Anda di halaman 1dari 9

Studi Perbandingan Kinerja Direct Sequence Spread Spectrum Code Division

Multiple Acces ( DS-SS CDMA ) dengan Kode Penebar Walsh, Gold,dan


Kasami
Tataq Ajie R1, Yoedi Moegiharto2
1
Mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Jurusan Teknik Telekomunikasi
2
Dosen Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Kampus ITS, Surabaya 60111
e-mail : kataQ_ijo_safari@yahoo.com e-mail : ymoegiharto@eepis-its.edu

Abstrak akses CDMA ini sendiri terdiri dari 2 jenis yaitu


frekuensi Hopping CDMA (FH-CDMA) dan
Dalam CDMA sinyal data di korelasikan Direct-Sequence CDMA (DS-CDMA)
dengan pn code sehingga menjadi acak sebelum Pada sebuah sistem DS-CDMA, semua
di transmisikan ke udara. Hal ini mempunyai pengguna ditransmisikan pada band RF yang
beberapa keunggulan, yaitu lebih kebal noise, sama, hal ini menimbulkan adanya interferensi.
susah di sadap, dan lebih hemat daya. Oleh karena itu untuk mencegah interferensi
Ada bermacam-macam pn code, salah bersama, maka digunakan kode penebar. Kode
satunya adalah gold, kasami, dan walsh. Tiap penebar ini digunakan untuk memisahkan
pn code mepunyai karakteristik berbeda-beda, pengguna secara individu, ketika mereka
seperti auto korelasi dan cross korelasi yang bersamaan menduduki band RF yang sama.
berbeda-beda. Hal ini sangat berpengaruh Tetapi kemudian muncul masalah yaitu sering
terhadap kinerja sistem keseluruhan. terjadi korelasi antar kode penebar yang
Dengan membandingkan tiap pn code kita digunakan oleh setiap pengguna. Untuk itu
dapat menilai kinerja sistem, dan mencari pn diperlukan penggunaan kode penebar yang
code mana yang paling efektif untuk tepat, yaitu kode yang memiliki nilai auto-
diterapkan. Walsh mempunyai kinerja yang korelasi yang tinggi dan nilai cross-korelasi
paling baik diantara ketiga pn code yang yang kecil. Sehingga interferensi bersama antar
dibandingkan (gold, kasami, walsh). Panjang pengguna dapat diminimalisir.
chip juga menentukan performa sistem. Makin
panjang chip yang digunakan, performasinya 2. Teori Penunjang
akan makin baik.
Teknik Spread Spectrum
Kata kunci : pn code,multiple access, cross
korelasi,auto korelasi, walsh, gold, kasami. Spread spectrum adalah teknik memancarkan
sinyal pada pita frekuensi yang jauh lebih lebar dari
1. Pendahuluan pita frekuensi yang dibutuhkan pada transmisi
standar.
Sebuah sistem spread-spectrum harus
Pada saat ini, sistem komunikasi digital memenuhi kriteria sebagai berikut:
dituntut untuk dapat mentransmisikan data 1. Sinyal yang dikirimkan menduduki
maupun suara dengan kecepatan tinggi, bandwidth yang jauh lebih lebar daripada
memiliki efisiensi bandwitdh yang baik, serta bandwidth minimum yang diperlukan
memiliki performansi yang handal pada kondisi untuk mengirimkan sinyal informasi
kanal yang selalu berubah-ubah akibat adanya 2. Pada pengirim terjadi proses spreading
multipath fading. Oleh karena itu digunakan yang menebarkan sinyal informasi dengan
sistem multiple access CDMA yang mampu bantuan sinyal kode yang bersifat
mengakomodasi banyak pengguna pada independen terhadap informasi
3. Pada penerima terjadi proses despreading
frekuensi yang sama dan waktu yang sama,
yang melibatkan korelasi antara sinyal yang
mampu mentransmisikan data maupun suara diterima dan replika sinyal kode yang
dengan kecepatan yang tinggi serta memiliki dibangkitkan sendiri oleh suatu generator
bandwitdh yang cukup lebar. Sistem multiple lokal.

