Anda di halaman 1dari 10

JURNAL TEKNIK, Volume VII, No.

2, November 2008

Analisis Struktur Mikro dan Sifat Mekanik

Baja Mangan Austenitik Hasll Proses Perlakuan Panas

AbriantoA.

Jurusan Teknik Metalurgi

Fakultas Teknik- Universitas Jenderal Achmad Yani

Abstrak . Nilai kekerasan tertinggi yaitu 334.2HV untuk material baja mangan austenitik dihasilkan dari hasil proses perlakuan panas annealing. Semakin lambat laju pendinginan proses perlakuan panas (quenching, normalizing, annealing) material baja mangan austenitik akan meningkatkan nilai kekerasan material tersebut, yaitu (217.4 HV, 245.0HV, 334.2HV). Strukturmikro material baja mangan austenitik hasil perlakuan panas quenching adalah karbida dalam matrik austenit ("I), sedangkan hasil perlakuan panas normalizing dan annealing adalah karbida dalam matrik ferrit (a).

Kata kunci : baja mangan austenitik, quenching, normalizing, annealing, karbida,ferit dan austenit

1 PENDAHULUAN

Baja mangan austenitik atau baja mangan tinggi dipergunakan sebagai material untuk komponen-komponen yang mengalami gesekan pada saat beroperasinya. Baja mangan austenitik merupakan material yang akan diteliti secara lebihjauh lagi, karena baja tersebut memiliki sifat mekanik yang baik, seperti tahan aus yang sangat baik, kekerasan yang cukup tinggi, ketangguhan yang baik serta ketahanan terhadap korosi yang cukup baik.

Untuk melakukan analisa fenomena metalurgis pada proses proses perlakuan panas baja mangan austenitik, yakni terdapatnya kesamaan pada pembentukan fasa austenitik yang di hasilkan dari proses perlakuan panas quenching dan fasa austenitik yang dihasilkan dari proses perlakuan panas normalizing, Lingkup penelitian pada proses penelitian dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu:

1. Melakukan proses perlakuan panas Annealing, Normalizing, dan Quenching untuk menganalisa pengaruhnya terhadap sifat mekanik dan struktur mikro.

2. Pemeriksaan dan pengujian yang dilakukan terhadap spesimen hasil coran baja mangan austenitik ini meliputi; pemeriksaan visual, komposisi kimia dan struktur mikro serta pengujian kekerasan.

2 SKEMAPENELITIAN

Pada proses ini material yang mengalami proses perlakuan panas kemudian didinginkan dengan media pendingin yang bervariasi seperti terlihat pada skema proses penelitian yaitu: .

Proses quenching, yaitu pendinginan cepat yang menggunakan media pendingin air garam (air laut).

Proses normalizing,. yaitu pendinginan yang cukup lambat dengan menggunakan udara sebagai media pendingin.

Proses annealing, yaitu proses pendinginan yang sangat lamb at yang media pendinginnya menggunakan tungku (tungku yang dimatikan),

90

91

Analisis Struktur Mikro dan Sifat Mekanik

Baja Mangan Austenitik Hasil Proses Perlakuan Panas

PenJ'u]~R'klol~1~Slsl

UJi kskarasan

Pemeriksaan Struktur Mlkro

Gambar 1. Skema Penelitian

1100
,"""
!lI.!U
"'"
~ 7""
:l
.... seo
e
oil
Co 50.
E
oil. .co
I-
:JdC!
eo
100 Waktu (manit)

Gambar 2. Proses perlakuan panas pada baja mangan austenitik

JURNAL TEKNIK, Volume 7, No.2, 2008 92

3 DATADANPEMBAHASAN 3.1 Komposisl Kimia

Tabel1. Hasil Pemeriksaan Komposisi Kimia Coran Baja Mangan Austenitik (BMA)

Dari hasil pengujian komposisi kimia yang ditunjukan pada Tabel.l diatas dapat dikatakan bahwa spesimen pengujian hasil proses pengecoran telah sesuai dengan standarnya yaitu JIS G51 kelas SCMnH2.

