoorporasi lembaga non pemerintah 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) D. Demokrasi pada Periode 1998
Inkoorporasi lembaga non pemerintah 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) D. Demokrasi pada Periode 1998
Inkoorporasi lembaga non pemerintah 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) D. Demokrasi pada Periode 1998
Inkoorporasi lembaga non pemerintah 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) D. Demokrasi pada Periode 1998

D. Demokrasi pada Periode 1998 sampai sekarang Runtuhnya rezim otoriter Orde Baru telah membawa harapan baru bagi tumbuhnya demokrasi Indonesia. Sukses atau gagalnya transisi demokrasi sangat bergantung pada empat faktor kunci, yakni (1) komposisi elite politik; (2) desain institusi politik; (3) kultur politik atau perubahan sikap terhadap politik dikalangan ellite dan non ellite; dan (4) peran civil society. Menurut Sorensen transisi bentuk pemerintahan (rezim) non demokratis menjadi demokratis, seperti yang tengah terjadi diIndonesia dalam tiga tahun terakhir merupakan proses yang sangat lama dan komplek karena melilbatkan beberapa tahap. Pertama, tahap persiapan ( preparatory phase) yang ditandai dengan pergulatan dan pergolakan politik yang berakhir dengan jatuhnya rezim non demokratis. Kedua, tahap penentuan (decision phase) dimana unsur-unsur penegak demokrasi dibangun dan dikembangkan. Ketiga, tahap konsolidasi (democratic phase). Dimana demokrasi baru dikembangkan lebih lanjut sehingga praktik demokrasi menjadi bagian yang mapan dari budaya politik. Dalam kaitan dengan transisi menuju demokrasi, Indonesia saat ini tengah berada dalam fase kedua dan ketiga. Selain itu, demokrasi dalam sistem NKRI dimulai dengan adanya:

1.

Demokrasi Desa

Menurut Moh. Hatta dalam Padmo Wahyono (1990) desa-desa di Indonesia sudah menjalankan demokrasi, misalnya dengan pemilihan Kepala Desa dan adanya rembug desa. Hal inilah yang dinamakan sebagai demokrasi desa. Demokrasi desa memiliki lima unsur, yaitu rapat, mufakat, gotong royong, hak mengadakan proses bersama, dan hak menyingkir dari kekuasaan raja absolut. Masih menurut Moh. Hatta, demokrasi di Indonesia dibedakan menjadi tiga bagian, yakni :

(1) Demokrasi di bidang politik. (2) Demokrasi di bidang ekonomi. (3) Demokrasi di bidang sosial.

2.
2.

Demokrasi Pancasila

(3) Demokrasi di bidang sosial. 2. Demokrasi Pancasila Demokrasi yang berkembang di Indonesia dan bersumber dari
(3) Demokrasi di bidang sosial. 2. Demokrasi Pancasila Demokrasi yang berkembang di Indonesia dan bersumber dari
(3) Demokrasi di bidang sosial. 2. Demokrasi Pancasila Demokrasi yang berkembang di Indonesia dan bersumber dari
(3) Demokrasi di bidang sosial. 2. Demokrasi Pancasila Demokrasi yang berkembang di Indonesia dan bersumber dari
(3) Demokrasi di bidang sosial. 2. Demokrasi Pancasila Demokrasi yang berkembang di Indonesia dan bersumber dari

Demokrasi yang berkembang di Indonesia dan bersumber dari ideologisnya adalah Demokrasi Pancasila. Pancasila adalah ideologi nasional yakni seperangkat nilai yang dianggap baik, sesuai, dan menguntungkan bangsa. Adapun nilai-nilai demokrasi yang terjabar dalam nilai-nilai luhur Pancasila, sebagai berikut :

(1) Kedaulatan rakyat; (2) Republik; (3) Negara berdasar atas hukum; (4) Pemerintahan yang konstitusional;

(5) Sistem perwakilan; (6) Prinsip musyawarah; dan (7) Prinsip ketuhanan.

BAB VII HAK ASASI MANUSIA

7.1 Pengertian HAM Hak asasi manusia adalah hak dasar yang melekat dan dimiliki setiap manusia sebagai anugerah TYME. Pasha (2002) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan HAM ialah hak-hak dasar yang dibawa manusia sejak lahir dan melekat pada esensinya sebagai anugerah Allah SWT. Sementara Ghazali (2004) menyatakan bahwa HAM merupakan hak-hak dasar yang dibawa sejak lahir dan melekat dengan potensinya sebagai makhluk dan wakil Tuhan. Pengakuan terhadap HAM memiliki dua landasan, sebagai berikut :

(1) Landasan yang langsung dan pertama Adalah kodrat manusia, yakni sama derajat dan martabatnya. (2) Landasan yang lebih dalam dan kedua Adalah Tuhan menciptakan manusia, yakni semua manusia merupakan makhluk dari pencipta yang sama yaitu TYME. Lebih lanjut dijelaskan bahwa ada yang berpendapat sebenarnya HAM bermula dari yang dikenal dengan istilah right of man untuk menggantikan natural right. Istilah natural right berasal dari konsep John Locke (1932-1704) mengenai hak-hak alamiah manusia. Hak tersebut meliputi hak untuk hidup, hak kemerdekaan, hak milik, dan sebagainya.

Akhir-akhir ini masalah HAM (HAM) menjadi masalah yang sering dibicarakan, mulai dari dimasukkannya masalah HAM ini ke dalam UUD 1945 yang di amandemen, terlebih lagi banyaknya peristiwa yang terjadi (baik di Indonesia maupun di luar negeri) yang melanggar HAM. Salah satu contohnya adalah masih belum jelasnya penyebab kematian aktivis HAM Munir, bahkan jika di suatu negara terjadi pelanggaran HAM, maka masalah ini akan menjadi “senjata yang ampuh bagi negara lain (dunia internasional) untuk menjatuhkan wibawa dari negara yang mengalami permasalahan HAM tersebut.

Sebelum kita memahami apa arti Hak-hak Asasi Manusia (HAM), baiklah kita pahami dulu arti HAM ditinjau dari asal katanya. Hak-hak asasi manusia terdiri atas tiga kata, yang pertama adalah kata “hak”, kedua kata “asasi”, dan ketiga adalah “manusia’.

terdiri atas tiga kata, yang pertama adalah kata “hak”, kedua kata “asasi”, dan ketiga adalah “manusia’.
terdiri atas tiga kata, yang pertama adalah kata “hak”, kedua kata “asasi”, dan ketiga adalah “manusia’.
terdiri atas tiga kata, yang pertama adalah kata “hak”, kedua kata “asasi”, dan ketiga adalah “manusia’.
terdiri atas tiga kata, yang pertama adalah kata “hak”, kedua kata “asasi”, dan ketiga adalah “manusia’.
terdiri atas tiga kata, yang pertama adalah kata “hak”, kedua kata “asasi”, dan ketiga adalah “manusia’.
terdiri atas tiga kata, yang pertama adalah kata “hak”, kedua kata “asasi”, dan ketiga adalah “manusia’.

Kata hak diartikan bermacam-macam, Winataputra (2003:6.3)) menyebutkan bahwa hak diartikan sebagai sesuatu yang benar, kewenangan, kekuasaan untuk berbuat sesuatu atau kekuasaan yang benar atas sesuatu atau untuk menuntut sesuatu. Sedangkan “asasi” berarti bersifat dasar atau hak pokok yang dimiliki oleh manusia, seperti hak hidup, hak berbicara, dan hak mendapat perlindungan. Selanjutnya manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa yang paling sempurna diantara mahluk-mahluk lain ciptaan- Nya.

Mengingat sifatnya mendasar manusia, maka HAM dianggap sebagai hak yang tidak dapat dicabut atau dihilangkan. Dengan kata lain, HAM perlu mendapat jaminan oleh negara atau pemerintah, oleh karenanya siapa saja yang melanggarnya harus mendapat sanksi yang tegas. Baiklah, jika anda telah mendiskusikannya, cobalah Anda pahami pengertian HAM di bawah ini, sehingga Anda dapat memastikan apakah sejumlah daftar yang saudara buat tadi adalah memang termasuk HAM ataukah bukan ? HAM dapat diartikan sesuatu yang benar, HAM adalah hak-hak yang telah dimiliki seseorang sejak ia lahir dan merupakan pemberian dari Tuhan. Dasar-dasar HAM tertuang dalam deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat (Declaration of Independence of USA) dan tercantum dalam UUD 1945 Republik Indonesia, seperti pada pasal 27 ayat 1, pasal 28, pasal 29 ayat 2, pasal 30 ayat 1, dan pasal 31 ayat 1 (UUD 1945 sebelum amandemen), sedangkan di dalam UUD 1945, masalah HAM diatur secara khusus mulai pasal 28a-28j. Contoh HAM : Hak untuk hidup, Hak untuk memperoleh pendidikan, Hak untuk hidup bersama-sama seperti orang lain, Hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama, Hak untuk mendapatkan pekerjaan.

Hari HAM dirayakan tiap tahun oleh banyak negara di seluruh dunia setiap tanggal 10 Desember. Ini dinyatakan oleh International Humanist and Ethical Union (IHEU) sebagai hari resmi perayaan kaum Humanisme. Tanggal ini dipilih untuk menghormati Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengadopsi dan memproklamasikan Deklarasi Universal HAM, sebuah pernyataan global tentang HAM, pada 10 Desember 1948. Peringatan dimulai sejak 1950 ketika Majelis Umum mengundang semua negara dan organisasi yang peduli untuk merayakan.

. Peringatan dimulai sejak 1950 ketika Majelis Umum mengundang semua negara dan organisasi yang peduli untuk
. Peringatan dimulai sejak 1950 ketika Majelis Umum mengundang semua negara dan organisasi yang peduli untuk
. Peringatan dimulai sejak 1950 ketika Majelis Umum mengundang semua negara dan organisasi yang peduli untuk
. Peringatan dimulai sejak 1950 ketika Majelis Umum mengundang semua negara dan organisasi yang peduli untuk
. Peringatan dimulai sejak 1950 ketika Majelis Umum mengundang semua negara dan organisasi yang peduli untuk
. Peringatan dimulai sejak 1950 ketika Majelis Umum mengundang semua negara dan organisasi yang peduli untuk

Pengertian HAM beraneka ragam antara lain dapat ditemukan dan

penglihatan dimensi visi, perkembangan. Deklarasi HAM Universal/ PBB

(Universal Declaration of Human Right/UDHR) dan menurut UU No. 39 Tahun

1999.

Hak-hak asasi manusia terkait dengan martabat manusia. Tentang

manusia bermartabat, baik dan mulia pada umumnya ditanggapi dari dua

pendekata dan orientasi (pandangan). Pertama, pendekatan dan orientasi

status, yang menempatkan martabat manusia sebagai hadiah atau pemberian

atau takdir Tuhan. Prinsipnya, bahwa Tuhan telah menciptakan manusia dalam

sebaik-baik makhluk. Manusia dengan akan dan pikirannya telah menjadi

makhuk yang paling sempurna diantara makhluk-mkhluk lainnya. Dengan

begitu, manusia mau tidak mau (given) menyandang martabat yang tinggi.

mau tidak mau ( given ) menyandang martabat yang tinggi. Kedua , pendekatan dan orientasi prestasi
mau tidak mau ( given ) menyandang martabat yang tinggi. Kedua , pendekatan dan orientasi prestasi
mau tidak mau ( given ) menyandang martabat yang tinggi. Kedua , pendekatan dan orientasi prestasi
mau tidak mau ( given ) menyandang martabat yang tinggi. Kedua , pendekatan dan orientasi prestasi
mau tidak mau ( given ) menyandang martabat yang tinggi. Kedua , pendekatan dan orientasi prestasi
mau tidak mau ( given ) menyandang martabat yang tinggi. Kedua , pendekatan dan orientasi prestasi

Kedua, pendekatan dan orientasi prestasi. Pandekatan dan pandangan

prestasi (achievement oriented), menyatakan bahwa martabat manusia tidak

given tetapi harus dicapai setelah manusia berjuang dan berusaha meperoleh

martabat mulai dengan jerih payah dan kegigihan. Dalam pandangan prestasi,

martabat manusia tidak dapat dipertahankan apabila manusia berkinerja

(mencapai prestasi) yang rendah atau buruk. Memang ada pengakuan bahwa

ketika lahir manusia memiliki derajat yang mulia, tetapi sepanjang hidupnya

martabat itu akan dipertaruhkan menurut amal perbuatannya.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, bagaimanakah kaitannya

dengan persoalan hak asasi manusia? Hak asasi manusia itu given atau

prestasi, atau kedua-duanya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perhatikan

definisi hak asasi manusia menurut Undang-Undang No. 39 Tahun 1999

tentang Hak Asasi Manusia yang ada di bawah ini.

Hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerahnya yang wajib dihoramati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia (UU No. 39 Tahun 1999, pasal 1 angka 1).

Menurut definisi tersebut, perlu dipahami bahwa hak asasi manusia tidaklah

bersumber dari penguasa, negara, atau hukum, melainkan semata-mata

bersumber dari Tuhan. Dengan demikian, hak asasi manusia tidak dapat

dikurangi (non derogable right). Tindakan yang diperlukan dari negara dan hukum adalah suatu pengakuan dan jaminan perlindungan terhadap hak asasi manusia tersebut. ebelum kita memahami apa arti Hak-hak Asasi Manusia (HAM), baiklah kita pahami dulu arti HAM ditinjau dari asal katanya. Hak-hak asasi manusia terdiri atas tiga kata, yang pertama adalah kata “hak”, kedua kata “asasi”, dan ketiga adalah “manusia’. Kata hak diartikan bermacam-macam, Winataputra (2003:6.3)) menyebutkan bahwa hak diartikan sebagai sesuatu yang benar, kewenangan, kekuasaan untuk berbuat sesuatu atau kekuasaan yang benar atas sesuatu atau untuk menuntut sesuatu. Sedangkan “asasi” berarti bersifat dasar atau hak pokok yang dimiliki oleh manusia, seperti hak hidup, hak berbicara, dan hak mendapat perlindungan. Selanjutnya manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa yang paling sempurna diantara mahluk-mahluk lain ciptaan- Nya.

manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa yang paling sempurna diantara mahluk-mahluk lain ciptaan- Nya.
manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa yang paling sempurna diantara mahluk-mahluk lain ciptaan- Nya.
manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa yang paling sempurna diantara mahluk-mahluk lain ciptaan- Nya.
manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa yang paling sempurna diantara mahluk-mahluk lain ciptaan- Nya.

Mengingat sifatnya mendasar manusia, maka HAM dianggap sebagai hak yang tidak dapat dicabut atau dihilangkan. Dengan kata lain, HAM perlu mendapat jaminan oleh negara atau pemerintah, oleh karenanya siapa saja yang melanggarnya harus mendapat sanksi yang tegas. Pengertian HAM beraneka ragam antara lain dapat ditemukan dan penglihatan dimensi visi, perkembangan. Deklarasi HAM Universal/ PBB (Universal Declaration of Human Right/UDHR) dan menurut UU No. 39 Tahun

of Human Right /UDHR) dan menurut UU No. 39 Tahun 1999. Konsep HAM dilihat dari dimensi
of Human Right /UDHR) dan menurut UU No. 39 Tahun 1999. Konsep HAM dilihat dari dimensi

1999.

Konsep HAM dilihat dari dimensi visi mencakup visi filsafati, visi yuridis-konstitusional dan visi politik (Saafroedin Bahar. 1944:82). Visi filsafati sebagian besar berasal dari teologi agama-agama. Yang jati diri manusia pada tempat yang tinggi sebagai makhluk Tuhan. Visi yuridis-konstitusional mengaitkan pemahaman HAM itu dengan, tugas, hak, wewenang dan tanggung jawab negara sebagai suatu nation-state. Sedangkan visi politik memahami HAM dalam kenyataan hidup sehari-hari yang umumnya berwujud pelanggaran HAM baik oleh sesama warga masyarakat yang lebih kuat maupun oleh oknum- oknum pejabat pemerintah

Dilihat dari perkembangan HAM maka konsep, HAM mencakup generasi I, generasi II, generasi III dan pendekatan struktural (T.Mulya Lubis, 1987: 3-6). Generasi I konsep HAM sarat dengan hak-hak yuridis, seperti tidak disiksa dan di-tahan, hak akan equality before thelaw (persamaan di hadapan hukum), hak akan fair trial (peradilan yang jujur), praduga tak bersalah dan sebagainya. Generasi 1 ini merupakan reaksi terhadap kehidupan kenegaraan yang totaliter dan fasistis yang mewarnai tahun-tahun sebelum Perang Dunia II. Generasi II konsep HAM merupakan perluasan secara horizontal generasi I, sehingga konsep HAM mencakup juga bidang social, ekonomi, politik dan budaya. Generasi II merupakan terutama sebagai reaksi bagi negara dunia ketiga yang telah memperoleh kemerdekaan dalam rangka mengisi kemerdekaannva setelah Perang Dunia II Generasi III konsep HAM. merupakan ramuan dari hak hukum, sosial. ekonomi, politik dan budaya menjadi apa yang disebut hak akan pembangunan (the right to development). HAM diniiai sebagai totalitas yang tidak boleh dipisah-pisahkan. Dengan derniikian, HAM sekaligus menjadi satu masalah antar disiplin yang harus didekati secara interdisipliner. Pendekatan struktural (melihat akibat kebijakan pemerintah yang diterapkan) dalam HAM seharusnya merupakan generasi IV dari konsep HAM. Karena dalam real itas masalah-masalah pelanggaran HAM cenderung merupakan akibat kebijakan yang tidak berpihak pada HAM. Misalnya, berkembangnya sistem sosial yang memihak ke atas dan mernelaratkan mereka yang dibawah, suatu pola hubungan yang "repressive". Sebab jika konsep ini tidak dikembang-kan, maka yang kita lakukan hanya memperbaiki gejala, bukan penyakit. Dan perjuangan HAM akan berhenti sebagai pelampiasan emosi (emotional outlet). Pengertian HAM menurut UDHR dapat ditemukan dalam Mukaddimah yang pada prinsipnya dinyatakan bahwa HAM merupakan pengakuan akan martabat yang terpadu dalam diri setiap orang akan hak-hak yang sama dan takteralihkan dari semua anggota keluarga manusia ialah dasar dari kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia (Maurice Cranston, 1972:127).

semua anggota keluarga manusia ialah dasar dari kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia (Maurice Cranston, 1972:127).
semua anggota keluarga manusia ialah dasar dari kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia (Maurice Cranston, 1972:127).
semua anggota keluarga manusia ialah dasar dari kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia (Maurice Cranston, 1972:127).
semua anggota keluarga manusia ialah dasar dari kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia (Maurice Cranston, 1972:127).
semua anggota keluarga manusia ialah dasar dari kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia (Maurice Cranston, 1972:127).
semua anggota keluarga manusia ialah dasar dari kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia (Maurice Cranston, 1972:127).

