Anda di halaman 1dari 24

BAB I

1.1 Pendahuluan

Pukat kantong (seine net) merupakan alat tangkap yang banyak kita
temukan di perairan Indonesia.Selain karena alat tangkap ini memberi
hasil yang cukup besar bagi nelayan, alat ini juga ramah lingkungan dan
disetujui penggunaannya oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Indonesia.

Dalam perkembanganya pukat kantong terus mengalami kemajuan


baik dalam hal distribusinya maupun bentuknya. Walaupun di masing-
masing daerah mungkin akan mempunyai nama yang berbeda-beda dan
mengalami perubahan sesuai dengan keinginan penduduk setempat.

Sebagai alat tangkap yang banyak digunakan di Indonesia, tentunya


kita perlu mengetahui dan memahami seluk beluk alat ini. Oleh karena
itu, di makalah ini kita akan menemukan informasi-informasi berguna
tentang pukat kantong, baik mengenai sejarah, klasifikasi, metodologi
penangkapan dll.

1.2 Tujuan

Tujuan dari dibuatnya makalah ini untuk memenuhi tugas mata


kuliah Metodologi Penangkapan Ikan Prodi Perikanan FPIK-UNPAD yang
diberikan oleh para dosen pembimbing mengenai alat tangkap pukat
kantong (seine net) . Selain itu, adapun tujuan utama dari pembuatan
makalah ini agar para mahasiswa/mahasiswi perikanan di UNPAD pada
khususnya mengetahui dan memahami informasi tentang pukat kantong.

1.3 Manfaat

Kami selaku tim penyusun, berharap agar makalah ini dapat


diterima dan digunakan sebaik-baiknya oleh para pembaca. Dalam
makalah ini kita akan disuguhkan berbagai informasi menarik tentang
“seine net” sehingga dapat menambah pengetahuan kita tentang pukat
kantong.
BAB II

2.1 Tinjauan pustaka

a) Definisi pukat kantong (seine net)

Pukat kantong (seine net) adalah jenis jaring menangkap ikan


berbentuk kerucut yang terdiri dari kantong atau bag,
badan(body), dua lembar sayap (wing) yang dipasang pada
kedua sisi mulut jaring, dan tali penarik (warp). Alat ini tergolong
tradisional,tidak merusak lingkungan,dan ukurannya mesh sizenya
relatif kecil.Pukat kantong terdiri atas payang, dogol, dan
pukat pantai.

b) Sejarah pukat kantong.

Pukat pertama kali dikembangkan di Denmark, yang disebut


dengan “Danish seine”. Seiring dengan perkembangan waktu
munculah modifikasi-modifikasi dari “Danish seine” ini, yaitu
payang(lampara) dan pukat pantai. Awalnya pukat kantong
digunakan untuk menangkap salmon di Columbia river, Oregon,
1914.
Di Indonesia sendiri pukat kantong ini sudah digunakan untuk
menangkap ikan sejak jaman belanda atau sekitar tahun 1930-an.
Pada masa itu harga bahannya masih relatif mahal, oleh karena itu
baru para pegawai pemerintah Hindia Belanda saja yang memiliki.
Sedangkan bahan untuk membuatnya pun masih sederhana, alat ini
pada masa itu terbuat dari benang kapas dicampur dengan getah
bakau pada bagian jaringnya, dan tali penarik terbuat dari penjalin
dengan daya awet alat yang hanya dapat mencapai kurang labih
selama 2 tahun.

c) Klasifikasi dan penggolongan pukat kantong (seine net)

Berdasarkan stasistik perikanan Indonesia pukat kantong


dikatagorikan menjadi 3 bagian :

- Payang (termasuk lampara)


- Dogol (Danish seine)
- Pukat pantai

Sedangkan menurut (Internasional Standar Statistical


Clasification Fishing Gear) pukat kantong masuk dalam kategori
pukat. Jika ditinjau dari sifat alat ini, pukat kantong termasuk dalam
kategori alat tangkap aktif, karena pukat kantong adalah alat
tangkap yang digerakkan memburu ikan, sehingga ikan tertangkap.

