Anda di halaman 1dari 55

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software

http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

41

BAB III

OBJEK PENELITIAN

3.1 Sejarah Lesbian

“Homoseksualitas di kalangan wanita disebut cinta lesbis atau

lesbianisme. Seperti yang Kartini Kartono dalam buku Psikologi

Abnormal dan Abnormalitas Seksual ungkapkan bahwa lesbian atau

lesbianisme berasal dari kata Lesbos yaitu pulau di tengah Lautan Egeis

yang pada zaman kuno dihuni oleh para wanita.” (Kartono, 2009 : 249)

“Konon siapa saja yang lahir di pulau itu nama belakangnya akan di

ikuti kata Lesbia, namun tidak semua orang yang memakai nama tersebut

adalah lesbian. Mereka meneruskan kebiasaan tersebut untuk menghormati

1
leluhur sebelumnya dan agar kebiasaan itu tidak hilang oleh waktu karena

semakin zaman terus berkembang orang-orang pun lebih mengenal istilah

lesbian sebagai lesbian. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),

lesbian adalah wanita yang mencintai atau merasakan rangsangan seksual

sesame jenisnya; wanita homoseks.” (Edisi kedua, 1995)1

Sekian abad hubungan antar kaum hawa ini jarang sekali terjadi dan

bisa dimaklumi karena hubungan antar kaum lesbian ini lebih bisa

tersimpan dengan rapat dan rapi daripada kaum gay. Bisa jadi karena

kaum feminisme lebih pintar mengeksplorasi cinta yang mereka dapatkan.

Terkadang apa yang dirasakan kaum hawa tidak mudah di terjemahkan

1 http://kamusbesarbahasaindonesia.com./1995/edisikedua.html

2
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software

http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

42

oleh kaum adam. Karena wanita dianugrahi sifat dasar yang lembut dan

sensitifitas yang cukup tinggi. Fenomena hubungan sejenis lesbian

memang bukan hal yang baru dalam gaya hidup masyarakat metro

modern. Meskipun keberadaannya masih terbilang sangat rahasia karena

hubungan lesbian sangat sulit untuk diditeksi. Lesbian terlatar belakangi

dari banyak hal, misalnya karena bentukan orang tua yang menginginkan

mereka tumbuh menjadi lelaki, pengaruh lingkungan serta karakteristik

yang memaksa mereka tumbuh menjadi gadis tomboy dan pada akhirnya

membawa mereka lebih dekat dengan pribadi maskulin.2

Tidak hanya dari faktor-faktor yang seperti diatas sebutkan saja,

3
faktor lain yang menyebabkan hal tersebut terjadi karena trauma yang

diberikan orang tua kepada sang anak. Contohnya kurang perhatian dari

seorang ibu atau sakit hati kepada laki-laki yang menyebabkan wanita itu

membenci laki-laki dan pada akhirnya dia berbalik arah ke kaum wanita

yang dia anggap bisa lebih mengerti dirinya dibandingkan laki-laki. Dapat

juga karena ”dia” merasa nyaman dengan satu wanita hingga muncul

hasrat lain yang hadir dalam hatinya karena kedekatan akibat dari saling

cerita atau curhat

yang dapat memicu terjadinya lesbian. Faktor-faktor

seperti itu yang akhirnya terakumulasi menjadi sebuah babak baru dalam

percintaan mereka. Menjadi seorang lesbian bukanlah pilihan hidup yang

harus dijalani dengan kata lain komunitas lesbian ini memang tidak dapat

menolak dengan apa yang terjadi pada dirinya. Mereka terjebak dalam

8 http://sarahku-sarahku.blogspot.com/2008/05/meneropong-jejak-kaum-
lesbian_19.html

4
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software

http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

43

dunia yang mengharuskan mereka memilih jalan tersebut dengan batasan

norma dan etika yang ada meskipun masyarakat menolak keadaan mereka

itu. Komunitas lesbian tumbuh berkembang di negara Belanda, disana

mereka bebas menunjukkan hubungan sejenis. Lain halnya dengan

Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran, karena itu untuk

menditeksi keberadaan mereka pun sangat sulit.

3.1.1 Zaman Nabi Luth

Lesbian tumbuh pertama kali pada zaman Nabi Luth AS yang pada

saat itu diutus oleh Allah SWT untuk memperbaiki akidah serta akhlak

kaumnya yang tinggal di negeri Sadum, Amurah, Adma’, Sabibum dan

5
Bala’, di tepi Laut Mati. Nabi Luth memilih untuk tinggal di negeri yang

lebih besar yaitu di Sadum. Sadum mengalami kehancuran moral karena

kaum wanita lebih senang berhubungan dengan sesama jenisnya

dibandingkan dengan kaum lelaki. Ketika menyaksikan perbuatan

kaumnya yang tidak bermoral tersebut, Nabi Luth menegur dan

memperingatkan mereka agar meninggalkan kebiasaannya. Ia mengajak

untuk menyalurkan naluri seks sesuai dengan fitrah melalui perkawinan

antara wanita dan laki-laki, namun ajakan tersebut mengakibatkan Nabi

Luth diusir dari masyarakatnya. Sementara itu mereka terus melanjutkan

perbuatan tersebut dan tidak bermaksud untuk meninggalkan kebiasaanya

itu.3

9 http://marigaul.com/islam/2106-b-sejarah-homoseksual-dan-lesbian-versi-
islam.html

6
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software

http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

44

3.1.2 Sejarah Lesbian di Barat (Eropa)

Dalam sejarahnya di masa lalu, keberadaan kaum lesbian di Barat

(Eropa) bukan hanya dilarang oleh masyarakat dan institusi agama, tetapi

juga dilarang secara hukum dan di kriminalkan oleh negara. Dengan dasar

pembenaran atau interpretasi dari teks Injil atau ajaran kristiani (kisah

Sodom dan Gomora), kaum lesbian dianggap sebagai kaum yang berdosa

dan dikutuk oleh Tuhan sehingga harus dimusnahkan. Karena itu

seseorang yang diketahui sebagai seorang homoseksual (lesbian) akan

dihukum sampai mati oleh keluarganya atau oleh masyarakat sekitar dan

juga oleh negara sesuai dengan Undang-Undang atau hukum yang

diberlakukan pada masa itu. Ini terjadi di Belanda pada tahun 1730-an,

7
dimana kaun lesbian mengalami banyak sekali kekerasan baik dari

keluarga, masyarakat, instuisi agama dan negara.

Pada tahun 1960-an kaum lesbian (hampir seluruh Eropa) secara

tegas menuntut kesamaan hak dengan warga negara lainnya tanpa

membedakan orientasi seksualnya. Di Amsterdam, pada tanggal 4 Mei

1970 Aksi Kelompok gay Muda Amsterdam (Amsterdamse Jongeren

Aktiegroep Homoseksualiteit) melakukan aksi peringatan nasional untuk

para korban meninggal akibat kekerasan yang dialami korban

homoseksual. Peringatan ini dilakukan di Bundaran Dam (tugu peringatan

perang dunia ke II yang mengorbankan nyawa ribuan orang secara sia-sia

yang terletak di jalan Damrak pusat kota Amsterdam) namun polisi

8
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software

http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

45

membubarkan aksi ini dan menangkap beberapa aktivis dengan tuduhan

telah mengganggu ketertiban umum.

Pada bulan Mei 1979, dicetuskan dari ide anggota Center for

Culture and Recreation sebuah organisasi lesbian yang didirikan pertama

kali di Amsterdam tahun 1946 untuk mendirikan sebuah monument

peringatan bagi kaum homoseksual yang bekerja sama dengan kelompok

gay dari Partai Sosialist Pasifist (The Gay Group of The Pasifist Socialist

Party). Ide ini mendapat dukungan dari kelompok gay dan lesbian, baik

dari individu maupun kelompok yang terdiri dari 7152 group lesbian dan

gay juga dukungan dan antusiasme dari dunia internasional. Untuk

9
merealisasikannya, dilakukan pencarian dana dengan membentuk Komite

Pencarian Dana (Fund Raising Committee) yang beranggotakan para

aktivis gay dan lesbian, politisi, seniman dan aktivis keagamaan.

Setelah delapan tahun menggalang dana, dana yang terkumpul

sebesar 180.000 Euro. Dana tersebut diperoleh dari sumbangan individu,

organisasi lesbian dan gay, serta kegiatan-kegiatan seperti festival seni di

musim semi, festival paradiso tahun 1980, festival homomonu-month pada

Oktober 1981, pementasan Nigth Before Day Break pada bulan Desember

1986. Serta sumbangan dari Parlemen Belanda sebesar 45.500 Euro ketika

kontruksi monument sudah mulai dipasang, bahkan Perdana Menteri pun

memberikan konstribusi yang sangat besar dalam pembangunan

monument ini.4

4 http://intropeksidiri.wordpress.com/2007/11/19/nasib-kaum-homo-dan-
lesbi/#more-29

10
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software

http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

46

3.2 Teori-teori Lesbian Menurut Para Ahli Seksualis

Beberapa teori menarik tentang lesbian yang peneliti kutip dari

para ahli seksualis sebagai berikut :

Menurut John D’Emilio

John D’Emilio adalah ahli sejarah terkemuka mengatakan bahwa

lesbian bukan merupakan bawaan lahir. Dia menyatakan bahwa wanita

lesbian tidak selalu ada. Sebaliknya bhawa mereka (lesbian) adalah

produk sejarah dan telah muncul dalam era sejarah tertentu.

11
Kemunculan mereka terkait dengan hubungan kapitalisme tetapi sudah

pada perkembangan historis kapitalisme dan lebih khususnya lagi

dengan sistem kerja bebas yang telah memungkinkan sejumlah besar

perempuan dalam abad kedua puluh menyebut diri mereka lesbian.

Jadi lesbian merupakan produk sejarah yang muncul karena perubahan

ekonomi pada abad ke 17 dan 18 ketika kapitalisme dan industrialisasi

menarik orang-orang muda dari pedesaan tradisional masuk ke

perkotaan.

Pergeseran ini mengubah makna keluarga dari kehidupan privasi

menjadi dunia kerja publik. Perubahan ini menggiring orang-orang

untuk menemukan kebahasiaan emosional, cinta, keintiman dan seks.

Intinya dunia kapitalisme dan industrialis memberikan pilihan-pilihan

erotis tergadap seksualitas. Ketersediaan pekerjaan memungkinkan

banyak orang berinteraksi positif, bahkan mulai ada tempat-tempat

dimana mereka bisa berkumpul, berbaur dan berinteraksi.

12
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software

http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

47

Menurut Kathy

Teori John D’Emilio didukung oleh Kathy yang menurutnya

kapitalisme telah mengantarkan era baru kebebasan. Kebebasan

membuat individu mulai mencari kegidupan pribadi kebahagiaan dan

kepuasan yang didasarkan pada jenis kelamin yang pada akhirnya

membawa mereka untuk mengidentifikasi sebagai orang-orang lesbian.

Menurut Havelock Ellis

Sejalan dengan teori lesbian dari sisi kapitalisme, industrialisasi

dan urbanisasi diatas, pada abad ke-19 muncul ilmu kelamin atau studi

13
ilmiah seksual. Havelock Ellis adalah seorang seksolog yang

berpendapat bahwa lesbian merupakan bawaan dari lahir yang tidak

dapat dihindari.

Menurut Lisa Duggan

Masih berdasarkan ilmu perkelaminan diatas, konstribusi

munculnya penyimpangan seksual perempuan dikarenakan adanya

keinginan segelintir orang ingin dibedakan dari mayoritas. Jadi mereka

menjadi lesbian karena ingin berbeda dengan orang lain.

Menurut Kraaft-Ebbing’s

Peneliti yang ahli dibidang Psychopathia Sexualis ini menegaskan

bahwa sebenarnya sampai tahun 1880-an pengkategorin

homoseksualitas kata lesbian itu belum ada. Para ahli lah yang

kemudian memilah-milah jenis kelamin manusia berdasarkan

14
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software

http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

48

pandangan medis, sehingga muncul kata gay. Lesbian, dyke dan lain-

lain.

Menurut Martha Vicinus

Pandangan yang berbeda muncul dari Martha, menurutnya

erotisme seks sebenarnya sudah ada dari sejak manusia dilahirkan.

