Anda di halaman 1dari 24

Enter your search terms Submit search form

Search

Monday, October 1, 2007


Hukum Indonesia

Hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum hukum Eropa, hukum
Agama dan hukum Adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun
pidana, berbasis pada hukum Eropa kontinental, khususnya dari Belanda karena aspek
sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia
Belanda (Nederlandsch-Indie). Hukum Agama, karena sebagian besar masyarakat
Indonesia menganut Islam, maka dominasi hukum atau Syari'at Islam lebih banyak
terutama di bidang perkawinan, kekeluargaan dan warisan. Selain itu, di Indonesia juga
berlaku sistem hukum Adat, yang merupakan penerusan dari aturan-aturan setempat dari
masyarakat dan budaya-budaya yang ada di wilayah Nusantara.

Hukum perdata Indonesia

Salah satu bidang hukum yang mengatur hak dan kewajiban yang dimiliki pada subyek
hukum dan hubungan antara subyek hukum. Hukum perdata disebut pula hukum privat
atau hukum sipil sebagai lawan dari hukum publik. Jika hukum publik mengatur hal-hal
yang berkaitan dengan negara serta kepentingan umum (misalnya politik dan pemilu
(hukum tata negara), kegiatan pemerintahan sehari-hari (hukum administrasi atau tata
usaha negara), kejahatan (hukum pidana), maka hukum perdata mengatur hubungan
antara penduduk atau warga negara sehari-hari, seperti misalnya kedewasaan seseorang,
perkawinan, perceraian, kematian, pewarisan, harta benda, kegiatan usaha dan tindakan-
tindakan yang bersifat perdata lainnya.

Ada beberapa sistem hukum yang berlaku di dunia dan perbedaan sistem hukum tersebut
juga mempengaruhi bidang hukum perdata, antara lain sistem hukum Anglo-Saxon (yaitu
sistem hukum yang berlaku di Kerajaan Inggris Raya dan negara-negara persemakmuran
atau negara-negara yang terpengaruh oleh Inggris, misalnya Amerika Serikat), sistem
hukum Eropa kontinental, sistem hukum komunis, sistem hukum Islam dan sistem-sistem
hukum lainnya. Hukum perdata di Indonesia didasarkan pada hukum perdata di Belanda,
khususnya hukum perdata Belanda pada masa penjajahan.

Bahkan Kitab Undang-undang Hukum Perdata (dikenal KUHPer.) yang berlaku di


Indonesia tidak lain adalah terjemahan yang kurang tepat dari Burgerlijk Wetboek (atau
dikenal dengan BW)yang berlaku di kerajaan Belanda dan diberlakukan di Indonesia
(dan wilayah jajahan Belanda) berdasarkan azas konkordansi. Untuk Indonesia yang saat
itu masih bernama Hindia Belanda, BW diberlakukan mulai 1859. Hukum perdata
Belanda sendiri disadur dari hukum perdata yang berlaku di Perancis dengan beberapa
penyesuaian. Kitab undang-undang hukum perdata (disingkat KUHPer) terdiri dari empat
bagian, yaitu:

* Buku I tentang Orang; mengatur tentang hukum perseorangan dan hukum keluarga,
yaitu hukum yang mengatur status serta hak dan kewajiban yang dimiliki oleh subyek
hukum. Antara lain ketentuan mengenai timbulnya hak keperdataan seseorang, kelahiran,
kedewasaan, perkawinan, keluarga, perceraian dan hilangnya hak keperdataan. Khusus
untuk bagian perkawinan, sebagian ketentuan-ketentuannya telah dinyatakan tidak
berlaku dengan di undangkannya UU nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan.
* Buku II tentang Kebendaan; mengatur tentang hukum benda, yaitu hukum yang
mengatur hak dan kewajiban yang dimiliki subyek hukum yang berkaitan dengan benda,
antara lain hak-hak kebendaan, waris dan penjaminan. Yang dimaksud dengan benda
meliputi (i) benda berwujud yang tidak bergerak (misalnya tanah, bangunan dan kapal
dengan berat tertentu); (ii) benda berwujud yang bergerak, yaitu benda berwujud lainnya
selain yang dianggap sebagai benda berwujud tidak bergerak; dan (iii) benda tidak
berwujud (misalnya hak tagih atau piutang). Khusus untuk bagian tanah, sebagian
ketentuan-ketentuannya telah dinyatakan tidak berlaku dengan di undangkannya UU
nomor 5 tahun 1960 tentang agraria. Begitu pula bagian mengenai penjaminan dengan
hipotik, telah dinyatakan tidak berlaku dengan di undangkannya UU tentang hak
tanggungan.
* Buku III tentang Perikatan; mengatur tentang hukum perikatan (atau kadang disebut
juga perjanjian (walaupun istilah ini sesunguhnya mempunyai makna yang berbeda)),
yaitu hukum yang mengatur tentang hak dan kewajiban antara subyek hukum di bidang
perikatan, antara lain tentang jenis-jenis perikatan (yang terdiri dari perikatan yang timbul
dari (ditetapkan) undang-undang dan perikatan yang timbul dari adanya perjanjian),
syarat-syarat dan tata cara pembuatan suatu perjanjian. Khusus untuk bidang
perdagangan, Kitab undang-undang hukum dagang (KUHD) juga dipakai sebagai acuan.
Isi KUHD berkaitan erat dengan KUHPer, khususnya Buku III. Bisa dikatakan KUHD
adalah bagian khusus dari KUHPer.
* Buku IV tentang Daluarsa dan Pembuktian; mengatur hak dan kewajiban subyek
hukum (khususnya batas atau tenggat waktu) dalam mempergunakan hak-haknya dalam
hukum perdata dan hal-hal yang berkaitan dengan pembuktian.

Sistematika yang ada pada KUHP tetap dipakai sebagai acuan oleh para ahli hukum dan
masih diajarkan pada fakultas-fakultas hukum di Indonesia.

Hukum pidana Indonesia

Berdasarkan isinya, hukum dapat dibagi menjadi 2, yaitu hukum privat dan hukum publik
(C.S.T Kansil).Hukum privat adalah hukum yg mengatur hubungan orang perorang,
sedangkan hukum publik adalah hukum yg mengatur hubungan antara negara dengan
warga negaranya. Hukum pidana merupakan bagian dari hukum publik. Hukum pidana
terbagi menjadi dua bagian, yaitu hukum pidana materiil dan hukum pidana formil.
Hukum pidana materiil mengatur tentang penentuan tindak pidana, pelaku tindak pidana,
dan pidana (sanksi). Di Indonesia, pengaturan hukum pidana materiil diatur dalam kitab
undang-undang hukum pidana (KUHP). Hukum pidana formil mengatur tentang
pelaksanaan hukum pidana materiil. Di Indonesia, pengaturan hukum pidana formil telah
disahkan dengan UU nomor 8 tahun 1981 tentang hukum acara pidana (KUHAP).

Hukum tata negara

Hukum tata negara adalah hukum yang mengatur tentang negara, yaitu antara lain dasar
pendirian, struktur kelembagaan, pembentukan lembaga-lembaga negara, hubungan
hukum (hak dan kewajiban) antar lembaga negara, wilayah dan warga negara.

Hukum tata usaha (administrasi) negara

Hukum tata saha (administrasi) negara adalah hukum yang mengatur kegiatan
administrasi negara. Yaitu hukum yang mengatur tata pelaksanaan pemerintah dalam
menjalankan tugasnya . hukum administarasi negara memiliki kemiripan dengan hukum
tata negara.kesamaanya terletak dalam hal kebijakan pemerintah ,sedangkan dalam hal
perbedaan hukum tata negara lebih mengacu kepada fungsi konstitusi/hukum dasar yang
digunakan oleh suatu negara dalam hal pengaturan kebijakan pemerintah,untuk hukum
administrasi negara

Hukum acara perdata Indonesia

Hukum acara perdata Indonesia adalah hukum yang mengatur tentang tata cara beracara
(berperkara di badan peradilan) dalam lingkup hukum perdata.

Hukum acara pidana Indonesia

Hukum acara pidana Indonesia adalah hukum yang mengatur tentang tata cara beracara
(berperkara di badan peradilan) dalam lingkup hukum pidana. Hukum acara pidana di
Indonesia diatur dalam UU nomor 8 tahun 1981.

Asas dalam hukum acara pidana

Asas didalam hukum acara pidana di Indonesia adalah:

* Asas perintah tertulis, yaitu segala tindakan hukum hanya dapat dilakukan berdasarkan
perintah tertulis dari pejabat yang berwenang sesuai dengan UU.
* Asas peradilan cepat, sederhana, biaya ringan, jujur, dan tidak memihak, yaitu
serangkaian proses peradilan pidana (dari penyidikan sampai dengan putusan hakim)
dilakukan cepat, ringkas, jujur, dan adil (pasal 50 KUHAP).
* Asas memperoleh bantuan hukum, yaitu setiap orang punya kesempatan, bahkan wajib
memperoleh bantuan hukum guna pembelaan atas dirinya (pasal 54 KUHAP).
* Asas terbuka, yaitu pemeriksaan tindak pidana dilakukan secara terbuka untuk umum
(pasal 64 KUHAP).
* Asas pembuktian, yaitu tersangka/terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian
(pasal 66 KUHAP), kecuali diatur lain oleh UU.
Hukum antar tata hukum

Hukum antar tata hukum adalah hukum yang mengatur hubungan antara dua golongan
atau lebih yang tunduk pada ketentuan hukum yang berbeda.

