Anda di halaman 1dari 30

ASUHAN PERSALINAN NORMAL

1) Pengertian :
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun
ke dalam jalan lahir. (Prawirohardjo, 2001).
Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban di dorong keluar melalui
jalan lahir. (Prawirohardjo, 2001).
Pesalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi
pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan
presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa
komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. (Prawirohardjo, 2001).
Pesalinan normal (partus spontan) adalah proses lahirnya bayi pada letak
belakang kepala yang dapat hidup dengan tenaga ibu sendiri dan uri,tanpa
alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari
24 jam melalui jalan lahir.
Persalinan dibagi dalam 4 kala, yaitu :
 Kala I : Dimulai dari saat persalinan mulai sampai pembukaan
lengkap (10 cm). Proses ini terbagi dalam 2 fase : Fase Laten
(8 jam) serviks membuka sampai 3 cm dan Fase aktif (7 jam)
serviks membuka dari 3 cm sampai 10 cm. Kontraksi lebih
kuat dan sering selama Fase aktif.
 Kala II : Dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir.
Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam
pada multi.
 Kala III : Dimulai segera setelah lahir sampai lahirnya plasenta, yang
berlangsung tidak lebih dari 30 menit.
 Kala IV : Dimulai saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama
postpartum.
2) Penyebab
Penyebab timbulnya persalinan sampai sekarang belum diketahui secara
pasti/jelas. Terdapat beberapa teori antara lain : (Rustam Muchtar, 1998).
(1) Penurunan kadar progesteron :
Progesteron menimbulkan relaksasi otot-otot rahim, sebaliknya Estrogen
meninggikan kerentanan otot rahim.
Selama kehamilan terdapat keseimbangan antara kadar Progesteron
dan Estrogen di da;lam darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar
Progesteron menurun sehingga timbul his.

(2) Teori oxytocin :


Pada akhir kehamilan kadar oxytocin bertambah. Oleh karena itu timbul
kontraksi otot-otot rahim.

(3) Keregangan otot-otot :


Seperti halnya dengan kandung kencing dan lambung bila dindingnya
teregang oleh karena isinya bertambah maka timbul kontraksi untuk
mengeluarkan isinya.
Demikian pula dengan rahim, maka dengan majunya kehamilan makin
teregang otot-otot dan otot-otot rahim makin rentan.

(4) Pengaruh janin :


Hypofise dan kelenjar suprarenal janin rupa-rupanya juga memegang
peranan oleh karena pada anencephalus kehamilan sering lebih lama
dari biasa.

(5) Teori Prostaglandin :


Prostaglandin yang dihasilkan oleh decidua, disangka menjadi salah satu
sebab permulaan persalinan.
Hasil dari percobaab menunjukkan bahwa Prostaglandin F2 dan E2 yang
diberikan secara intra vena, intra dan extraamnial menimbulkan kontraksi
myometrium pada setiap umur kehamilan. Hal ini juga di sokong dengan
adanya kadar Prostaglandin yang tinggi baik dalam air ketuban maupun
darah perifer pada ibu-ibu hamilsebelum melahirkan atau selama
persalinan.
Secara skematis dikaitkan dengan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar sebagai berikut :
Prostaglandin  Kadar Oxytocin  Fetus cortisol Prostaglandin Peregangan otot rahim
   ¯ ¯
Sintesa Prostaglandin di Permiabilitas Na dalam Aktivasi Hormon Hypofise Prostaglandin  Sintesa 
chorio amnion Myometrium  dan Intra renal Estroge ¯ ¯
   ¯ Kontraksi Myometrium
Kontraksi Uterus Cairan intra sel  Fetus normal Aktivasi phospholipase ¯
¯ cukup/hampir cukup bulan dalam selaput ketuban Prostaglandin 
Kontraksi Uterus  ¯
Kontraksi Uterus Kontraksi Myometrium

His : Kontraksi otot rahim yang terasa nyeri dan yang dapat menimbulkan
pembukaan servix pada persalinan
His : Kontraksi otot rahim yang terasa nyeri dan yang dapat menimbulkan pembukaan servix pada persalinan

Kala I Kala II Kala III Kala IV


Dimulai dari saat persalinan mulai Dimulai dari pembukaan lengkap Dimulai segera setelah lahir Dimulai saat lahirnya plasenta
sampai pembukaan lengkap (10 (10 cm) sampai bayi lahir. Proses sampai lahirnya plasenta, yang sampai 2 jam pertama
cm). Proses ini terbagi dalam 2 ini biasanya berlangsung 2 jam berlangsung tidak lebih dari 30 postpartum.
fase : pada primi dan 1 jam pada multi. menit. Resiko tinggi
 Fase Laten (8 jam) serviks  Nyeri (Akut) Resiko tinggi  Kurangnya volume cairan
membuka sampai 3 cm Resiko tinggi  Kurangnya volume cairan  Cedera (ibu)
 Ansietas  CO   Cedera (ibu)  Kurang pengetahuan
 Kurang pengetahuan  Gangguan pertukaran  Kurang pengetahuan  Nyeri
 Kurangnya volume cairan gas  Nyeri  Perubahan proses
 Koping individu tidak  Kerusakan integritas  Perubahan proses keluarga
efektif kulit/jaringan keluarga
 Infeksi  Kurangnya volume cairan
 Cedera (janin)  Infeksi
 Fase aktif (7 jam) serviks  Cedera (janin)
membuka dari 3 cm sampai  Kelelahan
10 cm. Kontraksi lebih kuat
dan sering selama Fase aktif.
 Nyeri
 Perubahan eliminasi urin
Resiko tinggi
 Cedera (ibu)
 Gangguan pertukaran gas
 CO 
 Kurangnya volume cairan
 Kelelahan
3) Mekanisme Persalinan (Cunningham, Mac Donald & Gant, 1995)
Mekanisme Persalinan adalah proses keluarnya bayi dari uterus ke dunia luar
pada saat persalinan.
Gerakan utama pada Mekanisme Persalinan :
1. Engagement
 Diameter biparietal melewati PAP
 Nullipara terjadi 2 minggu sebelum persalinan
 Multipara terjadi permulaan persalinan
 Kebanyakan kepala masuk PAP dengan sagitalis melintang pada
PAP-Flexi Ringan.

