Anda di halaman 1dari 17

Legenda Candi Prambanan

Di dekat kota Yogyakarta terdapat candi Hindu yang paling indah di Indonesia.
Candi ini dibangun dalam abad kesembilan Masehi. Karena terletak di desa Prambanan,
maka candi ini disebut candi Prambanan tetapi juga terkenal sebagai candi Lara Jonggrang,
sebuah nama yang diambil dari legenda Lara Jonggrang dan Bandung Bondowoso.
Beginilah ceritanya.

Konon tersebutlah seorang raja yang bernama Prabu Baka. Beliau bertahta di
Prambanan. Raja ini seorang raksasa yang menakutkan dan besar kekuasaannya. Meskipun
demikian, kalau sudah takdir, akhirnya dia kalah juga dengan Raja Pengging. Prabu Baka
meninggal di medan perang. Kemenangan Raja Pengging itu disebabkan karena bantuan
orang kuat yang bernama Bondowoso yang juga terkenal sebagai Bandung Bondowoso
karena dia mempunyai senjata sakti yang bernama Bandung.

Dengan persetujuan Raja Pengging, Bandung Bondowoso menempati Istana


Prambanan. Di sini dia terpesona oleh kecantikan Lara Jonggrang, putri bekas lawannya --
ya, bahkan putri raja yang dibunuhnya. Bagaimanapun juga, dia akan memperistrinya.

Lara Jonggrang takut menolak pinangan itu. Namun demikian, dia tidak akan
menerimanya begitu saja. Dia mau kawin dengan Bandung Bondowoso asalkan syarat-
syaratnya dipenuhi. Syaratnya ialah supaya dia dibuatkan seribu candi dan dua sumur yang
dalam. Semuanya harus selesai dalam waktu semalam. Bandung Bondowoso
menyanggupinya, meskipun agak keberatan. Dia minta bantuan ayahnya sendiri, orang
sakti yang mempunyai balatentara roh-roh halus.

Pada hari yang ditentukan, Bandung Bondowoso beserta pengikutnya dan roh-roh
halus mulai membangun candi yang besar jumlahnya itu. Sangatlah mengherankan cara
dan kecepatan mereka bekerja. Sesudah jam empat pagi hanya tinggal lima buah candi
yang harus disiapkan. Di samping itu sumurnya pun sudah hampir selesai.

Seluruh penghuni Istana Prambanan menjadi kebingungan karena mereka yakin


bahwa semua syarat Lara Jonggrang akan terpenuhi. Apa yang harus diperbuat? Segera
gadis-gadis dibangunkan dan disuruh menumbuk padi di lesung serta menaburkan bunga
yang harum baunya. Mendengar bunyi lesung dan mencium bau bunga-bungaan yang
harum, roh-roh halus menghentikan pekerjaan mereka karena mereka kira hari sudah siang.
Pembuatan candi kurang sebuah, tetapi apa hendak dikata, roh halus berhenti mengerjakan
tugasnya dan tanpa bantuan mereka tidak mungkin Bandung Bondowoso
menyelesaikannya.

Keesokan harinya waktu Bandung Bondowoso mengetahui bahwa usahanya gagal,


bukan main marahnya. Dia mengutuk para gadis di sekitar Prambanan -- tidak akan ada
orang yang mau memperistri mereka sampai mereka menjadi perawan tua. Sedangkan Lara
Jonggrang sendiri dikutuk menjadi arca. Arca tersebut terdapat dalam ruang candi yang
besar yang sampai sekarang dinamai candi Lara Jonggrang. Candi-candi yang ada di
dekatnya disebut Candi Sewu yang artinya seribu.
Legenda Asal Usul Danau Toba

Suatu hari, ia memancing dan mendapatkan ikan tangkapan yang aneh. Ikan itu
besar dan sangat indah. Warnanya keemasan. Ia lalu melepas pancingnya dan memegangi
ikan itu. Tetapi saat tersentuh tangannya, ikan itu berubah menjadi seorang putri yang
cantik! Ternyata ia adalah ikan yang sedang dikutuk para dewa karena telah melanggar
suatu larangan. Telah disuratkan, jika ia tersentuh tangan, ia akan berubah bentuk menjadi
seperti makhluk apa yang menyentuhnya. Karena ia disentuh manusia, maka ia juga
berubah menjadi manusia.

Pemuda itu lalu meminang putri ikan itu. Putri ikan itu menganggukan kepalanya
tanda bersedia.

“Namun aku punya satu permintaan, kakanda.” katanya.

“Aku bersedia menjadi istri kakanda, asalkan kakanda mau menjaga rahasiaku
bahwa aku berasal dari seekor ikan.”

“Baiklah, Adinda. Aku akan menjaga rahasia itu.” kata pemuda itu.

Akhirnya mereka menikah dan dikaruniai seorang bayi laki-laki yang lucu. Namun
ketika beranjak besar, si Anak ini selalu merasa lapar. Walapun sudah banyak makan-
makanan yang masuk kemulutnya, ia tak pernah merasa kenyang.

Suatu hari, karena begitu laparnya, ia makan semua makanan yang ada di meja,
termasuk jatah makan kedua orang tuanya. Sepulang dari ladang, bapaknya yang lapar
mendapati meja yang kosong tak ada makanan, marahlah hatinya. Karena lapar dan tak
bisa menguasai diri, keluarlah kata-katanya yang kasar.

“Dasar anak keturunan ikan!”

Ia tak menyadari, dengan ucapannya itu, berarti ia sudah membuka rahasia istrinya.

Seketika itu juga sang anak sambil menangis pergi menemui ibunya dan
menanyakan apakah benar dirinya adalah anak keturunan ikan.
Mendengar hal tersebut, sang ibu pun terkejut karena suaminya telah melanggar sumpah
mereka terdahulu.

Setelah itu si ibu memutuskan untuk kembali ke alamnya. Lalu tiba tiba langit
berubah gelap dan petir menyambar kemudian turunlah hujan dengan derasnya.
Sang ayah menjadi sedih dan sangat menyesal atas perbuatannya. Namun nasi sudah
menjadi bubur. Ia tak pernah bisa bertemu kembali dengan istri dan maupun anaknya yang
disayanginya itu.

