Anda di halaman 1dari 9

HARI

AKHIR
A. Pengertian / Arti Definisi Hari Kiamat (Hari Akhir)

Hari Kiamat adalah peristiwa di mana alam semesta beserta isinya hancur luluh
yang membunuh semua makhluk di dalamnya tanpa terkecuali. Hari kiamat ditandai
dengan bunyi terompet sangkakala oleh Malaikan Israfil atas perintah dari Allah SWT.

Setelah semua makhuk yang hidup mati maka Allah SWT akan membali
memerintahkan Malaikat Israfil untuk meniup terompet untuk yang kedua kali guna
membangunkan orang semua yang telah mati untuk bangkit kembali mulai dari manusia
pertama zaman Nabi Adam hingga manusia yang terakhir saat kiamat tiba untuk
melaksanakan hari pembalasan.

B. Macam-Macam / Jenis-Jenis Kiamat

1. Kiamat Sughra/Sughro (Kiamat Kecil)

Kiamat Sughra adalah kiamat kecil yang sering terjadi dalam kehidupan manusia
yaitu kematian. Setelah mati roh seseorang akan berada di alam barzah atau alam kubur
yang merupakan alam antara dunia dan akhirat.

Kiamat sughra sudah sering terjadi dan bersifat umum atau biasa terjadi di
lingkungan sekitar kita yang merupakan suatu teguran Allah SWT pada manusia yang
masih hidup untuk kembali ke jalan yang lurus dengan taubat.

2. Kiamat Kubra/Kubro (Kiamat Besar)

Kiamat kubra adalah kiamat yang mengakhiri kehidupan di dunia ini karena
hancurnya alam semesta beserta isinya. Setelah kiamat besar maka manusia akan
menjalani alam setelah alam barzah / alam kubur. Lihat Di Sini untuk melihat lebih rinci.

Kiamat kubra akan terjadi satu kali dan itu belum pernah terjadi dengan kejadian
yang benar-benar luar biasa di luar bayangan manusia dengan tanda-tanda yang jelas dan
pada saat itu segala amal perbuatan tidak akan diterima karena telah tertutup rapat.
C. Tanda-Tanda Hari Kiamat Akan Tiba

Kapan akan datang hari kiamat, tidak seorang pun tahu termasuk Nabi
Muhammad SAW. Namun kita dapat mengetahuinya dengan memperhatikan tanda-tanda
di mana hari kiamat akan datang, yaitu antara lain :

1. Asap di Timur dan Barat


2. Munculnya Dajjal
3. Muncul binatang melata di bumi (Dabatul Ard)
4. Terbit matahari sebelah barat
5. Turunnya Nabi Isa AS
6. Keluarnya Yakjuj dan Makjuj
7. Gerhana di timur
8. Gerhana di barat
9. Gerhana di jazirah Arab
10. Keluarnya api dari kota Yaman yang menghalau manusia ke tempat pengiringannya

Tambahan :
Persiapkan diri kita sebaik mungkin untuk menghadapi kiamat kecil dan kiamat
besar karena itu pasti akan terjadi. Jadilah orang yang beriman dan bertakwa untuk
selamat dari siksa neraka dan mendapat surga dari Allah SWT.

Peristiwa dan Kehidupan Setelah Hari Kiamat :


1. Alam Kubur / Alam Barzah

Alam barzah adalah suatu dunia lain yang dimasuki seseorang setelah
meninggal dunia untuk menunggu datangnya kebangkitan kembali pada hari
kiamat. Pada alam kubur akan datang malaikat mungkar dan nakir untuk
memberikan pertanyaan seputar keimanan dan amal perbuatan kita. Jika kita
beriman dan termasuk orang baik, maka di dalam kubur akan mendapatkan
nikmat kubur yang sangat menyenangkan daripada nikmat duniawi, sedangkan
sebaliknya bagi orang yang tidak beriman kepada Allah SWT, siksa kubur
praneraka yang pedih sudah menanti di depan mata.