2. Descent (Turunnya Kepala)


 Turunnya presentasi pada inlet
Disebabkan oleh 4 hal :
a. Tekanan cairan ketuban
b. Tekanan langsung oleh fundus uteri
c. Kontraksi diafragma dan otot perut (kala II)
d. Melurusnya badan janin akibat kontraksi uterus.
 Synclitismus dan Asynclitismus
 Synclitismus
 Sutura sagitalis terdapat di tengah-tengah jalan lahir tepat
antara symplusis dan promotorium.
 Os Parietal depan dan belakang sama tinggi.
 Asynclitismus
Jika Sutura sagitalis agak ke depan mendekati symplusis atau
agak kebelakang mendekati promotorium.
 Asynclitismus Posterior
Sutura sagitalis mendekati simplusis, Os parietal belakang
lebih rendah dari Os parietal depan.
 Asynclitismus Anterior
Sutura sagitalis mendekati promotorium sehingga Os
parietal depan > Os parietal belakang.
3. Flexion
Majunya kepala  mendapat tekanan dari servix, dinding panggul atau
dasar panggul  Flexi (dagu lebih mendekati dada).
Keuntungan : Ukuran kepala yang melalui jalan lahir lebih kecil
(D. SOB = 9,5 cm)  Outlet.

4. Internal Rotation
 Bagian terrendah memutar ke depan ke bawah symphisis
 Usaha untuk menyesuaikan posisi kepala dengan bentuk jalan lahir
(Bidang tengah dan PBP)
 Terjadinya bersama dengan majunya kepala
 Rotasi muka belakang secara lengkap terjadi setelah kepala di dasar
panggul.

5. Extension
 Defleksi kepala
 Karena sumbu PBP mengarah ke depan dan atas
 Dua kekuatan kepala
 Mendesak ke bawah
Kekuatan kedepan atas
 Tahanan dasar panggul menolak ke atas
 Setelah sub occiput tertahan pada pinggir bawah symphisis sebagai
Hypomoclion  lahir lewat perinium = occiput, muka dagu.

6. External Rotation
 Setelah kepala lahir  kepala memutar kembali ke arah panggul
anak untuk menghilangkan torsi leher akibat putaran paksi dalam
 Ukuran bahu menempatkan pada ukuran muka belakang dari PBP.

7. Expulsi
 Bahu depan di bawah symphisis  sebagai Hypomoklion  lahir 
bahu belakang, bahu depan  badan seluruhnya.
2.2.1. Diagnosa Keperawatan.
1) Kala I (Sharon J Reeder Et all, 1987: 476).
(1) Perubahan perfusi jaringan : peredaran darah ke plasenta, secundair
terhadap posisi ibu selama proses persalinan.
(2) Defisit volume cairan berhubungan dengan penurunan intake cairan.
(3) Perubahan membran mukosa berhubungan dengan pernafasan
mulut.
(4) Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan pembatasan
intake selama proses persalinan.
(5) Gangguan rasa nyaman (nyeri akut) berhubungan dengan kontraksi
uterus .
(6) Defisit perawatan diri berhubungan dengan imobilitas selama proses
persalinan.
(7) Perubahan pola istirahat tidur berhubungan dengan proses
persalinan.
(8) Inefektif koping individu berhubungan dengan ketidak mampuan
relaksasi atau bernafas dengan benar.
(9) Defisit pengetahuan berhubungan dengan perubahan peran.
(10)Inefektif koping individu / keluraga berhubungan dengan masuk
rumah sakit selama proses persalinan.
(11)Inefektif koping keluarga berhubungan dengan nyeri yang dirasakan
klien.
2) Kala II (Sharon J Reeder Et all, 1987: 478).
(1) Inefektif koping individu berhubungan dengan proses fisik selama
proses persalianan.
(2) Takut berhubungan dengan lingkungan baru.
(3) Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus.
3) Kala III dan IV. (Sharon J Reeder Et all, 1987: 494).
(1) Nyeri berhubungan dengan involusi uterus , episiotomi.
(2) Resiko infeksi (Vagina, perinium) berhubungan dengan infeksi
scundair bakteri sampai proses persalinan, persalinan dan episiotomi.
(3) Perubahan pola istirahat tidur, perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh.
(4) Perubahan peran berhubungan dengan kurangnya pengalaman,
kurangnya model peran.
Diagnosa Keperawatan Persalinan Tahap I (Fase Laten) :
1. Kekurangan volume cairan (resiko terhadap).
Tujuan : Kebutuhan klien selam kala I terpenuhi.
Kriteria Hasil :
 Mukosa bibir tidak kering.
 Klien tidalk merasa haus.
 TTV :
 Tekanan darah : 120 / 80
 Nadi : 80 – 88 x / menit.
 Respirasi rate : 18 – 20 x / menit.
 Suhu 365 – 37 0 C
Tindakan / intervensi Rasional
Mandiri :
1. Pantau masukan / haluaran. 1. Masukan dan haluaran harus
Perhatikan berat jenis urine. diperkirakan sama, tergantung pada
Anjurkan klien untuk derjat hidrasi. Konsentrasi urine
mengosongkan kandung kemih meningkat sesuai peningkatan
sedikitnya sekali setiap hari – 1,5 – haluaran urin dan waspada
2 jam. terhadap dehidrasi. Penurunan
janin dapat diganggun bila kandung
kemin distensi.
2. Dehidrasi dapat menyebabkan
2. Pantau suhu setiap 4 jam, lebih peningkatan suhu, Teknan darah
sering bila tinggi. Pantau tanda- pernafasan dan detak jantung janin.
tanda vital / DJJ sesuai indikasi. 3. Tanda tambahan dari hidrasi akuat
3. Kaji produksi mukus, jumlah air atau terjadinya dehidrasi.
mata dalam mata, turgor kulit. 4. Membantu meningkatkan hidrasi
4. Berikan cairan jernih dan es batu dan dapat menyediakan kalori.
sesuai izin. 5. Beberapa budaya (mis, beberapa
5. Kaji praktik budaya mengeni orang Afrika, penduduk bagian
masukan. seltan Amerika Serikat) minum the
khusus, meyakinkan mereka
merangsang kemajuan persalinan
secara kontinue,
6. Menurunkan ketidak nyamanan
6. Berikan perawatan mulit dan karena mulut kering.
permen keras sesuai izin.
7. Kolaborasi: 7. Mungkin diperlukan bila masukan
8. Berikan bolus cairan parentral, oral tidak adekuat atau terbatas.
sesuai indikasi. Bertindak sebagai oengaman dalam
kejadian dehidrasi atau hemoragi,
mengatasi beberapa efek negatif
dari anestesia atau anlgesia.
8. Ht meningkat sesuai penurunan
9. Pantau kadar hematokrit. (Ht). komponen plasma pada adanya
dehidrasi berat.
Diagnosa Keperawatan Persalinan Tahap I (Fase Aktif) :
2. Nyeri.
Tujuan:
Klien dapat beradaptasi terhadap nyeri pada kala pembukaan .
Kitreria hasil:
 Ibu tampak tenang diantara kontraksi.
 Ibu tidak teriak oleh konstraksi datang.
 Ibu mengatakan nyeri tapi masih bisa mengontrol nyeri.

