Anda di halaman 1dari 10

c  



Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki wilayah perairan yang sangat luas yang terdiri
dari 17.508 pulau dengan panjang garis pantai 81.290 km. Luas wilayah laut Indonesia sekitar
5.176.800 km2. Ini berarti luas wilayah laut Indonesia lebih dari dua setengah kali luas
daratannya. Sesuai dengan Hukum Laut Internasional yang telah disepakati oleh PBB tahun
1982, wilayah perairan Indonesia dibagi menjadi tiga wilayah laut/zona laut yaitu zona laut
Teritorial, zona Landas kontinen, dan zona Ekonomi Eksklusif.

Sebagai negara kepulauan yang wilayah perairan lautnya lebih luas dari pada wilayah
daratannya, maka peranan wilayah laut menjadi sangat penting bagi kehidupan bangsa dan
negara.
a. Batas wilayah laut Indonesia
Luas wilayah laut Indonesia sekitar 5.176.800 km2.Ini berarti luas wilayah laut Indonesia lebih
dari dua setengah kali luas daratannya.Sesuai dengan Hukum Laut Internasional yang telah
disepakati oleh PBB tahun 1982.berikut ini adalah gambar pembagian wilayah laut menurut
konvensi Hukum Laut PBB.

Wilayah perairan laut Indonesia dapat dibedakan tiga macam, yaitu zona laut Teritorial, zona
Landas kontinen, dan zona Ekonomi Eksklusif
1) Zona Laut Teritorial
Batas laut Teritorial ialah garis khayal yang berjarak 12 mil laut dari garis dasar ke arah laut
lepas. Jika ada dua negara atau lebih menguasai suatu lautan, sedangkan lebar lautan itu kurang
dari 24 mil laut, maka garis teritorial di tarik sama jauh dari garis masing-masing negara
tersebut. Laut yang terletak antara garis dengan garis batas teritorial di sebut laut teritorial.Laut
yang terletak di sebelah dalam garis dasar disebut laut internal.Garis dasar adalah garis khayal
yang menghubungkan titik-titik dari ujung-ujung pulau.

Sebuah negara mempunyai hak kedaulatan sepenuhnya sampai batas laut teritorial, tetapi
mempunyai kewajiban menyediakan alur pelayaran lintas damai baik di atas maupun di bawah
permukaan laut.Pengumuman pemerintah tentang wilayah laut teritorial Indonesia dikeluarkan
tanggal 13 Desember 1957 yang terkenal dengan Deklarasi Djuanda dan kemudian diperkuat
dengan Undang-undang No.4 Prp. 1960.
2) Zona Landas Kontinen
Landas kontinen ialah dasar laut yang secara geologis maupun morfologi merupakan lanjutan
dari sebuah kontinen (benua).Kedalaman lautnya kurang dari 150 meter.Indonesia terletak pada
dua buahlandasan kontinen, yaitu landasan kontinen Asia dan landasan kontinen
Australia.Adapun batas landas kontinen tersebut diukur dari garis dasar, yaitu paling jauh 200
mil laut. Jika ada dua negara atau lebih menguasai lautan di atas landasan kontinen, maka batas
negara tersebut ditarik sama jauh dari garis dasar masing-masing negara. Sebagai contoh di selat
malaka, batas landasan kontinen berimpit dengan batas laut teritorial, karena jarak antara kedua
negara di tempat itu kurang dari 24 mil laut. Di selat Malaka sebelah utara, batas landas kontinen
antara Thailand, Malaysia, dan Indonesia bertemu di dekat titik yang berkoordinasi 98 °BT dan 6
°LU. Di dalam garis batas landas kontinen, Indonesia mempunyai
kewenangan untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dalamnya, dengan kewajiban
untuk menyediakan alur pelayaran lintas damai. Pengumuman tentang batas landas kontinen ini
dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia pada tanggal 17 Febuari 1969.

3) Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)


Zona Ekonomi Eksklusif adalah jalur laut selebar 200 mil laut ke arah laut terbuka diukur dari
garis dasar.Di dalam zona ekonomi eksklusif ini, Indonesia mendapat kesempatan pertama dalam
memanfaatkan sumber daya laut. Di dalam zona ekonomi eksklusif ini kebebasan pelayaran dan
pemasangan kabel serta pipa di bawah permukaan laut tetap diakui sesuai dengan prinsip-prinsip
Hukum Laut Internasional, batas landas kontinen, dan batas zona ekonomi eksklusif antara dua
negara yang bertetangga saling tumpang tindih, maka ditetapkan garisgaris yang
menghubungkan titik yang sama jauhnya dari garis dasar kedua negara itu sebagai batasnya.
Pengumuman tetang zona ekonomi eksklusif Indonesia dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia
tanggal 21 Maret 1980.Agar Anda lebih jelas tentang batas zona laut Teritorial, zona landas
kontinen dari zona ekonomi eksklusif lihatlah peta berikut.

Konvensi Hukum Laut International (UNCLOS) 1982, memberikan kesempatankepada negara


pantai untuk melakukan tinjauan terhapat wilayah landaskontinen hingga mencapai 350 mil laut
dari garis pangkal. Berdasarkanketentuan UNCLOS jarak yang diberikan adalah 200 mil laut,
maka sesuaiketentuan yang ada di Indonesia berupaya untuk melakukan submisi(submission) ke
PBB mengenai batas landas kontinen Indonesia di luar 200mil laut.
Dalam rangka ini, telah dibentuk Tim Landas Kontinen oleh Menteri Energidan Sumberdaya
Mineral (ESDM) dengan anggota dari berbagai lintasdisiplin. Sebagai tindak lanjut dari SK
Menteri ESDM tersebut, disusuntim kerja/tim tenaga ahli untuk memberikan masukan terhadap
Tim LandasKontinen berdasarkan kajian-kajian sebagaimana terdapat di dalam Juklakdan Juknis
dari UNCLOS 1982 yang disusun oleh Commision On The Limits OfThe Continental Shelft
(CLCS)

Gb. 3. Pembagian wilayah laut menurut Konvensi Hukum Laut PBB,


Montego, Caracas tahun 1982

Pada 30 April 1987 di New York diadakan Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS- United
Nation Convention on the Law of the Sea) III.Pada konferensiini telah disepakati pengaturan
rejim-rejim hukum laut dan bagiIndonesia pengakuan bentuk negara kepulauan yang diatur hak
dankewajibannya merupakan keputusan terpenting.

Pengakuan dunia internasional ini, ditindaklanjuti dengan diterbitkannyaUU No. 17 tahun 1985
tentang Pengesahan Konvensi PerserikatanBangsa-Bangsa tentang Hukum Laut 1985. Sejak
diberlakukannyaundang-undang ini pada 31 Desember 1985, Indonesia terikat dalam Konvensi
Hukum Laut PBB tahun 1982 (UNCLOS 1982), dan harus menjadipedoman dalam pembuatan
Hukum Laut Internasional selanjutnya.Hal inimengatur tentang landas kontinen di atur di dalam
Pasal 76.

Konsep landas kontinen ini, pertama kali diajukan oleh Amerika Serikatpada Konvensi Hukum
Laut Internasional tahun 1958.Pengajuan tersebutpada saat itu selain merupakan strategi dalam
menghadapi negara-negarakepulauan yang mengajukan konsep negara kepulauan, juga disasari
olehkepentingan untuk mengeksplorasi sumberdaya alam non hayati (minyak dangas bumi) yang
sangat potensial terdapat pada lansa kontinen.
Mempertimbangkan permasalahan yang timbul akibat ketidakjelasan bataslandas kontinen pada
UNCLOS I 1958, maka pada Konvensi Hukum Laut III1982, masalah landas kontinen dijadikan
salah satu agenda yang penting.Dalam konvensi ini masalah landas kontinen kemudian dapat
diselesaikan.

Secara posisi geografis dan kondisi geologis, Indonesia kemungkinanmemiliki wilayah yang
dapat diajukan sesuai dengan ketentuan penarikanbatas landas kontinen di luar 200 mil
laut.Kenyataan ini menjaditantangan para pemangku kepentingan dan profesi bidang terkait
untukmenelaah secara seksama kemungkinan-kemungkinan wilayah perairan landaskontinen di
luar 200 mil laut ini.

