Anda di halaman 1dari 100

LEMBAR PENGESAHAN I

LAPORAN PRAKTIKUM
PEMERIKSAAN BAKTERIOLOGI SAMPEL AIR GALON

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Nama : Andi Muh. Arfah Saputra Samad


Nim : K 111 08 856
Kelompok : VIII

Mengetahui,

Makassar, Maret 2011

Koordinator Asisten, Asisten,

ADI PRATAMA MUH. SUBHAN


K 111 07 060 K 111 07 094

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa dipanjatkan kepada Allah SWT. karena limpahan

rahmat dan taufik-Nya sehingga Laporan Praktikum dengan judul

”PEMERIKSAAN BAKTERIOLOGI SAMPEL AIR GALON” dapat diselesaikan

tepat pada waktunya .

Laporan ini berisi uraian tentang hasil kegiatan praktikum yang dilakukan

dengan percobaan perkiraan, penegasan, dan pelengkap.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa tidak tertutup kemungkinan isi laporan

ini belum sesuai dengan harapan berbagai pihak, karena potensi yang penyusun

miliki masih sangat terbatas oleh karena itu saran dan kritikan yang sifatnya

konstruktif, sangat penyusun harapkan terutama dari Bapak Dosen penanggung

jawab mata kuliah.

Semoga laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi saya sendiri dan

umumnya bagi teman-teman mahasiswa serta yang membacanya.

Makassar, Maret 2011

A.Muh.Arfah Saputra.S

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... ....................................................................... .. i


KATA PENGANTAR .................................................................................... .. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... .. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................... .. 1
B. Tujuan Percobaan .................................................................. .. 3
C. Prinsip Percobaan .................................................................. .. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum tentang Air ................................................... 5
B. Sumber Air .............................................................................. 6
C. Tinjauan Air minum Kemasan ................................................. 7
D. Tinjauan Umum Bakteri Coliform ........................................... 7
E. Metode MPN (Most Probable Number)............................. ..... 11
BAB III METODE PERCOBAAN
A. Alat .......................................................................................... 14
B. Bahan ....................................................................................... 14
C Lokasi dan Waktu Pengambilan sampel ................................. 15
D. Prosedur Kerja.......................................................................... 15
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan ..................................................................... 18
B. Pembahasan .............................................................................. 19
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................. 22
B. Saran ...................................................................................... .. 22
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 23
LAMPIRAN

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di Indonesia, tingkat pencemaran oleh mikroorganisme (bakteri atau virus)

terhadap badan air maupun dalam suplai air minum merupakan kasus yang sering

terjadi. Selain itu, pencemaran oleh faktor kimia dan fisika misalnya pencemaran

oleh senyawa polutan (carcinogenic) perlu juga untuk diwaspadai. Hal tersebut

sering muncul akibat adanya limbah yang dihasilkan oleh kegiatan laju urbanisasi

dan industrialisasi, dan juga akibat penggunaan teknologi produksi yang mana

sering tidak atau kurang ramah terhadap lingkungan ataupun terhadap kesehatan

masyarakat.

Air di dalam tubuh manusia, berkisar antara 50 -70 % dari seluruh berat

badan. Air terdapat di seluruh badan, di tulang terdapat air sebanyak 22 % berat

tulang, di darah dan ginjal sebanyak 83 %. Kehilangan air untuk 15 % dari berat

badan dapat mengakibatkan kematian. Karenanya orang dewasa perlu minum

minimum 1,5 – 2 liter air sehari. Kekurangan air ini menyebabkan banyaknya

didapat penyakit batu ginjal dan kandung kemih di daerah tropis seperti

Indonesia, karena terjadinya kristalisasi unsur –unsur yang ada di dalam cairan

tubuh. (Soemirat, 2002).

1
Menurut WHO kebutuhan minimal setiap orang akan air yaitu 60 liter/hari.

Oleh karena itu, peranan air sangatlah penting bagi manusia. Untuk memenuhi

kebutuhan tersebut manusia atau masyarakat memiliki berbagai alternatif antara

lain membeli dari perusahaan penyedia air bersih ataupun beralih kepada

pengambilan air bawah tanah. (Pusair.2004)

Selain peranan air yang sangat penting bagi manusia, air juga merupakan

salah satu media yang sangat baik untuk penularan berbagai penyakit. Misalnya

demam typhoid, cholera, tularemia, dysentri amoeba, penyakit hepatitis

infectious, guinea wormdisease, dan sebagainya.

Standar kualitas air minum yang memenuhi syarat menurut Peraturan Menteri

Kesehatan No.492/Menkes/Per/IV/2010 di lihat dari unsur biologis, fisik, maupun

kimiawi. Dalam hal ini, indikator unsur biologi tidak boleh mengandung bakteri

Coliform atau dengan kata lain Coliform = 0.

Pada waktu suatu sampel air minum yang di ambil ternyata tidak sesuai

dengan standar atau syarat diatas (terutama unsur biologinya), maka air tersebut

tidak layak untuk di konsumsi oleh manusia dan hanya di perbolehkan untuk

kegiatan peternakan dan pertanian atau untuk keperluan rumah tangga lainnya.

Penggunaan air yang tidak memenuhi syarat kesehatan di Indonesia setiap

tahunnya diperkirakan lebih dari 3,5 juta anak dibawah usia tiga tahun terserang

penyakit saluran pencernaan dan diare. Jumlah kematian 3% atau sekitar 105.000

jiwa. Kejadian penyakit yang diakibatkan oleh bakteri Escherichia coli spp. ini

tersebar di seluruh dunia, prevalensi infeksi Escherichia Coli sangat tinggi

2
terdapat di negara berkembang dengan angka perkiraan kejadian lebih dari 100

kasus per 100.000 penduduk. Infeksi EHEC (Escherichia coli enterohemoragik)

terutama dilaporkan di Argentina, Cili, Eropa (Prancis, Jerman, Italia, Swedia dan

Inggris), Jepang dan Amerika Utara.

Menurut A. Tamyis Ali Imron dalam laporannya (2007), Penentuan Coliform

fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti

berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri pathogen. Selain itu, mendeteksi

Coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri

patogenik lain. Untuk itu hal yang perlu dinilai dalam standar biologis yaitu

keberadaan bakteri Coliform karena sifatnya yang tidak pathogen, mudah dan

cepat dikenali dengan cara laboratorium yang murah, dapat bertahan lebih lama.

Jadi makin sedikit kandungan Coliform, berarti kualitas air semakin baik.

Contoh bakteri Coliform adalah Esherichia coli, Enterobacter aerogenes, dan

Clostridium sp. Di Indonesia, bakteri indikator air terkontaminasi adalah E. coli

(GAUSE, G. F. 1946 dalam A. Tamyis Ali Imron, 2007).

B. Tujuan Percobaan

Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui jumlah bakteri Coliform

yang terkandung dalam sampel air galon.

C. Prinsip Percobaan

Untuk percobaan ini, prinsip-prinsip yang harus dipenuhi yaitu :

1. Sebelum digunakan alat harus berada dalam kondisi yang bersih atau steril.

2. Sebelum melakukan pemeriksaan sampel, tangan dan area kerja harus steril.

3
3. Sebaiknya selama proses percobaan tidak boleh berbicara.

4. Jarak waktu pengambilan sampel dengan pemeriksaan sampel tidak lebih dari

6 jam atau di periksa secepat mungkin.

5. Selama proses percobaan, sampel, media dan alat percobaan tidak boleh

terkontaminasi oleh bakteri lain di luar bakteri yang terkandung dalam sampel

itu sendiri.

6. Pencampuran antara sampel dengan media (kaldu laktose dan cairan BGLB)

harus terjadi dengan sempurna.

7. Setiap melakukan pencampuran, harus selalu melakukan penghomogenan.

8. Jika dalam waktu 2x24 jam terdapat gas atau gelembung dalam tabung, tes

dinyatakan positif. Dan sebaliknya, jika tidak ditemukan gas atau gelembung

maka tes dikatakan negatif.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum tentang Air

Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan akan

menjadi air minum setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai batasnya, air bersih

adalah air yang memenuhi persyaratan bagi sistem penyediaan air minum, dimana

persyaratan yang dimaksud adalah dari segi kualitas air yang meliputi kualitas

fisik, kimia, biologis dan radiologis, sehingga apabila dikonsumsi tidak

menimbulkan efek samping (Ketentuan Permenkes No.416/Menkes/Per/IX/1990).

Persyaratan tersebut juga memperhatikan pengamanan terhadap sistem distribusi

air bersih dari instalasi air bersih sampai pada konsumen.

Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat-syarat kesehatan

yang dapat diminum. Alasan kesehatan dan teknis yang mendasari penentuan

standar kualitas air minum adalah efek-efek dari setiap parameter jika melebihi

dosis yang telah ditetapkan. Pengertian standar kualitas air minum adalah batas

operasional dari kriteria kualitas air dengan memasukkan pertimbangan non

teknis, misalnya kondisi sosial-ekonomi, target atau tingkat kualitas produksi,

tingkat kesehatan yang ada dan teknologi yang tersedia. Sedangkan kriteria air

merupakan putusan ilmiah yang mengekspresikan hubungan dosis dan respon

5
efek, yang diperkirakan terjadi kapan dan dimana saja unsur-unsur pengotor

mencapai atau melebihi batas maksimum yang ditetapkan, dalam waktu tertentu.

Berdasarkan Permenkes No.416/Menkes/Per/IX/1990, yang membedakan

antara kualitas air bersih dan air minum adalah standar kualitas setiap parameter

fisik, kimia, biologis, dan radiologis maksimum yang diperbolehkan.

B. Sumber Air

Sumber air yang dapat di gunakan dalam aktivitas atau untuk memenuhi

kebutuhan tubuh manusia, adalah sebagai berikut ;

1. Air Hujan

Air hujan adalah uap air yang sudah terkondensasi dan jatuh ke bumi. Air ini

bersumber dari air yang ada di angkasa sebagai uap air atau dalam bentuk

awan yang berasal dari evaporasi air laut, air permukaan lainnya dan es yang

ada di kutub.

2. Air Permukaan

Air permukaan adalah air yang terdapat dipermukaan bumi baik dalam bentuk

cair maupun padat. Air ini bersumber dari air hujan, air tanah yang mengalir

keluar ke permukaan bumi melalui sungai, danau dan laut serta air yang

berasal dari buangan bekas aktivitas manusia.

3. Air Sungai

Air sungai sangat dipengaruhi oleh musim, dimana debit sungai pada musim

hujan relatif lebih besar daripada debit sungai pada musim kemarau. Sumber

air berasal dari air hujan, mata air, dan sebagainya.

6
4. Air Tanah

Air tanah adalah air hujan atau air permukaan yang meresap kedalam tanah dan

bergabung membentuk lapisan air tanah (aquifer). Air tanah bersumber dari

hujan yang masuk ke dalam tanah melalui pori-pori tanah atau air yang

tersimpan sejak lama didalam tanah yang berupa air tanah dangkal, air tanah

dalam, mata air.

5. Mata Air

Mata air adalah air didalam tanah mengalir pada lapisan tanah berpasir atau

kerikil, atau mengalir melalui celah diantara dua lapisan batu.

C. Tinjauan Air Minum Kemasan

Sesuai dengan berkembangnya teknologi, keberadaan sarana penyediaan air

minum dalam kemasan (AMDK) galon isi ulang sangat diminati hampir semua

kalangan masyarakat rumah tangga, perkantoran dan para pelajar. Selain harganya

yang relatif murah, masyarakat meyakini bahwa kualitas air galon yang hampir

sama dengan AMDK merk terkenal. Namun dari hasil beberapa penelitian

ditemukan AMDK yang kualitasnya rendah. Hal tersebut diperkuat dengan

ditemukannya sejumlah bakteri Coliform pada sampel AMDK.

D. Tinjauan Umum Bakteri Coliform

Coliform adalah kelompok bakteri gram negatif berbentuk batang yang pada

umumnya menghasilkan gas jika ditumbuhkan dalam medium laktosa. Gas ini

merupakan ekskret yang dihasilkan Coliform.

7
Bakteri coliform berdasarkan asal dan sifatnya dibagi menjadi dua golongan :

1. Coliform fecal, seperti Escherichia coli yang betul-betul berasal dari tinja

manusia.

2. Coliform non fecal, seperti aerobacter dan klebsiella yang bukan berasal dari

tinja manusia tetapi biasanya berasal dari hewan atau tanaman yang telah mati

3. Sifat-sifat “Coliform Bacteria” yang penting adalah:

a. Mampu tumbuh baik pada beberapa jenis substrat dan dapat

mempergunakan berbagai jenis karbohidrat dan komponen organik lain

sebagai sumber energi dan beberapa komponen nitrogen sederhana

sebagai sumber nitrogen.

b. Mempunyai sifat dapat mensistesa vitamin.

c. Mempunyai interval suhu pertumbuhan antara 10-46,50C.

d. Mampu menghasilkan asam dan gas gula.

e. Dapat menghilangkan rasa pada bahan pangan.

f. Pseudomonas aerogenes dapat menyebabkan pelendiran (Suriawaria,

1996).

Bakteri Coliform ini merupakan parameter mikrobiologis terpenting kualitas

air minum atau dengan kata lain merupakan indikator keberadaan bakteri

pathogen lain di dalam air. Lebih tepatnya, sebenarnya bakteri coliform fekal

adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri patogen. Semakin sedikit

kandungan bakteri Coliform dalam air maka semakin bersih air tersebut.

8
Terdapatnya bakteri Coliform dalam air kemasan galon dapat menjadi indikasi

kemungkinan besar adanya organisme patogen lainnya. Keberadaan E.coli dalam

air dapat menjadi indikator adanya pencemaran air oleh tinja. E.coli digunakan

sebagai indikator pemeriksaan kualitas bakteriologis secara universal dalam

analisis dengan alasan:

1. E.coli secara normal hanya ditemukan di saluran pencernaan manusia (sebagai

flora normal) atau hewan mamalia, atau bahan yang telah terkontaminasi

dengan tinja manusia atau hewan; jarang sekali ditemukan dalam air dengan

kualitas kebersihan yang tinggi.

2. E.coli mudah diperiksa di laboratorium dan sensitivitasnya tinggi jika

pemeriksaan dilakukan dengan benar.

3. Bila dalam air tersebut ditemukan E.coli, maka air tersebut dianggap

berbahaya bagi penggunaan domestik.

4. Ada kemungkinan bakteri enterik patogen yang lain dapat ditemukan

bersama-sama dengan E.coli dalam air tersebut. Bakteri pembusuk ini

dimasukkan ke dalam golongan bakteri Coliform, salah satu yang termasuk

didalamnya adalah Escherichia Coli. Bakteri coliform ini menghasilkan zat

ethionine yang pada penelitian menyebabkan kanker. Bakteri-bakteri

pembusuk ini juga memproduksi bermacam-macam racun seperti Indole,

skatole yang dapat menimbulkan penyakit bila berlebih didalam tubuh.

