Anda di halaman 1dari 46

Pukat Hancurkan Nelayan Tradisional

Pantai Cermin, (Analisa)


Merajalelanya pukat-pukat besar seperti, trawl, apung dan gandeng yang beroperasi
di wilayah tangkapan nelayan tradisional khususnya perairan pinggiran Selat Malaka
menunjukkan lemahnya pengawasan pemerintah terhadap aksi liar para ‘mafia’.

"Nelayan tradisional adalah korban utama dari merajalelanya pukat-pukat besar


tersebut. Bagi nelayan tradisional, pukat-pukat besar merupakan ‘tsunami’
mengerikan yang telah memorak-porandakan segala sistem dan lini kehidupan
mereka" ungkap Direktur Eksekutif Institut Pembaharuan Desa (IPD) Syamsul Bahri
kepada Analisa, Jumat (12/2) menyikapi keluhan nelayan tradisional terhadap masih
maraknya pukat-pukat besar memasuki wilayah tangkap mereka.

Kurangnya komitmen pemerintah dan penegakkan hukum yang tidak tegas terhadap
pemilik pukat-pukat besar yang melanggar ketentuan menyebabkan mereka tidak
peduli terhadap nasib nelayan-nelayan tradisional dan membentuk semacam ‘imej’
bahwa telah terjadi ‘transaksi’ antara penegak hukum dan pemerintah dengan pemilik
pukat.

"Wajar juga kalau imej ini muncul. Sebab, aturan larangan sudah ada, tapi
kenyataannya pukat-pukat besar dan canggih tersebut masih merajalela beroperasi"
ujarnya.

Menurutnya, aksi yang sudah menjadi ‘rahasia’ umum ini secara sistemik telah
menghancurkan segala lini kehidupan nelayan tradisional. Selain pendapatan yang
jauh berkurang, berdampak pula terhadap kehidupan sosial mereka. Ada semacam
indikasi negatif seakan menjadi ‘label’ bagi masyarakat pesisir pantai bahwa mereka
komunitas masyarakat yang identik dengan kemiskinan dan kebodohan.

Dari beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan IPD, persentase cukup tinggi
ditemukan masyarakat pesisir tidak mengecap pendidikan sehingga sangat sinerjis
dengan imej yang melekat pada mereka.

Kenyataannya, tambah Syamsul, salah satu faktor yang melatarbelakangi fakta


tersebut disebabkan kemiskinan terkait juga dengan minimnya pendapatan nelayan
akibat semakin berkurangnya hasil tangkapan dari melaut.

Mata rantai kepelikan yang dihadapai nelayan tradisional, ternyata terkait pula
dengan merajalelanya pukat-pukat besar yang masuk ke wilayah tangkapan mereka
yang tidak saja merebut hewan lautnya, tapi juga merusak komunitas terumbu
karang tempat aneka ragam hewan laut berkembang biak.

"Semuanya kembali kepada pemerintah dan penegak hukum agar tegas


mengeksekusi peraturan yang berlaku" ujar Syamsul yang juga Bakal Calon Wakil
Bupati Sergai dari jalur perseorangan.

Tak Bisa Dibendung

Mabin, warga Desa Pantai Cermin Kanan, salah seorang nelayan tradisional yang
bernaung di bawah kelompok nelayan "Usaha Karya" menilai, merajalelanya pukat-
pukat besar di wilayah tangkap nelayan tradisional khususnya di perairan Pantai
Cermin sampai saat ini tak bisa dibendung.

Dari hari ke hari, pukat-pukat yang merambah ikan di perairan Pantai Cermin terus
bertambah. Bahkan dari daerah lain seperti, Tanjungbalai, Belawan, Asahan
semuanya masuk dan merusak lingkungan laut di tepian yang turut membunuh
benih-benih ikan kecil.

"Cemana la Pak, alat tangkap kita apa adanya. Sedangkan pukat-pukat itu sudah
pakai alat canggih yang bisa tahu daerah mana yang banyak ikannya" ujarnya
dengan nada dan raut wajah seakan putus asa. (ak)

www.analisadaily.com
docs.google.com

Ekspor Tuna Merosot Gara-gara Pukat Harimau


Jum'at, 12 Februari 2010 | 14:15 WIB

TEMPO Interaktif, Cilacap - Pencurian ikan dan penggunaan pukat harimau diduga menjadi penyebab
utama penurunan hasil tangkapan ikan tuna nelayan Cilacap. Akibatnya, ekspor produk laut tersebut ke
Jepang dan sejumlah negara Eropa turun hingga 50 persen.

“Kami semakin kesulitan mendapatkan tangkapan ikan tuna,” kata salah satu pengusaha kapal
penangkap ikan tuna di Cilacap, Atai Hartono, Jumat (12/2).

Atai mengatakan sulitnya mencari ikan tuna membuat pemilik kapal mengalihkan tangkapannya di daerah
sekitar Sumatera. Pengalihan tersebut otomatis membuat semakin sedikitnya tangkapan karena waktu
yang ditempuh semakin panjang.

Ia menambahkan, dalam setahun ia hanya bisa mengekspor sekitar 75 ton ikan tuna. Padahal,
sebelumnya ia bisa mengekspor 150-200 ton per tahun.

Menurut Atai, ikan tuna memang makin sulit diperoleh karena berbagi macam faktor, di antaranya
banyaknya pencurian ikan di wilayah Indonesia yang dilakukan nelayan asing. Selain itu, nelayan pantura
juga banyak yang menggunakan pukat cincin di Samudera Indonesia. “Penggunaan pukat cincin
membuat segala jenis ikan tertangkap,” keluhnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Kapal Cilacap Sanpo mengatakan penurunan tangkapan sudah berlangsung
sejak setahun terakhir. “Ekspor turun hingga 50 persen. Biasanya saya bisa mengekspor tuna hingga 3-4
ton per tahun, sekarang tinggal 1,5 ton per tahun,” katanya.

Padahal, kata Sanpo, di Cilacap setidaknya ada 100 pengusaha kapal dan masing-masing pengusaha
mampu mendapatkan tangkapan ikan dari 1 ton hingga 80 ton per tahun. “Semua pengusaha memang
mengeluhkan turunnya hasil tangkapan tuna ini,” katanya.

• ada beberapa faktor turunnya ekspor tuna di cilacap yakni, ada konspirasi aparat dengan nelayan asing, kapal laut
AL kita belum mampu mengejar kapal asing karena kecanggihannya, kapal pukat harimau hanya dimiliki oleh asing
sehingga daya tangkap maupun jangkauan luas dibandingkan dengan nelayan kita yang masih manual.

saran saya, perlu ada koordinasi kembali dengan AL Pusat maupun Kapolri yang menanggani pengamanan laut kita.
mengingat hal itu indonesia kaya raya dengan hasil perikanan di laut

www.tempointeraktif.com

Kapal Pukat Harimau Berkeliaran di Bombana


Wahyuch
| 21 Januari 2010 | 20:58

38

2
Belum ada nilai.

Ini ada laporan dari seorang teman tentang aktivitas penggunaan Pukat Harimau dalam penangkapan ikan, yang
jelas-jelas dilarang penggunaannya. Moga-moga info ini bisa jadi masukan bagi pemerhati lingkungan.

Kapal Pukat Harimau Berkeliaran di Bombana (Sumber : Mukhtar, A.Pi, M.Si Ka. Satker PSDKP Kendari)
Pukat Hariamau (Trawl) berkeliaran di perairan Selat Tiworo khususnya di Perairan Kabupaten Bombana.
Berdasarkan pemantauan lapangan yang kami lakukan baru-baru ini sekitar + 100 unit kapal berukuran dibawah 5
GT berlabuh di sepanjang pantai di kampung Baru Kecamatan Rumbia Tenggah Kabupaten Bombana Sulawesi
Tenggara, Jumlah ini akan bertambah karena disepanjang pesisir Kasipute banyak nelayan menggunakannya juga.

Pengunaan Pukat Hariamau (Trawl) sudah jelas dilarang dan nyata-nyata tercantum dalam penjelasan pasal 9
Undang-Undang No. 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Undang-Undang No, 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan.
Memang sebelumnya pelarangan penggunaan pukat harimau/trawl oleh Keppres 39 Tahun 1980 Tentang
Penghapusan Jaring Trawl yang penafsiran beberapa aparat berbeda, Di Kendari penanganan kasus pukat
harimau/trawl sudah ada keputusan pengadilan, sedangkan kasus yang sama 7 kapal yang ditangkap oleh
Pengawas Perikanan yang diserahkan ke Polres Bombana tiga tahun yang lalu sampai saat ini belum jelas
pangkalnya. Menurut informasi dari penyidik Polres Bombana bahwa berkas selalu dikembalikan oleh jaksa.

Pihak Satker PSDKP Kendari bersama jajaran pengawas perikanan yang berada di Dinas Kelautan dan Perikanan
Propinsi, dan kabupaten/kota akan melakukan operasi terhadap kapal trawl ini di Kabupaten Bombana, begitu juga
pihak Pangkalan TNI Angkatan Laut Kendari sudah melakukan pemantauan keberadaan kapal trawl ini yang
diungkapkan anggota TNI Angkatan Laut Kendari. Tapi sebelumnya akan melakukan sosialisasi dengan
menyebarkan poster sadar hukum yang berisi alat tangkap terlarang seperti Bom/Handak, Pukat Harimau/Trawl, Bius
dan kompresor kepada masyarakat nelayan.
Sudah menjadi kebiasaan, setelah terjadi di lapangan baru akan diadakan pemantauan, pengawasan, dan
penangkapan terhadap pelanggaran2 yang terjadi di laut. Ibarat kata pepatah, itu lebih baik dilakukan daripada tidak
sama sekali.
wajar, panjang garis pantai kita saja terpanjang nomer dua di dunia, sedang armada pengawasan perikanan belum
sepenuhnya menjangkau sepanjang pantai tersebut. namun itu bukan halangan untuk berpatroli mengamankan SDL
dari ancaman pencurian dan pengrusakan.
Saya hnya berharap mengenai kasus di atas, klo pelakunya nelayan kita berarti kita perlu meningkatkan lagi
pengetahuan mereka akan bahaya pukat harimau. Namun bila pelakunya adalah nelayan asing, dihukum dengan
seberat2nya sbg efek jera atas perbuatannya. tapi bisa ngak ya peradilan kita menghukum mereka?? ^__^
kalau menurut saya itu bukan pukat harimau. itu namanya pukat hela neng. pukat hela biasanya dilakukan oleh
nelayan kecil sebagaimana pasal I ayat 11 uu no 45 2009. jadi kalau pukat harimau itu dia menggunakan dua kapal
dengan menggunakan alat jaring campuran (bukan tali), pemberat beton, dan kayu untuk rumpon dalam artian
seandainya saat kapal tersebut bekerja, kapal akan menyapu rumpon tersebut sekaligus merusak karang dan karang
adalah tempat biota laut tinggal sebagaimana yang disebutkan oleh kepres no 39 tahun 1980.. nach kalau yang
dibawah lima GT itu adalah pukat darat yang dimordenisasi. para pelakunya adalah nelayan kecil. nelayan kecil
adalah yang bekerja menangkap ikan untuk memenuhi kehidupan dirinya sendiri. kasus pukat yang mirip pukat
harimau ini telah di keluarkan kepmen 06/kepmen/2008 tentang pukat hela ini dikalimantan timur. jadi jangan suka
menuduh kalau belum ada penelitian yang konfrehensif. karena menyangkut kelompok nelayan ini sangat rentan.
dalam artian seperti kata freddy numery menteri kelautan saat itu, saya keluarkan PP ini adalah karena belum
adanya instrumen terbaik dalam memecahkan kasus kemiskinan yang dihadapi nelayan kita. bahkan menteri freddy
memuji kebijakan pemda kaltim atas perda inisiatif mereka dalam melihat permasalah lebih mendalam dan strategi
apa yang mesti dilakukan agar kehidupan nelayan disana bisa terus bertahan hidup.
http://polhukam.kompasiana.com

THURSDAY, 10 DECEMBER 2009 05:54

Kapal Pukat Trawl asal Gabion resahkan nelayan

Warta - Citizen Journalism


HAMZAH LUBIS
hamzahlubis@yahoo.com
BELAWAN - Sejumlah alat tangkap pukat trawl, atau pukat harimau berkedok kapal pukat ikan (PI) maupun lamparan
dasar dari sejumlah gudang di Gabion atau Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (PPSB) meresahkan nelayan. Karena,
kehadiran pukat trawl itu mengganggu pencarian nelayan tradisional, padahal dalam Kepres 39 tahun 1980 melarang
penggunaan alat tangkap trawl .

“Kemana lagi kami harus mengadu, jaring kami sebagai andalan mencari ikan justru ditabrak kapal trawl yang banyak
berasal dari Gabion. Padahal kami mau beli jaring baru sudah tak ada duit,” keluh nelayan Anwar (38), tadi sore.

Dikatakan, maraknya aksi penangkapan ikan mengunakan pukat harimau tak hanya meresahkan kalangan nelayan kecil,
namun membunuh kesempatan nelayan kecil untuk mendapatkan ikan sebab kapal-kapal pukat trawl lokal tersebut sudah
berani merambah ke zona tangkap nelayan kecil.

Banyak, katanya, jaring-jaring nelayan baik nelayan dari Belawan maupun nelayan asal Pantai Cermin saat ini resah
mengakibatkan sejumlah jaring rusak bahkan hilang.

Bahkan sebelumnya, jaring gembung milik nelayan kecil asal Pagurawan juga pernah ditabrak KM Maharani Lestari GT
102/PPb asal Gudang Mitra Laut Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (PPSB).

Meski peristiwa jaring gembung ditabrak itu telah dilaporkan ke Pos Kamla Belawan, namun tak ada penyelesaian, nelayan
malah disuruh untuk datang sendiri atau menuntut sendiri ke gudang Mitra Laut.

Ditempat terpisah, Kadin selaku tokoh masyarakat nelayan di Belawan merasa prihatin atas keresahan sejumlah nelayan
kecil yang ada di Belawan maupun daerah lainnya akibat maraknya aksi kapal pukat trawl local asal gabion tersebut.
(dat02/wol-mdn)