Mengingat batas pengajuan submisi atas batas landas kontinen di luar 200mil laut hingga tahun
2009, Tim Tenaga Ahli yang terdiri dari BadanRiset Kelautan dan Perikanan,
BAKOSURTANAL, BPPT, Dishidros-TNI AL,Puslitbang Geologi Kelautan - Departemen
ESDM, BP Migas, PuslitGeoteknologi - LIPI, HAGI, IAGI, dan Jurusan Teknik Geologi
UniversitasTrisakti membahas secara mendalam permasalahan tentang penarikan bataslandas
kontinen tersebut dikaitkan dengan kajianhukum yang berlaku, tatacara pengajuan klaim,
kebutuhan data serta kebutuhan survei. Pada tahapini dilaporkan hasil-hasil yang telah dicapai
dan rencana kegiatan akandilakukan.

II. LANDAS KONTINEN

Pengertian tentang Landas Kontinen terdapat pada Bab IV, Pasal 76 didalam UNCLOS 1982.
Batas Landas Kontinen disebutkan "Landas Kontinensuatu negara pantai meliputi dasar laut dan
tanah dibawahnya dari daerahdi bawah permukaan yang terletak di luar lautteristorial sepanjang
kelanjutan alamiah wilayah daratannya hingga pinggiran luar tepikontinen, atau hingga suatu
jarak 200 mil laut dari garis pangkaldarimana lebar laut teristorial di ukur, dalam hal pinggiran
luar tepikontinen tidak mencapai jarak tersebut"

Landas kontinen dimana Indonesia mempunyai hak berdaulat atas kekayaanalam yang ada,
jaraknya dihitung sejauh 200 mil dari garis-garis pangkalNusantara Indonesia. Dalam hal landas
kontinennya melebihi jaraktersebut Indonesia memiliki palung untuk submisi batas landas
kontinennya di luar 200 mil laut, dengan persyaratan sebagai berikut :
a. sejauh ketebalan batuan endapan paling kurang 1% dan jarakterdekat ke foot of the
continental slops, atau
b. tidak lebih dari 60 mil dari kaki lereng tepian kontinen (footof the continental slope)
c. kedua batas tersebut di atas tidak boleh melebihi 150 mil lautdari garis-garis Nusantara
d. 100 mil dari garis kedalaman air 2500 m

=
       

Dari kajian Geologi, Indonesia merupakan tempat pertemuan tiga lempengutama di dunia yang
aktif bergerak satu terhadap yang lainnya, yaitu :Lempang Indo-Australia yang relatif bergerak
ke utara, Lempeng Pasificyang relatif bergerak ke barat dan lempeng Eurasia yang relatif stabil.
Dan batas tersebut, tepian kontinen di wilayah Indonesia dapatdimasukkan ke dalam tipe Andes
hingga tipe busur kepulauan.Dalam tipeAndes ini batas dari suatu kontinental margin
sebagaimana diberikan didalam definisi yang di atas menunjukkan bahwa batas kontinental
margindapat diukur pada kondisi foot of slope (kaki lereng benua) atau dalamhal lainnya adalah
pada adanya perubahan maksimum dari kemiringan lerengbenua.Hal yang paling utama di dalam
tipe ini adalah paparan benuaadalah sempit dan biasanya kurang dari 200 mil.

Di lihat dari kondisi yang demikian maka secara batas geologi bagiandari kontinen margin
wilayah Indonesia yang di mulai dari sepanjangPantai Pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara,
Banda, Irian bagian Utaradan Sulawesi serta Kalimantan dikelilingi oleh suatu aktif margin yang
merupakan pertemuan dari lempeng samudera dan lempeng kontinen. Bataspertemuan lempeng
ini atau disebut batas subduksi dapat dianggap sebagaibatas tepian kontinen di Indonesia.