UU No.39 Tahun 1999 tentang HAM, mengartikan HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan dan perlindungan harkat dan martabat manusia. UU No.39 Tahun 1999 juga mendefinisikan kewajiban dasar manusia adalah seperangkat kewajiban yang apabila tidak dilaksanakan tidak memungkinkan terlaksana dan tegaknya HAM.

Pengertian HAM menurut UDHR sering dinilai masih pada tahap' Generasi 1 Konsep HAM. yaitu isinya sarat dengan hak-hak yuridik dan politik. Sedang kan jika memperhatikan pengertian HAM menurut UU No. 39 Tahun 1999. tampak mengandung visi filsafati dan visi yuridis konstitusional. Kemudian pengertian HAM menurut visi politik dapat diidentikan dengan pendekatan struktural. karena keduanya lebih menonjolkan pengertian HAM dalam kehidupan sehari-hari yang cenderung banyak pelanggaran.

kehidupan sehari-hari yang cenderung banyak pelanggaran. Memperhatikan berbagai pengertian /konsep/definisi hak asasi
kehidupan sehari-hari yang cenderung banyak pelanggaran. Memperhatikan berbagai pengertian /konsep/definisi hak asasi
kehidupan sehari-hari yang cenderung banyak pelanggaran. Memperhatikan berbagai pengertian /konsep/definisi hak asasi
kehidupan sehari-hari yang cenderung banyak pelanggaran. Memperhatikan berbagai pengertian /konsep/definisi hak asasi
kehidupan sehari-hari yang cenderung banyak pelanggaran. Memperhatikan berbagai pengertian /konsep/definisi hak asasi
kehidupan sehari-hari yang cenderung banyak pelanggaran. Memperhatikan berbagai pengertian /konsep/definisi hak asasi

Memperhatikan berbagai pengertian /konsep/definisi hak asasi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa HAM merupakan hak yang melekat (inheren) pada setiap orang yang merupakan karunia Tuhan YME, bukan pemberian negara pemerintah dan atau orang lain, kewajiban dan vvajib dijunjung tinggi oleh negara. pemerintah dan atau orang lain, kewajiban dan tidak boleh dihilangkan atau dihapus oleh siapapun Negara pemerintah dan atau orang lain, masyarakat) dengan alasan apapun (pembangunan, perang. sengketa bersenjata. dan atau keadaan darurat). Karena kebutuhan dasar manusia dimanapun pada hakekatnya sama seperti hak atas hidup, bebas mengeluarkan pikirannya, bebas dari rasa takut, tidak ingin dieksploitasi, hidup bahagia dan lain - lain, maka HAM merupakan sesuatu yang bersifat universal. Definisi memang penting untuk ditempatkan pada awal perbincangan suatu hal. Karena melalui definisi yang tepat, kita akan sampai pada konsep suatu hal. Untuk itu, Ibnu Sina pernah berkomentar: “tanpa definisi kita tidak akan pernah sampai pada “ (http://id.wikipedia.org/wiki/Ideologi). Secara harfiah, istilah hak (asasi) manusia merupakan terjemahan dari human rights yang berarti hak manusia (tanpa asasi). Di Indonesia, istilah tersebut ditambahi dengan kata (hak) asasi yang merupakan terjemahan dari

basic rights. Hal ini rupanya dimaksudkan untuk menegaskan dan membedakan antara hak manusia yang asasi dan hak manusia yang tidak asasi. Agar kita dapat memperoleh suatu konsep yang tepat mengenai hak asasi manusia itu, di bawah ini disajikan beberapa definisi tentang hak asasi manusia. Menurut Notonagoro (dalam Chaidir Basrie, 2004:3) “Hak ialah kuasa untuk menerima atau melakukan sesuatu atau yang semestinya diterima atau dilakukan oleh pihak tertentu, dan tidak dapat oleh pihak lain manapun juga yang pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa olehnya.” Minto Rahayu (2007:146) mendefinisikan human right sebagai “perlindungan terhadap seseorang dari penindasan oleh siapupun, Negara, atau bukan Negara”. Menurut Tilaar (dalam A.T. Soegito, 2005:1), hak asasi manusia adalah “hak-hak yang melekat pada diri manusia, dan tanpa hak-hak itu manusia tidak dapat hidup layak sebagai manusia. Hak asasi manusia adalah hak yang dimiliki manusia yang telah diperoleh dan di bawanya bersamaan dengan kelahirannya, atau kehadirannya di dalam kehidupan masyarakat.” Dari beberapa definisi tersebut di atas dapatlah diambil suatu pengertian sebagai berikut. Pertama, hak asasi manusia itu bersifat umum (universal). Artinya, beberapa hak yang dimiliki manusia tanpa berbedaan atas bangsa, ras, agama, atau jenis kelamin. Kedua, hak asasi manusia itu bersifat supralegal. Artinya, adanya tidak tergantung kepada adanya suatu Negara atau undang-undang dasar maupun kekuasaan pemerintah, bahkan memiliki kewenangan lebih tinggi, karena hak asasi manusia itu dimiliki manusia bukan karena kemurahan atau pemberian Negara, melainkan karena berasal dari sumber yang lebih tinggi.

Hari HAM dirayakan tiap tahun oleh banyak negara di seluruh dunia setiap tanggal 10 Desember. Ini dinyatakan oleh International Humanist and Ethical Union (IHEU) sebagai hari resmi perayaan kaum Humanisme. Tanggal ini dipilih untuk menghormati Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengadopsi dan memproklamasikan Deklarasi Universal HAM, sebuah pernyataan global tentang HAM, pada 10 Desember 1948. Peringatan dimulai sejak 1950 ketika Majelis Umum mengundang semua negara dan organisasi yang peduli untuk merayakan.

. Peringatan dimulai sejak 1950 ketika Majelis Umum mengundang semua negara dan organisasi yang peduli untuk
. Peringatan dimulai sejak 1950 ketika Majelis Umum mengundang semua negara dan organisasi yang peduli untuk
. Peringatan dimulai sejak 1950 ketika Majelis Umum mengundang semua negara dan organisasi yang peduli untuk
. Peringatan dimulai sejak 1950 ketika Majelis Umum mengundang semua negara dan organisasi yang peduli untuk
. Peringatan dimulai sejak 1950 ketika Majelis Umum mengundang semua negara dan organisasi yang peduli untuk
. Peringatan dimulai sejak 1950 ketika Majelis Umum mengundang semua negara dan organisasi yang peduli untuk

Realitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara akhir- akhir ini menunjukkan, betapa pentingnya setiap warga negara untuk ikut terlibat dalam perikehidupan bersama yang lebih intensif. Sebagaimana kita ketahui saat ini kita telah berada dalam perikehidupan global yang penuh dengan tantangan dan persaingan. Tantangan dan persaingan yang terjadi tidak lagi bersumber dari dalam negeri, tetapi juga berasal dari dunia internasional di luar negeri. Berkaitan dengan permasalahan hak asasi manusia, maka bangsa Indonesia tidak dapat hanya berpegang kepada nilai-nilai luhur bangsa sendiri, tetapi juga harus merujuk nilai-nilai universal, yang bersumber dari kesepakatan-kesepakatan (konvensi) internasional. Pada era globalisasi dan pasar bebas dunia, dimana bangsa Indonesia ikut terlibat di dalamnya, maka tidak ada pilihan lain bahwa warga negara bersama pemerintah harus peka dan berkomitmen tinggi terhadap masalah- masalah yang terkait dengan hak asasi manusia. Masalah hak asasi manusia tersebut menyangkut seluruh aspek kehidupan bangsa, baik di bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, serta pertahanan dan keamanan. Selanjutnya baca dengan cermat deskripsi tentang teori Erich From tentang “Syndrome of Decay” atau simdom pembusukan, yang disadari atau tidak sedang melanda perikehidupan bangsa kita belakangan ini. Erich From dalam teori Syndrome of Decay, menyatakan bahwa perikehidupan bermasyarakat akan dihantui oleh munculnya gejala pembusukan. Sekurang- kurangnya ada dua sindrom pembusukan yang dapat diidentifikasi. Pertama, masyarakat mengalami kondisi mental-spiritual yang sangat rapuh, baik ditingkat elit maupun rakyat bawah yang sering disebut sebagai masyarakat akar rumput (grassroots). Perilaku amoral, asusila, dan gejala-gejala buruk lainnya sudah menjadi hal yang dianggap biasa. Pada titik tertentu bahkan telah dipersepsi sebagai budaya dan kebiasaan yang melekat pada masyarakat. Misalnya, perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme telah dilakukan secara terbuka oleh aparatur pemerintah dari pusat sampai tingkat paling bawah. Akibatnya tidak ada lagi sikap percaya kepada pemimpin, dan lama- kelamaan berkembang menjadi saling curiga diantara sesama warga dan kelompok.

sikap percaya kepada pemimpin, dan lama- kelamaan berkembang menjadi saling curiga diantara sesama warga dan kelompok.
sikap percaya kepada pemimpin, dan lama- kelamaan berkembang menjadi saling curiga diantara sesama warga dan kelompok.
sikap percaya kepada pemimpin, dan lama- kelamaan berkembang menjadi saling curiga diantara sesama warga dan kelompok.
sikap percaya kepada pemimpin, dan lama- kelamaan berkembang menjadi saling curiga diantara sesama warga dan kelompok.
sikap percaya kepada pemimpin, dan lama- kelamaan berkembang menjadi saling curiga diantara sesama warga dan kelompok.
sikap percaya kepada pemimpin, dan lama- kelamaan berkembang menjadi saling curiga diantara sesama warga dan kelompok.

Kedua, hilangnya perasaan akan nilai-nilai kemanusiaan, seperti memudarnya sikap ramah, toleran, rukun, dan suka menolong, dan tiba-tiba berubah menjadi sikap beringas, ganas, dan barbarian (suka bertikai). Misalnya, karena persoalan sepele, semisal perkelaian antarpemuda biasa didramatisir sebagai pertikaian atarras, antaretnis, dan antaragama. Akibatnya, masyarakat begitu mudah tersulut perilaku merusak, menghancurkan, bahkan mengalirkan darah sesamanya. Alternatif penyembuhan dari sindrom pembusukan tersebut tidak ada lain, kecuali melalui pembalikan dari itu semua, yakni sindrom pertumbuhan (syndrome of growth). Fromm mendefinisikan sindrom pertumbuhan sebagai cinta kehidupan, cinta antarsesama, dan cinta akan kemerdekaan. Gejala-gejala seperti yang dideskripsikan di atas merupakan fakta kehidupan yang sarat dengan isu-isu hak asasi manusia. Gejala-gejala tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan dapat terjadi di mana saja di seluruh masyarakat manusia di dunia ini. Pengalaman kehidupan menunjukkan hal itu dengan berbagai tonggak sejarah perjuangan dan pengakuan hak asasi manusia. Adapun tonggak-tonggak sejarah hak asasi manusia dimaksud adalah:

sejarah perjuangan dan pengakuan hak asasi manusia. Adapun tonggak-tonggak sejarah hak asasi manusia dimaksud adalah:
sejarah perjuangan dan pengakuan hak asasi manusia. Adapun tonggak-tonggak sejarah hak asasi manusia dimaksud adalah:
sejarah perjuangan dan pengakuan hak asasi manusia. Adapun tonggak-tonggak sejarah hak asasi manusia dimaksud adalah:
sejarah perjuangan dan pengakuan hak asasi manusia. Adapun tonggak-tonggak sejarah hak asasi manusia dimaksud adalah:

1. Di Inggris a. Magna Charta di Inggris (15 Juni 1215). Pemikiran HAM di Inggris lebih banyak dipengaruhi oleh ajaran empirisme. Ajaran empirisme mengikuti jejak Francis Bacon pada abad 17 yang memulai menggunakan pendekatan induktif melalui pengamatan dan eksperimentasi di dalam memperoleh pengetahuan. Menurut empirisme, pengetahuan itu hanya dapat dibentuk melalui pengalaman sebagai sumbernya. Oleh karena itu pemikiran HAM di Inggris dipengaruhi oleh: (a) adat dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat, (b) menghormati kekuasaan kerajaan (raja). Thomas Hobbes (1588-1679) mengajarkan bahwa semua manusia itu memiliki sifat yang sama. Dalam keadaan alamiah, tiap manusia ingin mempertahankan kebebasannya dan kebebasan orang lain. Manusia dipandang sebagai homo homini lupus yaitu naluri manusia itu bagaikan

kebebasannya dan kebebasan orang lain. Manusia dipandang sebagai homo homini lupus yaitu naluri manusia itu bagaikan
kebebasannya dan kebebasan orang lain. Manusia dipandang sebagai homo homini lupus yaitu naluri manusia itu bagaikan

serigala untuk selalu ingin mempertahankan dirinya sendiri, bersaing, dan saling menerkam sesamanya. Konflik dan pertikaian akan muncul manakala manusia mengikuti nalurinya itu. Menurut pengalaman, supaya tidak terjadi pertengkaran dan peperangan, manusia harus mengikuti akal sehat yaitu melepaskan hak untuk bebas berbuat sekehendak sendiri dengan bersatu melalui perjanjian sosial (du contract social). Perjanjian itu bukan dibuat antara penguasa dan warga negara tetapi dibuat sendiri oleh warga negara tersebut. Mereka bersepakat untuk membuat perjanjian membentuk penguasa atau pemerintah. Setelah pemerintahan terbentuk maka hak-hak warga negara menjadi hilang dan warga negara tidak dapat memberontak. Orang banyak yang dipersatukan dalam perjanjian sosial itu disebut commonwealth. Di dalam commonwealth yang diutamakan adalah perdamaian dan keamanan seluruh warga negara. Kewajiban pemerintah adalah mengusahakan perdamaian dan perlindungan warga negara sehingga merasa aman. Menurut Hobbes, kekuasaan pemerintahan itu ada pada raja dan gereja. Warga negara tinggal menaati kekuasaan raja dan berbakti pada Tuhan. Hak asasi manusia dipahami dalam hubungan antara warga negara dan pemerintah yang diatur dalam hukum perjanjian dan hukum Tuhan (agama). Tokoh lain dari empirisme Inggris adalah John Locke (1632-1704). Ajarannya tidak jauh berbeda dengan Thomas Hobbes. Menurutnya, pengalaman menjadi sumber pengetahuan. Suatu perbuatan dikatakan etis apabila: (a) menaati perintah Tuhan, (b) menaati undang-undang supaya dikatakan tidak salah, (c) sesuai dengan pendapat umum tentang kebajikan. Bagi Locke, negara tidak boleh mencampuri agama. Negara tidak boleh meniadakan agama. Warga negara bebas menganut kebebasan beragama. Hak negara hanya menghancurkan teori-teori atau ajaran yang membahayakan keberadaan negara. Supaya negara tidak sewenang-wenang, maka kekuasaannya dipisahkan menjadi: (a) legislatif yaitu kekuasaan membuat undang-undang, (b) eksekutif yaitu kekuasaan untuk melaksanakan pemerintahan negara, (c) federatif yaitu kekuasaan untuk menentukan perang dan damai. Ketiga kekuasaan tersebut tidak boleh mencampuri satu dengan