Hukum adat di Indonesia

Artikel utama: Hukum Adat di Indonesia

Hukum adat adalah seperangkat norma dan aturan adat yang berlaku di suatu wilayah.

Hukum Islam di Indonesia

Hukum Islam di Indonesia belum bisa ditegakkan secara menyeluruh, karena akan
bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia itu sendiri. Hukum Islam berasal
dari Al Quran, sedangkan hukum di Indonesia berasal dari Pancasila dan UUD 1945.
Dalam hukum Islam, berzina dihukum rajam, sedangkan di Indonesia berzina
hukumannya adalah penjara, jadi dalam hukum Islam tidak mengenal penjara, karena
dalam penjara tidak ada penghapusan dosa sebagai ganti hukuman di akhirat. Apabila di
dunia orang yang bersalah telah dihukum sesuai syariat Islam, maka di akhirat orang
tersebut sudah tidak diproses lagi, karena telah diproses sesuai dengan ketentuan yang
ada dalam kitab-Nya, Al Qur'an.

Di dalam Al Quran surat 5:44, Barangsiapa yang memutuskan sesuatu tidak dengan yang
Allah turunkan, maka termasuk orang yang kafir". Demikian juga dalam ayat 45, dan 47.
Jadi umat Islam harus menegakkan hukum syariat Islam secara keseluruhan, karena Allah
telah memerintahkan agar ummat-Nya masuk Islam secara keseluruhan (QS 2:208).

Istilah hukum

Advokat

Sejak berlakunya UU nomor 18 tahun 2003 tentang advokat, sebutan bagi seseorang yang
berprofesi memberikan bantuan hukum secara swasta - yang semula terdiri dari berbagai
sebutan, seperti advokat, pengacara, konsultan hukum, penasihat hukum - adalah
advokat.

Advokat dan pengacara

Kedua istilah ini sebenarnya bermakna sama, walaupun ada beberapa pendapat yang
menyatakan berbeda. Sebelum berlakunya UU nomor 18 tahun 2003, istilah untuk
pembela keadilan plat hitam ini sangat beragam, mulai dari istilah pengacara, penasihat
hukum, konsultan hukum, advokat dan lainnya. Pengacara sesuai dengan kata-kata secara
harfiah dapat diartikan sebagai orang yang beracara, yang berarti individu, baik yang
tergabung dalam suatu kantor secara bersama-sama atau secara individual yang
menjalankan profesi sebagai penegak hukum plat hitam di pengadilan. Sementara
advokat dapat bergerak dalam pengadilan, maupun bertindak sebagai konsultan dalam
masalah hukum, baik pidana maupun perdata. Sejak diundangkannya UU nomor 18 tahun
2003, maka istilah-istilah tersebut distandarisasi menjadi advokat saja.

Dahulu yang membedakan keduanya yaitu Advokat adalah seseorang yang memegang
izin ber"acara" di Pengadilan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman serta
mempunyai wilayah untuk "beracara" di seluruh wilayah Republik Indonesia sedangkan
Pengacara Praktek adalah seseorang yang memegang izin praktek / beracara berdasarkan
Surat Keputusan Pengadilan Tinggi setempat dimana wilayah beracaranya adalah
"hanya" diwilayah Pengadilan Tinggi yang mengeluarkan izin praktek tersebut. Setelah
UU No. 18 th 2003 berlaku maka yang berwenang untuk mengangkat seseorang menjadi
Advokat adalah Organisasi Advokat.

Konsultan hukum

Konsultan hukum atau dalam bahasa Inggris counselor at law atau legal consultant adalah
orang yang berprofesi memberikan pelayanan jasa hukum dalam bentuk konsultasi,
dalam sistem hukum yang berlaku di negara masing-masing. Untuk di Indonesia, sejak
UU nomor 18 tahun 2003 berlaku, semua istilah mengenai konsultan hukum, pengacara,
penasihat hukum dan lainnya yang berada dalam ruang lingkup pemberian jasa hukum
telah distandarisasi menjadi advokat.

Jaksa dan polisi

Dua institusi publik yang berperan aktif dalam menegakkan hukum publik di Indonesia
adalah kejaksaan dan kepolisian. Kepolisian atau polisi berperan untuk menerima,
menyelidiki, menyidik suatu tindak pidana yang terjadi dalam ruang lingkup wilayahnya.
Apabila ditemukan unsur-unsur tindak pidana, baik khusus maupun umum, atau tertentu,
maka pelaku (tersangka) akan diminta keterangan, dan apabila perlu akan ditahan. Dalam
masa penahanan, tersangka akan diminta keterangannya mengenai tindak pidana yang
diduga terjadi. Selain tersangka, maka polisi juga memeriksa saksi-saksi dan alat bukti
yang berhubungan erat dengan tindak pidana yang disangkakan. Keterangan tersebut
terhimpun dalam berita acara pemeriksaan (BAP) yang apabila dinyatakan P21 atau
lengkap, akan dikirimkan ke kejaksaan untuk dipersiapkan masa persidangannya di
pengadilan. Kejaksaan akan menjalankan fungsi pengecekan BAP dan analisa bukti-bukti
serta saksi untuk diajukan ke pengadilan. Apabila kejaksaan berpendapat bahwa bukti
atau saksi kurang mendukung, maka kejaksaan akan mengembalikan berkas tersebut ke
kepolisian, untuk dilengkapi. Setelah lengkap, maka kejaksaan akan melakukan proses
penuntutan perkara. Pada tahap ini, pelaku (tersangka) telah berubah statusnya menjadi
terdakwa, yang akan disidang dalam pengadilan. Apabila telah dijatuhkan putusan, maka
status terdakwa berubah menjadi terpidana.
Posted by Admin at 10:14 AM

http://makalah-gratis.blogspot.com/2007/10/hukum-
indonesia.html
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan dalam Pasal
24 ayat (2) bahwa Peradilan Agama merupakan salah satu lembaga di lingkungan
Peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung bersama Badan Peradilan lainnya di
lingkungan Peradilan Umum, Peradilan Tata Usaha Negara dan Peradilan Militer.
Peradilan Agama merupakan Badan Peradilan pelaku kekuasaan kehakiman untuk
menyelenggarakan penegakan hukum dan keadilan bagi rakyat pencari keadilan suatu
perkara tertentu antara orang-orang yang beragama Islam di bidang perkawinan, waris,
wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shodaqah dan ekonomi syari’ah. Dengan penegasan
kewenangan Peradilan Agama tersebut dimaksudkan untuk memberikan dasar hukum
kepada Pengadilan Agama dalam menyelesaikan perkara tertentu, termasuk aturan
pelaksanaannya serta memperkuat landasan hukum Mahkamah Syari’ah dalam
melaksanakan kewenangannya di bidang jinayah berdasarkan qanun.
Peradilan Agama merupakan Peradilan Perdata dan Peradilan Islam di Indonesia yang
harus mengindahkan Peraturan Perundang-Undangan Negara dan Syari’at Islam
sekaligus untuk mewujudkan hukum materiil Islam dalam batasan-batasan kekuasaannya.
Untuk melaksanakan tugas pokok Peradilan Agama yaitu menerima, memeriksa,
mengadili dan menyelesaikan setiap perkara serta menegakkan hukum dan keadilan,
maka Peradilan Agama membutuhkan sumber hukum yang dijadikan pedoman (patokan)
dalam memutuskan perkara yang diajukan kepadanya. Baik itu berupa sumber hukum
materiil maupun sumber hukum formil. Sehingga dalam memutuskan untuk
menyelesaikan perkara tersebut mempunyai kekuatan hukum yang kuat baik secara
hukum positif dan syari’at Islam.

B. Rumusan Masalah
Melihat begitu kompleksnya perkara yang dihadapkan pada Peradilan Agama di
Indonesia, perlu diangkat mengenai sumber-sumber hukum yang dijadikan pedoman
dalam setiap putusan di lingkungan Peradilan Agama, yaitu:
1. Sumber hukum apa saja yang dijadikan pedoman Peradilan Agama dalam menerima,
memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara yang dihadapinya untuk mewujudkan
penegakan hukum dan keadilan?