Tindakan / intervensi Rasional


Mandiri:
1. Kaji derajat ketidak nyamanan 1. Tindakan dan reaksi nyeri
melalui isyarat verbal dan non adalah individual dan berdasarkan
verbal; verbal; perhatikan pengalaman masa lalu, memahami
pengaruh budaya pada respons perubahan fisiologis, dan latar
nyeri belakang budaya.
2. Dapat memblok impuls nyeri
2. Bantu dalam penggunaan tehnik dalam korteks serebral memlalui
pernafasan / relaksasi yang tepat respons kondisi dan stimulasi kutan.
dan pada masase abdomen. Memudahkan kemajuan persalinan
normal.
3. Meningkatkan relaksasi dan
3. Bantu tindakan kenyamanan (mis; higiene; meningkatkan perasaan
gosokan punggung/kaki, tekanan sejahtera (Catatan posisi miring kiri
sakral, istirahat punggung, menurunkan tekanan uterus pada
perawatan mulut, perubahan vena kava, tetapi pengubahan posisi
posisi, perawatan perineal dan secara periodik mencegah iskemia
pertukaran linen). jaringan dan / atau kekakuan otot
dan meningkatkan kenymanan.
4. Mempertahankan kandung
kemih bebas distensi, yang dapat
4. Anjurkan klien untuk berkemih meningkatkan ketidak nyamanan,
setiap 1-2 jam. Palpasi di atas mengakibatkan kemungkinan
simfisi pubis untuk menentukan trauma, mempengaruhi penurunan
distensi, khususnya setelah blok janin, dan meperlama persalinan.
saraf. Analgesia epidural atau paraservical
dapat mempengaruhi sensasi penuh.
5. Memungkinkan klien membuat
pilihan persetujuan tentang cara
pengontrolan nyeri. (Catatan: Bila
5. Berikan informasi tenang tindkan konservatif tidak efektif dan
ketersediaan analgeia, rspons/efek meningkatkan tegangan ototo
samping biasanya (klien dan meghalangi kemajuan persalinan,
janin), dan durasi efek analgetik penggunaan medikasi yang minimal
pada lampu atau sitiuasi penyerta. dapat meningkatkan rlaksasi,
memperpendek persalinan,
membatasi keletihan, dan mencegah
komplikasi).
6. Membantu menurunkan
perasaan gagal pada klien /
pasangan yang telah mengantisipasi
6. Dukung keputusan klien kelahiran yang tidak diobati dan tidak
tentangmenggunakan atau tidak mengikuti rencana tersebut.
menggunakan obat-obatan dengan Meningkatkan rasa kontrol dan dapat
cara yang tidak menghakimi. mencegah /menurunkan kebutuhan
Lanjutkan dorongan untuk upaya medikasi.
dan penggunaan tehnik relaksasi. 7. Memungkinkan klien untuk
mengatur kontrol nyerinya sendiri,
7. Instruksikan klien dalam biasanya dengan sedikit medikasi.
menggunakan analgesik yang
dikontrol klien, pantau caranya 8. Memantau kemajuan
menggunakan. persalinan dan memberikan
8. Hitung waktu dan catat frkwensi, informasi untuk klien. (catatan:
intensitas, dan durasi pola Agens anastetik dapat mengubah
konstraksi uterus setiap 30 menit. pola kontraksi uterus).
9. Dilatasi servical seharusnya ,2
9. Kaji sifat dan jumlah tampilan cm/jam pada nulipara dan 1,5
vagina, dilatasi servival, cm/jam pada multi para, tampilan
penonjolan, lokasi janin dan vagina meningkat dengan turunnya
penurunn janin. janin. Pilihan dan waktu pemberian
obat dipengaruhi oleh drajat dilatasi
dan pola kontraksi.
10. Anestesi blok regional
menghasilkan paralisis vasomotor,
10. Berikan tindakan pengamanan, sehingga gerakan tiba-tiba dapat
mis, anjrkan klien untuk bergerak mencetuskan hipotensi, Analgetika
dengn perlahan, memperthankan mengubah persepsi, dan klien dapat
penghalang tempat tidur setelah jatuh karena mencoba turun dari
pemberian obat dan sokong kki tempat tidur.
selama pemindahan. 11. Hipotensi maternal, efek
samping paling umum dari anastesi
11. Kaji tekanan darah dan nadi setiap blok regional, dapat mempengaruhi
1-2 menit setelah injeksi regional oksigenasi janin. Hipotensi telentang
selama 15 menit pertama, dapat terjadi karena posisi litotomi
kemudian setiap 10 – 15 menit selama pemberian anestesi
untuk sis waktu persalinan. paraservical. Posisi miring kiri
Posisikan pada posisi miring kiri meningkatkan aliran balik vena dan
dengan kepala datar dan kaki meningkatkan sirkulasi plasenta, Kaji
ditinggikan , atau meninggikan variabelitas DJJ. Agens seperti
lutut dan mengubah posisi uterus bupivakiain (Macaine) dan
secara manual ke kiri sesuai Kloroprokain hidroklorida
indikasi. (Nesacaine) mempunyai efek kecil
pada variabilitas DJJ; perubahan
harus diselidiki secara seksama.
(Catatan: Risiko berkenaan dengan
anestesi kaudal meliputi perforasi
kulit kepala janin, serta rectum ibu).
12. Respon toksik sistemik dengan
perubhan sensori terjadi bila obat
diabsorbsi ke dalam sistem
vasculair. Perubahan sensori dapat
12. Libatkan klien dalam prcakapan juga menjadi indikator awal dari
untuk mengkaji sensori, pantau terjadinya hipoksia. Gangguan fungsi
pola pernafasan dan nadi. pernafasan terjadi bila analgesia
terlalu tinggi menimbulkan paralisis
diafragma.
13. Meyakinkan penempatan
kateter yang tepat untuk kontinuitas
blok dan kadar yang adkuat dari
agens anestesi.
13. Kaji terhadap kehangatan, 14. Rute IV disukai karena
kemerahan pada ibu jari atau menjamin pemberian analgetik lebih
bantalan kaki dan distribusi cepat dan absorbsi seimbang.
seimabang dari obat spinal. Medikasi diberikan dengan rute IM
14. Kolaborasi: memerlukan sampai 45 menit untuk
15. Berikan analgesik seperti mencapai kadar plasma adekuat,
alfaprodin hidroklorida(Nisentil) dan ambilan maternal mungkin
atau meperidin hidroklorida bervariasi, khususnya bila obat
(Demerol) dengan kekuatan dinjeksikan ke dalam lemak
tranquilizer dengan IV atau IM subcutan sebagai pengganti otot.
yang dalam di antara kontraksi, 15. Menganastesi pleksus
bila diindikasikan. hipogstrik inferior dan ganglia,
memberikan kelegaan selama
dilatasi servic. (catatan: Blok
paraservical dapat menyebabkan
16. Lakukan atau bantu dengan blok bradikardia janin berat).
paraservical bila serviks dilatasi 4- 16. Meningkatkan volume cairan
5 cm. (anastesi dapat sirkulasi, perfusi plasenta, dan
diberikandalam dosis tunggal atau ketersediaan oksigen untuk ambilan
secara kontinu dengan janin.
menggunakan indwelling kateter).
17. Berikan oksigen dan tingkatkan 17. Bradikardia dan penurunan
masukan cairan biasa bila tekanan variabilitas janin adalah efek
sistolik turun di bawah 100 mmHg samping yang biasa dari blok
atau turun lebih dari 30 % di paraservical. Efek samping ini dapat
bawah tekanan dasar. mulai 2 – 10 menit setelah
18. Pantau DJJ secara elektrolik, dan pemberian anatetik dan dapat
catat penurunan variabilitas atau berakhir selama 5 – 10 menit.
bradicardia. Dapatkan sample kulit 18. Peningkatan kadar cairan
kepala janin bila bradikardia sirkulasi membantu mencegah efek
menetap selama 30 menit atau samping hipotensi berkenaan
lebih. dengan blok.
19. Memberikan kelegaan bila
19. Berikan bolus IV 500 – 1000 ml persalinan aktif ditentukan,
dari larutan Ringer Laktat tepat penguatan melalui kateter
sebelum pemberian blok peridural. memberikan kenyamanan terus
20. Berikan anestesi blok peridural, menerus selama melahirkan.
epidural atau kaudal dengan Analgesia ini tidak mengganggui
menggunakan kateter indwelling. aktivitas uterus dan/ atau refleks
Ferguson. Ini merelaksasikan
servicks dan mempermudah proses
persalinan, tetapi dapat mengubah
rotasi janin internal dan menurunkan
kemampuan klien untuk mengejan
bila diperlukan.
20. Reaksi toksik sistemik pada
anastetil epidural dapat mengubah
sendorium ataiu menyebabkan
21. Berikan soksinilkolin klorida dan kejang bila obat diabsorbsi ke dalam
bantu dengan intubasi bila terjadi sistem vasculair.
kejang.
Dignosa Keperawatan Persalinan Tahap II (Pengeluaran) :
1.Nyeri akut.
Tujuan : Ibu dapat beradaptasi terhadap nyeri akibat his persalinan.
Kriteria Hasil:
 Ibu dapat mengejan dengan benar,
 Ibu tampak lebih tenang.
 Ibu istirahat diantara kontraksi.
Tindakan / intervensi Rasional.
1.Mandiri:
Identifikasi derajat ketidak nyamanan 1.Mengklasifikasikan kebutuhan,
dan sumbernya. memungkinkan intervensi yang tepat.