www.waspada.co.id

PUKAT PANTAI
PENDAHULUAN
1. Definisi Alat Tangkap Pukat Pantai
Pukat pantai atau beach seine adalah salah satu jenis alat tangkap yang masih tergolong kedalam
jenis alat tangkap pukat tepi. Dalam arti sempit pukat pantai yang dimaksudkan tidak lain adalah
suatu alat tangkap yang bentuknya seperti payang, yaitu berkantong dan bersayap atau kaki yang
dalam operasi penangkapanya yaitu setelah jaring dilingkarkan pada sasaran kemudian dengan tali
panjang (tali hela) ditarik menelusuri dasar perairan dan pada akhir penangkapan hasilnya didaratkan
ke pantai. Pukat pantai juga sering disebut dengan krakat. Di beberapa daerah di jawa juga dikenal
dengan nama “puket”, “krikit”, dan atau “kikis”.
1. Sejarah Alat Tangkap Pukat Pantai
Daerah penyebaran alat tangkap pukat panta terdapat hampir di seluruh daerah perikanan laut
Indonesia, walaupun di tiap daerah punya nama dan ciri tersendiri, namun hal ini pada dasarnya
hanya bertujuan untuk memudahkan pengenalan alat tangkap ini di masing-masing daerah. Misalnya
alat tangkap pukat pantai yang beroperasi di teluk Segara Wedi yang labih dikenal dengan krakat prigi
karena terdapat di perairan prigi kabupaten Trenggalek Jawa Timur. Krakat ini sudah digunakan untuk
menangkap ikan sejak jaman belanda atau sekitar tahun 30-an. Pada masa itu harga bahannya masih
relative mahal, oleh karena itu baru para pegawai pemerintah Hindia Belanda saja yang memiliki.
Sedangkan bahan untuk membuatnya pun masih sederhana, alat ini pada masa itu terbuat dari
benang kapas dicampur dengan getah bakau pada bagian jaringnya, dan tali penarik terbuat dari
penjalin dengan daya awet alat yang hanya dapat mencapai kurang labih selama 2 tahun.
Daerah penangkapan yang bertambah luas dan jauh jaraknya disebabkan
dengan adanya persaingan dengan alat tangkap pukat cincin dan payang yang
beroperasi di perairan yang sama sehingga jumlah ikan menjadi terbatas. Selain itu
derasnya erosi di wilayah pesisir karena kurangnya pelindung menyebabkan
perairan pantai terdekat menjadi dangkal.
Bagian pelampung pada pukat pantai pada masa pemerintahan Hindia Belanda itu masih terbuat dari
kayu dan pemberatnya dari batu dan tanah liat yang dibakar, tatapi sekarang sudah berkembang
menjadi bahan sintetis karena lebih awet dan mudah perawatanya. Jumlah pemilik pukat pantai dan
nelayan buruh yang mengoperasikan juga bertambah banyak dan terus berkembang.
1. Prospektif Alat Tangkap Pukat Pantai
Dalam perkembanganya pukat pantai terus mengalami kemajuan baik dalam
hal distribusinya maupun bentuknya. Walaupun di masing-masing daerah munkin
akan mempunyai nama yangberbeda-beda dan mengalami perubahan sesuai
dengan keinginan penduduk setempat. Penggunaan tenaga kerja yang cukup
banyak sekitar 36 orang merupakan ciri positif dari pukat pantai bila dikaitkan
dengan lapangan kerja dan perluasan kesempatan kerja. Mereka biasanya tidak
dituntut untuk memiliki ketrampilan tertentu kecuali tenaga yang cukup
untukmenarik jarring. Meskipun tergolong dalam alat tangkap tradisional namun
pukat pantai termasuk dalam alat tangkap tradisional penting yang dapat
memberikan hasil tangkap yang cukup baik. Menurut data statistik perikanan tahun
1986 jumlah pukat tapi mencapai 9.740 unit dengan jumlah seluruh alat penangkap
452.845 unit dan dengan jumlah produksi mencapai 75.363 ton. Daerah
penyebaranya hampir terdapat di seluruh daerah perikanan laut Indonesia. Hal
tersebut dapat menunjukkan perkembangan dari alat tangkap pukat pantai yang
cukup baik.
K O N S T R U K S I A L A T T A N G K A P
1. Konstruksi Umum Alat Tangkap Pukat Pantai
Pada prinsipnya krakat atau pukat pantai terdiri dari bagian bagian seperti : kantong, sayap atau kaki
dan tali panjang (slambar, hauling line). Bagian kantong berbentuk kerucut, bisa dibuat dari bahan
waring, katunmaupun bahan sintetis seperti waring karuna, nilon, dan bahan dari plastik. Pada mulut
di kantong kanan-kirinya dihubungkan dengan kaki atau sayap, sedang pada bagian ujung belakang
yang disebut ekor diberi tali yang dapat dengan mudah dibuka dan diikatkan untuk mengeluarkan
hasil tangkapn. Bagian kaki atau sayap dibuat dari bahan benang katun atau bahan sintetis lainnya.
Besar mata bagian kaki bervariasi mulai dari 6,5 cm pada ujung depan dan mengecil pada bagian
pangkalnya. Pada bagian ujung depan kaki diberi atau dihubungkan dengan kayu cengkal (brail or
preader). Pada tiap ujung kaki, yaitu pada ris atas dan bawah diikatkan tali yang telah diikatkan pada
kayu cengkal kemudian disambungkan dengan tali hela (tali slambar, hauling line) yang panjang dan
dapat dibuat menurut kebutuhan. Pada bagian atas mulut dan kaki diikatkan pelampung. Ada tiga
macam pelampung yang sering digunakan yaitu: pelampung raja, pelampung biasa dan pelampung.
Sedangkan pada ris bawah diikatkan dua macam pemberat yaitu dari timah dan pemberat dari rantai
besi yang jarak antara satu dengan yang lainnya saling berjauhan.
1. Detail Konstruksi Alat Tangkap Pukat Pantai
Pukat pantai terdiri dari tiga bagian penting yaitu kantong (bag), badan (shoulder) dan sayap (wings).
Masing-masing bagian masih terdiri atas beberapa sub bagian lagi.
1. Sayap (Wings)
Sayap merupakan perpanjangan dari bahan jaring, berjumlah sepasang terletak pada masing-masing
sisi jarring. Masing-masing sayap terdiri atas:
1. Ajuk-ajuk, yang berada di ujung depan dan biasanya terbuat dari polyethyline
2. Gembungan, yang terdapat di tengah dan biasanya juga terbuat dari polyethyline.
3. Clangap, yang berada di dekat badan dan biasanya juga terbuat dari polyethyline atau bahan
sintetis lainnya.
2. Kantong (Bag)
Kantong berfungsi sebagai tampat ikan hasil tangkapan, berbentuk kerucut
pada ujungnya diikat sebuah tali sehingga ikan-ikan tidak lolos. Biasanya masih
dibantu dengan kebo kaos untuk membantu menampung hasil tangkapan. Kantong
terdiri atas bagian-bagian yang mempunyai ukuran mata yang berbeda-beda.
Kantong terdiri dari dua bagian, pada umumnya bagian depan berukuran mata
sekitar 14 mm, berjumlah sekitar 290 dan panjang sekitar 2,20 m. Bagian belakang
kira kira memiliki ukuran mata 13 mm, dengan jumlah sekitar 770, dan panjang
sekitar 4 m.
3. Badan (Shoulder)
Bagian badan jarring terletak di tengah-tengah antara kantong dan kedua sayap. Berbentuk bulat
panjang berfungsi untuk melingkupi ikan yang sudah terperangkap agar masuk ke kantong. Badan
terdiri atas bagian depan yang mempunyai ukuran mata yang lebih kecil daripada bagian belakang
dan dengan panjang serta jumlah mata yang lebih banyak daripada bagian belakang.
Kedudukan pukat pantai di perairan sangat ditentukan oleh keberadaan pelampung
dan pemberat pukat pantai.
1. Pemberat (Sinker)
Pemasangan pemberat pada umumnya ditempatkan pada bagian bawah alat tangkap. Fungsinya agar
bagian-bagian yang dipasangi pemberat ini cepat tenggelam dan tetap pada posisinya meskipun
mendapat pengaruh dari arus serta membantu membuka mulut jaring kearah bawah.
2. Pelampung (Floats)
Sesuai dengan namanya fungsi pelampung digunakan untuk memberi daya apung atau untuk
mengapungkan dan merentangkan sayap serta membuka mulut jarring ke atas pada alat tangkap
pukat pantai.
Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas pukat pantai juga menggunakan tali temali. Tali tamali
yang terdapat dalam pukat pantai ada tiga jenis, yaitu:
1. Tali Penarik (Warps) dan Tali Goci (Bridles)
Terletak pada dua ujung sayap, berfungsi untuk menarik jaring pukat pantai pada setiap operasi
penangkapan. Tali ini ditarik dari pantai oleh nelayan dengan masing-masing sayap ditarik oleh sekitar
13 nelayan atau tergantung dengan panjang dan besarnya pukat pantai.
2. Tali Ris Atas (Lines)
Berfungsi sebagai tempat untuk melekatnya jaring pada bagian atas dan pelampung. Tali ini terletak
pada kedua sayap
3. Tali Ris Bawah (Ground Rope)
Tali ini berfungsi sebagai tempat melekatnya jaring pada bagian bawah dan pemberat. Tali ini terletak
pada kedua sayap jarring.
3. Karakteristik Alat Tangkap Pukat Pantai
Alat tangkap pukat pantai termasuk jenis pukat yang berukuran besar. Banyak dikenal di daerah
pantai utara Jawa, Madura, Cilacap, Pangandaran, Labuhan , Pelabukan Ratu, Maringge (Sumatra
Selatan). Bentuknya seperti payang dan bersayap. Prinsip pengoperasianya adalah menelusuri dasar
perairan dan pada akhir penangkapan hasilnya didaratkan ke pantai. Dalam pengoperasiannya pukat
pantai yang berukuran bear memerlukan tenaga sampai puluhan orang lebih. Kantong pada pukat
pantai biasanya berbentuk kerucut dan terbuat dari katun maupun bahan sintetis lain. Hasil
tangkapan yang diperoleh dengan alat tangkap pukat pantai biasanya jenis-jenis ikan pantai yang
hidup di dasar dan termasuk juga jenis udang. Dalam pengoperasiannya kapal atau perahu yang
digunakan bervariasi. Sampai sekarang penggunaan alat tangkap pukat pantai ini terus menerus
mengalami perkembangan baik dalam halperubahan model maupun penyebaran atau distribusinya.
4. Bahan dan Spesifikasinya
Seperti yang telah disebutkan pada konstruksi maupun detail konstruksi, pada prinsipnya pukat pantai
terdiri dari bagian-bagian kantong yang berbentuk kerucut yang bisa dibuat dari bahan waring, katun
maupun bahan sintetis lain seperti waring karuna, nilon bahan dari plastic maupun polyethylene (PE).
Bagian kaki atau sayap dibuat dari bahan benang katun atau bahan sintetis lainnya. Pada bagian atas
mulut dan kaki diikatkan pelampung. Pelampung ini kebanyakan terbuat dari bahan sintetis yang
bersifat mudah mengapung atau tidak tenggelam dan biasanya berbentuk silinder. Sedangkan pada
ris bawah diikatkat pemberat yang bisa terbuat dari timah atau dapat pula digunakan rantai besi.
Pada masa dahulu masih digunakan pemberat yang terbuat dari bahan liat maupun batu. Namun
sekarang sudah jarang digunakan karena daya awetnya rendah.
H A S I L T A N G K A P A N
Hasil tangkapan yang diperoleh dengan alat tangkap pukat pantai terutama jenis-jenis ikan dasar atau
jenis ikan demersal dan udang antara lain yaitu; pari (rays), cucut (shark),teri (stolepharus spp), bulu
ayam (setipinna spp), beloso (saurida spp), manyung (arius spp), sembilang (plotosus spp), krepa
(epinephelus spp), kerong-kerong (therapon spp), gerot-gerot (pristipoma spp), biji nangka
(parupeneus spp), kapas-kapas (gerres spp), petek (leiognathus spp), ikan lidah dan sebelah
(psettodidae), dan jenis jenis udang (shrimp).
Sedangkan untuk pembagian hasil tangkapan, hal ini sudah diatur sesuai dengan
undang-undang no 16 tahun 1964 tentang pembagian hasil usaha perikanan
tangkap untuk operasi penangkapan ikan di laut dengan menggunakan perahu
layar, nelayan penggarap minimal mendapat 75% dari hasil usaha bersih.
D A E R A H P E N A N G K A P A N
Daerah penangkapan ikan adalah suatu daerah perairan yang cocok untuk penangkapan ikan dimana
alat tangkap dapat kita operasikan secara maksimum. Syarat-syarat suatu daerah dapat dikatakan
sebagai daerah penangkapan ikan bila :
1. Terdapat ikan yang berlimpah jumlahnya
2. Alat tangkap dapat dioperasikan dengan mudah
3. Secara ekonomis daerah sangat berharga atau kondisi dan posisi daerah perlu
diperhitungkan.
Pada umumnya krakat atau pukat pantai banyak dikenal dan dipergunakan di daerah pantai utara
Jawa, Madura, Cilacap, Pangandaran, Labuhan, Pelabuhan Ratu, Marigge (Sumatra Selatan), dan
banyak pula digunakan di daerah Jawa. Sedangkan distribusi pukat pantai ini meliputi daerah
Labuhan, Teluk Panganten, Jakarta, Cirebon, Brebes, Pemalang, Tegal, Pekalongan, Semarang,
Jepara, Juana, Rembang, Tuban, Bojonegoro, Pasuruan, Probolinggo, Panarukan, Banyuwangi,
Muncar, Sepanjang pantai Madura, Lampung, Prigi, Pangandaran, Teluk Betung, Maringge, Seputih
dan lain-lainnya.
Biasanya daerah penangkapan untuk alat pukat pantai ditentukan berdasarkan tanda-tanda alamiahn
seperti terlihatnya buih-buih di permukaan perairan atau adanya burung yang menyambar-nyambar,
namun kebanyakan nelayan menggunakan cara dengan mencoba menurunkan jaring pada daerah
yang sudah biasa dijadikan daerah penangkapn oleh nelayan pukat pantai di masing-masing daaerah.
Dulu ketika jumlah unit pukat pantai masih terbatas, penggunaan daerah penangkapan tidak pernah
menjadi permasalahan antara pemilik pukat pantai. Namun seiring dengan berkembangnya jumlah
pemilik pukat pantai maka pada masing-masing daerah atau wilayah penangkapan dikenal adanya
sistem pembagian daerah penangkapan pukat pantai dengan membagi daerah penangkapan menjadi
beberapa bagian dan pada tiap bagian berlaku adanya pembagian jadwal operasi.
A L A T B A N T U P E N A N G K A P A N
Selain bagian-bagian dari pukat pantai sendiri, dalam pengoperasiannya pukat pantai masih
menggunakan alat bantu penangkapan diantaranya adalah :
1. Perahu
Perahu yang dipergunakan dalam pengoperasian pukat pantai ini bervariasi. Akan tetapi biasanya
berukuran panjang 5-6 m, lebar 0.6 m dan dalam atau tinggi 0.7 m. Perahu ini ada yang dilengkapi
dengan katir/sema (outriggers) maupun tidak. Ada yang dilengkapi dengan motor dan ada juga yang
tanpa motor (perahu dayung). Untuk perahu dayung biasanya terbuat dari bahan kayu. Kelebihan dari
material kayu selain harganya lebih murah, tehnologinya sederhana, material mudah didapat,
pembentukannya mudah ringan dan perawatanya juga mudah.
2. Pelampung Berbendera
Pelampung berbendera ini berfungsi sebagai tanda posisi kantang pukat pantai di perairan dan
sebagai petunjuk bagi mandor tentang keseimbangan posisi jarring antara kiri dan kanan. Sehingga
dengan melihat bendera, mandor dapat dengan mudah mengetahui kapan posisi penarik harus
bergeser dan seberapa jauhnya jarak pergeseran.
3. Kayu Gardan
Kayu garden ditancapkan dengan kokoh di pantai. Fungsi dari kayu ini adalah sebagai penggulung tali
penarik dan sebagai tempat untuk menambatkan tali penarik. Kayu ini terbuat dari kayu pohon yang
kuat misalnya kayu kopi, kayu waru dan sebagainya.
T E K N I K O P E R A S I A L A T T A N G K A P
P U K A T P A N T A I

Tahap Persiapan
Kira-kira sebanyak 6 orang nelayan naik ke perahu yang ditambat di dekat pantai untuk
mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan bagi operasional penangkapan. Jaring dan tali disusun
sedemikian rupa dengan dibantu para nelayan penarik untuk mempermudah operasi penangkapan
terutama pada waktu penawuran (setting). Urut-urutan susunan alat dalam perahu mulai dari dasar
adalah sebagai berikut : gulungan tali penarik I, sayap I, badan, kantong, sayap II dan teratas adalah
gulungan tali penarik II. Diatur pula letak pelampung pada bagian sisi kanan menghadap kea rah laut
dan pemberat di sebelah kiri menghadap kea rah pantai. Salah satu ujung tali hela (penarik) diikatkan
pada patok kayu di pantai kemudian perahu dikayuh menjauhi pantai.
Tahap Penawuran (Setting)
Perahu dikayuh menjauhi pantai sambil menurunkan tali hela II yang ujungnya telah diikatkan pada
patok di daratan pantai. Apabila syarat-syarat fishing ground telah ditemukan dan jarak sudah
mencapai sekitar 700 m (sepanjang tali hela) dari pantai, perahu mulai bergerak ke kanan sambil
menurunkan jaring. Penurunan jaring diusahakan agar membentuk setengah lingkaran menghadap
garis pantai. Urutan penurunan dari perahu sebelah kiri berturut-turut sayap II, badan dan kantong
serta sayap I, kemudian tali hela diulur sambil mengayuh perahu mendekati pantai dan pada saat
mendekati pantai ujung tali penarik yang lain dilempar ke pantai dan diterima oleh sekelompok
nelayan yang lain. Setelah kedua ujung tali penarik berada di pantai, masing-masing ujung ditarik
oleh sekelompok nelayan yang berjumlah sekitar 13 orang per kelompok. Pada saat itu perahu
kembali kelaut untuk mengambil tali kantong dan mengikuti jaring hingga ke pantai selama penarikan
jaring.
Kecapatan perahu dalam menebarkan jaring dapat dihitung dengan mengetahui jarak yang telah
ditempuh perahu dan lamanya waktu penebaran. Sedangkan kecepatan penawuran dapat diperoleh
dengan menghitung panjang pukat pantai dibagi dengan lama penawuran.
Tahap Penarikan (Hauling)
Ketika ujung tali hela I telah sampai di pantai, penarikan jaribng dimulai. Jarak antara ujung tali
penarik I dan II kurang lebih 500 m, masing-masing ditarik oleh nelayan berjumlah sekitar 13 orang.
Sambil secara bertahap saling mendekat bersamaan dengan mendekatnya jarring ke pantai.
Perpindahan dilakukan kira-kira sebanyak 4 kali dengan perpindahan ke 4 pergeseran dilakukan terus
menerus hingga akhirnya bersatu. Ketika sayap mulai terangkat di bibir pantai, penarikan di komando
oleh seorang mandor untuk mengatur posisi jarring agar ikan tidak banyak yang lepas. Bersamaan
dengan itu perahu dikayuh menuju ujung kantong yang diberi tanda dengan bendera yang terpasang
pada pelampung. Salah satu dari crew penebar mengikatkan kebo kaos pada bagian ujung kantong.
Kebo kantong tersebut dimaksudkan sebagai tempat ikan hasil tangkapan agar jarring tidak rusak
akibat terlalu banyak muatan. Sambil memegang kebo kaos tersebut nelayan berenang mengikuti
jarring sampai ke pinggir pantai. Kecepatan penarikan dapat dihitung dengancara membagi panjang
keseluruhan dengan lamanya penarikan.

Tahap Pengambilan Hasil Tangkap


Sayap dan badan pukat pantai terus ditarik dan bila kedua bagian ini telah berada di daratan pantai,
kantong ditarik dan hasil tangkapan dikeluarkan dari kantong. Selanjutnya ikan yang jenisnya
bermacam-macam tersebut disortir dengan memisahkan dan memasukkanya ke dalam keranjang
tempat yang telah disediakan. Selain itu sebagian nelayan ada yang menaikkan tali penarik dan jating
ke daratan untuk dirawat atau mempersiapkan pengoperasian tahap berikutnya.
HAL-HAL YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PENANGKAPAN
Hal-hal yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya suatu operasi penangkapan diantaranya adalah :
1. Penentuan fishing ground yang tepat
2. Pengaturan posisi pukat pantai yang digunakan
3. Kecepatan penebaran dan penaikkan jarring
4. perawatan, daya awet sertaefektifitas pukat pantai yang digunakan
5. Lamanya waktu pengoperasian
6. Kondisi perahu dan alat bantu lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous.1976.FISHERMAN’S MANUAL.World Fishing. England.
Anonimous.1975.FAO CATALOGUE OF SMAIL SCALE FISHING GEAR.FAO of UN.
Ayodya.1975.FISHING METHODS DIKTAT KULIAH ILMU TEHNIK PENANGKAPAN IKAN.
Bagian Penangkapan. Fakultas Perikanan IPB. Bogor.
Subani dan Barus.1989. ALAT PENANGKAPAN IKAN DAN UDANG LAUT DI INDONESIA. Balai Perikanan
Laut. Jakarta.
http://fiqrin.wordpress.com

Walhi Kaltim Desak Pencabutan Pukat


Harimau
FRIDAY, 02 OCTOBER 2009 17:10 DODDY ROSADI

Ilustrasi : app2.iris.usm.maine.edu

LSM Lingkungan WALHI Kalimantan Timur meminta Pemprov


Kaltim mengeluarkan rekomendasi untuk mencabut
penggunaan pukat harimau atau pukat hela. Direktur Eksekutif
WALHI Kaltim Ical Wardhana mengatakan, penggunaan pukat
harimau di Kaltim sejak 2007 telah merugikan nelayan
tradisional.

Kata dia, tangkapan ikan para nelayan


tradisional menjadi sedikit karena kalah
bersaing dengan kapal yang menggunakan
pukat harimau. Selain itu, penggunaan pukat
harimau juga merusak ekosistem di bawah
laut.
“Pemprov seharusnya merekomendasikan ke Menteri Kelautan untuk mencabut
pukat harimau. Ya, nelayan tradisional merasa dirugikan dan di beberapa
komunitas nelayan yang jadi mitra WALHI Kaltim selalu mengeluhkan hal tersebut,”
kata Ical Wardhana.
Pukat harimau adalah alat tangkap berbentuk kantong yang memiliki pemberat dan
pelampung di mulutnya dan dihela oleh kapal. Alat tangkap ini menyisir dasar laut
dan membawa ikan, udang serta biota laut lain yang terperangkap masuk kantong
jaring.
Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi berencana mencabut izin
penggunaan pukat harimau untuk wilayah Kalimantan Timur. Namun, pencabutan
izin itu baru bisa dilakukan apabila sudah ada rekomendasi dari Pemprov Kalimatan
Timur.
www.greenradio.fm

PERIKANAN: Pukat Harimau Masih


Memunculkan Potensi Konflik
Ditulis Oleh Administrator
Monday, 25 January 2010
Selasa, 26 Januari 2010 | 03:19 WIB

Medan, Kompas - Sedikitnya 51 nelayan di Sumatera Utara tewas sejak tahun 1983 akibat konflik yang dipicu
beroperasinya pukat harimau di perairan Sumut. Sebanyak 15 nelayan juga mengalami cacat seumur hidup.