1
PN code yang sama dengan yang digunakan
Ada beberapa jalan untuk menyebarkan pada pengirim.
bandwidth dari sebuah sinyal:
1. Frequency hopping. Sinyal akan berpindah-
pindah frekuensi (hopping) dengan cepat
dalam beberapa periode waktu tertentu.
2. Time hopping.
3. Direct sequence. Data digital di kodekan
oleh bit-bit yang mempunyai kecepatan
lebih tinggi dati kecepatan data.kode
dibangkitkan secara random, pada sisi
penerima dengan kode yang sama sinyal
data diperoleh kembali.

Direct Sequence Spread Spectrum

Dalam sistem direct sequence spread


spectrum, sebuah sinyal ditransmisikan melalui Gambar 1 Proses spreading dan
beberapa tahap: dispreading
1. Sebuah kode random (pseudo random
code) atau PN code dibangkitkan. Kode
yang dibangkitkan selalu berbeda untuk
tiap pengguna satu dengan yang lain.
2. Data informasi di modulasi oleh pseudo
random code (proses spreading).
3. Hasil spreading kemudian dimodulasi lagi
oleh frekuensi carrier.
4. Hasil modulsi tersebut akan dikuatkan Gambar 2. Proses spreading
dayanya oleh amplifier dan kemudian
akan ditransmisikan melalui udara
Pseudonoise Code (PN Code)
Pada sisi penerima akan dilakukan langkah-
langkah sebagai berikut: Dalam CDMA kanal komunikasi tidak
1. Sinyal akan diterima dan dikuatkan dibagi-bagi berdasarkan waktu atau frekuensi.
kembali oleh amplifier Pemisahan atau pembagian kanal didasarkan
2. Sinyal ayng diterima akan didemodulasi pada kode-kode tertentu yang dibangkitkan
oleh lokal carrier untuk mendapatkan secara acak semu (tidak benar-benar acak,
sinyal tersebar (spreading signal). melainkan mempunyai pola tertentu). Dan di sisi
3. Pseudo random akan dibangkitkan. Kode penerima kode yang sama seperti yang
random yang dibangkitkan harus sama digunakan pada pengirim digunakan untuk
dengan yang digunakan di sisi pengirim. mendapatkan kembali sinyal data informasi.
4. Setelah itu dilakukan proses sinkronisasi
untuk mendapatkan waktu yang tepat
Untuk itu kode-kode random ini harus
kapan proses despreading dimulai. mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
5. Kemudian akan dilakukan proses 1. Harus berbeda antara satu dengan
despreding untuk mendapatkan data yang lain, tatapi yang digunakan pada
informasi kembali. sisi pengirim dan pada sisi penerima
harus sama.
Dalam proses spreading, sinyal data 2. Harus acak, tetapi memiliki pola
informasi di XNOR dengan sebuah PN code. tertentu.
Setelah proses ini akan didapatkan sinyal 3. Cross korelasi di antara dua kode yang
tersebar (spreading signal). Pada sisi penerima berbeda harus kecil
untuk mendapatkan data kembali sinyal tersebar 4. Kode harus memounyai periode yang
(spreading signal) di XNOR kembali dengan panjang.

2
Ada beberapa kode penebar yang sering dihasilkan dari pergeseran posisi chip), atau bisa
digunakan dalam system DS-CDMA antara lain disebut sebagai periode sequence. Apabila
M-sequence, walsh code, gold code, kasami dipilih M-sequence khusus atau yang disebut
code. preferd pair, maka Gold code yang dibangkitkan
mempunyai 3 nilai cross correlation, yaitu -
Maximum Length Sequence (M-sequence) 1, , .
M-sequence adalah salah satu kode diamana (n) = {2(n+1)/2 + 1 for odd n ;
penebar (PN code) yang sering digunakan {2(n+2)/2 + 1 for even n;
dalam sistem cdma. M-sequence dapat
dibangkitkan dari sebuah Linear Feedback Shift
Regiater. Panjang Jum Pasangan preferred Nilai
n lah channel m- cross
Adder modulo 2
chip sequence correlatio
n
5 31 [5,3][ 5,4,3,2] 7 -1
1 2 3 4
-9
6 63 [6,1][6,5,2,1] 15 -1
clock -17
7 127 [7,3][7,3,2,1] 15 -1
Gambar 3. M-sequence [7,3,2,1][7,5,4,3,2, -17
1]
Gold code
Gold code adalah salah satu non orthogonal 8 255 [8,7,6,5,2,1][8,7,6, 31 -1
code yang merupakan turunan dari M-Sequence. 1] -17
Gold code disusun oleh dua buah M-SeQuence
yang masing-masing outputnya ditambahkan 9 511 [9,4][9,6,4,3] 31 -1
(adder modulo 2). Kedua output dari M- [9,6,4,3][9,8,4,] -33
Sequence ditambahkan (XOR) secara chip per
chip menggunakan puls-pulsa clock yang
Tabel 1. Preferred pair Gold sequence
sinkron. Kedua M-Sequence mempunyai
panjang yang sama.
Kasami code

