Anda di halaman 1dari 15

SOSIOLOGI EKONOMI

KETERLEKATAN
KELOMPOK 5 :

ANDISTYA OKTANING LISTRA (0910210022)

MATELDA FABRIANA (0910213096)

MUHAMMAD YANUAR FAJRI (0910213104)

WINDY SEPTYA A.P (0910213127)

WILDAN ( )

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Konsep dan Pengertian Keterlekatan

Konsep ini digunakan untuk menjelaskan fenomena perilaku ekonomi


dalam hubungan sosial. Konsep keterlekatan, menurut Granovetter, merupakan
tindakan ekonomi yang disituasikan secara sosial dan melekat dalam jaringan sosial
personal yang sedang berlangsung di antara para aktor. Ini tidak hanya terbatas
terhadap tindakan aktor individual sendiri tetapi juga mencakup perilaku ekonomi
yang lebih luas, seperti penetapan harga dan institusi-institusi ekonomi, yang
semuanya terpendam dalam suatu jaringan hubungan sosial. Adapun yang
dimaksudkan jaringan hubungan sosial ialah sebagai “Suatu rangkaian hubungan
yang teratur atau hubungan sosial yang sama di antara individu-individu atau
kelompok-kelompok.”

Granovetter (1985) menemukan dalam literature sosiologi dan ekonomi,


perdebatan antara kubu oversocialized, yaitu tindakan ekonomi yang cultural dituntun
oleh aturan berupa nilai dan norma yang diinternalisasi dan kubu undersocialized,
yaitu tindakan yang rasional dan berorientasi pada pencapaian keuntungan individual
(self-interest), dalam menentukan apa yang sebenarnya menuntun orang dalam
perilaku ekonomi.

Dalam hal ini kubu oversocialized, memandang bahwa semua perilaku


ekonomi seperti memilih pekerjaan, melaksanakan profesi, menual, membeli,
menabung, dan lain sebagainya tunduk dan patuh terhadap segala sesuatu yang
diinternalisasi dalam kehidupan sosial seperti nilai, norma, adat – kebiasaan, dan tata
kelakuan. Berbeda dengan kubu undersocialized yang melihat kepentingan individu
di atas segala – galanya. Kubu ini tidak melihat adanya ruang bagi pengaruh budaya,
agama, dan struktur sosial terhadap tindakan ekonomi. Oleh sebab itu, kubu ini
memandang setiap tindakan ekonomi merupakan refleksi suatu pencapaian perolehan
keuntungan pribadi. Persoalan untung – rugi meripakan hal utama yang menjadi
pertimbangan (cost benefit – ratio), jika keuntungan ada di depan mata maka
seseorang akan meraihnya meskipun harus melanggar nilai norma dan agama.

Secara sederhana untuk memmahami pandangan para ahli sosiologi dan


ekonomi umumnya tentang tindakan ekonomi maka figure berikut ini diharapkan
dapat membantu pemahaman.

Figur 1.1 Tindakan Ekonomi Menurut Ahli Sosiologi dan Ekonomi Umumnya

Oversocialized Undersocialized

Nilai dan Norma Tindakan Ekonomi Keuntungan Pribadi

Granovetter melihat bahwa dikhotomi oversocialized – undersocialized


bukanlah suatu penggambaran yang tepat terhadap realitas tindakan ekonomi. Sebab
dalam kenyataannya, tindakan ekonomimelekat pada setiap jaringan hubungan sosial
dan/ atau institusi sosial, baik tindakan ekonomi yang termasuk dalam oversocialized
maupun yang undersocialized. Orang yang berorientasi pada keuntungan pribadi atau
self – interest, dalam kenyataannya juga mengantisipasi tindakan orang lain. Misalnya
seorang pedagang akan mempertimbangkan pengambilan tingkat keuntungan yang
berbeda antara pembeli yang menjadi langganan dengan yang tidak. Apabila
pedagang tidak melakukan hal tersebutmaka ia akan kehilangan pelangga. Demikian
juga suatu perusahaan yang responsibility, misalnya melakukan pemberdayaan
lingkungan komunitasdimana perusahaan tersebut berada, agar citra perusahaan tetap
tinggi di mata stakeholders.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Keterlekatan – ketidakterlekatan Versus Keterlekatan Lemah –


