Anda di halaman 1dari 27

AKUNTANSI PAJAK

MATERI KULIAH

PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

Penyusun Oleh:

AFLY YESSIE, SE, Msi

PROGRAM S1 JURUSAN AKUNTANSI


UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA
Ta. 2008/2009
2

PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

Sajarah Pajak Pertambahan Nilai


Pajak penjualan di Indonesia mulai 1 Oktober 1951 berdasarkan Undang-Undang
Darurat Tahun 1951 No 19 Lembar Negara No 94 Tahun 1951, yang kemudian
disahkan menjadi Undang-Undang No 35 Tahun 1951. Sebelum ada Pajak Penjualan
tahun 1951 telah ada Pungutan Pajak atas penyerahan barang yang dikenai dengan
Pajak Peredaran atas dasar Undang-Undang Darurat No 12 Tahun 1950 yang
ditetapkan tanggal 13 Februari 1950 yang perlakuannya ditangguhkan sampai Januari
1951. Pada Tahun 1983 dilakukan pembaruan yang dikenal dengan Pajak Pertambahan
NIlai (PPN) dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) yang berlaku efektif
tanggal 1 April 1985. Pada Tahun 2000 pemerintah melakukan perubahan undang-
undang yang berlaku efektif 1 Januari 2001.

Objek Pajak Pertambahan Nilai


Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas :
1. Penyerahan Barang KEna Pajak didalam Daerah Pabean yang dilakaukan oleh
pengusaha;
Penyerahan barang yang dikenakan pajak haras memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut :
a. Barang berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena Pajak
b. Barang tidak berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena Pajak
tidak berwujud
c. Penyerahan dilakukan didalam Daerah Pabean
d. Penyerahan dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaan
pengusaha yang bersangkutan
2. Impor Barang Kena Pajak
Pajak yang dipungut pada saat impor barang. Pungutan dilakukan melalui Direktorat
Jendaral Bea dan Cukai. Berbeda dengan penyerahan Barang Kena Pajak ke dalam
Daerah Pabean tanpa memerhatikan apakah dilakukan dalam lingkungan
perusahaan atau pekerjaannya atau tidak, tetap dikenakan pajak. Impor Barang
Kena Pajak berdasarkan ketentuan Perundang-undangan Pabean dibebaskan dari

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
3

pungutan Bea Masuk, pajak yang terutang tetap dipungut kecuali ditetapkan lain
oleh Menteri Keuangan.
3. Penyerahan Jasa Kena Pajak yang diliakukan didalam Daerah Pabean yang
dilakukan oleh Pengusaha;
Penyerahan jasa yang terutang pajak harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut:
a. Jasa yang diserahkan merupakan Jasa Kena Pajak,
b. Penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean,
c. Penyerahan dilakukan dalam kegiatan usaha atau pekerjaan pengusaha yang
bersangkutan.
4. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean;
Untuk dapat memberikan perlakuan pengenaan pajak yang sama dengan impor
Barang Kena Pajak, maka atas Barang Kena Pajak tidak berwujud yang berasal dari
luar Daerah Pabean yang dimanfaatkan di dalam Daerah Pabean juga dikenakan
pajak.
5. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dan luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean;
atau terhadap jasa yang berasal dari luar Daerah Pabean yang dimanfaatkan di
dalam Daerah Pabean dikenakan pajak menurut Undang-Undang PPN.
6. Ekspor Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak;
Atas penyerahan Barang Kena Pajak dan dalam Daerah Pabean ke luar Daerah
Pabean dikenakan pajak menurut Undang-Undang PPN.
7. Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau
pekerjaan oleh orang pribadi atau badan;
Sesuai dengan ketentuan Pasal 16C Undang-Undang PPN dan PPnBM, Pajak
Pertambahan Nilai dikenakan atas kegiatan membangun sendini yang dilakukan
tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang
hasilnya digunakan sendiri atau digunakan oleh pihak lain yang batasan dan tata
caranya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.

Barang Pajak Pajak


Barang Kena Pajak (BKP) adalah barang berwujud yang menurut sifat atau hukumnya
dapat berupa barang bergerak atau barang tidak bergerak dan barang tidak berwujud
yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-Undang PPN dan PPnBM.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
4

Barang Kena Pajak dipersyaratkan:


1. Barang berwujud atau barang tidak berwujud (Merek Dagang Hak Paten, Hak Cipta,
dan lain-lain);
2. Dikenakan pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai

Pasal 4 A Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai yang memberikan peluang


pengaturan tentang jenis-jenis barang yang tidak dikenakan PPN meliputi :
1. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang yang diambil langsung dari
sumber jenisnya seperti minyak mentah (crude oil), gas bumi, pasir dan kerikil, bijih
besi, bijih timah, dan bijih emas.
2. Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak seperti
beras dan gabah, jagung, sagu, kedelai, garam baik yangberyodium maupun yang
tidak beryodium.
3. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung dan
sejenisnya. Tidak dikenakannya inilah untuk menghindarkan pajak berganda karena
telah ditetapkan sebagai objek pajak daerah.
4. Uang, emas batangan, dan surat-surat berharga.

Jasa Kena Pajak


Jasa Kena Pajak (JKP) adalah setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perikatan
atau perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang atau fasilitas atau kemudahan
atau hak tersedia untuk dipakai, termasuk jasa yang dilakukan untuk menghasilkan
barang karena pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari
pemesan, yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-Undang PPN dan PPn BM.

Pasal 4A ayat (3) Undang-Undang PPN dan PPnBM telah menetapkan jenis jasa yang
tidak dikenakan PPN meluputi :
1. Jasa di bidang pelayanan kesehatan medik.
2. Jasa di bidang pelayanan sosial.
3. Jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko.
4. Jasa di bidang perbankan, asuransi, dan sewa guna usaha dengan hak opsi
5. Jasa di bidang keagamaan.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
5

6. Jasa di bidang pendidikan.


7. Jasa di bidang kesenian dan hiburan yang telah dikenakan pajak hiburan
8. Jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan.
9. Jasa di bidang angkutan umum di darat dan di air.
10. Jasa di bidang tenaga kerja.
11. Jasa di bidang perhotelan.
12. Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan
secara umum.

PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK (BKP)


Pengertian penyerahan dimaksudkan sebagai penyerahan hak, pengalihan hak atas
barang, pemakaian sendiri dan penyerahan lainnya seperti penyerahan karena
konsinyasi. Termasuk dalam pengertian penyerahan Barang Kena Pajak sesuai
Undang-Undang PPN adalah:
1. Penyerahan hak atas Barang Kena Pajak karena suatu perjanjian;
Perjanjian yang dimaksudkan meliputi jual beli, tukar-menukar, jual beli dengan
angsuran, atau perjanjian lain yang mengakibatkan penyerahan hak atas barang.
2. Pengalihan Barang Kena Pajak karena suatu perjanjian sewa beli dan perjanjian
leasing;
Penyerahan Barang Kena Pajak juga dapat terjadi karena perjanjian sewa beli atau
perjanjian sewa guna usaha (leasing). Adapun yang dimaksud dengan penyerahan
karena perjanjian sewa guna usaha adalah penyerahan yang disebabkan oleh
perjanjian sewa guna usaha dengan hak opsi. Meskipun pengalihan atau
penyerahan hak atas Barang Kena Pajak belum dilakukan dan pembayaran atas
harga jual Barang Kena Pajak tersebut dilakukan secara bertahap, tetapi karena
penguasaan atas Barang Kena Pajak telah berpindah dari penjual kepada pembeli
atau dari lessor kepada lessee, maka penyerahan Barang Kena Pajak dianggap
telah terjadi pada saat perjanjian ditandatangani, kecuali apabila saat berpindahnya
penguasaan secara nyata atas Barang Kena Pajak tersebut terjadi lebih dahulu
daripada saat ditandatanganinya perjanjian.
3. Penyerahan Barang Kena Pajak kepada pedagang perantara atau melalui juru
lelang;
Pedagang perantara adalah orang pribadi atau badan yang dalam lingkungan
perusahaan atau pekerjaannya dengan nama sendiri melakukan perjanjian atau

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
6

perikatan atas dan untuk tanggungan orang lain dengan mendapat upah atau balas
jasa tertentu, misalnya komisioner. Sedangkan yang dimaksud dengan juru lelang
adalah juru lelang pemerintah atau yang ditunjuk oleh Pemerintah.
4. Pemakaian sendiri dan atau pemberian cuma-cuma atas Barang Kena Pajak;
Pemakaian sendiri diartikan pemakaian untuk kepentingan pengusaha sendiri,
pengurus, atau karyawannya. Sedangkan pemberian cuma-cuma diartikan sebagai
pemberian yang diberikan tanpa pembayaran, antara lain pemberian contoh barang
untuk promosi kepada relasi atau pembeli.
5. Persediaan Barang Kena Pajak dan aset yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan sepanjang
PPN atas perolehan aset tersebut menurut ketentuan dapat dikreditkan;
Persediaan Barang Kena Pajak dan aset yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan disamakan
dengan pemakalan sendiri sehingga dianggap sebagai penyerahan Barang Kena
Pajak. Khusus untuk aset yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan,
hanya dikenakan PPN apabila memenuhi persyaratan yaitu bahwa PPN yang
dibayar pada saat perolehannya dapat dikreditkan.
6. Penyerahan Barang Kena Pajak dari pusat ke cabang taua sebaliknya dan
penyerahan Barang Kena Pajak antarcabang ;
Apabila suatu perusahaan mempunyai lebih dari satu tempat pajak terhutang yaitu
tempat melakukan penyerahan Barang Kena Pajak kepada pihak lain, baik sebagai
pusat maupun sebagai cabang perusahaan, maka undang-undang ini menganggap
bahwa pemindahan Barang Kena Pajak anatartempat tersebut merupakan
penyerahan Barang Kena Pajak. Yang dimaksud dengan cabang dalam ketentuan
ini termasuk antara lain lokasi usaha, perwakilan, unit pemasaran dan sejenisnya.
7. Penyerahan Barang Kena Pajak secara konsinyansi;
Dalam hal penyerahan secara konsinyasi, PPN yang sudah dibayar pada waktu
Barang Kena Pajak yang bersangkutan diserahkan untuk dititipkan dapat dikreditkan
dengan Pajak Keluaran pada Masa Pajak terjadinya penyerahan Barang Kena Pajak
yang dititipkan tersebut.

Tidak Termasuk Penyerahan Barang Kena Pajak


Tidak termasuk dalam pengertian penyerahan Barang Kena Pajak adalah :

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
7

1. Penyerahan Barang Kena Pajak kepada makelar sebagaimana dimaksud dalam


Kitab Undang-Undang Hukum Dagang;
Pengertian makelar dalam KUHD yaitu pedagang perantara yang diangkat oleh
Presiden atau oleh pejabat yang oleh Presiden dinyatakan berwenang untuk itu.
Dalam menyelenggarakan perusahaannya, yaitu melakukan pekerjaan dengan
mendapat upah atau provisi tertentu atas amanat dan atas nama orang-orang lain
yang dengan mereka tidak terdapat hubungan kerja.
2. Penyerahan Barang Kena Pajak untuk jaminan utang-piutang
3. Penyerahan Barang Kena Pajak dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan
penyerahan Barang Kena Pajak antarcabang, dalam hal Pengusaha Kena pajak
tersebut telah memperoleh izin pemusatan tempat pajak terhutang dari Direktur
Jenderal Pajak, maka pemindahan Barang Kena Pajak dari satu tempat usaha ke
tempat usaha lainnya (pusat ke cabang atau sebaliknya atau antarcabang) dianggap
tidak termasuk dalam pengertian penyerahan Barang Kena Pajak, kecuali
pemindahan Barang Kena Pajak antartempat pajak terhutang.
4. Penyerahan Barang Kena Pajak dalam rangka perubahan bentuk usaha atau
penggabungan usaha atau pengalihan seluruh aset perusahaan yang diikuti dengan
perubahan pihak yang berhak atas Barang Kena Pajak. Apabila terjadi perubahan
bentuk usaha atau penggabungan usaha atau pengalihan seluruh aset perusahaan
yang mengakibatkan juga terjadinya perubahan pihak yang berhak atas Barang
Kena Pajak, maka peristiwa tersebut diperlakukan sebagai tidak terjadi penyerahan
Barang Kena Pajak

PENYERAHAN JASA KENA PAJAK


Pengertian Penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP) adalah setiap kegiatan pemberian JKP,
termasuk JKP yang digunakan untuk kepentingan sendiri atau Jasa Kena Pajak yang
diberikan secara cuma-cuma oleh Pengusaha Kena Pajak. Pemakaian JKP untuk
kepentingan sendiri atau pemberian JKP secara cuma-cuma termasuk dalam pengertian
penyerahan JKP, dengan pertimbangan untuk mempertahankan adanya perlakuan yang
sama sebagaimana halnya pada pemakaian Barang Kena Pajak untuk kepentingan
sendiri atau penyerahan barang secara cuma-cuma oleh Pengusaha Kena Pajak.

Jasa Kustodian

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
8

Jasa kustodian merupakan jasa yang dilakukan oleh bank yang dapat berupa jasa
penitipan, jasa settlement, jasa aksi korporasi (corporate actions), dan jasa registrasi.
Jasa custodian yang berupa jasa penitipan adalah jasa yang terutang PPN. Sedangkan
Jasa custodian yang berupa jasa settlement, jasa corporate actions, dan jasa registrasi
merupakan jasa yang dikecualikan dari pengenaan PPN.