federatif yaitu kekuasaan untuk menentukan perang dan damai. Ketiga kekuasaan tersebut tidak boleh mencampuri satu dengan
federatif yaitu kekuasaan untuk menentukan perang dan damai. Ketiga kekuasaan tersebut tidak boleh mencampuri satu dengan
federatif yaitu kekuasaan untuk menentukan perang dan damai. Ketiga kekuasaan tersebut tidak boleh mencampuri satu dengan
federatif yaitu kekuasaan untuk menentukan perang dan damai. Ketiga kekuasaan tersebut tidak boleh mencampuri satu dengan
federatif yaitu kekuasaan untuk menentukan perang dan damai. Ketiga kekuasaan tersebut tidak boleh mencampuri satu dengan
federatif yaitu kekuasaan untuk menentukan perang dan damai. Ketiga kekuasaan tersebut tidak boleh mencampuri satu dengan

lainnya. Hak asasi manusia diatur sesuai dengan ketiga jenis kekuasaan tersebut. Pemikiran Locke kemudian dilanjutkan oleh J.J. Rousseau yang memandang manusia itu sebagai makhluk alamiah. Hukum alam berlaku dalam kehidupan masyarakat. Dalam keadaan alamiah itu manusia memiliki kebebasan, hak hidup, dan hak milik. Hidup seseorang tergantung pada perlindungan undang-undang sebagai kehendak umum. Undang-undang mengatur bahwa masyarakat mempunyai kehendak umum melalui suara terbanyak. Ketentuan suara terbanyak itu diatur di dalam perjanjian masyarakat (contract social). Di dalam perjanjian itu orang menyerahkan hak-haknya kepada masyarakat. Mereka tunduk pada pemerintahan yang adil. Kekuasaan untuk menetapkan undang-undang di dalam negara dibentuk melalui perjanjian antara penguasa dan rakyat. Perjanjian masyarakat sebagai kehendak umum itu melindungi agar hak-hak individu tidak dilanggar individu lainnya. Pemikiran beberapa tokoh tersebut di atas, memberikan inspirasi untuk memperjuangkan HAM di Inggris. Menurut Magna Charta (Al Hakim, 2002) kekuasaan Raja (John Lackland) harus dibatasi. Hak asasi manusia lebih penting daripada kekuasaan Raja. Tidak seorang pun warga negara Inggris yang merdeka dapat ditahan, dirampas harta kekayaannya, diperkosa, diasingkan, disiksa, atau dengan cara apapun diperkosa hak-haknya kecuali dengan pertimbangan hukum. HAM dan hukum yang membatasi kekuasaan Raja agar tidak melakukan kesewenang-wenangan. Pada tahun 1629 masyarakat mengajukan Petition of Right (petisi hak asasi manusia) yang berisi tentang pajak yang dipungut kerajaan harus mendapat persetujuan parlemen Inggris. Selain itu, tidak seorang pun dapat ditangkap tanpa tuduhan dan bukti-bukti yang sah.

pun dapat ditangkap tanpa tuduhan dan bukti-bukti yang sah. b) Habeas Corpus Act ( 1679) Pada
pun dapat ditangkap tanpa tuduhan dan bukti-bukti yang sah. b) Habeas Corpus Act ( 1679) Pada
pun dapat ditangkap tanpa tuduhan dan bukti-bukti yang sah. b) Habeas Corpus Act ( 1679) Pada
pun dapat ditangkap tanpa tuduhan dan bukti-bukti yang sah. b) Habeas Corpus Act ( 1679) Pada
pun dapat ditangkap tanpa tuduhan dan bukti-bukti yang sah. b) Habeas Corpus Act ( 1679) Pada
pun dapat ditangkap tanpa tuduhan dan bukti-bukti yang sah. b) Habeas Corpus Act ( 1679) Pada

b) Habeas Corpus Act ( 1679) Pada tahun 1679 dibuatlah suatu ketentuan di dalam Habeas Corpus Act yang menyatakan bahwa penangkapan terhadap seseorang hanya dapat dilakukan apabila disertai dengan surat-surat yang lengkap dan sah. Habeas Corpus Act adalah suatu dokumen yang memuat pernyataan tentang perlindungan terhadap kebebasan yang dimiliki oleh setiap warga negara. Undang-undang ini menyatakan bahwa: “Sebuah

undang-undang harus melindungi kebebasan warga negara.” Undang-undang yang dibuat di Inggris ini bertujuan untuk mencegah pemenjaraan yang sewenang-wenang. Setiap orang yang ditahan dalam waktu tiga hari, maka harus segera dihadapkan kepada seorang hakim serta diberitahukan kepadanya atas tuduhan apa ia ditahan.

c). Bill of Right (1689)

Setelah Habeas Corpus Act ( 1679) dinyatakan, maka di lanjutkan dengan aturan baru yang dibuat pada tahun 1689 yaitu Bill of Right yang menyatakan bahwa pemungutan pajak harus mendapat persetujuan parlemen dan parlemen dapat mengubah keputusan Raja. Bill of Right adalah suatu piagam yang berisi pernyataan bahwa Raja William di Inggris harus mengakui hak-hak parlemen, serta kebebasan berbicara atau mengeluarkan pendapat. Berbagai ketentuan HAM dan hukum tersebut bertujuan untuk membatasi kekuasaan Raja agar tidak sewenang-wenang dan melindungi warga negara sebagai manusia.

sewenang-wenang dan melindungi warga negara sebagai manusia. 2. Amerika a. Declaration of Independence (1776) Bangsa
sewenang-wenang dan melindungi warga negara sebagai manusia. 2. Amerika a. Declaration of Independence (1776) Bangsa
sewenang-wenang dan melindungi warga negara sebagai manusia. 2. Amerika a. Declaration of Independence (1776) Bangsa
sewenang-wenang dan melindungi warga negara sebagai manusia. 2. Amerika a. Declaration of Independence (1776) Bangsa
sewenang-wenang dan melindungi warga negara sebagai manusia. 2. Amerika a. Declaration of Independence (1776) Bangsa
sewenang-wenang dan melindungi warga negara sebagai manusia. 2. Amerika a. Declaration of Independence (1776) Bangsa

2. Amerika a. Declaration of Independence (1776) Bangsa Amerika berasal dari kaum imigran berbagai negara Eropa, Asia, Afrika, dan Australia. Kaum imigran tersebut semula berpikir secara sempit untuk kepentingannya sendiri. Mereka mempunyai kebiasaan dan pengalaman sendiri yang dibawa dari negaranya. Sebelum merdeka, masyarakat kolonial Inggris dari berbagai belahan bumi dibawa ke Amerika untuk bekerja dan mengabdi kepada pemerintah kerajaan Inggris Raya. Keanekaragaman bangsa Amerika tersebut sebagai potensi negara harus diterima dan diberdayakan demi kejayaan Amerika. Ketika Amerika masih di bawah pemerintahan kolonial Inggris, masyarakat diperlakukan secara tidak adil. Pada tahun 1776 bangsa Amerika menyatakan kemerdekaan dari pemerintahan kerajaan Inggris melalui Declaration of Independence. Rakyat Amerika yang bersifat heterogen harus dapat hidup berdampingan secara damai. Hak-hak asasi masyarakat harus dijamin dan dilindungi tanpa pengecualian. Untuk itu disusun suatu UUD yang menerima aspirasi seluruh rakyat. Di dalam deklarasi kemerdekaan tersebut

Declaration of Independence merupakan Piagam Hak-hak Asasi Manusia karena memuat pernyataan: “bahwa sesungguhnya semua bangsa diciptakan sama sederajat oleh Maha Penciptannya. Bahwa semua manusia dianugerahi oleh Penciptanya hak hidup, kemerdekaan dan kebebasan untuk menikmati kebahagiaan”.

b) The four Freedoms (1941)

Ketika sedang berkecamuk perang dunia ke II, Presiden Franklin Delano

Roosevelt di hadapan konggres Amerika (1941) menyatakan ada empat

kemerdekaan (The Four Freedoms) yaitu: (a) freedom of speech and

expression (kebebasan berbicara dan berpendapat), (b) freedom of Religon (

kebebasan beragama), (c) freedom from fear (bebas dari rasa takut) dan (d)

freedom from want (bebas dari kekurangan dan kelaparan/kemiskinan).

3. Prancis (Declaration des droits de`lHomme et du Citoyen, 1789)

(Declaration des droits de`lHomme et du Citoyen, 1789) yang di Prancis banyak bercorak Pemikiran berkembang lebih
yang
yang
(Declaration des droits de`lHomme et du Citoyen, 1789) yang di Prancis banyak bercorak Pemikiran berkembang lebih

di

Prancis
Prancis
banyak
banyak
bercorak
bercorak

Pemikiran

berkembang

lebih

rasionalisme. Artinya rasio dijadikan sumber dan ukuran untuk menentukan

kebenaran. Dengan metode keraguan metodis, Rene Descates sebagai bapak

rasionalisme modern menyatakan bahwa semua hal dapat diragukan kecuali

aku yang sedang berpikir. Katanya, cogito ergo sum artinya aku berpikir maka

aku ada. Keberadaanku ditentukan oleh cara berpikirku. Menurutnya hak asasi

manusia terletak pada kebebasan untuk berpikir dan berkehendak. Kebebasan

adalah ciri khas kesadaran yang berpikir. Kebebasan manusia mengambil

bagian dari kebebasan Tuhan artinya dalam menjalankan kebebasan, manusia

tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh Tuhan.

Perjuangan rakyat Prancis berhasil dalam meraih hak-hak asasi yang

dirampas oleh penguasa raja dimulai ketika mereka berhasil membatasi

kekuasaan melalui revolusi Prancis. Ditandai dengan hancurnya penjara

Bastille sebagai simbol penindasan hak asasi manusia, rakyat Prancis

mengumandangkan liberty, equality, dan legality. Semua orang memiliki hak

untuk merdeka atau bebas, perlakuan yang sama dan adil serta perlindungan

hukum.

Rasionalisme tumbuh subur di Prancis dan dikembangkan lebih lanjut oleh

Auguste Comte. Menurutnya masyarakat itu berkembang melalui tiga tahap:

tahap teologis dimana kehidupan masyarakat ditentukan oleh kepercayaan pada kekuatan adi kodrati, tahap metafisis dimana kehidupan masyarakat ditentukan oleh kekuatan berpikir rasional, dan tahap positif dimana kehidupan masyarakat ditentukan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Hak asasi manusia berkembang dan dipahami sesuai dengan perkembangan rasional positif, sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Pada tahap positif, masyarakat modern memahami hak asasi secara ilmiah. Hak asasi diletakkan dalam perkembangan ipteks. Perkembangan teknologi telekomunikasi dan informasi membuat arus informasi semakin cepat diterima masyarakat sehingga tumbuh kesadaran akan hak-haknya sebagai manusia. Perhatian HAM di Prancis memperoleh inspirasi dari revolusi kemerdekaan Amerika. Perjuangan bangsa Prancis dalam mewujudkan HAM secara rasional ditandai dengan dirobohkannya penjara Bastille. Robohnya penjara tersebut sebagai tonggak hancurnya kekuasaan yang represif dan melanggar HAM. Revolusi Prancis (1789) dimulai dengan dideklarasikan Declaration des droits de`lHomme et du Citoyen (deklarasi tentang hak asasi manusia dan penduduk). Deklarasi tersebut berisi tentang pernyataan bahwa manusia itu dilahirkan dalam keadaan bebas dan mempunyai kedudukan yang sama, dan sesungguhnya tujuan dari segala persekutuan politik ialah memelihara hak-hak bawaan kodrat manusia yang tidak dapat dialihkan. Kemerdekaan yang dimaksudkan dalam deklarasi tersebut adalah semua orang boleh bertindak sesukanya asal tidak merugikan orang lain. Sejak itu, Prancis merayakan kemerdekaan sebagai negara modern dengan semboyan liberty (kemerdekaan), equality (persamaan), dan egality (persaudaraan).

equality (persamaan), dan egality (persaudaraan). 4) Universal Declaration Of Human Rights / UDHR ( PBB 1948)
equality (persamaan), dan egality (persaudaraan). 4) Universal Declaration Of Human Rights / UDHR ( PBB 1948)
equality (persamaan), dan egality (persaudaraan). 4) Universal Declaration Of Human Rights / UDHR ( PBB 1948)
equality (persamaan), dan egality (persaudaraan). 4) Universal Declaration Of Human Rights / UDHR ( PBB 1948)
equality (persamaan), dan egality (persaudaraan). 4) Universal Declaration Of Human Rights / UDHR ( PBB 1948)
equality (persamaan), dan egality (persaudaraan). 4) Universal Declaration Of Human Rights / UDHR ( PBB 1948)

4) Universal Declaration Of Human Rights / UDHR ( PBB 1948) Pada tanggal 10 Desember 1948 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dan menyatakan mengadopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang penuh teks yang muncul di halaman berikut ini. Berikut ini sejarah Majelis bertindak atas nama semua negara-negara Anggota untuk mempropagandakan teks Deklarasi dan "menyebabkan ia harus disebarluaskan, ditampilkan, dan membaca expounded

terutama di sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan lainnya, tanpa berdasarkan status politik negara atau wilayah. " Alinea pertama Mukadimah Pernyataan Sedunia tentang Hak-hak Asasi Manusia tersebut menyatakan: ”Bahwa sesungguhnya hak-hak kodrati yang diperoleh setiap manusia berkat pemberian Tuhan Seru Sekalian Alam, tidak dapat dipisahkan dari hakikatnya, dan karena itu setiap manusia berhak akan kehidupan yang layak, kebebasan, keselamatan, dan kebahagiaan pribadinya.”. Piagam PBB ini terdiri atas pembukaan dan 30 pasal. Adapun isi pembukaan tersebut adalah sebagai berikut :

PREAMBUL

Sedangkan pengakuan terhadap martabat dan melekat pada hak- hak yang sama dan tidak dapat dicabut dari semua anggota keluarga manusia adalah dasar kemerdekaan, keadilan dan perdamaian di dunia, Menimbang bahwa mengabaikan dan hak asasi manusia telah mengakibatkan perbuatan yang biadab outraged dengan hati nurani umat manusia, dan terbentuknya suatu dunia di mana manusia akan menikmati kebebasan berbicara dan beragama serta kebebasan dari ketakutan dan kekurangan telah dinyatakan sebagai cita-cita tertinggi dari masyarakat umum, Sedangkan ia sangat penting, jika manusia itu tidak akan memaksa untuk meminta bantuan, sebagai jalan terakhir, untuk pemberontakan menentang kezaliman dan penindasan, hak asasi manusia yang harus dilindungi oleh supremasi hukum, Sedangkan ia sangat penting untuk mendorong perkembangan hubungan antara bangsa-bangsa yang ramah, Sedangkan bangsa dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang ada dalam Piagam reaffirmed iman mereka di dasar hak asasi manusia, akan martabat dan nilai seseorang manusia dan hak-hak yang sama laki-laki dan perempuan, dan telah bertekad untuk menggalakkan kemajuan sosial dan taraf hidup yang lebih baik dalam kemerdekaan yang lebih luas, Negara-Negara Anggota telah berjanji untuk mencapai kemajuan dalam kerjasama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa, promosi universal dan ketaatan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan fundamental, Sedangkan yang umum memahami hak-hak dan kebebasan- kebebasan tersebut sangat penting untuk pelaksanaan realisasi dari janji ini, Sekarang, demikian Majelis Umum memperkenalkan Universal Declaration of Human Rights sebagai satu standar umum keberhasilan untuk semua bangsa dan semua negara, di akhir bahwa setiap individu dan setiap organ masyarakat, dengan mengingat Pernyataan ini selalu diingat, harus berusaha keras

bahwa setiap individu dan setiap organ masyarakat, dengan mengingat Pernyataan ini selalu diingat, harus berusaha keras
bahwa setiap individu dan setiap organ masyarakat, dengan mengingat Pernyataan ini selalu diingat, harus berusaha keras
bahwa setiap individu dan setiap organ masyarakat, dengan mengingat Pernyataan ini selalu diingat, harus berusaha keras
bahwa setiap individu dan setiap organ masyarakat, dengan mengingat Pernyataan ini selalu diingat, harus berusaha keras
bahwa setiap individu dan setiap organ masyarakat, dengan mengingat Pernyataan ini selalu diingat, harus berusaha keras
bahwa setiap individu dan setiap organ masyarakat, dengan mengingat Pernyataan ini selalu diingat, harus berusaha keras

dengan mengajar dan pendidikan untuk meningkatkan rasa hormat terhadap hak-hak dan kebebasan dan dengan langkah-langkah progresif, nasional dan internasional, untuk memastikan mereka universal dan efektif pengakuan dan pemeliharaan, baik oleh

bangsa-bangsa dari Negara-Negara Anggota sendiri maupun oleh bangsa-bangsa dari wilayah di bawah kekuasaan hukum mereka. Pasal 1. Semua orang dilahirkan merdeka dan setara dalam martabat dan rights.Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam

persaudaraan.

semangat

Pasal 2. Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan yang termaktub di dalam Pernyataan ini tanpa perkecualian apapun, seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pendapat lain, asal nasional atau sosial, hak milik, kelahiran atau status lainnya. Selain itu, tidak ada perbedaan harus dilakukan atas dasar politik, berhubung dgn hukum atau status internasional negara atau wilayah yang dimiliki oleh seseorang, baik bersifat independen, trust, non-self-pemimpin yang lain atau di bawah batasan kedaulatan.