Kuat

Menurut Polanyi dkk ekonomi dalam masyarakat pra-industri melekat dalam


institusi-institusi sosial,politik, dan agama. Ini berarti bahwa fenomena seperti
perdagangan, uang dan pasar diilhami tujuan selain dari mencari keuntungan.
Kehidupan ekonomi dalam masyarakat pra-industri diatur oleh resiprositas dan
redistribusi.
Permintaan dan penawaran bukan sebagai pembentuk harga tetapi lebih
kepada tradisi atau otoritas politik. Sebaliknya dalam masyarakat modern, “Pasar
yang menetapkan harga” diatur oleh suatu logika baru, yaitu logika yang menyatakan
bahwa tindakan ekonomi tidak mesti melekat dalam masyrakat. Dengan kata lain,
ekonomi terstrukturatas dasar pasar yang mengatur dirinya sendiri dan secara radikal
melepaskan dirinya dari institusi sosial lainnya untuk berfungsi menurut hukumnya.
Jadi ekonomi dalam tipe masyarakat seperti ini, ditegaskan sekali lagi, diatur oleh
harga pasar, yang mana manusia berperilaku dalam suatu cara tertentu untuk
mencapai perolehan yang maksimum.

Dalam membahas keterlekatan ekonomi dalam masyarakat. Polanyi


mengajukan tiga tipe proses ekonomi yaitu resiprositas, redistribusi, dan pertukaran.
Itu terjadi apabila hubungan timbal balik antara individu-individu sering dilakukan.
Hal ini terjadi karena adanya komunitas politik yang terpusat. Misalnya pada
kerajaan-kerajaan Jawa tradisional, raja mempunyai hak untuk mengumpulkan pajak
dari rakyatnya. Sebaliknya rakyat akan mendapat perlindungan keamanan maupun
“berkah” dari pusat(raja). Acara sekatenan yang diadakan sekali setahun merupakan
satu contoh redistribusi yang dilakukan oleh pusat.

Granovetter dan Swedberg (1992) tidak setuju dengan Polanyi tentang


tingkat atau derajat dari keterlekatan. Dia menegaskan bahwa tindakan ekonomi
dalam masyarakat industri juga melekat sebagaimana yang terjadi dalam masyarakat
pra-industri, dengan tingkat dan level yang berbeda.

Behavoiur (1976), mulai dengan beberapa unit perilaku atau aktor yang
diasumsikan “berperilaku rasional” . Berperilaku rasional berarti memaksimalkan
keajengan perilaku yang diantisipasi atau diharapkan akan membawa imbalan atau
hasil di masa akan datang.

Dikhotomi keterlekatan dan ketidaklekatan menurut Polanyi ekonomi pada


masa pra industry melakat dalam institusi – institusi social, politik, dan agama. Ini
bermakna bahwa fenomena seperti perdagangan, uang, dan pasar digerakkan oleh
tujuan selain mencari keuntungan. Mekanisme pasar tidak dibolehkan untuk
mendominasi kehidupan ekonomi; oleh sebab itu permintaan – penawaran bukan
bukan sebagai mekanisme pembentuk harga, tetapi sebagai bentuk dari tradisi atau
otoritas politik. Kehidupan ekonomi pra industry diatur oleh resiprositas dan
redistribusi. Sedangkan dalam masyarakat modern, “pasar yang menentukan harga”
diatur oeh suatu logika baru, yaitu logika yang menegaskan bawa tindakan ekonomi
tidak melekat di masyarakat yang artinya ekonomi terstruktur atas dasara pasar yang
mengatur dirinya sendiridan secara radikal melepaskan dirinya sendiri dari institusi
social lainnya untuk berfungsi menurut hukumnya, diman tindakan ekonomi dituntun
oleh pencapaian perolehan ekonomi yang maksimum. Berikut figur dikhotomi
keterlekatan – ketidakterlekatan dari Polanyi dkk.