Kandungan unsur yang terdapat pada material akan mempengaruhi terhadap sifat-

Unsur Komposisi Kimia ( % )
Hasil Pengujian Standar JIS G 5131
C 0.935 0.9 -1.20
Si 0.40 0.8 (rnax )
Mn 11.9 11- 14
P 0.037 O.07(max)
S ,4' 0.04
-
Ni 022 -
Cr 0.42 -
Al 0.138 -
Fe sisa sisa \ I

I

1 "'~,71 _. - ,~#,".,~,., _. _"'_f;o<_~

! INC9Ml>, ETE Sq_LUTIOl'i OF THE CARBON J'" ,1

I /' """" ",,"""

.~ ...

~ I, '} io- 't' ~'" \~ I:,' ~)I •. ,.:,t,: '.S· ~~.> .11~ .~'" tQ;-:r1 'r. ~_~ ;:-,1 ~.. ~~

Mn PERCENT

Gambar 3. Pengaruh unsur karbon 0.935% dan mangan 11.8% terhadap kekuatan tarik baja mangan austenitik

93

Analisis Struktur Mikro dan Sifat Mekanik

Baja Mangan Austenitik Hasil Proses Perlakuan Panas

mekanik dari material tersebut, terutama untuk unsur-unsur yang dominan yang terdapat dalam material.

Unsur karbon (C) antara 0.935% dan unsur mangan 11.8% akan berpengaruh terhadap kekuatart tarik dan elongasi dari baja mangan austenitik, pengaruh dari unsur ini sangat besar terutama untuk baja mangan austenitik dari hasil proses perlakuan panas quenching (pendinginan cepat). Kekuatan tarik untuk baja mangan austenitik hasil perlakuan panas quenching ini bisa mencapai 50~60 tonlin2, serta elongasi yang bisa mencapai 40-50. Hal ini dapat ditunjukan pada Gambar. 3 untuk pengaruh unsur karbon dan unsur mangan terhadap kekuatan tarik, dan Gambar. 4 untuk pengaruh un sur karbon dan unsur mangan terhadap nilai elongasi yang dihasilkan.

Mn PERCENT

Gambar 4. Pengaruh unsur karbon 0.935% dan mangan 11.8% terhadap elongasi baja mangan austenitlk

Untuk material baja mangan austenitik hasil proses perlakuan panas normalizing dan anealing, unsur karbon (C) akan berpengaruh terhadap struktur mikro yang dihasilkan, dimana struktur mikronya adalah c£ + (FeMn\C seperti terlihat pada gambar 5 dibawah ini.

Unsur silikon (Si) pada baja mangan austenitik secara khususnya tidak berpengaruh terhadap sifat mekanik dari baja mangan austenitik jika kandungan unsur silikon terasebut dibawah 1 %. Tetapijika kandungan unsur silikon yang terdapat dalam baja mangan austenitik Iebih daTi 1 % maka unsur silikon ini akan berpengaruh terhadap sifat keuletan dari baja mangan austenitik ini dimana keuletan dari baja mangan austenitik ini akan menurun, begitujuga dengan kekuatan dari baja mangan austenitik ini akan menurun pula. Silikon (Si) akan sangat berpengaruh secara ekstrim pada kandungan 2,2%.

Un sur sulfur (S) atau belerang yang terdapat dalam baja mangan austenitik harus diusahakan ditekan serendah mungkin karena nantinya akan berikatan dengan mangan (Mn) mernbentuk mangan sulfida (MnS) yang tidak diinginkan, karena MnS ini nantinya akan membentukinklusi.

JURNAL TEKNIK, Volume 7, No.2, 2008 94

l!tlCJ !" .. n'm ~..,_---- ---- •• •• • •• -- - -- j''"~:;''~ .~;. ',; :.~~ ..... - ..... _ .... --I

I !