Penentuan Coliform fecal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah

koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu,

9
mendeteksi Coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi

bakteri patogenik lain. Meskipun pada kenyataannya bakteri Coliform ini

memiliki beberapa kelemahan untuk dijadikan indikator yakni :

1. Ia tidak sepenuhnya pathogen. Beberapa tipe dapat menyebabkan disentri

pada bayi. Jenis E.coli O:157:H7, bersifat patogen dan juga dapat

menyebabkan diare atau diare berdarah, kram perut, mual, dan rasa tidak enak

badan.

2. Tidak semua bakteri Coliform berasal dari usus manusia, ia dapat juga

berasal dari hewan danbahkan ada yang hidup bebas. Oleh karenanya, dalam

dunia laboratorium, ada tes lanjutan yang memeriksa Escheria coli yang pasti

berasal dari tinja.

3. Tidak sepenuhnya dapat mewakili virus karena Coliform musnah lebih dahulu

oleh chlor sedangkan virus tidak. Kista amoeba dan telur cacing juga tahan

lebih lama di dalam saluran air bersih dibanding dengan bakteri Coliform.

4. Bakteri Coliform dapat berkembang biak dalam air meskipun dalam

kemampuan yang terbatas.

Persyaratan kualitas air minum (air yang aman untuk dikonsumsi langsung),

termasuk AMDIU, diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor

907/Menkes/SK/VII/2002. Air minum itu selain harus memenuhi persyaratan

fisik dan kimia, juga harus memenuhi persyaratan mikrobiologis. Air minum

harus bebas dari bakteri patogen.

10
E. Metode MPN (Most Probable Number)

Metode MPN adalah metode untuk menghitung jumlah mikroba dengan

menggunakan medium cair dalam tabung reaksi yang pada umumnya setiap

pengenceran menggunakan 3 atau 5 seri tabung dan perhitungan yang dilakukan

merupakan tahap pendekatan secara statisitik.

Metode MPN terdiri dari tiga tahap, yaitu uji perkiraan (presumtive test), uji

penegasan (confirmed test), dan uji kelengkapan (completed test).

1. Uji Perkiraan (presumtive test)

Tabung reaksi berisi 10 ml medium cair dicampuri laktosa diisi dengan 1-

5 ml dari sampel air. Perbandingan dalam pembuatan media dan volum dari

sampel yang dimasukkan bergantung pada jenis air sampel yang digunakan.

Jika diduga air sampel banyak mengandung bakteri atau sangat kotor maka

cukup diambil 1 ml saja untuk diinokulasikan ke dalam tabung reaksi tersebut.

Di dalam tabung reaksi tersebut terlebih dahulu diletakkan tabung durham

dalam posisi terbalik. Jika dalam waktu 48 jam tabung-tabung durham

mengandung gas maka sampel dinyatakan positif emngandung bakteri,

sebaliknya bila tidak dihasilkan gas maka sampel negatif mengandung bakteri.

Dalam uji tahap pertama, keberadaan coliform masih dalam tingkat

probabilitas rendah; masih dalam dugaan.

Uji ini mendeteksi sifat fermentatif Coliform dalam sampel. Karena

beberapa jenis bakteri selain Coliform juga memiliki sifat fermentatif,

11
diperlukan uji konfirmasi untuk mengetes kembali kebenaran adanya

coliform.

2. Uji Penegasan (confirmed tes)

Ada 2 cara untuk melakukan uji ini yaitu :

a. Uji dapat dilakukan seperti pada uji pendugaan, hanya di dalam media

perlu ditambahkan zat warna hijau berlian. Kepada medium ini kemudian

dinokulasikan sejumlah ml air yang mengandung bakteri yang

menghasilkan gas. Hijau berlian berguna untuk menghambat pertumbuhan

gram positif dan menggiatkan pertumbuhan bakteri golongan kolon. Jika

timbul gas sebelum 48 jam berakhitr maka, tes dinyatakan positif

b. Menginokulasikan air yang menghasilkan gas ke dalam cawan petri berisi

medium yang mengandung laktose dan eosin biru metilen atau laktose dan

eosin biru metilen. Jika dalam 24 jam tumbuh koloni-koloni yang berinti

dan mengkilap seperti logam maka tes ini positif.

3. Uji Kelengkapan (completed test).

Uji kelengkapan ini kadang-kadang tidak dilakukan. Uji dilakukan denga

alasan demi kesempurnaan hasil percobaan. Pada uji ini diambil inokulum

dari suatu kolon pada cawan petri (uji konfirmasi cara 2). Inokulum

dimasukkan ke dalam medium cair yang mengandung laktose dan dari

inokulum tersebut dibuat gesekan pada agar-agar miring. Jika kemudian

timbul gas dalam cairan laktose, lagipula pada agar-agar miring ditemukan

basil-basil gram negatif yang berupa spora maka tes dinyatakan positif.

12
Uji kelengkapan ini kembali meyakinkan hasil tes uji konfirmasi dengan

mendeteksi sifat fermentatif dan pengamatan mikroskop terhadap ciri-ciri

Coliform: berbentuk batang, Gram negatif, tidak-berspora. Jika pada uji

penduga tidak menunjukkan adanya Coliform maka tidak perlu dilakukan uji

lengkap.

Output metode MPN adalah nilai MPN. Nilai MPN adalah perkiraan

jumlah unit tumbuh (growth unit) atau unit pembentuk-koloni (colony-

forming unit) dalam sampel. Namun, pada umumnya, nilai MPN juga

diartikan sebagai perkiraan jumlah individu bakteri. Satuan yang digunakan,

umumnya per 100 mL atau per gram. Jadi misalnya terdapat nilai MPN 10/g

dalam sebuah sampel air, artinya dalam sampel air tersebut diperkirakan

setidaknya mengandung 10 Coliform pada setiap gramnya. Makin kecil nilai

MPN, maka air tersebut makin tinggi kualitasnya, dan makin layak minum.

Metode MPN memiliki limit kepercayaan 95 persen sehingga pada setiap nilai

MPN, terdapat jangkauan nilai MPN terendah dan nilai MPN tertinggi.

13
BAB III

METODE PERCOBAAN

A. Alat

1. Botol Sampel 1 buah

2. Pembakar Bunzen 1 buah

3. Tabung Reaksi 7 buah

4. Rak Tabung 1 buah

5. Tabung Durham 7 buah

6. OSE / Wire loop 1 buah

7. Bulp 1 buah

8. Pipet 1 buah

9. Inkubator, otoklaf, kapas, tissue, alkohol

B. Bahan

1. Air sampel galon

2. Kaldu Laktosa yang terdiri dari :

a. Laktosa pekat 10 ml x 5

b. Laktosa encer 1 ml x 1

c. Laktosa encer 0,1 x 1

3. Larutan Pengencer dan BGLB (Brillliant Green Lactose Bile Broth).

14
C. Lokasi dan Waktu Pengambilan Sampel

Lokasi : FKM Lantai 3 “Jurusan Kesehatan Lingkungan”

Waktu : Kamis, 24 Maret 2011

Pukul 10.18 wita

D. Prosedur Kerja

1. Pengambilan Sampel

a) Bersihkan kran dispenser dan setiap benda yang menempel yang

memungkinkan dapat mengganggu proses pengambilan sampel dengan

kain bersih.

b) Air dari kran dispenser dialirkan selama 2 menit, lalu tutup kembali.

c) Kran dispenser disterilkan dengan menggunakan kapas yang telah di

celupkan alkohol.

d) Perlahan-lahan buka kran dispenser dan biarkan air mengalir selama 2

menit dengan aliran sedang.

e) Tali pengikat kertas pelindung dilepas dan penutup botol sampel diangkat.

f) Air kemudian dialirkan ke dalam botol sampel sebanyak 2/3 botol.

g) Tutup kembali botol sampel yang telah diisi, dengan memutar kemudian

ditutup kembali dengan kertas coklat lalu diikat kembali.

2. Uji Perkiraan (presumptive test)

a) Tangan dan tempat kerja disterilkan dengan menggunakan alkohol.

15
b) Disiapkan tabung media laktose sebanyak 7 tabung reaksi dengan

perbandingan : 5x 10 ml (laktosa broth jenis pekat); 1x1ml (laktosa broth

jenis encer), 1x 0,1 ml (laktosa broth jenis encer).

c) Dengan pipet steril dan mulut tabung media laktosa diplambir setiap

hendak memindahkan sampel.

d) Dengan menggunakan pipet steril, sampel dipindahkan ke dalam tabung

media dengan jumlah sesuai dengan perbandingan dan tidak jauh dari

pembakar bunzen yang menyala.

e) Tabung media laktosa yang telah dicampur dengan sampel digoyangkan

(homogen) agar media laktose dan sampel tercampur rata kemudian

diletakkan pada rak tabung.

f) Ketujuh tabung dalam rak dimasukkan ke dalam inkubator selama 2x24

jam pada suhu 35°C.

3. Uji Penegasan

a) Tangan dan tempat kerja disterilkan dengan menggunakan alkohol.

b) Sampel dikeluarkan dari inkubator yang telah di simpan selama 2x24 jam.

c) Setiap sampel di dalam tabung durham diamati, tabung yang tidak

mengandung gelembung gas dipisahkan sedangkan tabung yang

mengandung gelembung gas diambil untuk uji penegasan. (tabung 1 ml

dan 0,1 ml serta 3 tabung 10 ml yang tidak mempunyai gelembung gas).

d) BGLB (brilliant green lactose bile broth) disiapkan.

e) Pembakar bunzen dinyalakan.

16
f) OSE/Wire loop disiapkan.

g) Plambir OSE sampai terlihat membara, diamkan sejenak OSE beberapa

detik kemudian celupkan kedalam tabung sampel 1-2 kali kemudian

dicelupkan OSE ke tabung yang berisi BGLB lalu plambir tabung BGLB

kemudian tutup kembali dengan kapas penutup.

h) Goyangkan (homogen) tabung yang berisi BGLB yang telah di celupkan

tadi dengan OSE.

i) Setelah itu bawah rak tabung ke dalam otoklaf dengan suhu 35°C.

4. Penghitungan Jumlah Bakteri

Perhitungan dengan ini dilakukan apabila hasil dari penegasan tidak

tercantumkan pada Tabel Perkiraan Jumlah Terdekat (MPN). Dengan cara

sebagai beriku :

a) Tabung dikeluarkan dari inkubator kemudian tabung durham diamati

terangkat atau tidak.

b) Bila tabung durham terangkat maka sampel dinyatakan positif

mengandung bakteri coliform.

c) Jumlah bakteri kemudian dihitung dengan menggunakan rumus Thomas :

tabung (+) x 100


MpN =
ml contoh pada tabung (-) x ml contoh pada semua tabung

17
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

1. Uji Perkiraan

Dari 7 buah tabung media yang berisi kaldu laktosa dengan campuran air

sampel dan di inkubator selama 2x24 jam dengan 35°C, ada 2 buah tabung

yang mempunyai gelembung gas di dalam tabung durham atau mengalami

perubahan yaitu, tabung yang berisi kaldu laktosa pekat 10 ml. Sedangkan

tabung yang tidak mengalami perubahan yaitu, 3 tabung (pekat 10ml), 1

tabung (encer 1ml), dan 1 tabung (encer 0,1ml).

2. Uji Penegasan

Dari dua tabung pada hasil uji perkiraan ditemui adanya satu tabung 10ml

yang positif mengandung bakteri Coliform. Dan berdasarkan tabel Perkiraan

Jumlah terdekat (MPN) untuk air minum maka diperoleh bakteri Coliform

sebanyak 2,2 MPN/ 100ml sampel.

3. Penghitungan Jumlah Bakteri

Tidak dilakukan karena sudah terdapat dalam tabel perkiraan jumlah terdekat

(MPN) ragam I: 7 tabung (5 tabung x 10 ml, 1 tabung x 1 ml, 1 tabung x 0,1

ml) yaitu index MPN/100 ml = 240, dimana setiap 100 ml air galon terdapat

240 bakteri coliform.

18
B. Pembahasan

1. Data uji perkiraan

Pada uji perkiraan ini diperoleh bahwa dari 7 buah tabung, terdapat 2 buah

tabung yang mengalami perubahan media (memiliki gelembung pada tabung

durhams). Perubahan ini menunjukkan bahwa sampel yang berada di dalam 2

tersebut positif mengandung bakteri.

Sampel yang diuji dalam percobaan ini yaitu air Galon di ”Jurusan

Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat UNHAS ”. Hal itu

mengindikasikan bahwa ada perbedaan dalam karakteristik air baku, teknologi

produksi, dan atau proses operasi dan pemeliharaan yang diterapkan di depot

isi ulang.

Ada 3 kemungkinan pencemaran tersebut berasal :

a) Proses Produksi

Pencemaran tersebut karena air minum yang dihasilkan memang

kurang bersih. Biasanya terjadi dalam proses produksi untuk

menghasilkan air minum tersebut. Bisa karena waktu pakai filter dan

Ultraviolet yang sudah lewat batas waktu penggunaan. Tahap Utraviolet

yang berfungsi untuk mematikan/mensterilkan bakteri dan virus dalam air

mempunyai jangka waktu tertentu dalam pemakaiannya. Yang terjadi ada

kalanya Utraviolet tersebut sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya,

namun tetap dipakai. Hal ini bisa karena kurang pahamnya operator atau

karena unsur kesengajaan karena ingin menghemat biaya pergantian

19
„lampu ultraviolet‟ , umumnya kasus ini sering terjadi di Depot air minum

isi ulang. Tetapi produsen air minum dalam kemasan (AMDK) biasanya

mempunyai kontrol dan standarisasi yang lebih ketat dalam proses

produksi, sehingga hal ini jarang terjadi.

b) Proses Pencucian

Galon yang kurang bersih dalam proses pencuciannya, sehingga masih

ada kotoran yang tertinggal dalam galon akan mengakibatkan air minum

akan tercemar ulang. Hal ini lebih rentan terjadi bila anda membeli air

minum isi ulang. Karena umumnya kontrol terhadap kebersihan galon

tidak seketat produsen AMDK.

c) Proses Pengemasan/Pengisian

Dalam tahap ini, pencemaran ulang bisa terjadi, biasanya adalah

karena tempat/tangki penyimpanan air yang kurang bersih atau dalam

proses pengisian ke galon. Udara yang kotor (debu) membawa banyak

bakteri dan virus yang tidak kelihatan. Jadi bila dalam proses pengisian ke

dalam galon terjadi kontak dengan udara terbuka, ada kemungkinan

bakteri dan virus dalam udara masuk ke dalam galon. Di sinilah terjadi

pencemaran ulang, air minum yang tadinya sudah bebas dari pencemaran

mikroorganisme akhirnya tercemar lagi.

d) Konsumen

Kebiasaan masyarakat yang telah membuka air galon sering tidak di

tutup kembali. Ada kalanya juga dispenser air yang telah di angkat

20
galonnya dibiarkan terbuka tanpa di tutup. Hal-hal tersebut dapat

mengakibatkan terjadinya pencemaran ulang karena debu/kotoran yang

terbawa dari udara dapat saja masuk kedalam galon atau dispenser air

yang terbuka.

