Anda di halaman 1dari 32

Asuhan keperawatan kebutuhan nutrisi

DEFINISI :
• Nutrisi adalah proses pengambilan zat-zat makanan penting (Nancy Nuwer
Konstantinides).
• Jumlah dari seluruh interaksi antara organisme dan makanan yang dikonsumsinya
(Cristian dan Gregar 1985).
• Dengan kata lain nutrisi adalah apa yang manusia makan dan bagaimana tubuh
menggunakannya.
Masyarakat memperoleh makanan atau nutrien esensial untuk pertumbuhan dan
pertahanan dari seluruh jaringan tubuh dan menormalkan fungsi dari semua proses tubuh.
• Nutrien adalah zat kimia organik dan anorganik yang ditemukan dalam makanan dan
diperoleh untuk penggunaan fungsi tubuh.
• Jenis-jenis Nutrien
1. Karbohidrat
Karbohidrat adalah komposisi yang terdiri dari elemen karbon, hidrogen dan oksigen.
Karbohidrat dibagi atas :
a. Karbohidrat sederhana (gula) ; bisa berupa monosakarida (molekul tunggal yang terdiri
dari glukosa, fruktosa, dan galaktosa). Juga bisa berupa disakarida (molekul ganda),
contoh sukrosa (glukosa + fruktosa), maltosa (glukosa + glukosa), laktosa (glukosa +
galaktosa).
b. Karbohidrat kompleks (amilum) adalah polisakarida karena disusun banyak
molekul glukosa.
c. Serat adalah jenis karbohidrat yang diperoleh dari tumbuh-tumbuhan, tidak dapat
dicerna oleh tubuh dengan sedikit atau tidak menghasilkan kalori tetapi dapat
meningkatkan volume feces.

2. Lemak
Lemak merupakan sumber energi yang dipadatkan. Lemak dan minyak terdiri atas
gabungan gliserol dengan asam-asam lemak.
Fungsi lemak :
1. sebagai sumber energi ; merupakan sumber energi yang dipadatkan dengan mem
berika n
9 kal/gr.
2. Ikut serta membangun jaringan tubuh.
3. Perlindungan.
4. Penyekatan/isolasi, lemak akan mencegah kehilangan panas dari tubuh.
5. Perasaan kenyang, lemak dapat menunda waktu pengosongan lambung dan mencegah
timbul rasa lapar kembali segera setelah makan.
6. Vitamin larut dalam lemak.

3. Protein
Protein merupakan konstituen penting pada semua sel, jenis nutrien ini berupa struktur
nutrien kompleks yang terdiri dari asam-asam amino. Protein akan dihidrolisis oleh
enzim-enzim proteolitik. Untuk melepaskan asam-asam amino yang kemudian akan
diserap oleh usus.
Fungsi protein :
• Protein menggantikan protein yang hilang selama proses metabolisme yang normal dan
proses pengausan yang normal.
• Protein menghasilkan jaringan baru.
• Protein diperlukan dalam pembuatan protein-protein yang baru dengan fungsi khusus
dalam tubuh yaitu enzim, hormon dan haemoglobin.
• Protein sebagai sumber energi.
4. Vitamin
Vitamin adalah bahan organic yang tidak dapat dibentuk oleh tubuh dan
berfungsi sebagai katalisator proses metabolisme tubuh.
Ada 2 jenis vitamin :
• Vitamin larut lemak yaitu vitamin A, D, E, K.
• Vitamin larut air yaitu vitamin B dan C (tidak disimpan dalam tubuh jadi harus ada
didalam diet setiap harinya).
5. Mineral dan Air
Mineral merupakan unsure esensial bagi fungsi normal sebagian enzim, dan sangat
penting dalam pengendalian system cairan tubuh. Mineral merupakan konstituen esensial
pada jaringan lunak, cairan dan rangka. Rangka mengandung sebagian besar mineral.
Tubuh tidak dapat mensintesis sehingga harus disediakan lewat makanan.
Tiga fungsi mineral :
1. Konstituen tulang dan gigi ; contoh : calsium, magnesium, fosfor.
2. Pembentukan garam-garam yang larut dan mengendalikan komposisi cairan tubuh ;
contoh Na, Cl (ekstraseluler), K, Mg, P (intraseluler).
3. Bahan dasar enzim dan protein.
Malnutrisi
Kekurangan intake dari zat-zat makanan terutama protein dan karbohidrat. Dapat
mempengaruhi pertumbuhan, perkembngan dan kognisi serta dapat memperlambat proses
penyembuhan.
Tipe-tipe malnutrisi :
• Defisiensi Nutrien ; contoh : kurang makan buah dan sayur menyebabkan kekurangan
vitamin C yang dapat mengakibatkan perdarahan pada gusi.
• Marasmus ; kekurangan protein dan kalori sehingga terjadinya pembongkaran lemak
tubuh dan otot. Gambaran klinis : atropi otot, menghilangnya lapisan lemak subkutan,
kelambatan pertumbuhan, perut buncit, sangat kurus seperti tulang dibungkus kulit.
• Kwashiorkor ; kekurangan protein karena diet yang kurang protein atau disebabkan
karena protein yang hilang secara fisiologis (misalnya keadaan cidera dan infeksi). Ciri-
cirinya : lemah, apatis, hati membesar, BB turun, atropi otot, anemia ringan, perubahan
pigmentasi pada kulit dan rambut.

EFEK MALNUTRISI TERHADAP SISTEM TUBUH


No. SISTEM EFEK
1. Neurologis/temperatur regulasi Menurunkan metabolisme dan suhu basal
tubuh.
2. Status mental Apatis, depresi, mudah terangsang,
penurunan fungsi kognitif, kesulitan
pengambilan keputusan.
3. Sistem imun
Produksi sel darah putih Resiko terhadap penyakit infeksi bila leukosit turun.
4. Muskuloskeletal Penurunan massa otot, terganggunya
kordinasi dan ketangkasan.
5. Kardiovaskuler Gangguan irama jantung, atropi jantung,
pompa jantung turun.
6. Respiratori Atropi otot pernafasan, pneumonia.
7. Gastrointestinal Penurunan massa feces, penurunan enzim pencernaan, penurunan
proses absorbsi, mempersingkat waktu transit, meningkatkan
pertumbuhan bakteri, diare, mengurangi
peristaltik.
8. Sistem urinaria Atropi ginjal, mengubah filtrasi dan
keseimbangan cairan dan elektrolit.
9. Sistem hati dan empedu Mengurangi penyimpanan glukosa,
mengurangi produksi glukosa dari asam
amino, mengurangi sintesa protein.

Perencanaan Makanan
Hidangan makanan umumnya direncanakan untuk memberikan campuran berbagai jenis
makanan yang sesuai dengan selera tetapi pengetahuan gizi harus diterjemahkan dalam
hal-hal praktis tersebut.
Pedoman diet dapat diwujudkan dalam cara-cara berikut ini :
• Makanlah berbagai ragam makanan. Cara ini akan menjamin bahwa diet anda
mengandung semua nutrien dalam jumlah yang memadai.
• Mengurangi konsumsi gula.
• Meningkatkan kandungan serat dan pati dalam diet dengan makanan lebih banyak beras
tumbuk, kentang, sayur dan buah-buahan.
• Mengurangi kandungan garam dalam diet dengan mengurangi makanan hasil olahan
dan tidak membubuhkan bumbu secara berlebihan.
• Mengurangi konsumsi lemak dengan mengurangi makan mentega, menggantikan cara
menggoreng dengan membakar atau merebus.
Kebutuhan Nutrisi Berdasarkan Tingkat perkembangan
Makanan Bayi
ASI merupakan makanan ideal bagi bayi berusia 1-2 tahun hingga usia 4 bulan bayi
hanya perlu ASI sebagai makanan satu-satunya dan setelah itu ASI diberi bersama¬sama
makanan mereka. 4-12 bulan mulai dikenalkan dengan makanan padat. 8 bulan ke atas
mulai bisa memakan makanan orang dewasa.

DAFTAR MAKANAN 6-12 BULAN


4-7 BULAN 6-8 BULAN 7-10 BULAN 10-12 BULAN
Susu ASI atau susu formula. ASI atau susu formula. ASI atau susu formula. ASI atau
susu formula.
Sereal dan roti Sereal
dicampur dengan susu. Dilanjutkan dengan roti
dan sereal
lainnya. Dilanjutkan dengan sereal
lainnya. Dilanjutkan dengan sereal
bayi sampai 18 bulan.
Buah dan
sayur dijus - Mulai dengan
jus 1
mangkok, memenuhi kebutuhan vitamin C.
Lu n a k. 1 mangkok
jus, buah
lunak dan
sayur yang
dimasak. Sayur dan
buah bisa diberikan 4 kali sehari
termasuk jus.
Daging dan sumber protein lain. - - Daging giling
dan daging
yang dipotong,
daging sapi,
telur, ikan,
kaca n g,
polong¬polongan,
kej u. Daging ataupun protein diberikan 2 kali sehari.

Toodler dan Preschool


Rata-rata anak-anak toddler atau preschool umumnya membutuhkan :
• Susu ; 2 atau 3 kali dalam 1 hari. Dalam I kali minum kira-kira '/2 - ~ gelas.
• Daging ; 2 kali atau lebih dalam 1 hari.
• Sereal dan roti ; 4 kali atau lebih dalam 1 hari.1 kali pemberian kira-kira '/2-1 potong
roti atau '/2 - ~ gelas bubur.
• Sayur dan buah-buahan ; 4 kali atau lebih dalam 1 hari. Itu meliputi sekurang-
kurangnya 1 kali atau lebih pemberian jeruk dan 1 kali pemberian sayuran hijau/kuning.
Anak Sekolah
Anak sekolah membutuhkan jumlah yang sama dengan penyediaan makanan dasar yang
dibutuhkan oleh anak usia preschool. Tapi kebutuhan lebih banyak dari anak preschool.
Contoh :
Susu satu gelas, daging 6-8 potong, sayur 1/3 - 1/2 gelas, roti 1 - 2 iris, sereal '/2 - 1
mangkok.
Adolesence
Remaja membutuhkan energi untuk kebutuhan mereka dan didalam makanannya
membutuhkan susu, daging, sayuran hijau dan kuning. Orang tua dianjurkan memberikan
sayur dan buah.

