Anda di halaman 1dari 5

Evaluasi Operasional Angkutan Penyeberangan Berdasarkan

Biaya Waktu Menunggu dan Waktu Baku Pelayanan Kapal


di Dermaga (Studi Kasus Pada Pelabuhan Penyeberangan
Ketapang-Jatim)

I DEWA MADE ALIT KARYAWAN, Program Pascasarjana Universitas


Brawijaya, 30 Agustus 2001. Evaluasi Operasional Angkutan Penyeberangan
Berdasarkan Biaya Waktu Menunggu dan Waktu Baku Pelayanan Kapal
di Dermaga (Studi Kasus Pada Pelabuhan Penyeberangan Ketapang-Jatim);
Komisi Pembimbing, Ketua : M. Zainul Arifin, Anggota : Achmad Wicaksono.

ABSTRAK

Pada setiap sistem transportasi terdapat pihak pemakai jasa (user), pihak
penyedia jasa transportasi (operator), dan pihak penyelenggara (regulator). Untuk
kesinambungan sistem tersebut maka tidak boleh ada pihak yang merasa di
rugikan. Maksud tersebut dalam sistem angkutan penyeberangan dapat tercapai
bila pihak operator dapat memanfaatkan sepenuhnya ruang kapal, meminimalkan
waktu tempuh dan mengoptimalkan waktu sandar. Sedangkan bagi user adalah
waktu menunggu di antrian dan di atas kapal sesingkat mungkin.Berkaitan dengan
hal tersebut, studi ini berusaha menjawab permasalahan tersebut dengan: (1)
menganalisis waktu menunggu rata-rata kendaraan saat ini di pelabuhan
penyeberangan Ketapang; (2) menganalisis kebutuhan waktu untuk bongkar muat
dan manuver (waktu baku kapal); (3) merencanakan selang waktu keberangkatan
(headway) kapal, jumlah kapal yang dibutuhkan dan kapasitas kapal yang optimal
untuk mendapatkan waktu menunggu minimal; (4) mengevaluasi kebutuhan
fasilitas untuk mendapatkan pelayanan penyeberangan yang optimal dengan
mengacu pada biaya waktu menunggu.
Metode yang digunakan untuk evaluasi adalah dengan membandingkan
kinerja operasi saat ini (eksisting) dengan kinerja operasi dengan tiga alternatif
yaitu : pengaturan selang waktu (headway) keberangkatan kapal, penambahan
jumlah kapal dan pengoperasian kapal dengan kapasitas yang lebih besar. Untuk
perkiraan umur pelayanan dengan fasilitas yang ada saat ini menggunakan
perbandingan antara biaya waktu menunggu dengan biaya pembangunan fasilitas
dan perbandingan kapasitas operasi dengan perkiraan kedatangan kendaraan/tahun.
Operasional angkutan penyeberangan yang diterapkan saat ini di Pelabuhan
Ketapang, belum menunjukkan kinerja yang optimal. Ini bisa dilihat dari waktu
menunggu yang cukup lama bagi kendaraan yang menggunakan jasa
penyeberangan. Hasil simulasi menunjukkan waktu menunggu rata-rata kendaraan
saat ini di pelabuhan penyeberangan Ketapang adalah 1,41 jam atau 84,86 menit
untuk tiap kendaraan roda empat untuk lintas ponton, dan 0,75 jam atau 45,15
menit per kendaraan roda empat pada lintas moveable bridge.
Pola operasi angkutan penyeberangan Ketapang dalam beberapa alternatif adalah
sebagai berikut :
Alternatif Operasional
Kondisi Eksisting Pengaturan Headway Penambahan Jumlah Penggunaan Kapal
Kapal yang Lebih Besar
Dermaga Ponton MB Ponton MB I/II Ponton MB I/II Ponton MB I/II
I/II
Jml Dermaga 1 2 1 2 1 2 1 2
Jml Kapal 3 8 3 8 4 8 4 8
Kap.Kapal 25-32 25-32 25 25 25 25 32 32
Jml Trip/kpl 8 8 10 9 9 9 8 8
Headway (menit) 60 45 40* 60** 30* 60** 30* 60** 30* 60** 36* 60** 36* 60**
Wkt. Mng. (jam) 1,41 0,75 0,52 0,42 0,40 0,42 0,42 0,27
Catatan : * = Headway saat jam sibuk
** = Headway saat jam normal