2. Hari Kebangkitan / Yaumul Ba'ats

hari kebangkitan adalah hari dibangkitkannya seluruh manusia yang pernah hidup
di dunia baik yang tua, muda, besar, kecil, hidup di zaman nabi adam as, baru lahir saat
kiamat, dsb akan bangkit kembali dari mati untuk kemudian dihitung amal perbauatannya
selama hidup di dunia. Seluruh manusia akan bangkit kembali dengan jasad / tubuh
ketika masih muda dengan raut yang wajah berbeda-beda sesuai amal perbuatannya.
3. Yaumul Mahsyar

Yaumul mahsyar adalah tempat dikumpulkannya seluruh manusia dan makhluk


hidup lainnya dari awal zaman hingga akhir jaman untuk dilakukan hisab atau peradilan
tuhan yang sejati pada yaumul hisab. Selanjutnya akan diberangkatkan ke jembatan
shirotol mustaqim untuk disortir mana yang masuk surga dan mana yang masuk neraka.
Yang terjatuh di neraka akan menjadi penghuni neraka baik yang kekal abadi maupun
yang hanya sementara hingga segala dosa-dosanya yang tidak terlalu berat itu
termaafkan.

ÂKHIRAH (Akhirat)
Kata âkhirah (‫خَرة‬ ِ ‫ )آ‬disebut 115 kali di dalam al-Quran. Kata ini selalu disebut
secara tersendiri, di samping dihubungkan dengan kata dâr (‫ )َدار‬atau nasy’ah (‫)َنشَْأة‬.
Selain kata âkhirah (‫خَرة‬ِ ‫)آ‬, Al-Quran juga menggunakan kata al-yaum al-akhir (‫خُر‬ ِ ‫)اْلَيْوُم ال‬
untuk menunjuk pengertian yang sama, dan ini terulang sebanyak 26 kali. Asal kata
âkhirah (‫خَرة‬
ِ ‫ )آ‬adalah al-âkhir (‫خر‬ ِ ‫ )ال‬yang berarti lawan dari al-awwal (‫ )الّول‬atau “yang
terdahulu”. Kata itu juga berarti “ujung dari sesuatu” (S. Yûnus [10]: 10), yang biasanya
menunjuk pada jangka waktu (S. Al-Hadîd [57]: 3).

Kata âkhirah (‫خَرة‬


ِ ‫ )آ‬juga ditemukan di dalam perbendaharaan bahasa Indonesia
dengan pengertian yang lebih kurang sama.

Penggunaan kata âkhirah (‫خَرة‬ِ ‫ )آ‬di dalam al-Quran menunjuk pada pengertian
alam yang akan terjadi setelah berakhirnya alam dunia. Dengan kata lain, kata âkhirah (
‫خَرة‬
ِ ‫ )آ‬merupakan antonim dari kata dunia (misalnya, di dalam S. Al-Baqarah [2]: 201 dan
S. Ali ‘Imran [3]: 152). Sejalan dengan pengertian asli kata âkhirah (‫خ خَرة‬ ِ ‫)آ‬, yang
merupakan lawan dari yang awal, al-Quran juga menggunakan kata al-ûla (‫لْوَلى‬ ُ ‫ = ا‬yang
pertama) untuk menunjuk pengertian dunia (di dalam S. An-Najm [53]: 25, S. Al-Lail
[92]: 13 dan S. Adh-Dhuhâ [93]: 4).