d) Konstruksi alat tangkap


Pada prinsipnya pukat kantong terdiri dari bagian bagian
seperti : kantong, sayap atau kaki dan tali panjang (slambar,
hauling line). Bagian kantong berbentuk kerucut, bisa dibuat dari
bahan waring, katun maupun bahan sintetis seperti waring karuna,
nilon, dan bahan dari plastik. Pada mulut di kantong kanan-kirinya
dihubungkan dengan kaki atau sayap, sedang pada bagian ujung
belakang yang disebut ekor diberi tali yang dapat dengan mudah
dibuka dan diikatkan untuk mengeluarkan hasil tangkapan. Bagian
kaki atau sayap dibuat dari bahan benang katun atau bahan sintetis
lainnya. Besar mata bagian kaki bervariasi mulai dari 6,5 cm pada
ujung depan dan mengecil pada bagian pangkalnya. Pada bagian
ujung depan kaki diberi atau dihubungkan dengan kayu cengkal
(brail or preader). Pada tiap ujung kaki, yaitu pada ris atas dan
bawah diikatkan tali yang telah diikatkan pada kayu cengkal
kemudian disambungkan dengan tali hela (tali slambar, hauling line)
yang panjang dan dapat dibuat menurut kebutuhan. Pada bagian
atas mulut dan kaki diikatkan pelampung. Ada tiga macam
pelampung yang sering digunakan yaitu: pelampung raja,
pelampung biasa dan pelampung. Sedangkan pada ris bawah
diikatkan dua macam pemberat yaitu dari timah dan pemberat dari
rantai besi yang jarak antara satu dengan yang lainnya saling
berjauhan.

Detail Konstruksi Alat Tangkap Pukat Kantong

Pukat kantong terdiri dari tiga bagian penting yaitu kantong


(bag), badan (shoulder) dan sayap (wings). Masing-masing bagian
masih terdiri atas beberapa sub bagian lagi.
1. Sayap (Wings)

Sayap merupakan perpanjangan dari bahan jaring, berjumlah


sepasang terletak pada masing-masing sisi jarring. Masing-masing
sayap terdiri atas:

1. Ajuk-ajuk, yang berada di ujung depan dan biasanya terbuat dari


polyethyline

2. Gembungan, yang terdapat di tengah dan biasanya juga terbuat


dari polyethyline.

3. Clangap, yang berada di dekat badan dan biasanya juga terbuat


dari polyethyline atau bahan sintetis lainnya.

2. Kantong (Bag)

Kantong berfungsi sebagai tampat ikan hasil tangkapan,


berbentuk kerucut pada ujungnya diikat sebuah tali sehingga ikan-
ikan tidak lolos. Kantong terdiri atas bagian-bagian yang
mempunyai ukuran mata yang berbeda-beda. Kantong terdiri dari
dua bagian, pada umumnya bagian depan berukuran mata sekitar
14 mm, berjumlah sekitar 290 dan panjang sekitar 2,20 m. Bagian
belakang kira kira memiliki ukuran mata 13 mm, dengan jumlah
sekitar 770, dan panjang sekitar 4 m.

3. Badan (Shoulder)

Bagian badan jarring terletak di tengah-tengah antara


kantong dan kedua sayap. Berbentuk bulat panjang berfungsi untuk
melingkupi ikan yang sudah terperangkap agar masuk ke kantong.
Badan terdiri atas bagian depan yang mempunyai ukuran mata
yang lebih kecil daripada bagian belakang dan dengan panjang
serta jumlah mata yang lebih banyak daripada bagian belakang.
Kedudukan pukat kantong di perairan sangat ditentukan oleh
keberadaan pelampung dan pemberat pukat kantong.

1. Pemberat (Sinker)

Pemasangan pemberat pada umumnya ditempatkan pada


bagian bawah alat tangkap. Fungsinya agar bagian-bagian yang
dipasangi pemberat ini cepat tenggelam dan tetap pada posisinya
meskipun mendapat pengaruh dari arus serta membantu membuka
mulut jaring kearah bawah.