 

a. Graviti
Data gravitasi untuk wilayah Indonesia diperoleh dari USGS denganmenggunakan data
satelit dan pengukuran langsung melalui kerjasamapenelitian geologi dan geofisika
kelautan seperti data yang diperolehdalam penelitian GIGICS dan GINCO.Dari data
tersebut menunjukkan harga anomali berkaitan dengan jeniskerak yang mendasarinya.
Batas dari kerak samudera dan kerak benuadicirikan oleh adanya perubahan harga
anomali dan merupakan batas darifoot of slope (FOS)
b. Seismik
Kajian seismik di luar palung Sunda mulai dari Sumbawa sampai Sumaterabagian utara
didominasi oleh endapan tipis sedimen halus laut dalamdipermukaan lantai
samudera.Lapisan ini menutupi sedimen yang lebih tuayang berumur mulai Neogen
sampai Mesosoik serta batuan dasar berupakerak Samudera Lempeng India.Adanya
indikasi endapan sedimen kayaoksida Ferromangenes (DSDP 213) merupakan acuan
untuk kajian lebih dalammengenai potensi sumberdaya alam di kawasan di luar 200 mil
laut.

=   

Dengan menggunakan data yang dibuat oleh Bakosurtanal maka dilakukanperhitungan untuk
menentukan posisi kaki lereng (foot of slope) dangaris isobath 2500 meter.

    

Endapan sedimen dengan ketebalan 1% di kawasan terluar perairan NKRIterdapat sekitar tekuk
lereng sepanjang FOS di sisi di selatan Jawa danbagain barat pulau Sumatera serta di utara Papua
Barat dan sisi timurpulau Halmahera. Distribusi endapan dengan ketebalan 1% di sisi
baratSumatera terutama di bagian propinsi NAD sangat lebar.Sedimen tersebutkemungkinan
besar berasal dari teluk Benggala dan sedikit dari kepulauanMentawai.Di selatan Jawa,
kemungkinan sumber sedimen banyak berasaldari pulau tersebut.
Dari data-data geologi, seismik, graviti dan batimetri yang telahdipaparkan di muka
maka terlihat bahwa batas landas kontinen Indonesiayang ditentukan berdasarkan letak foot of
slope (FOS) berdasarkan datageologi, graviti dan batimetri menunjukkan bhawa batas tersebut
beradadi dalam jarak 200 mil laut dari garis pangkal. Dengan demikian jikadihitung dari
jaraknya terhadap titik pangkal, maka seluruh batasterluar kontinental margin wilayah Indonesia
berada di dalam jarak 200mil laut dari garis pangkal.

Adapun ketebalan yang dapat di lihat baik dari data global maupun dataseismik
menunjukkan adanya ketebalan sedimen yang cukup tebal (900 -3000 m) di luar jarak 200 mil
laut pada lokasi di sebelah barat PulauSumatera, selatan Pulau Sumba dan Utara Pulau Papua

=

    
 

     
 

Tepat pada tanggal 17 Agustus 2010 jam 12.45 Waktu New York, Setelah melalui
perjalanan panjang, akhirnya Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), melalui CLCS (Commission
on the Limits of Continental Shelf) dapat menerima submisi Indonesia atas hak kedaulatannya di
dasar laut di wilayah di luar 200 mil laut (NM). Wilayah baru yang menjadi bagian yurisdiksi
Indonesia adalah di bagian Barat Aceh seluas kurang-lebih 4.209 km2.

Submisi wilayah di luar 200 mil laut (Extended Continental Shelf-ECS) ini berhak
dilakukan Indonesia sebagai negara pihak terhadap UNCLOS, dimana Indonesia telah
meratifikasi UNCLOS 1982 melalui UU No. 17 tahun 1985. Sebagai negara pantai sesuai
ketentuan Pasal 76 UNCLOS 1982, Indonesia telah menggunakan haknya dengan baik untuk
mensubmisi landas kontinen di luar 200 mil laut.