BAB II
SUMBER HUKUM PERADILAN AGAMA

Sumber hukum adalah segala aturan perundang-undangan yang bersifat mengatur dan
mempunyai kekuatan hukum yang dapat dijadikan rujukan/patokan dalam lingkungan
peradilan baik dalam Peradilan Umum maupun Peradilan Agama dalam memutuskan
suatu perkara. Dalam lingkungan Peradilan Agama di Indonesia, sumber hukum yang
dipakai atau dijadikan rujukan dalam memeriksa, memutuskan dan menyelesaikan setiap
perkara yang diajukan secara garis besar terbagi menjadi dua; yaitu sumber hukum
materiil dan sumber hukum formil (hukum acara).
A. Hukum Materiil Peradilan Agama
Hukum Materiil Peradilan Agama merupakan semua kaidah-kaidah hukum yang
mengatur dalam Islam yang kemudian disebut dengan fiqh. Menurut perjalanan sejarah
peradilan agama yang berjalan pada masa lalu mengalami pasang surut, hal ini
disebabkan adanya pengaruh-pengaruh politik, pemerintahan dan ekonomi pada masa
kolonial Belanda. Selain itu sumber hukum meteriil selama ini bukanlah hukum yang
tertulis sebagaimana hukum positif, serta berserakan dalam berbagai kitab ulama karena
dari segi sosiokultural banyak mengandung khilafiyah (perbedaan), sering menimbulkan
perbedaan ketentuan hukum mengenai masalah yang sama antara daerah satu dengan
yang lain. Sehingga untuk menengahi banyaknya perbedaan tersebut dikeluarkan
Undang-Undang No. 23 Tahun 1954 tentang Hukum Perkawinan, Talak dan Rujuk
sebagai patokan bersama. Undang-Undang ini kemudian ditindaklanjuti dengan Surat
Biro Peradilan Agama No. B/1/735 Tanggal 18 Februari 1958 yang merupakan
Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 1957 tentang Pembentukan Peradilan
Agama di luar Jawa dan Madura.
Banyak terjadi perbedaan tentang keberadaan sumber hukum materiil Peradilan Agama
yang tidak tertulis ini, untuk itu sesuai Surat Biro di atas ditetapkan 13 kitab fiqh Islam
yang digunakan sebagai rujukan dalam memeriksa dan memutuskan perkara di
lingkungan Peradilan Agama. Meskipun demikian banyak yang berpendapat hukum
positif adalah hukum yang harus tertulis, sehingga hal ini dilegalisasi oleh Ketentuan
Pasal 27 Ayat (1) UU No. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Kekuasaan Kehakiman bahwa seorang hakim mengadili, memahami dan mengikuti nilai-
nilai yang hidup dalam masyarakat. Ketentuan ini disahkan tanggal 17 Desember 1970,
namun secara riil Pengadilan Agama sesuai dengan ketentuan tersebut baru berjalan
setelah adanya Skb. Mahkamah Agung dan Menteri Agama No. 01, 02, 03 dan 04 Tahun
1983 dan kemudian dikukuhkan dengan UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.
Untuk menjembatani dua pendapat tersebut maka pada tanggal 02 Januari 1974 disahkan
UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Ketentuan ini didukung oleh Peraturan
Pemerintah No. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik, yang merupakan titik
tolak awal pergeseran bagian hukum Islam menjadi hukum yang tertulis. Namun
demikian masih banyak dari hukum perkawinan, kewarisan dan perwakafan yang tidak
tertulis, sehingga banyak terjadinya perbedaan putusan di Peradilan Agama terhadap
kasus dan masalah yang sama. Hal ini disebabkan pengambilan rujukan kitab-kitab fiqh
yang berbeda-beda.
Begitu banyak kaidah-kaidah yang mengatur Islam secara kompleks, dengan didukung
fiqh yang sangat toleran terhadap perkembangan zaman, Syari’at Islam begitu mudah
dijalankan dalam menata kehidupan di dunia. Atas dasar itu dalam mewujudkan
kepastian hukum baik dibidang perkawinan, kewarisan dan perwakafan menjadi hukum
yang tertulis, maka Indonesia merintis Kompilasi Hukum Islam dengan SKB Mahkamah
Agung RI dan Menteri Agama No. 07/KMA/1985 dan No. 25 Tahun 1985 Tanggal 25
Maret 1985 tentang Pelaksanaan Proyek Pembentukan Kompilasi Hukum Islam. Dimulai
dengan inilah dilakukan pengumpulan data, wawancara dengan para ulama’, melakukan
lokakarya dan hasil kajian, menelaah kitab-kitab dan studi banding dengan negara-negara
lain. Setelah data-data terkumpul dan diolah dan menjadi naskah kompilasi diajukan oleh
Menteri Agama kepada Presiden pada tanggal 14 Maret 1988 dengan Surat No.
MA/123/1988 tentang pembentukan Kompilasi Hukum Islam guna memperoleh landasan
yuridis sebagai pedoman untuk menyelesaikan perkara yang diajukan pada lingkungan
Peradilan Agama di Indonesia.
Kebutuhan hukum Islam yang sangat mendesak, nampaknya Kompilasi Hukum Islam
belum juga terbentuk sebagai undang-undang, sehingga muncullah Inpres. (Instruksi
Presiden) No. 1 Tahun 1991 (tanggal 19 Juni 1991) tentang Penyebaran Kompilasi
Hukum Islam. Dengan diikuti SK. Mahkamah Agung No. 154 Tahun 1991 yang intinya
mengajak seluruh jajaran Departemen Agama dan Instansi Pemerintah lainnya untuk
menyebarluaskan dan melaksanakan Kompilasi Hukum Islam yang berisikan hukum
perkawinan, kewarisan dan perwakafan sebagai pedoman penyelesaian masalah-masalah
hukum Islam yang terjadi dalam masyarakat.

B. Hukum Formil Peradilan Agama


Kata formil berarti “bentuk” atau “cara”, maksudnya hukum yang mengutamakan pada
kebenaran bentuk dan kebenaran cara. Oleh sebab itu dalam beracara di muka pengadilan
tidaklah cukup hanya mengetahui materi hukum saja tetapi lebih dari itu, harus lebih
mengetahui dari bentuk dan cara yang sudah diatur dalam Undang-Undang. Keterikatan
bentuk dan cara ini antara para pencari keadilan dan penegak hukum haruslah dikuatkan,
sehingga dalam menjalankan beracara tidak bisa semaunya dan seenaknya.
Sejak masa Pemerintahan Belanda telah dibentuk Peradilan Agama di Jawa dan Madura
dengan Stbl. 1882 No. 152jo. Stbl. 1937 No. 116 dan 610, di Kalimantan Selatan dengan
Stbl. 1937 No. 638 dan 639, kemudian setelah Kemerdekaan RI, pemerintah membentuk
Peradilan Agama di luar Jawa, Madura dan Kalimantan Selatan dengan PP No. 45 Tahun
1957. akan tetapi dalam kesemuanya itu tidak tertulis peraturan hukum acara yang harus
digunakan hakim dalam memeriksa, memutus dan menyelesaikan setiap perkara yang
diajukan kepadanya. Sehingga dalam mengadili para hakim mengambil intisari hukum
acara yang ada dalam kitab-kitab fiqh meskipun dalam penerapannya berbeda dalam
putusan pengadilan satu dengan pengadilan agama lainnya. Sehingga sampai sekarang
sumber hukum acara Peradilan Agama di Indonesia sama dengan Peradilan Umum yang
berlaku.
Ketentuan hukum acara Peradilan Agama mulai ada sejak lahirnya UU No. 1 Tahun 1974
tentang Perwawinan jo. PP No. 9 Tahun 1975 tentang peraturan pelaksanaannya. Baru
berlaku sejak diterbitkannya UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang di
dalamnya mengatur Susunan dan Kekuasaan Peradilan Agama, serta hukum acara yang
berlaku di lingkungan Peradilan Agama.
Hukum Acara Peradilan Umum untuk daerah Jawa-Madura adalah Herziene Inlandsch
Reglement (HIR), di luar Jawa-Madura Rechtsreglement Voor De Buitengewesten
(R.Bg), maka kedua aturan ini diberlakukan di lingkungan Peradilan Agama, kecuali hal-
hal yang diatur secara khusus dalam UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.
Misalnya pembebanan biaya perkara pada pemohon/penggugat dengan alasan syiqaq,
li’an dan ketentuan lainnya. Adapun sumber hukum acara yang berlaku di Peradilan
Agama ataupun Peradilan Umum antara lain:

1. Reglement op de Burgerlijk Rechtsvordering (R.Bv)


Hukum acara ini diperuntukkan golongan Eropa yang berperkara dihadapan Raad van
Justitie dan Residentie Gerecht. Ketentuan ini ditetapkan dengan Stbl. 1847 No. 52 dan
Stbl. 1849 No. 63 yang berlaku sejak tanggal 01 Mei 1848.
Dengan dihapuskannya Raad van Justitie dan Hoorgerechtshof, maka B.Rv yang ini
sudah tidak berlaku lagi. Akan tetapi banyak hal dalam B.Rv yang masih relevan dengan
perkembangan hukum serta untuk mengisi kekosongan hukum, maka ketentuan dalam
B.Rv masih banyak dipakai dalam pelaksanaan hukum acara di lingkungan Peradilan
Umum. Seperti formulasi surat gugatan, perubahan surat gugat, intervensi dan lainnya.

2. Inlandsch Reglement (IR)


Ketentuan hukum acara ini digunakan bagi golongan Bumiputera dan Timur Asing yang
menduduki wilayah Jawa dan Madura. Setelah beberapa kali perubahan dan penambahan
ketentuan hukum acara ini diubah menjadi Herziene Inlandsch Reglement (HIR) atau
disebut juga Reglement Indonesia yang diberlakukan dengan Stbl. 1848 No. 16 dan Stbl.
1941 No. 44.

3. Voor De Buitengewesten (R.Bg)


Ketentuan hukum acara ini digunakan bagi golongan Bumiputera dan Timur Asing yang
menduduki wilayah di luar Jawa dan Madura yang berperkara dihadapan landraad. R.Bg
ini ditetapkan berdasarkan Ordonasi tanggal 11 Mei 1927 dan berlaku berdasarkan Stbl.
1927 tanggal 01 Juli 1927 yang dikenal dengan “Reglement Daerah Seberang”.

4. Burgerlijk Wetboek Voor Indonesia (BW)


Dalam bahasa Indonesia disebut dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, terdapat
juga sumber Hukum Acara Perdata khususnya buku IV tentang Pembuktian (pasal 1865
s/d 1993).

