Anda di halaman 1dari 54

Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Tujuan Praktikum


1.1.1. Recommended Weight Limit (RWL)
1. Mengenal perhitungan RWL untuk perancangan pengangkatan beban.
2. Untuk mengetahui beban maksimal yang dapat diangkat oleh seorang
operator.
3. Mengerti secara umum prinsip-prinsip kesehatan dan keselamatan kerja
operator dalam dalam aktivitas pengangkatan material.
4. Mengetahui sistem pengangkatan material secara manual sehingga dapat
mengevaluasi serta memberikan usulan rancangan fasilitas kerja yang
lebih baik.

1.1.2. Ovako Oy Working Posture Analysis System (OWAS)


1. Dapat mengepaluasi dan menganlaisa sikap gerak tubuh pekerja / operator
pada saat bekerja.
2. Mengetahui persentase penggunaan posisi lengan, kaki, dan punggung
pada saat pengangkatan matrial secara manual.
3. Dapat menentukan aman atau tidaknya berat beban pada pengangkatan
material secara manual.

1.2. Model Pemecahan Masalah


1.2.1. Recommended Weight Limit (RWL)
1. Star
 Pengenalan / pemilihan produk yang akan dikerjakan
 Melakukan latihan pengangkatan
2. Pengumpulan Data
 Melakukan pengambilan data untuk analisa berat objek dan identifikasi
multiplier pada proses Manual Material Handling (MMH)
3. Pengolahan Data

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 1
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

 Menghitung data untuk menentukan nilai RWL yaitu menentukan


berapa besarnya nilai RWL dan LI yang dilakukan oleh praktikan
dalam melakukan Manual Material Handling.
4. Analisa
 Setelah data diolah lalu melakukan analisa apakah pekerjaan yang
dilakukan oleh praktikan termasuk dalam pekerjaan yang aman untuk
dilakukan atau tidak.
5. Kesimpulan
 Melakukan penarikan suatu kesimpulan berdasarkan hasil praktikum
dan analisa.
6. Finis
 Praktikan telah selesai melakukan penelitian / praktikum.

1.2.2. Ovako Oy Working Posture Analysis System (OWAS)


1. Star
 Mengamati praktikan dalam melakukan pengangkatan dengan
menggunakan camera digital
2. Input Data posisi sikap kerja
 Mengamati pergerakan punggung, lengan, kaki,
 Berat beban
3. Pengolahan Data
 Data tersebut diolah dengan menggunakan software OWAS
4. Data Out put
 Setelah diolah maka keluar persentase penggunaan punggung, lengan,
kaki, dan berat beban, jenis kategori tindakan.
 Rekomendasi untuk perbaikan
5. Finis
 Praktikan telah selesai melakukan penelitian / praktikum.

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 2
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

1.3. Flowcart
1.3.1. Recommended Weight Limit (RWL)

Gambar 1.1. Deskriptif prosedur praktikum analisis beban kerja


(Recommended Weight Limit / RWL)

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 3
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

1.3.2. Ovako Oy Working Posture Analysis System (OWAS)

Gambar 1.2. Deskriptif prosedur praktikum analisis


Ovako Oy Working Posture Analysis System (OWAS)

1.4. Alat yang digunakan


1.4.1. Recommended Weight Limit (RWL)
1. Gambar aktivitas pengamatan
2. Format analisis pengamatan
3. Komputer
4. Software RWL / RULA
5. Alat tulis

1.4.2. Ovako Oy Working Posture Analysis System (OWAS)


1. Komputer
2. Alat tulis
3. Kamera digital
4. Software OWAS

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 4
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Model RWL/LI


The National Institute for Occupational and Health (NIOSH) yang didirikan
pada tahun 1981, telah membuat persamaan yang dapat membantu bagi praktisi
agar dapat mengevaluasi suatu pekerjaan pengangkatan benda secara manual pada
posisi sagital, dengan memberikan fokus perhatian pada segi keselamatan dan
kesehatan bagi para pekerja. Persamaan yang dikeluarkan NIOSH membimbing
kita dalam memberikan suatu nilai beban angkatan teoritis yang disarankan untuk
pekerjaan mengangkat benda, yang disebut Recommended Weight Limit (RWL).
Karena ternyata persamaan tahun 1981 tersebut hanya bisa diterapkan pada
lingkup yang sempit, maka pada tahun 1991 NIOSH melakukan revisi dengan
maksud agar persamaan pengangkatan (lifting equation) ini dapat diterapkan
dalam lingkup yang lebih luas.
Persamaan yang dibuat tahun 1991 memberikan faktor pengali tambahan
dalam evaluasinya. Faktor pengali tambahan ini berupa perhitungan pergerakan
asimetrik dan faktor pegangan tangan (handle) sebagai fungsi coupling dalam
pekerjaan pengangkatan beban. Persamaan ini juga memberikan prosedur baru
untuk mengevaluasi pekerjaan dengan rentang waktu lebih lama dan frekuensi
lebih tinggi, dengan hasil yang lebih baik.
Tujuan dari persamaan pengangkatan ini adalah untuk mencegah terjadinya
cedera tulang belakang bagian bawah (low back pain, LBP) bagi pekerja dalam
melakukan aktivitas pengangkatan beban secara manual [Applications Manual for
The Revised NIOSH Lifting Equation, 1994].

2.1.1. Komponen-komponen Pembentuk Persamaan


Faktor pengali pada persamaan pengangkatan yang telah direvisi terdiri dari
enam koefisien yang digunakan sebagai pengurang konstanta beban berdasarkan
karakteristik kompensasi pengangkatan beban yang berbeda dari lokasi standar
pengangkatan beban atau kondisi yang optimal. Kondisi-kondisi atau faktor-faktor
ini telah diidentifikasikan sebagai salah satu atau lebih studi epidemiologi tentang
pengangkatan beban secara manual.

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 5
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

Ke-enam pengali (koefisien) didapat dari sejumlah iterasi dimana koefisien


yang telah direvisi ini dipergunakan untuk memperkirakan beban yang boleh
diangkat. Beban yang didapat dari perhitungan ini selanjutnya dibandingkan
secara empiris dengan studi tentang psiko- fisik.
Lokasi standar pengangkatan beban disajikan dalam titik referensi tiga
dimensi untuk evaluasi sikap pengangkatan. Lokasi standar pengangkatan pada
tahun 1981 adalah :
 Lokasi vertikal = 75 cm dari lantai
 Lokasi horizontal = 15 cm dari titik pusat antar siku tangan.
Pada persamaan tahun 1991 ada sedikit perubahan menjadi :
 Lokasi vertikal = 75 cm dari lantai (tidak ada perubahan)
 Lokasi horizontal = 25 cm dari titik pusat antar siku tangan.
Perubahan pada lokasi horizontal menunjukan bahwa pada penelitian terbaru
diketahui bahwa 25 cm merupakan jarak minimum horizontal yang digunakan
oleh sebagian besar pekerja dalam melakukan pekerjaan pengangkatan beban,
dengan tidak tergantung pada bentuk tubuh. Adapun komponen-komponen
pembentuk persamaan tersebut adalah [Applications Manual For The Revised
NIOSH Lifting Equation, 1994] :

1. Konstanta Beban (LC)


Konstanta beban ditentukan berdasarkan pada maksimum beban yang
dibolehkan untuk diangkat pada lokasi standar dibawah kondisi yang optimum.
Pengertiannya adalah; pengangkatan dilakukan pada posisi sagital, dengan
frekuensi tidak terlalu sering, coupling yang baik dan lokasi perpindahan  25 cm.
Pemilihan konstanta beban didasarkan pada kriteria psiko-fisik dan biomekanik.
Pada tahun 1991, komite dari NIOSH mengestimasi bahwa pengangkatan beban
ekuivalen dengan konstanta beban dalam kondisi yang ideal dimana dapat
diterima oleh 75 % pekerja wanita dan 90 % pekerja pria dan gaya tekan terhadap
ruas-ruas tulang belakang kurang dari 3,4 kN.
Dalam persamaan yang telah direvisi tahun 1991, konstanta beban direduksi
dari 40 kilogram menjadi 23 kilogram. Reduksi ini dilakukan karena
bertambahnya jarak minimum horizontal dari 15 cm menjadi 25 cm pada posisi
standar pengangkatan. Konstanta beban yang telah direvisi, menjadi 17 kg lebih

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 6
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

ringan daripada sebelumnya. Namun dengan direvisinya jarak minimum


horizontal menjadi 25 cm, maka sebenarnya reduksi konstanta beban yang terjadi
hanya sebesar 1 kg saja.
Konstanta beban menjadi dasar dalam menilai batas maksimum beban yang
dapat diterima oleh 75 % pekerja wanita dan 90 % pekerja pria pada kegiatan
pengangkatan beban secara manual. Kesimpulan ini diperoleh berdasarkan
penelitian Snook dan Ciriello.