Jasa Consumer Credit, Credit Card dan Debit Card


Berdasarkan Surat Edaran No. 34/PJ.53/1995 Tanggal 1 Agustus 1995, jasa consumer
credit, Credit card, dan debit card merupakan jenis jasa yang tidak dikenakan PPN,
sehingga atas penyerahannya tidak terutang PPN. Atas penyerahan Barang Kena Pajak
atau JKP yang harganya dilunasi dengan menggunakan fasilitas consumer credit atau
credit card atau debit card, tetap terutang PPN dan/atau PPnBM sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.

Penagihan Listrik dan Telepon oleh Bank


Berdasarkan Surat Edaran No. SE. 631PJ.5311995 Tanggal 29 Desember 1995, jasa
penagihan rekening listrik dan telepon yang dilakukan oleh bank merupakan jasa yang
tidak dikenakan PPN. Dengan demikian atas penyerahan jasa penagihan listrik dan
telepon tersebut tidak terutang PPN.

Jasa Angkutan dan Jasa Ekspedisi Muatan


Surat Direktur Jenderal Pajak No. S-4261PJ.5311996 Tanggal 13 Februari 1996
menyatakan bahwa jasa angkutan umum di darat, laut, udara, udara, maupun sungai
yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh swasta, dan jasa angkutan udara luar
negari termasuk di dalamnya jasa angkutan dalam negeri yang menjadi bagian yang
tidak terpisahkan dari jasa angkutan udara luar negeri tersebut, meruakan salah satu
kelompok jenis jasa yang tidak dikenakan PPN.

PAJAK PENJUALAN AlAS BARANG MEWAH


Terhadap penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) di samping dikenakan Pajak
Pertambahan Nilai (PPN) sebagaimana telah disebut dalam Pasal 4 Undang-Undang
PPN dan PPnBM dikenakan juga Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM)

Beberapa karakteristik yang perlu dipahami dalam PPnBM adalah :

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
9

1. Pengenaan terhadap PPnBM ini hanya satu kali yaitu pada saat penyerahan BKP
yang tergolong mewah oleh pengusaha yang menghasilkan atau pada saat impor.
2. PPnBM tidak dapat dilakukan pengkreditannya dengan PPN. Apabila eksportir
mengekspor BKP yang tergolong mewah, maka PPnBM yang telah dibayar pada
saat perolehan dapat direstitusi.

Objek Pajak Penjualan atas Barang Mewah


Sebagai Objek Pajak Penjualan atas Barang Mewah adalah:
1. Penyerahan Barang Kena Pajak yang tergolong mewah yang dilakukan oleh
pengusaha yang menghasilkan Barang Kena Pajak yang tergolong mewah tersebut
di dalam Daerah Pabean dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya
2. Impor Barang Kena Pajak yang tergolong mewah.

TARIF PAJAK
Tarif Pajak Pertambahan Nilai
1. Tarif Pajak Pertambahan Nilai sebesar 10% (sepuluh persen)
Tarif PPN yang berlaku atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan
JKP adalah tarif tunggal, sehingga mudah dalam pelaksanaannya dan tidak
memerlukan daftar penggolongan barang atau penggolongan jasa dengan tariff yang
berbeda sebagaimana berlaku pada Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
2. Tarif Pajak Pertambahan Nilai atas ekspor Barang Kena Pajak sebesar 0% (nol
persen).
Pajak Pertambahan Nilai adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi Barang Kena
Pajak di dalam Daerah Pabean. Oleh karena itu, Barang Kena Pajak yang diekspor
atau dikonsumsi di luar Daerah Pabean, dikenakan PPN dengan tariff 0% (nol
persen). Pengenaan tarif 0% (nol persen) bukan berarti pembebasan dari
pengenaan PPN. Dengan demikian, Pajak Masukan yang telah dibayar dari barang
yang diekspor tetap dapat dikreditkan.

Tarif pajak Penjualan atas Barang Mewah


1. Tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah adalah serendah-rendahnya 10%
(sepuluh persen) dan paling tinggi 75% (tujuh puluh lima persen). Tarif Pajak
Penjualan atas Barang Mewah dapat ditetapkan dalam beberapa pengelompokan
tarif, yaitu tarif terendah sebesar 10% (sepuluh persen) dan paling tinggi 75% (tujuh

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
10

puluh lima persen). Perbedaan kelompok tariff tersebut didasarkan pada


pengelompokan Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah yang atas
penyerahannya dikenakan juga Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
Pengelompokan Barang Kena Pajak ini ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
2. Atas ekspor Barang Kena Pa,jak yang Tergolong Mewah dikenakan pajak dengan
tarif 0% (nol persen).
Pajak Penjualan atas Barang Mewah adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi
Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah di dalam Daerah Pabean. Oleh karena
itu, Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah yang diekspor atau dikonsumsi di
luar Daerah Pabean, dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan tarif
0% (nol persen). Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang telah dibayar atas
perolehan Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah yang diekspor tersebut dapat
diminta kembali.

DASAR PENGENAAN PAJAK


Untuk menghitung besarnya pajak yang terutang, diperlukan adanya Dasar Pengenaan
Pajak (DPP). Pajak yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tariff pajak dengan
Dasar Pengenaan Pajak.
Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah Harga Jual atau Penggantian atau Nilai Impor
atau Nilai Ekspor atau Nilai Lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan
yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang.

Selanjutnya yang dimaksud dengan Harga Jual, Penggantian, Nilai Ekspor, dan Nilai
Impor adalah:
1. Harga Jual
Harga jual ialah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau
seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak, tidak
termasuk PPN yang dipungut menurut Undang-Undang PPN dan PPnBM dan
potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak.
2. Penggantian
Penggantian ialah nilai berupa uang termasuk semua biaya yang diminta atau
seharusnya diminta oleh pemberi jasa karena penyerahan Jasa Kena Pajak, tidak
termasuk pajak yang dipungut menurut undang-undang ini dan potongan harga yang
dicantumkan dalam Faktur Pajak.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
11

3. Nilai Ekspor
Nilai Ekspor ialah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau yang
seharusnya diminta oleh eksportir. Nilai Ekspor dapat diketahui dari dokumen
ekspor, misalnya harga yang tercantum dalam Pemberitahuan Ekspor Barang
(PEB).
4. Nilai Impor
Nilai Impor ialah nilai berupa uang yang menjadi dasar perhitungan bea masuk
ditambah pungutan lainnya yang dikenakan berdasarkan ketentuan dalam Peraturan
Perundang-unclangan Pabean untuk impor Barang Kena Pajak, tidak termasuk
Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut Undang-Undang PPN dan PPnBM.