Ketua Serikat Nelayan Sumut (KSNS) Lahmudin Tampubolon di sela seminar tentang perdagangan internasional dan
kesejahteraan nelayan, Senin (25/1), mengatakan, bentrok di laut akibat pukat harimau sudah berlangsung lebih dari 20
tahun dan terus dilaporkan kepada pemerintah. ”Potensi ini akan terus terjadi jika tidak ditangani,” tutur Tampubolon.

Tampubolon mengatakan, korban tidak hanya berasal dari nelayan tradisional, tetapi juga dari pihak pemilik pukat
harimau. Di perairan Pantai Labu, misalnya, sedikitnya 16 orang menjadi korban.

Beberapa kasus lain adalah kasus di Gambus Laut, Batubara, pada 30 Juni 2004. Sebanyak sembilan orang tewas akibat
konflik pukat harimau. Tahun 2007 ada lagi satu korban tewas dan cacat seumur hidup di Teluk Mengkudu, Serdang
Bedagai (Sergai). Kasus terakhir terjadi tahun 2008 di Sialang Buah, Sergai, tetapi tak ada korban jiwa dalam hal ini.

Konflik terjadi karena nelayan tradisional dirugikan dengan beroperasinya pukat itu. Selain jaring nelayan tradisional
banyak yang koyak, pukat harimau juga menghancurkan terumbu karang. Kapal pukat harimau juga banyak bertabrakan
dengan perahu nelayan tradisional.

Saat ini diperkirakan di setiap kabupaten pesisir ditemukan sekitar 300 unit pukat harimau. Sementara di Belawan
diperkirakan ada sekitar 500 unit pukat harimau yang beroperasi.

Konflik nelayan yang muncul di Sumut saat ini adalah konflik nelayan dengan penegak hukum terkait pengambilan kayu
bakau di Kabupaten Langkat. Sebanyak 12 nelayan kini masih ditahan Polres Langkat karena menebang bakau di
kawasan Desa Pasarawa dan Desa Securai Selatan, Kecamatan Gebang, Langkat, yang menurut status kawasannya adalah
hutan produksi terbatas/tetap. Awalnya polisi menahan 14 nelayan, tetapi akibat diprotes warga, dua orang dilepaskan
karena masih di bawah umur.

Tahjudin Hasibuan dari Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia mengatakan, semestinya petugas memberikan pelayanan
hukum yang sama pada semua warga negara. Sedikitnya tiga perusahaan besar sejak tahun 2007 membabat ribuan hutan
bakau di delapan kecamatan di kawasan pesisir Kabupaten Langkat dan menggantinya dengan tanaman sawit.

Menurut Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Riza Damanik, konflik-konflik mendasar
yang dialami nelayan sudah berlangsung puluhan tahun dari konflik alat tangkap, konversi lahan, hingga pencemaran
laut. Kementerian Kelautan dan Perikanan lebih perlu memperbaiki situasi saat ini dengan menyejahterakan nelayan
daripada menargetkan pada 2015 menjadi produsen ikan nomor satu di dunia. (WSI)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/26/0319053/.pukat.harimau.masih.memunculkan.potensi.konflik

ALAT TANGKAP TRAWL


A.PENDAHULUAN
1.Definisi Alat Tangkap
Kata “ trawl “ berasal dari bahasa prancis “ troler “ dari kata “ trailing “
adalah dalam bahasa inggris, mempunyai arti yang bersamaan, dapat
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata “tarik “ ataupun “mengelilingi
seraya menarik “. Ada yang menterjemahkan “trawl” dengan “jaring tarik” , tapi
karena hampir semua jarring dalam operasinya mengalami
perlakuan tarik ataupunditarik , maka selama belum ada ketentuan resmi mengenai
peristilahan dari yang berwenang maka digunakan kata” trawl” saja.
Dari kata “ trawl” lahir kata “trawling” yang berarti kerja melakukan operasi penangkapan ikan
dengan trawl, dan kata “trawler” yang berarti kapal yang melakukan trawling. Jadi yang dimaksud
dengan jarring trawl ( trawl net ) disini adalah suatu jaring kantong yang ditarik di belakang kapal
( baca : kapal dalam keadaan berjalan ) menelusuri permukaan dasar perairan untuk menangkap
ikan, udang dan jenis demersal lainnya. Jarring ini juga ada yang menyangkut sebagai “jaring tarik
dasar”.
Stern trawl adalah otter trawl yang cara operasionalnya ( penurunan dan pengangkatan ) jaring
dilakukan dari bagian belakang ( buritan ) kapal atau kurang lebih demikian. Penangkapan dengan
system stern trawl dapat menggunakan baik satu jarring atau lebih.
2. Sejarah Alat Tangkap
Jaring trawl yang selanjutnya disingkat dengan “trawl” telah mengalami perkembangan pesat di
Indonesia sejak awal pelita I. Trawl sebenarnya sudah lama dikenal di Indonesia sejak sebelum
Perang Dunia II walaupun masih dalam bentuk ( tingkat ) percobaan. Percobaan-percobaan tersebut
sempat terhenti akibat pecah Perang Dunia II dan baru dilanjutkan sesudah tahun 50-an ( periode
setelah proklamasi kemerdekaan ). Penggunaan jaring trawl dalam tingkat percobaan ini semula
dipelopori oleh Yayasan Perikanan Laut, suatu unit pelaksana kerja dibawah naungan Jawatan
Perikanan Pusat waktu itu. Percobaan ini semula dilakukan oleh YPL Makassar (1952), kemudian
dilanjutkan oleh YPL Surabaya.
Menurut sejarahnya asal mula trawl adalah dari laut tengah dan pada abad
ke 16 dimasukkan ke Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, dan negara Eropa lainnya.
Bentuk trawl waktu itu bukanlah seperti bentuk trawl yang dipakai sekarang yang
mana sesuai dengan perkembangannya telah banyak mengalami perubahan-
perubahan, tapi semacam trawl yang dalam bahasa Belanda disebut schrol net.
3. Prospektif Alat Tangkap
Perkembangan teknologi menyebabkan kemajuan- kemajuan pada main gear, auxillary gear dan
equipment lainny. Pendeteksian letak jaring dalam air sehubungan depth swimming layer pada ikan,
horizontal opening dan vertical opening dari mulut jaring, estimate catch yang berada pada cod end
sehubungan dengan pertambahan beban tarik pada winch, sudut tali kekang pada otter board
sehubungan dengan attack angel, perbandingan panjang dan lebar dari otter board, dan lain-lain
perlengkapan.
Demikian pula fishing ability dari beberapa trawler yang beroperasi di perbagai perairan di tanah air,
double ring shrimp trawler yang beroperasi di perairan kalimantan, irian jaya dan lain-lain sebagainya.
Perhitungan recources sehubungan dengan fishing intensity yang akan menyangkut perhitungan-
perhitungan yang rumit, konon kabarnya sudah mulai dipikirkan. Semakin banyak segi pandangan,
diharapkan perikanan trawl akan sampai pada sesuatu benntukl yang diharapkan.

B . K O N S T R U K S I A L A T T A N G K A P
1. Konstruksi Umum Gambar 1
2. Detail Konstruksi Gambar 2
3. Gambar Teknis Gambar 3
4. Bahan dan Spesifikasi Gambar 4
5. Karakteristik
berdasarkan letak penarikan jaring yang dilakukan di kapal kita mengenal
adanya stern trawl, dimana jaring ditarik dari buritan ( dalam segi operasionalnya ).
Dimana banyak kapal trawl yang menggunakan cara ini, adapun karakteristik dari
stern trawl ini antara lain:
Stern trawl tidak seberapa dipengaruhi oleh angin dan gelombang dalam
pelepasan jaring, tidak memerlukan memutar letak kapal
Warp berada lurus pada garis haluan buritan sehingga tenaga trawl winch
dapat menghasilkan daya guna maksimal sehingga pekerjaan melepas/
menarik dari jaring memerlukan waktu yang lebih sedikit, yang berarti waktu
untuk jaring berada dalam air ( operasi ) lebih banyak
Trawl winch pada stern trawl terpelihara dari pengaruh angin dan gelombang,
dengan demikian dalam cuaca buruk sekalipun operasi masih dapat
dilakukan dengan mudah
Pada stern trawl akibat dari screw current jaring akan segera hanyu, demikian
pula otter boat segera setelah dilepas akan terus membuka
Karena letak akan searah dengan garis haluan- buritan, maka di daerah
fishing ground yang sempit sekalipun operasi masih mungkin dilakukan,
dengan perkataan lain posisi jaring sehubungan dengan gerakan kapal lebih
mudah diduga
Pada stern trawl, pada waktu hauling ikan-ikan yang berada pada cod end
tidak menjadikan beban bagi seluruh jaring, karena cod end tersendiri ditarik
melalui slip way, dengan demikian jaring dapat terpelihara
C. HASIL TANGKAPAN
Yang menjadi tujuan penangkapan pada bottom trawl adalah ikan-kan dasar ( bottom fish )
ataupun demersal fish. Termasuk juga jenis-jenis udang ( shrimp trawl, double ring shrimp trawl ) dan
juga jenis-jenis kerang. Dikatakan untuk periran laut jawa, komposisi catch antara lain terdiri dari
jenis ikan patek, kuniran, pe, manyung, utik, ngangas, bawal, tigawaja, gulamah, kerong-kerong,
patik, sumbal, layur, remang, kembung, cumi,kepiting, rajungan, cucut dan lain sebagainya.
Catch yang dominan untuk sesuatu fish ground akan mempengaruhi skala usaha, yang
kelanjutannya akan juga menetukan besar kapal dan gear yang akan dioperasikan.

D . D A E R A H P E N A N G K A P A N
Didalam alat tangkap trawl yang memiliki syarat-syarat fishing ground, antara lain sebagai berikut:
Dasar fishing ground terdiri dari pasir, Lumpur ataupun campuran pasir dan
Lumpur.
Kecepatan arus pada mid water tidak besar ( dibawah 3 knot ) juga kecepatan
arus pasang tidak seberapa besar
Kondisicuaca,laut, ( arus, topan, gelombang, dan lain-lain ) memungkinkan
keamanan operasi
Perubahan milieu oceanografi terhadap mahluk dasar laut relatif kecil dengan
perkataan lain kontinuitas recources dijamin untuk diusahakan terus-
menerus
Perairan mempunyai daya prokdutifitas yang besar serta recources yang
melimpah
E . A L A T B A N T U P E N A N G K A P A N
Pada umumnya kapal-kapal trawl ini digerakkan oleh diesel ataupun steam.
Kapal dilengkapi dengan trawl winch, sebagai tenaga penggerak ada yang
menggunakan steam engine ( 45-75 HP ) bagi stream trawl dan ada pula
yang memakai motor dari 60-90 HP bagi diesel trawl. Winch ini dihubungkan
dengan warp, dan untuk mengontrol panjang warp dipasang brake.
Besar jaring yang dipakai berbeda-beda, dan untuk menyatakan besar jaring dipakai penunjuk
“ panjang dari head rope “ yang biasanya dengan satuan feet atau meter.
F. TEKNIK OPERASIONAL ( SHOOTING & HAULING )
(1) kecepatan/lama waktu menarik jaring
adalah ideal jika jaring dapat ditarik dengan kecepatan yang besar,
tapi hal ini sukar untuk mencapainya, karena kita dihadapkan pada beberapa
hal, antara lain keadaan terbukanya mulut jaring, apakah jaring berada di air
sesuai dengan yang dimaksudkan ( bentuk terbukanya ), kekuatan kapal
untuk menarik ( HP ), ketahanan air terhadap tahanan Air, resistance yang
makin membesar sehubungan dengan catch yang makin bertambah, dan lain
sebagainya. Faktor-faktor ini berhubungan antara satu dengan yang lainnya
dan masing-masing menghendaki syarat tersendiri.
Pada umumnya jaring ditarik dengan kecepatan 3-4 knot. Kecepatan
inipun berhubungan pula dengan swemming speed dari ikan, keadaa dasar
laut, arus, angin, gelombang dan lain sebagainya, yang setelah
mempertimbangkan factor-faktor ini, kecepatan tarik ditentukan .
Lama waktu penarikan di dasarkan kepada pengalaman-pengalaman dan
factor yang perlu diperhatikan adalah banyak sedikitnya ikan yang diduga
akan tertangkap., pekerjaan di dek, jam kerja crew, dan lain sebagainya.
Pada umumnya berkisar sekitar 3-4 jam, dan kadang kala hanya memerlukan
waktu 1-2 jam.
(2) panjang warp
factor yang perlu diperhatikan adalah depth,sifat dasar perairan
( pasir, Lumpur), kecepatan tarik. Biasanya panjang warp sekitar 3-4 kali
depth. Pada fishing ground yang depthnya sekitar 9M ( depth minimum ).
Panjang warp sekitar 6-7 kali depth. Jika dasar laut adalah Lumpur,
dikuatirkan jaring akan mengeruk lumpu, maka ada baiknya jika warp
diperpendek, sebaliknya bagi dasar laut yang terdiri dari pasir keras
( kerikil ), adalah baik jika warp diperpanjang.
Pengalaman menunjukkan bahwa pada depth yang sama dari sesuatu Fishing ground adalah
lebih baik jika kita menggunakan warp yang agak panjang, daripada menggunakan warp yang terlalu
pendek. Hal ini dapat dipikirkan sebagai berikut.bentuk warp pada saat penarikan tidaklah akan lurus,
tetapi merupakan suatu garis caternian. Pada setiap titik –titik pada warp akan bekerja gaya- gaya
berat pada warp itu sendiri, gaya resistance dari air, gaya tarik dari kapal/ winch, gaya ke samping
dari otter boat dan gaya-gaya lainnya. Resultan dari seluruh gaya yang complicataed ini ditularkan ke
jaring ( head rope and ground rope ), dan dari sini gaya-gaya ini mengenai seluruh tubuh jaring. Pada
head rope bekerja gaya resistance dari bottom yang berubah-ubah, gaya berat dari catch yang
berubah-ubah semakin membesar, dan gaya lain sebagainya.
Gaya tarik kapal bergerak pada warp, beban kerja yang diterima kapal kadangkala
menyebabkan gerak kapal yang tidak stabil, demikian pula kapal sendiri terkena oleh gaya-gaya luar (
arus, angin, gelombang )
Kita mengharapkan agar mulut jaring terbuka maksimal, bergerak horizontal pada dasar
ataupun pada suatu depth tertentu. Gaya tarik yang berubah-ubah, resistance yang berubah-ubah
dan lain sebagainya, menyebabkan jaring naik turun ataupun bergerak ke kanan dan kekiri. Rentan
yang diakibatkannya haruslah selalu berimbang. Warp terlalu pendek, pada kecepatan lebih besar dari
batas tertentu akan menyebabkan jaring bergerak naik ke atas ( tidak mencapai dasar ), warp terlalu
panjang dengan kecepatan dibawah batas tertentu akan menyebabkan jaring mengeruk lumpur. Daya
tarik kapal ( HP dari winch) diketahui terbatas, oleh sebab itulah diperoleh suatu range dari nilai
beban yan g optimal. Apa yang terjadi pada saat operasi penarikan, pada hakikatnya adalah
merupakan sesuatu keseimbangan dari gaya-gaya yang complicated jika dihitung satu demi satu.

G. HAL YANG MEMPENGARUHI KEGAGALAN TANGKAPAN


Pada saat operasi, dapat terjadi hal-hal yang dapat menggagalkan operasi antara
lain:
Warp terlalu panjang atau speed terlalu lambat atau juga hal lain maka jaring
akan mengeruk Lumpur
Jaring tersangkut pada karang / bangkai kapal
Jaring atau tali temali tergulung pada screw
Warp putus
Otterboat tidak bekerja dengan baik, misalnya terbenam pada lmpur pada
waktu permulaan penarikan dilakukan
Hilang keseimbangan, misalnya otterboat yang sepihak bergerak ke arah
pihak yang lainnya lalu tergulung ke jaring
Ubur-ubur, kerang-kerangan dan lain-lain penuh masuk ke dalam jaring,
hingga cod end tak mungkin diisi ikan lagi.
Dan lain sebagainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Ayodhyoa,A.U.1983.Metode Penangkapan Ikan. Cetakan pertama. Faperik. IPB.
Bogor
Subani,W. 1978. Alat dan Cara Penangkapan Ikan di Indonesia,jilid I. LPPL. Jakarta
The Gourack Ropework,Co.,ltd.1961. deep sea trawling and wing trawling
Ward,george,ed.1964. Stern trawling

Bila Pukat Harimau Dilegalkan Kembali


Bila Pukat Harimau Dilegalkan Kembali

Pukat harimau akan dilegalkan kembali secara terbatas di tahun 2004 ini (Arief Satria ”Pukat Harimau

Dilegalkan Kembali”, SH 23 Juni 2004). Yang dimaksud dengan ”terbatas” adalah harus ada izin dari

Departemen Kelautan dan Perikanan, dan Pemda setempat serta memenuhi empat syarat. Keempat

syarat itu: ìPertama, trawl yang dioperasikan hanya boleh dimiliki oleh nelayan tradisional, bukan

nelayan modern. Kedua, hanya dioperasikan di daerah-daerah perbatasan. Ketiga, pengoperasiannya

hanya pada zona empat mil dari pantai. Keempat, harus memperhatikan aspek konservasi. Artinya,
harus ada closed season di mana trawl tidak boleh dioperasikan pada waktu ikan-ikan sedang

bertelur.”

Penulis akan menganalisis keempat syarat DKP itu dalam dua tulisan berturut yang terbit hari ini dan

besok, Sabtu (17/7). Syarat pertama bahwa hanya nelayan tradisional yang dibolehkan menggunakan

trawl, sedangkan nelayan modern tidak, bisa menimbulkan kesulitan teknis dalam mengalokasikan

mana yang ”tradisional” dan mana yang ”modern”. Sistem statistik perikanan Indonesia yang pertama

kali dikembangkan oleh Dr. Tadashi Yamamoto, dalam buku pedoman ketentuan kerja dan terus

dipakai hingga kini, tidak secara eksplisit mendefinisikan apa itu ”nelayan tradisional” dan apa itu

”nelayan modern”.