Pasal 3. Setiap orang berhak untuk hidup, kebebasan dan keselamatan individu.

berhak untuk hidup, kebebasan dan keselamatan individu. Pasal 4. Tidak seorang pun akan diselenggarakan di
berhak untuk hidup, kebebasan dan keselamatan individu. Pasal 4. Tidak seorang pun akan diselenggarakan di
berhak untuk hidup, kebebasan dan keselamatan individu. Pasal 4. Tidak seorang pun akan diselenggarakan di
berhak untuk hidup, kebebasan dan keselamatan individu. Pasal 4. Tidak seorang pun akan diselenggarakan di
berhak untuk hidup, kebebasan dan keselamatan individu. Pasal 4. Tidak seorang pun akan diselenggarakan di
berhak untuk hidup, kebebasan dan keselamatan individu. Pasal 4. Tidak seorang pun akan diselenggarakan di

Pasal 4. Tidak seorang pun akan diselenggarakan di perbudakan atau diperhambakan, perbudakan dan perdagangan budak harus dilarang dalam segala bentuk.

Pasal 5. Tidak seorang pun boleh disiksa atau diperlakukan secara kejam, ganas atau perlakuan atau hukuman menghinakan.

Pasal 6. Setiap orang berhak atas pengakuan di mana-mana sebagai orang di depan hukum.

Pasal 7. Semua orang sama di depan hukum dan berhak tanpa diskriminasi sama untuk perlindungan hukum. Semua berhak atas itu.

Pasal 8. Setiap orang perlindungan yang sama terhadap setiap bentuk diskriminasi yang melanggar Deklarasi ini dan terhadap segala hasutan yang mengarah pada diskriminasi semacam berhak atas bantuan yang efektif dari pengadilan nasional yang kompeten untuk tindakan pelanggaran hak-hak dasar yang diberikan kepadanya oleh konstitusi atau oleh hukum.

Pasal 9.

Tidak seorang pun boleh sewenang-wenang penangkapan, penahanan atau pembuangan.

Pasal 10. Setiap orang berhak penuh untuk kesetaraan yang adil dan terbuka oleh pengadilan yang independen dan imparsial hakim, dalam menetapkan hak dan kewajiban-kewajibannya serta dalam setiap tuntutan pidana yang dijatuhkan kepadanya.

Pasal 11. (1) Setiap orang yang dituntut dengan hukuman pelanggaran berhak untuk disangka bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya menurut hukum dalam suatu pengadilan di mana dia memiliki semua jaminan yang diperlukan untuk pembelaannya. (2) Tidak seorang pun akan diselenggarakan bersalah atas pelanggaran hukuman pada setiap perbuatan atau kelalaian yang tidak merupakan suatu pelanggaran hukuman, di bawah undang-undang nasional atau internasional, ketika perbuatan tersebut dilakukan. Juga tidak yang akan dikenakan hukuman berat dari salah satu yang telah berlaku pada saat hukuman pelanggaran tersebut dilakukan.

berlaku pada saat hukuman pelanggaran tersebut dilakukan. Pasal 12. Tidak seorang pun boleh sewenang-wenang gangguan
berlaku pada saat hukuman pelanggaran tersebut dilakukan. Pasal 12. Tidak seorang pun boleh sewenang-wenang gangguan
berlaku pada saat hukuman pelanggaran tersebut dilakukan. Pasal 12. Tidak seorang pun boleh sewenang-wenang gangguan
berlaku pada saat hukuman pelanggaran tersebut dilakukan. Pasal 12. Tidak seorang pun boleh sewenang-wenang gangguan
berlaku pada saat hukuman pelanggaran tersebut dilakukan. Pasal 12. Tidak seorang pun boleh sewenang-wenang gangguan
berlaku pada saat hukuman pelanggaran tersebut dilakukan. Pasal 12. Tidak seorang pun boleh sewenang-wenang gangguan

Pasal 12. Tidak seorang pun boleh sewenang-wenang gangguan dengan pribadinya, keluarganya, rumah atau korespondensi, atau serangan ke atas kehormatannya dan nama baiknya. Setiap orang berhak mendapat perlindungan hukum terhadap gangguan atau serangan seperti itu.

Pasal 13. (1) Setiap orang berhak atas kebebasan bergerak dan berdiam di dalam batas- batas setiap negara. (2) Setiap orang berhak meninggalkan sesuatu negeri, termasuk negerinya sendiri, dan berhak kembali ke negerinya.

Pasal 14. (1) Setiap orang berhak mencari dan menikmati suaka di negara-negara lain dari pengejaran. (2) Ha ini tidak berlaku untuk kasus penuntutan yang benar-benar timbul karena kejahatan non-politik atau perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan tujuan dan dasar Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pasal 15. (1) Setiap orang berhak atas kewarganegaraan. (2) Tidak seorang pun boleh sewenang-wenang deprived of his negaraannya atau ditolak hak untuk mengubah kewarganegaraan itu.

Pasal 16. (1) Pria dan wanita yang sudah dewasa, dengan tidak dibatasi kebangsaan, kewarga-negaraan atau agama, berhak untuk nikah dan untuk membentuk

keluarga. Mereka berhak memperoleh hak yang sama seperti perkawinan, selama perkawinan dan pada saat perceraian. (2) Pernikahan akan memasuki hanya dengan bebas dan persetujuan penuh oleh kedua mempelai. (3) Keluarga adalah kesatuan alamiah dan fundamental dari masyarakat dan berhak mendapat perlindungan dari masyarakat dan Negara.

Pasal 17. (1) Setiap orang berhak memiliki harta, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain. (2) Tidak seorang pun boleh sewenang-wenang deprived of his property.

Pasal 18. Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran, hati nurani dan agama; hak ini termasuk kebebasan untuk mengubah agamanya atau kepercayaan, dan kebebasan, baik sendiri maupun dengan orang lain dan masyarakat umum atau swasta, untuk nyata nya agama atau kepercayaan dalam pengajaran, praktek , ibadah dan ketaatan.

kepercayaan dalam pengajaran, praktek , ibadah dan ketaatan. Pasal 19. Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai
kepercayaan dalam pengajaran, praktek , ibadah dan ketaatan. Pasal 19. Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai
kepercayaan dalam pengajaran, praktek , ibadah dan ketaatan. Pasal 19. Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai
kepercayaan dalam pengajaran, praktek , ibadah dan ketaatan. Pasal 19. Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai
kepercayaan dalam pengajaran, praktek , ibadah dan ketaatan. Pasal 19. Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai
kepercayaan dalam pengajaran, praktek , ibadah dan ketaatan. Pasal 19. Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai

Pasal 19. Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; hak ini termasuk kebebasan memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan informasi dan ide melalui media apapun dan berapapun frontiers.

Pasal 20. (1) Setiap orang berhak atas kebebasan berkumpul dan berserikat secara damai. (2) Tidak seorang pun boleh dipaksa untuk memasuki sesuatu perkumpulan.

Pasal 21. (1) Setiap orang berhak turut serta dalam pemerintahan negerinya, secara langsung atau melalui wakil-wakil yang dipilih secara bebas. (2) Setiap orang berhak atas kesempatan yang sama untuk diangkat dalam jabatan pemerintahan negerinya. (3) Kehendak rakyat harus menjadi dasar kekuasaan pemerintah; ini harus dinyatakan dalam pemilihan berkala dan asli yang harus oleh universal dan kesetaraan hak dan harus dilaksanakan oleh rahasia suara atau setara gratis voting prosedur.

Pasal 22. Setiap orang, sebagai anggota masyarakat, berhak atas jaminan sosial dan berhak melaksanakan dengan perantaraan usaha-usaha nasional dan kerjasama internasional dan sesuai dengan organisasi serta sumber-sumber kekayaan dari setiap Negara, dari ekonomi, sosial dan budaya sangat diperlukan untuk hak martabat dan pertumbuhan bebas pribadinya.

Pasal 23.

(1) Setiap orang berhak atas pekerjaan, berhak dengan bebas memilih pekerjaan, dan hanya untuk kondisi baik, dan berhak atas perlindungan dari pengangguran. (2) Setiap orang, tanpa diskriminasi, berhak atas pengupahan yang sama untuk pekerjaan yang sama. (3) Setiap orang yang melakukan pekerjaan berhak atas pengupahan yang adil dan baik yang menjamin kehidupannya dan keluarganya, suatu kehidupan yang pantas untuk manusia yang bermartabat, dan jika perlu, dengan cara lain dengan perlindungan sosial. (4) Setiap orang berhak mendirikan dan memasuki serikat-serikat pekerja untuk melindungi kepentingannya.

Pasal 24. Setiap orang berhak atas istirahat dan liburan, termasuk jam kerja dan hari libur berkala, dengan menerima upah.

Pasal 25. (1) Setiap orang berhak atas taraf hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya, termasuk pangan, pakaian, perumahan dan perawatan kesehatannya serta pelayanan sosial yang diperlukan, dan hak untuk keamanan dalam hal pengangguran, sakit, cacat, menjadi janda, mencapai usia lanjut atau mengalami kekurangan mata pencarian yang lain keadaan yang berada di luar kekuasaannya. (2) ibu dan anak-anak berhak mendapat perawatan dan bantuan. Semua anak, baik yang dilahirkan di dalam maupun di luar perkawinan, harus mendapat perlindungan sosial yang sama.

Semua anak, baik yang dilahirkan di dalam maupun di luar perkawinan, harus mendapat perlindungan sosial yang
Semua anak, baik yang dilahirkan di dalam maupun di luar perkawinan, harus mendapat perlindungan sosial yang
Semua anak, baik yang dilahirkan di dalam maupun di luar perkawinan, harus mendapat perlindungan sosial yang
Semua anak, baik yang dilahirkan di dalam maupun di luar perkawinan, harus mendapat perlindungan sosial yang

Pasal 26. (1) Setiap orang berhak mendapat pendidikan. Pendidikan harus gratis, setidak-tidaknya untuk tingkat sekolah rendah dan pendidikan dasar. Pendidikan rendah harus diwajibkan. Teknis dan profesional pendidikan harus dibuat tersedia secara umum dan pendidikan tinggi harus secara adil dapat diakses oleh semua orang, berdasarkan kepantasan. (2) Pendidikan harus ditujukan ke arah perkembangan penuh manusia dengan kepribadian dan memperkuat hak asasi manusia dan kebebasan fundamental. Pendidikan harus menggalakkan saling pengertian, toleransi dan persahabatan di antara semua bangsa, kelompok ras maupun agama, serta harus memajukan kegiatan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memelihara perdamaian. (3) Orang tua mempunyai hak utama untuk memilih jenis pendidikan yang akan diberikan kepada anak-anak mereka.

pendidikan yang akan diberikan kepada anak-anak mereka. Pasal 27. (1) Setiap orang berhak untuk berpartisipasi
pendidikan yang akan diberikan kepada anak-anak mereka. Pasal 27. (1) Setiap orang berhak untuk berpartisipasi

Pasal 27. (1) Setiap orang berhak untuk berpartisipasi secara bebas dalam kehidupan kebudayaan masyarakat, untuk mengecap kenikmatan kesenian dan berbagi dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan manfaatnya.

(2) Setiap orang berhak mendapat perlindungan atas kepentingan-kepentingan moril dan material yang diperoleh sebagai hasil dari ilmiah, kesusasteraan atau artistik produksi yang dia adalah penulis.

Pasal 28.

Setiap orang berhak atas suatu tatanan sosial dan internasional di mana hak- hak dan kebebasan-kebebasan yang termaktub di dalam Pernyataan ini dapat

sepenuhnya.

dilaksanakan

Pasal 29. (1) Setiap orang mempunyai kewajiban terhadap masyarakat di mana saja yang kosong dan penuh pengembangan pribadinya adalah mungkin. (2) Dalam menjalankan hak-hak dan kebebasan-kebebasannya, setiap orang harus tunduk hanya seperti itu karena keterbatasan yang ditentukan oleh undang-undang semata-mata untuk tujuan pengamanan karena pengakuan dan penghormatan terhadap hak-hak dan kebebasan orang lain dan tentu saja memenuhi persyaratan moralitas , ketertiban umum dan kesejahteraan umum dalam suatu masyarakat yang demokratis. (3) Hak-hak dan kebebasan Mei sama sekali tidak dapat dilaksanakan bertentangan dengan tujuan dan dasar Perserikatan Bangsa-Bangsa.

dengan tujuan dan dasar Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pasal 30. Tidak satu pun di dalam Pernyataan ini boleh
dengan tujuan dan dasar Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pasal 30. Tidak satu pun di dalam Pernyataan ini boleh
dengan tujuan dan dasar Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pasal 30. Tidak satu pun di dalam Pernyataan ini boleh
dengan tujuan dan dasar Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pasal 30. Tidak satu pun di dalam Pernyataan ini boleh
dengan tujuan dan dasar Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pasal 30. Tidak satu pun di dalam Pernyataan ini boleh
dengan tujuan dan dasar Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pasal 30. Tidak satu pun di dalam Pernyataan ini boleh

Pasal 30. Tidak satu pun di dalam Pernyataan ini boleh ditafsirkan memberikan sesuatu Negara, kelompok ataupun seseorang, hak untuk terlibat di dalam kegiatan apa pun atau melakukan perbuatan yang bertujuan untuk pemusnahan atas hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum di sini.

7.2 Latar Belakang Munculnya HAM

HAM sebagai hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat

qodratidan fundamental sebagai suatu anugerah Allah yang harus dihormati,

dijaga dan dilindungi oleh setiap individu, masyarakat atau negara. Hakekat

HAM merupakan upaya menjaga keselamatan eksistensi manusia secara utuh

melalui sksi keseimbangan yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban,

serta keseimbangan antara kepentingan perseorangan dengan kepentingan

umum. Begitu juga upaya menghormati, melindungi dan menjunjung tinggi

HAM, menjadi kewajiban dan tanggung jawab bersama antara individu,

pemerintah (aparatur pemerintahan baik sipil maupun militer) dan negara.

Berdasarkan beberapa rumusan HAM diatas, dapat ditarik kesimpulan tentang

beberapa ciri pokok hakikat HAM yaitu:

a) HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi.HAM adalah bagian dari

manusia secara otomatis;

b) HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandag jenis kelamin, ras, agama, etnis, pandangan politik atau asal-usul sosial dan bangsa;

c) HAM tidak bisa dilanggar. Tidak seorang pun yang mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM walaupun negara membuat hukum yang tidak dilindungi melanggar HAM.

Tentang macam-macam hak asasi manusia ada berbagai pandangan. Thomas Hobbes berpendapat bahwa satu-satunya hak asasi adalah hak hidup. Bagi John Locke dan Liberalisme klasik, hak asasi meliputi hak hidup (the right to life), kemerdekaan {the right to liberty) dan hak milik (the right to property) (Rodee & Anderson. 1988 : 194). Pendapat John Locke ini sahgat dipengaruhi oleh gagasan hukum alam (natural law) ketika dalam keadaan alamiah (state of nature), yaitu suatu keadaan di mana belum terdapat kekuasaan dan otorita.apa-apa, semua orang sama sekali bebas dan sama derajatnya. Dalam perkembangan selanjutnya, diantara orang - orang itu sering terjadi percekcokan karena perbedaan pemilikan nana benda dan karena ada orang yang hidup di atas penderitaan orang lain. Kondisi seperti itu telah menggeser keadaan alamiah ke keadaan perang (state war), menimbulkan pemikiran untuk melindungi ketiga hak-hak fundamental di atas (hak hidup, merdeka dan memiliki). Untuk itu kemudian berkumpul dan mengadakan perjanjian untuk ber-masyarakat untuk menyerahkan sebagian hak-hak mereka kepada.seorang pemimpin yang bertugas untuk melindungi ketiga hak tersebut sebagai hak individu dan masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari dirinya dan diserahkan kepada pemimpin/ in casu negara dan diterima manusia sejak lahir dan bukan merupakan pemberian hukum manusia atau masyarakat (Baut S:Harman. 1988:6-7). Dalam UDHR yang memuat 30 pasal, 31 ayat apabila ditelaah lebih lanjut secara garis besar macam - macam hak asasi manusia dapat dikelompokan ke dalam tiga bagian yaitu :

manusia dapat dikelompokan ke dalam tiga bagian yaitu : a. hak - hak politik dan yuridik;
manusia dapat dikelompokan ke dalam tiga bagian yaitu : a. hak - hak politik dan yuridik;
manusia dapat dikelompokan ke dalam tiga bagian yaitu : a. hak - hak politik dan yuridik;
manusia dapat dikelompokan ke dalam tiga bagian yaitu : a. hak - hak politik dan yuridik;
manusia dapat dikelompokan ke dalam tiga bagian yaitu : a. hak - hak politik dan yuridik;
manusia dapat dikelompokan ke dalam tiga bagian yaitu : a. hak - hak politik dan yuridik;

a. hak - hak politik dan yuridik;

b. hak - hak atas martabat dan integritas manusia. Dan

Perbedaan hak politik dengan hak sipil dapat dikemukakan bahwa hak

politik merupakan hak yang didapat oleh seseorang dalam hubungan sebagai

seorang anggota di dalam lembaga politik. seperti: hak memiiih, hak dipilih, hak

mencalonkan diri untuk menduduki jabatan-jabatan poiitik, hak memegang

jabatan-jabatan umum dalam negara atau hak yang mcnjadikan seseorang ikut

serta di dalam mengatur kepentingan negara atau pemerintahan (Abdul Karim

Zaidan.l983:l9). Dengan kata lain lapangan hak-hak poiitik sangat luas sekali

mencakup asas-asas masyarakat. dasar-dasar negara, tata hukum. partisipasi

rakyat didalamnya. pembagaian kekuasaan dan batas-batas kewenangan

penguasa terhadap warga negaranya (Subhi Mahmassan 1993:54). Sedangkan

yang dimaksud hak-hak sipil dalam pengertian yang luas. mencakup hak-hak

ekonomi sosial dan kebudayaan merupakan hak yang dinikmati oleh manusia

lain:
lain:
kebudayaan merupakan hak yang dinikmati oleh manusia lain: dalam huburigannya dengan warga negara yang lainnya. dan
kebudayaan merupakan hak yang dinikmati oleh manusia lain: dalam huburigannya dengan warga negara yang lainnya. dan
kebudayaan merupakan hak yang dinikmati oleh manusia lain: dalam huburigannya dengan warga negara yang lainnya. dan
kebudayaan merupakan hak yang dinikmati oleh manusia lain: dalam huburigannya dengan warga negara yang lainnya. dan
kebudayaan merupakan hak yang dinikmati oleh manusia lain: dalam huburigannya dengan warga negara yang lainnya. dan

dalam huburigannya dengan warga negara yang lainnya. dan tidak ada

hubungannva dengan penyelenggaraan kekuasaan negara salah satu jabatan

dan kegiatannya (Subhi, 1993:236).

