Anda di halaman 1dari 26

1

A, Latar belakang Masalah

Anak adalah karunia terindah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha esa

kepada sepasang suami-isteri. Betapa bahagianya, seorang suami apabila isterinya

melahirkan seorang anak terutama bila mereka telah lama menikah dan menunggu

mempunyai momongan. Karena hampir sebagian besar pasangan suami-isteri ingin

memiliki seorang anak, baik itu dari rahim sang isteri sendiri maupun adopsi.

Setelah seorang anak telah tiba di kehidupan mereka berdua, suka cita datang.

Hidup mereka yang tadinya sepi dan hampa karena hanya dilalui berdua saja,

menjadi lebih semarak lagi. Mereka sibuk memberikan kebahagiaan bagi sang anak.

Segala permintaan anak, mereka penuhi dengan sukarela dan ikhlas. Apapun akan

dilakukan demi kepentingan sang anak itu sendiri.

Namun tidak semua anak memperoleh kebahagiaan yang sama. Banyak juga

di antara mereka yang harus merasakan pahitnya kehidupan. Mereka tidak dapat

merasakan kehidupan normal layaknya seorang anak seperti bermain dan belajar. Tak

sedikit di antara mereka yang harus bekerja mencari nafkah, yang sebetulnya

pekerjaan dari orangtua mereka. Hak-hak mereka pun seringkali pun diabaikan oleh

negara. Banyak dari mereka yang tidak mendapatkan fasilitas pendidikan, fasilitas

kesehatan, rumah yang layak, hingga hidup mereka yang harus bersinggungan dengan

dunia kejahatan dan kriminalitas, baik sebagai pelakunya maupun sebagai korbannya.

Mereka dengan mudahnya memakai narkoba, merokok, berbuat kriminal,

hingga terjerumus ke lembah prostitusi. Hal itu semakin diperparah pula dengan
2

lemahnya posisi anak di mata hukum. Mereka seringkali tidak mendapatkan

perlindungan hukum. Banyak dari peraturan perundang-undangan kita yang sama

sekali tidak memihak kepada mereka. Contohnya, Kitab Undang-undang Hukum

Pidana (KUHP) yang masih dipertahankan hingga saat ini

Anak-anak seringkali masih dianggap sebagai ‘orang dewasa mini’ hingga

saat ini. Sehingga mereka diperlakukan layaknya orang dewasa seperti yang dialami

oleh segerombolan anak-anak yang yang ditangkap aparat keamanan ketika sedang

asyik-asyiknya bermain macan buram (semacam permainan koin, red). Padahal masih

banyak orang-orang dewasa yang bermain judi belum ditangkap oleh aparat

keamanan negeri ini. Apakah mereka ditangkap hanya demi mencari pamor di

masyarakat, mengingat posisi anak-anak yang rendah di mata hukum ?

Orang dewasa, bahkan pemerintah Indonesia seringkali juga kurang

memperhatikan kepentingan-kepentingan anak seperti masalah pendidikannya,

masalah kesehatannya, dan masalah-masalah lainnya yang berhubungan dengan

kesejahteraan anak. Mereka semua sibuk dengan masalah mereka sendiri. Masalah

yang menimpa anak seringkali dianggap remeh dan tertutup dengan masalah-masalah

lain yang lebih besar. Media massa juga jarang mengekspos masalah-masalah anak.

Kalaupun terekspos, itu hanya segelintir saja.

Undang-undang nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak pun tidak

benar-benar memberikan perlindungan maksimal kepada anak-anak seperti yang

tercantum dalam konsiderannya. Tak semua provinsi di Indonesia memiliki penjara

anak. Menurut Jufri Bulian Ababil dalam bukunya “ Raju yang diburu: Buruknya
3

Peradilan Anak di Indonesia “ , Indonesia tidak memiliki polisi anak, jaksa anak, dan

hakim anak yang punya perhatian , dedikasi, komitmen dan minat terhadap anak.

Lembaga Pemasyarakatan Anak pun jumlahnya terbatas. Anak-anak yang berkonflik

dengan hukum sering dijadikan ‘lahan’ untuk mencari keuntungan. Orangtua sang

anak seringkali menawarkan jalan damai dengan memberikan sejumlah uang kepada

aparat keamanan negeri ini agar anaknya tidak diproses secara hukum. Orangtua pun

juga tidak diberitahu bahwa anak di bawah usia delapan tahun belum bisa di bawah

pengadilan, juga tidak diberitahu bahwa anak yang berusia di bawah 12 tahun tidak

boleh ditahan oleh siapapun. Orangtua pun tidak pernah diberitahu, kalau anak tidak

bisa disatukan dengan orang dewasa. Orangtua juga tidak diberitahu kalau Kartu

Keluarga bisa dijadikan rujukan untuk menetukan umur bila akta kelahiran tidak ada.1

Intinya, Undang-Undang Pengadilan Anak ini pun belum disosialisasikan

terlebih dahulu sehingga banyak orang yang belum mengetahui isi dari Undang-

undang tersebut hingga saat ini. Aparat penegaknya pun belum tersedia seperti yang

diamanatkan oleh undang-undang ini. Masih banyak aparat penegaknya yang belum

memiliki perhatian , dedikasi, komitmen dan minat terhadap anak.