Di tanah bekas pijakan istri dan anaknya itu, tiba-tiba ada mata air menyembur.
Airnya makin lama makin besar. Lama-lama menjadi danau. Danau inilah yang kemudian
kita kenal sampai sekarang sebagai Danau Toba.
Legenda Gunung Tangkuban Perahu

Pada jaman dahulu kala, di tatar Parahyangan, berdiri sebuah kerajaan yang gemah
ripah lohjinawi kerta raharja. Tersebutlah sang prabu yang gemar olah raga berburu
binatang, yang senantiasa ditemani anjingnya yang setia, yang bernama "Tumang".

Pada suatu ketika sang Prabu berburu rusa, namun telah seharian hasilnya kurang
menggembirakan. Binatang buruan di hutan seakan lenyap ditelan bumi. Ditengah
kekecewaan tidak mendapatkan binatang buruannya, sang Prabu dikagetkan dengan
nyalakan anjing setianya "Tumang" yang menemukan seorang bayi perempuan tergeletak
diantara rimbunan rerumputan. Alangkah gembiranya sang Prabu, ketika ditemukannya
bayi perempuan yang berparas cantik tersebut, mengingat telah cukup lama sang Prabu
mendambakan seorang putri, namun belum juga dikaruniai anak. Bayi perempuan itu
diberi nama Putri Dayangsumbi.

Alkisah putri Dayngsumbi nan cantik rupawan setelah dewasa dipersunting seorang
pria, yang kemudian dikarunia seorang anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang yang
juga kelak memiliki kegemaran berburu seperti juga sang Prabu. Namun sayang suami
Dayangsumbi tidak berumur panjang.

Suatu saat, Sangkuriang yang masih sangat muda belia, mengadakan perburuan
ditemani anjing kesayangan sang Prabu yang juga kesayangan ibunya, yaitu Tumang.
Namun hari yang kurang baik menyebabkan perburuan tidak memperoleh hasil binatang
buruan. Karena Sangkuriang telah berjanji untuk mempersembahkan hati rusa untuk
ibunya, sedangkan rusa buruan tidak didapatkannya, maka Sangkuriang nekad membunuh
si Tumang anjing kesayangan ibunya dan juga sang Prabu untuk diambil hatinya, yang
kemudian dipersembahkan kepada ibunya.

Ketika Dayangsumbi akhirnya mengetahui bahwa hati rusa yang dipersembahkan


putranya tiada lain adalah hati "si Tumang" anjing kesayangannya, maka murkalah
Dayangsumbi. Terdorong amarah, tanpa sengaja, dipukulnya kepala putranya dengan
centong nasi yang sedang dipegangnya, hingga menimbulkan luka yang berbekas.
Sangkuriang merasa usaha untuk menggembirakan ibunya sia-sia, dan merasa
perbuatannya tidak bersalah. Pikirnya tiada hati rusa, hati anjingpun jadilah, dengan tidak
memikirkan kesetiaan si Tumang yang selama hidupnya telah setia mengabdi pada
majikannya. Sangkuriangpun minggat meninggalkan kerajaan, lalu menghilang tanpa
karana.

Setelah kejadian itu Dayangsumbi merasa sangat menyesal, setiap hari ia selalu
berdoa dan memohon kepada Hyang Tunggal, agar ia dapat dipertemukan kembali dengan
putranya. Kelak permohonan ini terkabulkan, dan kemurahan sang Hyang Tunggal jualah
maka Dayangsumbi dikaruniai awet muda. Syahdan Sangkuriang yang terus mengembara,
ia tumbuh penjadi pemuda yang gagah perkasa, sakti mandraguna apalgi setelah ia berhasil
menaklukan bangsa siluman yang sakti pula, yaitu Guriang Tujuh.

Dalam suatu saat pengembaraannya, Sangkuriang tanpa disadarinya ia kembali ke


kerajaan dimana ia berasal. Dan alur cerita hidup mempertemukan ia dengan seorang putri
yang berparas jelita nan menawan, yang tiada lain ialah putri Dayangsumbi. Sangkuriang
jatuh hati kepada putri tersebut, demikianpula Dayangsumbi terpesona akan kegagahan dan
ketampanan Sangkuriang, maka hubungan asmara keduanya terjalinlah. Sangkuriang
maupun Dayangsumbi saat itu tidak mengetahui bahwa sebenarnya keduanya adalah ibu
dan anak. Sangkuriang akhirnya melamar Dayangsumbi untuk dipersunting menjadi
istrinya.
Namun lagi lagi alur cerita hidup membuka tabir yang tertutup, Dayangsumbi mengetahui
bahwa pemuda itu adalah Sangkuriang anaknya, sewaktu ia melihat bekas luka dikepala
Sangkuriang, saat ia membetulkan ikat kepala calon suaminya itu.

Setelah merasa yakin bawa Sangkuriang anaknya, Dayangsumbi berusaha


menggagalkan pernikahan dengan anaknya. Untuk mempersunting dirinya, Dayangsumbi
mengajukan dua syarat yang harus dipenuhi Sangkuriang dengan batas waktu sebelum
fajar menyingsing. Syarat pertama, Sangkuriang harus dapat membuat sebuah perahu yang
besar. Syarat kedua, Sangkuriang harus dapat membuat danau untuk bisa dipakai
berlayarnya perahu tersebut.
Sangkuriang menyanggupi syarat tersebut, ia bekerja lembur dibantu oleh wadiabalad
siluman pimpinan Guriang Tujuh untuk mewujudkan permintaan tersebut. Kayu kayu
besar untuk perahu dan membendung sungai Citarum, ia dapatkan dari hutan di sebuah
gunung yang menurut legenda kelak diberi nama Gunung Bukit Tunggul. Adapun ranting
dan daun dari pohon yang dipakai kayunya, ia kumpulkan disebuah bukit yang diberi nama
gunung Burangrang.