Selain gold code, kasami code juga


merupakan turunan dari M-sequence. Kasami
code mempunyai nilai „correlation properties„
sama dengan gold code, perbedaannya terletak
pada panjang kode yang dapat dibuat. Kasami
dapat di kategorikan menjadi dua, yaitu small set
dan large set. Untuk large set kasami panjang
kode maksimal sama dengan ( +1).
Gambar 4. Gold sequence Gambar dibawah adalah salah satu contoh
kasami generator, yang dibentuk dari 3
Panjang maksimal (maximal length) yang m-
dapat dihasilkan adalah (M-sequence itu
sendiri dan dari kombinasi yang

3
Secara unum setiap level hadamard matrik
yang lebih besar di bangkitkan dari transformasi

u-code M(6,1)
hadamard sebelumya.

= (3)
input

Dimana adalah invers dari


&
&
& & & & & &

Code Divison Multiple Access (CDMA)

v-code M(5,2,1) CDMA mengubah mengubah sistem


&

komunikasi yang berbasis analog menjadi sistem


komunikasi yang berbasis digital. Pada komunikasi
tt
inpu

konvensional pembagian kanal komunikasi


menggunakan proses pemfilteran didalam domain
frekuensi atau yang biasa disebut dengan frekuensi
& & &

w-code M(3,2)

division multiple access (FDMA), atau pembagian


kanal komunikasi berdasarkan waktu atau Time
Division Multpile access (TDMA). Pengguna pada
CDMA menggunakan waktu dan frekuensi secara
bersamaan. Untuk membedakan setiap kanal atau
pengguna maka digunakan kode yang unik yang juga
Gambar 5. kasami sequence digunakan untuk melebarkan sinyal, sehingga dapat
menghemat penggunaan kanal komunikasi dibawah
sequence. 2 buah dibentuk dari preferred pair ini adalah beberapa kelebihan sistem CDMA.
M(6,1) dan M(6,5,2,1), dan M(3,2). Disini n CDMA dapat mengakomodasi lebih banyak
adalah even dan sama dengan panjang dari shift pengguna karena lebih hemat spectrum
frekuensi.
register yang digunakan untuk membuat u dan v,
Kualitas suara yang lebih baik dan
u adalah m-sequence dengan feedback (6,1) dan
mengeleminasi efek dari multipath fading
v adalah m-sequence dengan feedback (6,5,2,1). Dapat mengurangi drop call yang di
Ketika mengurangi M(6,1) sequence w akibatkan kegagalan hand off, karena sistem
didapatkan, w adalah juga m-sequence M(3,2). CDMA menggunakan sistem soft handoff.
Meningkatkan reabilitas mekanisme
Walsh code transport komunikasi data, seperti fax, dan
Walsh code dihasilkan dari hasilkan dari trafik internet.
transformasi hadamard matrik. Mengurangi daya rata-rata dalam
Ini adalah salah satu contoh hadamard transmisian sinyal, sehingga lebih efisien
matrik : dalam pemakaian daya.
Biaya yang lebih rendah
Mengurangi interferensi yang disebabkan
oleh noise dan pengguna lain.
H1 = (1) Dapat menghindari penyadapan karena
menggunakan kode unik yang mirip noise
dengan spektrum frekuensi yang amat lebar.
Dapat bertahan dalam kondisi dengan
H2 = (2) tingkat noise yang tinggi