Penulis sendiri pun juga keberatan dengan adanya pengadilan dan penjara

anak. Penulis beranggapan bahwa letak kesalahan apabila anak melakukan tindak

pidana adalah terletak pada orangtua, lingkungan dimana mereka tinggal, media

massa, serta pemerintah sendiri. Sehingga bila anak melakukan tindakan kriminal,

1
Jufri Bulian Abibil, Raju Yang Diburu: Buruknya Peradilan Anak di Indonesia, Bantul: Pondok
Edukasi, 2006, hlm. vii-viii
4

letak kesalahannya adalah di empat faktor tersebut. Tidaklah patut mereka

dipenjarakan. Karena menurut penulis, mereka belumlah sepenuhnya mengerti akan

ketentuan-ketentuan hukum di negeri ini. Jangankan mengenai ketentuan hukum,

mengenai mana yang baik maupun yang salah, mereka masih belum mengerti.

Dengan memasukkan mereka ke dalam penjara, itu bukannya memperbaiki malah

memperburuk keadaan mereka. Masa depan mereka direnggut. Mereka malah

menjadi lebih parah dari sebelum mereka masuk penjara. Seperti istilah ‘Besi

menajamkan Besi’. Pada saat mereka masuk penjara hanya karena mencopet, setelah

keluar mereka dapat membobol ATM. Apalagi kehidupan mereka di dalam penjara

jugalah tidak terlalu menguntungkan mereka. Dari media massa, kita mengetahui

bahwa mereka kurang mendapat perhatian yang layak dari aparat penegak hukum.

Hingga membuat nasib mereka ke depannya menjadi semakin tidak jelas.

Mereka inilah generasi penerus bangsa. Pemerintah seharusnya melindungi

mereka dan masa depan mereka, bukannya merusak masa depannya. Pemerintah

secara tidak langsung merusak masa depan mereka yang berharga dengan

memasukkannya ke dalam suatu penjara. Sudah pasti, selepas dari penjara, mereka

akan kesulitan dalam melanjutkan kehidupan mereka mengingat nama mereka yang

telah buruk.

Penulis berpendapat ada baiknya anak-anak bermasalah tersebut dimasukkan

ke dalam suatu lembaga rehabilitasi yang benar-benar memiliki perhatian, dedikasi,

komitmen dan minat terhadap anak. Di dalam lembaga rehabilitasi tersebut, hak-hak

seorang anak tidak boleh dilanggar seperti hak memperoleh pendidikan dan hak atas
5

kehidupan yang layak. Pengawasannya pun sebaiknya berada di bawah suatu

lembaga independen yang benar-benar memiliki minat, dan perhatian kepada anak.

Contohnya seperti, Komnas Perlindungan Anak.

Alternatif lainnya, bisa saja anak-anak tersebut diletakkan di dalam suatu

panti asuhan yang benar-benar paham bagaimana cara mendidik dan membimbing

anak. Namun pengawasannya tetap berada di bawah Komnas Perlindungan Anak.

Selain itu, ada baiknya juga orangtua sang anak lah yang dipenjarakan atau minimal

dicabut kekuasaannya sebagai orangtua. Karena mereka terbukti gagal membimbing,

mendidik, membina, dan mengontrol perilaku dari anak-anak mereka. Anak-anak

melakukan perbuatan kriminal adalah karena salah mereka yang tidak mengawasi

anak mereka dengan benar dan baik. Mereka lebih memperhatikan urusan mereka

daripada kepentingan anak-anak mereka.

Ada baiknya juga, setiap kasus-kasus yang berhubungan dengan anak dan

kriminal anak diselesaikan secara ADR (penyelesaian sengketa di luar pengadilan,

red), dengan sanksinya berupa pencabutan hak kekuasaan orangtua dan pidana sanksi.

Itu jauh lebih baik karena masa depan anak juga terjamin dan cukup memberikan efek

jera bagi anak dan orangtua selaku pembimbingnya.