2,Berikan tindakan kenyamanan 2.Meningkatkan kenyamanan


seperti perawatan mulut, perawatan . psikologis dan fisik, memungkinkan
masase perineal, linen dan pembalut klien menfokuskan pada persalinan
yang bersih dan kering, lingkungan dan menurunkan kebutuhan terhadap
sejuk (680sampai 720 F), kain sejuk analgesia atau anastesia.
lembab untuk wajah dan leher, atau
kompres panas pada perineum, atau
punggung sesuai kebutuhan.

3.Berikan informasi pada klien / 3.Meskipun klien yang mengalami


pasangan tentang tipe anstesia yang stress persalinan dan tingkat
tersedia pada tahab ini khususnya ketidaknyamanan dpat
untuk situasi melahirkan (mis, mempengaruhi ketrampilan
anestetik lokal, subaraknoid, atau pembuatan keputusan noemal., ia
blok pudendal, penguatan epidural masih memerlukan kontrol dan
atau kaudal) atau Stimulasi saraf membuat keputusan persetujuan
elektrikal Transkutan (TENS). Tinjau sendiri berkenaan dengan anstesia.
ulang keuntungan / kerugian dengan (catatan: Pilihan blok radiks saraf
tepat. harus dibatasi pada situasi rumah
sakit dimana peralatan kedaruratan
tersedia).

4.Pantau dan catat aktivitas uterus 4.Memberikan informasi/dokumentasi


pada setiap kontraksi. legal tentang kemajuan kontinu;
membantu mengidentifikasi pola
kontraksi abnormal, memungkinkan
pengkajian dan intervensi segera.

5.Berikan informasi dan dukungan 5.Pertahankan supaya pasangan


yang berhubungan dengan kemajuan tetap mendapatkan informasi tentang
persalinan. perkiraan kelahiran; menguatkan
bahwa upaya-upaya yang dilakukan
itu berarti dan “akhirnya sudah
terlihat.”