4
Penerima Konvensional (Conventional variannya sama dengan satu.
Receiver) Pada kanal transmisi selalu terdapat penambahan
derau yang timbul karena akumulasi derau termal
Dalam sistem CDMA, penerima yang paling dari perangkat pemancar, kanal transmisi, dan
awal diterapkan adalah penerima konvensional atau perangkat penerima. Derau yangmenyertai sinyal
yang lebih dikenal sebagai Conventional Receiver. pada sisi penerima dapat didekati dengan model
Pada penerima konvensional ini dgunakan matematis statistik AWGN. Derau AWGN
sekelompok Matched Filter (MF). Gambar dari blok merupakan gangguan yang bersifat Additive atau
diagram detektor konvensional Matched Filter ditambahkan terhadap sinyal transmisi,dimodelkan
ditunjukkan pada gambar di bawah ini. dalam pola distribusi acak Gaussian dengan mean
(m) = 0, standar deviasi (σ) = 1, power spectral
density (pdf) = No/2 (W/Hz), dan mempunyai rapat
Match
spektral daya yang tersebar merata pada lebar pita
ed
Filter frekuensi tak berhingga. Distribusi AWGN dengan
Bank pdf :

(4)

dimana: p(x) = probabilitas kemunculan derau

σ = standardeviasi

m = rataan(mean)

x = variable (tegangan atau daya sinyal)

n(t)
D = D = D = Gambar 7. Blok Diagram AWGN sinyal
ec ec ec
is is is Pada gambar diatas, Jika sinyal yang kirim
io io io STx(t), pada kanal akan dipengaruhi oleh derau n(t)
n n n sehingga sinyal yang diterima menjadi: SRx(t) =
STx(t) + n(t), 0 ≤ t ≤ T dimana n(t)) merupakan noise
yang terjadi selama proses transmisi sinyal kirim
Gambar 6. Blok Diagram Coventional Receiver MF
sampai diterima di bagian receiver.
Detektor konvensional Matched Filter
Transformasi Fourier
menggunakan metode deteksi pengguna tuggal
(single user), yaitu masing-masing pengguna
Transformasi fourier ditemukan oleh ahli
dideteksi secara terpisah, tanpa mempertimbangkan
matematika dari Prancis, Joseph Fourier Pada tahun
pengguna lain.
1822. Joseph fourier menemukan bahwa setiap
fungsi periodik (sinyal) dapat dibentuk dari
Gangguan Dalam Kanal (AWGN) penjumlahan gelombang-gelombang sinus/cosinus.
AWGN (Additive White Gausian Noise)
merupakan suatu proses stokastik yang terjadi pada f(x) = sin(x) + sin(3x)/3 + sin(5x)/5 + sin(7x)/7
kanal dengan karakteristik memiliki rapat daya + sin(9x)/9 … (5)
spectral noise merata di sepanjang range frekuensi.
AWGN mempunyai karakteristik respon Transformasi fourier adalah satu bentuk
frekuensi yang sama disepanjang frekuensi dan transformasi yang umum digunakan untuk merubah

5
sinyal dari domain waktu ke domain frekuensi. diubah dahulu menjadi sinyal bandpass, maka
Berikut adalah bentuk umum dari persamaan diperlukan sistem Modulasi untuk merubah sinyal
fourier. tersebut. Sehingga Modulasi dapat diartikan sebagai
proses pengubahan sinyal baseband menjadi sinyal
Xω =
bandpass atau lebih jelasnya Modulasi adalah proses
(2.10) perubahan (varying) suatu gelombang periodik
Persamaan ini merupakan bentuk transformasi sehingga menjadikan suatu sinyal mampu membawa
Fourier yang siap dikomputasi secara langsung suatu informasi. Secara singkat prinsip kerja
dari bentuk sinyal x(t). modulasi diperlihatkan pada Gambar berikut ini.