Dewasa Muda
Harus terjadi keseimbangan antara intake makanan dengan jumlah kalori yang keluar,
khususnya pada wanita hamil dan menyusui.
Wanita hamil dan menyusui membutuhkan :
• Protein
• Calsium dan fosfor
• Magnesium 150 mg/hari
• Besi
• Iodine 175 mg/hari
• Seng 5 mg lebih banyak dari kebutuhan seharinya untuk pembentukan jaringan baru.
Midle Age Adult (Dewasa Tengah)
Intake kalori perlu dikurangi karena penurunan BMR, pertumbuhan sudah lengkap dan
aktivitas berkurang. Penurunan intake bertujuan mencegah obesitas. Mereka sebaiknya
berhati-hati dalam memilih makanan. Makanan yang dianjurkan makanan rendah lemak,
unggas, ikan, kacang, dan telur hanya boleh 3 kali seminggu.
Sayur, buah, sereal dan roti kasar dapat memenuhi kebutuhan serat dan protein.
Manula
Terjadi perubahan fisiologis seperti : kurangnya gigi, kurangnya kemampuan merasa dan
mencium yang dapat berpengaruh pada kebiasaan makanan. Perubahan fisiologis lainnya
• Penurunan sekresi empedu dan asam lambung
• Penurunan peristaltik
• Berkurangnya sirkulasi
• Menurunkan toleransi glukosa
• Menurunkan massa tulang
• BB turun
Pedoman nutrisi untuk manula menurut Raab dan Raab
1. Mengurangi konsumsi lemak dengan minum susu rendah lemak, memakan lebih
banyak unggas-unggasan dan ikan dari pada daging merah. Batas porsi daging adalah 4-6
ons perhari. Tambahan lemak yang terbatas dari butter, margarin, dan salad berminyak.
2. Konsumsi makan penutup seperti buah segar atau kalengan, puding yang dibuat dari
susu rendah lemak lebih baik dari pada mengkonsumsi pie, biscuit, cake atau es krim.
3. Yakinkan bahwa intake daging, unggas, ikan, telur dan keju cukup, karena konsumsi
makanan ini berkurang pada manula.
4. Karena toleransi glukosa menurunkan konsumsi karbohidrat komplek seperti roti,
sereal, beras, pasta, kentang dan kacang-kacangan lebih baik dari makanan yang banyak
mengandung gula.
5. Mengkonsumsi sekitar 800 mg kalsium untuk mencegah kerapuhan tulang. Susu dan
produk-produknya seperti keju, yoghurt, sup krim, puding susu, produk susu yang
dibekukan adalah sumber kalsium yang utama.
6. Cukup konsumsi vitamin D untuk mempertahankan keseimbangan kalsium.
Didapatkan dari susu. Bila susu dan produknya tidak dapat mentoleransi defesiensi
laktosa, suplemen vitamin D bisa diberikan.
7. Diet rendah garam pada manula yang menderita hipertensi dan penyakit
kardiovaskuler. Hindari sup kalengan, kecap, mustar, garam, rokok dan lain-lain.

8. Penggunaan aspirin dapat menurunkan intake daging dan kebutuhan zat besi akan
meningkat.
9. Kesulitan mengunyah buah-buahan dan sayur-sayuran dapat menyebabkan defesiensi
vitamin A dan C, mineral dan serat. Buah dan sayur yang dipotong, sayur berdaun hijau
lebih baik. Dan mengganti daging, unggas, ikan yang susah dikunyah.
10. Memperbanyak konsumsi makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi dan
mengurangi penggunaan zat-zat laxatif.
Makanan sebaiknya :
1. Menarik, warna lebih ditonjolkan untuk menimbulkan selera makan.
2. Memasak makanan dengan baik, agar mudah dikunyah oleh gusi.
3. Menyedikan zat-zat makanan yang penting, baru kemudian yang
bergula/karbohidrat.
4. Tidak menyediakan teh, kopi pada sore dan malam hari yang dapat membuat insomnia
PENILAIAN
Penilaian status gizi, perawat menggunakan ‘ABCD’ (Anthropometric Biokimia Clinical
sign Dietary history).
Pengukuran Anthropometrik
Mengukur besar dan komposisi tubuh. Efektif untuk mengetahui status protein dan kalori.
Meliputi pengukuran TB, BB, lipatan kulit dan lingkar lengan.
1. Lingkar pertengahan lengan atas
Untuk mengetahui massa otot lengan bawah horizontal, rileks (diletakkan pada paha).
Diambil garis tengah antara processus acromion (bahu) dengan processus olecranon pada
siku.
2. Lipatan kulit trisep
Indikasi lemak tubuh dan penyimpanan energi. Lipatan kulit terdiri dari jaringan
subkutan, tidak di bawah otot. Ditentukan titik tengah lengan atas bagian belakang,
ditarik lurus sejajar dengan tulang humerus. Diletakkan alat ukur (kaliper) di bawah jari
yang mencubit, baru diukur.
3. Lingkar otot lengan
Indikasi indeks protein tubuh. Lingkar otot lengan sama dengan lingkar pertenghan
lengan atas (mm) - (3,14 x lipatan kulit trisep (mm).
Data Biokimia
Deteksi malnutrisi subklinis. Sampel urin dan darah dapat dibuat untuk mengukur nutrien
atau metabolit (produk akhir enzim). Yang sering digunakan sekarang adalah
• Indikator Hb dan Hematokrit
Hb turun " kekurangan Fe, anemia.
Hematokrit meningkat " dehidrasi.
• Albumin Serum
Merupakan 50% total serum protein untuk keseimbangan cairan dan elektrolit, transpor
nutrien, hormon dan obat-obatan. Albumin berguna sebagai indikator kekurangan protein
yang berat. Karena dalam tubuh kita banyak albumin. Kerusakannya berlangsung lambat
dan perubahan konsentrasinya juga lambat. Kondisi yang mengakibatkan kekurangan
albumin seperti penyakit hati, kerusakan ginjal lanjut, infeksi, kanker, gangguan absorbsi.
Di sini tingkat serum albumin hanya digunakan sebagai suatu indikator beberapa protein
tertentu.
• Transferin

Adalah protin darah yang membawa besi dan mentranspornya ke seluruh tubuh. Jumlah
transferin adalah indikator yang paling sensitif untuk menentukan kekurangan protein
dari serum albumin karena transferin merespon lebih cepat terhadap perubahan intake
protein dan sedikit dalam tubuh. Transferin banyak diproduksi dalam hati. Jumah
transferin yang meningkat bila penyimpanan besi rendah. Jumlah transferin menurun bila
penyimpanan besi berlebih. Kondisi yang menurunkan jumlah transferin : penyakit hati,
penyakit ginjal lanjut dan luka bakar. Karena banyak laboratorium tidak mempunyai
peralatan untuk memeriksa transferin, secara langsung, perkiraan jumlah transferin klien
dilakukan dengan Total Iron-Binding Capacity (TIBC). Tes TIBC lebih banyak
digunakan karena lebih sensitif.
• Menghitung total Limfosit
Kurang kalori protein dan defesiensi nutrisi yang serius dapat menekan sistem imun.
Limfosit total berkurang karena terjadi penurunan protein.
• Keseimbangan Nitrogen
Digunakan untuk memperkirakan derajat protein yang sedang digunakan dan diubah
dalam tubuh. Tes untuk mengukur nitrogen adalah : Blood Urea Nitrogen (BUN), Urine
Urea Nitrogen (UUN). Untuk itu diperlukan pengumpulan urin 24 jam. Urea adalah
produk akhir utama metabolisme protein dan asam amino. Terbentuk dari detoksifikasi
amonia oleh hati dan ditranspor ke ginjal untuk diekskresi melalui urin. Konsentrasi urea
di darah dan urin, langsung dipengaruhi oleh intake dan kekurangan jumlah protein
dalam tubuh, produksi rata-rata urea di hati dan rata-rata bersihan urea di ginjal.
Peningkatan BUN mungkin disebabkan untuk kelebihan intake protein, dehidrasi berat,
sakit parah dan malnutrisi, tetapi juga dapat disebabkan ekskresi urea yang tidak adekuat
berhubungan dengan penyakit ginjal atau obstruksi urinary. Penurunan BUN dapat
disebabkan oleh rendahnya protein dalam diet. Peningkatan UUN dapat terjadi karena
kelaparan berat.
• Ekskresi Kreatinin
Kreatinin adalah hasil akhir dari pembentukan kreatinin saat energi dilepaskan dari
fosfokreatin, penyimpanan energi selama metabolisme otot rangka. Rata-rata
pembentukkan kreatinin berbanding langsung dengan total massa otot. Kreatinin
dibersihkan dari aliran darah oleh ginjal dan diekskresi di urin sebanding dengan
pembentukannya. Ekskresi kreatinin dikarenakan juga oleh refleks total massa otot. Pada
atropi otot rangka karena malnutrisi dapat menurunkan ekskresi kreatinin. Pengukuran
kreatinin urin dengan pengumpulan urin 24 jam. Standar ekskresi kreatinin dipengaruhi
oleh jenis kelamin dan TB. Standar ekskresi kreatinin ini digunakan dengan pengukuran
kreatinin untuk menentukan Creatinin Height Index (CHI) dalam persen. Contoh : CHI =
70 % artinya massa otot rangka klien kira-kira 70 % diharapkan pada orang dengan
ukuran tubuh yang sama.

