Anda di halaman 1dari 6

Nama : Denny w

No : 12
Kelas : XI TAV B

Keutamaan sifat sabar dan pemaaf


Khutbah I

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan yang berbahagia ini, khatib mengingatkan utamanya kepada


diri saya pribadi dan juga kepada jama’ah pada umumnya, untuk senantiasa
meningkatkan taqwa kepada Alloh, dengan sebenar-benarnya takwa yaitu ikhlas
menjalankan apa yang telah diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang telah
dilarang. Kemudian marilah kita senantiasa mengungkapkan rasa syukur kepada
Allah SWT semata. Allah telah melimpahkan kepada kita sedemikian banyak
ni’mat. Jauh lebih banyak nikmat yang telah kita terima dibandingkan kesadaran
dan kesanggupan kita untuk bersyukur. Sebagaimana telah Allah firmankan
dalam QS Ibrahim: 34:

Selanjutnya khatib mengajak jamaah sekalian untuk senantiasa berdoa kepada


Allah agar melimpahkan setinggi-tingginya penghargaan dan penghormatan,
yang biasa kita kenal dengan istilah sholawat dan salam-sejahtera kepada
pemimpin kita bersama, teladan kita bersama… imamul muttaqin pemimpin
orang-orang bertaqwa dan qaa-idil mujahidin panglima para mujahid yang
sebenar-benarnya nabiyullah Muhammad Sallalahu ‘alaihi wa sallam,
keluarganya, para shohabatnya dan para pengikutnya yang setia hingga akhir
zaman. Dan kita berdo’a kepada Allah, semoga kita yang hadir di tempat yang
baik ini dipandang Allah layak dihimpun bersama mereka dalam kafilah panjang
yang penuh berkah. Amien, amien ya rabbal ‘aalaamien.

Kaum Muslimin sidang Jum’at yang berbahagia

Allah telah berfirman dalam Surat Asy-Syuuraa: 40-43

“Dan balasan suatu kejelekan adalah kejelekan serupa, maka barangsiapa


memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas Allah. Sesungguhnya Dia
tidak menyukai orang-orang yang zalim (40). Dan sesungguhnya orang-orang
yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka
(41). Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada
manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat
azab yang pedih (42). Tetapi orang-orang yang bersabar dan memaafkan
sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan (43).”Di
dalam ayat ini Allah telah men-syariatkan keadilan yaitu qishash. Akan tetapi
kemudian Allah menganjurkan kepada yang lebih utama yaitu memberi maaf.
Perbuatan itu tidak akan disia-siakan begitu saja di sisi Allah, sebagaimana
tentang hal itu telah ditegaskan di dalam sebuah hadits:

“Dan Allah tidak akan memberikan tambahan kepada seorang hamba yang
pemaaf kecuali kemuliaan.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Abu Hurairah ra berkata, “Seseorang


telah mencela Abu Bakar ra, Abu Bakar pun diam, sedangkan Nabi SAW ketika itu
bersama mereka. Nabi merasa kagum, lalu tersenyum. Ketika orang itu
memperbanyak cercaannya maka Abu Bakar menimpali sebagian yang
diucapkannya. Nabi pun marah dan beranjak pergi. Abu Bakar kemudian
menyusul beliau dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, orang itu telah mencerca diriku
dan engkau tetap duduk. Namun di saat aku menimpali sebagian yang
diucapkannya, mengapa engkau marah dan berdiri?’ Rasulullah pun menjawab,
‘Bersamamu tadi ada malaikat yang menimpali orang itu sementara engkau diam.
Akan tetapi ketika engkau menimpali sebagian yang diucapkannya, setan pun
datang, dan aku pun tidak mau duduk bersama setan.’ Kemudian beliau
bersabda, ‘Hai Abu Bakar, ada tiga perkara yang semuanya adalah hak. Tidak ada
seorang hamba yang dizalimi dengan satu kezaliman kemudian dia
memaafkannya karena Allah, melainkan Allah akan memuliakannya karena
perbuatannya itu dan akan menolongnya. Dan tidaklah seseorang yang
membukakan pintu untuk menyampaikan suatu pemberian dengan niat
bersilaturahim, melainkan Allah akan memperbanyak hartanya. Dan tidaklah
seseorang membuka pintu untuk meminta-minta dengan niat memperbanyak
hartanya, melainkan Allah SWT akan semakin menyedikitkan hartanya.’”

Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah,

Sikap sabar dan pemaaf sangat diutamakan di dalam Islam. Sabar berasal dari
assabru yang artinya adalah menahan. Karena sabar itu adalah menahan berarti
sabar adalah:

Suatu aktivitas bukan pasivitas


Suatu perlawanan bukan suatu penyerahan
Suatu yang memerlukan pengorbanan
Misalnya kita dihina dan disakiti hatinya oleh orang lain maka muncul reaksi
negatif di dalam diri kita, kemudian kita marah dengan orang tersebut dan ingin
rasanya melampiaskan kemarahan kepada orang yang menghina dan memfitnah
kita, maka keinginan seperti itu ditahan. Menahan keinginan semacam itu dan
melakukan penahanan pada saat itu dinamakan sabar.

Misalnya kita merasa kesal kepada orang lain karena ada ketidakcocokan atau
karena ia melakukan suatu kessalahan dan ingin rasanya melampiaskan
kekesalan dan kebencian, maka keinginan semacam itu kita tahan, itu namanya
sabar.

Berkenaan dengan kemarahan, Imam Al-Ghazali pernah mengajarkan bagaimana


seharusnya seorang mukmin melampiaskan kemarahan. bahwa kesabaran
seseorang memang ada batasnya dan pada saatnya telah melampaui ambang
batas itu sangat wajar jika seseorang harus marah. Hanya saja yang terpenting
adalah bagaimana kita mampu mengukur kadar marah sesuai dengan tingkat
kesalahan orang yang membuat kita marah, dan juga dilampiaskan masih dalam
kewajaran dan di bawah kesadaran yang tinggi.

Kita boleh marah dalam hal meluruskan sesuatu yang salah demi kemaslahatan
bersama dimana niat kita semata-mata untuk memperoleh keridhaan Allah. Kita
tidak boleh marah karena keinginan kita supaya ditakuti orang lain atau karena
ingin memperoleh kewibawaan dari kemarahan tersebut. Kita juga tidak boleh
marah karena rasa kekesalan dan kebencian kita terhadap orang lain. Kita
sesama muslim bukanlah saling bermusuhan, tetapi adalah bersaudara. Maka
jangan sampai kita menjadi penyemai maupun pemupuk rasa kebencian di
tengah-tengah masyarakat. Jika kita temui bibit-bibit kemarahan dan kebencian
di tengah-tengah kita maka marilah bersama-sama kita redam dengan sabar dan
amar ma'ruf nahi munkar.

Semoga Allah memberkati kita sekalian dengan Al-Qur'an al 'Azhim, dan


memberikan manfaat kepada kita apa yang ada di dalamnya berupa ayat-ayat
dan peringatan yang bijaksana. Demikianlah khutbah yang saya sampaikan,
akhirnya saya panjatkan permohonan ampun kepada Allah Yang Maha Besar lagi
Maha Mulia untuk kita sekalian dan seluruh kaum muslimin dari segala dosa.
Mohon ampunlah kepada-Nya, karena Dia Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.

Khutbah II

Dalam sebuah kisah, tersebutlah dua lelaki yang berkawan akrab. Mereka adalah
Hasan dan Ismail. Keduanya orang shalih yang taat beribadah. Karena tempat
mereka berjauhan, tidak mungkin keduanya selalu bertemu. Namun ada
kebiasaan di antara mereka, setiap setahun sekali Hasan selalu datang ke rumah
Ismail.

Suatu hari Hasan berkunjung ke rumah sahabatnya itu. Tiba di rumah Ismail, ia
mendapatkan pintu rumah temannya itu tertutup rapat. Setelah beberapa kali
mengetuk pintu terdengar sahutan istri sahabatnya dari dalam rumah, “Siapakah
kamu yang mengetuk-ngetuk pintu?”

Kemudian Hasan menjawab, “Saya Hasan, sahabat suamimu. Aku datang untuk
mengunjunginya hanya karena Allah SWT.”

“Dia sedang pergi mencari kayu bakar. Mudah-mudahan saja ia tidak kembali
lagi!” jawab istri Ismail sambil memaki dan mencela suaminya sendiri.
Mendengar jawaban seperti itu, Hasan keheranan. Belum hilang keheranannya,
tiba-tiba muncul Ismail. Ia datang sambil menuntun seekor harimau yang di
punggungnya terdapat seikat kayu bakar. Begitu melihat Hasan, Ismail langsung
menghambur mendekat sambil mengucapkan salam kehangatan.

Setelah menurunkan kayu bakar dari punggung harimau, Hasan berkata kepada
harimau itu, “Sekarang pergilah, mudah-mudahan Allah SWT memberkatimu!”

Ismail mempersilakan tamunya masuk ke dalam rumah. Sementara mereka


bercakap-cakap, istri Ismail masih terus bergumam memaki-maki suaminya.
Ismail diam saja.