2. Faktor Pengali Horisontal (HM)


Studi tentang biomekanika dan psiko-fisik mengindikasikan bahwa semakin
besar jarak horizontal terhadap tulang belakang, maka semakin besar pula gaya
tekan terhadap lempeng (disk) dan menurunkan batas maksimum beban yang
boleh diangkat [Snook, Chaffin and Anderson 1984, Garg 1986]. Tegangan
kompresi axial pada tulang belakang selama pengangkatan beban secara umum
meningkat secara proporsional dengan jarak horizontal antara beban dengan
tulang belakang. Untuk melengkapi kriteria beban angkatan, pengali horizontal
ditetapkan sebagai berikut :

HM  25 / H 

dimana : H = jarak horizontal dalam cm, atau

HM = (10 / H )

dimana : H = jarak horizontal dalam inci

3. Faktor Pengali Vertikal (VM)


Studi tentang biomekanika menjelaskan bahwa terjadinya tegangan lumbar
yang meningkat pada pengangkatan yang makin mendekati lantai (Chaffin 1969,
Bean dkk 1983). Studi-studi tentang fisiologi pengangkatan beban yang lebih
mendekati lantai menyebabkan makin meningkatkan pengeluaran energi (Fredrick
1959, Garg dkk. 1978).
Walaupun tidak ada data empiris yang secara langsung menghubungkan
suatu nilai spesifik tertentu dengan pengangkatan beban yang mendekati lantai,
komite pada tahun 1991 memberikan rekomendasi bahwa faktor vertikal

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 7
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

memberikan penurunan sebesar 22,5 % terhadap nilai beban yang boleh diangkat.
Pengurangan yang rasional dari beban yang mulai diangkat di atas 75 cm dari
lantai adalah berdasarkan data empiris dari studi psiko-fisik. Studi ini
mengindikasikan bahwa maksimum beban yang boleh diangkat (MAWL) oleh
pekerja akan menurun sejalan dengan peningkatan jarak vertikal yang lebih dari
75 cm dari lantai. [Snook 1978, Ayoub dkk. 1978, Snook dan Ciriello 1991]
(Sumber : Applications Manual For The Revised NIOSH Lifting Equation, 1994).
Komite tahun 1991 memilih nilai pengurang sebesar 22,5 % untuk mengurangi
MAWL pada pengangkatan
Beban pada tingkat-bahu (shoulder level) atau pada jarak vertikal 150 cm
(60 inch). Untuk pengangkatan beban tersebut hasil dari pengali vertikal adalah :

VM  1 - 0,003 V - 75 
dimana : V = tinggi vertikal dalam cm

VM  1 - 0,007 V - 30 
dimana : V = tinggi vertikal dalam inchi

4. Faktor Pengali Jarak (DM)


Hasil dari studi psiko-fisik memperkirakan terjadi penurunan 15 % terhadap
MAWL ketika total jarak perpindahan mendekati maksimum (benda diangkat dari
lantai sampai ke bahu). Hasil ini juga mengidentifikasikan peningkatan kebutuhan
fisikologis sejalan dengan peningkatan jarak pengangkatan [Aquilano 1968,
Khalik dkk, 1985], (Sumber : Applications Manual For The Revised NIOSH
Lifting Equation, 1994). Sehingga untuk pengangkatan dimana total jarak
perpindahan  25 cm ( 10 inch) dan kenaikan kebutuhan fisiologisnya tidak
signifikan, maka pengali haruslah konstan
Dengan begitu maka pengali jarak (DM) yang ditetapkan pada tahun 1991
oleh komite adalah :

DM  0,82  4,5 / D 

dimana : D = total jarak perpindahan dalam cm

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 8
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

DM  0,82  1,8 / D 

dimana : D = total jarak perpindahan dalam inchi.

5. Faktor Pengali Asimetri (AM)


Pengangkatan asimetri adalah pengangkatan beban yang tidak pada bidang
sagital atau pengangkatan dimana benda kerja ditempatkan membentuk terhadap
bidang sagital. Sampai kini masih sedikit penyelidikan yang memberikan data
hubungan antara pengangkatan asimetri dengan kapasitas maksimum beban yang
dibolehkan untuk diangkat.
Maka pada tahun 1991, pengali asimetri ditentukan sebagai faktor pengali
yang mengurangi sekitar 30 % dari beban yang boleh diangkat pada pengangkatan
dengan sudut pergerakan 900. Faktor pengali yang ditetapkan oleh komite adalah :

AM  1 0,0032. A

Dimana : A = sudut asimetri yang dibentuk


Sudut asimetri adalah sudut yang menunjukan sejauh mana benda (objek)
dipindahkan dari depan (bidang mid-sagital) tubuh pekerja sampai ke titik tujuan.
Sudut asimetri terbuka antara garis asimetri dengan garis sagital yang
diproyeksikan pada bidang alas.
Gambar 2.1 Ukuran Variabel

(Sumber: Applications Manual For Revised NIOSH Lifting Equetion,1994)

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 9
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

(Manual For The Revised NIOSH Sumber: Aplication Lifting Eqution –1994)
Gambar 2.2 Sudut Asimetri

6. Faktor Pengali Coupling (CM)


Beban yang harus diangkat umumnya dilengkapi dengan suatu komponen
yang dimaksudkan sebagai alat pemegang pada saat pekerja hendak mengangkat
beban tersebut. Kegunaan dari komponen pelengkap ini adalah agar pekerja dapat
mengangkat beban dengan lebih baik. Selanjutnya komponen ini kita sebut
sebagai pegangan tangan (handle). Perpaduan kerja antara fungsi tangan pekerja
dengan handle yang ada inilah yang disebut dengan coupling.
Penyelidikan psiko-fisik menemukan bahwa terjadi pengurangan MAWL
pada pekerjaan pengangkatan beban yang tidak dilengkapi dengan handle yang
baik [Garg and Saxena 1980, Smith and Jiang 1984, Durry dkk. 1989]. Walaupun
penyelidikan ini tidak secara tepat menentukan besarnya tingkat pengurangan
yang terjadi, banyak kesimpulan yang menyatakan bahwa untuk beban yang
diangkat tanpa handle harus dilakukan reduksi antar 7 % hingga 11 %. Faktor
pengali coupling selengkapnya disajikan dalam Tabel 2.5. Komite juga membuat
consensus bahwa untuk coupling yang kurang baik maka faktor pengurangnya
tidak kurang dari 10 %. Jadi nilai faktor pengali (CM) adalah sebagai berikut :

CM  1,00 atau 0,9 atau 0,90

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 10
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

Tergantung pada ketinggian vertikal dan kualitas coupling. Kategori kualitas


coupling adalah ; baik, cukup, atau kurang. Sedangkan kategori ketinggian adalah:
< 75 atau  75 cm (30 inch).

Tabel 2.1 Faktor Pengali Coupling.


Kualitas Faktor Pengali
Coupling V < 75 cm (30 V  75 cm (30 inch)
Baik 1,00 1,00
Cukup 0,95 1,00
Kurang 0,90 0,90

(Sumber: Application Manual For The Revised NIOSH Lifting equation, 1994)

7. Faktor Pengali Frekuensi (FM)


Untuk persamaan yang dibuat tahun 1991 telah dilakukan terhadap
penetapan faktor pengali frekuensi dalam bentuk tabel untuk lebih jelasnya Tabel
Frequency Multiplier dapat dilihat pada Lampiran Faktor pengali frekuensi pada
tabel tersebut didasarkan pada dua set data.
a. Data frekuensi pengangkatan dibawah 4 angkatan /menit menggunakan
data psiko-fisik dari Snock dan Cirello (1991) untuk memperoleh nilai
FM.
b. Data dengan frekuensi diatas 4 angkatan/menit menggunakan persamaan
Gang (1976) dalam memprediksi pengeluaran energi pada pengangkatan
beban untuk memperoleh nilai FM.

2.1.2. Formulasi Persamaan Recommended Weight Limit (RWL)


RWL merupakan nilai beban yang direkomenasikan untuk diangkat oleh
seorang pekerja pada saat melakukan kegiatan pengangkatan beban. Persamaan
ini merupakan revisi atas konsep Action Limit (AL) yang telah dikeluarkan oleh
NIOSH pada tahun 1981. Pada persamaan RWL tahun 1991 ditambahkan 2 faktor
pengali yang sebelumnya tidak diformulasikan. Kedua faktor pengali tersebut
adalah faktor asimetri dan coupling [Application Manual For The Revised NIOSH
Lifting Equation, 1994]. Formulasi persamaan RWL yang dimaksud dapat dilihat
pada tabel 2.6.

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 11
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

Tabel 2.2 Formulasi Persamaan RWL

Komponen Metrik US Customary


LC = Konstanta 23 51 lb
HM = Pengali (25/H) (10/H)
Horizontal VM = (1-0,003 VM = (1-0,0075  V-
VM = Pengali V-75) 30)
Vertikal DM = 0,82 + DM = 0,82 + (1,8D)
DM = Pengali (4,5/D) AM = 1 – (0,0032A)
Jarak AM = 1 – Dari tabel
AM = Pengali (0,0032A) Dari tabel
Asimetrik Dari tabel
FM = Pengali Dari tabel
Frekuensi
CM = Pengali
Kopling
(Sumber: Application Manual For The Revised NIOSH Lifting equation, 1994)

Keterangan :
RWL = Batas berat beban yang direkomendasikan.
H = Jarak horizontal antara titik tengah mata kaki dengan proyeksi
titik tengah benda.
V = Jarak vertikal antara telapak tangan dengan lantai
D = Jarak perpindahan vertikal antara titik asal dengan titik tujuan
A = Sudut putar.

2.1.3 Pembatasan pada Persamaan RWL/LI


Persamaan pengangkatan (lifting equation) yang dikeluarkan NIOSH pada
tahun 1991, khusus digunakan sebagai alat untuk evaluasi dan penilaian terhadap
resiko pengangkatan beban secara manual. Sebagai alat evaluasi, persamaan ini
dirancang untuk mendapatkan suatu nilai beban angkat yang sesuai menurut
kriteria biomekanika, fisiologi kerja maupun asumsi psiko-fisik yang telah
didefinisikan dimuka.
Berikut ini akan diidentifikasikan serangkaian set kondisi kerja dimana
aplikasi persamaan pengangkatan ini tidak akan memberikan hasil yang tepat

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 12
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