Hasil studi menunjukkan bahwa fasilitas yang ada saat ini masih memadai apabila
operasional saat ini ditinjau kembali dengan menerapkan alternatif-alternatif
operasional diatas. Namun alternatif tersebut mempunyai kemampuan yang
terbatas untuk mengatasi perkembangan kedatangan kendaraan yang menggunakan
fasilitas penyeberangan, mengingat pemakai jasa penyeberangan selalu meningkat
dari tahun ke tahun. Umur operasional pelabuhan berdasarkan perbandingan biaya
waktu menunggu dan biaya pembangunan fasilitas dengan pengaturan headway
adalah sampai dengan tahun 2006. Dengan penambahan jumlah kapal, sampai
tahun 2008, dan dengan pengoperasian kapal yang lebih besar, sampai tahun 2013.
Sedangkan berdasarkan perbandingan kapasitas operasi dan kedatangan kendaraan
roda empat/tahun maka umur operasional pelabuhan dengan pengaturan headway
sampai tahun 2005, dengan penambahan jumlah kapal sampai tahun 2008 dan
sampai tahun 2009 dengan pengoperasian kapal yang lebih besar.
Kata kunci : Sistem angkutan penyeberangan, analisis antrian, waktu manuver-
kapal, rata-rata waktu menunggu kendaraan, Ketapang.
RINGKASAN

I DEWA MADE ALIT KARYAWAN, Program Pascasarjana Universitas


Brawijaya, Agustus 2001. Evaluasi Operasional Angkutran Penyeberangan
Berdasarkan Biaya Waktu Menunggu dan Waktu Baku Pelayanan Kapal di
Dermaga. (Studi Kasus Pada Pelabuhan Penyeberangan Ketapang-Jatim); Komisi
Pembimbing, Ketua : M. Zainul Arifin, Anggota : Achmad Wicaksono.