Dalam Perjanjian tentang Hak-hak Sipil dan Politik dan Perjanjian

lentang hak hak Sosial. Ekonomi dan Budaya. Macam- macam HAM dapat

dikemukakan sebagai berikut. Yang termasuk hak - hak sipil dan politik antara

a. hak atas hidup.

b. hak atas kebebasan dan keamanan diriina.

c. hak atas keamanan di muka badan-badan peradilan.

d. hak atas kebebasan berpikir.

e. hak mempunyai keyakinan (conscience), beragama.

f. hak untuk mempunyai pendapat tanpa mengalami gangguan.

g. hak atas kebebasan berkumpul secara damai.

h. Hukum untuk berserikat martabat dan integritas manusia, dan hak - hak sosial, ekonomi dan budaya (Baut&Harman. 1988 : 9).

Perbedaan hak politik dengan hak sipil dapat dikemukakan bahwa

hak politik merupakan hak yang didapat oleh seseorang dalam hubungan

seorang anggota di dalam lembaga politik. Seperti : hak memilih, hak dipilih, hak

mencalonkan diri untuk menduduki jabatan-jabatan politik. hak mcmegang

jabatan-jabatan umum dalam negara atau hak yang menjadikan seseorang ikut

serta di dalam mengatur kepentingan negara atau pemerintahan (Abdul Karim

Zaidan.l983:l9). Dengan kata lain lapangan hak-hak politik sangat luas sekali

mencakup asas-asas masyarakat, dasar-dasar negara, tata hukum, partisipasi

rakyat didalamnya, pembagaian kekuasaan dan batas-batas kewenangan

penguasa terhadap warga negaranya (Subhi Mahmassan 1993:54). Sedangkan

yang dimaksud hak-hak sipil dalam pengertian sang luas. mencakup hak-hak

ekonomi, sosial dan kebudayaan merupakan hak yang dinikmati oleh manusia

daiam huburigannya dengan warga negara yang lainnya. dan tidak ada

hubungannya dengan penyelenggaraan kekuasaan negara salah satu jabatan

dan kegiatannya ( Subhi.1993:236).

Dalam Perjanjian tentang hak-hak Sipil dan Politik dan Perjanjian tentang

Hak - hak Sosial, Ekonomi dan Budaya, macam - macam HAM dapat

dikemukakan sebagai berikut. Yang termasuk hak - hak sipil dan politik antara

lain:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
-
-

macam

HAM
HAM
politik antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. - macam HAM tentang hak-hak hak
tentang
tentang
hak-hak
hak-hak

hak atas hidup.

hak atas kebebasan dan keamanan dirinya.

hak atas keamanan di muka badan-badan peradilan.

hak atas kebebasan berpikir mempunyai keyakinan (conscience), beragama.

hak untuk mempunyai pendapat tanpa mengalami gangguan.

hak atas kebebasan berkumpul secara damai.

hak untuk berserikat.

Sedangkan

Ekonomi, Sosial dan Budaya mencakup antara lain :

macam

menurut

Perjanjian

1. hak atas pekerjaan.

2. hak untuk membentuk serikat kerja.

3. hak atas pensiun.

4. hak atas tingkat kehidupan yang layak bagi diriina serta keluarganya. termasuk makanan, pakaian dan perumahan yang layak.

5 . hak atas pendidikan (Miriam

Budiardjo, 1922 : I27).

Pembagian hak asasi manusia sang agak mirip dengan kedua pendapat

tersebut di atas adalah yang mengikuti pembedaan sebagai berikut :

a. Hak asasi pribadi (personal rights) meliputi hak kemerdekaan memeluk

agama, beribadah menurut agama masing-masing, mengemukaan

pendapat, dan kebebasan berorganisasi atau berpartai.

b. Hak asasi ekonomi (property rights) meliputi hak memiliki sesuatu, hak membeli dan menjual sesuatu, hak mengadakan suatu perjanjian atau kontrak, dan hak memilih pekerjaan

c. Hak asasi mendapatkan pengayoman dan perlakukan yang sama dalam

keadilan dan pemerintahan, atau dapat disebut sebagai hak persamaan hukum (rights of lega lequality).

d. Hak asasi politik (political rihts) meliputi hak untuk diakui sebagai warga negara yang sederajat, oleh karena itu setiap warga negara wajar mendapat hak

itu serta dalam mengolah dan menata serta menentukan warna politik dan kemajuan negara

e. Hak asasi sosial dan kebudayaan (social and culture rights) meliputi hak

kebebasan mendapatkan pengajaran atau hak pendidikan serta hak pengembangan kebudayaan.

f.
f.
atau hak pendidikan serta hak pengembangan kebudayaan. f. Hak asasi perlakuan yang sama dalam tata peradilan
atau hak pendidikan serta hak pengembangan kebudayaan. f. Hak asasi perlakuan yang sama dalam tata peradilan
atau hak pendidikan serta hak pengembangan kebudayaan. f. Hak asasi perlakuan yang sama dalam tata peradilan
atau hak pendidikan serta hak pengembangan kebudayaan. f. Hak asasi perlakuan yang sama dalam tata peradilan
atau hak pendidikan serta hak pengembangan kebudayaan. f. Hak asasi perlakuan yang sama dalam tata peradilan

Hak asasi perlakuan yang sama dalam tata peradilan dan perlindungan hukum (procedural rights) meliputi hak perlakukan yang wajar dan adil dalam penggeledahan (rasia, penangkapan, peradilan dan pembelaan hukum). Semua manusia tanpa terkecuali mempunyai hak-hak tersebut di atas, oleh sebab itu di mana pun dan kapan pun pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia harus ada. Pendapat lain tentang macam - macam hak asasi manusia dikemukakan Franz Magnis Suseno (1987: 125 - 130) yang mengelompokanya menjadi empat kelompok yaitu hak asasi negatif atau liberal, hak asasi aktif atau

demokratis, hak asasi positif dan hak asasi sosial. Uraian masing - masing sebagai berikut:

1. Hak Asasi Negatif atau Liberal.

Kelompok hak asasi pertama ini diperjuangkan oleh liberalisme dan pada hakekatnya mau melindungi kehidupan pribadi manusia terhadap campur tangan negara dan kekuatan-kekuatan sosial lain. Hak asasi ini didasarkan pada kebebasan dan hak individu untuk mengurus diri sendiri dan oleh karena itu juga disebut hak - hak kebebasan (liberal). Sedangkan dikatakan negatif, karena prinsip yang dianutnya bahwa kehidupan saya (pribadi) tidak boleh dicampuri

pihak luar. Kehidupan pribadi merupakan otonomi setiap orang yang harus

dihormati. Otonomi ini merupakan kedaulatan atasinya sendiri merupakan dasar

segala usaha lain, maka hak asasi negatif ini tetap merupakan inti hak asasi

manusia.

.Macam -macam hak asasi manusia negatif antara lain :

hak atas hidup.

hak keutuhan jasmani.

kebebasan bergerak.

kebebasan untuk memilih jodoh.

perlindungan terhadap hak milik.

hak untuk mengurus kerumahtanggaan sendiri.

hak untuk memilih pekerjaan dan tempat tinggal. kebebasan beragama.

kebebasan untuk mengikuti suara hati sejauh tidak mengurangi

kebebasan serupa orang lain,

kebebasan berpikir.

 agar
agar

kebebasan untuk berkumpul dan berserikat.

  agar kebebasan untuk berkumpul dan berserikat. hak untuk tidak ditahan secara sewenang - wenang.
  agar kebebasan untuk berkumpul dan berserikat. hak untuk tidak ditahan secara sewenang - wenang.
  agar kebebasan untuk berkumpul dan berserikat. hak untuk tidak ditahan secara sewenang - wenang.
  agar kebebasan untuk berkumpul dan berserikat. hak untuk tidak ditahan secara sewenang - wenang.
  agar kebebasan untuk berkumpul dan berserikat. hak untuk tidak ditahan secara sewenang - wenang.

hak untuk tidak ditahan secara sewenang - wenang.

Dasar hak ini adalah keyakinan akan kedaulatan rakyat yang menuntut

rakyat memerintah dirinya sendiri dan

setiap pemerintah di bawah

kekuasaan rakyat.

Hak ini disebut aktif karena merupakan hak atas suatu aktivitas manusia

untuk ikut menentukan arah perkembangan masyarakat/ negaranya. Yang

termasuk hak asasi aktif. antara lain :

a. hak untuk memilih wakil dalarn badan pembuat undang-undang;

b. hak untuk mengangkat dan mengontrol pemerintah:

c. hak untuk menyatakan pendapat;

d. hak atas kebebasan pers;

e. hak untuk membentuk perkumpulan politik.

2. Hak Asasi Aktif atau Demokratis

Kalau hak-hak negatif menghalau campur tangan negara dalam urusan

pribadi manusia, maka sebaliknya hak - hak positif justru menuntut prestasi-

prestasi tertentu dari negara.

-

3. Hak Asasi Positif

Paham hak asasi positif berdasarkan anggapan bahwa negara bukan

tujuan pada dirinya sendiri, melainkan merupakan lembaga yang diciptakan

dan dipelihara oleh masyarakat untuk memberikan pelayanan-pelayanan

tertentu (pelayanan publik). Oleh karena itu tidak boleh ada anggota masyarakat yang tidak mendapat pelayanan itu hanya karena ia terlaiu miskin untuk membayar biayanya. Yang termasuk hak asasi positif antara lain :

hak atas perlindungan hukum (misalnya : hak atas perlakuan yang sama di depan hukum. hak atas keadilan);

hak warga masyarakat atas kewarganegaraan.

4. Hak Asasi Sosial Hak asasi sosial ini merupakan paham tentang kewajiban negara untuk menjamin hasil kerja kaum buruh yang wajar dan merupakan hasil kesadaran kaum borjuis melawan kaum buruh. Hak asasi sosial mencerminkan kesadaran bahwa setiap anggota masyarakat berhak atas bagian yang adil dari harta benda material dan kultural bangsanya dan atas bagian yang wajar

material dan kultural bangsanya dan atas bagian yang wajar a. b. c. d. dari hasil nilai
material dan kultural bangsanya dan atas bagian yang wajar a. b. c. d. dari hasil nilai
material dan kultural bangsanya dan atas bagian yang wajar a. b. c. d. dari hasil nilai
material dan kultural bangsanya dan atas bagian yang wajar a. b. c. d. dari hasil nilai
a. b. c. d.
a.
b.
c.
d.
kultural bangsanya dan atas bagian yang wajar a. b. c. d. dari hasil nilai ekonomis. Hak

dari hasil nilai ekonomis. Hak ini hars dijamin dengan tindakan negara. Yang termasuk hak asasi sosial antara lain

hak atas jaminan sosial;

hak atas pekerjaan;

hak membentuk serikat kerja;

hak atas pendidikan;

e. hak ikut serta dalam kehidupan kultural masyarakatnya.

7.3 Perkembangan Konsep Hukum Internasional Tentang HAM Perkembangan pemikiran HAM dunia bermula dari adanya piagam Magna Charta, The American Declaration (berpandang bahwa manusia adalah merdeka sejak didalam perut ibunya, sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir ia harus dibelenggu), The French Declaration (tidak boleh ada penang-kapan dan penahanan yang semena-mena termasuk penangkapan tanpa alasan yng syah dan penahanan tanpa surat perintah yang dikeluarkan oleh pejabat yang syah. dalam kaitan itu berlaku prinsip resumption of innocent, artinya orang- orang yang ditangkap, kemudian ditahan dan dituduh, berhak dinyatakan tidak bersalah, sampai ada keputusan pengadilan berkekuatan hukum tetap menyatakan bersalah), dan The Four Freedom. Selain itu, perkembangan pemikiran HAM dalam empat generasi:

1) Generasi Pertama : Pengertian HAM hanya berpusat pada bidang hukum politik. Fokus pemikiran HAM generasi pertama pada bidang hukum dan politik disebabkan oleh dampak dan situasi perang dunia ll, totaliterisme dan adanya keinginan negara-negara baru yang merdeka untuk menciptakan suatu tertib hukum yang baru. 2) Generasi Kedua : Pemikiran HAM tidak saja menuntut hak yuridis melainkan juga hak-hak sosial,ekonomi, politik, dan budaya. 3) Generasi Ketiga : Keadilan dan pemenuhan hak asasi haruslah dimulai sejak pembangunan itu sendiri, bukan setelah pembangunan itu selesai. Agaknya pepatah kuno “justice delayed,justice deny” tetap berlaku untuk kita semua.

4) Generasi Keempat : Pemikiran ham generasi keempat dipelopori oleh negara-negara dikawasan asia yang pada tahun 1983 melahirkan deklarasi hak asasi manusia yang disebut declaration of the basic duties of asia people and goverment. Deklarasi ini lebih maju dari rumusan generasi ketiga,karena tidak mencakup tuntutan struktural tetapi juga berpihak terciptanya tatanan sosial yang berkeadilan.

ketiga,karena tidak mencakup tuntutan struktural tetapi juga berpihak terciptanya tatanan sosial yang berkeadilan.
ketiga,karena tidak mencakup tuntutan struktural tetapi juga berpihak terciptanya tatanan sosial yang berkeadilan.
ketiga,karena tidak mencakup tuntutan struktural tetapi juga berpihak terciptanya tatanan sosial yang berkeadilan.
ketiga,karena tidak mencakup tuntutan struktural tetapi juga berpihak terciptanya tatanan sosial yang berkeadilan.

6.4 Perkembangan Wawasan Bangsa Indonesia Tentang HAM Menurut John Stuart Mills sebagaimana yang terdapat di dalam bukunya Tilaar (2001) yang berjudul Demensi-demensi Hak Asasi Manusia dalam Kurikulum Persekolahan Indonesia (A.T. Soegito, 2005:5), pelaksanaan hak asasi manusia dapat dibedakan dalam arti ideal dan pragmatis. Secara ideal, dalam pelaksanaan hak asasi manusia Negara tidak dibenarkan mencampuri hak asasi manusia setiap warga Negara, apalagi menindasnya atau menghilangkannya. Sedangkan secara pragmatis, pelaksanaan hak asasi manusia acapkali dipengaruhi oleh muatan local atau kepentingan subyektif bangsa tersebut, khususnya pemerintah penguasa Negara yang bersangkutan. Ini memberi suatu isyarat kepada penguasa agar memiliki kearifan dalam mengambil suatu kebijakan pembangunan yang biasanya memiliki implikasi dengan hak asasi manusia.

memiliki kearifan dalam mengambil suatu kebijakan pembangunan yang biasanya memiliki implikasi dengan hak asasi manusia.
memiliki kearifan dalam mengambil suatu kebijakan pembangunan yang biasanya memiliki implikasi dengan hak asasi manusia.

Sejalan dengan amanat konstitusi, Indonesia berpandangan bahwa pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia harus didasarkan kepada prinsip bahwa hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial budaya dan hak pembangunan meupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan, baik dalam penerapan, pemantauan maupun pelaksanannya (Hasan Wirajuda, 2005 dalam A.T. Soegito, 2005:5). Program penegakan hukum dan hak asasi manusia (PP No.7/2005) yang meliputi pemberantasan korupsi, anti terorisme, dan pembasmian

penyalahgunaan narkotika dan obat berbahaya harus dilakukan secara tegas, tidak diskriminatif, dan konsisten. Beberapa kegiatan yang relevan meliputi hal- hal sebagai berikut ini.

