Anda di halaman 1dari 2

Ittihad adalah suatu tingkatan dimana seorang sufi merasa bersatu dengan Tuhannya,

terjadi setelah sang sufi melalui proses fana dan baqa.

Ittihad menurut kaum sufi sejalan dengan konsep pertemuan dengan Allah. Fana dan
Baqa juga dianggap merupakan jalan menuju pertemuan dengan Tuhan sesuai dengan Firman
Allah SWT yang bunyinya : “Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan
Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan
seorang pun dalam beribadat kepada-Nya (Q.S. al-Kahfi, 18 : 110) Hal yang lebih jelas
mengenai proses Ittihad dapat pula kita simak melalui ungkapan al-Bustami : Pada suatu hari
ketika saya dinaikkan ke hadirat Allah, Ia berkata, “Hai Abu Yazid, mahkluk-Ku ingin
melihatmu, aku menjawab, hiasilah aku dengan keesaan itu, sehingga apabila mahkluk itu
melihatku mereka akan berkata :“Kami tetap melihat engkau, maka yang demikian adalah
engkau dan aku tidak ada disana” . Hal ini merupakan ilustrasi proses terjadinya Ittihad,
Demikian juga dalam ungkapan Abu Yazid : “Tuhan berkata : semua mereka kecuali engkau
adalah mahklukku, aku pun berkata : Aku adalah engkau, engkau adalah aku dan aku adalah
engkau . sebenarnya kata-kata “Aku” bukanlah sebagai gambaran dari diri Abu Yazid,
tetapi gambaran Tuhan, karena ia telah bersatu dengan Tuhan sehingga dapat dikatakan bahwa
Tuhan bicara melalui lidah Abu Yazid sedang Abu Yazid tidak mengetahui dirinya Tuhan.
./*Fana’ Baqa’ dan ittihad dalam pandangan al-Qur’an*/ Paham fana’dan
baqa’ yang ditunjukan untuk mencapai ittihad itu dipandang oleh sufi sebagai sejalan dengan
konsep liqo’ ar robi’ menemui Tuhan. Fana’ dan baqa merupakan jalan menuju
berjumpa dengan Tuhan. Hal ini sejalan dengan firman Allah yang artinya :

Barang siapa yang mengarapkan perjumpaan dengan tuhannya maka hendaklah yang
mengerjakan amal yang soleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah
kepadaNya. (Q.S.Al-kahfi110).

Faham ittihad ini juga dapat difahami dari keadaan ketika nabi isa ingin melihat Allah.
Musa berkata : ya Tuhan, bagaimana supaya aku sampai kepadamu. Tuhan berfirman : tinggalah
dirimu (lenyapkanlah dirimu), baru kamu kemari (bersatu). Ayat dan riwayat tersebut memberi
petunjuk bahwa Allah SWT. Telah memberi peluang kepada manusia untuk bersatu dengan
Tuhan secara rohaniah dan bathiniyah, yang caranya antara lain dengan beramal saleh, dan
beribadah semata-mata karena Allah, menghilangkan sifat-sifat dan akhlak yang buruk,
menghilangkan kesadaran sebagai manusia, meninggalkan dosa dan maksiat, dan kemudian
menghias diri dengan sifat-sifat Allah, yang kesemuanya ini tercakup dalam konsep fana dan
baqa adanya konsep fana dan baqa ini dapat difahami dari isyarat yang terdapat dalam ayat yang
artinya sebagai berikut :

Semua yang ada dibumi ini akan binasa, yang tetap kekal dzat Tuhanmu yang
mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Q.S. Al-Rahman.55:26-27). Ajaran yang Kompetebel
bagi Kekinian dan Penerapannya. Setelah kita mengetahui bahwsannya ajaran yang dibawa oleh
Abu Yazid, yaitu fana yang dimaksud dengan yang menghancurkan segala keburukan yang ada
didalam rohani dan jasmani dan baqo dan bersatu dengan Allah ini adalah salah satu ajaran
bahwasannya apabila kita menginginkan mahabahnya Allah berarti kita harus menghilangkan
sifat-sifat yang ada didiri dan dalam hati kita, sehingga kita akan selalu merasakan kehadiran
Allah di dalam hati kita (kebersamaan dengan Allah) dalam segala aktifitas yang kita lakukan.
Salah satu menghilangkan segala keburukan dalam diri kita yaitu yang bertaubat kepada Allah,
Allah akan membukakan hati kita, Allah juga membukakan pintu dan menunjukan jalanNya
untuk mendapatkan mahabbah maupun marifât Allah. Kita sebagai manusia bisa mencapai
ittihad seperti ajaran yang dibawakan oleh Abu Yazid al-Bustami yaitu dengan syarat
melaksanakan fana dan mendapatkan baqa.