Anda di halaman 1dari 3

Integritas, Antusias dan Emosi Satu Tas

CEO’s Note edisi 21 Januari 2011


Oleh: Dahlan Iskan, CEO PT PLN (Persero)
Saya menemui delegasi pengusaha minggu lalu. Salah seorang diantaranya mengemukakan
kegembiraannya bahwa General Manager PLN Sumbar diganti. Dia merasa penggantian itu hasil dari
perjuangannya. Saya tidak perlu menanyakan mengapa pengusaha itu tidak suka kepada GM PLN Sumbar.
Saya tidak sabar. Belum selesai benar dia bicara saya sudah menukas. "Tolong Anda jangan salah sangka.
GM PLN Sumbar itu dipindah bukan karena kurang baik. Dia itu dipindah justru promosi. Dari Sumbar ke
Sumut. Itu sebuah promosi yang besar dan cepat," ujar saya.
Dia terdiam. Saya langsung mengendalikan emosi saya yang sudah satu tas. Cepat memaksakan tersenyum
lagi.
Awal Januari 2011 memang ada penggantian beberapa GM. Tidak ada satu pun GM yang diganti itu
bermasalah. Penggantian itu ada yang karena promosi, ada yang karena sudah cukup lama di jabatannya,
ada yang menunggu jabatan berikutnya dan memang ada pula yang sebenarnya orangnya sangat baik tapi
"mencangkulnya" kurang dalam. Sama sekali tidak ada pertimbangan orang luar ngomong apa.
Orang Semarang yang menyangka bahwa penggantian GM Jateng itu sebagai kemenangan mereka pasti
akan kecewa. Saya sudah berpesan kepada GM Jateng yang baru untuk meneruskan dan meningkatkan
sikap tidak kompromi kepada rekanan PLN yang nakal seperti yang sudah dilakukan GM yang lama.
Secara terbuka, dalam berbagai rapat dan kunjungan saya sudah mengemukakan kebijakan baru Direksi
sekarang ini. Semua orang PLN itu sudah pandai dan cerdas. Ini karena sejak direkrut dulu memang sudah
pandai. Konkritnya, orang PLN itu sudah pandai dan sudah cerdas sejak dari "sono"-nya. Karena itu dalam
setiap memilih pimpinan (GM maupun jajarannya, Kepala Cabang maupun jajarannya dan seterusnya),
kualifikasi pandai tidak diutamakan lagi. Yang kita utamakan adalah integritas dan antusias.
Integritas diutamakan agar seorang pimpinan tidak membawa kepada kerusakan. Kerusakan perusahaan
dan kerusakan manusianya. Orang biasa yang tidak punya integritas hanya akan merusak dirinya. Tapi
pimpinan yang tidak berintegritas akan menimbulkan kerusakan yang luas.
Demikian juga antusias. Seorang pimpinan yang hanya mengandalkan integritas, dia dan perusahaannya
memang akan selamat. Tapi belum tentu bisa membuat perusahaan maju. Untuk maju diperlukan antusias.
Hidup tanpa antusias, hidupkah itu?
Karena itu saya senang sekali minggu lalu menerima email dari Bung Fitratul Qadri. Semula saya kira dia itu
Kepala Cabang dari Kalimantan. Dalam emailnya yang cukup singkat itu dia tidak memperkenalkan secara
detil. Dia hanya minta perhatian saya. Dia minta saya memerintahkan cabang-cabang yang sudah berhasil
mengatasi gangguan penyulang dengan cara paralonisasi itu agar mau menularkan pengalamannya untuk
daerahnya. Pengalaman yang sangat detil sampai pekerjaan teknisnya.
Saya terharu menerima email seperti ini. Maka saat itu juga saya minta Pak Suaedi untuk menghubunginya.
Ternyata dia teman kita yang sebentar lagi akan menduduki jabatan Kepala Ranting PLN di Muara Bulian
Jambi. Rupanya dia gelisah. Di wilayah barunya itu sering terjadi gangguan penyulang akibat pepohonan.
Karena itu saya minta langsung saja diadakan workshop cara-cara paralonisasi. Saya minta seorang
supervisor dari cabang yang sukses di Jawa untuk pergi ke Muara Bulian, Jambi. Bukan untuk mengajar tapi
langsung memimpin dan memberi contoh bagaimana mengerjakan paralonisasi. Saya juga minta agar
supervisor itu jangan membawa paralon dari Jawa. Dia harus memberi contoh sejak dari bagaimana memilih
paralon di Jambi, sampai mengerjakannya.