Klasifikasi usaha perikanan di sistem statistik perikanan kita mengacu kepada konsep rumah tangga

atau perusahaan (RTP) perikanan sebagai sebuah unit ekonomi dan mengacu kepada besarnya usaha

yang dicirikan oleh kepemilikan dan jenis ukuran kapal yang dipakai. Sebuah RTP disebut sebagai: (1)

”usaha skala kecil” jika RTP perikanan tersebut tidak memiliki perahu, memiliki perahu tanpa motor,

dan memiliki perahu dengan motor tempel; (2) ”usaha skala menengah” jika memiliki kapal motor

dengan ukuran kapal kurang dari 5 GT hingga 30 GT; dan (3) ”usaha skala besar” jika RTP tersebut

memiliki kapal motor dengan ukuran kapal dari 30 GT hingga 200 GT ke atas.

Nah, dimanakah garis demarkasi ”tradisional-modern” akan diletakkan oleh DKP? Secara teknis, tidak

mungkin kategori ”tradisional” untuk pengoperasian pukat harimau di sini diaplikasikan untuk kategori

nelayan pemilik usaha skala kecil karena mereka tidak memiliki perahu/kapal dan andaikata pun

memiliki hanya berupa perahu dengan motor tempel yang tidak cukup kuat untuk menarik jaring

pukat harimau. Padahal justru, RTP perikanan laut kategori skala kecil inilah yang paling banyak

jumlahnya di Indonesia.

Kuat dan Konsisten

Jika argumennya kini adaah ”memberdayakan” nelayan skala kecil untuk memiliki kapal-kapal ikan

yang lebih besar ukurannya dan lebih kuat kemampuannya dari yang mereka miliki sekarang, maka

pertanyaannya kini dari segi ekonomi, adakah ada dana yang kontinyu untuk menopang

pemberdayaan capital cost ini? Dari segi ekologis, sudahkah dipastikan bahwa sumber daya stok ikan

yang bersangkutan mampu dieksploitasi oleh tingkat pemberdayaan usaha penangkapan ikan (fishing

effort) yang direncanakan? Adakah analisis ilmiah yang bisa mendukung ini?

Bila ternyata stok sumber daya yang ditargetkan tidak dapat mendukung besarnya effort yang

diturunkan, maka yang terjadi adalah lebihnya kapasitas usaha perikanan (fishing overcapacity) yang

kemudian berimplikasi kepada kondisi tangkap lebih (overfishing) dan tentunya memiliki dampak yang
tidak sedikit dan bebannya akan ditanggung tidak hanya oleh generasi kini, tapi juga oleh generasi

mendatang.

Syarat yang kedua bahwa pukat harimau hanya akan dioperasikan di daerah-daerah perbatasan juga

tidak jelas batasannya. Apakah ini perbatasan antar dua propinsi, antar dua kabupaten, ataukah

perbatasan antar dua negara. Perbatasan mana pun yang dikehendaki butuh instrumen monitoring,

controlling, and surveillance (MCS) yang jelas, kuat dan konsisten.

Ini tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia yang handal dan jujur, dukungan analisis ilmiah

stok sumberdaya yang bisa dipakai sebagai acuan instrumen MCS, peralatan yang memadai dan

rendah biaya perawatan, tapi juga dana operasional yang tidak sedikit. Adakah dana tangible yang

cukup tersedia untuk ini?

Penulis menyebut tangible atau nyata ada agar kita yakin bahwa MCS ini pasti bisa jalan. Janganlah

kita hanya mengharapkan atau mengandalkan dana yang sifatnya masih ”potensial” yang belum

nyata kelanggengannya. Dalam kaitannya dengan semangat otoritas daerah, sanggupkah pihak

pemerintah daerah yang akan melaksanakan pelegalan pukat harimau secara terbatas ini menjamin

bahwa MCS di wilayah mereka bisa dilakukan secara efisien, konsisten dan bertanggung jawab?

Habitat Udang Alami

Syarat ketiga adalah bahwa pengoperasian trawl ini hanya untuk wilayah empat mil laut dari garis

pantai juga dilematis, baik dari segi ekologis maupun sosial. Alasan utama mengapa pukat harimau

beroperasi di wilayah perairan dekat pantai yang biasanya sekitar empat mil laut dari garis pantai,

karena di sinilah letaknya habitat udang alami (wild shrimps, ini dibedakan dengan udang hasil

budidaya tambak, farmed shrimps), target utama tangkapan trawl. Udang alami di perairan Indonesia,

biasanya dari jenis udang windu (Penaeus monodon, dan P. semisulcatus) dan udang putih (Penaeus

merguensis, dan P. indicus) hidup di habitat dasar laut (demersal) dekat dengan wilayah pantai.

Terlebih-lebih lagi kalau wilayah pantai tersebut banyak hutan bakaunya.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa udang, sebagaimana juga ikan dan hewan-hewan lainnya, tidak ”hidup

sendiri” dan ”terisolir” satu sama lainnya. Dengan kata lain, secara ekologis, semua komponen hayati

(biotik) dan non-hayati (abiotik) di laut berinteraksi satu dengan lainnya sebagai bagian dari sebuah

kesatuan ekosistem laut yang utuh dan ini merupakan hukum alam. Bila satu bagian komponen

ekosistem terkena dampak tertentu, maka akan mempengaruhi kesetimbangan alami dari ekosistem

yang bersangkutan.
Banyak penelitian yang membuktikan bahwa peningkatan upaya penangkapan ikan (fishing effort)

yang sangat intensif di tingkat top predators dalam jangka waktu tertentu bisa menghasilkan

keuntungan ekonomi, namun akan tiba saatnya dimana kegiatan penangkapan ikan tersebut menjadi

tidak memungkinkan karena jumlah hewan-hewan atau ikan-ikan top predators sudah sangat menurun

drastis dan tidak menguntungkan lagi secara ekonomis untuk terus mempertahankan tingkat fishing

effort yang bersangkutan.

Pada akhirnya target fishing effort pun beralih ke ikan-ikan di trophic level di bawahnya, dan begitu

seterusnya, skenario eksploitasi berulang, hingga ke tingkat trophic level yang paling di bawah

letaknya. Fenomena ini disebut sebagai ‘fishing down the marine food web’ (FDMFW) (Pauly et al.

1998) dan ditinjau dari kacamata ekologi laut dan konservasi laut, merupakan sebuah fenomena

tragedi perikanan laut yang terus berulang di mana-mana. Tulisan ini merupakan bagian akhir dari dua

tulisan yang telah diturunkan SH, Jumat (16/7) kemarin.

Akibat dari interaksi-interaksi ekologis sebagaimana disebutkan di atas, maka berkelanjutannya dan

meningkatnya fishing effort di tingkat trophic level bawah, macam intensifnya penangkapan udang

alami setelah FDMFW berlangsung, tidak akan memberikan kesempatan bagi ikan-ikan atau hewan-

hewan lainnya di tingkat trophic level di atasnya untuk bisa pulih. Hal ini disebabkan karena hewan-

hewan di tingkat trophic level bawah merupakan mangsa bagi hewan-hewan di tingkat trophic level di

atasnya, dan seterusnya keterkaitan ekologis berlangsung hingga ke tingkat trophic level yang paling

atas (top predators).

Bila para manajer perikanan laut kita tidak menyadari akan pentingnya keseimbangan dan keterkaitan

ekologis di ekosistem laut kita, maka bukan mustahil, kebijaksanaan perikanan laut yang dicanangkan

justru akan mendorong timbulnya dan terus dipertahankannya fenomena FDMFW yang selanjutnya

akan mengancam keanekaragaman hayati sumber daya kelautan kita.

Adapun syarat terakhir atau keempat yang diungkapkan di artikel tersebut adalah bahwa ‘penggunaan

pukat harimau secara terbatas ini harus memperhatikan aspek konservasi. Artinya, harus ada ’closed

season’ di mana trawl tidak boleh dioperasikan pada waktu ikan-ikan sedang bertelur’. Sungguh ini

merupakan syarat yang bersifat paradoks, dan berikut penulis berikan tiga alasan mengapa ini

paradoks.

Kerusakan di Dasar Laut

Yang pertama, pada umumnya pukat harimau yang dipakai untuk menangkap udang adalah jenis alat

tangkap pukat harimau dasar atau bottom trawling (karena udang merupakan hewan yang hidup di
dasar laut) yang mana didalam pengoperasiannya memiliki sifat merusak terhadap dasar perairan

yang dikeruknya. Hal ini disebabkan ada kontak fisik langsung antara substrat dasar laut yang dihuni

oleh berbagai biota dengan: papan otter yang memiliki berat puluhan hingga ribuan kilogram; dan tali

dasar jaring pukat yang dilengkapi oleh roda-roda besi (bobbins) yang memiliki berat puluhan hingga

ratusan kilogram dan berfungsi untuk ”menggelindingkan” jaring pukat harimau di dasar laut pada

saat ditarik oleh kapal.

Watling dan Norse (1998) dalam studinya yang menarik perhatian kalangan ilmuwan dan industri

kelautan dan perikanan di akhir tahun 1990-an, menganalogikan kerusakan yang disebabkan oleh

pukat harimau dasar dengan kerusakan yang disebabkan oleh penebangan hutan secara total (forest

clearcutting). Lain halnya dengan hutan yang kerusakannya bisa langsung dilihat dengan mata, maka

kerusakan yang disebabkan oleh pukat harimau ”tersembunyi” di dasar laut, sehingga sering

terlewatkan dan tidak disadari hingga akhirnya semuanya terlambat.

Rusaknya struktur habitat dasar laut ini meliputi kerusakan terhadap struktur hayati (misalnya struktur

komunitas hewan sepon, karang lunak, dan padang lamun) maupun struktur non-hayati (misalnya

karang bebatuan, pasir dan lumpur).

Yang kedua, selain dampak kerusakan fisik yang ditimbulkan oleh pukat harimau, sifat pukat harimau

terhadap target tangkapan juga tergolong non-selektif. Artinya, walaupun yang ingin ditangkap udang,

tapi jenis-jenis hewan laut lainpun (baik itu ikan maupun mamalia laut) yang tidak dikehendaki dan

merupakan hasil tangkapan sampingan (by-catch) akan tertangkap juga.

Biasanya karena pertimbangan faktor ekonomis (ketersediaan ruang di palka kapal, penghematan

konsumsi bahan bakar, dsb.), sebagian besar by-catch dari pukat harimau dibuang kembali ke laut

(discard). Penelitian tentang by-catch dan discard ini sulit untuk dilakukan karena biasanya armada

trawl tidak akan mau melaporkan secara jujur jumlah by-catch dan discard mereka.

Namun menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh UNEP), secara global, rasio rata-rata antara udang

dan hewan non-target pada penangkapan dengan trawl biasanya berkisar antara 5:1 untuk perairan

daerah beriklim sedang (temperate zone) dan 10:1 atau lebih untuk perairan daerah tropis. Artinya

untuk setiap satu kilogram udang alami yang ditangkap, ada sekitar 5 hingga 10 kilogram atau lebih

by-catch yang tertangkap dan biasanya dibuang kembali ke laut sebagai discards.

Protein Laut

Bandingkan besarnya pemborosan sumber daya protein laut dari discard ini dengan data FAO yang

menyatakan konsumsi ikan rata-rata rakyat Indonesia di tahun 1998 hanya 16,3 kg/kapita/tahun).
Dampak fisik yang merusak struktur habitat dasar laut dan dampak by-catch dan discards terhadap

hewan non-target maupun aspek pemborosan protein laut ini bisa kita simpulkan sebagai dampak

kolateral (collateral impacts) dari pengoperasian pukat harimau. Dengan demikian pukat harimau

harus dioperasikan dengan memperhatikan aspek konservasi terdengar sangat paradoksial karena

adanya dampak kolateral ini.

Yang ketiga, perairan Indonesia dianugerahi dengan jenis-jenis species ikan laut yang terkaya di dunia,

dengan jumlah species ikan laut yang sudah tercatat sekitar 3.206 dan merupakan kurang lebih

sepertiga dari seluruh species ikan di dunia (Daws dan Fujita 1999). Di lain pihak, dari lebih 3.000

species ikan laut ini, hanya 44 kelompok jenis ikan demersal dan pelagis yang diidentifikasi sebagai

kelompok ikan ekonomis penting menurut sistem statistik perikanan kita (Dwiponggo 1987).

Mengacu kepada syarat keempat yang diajukan DKP bahwa ”penggunaan pukat harimau secara

terbatas ini harus ada closed season di mana trawl tidak boleh dioperasikan pada waktu ikan-ikan

sedang bertelur”, maka tantangannya sekarang apakah kita sudah mampu mengetahui karakteristik

siklus hidup (termasuk pengetahuan tentang kapan saja musim bertelurnya) ikan-ikan dari yang 44

kelompok ekonomis penting ini?

Oleh Eny Anggraini Buchary adalah peneliti bidang manajemen perikanan laut dan ekologi laut di

Fisheries Centre, The University of British Columbia, Vancouver, Canada; dan sedang menyelesaikan

program S3 di universitas tersebut. Copyright © Sinar Harapan Sabtu, 17 Juni 2008.


http://mukhtar-api.blogspot.com

RIBUAN PUKAT HARIMAU BEROPERASI DI SUMUT


Jum, Jan 15, 2010

Daerah
Medan ( Berita ) : Alat tangkap ikan sejenis pukat harimau (trawl) yang masih beroperasi di perairan Sumatera Utara
(Sumut) dewasa ini diperkirakan mencapai ribuan jumlahnya dan kegiatan ini sangat meresahkan nelayan
tradisional di provinsi itu.
” Alat tangkap itu tidak hanya merugikan nelayan, tetapi juga dapat merusak sumber hayati dan lingkungan hidup,”
kata Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sumut, Ihya Ulumuddin di Medan, Kamis [14/01],
ketika ditanyakan mengenai keberadaan alat tangkap tersebut.
Untuk itu, menurut dia, jaring pukat harimau yang masih terus digunakan nelayan di Sumut harus ditertibkan, dan bila
perlu nelayan yang masih membandel diberikan sanksi hukum yang tegas sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Pelarangan nelayan menggunakan pukat harimau itu, berdasarkan Keppres Nomor 38 Tahun 1980 dan UU Nomor
31 Tahun 2004, tentang Sumber Hayati Laut.
Dalam ketentuan UU Nomor 31 tahun 2004 itu, nelayan yang terbukti dan kedapatan mengggunakan pukat harimau
tesebut dapat diganjar hukuman lima tahun penjara dan denda sebesar Rp2 miliar.
“Hukuman yang cukup berat diberikan terhadap nelayan yang melanggar ketentuan itu, tujuannya agar dapat
membuat efek jera, sehingga tidak mengulangi lagi perbuatan salah tersebut,” kata Ulumuddin.
Selanjutnya ia menjelaskan, kegiatan pukat harimau di Sumut selama ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau
terselubung dan tidak diketahui petugas keamanan di laut.Operasi kapal ikan menggunakan jaring pukat harimau
itu, biasanya di tengah laut, seperti yang terdapat di perairan Asahan dan Tanjung Balai. Bahkan operasi pukat
harimau itu mereka lakukan di pagi hari, saat petugas keamanan sedang lengah atau pulang ke posko. ”Kapal
ikan yang menggunakan pukat harimau itu, cukup cerdik dan nelayannya beroperasi secara berpindah-pindah agar
tidak diketahui petugas,” ujarnya.
Ditanya mengenai kapal pukat harimau yang masih beroperasi di perairan Sumut, Ulumuddin mengatakan, tidak
hanya di perairan Asahan, Tanjung Balai, tetapi juga di perairan Langkat, Tapanuli Tengah, Nias dan daerah
lainnya.
“Kapal nelayan yang menggunakan alat tangkap pukat harimau itu cukup banyak memperoleh hasil tangkapan,
seterusnya ikan tersebut di ekspor ke luar negeri dan sebahagian lagi dijual di dalam negeri,” katanya. ( ant )
Comments are closed.
http://beritasore.com

Pukat Harimau Sumut Beroperasi di Aceh Tamiang


20 JA NU AR Y 2010

KUALA SIMPANG - Sejak seminggu terakhir belasan kapal pukat harimau asal Sumatera Utara
(Sumut) menangkap ikan di perairan Aceh Tamiang. Keberadaan mereka meresahkan nelayan
kecil karena dapat menurunkan pendapatan. Ditambah lagi rumpon ikan berupa balok dan kayu
yang ditinggalkan merusak jaring nelayan. Nelayan berharap aparat keamanan serius
memberantas pukat harimau tersebut.

Datok Penghulu Kampong Pusong Kapal, Bramsyah kepada Serambi, Selasa (19/1)
mengatakan, selama seminggu ini belasan kapal katrol pukat harimau melakukan aktifitas
menangkap ikan di perairan Aceh Tamiang, sehingga merugikan nelayan tradisional bahkan
mereka memilih tidak melaut. Nelayan dari ujung Tamiang juga mengadu kepadanya karena pukat harimau mulai
marak lagi beroperasi, jaraknya hanya seratusan meter dari bibir pantai.

Kapal pukat harimau asal Sumut ini cerdik dan pandai dalam beroperasi. Biasanya dilakukan secara diam-diam,
pada siang hari kapal menangkap ikan agak ke tengah laut, menjelang malam mereka mulai ke pinggir perairan
Tamiang. “Siang hari kapal pukat harimau agak ketengah laut setelah nelayan kecil pulang mereka merapat ke
pinggir,” ujarnya

Selain itu kapal pukat harimau juga membuang rumpon kayu, balok, dan beton kelaut, pada saat nelayan tradisional
menebarkan jaring, rumpon kayu tersebut tersangkut di jaring nelayan kecil sehingga membuat jaring mereka rusak.
“Jangankan dapat rezeki jaring yang sudah ada juga rusak terkena kayu balok dan beton yang mereka sebarkan,”
ujarnya.