Sementara itu Dayangsumbi-pun memohon sang Hyang Tunggal untuk


menolongnya, menggagalkan maksud Sangkuriang untuk memperistri dirinya. Sang Hyang
Tunggal mengabulkan permohonan Dayangsumbi, sebelum pekerjaan Sangkuriang selesai,
ayampun berkokok dan fajar menyingsing ……. Sangkuriang murka, mengetahui ia gagal
memenuhi syarat tersebut, ia menendang perahu yang sedang dibuatnya. Perahu akhirnya
jatuh menelungkup dan menurut legenda kelak jadilah Gunung Tangkubanparahu,
sementara aliran Sungai Citarum yang dibendung sedikit demi sedikit membentuk danau
Bandung.
Asal Mula Selat Bali
Pada jaman dulu di kerajaan Daha hiduplah seorang Brahmana yang benama Sidi
Mantra yang sangat terkenal kesaktiannya. Sanghyang Widya atau Batara Guru
menghadiahinya harta benda dan seorang istri yang cantik. Sesudah bertahun-tahun kawin,
mereka mendapat seorang anak yang mereka namai Manik Angkeran.
Meskipun Manik Angkeran seorang pemuda yang gagah dan pandai namun dia
mempunyai sifat yang kurang baik, yaitu suka berjudi. Dia sering kalah sehingga dia
terpaksa mempertaruhkan harta kekayaan orang tuanya, malahan berhutang pada orang
lain. Karena tidak dapat membayar hutang, Manik Angkeran meminta bantuan ayahnya
untuk berbuat sesuatu. Sidi Mantra berpuasa dan berdoa untuk memohon pertolongan
dewa-dewa. Tiba-tiba dia mendengar suara, “Hai, Sidi Mantra, di kawah Gunung Agung
ada harta karun yang dijaga seekor naga yang bernarna Naga Besukih. Pergilah ke sana
dan mintalah supaya dia mau memberi sedikit hartanya.”
Sidi Mantra pergi ke Gunung Agung dengan mengatasi segala rintangan.
Sesampainya di tepi kawah Gunung Agung, dia duduk bersila. Sambil membunyikan genta
dia membaca mantra dan memanggil nama Naga Besukih. Tidak lama kernudian sang
Naga keluar. Setelah mendengar maksud kedatangan Sidi Mantra, Naga Besukih
menggeliat dan dari sisiknya keluar emas dan intan. Setelah mengucapkan terima kasih,
Sidi Mantra mohon diri. Semua harta benda yang didapatnya diberikan kepada Manik
Angkeran dengan harapan dia tidak akan berjudi lagi. Tentu saja tidak lama kemudian,
harta itu habis untuk taruhan. Manik Angkeran sekali lagi minta bantuan ayahnya. Tentu
saja Sidi Mantra menolak untuk membantu anakya.
Manik Angkeran mendengar dari temannya bahwa harta itu didapat dari Gunung
Agung. Manik Angkeran tahu untuk sampai ke sana dia harus membaca mantra tetapi dia
tidak pernah belajar mengenai doa dan mantra. Jadi, dia hanya membawa genta yang dicuri
dari ayahnya waktu ayahnya tidur.
Setelah sampai di kawah Gunung Agung, Manik Angkeran membunyikan gentanya.
Bukan main takutnya ia waktu ia melihat Naga Besukih. Setelah Naga mendengar maksud
kedatangan Manik Angkeran, dia berkata, “Akan kuberikan harta yang kau minta, tetapi
kamu harus berjanji untuk mengubah kelakuanmu. Jangan berjudi lagi. Ingatlah akan
hukum karma.”
Manik Angkeran terpesona melihat emas, intan, dan permata di hadapannya. Tiba-
tiba ada niat jahat yang timbul dalam hatinya. Karena ingin mendapat harta lebih banyak,
dengan secepat kilat dipotongnya ekor Naga Besukih ketika Naga beputar kembali ke
sarangnya. Manik Angkeran segera melarikan diri dan tidak terkejar oleh Naga. Tetapi
karena kesaktian Naga itu, Manik Angkeran terbakar menjadi abu sewaktu jejaknya dijilat
sang Naga.
Mendengar kematian anaknya, kesedihan hati Sidi Mantra tidak terkatakan. Segera
dia mengunjungi Naga Besukih dan memohon supaya anaknya dihidupkan kembali. Naga
menyanggupinya asal ekornya dapat kembali seperti sediakala. Dengan kesaktiannya, Sidi
Mantra dapat memulihkan ekor Naga. Setelah Manik Angkeran dihidupkan, dia minta
maaf dan berjanji akan menjadi orang baik. Sidi Mantra tahu bahwa anaknya sudah
bertobat tetapi dia juga mengerti bahwa mereka tidak lagi dapat hidup bersama.
“Kamu harus mulai hidup baru tetapi tidak di sini,” katanya. Dalam sekejap mata
dia lenyap. Di tempat dia berdiri timbul sebuah sumber air yang makin lama makin besar
sehingga menjadi laut. Dengan tongkatnya, Sidi Mantra membuat garis yang mernisahkan
dia dengan anaknya. Sekarang tempat itu menjadi selat Bali yang memisahkan pulau Jawa
dengan pulau Bali.
Roro Jonggrang