(terlalu tinggi atau terlalu rendah) ([Application Manual For The Revised NIOSH
Lifting Equation, 1994].
1. Persamaan ini mengamsumsikan aktivitas pengangkatan material lainnya
dianggap tidak ada atau tidak membutuhkan pengeluaran energi yang
signifikan, khususnya pada pekerjaan yang tidak ada adalah seperti
mendekap beban, mendorong, menarik, membawa, berjalan dan
mendaki. Jika aktivitas itu ada maka harus dilakukan pengukuran denyut
jantung dan pengeluaran energi untuk mengetahui kebutuhan
metabolisme selama aktivitas berlangsung.
2. Persamaan ini tidak memasukkan faktor lain selain yang telah ditetapkan
selain kondisi yang tidak terduga, seperti harus mengangkat beban yang
sangat berat, jatuh atau terpeleset. Penambahan analisa biomekanika
diperlukan untuk menilai tegangan fisik (physical stress). Lebih lanjut,
jika lingkungan kerja tidak menguntungkan (seperti temperatur atau
kelembaban kurang baik) maka pengukuran metabolisme diperlukan.
3. Pekerjaan ini tidak dirancang untuk menilai pekerjaan yang dilakukan
dengan satu tangan, dalam posisi duduk, atau ditopang oleh lutut,
mengangkat pada ruang kerja terbatas, mengangkat orang, mengangkat
beban yang terlalu panas/dingin atau terkontaminasi, mengangkat dengan
kecepatan tinggi, dan lain-lain. Untuk kondisi seperti ini perlu diukur
lebih spesifik tentang biomekanika dan psiko-fisik. Persamaan ini
mengasumsikan bahwa koefisien static fiksiantar sol sepatu pekerja
dengan lantai adalah sekurang-kurangnya 0,4. Hal ini perlu agar dalam
pekerjaan tidak terjadi akibat terpeleset.
4. Persamaan ini mengasumsikan bahwa mengangkat dan menurunkan beban
mempunyai resiko yang sama terhadap cedera tulang belakang bagian
bawah. Asumsi ini tidak berlaku jika pekerja melemparkan beban ke
bagian yang lebih rendah dari tempatnya berdir

2.1.3. Lifting Index (LI)


Lifting Index (LI) menyatakan nilai estimasi relatif dari tingkat tegangan
fisik dalam suatu kegiatan pengangkatan manual [Aplication Manual For The
Resived NIOSH Lifting Equation, 1994]. Nilai estimasi tingkat tegangan fisik

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 13
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

tersebut dinyatakan sebagai hasil bagi antara nilai beban-angkat (load weight)
dengan nilai RWL hasil perhitungan. Jadi nilai persamaan (LI) dapat dirumuskan
sebagai berikut :

Load Weight L
LI  
Re commended Weight Limit RWL

2.1.4. Pengunaan RWL dan (LI) dalam Perencanaan Kerja


Nilai RWL dan (LI) dapat digunakan sebagai cara [Aplication Manual For
The Resived NIOSH Lifting Equation, 1994] :
1. Komponen-komponen pengali dapat digunakan untuk mengidentifikasi
masalah-masalah yang spesifik yang mungkin ada pada suatu pekerjaan.
Besaran relatif dari tiap komponen menunjukkan kontribusi relatif masing-
masing faktor pengali (missal : horizontal, vertikal, dan lain-lain).
2. Nilai RWL dapat digunakan sebagai pedoman melakukan re-desain pada
pekerjaan pengangkatan manual yang sudah ada. Atau pada pekerjaan
pengangkatan yang sama sekali baru. Sebagai contoh jika variabel
pekerjaan sudah tetap (fixed) maka agar tidak melampaui RWL harus
dilakukan optimasi pada variabel-variabel pekerjaannya.
3. Nilai (LI) dapat digunakan untuk menghitung besaran relatif tegangan fisik
pada suatu pekerjaan. Semakin besar nilai (LI) maka akan semakin sedikit
jumlah pekerja yang mampu secara aman bertahan melakukan pekerjaan
dalam tingkat tegangan tersebut. Jadi harus dilakukan perancangan stasiun
kerja yang lebih baik.
4. Nilai (LI) dapat digunakan untuk menetapkan prioritas dalam melakukan
perancangan ulang yang ergonomis pada serangkaian kegiatan kerja
pengangkatan manual. Pekerjaan dengan nilai (LI) yang lebih besar akan
menduduki urutan yang lebih utama untuk segera dilakukan perancangan
ulang.

2.2. OWAS (Ovako Working Posture Analysis System)


OWAS merupakan suatu metoda yang digunakan untuk mengevaluasi dan
menganalisa sikap gerak tubuh pekerja /operator pada saat bekerja. Mengenai

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 14
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

OWAS (Ovako Oy Worker Posture Analysis System), perkembangannya dimulai


tahun tujuh puluhan diperusahaan penghasil besi baja Ovako Oy Finlandia
(sekarang Fundia Wire), Kahru dan Nasman serta kawan-kawannya dan
Laboratorium kesehatan buruh Finlandia (Institut kesehatan kerja) yang telah
disediakan oleh Kuorinka dan lainnya. Pada kurun waktu 1977 Kahru dan kawan-
kawan memperkenalkan metode ini untuk pertama kalinya hanya klasifikasi sikap
tetapi dalam disertasi pada kurun waktu 1985 dari Stoffert menyempurnakannya
dengan metode evaluasi secara detail. Rata-rata tingkat kesamaan dalam
mengukur perbedaan sikap orang adalah 90% atau lebih, dan itu sudah tinggi.
Tesnya dilakukan pada 20 atau lebih jenis industri / perusahaan. (Kahru, 1981:1)

Metode OWAS dapat diterapkan pada ruang lingkup sebagi berikut :

1). Pengembangan suatu metode kerja atau workplace, untuk mengurangi


beban kerja terhadap otot dan tulang agar lebih aman dan produktif.
2). Perencanaan workplace dan metode kerja yang baru
3). Survey-survey ergonomis.
4). Survey-survey kesehatan kerja
5). Riset dan pengembangan.

2.2.1. Biomekanika dan Postur Tubuh

Tubuh manusia terdiri dari sitem jaringan, jaringan yang membentuk tubuh
yaitu tulang (skeletal) dan otot (muscular) atau bisa disebut dengan
Mosculoskeletal System adalah sistem jaringan yang mempengaruhi postur tubuh
dan pergerakan anggota tubuh.

Beban kerja otot dapat dipengaruhi oleh postur tubuh atau kerja anggota
tubuh yang lain. Jika cara kerja seseorang tidak sesuai dengan bagaimana otot itu
harus bekerja, misalnya salah posisi atau terlalu lama bekerja, maka akan terjadi
kelelahan (fatique) pada jaringan otot.

Dari tabel dibawah ini dapat dilihat tentang fungsi jaringan tulang dan otot
dalam membentuk postur tubuh.

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 15
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

Tabel 2.3 Fungsi jaringan tulang dan otot terhadap postur tubuh

Sekeletal System Muscular System


1. Support 1. Membuat gerakan pada tubuh dan
2. Proteksi atau perlindungan pada bagian tubuh (dengan bantuan
jaringan tubuh yang sangat tulang)
penting seperti otak, jantung dan 2. Menjaga postur tubuh
paru-paru. 3. Memproduksi panas (sel-sel otot
3. Bergerak (dengan tulang dan memproduksi panas untuk
persediaan yang diikat oleh otot) menjaga temperatur tubuh)

(Sumber : Eko Nurmianto, Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikainya, hal 160)

2.2.2. Keseimbangan Tubuh


Postur tubuh dipengaruhi juga oleh gaya gravitasi yang bekerja pada setiap
anggota tubuh. Dalam kaitannya dengan postur tubuh dan kesetimbangan gerakan
(gerakan tubuh) maka pusat gravitasi (center of gravity) dari setiap anggota tubuh
harus jatuh pada bidang alas dasar sanggahan tubuh. Hal yang perlu
diperhatiuakan untuk menjaga kesetimbangan static equilibrium adalah sebagai
berikut :
a. Gaya keatas harus sama dengan gaya yang bekerja kebawah (termasuk
berat tubuh dan berat benda yang dipegang atau menempel pada tubuh).
b. Gaya kedepan (misalnya bungkuk kedepan) harus sama dangan gaya
kebelakang (peregangan otot punggung).
c. Momen yang searah jarum jam (misalnya beban yang tidak seimbang,
contohnya mengangkat ember berisi air dengan sebelah tangan) harus
sama dengan momen yang berlawanan arah jarum jam (otot pinggul dan
punggung).

2.2.3. Tulang Punggung


Tulang pungung dan tulang pinggul (pelvis) menjadi pendukung utama
dari bagaian tubuh di atasnya yang kemudian bebanya akan disebar menuju kaki
melalui persediaan pinggul.
Tulang punggung harus senantiasa tegak dan membungkuk huruf ‘S’
bentuk spinal postur seperti itu disebut dengan lordosis atau kebalikannya adalah

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 16
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

kiposis. Bentuk postur seperti itu pada saat berdiri memberikan semacam struktur
pegas sehingga dapat menyerap tumbukan tiba-tiba pada badan atau dan
menyebarnya sepanjang sumbu vertikal. Pada saat duduk, pstur ‘S’ tersebut dapat
menahan getaran keras pada kendaraan dan tidak menimbulkan sakit punggung.
Postur ‘S’ dalam setiap aktivitas kerja harus dapat dipertahankan dengan
baik untuk memperoleh kenyamanan dan kesehatan kerja. Sehingga bagian-bagian
tulang punggung khususnya lumbar dan cervical, dimana bagian tersebut tida fix
pada posisi lordosis semata, tapi juga dapat bergerak kekanan dan kekiri.
Banyak cara untuk mempertahankan posisi tulang punggung supaya tetap
tegak, misalnya dengan cara meluruskan kaki pada saat duduk atau dengan
support pada limbar dan carvical.

2.2.4. Postur-postur Tubuh


Ada beberapa postur tubuh yang menjadi dasar dari pembahasan postur
tubuh secara keseluruhan yaitu berdiri, jongkok dan duduk.
2.2.4.1 Postur Berdiri
Pada dasrnya manusia tidak dapat berdiri lama dengan tegak, setelah
beberapa saat manusia akan bersandar pada sesuatu atau akan bergerak maju
mundur atau menggunakan kaki ketiga (tripedal) seperti tongkat atau lembing
untuk mempertahankan postur lordisis dari tulang punggung.
Dalam bekerja postur berdiri memiliki kelebihan-kelebihan antara lain :
a. Jangkauan yang lebih jauh
b. Berat tubuh dapat digunakan untuk memindahkan gaya pada tubuh
c. Ruang kaki yang dibutuhkan lebih sedikit
d. Kakik dapat digunakan untuk menahan getaran
e. Tekanan pada lumbar lebih rendah
f. Dengan berdiri, maka aktivitas otot dapat dikontrol
g. Kekuatan otot saat berdiri lebih besar daripada duduk atau setenagh duduk.