2. Data uji penegasan

Untuk uji penegasan disini kita menggunakan media BGLB. Akan tetapi

hanya 2 tabung yang positif sedangkan 5 tabung dinyatakan negatif. Oleh

karena itu dalam uji penegasan disini hanya 2 tabung yang diuji dengan media

BGLB, dimana kedua tabung tersebut berjenis pekat dengan komposisi 10 ml.

Dari hasil pengamatan tersebut diketahui bahwa dari kedua tabung

tersebut terdapat satu tabung yang mengalami perubahan di media BGLB. Hal

ini menunjukkan bahwa semua sampel tersebut positif mengandung bakteri

Coliform.

3. Penghitungan jumlah bakteri

Pada tahap penghitungan ini digunakan tabel perkiraan jumlah terdekat

(MPN) jenis ragam 1: 7 tabung (1 tabung x 10 ml, 0 tabung x 1 ml, 0 tabung x

0,1 ml) dengan jumlah index MPN/100ml = 2,2. Ini menandakan bahwasanya

setiap 100 ml air galon terdapat 2,2 bakteri coliform.

21
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada sampel air Galon yang diambil di FKM Lat.3 ”Jurusan Kesehatan

Lingkungan” hari kamis, 24 Maret 2011 pada jam 10.18 wita. Diketahui bahwa

air tersebut positif mengandung bakteri coliform dengan PJT (Perkiraan Jumlah

Terdekat) Index MPN/100ml sebayak 2,2. Dengan ditemukannya bakteri

Coliform maka dapat disimpulkan bahwa kualitas air ada di Jurusan Kesehatan

Lingkungan yang diuji tidak memenuhi standar air minum berdasarkan Peraturan

Menteri Kesehatan Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002.

B. Saran

Sebaiknya untuk pemeriksaan kualitas air minum ataupun air bersih

setidaknya bukan hanya pemeriksaan unsur biologis semata. Dan bagi

masyarakat, agar senantiasa berhati-hati dalam pemilihan air minum dalam

kemasan (AMDK) karena tidak selamanya air kemasan (termasuk air galon)

terjamin kualitasnya.

22
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Tamyis. 2008. Pengukuran oliform Fecal dengan MPN. diakses tanggal 27
Maret 2011. http://cyber-biology.blogspot.com

Daud, Anwar. 2010. Aspek Kesehatan Masyarakat Penyediaan Air Bersih. Makassar :
CV.Healhty and Sanitation Indonesia.

Said, Nusa Idaman. Kualitas Air Dan Kesehatan Masyarakat.


http://www.kelair.bppt.go.id/Publikasi/BukuKesmas/BAB1.pdf

Sistem penyediaan air bersih. diakses tanggal 27 Maret 2011.


http://www.elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/rekayasa_lingkungan/bab2_sistem_
penyedian_air_bersih.pdf

Universitas Sumatera Utara. diakses tanggal 27 maret 20011.


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20807/4/Chapter%20II.pdf

Widiyanti, Ni Luh Putu Manik dan Ni Putu Ristiati, 2004, Analisis Kualitatif Bakteri
Koliform Pada Depo Air Minum Isi Ulang Di Kota Singaraja Bali. Jurnal
Ekologi Kesehatan Vol 3 No 1, April 2004 : 64 - 73

23
LEMBAR PENGESAHAN II
LAPORAN PRAKTIKUM
PEMERIKSAAN BAKTERIOLOGI SAMPEL NASI KUNING

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011

Nama : Andi Muh. Arfah Saputra Samad


Nim : K 111 08 856
Kelompok : VIII (DELAPAN)

Makassar, 7 April 2011

Mengetahui,

Koordinator Asisten, Asisten,

ADI PRATAMA MUH. SUBHAN


K 111 07 060 K 111 07 094

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa dipanjatkan kepada Allah SWT. karena limpahan

rahmat dan taufik-Nya sehingga Laporan Praktikum dengan judul

”PEMERIKSAAN BAKTERIOLOGI SAMPEL NASI KUNING” dapat diselesaikan

tepat pada waktunya .

Laporan ini berisi uraian tentang hasil kegiatan praktikum yang dilakukan

dengan percobaan perkiraan, penegasan, dan pelengkap.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa tidak tertutup kemungkinan isi laporan

ini belum sesuai dengan harapan berbagai pihak, karena potensi yang penyusun

miliki masih sangat terbatas oleh karena itu saran dan kritikan yang sifatnya

konstruktif, sangat penyusun harapkan terutama dari Bapak Dosen penanggung

jawab mata kuliah.

Semoga laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi saya sendiri dan

umumnya bagi teman-teman mahasiswa serta yang membacanya.

Makassar, 7 April 2011

A.Muh.Arfah Saputra.S

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... ....................................................................... .. i


KATA PENGANTAR .................................................................................... .. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... .. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................... .. 1
B. Tujuan Percobaan .................................................................. .. 2
C. Prinsip Percobaan .................................................................. .. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan umum tentang Makanan ........................................... 4
B. Penyakit yang ditimbulkan akibat Makanan............................. 6
C. Tinjauan tentang Bakteri .......................................................... 9
D. Metode Pemeriksaan.................................................................. 11
BAB III METODE PERCOBAAN
A. Alat .......................................................................................... 14
B. Bahan ....................................................................................... 15
C Waktu dan Tempat Pengambilan sampel ................................ 15
D. Prosedur Kerja.......................................................................... 15
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan ..................................................................... 19
B. Pembahasan .............................................................................. 19
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................. 22
B. Saran ...................................................................................... .. 22
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 23
LAMPIRAN

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Makanan merupakan salah satu kebutuhan utama manusia. Sumber makanan

yang dikonsumsi biasanya dari tumbuhan dan hewani. Meskipun bersumber dari

sumber yang berbeda, tapi makanan yang harus dikonsumsi manusia itu

setidaknya sesuai dengan kebutuhan yang perlukan oleh tubuh.

Makanan yang dikonsumsi manusia biasanya mengandung nutrisi yang

diperlukan antara lain, untuk pertumbuhan badan, memelihara jaringan tubuh

yang rusak, berkembang biak dan untuk proses yang terjadi di dalam tubuh dan

menghasilkan energi untuk dapat melakukan aktivitas.

Selain itu, makanan juga dapat menyebabkan penularan penyakit yang ringan

dan berat, bahkan berakibat kematian, diantaranya diakibatkan oleh belum

baiknya penerapan higiene makanan dan sanitasi lingkungan. Besarnya dampak

terhadap kesehatan belum diketahui, karena hanya sebagian kecil dari kasus-kasus

yang akhirnya dilaporkan ke pelayanan kesehatan dan jauh lebih sedikit lagi yang

diselidiki. Kasus-kasus yang dilaporkan di negara maju diperkirakan hanya

sekitar 5 – 10 %, sedangkan di banyak negara berkembang data kuantitatif yang

dapat diandalkan pada umumnya sangat terbatas. Kejadian penyakit yang

ditularkan melalui makanan di Indonesia cukup besar, terlihat dari masih

tingginya penyakit infeksi seperti tipus, kolera, desentri, tbc, dan sebagainya.

1
Lebih dari 90 % kasus keracunan pangan disebabkan oleh kontaminasi mikroba.

(Agustina, 2009)

Direktur Jendral PPM & PLP juga melaporkan bahwa di Indonesia pada tahun

1981-1985 tercatat 1385 orang menderita keracunan makanan dengan kematian

sebanyak 24 orang (CFR: 1,7%). Berdasarkan analisis kejadian keracunan

makanan yang dilaporkan, 49% di antaranya berasal dari makanan katering. Dari

kenyataan tersebut di atas dampak penyediaan makanan yang kurang higienis

sangatlah luas karena menyangkut masyarakat banyak (Pracoyo, 1993).

Sedangkan Badan Pusat Pengawasan Obat dan Makanan mencatat bahwa

selama tahun 2004 di Indonesia terjadi 82 kasus keracunan makanan yang

menyebabkan 6.500 korban sakit dan 29 orang meninggal dunia. Sebanyak 31%

kasus keracunan itu disebabkan makanan yang berasal dari jasa boga dan buatan

rumah tangga (Chandra, 2006).

Oleh karena itu, pada percobaan ini akan dilakukan pemeriksaan jumlah

koloni pada makanan dengan sampel makanan nasi kuning apakah layak untuk

tetap dikonsumsi atau tidak.

B. Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui jumlah kuman yang

terdapat dalam sampel makanan nasi kuning yang ada di salah satu warung di

jalan Sahabat.

2
C. Prinsip Percobaan

1. Tangan dan meja tempat praktikum harus dalam keadaan steril.

2. Alat dan bahan yang telah disiapkan harus dalam keadaan steril.

3. Tabung reaksi diplambir sebelum dan sesudah dimasukkan sampel untuk

menjaga agar tabung tetap steril.

4. Pipet ukur harus selalu dibersihkan dengan menggunakan aquades dan

diplambir sebelum/sesudah digunakan.

5. Pipet ukur harus diplambir sebelum dan sesudah digunakan

6. Blender harus disterilkan sebelum di gunakan.

7. Cawan petri tidak boleh digoyangkan jika sudah dituangkan nutrient agar.

8. Homogenkan dengan menggunakan vortex mixer.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Makanan

Makanan dan minuman adalah semua bahan baik dalam bentuk alamiah

maupun dalam bentuk buatan yang dimakan manusia kecuali air dan obat-obatan,

karena itu makanan merupakan satu-satunya sumber energi bagi manusi.

Sebaliknya makanan juga dapat menjadi media penyebaran penyakit. Dengan

demikian penanganan makanan harus mendapat perhatian yang cukup. Untuk itu,

produksi dan peredaran makanan di Indonesia telah diatur dalam Peraturan

Menteri Kesehatan No. 329/MenKes/XII/1976 Bab II pasal 2 peraturan ini

menyebutkan bahwa makanan yang diproduksi dan diedarkan di wilayah

Indonesia harus memenuhi syarat-syarat keselamatan, kesehatan, standar mutu,

atau persyaratan yang ditetapkan oleh menteri untuk tiap jenis makanan (Susanna,

2003).

Meningkatnya aktifitas manusia di zaman modern ini maka kerap kali

kebutuhan mendasar akan organ tubuh dikesampingkan. Selain itu, sekarang ini

banyak bermunculan makanan siap saji sebagai sumber nutrisi bagi manusia.

Salah satunya adalah makanan jajanan yang diperdagangkan dipinggir jalan.

Makanan jajanan merupakan makanan yang sangat digemari orang-orang.

Makanan jajanan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan

masyarakat, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Konsumsi makanan jajanan

4
di masyarakat diperkirakan akan terus meningkat dikarenakan makin terbatasnya

waktu anggota keluarga untuk mengolah makanan sendiri sebab kebanyakan ibu

rumah tangga yang juga bekerja di luar rumah. (Agustina, 2009)

Keunggulan makanan jajanan adalah murah dan mudah didapat, serta cita

rasanya yang enak dan cocok dengan selera kebanyakan masyarakat. Salah satu

tempat penjualan makanan jajanan adalah sekolah, kampus, dan tempat-tempat

umum lainnya. Tetapi masih banyak juga penjual makanan jajanan yang belum

mengetahui cara penyajian dengan baik. (Agustina, 2009)

Makanan yang dikonsumsi hendaknya memenuhi kriteria bahwa makanan

tersebut layak untuk dimakan dan tidak menimbulkan penyakit, diantaranya

(Prabu, 2008) :

1. Berada dalam derajat kematangan yang dikehendaki.

2. Bebas dari pencemaran di setiap tahap produksi dan penanganan selanjutnya.

3. Bebas dari perubahan fisik, kimia yang tidak dikehendaki, sebagai akibat dari

pengaruh enzym, aktifitas mikroba, hewan pengerat, serangga, parasit dan

kerusakan-kerusakan karena tekanan, pemasakan dan pengeringan.

4. Bebas dari mikroorganisme dan parasit yang menimbulkan penyakit yang

dihantarkan oleh makanan (food borne illness).

Kasus penyakit bawaan makanan (food borne disease) dapat dipengaruhi oleh

berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut, antara lain kebiasaan mengolah makanan

secara tradisional, penyimpan dan pengajian yang tidak bersih, dan tidak

memenuhi persyaratan sanitasi (Chandra, 2006).

5
B. Penyakit yang Ditimbulkan Akibat Makanan

Berikut ini beberapa contoh kecil penyakit yang dapat ditimbulkan akibat

mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi oleh bakteri. Diantaranya yaitu :

1. Typhus abdominalis

Thypus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasa mengenai

saluran pencernaan. Gejala yang biasa ditimbulkan adalah demam yang tinggi

lebih dari 1 minggu, gangguan pada saluran pencernaan, dan gangguan

kesadaran (FKUI, 1985).

Demam tifoid disebabkan oleh kuman Salmonella typhi dengan masa

tunas 6 – 14 hari. Sedangkan typhus abdominalis adalah penyakit infeksi akut

pada usus halus yang biasanya lebih ringan dan menunjukkan manifestasi

klinis yang sama dengan enteritis akut.

Penyakit typhus abdominalis biasa dikenal dengan penyakit typhus.

Namun, dalam dunia kedokteran disebut tyfoid fever.

Di Indonesia, diperkirakan angka kejadian penyakit ini adalah 300 – 810

kasus per 100.000 penduduk/tahun. Insiden tertinggi didapatkan pada anak-

anak. Orang dewasa sering mengalami infeksi ringan dan sembuh sendiri lalu

menjadi kebal. Insiden penderita berumur 12 tahun keatas adalah 70 – 80%,

penderita umur antara 12 dan 30 tahun adalah 10 – 20%, penderita antara 30 –

40 tahun adalah 5 – 10%, dan hanya 5 – 10% diatas 40 tahun.

Penyabab penyakit ini adalah Salmonella typhi, Salmonella para typhii A,

dan Salmonella para typhii B. Basil gram negatif, bergerak dengan rambut

6
getar, tidak berspora, mempunyai 3 macam antigen yaitu antigen O, antigen

H, dan antigen VI. Dalam serum penderita terdapat zat (aglutinin) terhadap

ketiga macam antigen tersebut.

Kuman tumbuh pada suasan aerob dan fakultatif anaerob pada suhu 15 –

41°C (optimum 37°C) dan pH pertumbuhan 6 – 8.

Masa inkubasi rata-rata 2 minggu gejalanya: cepat lelah, malaise,

anoreksia, sakit kepala, rasa tidak enak di perut, dan nyeri seluruh badan.

Demam berangsur-angsur naik selama minggu pertama. Demam terjadi

terutama pada sore dan malam hari (febris remitten). Pada minggu 2 dan 3

demam terus menerus tinggi (febris kontinue) dan kemudian turun berangsur-

angsur.

Infeksi masuk melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi,

infeksi terjadi pada saluran pencernaan. Basil di usus halus melalui pembuluh

limfe masuk ke dalam peredaran darah sampai di organ-organ terutama hati

dan limfa sehingga membesar dan disertai nyeri. Basil masuk kembali ke

dalam darah (bakterimia) dan menyebar ke seluruh tubuh terutama kedalam

kelenjar limfoid usus halus menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada

mukosa usus. Tukak dapat menyebabkan perdarahan dan perforasi usus. Jika

kondisi tubuh dijaga tetap baik, akan terbentuk zat kekebalan atau antibodi.