Alkisah, pada dahulu kala terdapat sebuah kerajaan besar yang bernama Prambanan.
Rakyatnya hidup tenteran dan damai. Tetapi, apa yang terjadi kemudian? Kerajaan
Prambanan diserang dan dijajah oleh negeri Pengging. Ketentraman Kerajaan Prambanan
menjadi terusik. Para tentara tidak mampu menghadapi serangan pasukan Pengging.
Akhirnya, kerajaan Prambanan dikuasai oleh Pengging, dan dipimpin oleh Bandung
Bondowoso.
Bandung Bondowoso seorang yang suka memerintah dengan kejam. "Siapapun
yang tidak menuruti perintahku, akan dijatuhi hukuman berat!", ujar Bandung Bondowoso
pada rakyatnya. Bandung Bondowoso adalah seorang yang sakti dan mempunyai pasukan
jin. Tidak berapa lama berkuasa, Bandung Bondowoso suka mengamati gerak-gerik Loro
Jonggrang, putri Raja Prambanan yang cantik jelita. "Cantik nian putri itu. Aku ingin dia
menjadi permaisuriku," pikir Bandung Bondowoso.
Esok harinya, Bondowoso mendekati Roro Jonggrang. "Kamu cantik sekali, maukah
kau menjadi permaisuriku ?", Tanya Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang. Roro
Jonggrang tersentak, mendengar pertanyaan Bondowoso. "Laki-laki ini lancang sekali,
belum kenal denganku langsung menginginkanku menjadi permaisurinya", ujar Loro
Jongrang dalam hati. "Apa yang harus aku lakukan ?". Roro Jonggrang menjadi
kebingungan. Pikirannya berputar-putar. Jika ia menolak, maka Bandung Bondowoso akan
marah besar dan membahayakan keluarganya serta rakyat Prambanan. Untuk
mengiyakannya pun tidak mungkin, karena Loro Jonggrang memang tidak suka dengan
Bandung Bondowoso.
"Bagaimana, Roro Jonggrang ?" desak Bondowoso. Akhirnya Roro Jonggrang
mendapatkan ide. "Saya bersedia menjadi istri Tuan, tetapi ada syaratnya," Katanya. "Apa
syaratnya? Ingin harta yang berlimpah? Atau Istana yang megah?". "Bukan itu, tuanku,
kata Roro Jonggrang. Saya minta dibuatkan candi, jumlahnya harus seribu buah. "Seribu
buah?" teriak Bondowoso. "Ya, dan candi itu harus selesai dalam waktu semalam."
Bandung Bondowoso menatap Roro Jonggrang, bibirnya bergetar menahan amarah. Sejak
saat itu Bandung Bondowoso berpikir bagaimana caranya membuat 1000 candi. Akhirnya
ia bertanya kepada penasehatnya. "Saya percaya tuanku bias membuat candi tersebut
dengan bantuan Jin!", kata penasehat. "Ya, benar juga usulmu, siapkan peralatan yang
kubutuhkan!"
Setelah perlengkapan di siapkan. Bandung Bondowoso berdiri di depan altar batu.
Kedua lengannya dibentangkan lebar-lebar. "Pasukan jin, Bantulah aku!" teriaknya dengan
suara menggelegar. Tak lama kemudian, langit menjadi gelap. Angin menderu-deru. Sesaat
kemudian, pasukan jin sudah mengerumuni Bandung Bondowoso. "Apa yang harus kami
lakukan Tuan ?", tanya pemimpin jin. "Bantu aku membangun seribu candi," pinta
Bandung Bondowoso. Para jin segera bergerak ke sana kemari, melaksanakan tugas
masing-masing. Dalam waktu singkat bangunan candi sudah tersusun hampir mencapai
seribu buah.
Sementara itu, diam-diam Roro Jonggrang mengamati dari kejauhan. Ia cemas,
mengetahui Bondowoso dibantu oleh pasukan jin. "Wah, bagaimana ini?", ujar Roro
Jonggrang dalam hati. Ia mencari akal. Para dayang kerajaan disuruhnya berkumpul dan
ditugaskan mengumpulkan jerami. "Cepat bakar semua jerami itu!" perintah Roro
Jonggrang. Sebagian dayang lainnya disuruhnya menumbuk lesung. Dung... dung...dung!
Semburat warna merah memancar ke langit dengan diiringi suara hiruk pikuk, sehingga
mirip seperti fajar yang menyingsing.
Pasukan jin mengira fajar sudah menyingsing. "Wah, matahari akan terbit!" seru jin.
"Kita harus segera pergi sebelum tubuh kita dihanguskan matahari," sambung jin yang lain.
Para jin tersebut berhamburan pergi meninggalkan tempat itu. Bandung Bondowoso
sempat heran melihat kepanikan pasukan jin.
Paginya, Bandung Bondowoso mengajak Roro Jonggrang ke tempat candi. "Candi
yang kau minta sudah berdiri!". Roro Jonggrang segera menghitung jumlah candi itu.
Ternyata jumlahnya hanya 999 buah!. "Jumlahnya kurang satu!" seru Loro Jonggrang.
"Berarti tuan telah gagal memenuhi syarat yang saya ajukan". Bandung Bondowoso
terkejut mengetahui kekurangan itu. Ia menjadi sangat murka. "Tidak mungkin...", kata
Bondowoso sambil menatap tajam pada Roro Jonggrang. "Kalau begitu kau saja yang
melengkapinya!" katanya sambil mengarahkan jarinya pada Roro Jonggrang. Ajaib! Roro
Jonggrang langsung berubah menjadi patung batu. Sampai saat ini candi-candi tersebut
masih ada dan terletak di wilayah Prambanan, Jawa Tengah dan disebut Candi Roro
Jonggrang.
Malin Kundang

Pada suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah
Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi
nama Malin Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang ayah
memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang
luas.
Maka tinggallah si Malin dan ibunya di gubug mereka. Seminggu, dua minggu,
sebulan, dua bulan bahkan sudah 1 tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke
kampung halamannya. Sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk
mencari nafkah. Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar
ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia
tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas
dilengannya dan tidak bisa hilang.
Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya yang
banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari
nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman,
ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Malin tertarik dengan ajakan seorang nakhoda
kapal dagang yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi seorang yang kaya raya.
Malin kundang mengutarakan maksudnya kepada ibunya. Ibunya semula kurang
setuju dengan maksud Malin Kundang, tetapi karena Malin terus mendesak, Ibu Malin
Kundang akhirnya menyetujuinya walau dengan berat hati. Setelah mempersiapkan bekal
dan perlengkapan secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh
ibunya. "Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan,
jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamannu ini, nak", ujar Ibu Malin Kundang
sambil berlinang air mata.
Kapal yang dinaiki Malin semakin lama semakin jauh dengan diiringi lambaian
tangan Ibu Malin Kundang. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar
tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Di tengah
perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua
barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan
sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para
bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut,
karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang
tertutup oleh kayu.
Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang
ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang
berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin
Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan
kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur.
Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi
seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang
jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang
mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga
kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira
anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap hari pergi ke dermaga,
menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan
kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu
Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu,
masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia
yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.
Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat,
ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa
yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu
lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tapi apa yang
terjadi kemudian? Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya
hingga terjatuh.
"Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin
Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu
dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. "Wanita itu
ibumu?", Tanya istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura
mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya.
Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang
sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya
yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh Tuhan, kalau
benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian
angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin
Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan
akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.
Legenda Timun Emas

Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri petani. Mereka tinggal di sebuah
desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum saja dikaruniai
seorang anak pun.