Batas usia anak yang dapat dibawa ke pengadilan juga sebaiknya dinaikkan

menjadi 12 tahun. Usia 8 tahun tahun kuranglah pantas untuk dibawa ke pengadilan.

Sebabnya, mereka belum benar-benar mengerti hukum dan norma-norma yang

berlaku di masyarakat. Semuanya masih bersifat abu-abu bagi mereka. Juga

sebaiknya diseragamkan usia dewasa yang di Indonesia sendiri usia dewasa masih
6

beragam seperti 18 atau 15 tahun (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata), 21 tahun

(Undang-Undang Kewarganegaraan), atau 17 tahun (usia anak memiliki KTP).

B. Identifikasi Masalah:

1. Bagaimanakah pelaksanaan penjara anak di Indonesia ?

2. Apakah pelaksaanaan pidana penjara telah sesuai dengan ketentuan-

ketentuan dalam Konvensi Anak dan peraruran-peraturan lainnya ?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penulis melakukan penelitian adalah:

1. Ingin mengetahui secara mendalam mendalam pelaksanaan pidana penjara

bagi anak.

2. Ingin membuktikan hipotesis penulis bahwa penjara bukanlah solusi yang

tepat dalam memberikan efek jera bagi tindakan keliru seorang anak.

D. Tinjauan Pustaka

1. Perkembangan Sistem Kepenjaraan di Indonesia

Pada mulanya, Indonesia tidaklah mengenal sistem pidana penjara.

Sistem pidana penjara baru dikenal ketika zaman penjajahan, khususnya pada

zaman Hindia-Belanda melalui Staatsblaad 1826 Nomor 16. Pada masa itu,

kaum bumiputera mendapatkan pidana berupa kerja paksa yang berbentuk


7

kerja pakasa dengan terpidana dan kerja paksa biasa. Sedangkan untuk

golongan Eropa berlaku pidana penjara.

Pada masa itu, penjara disebut bui, sesuai keadaannya sebagai tempat

penyekapan, tempat menahan orang-orang yang disangka melakukan delik,

orang-orang yang disandera, penjudi, pemabuk, gelandangan, dan penjahat-

penjahat lainnya.

Karena keadaan bui waktu sangat buruk dan menyedihkan, maka

dibentuklah panitia untuk meneliti dan membuat rencana perbaikan selama

lima tahun bahkan hingga meninjau sistem pidana penjara di Singapura.2

Hingga lahirlah Reglement Kepenjaraan (Gestichten Reglement) yang

tercantum dalam Staatsblaad 1917 Nomor 708 yang mulai berlaku 1 Januari

1918. Reglemen inilah yang menjadi dasar peraturan perlakuan terhadap

narapidana dan cara pengelolaan penjara. Reglemen ini juga didasarkan pada

pasal 29 KUHP yang terdiri kurang lebih 114 pasal.3

Dalam periode antara kedua perang dunia (1918-1942), pada

umumnya di jawa dan Madura ada tiga jenis penjara:

a. Penjara pusat yang disebut Centrale Gevangenis Strafgevangenis

yang menampung terpidana yang agak berat (lebih dari satu tahun)

dan di sini terdapat perusahaan yang tergolong besar dan sedang

serta perbengkelan;

2
Dr. Andi Hamzah, SH, Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia dari retribusi ke reformasi,
Jakarta: PT Pradnya Paramita, 1986, hlm. 91-93
3
Ibid, hlm. 93
8

b. Penjara negeri yang disebut Landgevangenis yang berfungsi

menampung narapidana yang tergolong ringan (dibawah dari satu

tahun). Pekerjaan yang dilakukan di sini ialah kerajinan dan

pekerjaan ringan yang lain serta bengkel-bengkel kecil;

c. Rumah tahanan yang disebut Huis van bewaring yang menampung

para tahanan terpidana kurungan dan terpidana penjara yang

ringan. Di sini tidak ada pekerjaan yang pasti;

d. Bagi terpidana anak-anak, pada tahun 1921 telah didirikan ruangan

khusus untuk yang berumur di bawah 19 tahun. Kemudian

didirikan di Tangerang penjara anak-anak untuk yang berumur di

bawah 20 tahun. Disusul di Pamekasan dan Ambarawa.

Perbaikan terus berlanjut dengan diadakannya klasifikasi sebagai

berikut.

a. Yang dipandang dapat dan tidak dapat diperbaiki;

b. Yang dapat diperbaiki ditempatkan di Madiun, Malang, dan

Sukamiskin;

c. Diadakan sistem sel (Cellulaire) yang disebut juga sistem diam

(silent system), dimana pada siang hari tidur dan bekerja bersama-

sama, sedangkan pada malam hari tidur di sel sendiri-sendiri. Ini

terdapat di Pamekasan, Sukamiskin, dan Tanah Tinggi;


9

d. Penjara khusus untuk golongan Eropa yang semula di Semarang,

kemudian dipindahkan ke Sukamiskin dan termasuk yang baik dan

sejajar dengan penjara di Eropa;

e. Diangkat pejabat reklasering di Batavia, Semarang, dan Surabaya.