Pada setiap sistem transportasi terdapat pihak pemakai jasa (user), pihak
penyedia jasa transportasi (operator), dan pihak penyelenggara (regulator). Untuk
kesinambungan sistem tersebut maka tidak boleh ada pihak yang merasa di
rugikan. Maksud tersebut dalam sistem angkutan penyeberangan dapat tercapai
bila pihak operator dapat memanfaatkan sepenuhnya ruang kapal, meminimalkan
waktu tempuh dan mengoptimalkan waktu sandar. Sedangkan bagi user adalah
waktu menunggu di antrian dan di atas kapal sesingkat mungkin.
Berkaitan dengan hal tersebut, studi ini berusaha menjawab permasalahan
tersebut dengan menganalisa waktu menunggu rata-rata kendaraan saat ini di
pelabuhan penyeberangan Ketapang, menganalisa kebutuhan waktu untuk bongkar
muat dan manuver (waktu baku kapal), merencanakan selang waktu keberangkatan
(headway) kapal, jumlah kapal yang dibutuhkan dan kapasitas kapal yang optimal
untuk mendapatkan waktu menunggu minimal, serta mengevaluasi kebutuhan
fasilitas untuk mendapatkan pelayanan penyeberangan yang optimal dengan
mengacu pada biaya waktu menunggu.
Operasional angkutan penyeberangan yang diterapkan saat ini di Pelabuhan
Ketapang, belum menunjukkan kinerja yang optimal. Ini bisa dilihat dari waktu
menunggu yang cukup lama bagi kendaraan yang menggunakan jasa
penyeberangan. Hasil simulasi menunjukkan waktu menunggu rata-rata kendaraan
saat ini di pelabuhan penyeberangan Ketapang adalah 1,41 jam atau 84,86 menit
untuk tiap kendaraan roda empat untuk lintas ponton, dan 0,75 jam atau 45,15
menit per kendaaraan roda empat pada lintas moveable bridge.
Kapasitas kapal yang berbeda-beda, antara 20 sampai 32 kendaraan roda
empat, menyebabkan waktu baku kapal yang merupakan headway minimum
keberangkatan kapal bervariasi antara 21,89 menit sampai 32,10 menit.
Perencanaan operasional dengan mengatur selang waktu keberangkatan
(headway) kapal menggunakan fasilitas dan jumlah kapal seperti kondisi saat ini,
yaitu 1 dermaga ponton yang melayani 3 kapal, dan 2 dermaga moveable bridge
yang masing-masing melayani 4 kapal. Jumlah trip per hari untuk masing-masing
kapal adalah 10 trip pada lintas ponton dan 9 trip pada lintas Moveable Bridge.
Kapasitas kapal masing-masing 25 kendaraan roda empat. Selang waktu
keberangkatan pada jam sibuk 40 untuk dermaga ponton dan 30 menit untuk
dermaga moveable bridge, sedangkan pada jam normal untuk seluruh dermaga 60
menit. Dengan alternatif ini waktu menunggu kendaraan dapat ditekan, dari 1,41
jam atau 84,86 menit/kendaraan roda empat pada kondisi saat ini menjadi 0,52 jam
atau 31,22 menit/kendaraan roda empat pada dermaga ponton. Pada dermaga
moveable bridge dari 0,75 jam atau 45,15 menit menjadi 0,42 jam atau 25,34
menit/kendaraan roda empat.
Jumlah kapal optimal untuk melayani 1 dermaga adalah 4 kapal. Sehingga
dengan penambahan satu kapal untuk dermaga ponton, waktu menunggu
kendaraan dapat ditekan, dari 1,41 jam atau 84,86 menit/kendaraan roda empat
untuk kondisi saat ini menjadi 0,40 jam atau 24,01 menit/kendaraan roda empat
pada lintas ponton. Pada lintas moveable bridge dari 0,75 jam atau 45,15
menit/kendaraan roda empat menjadi 0,42 jam atau 25,34 menit/kendaraan roda
empat.
Pengoperasian kapal yang berkapasitas lebih besar menghasilkan
pengurangan waktu menunggu yang paling tinggi, yaitu dari 1,41 jam atau 84,86
menit/kendaraan roda empat untuk kondisi saat ini menjadi 0,42 jam atau 25,49
menit/kendaraan roda empat pada lintas ponton. Pada lintas moveable bridge dari
0,75 jam atau 45,15 menit menjadi 0,27 jam atau 16,16 menit/kendaraan roda
empat.
Peninjauan kembali terhadap operasional angkutan penyeberangan
Ketapang saat ini dengan berbagai alternatif diatas menunjukkan bahwa fasilitas
yang ada saat ini masih memadai dalam memberikan pelayanan terhadap pengguna
jasa penyeberangan. Namun alternatif tersebut mempunyai kemampuan yang
terbatas untuk mengatasi perkembangan kedatangan kendaraan yang menggunakan
fasilitas penyeberangan, mengingat pemakai jasa penyeberangan selalu meningkat
dari tahun ke tahun. Umur operasional pelabuhan berdasarkan perbandingan biaya
waktu menuggu dan biaya pembangunan fasilitas dengan pengaturan headway
adalah sampai dengan tahun 2006, dengan penambahan jumlah kapal sampai tahun
2008 dan dengan pengoperasian kapal yang lebih besar sampai tahun 2013.
Sedangkan berdasarkan perbandingan kapasitas operasi dan kedatangan kendaraan
roda empat/tahun maka umur operasional pelabuhan dengan pengaturan headway
sampai tahun 2005, dengan penambahan jumlah kapal sampai tahun 2008 dan
sampai tahun 2009 dengan pengoperasian kapal yang lebih besar.