Kondisi tersebut membuat nelayan Tamiang resah karena pendapatan ekonominya berkurang terlebih sampan
nelayan tradisional rata-rata pajangnya hanya 22 kaki dibandingkan dengan kapal kapal katrol yang besar ukurannya
Disebutkan datok, nelayan juga sudah malas mengadu ke aparat keamana terkaiat keberadaan kapal pukat harimau
karena terkesan tidak ditindaklanjuti. “Kita sudah ngadu sama petugas di Tamiang lalu mereka memberitahu ke
Lhokseumawe karena kapal patroli yang besar berada di sana,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketika nelayan bilang sama aparat mau demo, besoknya tidak ada lagi kapal pukat harimau.
Beberapa minggu kemudian muncul lagi. Nelayan tradisional berharap pihak keamanan terus melakukan operasi
pemberantasan pukat harimau karena keberadaan mereka melanggar peraturan keppres nomor 38 Tahun 1980 dan
UU nomor 31 Tahun 2004, tentang sumber hayati laut. “Nelayan yang terbukti dan kedapatan mengggunakan pukat
harimau dihukum lima tahun penjara dan denda sebesar Rp 2 miliar,” ujar datok.(md)

sumber

www.lamjabatfoundation.org
15 Januari 2010, 09:31

Nelayan Desak Polisi Basmi Pukat Trawl


Aceh Barat

Basmi pukat harimau


Ribuan nelayan di Kabupaten Aceh Barat, berdemo di DPRK, untuk meminta pemerintah membasmi habis pukat
harimau (trawl) yang selama ini masih digunakan nelayan, Kamis (14/1).SERAMBI/RIZWAN

MEULABOH - Ribuan nelayan tradisional di Kabupaten Aceh Barat, Kamis (14/1)


berunjukrasa di DPRK setempat. Mereka mendesak pemerintah dan pihak kepolisian
membasmi alat tangkap pukat harimau (trawl) yang selama ini masih digunakan nelayan di
Aceh Barat. Kedatangan ribuan nelayan dari Kecamatan Meureubo, Arongan Lambalek,
Suak Semaseh (Samatiga), dan Suak Ribe (Johan Pahlawan) dikawal oleh pihak kepolisian
dan Satpol PP. Sebelum berorasi warga ke Bundaran Simpang Pelor Meulaboh. Mereka
berteriak akan pukat trawl dibasmi dan pelakunya ditangkap serta diproses sesuai hukum.
Usai di tempat pertama, para pendemo ke gedung dewan. Setelah beberapa waktu
berorasi, sejumlah perwakilan nelayan dan panglima laot diterima oleh Wakil Ketua DPRK,
Masrizal dan Herman Abdullah. Hadir dalam pertemuan itu Kadis Kelautan dan Perikanan, Ir
Nasrita, dan Kasat Pol Air Polres, Ipda Kamal Pasha.

Marzuki didampingi sejumlah nelayan lain meminta kejelasan terhadap surat rekomendasi
dewan sebab nelayan Meureubo, Arongan Lambalek, Samatiga, dan Johan Pahlawan
mendukung pemberantasan pukat trawl yang dilakukan tim terpadu Pemkab. Warga
berharap operasi ini harus berlanjut apalagi selama pukat trawl tidak beroperasi banyak
keuntungan yakni banyak ikan kecil yang selama ini hilang sudah muncul lagi, penyu juga
sudah muncul, dan pendapatan nelayan meningkat dengan penggunaan alat tangkap ramah
lingkungan.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua DPRK, Masrizal mengatakan surat rekomendasi yang
dikeluarkan oleh DPRK pada saat demo nelayan pekan lalu itu bukan melegalkan trawl akan
tetapi mengajak nelayan agar menggunakan alat tangkap yang dibenarkan undang-undang.
Pihaknya juga mendukung bahwa trawl itu dibasmi dan diberantas sehingga dewan akan
mengeluarkan surat akan ditujukan ke bupati agar tim terpadu dapat terus bekerja
menangkap nelayan yang selama ini masih menggunakan trawl.

Sementara itu, Kasat Pol Air, Kamal Pasha mengajak masyarakat nelayan untuk tidak
melakukan hal tidak diinginkan, sebab semua nelayan adalah saudara, sehingga masalah
nelayan yang masih menggunakan pukat trawl sudah menjadi tugas aparat menangkap dan
ini akan dibahas lebih lanjut oleh Muspida sehingga nelayan diimbau untuk tidak bentrok di
laut. Sekitar pukul 14.00 WIB, aksi demo membubarkan diri setelah ada kesepatan bahwa
pukat trawl akan dibasmi habis.

Protes
Sementara itu, sekitar 100 warga Kecamatan Arongan Lambalek, Aceh Barat, berunjukrasa
ke Kantor Bupati setempat. Mereka tidak setuju lahan milik mereka di Desa Peuribu
kecamatan setempat menjadi areal hak guna usaha (HGU) PT Prima Agro Aceh Lestari
(PAAL) yang telah dikeluarkan izin oleh bupati setempat tahun 2008 lalu.

Idrus, Zulfahmi, dan Adnan, peserta demo mengungkapkan, mereka meminta bupati segera
bersikap agar lahan mereka yang tidak setuju digarap oleh PT PAAL tidak dilakukan, sebab
sejumlah lahan sudah mulai dibersihkan. Sebab Pemkab beberapa waktu lalu pernah
menyatakan bahwa bila warga tidak setuju lahan digarap PT PAAL tidak digarap.
“Kedatangan kemari adalah meminta kepastian perkataan dan janji itu,” ujarnya.

Setelah beberapa jam beraksi, pendemo diterima Bupati Ramli MS. Dalam pertemuan itu
bupati menyatakan, warga yang tidak setuju lahannya menjadi lokasi PT PAAL tetap akan
dikeluarkan dan akan disampaikan pada PT PAAL serta bagi warga yang setuju tetap akan
digarap. Hasil kesepatan itu dituangkan dalam selembar surat ditandatangani bersama
bupati dan perwakilan warga. Sekitar pukul 15.00 WIB pendemo kembali membubarkan
diri.(riz)
http://serambinews.com

Pukat Trawl Merajalela


08:23 | Saturday, 23 January 2010

BELAWAN-Pukat Trawl kembali beroperasi di sepanjang Perairan Belawan Kondisi ini praktis

meresahkan para nela-yan tradisional.Salah seorang nelayan bernama Suparno (45), warga Belawan,

Jalan Sumatera, Kelurahan Belawan Satu, Kecamatan Medan Belawan, mengatakan, akibat operasi

pukat trawl itu, mereka semakin sulit mendapatkan ikan.

Dia mengakui, pukat trawl bahkan sudah beroperasi dekat pantai perairan Belawan, sehingga nelayan

tradisional terpaksa mencari ikan ke tengah laut. “Kami mencari ikan terpaksa ke tengah laut. Kalau

tidak begitu, kami tidak mendapatkan ikan,” katanya.

Mereka khawatir, jika terlalu sering mencari ikan ke tengah laut, para nelayan tradisional tersebut

sering bablas hingga memasuki batas perairan Malaysia.“Alat kami kurang lengkap. Kadang kami pikir

masih jauh ke wilayah perbatasan dengan negara tetangga, teryata sudah hampir memasuki perairan

Malaysia,” ucapnya.

Hal sama senada dikatakan Pian (35), warga Kampung Nelayan, Kecamatan Medan Belawan. Mereka

sering tidak mendapatkan ikan kalau mencarinya dekat pantai, sebab pengguna pukat trawl sudah

mengambil semua ikan berukuran kecil dan besar. “Pukat itu dapat menangkap ikan berukuran kecil

dan besar, sementara kami nelayan tradisional hanya bisa menangkap ikan dengan menggunakan

jaring dan pancing,” katanya. (mag-12)

www.hariansumutpos.com
indosiar.com, Pangkalpinang - Direktorat polisi perairan Bangka Belitung Selasa (16/9/08) kemarin
menangkap 2 kapal pukat harimau yang sedang mencuri ikan diperairan Karang 9 Bangka Belitung.
Petugas juga menangkap 11 orang tersangkanya.
Sebelas orang tersangka ini ditangkap jajaran Polair Bangka Belitung karena telah merusak biota laut
dengan mengeruk hasil ikan menggunakan pukat harimau diperairan Karang 9, Kabupaten Bangka.
Penangkapan bermula saat patroli rutin petugas mencurigai 2 kapal yang melakukan aktivitas di laut
Karang 9, Kabupaten Bangka.
Petugas melakukan pemeriksaan terhadap kedua kapal dan menemukan 2 unit jaring pro dan ratusan
kilo ikan hasil tangkapan. Menurut nahkoda kapal Sun, hasil tangkapan ikan akan mereka bawa ke
Tanjung Pinang, Kepulauan Riau untuk dipasarkan.
Guna penyelidikan lebih lanjut 2 buah kapal dan 2 unit pukat harimau diamankan petugas. Sementara
11 tersangka ditahan di Polair Bangka Belitung mereka diancam hukuman 5 tahun penjara karena
melanggar Pasal 85 Undang - Undang no. 31 tahun 2004 tentang Perikanan. (M. Ikhsan
Firmansyah/Dv).
www.indosiar.com
Merajut Pukat
agoez
kawoem
Join Date: Jul 2008
Posts: 12

Thanks: 1
Thanked 3 Times in 1 Post

agoez 11-09-2009, 07:28 PM

Rating: (0 votes - average)

Semilir lembut angin pantai timur ujong blang, Kota Lhokseumawe memberikan rasa sejuk
di tengah teriknya sang mentari. Rasa kantuk sesekali merasuk dalam fikiran dan jiwa.
Namun, rasa itu seketika hilang ketika teringat akan nasibnya esok hari. Yah, Nasib dari
seorang penarik pukat, dimana dalam tugasnya adalah menarik pukat yang panjangnya
bisa mencapai 750 Meter ke daratan.

Merajut Pukat menjadi salah satu aktivitas harian masyarakat nelayan di kawasan Desa
Hagu Barat Laut, Lhokseumawe. Biasanya, selama proses menarik pukat, ada saja pukat
yang mengalami kerusakan akibat gesekan dengan batu-batu laut. Oleh karenanya, pukat
tersebut dirajut kembali sebelum digunakan pada esok hari.

Pukat Tarik itu sendiri adalah, merupakan alat tangkap yang berbentuk kantong yang
panjangnya bisa mencapai dengan 750 Meter. Dioperasikan dengan tenaga manusia dengan
cara menggiring dan menarik pukat yang direntangkan di laut ke arah pantai. Pukat ini
hanya bisa digunakan pada pantai tak berkarang dan hanya boleh dilakukan di lokasi-lokasi
tertentu yang telah ditetapkan oleh Panglima Laôt, yang disebut “lheun”.
/www.acehforum.or.id

Pukat Harimau di Tanjungbalai


Medan, 6/1 (ANTARA) - Ratusan alat tangkap ikan sejenis pukat harimau (trawl) diperkirakan masih
beroperasi di perairan Tanjung Balai Asahan, Sumut, sehingga meresahkan nelayan kecil di daerah itu.
“Keberadaan alat tangkap itu mengakibatkan berkurangnya pendapatan nelayan,” kata Sekretaris HNSI
Sumut Ihya Ulumuddin di Medan, Rabu.

Untuk itu, menurut dia, kapal ikan yang masih menggunakan alat tangkap ilegal yang dilarang pemerintah
itu perlu ditertibkan dan diamankan.
Selanjutnya, nelayan dan pengusaha yang menggunakan alat tangkap itu harus diproses secara hukum
untuk efek jera.

“Penertiban kapal nelayan yang menggunakan alat tangkap pukat harimau sudah saatnya dilakukan.
Aparat keamanan di laut harus melakukan razia setiap saat untuk membersihkan alat tangkap itu,” ujar
Ulumuddin.

Ia mengatakan, beroperasinya alat tangkap itu tidak hanya merugikan nelayan, tetapi juga merusak
sumber daya hayati di laut dan lingkungaan hidup.

Penggunaan alat tangkap pukat harimau itu juga dilarang berdasarkan Keppres No 39 Tahun 1980 dan
UU No 31 Tahun 2004 tentang Pengelolan dan Pemanfaatan Sumber Daya Ikan.

Berdasarkan ketentuan itu, kapal nelayan yang menggunakan pukat harimau dapat diancam hukuman
lima tahun penjara atau denda sebesar Rp1,2 miliar.

“Jadi sudah seharusnya alat tangkap yang berbahaya dan menimbulkan kerusakan lingkungan itu
dimusnahkan,” tegasnya.

Ulumuddin mengatakan, pukat harimau tidak hanya beroprasi di perairan Tanjung Balai dan Asahan,
melainkan juga di perairan Langkat, Sibolga/Tapanuli Tengah dan perairan Nias.

“Namun yang paling banyak adalah di perairan Tanjung Balai dan Asahan yang berbatasan dengan
perairan Selat Malaka,” katanya. ***3***
(T.M034/B/R014/R014) 06-01-2010 20:46:09

www.antarasumut.com
Pengelabuan Nomenklatur Pukat Ikan
Oleh
Ari Purbayanto

Ide untuk melakukan moratorium sementara pukat ikan di Laut Arafura oleh Departemen Kelautan dan
Perikanan (DKP) hendaknya disambut dan disikapi secara bijak. Laut Arafura yang merupakan surga
bagi kegiatan penangkapan ikan dan udang bisa jadi hanya tinggal kenangan akibat kesalahan
pengelolaan. Berbagai hasil penelitian mengindika-sikan terjadinya penurunan stok ikan di perairan itu.
Bahkan, kondisinya hampir mendekati lebih tangkap (over fishing atau over exploited). Ini disebabkan
oleh banyaknya kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan pukat ikan dan pukat udang
disamping adanya kegiatan illegal fishing dengan alat tangkap sejenis dan juga trawl berpasangan (pair
trawl) yang jelas-jelas dilarang.
Permasalahan yang terjadi di Laut Arafura yang mesti kita cermati adalah pengoperasian pukat ikan yang
tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Jika melihat ke belakang, diizinkannya pengoperasian pukat
udang di Laut Arafura adalah buntut dari Keppres No. 30 tahun 1980 tentang Penghapusan Trawl di
Seluruh Wilayah Indonesia. Lalu dikeluarkan Keppres No. 85/1982 yang membolehkan pukat udang
(trawl yang dilengkapi oleh alat pemisah ikan) beroperasi di perairan sekitar Kepulauan Kei, Kepulauan
Tanimbar, Kepulauan Aru, dan Irian Jaya, yaitu di Laut Arafura di sebelah timur garis 130°BT dan di luar
isobath 10 meter.
Berdasar regulasi tersebut, maka yang boleh beroperasi di Laut Arafura adalah pukat udang bukan pukat
ikan. Pukat ikan atau dikenal dengan fish net tidak tercatat di dalam buku Statistik Perikanan Indonesia.
Alat tangkap ini hanya diizinkan beroperasi di perairan ZEE Indonesia Samudera Hindia perairan barat
Sumatera sekitar Daerah Istimewa Aceh dengan batas koordinat 4° LU s.d. 96° BT (SK Menteri Pertanian
770/Kpts/IK.120/10/96). Pengoperasiannya di Laut Arafura hanya diatur oleh Juklak Dirjen Perikanan No.
IK. 340/DJ.3481/90K, sehingga tidak memiliki dasar hukum yang kuat.
Nomenklatur Pukat Ikan
Salah satu penyebab kesalahan adalah penamaan (nomenklatur) trawl yang tidak tepat. Penamaan pukat
ikan di Indonesia jika merunut pada penamaan trawl secara internasional menurut International Standard
Statistical Classification on Fishing Gears yang dirilis FAO, sebagai alat tangkap yang dioperasikan
dengan cara menarik/menyeret jaring pada kolom perairan dengan kapal penangkap. Secara umum
golongan ini dapat dibagi atas trawl dasar yang dioperasikan di dasar atau dekat dasar perairan (beam
trawl, one-boat otter trawl, two-boat trawl) dan mid-water trawl yang dioperasikan jauh dari dasar perairan
(otter trawl dan two-boat trawl).
Trawl diklasifikasikan oleh von Brandt (1984) kedalam kelas alat tangkap dragged gears (metode
penangkapan dengan alat yang diseret). Kelompok alat tangkap dalam kelas ini memiliki kantong atau
dinding jaring yang diseret/ditarik pada perairan dekat dengan dasar atau kolom perairan untuk waktu
tertentu. Prinsip penangkapannya adalah menyaring biota perairan yang cenderung pasif dengan alat
tangkap trawl yang aktif.
Klasifikasi nasional adalah yang dianut dari Standar Statistik Perikanan Tangkap Indonesia, terbitan
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Depar-temen Kelautan dan Perikanan. Pengklasifikasian ini
dimulai sejak pertama kali diterbitkannya buku statistik perikanan Indonesia pada 1970-an yang didesain
oleh Mr. Yamamoto seorang konsultan JICA yang bekerja untuk Direktorat Jenderal Perikanan pada
waktu itu. Menurut standar tersebut, alat tangkap yang digunakan di seluruh Indonesia dibagi menjadi 10
kelompok, dan trawl diklasifikasikan sebagai pukat udang (shrimp trawl).
Belum adanya standar baku penamaan termasuk standar baku desain dan konstruksi alat tangkap trawl
telah menstimulir munculnya nama-nama lokal sebagai kamuflase untuk menghindari Keppres No.
39/1980 tentang pelarangan pengoperasian trawl. Pelanggaran dan modus operandinya diawali dengan
pengaburan nama jaring (pukat) yang secara teknis konstruksi menyerupai trawl seperti jaring dogol,
lampara dasar, arad, cantrang, otok (cotok), dengan cara memodifikasi sebagian desain-konstruksi dan
mengubah cara pengoperasianya.

Akal-akalan
Menurut Juklak Dirjen Perikanan (No. IK. 340/DJ.3481/90K), pukat ikan didefinisikan sebagai jaring
penangkap ikan berbentuk kantong yang dilengkapi sepasang (2 buah) papan pembuka mulut jaring
(otter board), tujuan utamanya untuk menangkap ikan di perairan pertengahan (bathy pelagic) dan di
perairan dasar (demersal), yang dalam pengopersiannya ditarik melayang di atas dasar oleh 1 (satu)
buah kapal motor. Pengoperasian pukat ikan ini hanya dilakukan di ZEEI Samudera Hindia.
Dapat dikatakan dari fakta tersebut, pukat ikan sebenarnya adalah trawl yang dioperasikan di atas kolom
perairan atau midwater trawl dan tidak dioperasikan pada dasar perairan sehingga target utama dari
pukat ikan adalah ikan bukan udang, namun yang terjadi di lapangan adalah pukat ikan menangkap ikan
demersal dan udang. Alasan yang dikemukakan jika diperiksa aparat, udang merupakan hasil tangkapan
sampingan. Pemberian izin oleh DKP kepada pemilik kapal pukat ikan di Laut Arafura hanya berdasar
pada peningkatan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) dan kepentingan segelintir oknum
pengusaha pukat ikan untuk menghindari pajak yang lebih mahal dibandingkan usaha penangkapan
pukat udang.
Yang perlu dipikirkan adalah upaya menjaga sumberdaya ikan yang masih ada agar tetap lestari
terutama di wilayah pengelolaan perikanan spesifik seperti Laut Arafura. Moratorium dipandang perlu
demi memulihkan sumberdaya ikan yang ada. Penutupan sementara dapat dilakukan melalui penutupan
izin baru dan tidak memperpanjang kembali izin operasi kapal pukat ikan yang sudah diberikan.
Sementara itu pengendalian pengoperasian pukat udang dapat dilakukan dengan cara mendata kembali
usaha penangkapan pukat udang, dan tidak memberikan izin baru hingga sumberdaya ikan tersebut pulih
kembali.
Sebagai penutup, penulis menyatakan bahwa penamaan pukat ikan bertentangan dengan nomenklatur
yang ada dan tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Upaya pemerintah beberapa tahun terakhir ini
dalam melakukan standardisasi trawl kedalam “pukat hela” (sebagai contoh SNI 1-7235-2006 untuk
konstruksi pukat hela ganda dan SNI 1-7232-2006 untuk konstruksi pukat hela ikan) kiranya perlu
didukung oleh segenap pemangku kepentingan perikanan sehingga pengelolaan sumberdaya ikan dapat
dilaksanakan lebih baik, yang menyejahterakan nelayan dan melestarikan sumberdaya.