Al-Quran menggunakan pula istilah atau kata lain untuk menunjuk peristiwa alam
akhirat, antara lain yaum al-qiyâmah (‫ = َي خْوُم اْلِقَياَمخِة‬hari kebangkitan) di dalam S. Al-
Qashshash [28]: 42; yaum ad-dîn (‫ن‬
ِ ‫ = َيْوُم الّدْي‬hari pembalasan) pada S. Al-Fâtihah [1]: 4;
as-sâ‘ah (‫عة‬ َ ‫سا‬ّ ‫ = ال‬waktu) di dalam S. Al-Kahfi [18]: 21; yaum al-fashl (‫ل‬ ِ‫ص‬
ْ ‫ = َيْوُم اْلَف‬hari
keputusan) di dalam S. Al-Mursalat [77]: 14; yaum al-hisâb (‫سخخاب‬ َ‫ح‬
ِ ‫ = َيخخخْوُم اْل‬hari
perhitungan) di dalam S. Gâfir [40]: 27; yaum al-fath (‫ح‬ ِ ‫ = َيْوُم اْلَفْت‬hari kemenangan) di
dalam S. As-Sajadah [32]: 29; yaum al-jam‘i (‫جْمِع‬ َ ‫ = َيْوُم اْل‬hari pengumpulan) dan yaum at-
taghâbun (‫ن‬ ِ ‫ = َيْوُم الّتَغاُب‬hari pengungkapan kesalahan) pada S. At-Taghâbun [64]: 9; yaum
al-khulûd (‫خُلْوِد‬ ُ ‫ = َيْوُم اْل‬hari kekekalan) pada S. Qaf [50]: 34; yaum al-khurûj (‫ج‬ ِ ‫خُرْو‬ ُ ‫= َيْوُم اْل‬
hari keluar) pada S. Qaf [50]: 42; yaum ‘azhim (‫ظْيٌم‬ ِ‫ع‬ َ ‫ = َيْوٌم‬hari yang besar) di dalam S.
Al-An‘âm [6]: 15; yaum kabîr (‫ = َيْوٌم َكِبْيٌر‬hari yang besar) di dalam S. Hûd [11]: 3; yaum
alîm (‫ = َيْوٌم َأِلْيٌم‬hari yang menyedihkan) di dalam S. Hûd [11]: 26; yaum muhîth (‫ط‬ ٌ ‫حْي‬ ِ ‫= َيْوٌم ُم‬
hari yang membinasakan) pada S. Hûd [11]: 84; yaum al-hasrah (‫س خَرِة‬ ْ‫ح‬
َ ‫ = َي خْوٌم اْل‬hari
penyesalan) di dalam S. Maryam [19]: 39; yaum ‘aqîm (‫عِقْيٌم‬ َ ‫ = َيْوٌم‬hari siksaan) di dalam
S. Al-Hajj [22]: 55; yaum azh-zhullah (‫ظّلِة‬ ّ ‫ = َيْوُم ال‬hari naungan) di dalam S. Asy-Syu‘ara’
(26): 189; yaum al-ba‘ts (‫ث‬ ِ ‫ = َيْوُم اْلَبْع‬hari kebangkitan) di dalam S. Ar-Rûm [30]: 56;
yaum ath-thalâq (‫ق‬ ِ‫ل‬ َ‫ط‬ّ ‫ = َيْوُم ال‬hari pertemuan) di dalam S. Al-Mu’min [40]: 15; yaum al-
âzifah (‫ = َيْوُم الِزَفِة‬hari yang dekat) di dalam S. Al-Mu’min [40]: 18; yaum at-tanad (‫ِيْوُم‬
‫ = الّتَناِد‬hari panggil-memanggil) di dalam al-Mu’min [40]: 32; al-wâqi‘ah (‫ = اْلَواِقَعة‬yang
pasti terjadi) dan yaum ma‘lûm (‫ = َيْوٌم َمْعُلْوٌم‬hari yang dikenal) di dalam S. Al-Wâqi‘ah
[56]: 1 dan 50; yaum al-haqq (‫ق‬ ّ‫ح‬ َ ْ‫ = َيْوُم ال‬hari kebenaran) di dalam S. An-Naba’ [78]: 39;
al-yaum al-mau‘ûd (‫عْوُد‬ ُ ‫ = اْلَيْوُم اْلَمْو‬hari yang dijanjikan) pada S. Al-Burûj [85]: 2; al-
qâri‘ah (‫عُة‬ َ ‫ = اْلَقاِر‬bencana yang menggetarkan) di dalam S. Al-Qâri‘ah [101]: 1 dan al-
ghâsyiyah (‫شَيُة‬ ِ ‫ = اْلَغا‬pembalasan) di dalam S. Al-Ghâsyiyah [88]: 1. Nama-nama lain dari
hari âkhirah (‫خخَرة‬ ِ ‫ )آ‬di atas pada umumnya menggambarkan keadaan peristiwa yang
terjadi di alam tersebut.