Setiap hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa agar segera
diberi seorang anak. Suatu hari seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa
itu mendengar doa suami istri itu. Raksasa itu kemudian memberi mereka biji mentimun.

“Tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan,” kata
Raksasa. “Terima kasih, Raksasa,” kata suami istri itu. “Tapi ada syaratnya. Pada usia 17
tahun anak itu harus kalian serahkan padaku,” sahut Raksasa. Suami istri itu sangat
merindukan seorang anak. Karena itu tanpa berpikir panjang mereka setuju.

Suami istri petani itu kemudian menanam biji-biji mentimun itu. Setiap hari mereka
merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin. Berbulan-bulan
kemudian tumbuhlah sebuah mentimun berwarna keemasan.

Buah mentimun itu semakin lama semakin besar dan berat. Ketika buah itu masak,
mereka memetiknya. Dengan hati-hati mereka memotong buah itu. Betapa terkejutnya
mereka, di dalam buah itu mereka menemukan bayi perempuan yang sangat cantik. Suami
istri itu sangat bahagia. Mereka memberi nama bayi itu Timun Mas.

Tahun demi tahun berlalu. Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kedua
orang tuanya sangat bangga padanya. Tapi mereka menjadi sangat takut. Karena pada
ulang tahun Timun Mas yang ke-17, sang raksasa datang kembali. Raksasa itu menangih
janji untuk mengambil Timun Mas.

Petani itu mencoba tenang. “Tunggulah sebentar. Timun Mas sedang bermain.
Istriku akan memanggilnya,” katanya. Petani itu segera menemui anaknya. “Anakkku,
ambillah ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah kantung kain. “Ini akan menolongmu
melawan Raksasa. Sekarang larilah secepat mungkin,” katanya. Maka Timun Mas pun
segera melarikan diri.

Suami istri itu sedih atas kepergian Timun Mas. Tapi mereka tidak rela kalau
anaknya menjadi santapan Raksasa. Raksasa menunggu cukup lama. Ia menjadi tak sabar.
Ia tahu, telah dibohongi suami istri itu. Lalu ia pun menghancurkan pondok petani itu. Lalu
ia mengejar Timun Mas ke hutan.

Raksasa segera berlari mengejar Timun Mas. Raksasa semakin dekat. Timun Mas
segera mengambil segenggam garam dari kantung kainnya. Lalu garam itu ditaburkan ke
arah Raksasa. Tiba-tiba sebuah laut yang luas pun terhampar. Raksasa terpaksa berenang
dengan susah payah.

Timun Mas berlari lagi. Tapi kemudian Raksasa hampir berhasil menyusulnya.
Timun Mas kembali mengambil benda ajaib dari kantungnya. Ia mengambil segenggam
cabai. Cabai itu dilemparnya ke arah raksasa. Seketika pohon dengan ranting dan duri yang
tajam memerangkap Raksasa. Raksasa berteriak kesakitan. Sementara Timun Mas berlari
menyelamatkan diri.
Tapi Raksasa sungguh kuat. Ia lagi-lagi hampir menangkap Timun Mas. Maka
Timun Mas pun mengeluarkan benda ajaib ketiga. Ia menebarkan biji-biji mentimun ajaib.
Seketika tumbuhlah kebun mentimun yang sangat luas. Raksasa sangat letih dan kelaparan.
Ia pun makan mentimun-mentimun yang segar itu dengan lahap. Karena terlalu banyak
makan, Raksasa tertidur.

Timun Mas kembali melarikan diri. Ia berlari sekuat tenaga. Tapi lama kelamaan
tenaganya habis. Lebih celaka lagi karena Raksasa terbangun dari tidurnya. Raksasa lagi-
lagi hampir menangkapnya. Timun Mas sangat ketakutan. Ia pun melemparkan senjatanya
yang terakhir, segenggam terasi udang. Lagi-lagi terjadi keajaiban. Sebuah danau lumpur
yang luas terhampar. Raksasa terjerembab ke dalamnya. Tangannya hampir menggapai
Timun Mas. Tapi danau lumpur itu menariknya ke dasar. Raksasa panik. Ia tak bisa
bernapas, lalu tenggelam.

Timun Mas lega. Ia telah selamat. Timun Mas pun kembali ke rumah orang tuanya.
Ayah dan Ibu Timun Mas senang sekali melihat Timun Mas selamat. Mereka
menyambutnya. “Terima Kasih, Tuhan. Kau telah menyelamatkan anakku,” kata mereka
gembira.

Sejak saat itu Timun Mas dapat hidup tenang bersama orang tuanya. Mereka dapat
hidup bahagia tanpa ketakutan lagi.
Legenda Telaga Warna
Jaman dahulu ada sebuah kerajaan di Jawa Barat bernama Kutatanggeuhan.
Kutatanggeuhan merupakan kerajaan yang makmur dan damai. Rakyatnya hidup tenang
dan sejahtera karena dipimpin oleh raja yang bijaksana. Raja Kutatanggeuhan bernama
Prabu Suwartalaya dan permaisurinya bernama Ratu Purbamanah. Sayang Prabu dan Ratu
belum dikaruniai keturunan sehingga mereka selalu merasa kesepian. Rakyat pun sangat
mengkhawatirkan keadaan ini, karena siapa yang akan menggantikan Prabu dan Ratu
kelak?

Akhirnya Raja memutuskan untuk bersemedi. Dia pergi ke gunung dan


menemukan sebuah gua. Disanalah dia bersemedi, berdoa kepada Tuhan supaya dikaruniai
keturunan. Setelah berhari-hari Prabu Suwartalaya berdoa, suatu hari tiba-tiba terdengar
suara gaib.

“Benarkah kau menginginkan keturunan Prabu Suwartalaya?” kata suara gaib


tersebut.

“Ya! Saya ingin sekali memiliki anak!” jawab Prabu Suwartalaya.