2. Pelampung (Floats)

Sesuai dengan namanya fungsi pelampung digunakan untuk


memberi daya apung atau untuk mengapungkan dan merentangkan
sayap serta membuka mulut jaring ke atas pada alat tangkap pukat
pantai.

Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas pukat kantong


juga menggunakan tali temali. Tali tamali yang terdapat dalam
pukat pantai ada tiga jenis, yaitu:

1. Tali Penarik (Warps) dan Tali Goci (Bridles)

Terletak pada dua ujung sayap, berfungsi untuk menarik


jaring pukat kantong pada setiap operasi penangkapan. Tali ini
ditarik dari pantai oleh nelayan atau dengan bantuan mesin atau
tergantung dengan panjang dan besarnya pukat kantong.

2. Tali Ris Atas (Lines)

Berfungsi sebagai tempat untuk melekatnya jaring pada


bagian atas dan pelampung. Tali ini terletak pada kedua sayap

3. Tali Ris Bawah (Ground Rope)


Tali ini berfungsi sebagai tempat melekatnya jaring pada
bagian bawah dan pemberat. Tali ini terletak pada kedua sayap
jaring.

3. Karakteristik Alat Tangkap Pukat Pantai

Alat tangkap pukat kantong termasuk jenis pukat yang


berukuran besar. Banyak dikenal di daerah pantai utara Jawa,
Madura, Cilacap, Pangandaran, Labuhan,Pelabuhan Ratu, Maringge
(Sumatra Selatan). Prinsip pengoperasianya adalah menelusuri
bagian tengah (pelagik) dan dasar perairan (demersal).Kantong
pada pukat kantong biasanya berbentuk kerucut dan terbuat dari
katun maupun bahan sintetis lain.

4. Bahan dan Spesifikasinya

Seperti yang telah disebutkan pada konstruksi maupun detail


konstruksi, pada prinsipnya pukat kantong terdiri dari bagian-bagian
kantong yang berbentuk kerucut yang bisa dibuat dari bahan
waring, katun maupun bahan sintetis lain seperti waring karuna,
nilon bahan dari plastic maupun polyethylene (PE). Bagian kaki atau
sayap dibuat dari bahan benang katun atau bahan sintetis lainnya.
Pada bagian atas mulut dan kaki diikatkan pelampung. Pelampung
ini kebanyakan terbuat dari bahan sintetis yang bersifat mudah
mengapung atau tidak tenggelam dan biasanya berbentuk silinder.
Sedangkan pada ris bawah diikatkat pemberat yang bisa terbuat
dari timah atau dapat pula digunakan rantai besi. Pada masa dahulu
masih digunakan pemberat yang terbuat dari bahan liat maupun
batu. Namun sekarang sudah jarang digunakan karena daya
awetnya rendah.

HASIL TANGKAPAN
Hasil tangkapan yang diperoleh dengan alat tangkap pukat
kantong untuk payang dan dogol adalah ikan-ikan yang
berkelompok (skulling) seperti tuna, cakalang, tongkol dll.

Sedangkan untuk pukat pantai adalah jenis-jenis ikan dasar


atau jenis ikan demersal dan udang antara lain yaitu; pari (rays),
cucut (shark),teri (stolepharus spp), bulu ayam (setipinna spp),
beloso (saurida spp), manyung (arius spp), sembilang (plotosus
spp), krepa (epinephelus spp), kerong-kerong (therapon spp), gerot-
gerot (pristipoma spp), biji nangka (parupeneus spp), kapas-kapas
(gerres spp), petek (leiognathus spp), ikan lidah dan sebelah
(psettodidae), dan jenis jenis udang (shrimp).

Sedangkan untuk pembagian hasil tangkapan, hal ini sudah


diatur sesuai dengan undang-undang no 16 tahun 1964 tentang
pembagian hasil usaha perikanan tangkap untuk operasi
penangkapan ikan di laut dengan menggunakan perahu layar,
nelayan penggarap minimal mendapat 75% dari hasil usaha bersih.