Dengan memperhatikan S. At-Takwîr [81]: 1-14 seolah-olah berbagai peristiwa


alam âkhirah (‫خَرة‬
ِ ‫ )آ‬terjadi dalam waktu yang sama, tetapi jika diperhatikan beberapa
hadis Nabi Saw. dan banyaknya peristiwa yang terjadi pada masa itu, maka dapat
dipahami bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi di âkhirah (‫خَرة‬ ِ ‫ )آ‬mengalami proses,
mulai dari berakhirnya kehidupan di dunia, yaitu binasanya semua makhluk yang hidup,
baik yang di langit maupun yang di bumi selain makhluk-makhluk yang dikecualikan
Allah (di dalam S. Az-Zumar [39]: 68). Kemudian, benda-benda langit seperti matahari
menjadi padam, bintang-bintang berjatuhan, gunung-gunung dan bumi serta segala isinya
hancur pula (di dalam S. At-Takwîr [81]: 1–4), lalu disusul dengan kebangkitan kembali
makhluk-makhluk yang telah dimatikan itu (S. Az-Zumar [39]: 68). Api neraka pun
dinyalakan dan surga didekatkan (S. At-Takwîr [81]: 12–13). Pengadilan dan
penghitungan dilakukan terhadap amal yang telah dikerjakan dan barulah terjadi
pembalasan atau ganjaran (S. An-Naba’ [78]: 21–37). Al-Quran menegaskan bahwa hari
akhirah (‫خَرة‬
ِ ‫ )آ‬atau hari kiamat itu datangnya tiba-tiba dan hanya Allah yang mengetahui
kapan datangnya. Nabi Muhammad Saw. sendiri pun tidak diberi tahu tentang hal itu (S.
Al-A‘râf [7]: 187). Yang jelas, hari kiamat atau akhirah (‫خَرة‬ ِ ‫ )آ‬itu pasti tiba (S. Al-Hijr
[15]: 85), tiada keraguan tentang kedatangannya (S. Ghâfir [40]: 59) dan telah dekat
waktunya (S. Al-Qamar [54]: 1).

Selain tergambar dari nama-nama hari akhirah (‫خَرة‬


ِ ‫ )آ‬di atas, suasana yang terjadi
pada masa itu juga digambarkan pada ayat-ayat lain, di antaranya: Pada waktu itu,
sekiranya manusia yang berdosa dapat menebus kebebasannya dari siksa neraka dengan
emas sebesar dunia, mereka akan melakukannya, tetapi itupun tidak diterima (S. Al-
Mâ’idah [5]: 36); orang akan lari menghindar dari saudara, ibu, ayah, teman, dan anak-
anaknya karena masing-masing disibukkan dengan urusannya sendiri-sendiri (S. ‘Abasa
[80]: 34–37 dan S. Al-Ma‘ârij [70]: 11–18), anak dan harta tak ada lagi gunanya (S. Asy-
Syu‘arâ’ [26]: 88), tidak ada lagi urusan jual-beli dan persahabatan yang akrab (S. Al-
Baqarah [2]: 254), orang tak dapat lagi memberikan bantuan atau mencelakakan orang
lain (S. Ad-Dukhân [44]: 41), tidak ada orang yang berbicara kecuali atas izin Allah (S.
Hûd [11]: 105), lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas perbuatan yang mereka
lakukan di dunia (S. An-Nûr [24]: 24), sementara mulut ditutup (S. Yâsin [36]: 65), dan
tidak ada seorang pun yang dirugikan, karena masing-masing mendapat balasan atas apa
yang telah dilakukannya (S. Yâsin [36]: 54). Karena dahsyatnya suasana itu, orang-orang
yang berdosa sudah tidak tahan lagi menunggu giliran untuk diadili, sehingga meminta
agar segera saja dijatuhi hukuman tanpa melalui penghitungan amal mereka (di dalam S.
Shâd [38]: 16), orang-orang kafir dan yang mendurhakai Rasul berharap agar diratakan
saja dengan tanah, karena mereka tidak dapat menyembunyikan kejahatan dari Allah (S.
An-Nisâ’ [4]: 42) betapa pun kecilnya. Mereka berangan-angan agar dijadikan tanah (S.
An-Naba’ [78]: 40).