Orang-orang memulainya dari persahabatan romantis. Hal ini ditandai

dengan saling menulis surat cinta satu sama lain yang mengungkapkan

kekaguman satu sama lain. Pendapatnya ditegaskan oleh Smith

15
Rosenberg, bahwa hubungan persahabatan romantisme itu biasanya

akan berlanjut dengan mengirimi bunga, hadiah , catatan, puisi,

pertukaran ikat rambut sebagai tanda peningkatan hubungan intens.5

3.3 Ciri-ciri Lesbian

Sebelum mengenal kata lesbian, kita tahu bahwa lesbian adalah

istilah untuk wanita penyuka sejenis. Lesbian, kelainan seksual ini telah

melanda lapisan masyarakat dan bahkan terorganisir dengan sangat kuat

dan rapi. Jutaan masyarakat di Amerika, Eropa sampai masyarakat miskin

di berbagai kawasan kumuh pun trekena kelainan seksual ini. Termasuk

Indonesaia yang saat ini kelainan seksual lesbian telah berkembang

dimana-mana, salah satunya Bandung yang diduga sebagai kota dengan

komunitas lesbian terbesar dengan mulai diperlihatkannya keberadaan

5 http://sepocikopi.com/2010/02/06/noktah-merah-teori-teori-menarik-tentang-
munculnya-lesbian/

16
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software

http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

49

mereka di umum maka orang-orang pun sudah sedikit banyak telah

menyadari keberadaan komunitas ini.

Kelainan seksual ini bercirikan masing-masing jenis, maksudnya

perempuan senang mengadakan hubungan dengan perempuan lain.

Dibawah ini adalah ciri-ciri remaja bergejala lesbian :

Remaja ini lebih senang bergaul dengan anak-anak berjenis kelamin

yang sama dan berusia dibawahnya.

17
Biasanya anak ini takut berbicara dengan lawan jenisnya.

Berpakaian seperti atau menyenangi kegiatan yang biasa dikerjakan

laki-laki.6

3.4 Istilah-istilah dalam Lesbian

Istilah-istilah bagi para lesbian ada tiga jenis yaitu :

1.

Butch atau butchy, biasanya dilabelkan pada pasangan yang lebih

dominan dalam hubungan seksual. Butch lebih digambarkan sebagai

sosok yang tomboy, agresif, aktif, melindungi dan biasanya berlaku

sebagai laki-laki.

2.

Femme, kata Femme digunakan dalam komunitas transgender (gender

yang berpindah-pindah, misalnya dulu laki-laki lalu menjadi

perempuan). Kata ini berasal dari bahasa Perancis yang berarti “as a

18
women”, tapi oleh banyak kalangan diganti menjadi pemale. Lalu

berubah jadi Femme yang digambarkan sebagai sosok yang sangat

6 http://www.acehforum.or.id/ciri-ciri-remaja-t18186.html?
s=4cccfea093c91a4ae505d04974262bf6&amp

19
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software

http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

50

peminim (kewanitaan). Dengan memakai baju seperti wanita dan

berprilaku sebagai wanita. Dalam hubungan lesbian, femme ini

berperan sebagai sang wanita.

3.

Andro, dilabelkan pada orang yang diwaktu-waktu tertentu bisa

berperan sebagai butchy atau femme.7

Sebutan untuk lesbian sebenarnya masih ada dan cukup diketahui

oleh orang-orang diluar komunitasnya, dan dari penelitian tersebut peneliti

mengetahui istilah lines dan lesbiola juga dipakai untuk menyebut para

lesbian yang keberadaannya tidak ingin diketahui atau untuk mengelabui

20
orang-orang yang berada disekitanya agar pembicaraan mereka tidak

dimengerti. Oleh karena itu komunitas ini lebih menghargai bila seseorang

menyebutkan istilah tersebut dibandingkan dengan sebutan lesbian sendiri.

Istilah tersebut hingga saat ini belum diketahui darimana datangnya kata

itu muncul.

3.5 Lesbian di Kota Bandung

Tidak ada yang mengetahui darimana akar perkembang lesbian di

kota Bandung, beberapa sumber mengatakan lesbian lahir di kota Bandung

seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman yang terus berubah.

Perkembangan teknologi pun menjadi salah satu penyebab penyebarannya,

dimana kemampuan teknologi saat ini sangat menjamin orang untuk

mendapatkan informasi dengan mudah. Biasanya komunitas ini melakukan

7 http://www.tmore-online.com/tmore/content/rubric/4/552

21
Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software

http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

51

perkenalan lewat jejaring sosial di internet seperti Facebook yang sekarang

memang sedang banyak di gandrungi orang, Friendster, Twitter, Blog, dan

MiRC serta situs pribadi untuk komunitasnya. Semua itu mereka lakukan

utnuk tetap dapat menjaga ke eksistensian komunitasnya di dunia maya.

Untuk di dunia nyata sendiri, komunitas ini senang untuk ”unjuk

gigi” di depan masyarakat dengn sering ”nongkrong” di tempat-tempat

ramai. Di Bandung ini khususnya, komunitas ini biasanya ”nongkrong” di

Tony Jack Bandung Indah Plaza (BIP) orang-orang atau komunitas ini

menyebutnya komunitas TJ (Tony Jack). Paris Van Java (PVJ), Dago

Plaza (Dapla) dan tempat hiburan malam Planet atau lebih dikenal dengan

22
komunitas PL ini juga menjadi tempat biasa mereka kumpul untuk sekedar

ngobrol atau sharing

dengan teman-teman di komuntasnya tersebut.

Hampir setiap tempat hiburan malam menjadi tempat bagi komunitas

ini, karena mereka dengan berada ditempat ramai seperti itu kemungkinan

keberadaan mereka di Bandung dapat diterima dengan baik. Biasanya

komunitas ini sering keluar dan berkumpul setiap sabtu malam atau malam

minggu, bila hari-hari biasa (Senin sampai Jumat) tempat-tempat yang

disebutkan diatas tersebut tidak terlalu ramai. Dengan munculnya disana

mereka sudah berani menampakkan diri dan tidak menghiraukan

pandangan orang lain.

Sumber: http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=94701

Lesbian: wanita yang bercinta kasih dengan sesame jenisnya: wanita


homoseksual

Lesbianisme: sifat cinta birahi anatara sesame wanita

23
Fenomena: gejala: sesuatu yang bisa dilihat dgn pancaindera dan dapat
dibuktikan secara ilmiah: fakta, nyata

Fenomenologi: ilmu tentang gejala yang sedang di amati secara teliti, yang
memandang gejala sebagaimana adanya, ilmu yang menelaah apa yg menjadi
hakikat

Summer: http://books.google.co.id/books?id

Sudah tahu apa itu lesbian? Yang jelas sudah banyak yang tahu maksudnya, namun kali
ini akan membahas lebih jauh agar lebih tahu tentang istilah ini. Lesbian adalah istilah bagi
perempuan yang cenderung untuk mengarahkan orientasi seksualnya pada sesama perempuan
atau bisa juga disebut perempuan yang mencintai perempuan baik secara fisik, seksual,
emosional atau secara spiritual. Pengertian ini menurut wikipedia. Sedangkan lesbianisme,
tentu saja adalah paham lesbian ini.

Seringkali orang menduga bahwa perempuan yang tomboy atau bersifat ke-laki-lakian adalah
lesbian, benarkah? Ternyata tidak semua kaum lesbian berpenampilan tomboy, banyak juga
dijumpai lesbian yang bergaya layaknya perempuan normal, yakni feminin. Demikian
menurut Prof Koentjoro PhD, Guru Besar Psikologi UGM, seperti yang pernah dilansir Jawa
Pos.

Dari soal karakter sikap dan prilaku, seorang lesbian merasa dirinya laki-laki tapi terjebak
dalam tubuh perempuan. Prof Koentjoro menyebut bentuk mereka dengan istilah “priawan”.
Ini tentunya kebalikan dari waria. Tipe tersebut akan cenderung mencari perempuan
heteroseksual sebagai pasangan hidupnya.

Maksudnya, orientasi seksualnya dominan laki-laki. Namun, Berbeda halnya dengan lesbian
murni. Adanya anggapan lesbian sebagai another sex, akan menjadikan mereka selalu
mencari pasangan perempuan yang lesbian juga. Lesbian seperti itu, akan tampak sangat
feminin. Seperti layaknya perempuan dalam tubuh perempuan. Bahkan, tingkah lakunya
mungkin bisa saja lebih halus dari perempuan pada umumnya.

Ciri-ciri lesbian bagimana yang biasanya tampak? Pada umumnya, kaum homoseksual
mempunyai sex role yang cenderung berubah-ubah. Karena itu, tampak pada lesbian, sifat
gaya kelaki-lakiannya. Walaupun ini disembunyikan, namun akan tetap tampak karakter laki-
lakinya. Itu hanya disebabkan lesbian cenderung lebih tertutup karena adanya tuntutan
budaya yang mengarahkan pada tataran hidup normatif.

Tentu saja hal ini bisa dikatakan suatu kelainan. Dalam berhubungan seks dengan perempuan
lain pun, mereka akan tetap bisa orgasme. Biasanya, mereka menggunakan alat bantu seksual.
Menurut penelitian, ada juga kemungkinan, para lesbian ini awalnya hanya ingin merasakan

24
nikmatnya berhubungan seksual, namun mereka takut mengalami kehamilan. Sebab itulah,
mereka akhirnya jatuh ke dalamnya.

Selain itu, lesbian sangat rentan mengonsumsi narkoba. Awalnya, tentu saja hanya untuk
berfantasi dan mencari sensasi. Itu biasa dilakukan agar mengundang gairah bagi para lesbian
lainnya. Ini berbeda dari kasus perempuan tomboy yang hanya sekadar ingin tampil layaknya
laki-laki.

Ada banyak faktor yang menyebabkan mereka jatuh ke masalah ini. Umumnya, faktor yang
memengaruhi perempuan menjadi lesbian bisa disebabkan oleh pengalaman hidup. Mulai
dari pola asuh orangtua, survive hidup, gaya hidup, sampai adanya unsur balas dendam.

Misalnya, peran ayah dalam rumah tangga yang kerap menyakiti ibunya. Atau, dirinya
sendiri mungkin pernah disakiti oleh kalangan laki-laki. Itu dapat membangkitkan jiwa
lesbianisme. Selain itu, bisa juga disebabkan oleh faktor hormonal. Hormon laki-lakinya
lebih kuat daripada hormon perempuan.

Meski begitu, lesbian ini bisa saja disembuhkan. Asalkan, ada kemauan dan tekad yang kuat.
Masa remaja adalah masa yang sangat rawan dan menjadi titik rentan munculnya
lesbianisme. Bila itu terjadi, harus segera berkonsultasi kepada psikolog.

Akan menjadi sebuah kesalahan yang sangat fatal jika seorang perempuan
mengaktualisasikan dirinya pada komunitas lesbian. Bila seorang lesbian ingin sembuh,
terlebih dahulu seharusnya ia harus keluar dari komunitas lesbian. Dia tidak akan bisa
sembuh, tapi malah akan lebih jauh terjerumus ke dalamnya.

Umumnya, komunitas lesbian ini sebenarnya hanyalah menjadi wadah rasa dan jiwa senasib-
sepenanggungan. Sebelum adanya gejala adiksi (ketergantungan) itu muncul. Jika bergabung
dengan komunitasnya, seorang lesbian justru akan semakin jauh terjerumus di dalamnya.

Sumber: http://www.warungbebas.com/2011/04/lesbian-lesbianisme.html (01


April 2011)

Sebab-Sebab Munculnya Homoseksual/Lesbian

Sebagaimana telah dirumuskan oleh para pakar, bahwa homoseksual (untuk sesama
perempuan disebut lesbian) adalah rasa tertarik secara perasaan (rasa kasih sayang, hubungan
emosional) dan atau secara erotik, baik secara lebih menonjol (predominan) atau semata-mata
(eksklusif), terhadap orang-orang yang berjenis kelamin sama, dengan atau tanpa hubungan
fisik (jasmaniah). Dari sudut pandang psiko-medis, homoseksual saat ini tidak lagi
dikategorikan sebagai suatu gangguan atau penyakit jiwa ataupun sebagai suatu
penyimpangan (deviasi) seksual. Karena homoseksualitas merupakan suatu fenomena
manifestasi seksual manusia, seperti juga heteroseksualitas (hubungan seks antar jenis

25
kelamin berbeda) atau biseksualitas (hubungan seks dengan sesama dan antar jenis kemain
berbeda).