Dalam periode ini diadakan juga klasifikasi penjara-penjara yang

mempunyai kedudukan khusus dan penjara-penjara yang mempunyai

perusahaan sedang dan besar 4sebagaimana tecantum di tabel berikut.

Tabel 1. Penjara yang mempunyai kedudukan khusus

Sumber: Sistem Pidana dan Pemidanaan di Indonesia dari retribusi ke reformasi,


Nama Penjara Diperuntukan untuk
Penjara Sukamiskin bangsa Eropa dan intelektual
Penjara Cipinang terpidana klas I
Penjara Glodok orang hukuman psychopaten
Penjara Sragen orang hukuman klas I, terutama yang

menjalani pidana seumur hidup


Penjara Tangerang anak-anak
Penjara Banyubiru, dekat Ambarawa anak-anak
Penjara Bulu Semarang wanita
1986

Tabel 2. Penjara yang mempunyai perusahaan besar/sedang

Nama Penjara Jenis Usaha


Penjara Cipinang Produksi alat kerajinan pertukangan kayu
Penjara Kalisosok Perbengkelan besi
Penjara Sukamiskin Percetakan
Penjara Cirebon Pertenunan tekstil

4
Ibid, hlm. 93-94
10

Penjara Sragen Pertenunan tekstil


Penjara Yogyakarta Pengolahan barang-barang dari kulit dan

sepatu
Penjara di Nusakambangan Perkebunan karet dan pengolahan karet
Penjara Muntok dan Bangka Pengolahan timah
Penjara Sawahlunto Pertambangan batubara

Sumber: Sistem Pidana dan Pemidanaan di Indonesia dari retribusi ke reformasi,

1986

Pada zaman pendudukan Jepang, hampir tidak ada perubahan sistem

pemenjaraan. Hanya saja pekerjaan narapidana banyak dimanfaatkan untuk

kepentingan militer Jepang seperti bertani dan menangkap ikan di laut.

Pekerjaan ini pun juga dilakukan oleh narapidana wanita dan anak-anak5.

Keadaan narapidana pada zaman penjajahan Jepang sangat menyedihkan

dibandingkan zaman Hindia-Belanda.

Barulah setelah Indonesia merdeka, khususnya pada tanggal 27 April

1964 dalam Konferensi Direktur-direktur Penjara di Lembang, nama Lembaga

Pemasyarakatan mulai dikenal melalui Instruksi Kepala Direktorat

Pemasyarakatan nomor J. H. 6. 8/506 tanggal 17 Juni 1964. Konsep ini sendiri

diperkenalkan oleh Dr. Sahardjo, SH (Menteri Kehakiman saat itu, red).

Menurutnya, tujuan pidana penjara (pemasyarakatan) ialah selain

menimbulkan rasa derita kepada terpidana karena hilangnya kemerdekaan

5
Ibid, hlm. 95
11

bergerak, juga untuk membimbung terpidana agar bertobat serta mendidiknya

agar ia menjadi seorang anggota masyarakat sosialis Indonesia.

Sejak itulah, muncul pula istilah Kantor Direktorat Jenderal Bina

Warga dan Tuna Warga, yang kemudian berubah lagi menjadi Kantor

Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dn kembali menggunakan istilah

narapidana.6

Dari teori Sahardo lah, kita mempunyai pegangan berupa tekad untuk

membangun sistem kepenjaraan menjadi sistem pemasyarakatan yang selaras

dengan perkembangan zaman yang menjurus dari retribusi (pembalasan

seimbang) ke arah reformasi (perbaikan) kepada penjahat. Meskipun pada

kenyataanya ditemui beberapa hambatan besar seperti, segi keuangan yang

terbatas, kurangnya sarana dan prasarana berupa gedung dan perlengkapan,

serta sikap masyarakat yang masih sulit meninggalkan sifat pembalasan dari

pidana.7

Tabel 3. Perbandingan Sistem Kepenjaraan dan Pemasyarakatan

No. Komponen Kepenjaraan Pemasyarakatan Pemasyarakatan

baru
1. Filsafat Liberal Pancasila Pancasila
2. Dasar Hukum Gestichten Gestichten Undang-