6.Anjurkan klien/pasangan untuk 6.Anastetik dapat mengganggu


mengatur upaya untuk mengejan kemampuan klien untuk merasakan
dengan spontan, daripada dilakukan sensasi berkenaan dengan kontraksi,
terus – menerus, mendorong selama mengakibatkan mengejan tidak
kontraksi. Tekankan pentingnyaefektif. Upaya mengejan spontan
menggunakan obat abdomen dan yang bukan terus – menerus
merelakskan dasar pelviks. menghindari efek negatif dari Valsava
manuver berkenaan dengan
penurunan kadar oksigen ibu dan
janin. Relaksasi dasar pelviks
menurunkan tahanan untuk upaya
mendorong, memaksimalkan upaya
untuk mengeluarkan janin.
7.Pantau penonjolan perienal dan 7.Pemutaran anal ke arah luar dan
rektal, pembukaan muara vagina dan penonjolan perineal terjadi saat
tempat janin. verteks janin turun, menandakan
kebutuhan untuk persiapan kelahiran.

8.Bantu klien dalam memilih posisi 8.Posisi yang tepat dengan relaksasi
optimal untuk mengejan; (Misalnya jaringan perineal mengoptimalkan
jongkok atau rekumben lateral, posisi upaya mengejan, memudahkan
semifowler (ditinggikan 30 – 60 kemajuan persalinan, menurunkan
derajat), atau penggunaan kursi ketidaknyamanan dan menurunkan
melahirkan. Kaji keefektifan upaya kebutuhan terhadap penggunaan
untuk mengejan; bantu klien untuk forsep. Relaksasi komplit di antara
merelakskan semua otot dan kontraksi meningkatkan istirahat dan
beristirahat di antara kontraksi. membantu membatasi
regangan/kelelahan otot.

9.Pantau tekanan darah (TD) dan 9.Hipotensi ibu disebabkan oleh


nadi ibu, dan DJJ. Perhatikan reaksi penurunan tahanan perifer saat
merugikan yang tidak biasanya percabangan vaskuler dilatasi adalah
terhadap obat-obatan, seperti reaksi reaksi merugikan yang utama
antibodi-antigen, paralisis terhadap blok peridual atau
pernafasan, atau blok spinal. Catat subaraknoid. Hipoksia janin atau
reaksi merugikan seperti mual, bradikardia mungkinterjadi, karena
muntah, retensi urine, pelambatan penurunan sirkulasi dalam bagian
depresi pernafasan dan pruritus pada plasenta ibu. Reaksi merugikan
wajah, mata atau mulut. yanglain setelah pemberian anastetik
spinal atau peridural, khususnya bila
morfin digunakan
10.Kolaborasi
Kaji kepenuhan kandung kemih. 10.Meningkatkan kenyamanan,
Kateterisasi diantara kontraksi bila memudahkan turunnya janin,dan
distensi terlihat dan klien tidak menurunkan risiko trauma kandung
mampu menghindari. kemih yang disebabkan oleh bagian
presentasi janin.
11.Dukung dan posisikan blok sedal 11.Posisi yang tepat menjamin
atau anestesi spinal, lokal, pudendal penenpatan tepat dari obat-obatan
sesuai indikasi dan membantu mencegah
komplikasi.
12.Anestesi lokal :
Bantu sesuai kebutuhan pada 12.Menganestesi jaringan perineal
pemberian anestesi lokal sebelum lokal untuk memperbaiki tujuan.
episiotomi.
Diagnosa Keperawatan Persalinan Tahap III (Pengeluaran Plasenta) :
2.Perubahan peran berhubungan dengan kurangnya model peran.
Tujuan : klien dapat berperan sebagai ibu setelah kelahiran bayinya.
Kriteria Hasil :
Ibu ingin didekatkan dengan bayinya.
Ibu mengatakan ingin merawat anaknya sendiri.
Tindakan / intervensi Rasional.
1.Fasilitasi interaki antara klien dan / 1.Membantu mengembangkan ikatan
pasangan dan bayi baruy lahir emosi sepanjang hidup di antara
sesegera mungkin setelah angota keluarga. Ibu dan bayi
melahirkan. mempunyai periode yang sangat
sensitif pada waktu di mana
kemampuan interaktif ditingkatkan.
2.Berikan klein dan ayah kesempatan 2.Kontak fisik dini membantu
untuk menggendong bayi dengan mengembangkan kedekatan. Ayah
segera setelah kelahiran bila kondisi juga lebih mungkin untuk
bayi stabil. berpartisipasi dalam aktivitas
merawat bayi dan merasa ikatan
emosi lebih kuat bila mereka secara
aktif terlibat dengan bayi segera
setelah kelahiran.
3.Tunda penetesan salep profilaksis 3.Memungkinkan bayi untuk
mata (mengandung eritomisin atau membuat kontak mata dengan
tetrasiklin) sampai klien / pasangan orangtua dan secara aktif
dan bayi telah berinteraksi. berpartisipasi dalam interaksi, bebas
dari penglihatan kabur yang
disebabkan oleh obat.

ASUHAN KEPERAWATAN
Tanggal masuk : 11 September 2011 Jam masuk : 01.25 WIB
Ruang/kelas : VK/ III Kamar No. : …….
Pengkajian tanggal : 11 September 2011 Jam : 01.25 WIB.

A. IDENTITAS
Nama pasien : Ny BN Nama suami : Tn SW
Umur : 27 tahun Umur : 34 tahun
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Suku/Bangsa: Jawa/ Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SD Pendidikan : SLTA.
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta
Alamat : Jl. Pogot lama 3/10 Alamat : Jl Pogot lama 3/10 a
Status perkawinan : kawin

B. RIWAYAT KEPERAWATAN :

1. RIWAYAT OBSTETRI
A Riwayat Menstruasi :
 Menarche : umur 14 th. Siklus : teratur
 Banyaknya : sedang Lamanya : 4- 7 hari
 HPHT : 20 Desember 2010 Keluhan : (-)
 TP : 27 September 2011
B Riwayat Kehamilan, persalinan, nifas yang lalu :

Anak Ke Kehamilan Persalinan Komplikasi Nifas Anak


NO. TAHUN Umur kehamilan penyulit jenis penolong penyulit laserasi infeksi perdarahan Jenis bb pj
1 1995 9 bulan - spt Bidan - - - - ♂ 3,1 51
2 Hamil ini kg
C Genogram