Sudut pandang psiko-medis itu tentu berlawanan dengan sudut pandang agama yang lebih
melihat dari sisi moral dan fitrah kemanusiaan. Melakukan hubungan seks dengan sejenis
adalah perilaku yang tidak sesuai dengan fitrah manusia yang diciptakan Allah berpasang-
pasangan, dan pasangan itu adalah laki-laki dan perempuan, sebagaimana Allah juga
menggambarkan sepasang fenomena alam yaitu siang dan malam. Mungkin yang dimaksud
bukan penyimpangan seksual atau gangguan jiwa dalam sudut pandang psiko-medis terhadap
perilaku homoseksual/lesbian, adalah karena para pelaku homoseksual/lesbian tidak merasa
ada penyimpangan dan mereka menjalaninya dengan wajar-wajar saja. Mereka adalah yang
sudah merasa cocok dengan orientasi seksual seperti itu yang dalam istilah psiko-medisnya
dinamakan ego sintonik. Tetapi juga tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian yang melakukan
praktik homoseksual/lesbian merasa bahwa perbuatan tersebut menyimpang dan mereka pun
berusaha untuk meninggalkannya, yang disebut dengan ego distonik.

Dilihat dari jenis-jenis homoseksual/lesbian berdasarkan penyebabnya ada tiga; yaitu, yang
pertama, biogenik yaitu homoseksual yang disebabkan oleh kelainan di otak atau kelainan
genetik. Jenis ini yang paling sulit untuk disembuhkan karena sudah melekat dengan
eksistensi hidupnya. Mereka sejak lahir sudah membawa kecenderungan untuk menyukai
orang lain yang sejenis, sehingga benar-benar ini di luar kontrol dan keinginan sadar mereka.
Kedua, psikogenetik yaitu homoseksual/lesbian yang disebabkan oleh kesalahan dalam pola
asuh atau mereka mengalami pengalaman dalam hidupnya yang mempengaruhi orientasi
seksualnya di kemudian hari. Kesalahan pola asuh yang dimaksud adalah ketidak tegasan
dalam mengorientasikan sejak dini kecenderungan perilaku berdasarkan jenis kelamin. Dalam
hal ini misalnya anak laki-laki tetapi diberlakukan seperti anak perempuan dan begitu pula
sebaliknya. Pengalaman yang dapat membentuk perilaku homo/lesbi diantaranya adalah
pengalaman pernah disodomi atau waktu kecil orang itu melakukan coba-coba melakukan
hubungan seks dengan temannya yang sejenis. Pengalaman-pengalaman seperti ini
berpengaruh cukup besar terhadap orientasi seksual orang itu di kemudian hari. Ketiga,
sosiogenetik yaitu orientasi seksual yang dipengaruhi oleh faktor sosial-budaya. Kaum Nabi
Luth yang homo adalah contoh dalam sejarah umat manusia bagaimana faktor sosial-budaya
homosexual oriented mempengaruhi orang yang ada dalam lingkungan tersebut untuk
berperilaku yang sama.

3. Homoseksual dalam Tinjauan al-Qur’an dan al-Hadis

Perilaku homoseksual disebut diantaranya dalam Q.S. al-A’raf/7 : 30-34; dan Q.S. Hud/11 :
77-82, satu rangkaian dengan kisah Nabi Luth dan umatnya. Umat Nabi Luth adalah
sekelompok manusia yang mempraktikan homoseksual dalam kehidupan sehari-hari. Dari
fenomena itu, lantas Allah mengutus Nabi Luth untuk memberi peringatan kepada umatnya
atas perilaku mereka yang terkutuk tersebut, walaupun pada akhirrnya umat Nabi Luth
diadzab oleh Allah karena keengganan mereka menerima peringatan Nabi Luth. Kisah itu
(Q.S. al-A’raf/7 : 30-34) tertuang sebagai berikut:

26
‫َ ْ‬
‫ن‬
‫مم ْ‬ ‫م ب ِهَمما ِ‬ ‫سمب ََقك ُ ْ‬ ‫ممما َ‬ ‫ة َ‬ ‫ش َ‬ ‫ح َ‬ ‫ن ال َْفا ِ‬ ‫مهِ أت َأُتو َ‬ ‫ل ل َِقوْ ِ‬ ‫طا إ ِذ ْ َقا َ‬ ‫وَُلو ً‬
‫ْ‬ ‫َ‬
‫ن‬‫دو ِ‬ ‫ن ُ‬ ‫مم ْ‬ ‫ش مهْوَةً ِ‬ ‫ل َ‬ ‫جمما َ‬ ‫ن الّر َ‬ ‫م ل َت َأُتو َ‬ ‫ن )( إ ِن ّك ُ ْ‬ ‫مي َ‬ ‫ن ال َْعال َ ِ‬ ‫م َ‬‫حدٍ ِ‬ ‫أ َ‬
‫ما َ‬ ‫النساِء ب ْ َ‬
‫مهِ ِإل‬ ‫ب َقمموْ ِ‬ ‫وا َ‬ ‫ج َ‬‫ن َ‬ ‫كا َ‬ ‫ن )( وَ َ‬ ‫سرُِفو َ‬ ‫م ْ‬ ‫م ُ‬ ‫م قَوْ ٌ‬ ‫ل أن ْت ُ ْ‬ ‫َ‬ ‫ّ َ‬
‫ُ‬ ‫َ‬ ‫َ‬
‫ن )(‬ ‫س ي َت َط َهّمُرو َ‬ ‫م أن َمما ٌ‬ ‫م إ ِن ّهُم ْ‬ ‫ن قَْري َت ِك ُم ْ‬ ‫مم ْ‬ ‫م ِ‬ ‫جوهُ ْ‬ ‫خرِ ُ‬ ‫ن َقاُلوا أ ْ‬ ‫أ ْ‬
‫مط َْرن َمما‬ ‫َ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫فَأ َنجيناه وأ َهْل َه إل امرأ َ‬
‫ن )( وَأ ْ‬ ‫ِ َ‬ ‫ري‬ ‫ِ‬ ‫ب‬ ‫ما‬‫م‬ ‫َ‬ ‫غ‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫ن‬ ‫َ‬ ‫م‬ ‫م‬
‫ِ‬ ‫ت‬
‫ْ‬ ‫َ‬ ‫ن‬ ‫ما‬‫م‬ ‫ك‬ ‫ه‬
‫ُ‬ ‫َ‬ ‫ت‬ ‫ْ َ‬ ‫ُ ِ‬ ‫ْ َ َْ ُ َ‬
‫ن)(‬ ‫مي َ‬ ‫جرِ ِ‬ ‫م ْ‬ ‫ة ال ْ ُ‬ ‫عاقِب َ ُ‬ ‫ن َ‬ ‫كا َ‬ ‫ف َ‬ ‫مط ًَرا َفان ْظ ُْر ك َي ْ َ‬ ‫م َ‬‫عَل َي ْهِ ْ‬

‫‪Kemudian dalam Q.S. Hud/11 : 77-82, tertulis:‬‬

‫ل‬ ‫عمما وََقمما َ‬ ‫م ذ َْر ً‬ ‫ضاقَ ب ِهِ ْ‬ ‫م وَ َ‬ ‫سيَء ب ِهِ ْ‬ ‫طا ِ‬ ‫سل َُنا ُلو ً‬ ‫ت ُر ُ‬ ‫جاَء ْ‬ ‫ما َ‬ ‫وَل َ ّ‬
‫ل‬ ‫ن قَب ْم ُ‬ ‫مم ْ‬ ‫ن إ ِل َي ْمهِ وَ ِ‬ ‫ه ي ُهَْرعُممو َ‬ ‫م ُ‬‫جاَءهُ قَموْ ُ‬ ‫ب )( وَ َ‬ ‫صي ٌ‬ ‫م عَ ِ‬ ‫ذا ي َوْ ٌ‬ ‫هَ َ‬
‫ن أط ْهَمُر‬ ‫َ‬
‫ؤلِء ب َن َمماِتي هُم ّ‬ ‫ل َيا قَوْم ِ هَ ُ‬ ‫ت َقا َ‬ ‫سي َّئا ِ‬ ‫ن ال ّ‬ ‫مُلو َ‬ ‫كاُنوا ي َعْ َ‬ ‫َ‬
‫َ‬
‫ل‬ ‫جمم ٌ‬ ‫م َر ُ‬ ‫كمم ْ‬ ‫من ْ ُ‬
‫س ِ‬ ‫ضي ِْفي أل َي ْ َ‬ ‫خُزوِني ِفي َ‬ ‫ه َول ت ُ ْ‬ ‫م َفات ُّقوا الل ّ َ‬ ‫ل َك ُ ْ‬
‫ك‬ ‫حمقّ وَإ ِن ّم َ‬ ‫ن َ‬ ‫مم ْ‬ ‫ك ِ‬ ‫ما ل ََنا ِفي ب ََنات ِم َ‬ ‫ت َ‬ ‫م َ‬ ‫شيد ٌ )( َقاُلوا ل ََقد ْ عَل ِ ْ‬ ‫َر ِ‬
‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬
‫ن‬ ‫م قُوّةً أوْ آِوي إ ِلممى ُ َرك ْم ٍ‬ ‫ن ِلي ب ِك ُ ْ‬ ‫ل ل َوْ أ ّ‬ ‫ريد ُ )( َقا َ‬ ‫ما ن ُ ِ‬ ‫م َ‬ ‫ل َت َعْل َ ُ‬
‫ر‬
‫سم ِ‬ ‫ك فَأ ْ‬ ‫صُلوا إ ِل َي ْم َ‬ ‫ن يَ ِ‬ ‫ك لَ ْ‬ ‫ل َرب ّ َ‬ ‫س ُ‬‫ط إ ِّنا ُر ُ‬ ‫ديدٍ )( َقاُلوا َيا ُلو ُ‬ ‫ش ِ‬ ‫َ‬
‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬
‫ه‬‫ك إ ِّنمم ُ‬ ‫مَرأت َ َ‬ ‫حد ٌ ِإل ا ْ‬ ‫مأ َ‬ ‫من ْك ُ ْ‬ ‫ت ِ‬ ‫ل َول ي َل ْت َِف ْ‬ ‫ن الل ّي ْ ِ‬ ‫م َ‬ ‫ك ب ِِقط ٍْع ِ‬ ‫ب ِأهْل ِ َ‬
‫َ‬ ‫َ‬
‫ب‬ ‫ري ٍ‬ ‫ح ب َِق ِ‬ ‫صب ْ ُ‬ ‫س ال ّ‬ ‫ح أل َي ْ َ‬ ‫صب ْ ُ‬
‫م ال ّ‬ ‫عد َهُ ُ‬ ‫مو ْ ِ‬‫ن َ‬ ‫م إِ ّ‬ ‫صاب َهُ ْ‬ ‫ما أ َ‬ ‫صيب َُها َ‬ ‫م ِ‬ ‫ُ‬
‫مط َْرن َمما عَل َي ْهَمما‬ ‫َ‬ ‫َ‬
‫سممافِل ََها وَأ ْ‬ ‫عال ِي َهَمما َ‬ ‫جعَل ْن َمما َ‬ ‫مُرن َمما َ‬ ‫جمماَء أ ْ‬ ‫ممما َ‬ ‫)( فَل َ ّ‬
‫ضود )ٍ(‬ ‫من ْ ُ‬ ‫ل َ‬ ‫جي ٍ‬ ‫س ّ‬ ‫ن ِ‬ ‫م ْ‬ ‫جاَرةً ِ‬ ‫ح َ‬ ‫ِ‬
‫‪Apa yang dilakukan oleh umat Nabi Luth itu, dalam perspektif Islam yang hanif,‬‬
‫‪bertentangan dengan fitrah kemanusiaan yang menyatakan bahwa masing-masing manusia‬‬
‫‪akan mendapatkan jodoh (pasangan)nya yang berbeda jenis. Ayat-ayat berikut ini‬‬
‫‪menyatakan ketentuan Allah (Sunnatullah) itu bahwa manusia diciptakan-Nya bersama‬‬
‫‪pasangannya:‬‬

‫‪Q.S. an-Nisa’/4 : 1:‬‬

‫َ‬
‫ث‬‫جهَمما وَب َم ّ‬ ‫خل َقَ ِ‬
‫من ْهَمما َزوْ َ‬ ‫حد َةٍ وَ َ‬‫س َوا ِ‬
‫ف ٍ‬ ‫ن نَ ْ‬
‫م ْ‬‫م ِ‬ ‫قك ُ ْ‬ ‫خل َ َ‬
‫ذي َ‬ ‫م ال ّ ِ‬
‫قوا َرب ّك ُ ُ‬‫س ات ّ ُ‬
‫َيا أي َّها الّنا ُ‬
‫ن الل ّم َ‬
‫ه ك َمما َ‬
‫ن‬ ‫م إِ ّ‬
‫حمما َ‬ ‫ن ب ِمهِ َوالْر َ‬ ‫سمماَءُلو َ‬
‫ذي ت َ َ‬ ‫ه ال ّم ِ‬ ‫قوا الل ّ َ‬
‫ساًء َوات ّ ُ‬ ‫جال ك َِثيًرا وَن ِ َ‬ ‫ما رِ َ‬ ‫من ْهُ َ‬
‫ِ‬
‫ع َل َي ْك ْ‬
‫م َرِقيًبا‬ ‫ُ‬