MODULATOR

Gambar 9. Blok Diagram Prinsip Keja Modulasi

Dengan proses modulasi, suatu informasi


(biasanya berfrekeunsi rendah) bisa dimasukkan ke
dalam suatu gelombang pembawa, biasanya berupa
gelombang sinus berfrekuensi tinggi. Terdapat tiga
parameter kunci pada suatu gelombang sinusiuodal
Gambar 8. Sinyal sinus dalam domain waktu dan yaitu : amplitudo, fase dan frekuensi. Ketiga
domain frekuensi parameter tersebut dapat dimodifikasi sesuai dengan
sinyal informasi (berfrekuensi rendah) untuk
Untuk menghitung frekuensi dari suatu membentuk sinyal yang termodulasi. Maka hasil
sinyal, sebuah implementasi diskrit dari analisa sinyal termodulasi, biasa dinyatakan dalam
Fourier dapat digunakan, yang kemudian lebih persamaan :
disempurnakan dengan suatu algoritma yang kita
kenal sebagai Fast Fourier transform (FFT). Ec(t) = Ec sin ( ct + ) (2.11)

dimana,
Ec(t) merupakan sinyal termodulasi
Transformasi Fourier di Matlab Ec merupakan nilai besar amplitude dari sebuah
sinyal
Dalam software matlab, kita dapat
ct merupakan nilai frekuensi sebuah sinyal
menggunakan transformasi fourier untuk
merupakan nilai fasa dari sebuah sinyal
menganalisa sebuah sinyal dalam domain
frekuensi. FFT adalah diskrit transformasi fourier
` Binary Phase Shift Keying (BPSK)
(DFT) dari sebuah vektor X. Untuk matriks,
operasi FFT diaplikasikan untuk setiap kolom. BPSK yaitu Binary Phase Shift Keying
Berikut adalah syntax dari fft dalam matlab. merupakan Teknik modulasi dimana fase dari sinyal
carrier di ubah-ubah diantara 2 nilai yang sesuai
FFT(X,N) : adalah N-point FFT, dengan zero dengan 2 sinyal yang mewakili biner 1 dan 0 dengan
padding jika X lebih kecil beda fase keduanya sebesar 180°.
nilainya arau melebihi N
FFT(X,N,DIM) : adalah operasi FFT dengan
dimensi DIM

Teknik Modulasi

Dalam pengiriman sinyal pada sistem selular


adalah berupa pengiriman sinyal baseband Gambar 2.10.Prinsip kerja modulator BPSK
(sekumpulan data biner yang tidak dapat secara
langsung ditransmisikan ke kanal sistem radio. Harus

6
Dari cara kerja modulasi BPSK, maka
STAR
akan dihasilkannya sinyal termodulasi dengan T
persamaan sebagai berikut:
Text

Text to Biner

(6) MODULAS
I

Dari persamaan tersebut, maka akan dihasilkan SPREADIN


G

sinyal sebagai berikut:


GOLD KASAMI WAL
SH

DATA
SPREAD

CHANNEL
AWGN

DESPREADING

DEMODULASI

Biner to Text

Gambar 11. .Sinyal termodulasi BPSK DAT


A

END
3. Metodologi

Untuk membuat proyek akhir ini (Studi Gambar 12. Diagram alur sistem.
Perbandingan Kinerja Direct Sequence Spread
Spectrum Code Division Multiple Acces ( DS-SS Data akan diubah menjadi biner,
CDMA ) dengan Kode Penebar Walsh, Gold,dan dan kemuadia di modulasi, dan di
Kasami) maka dibutuhkan langkah-langkah sebagai spreading dengan pn code tertentu.
berikut : Setelah itu di transmisikan melalui kanal
AWGN. Di penerima, data di despreading
1.5.1 Studi Literatur kembali dan di demodulasi sehingga di
Dalam pembuatan proyek akhir ini dapatkan data asli.
harus terlebih dahulu dilakukan studi literatur
tentang hal-hal yang berkaitan dengan proyek 4. Pengujian dan analisa
akhir ini seperti teori tentang CDMA, spread
spectrum, kode penebar walsh, gold dan
kasami. Pengujian

1.5.2 Perancangan,dan Pembuatan Sistem Setelah pembuatan sistem selesai


dilakukan, maka sistem akan di uji dan di
analisa. Dati pengujian tesebut didapatkan
data-data sebagai berikut :