27 th 34 th
7 th
D Kehamilan Sekarang :
Diagnosa : G …II…..P1….A…0…… H 1
Imunisasi : TT 1 (Ö ) sudah – belum
TT2 (Ö ) sudah – belum
ANC berapa kali …8 kali
Keluhan selama hamil :
(Ö ) mual

(Ö ) muntah

(Ö ) pusing
Lainnya ; ……………………………………

Pengobatan selama hamil – ya (Ö ) tidak

Pergerakan janin : (Ö ) ya – tidak Sejak usia, 4, 5 bulan

Rencana perawatan bayi : (Ö ) sendiri ( ) orang tua ( ) lain lain


Kesangggupan dan pengetahuan dalam merawat bayi :
 Breast care :( ) Ya (Ö ) Tidak

 Perineal care :( ) Ya (Ö ) Tidak

 Nutrisi :( ) Ya (Ö ) Tidak

 Senam nifas :( ) Ya (Ö ) Tidak

 KB :( ) Ya (Ö ) Tidak

 Menyusui : ( ) Ya (Ö ) Tidak
E Persalinan Sekarang :
1. Keluhan His
Mulai kontraksi tanggal/jam 11 September 2011.
(Ö ) teratur tidak
interval : 10 menit
lama : 3 X 35 “
Kekuatan : adekuat

2. Pengeluaran Pervagina
Jenis : – Lendir – Darah – Darah lendir (Ö ) Air ketuban.
Jumlah : + 50 ml warna jernis

3. Periksa Dalam : Jam 01.25 WIB


Oleh Rahayu Budi Utami
Hasil pembukaan 4 cm
Effecement 75 %
Ketuban : ( - )
Presentasi anak : kepala
Bidang Hodge II

4. Kala Persalinan :
a. Kala I :
- Mulai persalinan : Tgl 11 Sep 2011. Jam 01.25 WIB
- Lama kala I :1 Jam 20 Menit
- Pengobatan yang didapat : ( - )
b. Kala II :
- Mulai : Tgl 11 Sep 20011 Jam 02.45.
- Lama kala II : - Jam 05 Menit
- Pengobatan yang didapat : ( - )
- Penyulit : ( - )
- Cara mengatasi : ( - )
- Keadaan bayi :
Lahir tgl : 11 Sep 2011 Jam 02.50 WIB.
Jenis Kelamin : Perempuan
Apgar Score 1 : 6
Apgar Score 5 : 8
c. Kala III
- Mulai : Tgl 11 Sep 2011…Jam… 02.50
- TFU 1 jari bawah pusat .kontraksi uterus : (Ö ) baik – jelek
- Lama Kala III : - Jam 5 Menit.
- Cara kelahiran plasenta : (Ö ) spontan – tindakan
Sebutkan ……………..
- Kotiledon : (Ö ) lengkap – tidak
- Selaput : (Ö ) lengkap – tidak
- Perdarahan selama persalinan : + 200 CC.
- Pengobatan yang didapat : Piton 1 ampul.
Beferan 1 Suppositoria.
Methergin 1 ampul.
d. Kala IV :
- Keadaan Umum : baik
- Tanda vital :
TD : 135/100 mmHg P : 20 X/menit
N : 80 .X/menit S : 36,4 °C
- TFU : 2 jari bawah pusat
- Kontrakssi uterus : (Ö ) baik – jelek
- Perdarahan : (Ö ) Ya ( - ) tidak Jumlah : 300 CC

- Perineum : (Ö ) Ruptur spontan – Episiotomi


- Jumlah Hecting : selujur dan HZ 4

5. Keadaan Bayi :
a. BB : 2550 gram
b. PB : 48 CM
c. Pusat : (Ö ) Normal – Abnormal
d. Perawatan tali pusat :
(Ö ) Alkohol 70%

– Bethadine
– Lainnya :……………
e. Anus : (Ö ) berlubang – tertutup
f. Suhu : 36,8 °C
g. Lingkar kepala :
Lingkaran Sub Occipito Bregnatica : 9,5 Cm.
Lingkaran Fronto Occipitalis : 11,5 Cm
Lingkaran Mento Occipitalis : 9,5 Cm.

h. Kelainan kepala :
( - ) Caput succedanum ( - ) Cephal Hematoma
( - ) Hidocephalus ( - ) Microcephalus
( - ) Anencephalus

Lain – lain : tidak ada


Pengobatan yang didapat : -

2. Riwayat Keluarga Berencana


 Melaksanakan KB : (Ö ) ya ( ) tidak
 Bila ya jenis kontrasepsi apa yang digunakan :

( ) IUD ( ) Pil (Ö ) suntik ( ) Implant


( ) lain – lain. Sebutkan -
 Sejak kapan menggunakan kontrasepsi Th 1995 sampai Januari 2001.
 Masalah yang terjadi : tidak ada

3. Riwayat Kesehatan :
Penyakit yang pernah dialami ibu : tidak ada
Pengobatan yang didapat : tidak ada
Riwayat penyakit keluarga
( - ) Penyakit diabetes mellitus
( - ) Penyakit jantung
( - ) Penyakit hipertensi
( - ) Penyakit lainnya : sebutkan ……………………………………

4. Riwayat Lingkungan
Kebersihan : baik
Bahaya : tidak ada
5. Aspek Psikososial
a. Persepsi ibu setelah bersalin : merasa gembira karena anaknya lahir
dengan selamat
b. Apakah keadaan ini menimbulkan perubahan terhadap kehidupan
sehari – hari ? ; tidak
c. Harapan yang ibu inginkan setelah bersalin : merawat anaknya
sendiri
d. Ibu tinggal dengan siapa : suami dan anaknya
e. Siapa orang yang terpenting bagi ibu : suami
f. Sikap anggota keluarga terhadap keadaan saat ini : mendukung ibu
g. Kesiapan mental menjadi ibu : ya

6. Kebutuhan Dasar Khusus :


1. Pola nutrisi
a. Frekwensi makan : 3 x/hari
b. Nafsu makan : ( ) baik ( Ö ) tidak nafsu , alasan nyeri pada
perut,malas makan
c. Jenis makanan rumah : nasi, lauk, sayur.
d. Makanan yang tidak disukai /alergi/pantangan : ( ) ada ( Ö ) tidak ada
Bila ada sebutkan sebutkan : ……………………………………