DAERAH PENANGKAPAN

Daerah penangkapan ikan adalah suatu daerah perairan yang


cocok untuk penangkapan ikan dimana alat tangkap dapat kita
operasikan secara maksimum.

Syarat-syarat suatu daerah dapat dikatakan sebagai daerah


penangkapan ikan bila :

1. Terdapat ikan yang berlimpah jumlahnya

2. Alat tangkap dapat dioperasikan dengan mudah

3. Secara ekonomis daerah sangat berharga atau kondisi dan posisi


daerah perlu diperhitungkan.
BAB III

3.1 Metodologi alat tangkap

a) Payang dan lampara

Payang termasuk grup pukat kantong yaitu jaring yang


memiliki kantong dan dua buah sayap. Metode penangkapan ikan
dilakukan dengan cara menarik pukat kantong tersebut ke arah
kapal yang berhenti atau ke arah daratan melalui kedua sayapnya.
Dilihat dari alat konstruksi alat, alat ini sama dengan trawl, tetapi
mempunyai sayap lebih panjang dan berbeda dalam operasi
penangkapan, dimana trawl bergerak bersama-sama kapal,
sedangkan pukat kantong hanya jaring yang bergerak. Payang
(termasuk lampara permukaan) merupakan pukat kantong yang
digunakan untuk menangkap ikan pelagis.
Alat tangkap payang merupakan alat tangkap modifikasi yang
menyerupai trawl kecil yang dioperasikan dipermukaan perairan. Dari segi
konstruksi alat tangkap tersebut hampir mirip dengan lampara, yang
membedakan adalah tidak digunakannya otter board dalam
pengoperasiannya. Pengoperasian payang dilakukan pada lapisan
permukaan perairan. Payang mempunyai tingkat selektifitas yang rendah,
disebabkan penggunaan mesh size yang kecil, sehingga dapat
menangkap ikan-ikan kecil, seperti teri sampai ikan yang berukuran lebih
besar, seperti tongkol dan sebagainya. Alat tangkap payang di lokasi
kajian banyak dioperasikan dengan kapal-kapal berukuran kecil (kurang
dari 30 GT) dengan jumlah trip yang terbatas (umumnya one day fishing).

Payang secara ekonomis termasuk alat tangkap yang


menguntungkan karena menghasilkan tangkapan ikan yang bernilai
ekonomis tinggi (teri nasi) dan juga dapat juga untuk menangkap ikan-
ikan besar semacam tongkol, tengiri dan sebagainya. Pengoperasiannya
dimulai dengan penurunan atau penebaran jaring, kemudian dilanjutkan
dengan penarikan jaring, hingga akhirnya ikan terkumpul dan jaring
kemudian diangkat. Selanjutnya ikan akan diambil dan dimasukkan ke
dalam palka.

Armada perikanan payang yang ada di lokasi kajian umumnya


dioperasikan oleh usaha perorangan, menggunakan kasko berbahan
dasar kayu. Kapal payang yang dioperasikan di Karawang merupakan
kapal-kapal payang berukuran kecil (5-20 GT), dengan kekuatan mesin
sebesar 16 HP. Operasi penangkapan dilakukan selama satu hari
penangkapan atau one day fishing. Menggunakan mesin tempel dan
berbahan bakar solar, dengan panjang kapal 10 m.

Kapal payang yang dioperasikan di Karawang merupakan kapal-


kapal payang berukuran kecil (5-20 GT), dengan kekuatan mesin sebesar
16 HP. Operasi penangkapan dilakukan selama satu hari penangkapan
atau one day fishing. Menggunakan mesin tempel dan berbahan bakar
solar, dengan panjang kapal 10 m.