Penguatan upaya-upaya pemberantasan korupsi melalui Rencana Aksi Nasional (RAN) Pemberantasan Korupsi 2004-2009; Penguatan pelaksanaan RAN Hak Asasi Manusia 2004-2009; RAN Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak; RAN Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak; dan Program nasional bagi anak Indonesia 2015. Pelaksanaan RAN Hak asasi Manusia 2004-2009 sebagai gerakan nasional.

1.

2.
2.
Hak asasi Manusia 2004-2009 sebagai gerakan nasional. 1. 2. 3. Penyelenggaraan audit regular atas kekayaan seluruh
Hak asasi Manusia 2004-2009 sebagai gerakan nasional. 1. 2. 3. Penyelenggaraan audit regular atas kekayaan seluruh
Hak asasi Manusia 2004-2009 sebagai gerakan nasional. 1. 2. 3. Penyelenggaraan audit regular atas kekayaan seluruh
Hak asasi Manusia 2004-2009 sebagai gerakan nasional. 1. 2. 3. Penyelenggaraan audit regular atas kekayaan seluruh
Hak asasi Manusia 2004-2009 sebagai gerakan nasional. 1. 2. 3. Penyelenggaraan audit regular atas kekayaan seluruh

3. Penyelenggaraan audit regular atas kekayaan seluruh pejabat pemerintah dan pejabat Negara.

4. Peninjauan serta penyempurnaan berbagai konsep dasar dalam rangka mewujudkan proses hokum yang lebih sederhanan, cepat, tepat dan dengan biaya yang terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.

5. Pembenahan system manajemen penanganan perkara yang menjamin akses public, pengembangan system pengawasan yang transparan dan akuntabel.

6. Pengembangan system manajemen kelembagaan hokum yang transparan.

7. Penyelamatan bahan bukti akuntabilitas kinerja yang berupa dokumen/arsip lembaga Negara dan badan pemerintahan untuk mendukung penegakan hokum dan hak asasi manusia.

8. Pembaharuan materi hokum yang terkait dengan pemberantasan korupsi, dan masih banyak lagi yang serupa itu (lihat A.T. Soegito, 2005:

6-7)

Secara khusus untuk menciptakan kondisi yang lebih kondusif dalam rangka perlindungan dan penegakan hak asasi manusia di Indonesia dilakukan beberapa langkah sebagai berikut: pembentukan kantor-kantor perwakilan Komisi Nasional di daerah, meningkatkan pemahaman tentang hak asasi manusia kepada masyarakat luas termasuk aparatur negara dengan melaksanakan pendidikan dan pelatihan hak asasi manusia secara berkelanjutan (lihat A.T. Soegito, 2005:7). Pencapaian Indonesia sejak tahun 1991-2004 dalam pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia dapat diikuti dari berbagai kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia (Hasan Wirajuda, 2005 dalam A.T. Soegito, 2005: 7-8) sebagai berikut ini. Departemen Luar Negeri Indonesia bekerjasama dengan pusat HAM PBB telah menyelenggarakan serangkaian lokakarya, yaitu Lokakarya Nasional HAM ke-1 pada tanggal 21-22 Januari 1991, Lokakarya Regional PBB ke-2 pada tanggal 26-28 Januari 1993, dan Lokakarya Nasional HAM ke-1 telah merekomendasikan pembentukan Komisi Nasional HAM, yang akhirnya dibentuk pada tanggal 7 Juni 1993 melalui Keppres No. 50/1993. Selanjutnya, Indonesia menyelenggarakan Lokakarya Nasional HAM ke- 2 tahun 1994. Sesuai dengan salah satu rekomendasi lokakarya tersebut, Departemen Luar Negeri membentuk Kelompok Kerja HAM yang terdiri dari berbagai unsur departemen dan lembaga terkait. Kelompok Kerja HAM tersebut berhasil menyusun seuatu RAN HAM Indonesia yang memuat langkah-langkah nyata pemajuan dan penghormatan HAM yang dilakukan pada tingkat nasional dalam kurun waktu 5 tahun, yakni mulai dari tahun 1998-2003. Komisi Anti Kekerasan terhadap Perempuan telah dibentuk pada tahun 1998 dengan Keppres No. 181 tahun 1988, dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia dibentuk pada tahun 2003 melalui Keppres No. 77 tahun 2003. Perlu ditegaskan di sini, semua instrumen hak asasi manusia dalam skop nasional dan local sebagaimana yang seudh diutarakan di atas

di sini, semua instrumen hak asasi manusia dalam skop nasional dan local sebagaimana yang seudh diutarakan
di sini, semua instrumen hak asasi manusia dalam skop nasional dan local sebagaimana yang seudh diutarakan
di sini, semua instrumen hak asasi manusia dalam skop nasional dan local sebagaimana yang seudh diutarakan
di sini, semua instrumen hak asasi manusia dalam skop nasional dan local sebagaimana yang seudh diutarakan
di sini, semua instrumen hak asasi manusia dalam skop nasional dan local sebagaimana yang seudh diutarakan
di sini, semua instrumen hak asasi manusia dalam skop nasional dan local sebagaimana yang seudh diutarakan

merupakan suatu bukti perhatian Negara Indonesia terhadap pengaturan hak asasi manusia yang implikasinya pada upaya-upaya penegakan hak asasi manusia di Indonesia.

Untuk jelasnya bahwa implementasi HAM di Indonesia, meliputi :

2.4.1.

1999

Tentang jaminan HAM dalam UUD1945 Kuntjoro Purbopranoto (1982:26-29) memberikan pandangan belum disusun secara sistematis dan hanya empat pasal memuat ketentuan-ketentuan tentang hak asasi, yakni pasal 27, 28, 29 dan 31. Meskipun demikian. bukan ber-arti kurang mendapat perhatian, akan tetapi karena susunan pertarna UUD 1945 adalah merupakan inti-inti dasar kenegaraan. Dari keempat pasal tersebut, terdapat lima pokok mengenai HAM yang terdapat dalam batang tubuh UUD 1945. Pertama, tentang kesamaan kedudukan dan kewajiban warganegara di dalam hukum dan di muka pemerintahan( Pasal 27 ayat 1). Kedua, hak setiap warga negara atas pekerjaan dan penghidupan yang layak (Pasal 27 ayat 2). Ketiga, kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan UU (Pasal 28). Keempat, kebebasan asasi untuk memeluk agama bagi penduduk di jamin oleh Negara (Pasal 29 ayat 2). Kelima, hak atas pengajaran (Pasal 31 ayat 1). Masuk-nya pasal-pasal di atas tidak lepas dari perdebatan yang mendahuluinya antara kelompok yang keberatan (terutama Soekarno dan Soepomo) dan yang meng-hendaki justru dimasukkan (terutama Moh. Hatta) dalam UUD 1945. Dengan demikian memahami pokok-pokok HAM dalam UUD 1945 referensinya yang akurat adalah pendapat Bung Hatta, yang esensinya mencegah berkembangnya Negara Kekuasaan. Bung Hatta tampak bersifat buruk sangka terhadap kekuasaan (negara). Dalam kenyataan empirik memang pelanggaran HAM terutama dilakukan oleh penguasa. Pemikiran bahwa HAM bersifat individualisme dan dipertentangkan dengan kedaulatan rakyat dan keadilan sosial seperti yang dikemukakan Bung Karno yang sampai

Jaminan HAM dalam UUD 1945 dan Undang - Undang No. 39 Tahun

sosial seperti yang dikemukakan Bung Karno yang sampai Jaminan HAM dalam UUD 1945 dan Undang -
sosial seperti yang dikemukakan Bung Karno yang sampai Jaminan HAM dalam UUD 1945 dan Undang -
sosial seperti yang dikemukakan Bung Karno yang sampai Jaminan HAM dalam UUD 1945 dan Undang -
sosial seperti yang dikemukakan Bung Karno yang sampai Jaminan HAM dalam UUD 1945 dan Undang -
sosial seperti yang dikemukakan Bung Karno yang sampai Jaminan HAM dalam UUD 1945 dan Undang -
sosial seperti yang dikemukakan Bung Karno yang sampai Jaminan HAM dalam UUD 1945 dan Undang -

saat ini masih tampak dianut terutama oleh penguasa, kiranya bukan rujukan

yang akurat dalam rangka memahami jaminan HAM "dalam UUD 1945.

Dalam era reformasi sekarang ini, upaya untuk menjabarkan ketentuan

HAM telah dilakukan melalui amandemen UUD 1945 ke dua (Tahun 2000) dan

diundangkan-nya UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM. Dalam amandemen

kedua tersebut, ada titel Bab yang secara eksplisit menggunakan istilah HAM

yaitu Bab XA yang berisikan pasal 28A s/d 28.J (perubahan pasal 28). Dalam

UU No.39 Tahun 1999 tampak jaminan HAM lebih terinci lagi. Hal itu terlihat

dari jumlah bab dan pasal-pasal yang dikandungnva relatif banyak yaitu terdiri

atas XI bab dan 106 pasal. Apabila dicermati jaminan HAM dalam UUD 1945

dan penjabarannya dalam UU No. 39 Tahun 1999, secara garis besar meliputi :

Hak untuk hidup (misalnya hak mempertahankan hidup, memperoleh kesejahteraan lahir batin, memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat); Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan. Hak mengembangkan diri (misalnya hak pemenuhan kebutuhan dasar, meningkatkan kuaiitas hidup, memperoleh manfaat dari iptek, memperoleh informasi, melakukan pekerjaan sosial); Hak memperoieh keadilan (misalnya hak kepastian hukum, persamaan di depan hukum); Hak atas kebebasan pribadi (misalnya hak : memeluk agama, keyakinan politik, memilih status kewarganegaraam berpendapat dan menyebarluas kannya, mendirikan parpol, LSM dan organisasi lain, bebas bergerak dan bertempat tinggal.

6. Hak atas rasa aman (misalnya hak : memperoleh suaka politik, perlindungan terhadap ancaman ketakutan, melakukan hubungan komunikasi,perlindungan terhadap penyiksaan, penghilangan dengan

1.

2. 3. 4. 5.
2.
3.
4.
5.
terhadap penyiksaan, penghilangan dengan 1. 2. 3. 4. 5. paksa dan penghilangan nyawa); 7. Hak atas;
terhadap penyiksaan, penghilangan dengan 1. 2. 3. 4. 5. paksa dan penghilangan nyawa); 7. Hak atas;
terhadap penyiksaan, penghilangan dengan 1. 2. 3. 4. 5. paksa dan penghilangan nyawa); 7. Hak atas;
terhadap penyiksaan, penghilangan dengan 1. 2. 3. 4. 5. paksa dan penghilangan nyawa); 7. Hak atas;
terhadap penyiksaan, penghilangan dengan 1. 2. 3. 4. 5. paksa dan penghilangan nyawa); 7. Hak atas;

paksa dan penghilangan nyawa);

7. Hak atas; kesejahteraan (misalnya hak : milik pribadi dan kolektif, memperoleh pekerjaan yang layak, mendirikan serikat kerja, bertempat tinggal yang layak, kehidupan yang layak, dan jaminan sosial);

8. Hak turut serta daiam pemerintahan (misalnya hak : memilih dan dipilih dalam pemilu, partisipasi langsung dan tidak langsung, diangkat daiam jabatan pemerintah, mengajukan usulan kepada pemerintah);

9. Hak wanita (hak yang sama/tidak ada diskriminasi antara wanita dan pria daiam bidang politik, pekerjaan, status kewarganegaraan, keluarga/ perkawinan);

10. Hak anak (misalnya hak perlindungan oleh orang tua, keluarga. masyarakat dan Negara, beribadah menurut agamanya, berekspresi, perlakuan khusus bagi anak cacat, perlindungan dari eksploitasi ekonomi, pekerjaan, pelecehan sexual, per-dagangan Anak, penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya).

4.2. Ratifikasi Jaminan HAM secara normatif

Ratifikasi jaminan HAM secara normatif, disamping dapat dilihat pada

konstitusi dan perundang-undangan yang ada, juga dapat dilihat pada apa yang

telah diratifikasi negara Rl terhadap konvensi internasional tentang HAM.

Beberapa konvensi internasional berkaitan dengan HAM yang telah diratifikasi

antara lain sebagat berikut:

1) Keputusan Presiden No. 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Convention on the Rights of the Child (Konvensi tentang Hak-hak Anak).

Majelis Umum PBB dalam sidangnya yang ke 44 pada bulan Desember

1989 telah berhasil menyepakati sebuah Resolusi PBB No. 44/25 tanggal 5

Desember 1989 tentang Convention on the Rights (Wayan Parthiana, 1990

:3-11). Deklarasi PBB mengenai Hak-hak Anak tahun 1959 (Declaration on

the Rights of the Child of 1959) dan deklarasi PBB tentang Tahun anak-anak

Child of 1959) dan deklarasi PBB tentang Tahun anak-anak Internasional ( Declaration on the International Year
Child of 1959) dan deklarasi PBB tentang Tahun anak-anak Internasional ( Declaration on the International Year
Child of 1959) dan deklarasi PBB tentang Tahun anak-anak Internasional ( Declaration on the International Year
Child of 1959) dan deklarasi PBB tentang Tahun anak-anak Internasional ( Declaration on the International Year
Child of 1959) dan deklarasi PBB tentang Tahun anak-anak Internasional ( Declaration on the International Year
Child of 1959) dan deklarasi PBB tentang Tahun anak-anak Internasional ( Declaration on the International Year

Internasional (Declaration on the International Year of the Child (1979).

Bahkan jauh sebelumnya, Liga Bangsa-Bangsapun telah menaruh perhatian

yang serius" tentang masalah anak-anak ini, yang terbukti dengan dikeluar-

kannya Deklarasi Jenewa 1924 (Geneve Declaration of 1924) tentang

pembentukan Uni Internasional Dana dan Keselamatan Anak-Anak (Save

the Children Fund International Union). Demikian puia PBB secara khusus

memiliki salah satu organ khusus yang berkenaan dengan anak-anak yakni

UNICEF( United Nations Children's Fund/Dari PBB untuk Anak-Anak).

2) UU No. 8 Tahun 1998 tentang Pengesahan Convention Against Fortune and Other Cruel In human or Degradi Treatment (konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat Manusia).

Ketentuan pokok konvensi ini mengatur pelarangan penyiksaan baik fisik

maupun mental, dan perlakuan atau penghukuman lain yang kejam, tidak

manusiawi, atau merendahkan martabat manusia yang dilakukan oleh atau

atas hasutan dari atau dengan persetujuan/sepengetahuan pejabat publik

dan orang lain yang bertindak dalam jabatannya. Ini berarti negara RI yang

telah meratifikasi wajib mengambil langkah-langkah legeslatif, administratif,

hukum dan langkah-langkah efektif lain guna mencegah tindakan

penyiksaan (tindak pidana) di dalam wilayah yuridiksinya. Misalnya langkah

yang dilakukan dengan memperbaiki cara interograsi dan pelatihan bagi

setiap aparatur penegak hukum dan pejabat publik lain yang

bertanggungjawab terhadap orang-orang yang dirampas kemerdekaannya.

4.3 Indikator Pelaksanaan HAM di Indonesia

Meskipun di Indonesia telah ada jaminan secara konstitusional maupun

telah dibentuk lembaga untuk penegakanya, tetapi belum menjamin bahwa

HAM di-laksanakan dalam kenyataan kehidupan sehari-hari atau dalam

pelaksanaan pembangunan. Lukman Soetrisno (Paul S.Baut, 1989:221)

mengajukan indikator bahwa suatu pembangunan telah melaksanakan HAM

apabila telah menunjukan adanya indikator-indikator, sebagai berikut :

Pertama, dalam bidang politik berupa kemauan pemerintah dan masyarakat untuk mengakui pluralisme pendapat dan kepentingan dalam masyarakat; Kedua, dalam bidang sosial berupa 1) perlakukan yang sama oleh hukum antara wong cilik dan priyayi dan 2) toleransi dalam masyarakat terhadap perbedaan atau latar belakang agama dan ras warga negara Indonesia, dan Ketiga, dalam bidang ekonomi dalam bentuk tidak adanya monopoli dalam sistem ekonomi yang berlaku. Ketiga indikator tersebut jika dipakai untuk melihat pelaksanaan

indikator tersebut jika dipakai untuk melihat pelaksanaan pembangunan di Indonesia dewasa ini di bidang politik,
indikator tersebut jika dipakai untuk melihat pelaksanaan pembangunan di Indonesia dewasa ini di bidang politik,
indikator tersebut jika dipakai untuk melihat pelaksanaan pembangunan di Indonesia dewasa ini di bidang politik,
indikator tersebut jika dipakai untuk melihat pelaksanaan pembangunan di Indonesia dewasa ini di bidang politik,
indikator tersebut jika dipakai untuk melihat pelaksanaan pembangunan di Indonesia dewasa ini di bidang politik,
indikator tersebut jika dipakai untuk melihat pelaksanaan pembangunan di Indonesia dewasa ini di bidang politik,

pembangunan di Indonesia dewasa ini di bidang politik, sosial dan ekonomi

masih jauh dari yang diharapkan. Kehidupan politik masih cenderung didominasi

konflik antar elit politik sering berimbas pada konflik dalam masyarakat (konflik

horizontal) dan elit politik lebih memperhatikan kepentingan diri/kelompoknya,

sementara kepentingan masyarakat sebagai konstiuennya diabaikan Di bidang

hukum masih terlihat lemahnya penegakan hukum, banyak pejabat yang

melakukan pelanggaran hukum sulit dijamah oleh hukum, sementara keiika

pelanggaran itu dilakukan oleh wong cilik hukum tampak begitu kuat

cengkramannya. Dalam masyarakat juga masih tampak kurang adanya

toleransi terhadap perbedaan agama, ras, konflik. Berbagai konflik dalam

masyarakat paling tidak di permukaan masih sering terdapat nuansa SARA.