2. Pola eliminasi
BAK
a. Frekwensi : 4 – 5 kali
b. Warna : kuning jernih
c. Keluhan yang berhubungan dengan BAK : tidak ada
BAB
a. Frekwensi : 1 kali/sehari
b. Warna : kuning kecoklatan
c. Bau : khas feces
d. Konsistensi : lunak padat
e. Keluhan : tidak ada.
3. Pola personal Hygiene
a. Mandi
 Frekwensi : 2 x/hari

 Sabun : (Ö ) Ya ( ) tidak.

b. Oral hygiene
 Frekwensi : 2 x/hari

 Waktu : (Ö ) Pagi (Ö ) sore ( ) Setelah makan

c. Cuci rambut
 Frekwensi : 1 x/seminggu

 Shampo : (Ö ) ya ( ) tidak

4. Pola istirahat dan tidur


 Lama tidur : 6 – 8 Jam /hari
 Kebiasaan sebelum tidur : nonton TV
 Keluhan : tidak ada

5. Pola aktifitas dan latihan


 Kegiatan dalam pekerjaan : mengurus rumah

 Waktu bekerja : (Ö ) Pagi (Ö ) sore ( ) Malam

 Olah raga : ( ) Ya (Ö ) Tidak


Jenisnya :-
Frekwensi : -
 Kegiatan waktu luang : menonton TV
 Keluhan dalam aktifitas : tidak ada

6. Pola kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan


 Merokok : ( ) Ya , sebutkan (Ö ) Tidak

 Minuman keras : ( ) Ya , sebutkan (Ö ) Tidak

 Ketergantungan obat : ( ) Ya , sebutkan (Ö ) Tidak


7. Pemeriksaan Fisik
 Keadaan umum : baik Kesadaran : kompos mentis
 Tekanan darah :120/80mmHg Nadi : 33 x/menit
 Respirasi : 20 X/mnt Suhu : 36,9 x/menit
 Berat badan : 65 kg Tinggi badan : 160 cm

1. Sistem penglihatan
 Posisi mata : (Ö ) simetris ( ) Asimetris

 Kelopak mata : (Ö ) Normal ( ) Ptosis

 Gerakan mata : (Ö ) Normal ( ) Abnormal

 Pergerakan bola mata : (Ö ) Normal ( ) Abnormal

 Konjungtiva : (Ö ) Normal /merah ( - ) Anemis ( - ) sangat


merah
 Kornea : (Ö ) Normal ( - ) keruh berkabut (-)
terdapat perdarahan
 Sklera :( ) Ikterik (Ö ) Anikterik

2. Sistem Pernafasan
 Jalan nafas : (Ö ) Bersih ( - ) Sumbatan
( - ) sputum ( - ) Lendir ( - ) Darah ( - ) Lidah
 Pernafasan : ( ) Sesak (Ö ) Tidak sesak

(Ö ) Dengan aktifitas ( ) Tanpa aktifitas

 Suara nafas : (Ö ) Vesikuler / normal (Ö ) Bronkovesikuler


( - ) Ronkhi ( - ) Wheezing
 Menggunakan otot – otot bantu pernafasan : ( ) Ya

(Ö ) Tidak
 Lain – lain : tidak ada

3. Sirkulasi jantung
 Kecepatan denyut apical : 100 x/menit

 Irama : (Ö ) Teratur ( ) Tidak teratur


 Kelainan bunyi jantung : ( - ) Murmur ( - ) Gallop
 Sakit dada :( ) Ya (Ö ) Tidak
 Timbul : ( - ) Saat beraktifitas ( - ) Tanpa aktifitas
 Karakter : ( - ) Seperti ditusuk- tusuk
( - ) Seperti terbakar
( - ) Seperti tertimpa benda berat.

4. Sistem Pencernaan
 Keadaan mulut
 Gigi : ( ) Carries (Ö ) Tidak

 Memakai gigi palsu : ( ) Ya (Ö ) Tidak


 Lainnya : tidak ada

5. Sistem Uro Genital :


 BAK
 Pola rutin : 7 – 8 x/hari (Ö ) Terkontrol ( ) Tidak terkontrol
 Jumlah : 150 cc/24jam

 Warna : (Ö ) Kuning Jernih ( ) Kuning kecoklatan


( ) Merah ( ) Putih
 - Lainnya : ……………………………………………………………….

6. Sistem Integumen/ Muskuloskeletal


 Turgor kulit : (Ö ) Elastis ( ) Sedang ( ) Buruk
 Warna kulit : kuning langsat

 Kontraktur pada persendian ekstremitas : ( ) Ya (Ö ) Tidak

 Kesulitan dalam pergerakan : ( ) Ya (Ö ) Tidak


 Lainnya : ( - )

7. Dada dan Axilla


 Mammae : membesar (Ö ) Ya ( ) Tidak
 Areolla mammae : hiperpigmentasi

 Papila mammae : Menonjol ( ) Datar ( ) Kedalam (Ö )

 Colostrum : Keluar ( ) Ya (Ö ) Belum


PEMERIKSAAN KHUSUS ABDOMEN & GENITAL
ANTENATAL & INTRANATAL POSNATAL
Inspeksi Inspeksi
 Membesar : ya  Mengecil : ya
 Arah : membujur vertikal  Arah : membujur vertikal.
 Linea : Nigra  Linea : Nigra
 Striae : Albicans  Striae : Albicans
 Luka bekas operasi :  Luka bekas operasi :

( ) Ya (Ö ) Tidak ( ) Ya (Ö ) Tidak

Palpasi PERINEUM
 Leopold I :  Utuh / laserasi : Tidak
TFU : 34 cm  Episiotomi : Tidak
Berisi bokong Jenis episiotomi :
 Leopod II : punggung kiri ( ) Medialis
 Leopold III : kepala ( ) Lateralis
 Leopold IV : Tangan ( ) Mediolateralis
konvergen/sejajar/divergen  Ruptur : Ya
 Osborn Test :  Tanda – tanda infeksi : tidak ada
 TBJ : 3190 grm  Lokhea : rubra
 Kontraksi : baik Warna : merah darah
Banyaknya : 50 cc
Auskultasi : Bau : darah/amis
DJJ : 12 –11 - 12 Oedem / Hematom : tidak ada