Adapun armada perikanan payang yang dioperasikan di Muncar


(Banyuwangi, Jawa Timur) merupakan kapal-kapal payang berukuran kecil
(5-20 GT), dengan kekuatan mesin sebesar 16 HP. Operasi penangkapan
dilakukan selama satu hari penangkapan atau one day fishing.
Menggunakan mesin tempel dan berbahan bakar solar, dengan panjang
kapal 10 m.

Lampara net

b) Pukat Pantai

Definisi Alat Tangkap Pukat Pantai

Pukat pantai atau beach seine adalah salah satu jenis alat
tangkap yang masih tergolong kedalam jenis alat tangkap pukat
tepi. Dalam arti sempit pukat pantai yang dimaksudkan tidak lain
adalah suatu alat tangkap yang bentuknya seperti payang, yaitu
berkantong dan bersayap atau kaki yang dalam operasi
penangkapanya yaitu setelah jaring dilingkarkan pada sasaran
kemudian dengan tali panjang (tali hela) ditarik menelusuri dasar
perairan dan pada akhir penangkapan hasilnya didaratkan ke
pantai. Pukat pantai juga sering disebut dengan krakat. Di beberapa
daerah di jawa juga dikenal dengan nama “puket”, “krikit”, dan atau
“kikis”.

Prospektif Alat Tangkap Pukat Pantai

Dalam perkembanganya pukat pantai terus mengalami


kemajuan baik dalam hal distribusinya maupun bentuknya.
Walaupun di masing-masing daerah munkin akan mempunyai nama
yang berbeda-beda dan mengalami perubahan sesuai dengan
keinginan penduduk setempat. Penggunaan tenaga kerja yang
cukup banyak sekitar 36 orang merupakan ciri positif dari pukat
pantai bila dikaitkan dengan lapangan kerja dan perluasan
kesempatan kerja. Mereka biasanya tidak dituntut untuk memiliki
ketrampilan tertentu kecuali tenaga yang cukup untukmenarik
jarring. Meskipun tergolong dalam alat tangkap tradisional namun
pukat pantai termasuk dalam alat tangkap tradisional penting yang
dapat memberikan hasil tangkap yang cukup baik. Menurut data
statistik perikanan tahun 1986 jumlah pukat tapi mencapai 9.740
unit dengan jumlah seluruh alat penangkap 452.845 unit dan
dengan jumlah produksi mencapai 75.363 ton. Daerah
penyebaranya hampir terdapat di seluruh daerah perikanan laut
Indonesia. Hal tersebut dapat menunjukkan perkembangan dari alat
tangkap pukat pantai yang cukup baik.

TEKNIK OPERASI ALAT TANGKAP PUKAT PANTAI

Tahap Persiapan
Kira-kira sebanyak 6 orang nelayan naik ke perahu yang
ditambat di dekat pantai untuk mempersiapkan segala sesuatu
yang diperlukan bagi operasional penangkapan. Jaring dan tali
disusun sedemikian rupa dengan dibantu para nelayan penarik untuk
mempermudah operasi penangkapan terutama pada waktu
penawuran (setting). Urut-urutan susunan alat dalam perahu mulai
dari dasar adalah sebagai berikut : gulungan tali penarik I, sayap I,
badan, kantong, sayap II dan teratas adalah gulungan tali penarik II.
Diatur pula letak pelampung pada bagian sisi kanan menghadap kea rah
laut dan pemberat di sebelah kiri menghadap kea rah pantai. Salah
satu ujung tali hela (penarik) diikatkan pada patok kayu di pantai
kemudian perahu dikayuh menjauhi pantai.

Tahap Penawuran (Setting)

Perahu dikayuh menjauhi pantai sambil menurunkan tali hela


II yang ujungnya telah diikatkan pada patok di daratan pantai.
Apabila syarat-syarat fishing ground telah ditemukan dan jarak sudah
mencapai sekitar 700 m (sepanjang tali hela) dari pantai, perahu mulai
bergerak ke kanan sambil menurunkan jaring. Penurunan jaring
diusahakan agar membentuk setengah lingkaran menghadap garis
pantai. Urutan penurunan dari perahu sebelah kiri berturut-turut
sayap II, badan dan kantong serta sayap I, kemudian tali hela diulur
sambil mengayuh perahu mendekati pantai dan pada saat mendekati
pantai ujung tali penarik yang lain dilempar ke pantai dan diterima oleh
sekelompok nelayan yang lain. Setelah kedua ujung tali penarik berada
di pantai, masing-masing ujung ditarik oleh sekelompok nelayan yang
berjumlah sekitar 13 orang per kelompok. Pada saat itu perahu
kembali kelaut untuk mengambil tali kantong dan mengikuti jaring
hingga ke pantai selama penarikan jaring.