‫‪Kemudian dalam Q.S. ar-Rum/30 : 21:‬‬

‫‪27‬‬
‫س مك ُُنوا إ ِل َي ْهَمما‬ َ ُ ‫خل َق ل َك ُم من أ َنُفسك‬ َ
ْ َ ‫جا ل ِت‬
ً ‫م أْزَوا‬ْ ِ ْ ْ ِ ْ َ َ ‫ن‬ ْ ‫ن آَيات ِهِ أ‬ ْ ‫م‬ ِ َ‫و‬
ٍ ‫ت ل َِقمموْم‬ ٍ ‫ك لَيمما‬ َ ‫ن ِفممي ذ َِلمم‬
ّ ِ‫ة إ‬
ً ‫ممم‬
َ ‫ح‬
ْ ‫ممموَد ّةً وََر‬
َ ‫م‬ ُ َ ‫ل ب َي ْن‬
ْ ‫كمم‬ َ ‫جَعمم‬َ َ‫و‬
‫ن‬َ ‫ي َت ََفك ُّرو‬
Juga dalam Q.S. Fathir/35 : 11 :

َ ُ ‫خل ََقك ُم من تراب ث ُم من نط َْفة ث ُم جعل َك‬


‫ما‬
َ َ‫جا و‬
ً ‫م أْزَوا‬ ْ َ َ ّ ٍ ُ ْ ِ ّ ٍ َُ ْ ِ ْ َ ‫ه‬ُ ّ ‫َوالل‬
ُ ‫لم‬
‫مممرٍ َول‬ّ َ ‫مع‬ُ ‫ن‬ ْ ‫ممم‬ ِ ‫مُر‬
ّ َ‫ما ي ُع‬
َ َ ‫مه ِ و‬ ِ ْ ‫ضعُ ِإل ب ِعِل‬
َ َ ‫ن أن َْثى َول ت‬ْ ِ ُ ‫م‬ ِ ‫ح‬ْ َ‫ت‬
‫سيٌر‬ ِ َ ‫ك عََلى الل ّهِ ي‬ َ ِ ‫ن ذ َل‬ّ ِ‫ب إ‬ ٍ ‫مرِهِ ِإل ِفي ك َِتا‬ُ ُ‫ن ع‬ ْ ‫م‬ِ ‫ص‬ُ ‫ي ُن َْق‬
Pasangan (zauj, azwaj) yang dimaksud adalah lawan jenis, dalam arti laki-laki pasangannya
adalah perempuan, begitu pula sebaliknya. Ketentuan ini dinyatakan Allah dalam Q.S. an-
Najm/53 : 45 :
َ
َ ‫ن الذّك ََر‬
‫والن َْثى‬ ِ ْ ‫جي‬
َ ‫و‬ َ َ ‫خل‬
ْ ‫ق الّز‬ َ ‫ه‬
ُ ّ ‫وأن‬َ
Juga dinyataka-Nya dalam Q.S. al-Hujarat/49 : 13 :

ُ َ
ّ ِ ‫ل ل ِت َعَمماَرُفوا إ‬
‫ن‬ َ ِ ‫شمُعوًبا وَقَب َممائ‬ ْ ُ ‫جعَل ْن َمماك‬
ُ ‫م‬ َ َ‫ن ذ َك َرٍ وَأن ْث َممى و‬ْ ‫م‬ِ ‫م‬ْ ُ ‫قَناك‬ْ َ ‫خل‬َ ‫س إ ِّنا‬
ُ ‫َيا أي َّها الّنا‬
َ َ
‫خِبيٌر‬
َ ‫م‬ٌ ‫ه ع َِلي‬ َ ّ ‫ن الل‬
ّ ِ‫م إ‬ َ ْ ‫عن ْد َ الل ّهِ أت‬
ْ ُ ‫قاك‬ ْ ُ ‫مك‬
ِ ‫م‬ َ ‫أك َْر‬

Dzakar dan untsa menunjuk pada pengertian manusia yang berjenis kelamin laki-laki
(dzakar) dan perempuan (untsa), sehingga jelas bahwa pasangan (zauj) yang
dimaksud al-Qur’an adalah manusia yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
Sehingga orang yang mempasangkan dirinya dengan sesama jenis, baik laki-laki
dengan laki-laki (homoseksual) maupun perempuan dengan perempuan (lesbian),
maka tindakan tersebut bertentangan dengan fitrah kemanusiaan. Kemudian secara
jelas fitrah ini yang sejalan dengan sunnatullah akan tetap berlangsung dan tidak akan
terjadi perubahan sampai hari kiamat. Hal ini dinyatakan Allah dalam Q.S. al-
Fathir/35 : 43 :

‫ن‬ ْ َ‫ئ ِإل ب ِأ َهْل ِهِ فَه‬


َ ‫ل ي َن ْظ ُُرو‬ ّ ‫مك ُْر ال‬
ُ ّ ‫سي‬ َ ْ ‫حيقُ ال‬ِ َ ‫ئ َول ي‬ ّ ‫مك َْر ال‬
ِ ّ ‫سي‬ َ َ‫ض و‬ِ ‫ست ِكَباًرا ِفي الْر‬
ْ ْ ‫ا‬
‫ويل‬ ِ ‫ح‬ ّ
ْ َ ‫سن ّةِ اللهِ ت‬
ُ ِ ‫جد َ ل‬
ِ َ‫ن ت‬ َ
ْ ‫ديل وَل‬ ّ
ِ ْ ‫سن ّةِ اللهِ ت َب‬ُ ِ ‫جد َ ل‬ِ َ‫ن ت‬ َ
ْ ‫ن فَل‬
َ ‫ة الوِّلي‬
َ ّ ‫سن‬ُ ‫ِإل‬

28
Islam secara tegas menyatakan bahwa perilaku homoseksual maupun lesbian adalah bentuk
perilaku seksual menyimpang bahkan bertentangan dengan fitrah kemanusiaan. Hubungan
seks dalam Islam tidak hanya sekadar untuk memuaskan hawa nafsu (prokreasi), akan tetapi
memiliki tujuan penting menyangkut kelangsungan kehidupan, yaitu melanjutkan keturunan
(reproduksi). Hubungan seks sejenis tidak mungkin akan menghasilkan keturunan, sehingga
hal ini tidak sejalan dengan tujuan hubungan seks dalam Islam.

Karena penyimpangan itu, maka dalam Hadis Nabi terdapat beberapa Hadis yang mengutuk
dan memberi hukuman dengan tegas bagi orang yang melakukan homoseksual/lesbian.
Seperti dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan Ibn Majah, melalaui Ibn
Abbas Rasulullah bersabda:

‫من وجد تموه يعمل عمل قوم لوط فمماقتلوا الفعممل والمفعممول‬
‫به‬

Juga dalam Hadis riwayat Abu Daud yang bersumber dari Sa’id Ibn Jubair dan Mujahid dari
Ibn Abbas tentang kasus seorang anak perawan yang kedapatan melakukan praktek lesbian (
‫)اللوطية‬, maka ia harus dihukum rajam.

4. Solusi Islam atas Kaum Homoseksual

Walaupun Islam secara tegas menyatakan bahwa perilaku homoseksual/lesbian adalah


terkutuk, akan tetapi adalah sangat tidak bijak jika para pelaku homo dan lesbi
tersebut tidak mendapat penanganan (pendampingan, advokasi) yang memadai, yang
memungkinkan mereka dapat meninggalkan perbuatannya itu. Islam telah
memproklamirkan diri sebagai rahmat bagi seluruh alam, sehingga adalah wajar jika
Islam tidak hanya tampil sebagai penghukum bagi orang yang bersalah, tetapi yang
lebih penting dari itu adalah bagaimana Islam mampu memberi solusi atas berbagai
persoalan yang dialami oleh umat, termasuk persoalan homoseksual/lesbian

29
Sebagaimana telah disebut di muka, bahwa penyebab timbulnya homoseksual
beraneka macam. Ada karena faktor kelainan otak dan genetik maupun karena faktor
psikologi dan faktor lingkungan (kultural). Masing-masing penyebab itu
membutuhkan penanganan yang spesifik (khusus), sehingga pelaku secara bertahap
dapat disembuhkan dan kembali dapat menjalani kehidupan seksual yang “normal”.

Dalam tradisi Islam dinyatakan bahwa setiap kesulitan (persoalan) pasti ada
kemudahan (jalan keluar) (‫را‬
ً ‫س‬ ْ ُ‫معَ ال ْع‬
ْ ُ ‫سرِ ي‬ ّ ِ ‫)فَإ‬, setiap aturan (hukum) selalu
َ ‫ن‬
diikuti dengan jalan keluar (‫جا‬
ً ‫من َْها‬
ِ َ‫ة و‬
ً َ‫شْرع‬
ِ ‫م‬ ِ ‫جعَل َْنا‬
ْ ُ ‫من ْك‬ ّ ُ ‫) ل ِك‬, dan di setiap
َ ‫ل‬
penyakit pasti ada obatnya.

Seperti sudah dinyatakan di atas, bahwa memberi hukuman semata bagi pelaku
homo/lesbi tidak akan menyelesaikan masalah. Justru hal ini akan memunculkan
persoalan baru yaitu perasaan bersalah dan takut yang berlebih dari para pelaku homo
lesbi yang berakibat mereka terperosok dalam depresi mental yang akut atau malah
justru para pelaku homo/lesbi akan semakin mengokohkan perilakunya dengan
membentuk kelompok atau perkumpulan sebagai sarana “curhat” bagi sesama orang-
orang yang dicap “durhaka” terhadap agama. Untuk mereka yang sudah membentuk
dan melibatkan diri secara aktif dalam perkumpulan/organisasi kaum homo/lesbi
hanya akan mempersulit penanganan terhadap mereka, karena mereka semakin
menikmati (enjoy) dengan perbuatan mereka.

Menangani secara khusus terhadap kasus homoseksual/lesbian adalah bagian dari


dakwah Islam yang harus dijalankan karena ini adalah perintah ajaran Islam.
Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. an-Nahl/16: 125 :

َ
‫و‬ َ ّ ‫ن َرب‬
َ ُ‫ك ه‬ ّ ِ‫ن إ‬
ُ ‫س‬
َ ‫ح‬
ْ ‫يأ‬َ ِ ‫م ِبال ِّتي ه‬
ْ ُ‫جاد ِل ْه‬
َ َ‫سن َةِ و‬
َ ‫ح‬َ ْ ‫عظ َةِ ال‬ِ ْ ‫مو‬َ ْ ‫مةِ َوال‬ ِ ْ ‫ك ِبال‬
َ ْ ‫حك‬ َ ّ ‫ل َرب‬ َ ‫اد ْع ُ إ َِلى‬
ِ ‫سِبي‬
ْ َ َ َ
‫ن‬
َ ‫دي‬
ِ َ ‫مهْت‬
ُ ‫م ِبال‬ُ ‫سِبيل ِهِ وَهُوَ أع ْل‬ َ ‫ن‬ ْ َ‫ل ع‬ ّ ‫ض‬َ ‫ن‬ ْ ‫م‬ ُ َ ‫أع ْل‬
َ ِ‫م ب‬

30
Kaum homoseksual/lesbian dalam kapasitasnya sebagai obyek dakwah harus

ditangani secara penuh hikmah (‫ة‬


ِ ‫م‬ ِ ْ ‫ِبال‬
َ ْ ‫حك‬ ) dan senantiasa diberi nasehat-nasehat
ِ َ ‫سن‬
yang baik (‫ة‬ َ ْ ‫عظ َةِ ال‬
َ ‫ح‬ َ ْ ‫ )َوال‬agar bisa kembali ke jalan Tuhan (‫ك‬
ِ ْ ‫مو‬ َ ّ ‫ل َرب‬ َ ‫)إ َِلى‬.
ِ ‫سِبي‬

Berdasarkan faktor penyebab munculnya homoseksual/lesbian, penanganan terhadap


mereka dibedakan dari yang karena faktor genetik, psikologis maupun kultural. Bagi
kaum homo/lesbi yang disebabkan oleh faktor genetik, perlu ada usaha-usaha medis
berupa terapi hormon yang kontinyu dan sistematis. Walaupun upaya ini disebut
kurang efektif, akan tetapi usaha itu tetap perlu sebagaimana tertulis dalam qaidah
ushul fiqh bahwa bahaya (penyakit) itu harus dihilangkan (diobati) (‫)الظرر يزال‬.