“Baiklah! Doamu akan terkabul. Sekarang pulanglah!” kata suara gaib.

Maka Prabu Suwartalaya pun pulang dengan gembira. Benar saja beberapa minggu
kemudian, Ratu pun mengandung. Semua bersuka cita. Terlebih lagi ketika sembilan bulan
kemudian Ratu melahirkan seorang putri yang cantik. Dia diberi nama Putri Gilang
Rukmini. Prabu Suwartalaya mengadakan pesta yang meriah untuk merayakan kelahiran
putri mereka. Putri Gilang Rukmini pun menjadi putri kesayangan rakyat Kutatanggeuhan.

Beberapa tahun telah berlalu, putri Gilang Rukmini tumbuh menjadi gadis yang
cantik jelita. Sayang putri Gilang Rukmini sangat manja dan berperangai tidak baik,
mungkin karena Prabu dan Ratu sangat memanjakannya. Maklumlah anak semata wayang.
Apapun yang diminta oleh putri pasti segera dituruti. Jika tidak putri akan sangat marah
dan bertindak kasar. Namun rakyat tetap mencintainya. Mereka berharap suatu hari
perangai putri akan berubah dengan sendirinya.

Seminggu lagi putri Gilang Rukmini akan berusia tujuh belas tahun. Prabu
Suwartalaya akan mengadakan pesta syukuran di istana. Semua rakyat boleh datang dan
memberikan doa untuk putri Gilang Rukmini. Rakyat berkumpul dan merencanakan
hadiah istimewa untuk putri kesayangan mereka. Akhirnya disepakati bahwa mereka akan
menghadiahkan sebuah kalung yang sangat indah. Kalung itu terbuat dari emas terbaik dan
ditaburi batu-batu permata yang beraneka warna. Maka rakyat dengan sukarela
menyisihkan uang mereka dan mengumpulkannya untuk biaya pembuatan hadiah tersebut.
Mereka memanggil pandai emas terbaik di kerajaan untuk membuatnya.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Rakyat berduyun-duyun datang


ke halaman istana tempat pesta ulang tahun putri Gilang Rukmini diadakan. Di depan
istana sudah berdiri sebuah panggung yang megah. Rakyat bersorak-sorai saat Prabu dan
Ratu menaiki panggung. Apalagi ketika akhirnya putri Gilang Rukmini keluar dari istana
dan melambaikan tangannya. Rakyat sangat gembira melihat putri yang cantik jelita. Pesta
pun berlangsung dengan meriah.

Kini tiba saatnya rakyat mempersembahkan hadiah istimewa mereka. Mereka


memberikan kotak berisi hadiah itu kepada putri Gilang Rukmini. Prabu Suwartalaya
membuka kotak tersebut dan mengeluarkan kalung beraneka warna yang sangat indah dan
memberikannya kepada putri Gilang Rukmini. putri Gilang Rukmini memandang kalung
itu dengan kening berkerut. Prabu Suwartalaya memandang putrinya, “Ayo nak, kenakan
kalung itu! Itu adalah tanda cinta rakyat kepadamu. Jangan kecewakan mereka nak!”
“Iya putriku. Kalung itu sangat indah bukan. Ayo kenakan! Biar rakyat senang,” kata Ratu
Purbamanah.

“Bagus apanya? Kalung ini jelek sekali. Warnanya norak, kampungan! Aku tidak
mau memakainya!” teriak putri Gilang Rukmini.

Dia membanting kalung itu ke lantai hingga hancur. Prabu Suwartalaya, Ratu
Purbamanah dan rakyat Kutatanggeuhan hanya bisa tertegun menyaksikan kejadian itu.
Lalu tangis Ratu Purbamanah pecah. Dia sangat sedih melihat kelakuan putrinya. Akhirnya
semua pun meneteskan air mata, hingga istana pun basah oleh air mata mereka. Mereka
terus menangis hingga air mata mereka membanjiri istana, dan tiba-tiba saja dari dalam
tanah pun keluar air yang deras, makin lama makin banyak. Hingga akhirnya kerajaan
Kutatanggeuhan tenggelam dan terciptalah sebuah danau yang sangat indah.