Kecapatan perahu dalam menebarkan jaring dapat dihitung


dengan mengetahui jarak yang telah ditempuh perahu dan lamanya
waktu penebaran. Sedangkan kecepatan penawuran dapat diperoleh
dengan menghitung panjang pukat pantai dibagi dengan lama
penawuran.

Tahap Penarikan (Hauling)

Ketika ujung tali hela I telah sampai di pantai, penarikan jaring


dimulai. Jarak antara ujung tali penarik I dan II kurang lebih 500
m, masing-masing ditarik oleh nelayan berjumlah sekitar 13 orang.
Sambil secara bertahap saling mendekat bersamaan dengan
mendekatnya jaring ke pantai. Perpindahan dilakukan kira- kira
sebanyak 4 kali dengan perpindahan ke 4 pergeseran dilakukan terus
menerus hingga akhirnya bersatu. Ketika sayap mulai terangkat di bibir
pantai, penarikan di komando oleh seorang mandor untuk mengatur
posisi jarring agar ikan tidak banyak yang lepas. Bersamaan dengan
itu perahu dikayuh menuju ujung kantong yang diberi tanda dengan
bendera yang terpasang pada pelampung. Salah satu dari crew penebar
mengikatkan kebo kaos pada bagian ujung kantong. Kebo kantong
tersebut dimaksudkan sebagai tempat ikan hasil tangkapan agar jaring
tidak rusak akibat terlalu banyak muatan. Sambil memegang kebo
kaos tersebut nelayan berenang mengikuti jaring sampai ke pinggir
pantai. Kecepatan penarikan dapat dihitung dengan cara membagi
panjang keseluruhan dengan lamanya penarikan.

Tahap Pengambilan Hasil Tangkap


Sayap dan badan pukat pantai terus ditarik dan bila kedua
bagian ini telah berada di daratan pantai, kantong ditarik dan hasil
tangkapan dikeluarkan dari kantong. Selanjutnya ikan yang jenisnya
bermacam-macam tersebut disortir dengan memisahkan dan
memasukkanya ke dalam keranjang tempat yang telah disediakan.
Selain itu sebagian nelayan ada yang menaikkan tali penarik dan
jating ke daratan untuk dirawat atau mempersiapkan pengoperasian
tahap berikutnya.

HAL-HAL YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN


PENANGKAPAN

Hal-hal yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya suatu


operasi penangkapan diantaranya adalah :

1. Penentuan fishing ground yang tepat

2. Pengaturan posisi pukat pantai yang digunakan

3. Kecepatan penebaran dan penaikkan jarring

4. perawatan, daya awet sertaefektifitas pukat pantai yang


digunakan

5. Lamanya waktu pengoperasian

6. Kondisi perahu dan alat bantu lainnya.


Pukat pantai
c) Dogol (Danish seine)

Secara umum konstruksi dan penggunaan dogol sama dengan


yang dilakukan pada payang.Yang menjadi pembeda pada kedua
alat tangkap ini adalah daerah tangkapannya. Jika payang
digunakan untuk ikan pelagic, dogol digunakan khusus untuk ikan
demersal. Inilah sebabnya dogol juga disebut “anchor seine”.

Gambar Dogol
BAB IV

4.1 Hasil dan pembahasan

Pada bab ini kita akan membahas ke-efektivitasan penggunaan


pukat pantai di perairan Indonesia.