Homoseksual karena faktor psikologis maupun kultural dapat disembuhkan dengan


terus-menerus melakukan pendampingan (advokasi) terhadap mereka. Perlu
ditumbuhkan dalam diri mereka perasaan bahwa mereka dalam kondisi sakit
(kesadaran sakit) sehingga kemudian muncul dalam diri mereka motivasi sembuh
yang kuat. Selanjutnya mereka perlu didampingi oleh psikolog maupun rohaniawan
untuk memantau dan terus memberi motivasi sembuh. Mereka, kaum homo/lesbi itu,
kalau perlu dikarantina secara khusus untuk menghindari kontak sesama mereka yang
akan berakibat pada munculnya kembali keinginan untuk melakukan
homoseksual/lesbian.

Keinginan para pelaku homo/lesbi untuk melampiaskan nafsunya perlu disalurkan ke


dalam kegiatan-kegiatan positif semacam kajian Islam atau diskusi maupun kegiatan-
kegiatan olahraga dan kegiatan lain yang positif. Tentu saja aktivitas ini mendapat
kontrol yang sitemik dan terpogram dalam satu paket dengan penanganan
komprehensif terhadap kaum homo/lesbi.

31
Sangat diharapkan peranan organisasi-organisasi Islam dalam penanganan terapi
psikoreligius semacam ini. Khusus untuk Muhammadiyah, dapat dibentuk tim khusus
yang melibatkan berbagai majlis dan lembaga terkait yang berada dalam struktur
Muhammadiyah untuk menangai secara serius kaum homoseksual/lesbian. Data-data
tentang mereka dapat dilacak di berbagai LSM atau lembaga konseling yang selama
ini concern terhadap eksistensi mereka.

5. Kesimpulan dan Saran

Hasil diskusi (mujadalah) terbatas Majlis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah
Muhammadiyah Kab. Banyumas tentang perilaku homoseksual/lesbian ini pada akhirnya
dapat disimpulkan dalam beberapa hal sebagai berikut:

1. Perilaku homoseksual/lesbian bertentangan dengan norma agama dan pelanggaran


terhadap fitrah kemanusiaan. Pelakunya dinyatakan sebagai orang yang
menyimpang dari kewajaran dan perlu mendapat penanganan secara serius agar
tidak menimbulkan penyakit sosial yang meresahkan.

2. Upaya-upaya Islami dengan hanya mengecam atau menghukum atas tindakan kaum
homo/lesbi adalah kurang bijaksana, yang malah justru akan menjauhkan mereka
dari seruan agama. Semakin banyak yang mengecam mereka, hanya akan
membuat solidaritas diantara mereka semakin kuat, dan akan semakin sulit
mereka untuk dapat disembuhkan.

3. Islam melalui organisasasi-organisasi Islam harus menampilkan diri sebagai pihak


yang senantiasa selalu mencari jalan keluar dari setiap persoalan umat, termasuk
dalam hal ini adalah perilaku homoseksual/lesbian. Upaya yang paling bijak dan
solutif dalam menangani masalah ini adalah dengan melakukan pendampingan
psikoreligius secara serius dan sistematis terhadap mereka.

4. Perlu dibentuk pusat-pusat rehabilitasi kaum homoseksual/lesbian seperti pusat-


pusat rehabilitasi narkoba yang dilakukan oleh organisasi-organisasi Islam bekerja
sama dengan pemerintah dan pihak-pihak lain yang terkait. Mengapa ini
dilakukan oleh organisasi-organisasi Islam? Hal ini karena perilaku

32
homoseksual/lesbian tidak dinyatakan sebagai penyimpangan dalam sudut
pandang medis, sehingga jangan mengaharap pemerintah akan tampil sebagai
pelopor dalam merehabilitasi mereka.

5. Sebisa mungkin dilakukan pencegahan terhadap upaya-upaya kaum


homoseksual/lesbian membentuk kelompok/organisasi, karena hal ini membuat
solidaritas mereka semakin kuat dan mereka tampil semakin eksklusif sehingga
lebih sulit untuk mendekati dan menawarkan penyembuhan terhadap mereka.

Sumber: http://pemikiranislam.wordpress.com/2007/08/11/pandangan-terhadap-
kaum-homoseksual-dan-lesbian/

Oleh: ina on September 10, 2007

Homoseksualitas tidak lagi dikategorikan sebagai gangguan jiwa atau


penyimpangan seksual. Bahkan istilah homoseksualitas sebagai orientasi seksual
menyimpang itu tidak tepat dan menyesatkan karena memberi dampak negatif
seperti stigmatisasi, pengucilan oleh masyarakat yang kurang mendapat
informasi yang benar.

Demikian disampaikan psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr


Lukas Mangindaan, SpKJ dalam seminar nasional "Seksualitas yang ditabukan:
Tantangan Keberagaman" di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, hari ini, Selasa (11/11).

Dikatakan Lukas, penghapusan paham homoseksualitas sebagai gangguan jiwa


adalah keputusan dari Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) pada 17 Mei 1990
dan sudah dicantumkan Depkes RI dalam buku Pedoman Penggolongan dan
Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi II tahun 1983 (PPDGJ II) dan PPDGJ III
(1993).

"Jadi sudah terbukti bahwa orientasi homoseksual tidak memenuhi kriteria


gangguan jiwa atau mental," ujarnya.

Ia menjelaskan, homoseksualitas, biseksualitas maupun heteroseksualitas kini


dikategorikan sebagai bagian dari identitas diri seseorang. "Identitas diri itu tak

33
lain adalah ciri-ciri khas dari seseorang seperti nama, umur, jenis kelamin
termasuk orientasi seksual (heteroseksual, biseksual, homoseksual). Sedangkan
identitas diri perlu dibedakan dengan perilaku, karena identitas diri bersifat
netral dan perlu diterima sebagaimana adanya, tetapi perilaku dapat bersifat
positif, negatif, netral, dan lain-lain. Jadi jangan dicampurbaurkan identitas diri
dengan perilaku," ujarnya.

Lukas menekankan perlunya melihat pelbagai jenis identitas diri sebagai bagian
dari keberagaman manusia dan bersikap pluralistik tanpa sikap apriori. "Upaya
untuk berempati yakni kemampuan untuk mengerti, menghayati dan
menempatkan diri di tempat mereka yang terpinggirkan perlu dikembangkan.
Sikap homofobia yang menyisihkan, melecehkan, diskriminasi dan mendapat
perlakuan kekerasan pada kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transjender)
harus dihilangkan. Ini yang perlu disosialisasikan pada masyarakat," jelasnya.

Sedangkan menurut Pendiri dan Pembina Yayasan Gaya Nusantara Dede


Oetomo, tidak semua agama dan sistem kepercayaan mengharamkan
homoseksualitas dan transgenderisme. "Tafsir ulang atas ajaran yang
mengharamkan homoseksualitas dan transjenderisme sudah dilakukan beberapa
agama yang sangat menentang hal itu, supaya tak menghasilkan pandangan
yang memusuhi homoseksualitas dan transjenderisme," katanya.

Peran negara untuk melindungi hak-hak kaum LGBT, dikatakan Dede, perlu
dikembangkan untuk menuju ke kehidupan bersama yang lebih baik.

Sumber:
http://health.kompas.com/read/2008/11/11/13081144/Homoseksual.Bukan.Penyi
mpangan.Seksual

Definisi & Proses Homoseksual

34
Kategori Klinis
Oleh : Veronica Adesla, S.Psi
Jakarta, 27 Februari 2009

Di Indonesia, data statistik menunjukkan 8-10 juta populasi pria Indonesia


pada suatu waktu terlibat pengalaman homoseksual. Dari jumlah ini, sebagian
dalam jumlah bermakna terus melakukannya. (Kompas Cyber Media, 2003 1).

Hasil survei YPKN menunjukkan, ada 4.000 hingga 5.000 penyuka sesama
jenis di Jakarta. Sedangkan Gaya Nusantara memperkirakan, 260.000 dari enam
juta penduduk Jawa Timur adalah homo. Angka-angka itu belum termasuk kaum
homo di kota-kota besar. Dede memperkirakan, secara nasional jumlahnya
mencapai sekitar 1% dari total penduduk Indonesia. Dr. Dede Oetomo, adalah
"presiden" gay Indonesia, yang telah 18 tahun mengarungi hidup bersama
dengan pasangan homonya, beliau juga seorang "pentolan" Yayasan Gaya
Nusantara. (Gatra, 2003 2)

Data ini menunjukkan eksistensi keberadaan kaum homoseksual di Indonesia.


Homoseksual hingga saat ini masih menjadi issue yang kontrakdiktif di
masyarakat, tidak hanya kontradiktif dalam hal genealogi nya, akan tetapi sampai
pada perdebatan apakah kaum homoseksual bisa di terima di masyarakat ?

APA SIH HOMOSEKSUAL?

Ketika seseorang menyebutkan homoseksual, kata-kata homoseksual ini


dapat mengacu pada tiga aspek 3:

Orientasi seksual - homoseksual yang dimaksud disini adalah ketertarikan / dorongan / hasrat
untuk terlibat secara seksual dan emosional (ketertarikan yang bersifat romantis) terhadap orang yang
berjenis kelamin sama. American Psychiatric Association (APA) menyatakan bahwa orientasi seksual
berkembang sepanjang hidup seseorang.

Sebagai informasi tambahan, dalam taraf tertentu, pada umumnya setiap orang cenderung
memiliki rasa ketertarikan terhadap sesama jenis. Seperti misalnya saja: pria yang mengidolakan aktor /
musisi / tokoh pria tertentu dan juga sebaliknya wanita yang mengidolakan aktris / musisi / tokoh
wanita tertentu. Kadar ketertarikan seperti ini umum dimiliiki oleh banyak orang dan tidak termasuk
dalam orientasi homoseksual.

35
Homoseksual dilihat dari aspek ini mengandung pengertian perilaku seksual yang dilakukan
antara dua orang yang berjenis kelamin sama.

Human sexual behavior encompass a wide range of activities such as strategies to find or attract
partners (mating and display behaviour), interactions between individuals, physical or emotional
intimacy, and sexual contact (Wikipedia 4).

Perilaku seksual manusia melingkupi aktivitas yang luas seperti strategi untuk menemukan dan
menarik perhatian pasangan (perilaku mencari & menarik pasangan), interaksi antar individu,
kedekatan fisik atau emosional, dan hubungan seksual (Wikipedia).

Sementara homoseksual jika dilihat dari aspek ini mengarah pada identitas seksual sebagai gay
atau lesbian. Sebutan gay digunakan pada homoseksual pria, dan sebutan lesbian digunakan pada
homoseksual wanita.

Tidak semua homoseksual secara terbuka berani menyatakan bahwa dirinya adalah gay ataupun
lesbian terutama kaum homoseksual yang hidup di tengah-tengah masyarakat / negara yang melarang
keras, mengucilkan, dan menghukum para homoseksual. Para homoseksual ini lebih memilih untuk
menutupi identitas mereka sebagai seorang gay ataupun lesbian dengan tampil selayaknya kaum
heteroseksual.

BAGAIMANA PROSES DAN APA YANG MEMPENGARUHI


TERBENTUKNYA HOMOSEKSUAL?

Terdapat tiga garisan besar kemungkinan faktor-faktor yang mempengaruhi


terbentuknya homoseksual sebagai berikut:

Kombinasi / rangkaian tertentu di dalam genetik (kromosom), otak , hormon, dan susunan syaraf
diperkirakan mempengaruhi terbentuknya homoseksual.

Deti Riyanti dan Sinly Evan Putra, S.Si 5 mengemukakan bahwa berdasarkan
kajian ilmiah, beberapa faktor penyebab orang menjadi homoseksual dapat dilihat
dari :

Susunan Kromosom

Perbedaan homoseksual dan heteroseksual dapat dilihat dari susunan


kromosomnya yang berbeda. Seorang wanita akan mendapatkan satu kromosom
x dari ibu dan satu kromosom x dari ayah. Sedangkan pada pria mendapatkan
satu kromosom x dari ibu dan satu kromosom y dari ayah. Kromosom y adalah
penentu seks pria.

Jika terdapat kromosom y, sebanyak apapun kromosom x, dia tetap


berkelamin pria. Seperti yang terjadi pada pria penderita sindrom Klinefelter yang

36
memiliki tiga kromosom seks yaitu xxy. Dan hal ini dapat terjadi pada 1 diantara
700 kelahiran bayi. Misalnya pada pria yang mempunyai kromosom 48xxy. Orang
tersebut tetap berjenis kelamin pria, namun pada pria tersebut mengalami
kelainan pada alat kelaminnya.