Sedangkan di bidang ekonomi masih tarnpak dikuasai oleh segelintir orang

(konglomerat) yang menunjukkan belum adanya kesempatan yang sama untuk

berusaha.

Kondisi tersebut merupakan salah satu faktor mengapa Indonesia

begitu sulit untuk keluar dari krisis politik, ekonomi dan sosial. Ini berarti harus

diakui bahwa dalam pelaksanaan HAM masih banyak terjadi pelanggaran

dalam berbagai bidang kehidupan. Pelanggaran baik dilakukan oleh penguasa

maupun masyarakat, namun ada kecenderungan pihak penguasa lebih

dominan, karena sebagai pemegang kekuasaan dapat secara leluasa untuk

memenuhi kepentingan yang seringkali dilakukan dengan cara-cara manipulasi

sehingga mengorbankan hak-hak pihak lain.

2.4.2 Kategori Pelanggaran HAM

Hampir dapat dipastikan dalam kehidupan sehari-hari kita temui

pelanggaran HAM baik di Indonesia maupun di belahan dunia lain. Pelanggaran

guna a) b) c) d)
guna
a)
b)
c)
d)

e)

derajat
derajat
keseriusan
keseriusan
lain. Pelanggaran guna a) b) c) d) e) derajat keseriusan itu baik yang dilakukan oleh negara/pemerintah
lain. Pelanggaran guna a) b) c) d) e) derajat keseriusan itu baik yang dilakukan oleh negara/pemerintah
lain. Pelanggaran guna a) b) c) d) e) derajat keseriusan itu baik yang dilakukan oleh negara/pemerintah

itu baik yang dilakukan oleh negara/pemerintah maupun oleh masyarakat.

Richard Falk (Mulyana W. Kusunah, 1981 : 71) mengembangkan suatu standar

mengukur

pelanggaran HAM. Hasilnya adalah

disusunnya kategori-kategori pelanggaran HAM yang dianggap kejam, yaitu :

Pembunuhan besar-besaran (genocide). Rasialisme resmi, Terorisme resmi berskala besar. Pemerintahan totaliter. Penolakan secara sadar untuk memenuhi kebutuhan - kebutuhan dasar manusia.

f) Perusakan kualitas lingkungan (esocide).

g) Kejahatan-kejahatan perang.

Akhir-akhir ini di dunia Internasional maupun di Indonesia, dihadapkan

banyak pelanggaran HAM dalam wujud teror Leiden & Schmit (Bayo Ala, 1985:

79) mengartikan teror sebagai tindakan berasal dari suatu kekecewaan atau

keputusasaan, biasanya disertai dengan ancaman-ancaman hak

berkemanusiaan dan tak mengenal belas kasihan terhadap kehidupan dan

barang-barang dilakukan dengan cara-cara melanggar hukum. 'Teror dapat

dalam bentuk pembunuhan, penculikan, sabotase. subversif, penyebaran

desas-desus, pelanggaran peraturan hukum, main hakim sendiri, pembajakan

dan penyanderaan. Teror dapat dilakukan oleh pemerintah maupun oleh

masyarakat (oposan).

Teror sebagai bentuk pelanggaran HAM yang kejam (berat). karena menimbulkan ketakutan sehingga rasa aman sebagai hak setiap orang tidak lagi dapat dirasakan. Dalam kondisi ketakutan maka seseorang/masyarakat sulit untuk melakukan hak/kebebasan yang lain, sehingga akan menimbulkan kesulitan dalam upaya mengembangkan kehidupan yang lebih maju dan bermartabat

4.5 Contoh Pelanggaran HAM Banyak pelanggaran HAM di Indonesia, baik yang dilakukan pemerintah. aparat keamanan maupun oleh masyarakat. Contoh-contoh pelanggaran HAM oleh pemerintah dan atau aparat keamanan antara lain sebagai berikut :

Pertama, kasus Marsinah, kasus ini berawal dari unjuk rasa dan pemogokan yang dilakukan buruh PT.CPS pada tanggal 3-4 Mei 1993. Aksi ini berbuntut dengan di PHK-nya 13 buruh. Marsinah menuntut dicabutnya PHK yang menimpa kawan-kawannya Pada 5 Mei 1993 Marsinah 'menghilang'. dan akhirnya pada 9 Mei 1993. Marsinah ditemukan tewas dengan kondisi yang mengenaskan di hutan Wilangan Nganjuk. Perkembangan pengusutan kasus ini menghasilkan keterlibatan 6 anggota TNI-AD dari kesatuan Danintel Kodam, Kopassus. 20 Polri serta 1 orang Kejaksaan. Namun perlakuan Kodim tidak berhenti pada PHK 13 orang dan matinya Marsinah. karena pada tanggal 7 Mei 1993 masih ada 8 orang buruh PT.CPS di PHK oleh Kodim di markas Kodim (Prisma 4, April 1994 : 71-73, Saurip Kadi, 2000: 24). Kedua, Kasus Universitas Muslim Indonesia (UMI), Ujung Pandang, 26 April 1996. Awal dari kerusuhan tersebut bermula pada aksi unjuk rasa maha- siswa UM1 terhadap kenaikan tarif angkutan kota (Pete-pete) yang memberatkan kalangan pelajar dan mahasiswa yang dikenai aturan lebih dari yang ditetapkan Menteri Perhubungan sebesar Rp. 100. Namun sayangnya. aparat keamanan bersikap berlebihan dan represif dalam menghadapi pengunjuk rasa tersebut sehingga pecah insiden berdarah yang menimbulkan korban jiwa di pihak mahasiswa dengan cara menyerbu kampus UMI dan menembak dengan peluru tajam sehsngga jatuh korban (Surip Kadi, 2000 :

mahasiswa dengan cara menyerbu kampus UMI dan menembak dengan peluru tajam sehsngga jatuh korban (Surip Kadi,
mahasiswa dengan cara menyerbu kampus UMI dan menembak dengan peluru tajam sehsngga jatuh korban (Surip Kadi,
mahasiswa dengan cara menyerbu kampus UMI dan menembak dengan peluru tajam sehsngga jatuh korban (Surip Kadi,
mahasiswa dengan cara menyerbu kampus UMI dan menembak dengan peluru tajam sehsngga jatuh korban (Surip Kadi,
mahasiswa dengan cara menyerbu kampus UMI dan menembak dengan peluru tajam sehsngga jatuh korban (Surip Kadi,
mahasiswa dengan cara menyerbu kampus UMI dan menembak dengan peluru tajam sehsngga jatuh korban (Surip Kadi,

Ketiga. kasus pembunuhan Tengku Bantaqiah, 23 Juii 1999. Tengku Bantaqiah adalah seorang tokoh ulama terkemuka di Aceh. Kasus ini bermula dari informasi adanya sejumlah senjata di salah seorang tokoh Dayah Bale. Untuk mendalami informasi tersebut pada tanggal 23 Juli 1999, Danrem menugaskan Kasi Intelnya untuk melaksanakan penyelidikan. Operasi ini ternyata mengakibat-kan pengikut Tengku Bantaqiah ditembaki oleh aparat setempat. Sebanyak 51 orang termasuk Tengku Bantaqiah tewas. Berdasarkan penyelidikan, sebanyak 24 anggota TNI dinyatakan sebagai tersangka, termasuk di dalamnya Letkol Inf Sudjono. Hilangnya Letkol Inf Sudjono (Kasi Intel Korem 011/Lilawangsa) tentu saja membuat penyelesaian kasus ini menjadi terhambat, karena motivasi pem-bantaian itu menjadi; kabur. Apakah pembantaian itu merupakan kebijakan yang diambil dalam satu kerangka kebijakan mengatasi masalah Aceh ataukah semata-mata karena tindakan yang diambil atas pertimbangan kondisi lapangan Saurip Kadi. 2000: 36). Beberapa pelanggaran HAM yang lain yang sedang dituntut oleh masyarakat untuk diselesaikan melalui Pengadilan HAM antara lain. Kasus Trisakti Mei 1998) yang menewaskan 4 mahasiswa. Kasus Pasca Jejak Pendapat di orang Timur yang ditandai dengan praktek bumi hangus, pembunuhan massa di Suai, pembunuhan di Los Palos, Maliana, Liquisa dan Dili. Kasus Pasca jaja pendapat di Timtim sekarang mulai di sidangkan lewat Peradilan HAM.

di Timtim sekarang mulai di sidangkan lewat Peradilan HAM. 2.4.3 Faktor Penyebab Terjadinya Pelanggaran HAM Mengapa
di Timtim sekarang mulai di sidangkan lewat Peradilan HAM. 2.4.3 Faktor Penyebab Terjadinya Pelanggaran HAM Mengapa
di Timtim sekarang mulai di sidangkan lewat Peradilan HAM. 2.4.3 Faktor Penyebab Terjadinya Pelanggaran HAM Mengapa
di Timtim sekarang mulai di sidangkan lewat Peradilan HAM. 2.4.3 Faktor Penyebab Terjadinya Pelanggaran HAM Mengapa
di Timtim sekarang mulai di sidangkan lewat Peradilan HAM. 2.4.3 Faktor Penyebab Terjadinya Pelanggaran HAM Mengapa
di Timtim sekarang mulai di sidangkan lewat Peradilan HAM. 2.4.3 Faktor Penyebab Terjadinya Pelanggaran HAM Mengapa

2.4.3 Faktor Penyebab Terjadinya Pelanggaran HAM Mengapa pelanggaran HAM sering terjadi di Indonesia, meskipun seperti telah dikemukakan di atas telah dijamin secara konstitusional dan telah dibentuknya lembaga penegakan HAM. Apabila dicermati secara seksama ternyata faktor penyebabnya kompleks. Faktor-faktor penyebabnya antara lain:

(1) masih belum adanya kesepahaman pada tataran konsep HAM antara universalisme dan partikularisme, (2) adanya dikhotomi antara individualisme dan kolektivisme. (3) kurang berfungsinya lembaga-lembaga penegak hukum (polisi, jaksa dan pengadilan), dan (4) pemahaman belum merata baik dikalangan sipil, maupun militer.

4.7 Lembaga HAM Saat ini lembaga resmi oleh pemerintah seperti Komnas HAM Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Peradilan HAM dan

lembaga - lembaga yang dibentuk oleh masyarakat terutama dalam bentuk LSM prodemokrasi dan HAM.

a.

Komisi Nasional HAM Komisi Nasional (Komnas) HAM pada awalnya dibentuk dengan Kcpres No. 50 Tahun 1993 sebagai respon terhadap tuntutan masyarakat niaupun tekanan dunia intemasional perlunya penegakan HAM di Indonesia. Kemudian dengan lahirnya UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM. yang didalamnya mengatur tentang Komnas HAM ( Bab VIII, pasal 75 s/d. 99), Komnas HAM yang terbentuk dengan Kepres tersebut harus menyesuaikan dengan UU No.39 Tahun 1999. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan dibentuk berdasarkan Kepres No. 181 Tahun 1998. Dasar pertimbangan pembentukan Komisi Nasional ini sebagai upaya mencegah terjadinya dan menghapus segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

dan menghapus segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. b. c. Pengadilan HAM Pengadilan HAM sebagai peradilan khusus
dan menghapus segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. b. c. Pengadilan HAM Pengadilan HAM sebagai peradilan khusus
dan menghapus segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. b. c. Pengadilan HAM Pengadilan HAM sebagai peradilan khusus
dan menghapus segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. b. c. Pengadilan HAM Pengadilan HAM sebagai peradilan khusus
b.
b.
dan menghapus segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. b. c. Pengadilan HAM Pengadilan HAM sebagai peradilan khusus

c. Pengadilan HAM Pengadilan HAM sebagai peradilan khusus di lingkungan peradilan umum. Contoh Pengadilan HAM di daerah kabupaten atau daerah kota yang daerah hukumnya meliputi daerah hukum Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Pengadilan HAM dibentuk berdasarkan UU No. 26 Tahun 2000. Peradilan HAM memiliki wewenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM yang berat, termasuk yang dilakukan di luar tentorial wilayah negara Rl oleh warga negara Indonesia.

d. LSM Prodemokrasi dan HAM Disamping lembaga penegakan HAM yang dibentuk oleh pemerintah, masyarakatpun terutama melalui LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) atau

NGO (Non Governmental Organization) yang programnya berfokus pada demokratisasi dan pengembangan HAM (LSM Prodemokrasi dan HAM ). Yang termasuk LSM ini antara lain YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia), Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekersan).

e. Pembelajaran Pembelajaran tentang HAM, terutama bagaimana upaya untuk memberikan pemahaman yang benar tentang pengertian HAM dan upaya- upaya penegakannya. Dua masalali ini tampak mienjadi persoaian paling mendasar yang dihadapi sekarang ini. Oleh karena itu, pembelajaran tentang HAM disamping menuntut materi yang luas, mendalam dan jelas juga hams dikaitkan dengan kenyataan dafam kehidupan sehari-hari. Untuk itu pembelajarannya menghendaki metoda pembelajaran yang lebih mengedepankan observasi, discovery, pemecahan masaiah, dan inkuiri. Sedangkan media pembelajaran tidak sekedar visual, tetapi audio-visual seperti rekaman video berbagai peristiwa pelanggaran HAM di Indonesia maupun dunia internasional. Dalam pembelajaran tentang HAM misalnya dapat diberikan sebagai contoh-nya, ketika mengajarkan topik tentang "Pelanggaran HAM". Dalam pembelajaran topik tersebut Guru bisa berangkat dari cerita tentang pelanggaran HAM atau memperlihatkan ''gambar tentang pelanggaran hak asasi manusia", juga bias bertitik tolak dari "Rekaman video tentang pelanggaran HAM". juga bisa bermula dari "Apa yang dilihat/ kesan siswa tentang pelanggaran HAM". Kemudian siswa secara individual atau kelompok diminia untuk membuat konsep tentang pelanggaran HAM. akibat-akibat apa yang timbul ketika terjadi pelanggaran HAM. Kemudian diminta memberikan alasan mengapa pelanggaran HAM perlu dicegah. Dengan cara pembelajaran yang demikian siswa tidak saja aktif. tetapi juga merangsang kreativitas dan kemampuan dalam mengatasi berbagai persoalan sosial khususnya yang terkait dengan HAM.

dan kemampuan dalam mengatasi berbagai persoalan sosial khususnya yang terkait dengan HAM. 2.4.5 Indikator pelaksanaan HAM
dan kemampuan dalam mengatasi berbagai persoalan sosial khususnya yang terkait dengan HAM. 2.4.5 Indikator pelaksanaan HAM
dan kemampuan dalam mengatasi berbagai persoalan sosial khususnya yang terkait dengan HAM. 2.4.5 Indikator pelaksanaan HAM
dan kemampuan dalam mengatasi berbagai persoalan sosial khususnya yang terkait dengan HAM. 2.4.5 Indikator pelaksanaan HAM
dan kemampuan dalam mengatasi berbagai persoalan sosial khususnya yang terkait dengan HAM. 2.4.5 Indikator pelaksanaan HAM
dan kemampuan dalam mengatasi berbagai persoalan sosial khususnya yang terkait dengan HAM. 2.4.5 Indikator pelaksanaan HAM

2.4.5 Indikator pelaksanaan HAM

Semenjak berakhirnya perang dingin, maka isu global beralih dari komunisme dan pertentangan antara blok barat dan blok timur ke masalah baru yaitu masalah hak asasi manusia, masalah lingkungan, dan masalah liberalisme perdagangan. Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia tidak terlepas dari isu hak asasi manusia yang melanda hampir semua negara di dunia. Isu-isu mengenai hak asasi manusia dewasa ini bukan lagi berkisar seputar masalah pengakuan dan jaminan perlindungan terhadap hak asasi manusia, karena hampir di semua negara, baik dalam konstitusinya maupun dalam peraturan peundang-undangan, telah diberikan pengakuan dan jaminan terhadap ahak asasi manusia, disamping telah adanya bebrapa konvensi PBB tentang HAM. Masalahnya sekarang tertuju pada isu-isu penegakan dan pemajuan hak asasi manusia itu. Pengakuan dan jaminan perlindungan hak asasi manusia di Indonesia telah cukup banyak diberikan, baik yang ditemukan dalam nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, serta peraturan perundang-undagan lainnya. Untuk jelasnya dapat kita rinci sebagai berikut.

lainnya. Untuk jelasnya dapat kita rinci sebagai berikut. a. b. Pancasila. Pengakuan dan jaminan perlindungan HAM
lainnya. Untuk jelasnya dapat kita rinci sebagai berikut. a. b. Pancasila. Pengakuan dan jaminan perlindungan HAM
lainnya. Untuk jelasnya dapat kita rinci sebagai berikut. a. b. Pancasila. Pengakuan dan jaminan perlindungan HAM
lainnya. Untuk jelasnya dapat kita rinci sebagai berikut. a. b. Pancasila. Pengakuan dan jaminan perlindungan HAM
a. b.
a.
b.
Untuk jelasnya dapat kita rinci sebagai berikut. a. b. Pancasila. Pengakuan dan jaminan perlindungan HAM tercermin

Pancasila. Pengakuan dan jaminan perlindungan HAM tercermin dalam nilai-nilai Pancasila, misalkan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial.

a.