Figur 2.1 Keterlekatan – Ketidakterlekatan Tindakan Ekonomi dari Polanyi


dkk

Keterlekatan Ketidakterlekatan

Masyarakat Praindustri Tindakan Ekonomi Masyarakat Modern

Figur 2.2 Keterlekatan dan Ketidakterlekatan Tindakan Ekonomi dalam

Masyarakat Menurut Polanyi

Hubungan Keterlekatan Ekonomi dalam Ketidakterlekatan Ekonomi


Organisasi dalam Organisasi

Ekonomi dan Resiprositas: ekonomi melekat Pasar: ekonomi tidak melekat


Komunitas dalam hubungan antar suku pada komunitas melalui
yang berpusat pada kewajiban institusi – institusi seperti
terhadap komunitas. pasar dan hak milik pribadi.

Redistribusi: ekonomi melekat


dalam komunitas politik yang
terpusat.

Ekonomi dan Resiprositas: ekonomi melekat Pasar:ekonomi tidak melekat


Pemerintah dalam proses pengaturan suku pada pemerintahan melalui
yang termaktub dalam adat. integritas legal dari individu
dan perusahaan serta melalui
Redistribusi: ekonomi melekat
kebebasan pasar dari dominasi
dalam aparat politik Negara
politik
yang terpusat dan kerajaan
yang terbentuk melalui control
politik.

Ekonomi dan Rumah Resiprositas: ekonomi maupun Pasar: ekonomi tidak melekat
Tangga rumah tangga melekat dalam pada rumahtangga dalam arti
komunitas suku. pemisahan “kerja” dan
“rumah”, “pekerjaan”, dan
Redistribusi: ekonomi dan
“waktu luang”
rumahtangga melekat dalam
komunitas politik yang
terpusat.

Pendapat Polanyi tersebut berbeda dengan pendapat Granovetter dan


Swedberg yang tidak menyetujui tingkatatau derajat dari keterlekatan. Mereka
menegaskan bhwa tindakan ekonomi dalam masyarakat industri juga melekat dalam
jaringan hubungan social dan institusi social lainnya seperti agama, politik,
pendidikan, keluarga, dan lain – lainnya, sebagaimana halnya juga terjadi dalam
masyarakat pra industri. Oleh karena itu Granovetter dan Swedberg mengusulkan
bahwa tindakan dikhotomi berlangsung diantara keterlekatan yang lemah
(underembedded) dan keterlekatan kuat (overembedded). Dengan kata lain,
Granovetter dan Swedberg mengusulkan bahwa tindakan ekonomi berlangsung dalam
kontinum antara kutub keterlekatan dan kutub ketidakterlekatan, namun berada dalam
garis kontinum kutub keterlekatan kuat dan keterlekatan leman. Untuk memahami
pandangan Granovettter dan Swedberg secra ringkas dapat dilihat dalam figure di
bawah ini.

Figur 2.3 Keterlekatan Lemah dan Keterlekatan Kuat dari Suatu Tindakan
Ekonomi

Keterlekatan Lemah Ketidakterlekatan

Underembedded Overembedded

Tindakan Ekonomi

2.2 Bentuk Keterlekatan

Granovetter (1990) dalam “The Old and The New Economic Sociology”
membedakan dua bentuk keterlekatan, yaitu :

1. Keterlekatan Relasional

Keterlekatan relasional merupakan tindakan ekonomi yang disituasikan


secara social dan melekat (embedded) dalam jaringa social personal yang sedang
berlangsung di antara para actor. Konsep “disituasikan secara social” bermakna
tindakan ekonomi terjadi dalam suatu aktivitas ysng berhubungan dengan orang
lain atau dikaitkan dengan individu lain. Misalnya tindakan ekonomi antara
penjual dan pembeli yang melibatkan aspek social, budaya, agama, dan politik
dalm kehidupan merekan berdua. Hubungan pelanggan terjadi karena adanya
informasi asimetris (ketidakseimbangan informasi) antara penjual dan pembeli
sehingga pembeli perlu melakukan suatu klientitasi, yaitu suatu proses resiprokal
dalam hubungan yang simetris, egaliter, dan oposisional. Ketika pembeli
menghadapi informasi yang bersifat tidak pasti, kompleks, irregular, dan sulit
maka ia berusaha mengetasi persoalan tersebut melalui konstruksi hubungan
langganan dengan penjual. Melalui hubungan langganan ini, pembeli bisa
memutus mata rantai informasi yang asimetris tersebut. Hubungan langganan
bermula dari pencarian informasi terhadap suatu barang atau jasa. Dalam pasar
tidak sempurna , informasi yang pasti dan akurat ternyata tidak mudah untuk
memperolehnya. Oleh sebab itu, pembeli berusaha mencari penjual yang mau
berbagi informasi dengannya karena dengan komunikasi tersebut maka kedua
belah pihak dapat memperoleh kepastian dan kepercayaan yang kiranya dapat
menguntungkan kedua belah pihak.