Percaya atau beriman akan adanya alam akhirah (‫خَرة‬ ِ ‫ )آ‬merupakan ajaran pokok
dalam Islam. Sedemikian pentingnya keyakinan tentang adanya alam âkhirah (‫خَرة‬ ِ ‫ )آ‬itu
dapat dilihat dari banyaknya ayat al-Quran (26 ayat) yang hanya menyebutkan beriman
kepada hari âkhirah (‫خَرة‬
ِ ‫ )آ‬dan kepada Allah saja tanpa menyebut pokok-pokok keimanan
lainnya; misalnya di dalam S. Al-Baqarah (2): 8, 62, 126, 177 dan S. At-Taubah (9): 18,
29, 44, 45, dan 99.
Keimanan terhadap alam akhirah (‫خخَرة‬ ِ ‫ )آ‬menjadi begitu penting dalam ajaran
Islam, karena itulah tujuan hidup manusia. Bahkan dapat dikatakan, inti ajakan para nabi
dan rasul setelah kewajiban percaya kepada Allah adalah kewajiban percaya akan adanya
kehidupan akhirat. Al-Quran menegaskan bahwa secara sadar atau tidak manusia
bertujuan untuk menghadap Tuhan (S. Al-Insyiqâq [84]: 6). Tujuan ini tidak akan
tercapai selama manusia ada dalam kehidupan dunia. Hanya di akhiratlah manusia dapat
mencapai tingkatan itu. Menurut al-Quran, orang-orang yang mendustakan âkhirah (‫)آخَِرة‬
sama dengan orang-orang yang mengingkari pertemuannya dengan Tuhan (S. As-Sajadah
[32]: 10). Pengingkaran itu terjadi karena mereka tertipu dan merasa puas oleh
kesenangan dunia (S. Ali ‘Imrân [3]: 185), sehingga mereka dilalaikan oleh kesenangan
itu (S. Ar-Rûm [30]: 7). Tujuan akhir manusia tidaklah terbatas pada kehidupan di dunia
(yang akar katanya berarti “dekat dan rendah”) ini, tetapi manusia memiliki tujuan jangka
panjang yang jauh lebih mulia dan berharga serta merupakan tujuan akhir, yaitu
kehidupan akhirat.

Keimanan terhadap hari âkhirah (‫خَرة‬ ِ ‫ )آ‬menjadi sangat penting dengan melihatnya
dari segi moral dan keadilan. Keadilan (mutlak) sebenarnya hanya akan dapat dicapai di
âkhirah (‫خَرة‬
ِ ‫ )آ‬dan tidak ada jaminan untuk mencapainya di dunia. Al-Quran berkali-kali
menegaskan bahwa balasan baik atau buruk, tegasnya, neraka atau surga, yang akan
diterima setiap orang di âkhirah (‫خَرة‬ِ ‫ )آ‬nanti merupakan hasil perbuatannya pada masa
hidup di dunia (S. Al-Baqarah [2]: 281) dan hanya dua tempat itu saja yang disediakan
(S. Asy-Syûrâ [42]: 7). Pada waktu itu hanya amal perbuatan manusialah yang
menentukan nasib yang akan diterimanya, yang semuanya tertulis di dalam buku catatan
amal masing-masing (S. Al-Mu’minûn [23]: 62) dan mereka diperintahkan untuk
membacanya. Orang yang beriman dengan hari âkhirah (‫خَرة‬ ِ ‫ )آ‬tentu akan bertindak sesuai
dengan petunjuk dan aturan-aturan moral dan keadilan, melakukan kebajikan yang
diajarkan Allah, dan tidak menyekutukan Tuhan dengan apa pun, karena ia berharap akan
bertemu dengan Tuhannya di akhirat nanti (S. Al-Kahfi [18]: 110). (Abd. Rahman
Dahlan)

Etimologi
Asal kata âkhirah (‫رة‬
َ‫خ‬ِ ‫ )آ‬adalah al-âkhir (‫خر‬
ِ ‫ )ال‬yang berarti lawan dari al-awwal (‫)الّول‬
atau “yang terdahulu”. Kata itu juga berarti “ujung dari sesuatu”,[2] yang biasanya
menunjuk pada jangka waktu[3]
Penggunaan kata âkhirah di dalam Al-Quran menunjuk pada pengertian alam yang akan
terjadi setelah berakhirnya alam dunia. Dengan kata lain, kata âkhirah merupakan
antonim dari kata dunia (misalnya, di dalam Al-Baqarah 2:201 dan Al ‘Imran 3:152).
Sejalan dengan pengertian asli kata âkhirah, yang merupakan lawan dari yang awal, Al-
Quran juga menggunakan kata al-ûla (‫ = الُْوَلى‬yang pertama) untuk menunjuk pengertian

Fase Alam
Alam kubur
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Barzakh

Sebelum terjadi hari kehancuran, bagi mereka yang telah mati akan mengalami fase
kehidupan akhirat yang disebut alam barzakh

Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa;


“ "mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)". Seperti
demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran), Dan berkata
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-
orang yang kafir): "Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur)
menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari
berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini (nya)." (Ar-Rum 55-
56) ”
Barzah berarti sesuatu yang terletak diantara dua barang atau penghalang. Pada masa itu
ruh manusia sudah menyadari akan kebenaran janji-janji Allah