'''' "i5: i

I I

~~~ .. -,,~., •• ~.,._' ...• n ... '.r>' •• '_.'-."""'''''"···'··-·u····"···~·' . I~·H:~.~.:~:.,:~;._ .. '.~".".". . ~ ., .. ~ < I

I r'~C:.~~.~~:=:~;:~~j;;··-··_~1

• I' I "" "; :~~~:.:.;: I~~~·~J

(l~-d7·h",.".~.~mt'H'Hm.",y",;,~.u_-T-u.-. Ib Il~'" 1~ 'to

M"Nr'ANr,~f._':-' ... WT,4

~~lrN-km uh .. w)u~h tl!(n F\~,~:ft·"cG .8:yfl:.H~H.I 111. l·(J'}(~C

.

Gambar 5. Diagram pembentukan fasa darl bala mangan austenitk untuk Mn 11.8%

Unsur fospor pada baja mangan austenitik ini adalah sebagai pengotor, unsur fospor ini akan menyebabkan kegetasan baja mangan austenitik pada temperatur yang rendah, dan akan menurunkan kekuatan dan keuletan dan baja mangan austenitik ini. Ikatan yang terjadi antara unsur fospor dengan base metalnya yaitu besi (Fe) membentuk Fe3P, sehingga unsur fospor ini dibatasi sampai 0.07% maksimum, selebihnya dari 0.07% tidak ada pengaruh yang signifikan (konstan) terhadap keuletan. Unsur fospor (P) ini akan menurunkan kekuatan dari baja mangan austenitik secara terus menerus jika kandungan unsur fospomya terus meningkat.

Untuk unsur yang terdapat dalam baja mangan austenitik diluar standamya dalam hal ini adanya unsur krom (Cr) yang terdapat dalam material lips bucket yaitu baja mangan austenitik tidak berpengaruh terhadap sifat mekanik baja mangan austenitik jika jumlahnya dibawah 3%, jika unsur krom yang terdapat dalam baja mangan austenitik tersebut diatas 3%. akan berpengaruh terhadap naiknya kekuatan dan keuletan dari material baja mangan austenitik ini,

Un sur alumunium (AI) akan mulai berpengaruh jika kandungan Al yang terdapat dalam material baja mangan austenitik tersebut diatas 0.75% yaitu akan meningkatkan ketangguhan baja mangan austenitk pada kondisi yang as cast (hasil COl-an).

3.2 Kekerasan

Gambar 6. Titik-titik pengujian kekerasan

95

Mikro dan Sifat Mekanik

Baja Mangan Austenitik HasiI Proses Perlakuan Panas

r+A~cast··1

1' ..... ,QuenChin9 i ! "'*"" Normalizing! i "*"" Annealing i

L .I

Gambar 7. Kurva tingkat kekerasan pada material ba)a~mangan austenitik

Hv

Gambar 8. Hubungan antara kekerasan rata-rata dengan perlakuan panas material baja mangan austenitik

"'Y:::;}'!i"l':cJf-;,'; .' .. 0.

Tabel 2. Nilai kekerasan spesimen setelah proses perlakuan pana~ :'y~C'i\::'~'!"

. ;,~..~. . '( - .

No titik pengujian !

JURNAL TEKNIK; Volume 7, No.2, 2008 96

"r.or---------,------:-----___,

Dari grafik dan tabel yang ditunjukan diatas terlihat bahwa semakin rendah laju pendinginan yang diterima oleh baja mangan austenitik, maka nilai kekerasan yang dicapai oleh baja mangan austenitik akan semakin tinggi. Peningkatan kekerasan sebagai akibat lambatnya laju pendinginan pada baja mangan austenitik disebabkan karena meningkatnya presipitat karbida yang terbentuk pada batas butir dan pada bidang-bidang slip.

Karbida yang terbentuk pada baja mangan austenitik ini adalah karbida kompleks yaitu (FeMn)3C, seperti yang terlihat pada gambar 5 yang menunjukkan daerah pembentukan fasa untuk baja mangan austenitik.