Reglement Reglement Undang

6
Ibid, hlm. 96-97
7
Ibid, hlm. 97
12

dengan Pemasyarakatan

perubahannya
3 Tujuan Penjeraan Pembinaan Meningkatkan

dengan tahap kesadaran

admisi/orientasi narapidana

/pembinaan, (Consciousness

Asimilasi ) dengan tahap

Instropeksi,

Motivasi, dan

Self-

Development
4. Pendekatan Sistem Security Security Consciousness

Approach Approach Approach


5.. Klasifikasi Maximum Maximum High

Security Security, Consciousness,

Medium Half

Security, Consciousness,

Minimum Low

Security Consciusness
6. Pendekatan Klasifikasi Maximum Maximum High

Security Security, Consciousness,

Medium Half

Security, Consciousness,
13

Minimum Low

Security Consciusness8
7. Perlakuan Narapidana Obyek Subyek Subyek atau

Obyek
8. Orientasi Pembinaan Top Down Top Down Bottom Up

Approach Approach Approach


9. Sifat Pembinaan Eksploitasi Melatih Bekerja Mandiri atau

Pengenbangan

Sumber Daya

Manusia
10. Remisi Anugerah Hak (1950- Hak dan

(1917-1949) 1986) Kewajiban

(1987 sampai

dengan ada

perubahan)
11. Bentuk Bangunan Penjara Penjara Perlu dirancang

(bangunan secara khusus

8
Lihat Sistem Baru Pembinaan Narapidana karangan Drs. C.I. Harsono Hs, Bc. IP (1995), hlm. 14-
17. Maximal security diberikan kepada narapidana dalam klasifikasi B-I, residivis, narapidana karena
kasus subversi, pembunuhan berencana, pencurian dengan kekerasan, dan beberapa narapidana yang
dianggap berbahaya. Medium security diberikan kepada narapidana yang lebih ringan pidananya atau
yang masuk dalam kategori pidana berat, tetapi telah mendapatkan pembinaan dan menunjukan sikap
serta tingkah laku yang baik selama dalam Lembaga Pemasyarakatan. Minimum Security untuk
narapidana yang telah mendapat pembinaan secara khusus dan telah dinyatakan laik untuk
mendapatkan pengawasan ringan.
High consciousness adalah untuk narapidana yang secara mental-spiritual telah mengenal
dirinya sendiri, telah mampu memotivasi diri sendiri untuk tetap teguh dan berkembang kea rah positif
dan telah mampu menjalankan prinsip-prinsip hidup yang benar dan hakiki serta mulai
mengembangkan diri sendiri ke a rah yang positif. Half consciousness adalah untuk narapidana yang
masih setengah sadar akan dirinya sendiri. Juga termasuk ke dalamnya, narapidana yang baru
terguggah hatinyaketika tahu akan nilai-nilai hidup yang positif, cara berpikir positif, dan pandangan-
pandangan lain tentang manusia, hidup, dan kehidupannya. Low consciousness adalah untuk
narapidana yang masih sangat rendah tingkat kesadaran akan diri sendiri.
14

lama).

Bangunan baru

belum

sepenuhnya

mencerminkan

Lembaga

pemasyarakatan
12. Narapidana Dibiarkan atau Diberikan Dikena;lan

tidak diberikan bimbingan dan dirinya sendiri,

bimbingan dan pembinaan diberikan teknik

pembinaan motivasi, baik

untuk

memotivasi diri

sendiri, maupun

orang lain atau

kelompok
13. Keluarga Kurang diberi Diberi Kesempatan

kesempatan kesempatan penuh, keluarga

untuk ikut untuk ikut diberitahukanta

membina membina (cuti, hap pembinaan

Kepenjaraan dll) yang dilakukan

tidak terbuka oleh LP bagi


15

sifatnya. Peran narapidana.

keluarga Perkembangan

diabaikan kesadaran

dalam narapidana

pembinaan yang masih

narapidana saudaranya
14. Pembina atau Ditekankan Sebagai Panutan.

Pemerintah untuk pembina Sepanjang

membuat jera, mengarahkan petugas LP

sehingga tidak narapidana tidak mampu

melakukan untuk setidask- menjadi

tindak pidana tidaknya tidak panutan,

lagi. melakukan sebaiknya

tindak pidana mundur saja

lagi dari tugasnya.

sekeluarnya Petugas LP

dari LP harus

mempunyai

kemampuan

untuk

memotivasi

narapidana dan
16

mengembangka

n kepribadian

narapidana

secara utuh.