Penulis adalah Guru Besar Teknologi Penangkapan Ikan, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya
Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB.
www.sinarharapan.co.id
Pukat, Pemikat Ikan yang Merusak Habitat

oleh Topik Hidayat (www.semuatentangmamat.com)

Aksi 27 Maret 2008 di Departemen Kelautan dan Perikanan kembali mengingatkan kita terhadap
keberadaan kapal nelayan jenis pukat harimau (trawl). Ironis, ketika pemerintah mengeluarkan Keppres
Nomor 39 tahun 1980, tentang larangan penggunaan alat tangkap pukat di perairan Indonesia,
penggunaannya malah semakin merajalela. Bukan hanya oleh nelayan Indonesia saja tetapi juga nelayan
dari negeri lain berlomba mengeruk kekayaan laut kita.

Ironi kembali terjadi ketika pada tahun 2002 pemerintah justru mengeluarkan ijin untuk penggunaan pukat
di beberapa perairan Indonesia dengan alasan jenis kapal tersebut adalah yang paling efisien untuk
menangkap spesies tertentu, terutama udang. Alasan lain adalah untuk “mengimbangi” nelayan Malaysia
yang menggunakannya. Jelas apa yang terjadi adalah “usaha” pemerintah untuk “memenangkan” sektor
ekonomi di atas lingkungan hidup. Pada prinsipnya, penggunaan pukat yang diatur dengan baik pun
tetap akan mempengaruhi ekosistem laut, apalagi yang tidak terkontrol, seperti yang terjadi belakangan
ini.

Mari melihat permasalahan ini dari berbagai sudut pandang:

a. Nelayan

Nelayan, umumnya dengan skala kecil, semakin terbebani dengan kondisi perekonomian yang
memburuk. Kenaikan harga minyak yang secara perlahan meningkatkan ongkos produksi. Untuk
mengurangi kerugian, nelayan mau tidak mau menggunakan prinsip ekonomi, memaksimalkan hasil
dengan usaha yang paling minimal. Penggunaan pukat dianggap dapat mengakomodir hal tersebut.
Sementara bagi nelayan besar, penggunaan pukat akan semakin memperkuat posisi ekonomis mereka.

b. Koperasi

Fungsi koperasi sebagai intermediari nelayan dengan pemerintah tampaknya terhenti begitu saja. Fungsi
penyuluhan, pembekalan materi, bahkan dukungan dana melalui koperasi simpan pinjam seharusnya
dapat mengatasi kendala para nelayan. Bila nelayan diberikan pengetahuan yang cukup, keterampilan
yang lebih, dan dukungan perlengkapan nelayan yang memadai, maka seharusnya nelayan bisa
mendapatkan hasil tangkapan yang baik pula.

c. Pemerintah

Dalam hal ini Departemen Kelautan dan Perikanan, pemerintah seharusnya menjadi regulator dan
memberikan keadilan bagi semua pihak. Pemerintah harusnya lebih konsisten terhadap langkah yang
diambil. Jangan sampai satu regulasi dengan regulasi yang lainnya justru bertentangan dan membuat
penggunaan pukat semakin tidak terkendali. Selain itu sanksi yang tegas seharusnya diterapkan tanpa
pandang bulu.

d. Pihak lain

Masyarakat atau LSM seharusnya bisa menjadi mitra pemerintah dalam memberikan pendapat ataupun
ide-ide penyelesaian permasalahan ini. Kearifan dari masyarakat dan LSM diharapkan dapat
menciptakan usulan-usulan kepada pemerintah.

Solusi terbaik adalah bila semua pihak mampu menjalankan peranannya secara baik berlandaskan
keinginan untuk memberikan manfaat bagi semua pihak dan menjaga karuniaNya untuk generasi
mendatang.
http://rafflesia.wwf.or.id

PUKAT HELA ANTARA PRO DAN KONTRA

Keluarnya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) No. 06 Tahun 2008 menyisakan masalah; karena

berkembang perbedaan wacana yang tentu saja didasari argumentasinya masing-masing. Apakah aturan tersebut

perlu ditunda karena mengundang ”pro-kontra” keberadaannya jika dikaitkan dengan Keppres No.39 Tahun 1980 ?

Trawl si pukat harimau dilarang

Mengapa trawl (pukat harimau) dilarang sejak tahun 1980 ?; pertama; berkaitan pembinaan sumber daya ikan (SDI);

penggunaan yang tidak terkendali berdampak negatip pada kelestarian. Dengan mesh size (mata jaring) kecil maka
ikan/udang berbagai ukuran tertangkap tanpa batasan. Diharapkan dengan kebijakan hapusnya trawl maka hasil

tangkapan nelayan tradisional meningkat. Kedua, menghindarkan ketegangan sosial antara nelayan tradisional dan

pengguna kapal trawl; karena alat tangkap (statis) milik nelayan di fishing ground nya rusak terseret trawl; ditambah

kesenjangan perolehan hasil. Dua hal mendasar inilah yang digunakan bahan pertimbangan Keppres No.39 Tahun

1980 tentang Penghapusan Jaring Trawl; yang ditanda tangani tanggal 1 Juli 1980. Negara tetangga heran atas

kebijakan tersebut; karena dengan alat produktif seperti trawl ini akan menunjang kebutuhan pangan ikani maupun

devisa negara utamanya berasal dari komoditas udang. Keputusan presiden ini sebenarnya menguntungkan karena

peluang memanfaatkan SDI lebih besar; sebab kebijakan itu dibarengi dengan mengucurnya Kredit Keppres No.39

Tahun 1980 dalam rangka peningkatan produksi dan produktivitas usaha nelayan tradisional; namun buntutnya justru

menimbulkan masalah karena tidak tepat mutu dan sasarannya.

Membuka klipping media cetak sejak larangan trawl dikeluarkan, ternyata pelanggaran penangkapan ikan; khusus

yang menggunakan trawl mencapai puncak tahun 2001- 2002 seiring berkembangnya modifikasi alat tangkap jaring

kantong mirip trawl atau trawl mini inilah penyebab utama keresahan dan konflik nelayan. Keresahan meluas dengan

beroperasinya trawl mini di beberapa daerah, penggunaan bahan peledak, serta adanya rasa memiliki perairan laut

dampak pemahaman makna otonomi daerah yang berbeda. Modifikasi jaring berkantong hasil kreasi nelayan,

membuat semakin rancu keadaan; walaupun sebenarnya sudah ada Kepmentan No.503/Kpts/ Um/7/1980 memberi

pengertian spesifikasi jaring trawl, yang kemudian secara rinci dijabarkan lebih lanjut dengan Keputusan Direktur

Jenderal Perikanan Nomor: IK.340/DJ.10106/97 sebagai petunjuk pelaksanaan. Dengan adanya batasan jaring

berkantong yang boleh beroperasi; menimbulkan akal-akalan guna menghindari pelanggaran atas persyaratan yang

ditetapkan; alhasil konflik tak pernah henti. Apakah masalah ini salah satu pemicu wacana menghalalkan trawl

beroperasi kembali.........??

Wacana meninjau penghapusan trawl mengemuka tahun 1999, di saat Menteri Pertanian selaku penanggung jawab

sektor perikanan waktu itu berjanji akan meninjau Keppres No. 39 Tahun 1980 dalam rapat kerja Komisi III DPR RI;

pernyataan yang cukup menarik, dan memberi harapan berkembangnya usaha penangkapan ikan nelayan

tradisional (Tribawono,1999). Ternyata apa yang dijanjikan tidak gampang pelaksanaannya, karena banyak pihak

menyatakan ”tidak setuju” membuka kran beroperasinya trawl di republik ini. Perlu pertimbangan matang dari para

stakeholders sehingga hasil analisis kebijakan publik yang akan diwujudkan legalitas berdampak positif bagi nelayan

tradisional; bukannya malah memberi peluang lebih besar kepada mereka yang bermodal kuat.

Antara pro dan kontra

Permen Kelautan dan Perikanan Nomor : PER.06/MEN/2008 tentang Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat
Hela di Perairan Kalimantan Timur Bagian Utara; ditanda tangani Menteri Freddy Numberi 28 Pebruari 2008. Pukat

hela kata lain trawl adalah semua jenis alat penangkapan ikan berbentuk jaring berkantong, berbadan dan bersayap

yang dilengkapi pembuka jaring yang dioperasikan dengan cara ditarik/dihela menggunakan satu kapal yang

bergerak. (SNI 01-7232-2006 dan SNI 7277.5:2008). Dalam ketentuannya pukat hela hanya boleh beroperasi pada

perairan yang membentang dari perairan Kodya Tarakan dengan koordinat 30010’ LU hingga perairan terluar Pulau

Sebatik, meliputi Kab. Nunukan, Kab. Bulungan, Kab. Tana Tidung dan Kodya Tarakan. Daerah Operasi. Jalur I

( antara 1 – 4 mil laut ), untuk kapal ukuran sampai dengan 5 GT yang menjadi kewenangan kabupaten/kota. Sedang

pada Jalur II yaitu lebih dari 4 sampai 12 mil laut untuk kapal ukuran sampai dengan 30 GT menjadi kewenangan

propinsi. Hasil tangkapan wajib didaratkan di PPI Sebatik, PPI Pulau Bunyu, PPP Tarakan, atau di Pelabuhan

Perikanan Mansapa Nunukan. Ini dimaksudkan agar berdampak positip terhadap perkembangan perekonomian

daerah. Selain itu, akan memudahkan pemantauan/pengumpulan data yang dapat digunakan sebagai.bahan acuan

menentukan kebijakan selanjutnya.

Rupanya Permen KP banyak dikritisi sesuai argumentasi masing-masing sehingga timbul kelompok pro-kontra

pelaksanaannya. Ada yang menolak mentah-mentah karena masih banyak kebijakan-kebijakan formal lain atas

dasar kelestarian SDI dan lingkungan hidup; serta terkait konflik sosial dan ekonomi. Argumen ini ada yang

menganggap sebagai alasan kurang tepat dan sangat mengada-ada sehingga tidak tepat jika Permen KP ditentang

keberadaannya. Secara kesejarahan keluarnya Permen KP dilatar belakangi usulan Bupati Bulungan, Berau,

Malinau, Nunukan dan Walikota Tarakan; Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pernah mengusulkan agar

secepatnya merealisasikan peraturan khusus dalam rangka mengoptimalkan pengelolaan perikanan di perbatasan.

HNSI Kalimantan Timur menyampaikan aspirasinya langsung ke DPR RI agar pemerintah melegalkan pukat hela

khusus di wilayah perairan Kalimantan Timur bagian Utara. Artinya kebijakan pukat hela ini juga merupakan

kehendak masyarakat lokal dalam memanfaatkan SDI untuk kesejahteraan.

Alih alih mengumpulkan argumentasil tentu saja menjadi setumpuk dokumen yang semua berada pada kisi-kisi

pembenaran dalam mengkritisi Permen KP. Kalau posisi seperti ini terus berlanjut, kapan lagi republik ini

mengoptimalkan pemanfaatan dan pengelolaan SDI perbatasan yang dirampok nelayan asing. Kiranya tidak perlu

lah adu argumentasi berkepanjangan; supaya tidak menebar konflik antara yang mengusulkan legalitas pukat hela

dengan kelompok yang tidak menghendakinya. Seyogyanya kita perlu positive thinking bahwasanya kebijakan publik

tersebut keluar demi kebaikan; apabila ada yang berpendapat lain itu hal yang lumrah terjadi dan merupakan pernik-

pernik dampak yang harus diterima oleh pembuat kebijakan; siapa tahu perkembangannya kemudian adalah benar

bahwa kebijakan legalisasi pukat hela kurang tepat dikeluarkan sekarang..


Launching dulu baru evaluasi

Ibaratnya Permen KP ini baru di launching sudah dibombardir bermacam kehendak yang satu sama lain berbeda

dasar pemikiran. Apakah harus “dibunuh” sebelum tumbuh dan berkembang ? Karena Pasal 15 menyatakan bahwa

“Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan” dan disisi lain Keppres No.39/1980 pun belum dicabut.

Senyampang pukat hela hanya boleh di perairan Kalimantan Timur bagian utara berarti ada “keistimewaan”; jadi

terus akan bukan berlaku secara nasional; andaikan khalayak berpikiran pukat hela dilegalisasi secara nasional

maka kita tunggu saja pasti akan muncul Keppres No.39/1980 jilid dua.................

Selanjutnya jika dicermati; Pasal 14 menyebutkan “Penggunaan kapal pukat hela di Kalimantan Timur bagian utara

sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri ini dievaluasi setgiap tahun oleh Direktur Jenderal dan hasilnya

dilaporkan secara tertulis kepada Menteri”; pasal ini memberi isyarat jika Permen KP 06/2008 menjadi tidak

bermanfaat bagi bangsa dan negara niscaya bukannya tidak mungkin kebijakan iini akan ditinjau dikemudian hari.

Semua pihak perlu saling menahan diri dan harus “mengawal” implementasinya berkaitan dengan pengawasan dan

pengendalian SDI Para stakeholders sesuai peran, fungsi dan kepentingan masing-masing harus mentaati apa yang

sudah ditetapkan dalam Permen KP; perizinan harus sesuai persyaratan dan alokasi yang ditetapkan, jangan sampai

terjadi over dosis izin yang dikeluarkan ; demikian pula halnya pengguna pukat hela harus taat hukum dalam

pelaksanaannya;. Diharapkan Permen KP No.06/2008 merupakan roh nya masyarakat perikanan mulai sadar hukum

demi usaha perikanan bertanggung jawab dan berkelanjutan. Mari lah kita menunggu hasil evaluasi pelaksanaannya

sehingga peraturan ini benar-benar menjadi titik balik meningkatkan produksi sekaligus mengamankan illegal fishing

di perbatasan. Dalam hal ini tingkatkan peran serta nelayan dalam kelompok SISWASMAS (sistem pengawasan

masyarakat) membantu aparat berwenang karena menjadi faktor kunci mengawal kebijakan pemerintah demi

kesejahteraan nelayan tradisional.


http://mukhtar-api.blogspot.com

Bila Pukat Harimau Dilegalkan Kembali (2-Habis)


March 15th, 2009 | Author: errina2009

Easy AdSenser by Unreal


Oleh Eny Anggraini Buchary
Pada akhirnya target fishing effort pun beralih ke ikan-ikan di trophic level di bawahnya, dan begitu seterusnya,
skenario eksploitasi berulang, hingga ke tingkat trophic level yang paling di bawah letaknya. Fenomena ini disebut
sebagai ‘fishing down the marine food web’ (FDMFW) (Pauly et al. 1998) dan ditinjau dari kacamata ekologi laut dan
konservasi laut, merupakan sebuah fenomena tragedi perikanan laut yang terus berulang di mana-mana. Tulisan ini
merupakan bagian akhir dari dua tulisan yang telah diturunkan SH, Jumat (16/7) kemarin.
Akibat dari interaksi-interaksi ekologis sebagaimana disebutkan di atas, maka berkelanjutannya dan meningkatnya
fishing effort di tingkat trophic level bawah, macam intensifnya penangkapan udang alami setelah FDMFW
berlangsung, tidak akan memberikan kesempatan bagi ikan-ikan atau hewan-hewan lainnya di tingkat trophic level di
atasnya untuk bisa pulih. Hal ini disebabkan karena hewan-hewan di tingkat trophic level bawah merupakan mangsa
bagi hewan-hewan di tingkat trophic level di atasnya, dan seterusnya keterkaitan ekologis berlangsung hingga ke
tingkat trophic level yang paling atas (top predators).
Bila para manajer perikanan laut kita tidak menyadari akan pentingnya keseimbangan dan keterkaitan ekologis di
ekosistem laut kita, maka bukan mustahil, kebijaksanaan perikanan laut yang dicanangkan justru akan mendorong
timbulnya dan terus dipertahankannya fenomena FDMFW yang selanjutnya akan mengancam keanekaragaman
hayati sumber daya kelautan kita.
Adapun syarat terakhir atau keempat yang diungkapkan di artikel tersebut adalah bahwa ‘penggunaan pukat harimau
secara terbatas ini harus memperhatikan aspek konservasi. Artinya, harus ada ’closed season’ di mana trawl tidak
boleh dioperasikan pada waktu ikan-ikan sedang bertelur’. Sungguh ini merupakan syarat yang bersifat paradoks,
dan berikut penulis berikan tiga alasan mengapa ini paradoks.
Kerusakan di Dasar Laut
Yang pertama, pada umumnya pukat harimau yang dipakai untuk menangkap udang adalah jenis alat tangkap pukat
harimau dasar atau bottom trawling (karena udang merupakan hewan yang hidup di dasar laut) yang mana didalam
pengoperasiannya memiliki sifat merusak terhadap dasar perairan yang dikeruknya. Hal ini disebabkan ada kontak
fisik langsung antara substrat dasar laut yang dihuni oleh berbagai biota dengan: papan otter yang memiliki berat
puluhan hingga ribuan kilogram; dan tali dasar jaring pukat yang dilengkapi oleh roda-roda besi (bobbins) yang
memiliki berat puluhan hingga ratusan kilogram dan berfungsi untuk ”menggelindingkan” jaring pukat harimau di
dasar laut pada saat ditarik oleh kapal.
Watling dan Norse (1998) dalam studinya yang menarik perhatian kalangan ilmuwan dan industri kelautan dan
perikanan di akhir tahun 1990-an, menganalogikan kerusakan yang disebabkan oleh pukat harimau dasar dengan
kerusakan yang disebabkan oleh penebangan hutan secara total (forest clearcutting). Lain halnya dengan hutan
yang kerusakannya bisa langsung dilihat dengan mata, maka kerusakan yang disebabkan oleh pukat harimau
”tersembunyi” di dasar laut, sehingga sering terlewatkan dan tidak disadari hingga akhirnya semuanya terlambat.
Rusaknya struktur habitat dasar laut ini meliputi kerusakan terhadap struktur hayati (misalnya struktur komunitas
hewan sepon, karang lunak, dan padang lamun) maupun struktur non-hayati (misalnya karang bebatuan, pasir dan
lumpur).
Yang kedua, selain dampak kerusakan fisik yang ditimbulkan oleh pukat harimau, sifat pukat harimau terhadap target
tangkapan juga tergolong non-selektif. Artinya, walaupun yang ingin ditangkap udang, tapi jenis-jenis hewan laut
lainpun (baik itu ikan maupun mamalia laut) yang tidak dikehendaki dan merupakan hasil tangkapan sampingan (by-
catch) akan tertangkap juga.
Biasanya karena pertimbangan faktor ekonomis (ketersediaan ruang di palka kapal, penghematan konsumsi bahan
bakar, dsb.), sebagian besar by-catch dari pukat harimau dibuang kembali ke laut (discard). Penelitian tentang by-
catch dan discard ini sulit untuk dilakukan karena biasanya armada trawl tidak akan mau melaporkan secara jujur
jumlah by-catch dan discard mereka.
Namun menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh UNEP), secara global, rasio rata-rata antara udang dan hewan
non-target pada penangkapan dengan trawl biasanya berkisar antara 5:1 untuk perairan daerah beriklim sedang
(temperate zone) dan 10:1 atau lebih untuk perairan daerah tropis. Artinya untuk setiap satu kilogram udang alami
yang ditangkap, ada sekitar 5 hingga 10 kilogram atau lebih by-catch yang tertangkap dan biasanya dibuang kembali
ke laut sebagai discards.
Protein Laut
Bandingkan besarnya pemborosan sumber daya protein laut dari discard ini dengan data FAO yang menyatakan
konsumsi ikan rata-rata rakyat Indonesia di tahun 1998 hanya 16,3 kg/kapita/tahun). Dampak fisik yang merusak
struktur habitat dasar laut dan dampak by-catch dan discards terhadap hewan non-target maupun aspek
pemborosan protein laut ini bisa kita simpulkan sebagai dampak kolateral (collateral impacts) dari pengoperasian
pukat harimau. Dengan demikian pukat harimau harus dioperasikan dengan memperhatikan aspek konservasi
terdengar sangat paradoksial karena adanya dampak kolateral ini.
Yang ketiga, perairan Indonesia dianugerahi dengan jenis-jenis species ikan laut yang terkaya di dunia, dengan
jumlah species ikan laut yang sudah tercatat sekitar 3.206 dan merupakan kurang lebih sepertiga dari seluruh
species ikan di dunia (Daws dan Fujita 1999). Di lain pihak, dari lebih 3.000 species ikan laut ini, hanya 44 kelompok
jenis ikan demersal dan pelagis yang diidentifikasi sebagai kelompok ikan ekonomis penting menurut sistem statistik
perikanan kita (Dwiponggo 1987).
Mengacu kepada syarat keempat yang diajukan DKP bahwa ”penggunaan pukat harimau secara terbatas ini harus
ada closed season di mana trawl tidak boleh dioperasikan pada waktu ikan-ikan sedang bertelur”, maka
tantangannya sekarang apakah kita sudah mampu mengetahui karakteristik siklus hidup (termasuk pengetahuan
tentang kapan saja musim bertelurnya) ikan-ikan dari yang 44 kelompok ekonomis penting ini?
http://fisheries-ipb.com
Aktivitas Pukat Trawl di Aceh
Oleh : Sulaimantripa | 17-Okt-2008, 08:49:15 WIB