Dalam hal ini rasional berarti :

a) Aktor melakukan perhitungan dari pemanfaatan atau preferensi dalam


pemilihan suatu bentuk tindakan.
b) Aktor juga menghitung biaya bagi setiap jalur perilaku.
c) Aktor berusaha memaksimalkan pemanfaatan untuk mencapai pilihan tertentu.

Menurut Granovetter (1989), pendekatan pilihan rasional adalah bentuk


ekstrem dari individualisme metodologis yang mencoba meletakkan suatu
superstruktur yang luas diatas fundamen yang sempit, karena pendekatan pilihan
rasional tidak memperhatikan secara serius pentingnya struktur jaringan sosial
dan bagaimana struktur ini mempengaruhi hasil secara keseluruhan.

2. Keterlekatan Struktural

Keterlekatan structural adalah keterlekatan yang terjadi dalam suatu


jaringan hubungan yang lebih luas, bisa merupakan institusi atau struktur social.
Konsep institusi social (social institution), sosiolog Indonesia lebih suka
menerjemahkannya sebagai konsep lembaga social, merupakan struktur social
yang memberikan tatanan siap pakai bagi pemecahan persoalan kebutuhan dasar
kemanusiaan. Dengan demikian struktur social adalah suatu pola hubungan atau
interaksi yang terorganisir dalam suatu ruang social. Struktur social merupakn
tuntutan social dalam berinteraksi dan berkelompok. Struktur social menyadarkan
kita bahwa hidup ini dicirikan sebagai pengorganisasian dan stabil.

Pemahaman tentang struktur social yang dikemukakan diatas telah


mengandung beberapa pandang atau pengertian yang diberikan oleh berbagai ahli
sebagai berikut : satu, Thomas J. Sullivan dan Kenrick S. Thompson (1984)
mengemukakan bahwa, “Struktur social merupakan pola interaksi yang
terorganisir dalam suatu kelompok masyarakat”, dua, James W. Vander Zanden
(1986) menjelaskan bahwa, “Struktur social adalah saling keterkaitan dari
interaksi dan hubungan orang – orang dalam pola yang stabil dan terus –
menerus”; sedangkan David B. Brinkerhoff dan Lynn K. White (1989)
berpendapat bahwa “Struktur social menunjuk pada suatu jaringan status atau
posisi yang mana interaksinya diatur oleh norma social.”

Penjelasan Thomas J. Sullivan dan Kenrick S. Thompson dengan James


W. Vander Zanden relative sama, dengan redaksi berbeda. Semntara penjelasan
Brinkerhoff dan White tampaknya lebih terurai agak rinci dengan menggunakan
status dan posisi. Sebenarnya definisi Thomas J. Sullivan dan Kenrick S.
Thompson dengan James W. Vander Zander mengandung secara implisist konsep
status atau posisi, sebab pola interaksi atau saling keterkaitan interaksi
mengandung makna adanya hubungan antara dua orang atau lebih yang
menyandang status atau posisi.

2.3 Keterlekatan dan Pendekatan Lainnya

Perbandingan pendekatan keterlekatan dengan pendekatan lainnya yng


dimaksudkan dengan pendekatan lainnya yang dimaksudkan adalh pendekatan pilihan
rasional dan pendekatan ekonomi institusi baru.

1. Keterlekatan Versus Pilihan Rasional


Behaviour (1976), mulai dengan beberapa unit perilaku atau aktor yang
diasumsikan “ber[erilaku rasional “. Berperilaku rasional” berarti memaksimalkan
keajegan perilaku yang diantisipasi atau diharapkan akan emmbawa imbalan atau
hasil di masa akan datang. Dalam hal ini rasional berarti:

 Aktor melakukan perhitungan dari pemanfaatan atau preferensi dalam


pemilihan suatu bentuk tindakan.

 Aktor juga menghitung ibiaya bagi setiap jalur perilaku.

 Aktor bersuaha memaksimalkan pemanfaatan untuk mencapai pilihan tertentu.