Ketidakseimbangan Hormon

Seorang pria memiliki hormon testoteron, tetapi juga mempunyai hormon


yang dimiliki oleh wanita yaitu estrogen dan progesteron. Namun kadar hormon
wanita ini sangat sedikit. Tetapi bila seorang pria mempunyai kadar hormon
esterogen dan progesteron yang cukup tinggi pada tubuhnya, maka hal inilah
yang menyebabkan perkembangan seksual seorang pria mendekati karakteristik
wanita.

Struktur Otak

Struktur otak pada straight females dan straight males serta gay females dan
gay males terdapat perbedaan. Otak bagian kiri dan kanan dari straight males
sangat jelas terpisah dengan membran yang cukup tebal dan tegas. Straight
females, otak antara bagian kiri dan kanan tidak begitu tegas dan tebal. Dan pada
gay males, struktur otaknya sama dengan straight females, serta pada gay
females struktur otaknya sama dengan straight males, dan gay females ini biasa
disebut lesbian.

Kelainan susunan syaraf

Berdasarkan hasil penelitian terakhir, diketahui bahwa kelainan susunan


syaraf otak dapat mempengaruhi prilaku seks heteroseksual maupun
homoseksual. Kelainan susunan syaraf otak ini disebabkan oleh radang atau
patah tulang dasar tengkorak.

Kaum homoseksual pada umumnya merasa lebih nyaman menerima penjelasan


bahwa faktor biologis-lah yang mempengaruhi mereka dibandingkan menerima
bahwa faktor lingkunganlah yang mempengaruhi. Dengan menerima bahwa
faktor biologis-lah yang berperan dalam membentuk homoseksual maka dapat
dinyatakan bahwa kaum homoseksual memang terlahir sebagai homoseksual,
mereka dipilih sebagai homoseksual dan bukannya memilih menjadi
homoseksual.

Namun sebagai informasi tambahan pula, faktor - faktor biologis yang mempengaruhi
terbentuknya homoseksual ini masih terus menerus diteliti dan dikaji lebih lanjut oleh para pakar di
bidangnya.

Lingkungan diperkirakan turut mempengaruhi terbentuknya homoseksual. Faktor lingkungan


yang diperkirakan dapat mempengaruhi terbentuknya homoseksual terdiri atas berikut:

Dalam budaya dan adat istiadat masyarakat tertentu terdapat ritual-ritual yang
mengandung unsur homoseksualitas, seperti dalam budaya suku Etoro6 yaitu suku pedalaman
Papua New Guinea, terdapat ritual keyakinan dimana laki-laki muda harus memakan sperma
dari pria yang lebih tua (dewasa) untuk memperoleh status sebagai pria dewasa dan menjadi
dewasa secara benar serta bertumbuh menjadi pria kuat.

37
Karena pada dasarnya budaya dan adat istiadat yang berlaku dalam suatu kelompok
masyarakat tertentu sedikit banyak mempengaruhi pribadi masing-masing orang dalam
kelompok masyarakat tersebut, maka demikian pula budaya dan adat istiadat yang
mengandung unsur homoseksualitas dapat mempengaruhi seseorang. Mulai dari cara
berinteraksi dengan lingkungan, nilai-nilai yang dianut, sikap, pandangan, maupun pola
pemikiran tertentu terutama sekaitan dengan orientasi, tindakan, dan identitas seksual
seseorang.

Cara mengasuh seorang anak juga dapat mempengaruhi terbentuknya homoseksual.


Sejak dini seorang anak telah dikenalkan pada identitas mereka sebagai seorang pria atau
perempuan. Dan pengenalan identitas diri ini tidak hanya sebatas pada sebutan namun juga
pada makna di balik sebutan pria atau perempuan tersebut, meliputi:

Sumber: http://www.e-psikologi.com/epsi/klinis_detail.asp?id=551

[love] Re: Homo & Lesbian

dani rahmat
Sun, 15 Aug 1999 15:03:24 -0700

From: "D.E.S." <[EMAIL PROTECTED]>


sejak kapan kira2 kodrat ini kita peroleh? apa sejak lahir dan melihat
'anu' kita berbentuk seperti apa? apa kalau ada bayi lahir dengan penis
maka dia kodratnya sbg laki-laki?
========================

Ketika sel telur yang selalu berkromosom X dibuahi oleh sperma, maka di
saat
itulah kita tahu apakah individu itu laki-laki atau perempuan. Kalau
kromosom yang membuahi adalah kromosom X maka jadilah XX yang berarti
perempuan sedang bila sperma yang masuk berkromosom Y maka jadilah XY atau
laki-laki. Ada beberapa kelainan kromosom seperti XXY atau XYY namun
frekwensinya tidak banyak.

Penyebab seseorang menjadi homoseksual:


A.Teori genetik
Homoseksual memang sekarang ini sering dikait-kaitkan dengan kelainan pada
salah satu gen di kromosom X. Ekspresi gen tersebut diperkirakan
mempengaruhi perkembangan organisasi otak (1). Pada kera juga dikabarkan
adanya kasus homoseksual yang malah digunakan oleh para pendukungnya untuk
mengaitkan peran individu homoseks pada proses evolusi manusia! チ c.suatu
teori yang tidak ada bukti nyatanya hingga sekarang ini. Tidak ada juga
bukti yang jelas-jelas mendukung arti dari protein yang dihasilkan oleh
transkripsi gen tersebut pada kejadian homoseksual (2,3). Beberapa

38
penelitian pada orang kembar satu telur juga menyimpulkan bahwa
perkembangan
orientasi sex tidak cukup hanya didasarkan pada faktor genetik saja (4).
Kebanyakan penelitian tentang gen homo hanya mengatakan kemungkinan gen
tersebut sebagai faktor predisposisi homoseksual dan menyatakan juga
keterbatasan penelitian mereka. Mereka biasanya menyimpulkan bahwa
kecenderungan homoseksual terjadi akibat faktor lain yang berpengaruh.
Bahkan sebuah organisasi pro-gay di America "Parents and Friends of
Lesbians
and Gays" , dengan jujur menyatakan dalam bukletnya :
"To date, no researcher has claimed that genes can determine sexual
orientation. At best, researchers believe that there may be a genetic
component. No human behaviour, let alone sexual behaviour, has been
connected to genetic markers to date." Belum ada bukti nyata tentang gen
homo tersebut. Namun media massa apalagi yang pro-homo menyambut hasil-
hasil
penelitian tersebut dengan menggemakannya begitu keras seakan bahwa menjadi
homo itu alamiah dan baik.

Penelitian pada lalat buah kabarnya memang menghasilkan lalat homo dan
lalat
bisex setelah dilakukan insersi pada gen yang diduga berpengaruh tersebut
(5). Namun mutasi bukan kejadian normal disamping lalat sangatlah berbeda
dengan manusia.

Meskipun ada gen yang benar-benar terbukti mempengaruhi perilaku homoseks ,


haruskah kita merubah sikap kita dengan menerima homoseks sebagai kejadian
normal dan tidak berusaha menyembuhkannya? Banyak penyakit lain disebabkan
kelainan genetik. Hemophilia, Thalasemia, bahkan hipertensi, diabetes dan
penyakit gila pun punya predisposisi genetik. Akankah kelainan yang
terbukti
ada pada pasien tersebut dibiarkan begitu saja karena memang gen-nya
begitu?
Tentu tidak. Bahkan terapi genetik sudah mulai diupayakan saat ini.
Kelainan
genetik bisa diupayakan penyembuhannya. Mengapa kasus homoseks harus
diperkecualikan bila memang disebabkan oleh kelainan genetik? Tentu mereka
juga harus diberi terapi untuk memodifikasi perilakunya yang menyimpang.

B. Teori stres pada ibu.


Teori lain adalah teori stres pada ibu waktu sedang mengandung. Stres
tersebut mempengaruhi perkembangan otak janin, namun teori ini pun tidak
sepenuhnya terbukti (6)

C.Teori pengaruh lingkungan.

From: "D.E.S." <[EMAIL PROTECTED]>


.......tapi perlu diingat juga, bahwa mereka yang mengadakan 'perubahan
wujud' tersebut, melakukannya demi usaha bisa diterima lingkungan. jadi
mungkin dari pada bentuk gue cowok, sedangkan gue 'yakin' gue ini cewek,
mendingan gue keliatan spt cewek, biar lebih pas .........

Apakah tidak lebih baik bila sebaliknya? Bila kita tahu kita laki-laki maka
bertindaklah sebagai laki-laki. Dan bila kita tahu kita perempuan maka
bertingkahlakulah sebagai perempuan sejati. Tingkah laku bisa dibentuk dan
disesuaikan namun tubuh kita tak bisa dibentuk lagi karena masa pertumbuhan
dan perkembangan kita sudah usai dan lebih sulit untuk disesuaikan.

Kesadaran akan jenis kelamin tentu terjadi ketika seorang anak mulai
berpikir tentang dirinya. Pikiran tentang チ ggender チ h ini merupakan salah

39
satu poin proses identifikasi diri. Jika identifikasi ini cocok dengan
kondisi fisiknya maka tumbuhlah anak tersebut menjadi individu yang sehat.

Orang tua sering hanya pasif saja dan merasa bahwa anaknya pastilah akan
tumbuh sesuai dengan jenis kelaminnya. Kadang orang tua tidak memberi
perhatian yang cukup pada perkembangan jiwa anak dan baru kaget setelah ada
gejala yang menyimpang.

Banyak kajian tentang pengaruh lingkungan sosial pada kasus homoseksul ini.
Silahkan yang lainlah membahas dulu ..........

Referensi:
(1)Brain research, gender and sexual orientation. Swaab-DF; Gooren-LJ;
Hofman-MA J-Homosex. 1995; 28(3-4): 283-301
(2)Male homosexuality: absence of linkage to microsatellite markers at Xq28
Rice et al., Science. 1999 Apr 23; 284(5414): 665-7;
(3)A critique of the possibility of genetic inheritance of homosexual
orientation. Haynes-JD. J-Homosex. 1995; 28(1-2): 91-113
(4)Homosexuals who are twins. A study of 46 probands. King & Mc Donald,
Br-J-Psychiatry. 1992 Mar; 160: 407-9
(5)Genetic dissection of sexual orientation: behavioral, cellular, and
molecular approaches in Drosophila melanogaster. Yamamoto-D; Ito-H;
Fujitani-K Neurosci-Res. 1996 Oct; 26(2): 95-107).
(6)A test of the maternal stress theory of human male homosexuality.
Bailey-JM; Willerman-L; Parks-C Arch-Sex-Behav. 1991 Jun; 20(3): 277-93

Sumber: http://www.mail-archive.com/love@indoglobal.com/msg04774.html

KONSEP DIRI LESBIAN BUTCH


Oleh
WALTERIUS RAHMIN JANU
Fakultas Psikologi
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta
2009
Judul Penelitian
Judul skripsi yang dianalisis sudah memenuhi kriteria seperti singkat, spesifik
dan jelas akan gambaran tentang apa yang diteliti.
Bidang Ilmu
Bidang ilmu peneliti yaitu psikologi dan ini tidak terjadi pelacuran intelektual
atau job description sebab bidang yang diteliti adalah sesuai dengan bidang
peneliti

40
yaitu psikologi.
Pendahuluan
Di awal pendahuluannya terdapat pemaparan tentang latar belakang
homoseksual, lesbian, dan bagaimana lesbian diperlakukan di berbagai Negara
di
dunia bahkan oleh keluarga mereka sendiri, bagaimana konsep diri negative
maupun
positif akan memberi dampak pada para lesbian. Akan tetapi, masalah ini tidak
ada
penjelasan yang begitu mendalam yang diusung peneliti tentang apa yang
membuatnya sangat ingin meneliti konsep diri seorang lesbian butch dan hanya
mengatakan dalam tujuan penelitiannya yaitu untuk mengetahui pembentukan
konsep
diri seorang lesbian butch serta faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri
lesbian
butch.
Dalam proses mengidentifikasi masalah dipaparkan jika konsep diri seorang
lesbian itu cenderung tertutup karena besarnya tuntutan-tuntutan dari
masyarakat
bahkan tekanan dari keluarga mereka sendiri, sehingga jika para lesbi memiliki
konsep diri yang negatif maka hal itu akan membawa mereka pada kaum LGBT
(Lesbian, Gay, Bisexsual dan Transeksual) dan terjebak dalam perilaku-perilaku
yang membahayakan diri mereka sendiri.Tetapi sebaliknya, jika mereka memiliki
konsep diri positif maka mereka akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam
lingkungan yang mayoritas heteroseksual dan mereka juga dapat menerima,
mengerti
dan memahami keberadaan orientasi seksual mereka sehingga membentuk
psikologis
yang sehat.
Perumusan masalah
Permasalahan yang ingin diteliti dan fokus penelitian dari peneliti cukup jelas
dan dapat dilihat dari pertanyaan yang ditimbulkan sendiri oleh peneliti sehingga
itu
menjadi tujuan penelitiannya yaitu : Lantas seperti bagaimanakah konsep diri
lesbian
itu? dan Bagaimana konsep diri seorang lesbian terbentuk?