Nilai Lain sebagai Dasar Pengenaan Pajak


Nilai Lain yang dapat digunakan sebagai Dasar Pengenaan Pajak sesuai dengan
Keputusan Menteri Keuangan No. 251/KMK.03/2002 sebagai penyempurnaan
Keputusan Menteri Keuangan No. 567/KMK.04/2000 tentang Nilai Lain sebagai dasar
Pengenaan Pajak yang diberlakukan mulai tanggal 1 Juni 2002, yaitu :
1. Untuk pemakaian sendiri Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak adalah
Harga Jual atau Penggantian, setelah dikurangi laba kotor;
2. Untuk pemberian cuma-cuma Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak adalah
Harga Jual atau Penggantian, setelah dikurangi laba kotor;
3. Untuk penyerahan media rekaman suara atau gambar adalah perkiraan Harga Jual
Rata-Rata;
4. Untuk penyerahan film cerita adalah perkiraan hasil rata-rata per judul film;
5. Untuk persediaan Barang Kena Pajak yang masih tersisa pada saat pembubaran
perusahaan adalah harga pasar wajar;
6. Untuk aset yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan yang masih
tersisa pada saat pembubaran perusahaan adalah harga pasar wajar;
7. Untuk penyerahan jasa biro perjalanan atau jasa biro pariwisata adalah 10% sepuluh
persen) dari jumlah tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih;
8. Untuk jasa pengiriman paket adalah 10% (sepuluh persen) dari jumlah tagihan atau
jumlah yang seharusnya ditagih;

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
12

9. Untuk jasa anjak piutang adalah 5% dari jumlah seluruh imbalan yang diterima
berupa service charge, provisi, dan diskon;

Pajak yang terutang atas:


1. Pemakaian sendiri Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak adalah sebesar
10% x Harga Jual atau Penggantjan, setelah dikurangi laba kotor;
2. Pemberian cuma-cuma Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak adalah
sebesar 10% x Harga Jual atau Penggantian, setelah dikurangi laba kotor;
3. Penyerahan media rekaman suara atau gambar adalah 10% x perkiraan Harga Jual
Rata-Rata;
4. Penyerahan film cerita adalab 10% x perkiraan hasil rata-rata per judul film;
5. Persediaan Barang Kena Pajak yang masih tersisa pada saat pembubaran
perusahaah adalah sebesar 10% x harga pasar wajar;
6. Aset yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbeljkan sepanjang PPN atas
perolehan aset tersebut menurut ketentuan dapat dikreditkan sebesar 10% x harga
pasar Wajar;
7. Penyerahan jasa biro perjalanan/panjwjsata adalah sebesar 10% x 10% x jumlah
tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih, sehingga tarif efektif adalah 1% x
jumlah tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih;
8. Jasa pengiriman paket adalah sebesar 10% x10% x jumlah tagihan atau jumlah
tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih, sehingga tarif efektif adalah 1% x
jumlah tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih;
9. Penverahan jasa anjak piutang adalah sebesar 10% x 5% x jumlah seluruh imbalan
yang diterima berupa service charge, provisi, dan diskon, sehingga tariff efektif
adalab 0,5% x seluruh imbalan tersebut.

Nilai Lain sebagai Dasar Pengenaan Pajak Bagi PKP Pedagang Eceran
Nilai lain sebagai Dasar Pengenaan Pajak bagi PKP Pedagang Eceran dihitung dengan
cara sebagai berikut:
1. Pajak Pertambahan Nilai yang terutang oleh Pengusaha Kena Pajak Pedagang
Eceran adalah sebesar 10% x Harga Jual Barang Kena Pajak
2. Jumlah Pajak Pertambahan Nilai yang harus dibayar oleh pengusaha Kena Pajak
Pedagang Eceran adalah sebesar 10% x 20% x jumlah seluruh penyerahan barang
dagangan.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
13

Nilai Penyerahan yang Menggunakan Valuta Asing


Apabila terjadi penyerahan BKP dan/atau JKP yang pembayarannya ternyata dilakukan
dengan menggunakan valuta asing, maka sesuai Peraturan pemerintah (PP) No 50
Tahun 1994 diatur:
1. Pajak yang terutang harus dikonversi ke dalam mata uang rupiah dengan
menggunakan kurs yang berlaku sesuai Keputusan Menteri Keuangan pada saat
Faktur Pajak dibuat;
2. Terhadap penyerahan BKP dan/atau JKP dilakukan kepada pemungut PPN,
besarnya pajak yang terutang harus dikonversi ke mata uang rupiah dengan kurs
yang berlaku sesuai Keputusan Menteri Keuangan pada saat pemungut PPN
melakukan pembayaran.

CARA MENGHITUNG PAJAK


Cara Menghitung Pajak Pertambahan Nilai
Cara menghitung Pajak Pertambahan Nilai yang terutang adalah dengan mengalikan
Tarif Pajak Pertambahan Nilai (10% atau 0% untuk ekspor Barang Kena Pajak) dengan
Dasar Pengenaan Pajak.

PPN yang terutang = Tarif PPN x Dasar Pengenaan Pajak

Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai
Ekspor, atau Nilai Lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan yang dipakai sebagai
dasar untuk menghitung pajak yang terutang. Pajak Pertambahan Nilai yang terutang ini
merupakan Pajak Keluaran yang dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak. Bagi
Pengusaha Kena pajak pembeli merupakan Pajak Masukan.
Contoh :
Pengusaha Kena Pajak secara yang sudah menjual Barang Kena Pajak secara tunai
seharga Rp 40.000.000.
Besarnya PPN Terhutang 10% X Rp 40.000.000 = Rp 4.000.000

PPN atau PPnBM Menjadi Bagian dari Harga

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
14

Dalam hal PPN atau PPnBM telah menjadi bagian dari harga atau pembayaran atas
perahan barang kena pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak, maka PPN dan PPnBM
yang terutang dihitung: 1/110 atau 1/130 (tergantung tariff PPnBM) dikalikan dasar
pengenaan Pajak atau diartikan dengan dikalikan harga atau pembayaran atas
penyerahan Barang Kena Pajak atau Penyerahan Jasa Kena Pajak.
Contoh :
PT Cahaya membeli sebuah mobil seharga Rp 130.000.000 termasuk PPN dan PPnBM.