Data Tambahan : Palpasi


Perineum : ada aliran cairan ketuban  TFU : 2 jari bawah pusat
putih jernih Kontraksi : baik
 Kondisi vesika urinaria
Distensi : Tidak
C.
D. DATA PENUNJANG
1. Laboratorium : (-)
2. USG : (-)
3. Rontgen : (-)
4. Terapi yang didapat Amoxilin 3 X 500 mg, asam metanamat 3 X 500
mg, beferan 1 sup

E. DATA TAMBAHAN
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………

ANALISA DATA

DATA ETIOLOGI PROBLEM


S : Ibu mengatakan tidak His persalinan Kekuranagan volume
nafsu makan mulai  cairan
kemarin siang, sejak Mules-mules dan
perut terasa mules- nyeri pada daerah
mules. pinggang
Ibu mengatakan 
mules-mules sejak Keinginan untuk
tanggal 10 september makan menurun
2002 jam 14.00 WIB. 
O : Makan tidak mau Intake<<
Pasien terbaring lemah
di tempat tidur
Ketuban (-)
Tidak mau / menolak
bila diberi roti & mie.

S : Ibu mengatakan tidak Inpartu fase laten Nyeri


kuat menahan sakit di 
perut dan pinggang  4 cm
O : His Adekuat 3 x 40 “ 
DJJ (+), TFU..... His adekuat
Gerakan janin (+) 
Skala nyeri 8 - 9. His persalinan
 4 cm
Ibu berteriak bila his
datang, ket (-)

S : Ibu bertanya kapan Kurangnya informasi cemas


bayinya lahir. 
Ibu bertanya apakah Ketakutan menghadapi
bisa melahirkan secara persalinan
normal. 
O : Ibu tampak cemas Kurang pengetahuan
Wajah tegang tentang prosedur
G II P 1 - 1 persalinan
T : 140/90
RR : 20 x/mt
S : 360C
N : 84x/mt.
DIAGNOSA KAPERAWATAN
1. Kekuranagan volume cairan berhubungan dengan penurunan intake cairan.
2. . (Kala 1)
3. Gangguan rasa nyaman (nyeri berat) berhubungan dengan Kontraksi uterus (kala
2).
4. Cemas (sedang) berhubungan dengan Kurang pengetahuan tentang prosedur
persalinan

RENCANA KEPERAWATAN
Dx Kep & hasil yang diharapkan Rencana keperawatan
Kala 1 Mandiri :
Kekuranagan volume cairan 1. Pantau masukan / haluaran. Perhatikan berat
berhubungan dengan penurunan jenis urine. Anjurkan klien untuk
intake cairan. mengosongkan kandung kemih sedikitnya
Tujuan : Kebutuhan klien selam kala I sekali setiap hari – 1,5 – 2 jam.
terpenuhi.
Kriteria Hasil : 2. Pantau suhu setiap 4 jam, lebih sering bila
 Mukosa bibir tidak kering. tinggi. Pantau tanda-tanda vital / DJJ sesuai
 Klien tidalk merasa haus. indikasi.
 TTV : 3. Kaji produksi mukus, jumlah air mata dalam
 Tekanan darah : 120 / 80 mata, turgor kulit.
 Nadi : 80 – 88 x / menit. 4. Berikan cairan jernih dan es batu sesuai izin.
 Respirasi rate : 18 – 20 x / 5. Kaji praktik budaya mengeni masukan.
menit.
6. Berikan perawatan mulit dan permen keras
 Suhu 365 – 37 0 C
sesuai izin.
7. Kolaborasi:
8. Berikan bolus cairan parentral, sesuai
indikasi.

9. Pantau kadar hematokrit. (Ht).

Kala 2
Gangguan rasa nyaman (nyeri berat) 1. Identifikasi derajat ketidak nyamanan dan
berhubungan dengan kontraksi sumbernya.
uterus 2. Berikan tindakan kenyamanan seperti
Tujuan : Ibu dapat beradaptasi perawatan mulut, perawatan . masase
perineal, linen dan pembalut yang bersih dan
terhadap nyeri akibat his persalinan.
kering, lingkungan sejuk.
Kriteria Hasil:
3. Pantau dan catat aktivitas uterus pada setiap
 Ibu dapat mengejan dengan kontraksi.
benar, 4. Berikan informasi dan dukungan yang
 Ibu tampak lebih tenang. berhubungan dengan kemajuan persalinan.
 Ibu istirahat diantara kontraksi. 5. Anjurkan klien/pasangan untuk mengatur
 upaya untuk mengejan dengan spontan,

Cemas (sedang) berhubungan 1. Kaji ulang keadaan cemas pada ibu.


dengan Kurang pengetahuan tentang 2. Memberikan kenyamanan dan ketenraman
prosedur persalinan pada ibu selama menanti proses
Tujuan : persalinan:
Ibu mengatakan tidak cemas dalam Tinggal dan selalu berada di dekat ibu.
waktu 1 x 60 menit 3. Jelaskan pada ibu tentang proses prsalinan
Kritria hasil: menggunakan kata-kata perlahan dan
 Ibu mengatakan tidak cemas lagi tenang, menggunakan kalimat yang pendek
 Wajah tidak tegang dan sederhana.
 Tekanan darah: 120/80 4. Perlihatkan rasa empati pada ibu dengan
 Nadi : 80 x /menit. datang secara tenang, memberikan
 Suhu : 365-370C sentuhan pada ibu dan biarkan ibu
 RR: 18 – 20 x /menit. menggenggam tangan perawat sambil
berbicara tentang kecemasannya.
 Bayi lahir secara spontan.
5. Tanyakan kembali pada ibu tentang
pengalamanya yang menyenangkan pada
persalinannya yang lalu.
6. Monitor tanda-tanda vital dan kecemasan
setelah diberikan penjelasan tentang
prosedur proses persalinan.
7. Tanyakan pada ibu mekanisme koping
yang digunakan ibu saat menghadapi
kecemasan pada persalinan dahulu.
8. Evaluasi kecemasan ibu dengan bertanya
kepada ibuu tentang kesiapanya
menghadapi persalinan ini.