Transformasi fasa yang terjadi pada material lips bucket ini sangat dipengaruhi oleh temperatur pemanasan pada saat proses perlakuan panas (normalizing dan annealing) pada proses pemanasan sampai fasa austenit, maka struktur mikro yang diperoleh dari kedua perlakuan panas tersebut adalah fasa a dan karbida (FeMn)3C dimana karbida yang terbentukakan mengendap didaerah batas butir. Sedangkan untuk proses perlakuan panas quenching (pendinginan cepat) daritemperatur austenit akan menyebabkan fasa austenit tersebut akan dipertahankan sampai temperatur kamar. Struktur mikro tersebut (austenit) akan bersifat non magnetik dan memiliki kekerasan yang paling rendah dibandingkan dengan kedua perlakuan panas yaitu normalizing dan annealing.

Material baja mangan austenitik dalam aplikasinya biasa digunakan sebagai komponen dengan kondisi kerja yang mengalami gesekan, salah satu contohnya adalah lips bucket, oleh karena itu komponen tersebut memerlukan kekerasan permukaan yang cukup tinggi agar komponen tersebut umur pakai yang cukup lama. Persyaratan tersebut dapat tercapai untuk baja mangan austenitik ini melalui perlakuan quenching dan dilanjutkandengan tempering atau dengan perlak:uan panas quenching dan defonnasi plastis yang dapat meningkatklan kekerasan permukaan hingga 500-600 HB

Kekerasan optimum maksimum untuk baja mangan austenitik hasil perlakuan panas quenching diperoleh setelah mendapat perlakuan lanjutan yaitu (tempering) pada temperatur 570°C seperti ditunjukkan pada Gambar. 9 dibawah, atau melalui perlakuan lanjutan secara mekanik yaitu pengerjaan dingin dengan deformasi 70% yang dapatditunjukkan olehGambar .10.

Gambar 9. Kekerasan optimum maksimum yang dlhasllkan darl proses' reheatingengaruh unsur karbon 0.935%

97

Analisis Struktur l\1ikro dan Sifat M;ekanil< B~j~ Mangan A~stenitik HasilProses Perlakuan Panas

Gambar 10. Kekerasan yang diperoleh dari proses lanjutan pengerjaan dingin dengan deformasi 70%.

4

Peningkatan kekerasan setelah proses perlakuan panas lanjutan tersebut pada baja

mangan austenitik disebabkan karena mekanisme interlocking dan blocking pergerakan sepanjang bidang slip pada butir austenitik.5) oli.o, and boyd, Mongan ... '1<01, p,h.l,hadfiolds

llmitod· .. mold, lon<!on, .

3.3 Struktur Mikro

NitaI2,5%

200X

Nital2,5%

600X

Gambar 11. Struktur mikro baja manga~ austenitik as cast

Gambar 12. Struktur fTlikro standar material bajamanganaustenlljk a.) as cast. (etsa:nitaI2,5% deng,an pembesaran toto 500X), b.las quenching

JURNAL··'i'EKNII{;'VolugIe 7; No.'2; 2008

. _- ,',. " . _.,,;..... ': '.,' ",

NitaI2,5%

200X

.. ,;I{

' .. ~~".:' .. ~

Nital 2,5% - i

b)

400X

. I

a) .

Gambar ,11. Struktur mikro baja mangan austenitik a) proses quenchlnq

. . . b) proses norma1i4ing -4 .

{Ill 'l"!l"u 'A!. .\nl'l'd F,'~'llll,:( 'l't"l-a'; (II' ,: ~;~l ~~\..""1.J:l1. ~'I i~lj~I.

)'~"\<','!.I .. J r' '; )(1-) .

a)

Nita12,5%

200X,

.:'~

........

Gambar 12. StruKtur mikro bala manganaustenltlk a) ~ndar urituk proses annealing

. b) proses annealing .'

Dari hasil pemeriksaan struktur mikro untuk material baja manganaustenitik hasil pengecoran (as-cast) ini ditunjukan fasa-fasa yang terbentuk adalahfasakarbida (FeMn)3C pada batas butir dengan matriks fasa a. Sedangkan setelah mengalami perlakuan panas quenching fasa yang terbentuk adalah karbida pada batas butir prior austenit (y). Karbida tersebut merupakan karbida yang belum larut pada saat proses pemanasan austenisasi, hal ini bisa disebabkan karen a kutangnya holding time atu