KabarIndonesia - Aktivitas trawl (pukat harimau) menampakkan gejala peningkatan di perairan


Aceh. Padahal pukat tersebut dilarang dan sangat bertentangan dengan hukom adat laot. Namun
aktivitas tersebut terus berlangsung.

Akhir-akhir ini, nelayan tradisional di Kecamatan Singkil Utara, Singkil, Kuala Baru, dan Pulau
Banyak Kabupaten Aceh Singkil mengeluh karena pukat harimau beroperasi di wilayah nelayan
tradisional.

Sebelumnya, organisasi masyarakat Hukom Adat Laot di Aceh, Panglima Laot Aceh telah
menyatakan “perang” terhadap pukat trawl. Ada lima alasan Panglima Laot Aceh menolak trawl,
yakni: Pertama, trawl merusak ekosistem laut.

Hal ini diklaim berkaitan dengan pendapatan nelayan tradisional yang berkurang, karena ikan-
ikan dikuras dengan cara membabi-buta. Kedua, aktivitas trawl melanggar hukum di Indonesia,
yakni Keppres Nomor 39 Tahun 1980, yang “mengharamkan” trawl di perairan Indonesian.

Ketiga, aktivitas trawl juga merusak rumpon-rumpon nelayan tradisional Aceh yang dipasang di
laut. Keempat, nelayan tradisional Aceh takut mendekat ke kapal trawl karena pemilik trawl itu
sangat brutal. Kelima, pengawasan terhadap trawl seperti tidak berjalan sebagaimana mestinya,
padahal ini penting dalam hal menghindari sengketa antara trawl dengan nelayan tradisional.

Dalam pertemuan Dewan Meusapat Lembaga Hukum Adat Laot (Panglima Laot Se-Aceh) tahun
2002 di Banda Aceh, Panglima Laot se-Aceh menyatakan penolakan terhadap rencana
pencabutan Keppres Nomor 39 Tahun 1980 karena dinilai dapat membahayakan kehidupan biota
laut dan terumbu karang. Mereka mendesak DPRD dan Pemda Nanggroe Aceh Darussalam
menyusun peraturan daerah pelarangan trawl di Aceh.

Panglima Laot juga mendesak Pemda Aceh untuk menjaga laut dan potensi sumberdaya kelautan
dari penjarahan kapal asing di Aceh Barat, Aceh Selatan, Simeulue dan Aceh Singkil. Di perairan
Aceh ditemukan data tentang maraknya operasi pukat trawl.

Panglima Laot Aceh sebagai lembaga masyarakat hukom adat laot, menyatakan perang terhadap
trawl, karena merusak ekosistem laut dan menyapu rumpon-rumpon nelayan tradisional.
Nelayan tradisional Aceh sangat dirugikan dengan adanya operasional pukat trawl di perairan
Aceh, karena nelayan tradisional Aceh takut mendekat ke kapal trawl karena pemilik trawl itu
sangat brutal.

Sejumlah nelayan di Aceh Singkil, juga mengeluh karena mengganasnya operasi trawl telah
merusak alat tangkap mereka, sekaligus diklaim merusak daerah tangkapan mereka yang akan
mempengaruhi tingkat pendapatan nelayan tradisional.

Aktivitas pukat trawl, bukan hanya di lautan dalam, tapi pukat juga beroperasi di zona tangkap
nelayan tradisional, sehingga hal ini merugikan masyarakat nelayan yang ada di Kabupaten Aceh
Singkil.

Mengenai hal ini, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Aceh Singkil telah membuat
pengaduan kepada Pemerintah, tapi belum ada tanggapan. Bahkan terkesan operasi trawl tanpa
ada larangan dari pihak manapun.

Apa yang terjadi di Aceh, menyiratkan apa yang diberitakan tersebut. Kegelisahan nelayan di
Aceh terhadap kapal-kapal luar Aceh yang menggunakan trawl, adalah salah satu yang nyata.
Sekitar bulan Mei 2002, nelayan tradisional di Teunom Aceh Barat mengancam akan memerangi
nelayan luar yang melakukan penjarahan di daerah tangkapan nelayan tradisional.

Mereka menganggap aksi yang dilakukan kapal-kapal luar tersebut tidak bisa ditolerir lagi.
Nelayan asing kerap mengkasari nelayan tradisional. Pada 2002, kapal ikan luar menabrak kapal
nelayan di Suak Ulee, Kecamatan Samatiga. Tragedi itu berlangsung sekitar delapan mil dari
pantai, mengakibatkan dua nelayan trauma dan satu tidak diketahui nasibnya.

Pada Maret 2002, Panglima Laot Aceh Barat juga melaporkan bahwa nelayan tradisional
berpapasan dengan sekawanan kapal ikan luar. Jaraknya sekitar enam mil dari pantai. Kehadiran
kapal-kapal tersebut menggunakan trawl menghancurkan rumpon-rumpon (tempat yang dibuat
untuk berkumpulnya ikan) nelayan.

Sepanjang 2002, Panglima Laot Aceh menerima laporan dari berbagai kawasan tentang adanya
kapal asing di perairan Aceh, bukan itu saja karena mereka menggunakan trawl yang dilarang di
Indonesia.

Lagi pula kapal-kapal tersebut tidak hanya menghancurkan lahan, tetapi juga menabrak boat-
boat nelayan. Jamal (nelayan dari Ulee Lheue, Banda Aceh), mengaku sering melihat kapal ikan
luar yang lalu-lalang di Samudera Hindia, dan sering melambaikan tangan saja.

Padahal Jamal melaut hanya berjarak sekitar dua sampai tiga mil dari pantai. Penolakan kapal
trawl juga disampaikan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Aceh, serta menolak usaha
mendatangkan kapal Thailand ke Aceh.

Bila Pemerintah ingin membantu nelayan tradisional, adalah dengan cara memberdayakan
masyarakat. Kehadiran trawl akan memunculkan konflik baru. Kenyataannya trawl telah dilarang
dengan Keppres Nomor 39 Tahun 1980.

Namun di Aceh, pelarangan terhadap Keppres itu terus saja terjadi. Operasi kapal trawl semakin
parah sejak pertengahan 2007. Nelayan Aceh Singkil misalnya, dalam dua minggu selama Juni-
Juli 2007 melihat sekawanan (sekitar 25) kapal pukat trawl yang diduga dari Sibolga Sumatera
Utara dioperasikan di perairan Singkil.

Nelayan takut melaut. Selain tidak mendapatkan ikan dalam jumlah normal, baik melalui jaring
maupun pancing (irik), para operator pukat harimau itu juga mengancam keselamatan nelayan.
Salah seorang Panglima Laot Lhok di Bakongan (Aceh Selatan), Pawang Ismail, menyebutkan
bahwa nelayan Aceh Selatan sangat resah dan sengsara akibat boat dari luar Aceh, umumnya
diduga dari dari Sibolga.

Pada hari Sabtu (14 Juli 2007) dini hari, wartawan Harian Aceh bersama seorang nelayan
memantau langsung sejumlah pukat harimau dari jarak sekitar 200 meter di lepas pantai. Ada
empat pukat harimau yang dipantau secara sembunyi-sembunyi ketika alat itu sedang
dioperasikan.

Menurut keterangan Iswadi (24), nelayan Gampong Siti Ambia (Aceh Singkil), jarak operasi pukat
harimau berkisar 1.300-1.400 meter dari pantai, dengan wilayah operasi kawasan Gosong
Telaga, Kuala Baru, dan Pulau Banyak. Besar dugaan penjarahan itu berlangsung sampai ke Aceh
Barat, Aceh Selatan, dan Aceh Barat Daya.

Bahkan dalam kondisi tertentu terutama di pagi hari, pukat harimau bahkan dioperasikan pada
jarak sekitar 600-700 meter dari pantai. Penjarahan itu sudah berlangsung lama. Iswadi nelayan
itu mengaku pendapatan nelayan merosot.

Fajar Munthe (38) nelayan yang sering memancing di Laut Tengah, sudah tidak lagi ke sana
karena takut berpapasan dengan kawanan kapal trawl. (Harian Aceh, 16 Juli 2007). Nelayan
dalam kawasan Panglima Laot Lhok di Aceh Barat mengatakan, di kawasan tersebut berlabuh
kapal-kapal luar yang menggunakan pukat harimau (trawl) (Serambi Indonesia, 18 Juli 2007).
Berbagai cara telah dilakukan untuk memburu pukat trawl. Namun, upaya itu selalu membawa
kegagalan.

Masalah ini, nelayan menggugat kepastian hukum atas pemakai pukat trawl dan segera
ditertibkan. Di perairan Aceh Timur, trawl juga menjadi salah satu yang menggelisahkan nelayan
di sana (Serambi Indonesia, 2 Juli 2007). Hal yang sama dialami nelayan di kawasan Aceh Barat
Daya. Nelayan luar daerah dan negara asing, dilaporkan telah menguras ikan di kawasan
perairan Aceh Barat Daya.
Sementara nelayan setempat hanya bisa pasrah lantaran peralatan tangkap yang digunakan
kalah bersaing dengan nelayan luar. Kapal luar tersebut tidak mengalami hambatan siang malam
beroperasi kurang dari empat mil dari garis pantai.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Abdya, Ir. Zuriat, mengungkapkan bahwa nelayan di sana
kalah bersaing dalam peralatan tangkap, sedangkan nelayan luar beroperasi sampai empat mil
dari garis pantai, sementara wilayah perairan laut kabupaten hanya 4 mil dari garis pantai.
(Serambi Indonesia, 2 Juli 2007).

Dipastikan bahwa trawl yang ditemukan beroperasi di Aceh adalah karena pengawasan yang
lemah yang menyebabkan penegakan hukum sulit dilakukan. Pergeseran wilayah tangkapan,
diyakini sebagai akibat dari menipisnya sumberdaya perikanan di kawasan tersebut, sehingga
terjadi persaingan dengan wilayah tangkapan tradisional.

http://www.kabarindonesia.com

DKP Tetap Tidak Ijinkan Pengoperasian Pukat Harimau

Kapanlagi.com - Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) hingga saat ini masih tetap
mememberlakukan larangan penggunaan trawl atau pukat harimau pada kapal nelayan untuk
menangkap ikan di laut guna melindungi sumber daya perikanan.

Penegasan tersebut dinyatakan Kepala Pusat Informasi dan Pelayanan Masyarakat DKP, Aji Sularso, di
Jakarta, Rabu (27/4) menanggapi pro kontra atas Keputusan Presiden Nomor 39 Tahun 1980 tentang
pelarangan pengguanan alat tangkap jaring trawl di kalangan nelayan yang saat ini masih terus
berlangsung dan dikuatirkan menimbulkan konflik sosial antar nelayan.

"Pemerintah lebih mementingkan sisi keamanan sosial dari pada memelihara konflik. Untuk itu, Kepres
No 39/1980 tetap harus di berlakukan. Dengan masih memberlakukan Kepres tersebut lebih banyak
manfaatnya," katanya.

Saat ini di kalangan nelayan terjadi pertentangan terhadap larangan penggunaan trawl dalam
penangkapan ikan, yang mana sebagian dari mereka menginginkan agar Keppres No 39/1980 tersebut
dicabut dengan alasan kendati alat tangkap trawl dilarang penggunannya namun jenis alat tangkap yang
sama marak dipergunakan nelayan.

Sementara terdapat kalangan nelayan yang menginginkan agar trawl tetap dilarang dengan
pertimbangan melindungi lingkungan dan melestarikan sumberdaya perikanan.

Mengenai masih maraknya penggunaan alat tangkap jaring trawl meskipun pemerintah telah
mengeluarkan larangan, Aji mengakui hal tersebut dilakukan nelayan baik skala kecil maupun industri
dengan memodifikasi alat tangkap tersebut untuk menyiasati Kepres 39/1980 itu.

Berbagai jenis modifikasi trawl yakni berupa, pukat udang, pukat ikan, jaring arad, cantrang, dogol
ataupun lamparan dasar.

Menurut Aji, metode alat tangkap yang ramah lingkungan yang bersandar pada "Code of Conduct
Responsible Fisheries" menjadi acuan dari berbagai alat tangkap yang dipergunakan di seluruh negara di
dunia dan hal itu kemudian menelurkan Keppres No 39/1980.
Selain itu pemerintah juga mengeluarkan aturan tentang penggunaan pukat udang di perairan Kepulauan
Kei, Tanimbar, Aru, Irian Jaya dan Laut Arafura yang tertang dalam Keppres No 85/1982 serta Kepmen
Pertanian No 770/1996 yang juga memberikan ijin penggunaan trawl (pukat ikan) di Zona Eksklusif
Ekonomi Indonesia (ZEEI) Samudera Hindia Perairan Barat Sumatera sekitar di NAD.

"Pemerintah hanya memberikan ijin penggunaan trawl pada daerah-daerah tertentu berdasarkan kontur
geografis. Di Laut Arafura misal diperbolehkan karena selain potensi udang di sana berlimpah juga
perairannya cukup dalam," katanya.(*/dar)
www.kapanlagi.com
Kapal Pukat adalah kapal yang digunakan untuk menangkap ikan. Adapun jenis dan ukurannya
bermacam-macam. Demikian juga alat tangkapnya .

PENANGKAPAN IKAN LAUT


ALAT TANGKAP IKAN
Banyaknya jenis ikan dengan segala sifatnya yang hidup di perairan yang lingkungannya berbeda-
beda, menimbulkan cara penangkapan termasuk penggunaan alat penangkap yang berbeda-beda
pula. Adalah juga sifat dari ikan pelagis selalau berpindah-pindah tempat, baik terbatas hanya
pada suatu daerah maupun berupa jarak jauh seperti ikan tuna dan cakalang yang melintasi
perairan beberapa negara tetangga Indonesia.
Setiap usaha penangkapan ikan di laut pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan daerah
penangkapan, gerombolan ikan, dan keadaan potensinya untuk kemudian dilakukan operasi
penangkapannya. Beberapa cara untuk mendapatkan kawasan ikan sebelum penangkapan
dilakukan menggunakan alat bantu penangkap yang biasa disebut rumpin dan sinar lampu.
Kedudukan rumpon dan sinar lampu untuk usaha penangkapan ikan di perairan Indonesia sangat
penting ditinjau dari segala aspek baik ekologi, biologi, maupun ekonomi. Rumpon digunakan pada
siang hari sedangkan lampu digunakan pada malam hari untuk mengumpulkan ikan pada
titik/tempat laut tertentu sebelum operasi penangkapan dilakukan dengan alat penangkap ikan
seperti jaring, huhate dsb.
Dilihat dari segi kemampuan usaha nelayan, jangkauan daerah laut serta jenis alat penangkapan
yang digunakan oleh para nelayan Indonesia dapat dibedakan antara usaha nelayan kecil,
menengah, dan besar. Dalam melakukan usaha penangkap ikan dari tiga kelompok nelayan
tersebut digunakan sekitar 15 s/d 25 jenis alat penangkap yang dapat dibagi dalam empat
kelompok sebagai berikut.