2.2.4.2 Postur Duduk


Posisi duduk lebih memberikan rusting position yang lebih banyak
dibandingkan dengan berdiri, namun demikian manusia juga tidak bisa
mempertahankan posisi lordosis tegak lurus menerus, shingga untuk

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 17
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

mempertahankan posisi tersebut, perlu adanya sarana pendukung seperti sandaran


punggung pada kursi atau lumbar support.
Posisi duduk seperti itu juga dapat dipengaruhi oleh disain kusi yang tidak
sesuai dan tidak dapat mendukung postur dengan baik. Misalnya alas duduk dan
sandaran yang membentuk sudut terlalu datar (90o) dapat membungkukan badan
operator.

2.2.4.3 Postur Jongkok dan Berlutut


Posisi ini tidak banyak dilakukan oleh manusia dari belahan dunia Barat,
tapi banyak dilakukan oleh bangsa-bangsa Timur dan Afrika. Menurut manusia
Barat duduk dengan jongkok atau berlutut tidak sehat karena tidak membentuk
lordosis pada tulang punggung, namun distu sisi pernyataan tersebut tidak benar,
karena banyak cara yang dapat dilakukan saat duduk merendah tapi dapat
mempertahankan posisi lordosis tersebut.

Gambar 2.3 Skema hal-hal yang mempengaruhi postur kerja

(Sumber Eko Nurminto, Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya, 1996, hal161)

Postur kerja dipengaruhi atau ditimbulkan dari tiga komponen utama, yaitu
Task Requirement atau persyaratan kerja, faktor personal dan disain ruang kerja
atau peralatan kerja. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.9.

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 18
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

Tabel 2.5 Cotoh faktor yang dapat dipengaruhi postur kerja


Faktor Contoh
 Visual
 Manual Handling
Persyaratan Tugas  Waktu istirahat
 Jenis tugas
 dsb
 Umur
 Anthropometri
Faktor personal  Mobilitas kerja
 Kebugaran
 Berat badan
 dsb
 Ukuran kursi
Disain ruang kerja atau  Disain alat
peralatan kerja  Pencahayaan
 dsb

(Sumber : Eko Nurminto, Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya, 1996 hal 162)

Berikut ini adalah perihal penjelasan terhadap klasifikasi sikap bagian


yang diamati untuk evaluasi dan analisa dengan menggunakan metode OWAS :
a. Punggung (Back)
1. Lurus kedepan / kebelakang
2. Bungkuk ke depan / kebelakang
3. Memutar / bengkok kesamping
4. Bengkok dan memutar atau bengkok kedepan dan menyamping
b. Lengan (Arms)
1. Kedua tangan berada dibawah bahu
2. Satu tangan berada pada atau diatas bahu
3. Kedua tangan pada atau diatas bahu
c. Kaki (Legs)
1. Duduk

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 19
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

2. Berdiri dengan dua kaki


3. Berdiri dengan berat pada satu kaki pada posisi lurus
4. Berdiri jongkok dengan kedua lutut
5. Berdiri atau jongkok dengan satu kaki berlutut
6. Berlutut pada satu atau kedua lutut
7. Berjalan maju
d. Berat Beban (Load)
1. Berat atau kekuatan yang dibutuhkan adalah 10 Kg atau kurang
2. Berat atau kekuatan yang dibutuhkan adalah lebih besar dari 10 Kg dan
kurang dari 20 Kg
3. Berat atau kekuatan yang dibutuhkan lebih besar dari 20 Kg

Dimana dengan OWAS, angkat beban sikap dan tingkat resiko dari masing-
masing bagian yang diamati ditentukan pada 4 tahap seperti dibawah ini: (Kahru,
1981:5)

AC 1 Pada tipe sikap beban ini tidak ada masalah pada skeletal otot. Tidak perlu
ada perbaikan
AC 2 Pada sikap ini berbahaya pada sistem skeletal otot. Perlu tindakan di masa
yang akan datang
AC 3 Pada sikap ini berbahaya pada sikap skeletal otot. Perlu perbaikan sesegera
mungkin
AC 4 Pada sikap ini sangat berbahaya pada sikap skeletal otot. Perlu adanya
perbaikan secara langsung.

2.2.5. OWASCA (Program Pelatihan)

Selain penjelasan ringkas tentang OWAS, yang menunjukkan gambaran


sikap dan juga membuat kode input sikap yang benar, dan juga dapat mengambil
keputusan sikap, berikut ini adalah tampilan Software OWASCA (Program
Pelatihan) Tahap untuk mengumpulkan data postur pekerja dari pengamatan di
lapangan yang mana terdapat pada gambar dibawah ini :

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 20
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

(Sumber: Finland http//turva.me.tut.fi/OWAS)

Gambar 2.4 Tampilan Data Collection

Untuk menetapkan tahap kerja yang dilakukan objek penelitian (Pekerja). Untuk
penegasan tahap kerja dapat dilihat dibawah ini :

(Sumber: Finland http//turva.me.tut.fi/OWAS)

Gambar 2.5 Tampilan Penegasan Tahap Kerja

Pada tahap ini dinamakan tahap penegasan latar belakang dan informasi
penelitian, pada tahap ini ditentukan nama perusahaan, bagian/departemen
perusahaan yang diteliti, jenis pekerjaan yang akan diteliti, nama peneliti dan
penentuan waktu penelitian dan interval penelitian dalam satuan detik. Untuk
tahap penegasan latar belakang dan Iinformasi penelitian dapat dilihat pada
gambar dibawah ini :

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 21
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

(Sumber: Finland http//turva.me.tut.fi/OWAS)

Gambar 2.6 Tahap Penegasan Latar Belakang dan Informasi Penelitian

2.2.6. OWASCO (Program Entri Data)

Berisi muatan tentang perintah untuk memasukkan data kode sikap dan
menggambar file data. Pada tahap ini peneliti mengamati para pekerja dan
menentukan postur pekerja saat melakukan pekerjaan serta dapat ditentukan
jumlah waktu dalam saat melakukan pekerjaan. Untuk memulai dalam penelitian
dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

(Sumber: Finland http//turva.me.tut.fi/OWAS)

Gambar 2.7 Tahap Memulai Penelitian

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 22
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

2.2.7. OWASAN (Program Analisa Data)

Setelah data diinput kedalam program entri data maka secara otomatis
program analisa data akan terprogram dengan sendirinya adapun untuk tampilan
analisanya adalah berupa grafik.

Pada tahap ini ditentukan dalam bentuk persentase (%) untuk masing-masing
tahap kerja (Workphase) dari keseluruhan tahap kerja (Whole Workphase).

(Sumber: Finland http//turva.me.tut.fi/OWAS)

Gambar 2.8 Tampilan kategori untuk masing-masing pekerjaan

Pada tahap terakhir ini Program Software OWAS menentukan hasil dari
input data postur oleh peneliti meliputi bagian :
a. Punggung
b. Lengan
c. Kaki
d. Berat Badan
Ditentukan dengan presentase masing-masing bagian untuk semua postur
pekerjaan dalam satu atau semua kategori pekerjaan (misalnya pengangkatan,
membawa, dan sebagainya) Adapun penjelasan tentang penentuan hasil program
di atas dapat dilihat pada gambar berikut :

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 23
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

(Sumber: Finland http//turva.me.tut.fi/OWAS)

Gambar 2.9 Tampilan grafik penentuan hasil

Keterangan :

Kategori 1 sampai dengan 4 adalah kategori untuk masing-masing tahap kerja.

AC 1 : Pada tipe sikap beban ini tidak ada masalah pada skeleletat
otot. Tidak perlu ada perbaikan
AC 2 : Pada sikap ini berbahaya pada sistem skeletat otot.
Perlu tindakan di masa yang akan datang.
AC 3 : Pada sikap ini berbahaya pada sikap skeletat otot. Perlu
perbaikan sesegera mungkin.
AC 4 : Pada sikap ini sangat berbahaya pada sikap skeletat otot. Perlu
adanya perbaikan secara langsung.

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 24
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

BAB III
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

3.1. Pengumpulan Data


3.1.1 Pengumpulan Data RWL
Sebelum melakukan pengolahan data model RWL / LI, harus dilakukan
pengumpulan data pembentuk atau pengali RWL. Faktor faktor pengali tersebut
antara lain Load Constant, Horizontal Multiplier, Vertikal Multiplier, Distance
Multiplier, Asymmetricl Multiplier, Frequency Multiplier, Coupling Multiplier.

a. Berat Objek (L)


Data berat Crate sebagai objek kerja yang diperoleh dari hasil pengamatan
dilapangan adalah sebagai berikut :

Tampak Deapan

36 CM

Minumlah

Coke

43 CM

Tampak Samping

Gambar 3.1 Kemasan / Crate

Keterangan
- Berat Kosong = 2 kg
- Berat Isi = 25 kg
- Berisi 12 Botol

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 25
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

Berat Crate rata-rata = 25 kg tinggi tumpukan Crate yang diangkat oleh


operator pada angkatan ke 1 sampai dengan ke 3 sedangkan pada angkatan ke - 3
tinggi tumpukan yang diangkat oleh pekerja adalah = 140. Untuk penelitian ini
hanya untuk angkatan crate yang ke 3 saja.

Gambar 3.2 Crate botol yang diangkat

b) Jarak Horizontal (H)


Jarak horisontal yang diukur ada 2 macam yaitu, jarak horizontal
oringin (lokasi awal) dan horizontal destination (lokasi tujuan). Jarak
horizontal oringin adalah jarak yang dihitung dari titik tengah antara dua
kaki pekerja dengan titik proyeksi benda terhadap garis horizontal.
Sedangkan jarak horizontal destination, yaitu jarak yang dihitung dari titik
tengah antara dua kaki pekerja dari titik tengah benda pada saat akhir.