waktu penahanan pada saat proses austenisasi., .

Perlakuan panas dengan laju pendinginan yang relatif lambat yaitu proses normalizing dan annealing akan menghasilkan fasa karbida (FeMn)3C dalam matriks ferit. Semakin lambat laju pendinginan dati proses pemanasan austenisasi maka karbida yang terbentuk akan semakin banyak, Struktur mikro yang terbentuk pada baja mangan austenitik sebagai akibat dari perlakuan yang dialaminya akan sangat menentukan sifat mekanik dari baja mangan austenitik tersebut.

Korelasi struktur mikro yang terbentuk P~da baja mangan austenitikterhadap nilai kekerasannya adalah: kekerasan karbida akan lebih tinggi dibanding kekerasan fasa ct dan akan lebih tinggi pula nilai kekerasannya dibanding kekerasan fasa austenit (y). Jadi nilai kekerasan material lips bucket hasil perlalruan panas annealing akan lebih tinggi dari kekerasan hasil perlakuan panas normalizing dan kekerasan hasil

. ~ ... '"., -,' "-, ... ~._'.~;'

, b)

. AnaUsis Struktur Mikrodao Sir"t ;Mekanik ' B~ja ManKBnAusie'nitikHasii Proses pe~~akuanPaoas.

. ,,' • • I - . _ ' •

99

4 KESIMPULAN

1. Komposisi kimia material baja mangan austenitik dari hasil pemeriksaan komposisi kimia sesuai dengan standarnya yaitu JIS 051 kelas SCMnH2

2. Nilai kekerasan tertinggi yaitu 334.2HV untuk: material baja mangan austenitik dihasilkan dari hasil proses perlakuan panas annealing.

3. Semakin lambat laju pendinginan proses perlakuan panas (quenching, normalizing, annealing) material baja mangan austenitik akan meningkatkan nilai kekerasan material tersebut, yaitu (217.4H~ 24S.0HV, 334.2HV).

4. Struktur mikro material baja mangan austenitik hasil perlakuan panas quenching adalah karbida dalam matrik austenit (1), sedangkan basil perlakuan panas normalizing dan annealing adalah karbida dalam matrik ferrit (a)

5. Semakin lambat laju pendinginan prose§ perlakuan panas (normalizing dan annealing) material baja mangan austenitik maka presipitasi karbida yang terbentuk akan semakin banyak

5 DAFTARPUSTAKA

1. Barnbang Widyanto.,Muki Setyapermana., Rochim Suratman, Studi Perbandingan Karakteristik Beberapa Baja Mangan Hadfield Buatan Dalam dan Luar Negri dan Eks Import, Makalah Seminar: Penggunaan dan Pengembangan Baja Mangan bagi Industri di Indonesia, ITB, Bandung, 2002

2. Donald S. Clark., Wilbur R Varney, Physical Metallurgy For Engineer, by American Book Company 1962.

3. Evi Ganeffiati., Analisa Kerusakan Pada Jaw Crusher Pemecah Batu Kwarsa, TugasAkhir, STTIB, Bandung, 1990

4. Goerge Krauss., Steels Heat Treatment and Processing Principles. Ohio, 1990

5. John D. Verhueren., Fundamentals of Physical Metallurgy., 1975' byJohn Wiley & Sons. Inc canada

6. Kenneth G. Budinski., Michael K. Budinski., Engineering Materials Properties and Selection., Sixth Edition; 1979 by Prentice Hall. Inc., Niacorn company New

07458.USA. . ,

9. Metal Handbook vo!.7 Attlas of Microstructure of Industrial alloy., ASM

International,1972 '

10. Oliver and Boyd., Manganese Steel. '