Clinical Sign / Gejala klinis


ORGAN TUBUH TANDA-TANDA NORMAL TANDA-TANDA ABNORMAL
Rambut Mengkilat, tidak kering /
berminyak Berminyak, kering, kusam,
jarang
Kulit Halus, lembab, turgor baik Kering, berminyak, ruam,
kasar, bersisik, memar /
pecah-pecah
Mata Cemerlang, bersih Kering, merah
Lidah Pink, basah Merah terbelah-belah,
ben g ka k
Membran mukosa Pink, merah, basah Merah, kering, retak
Kardiovaskuler HR dan TD normal, irama
jantung teratur HR dan TD naik, irama
jantung tidak teratur
Otot Pertumbuhan baik, kuat, tonus
baik, lemak di bawah kulit (+) Tonus buruk, gangguan
tingkat perkembangan
Gastrointestinal Nafsu makan baik, eliminasi
teratur dan normal Manifestasi anoreksia, ketidakmampuan mencerna, diare, konstipasi
Tenaga Semangat, energik, dapat tidur
dengan baik Energi menurun, lelah,
apatis, kurng tidur
Neurologi Refleks normal, waspada,
perhatian (+), emosi stabil Refleks menurun, mudah
marah, perhatian menurun,
bingung, emosi labil
BB Normal ; BB, TB seimbang sesuai usia > BB / < BB

Dietary History (latar belakang diet)


Umumnya terdiri dari data tentang pola dan kebiasaan makan, pemilihan makanan,
pembatasan-pembatasan, intake cairan setiap hari, penggunaan suplemen vitamin dan
mineral termasuk masalah diet seperti kesulitan mengunyah / meneguk, aktivitas fisik ,
riwayat kesehatan dan cara penyediaan / pengolahan makanan untuk memperoleh data
tentang pola dan kebiasaan makanan, digunakan tipe diet selama 24 jam secara detail
intake makanan lebih dari 3 kali sehari dalam satu minggu. Dokumen-dokumen tentang
diet ini perawat dan klien dapat membandingkan daftar makanan dengan standar RDA
atau dengan menentukan apakah klien dapat menerima diet nutrisi seimbang. Perawat
mendapatkan sudut pandang klien dari status nutrisinya.

DAFTAR PUSTAKA
Fundamental Of Nursing, Carol Taylor Et All, 1997, Lippincott Raven Washington.
Fundamental Of Nursing, Concepts Process & Practice, Patricia A. Potter Et All. Third
Edition, 1992, Mosby Year Book Washington.
Medical Surgical Nursing, Critical Thinking In Client Care, Priscilla Lemone, 1996.
Addisson Wesley Nursing
Manual Of Nursing Practice, Sandra M. Nettina, 6 Th Edition, 1996 , Lippinciott Raven
Publishers.
Nutrition Hand Book For Nursing Practice, Third Edition, Susan G. Dudek, 1997,
Eashington Square Philadelphia

Gangguan kesulitan makan pada anak terjadi pada sekitar 30% anak. Gangguan
ini bisa terjadi mulai dari yang ringan sampai tidak ringan. Ternyata gangguan ini
bisa dideteksi sejak usia dini sejak bayi atau di bawah usia 1 tahun.
GEJALA SULIT MAKAN DAPAT DI DETEKSI SEJAK DINI

DETEKSI DINI SULIT MAKAN :

• Saat usia 0-6 bulan kemampuan minum hanya 60-75 cc sekali minum,
• Saat usia 6 – 1 tahun hanya 90 cc sekali minum.
• Minum ASI hanya sebentar (10 menit) tapi sering, produksi ASI masih banyak
sering tersisa.
• Usia 0-4 bulan kenaikkan Berat badan setiap bulan hanya naik < 800 gram.
• Kenaikan berat badan lebih jelek setelah usia 4-6 bulan. Pada gambar grafik
kenaikan BB tidak pernah pada posisi di garis paling atas (KMS)
• Grafik kenaikkan BB agak datar setelah usia 6 bulan
• Memuntahkan atau menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di
mulut anak dan menepis suapan dari orangtua atau sama sekali tidak mau
memasukkan makanan ke dalam mulut.
• Makan berlama-lama dan memainkan makanan.
• Kesulitan menelan hanya mau makan makanan cair, lumat dan tidak berserat.
• Kesulitan mengunyah tetapi langsung menelan makanan.
• Tidak menyukai variasi banyak makanan.
• Sering pilih-pilih makanan.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESULITAN MAKAN PADA ANAK

GANGGUAN NAFSU MAKAN

Tampilan gangguan nafsu makan yang ringan berupa minum susu botol sering
sisa, waktu minum ASI berkurang (sebelumnya 20 menit menjadi 10 menit),
makan hanya sedikit atau mengeluarkan, menyembur-nyemburkan makanan atau
menahan makanan di mulut terlalu lama (”dikemut”) Sedangkan gangguan yang
lebih berat tampak anak menutup rapat mulutnya, menepis suapan orang tua atau
tidak mau makan dan minum sama sekali.

Tidak mau minum dengan botol


Keterlambatan makanan kasar dan berserat. Tidak bisa makan nasi tim saat usia 9
bulan, belum bisa makan nasi saat usia 1,5 tahun, tidak bisa makan sayur, daging
sapi (empal) atau sayur berserat seperti kangkung. Proses makan terjadi mulai dari
memasukkan makan dimulut, mengunyah dan menelan.

PENYEBAB KESULITAN MAKAN

• PALING SERING
• Infeksi akut (Flu, batuk, pilek, panas, diare)
• SANGAT JARANG Kelainan kronis : (TBC, Infeksi saluran kencing,
keganasan, kelainan jantung bawaan, kelainan endokrin dan metabolik, dan
gangguan neurologis (persarafan), Gangguan Psikologis

GANGGUAN SALURAN CERNA BERESIKO MENGAKIBATKAN


KESULITAN MAKAN PADA BAYI

WASPADAI GANGGUAN PENCERNAAN

• Pada usia bayi : Sering muntah/kembung, sering “cegukan”, sering buang angin,
sering “ngeden /mulet”, sering REWEL / GELISAH/COLIK terutama malam
hari),
• Sering buang air besar (> 3 kali perhari) atau susah buang air besar ( ngeden, tidak
BAB setiap hari, feses keras hitam atau hijau tua,kecil hitam spt ”tahi” kambing.
Buang Air Besar bau menyengat.
• Lidah sering kotor (berpulau-pulau), timbul putih, sariawan, bibir kering, air liur
berlebihan atau mulut berbau.
• Sering muntah, sering nyeri perut ringan dan hilang timbul, tidur malam sering
”nungging”
• Sejak lahir berat badan tidak pernah optimal atau berat badan kurang setelah umur
4-6 bulan.

GEJALA LAIN YANG MENYERTAI :

• KULIT SENSITIF, pada bayi sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama
di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.
• KULIT TIMBUL BERCAK PUTIH SEPERTI PANU. KULIT KERING DAN
KASAR
• Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat.Sering keringat berlebihan.
• GEJALA ALERGI pada organ tubuh lainnya (hidung sensitif, buntu, bersin)

KOMPLIKASI

• GANGGUAN ASUPAN GIZI (kekurangan vitamin dan mineral)


• Efek samping dari minum obat/ vitamin yang berlebihan dan berkepanjangan.
• SERING OVERDIAGNOSIS DAN OVERTREATMENT ( DIAGNOSIS &
TERAPI BERLEBIHAN) PENYAKIT TBC. MINUM OBAT JANGKA
PANJANG PADAHAL BELUM TENTU BENAR TBC, BILA DIAGNOSIS
TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA SECOND OPINION DENGAN DOKTER
LAINNYA
• SERING MENGALAMI INFEKSI (panas, batuk, pilek) BERULANG terutama
pada anak dengan keluhan sering muntah dan asma. Tetapi banyak kasus lainnya
malahan jarang mengalami penyakit infeksi
• GANGGUAN PERTUMBUHAN (BERAT BADAN DAN TINGGI BADAN
KURANG & SULIT NAIK)

KESULITAN MAKAN PADA ANAK SERING DISERTAI BEBERAPA


PERILAKU PADA ANAK MENINGKAT

: GANGGUAN PENCERNAAN (karena ALERGI MAKANAN, INTOLERANSI


MAKAN, COELIAC dll)GANGGUAN PROSES MENELAN DAN MENGUNYAH

• GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas.


Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong atau diselimuti. Senang posisi
berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke
belakang (head banging), membentur benturkan kepala. Waspadai anak mudah
jatuh dari tempat tidur.
• GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan terhadap satu mainanan atau
sesuatu aktifitas kecuali, bila bermain sesuatu tidak bisa bertahan lama, , TAPI
BIASANYA ANAK TAMPAK CERDAS
• AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering
menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”).
• EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras
kepala, SUKA MEMBANTAH
• GANGGUAN SENSORIS, KOORDINASI DAN MOTORIK
(KESEIMBANGAN): Bolak-balik, duduk, merangkak terlambat atau tidak
sesuai usia. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh atau menabrak, jalan jinjit, duduk
leter ”W”. Sensitif terhadap raba, cahaya dan suara.
• GANGGUAN ORAL MOTOR : GANGGUAN BICARA : TERLAMBAT
BICARA, BICARA TIDAK JELAS, bicara terburu-buru, cadel, gagap.
GANGGUAN MENGUNYAH MENELAN : tidak bisa makan makanan
berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
• IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan
orang lain
• GANGGUAN TIDUR MALAM : Tidur larut malam, sulit untuk memulai tidur,
Tidur gelisah bolak-balik ujung ke ujung, tidur posisi “nungging”,
berbicara,tertawa,berteriak saat tidur, sulit tidur, malam sering terbangun atau
duduk,mimpi buruk, “beradu gigi” atau gigi gemeretak (bruxism).
MONITOR PERTUMBUHAN ANAK SEJAK BAYI SERING
DIABAIKAN

Gangguan Pertumbuhan Paling Sering terjadi saat Usia 6 Bulan

Pertumbuhan dan perkembangan anak adalah masalah kesehatan yang sangat


penting untuk selalu diperhatikan sejak dini. Selama ini tampaknya monitoring
atau deteksi faktor pertumbuhan pada anak sering diabaikan. Hal ini tampak dari
sangat jarangnya dokter anak menggambar grafik pertumbuhan berat badan pada
buku kesehatan yang ada. Seringkali gangguan pertumbuhan terjadi setelah usia 6
bulan tidak terdeteksi dengan baik. Keadaan ini baru disadari setelah usia agak
besar. Bila gangguan pertumbuhan terjadi biasanya juga disertai gangguan
kekurangan zat gizi nutrisi lainnya, seperti kekurangan zat besi, kekurangan
calsium, mineral an vitamin lainnya.