2. Keterlekatan Versus Ekonomi Institusi Baru

Ekonomi Institusi Baru (EIB) berasal dari perluasan analisis ekonomi


dalam rangka memasukkan institusi-institusi sosial ke dalam cakupan perhatian.
Beberapa kepercayaan umum yang dimiliki oleh teoritisi Ekonomi Instituisi Baru
adalah :

 Arus utama ekonomi harus berhubungan dengan institusi-institusi.

 Analisis institusi-institusi yang selama ini terabaikan dapat dilakukan secara


langsung atas dasar prinsip-prinsip ekonomi neo-klasik.

Menurut Granovetter dan Swedberg (1992) teoretisi EIB merupakan suatu


kumpulan ekonom yang heterogen. Lebih lanjut Granovetter menegaskan bahwa
institusi tidak dapat dijelakan pada prinsip-prinsip ekonomi neoklasik, khususnya
efisiensi; instituisi yang ada akan lebih tepat bila dipandang sebagai konstruksi
sosial atas kenyataan. Dengan demikian, insituisi ekonomi, dikonstruksi dengan
mobilisasi sumber-sumber melalui jaringan sosial; dan dibangun dengan
pertimbangan latar belakang masyarakat,politik, pasar, dan teknologi.

2.4 Penerapan Konsep Keterlekatan


Dalam perilaku ekonomi tersebut melekat konsep kepercayaan (trust).
Kepercayaan merupakan institusi sosial yang berakar dari hasil evolusi kekuatan-
kekuatan politik,sosial,sejarah dan hukum, dipandang sebagai solusi yang efisien
terhadap fenomena ekonomi tertentu. Sebaliknya pendekatan aktor yang lebih
tersosialisasi memandang bahwa kepercayaan merupakan moralitas umum dalam
perilaku ekonomi. Moralitas tersebut dipandang sesuatu yang umum dan universal
terjadi dalam perilaku ekonomi. Kedua pendekatan tersebut diatas mengabaikan
identitas dan hubungan masa lampau para aktor yang terlibat dalam suatu interaksi
sosial. Oleh karena itu pendekatan sosiologi ekonomi baru atau sering juga disebut
pendekatan “keterlekatan” mengajukan pandangan yang lebih dinamis, yaitu bahwa
kepercayaan tidak mucul dengan seketika tetapi terbit dari proses hubungan antar
pribadi dari aktor-aktor yang sudah lama terlibat dalam perilaku ekonomi secara
bersama.

2.5 Jaringan Sosial dalam Konsep Keterlekatan

Bagi sosiolog studi tentang jaringan sosial telah dikenal sejak 1960-an,
yang dihubungkan dengan bagaimana individu terkait antara satu dengan lainnya dan
bagaimana ikatan afiliasi melayani baik sebagai pelicin untuk memperoleh sesuatu
yang dikerjakan maupun sebagai perkeat yang memberikan tatanan dan makna pada
kehidupan sosial. Pada tingkatan antar individu, jaringan sosial dapat didefenisikan
sebagai rangkaian hubungan yang khas diantara sejumlah orang dengan sifat
tambahan, yang ciri-ciri dari hubungan ini sebagai ini sebagai keseluruhan, yang
digunakan untuk menginterpretasikan tingkah laku sosial dari individu-individu yang
terlibat.

Berdasarkan literatur yang berkembang, Powell dan Smith Doerr (1994)


mengajukan dua pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami jaringan sosial,
yaitu pendekatan analisis atau abstrak dan pendekatan preskriptif atau studi kasus.
Pendekatan analisis terhadap jaringan sosial menekankan analisis abstrak pada :
a. Pola Informal dalam organisasi, pada dasarnya area ini memiliki kerangka
pemikiran yaitu hubungan informal sebagai pusat kehidupan politik
organisasi-organisasi.
b. Jaringan juga memperhatikan tentang bagaimana lingkungan di dalam
organisasi dikonstruksi.
c. Sebagai suatu alat penelitian formal untuk menganalis kekuasaan dan
otonomi.

Pendekatan preskriptif memandang jaringan sosial sebagai pengaturan logika


atau sebagai suatu cara menggerakkan hubungan-hubungan di antara para aktor
ekonomi. Pendekatan ini cenderung untuk melihat motif yang berbeda dalam
kehidupan ekonomi seperti analisis jaringan sosial dalam pasar tenaga kerja,etika
bisnis, dan organisasi dari kelompok bisnis.