PPN Terhutang = 10 X Rp 130.000.000 =Rp 10.000.000


30
PnBM = 20 x 130.000.000 = Rp 20.000.000
Total PajakTerutang Rp 30.000.000

Perhitungan PPN dan PPnBM dalam Satu Transaksi


Dalam suatu transaksi dapat terjadi bahwa transaksi tersebut menjadi objek PPN dan
objek PPnBM karena BKP yang dijual tergolong mewah.
Contoh :
PT Yulanda adalah sebagai importir melakukan impor Air Conditioner (AC) sebanyak
2000 unit dari Jepang dengan harga impor (CIF) US $500,00 per unit, atas impor AC
terutang Bae Masuk 50%. Kurs berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Rp 7.000,00
per US$ 1,00.
Perhitungan PPN dan PPnBM
Harga Impor (CIF) = 2.000 X $ 500,00 X Rp 7.000 Rp 7.000.000.000
Bae Masuk 50% X Rp 7.000.000.000 Rp 3.500.000.000
Nilai Impor Rp 10.500.000.000
PPN terhutang 10% X Rp 10.500.000.000 Rp 1.050.000.000
PPnBM 20% X Rp 10.500.000.000 Rp 2.100.000.000
Jumlah yang harus dibayar importer Rp 13.650.000.000

Selanjutnya atas AC tersebut dijual kepada distribusi PT Segar dengan harga R


4.000.000 per unit AC. Perhitungan harga penyerahan sebagai jumlah yang bayar PT
Segar sebagai berikut:
Harga per unit AC Rp 4.000.000
Mengeliminasi PPnBM per unit 1/2000 X Rp 2.100.000.000 Rp 1.050.000

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
15

Dasar Pengenaan PPN Rp 2.950.000


PPN terhutang 10% X Rp 2.950.000 Rp 295.000
Jadi jumlah yang harus dibayar PT Segar Rp 4.000.000 + Rp 295.000 = Rp 4.295.000

Pemungut Pajak Pertambahan Nilai


Sesuai Ketentuan Pajak Pasal 1 angka 27 Undang-Undang PPN Tahun 2000 bahwa
Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai adalah bendaharawan Pemerintah atau pejabat
yang melakukan pembayaran yang dananya berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja
Negara/Anggaran Pendapatan Belanja Daerah.
Kewajiban yang melekat pada Wajib Pajak untuk melaporkan usaha dan kewajiban
memungut, menyetor dan melaporkan pajak yang terutang dalam Undang-Undang PPN
sebagai berikut:
1. Terhadap Pengusaha yang melakukan Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau
Penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam daerah Pabean dan/atau melakukan ekspor
Barang Kena Pajak diwajibkan:
a. Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak
b. Memungut pajak yang terutang;
c. Menyetor Pajak Pertambahan Nilai yang masih harus dibayar dalam hal Pajak
Keluaran lebih besar dari Pajak Masukan yang dapat dikreditkan serta menyetorkan
pajak;
d. Penjualan atas barang mewah yang terutang;
2. Pengusaha kecil yang memilih dikukuhkan menjadi PKP wajib melaksanakan
ketentuan butir di atas.
3. Orang pribadi atau badan yang memanfaatkan Barang Kena Pajak tidak berwujud
dari luar Daerah Pabean (perhatikan Pasal 4 huruf d Undang-Undang PPN) dan/atau
yang memanfaatkan Jasa Kena Pajak dari Luar Daerah Pabean (perhatikan Pasal 4
hurufe) wajib memungut, menyetor, dan melaporkan PPN yang terhutang (tata cara
diatur oleh Keputusan Menteri Keuangan).

FAKTUR PAJAK
Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak
karena penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak atau bukti
pungutan pajak karena impor Barang Kena Pajak digunakan oleh Direktorat Jendral Bea
dan Cukai.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
16

Jenis Faktur Pajak


Terdapat tiga jenis Faktur Pajak, yaitu:
1. Faktur Pajak Standar
Faktur Pajak Standar merupakan Faktur Pajak yang dapat digunakan sebagai bukti
pungutan pajak sebagai sarana untuk mengkreditkan Pajak Masukan. Untuk setiap
penyerahan Barang Kena Pajak atas penyerahan Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha
Kena harus dibuat satu Faktur Pajak Standar.

Faktur Pajak Standar harus mencantumkan keterangan-keterangan tentang


penyerahan Barang Kena Pajak atas Penyerahan Jasa Kena Pajak yang meliputi:
1. Nama, alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) yang menyerahkan Barang
Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak;
2. Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau
penerima Jasa Kena Pajak;
3. Jenis barang atau jasa, jumlah harga jual, atau penggantian, dan potongan
harga;
4. Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut;
5. Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut;
6. Kode, nomor seri, dan tanggal pembuatan Faktur Pajak;
7. Nama, jabatan, dan tanda tangan yang berhak menandatai Faktur Pajak Standar
Faktur Pajak Standar harus benar baik secara formal maupun secara materiil. Faktur
Pajak Standar harus diisi secara lengkap, jelas, benar, dan ditandatangani oleh
pejabat perusahaan yang ditunjuk oleh Pengusaha Kena Pajak untuk menandatangi
Faktur Pajak Standar yang tidak diisi sesuai dengan ketentuan ini dapat
mengakibatkan PPN tercantum di dalamnya tidak dapat dikreditkan.
Faktur Pajak Standar harus dibuat selambat-lambatnya:
1. Pada akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan
atau penyerahan keseluruhan Jasa Kena Pajak jika pembayaran diterima setelah
bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan keseluruhan Jasa Kena
Pajak, kecuali pembayaran terjadi sebelum akhir bulan berikutnya, maka Faktur

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
17

Pajak Standar harus dibuat selambat-lambatnya pada saat penerima pembayaran;


atau
2. Pada saat penerimaan pembayaran dalarn hal penerimaan pembayaran terjadi
sebelum penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau sebelum penyerahan Jasa Kena
Pajak; atau
3. Pada saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian
tahap pembayaran; atau
4. Pada saat Pengusaha Kena Pajak rekanan menyapaikan tagihan kepada
Pemungut Pajak Pertambahan Nilai.

Cara Pembuatan Faktur Pajak Standar:


1. Pengadaan Formulir Faktur Pajak Standar dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak
2. Bentuk Faktur Pajak Standar dibuat dengan ukuran kuarto yang isinya seperti
contoh pada Lampiran 2 dan petunjuk pengisiannya sebagaimana tercantum dalam
Lampiran 3 Keputusan Direktur Jenderal. Apabila diinginkan, Pengusaha Kena Pajak
dapat menyesuaikan ukuran kolom-kolom dari Faktur Pajak ,tetapi tidak
diperkenankan menambah atau mengurangi kolom yang sudah ada dan tidak
diperkenankan pula menghilangkan kolom PPnBM, meskipun Pengusaha Kena
Pajak yang bersangkutan tidak terutang PPnBM. Identitas dan data-data lain dari
Pengusaha Kena Pajak yang menerbitkan Faktur Pajak dan Nomor Seri Faktur
Pajak dapat dicetak pada ruangan-ruang yang masih kosong dalam formulir Faktur
Pajak atau di halaman sebaliknya(misalnya logo, nomor izin usaha, nomor telepon,
nomor faktur penjualan, pembayaran), sepanjang penempatannya tidak mengubah
bentuk dan ukuran Faktur Pajak.
3. Faktur Pajak Standar harus dibuat sekurang-kurangnya dalam rangkap 2 (dua).
Lembar pertama: untuk pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak
sebagai bukti Pajak Masukan. Lembar kedua: untuk Pengusaha Kena Pajak yang
menerbitkan Faktur Pajak Standar sebagai bukti Pajak Keluaran.
4. Dalam hal Faktur Pajak Standar dibuat lebih dan rangkap 2 (dua), maka harus
dinyatakan secara jelas dalam lembar Faktur Pajak yang bersangkutan dan
penggunaannya, misalnya: Lembar ketiga: untuk Kantor Pelayanan Pajak dalam hal
penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak dilakukan kepada Pemungut
Pajak Pertambahan Nilai
5. Warna Faktur Pajak Standar:

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
18

Lembar pertama: warna putih;


Lembar kedua: warna putih atau warna lain yang dikehendaki;
Lembar ketiga: warna putih atau warna lain yang dikehendaki (apabila diperlukan).
6. Bila rincian Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang diserahkan tidak
dapat ditampung dalam satu Faktur Pajak, Pengusaha Kena Pajak dapat membuat
Faktur Pajak dengan cara sebagai berikut:
a. Atas penyerahan Barang Kena Pajak dan atas penyerahan Jasa Kena Pajak
tersebut dibuat lebih dan satu Faktur Pajak yang masing-masing harus diisi secara
lengkap sesuai dengan ketentuan; atau
b. Atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak
tersebut dibuat satu Faktur Pajak asalkan menunjukkan nomor dan tanggal fektur
penjualan yang bersangkutan dan faktur penjualan tersebut merupakan lampiran
faktur penjualan yang tidak terpisahkan.
7. Sebelum Pengusaha Kena Pajak menerbitkan Faktur Pajak Standar, harus
terlebih dahulu melaporkan Nomor Sen Faktur Pajak Standar yang akan diterbitkan
kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak di tempat Pengusaha Kena Pajak
dikukuhkan.
8. Apabila Pengusaha Kena Pajak merupakan perusahaan yang terpadu (misalnya
dari permintatalan benang sampai dengan pembuatan garmen), atas penyerahan
antardivisi/unit/cabang dalam satu wilayah KPP, tidak merupakan penyerahan yang
terhutang PPN dan oleh karenanya tidak perlu dibuatkan Faktur Pajak. Namun
dalam divisi/unit/cabang tersebut berada dalam wilayah-wilayah KPP yang berbeda,
atas penyerahan antardivisi/unit/cabang tersebut merupakan penyerahan yang
terutang PPN sehingga harus dibuatkan Faktur Pajak.

2. Faktur Pajak Gabungan


Faktur Pajak Gabungan adalah Faktur Pajak Standar yang meliputi semua
penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang terjadi
selama satu bulan takwim kepada pembeli yang sama atau penerima Jasa Kena
Pajak yang sama. Faktur Pajak Gabungan merupakan Faktur Pajak Standar,
sehingga harus dibuat sesuai dengan ketentuan pembuatan Faktur Pajak Standar
sebaimana telah diuraikan sebelumnya. Pembuatan Faktur Pajak Gabungan tidak
memerlukan izin Direktur Jenderal Pajak.
3. Fakur Pajak Sederhana

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
19

Faktu Pajak Sederhana adalah Faktur Pajak yang digunakan sebagai tanda bukti
pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak untuk menampung
kegiatan penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang
dilakukan secara langsung kepada konsumen akhir. Oleh karena itulah, Pengusaha
Kena Pajak (PKP) dapat membuat Faktur Sederhana, dalam hal PKP melakukan:
1. Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang dilakukan
langsung kepada konsumen akhir; atau
2. Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak kepada pembeli
dan/atau penerima Jasa Kena Pajak yang tidak diketahui identitasnya secara
lengkap.

Faktur Pajak Sederhana paling sedikit harus memuat:


1. Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan Barang Kena
Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak;
2. Jenis dan kuantum Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak;
3. Jumlah harga jual atau penggantian yang sudah termasuk PPN atau besarnya PPN
dicantumkan secara terpisah;
4. Tanggal pembuatan Faktur Pajak Sederhana.

Kode Seri Pajak


Sebagaimana diketahui bahwa setiap Faktur Pajak wajib mencantumkan Kode Seri
Faktur Pajak. Kode Sen Faktur Pajak diberikan oleh Kantor Pelayanan Pajak dalam
wilayah Wajib Pajak bertempat tinggal atau berkedudukan. Sesuai SE-02/PJ.9/1998
Tanggal 4 Mei 1998 Kode Seri Faktur Pajak diberikan bersamaan dengan saat
pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak

Saat Pembuatan Faktur Pajak


Pasal 13 Ayat (1), Ayat (2) dan Ayat (4) Undang-Undang PPN dan PPnBm Jo
Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. Kep-53/PJ/1994 tanggal 29 Desember 1994
bahwa saat Pembuatan Faktur Pajak ditetapkan selambat-lambatnya :
1. Pada saat akhir bulan berikutnya setelah bulan dilakukan penyerahan BKP jika
pembayaran diterima setelah bulan penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP,
kecuali pembayaran terjadi sebelum akhir bulan berikutnya, maka Faktur Pajak
Standar harus dibuat selambat-lambatnya pada saat penerimaan pembayaran;atau

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
20

2. Pada saat pembayaran diterima jika penerimaan pembayaran terjadi sebelum


penyerahaan BKP dan/atau sebelum penyerahan JKP;atau
3. Pada saat penerima pembayaran per termin jika penyerahan merupakan tagihan
pekerjaan;
4. Pada saat Pengusaha Kena Pajak Rekanan menyampaikan tagihan kepada
pemungut PPN; atau
5. Pada akhir bulan berikutnya setelah bulan dilakukan penyerahan Barang Kena Pajak
dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak, khusus untuk Faktur Pajak Gabungan.
Tetapi apabila terjadi pembayaran sebelum penyerahan BKP dan/atau JKP, maka
pada saat pembayaran dibuat faktur pajak tersendiri yaitu pada saat diterimanya
pembayaran. Sesuai penjelasan Pasal 13 ayat (2) Undang-Undang PPN dan
PPnBM bahwa pembuatan Faktur Pajak Gabungan tidak memerlukan izin Direktur
Jenderal Pajak.