FAKTA MONITORING PERTUMBUHAN PADA ANAK

• Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik dari waktu kewaktu. Sedangkan


perkembangan adalah bertambahnya fungsi tubuh seperti pendengaran,
penglihatan, kecerdasan, tanggung jawab dan lain-lain.
• Setiap anak memiliki garis pertumbuhan yang berbeda-bedah, anak tersebut akan
tumbuh mengikuti pola pertumbuhan normalnya.
• Demikian pula dengan perkembangan fungsi tubuh, setiap anak memiliki tahapan
perkembangan menujuh ke fungsi yang lebih baik. Cirinya adalah dapat diukur
secara kuantitatif, mengikuti perjalanan waktu dan dalam keadaan normal (ingat!
tidak ada kelainan/sakit) setiap anak memiliki jalur pertumbuhan tertentu
• Pemantauan perkembangan status gizi bayi secara berkala setiap bulan dengan
cara menimbang berat badan bayi dan mengukur panjang badannya. Idealnya,
berat badan bayi berada di garis normal pada grafik pertumbuhan. Ini artinya,
pertambahan berat badannya seimbang dengan pertambahan tinggi badan dan
usia.
• Pemantauan pertumbuhan anak sejak lahir sangat penting. Selain dapat
menentukan pola normal pertumbuhan pada anak, juga dapat menentukan
permasalahan dan faktor yang mempengaruhi dan mengganggu pertumbuhan
pada anak sejak dini
• Bila diketahui gangguan pertumbuhan sejk dini maka pencegahan dan
penanganan gangguan pertumbuhan tersebut dapat diatasi sejak dini
• Sayangnya, hampir 85% lebih buku kesehatan anak yang berobat ke dokter anak
atau ke dokter justru tidak pernah digambarkan grafik pertumbuhan berat badan.
Justru grafik pertumbuhan berat badan sering digambar oleh kader posyandu bagi
bayi yang menimbang di posyandu.
• Sehingga banyak kelainan dan gangguan kesehatan sering terjadi keterlambatan
deteksi dan penanganannya
• 50% bayi mengalami gangguan kenaikkan sejak usia 6 bulan yang tidak pernah
terdeteksi oleh orangtua dan dokter HANYA KARENA DALAM BUKU
KESEHATANNYA TIDAK PERNAH TERGAMBAR GRAFIK
KENAIKAN BERAT BADAN.
• Gangguan kenaikkan berat badan sejak usia 6 bulan seringkali terjadi
hanya karena timbulnya reaksi simpang makanan (alergi makanan,
intoleransi makanan dan seliak) pada bayi yang dapat mengganggu saluran
cerna dan mengganggu nafsu makan dan berat badan bayi. Karena, saat
usia 6 bula mulai diberi makanan tambahan baru.

Bagaimana mengetahui pertumbuhan normal anak balita Anda,

• ukur berat badan dan tinggi badannya.


• Pertumbuhan fisik anak, diukur antara lain dengan Berat Badan (BB), Tinggi
Badan (TB) dan Lingkar Kepala (LK). Salah satu cara untuk memantau
pengukuran ke 3 parameter tsb, adalah dengan menggunakan grafik pertumbuhan
(growth chart).
• tentukan berat badan ideal anak, anda juga bisa melihat apakah anak anda tinggi
atau pendek, gemuk atau kurus..
• Isi berat badam balita anda tentunya sesuai umur dan tarik garis grafik
pertumbuhan.

Pengukuran Yang Akurat

1. BB (berat badan)
Gunakan teknik yang tepat♣
Gunakan selalu timbangan yang sama♣
2. TB (tinggi badan) dan LK (lingkar kepala)
Gunakan teknik yang tepat♣
Gunakan calibrated length board♣

Grafik Pertumbuhan (Growth Chart)


Adalah grafik yang menunjukkan pola pertumbuhan seorang anak dengan >7 kurva
persentil (5th,10th,25th,50th,75th,90th dan 95th). Ket: persentil 50th adalah rata-rata nilai
pada umur tsb.

Cara Menggambar Grafik Pertumbuhan pada Kartu Kesehatan (KMS)

• Dapatkan data pengukuran BB,TB,LK yang tepat dan akurat


• Pilih chart atau gambar grafik pertumbuhan kenaikkan BB dan Tinggi badan
yang sesuai dengan umur dan jenis kelamin
• Gunakan alat bantu seperti penggaris segitiga agar akurat, untuk menghubungkan
BB, TB, dan LK dengan umur

Membaca Grafik Pertumbuhan

• Persentil menunjukkan persentase nilai pada umur tsb dari suatu populasi.
Misalnya, seorang anak memiliki BB di persentil 20th, berarti 80% dari anak-
anak sebayanya memiliki berat di atas anak tsb, dan 20% lainnya memiliki berat
di bawah anak tsb.
• Fokus pada pola atau trend dari grafik yang terbentuk (paling baik jika pola yang
terbentuk bergerak ke atas/trendnya naik, tidak stagnan, juga tidak meningkat atau
menurun dengan tajam). Bukan terfokus pada angka-angka persentil.
• Besar atau rendahnya persentil tidak berarti menunjukkan adanya masalah.
Seorang bayi yang memiliki lingkar kepala persentil 90th dapat memiliki BB dan
TB di persentil 90th. Ini berarti dia termasuk anak normal yang berperawakan
besar. Sebaliknya, anak yang memiliki BB di persentil 20th bisa jadi memiliki
orangtua yang tinggi dan beratnya juga di bawah rata-rata. Jadi sangat normal jika
sang anak berada pada persentil 20th.
• Ada juga pola grafik yang naik tajam atau turun drastis atau grafik berada pada
kurva paling ekstrim (di luar dari semua kurva). Sebagai contoh, seorang anak
memiliki BB di bawah persentil 5th, maka ia dimasukkan dalam kategori
underweight (BB kurang). Sedangkan anak dengan BB di persentil 85th akan
dimasukkan dalam kategori overweight (beresiko obesitas) dan mereka yang
memiliki BB di persentil di atas 95th digolongkan dalam obesitas.
• Grafik pertumbuhan dapat juga memberikan kesan yang salah tentang kondisi
pertumbuhan anak kita. Contohnya, seorang anak memiliki TB di persentil 5th.
Bukan berarti ia memiliki masalah kesehatan. Apalagi jika pola grafik atau trend
kurvanya menunjukkan bahwa ia memang selalu berada di kurva persentil 5th
(sejak bayi hingga kini, sang anak selalu berada dalam kurva persentil 5th).
Analisanya, bisa jadi sang anak mendapatkan gen „pendek“ dari sang orangtua
yang juga pendek.
• Pola pertumbuhan berat badan bayi/BB (weight) dan panjang badan/PB (length)
bayi digambarkan dalam Kurva Pertumbuhan atau Weight/Length Chart.
Rentangnya dari 5% sampai 95%. Apabila bayi berada dalam chart tersebut, maka
bayi masih dikatakan normal. Namun, berada di luar chart baik lebih rendah atau
lebih tinggi tidak bisa dinilai ada kelainan, harus diperiksa penyebabnya apa.
Misalnya faktor genetik. Memeriksakan dan berdiskusi dengan dokter adalah
jalan terbaik.
• Satu hal yang penting juga adalah pola pertumbuhan berat badan sebenarnya
tergantung dari Tinggi Badan dan Proporsi (keseimbangan) Berat Badan dan
Tinggi Badan. Polanya akan terlihat pada grafik pertumbuhan status berat badan
ideal anak.

Intepretasinya adalah sebagai berikut :

• PERTAMA ; Pertumbuhan yang diharapkan pada anak dengan statu awal Berat
Badan Idealnya baik (normal) dengan Tinggi Badanya Normal, akan terlihat
proporsi (keseimbangan) berat badan dan tinggi badanya normal, maka pola
pertumbuhan berat badan pada anak akan terlihat pada grafik pertumbuhan
adalah standar seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Berat badan standar (ideal) pada anak

• usia 1-10 tahun secara praktis dapat digunakan rumus = 2n+8, dimana –n- adalah
usia dalam tahun koma bulan misalnya usia 15 bulan ditulis 1,3 (satu koma tiga)

• KEDUA ; Pertumbuhan yang diharapkan pada anak dengan status Berat Badan
awalnya Kurang dan Tinggi Badannya Pendek, akan terlihat proporsi
(keseimbangan) Berat Badan dan Tinggi adalah Normal, maka pola
pertumbuhan anak pada KMS akan berada dibawah standar, pola tersebutlah
yang diharapkan, karena jika mengikuti Pola Pertumbuhan Standar, anak akan
terlihat kegemukan (obesitas). Seperti terlihat pada gambar dibawah ini

• KETIGA ; Jika pertumbuhan pada anak dengan status awal Berat Badannya
Kurang, sedangkan Tinggi Badannya normal, akan terlihat proporsi
(keseimbangan) Berat Badan dan Tinggi Badan anak adalah kurus, maka pola
pertumbuhan anak yang diharapkan adalah harus berada pada pola standar. Jadi
anak harus terus dinaikan berat badannya sampai berada pada pola standar, tetapi
pola ini tidak boleh dipaksakan bila anak tersebut sejak awal memang sudah
mempunyai Tinggi Badan Pendek. Seperti terlihat pada kedua gamabar dibawah
ini
Faktor Penyebab

Bila berat badan menurun atau grafik pertumbuhan datar, harus dicari segera
penyebabnya

PENYEBAB PALING SERING

1. GANGGUAN SALURAN CERNA (ALERGI MAKANAN,


HIPERSENSITIFITAS MAKANAN, INTOLERANSI MAKANAN ATAU
SELIAK). Gangguan yang terjadi :