Harus selalu

berpikir secara

positif dan

konstruktif.
Sumber: Sistem Baru Pembinaan Narapidana, 1995

2 Tujuan Pemasyarakatan

Tujuan diadakannya pmasyarakatan sebenarnya ada dua, yaitu:

a.Memasukkan bekas narapidana ke dalam masyarakat sebagai warga

yang baik (jika berdasar perikemanusiaan);

b. Melindungi masyarakat dari kambuhnya kejahatan bekas narapidana

dalam masyarakat karena tidak mendapatkan pekerjaan.9

3. Peran Serta Masyarakat dalam Usaha Pemasyarakatan

9
Ibid, hlm. 90
17

Usaha pemasyarakatan tersebut bukan hanya menjdai urusan

pemerintah tetapi juga swasta. Masyarakat dapat ikut serta dalam:

a. Para pengusaha memberi pekerjaan pada pelanggar hukum yang

dikirim oleh kantor perburuhan padanya atau oleh perkumpulan sosial.

b. Perkumpulan buruh menerima mereka sebagaiu anggota sesudah

meneyelesaikan latihan salah satu lapangan kejuruan pekerjaan.

c. Perkumpulan seperti kesenian, olahraga, dan hiburan menerima

mereka sebagai anggota.

d. Orang yang mempunyai cukup ruangan menyewakan tempat

kepada mereka yang dikirm oleh perkumpulan swasta.

e. Anggota masyarakat pada umumnya menerima pelanggar hukum

sebagai tetangga atau kenalan baik-baik.10

4. Latar Belakang Munculnya Undang-undang Nomor 3 tahun 1997

tentang Pengadilan Anak

Ada beberapa hal yang menjadi latar belakang dibentuknya suatu

pengadilan anak seperti tidak adanya forum khusus bagi perkara mengenai

atau yang berkaitan dengan anak telah menimbulkan berbagai keadaan dan

praktek yang tidak wajar. Sehingga terkadang keadaan dan kepentingan anak-

anak sebagai anak-anak diabaikan tanpa ada perlakuan-perlakuan yang khusus

seperti anak-anak yang ditempatkan dalam satu ruangan yang sama dengan

10
Ibid, hlm. 90-91
18

tempat penahanan orang dewasa. Masa penahannya pun sama, bahkan juga

mengenal perpanjangan. Perlakuan semacam ini sangat merugikan

perkembangan si anak. Ditinjau dari kebijaksanaan criminal, tingkah laku

menyimpang si anak tidak dapat dijadikan alasan untuk ‘mempersamakannya’

dengan orng dewasa. Anak adalah anak, bukanlah orang dewasa. Karena itu

mereka tidak pantas dan belum bahkan tidak boleh memikul tanggung jawab

yang sama dengan orang dewasa.11

Begitu pula dengan lapangan keperdataan, berbagai kepentingan anak

yang timbul atau akan timbul dari suatu hubungan hukum keperdataan

seyogyanya mendapat perhatian yang khusus pula.12

Menurut Bagir Manan, ada beberapa pokok pikiran yang mendorong

penyusunan Undang-undang nomor 3 tahun 1997, yaitu:

a. Penyusun RUU tentang Peradilan Anak ini dilakukan dengan satu

dasar pemikiran bahwa anak sebagai bagian generasi muda adalah aset

bangsa. Sebagai generasi muda, anak adalah penerus cita-cita

perjuangan bangsa dan sumber daya manusia bagi pembangunan

nasional. Dalam rangka menwujudkan sumber daya manusia yang

berkualitas, kelangsungan hidup, pengembangan fisik dan mental serta

perlindungan dari berbagai marabahaya yang dapat mengancam

11
Prof. DR. Bagir Manan, dkk, Peradilan Anak Di Indonesia, Bandung: Mandar Maju, 1997, hlm. 4
12
Ibid, hlm. 5
19

integritas dan masa depan mereka, perlu upaya pembinaan yang

berkelanjutan dan terpadu.

b. Peradilan anak meliputi segala aktifitas pemeriksaan dan

pemutusan perkara yang menyangkut kepentingan anak dengan

menekankan atau memusatkan pada ‘kepentingan anak’ harus

merupakan pusat perhatian dalam Peradilan Anak. Di Negara-negara

seperti Amerika, Inggris, dan juga belanda, Peradilan Anak berfungsi

memberikan perlindungan terhadap anak-anak yang berperilaku

menyimpang atau melakukan perbuatan melanggar hukum telah lama

diakui eksistensinya. Contohnya di Belanda terdapat Kinder Wetten

(1901), dan di Amerika Serikat telah dibentuk Pengadilan Anak

(Juvenile Court) pada tahun 1899 dengan berdasarkan pada

prinsip[ “parent patriae”. Maksudnya ialah penguasa harus

bertindakapabila anak-anak-anak membutuhkan pertolongan

sedangkan anak yang melakukan kejahatan bukannya dipidana

melainkan harus dilindungi dan diberi bantuan.

