Anda di halaman 1dari 4

c c

   


 c     

Pendidikan Nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20

Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, berfungsi mengembangkan kemampuan dan

membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan

kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia

yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulai, sehat, berilmu,

cakap, kreatif, madiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

(UU No. 20/2003:8).

Untuk mewujudkan fungsi dan tujuan pendidikan di atas, diperlukan upaya peningkatan

dan pengembangan proses pembelajaran di sekolah, sehingga peningkatan sumber daya

manusia segera terwujud. Salah satu upaya dalam peningkatan pembangunan sumber daya

manusia dilakukan melalui proses pendidikan yang mengacu pada Standar Nasional

Pendidikan. Diantaranya:

À Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap,

pengetahuan, dan keterampilan.

À Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam

kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran,

dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis

pendidikan tertentu/

1
À Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan

pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.

Disamping hal tersebut di atas, juga harus ditunjang dengan proses pembelajaran yang

telah terbukti bisa mengubah paradima lama yaitu pembelajaran yang berorientasi pada guru

menjadi pembelajaran yang berorientasi pada siswa yaitu pembelajaran Pendekatan Model

Kontektual (Contextual Teaching and Learning / CTL ).

Pendekatan pembelajaran ini merupakan suatu konsep atau model pembelajaran yang

membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan

mendorong siswa membuat hubungan antara pengetauhuan yang dimilikinya dengan

penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat, model

pembelajarannya dengan kerangka pikir pengetahuan yang harus dibangun sendiri oleh siswa

berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya, agar mempunyai makna, belajar harus

terjadi dalam latar aktual dan diacukan kearah pemecahan masalah yang dihadapi siswa dalam

kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, pembelajaan model kontektual adalah salah satu

pendekatan pembelajaran yang memberikan peluang terjadinya proses yang aktif, kreatif pada

siswa untuk mengembangkan dan mengkonstruksi atau membangun pengetahuan yang sudah

dimilikinya melalui diskusi sesama teman, bertanya pada teman dan bertanya pada guru atau

lebih dikenal dengan Cara Belajar Siswa Aktif.

Di beberapa sekolah ada beberapa guru yang telah melakukan model pembelajaran yang

inovatif dan kreatif, ternyata masih belum bisa meningkatkan keaktifan siswa dalam proses

pembelajaran. Salah satu kendala bagi guru untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam proses

pembelajaran adalah siswa kurang berani mengemukakan pendapatnya sendiri dan menanggapi

pernyataan dari teman lain meskipun telah diminta oleh guru. Hal ini terlihat pada saat diskusi
kelas maupun diskusi kelompok, banyak siswa yang pasif, kurang terjadi interaksi antara siswa

satu dengan lainnya. Hal ini menyebabkan guru menjadi kesulitan untuk mengukur sejauh mana

materi pelajaran bisa diserap oleh siswa. Kurangnya interaksi ini juga berpengaruh pada motivasi

belajar siswa. Sehingga akibat dari dua hal tersebut adalah rendahnya hasil belajar siswa.

Pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) standar kompetensi

yang ditetapkan tersirat bahwa untuk ranah kemampuan psikomotor mendapat porsi yang lebih

besar daripada ranah kognitif dan afektif (Pedoman Umum Pengembangan Silabus dan Penilaian

Mata Pelajaran TIK : 2004 ).

Pada beberapa sekolah di Pasuruan kemampuan dasar siswa pada mata pelajaran TIK

terutama pada ranah psikomotor sangat beragam, hal ini disebabkan beberapa hal yaitu:

À Pada saat di SLTP pembelajaran TIK lebih bersifat teori karena fasilitas Laboratorium

Komputer masih minim.

À Ada beberapa siswa yang orang tuanya sudah memiliki komputer di rumahnya sehingga lebih

terampil dibanding temannya.

À Ada beberapa siswa yang tergolong mampu ekonominya lebih sering rental atau menyewa

komputer untuk meningkatkan ketrampilannya.

Kenyataan inilah yang mengharuskan guru bisa melayani kebutuhan siswa yang

bervariasi sehingga standart kompetensi yang ditetapkan bisa tercapai dan bisa memberikan

pelayanan yang lebih pada siswa yang lain. Kendala tersebut diatas bisa diminimalkan dengan

satu metode mengajar yang mengedepankan pendekatan personal siswa yaitu metode

pembelajaran konsultatif.
·leh karena itu penulis memilih judul Pengaruh Penggunaan Metode Konsuktatif

Terhadap Keaktifan, Motivasi Belajar dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI SMAN 3 Kota Pasuruan

Tahun Pelajaran 2010/2011.