• Pada usia bayi : Sering muntah/kembung, sering “cegukan”, sering buang


angin, sering “ngeden /mulet”, sering REWEL / GELISAH/COLIK terutama
malam hari),
• Sering buang air besar (> 3 kali perhari) atau susah buang air besar
( ngeden, tidak BAB setiap hari, feses keras hitam atau hijau tua,kecil hitam
spt ”tahi” kambing.
• Lidah sering kotor (berpulau-pulau), timbul putih, sariawan, bibir kering,
air liur berlebihan atau mulut berbau.
• Sering muntah, sering nyeri perut ringan dan hilang timbul,

GEJALA LAIN YANG MENYERTAI :

1. Kulit sensitif, pada bayi sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama
di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.
Kulit kering.
2. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Sering menggosok mata dan
telinga.
3. Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat.Sering keringat
berlebihan.
4. Gigi mudah rusak atau berwarna kecoklatan

PENYEBAB JARANG :
• Infeksi saluran kemih (sering terjadi pada bayi, lebih sering terjadi pada
perempuan)
• TBC (diuji dg beberapa jenis tes, tes mantoux positif bukan berarti ada
infeksi TBC) waspadai overdiagnosis TBC (tidak menderita TBC tetapi
divonis atau diobati sebagai TBC)
• Gagal tumbuh (growth failure)
• Gangguan genetik atau kelainan kromosom
• Gangguan metabolisme
• Gangguan jantung bawaan, ata kelainan bawaan lainnya
• Pengetahuan Orang tua

http://childrenclinic.wordpress.com/

Pemberian Makanan Anak usia 0-24 bulan Yang Baik dan Benar

June 18th, 2010 4 Comments Lain-lain

Sesuai dengan bertambahnya umur bayi/anak, perkembangan dan kemampuan bayi/anak


menerima makanan, makanan bayi/anak umur 0-24 bulan dibagi menjadi 4 tahap :

a. Makanan bayi umur 0 – 6 bulan


b. Makanan bayi umur 6 – 9 bulan
c. Makanan anak umur 9 – 12 bulan
d. Makanan anak umur 12 – 24 bulan

Pada situasi khusus seperti anak sakit atau ibu bekerja, pemberian makanan bayi/anak
perlu penanganan secara khusus.

A. MAKANAN BAYI UMUR 0 – 6 BULAN

1. Hanya ASI saja ( ASI Eksklusif )


Kontak fisik dan hisapan bayi akan merangsang produksi ASI terutama pada 30 menit
pertama setelah lahir. Pada periode ini ASI saja sudah dapat memenuhi kebutuhan gizi
bayi. Perlu diingat bahwa ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Menyusui sangat baik
untuk bayi dan ibu. Dengan menyusui akan terbina hubungan kasih sayang antara ibu dan
anak.

2. Berikan kolostrum
Kolostrum adalah ASI yang keluar pada hari-hari pertama, kental dan berwarna
kekuning-kuningan. Kolostrum mengandung zat-zat gizi dan zat kekebalan yang tinggi.

3. Berikan ASI dari kedua payudara


Berikan ASI dari satu payudara sampai kosong, kemudian pindah ke payudara lainnya,
ASI diberikan 8 – 10 kali setiap hari.
INGAT !
• Beri ASI saja sampai umur 6 bulan
• Berikan kolostrum

B. MAKANAN BAYI UMUR 6 BULAN

1. Pemberian ASI diteruskan, diberikan dari kedua payudara secara bergantian

2. Bayi mulai diperkenalkan dengan MP-ASI berbentuk lumat halus karena bayi sudah
memiliki reflek mengunyah. Contoh MP-ASI berbentuk halus antara lain : bubur susu,
biskuit yang ditambah air atau susu, pisang dan pepaya yang dilumatkan. Berikan untuk
pertama kali salah satu jenis MP-ASI, misalnya pisang lumat. Berikan sedikit demi
sedikit mulai dengan jumlah 1-2 sendok makan, 1-2 kali sehari. Berikan untuk beberapa
hari secara tetap, kemudian baru dapat diberikan jenis MP-ASI yang lainnya.

3. Perlu diingat tiap kali berikan ASI lebih dulu baru MP-ASI, agar ASI dimanfaatkan
seoptimal mungkin. MP-ASI berbentuk cairan diberikan dengan sendok, jangan sekali-
kali menggunakan botol dan dot. Penggunaan botol dan dot berisiko selain dapat pula
menyebabkan bayi/anak mencret itu dapat mengakibatkan infeksi telinga.

4. Memberikan MP-ASI dengan botol dan dot untuk anak baduta sambil tiduran dapat
menyebabkan infeksi telinga tengah, apabila MP-ASI masuk keruang tengah.

5. Memperkenalkan makanan baru pada bayi, jangan dipaksa. Kalau bayi sulit menerima,
ulangi pemberiannya pada waktu bayi lapar, sedikit demi sedikit dengan sabar, sampai
bayi terbiasa dengan rasa makanan tersebut.

INGAT !
Teruskan pemberian ASI
Berikan ASI lebih dulu, baru MP-ASI
Berikan makanan lumat halus 1-2 x sehari

C. MAKANAN BAYI UMUR 6 – 9 BULAN

1. Pemberian ASI diteruskan

2. Pada umur 6 bulan keadaan alat cerna sudah semakin kuat oleh karena itu, bayi mulai
diperkenalkan dengan MP-ASI lumat 2 x sehari.

3. Untuk mempertinggi nilai gizi makanan, nasi tim bayi ditambah sedikit demi sedikit
dengan sumber zat lemak, yaitu santan atau minyak kelapa/margarin. Bahan makanan ini
dapat menambah kalori makanan bayi, disamping memberikan rasa enak juga
mempertinggi penyerapan vit A dan zat gizi lain yang larut dalam lemak.

4. Setiap kali makan, berikanlah MP-ASI bayi dengan takaran paling sedikit sbb :
Pada umur 6 bulan – beri 6 sendok makan
Pada umur 7 bulan – beri 7 sendok makan
Pada umur 8 bulan – beri 8 sendok makan
Pada umur 9 bulan – beri 9 sendok makan
“ Bila bayi meminta lagi, ibu dapat menambahnya”

D. MAKANAN BAYI UMUR 9 – 12 BULAN

1. Pada umur 10 bulan bayi mulai diperkenalkan dengan makanan keluarga secara
bertahap. Karena merupakan makanan peralihan ke makanan keluarga, bentuk dan
kepadatan nasi tim bayi harus diatur secara berangsur, lambat laun mendekati bentuk dan
kepadatan makanan keluarga.

2. Berikan makanan selingan 1 kali sehari. Pilihlah makanan selingan yang bernilai gizi
tinggi, seperti bubur kacang ijo, buah, dll. usahakan agar makanan selingan dibuat sendiri
agar kebersihannya terjamin.

3. Bayi perlu diperkenalkan dengan beraneka ragam bahan makanan. Campurkanlah ke


dalam makanan lembik berbagai lauk pauk dan sayuran secara berganti-ganti (terlampir).
Pengenalan berbagai bahan makanan sejak usia dini akan berpengaruh baik terhadap
kebiasaan makan yang sehat dikemudian hari.

INGAT !
Teruskan pemberian ASI
Berikan makanan lunak 3 kali sehari dengan takaran yang cukup
Berikan makanan selingan 1 kali sehari
Perkenalkan bayi dengan beraneka ragam bahan makanan

E. MAKANAN ANAK UMUR 12 – 24 BULAN

1. Pemberian ASI diteruskan. Pada periode umur ini jumlah ASI sudah berkurang, tetapi
merupakan sumber zat gizi yang berkualitas tinggi.

2. Pemberian MP-ASI atau makanan keluarga sekurang-kurangnya 3 kali sehari dengan


porsi separuh makanan orang dewasa setiap kali makan. Disamping itu tetap berikan
makanan selingan 2 kali sehari.

3. Variasi makanan diperhatikan dengan menggunakan Padanan Bahan Makanan.


Misalnya nasi diganti dengan: mie, bihun, roti, kentang, dll. Hati ayam diganti dengan:
tahu, tempe, kacang ijo, telur, ikan. Bayam diganti dengan: daun kangkung, wortel,
tomat. Bubur susu diganti dengan: bubur kacang ijo, bubur sumsum, biskuit, dll.

4. Menyapih anak harus bertahap, jangan dilakukan secara tiba-tiba. Kurangi frekuensi
pemberian ASI sedikit demi sedikit.

INGAT !
Teruskan pemberian ASI
Berikan makanan keluarga 3 kali sehari
Berikan makanan selingan 2 kali sehari
Gunakan beraneka ragam bahan makanan setiap harinya.

http://duniaanak.lumbalumbi.com/2010/06/18/pemberian-makanan-anak-usia-0-24-
bulan-yang-baik-dan-benar/

(Foto: thinkstock)
Jakarta, Beberapa orangtua terkadang tak sabar ingin cepat-cepat memberikan bayinya
makanan padat seperti pisang atau biskuit. Tapi hal ini sebaiknya dihindari, karena ada
banyak manfaat yang bisa didapat bayi jika memberikan makanan padat sesuai usianya.

Para ahli telah sepakat bahwa sebaiknya orangtua menunggu hingga bayinya berusia 6
bulan sebelum memberikannya makanan padat. Hal ini didukung oleh sejumlah hasil
penelitian dan rekomendasi dari beberapa organisasi kesehatan.

Sebagian besar bayi akan memasuki tahap perkembangan dan fisiologis untuk siap
menerima makanan padat pada usia 6-9 bulan. Bahkan untuk beberapa bayi ada yang
harus menunda lebih lama yaitu hingga 12 bulan jika memiliki riwayat alergi di
keluarganya.

Seperti dikutip dari Kellymom, Senin (23/8/2010) ada beberapa manfaat yang bisa
didapatkan bayi jika menunda memberikan makanan padat hingga diatas usia 6 bulan,
yaitu:

1. Memberikan perlindungan yang lebih besar terhadap penyakit


Sudah banyak diketahui bahwa bayi bisa mendapatkan kekebalan melalui ASI, dan
kekebalan paling besar didapatkan jika bayi diberikan ASI eksklusif. Saat ini diketahui
ASI memiliki lebih dari 50 faktor kekebalan, tapi kemungkinan masih banyak lagi yang
belum diketahui.