Kini danau itu masih bisa kita temui di daerah Puncak, Jawa Barat. Danau itu
dinamakan Telaga Warna, karena jika hari cerah, airnya akan memantulkan cahaya
matahari hingga tampak berwarna-warni. Katanya, itu adalah pantulan warna yang berasal
dari kalung putri Gilang Rukmini.
Legenda Batu Menangis
Alkisah, di sebuah desa terpencil di daerah Kalimantan Barat, Indonesia, hiduplah
seorang janda tua dengan seorang putrinya yang cantik jelita bernama Darmi. Mereka
tinggal di sebuah gubuk yang terletak di ujung desa. Sejak ayah Darmi meninggal,
kehidupan mereka menjadi susah. Ayah Darmi tidak meninggalkan harta warisan sedikit
pun. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, ibu Darmi bekerja di sawah atau ladang
orang lain sebagai buruh upahan.
Sementara putrinya, Darmi, seorang gadis yang manja. Apapun yang dimintanya
harus dikabulkan. Selain manja, ia juga seorang gadis yang malas. Kerjanya hanya
bersolek dan mengagumi kecantikannya di depan cermin. Setiap sore ia selalu hilir-mudik
di kampungnya tanpa tujuan yang jelas, kecuali hanya untuk mempertontonkan
kecantikannya. Ia sama sekali tidak mau membantu ibunya mencari nafkah. Setiap kali
ibunya mengajaknya pergi ke sawah, ia selalu menolak.
”Nak! Ayo bantu Ibu bekerja di sawah,” ajak sang Ibu.
”Tidak, Bu! Aku tidak mau pergi ke sawah. Nanti kuku dan kulitku kotor terkena lumpur,”
jawab Darmi menolak.
”Apakah kamu tidak kasihan melihat Ibu, Nak?” tanya sang Ibu mengiba.
”Tidak! Ibu saja yang sudah tua bekerja di sawah, karena tidak mungkin lagi ada laki-laki
yang tertarik pada wajah Ibu yang sudah keriput itu,” jawab Darmi dengan ketus.
Mendegar jawaban anaknya itu, sang Ibu tidak dapat berkata-kata lagi. Dengan perasaan
sedih, ia pun berangkat ke sawah untuk bekerja. Sementara si Darmi tetap saja tinggal di
gubuk, terus bersolek untuk mempecantik dirinya. Setelah ibunya pulang dari sawah,
Darmi meminta uang upah yang diperoleh Ibunya untuk dibelikan alat-alat kecantikan.
”Bu! Mana uang upahnya itu!” seru Darmi kepada Ibunya.
”Jangan, Nak! Uang ini untuk membeli kebutuhan hidup kita hari ini,” ujar sang Ibu.
”Tapi, Bu! Bedakku sudah habis. Saya harus beli yang baru,” kata Darmi.
”Kamu memang anak tidak tahu diri! Tahunya menghabiskan uang, tapi tidak mau
bekerja,” kata sang Ibu kesal.
Meskipun marah, sang Ibu tetap memberikan uang itu kepada Darmi. Keesokan harinya,
ketika ibunya pulang dari bekerja, si Darmi meminta lagi uang upah yang diperoleh ibunya
untuk membeli alat kecantikannya yang lain. Keadaan demikian terjadi hampir setiap hari.
Pada suatu hari, ketika ibunya hendak ke pasar, Darmi berpesan agar dibelikan sebuah alat
kecantikan. Tapi, ibunya tidak tahu alat kecantikan yang dia maksud. Kemudian ibunya
mengajaknya ikut ke pasar.
”Kalau begitu, ayo temani Ibu ke pasar!” ajak Ibunya.
”Aku tidak mau pergi ke pasar bersama Ibu!” jawab Darmi menolak ajakan Ibunya.
”Tapi, Ibu tidak tahu alat kecantikan yang kamu maksud itu, Nak!” seru Ibunya.
Namun setelah didesak, Darmi pun bersedia menemani Ibunya ke pasar.
”Aku mau ikut Ibu ke pasar, tapi dengan syarat Ibu harus berjalan di belakangku,” kata
Darmi kepada Ibunya.
”Memang kenapa, Nak!” tanya Ibunya penasaran.
”Aku malu kepada orang-orang kampung jika berjalan berdampingan dengan Ibu,” jawab
Darmi.
”Kenapa harus malu, Nak? Bukankah aku ini Ibu kandungmu?” tanya sang Ibu.
”Ibu seharusnya berkaca. Lihat wajah Ibu yang sudah keriput dan pakaian ibu sangat kotor
itu! Aku malu punya Ibu berantakan seperti itu!” seru Darmi dengan nada merendahkan
Ibunya.
Walaupun sedih, sang Ibu pun menuruti permintaan putrinya. Setelah itu, berangkatlah
mereka ke pasar secara beriringan. Si Darmi berjalan di depan, sedangkan Ibunya
mengikuti dari berlakang dengan membawa keranjang. Meskipun keduanya ibu dan anak,
penampilan mereka kelihatan sangat berbeda. Seolah-olah mereka bukan keluarga yang
sama. Sang Anak terlihat cantik dengan pakaian yang bagus, sedangkan sang Ibu kelihatan
sangat tua dengan pakaian yang sangat kotor dan penuh tambalan.
Di tengah perjalanan, Darmi bertemu dengan temannya yang tinggal di kampung lain.
”Hei, Darmi! Hendak ke mana kamu?” tanya temannya itu.
”Ke pasar!” jawab Darmi dengan pelan.
”Lalu, siapa orang di belakangmu itu? Apakah dia ibumu?” tanya lagi temannya sambil
menunjuk orang tua yang membawa keranjang.
”Tentu saja bukan ibuku! Dia adalah pembantuku,” jawab Darmi dengan nada sinis.
Laksana disambar petir orang tua itu mendengar ucapan putrinya. Tapi dia hanya terdiam
sambil menahan rasa sedih. Setelah itu, keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju ke
pasar. Tidak berapa lama berjalan, mereka bertemu lagi dengan seseorang.
”Hei, Darmi! Hendak ke mana kamu?” tanya orang itu.
”Hendak ke pasar,” jawab Darmi singkat.
”Siapa yang di belakangmu itu?” tanya lagi orang itu.
”Dia pembantuku,” jawab Darmi mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
Jawaban yang dilontarkan Darmi itu membuat hati ibunya semakin sedih. Tapi, sang Ibu
masih kuat menahan rasa sedihnya. Begitulah yang terjadi terus-menerus selama dalam
perjalanan menuju ke pasar. Akhirnya, sang Ibu berhenti, lalu duduk di pinggir jalan.

”Bu! Kenapa berhenti?” tanya Darmi heran.

Beberapa kali Darmi bertanya, namun sang Ibu tetap saja tidak menjawab pertanyaannya.
Sesaat kemudian, Darmi melihat mulut ibunya komat-komit sambil menengadahkan kedua
tangannya ke atas.

”Hei, Ibu sedang apa?” tanya Darmi dengan nada membentak.

Sang Ibu tetap saja tidak menjawab pertanyaan anaknya. Ia tetap berdoa kepada Tuhan
agar menghukum anaknya yang durhaka itu.

”Ya, Tuhan! Ampunilah hambamu yang lemah ini. Hamba sudah tidak sanggup lagi
menghadapi sikap anak hamba yang durhaka ini. Berikanlah hukuman yang setimpal
kepadanya!” doa sang Ibu.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba langit menjadi mendung. Petir menyambar-nyambar dan
suara guntur bergemuruh memekakkan telinga. Hujan deras pun turun. Pelan-pelan, kaki
Darmi berubah menjadi batu. Darmi pun mulai panik.

”Ibu...! Ibu... ! Apa yang terjadi dengan kakiku, Bu?” tanya Darmi sambil berteriak.

”Maafkan Darmi! Maafkan Darmi, Bu! Darmi tidak akan mengulanginya lagi, Bu!” seru
Darmi semakin panik.