Untuk mendukung keperluan submisi tersebut, data ilmiah survei dan pemetaan telah
dibina oleh Indonesia sejak tahun 2003 yang dikoordinasikan oleh. Bakosurtanal dan didukung
instansi-instansi BPPT, Kementerian ESDM, Kementerian Kelautan dan Perikanan, LIPI, Dinas
Hidrografi TNI AL, dan Kementerian Luar Negeri. Diawali dengan pengkajian Desktop Study
berdasarkan data global yang dilakukan para ahli Indonesia untuk menentukan lokasi-lokasi
potensial untuk submisi landas kontinen diluar 200 NM. Studi tersebut menghasilkan tiga lokasi
potensial yaitu: di sebelah Barat Sumatera, di Selatan NTB dan di Utara Papua.

Selanjutnya hasil studi yang menggunakan data global tersebut harus dipertajam dan
dilengkapi dengan bukti-bukti ilmiah sesuai panduan submisi dari CLCS, maka Bakosurtanal
bersama BPPT, LIPI, Kementerian ESDM dan Kementerian Kelautan dan Perikanan melakukan
survei seismik di sebelah Barat Aceh pada tahun 2006 menggunakan kapal riset Sonne, dan pada
bulan Februari 2010 menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya.

Pada tahun 2008, Indonesia berhasil menuntaskan dokumen submisi tahap pertama yang
berisikan hasil-hasil kajian dan analisis berbagai data hasil survei, yang menjadi dokumen
submisi untuk LKI di luar 200 NM di perairan sebelah Barat Aceh. Dokumen tersebut diterima
oleh PBB pada tanggal 25 Juni 2008, dan dibahas pada sidang bulan Mei 2009. Akhirnya pada
sidang pleno CLCS tanggal 17 Agustus 2010, submisi Indonesia diterima dengan baik, dan
dengan demikian batas wilayah landas kontinen Indonesia bertambah seluas 4.209 kilometer
persegi.
Ini adalah prestasi besar bangsa Indonesia, dan patut dibanggakan.Sebagai negara besar
dengan kemampuan sumberdaya dan teknologi survei dan pemetaan yang masih terbatas, kita
telah mendapat pengakuan internasional.Dukungan data survei dan pemetaan hasil kerjasama
beberapa lembaga pemerintah yang tertuang di dalam dokumen sumbmisi, adalah bukti
kemampuan survei dan pemetaan bangsa Indonesia tidak kalah jika dibandingkan dengan
negara-negara maju.

Permasalahan batas wilayah pun tidak berhenti hingga di sini. Penyelesaian batas-batas
wilayah dengan negara-negara tetangga masih menjadi µPR¶ panjang bangsa Indonesia, dan
memerlukan komitmen tinggi dari bangsa Indonesia sehingga kedepan diharapkan dukungan
optimal bukan hanya dari Pemerintah, tapi juga dari Parlemen untuk dapat menyelesaikan
submisi landas kontinen diluar 200 NM tahap ke II dan seterusnya.

  



Perwujudan dari Peraturan Pemerintah 13 Desember 1957 tentang konsep kewilayahan


Indonesia, laut lepas yang tadinya terdapat diantara pulau-pulau Indonesia berobah menjadi
perairan Indonesia yang berada bawah kedaulatan Indonesia. Melalui UU No. 4/Per./1960 dan
PP No. 8 Tahun 1962 Indonesia tetap menjamin kepentingan pelayaran internasional dengan
memberikan kelonggaran hak lalu lintas damai bagi kapal asing di perairan nusantara
(kepulauan) Indonesia.

Perkembangan kemudian, yaitu diterimanya rejim hukum Negara Kepulauan serta


diterimanya rejim hukum zona ekonomi eksklusif dalam Konvensi Hukum Laut 1982 (KHL
1982), dengan perkembangan ini azas Negara Kepulauan Indonesia mendapat pengakuan secara
internasional melalui UU No. 6 Tahun 1996 Indonesia telah mengimplementasikan pengaturan
Negara kepulauan, undang-undang ini sekaligus mencabut UU No. 4/Perp./1960. demikian juga
perkembangan yang lain, yaitu Indonesia mengeluarkan UU No. 5 Tahun 1983 tentang Zona
Ekonomi Eksklusif Indonesia. Di zona ekonomi eksklusif yang dihitung 200 mil laut dari garis
pangkal laut teritorial yang berada di luar dan berdampingan dengan laut teritorial.