1). Pengangkatan di Lantai Gudang Pekerja


Jarak horizontal oringin pada proses pengangkatan crate adalah jarak
yang dihitung dari titik pusat crate dengan jarak antara dua kaki pekerja
/operator pada saat proses pengambilan crate dari lantai. Sedangkan jarak

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 26
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

horizontal destination adalah jarak pusat kedua kaki pekerja / operator


dengan titik pusat crate pada saat proses pengambilan crate diatas
tumpukan crate.

Tabel 3.1 Jarak Horizontal 1


Jarak Horizontal 40
Jarak Horizontal 45

Gambar 3.3 Jarak Horizontal Oringin 1

Gambar 3.4 Jarak Horizontal Destination 1

c). Jarak Vertikal (V)


Jarak Vertikal yang diukur ada 2 macam. Ukuran pertama adalah vertikal
Oringin, yaitu jarak yang menyatakan ketinggian posisi Crate botol Oringin.
Untuk kedua adalah jarak Vertikal destination, yaitu jarak ketinggian Crate botol
setelah diletakan di Crate yang terakhir atau tumpukan Crate dimobil. Besarnya
nilai jarak pertikal tersebut dapat ditabelkan sebagai berikut :

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 27
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

Tabel 3.2 Jarak Vertikal 1


Jarak Vertikal Origin 1 36 cm
Jarak Vertikal Destination 1 72 cm

Jarak Verrtikal Origin

Gambar 3.5 Jarak Vertikal Origin 1

Jarak Vertikal Destination

Gambar 3.6 Jarak Vertikal Destination 1

d). Jarak Perpindahan (D)


Jarak perpindahan yang dimaksud pada pekerjaan ini adalah jarak antara
ketinggian pada posisi awal dengan ketinggian benda pada posisi akhir. Sehingga
dalam perhitungan RWL, jarak perpindahan (D) dinyatakan sebagai selisih antara
jarak Vertikal oringin dengan jarak Vertikal destination, besarnya nilai jarak
perpindahantersebut dapat dihitung dengan Vertikal destination dikurangi dengan
Vertikal oringin. besarnya nilai jarak perpindahan tersebut dapat ditabelkan
sebagai berikut :

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 28
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

Tabel 3.3 Jarak Perpindahan


Crate Botol
Jarak Perpindahan 36 cm

Gambar 3.7 Jarak Perpindahan


Ket : Jarak Perpindahan = 72 – 36 = 36 cm

e). Sudut Asimetri (A)


Yang dimaksud dengan sudut asimetri pada kegiatan-kegiatan berikut ini
adalah sudut yang dibentuk oleh garis sagital (garis lurus tetap di depan pekerja)
dengan garis asimetris (garis yang menunjukan arah pengambilan atau
penyimpanan benda). Pengukuran asimetri juga memerlukan 2 ukuran, yaitu
asimetri origin dan asimetri destination. Besarnya sudut origin pada pekerjaan ini
adalah 0o. Karena pada saat pengambilan Crate botol yang berada di atas Crate
tubuh pekerja tetap lurus sedangkan sudut asimetri destination yang dibentuk
sebesar 45o karena pekerja meletakan keranjang di atas Crate yang keempat.

Tabel 3.4 Sudut Asimetri 1


Sudut asimetri origin 1 0o
Sudut Asimetri Destination 1 45o

Sudut Asimetri Origin

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 29
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

Gambar 3.8 Sudut Asimetri Origin 1


Sudut Asimetri Destination

Gambar 3.9 Sudut Asimetri Destination 1

f). Frekuensi Angkatan (F)


Perhitungan frekuensi angkatan diperoleh dari hasil perhitungan lamanya
waktu pengangkatan Crate botol dari lantai digudang keatas dan waktu
pemindahan Crate botol dari gudang ketumpukan Crate botol ketumpukan serta
waktu pengangkatan Crate botol pada proses penyusunan tumpukan Crate di
gudang. Jumlah angkatan per menit ini yang kemudian menjadi input untuk
menentukan nilai frekuensi angkatan (F) dengan cara melihat tabel frekuensi. Data
tersebut dapat dilihat pada tabel 3.5 berikut ini:

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 30
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

Tabel 3.5 Frekuensi Multiflier


Frekuens Durasi Kerja
(Lift / min) < 1 hour < 1 – 2 hour < 2 – 8 hour
V<75 cm V=75 cm V<75 cm V=75 cm V<75 cm V=75 cm
(F)
≤ 0.2 1,00 1,00 0,95 0,95 0,85 0,85
0.5 0,97 0,97 0,92 0,92 0,81 0,81
1 0,94 0,94 0,88 0,88 0,75 0,75
2 0,91 0,91 0,84 0,84 0,65 0,65
3 0,88 0,88 0,79 0,79 0,55 0,55
4 0,84 0,84 0,72 0,72 0,45 0,45
5 0,80 0,80 0,60 0,60 0,35 0,35
6 0,75 0,75 0,50 0,50 0,27 0,27
7 0,70 0,70 0,42 0,42 0,22 0,22
8 0,60 0,60 0,35 0,35 0,18 0,18
9 0,52 0,52 0,30 0,30 0,00 0,15
10 0,45 0,45 0,26 0,26 0,00 0,13
11 0,41 0,41 0,00 0,23 0,00 0,00
12 0,37 0,37 0,00 0,21 0,00 0,00
13 0,00 0,34 0,00 0,00 0,00 0,00
14 0,00 0,31 0,00 0,00 0,00 0,00
15 0,00 0,28 0,00 0,00 0,00 0,00
>15 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,

(Sumber : Aplication Manual For Revised NIOS Lifting Equation, 1994)

Dari hasil pengamatan (peta pekerja dan mesin) diketahui bahwa bentuk
kerja merupakan intermitten, di mana tiap 48 detik waktu kerja dilakukan 6
angkatan diikuti oleh periode tambahan (recovery periods) sebesar 4 detik,
sehingga digunakan prosedur khusus dengan sampel periode kerja selama 100
detik.

a) Jumlah Angkatan Permenit


 Untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan dalarm 1 angkatan dilakukan
perhitungan sebagai berikut :
Waktu kerja = 48 detik = 0,8 menit
6 angka tan angka tan det ik
 0,125 8
48 det ik det ik angka tan

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 31
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

f. Kualitas Coupling (C)

Gambar 3.10 Coupling Pengangkatan Crate

Pada gambar 3.10 memperlihatkan kondisi pengangkatan crate botol yang ada.
Bagian yang dicetak tebal pada gambar 4.10 merupakan langkah-langkah
menentukan kualitas coupling yang sesuai dengan kondisi yang ada.
Pada pengangkatan di crate ini bisa dikatakan baik (Good). Jadi nilai CM
adalah 1.00. Langkah-langkah penentuan kualitas coupling dapat dilihat pada
tabel CM di bawah ini :

Tabel 3.5 Coupling Multiplier


COUPLING MULTIPLIER
COUPLING CM
TYPE V < 75 cm V > 75 cm
Good 1.00 1.00
Fair 0.95 1.00
Poor 0.90 0.90

3.1.2 Pengumpulan Data Sikap Kerja Dengan Metode OWAS


Data yang diperlukan untuk pengolahan data dengan menggunakan
metode OWAS (Ovako Oy Worker Posture Analysis System) adalah gerakan-
gerakan pekerja saat melakukan pengambilan dan peletakan Crate Botol di lantai
gudang kelantai truk, pekerja. dan pengambilan dan peletakan Crate botol dari
bawah lantai truk untuk disusun.

1) Pengangkatan dilantai keatas tumpukan crate ke 2


a) Proses pengambilan di lantai.
Adalah proses pengambilan Crate Botol dari lantai untuk ditumpuk ke atas
tumpukan crate yang ke 2, yang berada di lantai.
b) Proses peletakan di tumpukan crate.
Adalah proses peletakan Crate Botol ke atas ketumpukan crate ke 2.

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 32
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

3.1.3 Pengangkatan di lantai Gudang Pekerja


Kriteria Proses Pengambilan di lantai gudang.
1) Badan membungkuk ketika akan mengambil Crate Botol pada lantai (
Punggung)
2) Kedua tangan berada di bawah bahu ketika akan mengambil Crate Botol
pada lantai (Lengan).
3) Berdiri dengan kedua kaki (Kaki).
4) Berat beban yang diangkat 25 kg (Beban).

Kriteria Proses Peletakan di tumpukan crate.


1) Badan memutar ketika meletakan Crate Botol di atas tumpukan crate.
(Punggung)
2) Dua tangan berada di atas bahu ketika meletakan Crate Botol di atas
tumpukan crate. (Lengan).
3) Berdiri dengan kedua kaki (Kaki).
4) Berat beban yang diangkat 25 kg (Beban).

3.2. Pengolahan Data


3.2.1 Pengolahan Data RWL
Perhitungan model RWL/LI secara manual pengangkatan crate.
Adapun variable yang digunakan dalam perhitungan adalah sebagai berikut :
1) Beban objek (L) = 25 kg
2) Horizontal (H) Origin = 40 Cm
3) Horizontal (H) Destination = 45 Cm
4) Vertical (V) Origin = 36 Cm
5) Vertcal (V) Destination = 72 Cm
6) Distance D = 36 Cm
7) Asymetri Origin = 45 o
8) Asymetri Destination = 40 o
9) Lipting Frekuensi =2
10) Coupling Klsification = Good (1,00)

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 33
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

1. RWL Awal (Origin)


a. Menentukan Nilai Horizontal Multiplier (HM)
25
HM =
H
25
HM =  0.63
40
b. Menentukan Nilai Vertikal Multiplier (VM)
VM = ( 0,003 V  75 )

VM = (0,003 36  75 )  0,12

c. Menentukan Nilai Distance Multiplier (DM)


DM = 0,82 + (4,5/D)
DM = 0,82 + (4,5/36) = 0,95
d. Nilai Asymetri Multplier (AM)
AM = (1 - (0,0032 x A)
AM = (1 – (0,0032 x 45) = 0,86
e. Menentukan nilai Coupling Multiplier (CM)
Dengan kondisi objek yang baik dan jarak yang ditempuh < 75 cm dan
coupling membentuk sudut 90o maka lihat tabel 2.8 diperoleh nilai CM
adalah 1
f. Menentukan Nilai Frekuensi Multiflier (FM) 0.75
g. Menentukan Nilai Recommended Weight Limit (RWL)
RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM
RWL = 23 x 0,63 x 0,12 x 0,95 x 0,86 x 0.75 x 1.00 = 27,06
h. Menentukan Nilai Lifting Indeks (LI)
L 25
LI    0,92
RWL 27,06
Kesimpulan :
Lifting Indeks pada pekerjaan Horizontal Oringin bernilai < 1, maka
pekerjaan tidak perlu perbaikan dimasa yang akan datang.

