Anda di halaman 1dari 2

05 November 2001

Jalan Panjang Piagam Jakarta


29 Mei-1 Juni 1945

Di Sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, ada perdebatan soal dasar
negara. Sukarno menyebut Pancasila sebagai dasar negara. Dari golongan Islam, Ki Bagus
Hadikusumo, tokoh Muhammadiyah, mengajukan Islam sebagai dasar negara. 22 Juni 1945
Piagam Jakarta lahir. Dalam piagam itu, Pancasila diterima sebagai dasar negara. Ketuhanan Yang
Maha Esa ditempatkan sebagai sila pertama dengan tambahan anak kalimat "dengan kewajiban
menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Piagam diteken Panitia Sembilan, termasuk
Mr. A.A. Maramis, tokoh Kristen. 18 Agustus 1945 Pencoretan tujuh kata dari sila pertama
Pancasila yang ada dalam pembukaan UUD 45. November 1956 Sidang Konstituante-majelis yang
membuat konstitusi baru pengganti UUD 1945-di Bandung. Ada tiga usul dasar negara: Pancasila,
Islam, dan Sosial Ekonomi. Kubu Nasionalis yang beranggota 273 anggota memilih Pancasila.
Kelompok Islam beranggota 230 orang. 11 November 1957 Rapat Pleno ke-59 Majelis
Konstituante membentuk Panitia Perumus Dasar Negara yang beranggotakan 18 orang yang
mewakili semua kelompok di dalam Konstituante. 21 November 1957 Soewirjo, Ketua PNI di
Konstituante, mengusulkan agar semua pihak mencari jalan untuk kompromi. 22 April 1959
Mengulangi keputusannya di kabinet, Presiden Sukarno menyampaikan anjuran untuk kembali ke
UUD 1945. Usul untuk memasukkan semangat Piagam Jakarta ke dalam Piagam Bandung gagal
karena kelompok Islam menolak jika pencantuman kewajiban melaksanakan syariat Islam hanya
merupakan rumusan formal. Kelompok Islam menghendaki rumusan yang operasional. 21 Mei
1959 Perdana Menteri Djuanda menegaskan pengakuan pemerintah terhadap Piagam Jakarta tidak
berarti secara operasional syariat Islam diberlakukan di negeri ini. Piagam Jakarta dianggap cukup
sebagai hal yang menjiwai UUD 45. 26 Mei 1959 Fraksi-fraksi Islam tidak puas dengan jawaban
pemerintah. Mereka kemudian mengajukan usul agar Piagam Jakarta dijadikan Mukadimah UUD.
Usul ini disampaikan oleh K.H. Maskur dari Nahdlatul Ulama. Namun usul ini pun ditolak. 30 Mei
dan 1 Juni 1959 Berlangsung pemungutan suara sebanyak tiga kali. Voting dilakukan untuk
menentukan perubahan UUD 1945 dengan revisi atau tidak. Pemungutan suara itu tidak mencapai
kuorum, yaitu dihadiri oleh dua pertiga anggota. Maka Konstituante mengalami kebuntuan. 4 Juni
1959 Berlangsung sidang kabinet di Istana Bogor, membahas dekrit. 5 Juni 1959 Dekrit dibacakan
oleh Presiden Sukarno pada hari Minggu, di depan Istana Negara Jakarta. Panglima Tertinggi
Angkatan Perang, yang juga dijabat Bung Karno, membacakan dekrit kembali ke UUD 1945.
Pembacaan itu menandai era Demokrasi Terpimpin. Agustus 2000 Setelah terkubur 41 tahun, pada
masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, ide untuk mengamandemen UUD 1945 dan
mengembalikan Piagam Jakarta muncul kembali, terutama menjelang Sidang Tahunan Agustus
2000. 9 Agustus 2000 Fraksi TNI/Polri, lewat ketuanya Hari Sabarno, menolak amandemen UUD
yang memasukkan Piagam Jakarta. Alasannya membuang energi. 11 Agustus 2000 Menyusul
TNI/Polri, giliran ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, menolak amandemen itu
dengan alasan tidak diperlukan dari tinjauan filosofis, historis, serta substansi syariat Islam. 14
Agustus 2000 Puluhan mahasiswa di Kupang, Nusatenggara Timur, mengancam akan menggalang
kekuatan kaum muda untuk mempertimbangkan memisahkan diri dari Indonesia dan mendirikan
Negara Indonesia Timur (NIT) jika Sidang Umum MPR mengamandemen Pasal 29 UUD 1945. 15
Agustus 2000 Tercatat PPP, Partai Keadilan, Partai Bulan Bintang, merupakan partai Islam yang
memperjuangkan amandemen itu. Front Pembela Islam dengan ribuan pengikutnya menggelar
demonstrasi besar di depan DPR RI. 5 Agustus 2001 Walaupun gagal dalam Sidang Tahunan 2000,
partai Islam dan ormas Islam berusaha kembali memasukkan Piagam Jakarta dalam amandemen
UUD 45 dalam Sidang Tahunan Tahun 2001. Namun, hal ini ditentang oleh fraksi terbesar di MPR,
Fraksi PDI Perjuangan, juga Fraksi Partai Golkar, PKB, TNI/Polri. 29 Agustus 2001 Kembali
muncul desakan dari Front Pembela Islam agar masalah pemberlakuan syariat Islam dibahas dalam
Sidang Tahunan MPR, 1 November mendatang. 8 September 2001 Wakil Presiden Hamzah Haz, di
hadapan para peserta Musyawarah Kerja Wilayah PPP Jawa Timur di Jombang, meminta umat tidak
membicarakan lagi masalah Piagam Jakarta. Alasan Hamzah, sampai kapan pun Indonesia tidak
akan menjadi negara Islam. Pernyataan Hamzah Haz akhirnya menutup spekulasi sikap PPP yang
sebelumnya setuju Piagam Jakarta. Dalam sidang tahunan, usul amandemen akhirnya tidak masuk
dalam pembahasan.

Majalah Tempo Online


http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2001/11/05/LU/mbm.20011105.LU85024.id.html