Dalam keadaan seperti ini, kuman typhus akan mati dan penderita berangsur-

angsur sembuh.

7
2. Disentri

Disentri merupakan peradangan pada usus besar yang ditandai dengan

sakit perut dan buang air besar yang encer secara terus menerus (diare) yang

bercampur lendir dan darah. Berdasarkan penyebabnya disentri dapat

dibedakan menjadi dua yaitu disentri amuba dan disentri basiler. Penyebab

yang paling umum yaitu adanya infeksi parasit Entamoeba histolytica yang

menyebabkan disentri amuba dan infeksi bakteri golongan Shigella yang

menjadi penyebab disentri basiler.

Kuman-kuman tersebut dapat tersebar dan menular ke orang lain melalui

makanan dan air yang sudah terkontaminasi kotoran dan juga lalat.Parasit

Entamoeba hystolytica hidup dalam usus besar, parasit tersebut mempunyai

dua bentuk, yaitu bentuk yang bergerak dan bentuk yang tidak bergerak.

Parasit yang berbentuk tidak bergerak tidak menimbulkan gejala, sedangkan

bentuk yang bergerak bila menyerang dinding usus penderita dapat

menyebabkan mulas, perut kembung, suhu tubuh meningkat, serta diare yang

mengandung darah dan bercampur lendir, namun diarenya tidak terlalu sering.

Disentri basiler biasanya menyerang secara tiba – tiba sekitar dua hari

setelah kemasukan kuman/bakteri Shigella. Gejalanya yaitu demam, mual dan

muntah-muntah, diare dan tidak napsu makan. Bila tidak segera diatasi, dua

atau tiga hari kemudian keluar darah, lendir atau nanah dalam feses penderita.

Pada disentri basiler, penderita mengalami diare yang hebat yaitu

mengeluarkan feses yang encer hingga 20-30 kali sehari sehingga menjadi

8
lemas, kurus dan mata cekung karena kekurangan cairan tubuh (dehidrasi).

Hal tersebut tidak bisa dianggap remeh, karena bila tidak segera diatasi

dehidrasi dapat mengakibatkan kematian. Gejala lainnya yaitu perut terasa

nyeri dan mengejang.

Penyakit ini umumnya lebih cepat menyerang anak-anak. Kuman – kuman

masuk ke dalam organ pencernaan yang mengakibatkan pembengkakan dan

pemborokan sehingga timbul peradangan pada usus besar. Penderita disentri

harus segera mendapat perawatan, yang perlu dihindari adalah mencegah

terjadinya dehidrasi karena dapat berakibat fatal.

C. Tinjauan Tentang Bakteri

Dalam makanan biasanya terdapat beberapa bakteri yang dapat menimbulkan

berbagai penyakit, diantaranya yang sering didapatkan yaitu ;

1. Bakteri Escherchia Coli Pathogen

Eschercia coli merupakan flora normal di dalam saluran pencernaan

hewan dan manusia yang mudah mencemari air, oleh karena kontaminasi air

yang sudah digunakan. Bahan makanan yang sering terkontaminasi oleh

E.coli diantaranya daging ayam, daging sapi, daging babi selama

penyembelihan, ikan, dan makanan-makanan hasil laut lainnya, telur dan

produk olahannya, sayuran, buah-buahan, sari buah serta bahan minuman

seperti susu dan lainnya.

9
Alat-alat yang digunakan dalam industri pengolahan sering terkontaminasi

oleh E.coli yang berasal dari air yang digunakan untuk mencuci.

E.coli merupakan bakteri yang sensitif terhadap panas, maka untuk

mencegah pertumbuhan bakteri ini pada makanan disimpan pada suhu yang

rendah.

2. Bakteri Salmonella

Salmonella terdapat pada makanan dalam jumlah tinggi, tetapi tidak selalu

menimbulkan perubahan dalam hal warna, bau, maupun rasa dari makanan

tersebut. Semakin tinggi jumlah salmonella dalam makanan, semakin besar

timbulnya gejala infeksi pada orang yang memakan makanan tersebut dan

semakin cepat waku inkubasi sampai timbulnya gejala infeksi.

Makanan yang sering terkontaminasi oleh salmonella yaitu telur dan hasil

olahannya, ikan dan hasil olahannya, daging ayam, daging sapi serta susu dan

hasil olahannya, es krim dan keju. Contoh kasus, hampir setiap penyakit

infeksi dari salmonella disebabkan karena mengkonsumsi makanan atau

minuman yang tercemar. Bahan makanan yang sudah tercemar tersebut

seperti kue yang mengandung susu, daging cincang, sosis, telur dan daging

panggang. Gejala awal nyeri kepala, muntah, gangguan pada perut waktu

baung air besar, suhu tubuh tinggi disertai batuk kering.

Penyebab keracunan oleh salmonella enteristis adalah adalah

Typhimuribin dan salmonella cholrasus. Salmonella akan mempengaruhi usus

besar (kalon). Terjadinya sakit perut tiba-tiba uncul mulai 8 jam – 48 jam

10
setelah makan makanan yang tercemar, diikuti diare yang encer, kadang

dengan lendir dan darah dan sering mual dan muntah. Keracunan salmonella

disebabkan oleh karena memakan makanan yang tercemar.

Pencegahannya dengan cara memasak makanan yang dibuat dri daging

dengan pemanasan yang sempurna, penyimpanan makanan pada suhu yang

sesuai, melindungi makanan darikontaminasi lalat, dan pemeriksaan berkala

pada orang yang menangani makanan.

D. Metode Pemeriksaan

Mikroorganisme adalah makhluk yang sangat kecil dan hanya dapat dilihat

dibawah mikroskop. Salah satu jenis mikroorganisme adalah bakteri. Bakteri

merupakan organisme uniselular yang tumbuh dengan cara pembelahan biner

yaitu satu sel membelah secara simetris. Untuk mempermudah penghitungan

koloni diperlukan pengetahuan mengenai morfologi bakteri tersebut sehingga

media pertumbuhan yang akan digunakan sesuai dengan sifat bakteri tersebut.

Kehadiran mikroba pada makanan dapat bersifat menguntungkan atau

merugikan. Ada hasil metabolisme spesies mikrobia tertentu pada makanan

dibutuhkan dan digemari oleh manusia. Akan tetapi ada beberapa spesies yang

dapat merusak makanan dengan pembusukan atau menghasilkan toksin yang

berbahaya bagi manusia. Setiap produk yang dihasilkan oleh mikrobia tergantung

jumlah mikrobia yang terkandung dalam suatu bahan atau lingkungan.

11
Analisis kuantitatif mikrobiologi pada bahan pangan penting dilakukan untuk

mengetahui mutu bahan pangan, dan proses yang akan diterapkan pada bahan

pangan tersebut. Ada beberapa cara untuk mengukur atau menghitung mikrobia

yaitu dengan perhitungan jumlah sel, perhitungan massa sel secara langsung, dan

pendugaan massa sel secara tak langsung. Perhitungan jumlah sel dapat

dilakukan dengan 3 metode yaitu dengan hitungan mikroskopik, MPN (Most

Probable Number), dan hitungan cawan (Fardiaz, 1989). Dari ketiga metode

tersebut metode hitungan cawan paling banyak dan mudah digunakan. Oleh

karena itu, pada kegiatan praktikum mikrobiologi untuk perhitungan koloni

sampel makanan, digunakan metode hitungan cawan.

Prinsip dari metode hitungan cawan adalah menumbuhkan sel mikrobia yang

masih hidup pada metode agar, sehingga sel mikrobia tersebut akan berkembang

biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa

menggunakan mikroskop (Fardiaz, 1993). Metode hitungan cawan dapat

dibedakan atas dua cara yaitu:

1. Metode tuang (pour plate)

2. Metode permukaan (surface / spread plate).

Gambar 1. Metode cawan untuk menghitung jumlah koloni bakteri

12
Pada perhitungan menggunakan metode cawan, diperlukan suatu pengenceran

agar jumlah koloni mikrobia yang ada pada cawan dapat dihitung dan sesuai

standar, yaitu berjumlah 30 – 300 per cawan. Pengenceran dilakukan secara

desimal untuk memudahkan perhitungan.

13
BAB III

METODE PERCOBAAN

A. Alat

1. Tabung reaksi 3 buah

2. Rak tabung reaksi 1 buah

3. Kantong plastik sampel 1 buah

4. Cawan petri 4 buah

5. Blender 1 buah

6. Pipet ukur 1 buah

7. Balp (bola isap) 1 buah

8. Pembakar bunsen 1 buah

9. Pemantik api 1 buah

10. Gelas ukur 2 buah

11. Incubator 1 buah

12. Neraca analitik 1 buah

13. Vortex mixer 1 buah

14. Tabung labu erlemeyer 1 buah

15. Pemotong pisau 1 buah

16. Coloni Counter

14
B. Bahan

1. Sampel Nasi kuning 10 gram

2. Pepton Steril 90 ml

3. NaCl Steril 9 ml

4. Nutrient agar

5. Aquades

C. Waktu dan Tempat Pengembilan Sampel

1. Waktu : Kamis, 31 Maret 2011 (Pukul 09.30 wita)

2. Tempat : Warung di jalan Sahabat

D. Prosedur Kerja

1. Prosedur kerja pembuatan sampel

a. Tangan dan meja tempat praktikum disterilkan dengan menggunakan

alkohol.

b. Pemotong pisau yang akan digunakan untuk mengambil nasi kuning

harus disterilkan dengan menggunakan alkohol.

c. Cawan ditimbang pada neraca analitik sampai menunjukkan angka 0.

d. Sampel dipotong-potong dan dimasukkan pada cawan yang berada dalam

neraca analitik sebanyak 10 mg.

e. Sampel yang telah ditimbang, dimasukkan ke dalam blender yang telah

dibersihkan.

15
f. Larutan pepton diukur sebanyak 90 ml dan dimasukkan ke dalam blender.

g. Sampel dihaluskan bersama dengan larutan pepton hingga homogen

dengan menggunakan blender.

h. Setelah halus, sampel tersebut dimasukkan ke dalam gelas ukur.

i. Cuci semua peralatan yang telah digunakan hingga steril.

j. Disiapkan 3 buah tabung reaksi yang berisi NaCl steril masing-masing

sebanyak 9 ml.

k. Beri tanda pada masing-masing tabung reaksi yaitu 10-1, 10 -2 , 10-3

l. Dibersihkan pipet ukur dengan menggunakan aquades kemudian

diplambir.

m. Dipasangkan bola isap pada pipet ukur yang telah diplambir kemudian

dimasukkan ke dalam gelas ukur kemudian tekan bola isap untuk

mengambil sampel sebanyak 1 ml.

n. Tabung reaksi 10-1 diplambir sebelum dimasukkan sampel sebanyak 1 ml.

o. Sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi 10-1 yang berisi NaCl steril

dengan menggunakan pipet ukur. Isap sampel kemudian keluarkan

kembali untuk dihomogenkan.

p. Tabung reaksi diplambir kemudian tutup dengan menggunakan kapas

kemudian homogenkan dengan meggunakan vortex mixer.

q. Letakkan pada rak tabung reaksi.

r. Pipet ukur kemudian dibersihkan dengan menggunakan aquades kemudian

diplambir. Dipasangkan bola isap pada pipet ukur.

16
s. Tabung reaksi 10-1 diplambir sebelum dimasukkan pipet ukur.

t. Tabung reaksi 10-2 diplambir sebelum dimasukkan sampel.

u. Sampel diambil pada tabung reaksi 10-1 sebanyak 1 ml kemudian

masukkan ke dalam tabung reaksi 10-2 .

v. Pada tabung reaksi 10-2 setelah dimasukkan sampel, diisap kemudian

dikeluarkan untuk dihomogenkan.

w. Tabung reaksi 10-1 dan tabung reaksi 10-2 diplambir agar tetap steril.

x. Tutup dengan menggunakan kapas.

y. Tabung reaksi 10-2 diletakkan pada vortex mixer untuk dihomogenkan.

z. Lakukan seterusnya sampai 3 kali pengenceran yaitu pada tabung reaksi

10-3 diisi sampel dari tabung reaksi 10-2.

aa. Dimasukkan sampel pada cawan petri 1 dari tabung reaksi 10-2 dengan

menggunakan pipet ukur.

bb. Lakukan juga pada tabung reaksi 10-3 pada cawan petri 2.

cc. Labu erlemeyer diplambir yang berisi nutrient agar.

dd. Tuangkan nutrient agar pada cawan petri 1 dan 2 hingga permukaan

cawan petri tersebut tertutupi. Tutup cawan petri dengan menggunakan

penutup cawan.

ee. Diamkan selama sekitar 10-15 menit.

ff. Masukkan ke dalam incubator untuk diinkubasi pada suhu 35oC±0,5oC

dalam jangka waktu 1x24 jam.

17
2. Prosedur kerja pembuatan kontrol

a. Tangan dan meja tempat praktikum disterilkan dengan menggunakan

alkohol.

b. Disediakan cawan petri yang sudah steril.

c. Dimasukkan garam steril ke dalam cawan petri sebanyak 1 ml.

d. Ditambahkan nutrient agar sampai menutupi permukaan cawan petri.

e. Kemudian ditutup dengan menggunakan penutup cawan.

f. Dimasukkan ke dalam incubator untuk diinkubasi pada suhu 35oC±0,5oC

dalam jangka waktu 1x24 jam.

18
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Dari hasil percobaan setelah 1x24 jam sampel berada di dalam inkubator,

maka jumlah kuman yang didapatkan pada cawan petri 10-2 sebanyak 283 koloni.

Sedangkan jumlah koloni pada cawan petri 10-3 sebanyak 75 koloni. Adapun

kontrol yang didapatkan yaitu sebanyak 5 koloni.

B. Pembahasan

Jika jumlah koloni telah diketahui, maka untuk mengetahui jumlah kuman

yang ada pada sampel dapat menggunakan rumus sebagai berikut :

10-2 – kontrol x 100 + (10-3 – kontrol) x 1000


Jumlah Kuman =
2

283 – 5 x 100 + (75-5) x 1000


=
2

27800 + 70000
=
2

97800
= = 48.900 koloni/gram
2

19
Pada pemeriksaan bakteri koloni pada sampel nasi kuning dilakukan

pengenceran sebanyak 3 kali. Hal ini karena nasi kuning mengandung banyak

karbohidrat yang mengakibatkan dalam perhitungan koloni sangat mudah karena

bakteri pada makanan yang mengandung banyak karbohidrat akan berkelompok

dan mudah untuk dibedakan bakteri pathogen.

Dalam percobaan pemeriksaan ini, sampel yang akan diperiksa adalah sampel

pada tabung reaksi yang terakhir kali pengenceran dan yang kedua dari terakhir

pengenceran. Hal ini karena pada pengenceran, koloni yang terbentuk pada cawan

tersebut berada pada jumlah yang dapat dihitung.

Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM)

Republik Indonesia tentang Jenis dan Batas Maksimum Cemaran Mikroba Dalam

Makanan Nomor HK.00.06.1.52.4011 Tanggal 28 Oktober 2009 yang

menyangkut tentang pangan olahan lainnya menyebutkan bahwa standar makanan

untuk jumlah bakteri koloni/gram sampel adalah 1x104 koloni/gram.