Undang-Undang Dasar 1945.

c.

Selain sebagai landasan konstitusional UUD 1945 setelah amandemen pada Bab XA memuat secara khusus dalam satu bab tersendiri tentang HAM yang diuraikan dalam 10 pasal mulai pasal 28A samapai dengan pasal 28J

a.

Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia

b.

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

c.

Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia

d. Peraturan perundang-undangan lainnya (KUH Pidana, UU Pemilu, UU Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, UU tentang Partai Politik, UU tentang Pers, UU Perlindungan Anak, UU Perburuhan, dan lain-lain.)

Disamping itu, negara kita telah meratifikasi beberapa konvensi PBB tentang HAM kurang lebih 17 konvensi, diantaranya yaitu:

a. International Convention on The Elimation of All Form Racial Discrimination (1965). konvensi Penghapusan Segala bentuk Diskriminasi Rasial

b. International Convention on The Suppression and Punishment of The Crime of Aprtheid (1973). Konvensi tentang apartheid

c. ILO Convention Concering Equal Renumeration for Men and Women Workers for work of Equal Value (1951). Konvensi tentang persamaan upah pekerja perempuan dan laki-laki.

d.
d.
tentang persamaan upah pekerja perempuan dan laki-laki. d. Convention on The Political Right of Women (1952).
tentang persamaan upah pekerja perempuan dan laki-laki. d. Convention on The Political Right of Women (1952).
tentang persamaan upah pekerja perempuan dan laki-laki. d. Convention on The Political Right of Women (1952).
tentang persamaan upah pekerja perempuan dan laki-laki. d. Convention on The Political Right of Women (1952).
tentang persamaan upah pekerja perempuan dan laki-laki. d. Convention on The Political Right of Women (1952).

Convention on The Political Right of Women (1952). Konvensi mengenai Hak Politik perempuan

Kita juga telah mendeklarasikan Rencana Aksi Nasional Hak-hak Asasi Manusia Indonesia 1998-2003 yang diantara programnya secara bertahap akan diratifikasi beberapa konvensi PBB tentang HAM. Dengan rencana aksi tersebut sampai sekarang telah diratifikasi beberapa konvensi, yaitu:

a. Konvensi menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi dan Meendahkan.

b. Konvensi tentang Hak-hak Ekonomi, Politik dan Budaya

Kita juga telah mempunyai Komite Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), yaitu suatu badan independen yang bertugas memantau pelaksanaan hak asasi manusia di Indonesia. Semua itu bertujuan untuk pemajuan dan perlindungan hak-hak asasi manusia Indonesia. Walaupun demikian dimana-mana sekarang masih saja terjadi pelanggaran terhadap hak asasi manusia, seperti di Aceh, Maluku, Sampit, Poso, kasus-kasus perburuhan, kemiskinan, kebodohan, meningkatnya angka korban kriminalitas dan lain-lain. Sehingga permasalahan utamanya adalah penegakan hak asasi manusia itu sendiri. Penegakan hak asasi manusia

merupakan upaya secara sadar untuk melindungi dan mewujudkan hak-hak asasi manusia dan memberikan tindakan atau sanksi yang tegas kepada semua pihak yang melakukan pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia tanpa terkecuali. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia tidak selalu merupakan dominasi negara terhadap rakyatnya, tetapi pelanggaran hak asasi manusia juga dapat dilakukan oleh orang per orang atau individu terhadap orang atau individu yang lain atau bahkan negara kepada negara yang lain. Demikian pula sebaliknya penegakan hak asasi manusia sebenarnya bukan hanya merupakan kewajiban negara akan tetapi merupakan kewajiban setiap individu manusia dan semua negara di dunia. Pelanggaran dan pemerkosaan terhadap hak-hak asasi manusia merupakan kenyataan negatif yang akan selalu diiringi dengan upaya untuk mengatasinya secara positif. Upaya penegakan hak asasi manusia di Indonesia bukan tidak pernah dilakukan bahkan sudah terlihat upaya-upaya serius untuk tegaknya hak asasi manusia di Indonesia, dengan atau tanpa tekanan dari dunia internasional. Akan tetapi masih banyak hambatan dan dan tantangan menuju tegaknya HAM di Indonesia. Hambatan yang sekaligus merupakan tantangan dalam penegakan hak asasi manusia di Indonesia diantaranya adalah berikut :

1. Hak asasi adalah sebuah idealisme yang sudah bersifat mondial dan universal. Akan tetapi HAM juga setidak-tidaknya di Indonesia masih barang yang dapat dikatakan relatif baru yang masih terasa asing dalam kebudayaan kita. Kenyataan masih membuktikan pengetahuan tentang HAM hanya dimiiliki dan mungkin diamalkan oleh sebagian kecil dari kalangan kita, bahkan sebagian besar masyarakat masyarakat hanya tahu sedikit atau tidak tahu sama sekali tentang hak-hak fundamental yang dimilikinya itu. Sementara pertentangan kehidupan sosial agama dan etnis, permusuhan antar suku, perbedaan kehidupan sosial, ekonomi, politis dan ketidakpuasan lainnya yang bersifat umum tidak jarang mengundang meletupnya amarah sosial di kalangan masyarakat. Tragisnya, ditengah situasi seperti itu justru hukum dan HAM menjadi terinjak-injak kembali. Sehingga tantangan ke depan

Tragisnya, ditengah situasi seperti itu justru hukum dan HAM menjadi terinjak-injak kembali. Sehingga tantangan ke depan
Tragisnya, ditengah situasi seperti itu justru hukum dan HAM menjadi terinjak-injak kembali. Sehingga tantangan ke depan
Tragisnya, ditengah situasi seperti itu justru hukum dan HAM menjadi terinjak-injak kembali. Sehingga tantangan ke depan
Tragisnya, ditengah situasi seperti itu justru hukum dan HAM menjadi terinjak-injak kembali. Sehingga tantangan ke depan
Tragisnya, ditengah situasi seperti itu justru hukum dan HAM menjadi terinjak-injak kembali. Sehingga tantangan ke depan
Tragisnya, ditengah situasi seperti itu justru hukum dan HAM menjadi terinjak-injak kembali. Sehingga tantangan ke depan

adalah bagaimana mensosialisikan HAM dan segala hal yang tekait ke seluruh lapisan masyarakat indonesia dimanapun mereka berada. Pendidikan tentang HAM harus dilakukan sejak dini dalam masyarakat. Kondisi ketimpangan dan ketidakadilan dalam berbagai bidang. Sampai kapanpun HAM tidak akan dapat ditegakkan dalam kondisi masyarakat yang timpang dan tidak adil. Kondisi ekonomi yang sangat timpang, ada yang miskin sekali dan ada yang sangat kaya apalagi ketimpangan tersebut tercipta karena ketidakadilan, maka penegakan hak asasi manusia hanya akanmenjadi slogan saja. Kondisi dimana ada ketimpangan sosial ada yang sangat maju sekali ada yang masih sangat tertinggal. Sehingga tantangannya adalah bagaimana membuat situasi masyarakat yang sangat kondusif untuk penegakan HAM dengan menghilangkan ketimpangan dan ketidakadilan yang terjadi di masyarakat. Kondisi negara kita yang secara umum masih termasuk negara-negara miskin yang terlilit utang yang besar dengan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang masih dominan. Kondisi seperti ini akan menghambat upaya penegakan hak asasi manusia Masih kurangnya kesadaran aparat penegak hukum dalam melaksanakan tugasnya dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip penegakan HAM. Hal ini terjadi dikarenakan beberapa faktor diantaranya karena kurangnya pengetahuan aparat penegak hukum itu sendiri tentang HAM atau HAM dipandang memperlambat atau mempersulit aparat penegak hukum dalam menjalankan tugas. Sehingga tantangan ke depan adalah bagaimana menciptakan aparat-aparat penegak hukum yang tetap mau menghormati HAM dalam menjalankan tugasnya dengan memperbaiki sistem rekruitmen dan sistem pendidikannya.

5. Masih terlihatnya dominasi kekuasaan terhadap hukum. Tegaknya hukum dapat dikatakan juga tegaknya pula HAM. Kalau kekuasaan masih mempengaruhi hukum, maka yang terjadi adalah tidak berdayanya hukum pada saat berhadapan dengan orang atau kelompok-kelompok yang punya kekuasaan, sehingga hukum akan sulit ditegakkan untuk kalangan mereka. Demikia pula pada saat kekuasaan melakukan pelanggaran-pelanggaran

2.

3. 4.
3.
4.
akan sulit ditegakkan untuk kalangan mereka. Demikia pula pada saat kekuasaan melakukan pelanggaran-pelanggaran 2. 3. 4.
akan sulit ditegakkan untuk kalangan mereka. Demikia pula pada saat kekuasaan melakukan pelanggaran-pelanggaran 2. 3. 4.
akan sulit ditegakkan untuk kalangan mereka. Demikia pula pada saat kekuasaan melakukan pelanggaran-pelanggaran 2. 3. 4.
akan sulit ditegakkan untuk kalangan mereka. Demikia pula pada saat kekuasaan melakukan pelanggaran-pelanggaran 2. 3. 4.
akan sulit ditegakkan untuk kalangan mereka. Demikia pula pada saat kekuasaan melakukan pelanggaran-pelanggaran 2. 3. 4.

terhadap HAM maka akan sangat sulit untuk mengambil tindakan yang tegas dan adil. Tantangan ke depan adalah bagaimana membuat lembaga hukum yang independen (bebas) dari pengaruh kekuasaan dengan tatanan masyarakat yang demokratis. 6. Masih lemahnya posisi lembaga-lembaga yang khusus dibentuk dalam penegakan HAM di Indonesia, seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, dan Pengadilan Hak Asasi Manusia Indonesia. Sehingga lembaga-lembaga ini harus lebih diberdayakan dengan memberikan dukungan dan kewenangan yang lebih baik dalam penegakan HAM 7. Masih lemah dan kurangnya peran serta masyarakat dalam pengawasan terhadap penegakan HAM baik secara perorangan, kelompok atau organisasi. 8. Besarnya jumlah penduduk dan kondisi geografis Indonesia juga masih merupakan hambatan dan tantangan dalam penegakan HAM. Jumlah penduduk yang besar menuntut pula investasi dan modal yang sangat besar dalam pengakan hak asasi manusia dalam paradigma pemerataan. Luasnya wilayah dan kondisi kepulauan yang ada menuntut pula investasi dan energi yang sangat besar untuk penegakan HAM. Contoh hak akan rasa aman untuk kondisi kependudukan dan wilayah Indonesia menuntut Kepolisian yang seimbang dengan jumlah penduduk dan merata di seluruh wilayah. Pemberantasan Kemiskinan dan keterbelakangan masih menjadi pekerjaan yang tidak kunjung selesai karena kondisi kependudukan dan geografis.

dan keterbelakangan masih menjadi pekerjaan yang tidak kunjung selesai karena kondisi kependudukan dan geografis.
dan keterbelakangan masih menjadi pekerjaan yang tidak kunjung selesai karena kondisi kependudukan dan geografis.
dan keterbelakangan masih menjadi pekerjaan yang tidak kunjung selesai karena kondisi kependudukan dan geografis.
dan keterbelakangan masih menjadi pekerjaan yang tidak kunjung selesai karena kondisi kependudukan dan geografis.
dan keterbelakangan masih menjadi pekerjaan yang tidak kunjung selesai karena kondisi kependudukan dan geografis.
dan keterbelakangan masih menjadi pekerjaan yang tidak kunjung selesai karena kondisi kependudukan dan geografis.

BAB VIII PENEGAKAN, PENINGKATAN DAN KESADARAN HUKUM (RULE OF LAW)

8.1 Pengertian Rule of Law Rule of Law (RoL) adalah sebuah konsep hukum yang sesungguhnya lahir dari sebuah bentuk protes terhadap sebuah kekuasaan yang absolute di sebuah Negara. Dalam rangka membatasi kekuasaan yang absolute tersebut maka diperlukanlah pembatasan-pembatasan terhadap kekuasaan itu, sehingga kekuasaan tersebut ditata agar tidak melanggar kepentingan Asasi dari masyarakat, dengan demikian masyarakat terhindar dari tindakan-tindakan melawan hukum yang dilakukan oleh penguasa. Rule of Law pada hakekatnya adalah memposisikan hukum sebagai landasan bertindak dari seluruh elemen bangsa dalam sebuah Negara. Rule of Law dapat dilaksanakan dengan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia karena salah satu ciri dari Rule of Law (Negara Hukum) adalah terlindunginya Hak Asasi Manusia di Negara yang bersangkutan. Dalam kaitannya dengan materi kuliah pendidikan Kewarganegaraan maka pembahasan tentang Rule of Law dan Hak Asasi Manusia menjadi penting agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami bagaimana konsep Rule of Law dan Hak Asasi Manusia serta keterkaitan antara Rule of Law dan Hak Asasi Manusia tersebut dalam pelaksanaannya khususnya di Indonesia.

tersebut dalam pelaksanaannya khususnya di Indonesia. Konsep Dasar / Definisi Rule of Law 1.1 Asal Usul
tersebut dalam pelaksanaannya khususnya di Indonesia. Konsep Dasar / Definisi Rule of Law 1.1 Asal Usul
tersebut dalam pelaksanaannya khususnya di Indonesia. Konsep Dasar / Definisi Rule of Law 1.1 Asal Usul
tersebut dalam pelaksanaannya khususnya di Indonesia. Konsep Dasar / Definisi Rule of Law 1.1 Asal Usul
tersebut dalam pelaksanaannya khususnya di Indonesia. Konsep Dasar / Definisi Rule of Law 1.1 Asal Usul
tersebut dalam pelaksanaannya khususnya di Indonesia. Konsep Dasar / Definisi Rule of Law 1.1 Asal Usul

Konsep Dasar / Definisi Rule of Law 1.1 Asal Usul Rule of Law (RoL) RoL merupakan satu doktrin dalam hukum yang muncul pada abad ke 19, bersamaan dengan kelahiran Negara konstitusi dan demokrasi. Kehadiran- nya boleh disebut sebagai reaksi dan koreksi terhadap Negara absolute yang telah berkembang sebelumnya. Negara absolute sebagai perkembangan keadaan di Eropa yaitu Negara yang terdiri atas wilayah-wilayah otonom. Negara absolute (sebagai Negara modern) menyerap kekuasaan yang semula ada pada wilayah-wilayah ke dalam satu tangan yaitu tangan raja.

Rule of Law lahir dengan semangat yang tinggi bersama-sama dengan demokrasi, parlemen dan sebagainya, kemudian Rule of Law mengambil alih dominasi yang dimiliki ancient regime yang terdiri dari golongan-golongan gereja, ningrat, prajurit dan kerajaan. Munculnya keinginan untuk melakukan pembatasan yuridis terhadap kekuasaan, pada dasarnya disebabkan oleh politik kekuasaan yang cenderung korup. Hal ini dikhawatirkan akan menjauhkan fungsi dan peran Negara bagi kehidupan individu dan masyarakat. Atas dasar pengertian tersebut maka terdapat keinginan yang sangat besar untuk melakukan pembatasan terhadap kekuasaan secara normative yuridis , untuk menghindari kekuasaan yang dispotik. Dalam hubungan inilah maka kedudukan konstitusi sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu lahirlah Negara konstitusi yang melahirkan doktrin Rule of Law, inilah awal dari kelahiran Doktrin Egalitarian dalam hukum yang menjadi ciri utama Rule of Law. Disinilah kemudian Rule of Law merupakan doktrin dengan semangat dan idealism keadilan yang tinggi seperti supremasi hukum dan kesamaan setiap orang di depan hukum. Pemerintahan yang demokratis di bawah RoL yang dinamis memiliki syarat-syarat yaitu :

di bawah RoL yang dinamis memiliki syarat-syarat yaitu : 1. Perlindungan konstitusional, artinya selain menjamin
di bawah RoL yang dinamis memiliki syarat-syarat yaitu : 1. Perlindungan konstitusional, artinya selain menjamin
di bawah RoL yang dinamis memiliki syarat-syarat yaitu : 1. Perlindungan konstitusional, artinya selain menjamin
di bawah RoL yang dinamis memiliki syarat-syarat yaitu : 1. Perlindungan konstitusional, artinya selain menjamin