41
Tinjauan pustaka
Teori-teori yang menjadi fokus penelitian dan menjadi rambu-rambu untuk
menyusun instrument pada :
µ Fokus penelitian utama yaitu konsep diri, yang bagian-bagiannya adalah:
pengertian konsep diri, karakteristik-karakteristik yang membangun konsep diri,
pembagian konsep diri yang menjadi dua bagian, factor-faktor yang
mempengaruhi
pembentukan konsep diri. Tiga faktor penting dalam mempelajari tentang
konsep
diri (Asosiasi, Konsekuensi dan Motivasi), Perkembangan konsep diri, aspek-
aspek
dalam konsep diri. Konsep diri merupakan kombinasi dari citra diri, intensitas
afektif,
evaluasi diri dan predisposisi tingkah laku. Juga tentang lesbi dalam hal orientasi
seksualnya (Heteroseksual, Homoseksual dan Biseksual ).
µ Fokus penelitian tambahan I yaitu : Teori biologis yaitu bahwa orientasi seksual
dikatakan dipengaruhi oleh faktor genetik atau hormonal.
µ Fokus penelitian tambahan II yaitu : Teori psikologi yang mana teori ini
mencoba menerangkan faktor penyebab homoseksualitas bukan dari aspek
fisiologis.
Tujuan penelitian
Tujuan penelitian sangat jelas dipaparkan peneliti di dalam lembar pendahuluan
yaitu: bagaiamana pembentukan konsep diri seorang lesbian butch serta faktor-
faktor
yang mempengaruhi konsep diri lesbian butch.
Konstribusi penelitian
Konstribusi atau manfaat penelitian yang diharapkan peneliti pun telah ditulis
dengan jelas dalam lembar pendahuluan yaitu :
- Agar dapat memberi sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya sosial
humaniora, psikologi, perkembangan dan abnormal.
- Agar dapat membantu proses penerimaan diri pada kaum lesbi
- Agar dapat memberikan gambaran kepada masyarakat bagaimana kehidupan
yang ternyata harus dijalani oleh para lesbi, sehingga masyarakat tidak memiliki
pandangan yang negativ terhadap lesbian.
Metodologi penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian peneliti yaitu :

42
1. Desain penelitian : Metode pendekatan yang digunakan adalah
kualitatif studi kasus.
2. Fokus penelitian : Menjawab pertanyaan mengenai bagaimana
konsep diri lesbian butch terbentuk kemudian dijabarkan lagi dalam beberapa
pertanyaan.
3. Responden penelitian : Peneliti memilih dan menentukan subyek peneliti
dengan cara purposive sampling yaitu : pemilihan subyek penelitian dan
dilakukan
dengan cara sengaja oleh peneliti dengan tujuan memperoleh variasi
sebanyakbanyaknya
dan merinci kekhususan yang ada ke dalam ramuan konteks yang unik.
Dan penelitian ini di fokuskan pada satu macam responden yaitu lesbian dan
memakai kriteria sebagai dasar pemilihan responden.
4. Metode pengumpulan data : Wawancara semi struktur, pencatatan data
selama wawancara dan pemilihan tempat yang sesuai dengan permintaan
subyek.
5. Teknik Analisis dan interpretasi data : Analisis isi, mengorganisasikan
data dan koding.
6. Teknik verifikasi : Membagikan salinan deskripsi secara tekstual,
merevisi kembali pernyataan sintetisnya dan menggunakan data dari
informaninforman
sebagai alat untuk melakukan pengecekan.
Kesimpulan
Gay, Lesbian, dan Transeksual
Kenyataan bahwa gadi-gadis bisa berhasil dalam sisa hidupnya sebagai pria
menjelaskan satu hal, bahwa lingkungan sosial dan pendidikan mereka memiliki
pengaruh yang terbatas dalam kehidupan dewasa mereka. Jelas, keadaan
biologis
merekalah yang merupakan faktor kunci dalam menciptakan pola perilaku
mereka.
Homoseksualitas : Keturunan atau Pilihan
Allan Pease, penulis bukuBody Language dan Anne Moir seorang ahli
Genetika penulis buku Brainsex. Mereka memaparkan hasil dari penelitiaannya
yang
memperjelas apa yang telah diketahuipara ilmuwan selama ini, bahwa sifat-sifat
homoseksualitas ada sejak lahir, jadi bukan merupakan sebuah pilihan individu.

43
Tidak saja homoseksualitas itu ada sejak lahir, namun lingkungan tempat kita
dibesarkan memgang peran lebih kecil dalam pembentukan perilaku kita
daripada
yang pernah kita kira sebelumnya. Para ilmuwan telah menemukan bahwa
sebenarnya tidak ada pengaruh sama sekali usaha yang dilakukan orangtua
untuk
menekan kecendrungan homoseksual pada anak remajanya ataunya yang sudah
dewasa. Penyebab utamanya adalah pengaruh hormon pria (atau kekurangan
hormon
tersebut) pada otak, maka itu tidaklah heran kalau kebanyakan orang
homoseksual
adalah pria.
Perbedaan Lesbian
Jika otak sebuah janin wanita secara kebetulan menerima tambahan hormon
pria,
maka hal itu akan membuat pusat pengendaliaan perkawinan pada otak menjadi
maskulin. Itu artinya bahwa sebagai seorang wanita, dia akan lebih tertarik pada
wanita lainnya. Jika pusat pengendaliaan perilakunya juga menjadi maskulin, dia
akan bersikap, berbicara dan memiliki bahasa tubuh seperti pria, dan mungkin
juga
akan disebut butch ( pacar wanita).
Jika pusat pengendalian perilakunya tidak diubah oleh hormon pria, maka yang
terjadi adalah sebaliknya; wanita itu akan tetap bersifat feminim, tetapi masih
tertarik
pada wanita lain. Sementara lesbian butch dapat terlihat dengan mudahsebagai
hasil
dari biologi mereka.
Lesbian butch ternyata memiliki konsep diri yang positif karena mereka
menerima orientasiseksual mereka sebagai lesbian tapi tidak menginginkan
perubahan bentuk fisik menjadi laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa mereka
memiliki penerimaan diri yang baik atas kondisinya yang tidak sesuai dengan
harapan mayoritas orang di lingkungan heteroseksual.
Konsep diri merekapun telah berkembang sedari masa kecil dengan banyak
faktor
yang mempengaruhi seperti keluarga, teman, dan komunitas lesbian khususnya
pacar,

44
role model, prestasi, sumber referensi serta proses coming out. Walaupun besar
pengaruh faktor-faktor di atas namun tidak sama untuk satu subyek dengan
subyek
yang lainnya.
Dari masa kecil ada juga para lesbian butch yang cenderung memilih mainan
dan
aktivitas yang stereotip laki-laki, walaupun tampaknya merupakan sifat bawaan
tapi
lingkungan juga memiliki peran yang yang cukup besar yaitu sikap permisif
orangtua
terhadap anak dalam memilih mainan dan aktivitas yang mereka senangi dan
juga
lebih senang berteman dengan laki-laki dibandingkan dengan perempuan.
Dalam hubungan romantis para lesbian, mereka menolak adanya pembagian
peran butch dan femalee karena pada pola interaksi mereka dalam berhubungan
ada
pihak yang mendominasi dan didominasi, ada pihak yang menerima dan
memberi
dan mereka berharap peran butch pada masa kini hanya berkisar pada
penampilan
dan pembawaan yang dimiliki oleh seorang lesbian.
Satu hal yang terpenting dalam penelitian ini adalah perbedaan antara lesbi
dengan heteroseksual hanya pada masalah orientasi seksualnya dan memang
hal
inilah yang banyak mempengaruhi konsep diri seorang lesbi dan masalah yang
sebenarnya justru datang dari lingkungan yang belum bisa menerima
homoseksualitas sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat

Sumber: http://terry-psikologi.blogspot.com/2009/05/analisis-skripsi-kualitatif-
dari-konsep.html

45
Metode Penelitian Kualitatif

Saturday, 17 January 2009 00:00 Iyan Afriani H.S

A. Pengantar

Dalam penelitian sosial, masalah penelitian, tema, topik, dan


judul penelitian berbeda secara kualitatif maupun kuantitatif. Baik
substansial maupun materil kedua penelitian itu berbeda berdasarkan
filosofis dan metodologis. Masalah kuantitatif lebih umum memiliki wilayah
yang luas, tingkat variasi yang kompleks namun berlokasi dipermukaan.
Akan tetapi masalah-masalah kualitatif berwilayah pada ruang yang
sempit dengan tingkat variasi yang rendah namun memiliki kedalaman
bahasan yang tak terbatas.

Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman


yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena
sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu
gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan
responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell,
1998:15). Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa
metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan
data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang
dan perilaku yang diamati.

Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat


penemuan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci.
Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas
jadi bisa bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi obyek yang diteliti
menjadi lebih jelas. Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan
terikat nilai. Penelitian kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, untuk
mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial,
untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan
meneliti sejarah perkembangan.

46
B. Sistematika Penelitian Kualitatif
Judul
Abstrak
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Gambar
Bab I Pendahuluan
Konteks Penelitian
Fokus Kajian Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Bab II Perspektif Teoritis dan Kajian Pustaka
Bab III Metode Penelitian
Pendekatan
Batasan Istilah
Unit Analisis
Deskripsi Setting Penelitian
Pengumpulan Data
Analisis Data
Keabsahan data
Bab IV Hasil dan pembahasan
Bab VI Kesimpulan dan saran
Daftar pustaka
Lampiran

Penjelasan secara ringkas keseluruhan unsur yang ada dalam


penelitian kualitatif, yaitu:

1. Judul, singkat dan jelas serta mengisyaratkan fenomena dan fokus kajian
penelitian. Penulisan judul sedapat mungkin menghindari berbagai
tafsiran yang bermacam-macam dan tidak bias makna.
2. Abstrak, ditulis sesingkat mungkin tetapi mencakup keseluruhan apa yang
tertulis di dalam laporan penelitian. Abstrak penelitian selain sangat
berguna untuk membantu pembaca memahami dengancepat hasil
penelitian, juga dapat merangsang minat dan selera orang lain untuk
membacanya.

47
3. Perspektif teoritis dan kajian pustaka, perspektif teori menyajikan tentang
teori yang digunakan sebagai perpektif baik dalam
membantumerumuskan fokus kajian penelitian maupun dalam melakukan
analisis data atau membahas temuan-temuan penelitian. Sementara
kajian pustaka menyajikan tentang studi-studi terdahulu dalam konteks
fenomena dan masalah yang sama atau serupa.
4. Metode yang digunakan, menyajikan secara rinci metode yang digunakan
dalam proses penelitian.
5. Temuan–temauan penelitian, menyajikan seluruh temuan penelitian yang
diorganisasikan secara rinci dan sistematis sesuai urutan pokok masalah
atau fokus kajian penelitian. Temuan-temuan penelitian yang disajikan
dalam laporan penelitian merupakan serangkaian fakta yang sudah
direduksi secara cermat dan sistematis, dan bukan kesan selintas peneliti
apalagi hasil karangan atau manipulasi peneliti itu sendiri.
6. Analisis temuan– temuan penelitian. Hasil temuanmemrlukan pembahasan
lebih lanjut dan penafsiran lebih dalam untuk menemukan makna di balik
fakta. Dalam melakukan pembahasan terhadap temuan-temuan
penelitian, peneliti harus kembali mencermati secara kritis dan hati-hati
terhadap perspektif teoritis yang digunakan.

C. Jenis-jenis Penelitian Kualitatif


Penelitian kualitatif memiliki 5 jenis penelitian, yaitu:
1. Biografi
Penelitian biografi adalah studi tentang individu dan pengalamannya yang
dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip-arsip. Tujuan
penelitian ini adalah mengungkap turning point moment atau epipani yaitu
pengalaman menarik yang sangat mempengaruhi atau mengubah hidup
seseorang. Peneliti menginterpretasi subjek seperti subjek tersebut
memposisikan dirinya sendiri.

2. Fenomenologi
Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep
atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada
beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga
tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji.
Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua
penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan
ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan
wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat
dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang
fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden.