Berdasarkan peraturan diatas, sampel makanan yang diteliti dapat dikatakan

tidak sehat dan tidak layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Karena jumlah

kuman yang didapatkan yaitu sebesar 48.900 koloni/gram.

Banyak faktor yang menyebabkan hal ini bisa terjadi. ditinjau dari kandungan

mikrobanya. Hal ini dimungkinkan karena beberapa hal yaitu:

a. Sumber bahan makanan yang digunakan telah terkontaminasi bakteri.

b. Pengangkutan bahan makanan tidak terhindar dari mikroba misalnya

menggunakan alat pendingin atau tertutup.

20
c. Pemasaran makanan seperti tempat penjualan atau warung makan yang

tidak memenuhi persayaratan sanitasi seperti kebersihan, pencahayaan,

sirkulasi udara, dan memiliki alat pendingin.

d. Proses pengolahannya telah terkontaminasi bakteri, baik dari kebersihan

tempat pengolahan maupun alat-alat yang digunakan.

e. Penyajian makanan tidak bebas dari kontaminasi.

21
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 48.900 koloni/ gram pada

sampel nasi kuning yang dijual di salah satu warung di jalan Sahabat.

2. Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan

(BPOM) Republik Indonesia tentang Jenis dan Batas Maksimum Cemaran

Mikroba Dalam Makanan Nomor HK.00.06.1.52.4011 Tanggal 28 Oktober

2009 yang menyangkut tentang pangan olahan lainnya, sampel dinyatakan

tidak sehat dan tidak layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat karena nilai

melebihi standar batas 1x104 koloni/gram yaitu sebesar 48.900 koloni/gram.

B. Saran

1. Bagi pengelola laboratorium, agar pada praktikum selanjutnya dilakukaan

pemeriksaan jenis bakteri secara khusus yang terkandung dalam sampel

makanan.

2. Bagi masyarakat, agar selektif dalam mengkonsumsi makanan yang siap saji,

mengingat tidak diketahuinya mikroba yang terkandung dalam makanan

tersebut.

3. Bagi pedagang agar lebih memperhatikan kebersihan baik itu dalam

pengolahan, penyajian, penyaluran, sampai lingkungan sekitar produksi.

22
DAFTAR PUSTAKA

Agustina, Febria ,dkk. 2009. HIGIENE DAN SANITASI PADA PEDAGANG


MAKANAN JAJANAN TRADISIONAL DI LINGKUNGAN SEKOLAH DASAR DI
KELURAHAN DEMANG LEBAR DAUN PALEMBANG TAHUN 2009. [online]
http://uppm.fkm.unsri.ac.id/uploads/files/u_2/Abstrak8.doc. Diakses pada tanggal 2
April 2011

Chandra, Budiman. 2006. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: EGC.

Fardiaz. 1989. Dalam: Ceeva. 2010. Perhitungan Koloni Bakteri PunaCeeva.


[online] http://ceeva.wordpress.com/2010/01/18/perhitungan-koloni-bakteri-puna-
ceeva. Diakses pada tanggal 2 April 2011.

Pracoyo, Noer Endah dkk. 1993. Penelitian Kuman-kuman Patogen dalam


Makanan Katering di Jakarta. [online]
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/15PenelitianKumanPatogen083.pdf/15Penelitia
nKumanPatogen083.html. Diakses pada tanggal 2 April 2011.

Prabu., 2008. Higiene dan Sanitasi Makanan. [online].


http://putraprabu.wordpress.com/2008/12/27/higiene-dan-sanitasi-makanan/. Diakses
pada tanggal 2 April 2011.

Susanna, Dewi dan Budi Hartono. 2003. Pemantauan Kualitas Makanan Ketoprak
dan Gado-Gado di Lingkungan Kampus UI Depok, melalui Pemeriksaan
Bakteriologis. [online]
http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=3544/jtptunimus-gdl-irawatia2a-5177-
4-bab3.pdf. Diakses pada tanggal 2 April 2011.

23
LEMBAR PENGESAHAN III
LAPORAN PRAKTIKUM
PEMERIKSAAN JUMLAH KUMAN PERALATAN MAKANAN
DI KANTIN SAFIRA FKM UNHAS

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011

Nama : Andi Muh. Arfah Saputra Samad


Nim : K 111 08 856
Kelompok : VIII (Delapan)

Makassar, 14 April 2011

Mengetahui,

Koordinator Asisten, Asisten,

ADI PRATAMA MUH. SUBHAN


K 111 07 060 K 111 07 094

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa dipanjatkan kepada Allah SWT. karena limpahan

rahmat dan taufik-Nya sehingga Laporan Praktikum dengan judul

”PEMERIKSAAN JUMLAH KUMAN PERALATAN MAKANAN” dapat diselesaikan

tepat pada waktunya .

Laporan ini berisi uraian tentang hasil kegiatan praktikum yang dilakukan

dengan metode SWAB atau angka lempeng total.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa tidak tertutup kemungkinan isi laporan

ini belum sesuai dengan harapan berbagai pihak, karena potensi yang penyusun

miliki masih sangat terbatas oleh karena itu saran dan kritikan yang sifatnya

konstruktif, sangat penyusun harapkan terutama dari Bapak Dosen penanggung

jawab mata kuliah.

Semoga laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi saya sendiri dan

umumnya bagi teman-teman mahasiswa serta yang membacanya.

Makassar, 14 April 2011

A.Muh.Arfah Saputra.S

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... ....................................................................... .. ii


KATA PENGANTAR .................................................................................... .. iii
DAFTAR ISI ................................................................................................... .. iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................... .. 1
B. Tujuan Percobaan .................................................................. .. 3
C. Prinsip Percobaan .................................................................. .. 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum tentang Persyaratan Peralatan Makanan ...... 5
B. Tinjauan Umum tentang Metode SWAB…………...……….... 6
C. Tinjauan Umum tentang Vektor Penyakit ............................... 7
BAB III METODE PERCOBAAN
A. Alat dan Bahan ......................................................................... 11
B. Waktu dan Tempat Pengambilan sampel ................................ 12
C. Prosedur Kerja.......................................................................... 12
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan ..................................................................... 16
B. Pembahasan .............................................................................. 17
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................. 18
B. Saran ...................................................................................... .. 18
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 19
LAMPIRAN

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan lingkungan menurut WHO (World Health Organization) adalah

suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar

dapat menjamin keadaan sehat dari manusia. Ruang lingkup kesehatan

lingkungan meliputi : penyediaan air minum, pengelolaan air buangan dan

pengendalian pencemaran, pembuangan sampah padat, pengendalian vektor,

pencegahan / pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia, higiene

makanan termasuk higiene susu, pengendalian pencemaran udara, pengendalian

radiasi, kesehatan kerja, pengendalian kebisingan, perumahan dan pemukiman,

aspek kesehatan lingkungan dan transportasi udara, perencanaaan daerah

perkotaan, pencegahan kecelakaan, rekreasi umum dan pariwisata, tindakan –

tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi / wabah, bencana

alam dan perpindahan penduduk, tindakan pencegahan yang diperlukan untuk

menjamin lingkungan. (Ghandi, 2010)

Higiene makanan adalah suatu upaya pencegahan penyakit yang

menitikberatkan kegiatannya kepada usaha pencegahan penyakit yang

menitikberatkan kegiatannya kepada usaha kebersihan atau kesehatan dan

keutuhan makanan itu sendiri. (Reksosoebroto,1991). Oleh karena itu, kualitas

1
makanan baik secara bakteriologis, kimiawi dan fisik harus dipertahankan.

Kualitas makanan harus terjamin setiap saat, agar masyarakat sebagai konsumen

dapat terhindar dari penyakit/gangguan kesehatan serta keracunan makanan

(Depkes, 2002).

Kasus-kasus yang dilaporkan di negara maju diperkirakan hanya sekitar 5 –

10 %, sedangkan di banyak negara berkembang data kuantitatif yang dapat

diandalkan pada umumnya sangat terbatas. Kejadian penyakit yang ditularkan

melalui makanan di Indonesia cukup besar, terlihat dari masih tingginya penyakit

infeksi seperti tipus, kolera, desentri, tbc, dan sebagainya. Lebih dari 90 % kasus

keracunan pangan disebabkan oleh kontaminasi mikroba. (Agustina, 2009)

Prinsip higiene dan sanitasi makanan merupakan upaya untuk mengendalikan

4 (empat) faktor penyehatan makanan yang dapat atau mungkin dapat

menimbulkan gangguan kesehatan atau keracunan makanan yaitu tempat,

peralatan, orang dan makanan. Sanitasi makanan tersebut salah satunya yaitu

kualitas peralatan yang digunakan baik dalam pengolahan bahan makanan

maupun digunakan untuk penyajian kepada konsumen.

Sehubungan dengan hal tersebut didalam Undang-undang RI No. 23 Tahun

1992, tentang kesehatan pada pasal 21 ayat (1) bahwa pengamanan makanan dan

minuman diselenggarakan untuk melindungi masyarakat dari makanan dan

minuman yang tidak memenuhi ketentuan mengenai standar dan persyaratan

kesehatan.

2
Selain itu, tingkat higiene makanan dan minuman yang di konsumsi banyak

dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya dari segi pengolahan, pengangkutan,

penyajian, sampai pencucian sebagai media pembersih peralatan makan dan

minuman. Air yang dipakai dalam pencucian tersebut harus memenuhi syarat

seperti yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.416/ MENKES/

PER/ 1X/ 1990, tentang persyaratan air bersih, begitu juga dengan persyaratan

peralatan makan itu sendiri yang diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia Nomor 1098/MENKES/SK/VII/2003 tentang persyaratan

hygiene sanitasi rumah makan dan restoran, bahwa untuk persyaratan peralatan

makanan dengan angka kuman 100 koloni/cm2 dan tidak boleh mengandung

bakteri E.coli lebih dari 0 koloni/cm2 permukaan alat.

Oleh karena itu, pada percobaan ini akan dilakukan pemeriksaan jumlah

koloni pada peralatan makanan dengan sampel sendok untuk mengetahui apakah

paralatan makanan tersebut telah terkontaminasi kuman patogen (Escherichia

coli) atau zat pencemar lainnya, serta untuk mengetahui layak atau tidak

digunakan untuk makan.

B. Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui jumlah koloni kuman

pada peralatan makanan khususnya pada sampel sendok di kantin Safira FKM

Universitas Hasanuddin Makassar.

3
C. Prinsip Percobaan

1. Tangan dan meja tempat praktikum harus dalam keadaan steril.

2. Alat dan bahan yang telah disiapkan harus dalam keadaan steril.

3. Tabung reaksi diplambir sebelum dan sesudah dimasukkan sampel untuk

menjaga agar tabung tetap steril.

4. Pipet ukur harus selalu dibersihkan dengan menggunakan aquades dan

diplambir sebelum/sesudah digunakan.

5. Pipet ukur harus diplambir sebelum dan sesudah digunakan

6. Lidi kapas harus disterilkan sebelum digunakan.

7. Cawan petri tidak boleh digoyangkan jika sudah dituangkan nutrient agar.

8. Homogenkan dengan menggunakan vortex mixer.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjaun Umum tentang Persyaratan Peralatan Makanan

Persyaratan peralatan menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia Nomor 1098/MENKES/SK/VII/2003 tentang persyaratan hygiene

sanitasi rumah makan dan restoran, yaitu :

1. Peralatan yang kontak langsung dengan makanan tidak boleh mengeluarkan

zat beracun yang melebihi ambang batas sehingga membahayakan kesehatan

antara lain : Timah (Pb), Arsenikum (As), Tembaga (Cu), Seng (Zn),

Cadmium (Cd), dan Antimony (Sb).

2. Peralatan tidak rusak, gompel, retak dan tidak menimbulkan pencemaran

terhadap makanan.

3. Permukaan yang kontak langsung dengan makanan harus conus atau tidak ada

sudut mati, rata, halus dan mudah dibersihkan.

4. Peralatan harus dalam keadaan bersih sebelum digunakan.

5. Peralatan yang kontak langsung dengan makanan yang siap disajikan tidak

boleh mengandung angka kuman yang melebihi ambang batas (100

koloni/cm2) dan tidak boleh mengandung E. coli per cm2 permukaan alat.

6. Cara pencucian peralatan harus memenuhi ketentuan :

a. Pencucian peralatan harus menggunakan sabun/detergent air dingin, air

5
panas sampai bersih.

b. Dibebas hamakan sedikitnya dengan larutan kaporit 50 ppm atau iodophor

12,5 ppm, air panas 80°C, dilap dengan kain.

7. Pengeringan peralatan harus memenuhi ketentuan :

Peralatan yang sudah didesinfeksi harus ditiriskan pada rak-rak anti karat

sampai kering sendiri dengan bantuan sinar matahari atau sinar buatan/mesin

dan tidak boleh dilap dengan kain.

8. Penyimpanan peralatan harus memenuhi ketentuan :

a. Semua peralatan yang kontak dengan makanan harus disimpan dalam

keadaan kering dan bersih.

b. Cangkir, mangkok, gelas dan sejenisnya cara penyimpanannya harus

dibalik.

c. Rak-rak penyimpanan peralatan dibuat anti karat, rata dan tidak aus/rusak.

d. Laci-laci penyimpanan peralatan terpelihara kebersihannya.

e. Ruang penyimpanan peralatan tidak lembab, terlindung dari sumber

pengotoran/kontaminasi dan binatang perusak.

B. Tinjauan Umum tentang Metode SWAB

Peralatan makan yang kita gunakan harus bersih, agar kita terhindar dari

kemungkinan penularan penyakit. oleh karena itu perlu dilakukan uji sanitasi alat

makan. Uji sanitasi alat makan lazimnya menggunakan uji ALT (Angka Lempeng

6
Total) untuk mengetahui jumlah kuman yang ada di alat makan tersebut. Metode

yang digunanakan dalam menguji kebersihan secara bakteriologis,

(Abdullah,2009) yaitu:

1. Menguji kebersihan secara bakteriologi dilakukan dengan cara:

a. Pengambilan usapan kapas steril (swab) pada peralatan yang disimpan.

nilai kebersihan dihitung dengan angka sebagai berikut:

1) Angka kuman sebanyak-banyaknya 100/cm2 dari permukaan alat yang

diperiksa.

2) Angka kuman E Coli harus 0/cm2.

2. Pengambilan usapan kapas steril pada peralatan dilakukan segera setelah

pencucian. Hal ini untuk menguji proses pencucian karena semakin lama akan

semakin banyak terjadi pencemaran bakteri yang berasal dari udara dan akan

memberikan penyimpangan lebih tinggi dari keadaan yang sebenarnya.

C. Tinjaun Umum tentang Vektor Penyakit

Vektor adalah organisme yang tidak menyebabkan penyakit tapi

menyebarkannya dengan membawa patogen dari satu inang ke yang lain. Berikut

ini beberapa vektor yang dapat menularkan penyakit pada manusia melalui

makanan, yaitu:

7
1. Lalat

Pihak kedokteran telah menetapkan bahwa banyak spesies lalat yang

berbahaya salah satunya adalah lalat rumah. Lalat rumah merupakan serangga

yang menyukai kondisi lingkungan yang kotor dan berbau karena juga

merupakan tempat yang sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangannya.