Hasan keheranan bercampur takjub melihat kesabaran sahabatnya itu meskipun


istrinya terus memaki, ia tetap tidak memperlihatkan muka kebencian. Hasan
pulang menyimpan rasa kagum terhadap Ismail yang sanggup menekan rasa
marahnya menghadapi istrinya yang begitu cerewet dan berlidah panjang.

Satu tahun berlalu. Seperti kebiasaannya, Hasan kembali mengunjungi


sahabatnya, Ismail. Ketika mengetuk pintu rumah Ismail, dari dalam terdengar
langkah-langkah kaki. Beberapa saat kemudian terlihatlah istri sahabatnya yang
dengan senyum ramah menyapanya, “Tuan ini siapa?”

“Aku sahabat suamimu. Kedatanganku semata untuk mengunjunginya karena


Allah,” jawab Hasan.

Istri Ismail menyapa ramah, lalu mempersilakan tamunya duduk menunggu


suaminya. Tak lama kemudian Ismail datang membawa seikat besar kayu bakar
di atas pundaknya. Dua sahabat itu pun segera terlibat perbincangan serius.
Hasan menanyakan beberapa hal yang membuatnya keheranan. Tentang
keadaan istrinya yang sangat jauh berbeda dibanding setahun yang lalu. Ia juga
menanyakan bagaimana Ismail mampu menaklukkan seekor harimau sehingga
binatang buas itu mau memanggul kayu bakarnya. Mengapa ia sekarang tidak
bersama-sama dengan binatang itu lagi?

Ismail segera menjelaskan, “Ketahuilah sahabatku. Istriku yang dulu meninggal


setelah sekian lama aku berusaha bersabar menghadapi perangai buruknya. Atas
kesabaran itulah, Allah SWT memberi kemudahan bagiku untuk menundukkan
seekor harimau seperti yang engkau lihat. Allah juga memberiku karunia berupa
istri shalihah seperti yang engkau lihat sekarang. “Aku gembira mendapatkannya,
maka harimau itu pun dijauhkan dariku. Aku memanggul sendiri kayu bakar.”

Subhanallah, Maha Suci Allah. Ini adalah sebuah kisah yang begitu syarat aakan
hikmah.

Jamaah Jum'at rahimahullah,


Dengan sabar maka Allah akan memberikan berkah yang sempurna dan rahmat
pada kita. Bisa jadi di saat tertentu kita kesal kepada istri, atau teman, kekesalan
itu sebaiknya ditahan jangan diwujudkan dengan kata-kata dan jangan
diwujudkan perbuatan tetapi kita wujudkan dalam doa, yaitu mendoakan semoga
orang yang telah membuat kita kesal diberikan petunjuk oleh Allah dan diampuni
dosanya, itulah wujud kesabaran yang sempurna di sisi Allah.

Dengan sifat sabar maka kita akan mendapatkan hidayah berupa keselamatan
dari jalan menuju kesesatan dan dengan sifat pemaaf maka tidak ada yang kita
dapatkan melainkan kemuliaan.

Marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa bersama-sama.

A’udzubillahiminasyaithonirrojim,
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahirobbil’alamin
allahummagh fir lil mu'miniina wal mu'minaat
wal muslimiina wal muslimaat
al-ahyaa-i minhum wal amwaat
innakas samii'un qariibun mujiibud da'wat
wa yaa qaadhiyal haajaat
Ya Allah, jadikanlah hari ini menjadi hari ampunan bagi segala dosa kami,
Hari dimana Engkau singkapkan tabir dari hati kami,
Hari dimana Engkau gantikan segala kegelapan dengan cahaya di hati kami.
Ya Allah, sucikanlah kami dari dosa-dosa,
Dan bersihkanlah diri kami dari segala aib,
Tanamkanlah ketaqwaan di dalam hati kami,
Hiasilah diri kami dengan kesabaran dan kesucian,
Tutupilah diri kami dengan pakaian qanaah dan kerelaan.
Jadikan amal-amal kami sebagai amalan yang tulus hanya kepada-Mu,
Ya Allah, sediakanlah untuk kami sebagian dari rahmat-Mu yang luas,
Berikanlah kami petunjuk kepada ajaran-ajaran-Mu yang terang,
Dan bimbinglah kami kepada kerelaan-Mu yang penuh.
Rabbana atina fiddunya hasanah, wafilakhirati hasanah, waqina ‘adza bannar,
Subhanarobbika robbil ‘izzati ‘amma yasifun, wassalamun’alal mursalin,
Walhamdulillahirobbil’alamin