5. Wetboek van Koophandel (WvK)


WvK dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Kitab Undang-Undang Hukum Dagang,
terdapat juga sumber Hukum Acara Perdata sebagai sumber penerapan acara dalam
praktek peradilan.
WvK ini diberlakukan dengan Stbl. 1847 No. 23 kaitannya dengan Hukum Acara Perdata
diatur dalam Failissements Verordering (aturan kepailitan) yang diatur dalam Stbl. 1906
No. 348.

6. Peraturan Perundang-Undangan:
a. Undang-Undang No. 20 Tahun 1947 tentang Acara Perdata dalam hal banding bagi
Pengadilan Tinggi di Jawa, Madura sedangkan untuk di luar daerah Jawa/Madura diatur
dalam Pasal 199-205 R.Bg;
b. Undang-Undang No. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan
Kehakiman yang telah diubah menjadi UU No. 35 Tahun 1999 dan diubah lagi dengan
UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman;
c. Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung RI yang telah diubah
dengan UU No. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung, yang memuat tentang Acara
Perdata dan hal-hal yang berhubungan dengan asasi dalam proses berperkara di
mahkamah Agung RI;
d. Undang-Undang No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum. Dalam UU ini diatur
tentang Susunan dan Kekuasaan Peradilan di lingkungan Peradilan Umum serta prosedur
beracara di lingkungan Peradilan Umum;
e. Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan PP No. 9 Tahun 1975
tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan tersebut;
f. Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Pada pasal 54
dikemukakan bahwa hukum acara yang berlaku di lingkungan Peradilan Agama adalah
sama dengan acara perdata yang berlaku di lingkungan Peradilan Umum, kecuali
ketentuan-ketentuan khusus yang telah diatur dalam Undang-Undang tersebut;
g. Inpres No. 1 Tahun 1991 tentang Instruksi Pemasyarakatan Kompilasi Hukum Islam
yang terdiri atas 3 buku, yaitu hukum perkawinan, kewarisan dan perwakafan.

7. Yurisprudensi
Dalam kamus Fockema Andrea sebagaimana dikutip Lilik Priyadi, SH. (1998: 14)
dikemukakan bahwa:
Yurisprudensi adalah pengumpulan yang sistematis dari Keputusan Mahkamah Agung
dan keputusan pengadilan Tinggi yang diikuti oleh hakim lain dalam memberikan
keputusan sosial yang sama.

Hakim tidak boleh terikat pada putusan yurisprudensi tersebut, sebab negara Indonesia
tidak menganut asas “the binding force of precedent”, jadi bebas memilih antara
meninggalkan yurisprudensi dan memakai dalam suatu perkara yang sejenis yang telah
mendapat putusan sebelumnya.

8. Surat Edaran Mahkamah Agung RI


Sepanjang Surat Edaran dan Instruksi mahkamah Agung menyangkut Hukum Acara
Perdata dan Hukum Perdata Materiil, maka dapat dijadikan sumber hukum acara dalam
praktek Peradilan Agama terhadap suatu perkara yang dihadapi oleh hakim.
Kewenangan Mahkamah Agung dalam hal ini disebutkan dalam Undang-Undang No. 4
tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, bahwa Mahkamah Agung RI berhak
melakukan pengawasan atas perbuatan pengadilan yang berada di bawahnya berdasarkan
ketentuan Undang-Undang.

9. Doktrin dan Ilmu Pengetahuan Hukum


Doktrin atau Ilmu Pengetahuan Hukum merupakan hukum acara juga, hakim dapat
mengadili Hukum Acara Perdata. Doktrin merupakan pendapat para sarjana hukum yang
dapat dijadikan sumber hukum dalam lingkungan peradilan. Doktrin bukanlah hukum,
melainkan sumber hukum.
Sebelum berlakunya Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama,
doktrin banyak dipakai hakim Peradilan Agama dalam memeriksa dan mengadili suatu
perkara, terutama ilmu pengetahuan hukum yang tersebut dalam kitab-kitab fiqh.

Berdasarkan Surat Edaran Biro Peradilan Agama Departemen Agama No. B/1/1735
tanggal 18 Februari 1958 sebagai pelaksana Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 1957
tentang Pembentukan Pengadilan Agama di luar Jawa dan Madura dikemukakan bahwa
untuk mendapatkan kesatuan hukum dalam memeriksa dan memutuskan suatu perkara,
maka para hakim agama dianjurkan untuk merujuk kepada kitab-kitab fiqh yang telah
disebut di atas sebagai pedoman dalam mengadili dan menyelesaikan perkara yang
diajukan pada lingkungan peradilan Agama.
Dengan melihat begitu Sumber Hukum Acara Peradilan Agama, nampak kini bahwa
dalam beracara di muka Peradilan Agama tidak semudah apa yang dibayangkan, bahkan
lebih sulit beracara di muka Peradilan Umum. Seseorang harus memahami secara benar
dan baik hukum acara yang termuat dalam Undang-Undang No. 7 tahun 1989 sebagai
Ketentuan Khusus. Selanjutnya orang harus memahami dan mengerti pula terhadap
aturan-aturan Hukum Acara Perdata yang digunakan di muka Peradilan Umum sebagai
Ketentuan Umumnya. Selain itu harus memahami bgaiamana cara mewujudkan hukum
maretial Islam melalui hukum proses Islam.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
- Sebelum Tahun 1991 M yaitu sebelum lahirnya Kompilasi Hukum Islam (KHI ),
Hukum Materiil Peradilan Agama merupakan hukum yang tidak tertulis, karena masih
berserakan di berbagai kitab-kitab fiqh yang disebutkan sebanyak 13 kitab pada tahun
1958. (Al-Bajuri, Fatkhul Mu’in, Syarqawi Alat Tahrir, Qalyubi wa Umairah/Al-Mahalli,
Fatkhul Wahhab, Tuhfah, Taghrib Al-Mustaq, Qawanin Syari’ah Li Sayyid bin Yahya,
Qawanin Syari’ah Li Sayyid Shodaqah, Syamsuri lil Fara’id, Bughyatul Musytarsydin,
Al-Fiqh al-Mazahib Al-Abra’ah dan Mughni Al-Muhtaj);
- Sebagaimana hukum materiil, demikian pula hukum formil. Sebelum lahirnya Undang-
Undang No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama, Hukum Acara Peradilan Agama
masih mengambil dari kitab-kitab fiqh, karena kemungkinan adanya perbedaan dalam
penerapan antara satu pengadilan dengan pengadilan lain;
- Hukum Acara yang berlaku di Peradilan Agama adalah Hukum Acara yang berlaku di
Peradilan Umum, yaitu HIR dan R.Bg., kecuali hal-hal yang diatur dalam Undang-
Undang No. 7 Tahun 1989 tentang peradilan Agama dan Undang-Undang No. 3 Tahun
2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan
Agama.

B. Saran
- Melihat begitu kompleks permasalahan umat mengenai perkara yang dibawah
kewenangan Peradilan Agama, maka sumber hukumnya haruslah jelas dan terperinci
(tertulis). Karena sumber hukum tidak tertulis tidak mempunyai kekuatan autentik dan
bersifat lemah dihadapan peradilan manapun;
- Sebaiknya segera diamandemen dalam arti disesuaikan aantara Peraturan Perundang-
Undangan yang sudah lama dan tidak relevan lagi/tidak sesuai dengan permasalahan
yang terjadi di masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Bahan Penyuluhan Hukum, Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan
Kompilasi Hukum Islam. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan
Penyelenggaraan Haji. Departemen Agama RI Tahun 2001.
Djalil, Basiq. Peradilan Agama di Indonesia, Gemuruhnya Politik Hukum (Hk. Islam,
Hk. Barat dan Hk. Adat) dalam Rentang Sejarah bersama pasang surut Lembaga
Peradilan Agama hingga lahirnya peradilan Syari’at Islam Aceh, Kencana Prenada Media
Group: Jakarta, 2006.
Kansil., c.s.t., Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum di Indonesia, Balai Pustaka:
Jakarta, 1982.
Rasyid, A. Roihan, Hukum Acara Peradilan Agama, Radja Grafindo Persada: Jakarta,
2003.
Sanusi, Achmad., Rangkaian Sari Kuliah Pengantar Ilmu Hukum dan Pengantar Tata
Hukum Indonesia, PT. Tarsit: Bandung, 1977.
Soedikno, Mertokusumo, Hukum Acara Perdata di Indonesia, Liberty: Yogyakarta, 1988
Subekti, Hukum Acara Perdata, Bina Cipta: Bandung, 1977.
________, Undang-Undang RI No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-
Undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-makalah-
tentang/sumber-hukum-peradilan-agama