Kondisi perairan Indonesia tersebut tergambar melalui perairan Belawan yang merupakan
daerah hukum LANTAMAL I Sumatera Utara.Merupakan hak dan kewajiban bangsa Indonesia
umumnya dan aparat penegak hukum khususnya yang terkordinasi dalam gugusan KAMLA
untuk melakukan tindakan terhadap perbuatan yang melanggar hukum yang dilakukan oleh kapal
asing dalam melakukan pelayaran di daerah hukum LANTAMAL I melalui pelabuhan Belawan,
untuk menjamin keamanan dan ketertiban bangsa Indonesia.

Dekrit Juanda yang dinyatakan melalui Pengumuman Pemerintah 13 Desember 1957


merupakan konsep kewilayahan perairan Indonesia, yang menjadikan wilayah daratan dan
wilayah perairan Indonesia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Yang melatar
belekangi dikeluarkannya Pengumuman Pemerintah ini salah satu diantaranya, yaitu atas dasar
pertimbangan bahwa penetapan batas-batas laut teritorial yang diwarisi dari pemerintahan
kolonial jaman Hindia Belanda yang termaktub dalam ³Teritorial Zee En Martieme Kringen
Ordonantie 1939´ tidak sesuai lagi dengan kepentingan, keselamatan dan keamanan Negara
Republik Indonesia. Pasal 1 ayat (1) Ordonantie 1939 tersebut menyatakan bahwa laut teritorial
Indonesia itu lebarnya 3 mil diukur dari garis pangkal air rendah (³laag waterlijn´) dari pada
pulau-pulau dan yang merupakan bagian dari wilayah daratan Indonesia.
Konsekwensi dari cara pengukuran laut yang demikian itu, secara teoritis Indonesia yang
terdiri dari beribu-ribu pulau, stiap pulaunya mempunyai laut teritorial sendiri-sendiri. Dapat
dibayangkan keadaan wilayah Indonesia yang demikian itu tidak menjamin keamanan Indonedia
dan tidak menunjukkan kesatuan Indonesia. Hal ini akan menyulitkan pelaksanaan tugas
pengawasan laut dengan sempurna, karena susunan daerah atau pulau-pulau yang harus diawasi
demikian sulitnya. Kantong-kantong laut lepas di tengah-tengah di antara pulau-pulau atau di
antara wilayah daratan Indonesia tunduk pada rejim hukum laut lepas yang bebas dilayari oleh
kapal-kapal semua negara.
Dengan dikeluarkannya PP 13 Desember 1957 tersebut, caramengukur laut teritorial
Indonesia diukur dari titik-titik terluar dari pulau-pulau terluar, cara pengukuran yang demikian
ini laut lepas sudah tidak ada lagi di antara pulau-pulau karena telah menjadi perairan nusantara
(kepulauan) Indonesia. Oleh karena itu Pengumuman Pemerintah ini mempunyai akibat hukum
yang penting bagi pelayaran internasional, sebab bagian laut lepas yang tadinya bebas dilayari
untuk pelayaran internasional dijadikan bagian laut wilayah (laut teritorial) dan peraitran
nusantara yang berada di bawah kekuasaan hukum Indonesia.
Posisi geografis Indonesia yang merupakan persilangan antara dua garis yang
menghubungkan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik serta terletak di antara dua benua, yaitu
benua Asia dan Australia, kehadiran kenderaan di atas air (kapal) asing dalam rangka
memperpendek jarak pelayarannya merupakan suatu hal yang tidak terhindari. Karena itu dengan
tetap mengutamakan kepentingan nasional, maka sebagai masyarakat internasional yang
menginginkan persahabatan antae bangsa di dunia ini, kita tidak begitu saja meniadakan
kebebasan berlayar di perairan Indonesia.
PP 13 Desember 1957 kemudian ditingkatkan menjadi Undang-undang pada tanggal 18
Pebruari 1960, yaitu UU No. 4/Prp/1960 tentang perairan Indonesia. Pada pasal UU tersebut
menyatakan, bahwa jalur laut wilayah Indonesia selebar 12 mil dihitung dari garis pangkal lurus