2. RWL Akhir (Destination)


a. Menentukan Nilai Horizontal Multiplier (HM)

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 34
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

25
HM =
H
25
HM =  0.56
45
b. Menentukan Nilai Vertikal Multiplier (VM)
VM = ( 0,003 V  75 )

VM = (0,003 36  75 )  0,01

c. Menentukan Nilai Distance Multiplier (DM)


DM = 0,82 + (4,5/D)
DM = 0,82 + (4,5/36) = 0,95
d. Nilai Asymetri Multplier (AM)
AM = (1 - (0,0032 x A)
AM = (1 – (0,0032 x 45) = 0,87
e. Menentukan nilai Coupling Multiplier (CM)
Dengan kondisi objek yang baik dan jarak yang ditempuh < 75 cm dan
coupling membentuk sudut 90o maka lihat tabel 2.8 diperoleh nilai CM
adalah 1
f. Menentukan Nilai Frekuensi Multiflier (FM) 0.75
g. Menentukan Nilai Recommended Weight Limit (RWL)
RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM
RWL = 23 x 0,56 x 0,01 x 0,95 x 0,87 x 0,75 x 1 = 27,11
h. Menentukan Nilai Lifting Indeks (LI)
L 25
LI    0,92
RWL 27,11
Kesimpulan :
Lifting Indeks pada pekerjaan Horizontal Destination bernilai < 1, maka
pekerjaan tidak perlu perbaikan dimasa yang akan datang.

3.2.2 Pengolahan Data OWAS (Ovako Oy Worker Posture Analysis Sistem)

Data OWAS yang dibutuhkan adalah postur tubuh pada saat proses
pengambilan /pengangkatan dan peletakan crate botol dari lantai keatas tumpukan
crate yang kedua, pengangkatan crate botol pada proses penyusunan tumpukan

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 35
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

crae digudang. Di mana posisi postur tubuh ini menahan beban pada tangan
berupa beban vertikal (beban angkat). Beban ini berasal dari crate botol dengan
berat 25 kg untuk 1 orang pada proses pengangkatan crate botol di gudang.
Sedangkan pada pemindahan crate botol dari lantai gudang ketumpukan crate
yang kedua posisi postur tubuh menahan beban pada punggung berupa beban
vertikal (beban angkat), di mana beban ini berasal dari crate dengan berat 25 kg
(satu crate) dan 75 kg (3 crate) untuk satu orang.

Data ini diambil dengan meneliti pekerja yang melakukan pengambilan


dan peletakan di lantai gudang, Hasil data tersebut kemudian dianalisa dan
dievaluasi dengan menggunakan metode OWAS. Di mana hal-hal yang diteliti
adalah :
a. Punggung (Back)
1). Lurus ke depan / ke belakang.
2). Bungkuk ke depan /ke belakang.
3). Memutar / bengkok ke samping.
4). Bengkok dan memutar atau bengkok ke depan dan menyamping.
b. Lengan (Arms)
1). Kedua tangan berada di bawah bahu.
2). Satu tangan berada pada atau di atas bahu.
3). Kedua tangan pada atau di atas bahu.
c. Kaki (Legs)
1). Duduk.
2). Berdiri dengan dua kaki.
3). Berdiri dengan berat pada satu kaki pada posisi lurus.
4). Berdiri jongkok dengan kedua lutut.
5). Berdiri atau jongkok dengan satu kaki berlutut.
6). Berlutut pada satu atau kedua lutut.
7). Berjalan maju.
d. Berat Beban (Load)
1). Berat atau kekuatan yang dibutuhkan adalah 20 / 25 kg.
2). Berat atau kekuatan yang dibutuhkan adalah 20 kg sampai 25 kg.
3). Berat atau kekuatan yang dibutuhkan adalah 30 kg.

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 36
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

Tabel 3.6 Gerakan Prosee Pengambilan Crate di Lantai Gudang


Pengangkaan Observasi
1 2 3
Back
1. Straight
2. Bent
3. Twisted
4. Bent and Twisted
Arms
1. Both below shoulder
2. One above shoulder
3. Both above shoulder
Legs
1. Sitting
2. Stending on two legs
3. Standing on one leg
4. St on two bent knees
5. St on one bent knee
6. Keneling
7. Walking
Load
1. < 10 Kg
2. < 20 Kg
3. > 20 Kg

Tabel 3.7 Gerakan Prosee Peletakan Crate di Atas Tumpukan Crete ke 2


Pengangkaan Observasi
1 2 3
Back
1. Straight
2. Bent
3. Twisted
4. Bent and Twisted
Arms
1. Both below shoulder
2. One above shoulder
3. Both above shoulder
Legs
1. Sitting
2. Stending on two legs
3. Standing on one leg
4. St on two bent knees
5. St on one bent knee
6. Keneling
7. Walking
Load
1. < 10 Kg
2. < 20 Kg
3. > 20 Kg

Setelah data dimasukan dan diolah ke dalam Software OWAS, maka


diperoleh hasil sebagai berikut :

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 37
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

3.2.2.1 Posisi Sikap Kerja Dalam Setiap Kategori


3.2.2.1.1 Pengangkatan di Gudang
a) Proses pengambilan di lantai gudang
Berikut ini adalah gambar input data pada Software OWAS yang dimasukan
berdasarkan sikap gerak tubuh pekerja pengangkatan pada saat melakukan
pengambilan crate botol dari lantai gudang keatas tumpukan crate di gudang.
Pengamatan dilakukan sebanyak 50 kali observasi pengangkatan. Oleh karena itu
setiap sikap gerak tubuh menghasilkan nilai, frekuensi dan persentase seperti pada
gambar 3.11 berikut ini :

Gambar 3.11 Input data posisi sikap kerja aktivitas pengarnbilan crate dilantai gudang

Benrikut ini adalah gambar output Recommendations For Actions software


OWAS dari data sikap gerak tubuh yang dilakukan pada saat pengambilan Crate
botol dari lantai ketumpukan crate di gudang. Gambar tersebut menampilkan
pengelompokan sikap gerak tubuh ke dalam suatu kategori, dan dapat
menjelaskan apakah sikap pekerja 1 pada saat melakukan pengambilan crate botol
dapat menimbulkan cedera pada otot atau tidak, hal tesebut dapat diketahui
dengan melihat kategori dari kegiatan pengangkatan tersebut. Seperti pada gambar
3.12

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 38
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

Gambar 3.12 Output data aktivitas pengambilan crate dilantai gudang

Berikut ini adalah tabel aktivitas data berdasarkan sikap gerak tubuh
pekerja 1 pada saat melakukan pengambilan crate botol dari tumpukan crate
dilantai gudang, Label ini juga menampilkan frekuensi sikap tubuh, persentase
sikap tubuh dan juga pengelompokan sikap tubuh ke dalam suatu kategori. Seperti
pada tabel 3.8 :

Tabel 3.8 Posisi Sikap Kerja Aktivitas pengambilan crate di gudang


Postur Frekuensi Persentase Kategori
2123 1 100 3

b) Proses Peletakan Diatas Tumpukan Crate Digudang


Berikut ini adalah gambar input data pada software OWAS yang
dimasukan berdasarkan sikap gerak tubuh pekerja 1 pada saat melakukan
peletakan crate botol ke atas tumpukan crate ke 2 digudang. Pada gambar ini
menampilkan sikap gerak tubuh ke dalam suatu angka, frekuensi gerak tubuh dan
persentase sikap gerak tubuh. Seperti pada gambar 3.13

Gam bar 3.13 Input data posisi sikap kerja aktivitas peletakan crate di gudang

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 39
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

Berikut ini adalah gambar out put Recommendations For Actions software
OWAS dari data sikap gerak tubuh yang dilakukan pada saat peletakan crate botol
ke atas tumpukan crate ke 2 di gudang. Gambar tersebut menampilkan
pengelompokan sikap gerak tubuh ke dalam suatu kategori, dan dapat
menjelaskan apakah sikap peketja 1 pada saat melakukan peletakan crate botol
dapat menimbulkan cedera pada otot atau tidak, hal tesebut dapat diketahui
dengan melihat kategori dari kegiatan pengangkatan tersebut. Seperti pada gambar
3.14

Gambar 3.14 Output data aktifitas peletakan Crate digudang

Berikut ini adalah tabel aktivitas data berdasarkan sikap gerak tubuh
pekeja 1 pada saat melakukan peletakan crate botol ke atas tumpukan crate, tabel
ini juga menampilkan frekuensi sikap tubuh. persentase sikap tubuh dan juga
pengelompokan sikap tubuh ke dalam suatu kategori. Seperti pada tabel 3.9 :

Tabel 3.9 Posisi sikap kerja aktivitas peletakan crate di gudang


Postur Frekuensi Persentase Kategori
1323 1 100 1

c) Aktivitas Keseluruhan
Berikut ini adalah gambar input data pada software OWAS yang dimasukan
berdasarkan sikap gerak tubuh peketja 1 ketika melakukan kegiatan pengangkatan
crate botol di gudang secara keseluruhan. Pada gambar ini menampilkan sikap
gerak tubuh ke dalam suata angka, frekuensi gerak tubuh dan persentase sikap
geraktubuh. Seperti pada gambar 3.15 :

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 40
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

Gamabar : 3.15 Posisi sikap kerja aktivitas keseluruhan

Berikut ini adalah gambar out put Recommendations For Actions software
OWAS dari data sikap gerak tubuh yang dilakukan pada saat pengangkatan crate
botol di gudang secara keseluruhan. Gambar tersebut menampilkan
pengelompokan sikap gerak tubuh ke dalam suatu kategori, dan dapat
menjelaskan apakah sikap pekerja 1 pada saat melakukan pengangkatan crate
botol di gudang dapat menimbulkan cedera pada otot atau tidak, hal tesebut dapat
diketahui dengan melihat kategori dari kegiatan pengangkatan tersebut Seperti
pada gambar 3.16.