Dengan demikian, spesies ini dapat dikategorikan sebagai vektor atau

pembawa penyakit yang berbahaya bagi manusia. Efek yang ditimbulkan

diantaranya adalah penyakit kolera, diare, disentri, tipus, dan TBC. Dalam hal

ini, semua bagian tubuh Musca domestica dapat berperan sebagai alat penular

penyakit, yaitu badan, bulu, tangan, kaki, dan sayap.

Musca domestica mempunyai alat yang digunakan untuk menjilat cairan

yaitu proboscir yang merupakan modifikasi dari labium. Bagian dalam ujung

proboscir yang melebar terdapat saluran – saluran halus yaitu pseudotrakhea,

yang bermuara pada saluran makanan pokok yang langsung berhubungan

dengan pencernaan makanan.

Lalat akan menghisap cairan apa saja yang mengandung material makanan

organik. Hal inilah yang memungkinkan lalat dapat menyebarkan kuman –

kuman penyakit. Sebelum hinggap pada makanan, lalat tersebut sebelumnya

telah makan cairan – cairan yang berasal dari pembusukan zat – zat organik

atau excrete manusia. Kemungkinan cairan itu telahm terkontaminasi dengan

organisme pathogen. (Avivah,2008)

8
2. Kecoa

Vektor yang paling sering dijumpai di atas kapal adalah kecoa. Pada

umumnya kecoa merupakan binatang malam. Pada siang hari mereka

bersembunyi di dalam lubang atau celah-celah tersembunyi. Kecoa yang

menjadi permasalahan dalam kesehatan manusia adalah kecoa yang hidup dari

sisa hewan yang mati. Aktivitas kecoa kebanyakan adalah berkeliaran di

dalam ruangan melewati dinding, pipa-pipa atau tempat sanitasi.

Kecoa dapat mengeluarkan zat yang baunya tidak sedap sehingga kita

dapat mendeteksi tempat hidupnya. Jika dilihat dari kebiasaan dan tempat

hidupnya, sangat mungkin kecoa dapat menularkan penyakit pada manusia.

Kuman penyakit yang menempel pada tubuhnya yang dibawa dari tempat-

tempat yang kotor akan tertinggal atau menempel di tempat yang dia hinggapi

seperti pada peralatan makanan.

Meskipun hanya sedikit bukti yang menunjukan kaitan kecoa dengan

penyakit tertentu, telah diteliti bahwa kecoa membawa beberapa

mikroorganisme parasit, antara lain kuman Salmonella typhimurium,

Entamoeba histolytica serta poliomyelitis virus5 yaitu, kuman penyebab

penyakit demam typhoid atau typhus, kuman penyebab diare serta virus

penyebab polio. Selain itu diketahui juga bahwa kecoa juga merupakan

pembawa kuman Streptococcus dan lain-lain sehingga kecoa juga dikenal

sebagai serangga penular penyakit Disentri, Diare, Cholera, dan virus

9
Hepatitis A6. Karena alasan inilah, maka kecoa perlu dikendalikan

populasinya. (Mui,2009)

3. Tikus

Tikus merupakan sejenis spesies hewan mamalia yang tergolong dalam

kumpulan yang dipanggil rodent. Tikus juga dikenal sebagai salah satu hewan

perusak yang sangat berpotensi sebagai pembawa berbagai penyakit kepada

manusia. Penularannya bisa melalui gigitan, kencing dan kutu yang terdapat

pada tubuhnya.

Leptospirosis merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri

leptospira berbentuk spiral yang menyerang hewan dan manusia yang di

tularkan oleh tikus dengan cara tikus hinggap pada makanan.

Tikus bertindak sebagai pembawanya di mana bakteri yang dipindahkan

melalui makanan dan minuman tercemar oleh kencing bisa mengakibatkan

penyakit ini. Bakteri ini akan merusakkan saluran pembuluh darah dan

mengakibatkan pendarahan pada semua organ yang kaya dengan pembuluh

darah seperti buah pinggang, hati, limpa, paru-paru dan sistem saraf.

Diantara tanda terjangkitnya ialah kencing berdarah, pembengkakkan

limpa dan hati, sakit saraf dan otot, demam panas yang kuat, menggigil serta

loya dan muntah-muntah. Jika tidak dirawat segera ia bias mengakibatkan

kerusakkan hati, buah pinggang dan kematian.

10
BAB III

METODE PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan

1. Alat : Plastik steril 1 buah

Inkubator 1 buah

Tabung reaksi 4 buah

Rak tabung reaksi 1 buah

Cawan Petri 3 buah

Pembakar bunzen 1 buah

Pemantik api 1 buah

Pipet ukur 1 buah

Bulp (bola isap) 1 buah

Lidi kapas 1 buah

Sarung tangan steril 1 pasang

Mistar 1 buah

Gunting 1 buah

Colony counter 1 buah

Labu erlemeyer 1 buah

Kapas secukupnya

11
2. Bahan

Bahan yang digunakan pada percobaan pemeriksaan jumlah kuman pada

peralatan makanan, yaitu:

1. Sendok

2. Pepton Steril

3. NaCl steril

4. Nutrient agar

5. Putih telur

6. Alkohol

B. Waktu dan Tempat Pengambilan Sampel

1. Waktu : Kamis, 7 April 2011 ( Pukul 09.30 wita)

2. Tempat : Kantin Safira UNHAS

C. Prosedur Kerja

1. Prosedur kerja pemeriksaan jumlah kuman pada sendok.

a. Sebelum pemeriksaan dilakukan, terlebih dahulu membuat jendela luas

sendok dengan menggunakan mistar. Dalam hal ini, ukuran luas sendok

yang diusap 3 cm di dalam cekungan dan 3 cm diluar / bawah sendok.

b. Tangan dan tempat praktikum disterilkan dengan menggunakan alkohol

70 %.

12
c. Disiapkan 4 buah tabung reaksi yang berisi pepton steril sebanyak 9 ml

dan NaCl steril masing-masing sebanyak 9 ml. Kemudian tabung reaksi

yang berisi NaCl steril diberi label 10-1, 10-2, 10-3, 10-4.

d. Sendok diusap diseluruh bagian luar dan dalam bagian bibir dangan luas

3cm dengan kapas yang telah dipasangkan lidi yang telah disterilkan

dengan menggunakan putih telur.

e. Tabung reaksi disiapkan yang berisi pepton sebanyak 9 ml. Kemudian

diplambir.

f. Lidi kapas dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi pepton yang

telah diplambir.

g. Lidi kapas dipatahkan jika melebihi dari tinggi tabung reaksi kemudian

ditutup dengan menggunakan kapas.

h. Tabung reaksi ditaruh pada rak tabung reaksi kemudian didiamkan selama

± 5 menit.

i. Setelah 5 menit, tutup tabung reaksi tersebut dibuka kemudian diplambir.

j. Lidi kapas tersebut diangkat dengan menggunakan pinset kemudian

tabung tersebut diplambir.

k. Dipasangkan bola isap pada pipet ukur yang telah diplambir kemudian

dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi pepton kemudian ditekan

bola isap untuk mengambil sampel sebanyak 1 ml. Setelah itu, tabung

tersebut diplambir.

13
l. Tabung reaksi pertama (pengenceran 10-1) diplambir.

m. Sampel dimasukkan pada tabung reaksi pertama (pengenceran 10-1) yang

berisi NaCl steril dengan menggunakan pipet. Sampel yang telah

dimasukkan kemudian dihomogenkan. Setelah itu, tabung reaksi tersebut

diplambir dan ditutup dengan menggunakan kapas dan dihomogenkan

kembali.

n. Pipet ukur diplambir untuk mengambil sampel pada tabung reaksi pertama

(pengenceran 10-1).

o. Lakukan seterusnya sampai 4 kali pengenceran yaitu pada tabung reaksi

ketiga (pengenceran 10-3 ) diisi sampel dari tabung reaksi kedua

(pengenceran 10-2), pada tabung reaksi keempat (pengenceran 10-4) diisi

sampel dari tabung rekasi ketiga.

p. Setelah 4 kali pengenceran, sampel dimasukkan ke dalam cawan petri 1

dari tabung reaksi ketiga (pengenceran 10-3) dengan menggunakan pipet

ukur kemudian bagian tepi cawan petri tersebut diplambir.

q. Lakukan juga pada tabung reaksi keempat (pengenceran 10-4 ) pada cawan

petri 2.

r. Nutrient agar yang berada dalam labu erlemeyer dimasukkan pada cawan

petri 1 dan 2 hingga permukaan cawan petri tersebut tertutupi. Cawan

petri ditutup dengan menggunakan penutup cawan. Kemudian

dihomogenkan.

14
s. Diamkan selama sekitar 10-15 menit. Kemudian dimasukkan ke dalam

inkubator untuk diinkubasi pada suhu 35oC±0,5oC dalam jangka waktu

1x24 jam.

2. Prosedur kerja pembuatan kontrol

a. Tangan dan meja tempat praktikum disterilkan dengan menggunakan

alkohol.

b. Disediakan cawan petri yang sudah steril. Kemudian dimasukkan NaCl

steril ke dalam cawan petri sebanyak 1 ml.

c. Ditambahkan nutrient agar sampai menutupi permukaan cawan petri.

Kemudian ditutup dengan menggunakan penutup cawan.

d. Dimasukkan ke dalam inkubator untuk diinkubasi pada suhu 35oC±0,5oC

dalam jangka waktu 1x24 jam.

15
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Dari hasil pengamatan setelah 1x24 jam sampel berada di dalam inkubator,

maka jumlah kuman yang didapatkan pada cawan petri 10-3 sebanyak 24 koloni

dan jumlah koloni pada cawan petri 10-4 sebanyak 15 koloni dan luas sendok

sebesar 18 cm2. Sedangkan untuk nilai kontrol adalah 10.

Jumlah koloni yang telah diketahui pada pemeriksaan cawan, di jabarkan

kedalam rumus sebagai berikut :

10-3 – kontrol x 1000 + (10-4 – kontrol) x 10000


Jumlah Kuman = ÷∆L
2

24 – 10 x 1000 + (15-10) x 10000


= ÷ 18
2

14000 + 50000
= ÷ 18
2

64000
= ÷ 18 = 3.2000 ÷ 18 = 1.778 koloni/cm2
2

16
B. Pembahasan

Pemeriksaan bakteri pada alat makan dengan sampel sendok dilakukan

sebanyak 4 kali pengenceran yang bertujuan agar lebih memudahkan kita dalam

menghitung jumlah koloni yang terbentuk.

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1098/MENKES/SK/VII/2003 bahwa peralatan yang kontak langsung dengan

makanan tidak boleh mengandung angka kuman 100 koloni/cm2 dan tidak boleh

mengandung E. coli per cm2 permukaan alat. Sedangkan dari pemeriksaan bakteri

pada sampel sendok di kantin Pasca Sarjana Unhas didapatkan hasil sebesar 1.778

koloni/cm2 pada permukaan alat. Maka dapat diartikan bahwa peralatan makanan

di kantin tersebut tidak layak untuk digunakan.

Banyak faktor yang menyebabkan hal ini bisa terjadi. Ditinjau dari kandungan

mikrobanya. Hal ini dimungkinkan karena beberapa hal yaitu:

a. Sumber air untuk mencuci peralatan makanan sebelumnya telah

terkontaminasi bakteri.

b. Pada saat pencucian alat makan, tidak menggunakan sabun air dingin atau

air panas sampai bersih.

c. Pada waktu pengeringan, alat tidak di simpan pada tempat atau rak-rak

yang terbuat dari anti karat sampai kering sendiri.

d. Tidak boleh mengeringkan dengan menggunakan kain.

e. Alat sebelumnya telah terkontaminasi oleh vektor pembawa penyakit.

17
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan, terdapat jumlah kadar bakteri yaitu

sebesar 1.778 koloni/cm2. Jika dibandingkan dengan ketentuan Keputusan

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1098/MENKES/SK/VII/2003

bahwa batas angka cemaran kuman pada peralatan makanan tidak melebihi

ambang batas yaitu 100 koloni/cm2 dan tidak mengandung E.coli. Maka dapat

disimpulkan, bahwa peralatan makan (terutama sendok) yang ada di kantin Safira

Unhas telah terkontaminasi oleh bakteri atau kuman sehingga tidak layak untuk

digunakan.

B. Saran

1. Untuk pemilik kantin, agar selalu menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

2. Bagi yang mengolah makanan perlu menerapkan sanitasi peralatan makanan

yang baik yaitu sarana pencucian, teknik pencucian, kondisi tempat

penyimpanan peralatan makan yang benar.

3. Bagi masyarakat, agar senantiasa memperhatikan alat-alat yang di pakai untuk

makan.

18
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Sugeng., 2009. Uji Sanitasi Alat Makan Metode Usap (Swab). [online].
http://sugengzend.blogspot.com/2009/06/uji-sanitasi-alat-makan-metode-usap.html.
diakses pada tanggal 10 April 2011.

Agustina, dkk. 2009. Higiene dan Sanitasi Pada Pedagang Makanan Jajanan
Tradisional Di Lingkungan Sekolah Dasar Di Kelurahan Demang Lebar Daun
Palembang Tahun 2009. [online]
http://uppm.fkm.unsri.ac.id/uploads/files/u_2/Abstrak8.doc. Diakses pada tanggal 10
April 2011

Avivah, Nur., 2008. Isolasi Actinomycetes dari Lalat Rumah (Musca Domestica)
yang Berpotensi sebagai Antibiotik terhadap Escherichia Coli.

Ghandi, 2010. Dalam Universitas Sumatera Utara. Chapter II. [online]


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22139/4/Chapter%20II.pdf diakses
pada tanggal 10 April 2011.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1098/MENKES/SK/VII/2003.


[online]
http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_kepmenkes/KMK%20No.%201098%20ttg
%20Persyaratan%20Hygiene%20Sanitasi%20Rumah%20Makan%20Dan%20Restora
n.pdf. diakses pada tanggal 10 april 2011

19
Mui, Anita., 2009. Upaya Untuk Menghindari Tifus. [online].
http://www.anzoen.com/2009/08/upaya-untuk-menghindari-tifus.html. diakses pada
tanggal 10 April 2011.

Peraturan Menteri Kesehatan No. 304 Tahun 1989 Tentang : Persyaratan Kesehatan
Rumah Makan Dan Restoran . [online]
http://www.menlh.go.id/i/art/pdf_1038468640.pdf diakses pada tanggal 10 april
2011

Reksosoebroto, 1991 & Depkes, 2002. Dalam Putih Sujatmiko,2009. Rancangan


Sistem Hazard Analysis Crictical Control Point Di Unit Gizi Rumah Sakit Umum
Daerah Kota Depok Tahun 2009. Universitas Indonesia. [online]
http://www.digilib.ui.ac.id/Lontar/file?file=digital/125438-S-5674
Rancangan%20sistem-HA.pdf diakses pada tanggal 10 April 2011.