Persamaan antara pendekatan analitis dan pendekatan preskriptif didsarkan


atas kerangka kerja konseptual dari :

 Keterlekatan, resiprositas dan koneksi.

 Pemakain bahasa dan model tindakan.

Baik pendekatan analitis maupun pendekatan preskriptif mempunyai


keterbatasan. Keadaan tersebut menyebabkan kedua pendekatan tersebut tidak
mampu melihat keseluruhan struktur atau bentuk dan isi jaringan sosial secara
mendalam. Sebaliknya, pendekatan yang berorientasi abstrak sering terlalu sedikit
memberi perhatian pada substansi.

Dalam melakukan penelitian tentang jaringan sosial, terdapat empat bidang


penelitian yang dapat dikerjakan oleh sosiolog.

1. Jaringan Informal dan Akses Kesempatan


Pada Bidang ini penelitian yang telah dilakukan difokuskan pada penggunaan
jaringan sosial dalam pekerjaan : moblisasi dan difusi. Jaringan sosial
memudahkan mobilisasi sumber daya. Mempertahankan seseorang untuk
memegang suatu jabatan atau membangun usaha bisnis, membutuhkan suatu
kemampuan untuk mengerakkan sumber daya dalam bentuk informasi dan
finansial. Jaringan komunikasi memainkan peranan penting dalam penyebaran
model, struktur, praktek dan budaya bisnis.

2. Jaringan Formal Pengaruh dan Kekuasaan

Bagian ini menggunakan pendekatan analitis untuk menjelaskan kekuasaan


aktor-aktor ekonomi. (Mintz dan Scwartz,1985;Burt,1992;Mizruchi,1992). Kubu
pemikiran ini mempercayai bahwa “Kekuasaan melekat secara situasional, ia
bersifat dinamis dan tidak stabil secara potensial.” Sementara itu menurut Powell
dan Smith-Doerr, kekuasaan itu sendiri didefenisikan sebagai otoritas formal,
pengaruh formal, dan dominasi . Analisis jaringan sosial tentang kekuasaan terdiri
dari legitimasi, informasi dan kekuatan. Kekuasaan berada dalam posisi struktural.

Dalam memahami jaringan sosial dalam kekuasaan dapat didekati dengan tiga
perspektif, yaitu pertukaran sosial,ketergantungan sumber daya, dan kelas sosial.

3. Organisasi sebagai jaringan sosial dari perjanjian

Analisis jaringan organisasi didasarkan atas organisasi formal dan organisasi


informal. Menurut Dalton (1959:219) formal berarti sesuatu yang direncanakan
dan disetujui atasnya sedangkan informal berarti ikatan-ikatan yang spontan dan
fleksibel di antara anggota-anggota yang dituntun oleh perasaan-perasaan dan
kepentingan pribadi yang tidak dapt dipertahankan oleh kegiatan formal.
Organisasi formal biasanya mempunyai struktur hirearkis, dihubungkan secara
mendalam dengan jaringan yang lebih luas, sedangkan jaringan informal dapat
tidak memihak dan menembus batas struktur yang hirearkis. Jaringan memberikan
suatu cara bagi perusahaan besar untuk mengamankan taruhannya dalam
menghadapi ketidakpastian dan hambatan pasar.

4. Jaringan Sosial dari Produksi

Powell dan Smith-Doerr (1994) mengajukan empat tipe jaringan produksi


secara bersama, yaitu regional, penelitian dan pengembangan, kelompok bisnis,
aliansi strategis dan produksi bersama.

Tipe penelitian dan pengembangan merupakan jaringan sosial dari produksi


yang berlandaskan atas kerja sama ilmiah. Jaringan sosial dari produksi yang
bertipe kelompok bisnis digerakkan oleh ikatan antar organisasi yang horizontal
dan relatif egaliter berkombinasi dengan hubungan vertikal yang lebih hirearkis,
dengan landasan otoritas dan kebijakan.

Alisansi strategis dan produksi bersama merupakan jaringan produksi yang


lebih bersifat formal, karena dibentuk atas persetujuan bersama untuk bekerja
sama yang jangka waktunya relatif pendek.