Gambar 3.16 Output data aktivitas keseluruhan

Berikut ini adalah gambar output Action Categories software OWAS dari
keseluruhan aktivitas pekerja 1 dalam pengangkatan dan peletakan crate botol di
gudang. Gambar tersebut menampilkan pengelompokan sikap gerak tubuh
keseluruhan dalam suatu kategori, dari pengelompokan kategori tersebut dapat
menjelaskan apakah sikap pekerja 1 pada saat melakukan pengangkatan dan

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 41
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

peletakan crate botol di lantai gudang dapat menimbulkan cedera pada otot atau
tidak, sehingga dapat diketahui apakah perlu dilakukan perbaikan pada kegiatan
pengangkatan tersebut atau tidak. Seperti pada gambar 3.17 :

Gambar 3.17 Action Categories untuk aktivitas keseluiuhan

Berikut ini adalah tabel aktivitas keseluruhan pada proses pengangkatan


crate botol di gudang, tabel ini juga menampilkan frekuensi sikap tubuh,
persentase sikap tubuh dan juga pengelompokan sikap tubuh ke dalam suatu
kategori. Seperti pada tabel 3.10

Tabel 3.10 Posisi Sikap Kerja Aktivitas keseluruhan


Postur Frekuensi Persentase Kategori
2123 1 100 3
1323 1 100 1

Contoh :
2 1 2 3

Angka di atas mengartikan :


3 = Memutar / bengkok ke samping
1 = Satu tangan berada pada atau di atas bahu
2 = Berdiri dengan dua kaki
3 = Berat yang dibutuhkan adalah 20 kg sampai 25 kg

Keterangan
Category I : Pada tipe sikap beban ini tidak ada masalah pada skeletal otot.
Tidak perlu ada perbaikan

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 42
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

Category 2 : Pada sikap ini berbahaya pada sistem skeletal otot. Perlu tindakan
di masa yang akan datang
Category 3 : Pada sikap.ini berbahaya pada sikap skeletal otot. Perlu perbaikan
sesegera mungkin
Category 4 : Pada sikap ini sangat berbahaya pada sikap skeletal otot. Perlu
adanya perbaikan secara langsung

3.3 Usulan-usulan
3.3.1 Pengangkatan crate/penyusunan crate
Berdasarkan hasil pengolahan data di atas, maka usulan yang dianjurkan
kepada dalam melakukan penumpukan crate botol coca-cola dengan berat 25 kg
janagn terlalu tinggi dalam penyusunannya, sehingga pengangkatan crate tersebut
tidak menimbulkan cedera bagi pekerja pengangkatan itu sendiri. Selain itu juga
harus di buat alat untuk mengurangi terlalu tingginya pengankatannya/
penyusunan tumpukan crate botol. Untuk jarak angkatannya terlalu tinggi yaitu di
atas kepala pekerja itu akan berpengaruh pada keselamatan dan kesehatan pekerja
pengangkatan.

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 43
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

BAB IV
ANALISA DAN KESIMPULAN

4.1. Analisa
4.1.1. RWL/LI
Dalam melakukan perhitungan RWL/LI, Praktikan menggunakan metoda
perhitungan dengan menggunakan rumus yang dikeluarkan oleh (Sumber:
Application Manual For The Revised NIOSH Lifting equation, 1994). Karena dalam
pengangkatan crate hanya dilakukan berdasarkan melihat dari jarak atau
ketinggian ankatan dan berat beban yang diangkat, jarak Horizontal, Pertikal
dalam melakukan pengangkatan secara manual.
Dari hasil penglahan data yang telah dilakukan dalam kegiatan
pengangkatan crate maka didapatkan hasil seperti dibawah ini :

1. RWL Awal (Origin)


a. Menentukan Nilai Horizontal Multiplier (HM)
25
HM =
H
25
HM =  0.65
45
b. Menentukan Nilai Vertikal Multiplier (VM)

VM = ( 0,003 V  75 )

VM = (0,003 36  75 )  0,11

c. Menentukan Nilai Distance Multiplier (DM)


DM = 0,82 + (4,5/D)
DM = 0,82 + (4,5/36) = 0,95
d. Nilai Asymetri Multplier (AM)
AM = (1 - (0,0032 x A)
AM = (1 – (0,0032 x 45) = 0,86
e. Menentukan nilai Coupling Multiplier (CM)
Dengan kondisi objek yang baik dan jarak yang ditempuh < 75 cm dan
coupling membentuk sudut 90o maka lihat tabel 2.8 diperoleh nilai CM
adalah 1

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 44
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

f. Menentukan Nilai Frekuensi Multiflier (FM) 0.75


g. Menentukan Nilai Recommended Weight Limit (RWL)
RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM
RWL = 23 x 0,65 x 0,11 x 0,95 x 0,86 x 0.75 x 1.00 = 27,07
h. Menentukan Nilai Lifting Indeks (LI)
L 25
LI    0,92
RWL 27,07

2. RWL Akhir (Destination)


a. Menentukan Nilai Horizontal Multiplier (HM)
25
HM =
H
25
HM =  0.56
45
b. Menentukan Nilai Vertikal Multiplier (VM)

VM = ( 0,003 V  75 )

VM = (0,003 36  75 )  0,09

c. Menentukan Nilai Distance Multiplier (DM)


DM = 0,82 + (4,5/D)
DM = 0,82 + (4,5/36) = 0,95
d. Nilai Asymetri Multplier (AM)
AM = (1 - (0,0032 x A)
AM = (1 – (0,0032 x 45) = 0,87
e. Menentukan nilai Coupling Multiplier (CM)
Dengan kondisi objek yang baik dan jarak yang ditempuh < 75 cm dan
coupling membentuk sudut 90o maka lihat tabel 2.8 diperoleh nilai CM
adalah 1
f. Menentukan Nilai Frekuensi Multiflier (FM) 0.75
g. Menentukan Nilai Recommended Weight Limit (RWL)
RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM
RWL = 23 x 0,56 x 0,09 x 0,95 x 0,87 x 0,75 x 1 = 27,03
h. Menentukan Nilai Lifting Indeks (LI)
L 25
LI    0,92
RWL 27,03

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 45
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

4.1.2. OWAS
Data ini diambil dengan meneliti gerakan-gerakan pekerja yang melakukan
pengambilan dan peletakan crate dilantai.
Hasil data tersebut kemudian dianalisa dengan menggunakan metode
Software OWAS.

4.1.2 Data OWAS (Ovako Oy Worker Posture Analysis Sistem)

Data OWAS yang dibutuhkan adalah postur tubuh pada saat proses
pengambilan /pengangkatan dan peletakan crate botol dari lantai keatas tumpukan
crate yang kedua, pengangkatan crate botol pada proses penyusunan tumpukan
crae digudang. Di mana posisi postur tubuh ini menahan beban pada tangan
berupa beban vertikal (beban angkat). Beban ini berasal dari crate botol dengan
berat 25 kg untuk 1 orang pada proses pengangkatan crate botol di gudang.
Sedangkan pada pemindahan crate botol dari lantai gudang ketumpukan crate
yang kedua posisi postur tubuh menahan beban pada punggung berupa beban
vertikal (beban angkat), di mana beban ini berasal dari crate dengan berat 25 kg
(satu crate) dan 75 kg (3 crate) untuk satu orang.

Data ini diambil dengan meneliti pekerja yang melakukan pengambilan


dan peletakan di lantai gudang, Hasil data tersebut kemudian dianalisa dan
dievaluasi dengan menggunakan metode OWAS. Di mana hal-hal yang diteliti
adalah :
e. Punggung (Back)
1). Lurus ke depan / ke belakang.
2). Bungkuk ke depan /ke belakang.
3). Memutar / bengkok ke samping.
4). Bengkok dan memutar atau bengkok ke depan dan menyamping.
f. Lengan (Arms)
1). Kedua tangan berada di bawah bahu.
2). Satu tangan berada pada atau di atas bahu.
3). Kedua tangan pada atau di atas bahu.
g. Kaki (Legs)
1). Duduk.
2). Berdiri dengan dua kaki.

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 46
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

3). Berdiri dengan berat pada satu kaki pada posisi lurus.
4). Berdiri jongkok dengan kedua lutut.
5). Berdiri atau jongkok dengan satu kaki berlutut.
6). Berlutut pada satu atau kedua lutut.
7). Berjalan maju.
h. Berat Beban (Load)
1). Berat atau kekuatan yang dibutuhkan adalah 20 / 25 kg.
2). Berat atau kekuatan yang dibutuhkan adalah 20 kg sampai 25 kg.
3). Berat atau kekuatan yang dibutuhkan adalah 30 kg.