20
LEMBAR PENGESAHAN IV
LAPORAN PRAKTIKUM
PEMERIKSAAN KIMIA AIR SECARA DESINFEKSI
AIR DANAU UNHAS

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011

Nama : Andi Muh. Arfah Saputra Samad


Nim : K 111 08 856
Kelompok : VIII (Delapan)

Makassar, 21 April 2011

Mengetahui,

Koordinator Asisten, Asisten,

ADI PRATAMA MUH. SUBHAN


K 111 07 060 K 111 07 094

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa dipanjatkan kepada Allah SWT. karena limpahan

rahmat dan taufik-Nya sehingga Laporan Praktikum dengan judul

”PEMERIKSAAN KIMIA AIR SECARA DESINFEKSI” dapat diselesaikan tepat

pada waktunya .

Saya menyadari sepenuhnya bahwa tidak tertutup kemungkinan isi laporan

ini belum sesuai dengan harapan berbagai pihak, karena potensi yang penyusun

miliki masih sangat terbatas oleh karena itu saran dan kritikan yang sifatnya

konstruktif, sangat penyusun harapkan terutama dari Bapak Dosen penanggung

jawab mata kuliah.

Semoga laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi saya sendiri dan

umumnya bagi teman-teman mahasiswa serta yang membacanya.

Makassar, 21 April 2011

A.Muh.Arfah Saputra.S

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... ....................................................................... .. ii


KATA PENGANTAR ................................................................................... .. iii
DAFTAR ISI ................................................................................................... .. iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................... .. 1
B. Tujuan Percobaan .................................................................. .. 2
C. Prinsip Percobaan .................................................................. .. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan tentang Standar Kualitas Air .................................... 4
B. Tinjauan tentang Desinfeksi...................................................... 6
C. Tinjauan tentang Kaporit.......................................................... 9
D. Tinjauan tentang Proses Chlorinasi........................................... 11
E. Tinjauan tentang Dampak Desinfektan Bagi Kesehatan……. 12

BAB III METODE PERCOBAAN


A. Alat dan Bahan ......................................................................... 15
B. Waktu dan Tempat Pengambilan sampel ................................ 16
C. Prosedur Kerja.......................................................................... 16
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan ..................................................................... 18
B. Pembahasan .............................................................................. 19
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................. 21
B. Saran ...................................................................................... .. 21
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 22
LAMPIRAN

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Air adalah materi esensial di dalam kehidupan. Tidak satupun mahluk

hidup di dunia ini yang tidak memerlukan dan tidak mengandung air. Sel hidup,

baik tumbuhan maupun hewan, sebagian besar tersusun oleh air, seperti di dalam

sel tumbuhan terkandung lebih dari 75% atau di dalam sel hewan terkandung

lebih dari 67%. Dari sejumlah 40 juta mil-kubik air yang berada di permukaan

dan di dalam tanah, ternyata tidak lebih dari 0,5% (0,2 juta mil-kubik) yang

secara langsung dapat digunakan untuk kepentingan manusia. Karena 97% dari

sumber air tersebut terdiri dari air laut, 2,5% berbentuk salju abadi yang dalam

keadaan mencair baru dapat digunakan (Ristiati. 2004).

Air merupakan salah satu media yang sangat baik bagi

perkembangbiakan bakteri dan mikroorganisme lainnya. Oleh sebab itu, air juga

mempunyai peranan besar dalam penularan penyakit misalnya cholera, demam

typhoid, dysenteri basier, demam parathyphoid, tularemia, dysentri amoeba,

penyakit hepatitis infectious, guinea wormdisease, dan lain-lainnya sehingga

untuk dipergunakan sebaiknya air diolah terlebih dahulu.

Hasil survei dari Subdit Diare Departemen Kesehatan Indonesia

menyebutkan bahwa angka penderita diare yang merupakan penyakit bawaan air

1
(waterborne disease) pada tahun 2000 adalah 301 per 1000 penduduk dan

meningkat pada tahun 2003 menjadi 374 per 1000 penduduk. Adanya penyakit

bawaan air disebabkan perilaku masyarakat yang tidak higenis dan adanya

kehadiran mikroorganisme patogen dalam air. Untuk menanggulangi kasus

tersebut diperlukan upaya pendidikan higine serta upaya pengolahan air,

sehingga air yang dikonsumsi masyarakat memenuhi persyaratan kualitas air

minum yang telah disyaratkan.

Salah satu contoh tahap pengolahan air adalah disinfeksi. Disinfeksi itu

sendiri adalah proses pengolahan air dengan tujuan membunuh bakteri pathogen

dalam air sehingga aman untuk dikonsumsi atau dipergunakan untuk kebutuhan

lainnya seperti untuk mandi, air kolam renang, dan sebagainya.

Desinfeksi ini terdiri atas dua yaitu secara kimiawi dan fisik, namun yang

sering dipergunakan adalah secara kimiawi dengan memanfaatkan kaporit atau

chlor sehingga disebut chlorinasi (Yurman, 2009).

B. Tujuan Percobaan

Tujuan praktikum adalah untuk mengetahui kebutuhan bahan kimia

dalam hal ini kaporit untuk proses disinfeksi sampel air danau.

C. Prinsip Percobaan

1. Setiap pencampuran pada sampel harus dihomogenkan dengan cara dikocok.

2
2. Sebelum digunakan alat harus dibersihkan dengan menggunakan aquades.

3. Jumlah sampel dan media yang digunakan harus sesuai ketentuan percobaan.

4. Pencampuran antara sampel dengan media (DPD Total Chlorine Reagent,

Larutan kaporit) harus terjadi dengan sempurna dan homogen

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan tentang Standar Kualitas Air

Kualitas air adalah karakteristik mutu yang dibutuhkan untuk

pemanfaatan tertentu sumber-sumber air. Kriteria mutu air merupakan dasar baku

mutu air, disamping faktor-faktor lain. Baku mutu air adalah persyaratan mutu air

yang disiapkan oleh suatu negara atau daerah yang bersangkutan.

Dalam hal ini kualitas air bersih di Indonesia harus memenuhi persyaratan

yang sesuai dengan peraturan Menteri Kesehatan RI No.416 Tahun 1990 dimana

setiap komponen yang diperkenankan berada di dalamnya harus sesuai.

Dalam peraturan tersebut air digolongkan dalam beberapa kelompok,

yaitu :

1. Air minum, adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat

langsung diminum.

2. Air bersih, adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang

kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah

dimasak.

3. Air kolam renang, adalah air di dalam kolam renang yang digunakan untuk

olah raga renang dan kualitasnya memenuhi syarat kesehatan.

4
4. Air pemandian umum, adalah air yang digunakan pada tempat pemandian

umum dan tidak termasuk pemandian untuk pengobatan tradisional dan kolam

renang yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan.

Sedangkan untuk syarat kualitas air yang terdappat dalam peraturan

tersebut menyangkut:

a. Parameter fisik yang meliputi kekeruhan, temperatur, warna, bau dan rasa.

Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan organik dan

anorganik yang terkandung di dalam air seperti lumpur dan bahan-bahan yang

berasal dari buangan. Dari segi estetika, kekeruhan di dalam air dihubungkan

dengan kemungkinan pencemaran oleh air buangan. Air minum biasanya tidak

memberi rasa atau tawar. Air yang tidak tawar dapat menunjukkan adanya

kandungan berbagai zat yang dapat membahayakan kesehatan misalnya rasa

logam atau amis, rasa pahit atau asin. Sedangkan untuk suhu sebaiknya dijaga

agar tetap sejuk atau tidak panas, terutama agar tidak terjadi pelarutan zat

kimia yang ada pada saluran pipa, menghambat reaksi-reaksi biokimia dalam

saluran pipa, serta mikroorganisme patogen tidak mudah berkembang biak.

b. Parameter kimia yang berhubungan dengan ion-ion senyawa ataupun logam

yang membahayakan, di samping residu dari senyawa lainnya yang bersifat

racun, seperti antara lain residu pestisida. Dengan adanya senyawa-senyawa

ini kemungkinan besar bau, rasa dan warna air akan berubah, seperti yang

umum disebabkan oleh adanya perubahan pH air. Pada saat ini kelompok

5
logam berat seperti Hg, Ag, Pb, Cu, Zn, tidak diharapkan kehadirannya di

dalam air.

c. Kualitas biologis, berhubungan dengan kehadiran mikroba patogen (penyebab

penyakit, terutama penyakit perut), pencemar (terutama bakteri coli) dan

penghasil toksin.

B. Tinjauan tentang Desinfeksi

Yang dimaksud desinfeksi adalah membunuh bakteri pathogen yang

penyebarannya melalui air ( bakteri yang dapat menimbulkan bibit penyakit )

yang ada dalam air minum.

Desinfeksi dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara antara lain

yaitu :

a. Penyinaran ( sinar ultra violet )

b. Ion-ion logam ( Copper and silver )

c. Dengan asam atau basa ( Iodin dan Bromin )

d. Senyawa-senyawa kimia (Ferrat, Hidrogen Peroksida, Kalium Permanganat)

e. Chlorinasi

Dari kelima cara desinfeksi diatas chlorinasi merupakan cara yang efektif

dan masih banyak digunakan pada sistem pengolahan air bersih di seluruh

Indonesia terutama PDAM. Proses chlorinasi adalah pembubuhan chlor atau

senyawa chlor (sebagai desinfektan) ke dalam air dengan tujuan untuk

6
membunuh kuman atau bakteri pathogen dan untuk menghilangkan bau (untuk

industri).

Disinfeksi atau menghilangkan kuman dari air minum sangat penting

dilakukan sebelum air tersebut diminum atau dikonsumsi oleh kita. Air yang kita

peroleh dari sumur, hasil penyaringan sederhana, ataupun sumber yang lain

mungkin akan terlihat bening, tidak berasa dan tidak berbau, tetapi hal itu tidak

menandakan bahwa air tersebut bersih dari kuman penyakit (Aimyaya, 2009).

Bahan atau zat-zat kimia yang mengandung chlor yang banyak digunakan

dalam proses chlorinasi pada umumnya adalah :

a. Natrium Hipoklorit (NaOCl)

Natrium Hipoklorit (NaOCl) Natrium Hipoklorit (NaOCl) merupakan

senyawa chlor berbentuk cairan yang mengandung chlor aktif 12 %.

Senyawa ini merupakan salah satu jenis desinfektan yang sering digunakan

pada pengolahan air karena sangat efisien (murah) dan mudah didapat. Akan

tetapi senyawa ini bersifat korosif dan cepat rusak.

b. Kalsium Hipoklorit [Ca (OCl) ]


2

Kalsium Hipoklorit [Ca (OCl) ] atau yang sering dikenal dengan kaporit
2

merupakan senyawa chlor berbentuk bubuk atau tablet. Senyawa ini

mengandung chlor aktif 70 % dan merupakan bahan kimia yang paling

banyak digunakan untuk desinfeksi air karena, murah, mudah didapat dan

mudah penanganannya.

7
c. Chlorin Dioksida (ClO )
2

Chlorin Dioksida digunakan dalam proses pengolahan air bersih untuk

menghilangkan rasa dan bau akibat adanya fenol. Selain itu chlorin dioksida

digunakan pula untuk menghilangkan zat besi (Fe) dan Mangan (Mn), serta

sebagai desinfektan dan mencegah adanya algae.

d. Natrium Dichloro-Chlorin (NaDCC)

Selain senyawa Chlor seringkali dipakai juga bahan-bahan lain yang

mengandung chlor seperti NaDCC (Natrium Dicloro-Chlorin), dengan kadar

chlor aktif 60 %. Dalam perdagangan NaDCC ini berbentuk tablet yang

dikemas dalam bentuk strip dengan ukuran 17 mg, 500 mg, 2500 mg, dan

5000 mg. Keuntungan dari tablet NaDCC ini adalah masa kontak dengan

kuman hanya 10 menit, praktis dibawa kemana-mana, korosif pada reservoir

air yang terbuat dari besi dapat dikurangi, namun harganya relatif mahal.

e. Dichloro-Triazinetrione (SDCT)

Tablet ini mengandung kadar khlorin 60%. Dalam perdagangannya dikemas

dalam bentuk tablet 50 mg.

Sedangkan kecepatan dan keampuhan berbagai desinfektan dalam proses

chlorinasi tergantung dari beberapa faktor antara lain :

8
a. Waktu kontak ; ditentukan sebagai waktu yang tersedia untuk interaksi

antara chlor dengan bahan-bahan pereduksi chlor dalam air. Biasanya Cl2

membutuhkan waktu kontak diantara 30-60 menit.

b. Jenis dan konsentrasi desinfektan ; konsentrasi dan jenis desinfektan yang

dipakai berkaitan dengan waktu kontak.

c. Keadaan mikroorganisme ; Faktor yang mempengaruhi meliputi jenis

mikroorganisme, jumlah mikroorganisme, umur mikroorganisme dan

penyebarannya.

d. Faktor lingkungan ; meliputi suhu, pH, kulaitas air dan pengolahan air.

C. Tinjauan tentang Kaporit

Kalsium hipoklorit adalah padatan putih yang siap didekomposisi di

dalam air untuk kemudian melepaskan oksigen dan klorin. Kalsium hipoklorit

memiliki aroma klorin yang kuat. Senyawa ini tidak terdapat di lingkungan

secara bebas. Penggunaan Kalsium hipoklorit utamanya digunakan sebagai agen

pemutih atau disinfektan. Senyawa ini adalah komponen yang digunakan dalam

pemutih komersial, larutan pembersih, dan disinfektan untuk air minum, sistem

pemurnian air, dan kolam renang.

Kaporit disebut juga Calsium Hypochlorit Ca(OCl2) karena mengandung

60-70% Calsium Hypochlorit, sisanya Calsium Carbonat dan lain-lain. Kaporit

mudah larut dalam air dan bersifat koresif.

9
Efek toksik dari kalsium hipoklorit utamanya bergantung pada sifat

korosif hipoklorit. Jika sejumlah kecil dari pemutih (3-6% hipoklorit) tertelan

(ingesti), efeknya adalah iritasi pada sistem gastrointestinal. Jika konsentrasi

pemutih yang tertelan lebih besar, misalnya hipoklorit 10% atau lebih, efek yang

akan dirasakan adalah iritasi korosif hebat pada mulut, tenggorokan, esofagus,

dan lambung dengan pendarahan, perforasi (perlubangan), dan pada akhirnya

kematian. Jaringan parut permanen dan penyempitan esofagus dapat muncul

pada orang-orang yang dapat bertahan hidup setelah mengalami intoksikasi

(mabuk hipoklorit) hebat. Jika gas klorin yang terlepas dari larutan hipoklorit

terhirup (inhalasi), efek yang akan muncul adalah iritasi pada rongga hidung,

sakit pada tenggorokan, dan batuk. Kontak dengan larutan hipoklorit kuat

dengan kulit akan menyebabkan kulit melepuh, nyeri bakar, dan inflamasi.