Pengisian Faktur Pajak


Hal yang harus diperhatikan dalam mengisi formulir Faktur Pajak Standar:
1. Faktur Pajak harus diisi dengan lengkap, jelas, benar, baik secara formal maupun
materiil dan ditandatangani pejabat perusahaan yang ditunjuk oleh PKP.
2. Tidak diperkenankan terdapat coretan, kecuali yang diperkenankan yaitu dengan
tanda asteriks (*) dan tidak boleh melakukan pembetulan dengan menggunakan
cairan penghapus (misalnya Tip-ex).
3. Kemungkinan jumlah BKP dan/atau JKP yang diserahkan tidak dapat tertampung
dalam satu Faktur Pajak, maka dapat dilakukan dengan:
a. Memecah-mecahnya menjadi lebih dan satu Faktur Pajak yang masing-masing
diisi dengan lengkap sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
b.Dibuat satu Faktur Pajak saja, asalkan menunjuk nomor dan tanggal faktur
pembuatan yang bersangkutan dan faktur penjualan tersebut merupakan lampiran
Faktur Pajak yang tidak terpisahkan.
4. Faktur Pajak yang salah dalam pengisiannya segera dibatalkan dan diganti. Faktur
Pajak yang salah sebagai lampiran pada saat Faktur Pajak Pengganti dibubuhi cap
Kode Nomor Seri, dan Tanggal Faktur Pajak yang diganti.
5. Bila Faktur Pajak hilang, maka PKP yang berkepentingan dapat meminta Faktur
Pajak pengganti kepada KPP Penjual/Pengusaha Jasa dengan tembusan Kepala
KPP dalam wilayah PKP Penjual dan Pembeli dikukuhkan.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
21

PAJAK MASUKAN DAN KELUARAN


Pengertian Pajak Masukan adalah Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar oleh
Pengusaha Kena Pajak karena perolehan Barang Kena Pajak dan/atau penerimaan
Jasa Kena Pajak atau pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah
Pabean atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean dan/atau Impor
Barang Kena Pajak.

Pengkreditan Pajak Masukan


Pajak Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai Terutang yang wajib dipungut oleh
Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak, penyerahan
Jasa Kena Pajak, atau ekspor Barang kena Pajak.
Pajak Masukan yang telah dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak pada waktu perolehan
atau impor Barang Kena Pajak atau penerimaan Jasa Kena Pajak dapat dikreditkan
dengan Pajak Keluaran yang dipungut Pengusaha Kena Pajak pada waktu
menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak. Pengkreditan Pajak Masukan
terhadap Pajak Keluaran tersebut harus dilakukan dalam Masa Pajak yang sama.
Perhitungan PPN yang harus dibayar dan disetor oleh Pengusaha Kena Pajak ke kas
negara, terlebih dahulu Wajib Pajak harus mengurangi Pajak Keluaran dengan Pajak
Masukan yang dapat dikreditkan. Apabila dalam suatu masa pajak, Pajak Keluaran lebih
besar daripada Pajak Masukan, maka selisihnya merupakan Pajak Pertambahan Nilai
yang harus dibayar dan disetor oleh Pengusaha Kena Pajak ke Kas

Pajak Keluaran — Pajak Masukan = Pajak yang harus disetor ke Kas Negara

Kelebihan Pajak Masukan


Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Masukan yang dapat dikreditkan lebih besar
daripada Pajak Keluaran, maka selisihnya merupakan kelebihan pajak yang dapat
dikompensasikan pada Masa Pajak berikutnya.
Contoh :
Masa Pajak Mei 2008:
Pajak Keluaran Rp 2.000.000
Pajak Masukan yang dapat dikreditkan Rp 4.500.000 –

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
22

Pajak yang lebih dibayar Rp 2.500.000


Pajak yang lebih dibayar tersebut tidak dapat diminta kembali, tetapi dapat
dikompensasikan pada Masa Pajak Juni 2008.

Masa Pajak Juni 2008:


Pajak Keluaran Rp 3.000.000
Pajak Masukan yang dapat dikreditkan Rp 2.000.000 -
Pajak yang harus dibayar Rp 1.000.000
Pajak yang lebih dibayar dan Masa Pajak Mei Rp 2.500.000
Pajak yang lebih dibayar Juni 2008 Rp 1.500.000

PAJAK MASUKAN DALAM HAL PKP MELAKUKAN PENYERAHAN YANG


TERUTANG PAJAK DAN TIDAK TERUTANG PAJAK
Penyerahan yang tidak terutang pajak yang pajak masukannya tidak dapat dikreditkan
adalah penyerahan barang dan jasa yang tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai dan
yang dibebankan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana tercantum
dalam Pasal 16 B Undang-Undang PPn dan PPnBM. Seperti kegiatan di kawasan
tertentu atau tempat tertentu di dalam Daerah Pabean dan lain-lain.
sebagainya.
Apabila Pengusaha Kena Pajak yang dalam suatu Masa Pajak melakukan
penyerahan yang terutang pajak dan penyerahan yang tidakterutang pajak, hanya dapat
mengkreditkan Pajak Masukan yang berkenaan 2 (dua) macam penyerahan yaitu:
1. Penyerahan terutang pajak sebesar Rp 50.000.000,; Pajak Keluarannya Rp
5.000.000;
2. Penyerahan tidak terutang pajak Rp 20.000.000; Pajak Keluarannya menjadi Nihil.

PENGUSAHA YANG MENGHITUNG PENGHASILAN NETO DENGAN NORMA


PENGHITUNGAN
Pedoman penghitungan pengkreditan Pajak Masukan yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan telah dikeluarkan dengan penyerahan yang terutang pajak. Bagi penyerahan
yang terutang pajak tersebut harus dapat diketahui dengan pasti dari pembukuan
Pengusaha Kena Pajak.
Berdasarkan Ketentuan Pasal 14 Undang-Undang Pajak Penghasilan telah mengatur:

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
23

1. Wajib Pajak Orang Pribadi yang peredaran brutonya dalam satu tahun kurang dari
Rp 1.800.000.000 diperkenankan menghitung penghasilan neto dengan
menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto, dengan syarat
memberitahukan Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu3 (tiga) bulan pertama
dan tahun pajak yang bersangkutan. Wajib Pajak tersebut menyelenggarakan
pencatatan secara teratur tentang peredaran brutonya. Pencatatan dimaksudkan
untuk memudahkan penerapan norma dalam menghitungan penghasilan neto.
2. Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan pembukuan dan/atu wajib
menyelenggarakan pencatatan dan/atau dianggap memilih menyelenggarakan
pembukuan, tetapi:
a. tidak atau tidak sepenuhnya menyelenggarakan kewajiban pencatatan atau
pembukuan;
b. tidak bersedia memperlihatkan pembukuan atau pencatatan atau bukti-bukti
pendukungnya pada waktu dilakukan pemeriksaan;

PAJAK MASUKAN YANG TIDAK DAPAT DIKREDITKAN


Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan yaitu :
1. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak sebelum Pengusaha
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
2. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang tidak mempunyai
hubungan langsung dengan kegiatan usaha.
3. Perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor jenis sedan, jeep station wagon,
van, dan kombi, kecuali apabila Barang Kena Pajak tersebut merupakan barang
dagangan atau untuk digunakan secara langsung sesuai dengan bidang usahanya.
4. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau bermanfaat Jasa Kena Pajak
dari luar Daerah Pabean sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha
KenaPajak.
5. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang bukti pungutan pajaknya
berupa Faktur Pajak Sederhana.
6. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Faktur Pajaknya tidak
memenuhi ketentuan sebagai Faktur Pajak Standar.
7. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena
Pajak dari luar Daerah Pabean yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 Ayat (5) Undang-Undang PPN.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
24

8. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena yang Pajak Masukannya ditagih
dengan penerbitan Ketetapan Pajak.
9. Perolehan Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya yang
belum ada Faktur Pajaknya

PENGEMBALIAN KELEBIHAN PAJAK MASUKAN


Kelebihan Pajak Masukan dalam satu Masa Pajak, dikompensasikan dengan Pajak
Keluaran pada Masa Pajak berikutnya. Apabila kelebihan Pajak Masukan terjadi dalam
Masa Pajak pada akhir tahun buku, kelebihan Pajak Masukan tersebut dapat diajukan
permohonan pengembalian (restitusi)
Contoh:
(Dalam contoh ini tahun buku sama dengan tahun takwim)
Masa Pajak November 2008
Pajak Keluaran Rp 24.500.000
Pajak Masukan yang dapat dikreditkan Rp 60.000.000 -
Pajak yang lebih dibayar Rp 35.500.000
Pajak yang lebih dibayar tersebut tidak dapat diminta kembali, tetapi dapat
dikompensasikan pada masa pajak Desember 2008:

Masa Pajak Desember 2008


Pajak Keluaran Rp 70.000.000
Pajak Masukan yang dapat dikreditkan Rp 39.000.000 -
Pajak yang kurang bayar Rp 31.000.000
Pajak yang lebih dibayar dari
Masa Pajak November 2008 Rp 35.500.000
Pajak yang lebih dibayar Desember 2008 Rp 4.500.000

Pajak Masukan tersebut dapat diminta kembali dengan contoh perhitunga berikut ini:
(Dalam contoh mi tahun buku sama dengan tahun takwin)
Masa Pajak November
Pajak Keluaran Rp 60.000.000
Pajak Masukan yang dapat dikreditkan Rp 24.500.000
Pajak yang lebih dibayar Rp 35.500.000

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
25

Pajak yang dibayar tersebut dapat diminta kembali atau dapat dikompensasikan pada
Masa Pajak Desember

Masa Pajak Desember


Pajak Keluaran Rp 70.000.000
Pajak Masukan yang dapat dikreditkan Rp 39.000.000
Pajak yang kurang bayar Rp 31.000.000
Pajak yang lebih dibayar dan
Masa Pajak November 2008 Rp 35.500.000
Pajak yang lebih dibayar Desember 2008 Rp 45.000.000

AKUNTANSI PAJAK
Akuntansi komersial maupun dalam akuntansi pajak terdapat persamaan dalam
melakukan pencatatan yang harus dipersiapkan antara lain:
1. Akun Pajak Masukan
Untuk mencatat besarnya Pajak Masukan yang dibayar atau dipungut atas terjadinya
transaksi pembelian.
2. Akun Pajak Keluaran
Pada akun ini untuk mencatat Pajak Keluaran yang dipungut atau disetorkan ke Kas
Negara atas transaksi.

Terjadinya transaksi penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak. Akun biaya
yang digunakan tetap sama dengan akun yang lazim digunakan dalam akuntasi
komersial. Beberapa aplikasi dalam menyusun ayat jurnal sehubungan dengan PPN:
1. Transaksi Pembelian dan Penjualan Secara Tunai
Transaksi perolehan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak
Data Pembelian BKP yang diterima langsung Faktur Pajaknya:
Harga BKP Rp 100.000.000
Rabat 10% Rp 10.000.00 -
Rp 90.000.000
Potongan tunai 3% Rp 2.700.00 -
Rp 87.300.000
Harga setelah potongan
Pajak pertambahan Nilai 10% Rp 8.730.000 +

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
26

Jumlah Pembayaran Tunai Rp 96.030.000

Potongan tunai yang dicantumkan dalam Faktur Pajak Standar dapat mengurangi dasar
pajak PPN ayat jurnal yang disusun atas transaksi adalah :
Tgl Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)
Pembelian 87.300.000
Pajak Masukan 8.730.000
Kas 96.030.000

Jurnal yang dibuat:


Tgl Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)
Kas 96.030.000
Penjualan 87.300.000
Pajak Keluaran 8.730.000

2. Pembelian secara kredit


a. Pembelian Kredit kepada PT Amanda seharga Rp 50.000.000 (Faktur Pajak
belum dibuat).
Tgl Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)
Pembelian 50.000.000
Pajak Masukan Belum Difakturkan 5.000.000
Utang 55.000.000
b. Terdapat retur sebesar Rp 4.000.000 dalam hal ini tidak perlu dibuat Nota Retur
karena Faktur Pajak belum dibuat.
Tgl Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)
Utang 87.300.000
Retur Pembelian 8.730.000
Pajak Masukan belum difakturkan 96.030.000

c. Pembayaran kepada PT Amanda dengan potongan 5% dan faktur pajak


diterima:
Harga Pembelian Rp 50.000.000
Retur Pembelian Rp 4.000.000 -
Rp 46.000.000
Potongan tunai 5% Rp 2.300.000 -
PPP-PPN Rp 43.700.000
PPN 10% Rp 4.370.000
Jumlah Pembayaran Rp 48.070.000
Tgl Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK
27

Utang 50.600.000
Pajak Masukan 4.370.000
Kas 48.070.000
Potongan Pembelian 2.300.000
Pajak Masukan belum difakturkan 4.600.000

3. Pembelian secara kredit kepada PT Bagus seharga Rp 100.000.000. Tetapi


hingga akhir bulan belum dibayar dan Faktur Pajak belum diterima.
Tgl Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)
Pembelian 100.000.000
Pajak Masukan Difakturkan 10.000.000
Utang 110.000.000

4. Membayar uang muka pesanan BKP seharga Rp 60.000.000. Faktur Pajak telah
diterima dan BKP sampai akhir bulan belum dikirim/diterima.
Tgl Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)
Uang Muka Pembelian 30.000.000
Pajak Masukan 3.000.000
Kas dan Bank 33.000.000

5. Pembayaran jasa konsultan di Hong Kong sebesar US $4.000. Kurs jual per US
$1,00 = Rp 9.200,00. Kurs Menteri Keuangan Rp 9.100,00 seperti dalam
Undang-Undang Pemanfaatan JKP dari luar negeri atau dari luar daerah pabean
terutang PPN, dan terdapat juga PPh Pasal 26 sebesar 20% (untuk diperhatikan
juga dalam kasus-kasus yaitu ada atau tidaknya Tax Treaty).
Jasa konsultan luar negeri (4.000 x Rp 9.200) Rp 36.800.000
PPh Pasal 26 (20% x $4000 x Rp 9.100) Rp 7.280.000
Rp 29.520.000
PPN jasa luar negeri Rp 3.640.000
(10% x $4000 x Rp 9.100)
Total Rp 33.160.000
Tgl Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)
Biaya Jasa Konsultan 36.800.000
Pajak Masukan Jasa Luar Negeri 3.640.000
PPh Pasal 26 Terhutang 7.280.000
KAs dan Bank 33.160.000

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi


AKUNTANSI PAJAK