Tabel 4.1 Gerakan Prosee Pengambilan Crate di Lantai Gudang


Pengangkaan Observasi
1 2 3
Back
1. Straight
2. Bent
3. Twisted
4. Bent and Twisted
Arms
1. Both below shoulder
2. One above shoulder
3. Both above shoulder
Legs
1. Sitting
2. Stending on two legs
3. Standing on one leg
4. St on two bent knees
5. St on one bent knee
6. Keneling
7. Walking
Load
1. < 10 Kg
2. < 20 Kg
3. > 20 Kg

Tabel 4.2 Gerakan Prosee Peletakan Crate di Atas Tumpukan Crete ke 2


Pengangkaan Observasi
1 2 3
Back
1. Straight
2. Bent
3. Twisted
4. Bent and Twisted
Arms
1. Both below shoulder
2. One above shoulder
3. Both above shoulder
Legs
1. Sitting
2. Stending on two legs

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 47
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

3. Standing on one leg


4. St on two bent knees
5. St on one bent knee
6. Keneling
7. Walking
Load
1. < 10 Kg
2. < 20 Kg
3. > 20 Kg

Setelah data dimasukan dan diolah ke dalam Software OWAS, maka


diperoleh hasil sebagai berikut :

4.2.2.1 Posisi Sikap Kerja Dalam Setiap Kategori


4.2.2.1.1 Pengangkatan di Gudang
a) Proses pengambilan di lantai gudang
Berikut ini adalah gambar input data pada Software OWAS yang dimasukan
berdasarkan sikap gerak tubuh pekerja pengangkatan pada saat melakukan
pengambilan crate botol dari lantai gudang keatas tumpukan crate di gudang.
Pengamatan dilakukan sebanyak 50 kali observasi pengangkatan. Oleh karena itu
setiap sikap gerak tubuh menghasilkan nilai, frekuensi dan persentase seperti pada
gambar 4.1 berikut ini :

Gambar 4.2 Input data posisi sikap kerja aktivitas pengarnbilan crate dilantai gudang

Benrikut ini adalah gambar output Recommendations For Actions software


OWAS dari data sikap gerak tubuh yang dilakukan pada saat pengambilan Crate
botol dari lantai ketumpukan crate di gudang. Gambar tersebut menampilkan
pengelompokan sikap gerak tubuh ke dalam suatu kategori, dan dapat
menjelaskan apakah sikap pekerja 1 pada saat melakukan pengambilan crate botol

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 48
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

dapat menimbulkan cedera pada otot atau tidak, hal tesebut dapat diketahui
dengan melihat kategori dari kegiatan pengangkatan tersebut. Seperti pada gambar
4.3

Gambar 4.3 Output data aktivitas pengambilan crate dilantai gudang

Berikut ini adalah tabel aktivitas data berdasarkan sikap gerak tubuh
pekerja 1 pada saat melakukan pengambilan crate botol dari tumpukan crate
dilantai gudang, Label ini juga menampilkan frekuensi sikap tubuh, persentase
sikap tubuh dan juga pengelompokan sikap tubuh ke dalam suatu kategori. Seperti
pada tabel 4.3 :

Tabel 4.3 Posisi Sikap Kerja Aktivitas pengambilan crate di gudang


Postur Frekuensi Persentase Kategori
2123 1 100 3

b) Proses Peletakan Diatas Tumpukan Crate Digudang


Berikut ini adalah gambar input data pada software OWAS yang
dimasukan berdasarkan sikap gerak tubuh pekerja 1 pada saat melakukan
peletakan crate botol ke atas tumpukan crate ke 2 digudang. Pada gambar ini
menampilkan sikap gerak tubuh ke dalam suatu angka, frekuensi gerak tubuh dan
persentase sikap gerak tubuh. Seperti pada gambar 4.4

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 49
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

Gam bar 4.4 Input data posisi sikap kerja aktivitas peletakan crate di gudang

Berikut ini adalah gambar out put Recommendations For Actions software
OWAS dari data sikap gerak tubuh yang dilakukan pada saat peletakan crate botol
ke atas tumpukan crate ke 2 di gudang. Gambar tersebut menampilkan
pengelompokan sikap gerak tubuh ke dalam suatu kategori, dan dapat
menjelaskan apakah sikap peketja 1 pada saat melakukan peletakan crate botol
dapat menimbulkan cedera pada otot atau tidak, hal tesebut dapat diketahui
dengan melihat kategori dari kegiatan pengangkatan tersebut. Seperti pada gambar
4.5

Gambar 4.5 Output data aktifitas peletakan Crate digudang

Berikut ini adalah tabel aktivitas data berdasarkan sikap gerak tubuh
pekeja 1 pada saat melakukan peletakan crate botol ke atas tumpukan crate, tabel
ini juga menampilkan frekuensi sikap tubuh. persentase sikap tubuh dan juga
pengelompokan sikap tubuh ke dalam suatu kategori. Seperti pada tabel 4.4 :

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 50
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

Tabel 4.4 Posisi sikap kerja aktivitas peletakan crate di gudang


Postur Frekuensi Persentase Kategori
1323 1 100 1

c) Aktivitas Keseluruhan
Berikut ini adalah gambar input data pada software OWAS yang dimasukan
berdasarkan sikap gerak tubuh peketja 1 ketika melakukan kegiatan pengangkatan
crate botol di gudang secara keseluruhan. Pada gambar ini menampilkan sikap
gerak tubuh ke dalam suata angka, frekuensi gerak tubuh dan persentase sikap
geraktubuh. Seperti pada gambar 4.6 :

Gamabar : 4.6 Posisi sikap kerja aktivitas keseluruhan

Berikut ini adalah gambar out put Recommendations For Actions software
OWAS dari data sikap gerak tubuh yang dilakukan pada saat pengangkatan crate
botol di gudang secara keseluruhan. Gambar tersebut menampilkan
pengelompokan sikap gerak tubuh ke dalam suatu kategori, dan dapat
menjelaskan apakah sikap pekerja 1 pada saat melakukan pengangkatan crate
botol di gudang dapat menimbulkan cedera pada otot atau tidak, hal tesebut dapat
diketahui dengan melihat kategori dari kegiatan pengangkatan tersebut Seperti
pada gambar 4.7.

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 51
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

Gambar 4.7 Output data aktivitas keseluruhan

Berikut ini adalah gambar output Action Categories software OWAS dari
keseluruhan aktivitas pekerja 1 dalam pengangkatan dan peletakan crate botol di
gudang. Gambar tersebut menampilkan pengelompokan sikap gerak tubuh
keseluruhan dalam suatu kategori, dari pengelompokan kategori tersebut dapat
menjelaskan apakah sikap pekerja 1 pada saat melakukan pengangkatan dan
peletakan crate botol di lantai gudang dapat menimbulkan cedera pada otot atau
tidak, sehingga dapat diketahui apakah perlu dilakukan perbaikan pada kegiatan
pengangkatan tersebut atau tidak. Seperti pada gambar 4.8 :

Gambar 4.8 Action Categories untuk aktivitas keseluiuhan

Berikut ini adalah tabel aktivitas keseluruhan pada proses pengangkatan


crate botol di gudang, tabel ini juga menampilkan frekuensi sikap tubuh,
persentase sikap tubuh dan juga pengelompokan sikap tubuh ke dalam suatu
kategori. Seperti pada tabel 4.5

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 52
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

Tabel 4.5 Posisi Sikap Kerja Aktivitas keseluruhan


Postur Frekuensi Persentase Kategori
2123 1 100 3
1323 1 100 1

Contoh :
2 1 2 3

Angka di atas mengartikan :


3 = Memutar / bengkok ke samping
1 = Satu tangan berada pada atau di atas bahu
2 = Berdiri dengan dua kaki
3 = Berat yang dibutuhkan adalah 20 kg sampai 25 kg

Keterangan
Category I : Pada tipe sikap beban ini tidak ada masalah pada skeletal otot.
Tidak perlu ada perbaikan
Category 2 : Pada sikap ini berbahaya pada sistem skeletal otot. Perlu tindakan
di masa yang akan datang
Category 3 : Pada sikap.ini berbahaya pada sikap skeletal otot. Perlu perbaikan
sesegera mungkin
Category 4 : Pada sikap ini sangat berbahaya pada sikap skeletal otot. Perlu
adanya perbaikan secara langsung

4.2. Kesimpulan
4.2.1. RWL
Setelah pengolahan data dan analisis terhadap kegiatan pengangkatan crate
yang dilakukan oleh praktikan di lantai ke atas tumpukan kcrate ke 2 dengan
menggunakan metode RWL/LI (Recommended Weight Limit/Lifting Indek) dan
Software OWAS, maka dapat ditarik kesimpulansebagai berikut :
Nilai RWL/LI untuk pengangkatan crate dibagi kedalam dua kategori yaitu
: Ogrigin dengan nilai RWL ( 27,06 ) dan nilai LI ( 0,92 ). Distination dengan
nilai RWL ( 27,11 ) dan nilai LI ( 0,92 ). Sehingga dapat disimpulkan untuk
manual material handling (pengangkatan material/beban secara manual) dapat

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 53
Risalah Praktikum Analisis Perancangan Kerja & Ergonomi

dikatakan aman karena nilai Lifting Iindek (LI) < 1 maka pekerjaan dikategorikan
kedalam pekerjaan yang aman untuk dilakukan.

4.2.2. OWAS
Hasil analisis sikap gerak tubuh menggunakan software OWAS terhadap
proses pengangkatan di lantai ke atas tumpukan crate ke 2 terdapat satu postur
pengankatan yang termasuk kategori 1 (tidak ada masalah pada skeletal otot dan
tidak perlu ada perbaikan), yaitu pada saat aktivitas peletakan ke atas tumpukan
crate ke 2 (1 3 2 3). dan ada postur pengangkatan termasuk kategori 3 (berbahaya
pada skeletal otot dan perlu perbaikan sesegera mungkin), yaitu pada saat aktivitas
pengambilan crate botol (2 1 2 3) dimana proses pengambilan crate dengan
membungkuk dan memutar kesamping.
Berdasarkan pengolahan data dan analisis data yang telah dilakukan, maka
saran-saran yang diajurkan kepada pekerja adalah dibuatkan alat untuk membantu
pengangkatan agar tidak terlalu membungkuk saat mengambil crate dilantai, dan
juga untuk mengurangi resiko cedera pada pekerja maka kegiatan pengangkatan
crate ini harus dilakukan oleh pekerja yang sudah terlatih dan sudah terbiasa.

Encep Dedi Juandi T.I UNSUR


Laboratorium Laboratorium Universitas Suryakancana Modul III - 54