Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH

Kombinasi Obat

ASMA

Untuk Memenuhi Tugas Compounding And Dispensing

Oleh :

SULASTRI
1120211707

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER ANGKATAN XXI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SETIA BUDI

SURAKARTA
2011

ASMA

Asma didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik jalan udara yang melibatkan peran
banyak sel dan komponennya .Asma, hay fever, dan anafilaksis disebabkan oleh hal yang
sama yaitu pengikatan Ig E pada sel mast (mastosit) setelah terbentuk ikatan antara antigen
(alergen) dengan Ig E.Asma klasik ditandai dengan episode dispnea yang disertai dengan
bengek ,tapi gambaran klinik asma beragam.Pasien dapat mengeluhkan sempit dada, batuk
( terutama pada malam hari ), atau bunyi saat bernafas .Hal ini sering terjadi saat latihan fisik
tapi dapat terjadi secara spontan atau berhubungan dengan alergen tertentu.

Beberapa alergen pemicu asma a.l :

 Pollen, bulu binatang, obat, kondisi lingkungan (suhu dingin), makanan, dll

Ikatan tsb akan menyebabkan degranulasi sel mast sehingga terjadi pelepasan
mediator spt

 Histamin

 Leukotriene (LT)

 Prostaglandin (PG)

 Platelet activating factor (PAF)

 Mediator,

 bila sampai di hidung dan tenggorokan akan menyebabkan serangan hay fever

 Bila sampai di paru akan menyebabkan serangan asma akibat penyempitan bronkus
(bronkokonstriksi) membuat orang sukar bernafas, ditambah lagi dengan adanya
peningkatan sekresi mukus, membuatnya makin sukar bernafas

 Mediator inflamasi seperti PG menyebabkan peradangan di bronkus membentuk


udem yang menyumbat saluran nafas yang kadang menjadikan asma kronis karena
terjadi perubahan yang permanen pada saluran pernafasan (terjadi obstruksi saluran
nafas)

 Saat serangan akut timbul karena alergi dikatakan sebagai asma ekstrinsik

 Tapi bila serangan asma bukan karena alergi dikatakan sebagai asma intrinsik

 Saat terjadi serangan asma ringan atau moderat digunakan obat agonis b2 kerja
pendek (diberikan secara inhalasi) seperti :

 Salbutamol
 Terbutalin

 Salmeterol

 Formoterol

Obat-obat ini bekerja mendilatasi (bronkodilatasi) sehingga pada saat serangan asma
dapat melonggarkan pernafasan (meningkatkan ventilasi)

• Bila diperlukan agonis b2 lebih dari sehari dapat ditambahkan steroid (secara inhalasi)
atau Na-kromoglikat

• Steroid yang digunakan untuk mencegah inflamasi di saluran nafas dan mereduksi
mukus a.l

 Beclometason

 Budesonide

 Prednisolon (oral)

 Fluticason propionate

• Na-kromoglikat merupakan penstabil membran sel mast yang dapat mencegah reaksi
degranulasi sel mast (terapi profilaksis)

 Pada serangan asma yang lebih berat dapat diberikan :

 agonis b2 kerja pendek (secara inhalasi)

 Ipratropium (secara inhalasi)

 Ipratropium merupakan suatu antikolinergik/antagonis muskarinik, karena salah satu


penyebab bronkhokonstriksi karena adanya rangsangan ke reseptor muskarinik,
sehingga dengan diberikannya antagonis muskarinik dapat mereduksi
bronkhokonstriksi

 Konstriksi dipicu oleh adanya histamin (mediator yang dilepas dari sel mast) ke
reseptor sensorik di saluran nafas

 Theofilin/aminofilin

 Theofilin atau turunan xantin diberikan dalam bentuk sediaan oral lepas lambat
(efektif lebih dari 12 jam)

 Bekerja merelaksasi otot polos bronkhus sehingga dapat digunakan saat terjadi
bronkhospasmus

 Obat ini bermanfaat bagi orang yang tak dapat menggunakan obat inhalasi
 Bila terjadi serangan asma akut berat (acute severe attacks of asthma) atau terjadi
status asmatikus yang tidak terkontrol/tidak teratasi dengan obat-obat yang biasa
dipakai sebaiknya pasien dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang
lebih intensif dengan pemberian :

 Oksigen bersama dengan agonis b2 (salbutamol) secara intra vena atau dalam bentuk
nebulizer

 Hidrokortison secara iv

 Ipratropium nebulizer

 Infus iv theofilin (bila obat-obat yang sudah diberikan di atas belum memunculkan
respon)

• Bila terjadi anafilaksis dapat diberikan :

 Adrenalin secara i.m yang diulang tiap 10 menit sampai tekanan darah kembali
normal

 Antihistamin (klorfeniramin) secara iv setelah pemberian adrenalin

 Kortikosteroid (beclometason)

 Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam terapi asma

 Farmasis harus dapat membedakan obat mana yang digunakan dalam terapi/serangan
asma akut dan obat mana yang digunakan sebagai profilaksis/pencegahan

• Golongan xantin

 Obat lepas lambat seperti theofilin biasanya bersalut, jadi berikan utuh, jangan digerus
atau dipotong, karena rusaknya salut akan mengurangi keefektivan obat.