c. Memperhatikan berbagai tingkah laku menyimpang yang dilakukan

anak dan untuk melindungi mereka dari suatu perkembangan yang

tidak sehat, perhatian terhadapa anak-anak sebenarnya agak sudah

lama diberikan. Hal ini terbukti dari berbagai pertemuan ilmiah yang

diselenggarakan bail oleh pemerintah maupun oleh badan-badan sosial

seperti Yayasan Pra Yuana dan Wisma Parmadi Sawi. Perhatian dan
20

rasa peduli terhadap nasib anak-anaksemakin menampakan bentuknya,

terutama ketika Departemen Sosial bekerja sama dengan Departemen

Kehakiman, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen

Tenaga Kerja, Departemen Kesehatan, dan Mahkamah Agung pada

tanggal 12 sampai dengan tanggal 13 Oktober 1970 menyelenggarakan

lokakarya mengenai masalah anak dan pemuda dalam kaitannya

dengan hukum pidana dan acara pidana, pendidikan, sosial, kesehatan,

dan ketenagakerjaan. Lokakarya tersebut berhasil menyusun

rekomendasi mengenai dasar-dasar bagi hukum keluarga, yang di

antaranya meliputi pengakuan dan pengesahan anak di luar kawin,

kebelumdewasaan, pembebasan dan pencabutan kekuasaan orangtua,

perwalian dan pengangkatan anak

Berbagai pertemuan ilmiah tersebut, selain sebagai masukan

juga lebih memacu usaha Pemerintah untuk menyusun RUU tentang

Kesejahteraan Anak yang kemudian lahirlah Undang-Undang Nomor

4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Sehubungan dengan

berbagai masukan mengenai pentingnya pentingnya Peradilan Anak

bagi upaya pembinaan anak, terutama bagi anak-anak yang berperilaku

menyimpang atau yang melakukan perbuatan melanggar hukum, pada

tahun 1979 Departemen Kehaikaman telah memprakarsai penyusunan

RUU tentang Peradilan Anak.


21

d. Secara yuridis, usaha pemberian perlindungan hak-hak anak oleh

dunia internasional sudah dimulai sejak Deklarasi PBB Tahun 1959

tentang Hak-Hak Anak, dan terakhir Konvensi Hak Anak (Convention

of the Rights of the Child) tahun 1989yang kemudian dituangkan

dalam Resolusi PBB Nomor 44/25 tanggal 5 Desember 1989.

Konvensi ini berisi tentang penegasan hak-hak anak, perlindungan

anak oleh Negara, dan peran serta berbagai pihak (negara,

masyarakat, dan swasta) dalam menjamin perlindungan hak anak.13

5. Definisi Anak

Menurut Undang-undang nomor 3 tahun 1997, anak adalah:

Orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur delapan
tahun tetapi belum mencapai umur delapan velas tahun dan belum
pernah kawin.14

Sedangkan menurut undang-undang nomor 23 tahun 2002,

anak adalah:

Seseorang yang belum berusia delapan belas tahun, termasuk anak


masih dalam kandungan.15

13
Ibid, hlm. 5-8
14
_____, Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 dan Undang-Undang RI

Nomor 2 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak, Trinity, 2007, hlm. 53


15
Ibid, hlm. 3
22

Lain pula dengan undang-undang nomor 4 tahun 1979 tentang

definisi anak. Menurut undang-undang ini, yang dimaksud dengan

anak adalah:

Seseorang yang belum mencapai umur dua puluh satu tahun dan
belum –pernah kawin.16

6. Usia Anak

Di Indonesia, tidak ada batasan yang jelas mengenai seseorang

dianggap telah dewasa atau tidak lagi termasuk ke dalam kategori

anak-anak. Inilah yang menimbulkan disharmonisasi mengenai umur

anak itu sendiri.

Bila mengacu pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,

seorang anak dikatakan dewasa dan boleh menikah bila berusia 18

tahun (laki-laki), atau 15 tahun (perempuan). Sedangkan menurut

Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan adalah 19

atau 16 tahun. Berbeda pula dengan Undang-Undang Nomor 12 tahun

2006 tentang Kewarganegaraan, seseorang dapat memilih sendiri

kewarganegaraannya adalah ketika berusia 21 tahun.

Undang-Undang Kependudukan pun sama saja. Anak

dikatakan dewasa bila sudah memiliki Kartu Tanda Penduduk atau

telah berusia 17 tahun. Begitupun juga dengan UU Pemilu. Lain pula

16
Ibid, hlm. 99
23

dengan UU Ketenagakerjaan yang menyatakan seorang anak boleh

bekerja saat berusia 15 tahun.