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hak untuk hidup adalah hak asasi yang paling dasar bagi seluruh manusia. Hak hidup
merupakan bagian dari hak asasi yang memiliki sifat tidak dapat ditawar lagi (non
derogable rights). Artinya, hak ini mutlak harus dimiliki setiap orang, karena tanpa
adanya hak untuk hidup, maka tidak ada hak-hak asasi lainnya. Hak tersebut juga
menandakan setiap orang memiliki hak untuk hidup dan tidak ada orang lain yang berhak
untuk mengambil hak hidupnya.
Dalam hal ini terdapat beberapa pengecualian seperti untuk tujuan penegakan hukum,
sebagaimana yang diatur juga dalam Article 2 European Convention on Human Rights
yang menyatakan :
protection the right of every person to their life. The article contains exceptions for the
cases of lawful executions, and deaths as a result of "the use of force which is no more
than absolutely necessary" in defending one's self or others, arresting a suspect or
fugitive, and suppressing riots or insurrections.
Pengecualian terhadap penghilangan hak hidup tidak mencakup pada penghilangan hak
hidup seseorang oleh orang lainnya tanpa ada alas hak yang berdasarkan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku. Salah satu contoh penghilangan hak hidup tanpa alas
hak adalah pembunuhan melalui aksi teror. Aksi teror jelas telah melecehkan nilai
kemanusiaan, martabat, dan norma agama. Teror juga telah menunjukan gerakannya
sebagai tragedi atas hak asasi manusia.
Terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban serta merupakan
salah satu ancaman serius terhadap kedaulatan setiap negara karena terorisme sudah
merupakan kejahatan yang bersifat internasional yang menimbulkan bahaya terhadap
keamanan, perdamaian dunia
serta merugikan kesejahteraan masyarakat sehingga perlu dilakukan pemberantasan
secara berencana dan berkesinambungan sehingga hak asasi orang banyak dapat
dilindungi dan dijunjung tinggi. Pernyataan tersebut sejalan dengan tujuan bangsa
Indonesia yang termaktub dalam Undang-undang Dasar 1945 yaitu melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban
dunia.
Aksi terorisme di Indonesia mencuat ke permukaan setelah terjadinya Bom Bali I pada 12
Oktober 2002, Peristiwa ini tepatnya terjadi di Sari Club dan Peddy’s Club, Kuta, Bali.
Sebelumnya, tercatat juga beberapa aksi teror di Indonesia antara lain kasus Bom Istiqlal
pada 19 April 1999, Bom Malam Natal pada 24 Desember 2000 yang terjadi di dua puluh
tiga gereja, Bom di Bursa Efek Jakarta pada September 2000, serta penyanderaan dan
pendudukan Perusahaan Mobil Oil oleh Gerakan Aceh Merdeka pada tahun yang sama.
Kembali pada kasus Bom Bali I. Aksi teror melalui peledakan bom mobil di Jalan Raya
Legian Kuta ini semula direncanakan dilaksanakan pada 11 September 2002, bertepatan
dengan peringatan setahun tragedi di Gedung World Trade Center New York, Amerika
Serikat. Seperti diketahui, peristiwa 11 September 2002 ini mengawali “Perang Global”
terhadap terorisme yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Kebijakan Amerika Serikat yang
berat sebelah seperti pemunculan jargon “Jihad adalah Terorisme” dalam memerangi
terorisme telah menjadi alasan beberapa kelompok teroris untuk melakukan perlawanan,
salah satunya dilakukan oleh Ali Imron, Ali Gufron, dan Amrozi.
Indonesia sebagai negara hukum (rechtstaat) memiliki kewajiban untuk melindungi
harkat dan martabat manusia. Demikian pula dalam hal perlindungan warga negara dari
tindakan terorisme. Salah satu bentuk perlindungan negara terhadap warganya dari
tindakan atau aksi terorisme adalah melalui penegakan hukum, termasuk di dalamnya
upaya menciptakan produk hukum yang sesuai.
Upaya ini diwujudkan pemerintah dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002, yang kemudian disetujui oleh DPR menjadi
Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Terorisme. Diperlukannya undang-undang ini karena pemerintah menyadari tindak
pidana terorisme merupakan suatu tindak pidana yang luar biasa (extraordinary crime),
sehingga membutuhkan penanganan yang luar biasa juga (extraordinary measures).7
Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 ini selain mengatur aspek materil juga mengatur
aspek formil. Sehingga, undang-undang ini merupakan undang-undang khusus (lex
specialis) dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Kitab Undang-undang Hukum
Acara Pidana. Dengan adanya undang-undang ini diharapkan penyelesaian perkara
pidana yang terkait dengan terorisme dari aspek materil maupun formil dapat segera
dilakukan.
Pada sebuah proses penyelesaian perkara pidana, proses pembuktian merupakan suatu
proses pencarian kebenaran materiil atas suatu peristiwa pidana. Hal ini berbeda jika
dibandingkan proses penyelesaian perkara perdata yang merupakan proses pencarian
kebenaran formil. Proses pembuktian sendiri merupakan bagian terpenting dari
keseluruhan proses pemeriksaan persidangan.
Hukum acara pidana di dalam bidang pembuktian mengenal adanya Alat Bukti dan
Barang Bukti, di mana keduanya dipergunakan di dalam persidangan untuk membuktikan
tindak pidana yang didakwakan terhadap terdakwa. Alat bukti yang sah untuk diajukan di
depan persidangan, seperti yang diatur Pasal 184 Undang-undang Nomor 8 tahun 1981
Tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP)8 adalah :
a. keterangan saksi
b. keterangan ahli
c. surat
d. petunjuk
e. keterangan terdakwa
Pada perkembangannya, alat bukti sebagaimana yang diatur dalam KUHAP tidak lagi
dapat mengakomodir perkembangan teknologi informasi, hal ini menimbulkan
permasalahan baru. Salah satu masalah yang muncul akibat perkembangan teknologi
informasi adalah lahirnya suatu bentuk kejahatan baru yang sering disebut dengan
cybercrime, dalam istilah yang digunakan oleh Barda Nawawi Arief disebut dengan
tindak pidana mayantara.9 Secara garis besar cybercrime terdiri dari dua jenis, yaitu
kejahatan yang menggunakan teknologi informasi (TI) sebagai fasilitas dan kejahatan
yang menjadikan sistem dan fasilitas TI sebagai sasaran.
Perkembangan teknologi dan perkembangan hukum telah menyebabkan tergesernya
bentuk media cetak menjadi bentuk media digital (paper less). Perlu diperhatikan dalam
kejahatan dengan menggunakan komputer, bukti yang akan mengarahkan suatu peristiwa
pidana adalah berupa data elektronik, baik yang berada di dalam komputer itu sendiri
(hardisk/floppy disc) atau yang merupakan hasil print out, atau dalam bentuk lain berupa
jejak (path) dari suatu aktivitas pengguna komputer.
Tentu saja upaya penegakan hukum tidak boleh terhenti dengan ketidakadaan hukum
yang mengatur penggunaan barang bukti maupun alat bukti berupa informasi elektronik
di dalam penyelesaian suatu peristiwa hukum. Selain itu, proses mengajukan dan proses
pembuktian alat bukti yang berupa data digital perlu pembahasan tersendiri mengingat
alat bukti dalam bentuk informasi elektronik ini serta berkas acara pemeriksaan telah
melalui proses digitalisasi dengan proses pengetikan (typing), pemeriksaan (editing), dan
penyimpanan (storing) dengan menggunakan komputer. Namun, hasilnya tetap saja
dicetak di atas kertas (printing process). Dengan demikian, diperlukan kejelasan
bagaimana mengajukan dan melakukan proses pembuktian terhadap alat bukti yang
berupa data digital.
Proses pembuktian suatu alat bukti yang berupa data digital ini juga menyangkut aspek
validasi data digital yang dijadikan alat bukti tersebut. Aspek lain terkait adalah masalah
menghadirkan alat bukti tersebut, apakah dihadirkan cukup dengan perangkat lunaknya
(software) ataukah harus dengan perangkat kerasnya (hardware).
Sebagaimana telah dijelaskan terlebih dahulu, bukti digital tidak dikenal dalam Hukum
Acara Pidana Umum (KUHAP). Namun, untuk beberapa perbuatan hukum tertentu, bukti
digital dikenal dan pengaturannya tersebar pada beberapa peraturan perundang-undangan
seperti Undang-undang Tentang Dokumen Perusahaan, Undang-undang Tentang Tindak
Pidana Pencucian Uang, Undang-undang Tentang Kearsipan, Undang-undang Tentang
Tindak Pidana Korupsi, dan Undang-undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Terorisme yang menjadi fokus penulisan ini.
Sebagai lex specialis, Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 memiliki kekhususan
secara formil dibandingkan KUHAP. Salah satu kekhususan tersebut yang menjadi fokus
dalam penulisan ini adalah terkait penggunaan alat bukti yang merupakan pembaharuan
proses pembuktian konvensional dalam KUHAP. Pengaturan mengenai alat bukti pada
Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tersebut terlihat dalam Pasal 27, yaitu sebagai
berikut.
Alat bukti pemeriksaan tindak pidana terorisme meliputi :
1. alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana;
2. alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan
secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan
3. data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang dapat
dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas,
benda fisik apapun selain kertas, atau yang terekam secara elektronik, termasuk tetapi
tidak terbatas pada :
1) tulisan, suara, atau gambar;
2) peta, rancangan, foto, atau sejenisnya;
3) huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami
oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya.12
Alat bukti yang diatur dalam Pasal 27 ayat (2) dan (3) Undang-undang Nomor 15 Tahun
2003 tersebut berdasarkan KUHAP tidak diakui sebagai alat bukti, tetapi berdasarkan
doktrin (ilmu hukum) dikategorikan sebagai Barang Bukti yang berfungsi sebagai data
penunjang bagi alat bukti.13 Akan tetapi dengan adanya Undang-undang Nomor 15
Tahun 2003 ini, kedua alat bukti tersebut dapat digunakan sebagai alat bukti yang sah dan
mengikat serta memiliki kekuatan pembuktian sama dengan alat bukti yang diatur dalam
KUHAP.
Meskipun demikian, prinsip lex specialis derogat legi generalis tetap berlaku. Dengan
penafsiran secara a contrario, dapat diartikan hal yang tidak diatur dalam ketentuan
khusus, dalam hal ini Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003, berlakulah ketentuan
umum, dalam hal ini KUHAP.
Penelitian ini bertolak dari permasalahan penggunaan bukti digital (digital evidence)
sebagai alat bukti tindak pidana terorisme di Indonesia. Objek dari penelitian ini adalah
Source Code atau Kode Sumber sebuah website yang merupakan media informasi teroris,
yaitu website Al-Anshar dengan alamat di http : //www.X. Dipilihnya kode sumber
sebagai objek penelitian dikarenakan kode sumber adalah tampilan yang paling orisinal
dari sebuah website. Segala tampilan yang ramah pengguna atau user friendly interface
dari sebuah website dibangun dari baris kalimat pada kode sumber website tersebut.
Sehingga apabila tampilan dari suatu website mengandung substansi yang merupakan
upaya terorisme, maka harus dilihat dari kode sumber website tersebut. Selain itu, dari
website tersebut kode sumber lah yang paling mungkin dijadikan alat bukti.
Situs www.X yang diduga dibuat oleh Agung Setyadi, dosen salah satu perguruan tinggi
di Semarang, dan
M. Agung Prabowo Max Fiderman alias Kalingga alias Maxhaser, mahasiswa salah satu
universitas di kota itu, dipakai untuk menyampaikan informasi terorisme atas pesanan
Noordin M. Top sebagai media informasi perjuangannya.
Isi dari informasi para teroris itu seputar materi-materi Tauziah Syaikh Mukhlas, Tauhid,
Jihad, Wacana, Islamiah dan Askariah. Antara lain mengajarkan penyerangan dengan
cara memanfaatkan antrean di jalan atau pintu masuk masuk atau keluar kantor, pusat
perbelanjaan, hiburan, olahraga, hotel dan tempat pameran. Sejumlah lokasi, seperti
Ancol, Planet Hollywood dan Jakarta Hilton Convention Center (JHCC) serta Senayan
Golf Driving Range.
Kasus tersebut saat ini tengah dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri Semarang
dengan Nomor Perkara 84/PID/B/2007 PN SMG. Hingga saat penelitian ini disusun,
kasus tersebut telah mencapai tahap pembelaan (pledoi).
Untuk selanjutnya, pembahasan penelitian ini akan menjelaskan bagaimana kode sumber
dari sebuah website dapat dijadikan alat bukti. Penjelasan tersebut akan dikaitkan dengan
peraturan perundang-undangan di Indonesia yang memungkinkan penggunaan alat bukti
digital dalam persidangan, khususnya Undang-undang Tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Terorisme. Selain itu dari penelitian ini akan terlihat sikap aparat penegak hukum,
khususnya hakim dalam mempergunakan alat bukti yang ada.