Salah satu contohnya adalah kemungkinan terkena penyakit pernapasan yang dapat
terjadi kapanpun pada bayi secara signifikan akan berkurang jika bayi diberikan ASI
eksklusif dan tidak adanya makanan padat yang diperkenalkan selama itu.

2. Memberikan waktu bagi sistem pencernaan bayi untuk berkembang sempurna


Jika makanan padat diberikan sebelum sistem pencernaan bayi siap untuk menerimanya,
maka makanan tersebut akan kurang dicerna dan bisa menyebabkan reaksi yang tidak
menyenangkan seperti gangguan pencernaan, perut kembung atau sembelit.

Contohnya adalah enzim amilase baru akan mencapai tingkat memadai untuk mencerna
pati sekitar usia 6 bulan, enzim maltase, isomaltase dan sucrase untuk mencerna
karbohidrat baru akan sempurna sekitar usia 7 bulan, serta enzim lipase untuk mencerna
lemak baru akan mencapai tingkat dewasa sekitar usia 6-9 bulan.
3. Mengurangi risiko alergi makanan
Saat bayi baru lahir hingga usia antara 4-6 bulan, bayi memiliki sesuatu yang disebut
dengan 'usus terbuka'. Hal ini berarti terdapat ruang antara sel-sel dari usus kecil yang
memungkinkan makromolekul utuh termasuk protein dan patogen masuk ke dalam aliran
darah. Ditambah dengan belum sempurnanya sistem kekebalan tubuh bayi, maka
memungkinkan bayi mengalami alergi makanan atau penyakit tertentu.

Bayi akan mulai memproduksi antibodi sendiri sekitar usia 6 bulan dan rongga-rongga di
usus pun akan menutup pada usia tersebut. Saat itulah bayi mulai siap menerima
makanan padat.

4. Membantu melindungi bayi dari penyakit anemia akibat kekurangan zat besi
Berdasarkan penelitian dari Pisacane pada tahun 1995 didapatkan bahwa bayi yang
diberikan ASI eksklusif secara signifikan memiliki tingkat hemoglobin yang lebih tinggi
dibandingkan dengan bayi yang sudah diberikan makanan padat sebelum usia tersebut.
Hal ini dikarenakan pemberian ASI eksklusif bisa mempertahankan nilai-nilai
hemoglobin di batas normal dan menyimpan zat besi di dalam tubuh.

5. Melindungi bayi dari ancaman obesitas di masa mendatang


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wilson tahun 1998, von Kries 1999 dan
Kalies tahun 2005 diketahui memperkenalkan makanan padat terlalu dini pada bayi
berkaitan dengan adanya peningkatan lemak tubuh dan juga berat badan di masa kanak-
kanak.

6. Membantu ibu menjaga produksi air susunya


Bayi yang sudah mengenal berbagai rasa dari makanan padat yang dikonsumsinya,
cenderung akan mulai menyapih atau berhenti menyusu lebih cepat dari waktunya.
Karena pada umumnya bayi mendapatkan rasa yang lebih enak atau gurih dari makanan
padat dibandingkan rasa ASI, sehingga lama kelamaan produksi ASI akan semakin
berkurang. Sedangkan jika ASI terus menerus dikeluarkan atau diminum bayi, maka
produksinya akan semakin banyak.

7. Membantu memberikan ruang bagi bayi


ASI merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mencegah kehamilan saat bayi
masih mendapatkan ASI eksklusif, hal ini akan membuat bayi mendapatkan semua
kebutuhan gizi yang diperlukannya dan kasih sayang dari orangtua.

8. Membuat perkenalan makanan padat menjadi lebih mudah


Bayi yang mendapatkan makanan padat sesuai dengan usia, maka nantinya ia akan lebih
mudah untuk makan sendiri, lebih mudah dalam hal memperkenalkan satu jenis makanan
padat dan cenderung tidak memiliki reaksi alergi terhadap makanan.

http://www.detikhealth.com/read/2010/08/23/140304/1425814/764/8-manfaat-menunda-
makanan-padat-hingga-bayi-usia-6-bulan
OBESITAS PADA ANAK

ANAK SEHAT
OBESITAS PADA ANAK
Kegemukan atau obesitas adalah kelainan atau penyakit yang ditandai dengan
adanya akumulasi atau penimbunan jaringan lemak di bawah kulit yang
berlebihan dan terdapat di seluruh tubuh . Seringkali dihubungkan dengan
overweight ( kelebihan berat badan ) , walaupun tidak selalu identik oleh
karena obesitas mempunyai ciri-ciri tersendiri . Obesitas merupakan suatu
problem kesehatan yang harus segera ditangani . Di Indonesia , terutama di
kota-kota besar, dengan adanya perubahan gaya hidup yang menjurus pada
westernisasi berakibat pada perubahan pola makan / konsumsi masyarakat
yang merujuk pada pola makan tinggi kalori , tinggi lemak dan kolesterol
terutama terhadap penawaran makanan siap saji (fast food) yang berdampak
meningkatkan resiko obesitas .
Obesitas pada masa anak berisiko tinggi menjadi obesitas di masa dewasa dan
berpotensi mengalami penyakit metabolic dan penyakit degenerative di
kemudian hari , seperti hipertensi , peningkatan profil lemak dalam darah .
Maka obesitas pada anak memerlukan perhatian yang serius dan penanganan
yang sedini mungkin dengan melibatkan peran serta orangtua .
Perjalanan Perkembangan Obesitas
Menurut Dietz terdapat 3 periode kritis dalam masa tumbuh kembang
anak dalam kaitannya dengan terjadinya obesitas, yaitu: periode pranatal,
terutama trimester 3 kehamilan, periode adiposity rebound pada usia 6 – 7
tahun dan periode adolescence.
Pada bayi dan anak yang obesitas, sekitar 26,5% akan tetap obesitas
untuk 2 dekade berikutnya dan 80% remaja yang obesitas akan menjadi dewasa
yang obesitas. Menurut Taitz, 50% remaja yang obesitas sudah mengalami
obesitas sejak bayi. Sedang penelitian di Jepang menunjukkan 1/3 dari anak
obesitas tumbuh menjadi obesitas dimasa dewasa dan risiko obesitas ini
diperkirakan sangat tinggi.
Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa obesitas pada usia 1-2 tahun
dengan orang tua normal, sekitar 8% menjadi obesitas dewasa, sedang obesitas
pada usia 10-14 tahun dengan salah satu orang tuanya obesitas, 79% akan
menjadi obesitas dewasa.

Faktor-faktor Penyebab Obesitas


Berdasarkan hukum termodinamik, obesitas disebabkan adanya
keseimbangan energi positif, sebagai akibat ketidak seimbangan antara asupan
energi dengan keluaran energi, sehingga terjadi kelebihan energi yang disimpan
dalam bentuk jaringan lemak. Sebagian besar gangguan keseimbangan energi ini
disebabkan oleh faktor eksogen/nutrisional (obesitas primer) sedang faktor
endogen (obesitas sekunder) akibat kelainan hormonal, sindrom atau defek
genetik hanya sekitar 10%.
Penyebab obesitas belum diketahui secara pasti. Obesitas adalah suatu penyakit
multifaktorial yang diduga bahwa sebagian besar obesitas disebabkan oleh
karena interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan, antara lain
aktifitas, gaya hidup, sosial ekonomi dan nutrisional yaitu perilaku makan dan
pemberian makanan padat terlalu dini pada bayi.
● Faktor Genetik .
Parental fatness merupakan faktor genetik yang berperanan besar. Bila kedua
orang tua obesitas, 80% anaknya menjadi obesitas; bila salah satu orang tua
obesitas, kejadian obesitas menjadi 40% dan bila kedua orang tua tidak obesitas,
prevalensi menjadi 14%. Hipotesis Barker menyatakan bahwa perubahan
5