Selain itu, bila kita mengacu pada peraturan perundang-

undangan yang mengatur mengenai anak, yaitu Undang-Undang

Nomor 4 tahun 1979, Undang-Undang Nomor 3 tahun 1997, serta

Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002, juga sama saja. Tidak ada

batasan yang pasti mengenai kapankah seseorang masih dapat

dikategorikan sebagai anak-anak.

Pada Undang-Undang Nomor 4 tahun 1979, seseorang

dikatakana anak bila belum berusia 21 tahun dan belum pernah kawin.

Sedangkan pada Undang-Undang Nomor 3 tahun 1997, anak yang

dalam hal perkara anak nakal adalah seseorang yang belum mencapai

usia 18 tahun. Begitupun juga Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002

yang menyatakan bahwa batas usia anak ialah sampai berusia 18

tahun.

Itulah yang terjadi di Indonesia. Sampai sekarang, batas usia

seseorang masih dianggap anak belum jelas. Hal inilah yang sungguh

memberatkan kaum anak. Pemerintah sepertinya kurang peduli dengan

masalah anak itu sendiri.

Ini dapat dibuktikan dengan tidak adanya suatu konsensus

mengenai batas usia anak itu sendiri. Dengan masih belum jelasnya

kapan seseorang dikaatakan telah dewasa, ini tentu menguntungkan


24

para pihak yang selama ini mengekploitasi anak. Apalagi bila

perbuatan mereka tersebut menguntungkan bagi negara. Pemerintah

seolah membuka celah bagi pihak-pihak tak bertanggungjawab

tersebut.

Selain itu, batas usia anak dapat diajukan ke pengadilan, dalam

hal ini pengadilan anak, juga sangat rendah, yaitu sekurang-kurangnya

berusia 8 tahun dan belum mencapai 18 tahun serta belum pernah

menikah. Batas usia tersebut lah yang sempat dipermasalahkan Komite

Hak Anak PBB, terutama ketika kasus Raju mencuat beberapa tahun

silam. Komite menilai batas usia ini harus dinaikan menjadi lebih

rasional. Setidaknya mengacu pada ketentuan-ketentuan dalam Beijing

Rules, yaitu 12 tahun. Walaupun di beberapa negara pun, batas usia

anak untuk dapat dibawa ke pengadilan juga masih beragam.

Berikut ditampilkan perbandingan batas usia minimal anak

untuk dibawa ke pengadilan.

Tabel 4. Perbandingan usai anak yang dibawa ke pengadilan di beberapa negara di


Eropa

No. Nama Negara Usia (dalam tahun)

1. Australia 14
2. Belgia, Swedia 15 18
3. Denmark 15
4. Inggris 10
5. Finlandia 15
6. Perancis 13
7. Jerman 14
8. Yunani 12
9. Irlandia 7
10. Italia 14
11. Luxemburg 18
25

Sumber : Raju yang diburu: Buruknya Peradilan Anak di Indonesia, 2006

E. Metodologi Penelitian

Penelitian yang akan digunakan adalah penelitian deskriptif. Karena penulis

akan memberikan gambaran bagi yang membacanya mengenai pelaksanaan penjara

anak di Indonesia hingga dampak-dampaknya. Sedangkan metode yang akan

digunakan adalah metode yuridis-sosiologis. Karena penulis ingin mengetahui sejauh

mana efektifitas dari dari undang-undang nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan

Anak

Sedangkan untuk memperoleh datanya, penulis akan menggunakan teknik

wawancara, observasi dan studi kepustakaan. Untuk teknik wawancara, penulis akan

melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang terkait seperti anak-anak penghuni

LP Anak Tangerang, sipir LP Anak Tangerang, hingga pihak-pihak dari Komnas

Perlindungan Anak.

Untuk studi kepustakaan, penulis akan menggunakan data-data dari bahan

hukum primer, sekunder, maupun tersier.


26

F. Daftar Pustaka

Buku:

Manan, Bagar, dkk, Peradilan Anak Di Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 1997.

_____, Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 dan Undang-Undang RI Nomor 2

Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak, Trinity, 2007.

Abibil, Jufri Bulian, Raju Yang Diburu: Buruknya Peradilan Anak di Indonesia,

Pondok Edukasi, Bantul, 2006.

Hamzah, Andi, Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia dari retribusi ke reformasi,

PT Pradnya Paramita, Jakarta, 1986.

Hs, Harsono C.I, Sistem Baru Pembinaan Narapidana, Djambatan, Jakarta, 1995