Pukat pantai merupakan salah satu jenis dari pukat kantong. Pukat
“tepi” ini banyak digunakan oleh nelayan di Indonesia, sehingga tidak
dipungkiri lagi bahwa pukat panti merupakan salah satu alat tangkap
yang sering kita temukan di tepian pantai Indonesia. Fungsi dari pukat
pantai ini sendiri adalah untuk menarik ikan di tepian pantai ke daratan.
Banyak hal yang perlu dipersiapkan sebelum melakukan
penangkapan dengan alat ini, salah satunya adalah mementukan ukuran
mesh yang tepat. Berbagai pertimbangan perlu kita lakukan dalam
menentukan mesh size, yang paling pertama ialah menentukan target
spesies dan memastikan ukuran ikan yang potensial di perairan tersebut.
Jaring dengan ukuran mesh yang kebesaran akan berakhir seperti gill net,
tentunya ini hasil yang tidak kita inginkan dan sangat buruk. Walaupun
nelayan dapat mengatasi kondisi seperti ini dengan mencabuti ikan satu-
persatu tetap saja akan membuang waktu dan mengurangi efisiensi dari
operasi penangkapan. Sebaliknya, jika ukuran mesh terlalu kecil jaring
akan terisi banyak pasir maupun sampah yang menyebabkan kesulitan
saat menarik jaring keluar dari air. Ukuran mesh yang terlalu kecil akan
menguras tenaga, karena nelayan akan mengeluarkan banyak tenaga
menarik jaring yang seolah-olah seperti batu saat di dalam air.

Permasalahan Mendasar

Permasalahan yang perlu diperhatikan oleh para nelayan adalah


mengetahui jenis substrat, karena substrat berpengaruh besar dalam
penarikan jaring. Tak jarang jaring menjadi rusak karena tergesek oleh
karang, hal ini dapat menyebabkan kerugian besar bagi nelayan sendiri.
Untuk itu perlu mengetahui kondisi perairan terlebih dahulu baik substrat
maupun arus air. Dengan mengetahui “ladang ikan” terlebih dahulu, kita
dapat menentukan arah penebaran pukat pantai.

Reaksi Ikan
Setiap spesies ikan memiliki reaksi yang berbeda terhadap pukat
pantai. Ada ikan yang berkumpul di tengah dan mengikuti arah jaring
sehingga tertangkap dengan mudah. Ada ikan yang berontak dan
menabrak mata jaring. Jika kita tepat menentukan target dan jenis ikan
dan juga kita sesuaikan dengan alat tangkapnya hal ini bukanlah masalah
yang cukup berarti. Kuncinya adalah “Know your own farm”.

Kelebihan dan kekurangan

Setiap alat tangkap pasti memiliki kelebihan dan kekurangan nya


masing-masing. Kelebihan pukat kantong sendiri adalah biaya operasional
yang lebih murah dibanding alat tangkap lain seperti trawl. Kelebihan
lainnya adalah kesegaran ikan lebih terjaga karena dapat dijual langsung
setelah ikan didaratkan ke pantai.

Kekurangan dari pukat pantai terletak di banyaknya jumlah tenaga


yang dibutuhkan sehingga hasil tangkapan harus dibagi merata. Jika
tangkapan yang diperoleh sedikit, hasil yang didapatpun akan semakin
berkurang.

Secara umum pukat pantai merupakan alat tangkap yang ramah


lingkungan, karena kita dapat memilih ikan yang akan ditangkap dengan
cara menyesuaikan ukuran meshnya sehingga ikan yang tidak
potensial/masih kecil tidak tertangkap oleh jaring. Dalam penggunaannya
pukat pantai tidak menimbulkan kerusakan pada lingkungan sekitar.