B. Pokok Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, dapat diambil tiga pokok
masalah, yaitu :
1. Bagaimana pengaturan penggunaan alat bukti berupa informasi elektronik dalam
Hukum Acara Pidana di Indonesia ?
2. Dapatkah sebuah kode sumber website dijadikan alat bukti di persidangan berdasarkan
Pasal 27 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Terorisme ?
3. Bagaimana dalam prakteknya penerapan ketentuan Hukum Acara Pidana Terhadap
Informasi Elektronik (Source Code Website) di dalam Peristiwa Tindak Pidana
Terorisme pada Kasus Website X ?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penulisan ini dibagi menjadi dua, yaitu tujuan penulisan secara umum dan tujuan
penulisan secara khusus, adapun tujuannya sebagai berikut.
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah memberikan gambaran penggunaan informasi
elektronik sebagai alat bukti dalam acara pembuktian pada Hukum Acara Pidana di
Indonesia. Hal ini untuk mengakomodir semakin canggihnya tindak pidana yang
menggunakan teknologi informasi, seperti cyberterrorism.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Mengetahui pengaturan penggunaan bukti digital dalam peraturan perundang-
undangan di Indonesia, khususnya undang-undang terkait hukum pidana.
b. Mengetahui bagaimana sebuah kode sumber dijadikan alat bukti dalam tindak pidana
terorisme berdasarkan Pasal 27 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
c. Mengetahui penerapan bukti digital di dalam praktek persidangan terkait kasus website
www.X.

D. Definisi Operasional
Dalam penulisan penelitian Kode Sumber (Source Code) Website Sebagai Alat Bukti di
dalam Tindak Pidana Terorisme di Indonesia (Studi Kasus terhadap Website Al-X) ini
akan banyak digunakan istilah dalam bidang hukum dan bidang komputer. Untuk
menghindari kesimpangsiuran pengertian mengenai istilah yang dipakai dalam penulisan
ini, berikut dijelaskan definisi operasional dari istilah tersebut :
Kode Sumber (Source Code) adalah :
The nonmachine language used by a computer programmer to create a program. Source
code (commonly just source or code) is any series of statements written in some human-
readable computer programming language.
Terjemahan bebasnya adalah : Bahasa non-mesin yang digunakan oleh programer untuk
menyusun suatu program. Kode sumber adalah serangkaian pernyataan yang ditulis
dalam bahasa program yang dipahami manusia.
Website adalah :
A website (or Web site) is a collection of web pages. A web page is a document, typically
written in HTML, that is almost always accessible via HTTP, a protocol that transfers
information from the website's server to display in the user's web browser.
Terjemahan bebasnya adalah. Website (atau Web Site) sebuah kumpulan dari halaman
web. Halaman web adalah sebuah dokumen yang biasanya ditulis dalam Hyper Text
Markup Language (HTML) yang dapat diakses melalui protokol Hyper Text Transfer
Protocol (HTTP) yang merupakan protokol untuk menyampaikan informasi dari sebuah
pusat website untuk ditampilkan dihadapan pengguna program pembaca website.
Terorisme adalah : The use or threat of violance to intimidate or cause panic, esp. as a
means of affecting political conduct.19 Terjemahan bebasnya adalah, penggunaan atau
upaya kekerasan untuk mengintimidasi atau menyebabkan kepanikan, khususnya dengan
membawa dampak politik.
Tindak Pidana Terorisme adalah, segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak
pidana sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
ini.20
Bukti Digital adalah :
bukti yang di dapat dari kejahatan yang menggunakan komputer untuk mengarahkan
suatu peristiwa pidana berupa data-data elektronik baik yang berada di dalam komputer
itu sendiri (hard disk/floopy disk) atau yang merupakan hasil print out, atau dalam bentuk
lain berupa jejak (path) dari suatu aktivitas penggunaan komputer.21
Informasi Elektronik adalah :
Informasi elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik diantaranya meliputi
teks, simbol, gambar, tanda-tanda, isyarat, tulisan, suara, bunyi, dan bentuk-bentuk
lainnya yang telah diolah sehingga mempunyai arti.22
Alat bukti adalah alat bukti yang terdapat dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP yaitu
keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa.23
Pembuktian adalah :
ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang tata cara yang
dibenarkan undang-undang untuk membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada
terdakwa.24
Hukum Pidana adalah :
keseluruhan dari peraturan-peraturan yang menentukan perbuatan-perbuatan apa yang
dilarang dan barangsiapa yang melanggar peraturan-peraturan itu diancam dengan suatu
sanksi berupa pidana.25

E. Metode Penelitian
Penelitian merupakan penelitian yang berdasarkan studi kepustakaan yang bersifat
yuridis-normatif, artinya penelitian hanya dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka
atau data sekunder yang bersifat hukum.26 Oleh karena itu, data yang digunakan adalah
data sekunder yang didapatkan melalui studi dokumen.
Berkaitan dengan data yang digunakan, bahan hukum yang digunakan dalam penelitian
ini meliputi bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Bahan hukum primer yang
digunakan, peraturan perundang-undangan seperti Kitab Undang-undang Hukum Acara
Pidana, dan Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Selanjutnya,
bahan hukum sekunder yang merupakan bahan hukum yang paling banyak digunakan
dalam penelitian ini, meliputi buku, artikel ilmiah, jurnal online dari Pusat Data West
Law, dan makalah terkait. Bahan hukum tersier yang digunakan antara lain kamus
Hukum Black’s Law Dictionary dan ensiklopedia online, antara lain wikipedia dan
Encarta.
Tipologi penelitian yang digunakan dalam pembuatan laporan penelitian ini adalah
penelitian berfokus masalah, yaitu suatu penelitian yang mengaitkan penelitian murni
dengan penelitian terapan.27 Dalam penelitian ini dijelaskan mengenai dasar teori
pembuktian dan teori alat bukti sebagai ilmu murni dari hukum acara pidana dikaitkan
dengan penerapan alat bukti berupa informasi elektronik dalam proses beracaranya.
Penelitian ini juga merupakan penelitian yang dilakukan secara mono-disipliner, artinya
laporan penelitian ini hanya didasarkan pada satu disiplin ilmu, yaitu ilmu hukum.
Selanjutnya, metode analisis data yang digunakan adalah metode kualitatif.