Kontak mata dengan larutan pemutih konsentrasi rendah menyebabkan iritasi

ringan, tetapi tidak permanen. Larutan dengan konsentrasi yang tinggi dapat

menyebabkan luka mata parah. Pajanan hipoklorit dalam level rendah pada

jangka waktu lama dapat menyebabkan iritasi kulit. Belum diketahui apakah

pajanan klorin memiliki efek pada kemampuan reproduksi. International Agency

for research on Cancer (IARC) telah menetapkan bahwa garam hipoklorit tidak

diklasifikasikan bersifat karsinogenik terhadap manusia. Anak-anak mungkin

terpajan kalsium hipoklorit dengan jalur yang sama dengan orang dewasa. Tidak

diketahui apakah anak-anak berbeda dengan orang dewasa terkait dengan

10
suseptibilitasnya terhadap kalsium hipoklorit. Secara umum, anak-anak dapat

lebih berisiko terhadap bahan korosif daripada orang dewasa. Belum diketahui

juga apakah kalsium hipoklorit dapat menyebabkan cacat lahir atau efek pada

perkembangan tubuh lainnya.

D. Tinjauan tentang Proses Chlorinasi

Chlorin yang terdapat dalam air sebagai asam hipoklorit dan ion

hipoklorit itulah yang disebut dengan chlorin bebas (free available chlorin),

sedangkan chlorin yang terdapat dalam air yang tergabung dengan amonia atau

senyawa nitrogen organik disebut chlorin terikat (combined available chlorin).

Dalam chlorinasi, parameter kontrol kualitas air minum adalah sisa chlor bebas

yang harus ada setelah pengolahan atau sebelum masuk jaringan distribusi

konsumen yang berguna untuk menjamin kualitas secara bakteriologis, artinya

air yang keluar dari kran konsumen terbebas dari kuman maupun bakteri

pathogen seperti Escherechia coli.

Senyawa chlor yang dimasukkan ke dalam air misalnya kaporit mula-

mula bereaksi dahulu dengan unsur-unsur atau senyawa pereduksi yang biasa

terkandung didalamnya seperti : H2S, Fe2+, Mn2+,NO2-, NH3, zat organik lain dan

lain sebagainya. Selanjutnya baru akan efektif untuk mebunuh kuman, hal ini

disebut daya pengikat chlor atau daya sergap chlor (chlor yang dipakai untuk

mengoksidasi unsur-unsur yang ada dalam air). Jadi daya sergap chlor adalah

11
jumlah chlor yang diberikan kedalam air dengan sisa chlor bebas pada waktu

akhir kontak ( Fardisetia, 2003).

Dalam air minum diperlukan sisa chlor bebas sebagai jaminan terbebas

dari bakteri patoghen dan ganggang. Sisa chlor yang harus ada pada air minum

konsumen ditetapkan dalam baku mutu air minum sebesar 0,2-0,5 mg/l (± 0,3

mg/l). Jumlah chlorin yang ditambahkan pada air biasanya disebut dosis chlorin,

hal ini berbeda dengan kebutuhan chlorin (chlorin demand). Bila senyawa chlor

ditambahkan pada air (bukan air destilata) dalam jumlah kecil, biasanya berkisar

0,25 sampai 0,75 mg/l dan berekasi dengan cemaran yang terdapat dalma air.

Senyawa cemaran yang bertanggung jawab atas tingginya kebutuhan chlorin

adalah senyawa-senyawa yang mengandung besi, mangan, nitrit dan sulfida.

Chlorin yang telah bereaksi dengan senyawa cemaran tersebut tidak lagi

mempunyai daya desinfektan sehingga perlu penambahan chlor (Fardisetia,

2003).

E. Tinjauan tentang Dampak Desinfektan Bagi Kesehatan

Sebagai desinfektan air yang paling lazim digunakan karena aktifitas

perlawanannya yang cukup efektif terhadap kuman dan biaya relatif murah,

klorin/kaporit sudah ditemukan sejak abad ke-13 dengan rumus kimia Cl2 dan

kemudian banyak berkembang menjadi senyawa kimia lainnya yang digunakan

dalam banyak produk rumahtangga termasuk bleaching powder, hipoklorit dan

12
sebagainya. Dalam perubahan reaksinya, kaporit sebenarnya sering ditemukan

dalam bentuk gas toksik namun penggunaannya sebagai desinfektan dilakukan

terlebih dahulu melalui proses presurisasi dan pendinginan untuk merubahnya ke

dalam bentuk cair yang dapat disimpan, namun tak jarang pada penggunaan

berlebihan atau reaksi-reaksi tertentu menyebabkan kaporit muncul dalam bentuk

gas yang dikenal lewat baunya yang cukup menyengat seperti yang digunakan

dalam produk-produk pemutih pakaian, kertas, lantai dan sebagainya (Anonimos,

2009).

Penggunaan kaporit sebagai desinfektan air sendiri sudah berkembang

sejak lama dalam batasan kadar yang dianggap riset-riset ilmiah masih cukup

aman untuk digunakan, paling tidak selama terhindar dari bentuk gas yang

memiliki kemungkinan paparan lebih berbahaya. Dalam fase dimana paparan

klorin/kaporit ini sudah menimbulkan resiko, efek yang bisa merugikan tubuh

sangat beragam mulai dari iritasi jaringan-jaringan tubuh seperti mata secara

langsung serta saluran pernafasan lewat cara inhalasi gasnya hingga munculnya

gangguan lanjut dengan kerusakan jaringan yang terjadi seperti batuk, sesak, rasa

terbakar di sekitar dada, gangguan kulit, penuaan dini termasuk kerusakan

rambut hingga kerusakan-kerusakan lanjut lainnya pada banyak jaringan tubuh

(Anonimos, 2009).

Efek jangka panjang yang ditemukan dari berbagai riset menyebutkan

berbagai gangguan serius mulai dari bronchitis, pneumonia, resiko serangan

13
jantung hingga kanker, dan beberapa riset akhir-akhir ini banyak

menghubungkan kaporit terhadap terjadinya reaksi alergi kulit pada cukup

banyak kasus alergi yang tak terdeteksi penyebabnya. Proses desinfektan pada

kolam-kolam renang umum termasuk salah satu yang cukup banyak disorot

karena seringkali dilakukan secara berlebihan hingga tak jarang menimbulkan

bau gasnya yang khas, yang lebih beresiko untuk paparan dalam tingkat

berbahaya (Anonimos, 2009).

Dalam hal penggunaan air mandi atau minum yang mengandung

desinfektan ini sendiri, masih banyak ahli yang mempertanyakan keefektifannya

dengan resiko paparan jangka panjang, dari banyak argumentasi tersendiri bahwa

dalam kadar rendah klorin akan secara murni bermanfaat hanya sebagai

desinfektan tanpa resiko serius, sementara sebagian ahli juga mengemukakan

pendapat mereka bahwa efek paparan kaporit akan cepat dihilangkan lewat

penggunaan sabun dan air sendiri (Anonimos, 2009).

14
BAB III

METODE PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan

1. Alat

a. Jergen 1 buah

b. Gelas beker volume 1 liter 1 buah

c. Stirrer 1 buah

d. Pipet steril 1 buah

e. Gelas ukur 1 buah

f. Bulp 1 buah

g. Comparator 1 buah

h. Tabung cuffet 2 buah

i. Colour disk 1 buah

2. Bahan

a. Sampel air danau 1000 ml

b. DPD Total Chlorine Reagent

c. Larutan kaporit 1 ml

d. Tissue secukupnya

e. Aquades secukupnya

15
B. Waktu dan Tempat Pengambilan Sampel

1. Waktu : Kamis, 14 April 2011 (Pukul 09.50 wita)

2. Tempat : Danau UNHAS

C. Prosedur Kerja

1. Teknik pengambilan sampel yaitu:

a. Wadah air disediakan dengan ukuran mampu menampung lebih dari

1000 ml misalnya jergen 2 liter.

b. Air danau kemudian ditimba.

c. Selanjutnya, air dimasukkan ke dalam wadah tersebut.

d. Usahakan jergen ditutup dengan rapat.

2. Teknik pemeriksaan sampel

a. Pertama, diambil sampel air sumur gali sebanyak 1000 ml dengan gelas

ukur.

b. Sampel dipindahkan ke gelas beker volume 1 liter.

c. Kemudian diambil larutan kaporit yang telah disiapkan sebelumnya

sebanyak 1 ml dengan pipet ukur dan dipindahkan ke dalam gelas beker

yang berisi sampel air danau.

d. Sampel dihomogenkan dengan menggunakan stirrer.

e. Selanjutnya, 2 tabung cuffet masing-masing diisi dengan sampel sebanyak

5 ml, salah satu tabung dimasukkan DPD Total Chlorine Reagent.

Kemudian digoyangkan.

16
f. Kedua tabung cuffet tadi diletakkan di komparator.

g. Selanjutnya ditentukan warna yang sama antara cuffet reagent dengan

cuffet sampel dan dicatat nilainya pada colour disk sebagai total chlor

segera.

h. Setelah hasil diketahui pada total klor segera pada pemeriksaan segera

maka kita lanjutkan 40 menit kemudian untuk pemeriksaan kedua.

i. Setelah 40 menit, kedua tabung cuffet diisi kembali dengan sampel

masing sebanyak 5 ml dan salah satu tabung diberi DPD Total Chlorine

Reagent. Kemudian dihomogenkan.

j. Selanjutnya kedua tabung cuffet diletakkan di komparator.

k. Ditentukan lagi warna yang sama antara cuffet reagent dengan cuffet

sampel dan lihat hasilnya dengan colour disk.

l. Nilainya dicatat sebagai nilai total chlor pemeriksaan tetap.

17
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, hasil penghitungan jumlah

klor yang terdapat pada sampel air danau kampus Unhas Tamalanrea Makassar

diperoleh :

a. Pada pemeriksaan Segera = 0,4 mg/l

b. Pada pemeriksaan Tetap = 0,35 mg/l

Perhitungan Total Chlor :

Daya sergap chlor = sisa chlor segera – sisa chlor tetap

= 0,4 – 0,35 = 0,05 mg/l

Angka Keamanan = 0,3 mg/l +

Jadi, chlor yang dibutuhkan = 0,35 mg/l

Jika bahan kimia yang diperlukan chlornisasi ialah kaporit 60% maka

banyaknya kaporit yang dibutuhkan dalam disinfeksi air danau ini adalah 100/60

x 0,35mg/l = 0,583 mg/l.

18
B. Pembahasan

Proses pengujian yang kami lakukan saat mengambil sampel sudah sesuai

dengan prosedur yang ditentukan. Sampel yang kami teliti adalah air danau

Unhas sebanyak 1000 ml. Pada proses pemeriksaan dilakukan sebanyak 2 kali

pemeriksaan dengan tenggang waktu 40 menit, dimana pada pemeriksaan

pertama dimulai jam 10.00 wita diperoleh total klorin 0,4 mg/l sedangkan pada

pemeriksaan kedua dimulai jam 10.40 wita diperoleh total klorin 0,35 mg/l.

Adapun jumlah klorin dalam hal ini kaporit yang di butuhkan untuk membunuh

kuman pathogen pada air danau adalah 0,583 mg/l.

Pemakaian chlor sebagai bahan desinfeksi perlu penanganan yang lebih

efektif mengingat daya reaktifitas dan toksisitasnya yang tinggi. Pemakaian chlor

masih perlu mendapat kajian yang lebih teliti dimana chlor dalam kinerjanya akan

menghasilkan zat sisa dan tidak efektif dalam kasus- kasus tertentu misalnya ;

1. Chlor dapat menimbulkan rasa dan bau yang khas sehingga dapat mengurangi

estetika dan visual air, hal ini dapat diminimalisir dengan menggunakan

karbon aktif.

2. Reaksinya dengan zat organik (NH3) berlebih akan bereaksi membentuk

ammonium khlorida dan gas nitrogen, chlorine yang berlebih akan

membentuk Nitrogen khlorida yang bersifat explosive.

3. Sebagian besar zat organik yang terdapat dalam berbagai jenis air adalah

berupa zat humus. Konsentrasi asam humus dan asam flufik kadang-kadang

19
relatif besar. Zat humus di dalam air menyebabkan warna kuning (warna

sejati) yang dikenal dengan “air gambut” yang dapat dipulihkan (dipudarkan)

oleh oksidasi sebagian, sebagai contoh menjenuhkan ikatan rangkap dalam

suatu molekul.

4. Reaksinya dengan air yang mengandung warna tinggi (Tannin dan Lignin)

akan membentuk senyawa chlorolignin sangat sulit didegradasi karena

mengandung senyawa organik terchlorinasi dengan berat molekul yang tinggi,

dimana pada badan air penerima dapat terurai menjadi senyawa chlorolignin

dengan berat molekul lebih rendah yang bersifat lebih toksik, mutagenik dan

karsinogenik.

20
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pemeriksaan dan perhitungan diatas maka disimpulkan bahwa

kebutuhan bahan kimia dalam hal ini kaporit untuk proses desinfeksi air adalah

sebanyak 0,583 mg/l. Jadi masyarakat yang berada disekitar danau Unhas, yang

ingin memanfaatkan air danau untuk keperluan air bersih diharapkan melakukan

proses desinfeksi terlebih dahulu dengan kadar kaporit yang sesuai agar tidak

menimbulkan penyakit.

B. Saran

Untuk instansi terkait atau pihak Unhas dan masyarakat sekitar yang

ingin menggunakan air danau sebagai sumber air bersih, baik itu untuk kolam

renang maupun untuk keperluan lainnya agar lebih memperhatikan pemberian

klor atau kaporit agar dapat membunuh kuman yang dapat menimbulkan

penyakit sebelum digunakan.

21
DAFTAR PUSTAKA

Aimyaya. 2009. Disinfeksi: Cara Sederhana Menghilangkan Kuman dari Air Minum.

[online]. http://aimyaya.com/id/teknologi-tepat-guna/disinfeksi-cara-sederhana-

menghilangkan-kuman-dari-air-minum/. Diakses pada tanggal 16 April 2011.

Anonimos. 2009. Pro dan Kontra Toksisitas Kaporit Sebagai Desinfektan Air.
[online] danieldokter.multiply.com. Diakses pada tanggal 16 April 2011.

Depkes RI. (1990). Peraturan Menteri Kesehatan No. 416 Tahun 1990 Tentang :
Syarat-syarat Dan Pengawasan Kualitas Air. [online] http://digilib-
ampl.net/file/pdf/Permenkes_No_416_Tahun_1990.pdf, diakses pada tanggal 16
April 2011

Fardias, 2003. Kegiatan Proses Pengolahan Air Minum ,


http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/104/jtptunimus-gdl-fardisetia-5195-3-bab2.pdf,
diakses pada tanggal 16 April 2011

Ristiati, Ni Putu. 2004. Analisis Kualitatif Bakteri Coliform Pada Depo Air Minum
Isi Ulang Di Kota Singaraja Bali. Jurnal Ekologi Kesehatan Vol 3 No 1, April 2004 :
64 – 73

Sutrisno, 2006. Desinfeksi Dengan Chlorinasi, [online].


http:/www.kesehatanlingkungan.com diakses pada tanggal 16 April 2011

Yurman. 2009. Pengaruh Kadar Klorida Pada Air Sumur Gali. [online].
http://www.desinfektan/desinfektan.htm.com diakses pada tanggal 16 April 2011

22