Namun, apa hendak dibuat, nasi sudah menjadi bubur. Hukuman itu tidak dapat lagi
dihindari. Perlahan-lahan, seluruh tubuh Darmi berubah menjadi batu. Perubahan itu
terjadi dari kaki, badan, hingga ke kepala. Gadis durhaka itu hanya bisa menangis dan
menangis menyesali perbuatannya. Sebelum kepala anaknya berubah menjadi batu, sang
Ibu masih melihat air menetes dari kedua mata anaknya. Semua orang yang lewat di
tempat itu juga ikut menyaksikan peristiwa itu. Tidak berapa lama, cuaca pun kembali
terang seperti sedia kala. Seluruh tubuh Darmi telah menjelma menjadi batu. Batu itu
kemudian mereka letakkan di pinggir jalan bersandar ke tebing. Oleh masyarakat setempat,
batu itu mereka beri nama Batu Menangis. Batu itu masih tetap dipelihara dengan baik,
sehingga masih dapat kita saksikan hingga sekarang.
Legenda Rawa Pening
Kebetulan ada tugas di Semarang. Weekend saya sempatkan untuk jalan-jalan ke Rawa
Pening, yang katanya nih Rawa Pening itu sebuah Legenda. Walau tak ada yang tahu
pasti, sejak kapan legenda itu muncul dan mengapa kawasan tersebut di sebut Rawa
pening, tetap saja masyarakat setempat mengaitkan telaga dengan kemunculan sesosok ular
besar yang dianggap keramat. Menurut mereka, di saat-saat tertentu ular tersebut bergerak
mengitari telaga untuk memberi berkah bagi orang-orang yang membutuhkan. Mereka
sangat menghormati legenda tersebut, sampai-sampai sebuah ornamen dari beton
berbentuk ular besar pun di pasang di pintu masuk telaga ini.

Saya penasaran dengan legenda tersebut, akhirnya saya menemui seorang Nelayan disana
dan mulai bertanya tentang Legenda Rawa Pening. Bapak Nelayan itu bernama Bapak Adi.
Saat dia tau saya penasaran dengan Legenda itu, maka saya diajak kerumahnya untuk
ngobrol-ngobrol. Ternyata legendanya seru juga. Begini ceritanya :

Rawa Pening ada sekitar 1000-2000 tahun yang lalu. Berada 45 km dari kota Semarang.
Mata pencaharian penduduk di sana mayoritas adalah Nelayan eceng gondok. Kedekatan
masyarakat Rawa Pening dengan rawa memunculkan mitos, bahwa terdapat ular besar
yang menempati rawa bernama Biru Klinting.

Salah satu nelayan disana katanya pernah melihat Biru Klinting, warnanya kekuning-
kuningan, dan mempunyai panjang kurang lebih 50 m. Dikepalanya ada tengger yang sama
dengan tengger ayam jago. Siapa sih Biru Klinting sebenarnya?

Konon, hiduplah seorang bocah yang karena kesaktiannya di kutuk seorang penyihir jahat.
Akibatnya, bocah itu memiliki luka di sekujur tubuh dengan bau yang sangat tajam dan
amis. Luka itu tak pernah kering. Jika mulai kering, selalu saja muncul luka-luka baru,
disebabkan memar. Biru Klinting berubah menjadi seorang anak kecil yang mempunyai
luka disekujur tubuhnya, dan lukanya menimbulkan bau amis. Biru Klinting berjalan-jalan
di desa tersebut, dan melihat anak-anak didesa itu sedang bermain. Muncullah keinginan
dihatinya untuk bergabung, namun anak-anak tersebut menolak kehadiran Biru Klinting
dan memaki-makinya dengan ejekan. Biru Klinting pun pergi. Ditengah jalan, perutnya
mulai lapar, dan Biru Klinting mendatangi salah satu rumah dan meminta makan. Saat
itu Biru Klinting pun kembali di tolak bahkan di maki-maki.

Desa tersebut adalah desa yang makmur, namun penduduk di Desa itu sangatlah angkuh.
Sampai suatu hari ada seorang Janda tua (Nyai) yang baik dan mau menampung dan
memberi makan Biru Klinting. Setelah selesai makan, Biru Klinting berterimakasih kepada
Nyai, sambil berkata, "Nyai, kalau Nyai mendengar suara kentongan, Nyai harus langsung
naik ke perahu atau lisung ya?", kemudian Nyai tersebut menjawab "Iya".

Ketika Biru Klinting sedang di perjalanan meninggalkan komunitas tersebut, Biru Klinting
bertemu dengan anak-anak yang sering menghinanya dan langsung mengusir Biru Klinting
dengan kata-kata kasar. Tak terima dengan perlakuan itu, ia pun langsung menancapkan sebatang lidi
yang kebetulan ada di sana. Lalu dengan wajah berang ia pun bersumpah, bahwa tak ada seorang pun yang
sanggup mengangkat lidi ini, kecuali dirinya.

Satu persatu mulai berusaha mencabut lidi yang di tancapkan Biru Klinting, namun anak-
anak tidak ada yang bisa mencabutnya. Sampai akhirnya orang-orang dewasa yang
berusaha mencabut lidi tersebut. Namun hasilnya TETAP TIDAK BISA! Akhirnya Biru
Klinting sendiri yang menarik lidi tersebut, karena hanya dia yang bisa
mencabutnya (mengingat bahwa dia sakti). Saat itupun keluarlah air dari tanah bekas lidi
itu menancap, airnya sangat deras keluar dari tanah, dan terjadilah banjir bandang di Desa
Rawa Pening dan menewaskan seluruh masyarakat di desa itu, kecuali Nyai.

Setelah lidi tersebut lepas, Biru Klinting langsung membunyikan kentongan untuk
memperingati Nyai. Akhirnya Nyai yang sedang menumbuk padi segera masuk ke lisung,
dan selamatlah dia. Nyai menceritakan kejadian ini kepada penduduk2 desa tetangganya
dan Biru Klinting kembali menjadi ular dan menjaga desa yang telah menjadi rawa
tersebut.

Begitulah ceritanya. Saat ini Rawa Pening bukanlah malapetaka, namun menjadi
kemakmuran bagi masyarakat sekitar, karena rawa tersebut bermanfaat bagi pertanian,
budidaya ikan, dan eceng gondok.