Dalam perkembanganya pukat pantai terus mengalami kemajuan


baik dalam hal distribusinya maupun bentuknya. Walaupun di masing-
masing daerah mungkin akan mempunyai nama yang berbeda-beda dan
mengalami perubahan sesuai dengan keinginan penduduk setempat.
Penggunaan tenaga kerja yang cukup banyak sekitar 36 orang merupakan
ciri positif dari pukat pantai bila dikaitkan dengan lapangan kerja dan
perluasan kesempatan kerja. Mereka biasanya tidak dituntut untuk
memiliki ketrampilan tertentu kecuali tenaga yang cukup untuk menarik
jaring. Meskipun tergolong dalam alat tangkap tradisional namun pukat
pantai termasuk dalam alat tangkap tradisional penting yang dapat
memberikan hasil tangkap yang cukup baik. Menurut data statistik
perikanan tahun 1986 jumlah pukat tapi mencapai 9.740 unit dengan
jumlah seluruh alat penangkap 452.845 unit dan dengan jumlah produksi
mencapai 75.363 ton. Daerah penyebaranya hampir terdapat di seluruh
daerah perikanan laut Indonesia. Hal tersebut dapat menunjukkan
perkembangan dari alat tangkap pukat pantai yang cukup baik.
BAB V

5.1 Kesimpulan
Pukat kantong adalah jenis jaring menangkap ikan berbentuk
kerucut yang terdiri dari kantong atau bag, badan(body), dua lembar
sayap (wing) yang dipasang pada kedua sisi mulut jaring, dan tali penarik
(warp). Alat ini tergolong tradisional, tidak merusak lingkungan, dan
ukurannya mesh sizenya relatif kecil. Pukat kantong terdiri atas payang,
dogol, dan pukat pantai.

Alat tangkap pukat kantong termasuk jenis pukat yang berukuran


besar. Banyak dikenal di daerah pantai utara Jawa, Madura, Cilacap,
Pangandaran, Labuhan , Pelabukan Ratu, Maringge (Sumatra Selatan).
Prinsip pengoperasianya adalah menelusuri bagian tengah (pelagik) dan
dasar perairan (demersal).Kantong pada pukat kantong biasanya
berbentuk kerucut dan terbuat dari katun maupun bahan sintetis lain.

Hasil tangkapan yang diperoleh dengan alat tangkap pukat


kantong untuk payang dan dogol adalah ikan-ikan yang berkelompok
(skulling) seperti tuna, cakalang, tongkol, sardine dll. Sedangkan untuk
pukat pantai adalah jenis-jenis ikan dasar atau jenis ikan demersal dan
udang antara lain yaitu; pari (rays), cucut (shark),teri (stolepharus spp),
bulu ayam (setipinna spp), beloso (saurida spp), manyung (arius spp),
sembilang (plotosus spp), krepa (epinephelus spp), kerong-kerong
(therapon spp), gerot-gerot (pristipoma spp), biji nangka (parupeneus
spp), kapas-kapas (gerres spp), petek (leiognathus spp), ikan lidah dan
sebelah (psettodidae), dan jenis jenis udang (shrimp).

Secara umum pukat kantong merupakan alat tangkap yang ramah


lingkungan, karena kita dapat memilih ikan yang akan ditangkap dengan
cara menyesuaikan ukuran meshnya sehingga ikan yang tidak
potensial/masih kecil tidak tertangkap oleh jaring. Dalam penggunaannya
pukat pantai tidak menimbulkan kerusakan pada lingkungan sekitar.
BAB VI

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous.1976.FISHERMAN’S MANUAL.World Fishing. England.

Anonimous.1975.FAO CATALOGUE OF SMAIL SCALE FISHING GEAR.FAO of


UN.

Ayodya.1975.FISHING METHODS DIKTAT KULIAH ILMU TEHNIK


PENANGKAPAN IKAN. Bagian Penangkapan. Fakultas Perikanan IPB.
Bogor.

Subani dan Barus.1989. ALAT PENANGKAPAN IKAN DAN UDANG LAUT DI


INDONESIA. Balai Perikanan Laut. Jakarta.

Directorate General of Fisheries. 1994. Fisheries Statistics of Indonesia


1993. Departemen Pertanian Jakarta.

Artikel mengenai Pukat kantong. WIKIPEDIA INDONESIA.