F. Sistematika Penulisan
Penelitian hukum ini terdiri dari lima bab. Pada bab pertama akan dijabarkan mengenai
latar belakang dilakukannya penelitian, tiga pokok permasalahan dari penelitian, tujuan
dari penelitian ini baik tujuan umum maupun tujuan khusus, kemudian dijelaskan pula
mengenai kerangka konsepsional yang berisi definisi operasional dari istilah dalam
penelitian ini, serta metode penelitian.
Pada bab kedua dari penelitian ini akan dijabarkan mengenai pengertian tindak pidana
terorsime yang meliputi pembahasan mengenai unsur tindak pidana dan subjek dalam
tindak pidana, kemudian membahas bagaimana penerapan perumusan unsur tindak
pidana dan subjek pidana dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003. Untuk
memperkaya pembahasan, dalam bab ini juga akan dibahas bagaimana pengaturan dan
perumusan tindak pidana terorisme dibeberapa negara, antara lain di Australia dan
Amerika Serikat. Pembahasan selanjutnya mengenai terorisme pada perkembangannya;
mencakup pembahasan mengenai cyberterrorism serta terorisme berbasis teknologi
informasi.
Sub bab terakhir dari bab dua ini adalah pembahasan hukum acara dalam Undang-undang
Nomor 15 Tahun 2003, yang meliputi pembahasan Proses Penyelidikan, Penyidikan, dan
Upaya Paksa Penangkapan, Penahanan, Penggeledahan, dan Penyitaan dalam Tindak
Pidana Terorisme. Dalam sub-bab ini juga dibahas mengenai beban pembuktian, sistem
pembuktian, dan alat bukti yang digunakan dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun
2003.
Bab tiga penelitian ini memiliki fokus pada pembahasan teknis, yaitu pembahasan
mengenai kode sumber, yang meliputi pembahasan mengenai macam bahasa
pemerograman pada pembuatan website, pembahasan mengenai media penyimpanan
(storage) sebuah website pada perusahaan webhosting (webhosting compay). Dalam bab
ini juga akan dijabarkan mengenai bukti digital, yang akan menjelaskan definisi dari
bukti digital, serta bagaimana cara melakukan otentifikasi terhadap bukti digital.
Selanjutnya, pembahasan terakhir pada bab tiga adalah mengenai kode sumber yang
dijadikan bukti digital.
Bab empat berisi analisis mengenai alat bukti dalam tindak pidana terorisme terhadap
penggunaan kode sumber sebagai alat bukti berupa informasi elektronik dalam kasus
website alX. Pada bab ini akan dilihat bagaimana penerapan kode sumber sebagai alat
bukti berupa informasi elektronik dalam tindak pidana terorisme dikuatkan oleh
keterangan ahli, sebagai alat bukti, dan keterangan saksi dalam kaitan dengan alat bukti
berupa informasi elektronik.
Bab lima merupakan bab terakhir dalam penulisan ini. Bab lima merupakan penutup
penulisan yang berisi simpulan dari keseluruhan penelitian ini. Selain berisi simpulan,
bab lima juga berisi saran yang diberikan oleh penulis terkait penyelesaian perakara
pidana terorisme, khususnya terorisme yang melibatkan aspek Informasi Teknologi.

http://gudangmakalah.blogspot.com/2009/08/skripsi-kode-sumber-
website-sebagai.html

Hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum hukum Eropa, hukum
Agama dan hukum Adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun
pidana, berbasis pada hukum Eropa kontinental, khususnya dari Belanda karena aspek
sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia
Belanda (Nederlandsch-Indie). Hukum Agama, karena sebagian besar masyarakat
Indonesia menganut Islam, maka dominasi hukum atau Syari'at Islam lebih banyak
terutama di bidang perkawinan, kekeluargaan dan warisan. Selain itu, di Indonesia juga
berlaku sistem hukum Adat, yang merupakan penerusan dari aturan-aturan setempat dari
masyarakat dan budaya-budaya yang ada di wilayah Nusantara.

Langkah-langkah yang harus dilakukan


Pemohon (Suami) atau Kuasanya:
1. a. Mengajukan permohonan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama
Sentani (Pasal 118 HIR jo Pasal 66 UU No. 7 Tahun 1989);
b. Pemohon dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada Pengadilan Agama Sentani
tentang tata cara membuat surat permohonan (Pasal 119 HIR jo. Pasal 58 UU No. 7
Tahun 1989);
c. Surat permohonan dapat dirubah sepanjang tidak merubah posita dan petitum. Jika
Termohon telah menjawab surat permohonan ternyata ada perubahan, maka perubahan
tersebut harus atas persetujuan Termohon.
2. Permohonan tersebut diajukan kepada Pengadilan Agama :
a. Yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Termohon (Pasal 66 ayat (2) UU
No. 7 Tahun 1989);
b. Bila Termohon meninggalkan tempat kediaman yang telah disepakati bersama tanpa
izin Pemohon, maka permohonan harus diajukan kepada pengadilan agama yang daerah
hukumnya meliputi tempat kediaman Pemohon (Pasal 66 ayat (2) UU No. 7 Tahun
1989);
c. Bila Termohon berkediaman di luar negeri, maka permohonan diajukan kepada
pengadilan agama yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Pemohon (Pasal 66
ayat (3) UU No. 7 Tahun 1989);
d. Bila Pemohon dan Termohon bertempat kediaman di luar negeri, maka permohonan
diajukan kepada pengadilan agama yang daerah hukumnya meliputi tempat
dilangsungkannya perkawinan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat (Pasal 66
ayat (4) UU No. 7 Tahun 1989).
3. Permohonan tersebut memuat :
a. Nama, umur, pekerjaan, agama dan tempat kediaman Pemohon dan Termohon;
b. Posita (fakta kejadian dan fakta hukum);
c. Petitum (hal-hal yang dituntut berdasarkan posita).
4. Permohonan soal penguasan anak, nafkah anak, nafkah istri dan harta bersama dapat
diajukan bersama-sama dengan permohonan cerai talak atau sesudah ikrar talak
diucapkan (Pasal 66 ayat (5) UU No. 7 Tahun 1989).
5. Membayar biaya perkara (Pasal 121 ayat (4) HIR Jo Pasal 89 UU No. 7 Tahun 1989),
bagi yang tidak mampu dapat berperkara secara cuma-cuma (prodeo) (Pasal 237 HIR).
Proses Penyelesaian Perkara
1. Pemohon mendaftarkan permohonan cerai talak ke Pengadilan Agama Sentani.
2. Pemohon dan Termohon dipanggil oleh pengadilan agama untuk menghadiri
persidangan.
3. Tahapan persidangan :
a. Pada pemeriksaan sidang pertama, hakim berusaha mendamaikan kedua belah pihak,
dan suami istri harus dating secara pribadi (Pasal 82 UU No. 7 Tahun 1989);
b. Apabila tidak berhasil, maka hakim mewajibkan kepada kedua belah pihak agar lebih
dahulu menempuh mediasi (Pasal 3 ayat (1) PERMA No. 2 Tahun 2003);
c. Apabila mediasi tidak berhasil, maka pemeriksaan perkara dilanjutkan dengan
membacakan surat permohonan, jawaban, jawab menjawab, pembuktian dan kesimpulan.
Dalam tahap jawab menjawab (sebelum pembuktian) Termohon dapat mengajukan
gugatan rekonvensi (gugat balik) (Pasal 132 a HIR);
Putusan pengadilan agama atas permohonan cerai talak sebagai berikut :
a. Permohonan dikabulkan. Apabila Termohon tidak puas dapat mengajukan banding ke
Pengadilan Tinggi Agama Bandung melalui Pengadilan Agama Sentani ;
b. Permohonan ditolak. Pemohon dapat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi
Agama Bandung melalui Pengadilan Agama Sentani ;
c. Permohonan tidak diterima. Pemohon dapat mengajukan permohonan baru.
4. Apabila permohonan dikabulkan dan putusan telah memperoleh kekuatan hukum tetap,
maka :
a. Pengadilan Agama Sentani menentukan hari sidang penyaksian ikrar talak;
b. Pengadilan Agama Sentani memanggil Pemohon dan Termohon untuk melaksanakan
ikrar talak;
c. Jika dalam tenggang waktu 6 (enam) bulan sejak ditetapkan sidang penyaksian ikrar
talak, suami atau kuasanya tidak melaksanakan ikrar talak di depan sidang , maka
gugurlah kekuatan hukum penetapan tersebut dan perceraian tidak dapat diajukan lagi
berdasarkan alasan hukum yang sama (Pasal 70 ayat (6) UU No. 7 Tahun 1989).
5. Setelah ikrar talak diucapkan panitera berkewajiban memberikan Akta Cerai sebagai
surat bukti kepada kedua belah pihak selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah
penetapan ikrar talak (Pasal 84 ayat (4) UU No. 7 Tahun 1989);
Langkah-langkah yang harus dilakukan Penggugat (Istri) atau kuasanya :
1. a. Mengajukan gugatan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama Sentani
(Pasal 118 HIR jo Pasal 73 UU No. 7 Tahun 1989);
b. Penggugat dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada Pengadilan Agama Sentani
tentang tata cara membuat surat gugatan (Pasal 118 HIR jo. Pasal 58 UU No. 7 Tahun
1989);
c. Surat gugatan dapat dirubah sepanjang tidak merubah posita dan petitum. Jika
Tergugat telah menjawab surat gugatan ternyata ada perubahan, maka perubahan tersebut
harus atas persetujuan Tergugat.
2. a. Gugatan tersebut diajukan kepada pengadilan agama :
b. Bila Penggugat meninggalkan tempat kediaman yang telah disepakati bersama tanpa
izin Tergugat, maka gugatan diajukan kepada pengadilan agama yang daerah hukumnya
meliputi tempat kediaman Tergugat (Pasal 73 ayat (1) UU No. 7 Tahun 1989 jo Pasal 32
ayat (2) UU No. 1 Tahun 1974);
c. Bila Penggugat bertempat kediaman di luar negeri, maka gugatan diajukan kepada
pengadilan agama yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Tergugat (Pasal 73
ayat (2) UU No.7 Tahun 1989);
d. Bila Penggugat dan Tergugat bertempat kediaman di luar negeri, maka gugatan
diajukan kepada pengadilan agama yang daerah hukumnya meliputi tempat perkawinan
dilangsungkan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat (Pasal 73 ayat (3) UU No.7
Tahun 1989).
3. Gugatan tersebut memuat :
a. Nama, umur, pekerjaan, agama dan tempat kediaman Penggugat dan Tergugat;
b. Posita (fakta kejadian dan fakta hukum);
c. Petitum (hal-hal yang dituntut berdasarkan posita).
4. Gugatan soal penguasaan anak, nafkah anak, nafkah istri dan harta bersama dapat
diajukan bersama-sama dengan gugatan perceraian atau sesudah putusan perceraian
memperoleh kekuatan las tetap (Pasal 86 ayat (1) UU No. 7 Tahun 1989).
5. Membayar biaya perkara (Pasal 121 ayat (4) HIR Jo Pasal 89 UU No. 7 Tahun 1989),
bagi yang tidak mampu dapat berperkara secara cuma-cuma (prodeo) (Pasal 237 HIR).
6. Penggugat dan Tergugat atau kuasanya menghadiri persidangan berdasarkan panggilan
pengadilan agama (Pasal 121, 124, dan 125 HIR).
Proses Penyelesaian Perkara
1. Penggugat mendaftarkan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama Sentani.
2. Penggugat dan Tergugat dipanggil oleh pengadilan agama untuk menghadiri
persidangan
3. Tahapan persidangan :
a. Pada pemeriksaan sidang pertama, hakim berusaha mendamaikan kedua belah pihak,
dan suami istri harus datang secara pribadi (Pasal 82 UU No. 7 Tahun 1989);
b. Apabila tidak berhasil, maka hakim mewajibkan kepada kedua belah pihak agar lebih
dahulu menempuh mediasi (Pasal 3 ayat (1) PERMA No. 2 Tahun 2003);
c. Apabila mediasi tidak berhasil, maka pemeriksaan perkara dilanjutkan dengan
membacakan surat gugatan, jawaban, jawab menjawab, pembuktian dan kesimpulan.
Dalam tahap jawab menjawab (sebelum pembuktian) Tergugat dapat mengajukan
gugatan rekonvensi (gugat balik) (Pasal 132 a HIR);
Putusan pengadilan agama atas permohonan cerai gugat sebagai berikut :
a. Gugatan dikabulkan. Apabila Tergugat tidak puas dapat mengajukan banding ke
Pengadilan Tinggi Agama Bandung melalui Pengadilan Agama Sentani;
b. Gugatan ditolak. Penggugat dapat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Agama
Bandung melalui Pengadilan Agama Sentani;
c. Gugatan tidak diterima. Penggugat dapat mengajukan gugatan baru.
4. Setelah putusan memperoleh kekuatan hukum tetap maka Panitera Pengadilan Agama
Sentani memberikan Akta Cerai sebagai surat bukti cerai kepada kedua belah pihak
selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah putusan tersebut diberitahukan kepada para
pihak. Langkah-langkah yang harus dilakukan Penggugat :
1. Mengajukan gugatan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama Sentani
(Pasal 118 HIR)
2. Gugatan tersebut diajukan kepada pengadilan agama :
a. Yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Tergugat ;
b. Bila tempat kediaman tergugat tidak diketahui, maka gugatan diajukan kepada
pengadilan agama yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Penggugat;
c. Bila mengenai benda tetap, maka gugatan dapat diajukan kepada pengadilan agama
yang daerah hukumnya meliputi tempat letak benda tersebut. Bila benda tetap tersebut
terletak dalam wilayah beberapa pengadilan agama, maka gugatan dapat diajukan kepada
salah satu pengadilan agama yang dipilih oleh Penggugat (Pasal 118 HIR).
d. Bila Penggugat dan Tergugat bertempat kediaman di luar negeri, maka gugatan
diajukan kepada pengadilan agama yang daerah hukumnya meliputi tempat perkawinan
dilangsungkan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat (Pasal 73 ayat (3) UU No.7
Tahun 1989).
3. Membayar biaya perkara (Pasal 121 ayat (4) HIR jo Pasal 89 UU No. 7 Tahun 1989),
bagi yang tidak mampu dapat berperkara secara cuma-cuma (prodeo) (Pasal 237 HIR).
4. Penggugat dan Tergugat atau kuasanya menghadiri sidang pemeriksaan berdasarkan
panggilan pengadilan agama (Pasal 121, 124, dan 125 HIR).