lingkungan nutrisi intrauterin menyebabkan gangguan perkembangan organ-


organ tubuh terutama kerentanan terhadap pemrograman janin yang
dikemudian hari bersama-sama dengan pengaruh diet dan stress lingkungan
merupakan predisposisi timbulnya berbagai penyakit dikemudian hari.
Mekanisme kerentanan genetik terhadap obesitas melalui efek pada resting
metabolic rate, thermogenesis non exercise, kecepatan oksidasi lipid dan kontrol
nafsu makan yang jelek. Dengan demikian kerentanan terhadap obesitas
ditentukan secara genetik.
● Faktor lingkungan , meliputi :
1. Aktifitas fisik.
Aktifitas fisik merupakan komponen utama dari energy expenditure, yaitu
sekitar 20-50% dari total energy expenditure. Penelitian di negara maju
mendapatkan hubungan antara aktifitas fisik yang rendah dengan kejadian
obesitas. Individu dengan aktivitas fisik yang rendah mempunyai risiko
peningkatan berat badan sebesar ≥ 5 kg.
Penelitian terhadap anak Amerika dengan tingkat sosial ekonomi yang sama
menunjukkan bahwa mereka yang nonton TV ≥ 5 jam perhari mempunyai risiko
obesitas sebesar 5,3 kali lebih besar dibanding mereka yang nonton TV ≤ 2 jam
setiap harinya.
2. Faktor nutrisional.
Peranan faktor nutrisi dimulai sejak dalam kandungan dimana jumlah lemak
tubuh dan pertumbuhan bayi dipengaruhi berat badan ibu. Kenaikan berat badan
dan lemak anak dipengaruhi oleh : waktu pertama kali mendapat makanan
padat, asupan tinggi kalori dari karbohidrat dan lemak serta kebiasaan
mengkonsumsi makanan yang mengandung energi tinggi.
Penelitian di Amerika dan Finlandia menunjukkan bahwa kelompok dengan
asupan tinggi lemak mempunyai risiko peningkatan berat badan lebih besar
dibanding kelompok dengan asupan rendah lemak . Penelitian lain menunjukkan
peningkatan konsumsi daging akan meningkatkan risiko obesitas sebesar 1,46
kali. Keadaan ini disebabkan karena makanan berlemak mempunyai energy
density lebih besar dan lebih tidak mengenyangkan serta mempunyai efek
termogenesis yang lebih kecil dibandingkan makanan yang banyak mengandung
protein dan karbohidrat. Makanan berlemak juga mempunyai rasa yang lezat
sehingga akan meningkatkan selera makan yang akhirnya terjadi konsumsi yang
berlebihan. Selain itu kapasitas penyimpanan makronutrien juga menentukan
keseimbangan energi. Protein mempunyai kapasitas penyimpanan sebagai
protein tubuh dalam jumlah terbatas dan metabolisme asam amino di regulasi
dengan ketat, sehingga bila intake protein berlebihan dapat dipastikan akan di
oksidasi; sedang karbohidrat mempunyai kapasitas penyimpanan dalam bentuk
glikogen hanya dalam jumlah kecil. Asupan dan oksidasi karbohidrat di regulasi
sangat ketat dan cepat, sehingga perubahan oksidasi karbohidrat mengakibatkan
perubahan asupan karbohidrat. Bila cadangan lemak tubuh rendah dan asupan
karbohidrat berlebihan, maka kelebihan energi dari karbohidrat sekitar 60-80%
disimpan dalam bentuk lemak tubuh. Lemak mempunyai kapasitas penyimpanan
yang tidak terbatas. Kelebihan asupan lemak tidak diiringi peningkatan oksidasi
lemak sehingga sekitar 96% lemak akan disimpan dalam jaringan lemak.
3. Faktor sosial ekonomi.
Perubahan pengetahuan, sikap, perilaku dan gaya hidup, pola makan, serta
peningkatan pendapatan mempengaruhi pemilihan jenis dan jumlah makanan
yang dikonsumsi. Suatu data menunjukkan bahwa beberapa tahun terakhir
terlihat adanya perubahan gaya hidup yang menjurus pada penurunan aktifitas
fisik, seperti: ke sekolah dengan naik kendaraan dan kurangnya aktifitas bermain
dengan teman serta lingkungan rumah yang tidak memungkinkan anak-anak
bermain diluar rumah, sehingga anak lebih senang bermain komputer / games,
nonton TV atau video dibanding melakukan aktifitas fisik. Selain itu juga
ketersediaan dan harga dari junk food yang mudah terjangkau akan berisiko
menimbulkan obesitas.
Dampak Obesitas pada anak
1. Faktor Risiko Penyakit Kardiovaskuler
Faktor risiko ini meliputi peningkatan: kadar insulin, trigliserida, LDL-kolesterol
dan tekanan darah sistolik serta penurunan kadar HDL- kolesterol. Risiko
penyakit Kardiovaskuler di usia dewasa pada anak obesitas sebesar 1,7 - 2,6.
Indeks Massa Tubuh (IMT) mempunyai hubungan yang kuat dengan kadar
insulin. Anak dengan IMT yang tinggi, 40% diantaranya mempunyai kadar
insulin tinggi, 15% mempunyai kadar HDL-kolesterol yang rendah dan 33%
dengan kadar trigliserida tinggi. Anak obesitas cenderung mengalami
peningkatan tekanan darah dan denyut jantung, sekitar 20-30% menderita
hipertensi.
2. Diabetes Mellitus tipe-2
Diabetes mellitus tipe-2 jarang ditemukan pada anak obesitas.
3. Obstruktive sleep apnea/ ngorok
Sering dijumpai pada anak obesitas dengan kejadian 1/100 dengan gejala
mengorok. Penyebabnya adalah penebalan jaringan lemak didaerah dinding dada
dan perut yang mengganggu pergerakan dinding dada dan diafragma, sehingga
terjadi penurunan volume dan perubahan pola ventilasi paru serta meningkatkan
beban kerja otot pernafasan. Pada saat tidur terjadi penurunan tonus otot
dinding dada yang disertai penurunan saturasi oksigen dan peningkatan kadar
CO , serta penurunan tonus otot yang mengatur pergerakan lidah yang
2

menyebabkan lidah jatuh kearah dinding belakang faring yang mengakibatkan


obstruksi saluran nafas intermiten dan menyebabkan tidur gelisah, sehingga
keesokan harinya anak cenderung mengantuk dan hipoventilasi. Gejala ini
berkurang seiring dengan penurunan berat badan.
4. Gangguan ortopedik
Pada anak obesitas cenderung berisiko mengalami gangguan ortopedik yang
disebabkan kelebihan berat badan, yaitu tergelincirnya epifisis kaput femoris
yang menimbulkan gejala nyeri panggul atau lutut dan terbatasnya gerakan
panggul.
5. Pseudotumor serebri
Pseudotumor serebri akibat peningkatan ringan tekanan intrakranial pada
obesitas disebabkan oleh gangguan jantung dan paru-2 yang menyebabkan
peningkatan kadar CO dan memberikan gejala sakit kepala, papil edema,
2

diplopia, kehilangan lapangan pandang perifer dan iritabilitas.

Penatalaksanaan Obesitas Pada Anak


Mengingat penyebab obesitas bersifat multifaktor, maka
penatalaksanaan obesitas seharusnya dilaksanakan secara multidisiplin dengan
mengikut sertakan keluarga dalam proses terapi obesitas. Prinsip dari
tatalaksana obesitas adalah mengurangi asupan energi serta meningkatkan
keluaran energi, dengan cara pengaturan diet, peningkatan aktifitas fisik, dan
mengubah / modifikasi pola hidup.
1. Menetapkan target penurunan berat badan
Untuk penurunan berat badan ditetapkan berdasarkan: umur anak, yaitu usia
2 - 7 tahun dan diatas 7 tahun, derajat obesitas dan ada tidaknya penyakit
penyerta/komplikasi. Pada anak obesitas tanpa komplikasi dengan usia dibawah
7 tahun, dianjurkan cukup dengan mempertahankan berat badan, sedang pada
obesitas dengan komplikasi pada anak usia dibawah 7 tahun dan obesitas pada
usia diatas 7 tahun dianjurkan untuk menurunkan berat badan. Target
penurunan berat badan sebesar 2,5 - 5 kg atau dengan kecepatan 0,5 - 2 kg per
bulan.
2. Pengaturan diet
Prinsip pengaturan diet pada anak obesitas adalah diet seimbang , hal ini
karena anak masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Intervensi diet
harus disesuaikan dengan usia anak, derajat obesitas dan ada tidaknya penyakit
penyerta. Pada obesitas sedang dan tanpa penyakit penyerta, diberikan diet
seimbang rendah kalori dengan pengurangan asupan kalori sebesar 30%.
Dalam pengaturan diet ini perlu diperhatikan tentang :
○ Menurunkan berat badan dengan tetap mempertahankan pertumbuhan normal.
○ Diet seimbang dengan komposisi karbohidrat 50-60%, lemak 20-30% dengan
lemak jenuh < 10% dan protein 15-20% energi total serta kolesterol < 300 mg
per hari.
○ Diet tinggi serat, dianjurkan pada anak usia > 2 tahun .
3. Pengaturan aktifitas fisik
Peningkatan aktifitas fisik mempunyai pengaruh terhadap laju metabolisme.
Latihan fisik yang diberikan disesuaikan dengan tingkat perkembangan motorik,
kemampuan fisik dan umurnya. Aktifitas fisik untuk anak usia 6-12 tahun lebih
tepat yang menggunakan ketrampilan otot, seperti bersepeda, berenang, menari
dan senam. Dianjurkan untuk melakukan aktifitas fisik selama 20-30 menit per
hari.
4. Mengubah pola hidup/perilaku
Untuk perubahan perilaku ini diperlukan peran serta orang tua sebagai
komponen intervensi, dengan cara:
○ Pengawasan sendiri terhadap: berat badan, asupan makanan dan aktifitas fisik
serta mencatat perkembangannya.
○ Mengontrol rangsangan untuk makan. Orang tua diharapkan dapat
menyingkirkan rangsangan disekitar anak yang dapat memicu keinginan untuk
makan.
○ Mengubah perilaku makan, dengan mengontrol porsi dan jenis makanan yang
dikonsumsi dan mengurangi makanan camilan.
○ Memberikan penghargaan dan hukuman.
○ Pengendalian diri, dengan menghindari makanan berkalori tinggi yang pada
umumnya lezat dan memilih makanan berkalori rendah.
5. Peran serta orang tua, anggota keluarga, teman dan guru.
Orang tua menyediakan diet yang seimbang, rendah kalori dan sesuai
petunjuk ahli gizi. Anggota keluarga, guru dan teman ikut berpartisipasi dalam
program diet, mengubah perilaku makan dan aktifitas yang mendukung program
diet.
6. Terapi intensif
Terapi intensif diterapkan pada anak dengan obesitas berat dan yang disertai
komplikasi yang tidak memberikan respon pada terapi konvensional, terdiri dari
diet berkalori sangat rendah (very low calorie diet), farmakoterapi dan terapi
bedah dibawah pengawasan dokter.
Wallohu a’lam bish showab
http://majalah-hilalahmarsolo.blogspot.com/2010/07/obesitas-pada-anak.html

Gangguan Pencernaan Pada Bayi

Merawat bayi tak cuma butuh kesabaran, tapi perlu pengetahuan tentang perawatan yang
benar. Seperti menangani gangguan perut pada bayi yang merupakan gejala umum dan
sering dijumpai, namun tak bisa dibiarkan.Tentu saja bayi menjadi menderita dan
gangguan ini tetap harus diwaspadai dan tak boleh dianggap remeh.