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang


“ kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata:" Ya Tuhanku,
kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap
yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah
perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding
sampai hari mereka dibangkitkan.(al-Mu'minun 99-100) ”
Menurut syariat Islam, kepada mereka yang jahat sudah diperlihatkan kehidupan mereka
kelak setelah masa penghakiman selesai di neraka dan selama itu pula mereka akan
mendapatkan siksa kubur, dalam beberapa hadits Muhammad menyebutkannya sebagai
"azab kubur."

Penghakiman

Hari ketika mulut dikunci, dan semua anggota badan memberikan kesaksiannya kepada
Allah SWT Yang Maha Adil. Hari penimbangan amal kebajikan dan kejahatan semasa
hidup di dunia.
Perhentian akhirat
Hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib berkata: "Sesungguhnya pada hari
kiamat ada lima puluh tempat perhentian (stasiun), dan setiap stasiun lamanya seribu
tahun. Stasiun pertama adalah saat manusia keluar dari kuburnya, di sini mereka ditahan
selama seribu tahun dalam keadaan hina, lapar dan haus. Barangsiapa yang keluar dari
kuburnya dalam keadaan beriman kepada Tuhannya, mempercayai surga dan neraka-
Nya, mempercayai hari kebangkitan, hari hisab dan hari kiamat, meyakini Allah dan
membenarkan Nabi-Nya saw serta ajaran yang dibawanya dari sisi Allah azza wa jalla, ia
akan selamat dari kelaparan dan kehausan."[7]

Nama lain bagi hari akhirat


Hari akhirat memiliki beberapa nama lain (julukan) yang diberikan oleh Allah sendiri
melalui firman-Nya didalam Al Qur'an, diantaranya adalah:

• Al-Ghâsyiyah (Arab: ‫ )الغاشخخخية‬- • Yawm al-Hisãb (Arab:


Peristiwa Yang Dahsyat[8] ِ ‫سا‬
‫ب‬ َ‫ح‬ ِ ‫ )يوماْل‬- Hari Perhitungan[23]
• Al-Qâri‘ah (Arab: ‫ )القارعة‬- Yang • Yawm al-Jam‘i' (Arab: ‫ع‬ ِ ‫جْم‬َ ‫)َيْوُم اْل‬
Menggemparkan[9] - Hari Pengumpulan [24]