1 Pukat Payang termasuk lampara, Pukat pantai, Pukat cincin


2 Jaring Jaring insang hanyut, Jaring insang lingkar, Jaring klitik, Jaring trammel
3 Jaring Angkat Bagan Perahu, Bagan Tancap, Bagan Rakit, Serok, Bondong dan banrong
4 Pancing Rawi tuna, Rawai hanyut selain, Rawai tetap, Huhate, Pancing tonda, Pancing tangan-
hand lin

Penjelasan Singkat tentang Alat Penangkap Ikan Laut


Pukat cincin harus berbentuk selembar jaring yang terdiri dari sayap dan pembentuk kantong.
Keberhasilan pengoperasian pukat cincin dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu ketepatan melingkari
gerombolan ikan, kecepatan tenggelam pemberat dan kecepatn penatikan tali kolor. Pengaturan
jaring harus tepat dan cepat sehingga gerombolan atau kawanan ikan tidak punya kesempatan
untuk keluar dari lingkaran jaring.
Payang mempunyai bentuk terdiri dari sayap, badan dan kantong, dua buah sayap yang terletak di
sebelah kanan dan kiri badan payang, setiap sayap berukuran panjang 100-200 meter, bagian
badan jaring sepanjang 36-65 meter dan bagian kantong terletak di belakang bagian badan payang
yang merupakan tempat terkumpulnya hasil tangkapan ikan adalah sepanjang 10-20 meter
Jaring insang hanyut yang digunakan harus mempunyai spesifikasi yang terdiri dari lima faktor
utama, yaitu daya apung jaring harus lebih besar dari pada daya tenggelamnya, warna jaring yang
baik adalah hijau sampai biru muda, benang yang digunakan adalah nylon benang ganda atau
tunggal. Besar mata jaring adalah 2,5-3,0 inci yang dipasang pada tali ris atas dengan koefisien
pengikatan 30-40%
Jaring lampara mirip jaring payang yaitu terdiri dari sayap kiri dan kanan di samping kantong.
Jaring tersebut dilengkapi dengan sebuah cincin dari besi berdiameter sekitar 2 meter. Kantong
lampara lebih cenderung menggelumbung agar ikan pelagis kecil yang ditangkap tidak mudah mati
(ikan umpan hidup)

Jaring angkat adalah jaring yang diturunkan di laut dan diangkat secara vertikal ke atas pada saat
gerombolan ikan ada di atas jaring tersebut. Jaring angkat ditempatkan di beberapa jenis bagan di
laut atau dioperasikan dari perahu kecil maupun langsung oleh para nelayan dekat pantai.
Berdasarkan bentuk dan cara pengoperasian ada beberapa macam jaring angkat maupun jaring
dorong, misalnya bagan tancap (stationary), bagan rakit, bagan perahu, kelong Betawi, serok,
jaring rajungan dan kepiting, Bondong dan banrong. Pecak dan Anco, jaring dorong, sodo biasa,
sodo perahu, sodo sangir, siru, siu, songko dan seser.

Dogol, cantrang, dapang, potol, payang alit bentuk alat penangkap tersebut mirip payang tetapi
ukuran lebih kecil. Dilihat dari fungsi dan hasil tangkapannya ia menyerupai cicncin pukat (trawl),
yaitu untuk menangkap ikan demersal dan udang.
Jaring Penggiring adalah jaring yang dioperasikan sedemikian rupa, yaitu dengan melakukan
penggiringan atau menghalau ikan-ikan agar masuk jaring atau menggerakkan jaring itu sendiri
dari tempat yang agak dalam ke tempat yang lebih dangkal untuk kemudian dilakukan
penangkapan ikan. Jaring penggiring atau drive-innet dapat terdiri dari jaring sayap dan jaring
kantong, dapat juga berbentuk segi tiga atau segi empat lengkap dengan jaringan kantong. Jenis-
jenis drive in-net yang terkenal di Indonesia adalah :muroami, soma malalugis, jaring kalase,
jaring klotok, jaring saden, pukat rarape, ambai, pukat rosa, dan talido.
Alat pancing terdiri dari dua komponen utama, yaitu tali dan mata kail. Jumlah mata yang
terdapat pada tiap perangkat pancing bisa tunggal maupun ganda, bahkan banyak sekalli
(beberapa ratus mata kail) tergantung dari jenis pancingnya. Selain dua komponen utama tali dan
mata pancing, alat pancing dapat dilengkapi dengan komponen lainnya, misalnya tangkai (pole),
pemberat, pelampung dan kili-kili (swivel). Pada umumnya mata pancing diberikan umpan baik
dalam bentuk mati maupun hidup atau umpan tiruan. Banyak mavam alat pancing digunakan oleh
para nelayan, mulai dari bentuk yang sederhana sampai dalam bentuk ukuran skala besar yang
digunakan untuk perikanan industri.

Selamat Datang Pukat Harimau


Kamis, 10-04-2008 16:03:04 oleh: bajoe

Pemerintah, dalam hal ini Departemen Kelautan, berencana mengijinkan penggunaan pukat
harimau (trawl) di seluruh perairan Indonesia. Ini adalah kabar buruk bagi dunia kelautan dan
lingkungan hidup.
Pukat harimau adalah metode menangkap ikan dengan cara membabi buta. Biasanya menggunakan
beberapa perahu/kapal dengan jaring yang sangat lebar, panjang dan dalam. Sehingga area
tangkapan ikan pun lebih luas, lebih banyak ikan yang ditangkap dalam waktu singkat. Tentu ini
secara ekonomi adalah efisien dan efektif.
Namun efek dari jaring pukat harimau itu, banyak juga ikan kecil-kecil maupun ikan yang tidak
bisa dikonsumsi ikut tertangkap. Ikan-ikan yang tidak berguna ini biasanya mati begitu saja dan
dibuang kembali ke laut. Di sinilah efek negatif jaring pukat harimau, sangat kuat untuk merusak
lingkungan.
Dan sebenarnya dalam jangka panjang akan merugikan kepentingan ekonomi bangsa juga. Karena
penggunaan pukat harimau ini, maka banyak ikan-ikan kecil yang ikut mati terjaring. Akibatnya
pada kurun waktu tertentu, ikan-ikan tersebut akan habis karena tidak sempat regenerasi dengan
alami. Sebagian pengguna pukat harimau ini adalah nelayan asing. Buat mereka tidak masalah,
karena bila di perairan Indonesia sudah kosong ikan, dapat pindah ke perairan lain. Tinggal
nelayan kita yang gigit jari.
Di beberapa negara penggunaan pukat harimau atau trawl ini sudah dilarang. Indonesia
sebenarnya juga sudah melarang penggunaan pukat harimau sejak tahun 1980 , lewat Keppres
39/1980. Meskipun sudah ada larangan, tapi kenyataan di lapangan, masih ada saja kapal nelayan
modern yang mencuri-curi menggunakan pukat harimau ini.
Nah, menurut rekomendasi dari Bappenas, daripada dilarang-larang tetapi kenyataannya masih
ada nelayan yang menggunakan pukat harimau, maka sebaiknya diperbolehkan saja. Bappenas
meneliti ada 6 daerah nelayan yang masih menggunakan pukat harimau, meski dilarang, yaitu
Nunukan, Tegal, Padang, Bagan Siapi-api, Pekalongan, dan Cilacap.
Rekomendasi Bappenas inilah yang menjadi dasar Departemen Kelautan untuk mengijinkan
penggunaan pukat harimau. Sekarang sedang diupayakan untuk mencabut atau merevisi Keppres
39/1980 di atas.
Ada alasan lain dari Departemen Kelautan yang hendak membuka ijin penggunaan pukat harimau
ini. Aku kutipkan dari harian Kontan, 10 April 2008 :
Izin operasi pukat harimau di daerah perbatasan sekaligus untuk menjaga wilayah perbatasan,
"Bila mengandalkan petugas perairan, tidak bisa setiap hari mondar mandir di wilayah
tersebut,"kata Soen'an Hadi Poernomo, Kepala Pusat Data, Statistik, dan Informasi Departemen
Kelautan dan Perikanan.
Rasanya ini kebijakan yang aneh. Ketidakmampuan aparat keamanan menjaga wilayah perbatasan
di laut, kok kemudian dibebankan pada nelayan? Kompensasinya boleh tangkap ikan sesukamu.
Lalu karena selama ini sering terjadi pelanggaran pukat harimau, maka rekomendasi Bappenas kok
malah minta Keppresnya direvisi? Bukankah semestinya minta penambahan aparat untuk menjaga
perbatasan maupun menangkap nelayan yang menggunakan pukat harimau?
Para menteri pembantu Presiden SBY akhir-akhir ini memang sering aneh logika berpikirnya. Ada
penelitian dari IPB soal susu formula tercemar, Menkesnya malah meradang di televisi, menuduh
penelitinya tidak benar. Ada film Fitna dari negeri Belanda yang menghina agama, malah situs-
situs yang menayangkan diblokir oleh Menteri Komunikasi dan Informasi. Sekarang soal kelautan,
karena peraturan sering dilanggar nelayan maka akan dibebaskan penggunaan pukat harimau oleh
Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi.

SET NET SEBAGAI ALTERNATIF ALAT TANGKAP IKAN HEMAT ENERGI


Januari 1, 2008 in tekno-alat tangkap
27/04/07 ' Lain-lain: Artikel-dkp.go.id
Pada saat ini nelayan dan pengusaha perikanan tangkap dipusingkan dengan harga bahan bakar
minyak yang cukup tinggi dan ditambah lagi semakin sulit atau jauh mencari daerah penangkapan
ikan. Dengan keadaan seperti ini tentu sangat diperlukan untuk mencari alternatif jenis alat
tangkap yang pengopeasiannya hemat energi (bahan bakar minyak) dimana set net kemungkinan
dapat dikembangkan. Set net atau sero jarring adalah sejenis alat tangkap ikan bersifat menetap
dan berfungsi sebagai perangkap ikan dan biasanya dioperasikan di perairan pantai. Ikan umumnya
memiliki sifat beruaya menyusuri pantai, pada saat melakukan ruaya ini kemudian dihadang oleh
jaring set net kemudian ikan tersebut tergiring masuk ke dalam kantong. Ikan yang telah masuk ke
dalam kantong umumnya akan mengalami kesulitan untuk keluar lagi sehingga ikan tersebut akan
mudah untuk ditangkap dengan cara mengangkat jarring kantong. Satu unit set net terdiri dari
beberapa bagian yakni penaju (leader net), serambi (trap/play ground), ijeb-ijeb (entrance) dan
kantong (bag/crib).
Jenis alat tangkap set net banyak dioperasikan oleh nelayan di Jepang sejak ratusan tahun yang
lalu dengan berbagai ukuran yakni kecil, sedang, dan besar. Set net berukuran kecil umumnya
dengan panjang penaju kurang dari 500 m dipasang pada kedalaman perairan kurang dari 20 m,
sedang yang berukuran besar memiliki panjang penaju antara 4000-5000 m dan dipasang pada
perairan dengan kedalaman antara 30 ' 40 m. Berbagai jenis ikan yang tertangkap oleh set net di
Jepang antara lain: sardine, ekor kuning, salmon, dan tuna. Produksi perikanan dari hasil
tangkapan set net di Jepang dapat mencapai 3 % dari produksi total dari hasil tangkapan perikanan
laut.
Di Indonesia terdapat berbagai jenis alat tangkap sejenis set net seperti jermal, sero, ambai,
belat dan perangkap lainnya. Perbedaan jenis alat tangkap ini dengan set net adalah bahan yang
digunakan yakni sebagian besar dari bambu, kecuali bagian kantong yang terbuat dari jaring. Jenis
ikan yang tertangkap juga berbeda dimana alat tangkap perangkap (trap) di Indonesia umumnya
menangkap jenis ikan demersal seperti layur, petek dan sebagian jenis ikan pelagis seperti sardine
dan tembang. Namun pada prinsipnya hampir sama yakni menghadang ruaya ikan kemudian
diarahkan masuk ke dalam perangkap/trap dan akhirnya ke kantong.
Uji Coba Set Net di Indonesia
Perikanan set net di Indonesia baru dalam taraf penelitian atau uji coba dan belum dikembangkan
oleh nelayan secara komersial. Uji coba alat set net pertama kali dilakukan oleh Balai Riset
Perikanan Laut/Balai Penelitian Perikanan Laut di perairan Pacitan Jawa Timur pada tahun 1981.
Pada tahun yang sama dilakukan juga uji coba di perairan Bajanegara Banten, kemudian diikuti uji
coba di Prigi Jawa Timur pada tahun 1982 dan di perairan Selat Sunda, Banten pada tahun 1990
dan 1993. Set net yang diujicoba berukuran relatif kecil dengan panjang penuju antara 100-300 m
dan dipasang di perairan pantai dengan kedalaman kurang dari 10 m.
Pada saat uji coba dilakukan penangkatan hasil tangkapan ikan dari kantong setiap hari. Rata-rata
hasil tangkapan ikan berkisar antara 20-30 kg/angkat. Hasil tangkapan tertinggi pernah mencapai
100 kg/angkat pada saat dilakukan uji coba di Pacitan. Jenis ikan yang tertangkap saat itu
didominasi oleh ikan demersial yang beruaya mengikuti pergerakan pasang surut seperti ikan
layur, petek, mata besar dan sebagian ikan pelagis sejenis sardine.
Selanjutnya kegiatan ujicoba set net juga dilakukan oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB
bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap di perairan Sorong Papua Barat pada
tahun 2006. Tipe set net yang diujicoba hampir sama dengan uji coba sebelumnya namun memiliki
ukuran yang lebih besar (penaju sekitar 500 m) dan dipasang di perairan yang lebih dalam (lebih
dari 20 m).
Kelebihan dan Kelemahan Set Net
Kelebihan
' Hemat bahan bakar karena alat dipasang menetap sehingga kapal tidak perlu berlayar jauh untuk
mencari daerah penangkapan.
' Jaring set net yang terpasang di laut dapat digunakan sebagai tempat berlindung (shelter) ikan-
ikan yang berukuran kecil sehingga tidak dimakan predator.
' Hasil tangkapan ikan relatif segar/masih hidup dan dapat diangkat/diambil sesuai dengan
kebutuhan pasar.
' Mudah dipindahkan dibanding dgn jenis trap yang ada di Indonesia.
' Sangat sesuai untuk pengembangan usaha perikanan skala menengah kebawah.
Kelemahan
' Hasil tangkapan set net sangat tergantung pada ruaya ikan sehingga untuk memasang set net
harus diketahui jalur ruaya ikan terlebih dulu.
' Jika digunakan penaju (lead net) cukup panjang akan mengganggu alur pelayaran kapal dan juga
pengoperasian alat tangkap lain.
' Tidak semua ikan tertangkap di dalam kantong, kadang-kadang tertangkap juga secara 'gilled or
entangled' di bagian penaju (lead net) atau serambi (trap net) terutama yang menggunakan bahan
jarring sehingga diperlukan pekerjaan tambahan untuk memeriksa bagian tersebut.
' Jaring harus sering dibersihkan terutama bagian kantong karena banyak ditempeli oleh kotoran
dan teritip.
Kemungkinan Pengembangannya
Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan memiliki garis pantai sekitar 81.000 km dengan berbagai
teluk dan semenanjung. Dengan topografi seperti ini maka wilayah perairan laut Indonesia sangat
potensial untuk dikembangkan perikanan set net. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan
sebelum pemasangan set antara lain: ketersedian sumber daya ikan yang menjadi tujuan
penangkapan, pola ruaya ikan yang menjadi tujuan penangkapan, kondisi perairan dimana set net
akan dipasang (topografi dasar, keadaan arus, pasang surut, dan gelombang).
Pengembangann alat tangkap set net sebaiknya dilakukan di wilayah perairan Indonesia bagian
timur karena disamping alasan sumberdaya ikan yang masih tersedia dan juga apabila dipasang
dengan ukuran yang besar tidak terlalu mengganggu arus pelayaran dan pengoperasian alat
tangkap lain. Jika dikembangkan di wilayah Indonesia timur tinggal memikirkan bagaimana cara
pemasaran hasil tangkapannya.

Gambar 4. Kapal Trawl (Pukat Harimau) di Kab. Bombana Sultra.

Gambar 5. Pengoperasian Trawl (Pukat Harimau).


Pukat harimau (trawl) yang merupakan salah satu alat penangkap ikan saat ini telah dilarang di
wilayah perairan Indonesia sesuai Keputusan Presiden RI No.39 Tahun 1980 tentang Penghapusan
Jaring Trawl, namun pada kenyataannya masih banyak nelayan yang melanggar dan
mengoperasikan alat tersebut untuk menangkap ikan. Indikatornya adalah karang mati, atau sulit
bertahan hidup di daerah dimana nelayannya sering menggunakan pukat harimau untuk
menangkap ikan.
Menurut data dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bombana terdapat 105 unit kapal
dengan alat tangkap trawl yang beroperasi di perairan Selat Tiworo yang berasal dari daerah
kecamatan Rumbia. Sedangkan nelayan yang menggunakan trawl sebanyak 127 orang (23 %) dari
keseluruhan nelayan.
Namun Keberadaan trawl (pukat harimau) di Kabupaten Bombana hingga saat ini membawa
dampak negatif yang sangat besar terhadap nelayan tradisional. Keberadaan nelayan trawl sangat
menggangu nelayan lainnya dan tidak sedikit kerugian yang diderita oleh nelayan tradisional
karena ulah nelayan trawl, dan yang paling menyedihkan adalah banyaknya alat tangkap bubu
yang hilang setiap malam dan rusaknya alat tangkap lainnya seperti bagan dan sero karena
tertabrak oleh kapal trawl, sehingga hampir seluruh nelayan tradisional dililit utang bukan karena
hasil tangkapan kurang, melainkan alat tangkap mereka raib di perairan. Rata-rata alat tangkap
bubu yang hilang setiap malamnya hingga mencapai 100 buah. Jika dirupiahkan harga 1 unit bubu
adalah Rp. 15.000,-. Jadi kerugian nelayan setiap malamnya mencapai Rp. 1.500.000,-. Kondisi ini
sudah berlangsung sejak tahun 1998.
Dampak keberadaan Trawl terjadinya perselisihan antara nelayan trawl dengan nelayan tradisional
sudah berulangkali terjadi; bahkan sudah mengarah ke tingkat anarkis. Upaya melakukan
perdamaian sudah sering dilakukan melalui pembagian jalur penangkapan tetapi kesepakatan ini
selalu dilanggar oleh nelayan trawl. Kesepakatan tidak dibarengi dengan pengawasan, sehingga
aksi penolakan terhadap trawl semakin gencar dilakukan oleh nelayan tradisional.
Kendala penghapusan trawl di Kabupaten Bombana mengalami kendala karena tidak adanya sarana
pengawasan dan lemahnya penegakkan hukum, HNSI tidak memperlihatkan peranannya dalam
menyelesaikan masalah ini bahkan HNSI sebagai wadah seluruh nelayan justru memperparah
permasalahan ini, sehingga nelayan tradisional semakin tertindas. Jika kondisi ini dibiarkan, maka
kemungkinan terjadi anarki antara nelayan trawl dengan nelayan tradisional.
www.thebloghub.com