PROSES PENYELESAIAN PERKARA :


1. Penggugat atau kuasanya mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Agama Sentani.
2. Penggugat dan Tergugat dipanggil oleh pengadilan agama untuk menghadiri
persidangan.
Tahapan persidangan :
3. a. Pada pemeriksaan sidang pertama, hakim berusaha mendamaikan kedua belah pihak.

b. Apabila tidak berhasil,maka hakim mewajibkan kedua belah pihak agar lebih dahulu
menempuh mediasi (PERMA No. 2 Tahun 2003);
c. Apabila mediasi tidak berhasil, maka pemeriksaan perkara dilanjutkan dengan
membacakan surat gugatan, jawaban, jawab menjawab, pembuktian dan kesimpulan.
Dalam tahap jawab menjawab (sebelum pembuktian) Tergugat dapat mengajukan
gugatan rekonvensi (gugat balik) (Pasal 132 HIR).
Putusan pengadilan agama sebagai berikut :
a. Gugatan dikabulkan. Apabila Tergugat tidak puas dapat mengajukan banding ke
Pengadilan Tinggi Agama Bandung melalui Pengadilan Agama Sentani;
b. Gugatan ditolak. Penggugat dapat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Agama
Bandung melalui Pengadilan Agama Sentani;
c. Gugatan tidak diterima. Penggugat dapat mengajukan gugatan baru.
4. Setelah putusan memperoleh kekuatan hukum tetap, kedua belah pihak dapat meminta
salinan putusan (Pasal 185 HIR,196 R.Bg).
5. Apabila pihak yang kalah dihukum untuk menyerahkan obyek sengketa, kemudian
tidak mau menyerahkan secara suka rela, maka pihak yang menang dapat mengajukan
permohonan eksekusi kepada Pengadilan Agama Sentani.

http://www.pa-sentani.net/index.php?
option=com_content&task=view&id=16&Itemid=30

PEMBUKTIAN TERBALIK MENURUT HUKUM ISLAM

Pendahuluan
Tidak ada pembuktian terbalik di dalam Islam. Dalam peradilan Islam, sistem
pembuktiannya didasarkan pada prinsip kejelasan dan menghindari kesamaran. Seorang
hakim tidak boleh memutuskan perkara ketika tidak ada bukti. Imam Baihaki
meriwayatkan sebuah hadits dengan isnad shahih dari Nabi Saw, sesungguhnya
Rasulullah Saw bersabda:
“Bukti itu wajib bagi orang yang mendakwa, sedangkan sumpah itu wajib bagi orang yang
mengingkarinya.”
Sesuatu tidak bisa menjadi bukti, kecuali jika sesuatu itu meyakinkan dan pasti.
Seseorang tidak boleh memberikan kesaksian kecuali kesaksiannya itu didasarkan pada
sesuatu yang menyakinkan. Kesaksian tidak sah, jika dibangun di atas dzan (keraguan).
Sebab, Rasulullah saw telah bersabda kepada para saksi:
“Jika kalian melihatnya seperti kalian melihat matahari, maka bersaksilah. (Namun) jika
tidak, maka tinggalkanlah.”

Pembahasan
Bukti ada empat macam tidak lebih:
1. Pengakuan
Pengakuan telah ditetapkan (sebagai bukti) berdasarkan dalil, baik yang tercantum di
dalam al-Qur’an maupun hadits. Allah SWT berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu) kamu tidak akan
menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu
(saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan
memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya.” (Qs. al-Baqarah [2]: 84).
Dari Ibnu ‘Abbas ra, ia meriwayatkan sebuah hadits tentang Ma’iz, bahwa Nabi Saw
bertanya kepada Ma’iz bin Malik:
“Apakah benar apa yang telah disampaikan kepadaku tentang dirimu?” Ma’iz balik
bertanya, “Apa yang disampaikan kepada engkau tentang diriku?” Nabi Saw menjawab,
“Telah sampai berita kepadaku bahwa engkau telah berzina dengan budak perempuan
keluarga si fulan.” Ma’iz menjawab, “Benar.” Kemudian bersaksilah empat orang saksi.
Lalu, Rasulullah Saw memerintahkan agar Ma’iz dirajam. Maka dirajamlah al-Ma’iz.

http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-
makalah/hukum-islam/pembuktian-terbalik-menurut-hukum-
islam