Gangguan pencernaan pada bayi dapat berasal dari susu formula yang dikonsumsinya
maupun makanan Pendamping Air Susu Ibu (PASI) atau terlalu dini bayi menerima
sapih. Sebaiknya makanan PASI diberikan pada saat bayi usia 6 bulan. Jika terlalu dini
bayi akan mengalami gangguan pencernaan. Sebaliknya, jika terlambat diberikan
makanan pendamping, maka bayi akan kekurangan gizi. Sebelum berumur 6 bulan bayi
harus menerima ASI karena merupakan makanan utama bagi bayi.

dr Rudi Hartono, SpA dari Klinik Anakku mengatakan bahwa makanan pendamping
baru bisa diberikan di atas usia 6 bulan. Karena beberapa enzim pemecah protein seperti
asam lambung, pepsin, lipase, enzim amilase, dan lainnya baru akan diproduksi sempurna
saat bayi berumur 6 bulan. Gangguan pencernaan itu sendiri bisa diakibatkan oleh infeksi
(oleh virus, bakteri, jamur dll), alergi misal terhadap protein susu sapi, gangguan
motilitas usus karena infeksi, gangguan keseimbangan asam basa di darah, sumbatan di
usus, defisiensi enzym pencernaan, sindroma malabsorbsi, dll. Bayi yang berumur 0-6
bulan rentan terkenan diare, karena ezim laktosa dalam usus kerapatannya belum
sempurna, sehingga ia sulit untuk mengurai kuman-kuman yang masuk sehingga bayi
bisa mencret-mencret. Oleh karena itu jangan memberikan makanan pendamping terlalu
dini, cukup diberikan ASI eksklusif pada umur sekian karena didalam ASI etrdapat anti
bodi yang bisa disalurkan ke bayi. Selain diare, pada umur sekian bayi mudah terkena
gangguan pencernaan seperti sembelit, gumoh, dan sebagainya. Bagi bayi berumur 6-12
bulan sudah dapat diberikan makanan pendamping. “Tetapi pada umur sekian juga bayi
masih rentan terkena gangguan pencernaan, karena anti bodi didalam tubuhnya belum
berfungsi secara sempurna. Oleh karena itu makanan yang diberikan cukup yang lunak-
lunak saja,” ujar Rudi. Bayi yang sudah mendapatkan makanan pendamping ASI harus
diperhatikan benar kebersihannya, mulai dari botol susu, tempat makan, dan lainnya.
Sebaiknya tidak memberi bayi makanan terlalu banyak mengandung minyak, santan,
mentega atau margarin. Karena, lemak yang dikandung bahan makanan itu akan
memperberat kerja sistem pencernaanbayi. Bayi yang terkena diare rentan mengalami dehidrasi.

Beberapa gangguan pencernaan pada bayi :

Sembelit
Gangguan susah Buang Air Besar (BAB) pada bayi biasanya terjadi pada umur 0-4 bulan,
karena pencernaan bayi dan pembentukan enzim pencernaan belum sempurna. Susah
BAB pada bayi bisa disebabkan karena susu formula yang diolah terlalu kental. Biasanya
susu formula memiliki kandungan lemak tinggi dan protein rendah. Pada bayi yang
menerima ASI cenderung memiliki feses lembek karena kandungan lemak dan protein
yang sesuai fisiologinya. Kekurangan cairan pun dapat sebabkan bayi sembelit. Beri
minuman air putih sebelum bayi mnum susu untuk membantu melarutkan dalam proses
pencernaan.

Umumnya susu hewani memicu gangguan pencernaan dibandingkan yang berasal dari
nabati. Susu nabati mempunyai susunan asam lemak tak jenuh lebih panjang, sehingga
mudah dicerna. Gangguan BAB ini juga dapat disebabkan karena makanan. Bayi
berumur 6 bulan yang sudah diberi makanan pendamping sebaiknya diberi asupan buah-
buahan yang diolah menjadi cair dan halus. Hindari buah pisang dan apel yang memiliki
kadar serat tinggi. Apel memiliki daya serap air tinggi dalam saluran pencernaan
sehingga dapat menyebabkan kotoran mengeras. Kelainan hipotiroid juga dapat
mengakibatkan bayi mengalami gangguan BAB. Gejalafisik yang dapat dilihat adalah
pusar bodong, kulit kasar dan kering, otot-otot tubuh lemah, loyo serta wajah yang khas
seperti hidung pesek, dan wajah membengkak.

Mencret

Bayi yang berumur 0-6 bulan rentan terkena virus yang mengakibatkan infeksi pada usus.
Enzim laktosa didalam tubuh pun belum berfungsi dengan sempurna sehingga bayi
mudah mengalami mencret-mencret. Begitu pun hal nya pada bayi umur 6-12 bulan,
walaupun ia sudah menerima makanan pendamping, namun perlu diperhatikan mengenai
takaran susu formula yang diberikan. Pengolahan susu terlalu kental mengakibatkan usus
bayi sulit mencerna, sehingga sebelum dicerna susu sudah keluar akibatnya bayi
mengalami mencret. Bila berkepanjangan bayi dapat kekurangan cairan dan mengancam
jiwanya. Mencret juga ditimbulkan dari penyakit lainnya sepert infeksi pernapasan atas.
Selain karena susu formula, mencret pada bayi juga dapat diakibatkan karena makanan
pendamping yang kurang bersih.

Sering Muntah
Umumnya bayi sering mengalami muntah. Banyak hal penyebabnya, salah satunya susu
formula. Fungsi pencernaan peristaltik (gelombang kontraksi pada dinding lambung dan
usus) pada bayi belum terbentuk sempurna, sehingga jika ada asupan makanan seperti
susu, yang terlalu kental maka akan dikeluarkan kembali. Muntah juga bisa terjadi,
karena bayi kekenyangan atau bayi mulet hingga tekanan di perutnya tinggi, akibatnya
susu keluar lagi. Pada umumnya reflek menelan baru sempurna dilakukan oleh bayi
berumur 6 bulan ke atas. Agar bayi tidak muntah, sebaiknya makanan dibuat lebih lunak
sehingga dapat mudah dicerna.

Kolik

Bila bayi tiba-tiba menangis tanpa sebab dengan disertai buang angin, maka bayi
mengalami kolik atau keram alias kejang usus. Kolik memang tidak berbahaya namun
cukup merepotkan dan belum diketahui pasti penyebabnya. Kemungkinannya akibat
kejang otot pada dinding usus, tekanan udara dalam usus dan gangguan pencernaan.
Biasanya bayi mengalami kolik pada 3-4 bulan pertama kehidupannya. []

Percernaan pada bayi

Bayi umur 0-6 bulan kerapatan sel2 di ususnya tidak bagus atau kerapatannya belum
sempurna. Bayi usia >6 bulan seluruh fungsi pencernaan sudah berjalan dengan normal
namun anti body dalam tubuh masih belum berfungsi dengan sempurna sehingga rentan
terhadap alergy.

Diet Untuk Bayi

Meli Simarmata

Bayi pun perlu diet. Menurut Dr Inayah Budiasti S.MS,SpGK, dokter spesialis gizi dari
Hang Lekiu Medical Center, diet yang dimaksud bukan mengurangi porsi makan,
melainkan lebih ke mengatur pola makan. Selain mengatur jenis makanan, juga
komposisi dan jadwal. “Hal ini penting karena jika karena nutrisinya tidak lengkap,
pertumbuhan anak jadi tidak optimal. Tentu saja anak memerlukan karbohidrat, protein
dan lemak. Jangan lupa vitamin dan serat yang berasal dari buah dan tumbuh-tumbuhan,”
kata Inayah. Prinsipnya, diet yang tepat untuk bayi harus dapat memenuhi semua
kebutuhan energi dan nutrisi yang dibutuhkan untuk mencapai pertumbuhan dan
perkembangan yang ideal melalui makanan sehat dan seimbang.

Berikan hanya ASI pada bayi berusia 0-6 bulan. ”ASI adalah nutrisi terbaik karena
kandungan gizinya lengkap dan seimbang, sangat ideal untuk tumbuh kembang anak.
ASI juga melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi, seperti diare dan muntah,
infeksi telinga, infeksi saluran nagas dan alergi,” papar Dr Purnamawati S Pudjiarto,
SpAK, MMPed. Sampai usia 1 tahun, ASI merupakan sumber nutrisi utama bagi bayi,
tetapi ASI saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi. Oleh karena itu harus diberi
makanan pendamping ASI (MPASI).
Konsep pemberian MPASI menurut dr Purnamawati, sama dengan konsep umum
pemberian makan pada anak, tetapi dengan beberapa catatan. ”Feeding bukan sekedar
proses menaikkan panjang dan berat badan bayi. Pemberian ASI merupakan proses
belajar menelan, mengulum, dan mengunyah serta mempergunakan alat makan sesuai
usia, proses bertualang–mengenal rasa dan tekstur, serta proses interaksi sosial–periode
makan harus merupakan momen yang entertaining,” jelasnya.

Panduan umum pola makan anak:

1. Sampai usia 6 bulan, berikan ASI sesuai keinginan bayi. Jadi, jika sudah lewat
dua jam bayi tidur dan tenang, tidak perlu dibangunkan untuk diberi susu. Karena
jika bayi sudah merasa tidak nyaman dan haus, pasti dia akan bangun dan
menangis untuk meminta susu.
2. Berikan makanan yang bervariasi, sehat, dan seimbang sesuai piramida makanan.
3. Perbanyak mengkonsumsi biji-bijian, beras, roti, dan sayuran.
4. Sesedikit mungkin mengkonsumsi gula atau makanan yang diberi gula.
5. Pilih makanan rendah garam, tetapi tinggi kalsium dan zat besi.
6. Bayi usia 6 bulan ke atas membutuhkan vitamin D dan kalsium yang cukup untuk
pertumbuhan tulangnya. Sumber terbaik adalah margarin, mentega, sinar matahari
dan minyak ikan.
7. Banyak minum air putih.
8. Beberapa makanan seperti kacang perlu dihindari karena berpotensi menyebabkan
bayi tersedak. Sebaiknya bayi juga tidak diberi madu karena mengandung
mikroorganisme yang sensitif bagi bayi. Hindari juga permen, sayuran dengan
krim, soda, serta makanan dan minuman lain yang tinggi lemak dan gula.

http://www.inspiredkidsmagazine.com/ArtikelBabies.php?artikelID=31