yang menghubungkan titik-titik terluar dari pulau-pulau terluar (pasal 1 UU).Selanjutnya pada
pasal 4, bahwa hak lintas damai kenderaan air asing (kapal) melalui perairan nusantara
(aechipelagic waters) dijamin selama tidak merugikan kepentingan negara pantai dan
mengganggu keamanan dan ketertibannya.
Dari ketentuan pasal 4 tersebut, bahwa dalam menjamin kepentingan pelayaran
internasional Indonesia harus terlebih dahulu menjamin kepentingan nasionalnya.
Untuk mewujudkan tujuan ini maka cara pengamanan yang utama di bidang hukum, yaitu selain
menyempurnakan perundang-undangan sesuai dengan
kebutuhan-kebutuhannya atau sesuai dengan perkembangan-perkembangan baru, juga yang lebih
penting adalah penegakan hukum yang didasarkan pada peraturan-peraturan nasional dan
internasional (Hasil Lokakarya II., DEPHANKAM, Jakarta, 1980, hal 40).
Dalam bentuk kongkritnya penegakan hukum adalah kegiatan operasional yang
diselenggarakan di seluruh perairan Indonesia dalam rangka memelihara dan menjamin tegaknya
suatu hukum nasional (Keputusan, MENHANKAM., 1978).Dalam pengertian ini termasuk
penegakan hukum di bidang pelayaran terutama yang mengatur pelayaran bagi kapal-kapal asing
yang berlayar melalui perairan Indonesia.Dengan tegaknya hukum merupakan suatu kondisi
yang menjamin kelancaran pelayaran baik untuk kepentingan nasional Indonesia maupun untuk
kepentingan pelayaran internasional.
Setelah diundangkannya UU No. 4/Prp/1960, terutamaoleh petugas-petugas di lapangan (
di laut) dirasakan perlunya ketegasan kedudukan hak lintas damai bagi kapal asing di perairan
Indonesia yang telah dijamin keberadaannya oleh pasal 4 UU No. 4/Prp/1960. Oleh sebab itu
pada tanggal 28 Pebruari 1962 Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 8
Tahun 1962 tentang Hal Lalu Lintas Damai Bagi Kenderaan Air Asing, sebagai peraturan
pelaksanaan dari UU No. 4/Prp/1960.
Dalam pasal 2 PP Tahun 1962 menyatakan yang dimaksud dengan lalu lintas laut damai
adalah pelayaran untuk maksud damai yang melintasi laut teritorial dan perairan kepulauan
(nusantara).Dalam pasal 2 PP No. 8 tahun 1962 menyatakan yang dimaksud dengan lalu lintas
damai adalah pelayaran kapal asing yang melintasi laut teritorial dan perairan kepulauan
(nusantara). Bagi kapal perang asing harus terlebih dahulu minta ijin kepada Pemerintah
Indonesia/KSAL, terkecuali lalu lintas damai itu melalui alur-alur laut yang telah
ditentukan.Sedangkan bagi kapal penangkap ikan harus memasukkan peralatannya kedalam
kapal-kapal dan melalui alur-alur laut yang ditentukan.Untuk jenis kapal selam dalam melakukan
lintas damai harus muncul di permukaan laut.(Lihat pasal 6 dan 7 ayat 3).

Selanjutnya dalam pasal 3, bahwa lintas damai dianggap damai apabila tidak
bertentangan dengan keamanan, ketertiban umum dan tidak menjamin kepentingan Indonesia
atau melanggar peraturan yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia.Apabila terjadi hal yang
demikian pelayaran kapal asing tersebut dapat ditindak atau diusir keluar dari wilayah perairan
Indonesia.Untuk menjamin terwujudnya kepentingan nasional perlu diselenggarakannya
penegakan hukum terhadap lintas pelayaran di perairan nasional sehingga terdapat keserasian
antara kepentingan nasional dan kepentingan internasional.
 


http://www.zimbio.com/member/fetriyan/articles

http://iagi-net/KajianLandasKontinen

http://geoboundaries.wordpress.com

http://digilib.itb.ac.id/gdl.php

http://www.bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/artikel