 Obat lepas lambat mempunyai waktu paruh cukup panjang jadi cukup diberikan 2
kali sehari.

 Pemberian golongan xantin oral ini sebaiknya sesudah makan karena efek
sampingnya membuat mual/muntah

 Ada cara pemberian lain selain oral yaitu lewat rektal (supositoria), i.m, i.v tapi i.m
membuat pasien kesakitan. Infus harus diberikan secara perlahan.

 Obat ini punya efek samping ke jantung membuat takhikardia, aritmia, kerja
merelaksasi otot polos juga dapat mempengaruhi pembuluh darah dan menyebabkan
hipotensi

 Golongan kortikosteroid
 Pemberian dosis kortikosteroid secara berangsur diturunkan, karena banyak efek
samping akibat penggunaan obat ini terutama dalam terapi jangka waktu panjang

 Pemberian sediaan kortikosteroid (beclometason) aerosol menguntungkan karena


langsung sampai ke sasaran dengan efek samping lebih minimal. Sebaiknya setelah
menggunakan aerosol ini segera berkumur untuk menghilangkan sisa obat

• Golongan antihistamin

 Antihistamin memblok reseptor histamin H1 yang akan menekan reaksi alergi

 Antihistamin seperti klorfeniramin, trimeprazin, prometazin punya kerja antagonis


muskarinik

 Antihistamin yang lebih baru a.l : astemizol, terfenadin, yang jarang menyebabkan
efek samping ke jantung

TUJUAN PENATALAKSANAAN ASMA

- Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma

- Mencegah eksaserbasi penyakit

- Meningkatkan fungsi paru mendekati normal

- Mempertahankan fungsi paru

EVALUASI

Kemajuan klinik fungsi pernafasan

 Pengamatan efek samping terutama ke jantung dan pembuluh darah (takhikardia,


aritmia, hipotensi)

 Pemberian aerosol/nebulizer/inhaler oleh pasien sendiri

Pendidikan kepada pasien

 Cara penggunaan aerosol/nebulizer

jangan sampai terjadi kekeliruan cara memakai alat yang membuat gagalnya terapi

 Pasien anak sebaiknya libatkan orang tuanya supaya dapat mengajarinya di rumah
CONTOH KOMBINASI OBAT

SERETIDE

KOMPOSISI:

1.Salmeterol 50 mcg

2.Fluticason propionate 100 mcg

INDIKASI:

Terapi reguler untuk penyakit obstruksi saluran nafas yang reversibel , mencakup asma dan
PPOK ,

Termasuk bronkitis dan enfisiema

ISI :

60 Inhalasi

DOSIS:

2 X 1 Inhalasi

EFEK SAMPING:

Serak atau disfonia, sakit kepala, kandidiasis mulut dan tenggorokan, iritasi tenggorokan,
palpitasi, tremor, bronkospasme paradoksial, artralgia, kram otot.

KEUNTUNGAN KOMBINASI:

Banyak studi melaporkan pengobatan kombinasi ini menghasilkan perbaikan yang


jauh lebih baik dalam hal gejala, kualitas hidup, fungsi paru, dan angka eksaserbasi
penderita asma. Long acting ß2 agonists mampu mengontrol gejala asma secara lebih
baik tanpa efek samping yang minimal.

MEKANISME:

Kombinasi fluticasone propionate yang merupakan kortikosteroid dan salmeterol


xinafoate yang merupakan Long acting beta2 agonist atau LABA. Kombinasi obat ini
merupakan kombinasi yang memberikatan efek sinergis dimana Fluticatone
propionate: Salmeterol akan berikatan dengan reseptor B2 agonist,setelah berikatan
dengan reseptornya maka akan bertemu dengan DNA inflamasi yang mana
Fluticasone propionate berperan sebagai anti inflamasi,selain berperan sebagai anti
inflamasi .Ternyata ditemukan efek yang lain yaitu meningkat kan sintesa reseptor B2
agonist Sehingga bisa meningkatkan ikatan B2agonist dengan reseptornya.untuk
Salmeterol dengan adanya fluticasone propionate akan meningkatkan sensitifitas
reseptor glukokortikoid untuk berikatan dengan fluticasone propionate ,sehingga
kebutuhan fluticasone propionate untuk berikatan dengan reseptornya jauh lebih
sedikit.

0BAT PATENT LAIN :

Obucort, spiriva, symbicort...