Cabang Jambi menyambutnya dengan baik. Bahkan Kepala Cabang Jambi menginginkan workshop itu diikuti
pula oleh ranting-ranting lain. Silakan. Gerakan ini akan lebih nyata dan bermanfaat secara langsung –
melebihi, misalnya, sebuah rapat kerja. Gerakan ini bukan lagi merundingkan bagaimana bisa mencangkul
tapi langsung belajar bagaimana mencangkul. Ini akan mirip dengan gerakan pembersihan pohon rame-
rame di Bekasi, di Depok atau juga di Mataram – meski yang terakhir itu sudah sangat terlambat.
Ide-ide baru memang mengalir deras sekarang ini. Dari seluruh Indonesia. Banyak juga Cabang yang
menciptakan sistem monitor trafo distribusi secara otomatis. Namanya macam-macam, tapi fungsinya mirip:
bagaimana agar kalau ada gangguan trafo secara otomatis terlapor ke PLN. Ini untuk mengatasi persoalan
lama : mati lampu tidak segera bisa diatasi karena PLN terlambat tahu. Selama ini PLN baru tahu kalau ada
lampu mati ketika pelanggan lapor. Padahal pelanggan mengira PLN pasti tahu kalau lampunya mati. Kasus
"salaman srimulat" ini pernah saya tulis di CEO Note edisi-edisi awal. Di perumahan sederhana Tenggilis
Mejoyo (rumah saya dan rumah anak saya ada di situ he he he…) lampu mati sampai 9 jam. Gara-garanya
PLN terlambat tahu karena tidak ada pelanggan yang melapor. Pemilik rumah mengira tetangganya pasti
sudah lapor. Padahal si tetangga mengira bahwa tetangga yang lain pasti sudah melapor. Dengan temuan
teman-teman Cabang ini persoalan seperti itu teratasi. Penemuan-penemuan itu memang masih akan
disinkronisasikan oleh PLN Pusat tapi untuk sementara silakan dijalankan sambil uji coba.
Yang juga mendesak untuk segera ditemukan adalah ini : bagaimana bisa melakukan P2TL jarak jauh.
Dengan demikian kalau ada pelanggan yang harus diputus listriknya tidak perlu lagi ada petugas kita yang
datang ke rumah mereka. Kalau teknologi ini bisa ditemukan maka banyak hal akan menjadi baik. Pelanggan
tidak perlu merasa digertak-gertak, tidak perlu ada negosiasi, tidak akan terjadi pemerasan atau
penyogokan, dan tidak akan muncul rasa sungkan. Dan yang lebih penting tidak akan ada pertengkaran,
perkelahian dan pertumpahan darah. Saya sering mendapat cerita yang serba mengerikan dari teman-
teman kita yang melakukan P2TL. Mulai yang di Madura, di Aceh, di Kramat Jati (banyak komplek militernya)
dan bahkan di kawasan kota Jakarta Barat yang sering mengerahkan premannya.
Siapa tahu penemuan teknologi P2TL jarak jauh ini bisa membuat PLN lebih tegas tanpa harus
mencurengkan wajah. PLN bisa keras sambil tetap tersenyum. Siapa tahu juga bisa ikut mengatasi problem
pencurian listrik di kawasan-kawasan yang sulit dideteksi.
Melihat semangat teman-teman PLN di seluruh Indonesia belakangan ini saya kian optimis bahwa PLN
cepat jaya kembali. Karena itu saya sewot benar ketika seorang tokoh pengusaha Sofyan Wanandi menolak
pencabutan capping dengan alasan yang nyinyir. Dia bilang capping tidak perlu dicabut kalau PLN bekerja
keras. Dalam siaran pers yang sudah dimuat lengkap detik.com saya langsung bereaksi (detik.com - finance
tanggal 16 Januari 2011). Pernyataan itu telah meremehkan PLN yang selama setahun terakhir sudah
bekerja lebih keras. Bahkan saya tantang dia : siapa yang lebih kerja keras, saya atau Sofyan Wanandi. Dulu
saya memang kagum pada kepahlawanannya tapi sekarang tidak lagi. Sampai dia meluruskan jalan
pikirannya.
Saya menilai pengusaha seperti dia adalah pengusaha yang cengeng dan tidak berakal sehat.
Meski begitu sebaiknya cukup saya saja yang marah-marah padanya he he. Ini karena saya bisa marah
sambil Insya Allah masih tetap bekerja keras. Jangan sampai workshop paralonisasi itu batal. Paralonisasi
itu lebih penting dari pengusaha yang cengeng! Juga, jangan sampai mimpi punya teknologi "P2TL Jarak
Jauh" tidak terwujud!