7
BER versus Eb/No using DS-CDMA : a random asynchronusm between users BER versus Eb/No using DS-CDMA : a random asynchronusm between users

-0.13
-0.13 gold m = 4 10 gold m = 4
10
gold m = 6 kasami m = 4
walsh m = 4
-0.15 -0.15
10 10

-0.17 -0.17
10 10

BER
BER

-0.19 -0.19
10 10

-0.21 -0.21
10 10

-0.23 -0.23
10 10

-0.25 -0.25
10 10
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Eb/No (dB) Eb/No (dB)

Gambar 16.Bit Error Rate gold, kasami, walsh m = 4


Gambar 13.Bit Error Rate gold m=4 dan gold m=6
Analisa
BER versus Eb/No using DS-CDMA : a random asynchronusm between users
-0.13
10
kasami m = 4 Data teks akan di ubah menjadi bentuk biner.
-0.15
10
kasami m = 6 Data biner inilah yang akan di proses lebih lanjut
dengan melakukan modulasi, dan spreading dengan
-0.17
10
pn code yang ditentukan. Dan di sisi terima, data
akan di despreading, dan demodulasi, sehingga di
-0.19
dapatkan sinyal asli. Namun sinyal yang diterima
BER

10

tidak sama dengan yang dikirimkan. Terdapat


-0.21
10 beberapa kesalahan yang disebabkan pengaruh noise
-0.23
pada kanal. Walsh mempunyai kinerja yang paling
10
baik di antara ketiga kode yang dibandingkan. Eror
-0.25
yang dihasilkan jauh lebih sedikit dibandinggkan
10

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
menggunakan dua kode yang lain. Panjang jjuga
Eb/No (dB) berpengaruh pada kinerja sistem. Makin panjang
Gambar 14.Bit Error Rate kasami m=4 dan kasami kode yang digunakan, makin baik kinerja sistem.
m=6
BER versus Eb/No using DS-CDMA : a random asynchronusm between users 5. Kesimpulan dan saran
-0.15
10 m=4
m=6
Kesimpulan
-0.17
10

1. Makin panjang kode yang digunakan,


-0.19
10
kinerja sistem akan makin baik.
BER

-0.21
2. Dengan panjang sama, jenis pn code yang
10
mempunyai performasi lebih baik adalah
-0.23
10
walsh code, di antara tiga kode yang lain.

-0.25
10 Saran
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Eb/No (dB)
Tugas akhir ini masih sangat mungkin untuk
Gambar 15.Bit Error Rate walsh m=4 dan walsh dikembangkan lagi, misal dengan menguji performsi
m=6 kinerja kode penebar lain seperti m-sequence, atau
juga barker. Atau juga dapat dikembangkan dengan
menambahkan koding kanal seperti turbo code, dan
diukur performasinya apabila diterapkan pada sistem
CDMA, atau mengganti modulasi dengan jenis
modulasi yang lain seperti QPSK, atau QAM. Atau
bisa juga ditambahkan kanal reyleigh fading.

8
6. Daftar Pustaka :

[1] http://www.complextoreal.com
[2] Giunta G. ” Digital Signal Processing of the
Third University of Rome “, May 2000
[3] http://www.setyobudianto.com
[4] http://www.UMTSWorld.com
[5] Garg, vijay kumar, 1938. “IS-95 CDMA and
CDMA 2000”
[6] Ojanpera, Tero, et al., “Comparison of Multiple
Access Schemes for UMTS”, proceedings of
IEEE VTC, May 1997.
[7] Proakis,J.G.,Digital Communications,McGraw-
Hill, New York,1989.
[8] http://www.elektroindonesia.com
/elektro/telkom12.html
[9] http://www.planetanalog.com
/features/rf/showArticle.jhtml?
articleID=205100916
[10] L. W. Couch, “Digital and Analog
Communication Systems”, Prentice Hall, 1997.
[11] Evans, B.G. et. al. "Multimedia Advanced
CDMA Systems", the4th IEE Conference on
Telecommunications, 1993, pp11-16
[12] http://qualcomm.com/cdmatech/article.html
[13] Titch, Steven, "CDMA Crusades", Global
Telephony, Oktober1997, hal. 21-36.