• Ar-Râjifah (Arab: ‫ )الرجفخخة‬- Yang • Yawm al-Jaza' (Arab: ‫)يوم الجزاء‬


Menggetarkan - Hari Pembalasan/ Hukuman[25]
• As-Sâ'ah (Arab: ‫عة‬ َ ‫سخخخخخا‬
ّ ‫ )ال‬- • Yawm al-Khulûd (Arab: ‫َيخخخْوُم‬
Kehancuran[10] ‫خُلْوِد‬ُ ‫ )اْل‬- Hari Kekekalan[26]
• Ash-Shakhah - Bencana yang • Yawm al-Khurûj (Arab: ‫َيخخخْوُم‬
memilukan
ِ ‫خخخخُرْو‬
‫ج‬ ُ ‫ ) اْل‬- Hari Keluar dari
• At-Thaamah (Arab: ‫ )اظمخخخخة‬- Kubur[27]
Bencana
• Yawm al-Mahsyar (Arab:
• Al-Wâqi‘ah (Arab: ‫ )اْلَواِقَعخخخخُة‬-
‫ )يومالمحشخخر‬- Hari Berkumpul di
Peristiwa Yang Pasti Terjadi[11]
Mahsyar[28]
• Al-Zalzalah (Arab: ‫ )الزلزلخخخخة‬-
• Yawm al-Mau‘ûd (Arab: ‫َيخخخْوُم‬
Kegoncangan[12]
‫عْوُد‬ُ ‫ ) اْلَمْو‬- Hari Yang Dijanjikan[29]
• Yawm ad-Dîn (Arab: ‫ن‬ ِ ‫ )َي خْوِم الخّدي‬-
Hari Penghakiman [13] • Yawm al-Mizan (Arab:
• Yawm al-Âkhir (Arab: ‫ر‬ ُ‫خ‬ِ ‫ )َيْوِم ال‬- ‫ )َيْوَمالميزان‬- Hari Penimbangan[30]
Hari Akhir [14] • Yawm al-Qiyāmah (Arab: ‫َيخخْوُم‬
• Yawm al-Alîm Arab: ‫ )يخخو م أليخخم‬- ‫ )اْلِقَياَمِة‬- Hari Kebangkitan[31]
Hari Yang Menyedihkan[15] • Yawm al-Wa’iid (Arab: ‫عيِد‬ ِ ‫َيْوُم اْلَو‬
• Yawm al-‘Azhim (Arab: ‫ظْيٌم‬ ِ‫ع‬َ ‫) َيْوٌم‬ ) - Hari Ancaman[32]
- Hari Yang Besar [16] • Yawm an-Nusyur (Arab: ‫يخخخوم‬
• Yawm al-Âzifah (Arab: ‫زَفِة‬ ِ ‫ )َيْوُم ال‬- ‫ )انوسر‬- Hari Kembali
Hari Yang Dekat [17]
• Yawm ‘Aqîm (Arab: ‫عِقْيخٌم‬ َ ‫ )َيْوٌم‬-
• Yawm al-Ba'ats (Arab: ‫ )يوم البث‬- Hari Siksaan[33]
Hari Kebangkitan[18] • Yawm at-Taghâbun (Arab: ‫َي خْوُم‬
• Yawm al-Fashl (Arab: ‫ل‬ ِ‫ص‬ْ ‫ )َيْوُم اْلَف‬- ِ ‫ )الّتَغخخخاُب‬- Hari Pengungkapan
‫ن‬
Hari Keputusan[19] Kesalahan[34]
• Yawm al-Fath (Arab: ‫ح‬ ِ ‫ )َيخْوُم اْلَفْتخ‬- • Yawm at-Tanad (Arab: ‫)َيْوَم الّتَناِد‬
[20]
Hari Kemenangan - Hari Panggil Memanggil[35]
• Yawm al-Haqq (Arab: ‫ق‬ ّ‫ح‬ َ ‫ )َيْوُم اْل‬- • Yawm ath-Thalâq (Arab: ‫َيخخخْوُم‬
Hari Kebenaran[21] ِ‫ل‬
‫ق‬ َ‫ط‬ّ ‫ )ال‬- Hari Pertemuan[36]
• Yawm al-Hasrah (Arab: ‫رِة‬ َ‫س‬ ْ‫ح‬ َ ‫)َيْوٌم اْل‬ • Yawm azh-Zhullah (Arab: ‫َيخخْوُم‬
- Hari Penyesalan[22] ‫ظّلِة‬
ّ ‫ )ال‬- Hari Naungan[37]
• Yawm Kabîr' (Arab: ‫ر‬ ٌ ‫ )َيْوٌم َكِبْي‬-
• Yawm al-Hasyr (Arab: ‫ )يوماالحشر‬- Hari Yang Besar [38]

Hari Perhimpunan • Yawm Ma‘lûm (Arab: ‫ )َيْوٌم َمْعُلْوٌم‬-


Hari Yang Dikenal[39]

• Yawm Muhîth (Arab: ‫ط‬ٌ ‫حْي‬


ِ ‫ )َيْوٌم ُم‬-
Hari Yang Membinasakan[40]

Empat hal kebaikan dunia dan akhirat


Menurut hadits, ada 4 perkara apabila diberikan kepada seseorang sesungguhnya ia telah
memperoleh kebaikan dunia dan akhirat, yaitu :

• Hati yang senantiasa bersyukur


• Lisan yang senantiasa berdzikir
• Tubuh yang senantiasa sabar dalam menanggung musibah
• Istri yang tidak pernah berkhianat baik terhadap dirinya atau terhadap harta benda
suaminya.[41]

Menurut syariat Islam, jika keluarga kita semuanya termasuk orang yang sholeh maka
semua anggota keluarga akan dapat berkumpul bersama di dalam syurga. Hal ini seperti
tertulis dalam Al-Qur'an Ar-Ra'd ayat 23:

("yaitu) syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan


“ orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak
cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari
semua pintu. (Ar-Ra'd ayat 23) ”
Kehidupan esok pada akhirnya di sana ada yang masuk sebagai penghuni neraka. Semua
tergantung pada amal perbuatannya selama hidup di dunia.