48
3. Grounded theory
Walaupun suatu studi pendekatan menekankan arti dari suatu pengalaman
untuk sejumlah individu, tujuan pendekatan grounded theory adalah untuk
menghasilkan atau menemukan suatu teori yang berhubungan dengan situasi
tertentu . Situasi di mana individu saling berhubungan, bertindak, atau terlibat
dalam suatu proses sebagai respon terhadap suatu peristiwa. Inti dari
pendekatan grounded theory adalah pengembangan suatu teori yang
berhubungan erat kepada konteks peristiwa dipelajari.

4. Etnografi
Etnografi adalah uraian dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok
sosial. peneliti menguji kelompok tersebut dan mempelajari pola perilaku,
kebiasaan, dan cara hidup. Etnografi adalah sebuah proses dan hasil dari sebuah
penelitian. Sebagai proses, etnografi melibatkan pengamatan yang cukup
panjang terhadap suatu kelompok, dimana dalam pengamatan tersebut peneliti
terlibat dalam keseharian hidup responden atau melalui wawancara satu per
satu dengan anggota kelompok tersebut. Peneliti mempelajari arti atau makna
dari setiap perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok.

5. Studi kasus
Penelitian studi kasus adalah studi yang mengeksplorasi suatu masalah dengan
batasan terperinci, memiliki pengambilan data yang mendalam, dan
menyertakan berbagai sumber informasi. Penelitian ini dibatasi oleh waktu dan
tempat, dan kasus yang dipelajari berupa program, peristiwa, aktivitas, atau
individu.

D. Metode Pengumpulan Data

Beberapa metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, yaitu:

1. Wawancara
Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi
atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Tehnik wawancara yang digunakan
dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam. Wawancara mendalam
(in–depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan
penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara

49
dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa
menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana pewawancara dan
informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang peneliti saat mewawancarai


responden adalah intonasi suara, kecepatan berbicara, sensitifitas pertanyaan,
kontak mata, dan kepekaan nonverbal. Dalam mencari informasi, peneliti
melakukan dua jenis wawancara, yaitu autoanamnesa (wawancara yang
dilakukan dengan subjek atau responden) dan aloanamnesa (wawancara dengan
keluarga responden). Beberapa tips saat melakukan wawancara adalah mulai
dengan pertanyaan yang mudah, mulai dengan informasi fakta, hindari
pertanyaan multiple, jangan menanyakan pertanyaan pribadi sebelum building
raport, ulang kembali jawaban untuk klarifikasi, berikan kesan positif, dan
kontrol emosi negatif.

2. Observasi
Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat),
pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan
perasaan. Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan
gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk
membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan
pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap
pengukuran tersebut.

Bungin (2007: 115) mengemukakan beberapa bentuk observasi yang dapat


digunakan dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak
terstruktur, dan observasi kelompok tidak terstruktur.

• Observasi partisipasi (participant observation) adalah metode


pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian
melalui pengamatan dan pengindraan dimana observer atau peneliti
benar-benar terlibat dalam keseharian responden.
• Observasi tidak berstruktur adalah observasi yang dilakukan tanpa
menggunakan guide observasi. Pada observasi ini peneliti atau pengamat
harus mampu mengembangkan daya pengamatannya dalam mengamati
suatu objek.
• Observasi kelompok adalah observasi yang dilakukan secara berkelompok
terhadap suatu atau beberapa objek sekaligus.

50
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam observasi adalah topografi, jumlah
dan durasi, intensitas atau kekuatan respon, stimulus kontrol (kondisi dimana
perilaku muncul), dan kualitas perilaku.

3. Dokumen
Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk
dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat,
catatan harian, cenderamata, laporan, artefak, foto, dan sebagainya. Sifat utama
data ini tak terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada
peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam. Secara
detail bahan dokumenter terbagi beberapa macam, yaitu otobiografi, surat-surat
pribadi, buku atau catatan harian, memorial, klipping, dokumen pemerintah atau
swasta, data di server dan flashdisk, data tersimpan di website, dan lain-lain.

4. Focus Group Discussion (FGD)


Focus Group Discussion (FGD) adalah teknik pengumpulan data yang umumnya
dilakukan pada penelitian kualitatif dengan tujuan menemukan makna sebuah
tema menurut pemahaman sebuah kelompok. Teknik ini digunakan untuk
mengungkap pemaknaan dari suatu kalompok berdasarkan hasil diskusi yang
terpusat pada suatu permasalahan tertentu. FGD juga dimaksudkan untuk
menghindari pemaknaan yang salah dari seorang peneliti terhadap fokus
masalah yang sedang diteliti.

E. Teknik Analisis Data


Teknik analisis data dalam penelitian kualitatif di dasarkan pada pendekatan
yang digunakan. Beberapa bentuk analisis data dalam penelitian kualitatif, yaitu:

1. Biografi
Langkah-langkah analisis data pada studi biografi, yaitu:
a. Mengorganisir file pengalaman objektif tentang hidup responden seperti tahap
perjalanan hidup dan pengalaman. Tahap tersebut berupa tahap kanak-kanak,
remaja, dewasa dan lansia yang ditulis secara kronologis atau seperti
pengalaman pendidikan, pernikahan, dan pekerjaan.
b. Membaca keseluruhan kisah kemudian direduksi dan diberi kode.
c. Kisah yang didapatkan kemudian diatur secara kronologis.

51
d. Selanjutnya peneliti mengidentifikasi dan mengkaji makna kisah yang
dipaparkan, serta mencari epipani dari kisah tersebut.
e. Peneliti juga melihat struktur untuk menjelaskan makna, seperti interaksi
sosial didalam sebuah kelompok, budaya, ideologi, dan konteks sejarah,
kemudian memberi interpretasi pada pengalaman hidup individu.
f. Kemudian, riwayat hidup responden di tulis dengan berbentuk narasi yang
berfokus pada proses dalam hidup individu, teori yang berhubungan dengan
pengalaman hidupnya dan keunikan hidup individu tersebut.

2. Fenomenologi
Langkah-langkah analisis data pada studi fenomenologi, yaitu:
a. Peneliti memulai mengorganisasikan semua data atau gambaran menyeluruh
tentang fenomena pengalaman yang telah dikumpulkan.
b. Membaca data secara keseluruhan dan membuat catatan pinggir mengenai
data yang dianggap penting kemudian melakukan pengkodean data.
c. Menemukan dan mengelompokkan makna pernyataan yang dirasakan oleh
responden dengan melakukan horizonaliting yaitu setiap pernyataan pada
awalnya diperlakukan memiliki nilai yang sama. Selanjutnya, pernyataan yang
tidak relevan dengan topik dan pertanyaan maupun pernyataan yang bersifat
repetitif atau tumpang tindih dihilangkan, sehingga yang tersisa hanya horizons
(arti tekstural dan unsur pembentuk atau penyusun dari phenomenon yang tidak
mengalami penyimpangan).
d. Pernyataan tersebut kemudian di kumpulkan ke dalam unit makna lalu ditulis
gambaran tentang bagaimana pengalaman tersebut terjadi.
e. Selanjutnya peneliti mengembangkan uraian secara keseluruhan dari
fenomena tersebut sehingga menemukan esensi dari fenomena tersebut.
Kemudian mengembangkan textural description (mengenai fenomena yang
terjadi pada responden) dan structural description (yang menjelaskan
bagaimana fenomena itu terjadi).
f. Peneliti kemudian memberikan penjelasan secara naratif mengenai esensi dari
fenomena yang diteliti dan mendapatkan makna pengalaman responden
mengenai fenomena tersebut.
g. Membuat laporan pengalaman setiap partisipan. Setelah itu, gabungan dari
gambaran tersebut ditulis.

3. Grounded theory

52
Langkah-langkah analisis data pada studi grounded theory, yaitu:
a. Mengorganisir data
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Open coding, peneliti membentuk kategori informasi tentang peristiwa
dipelajari.
d. Axial coding, peneliti mengidentifikasi suatu peristiwa, menyelidiki kondisi-
kondisi yang menyebabkannya, mengidentifikasi setiap kondisi-kondisi, dan
menggambarkan peristiwa tersebut.
e. Selective coding, peneliti mengidentifikasi suatu jalan cerita dan
mengintegrasikan kategori di dalam model axial coding.
Selanjutnya peneliti boleh mengembangkan dan menggambarkan suatu acuan
yang menerangkan keadaan sosial, sejarah, dan kondisi ekonomi yang
mempengaruhi peristiwa.

4. Etnografi
Langkah-langkah analisis data pada studi etnografi, yaitu:
a. Mengorganisir file.
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Menguraikan setting sosial dan peristiwa yang diteliti.
d. Menginterpretasi penemuan.
e. Menyajikan presentasi baratif berupa tabel, gambar, atau uraian.

5. Studi kasus
Langkah-langkah analisis data pada studi kasus, yaitu:
a. Mengorganisir informasi.
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Membuat suatu uraian terperinci mengenai kasus dan konteksnya.
d. Peneliti menetapkan pola dan mencari hubungan antara beberapa kategori.
e. Selanjutnya peneliti melakukan interpretasi dan mengembangkan generalisasi
natural dari kasus baik untuk peneliti maupun untuk penerapannya pada kasus
yang lain.
f. Menyajikan secara naratif.

F. Keabsahan Data

Banyak hasil penelitian kualitatif diragukan kebenarannya karena beberapa hal,

53
yaitu subjektivitas peneliti merupakan hal yang dominan dalam penelitian
kualitatif, alat penelitian yang diandalkan adalah wawancara dan observasi
mengandung banyak kelemahan ketika dilakukan secara terbuka dan apalagi
tanpa kontrol, dan sumber data kualitatif yang kurang credible akan
mempengaruhi hasil akurasi penelitian. Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa
cara menentukan keabsahan data, yaitu:

1. Kredibilitas
Apakah proses dan hasil penelitian dapat diterima atau dipercaya. Beberapa
kriteria dalam menilai adalah lama penelitian, observasi yang detail, triangulasi,
per debriefing, analisis kasus negatif, membandingkan dengan hasil penelitian
lain, dan member check.
Cara memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian, yaitu:
a. Memperpanjang masa pengamatan memungkinkan peningkatan derajat
kepercayaan data yang dikumpulkan, bisa mempelajari kebudayaan dan dapat
menguji informasi dari responden, dan untuk membangun kepercayaan para
responden terhadap peneliti dan juga kepercayaan diri peneliti sendiri.
b. Pengamatan yang terus menerus, untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur
dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang
diteliti, serta memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.
c. Triangulasi, pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang
lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap
data tersebut.
d. Peer debriefing (membicarakannya dengan orang lain) yaitu mengekspos hasil
sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan
rekan-rekan sejawat.
e. Mengadakan member check yaitu dengan menguji kemungkinan dugaan-
dugaan yang berbeda dan mengembangkan pengujian-pengujian untuk
mengecek analisis, dengan mengaplikasikannya pada data, serta
denganmengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang data.

2. Transferabilitas yaitu apakah hasil penelitian ini dapat diterapkan pada situasi
yang lain.
3. Dependability yaitu apakah hasil penelitian mengacu pada kekonsistenan
peneliti dalam mengumpulkan data, membentuk, dan menggunakan konsep-
konsep ketika membuat interpretasi untuk menarik kesimpulan.

54
4. Konfirmabilitas yaitu apakah hasil penelitian dapat dibuktikan kebenarannya
dimana hasil penelitian sesuai dengan data yang dikumpulkan dan dicantumkan
dalam laporan lapangan. Hal ini dilakukan dengan membicarakan hasil penelitian
dengan orang yang tidak ikut dan tidak berkepentingan dalam penelitian dengan
tujuan agar hasil dapat lebih objektif.

G. Reliabilitas
Reliabilitas penelitian kualitatif dipengaruhi oleh definisi konsep yaitu suatu
konsep dan definisi yang dirumuskan berbeda-beda menurut pengetahuan
peneliti, metode pengumpulan dan analisis data, situasi dan kondisi sosial,
status dan kedudukan peneliti dihadapan responden, serta hubungan peneliti
dengan responden.(IAHS)

Daftar Pustaka
Bungin, B. 2007. Penelitian Kualitatif. Prenada Media Group: Jakarta.
Bungin, B. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. PT Rajagrafindo Persada:
Jakarta.
Creswell, J. W. 1998. Qualitatif Inquiry and Research Design. Sage Publications,
Inc: California.

Sumber: http://www.penalaran-unm.org/index.php/artikel-nalar/penelitian/116-
metode-penelitian-kualitatif.html

55