Anda di halaman 1dari 11

c   


    c   

Judul Percobaan
Penentuan Berat Molekul (Mr) Berdasarkan Penurunan Titik Beku Larutan

Tujuan Percobaan
Menentukan berat molekul (Mr) naftalena berdasarkan penurunan titik beku larutannya dalam
pelarut benzen murni.

Landasan Teori
Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak bergantung pada macamnya zat terlarut
tetapi semata-mata hanya ditentukan oleh banyaknya zat terlarut (konsentrasi zat terlarut),
(Anonim, 2010).
Menurut Anonim (2010), apabila suatu belarut ditambah dengan sedikit zat terlarut, maka
akan didapatkan suatu larutan yang mengalami:
Penurunan tekanan uap jenuh
Kenaikan titik didih
Penurunan titik beku
Tekanan osmosis
Titik leleh (atau titik beku), suatu zat adalah temperature pada mana fase padat dan cair ad
dal;am kesetimbangan. Jika kesetimbangan semacam itu diganggu dengan menembahkan
atau menarik energy panas, system akan berubah dengan membentuk lebih banyak zat cair
atau lebih banyak zat padat. Namun temperature akan tetap pada titik leleh selama kudua fase
itu masih ada (Handayana, 1989 : 304).
Titik didih suatu cairan berubah secara nyata dengan berubahnya tekanan luar. Tetapi, selisih
tekanan yang kecil, seperti berubahnya tekanan udara, mempunyai pengaruh yang dapat
diabaikan pada titik beku suatu cairan. Penambahan tekanan yang besar memang
menyebabkan fase yang volumenya lebih kecil, lebih disukai. Untuk kebanyakan zat, keadaan
zat padat lebih rapat volume lebih kecil untuk bobot tertentu) daripada keadaan cair
(Handayana, 1989 : 304).
Peralihan wujud zat ditentukan oleh suhu dan tekanan. Contohnya air pada tekanan 1 atm
mempunyai titik didih 1000C dan titik beku 0 0C. Jika air mengandung zat terlarut yang
sukar menguap (misalnya gula), maka titk didihnya akan lebih besar dri 100 0C. dantitik
bekunya lebih kecil dari 0 0C. perbedaan itu disebut kenaikan titik didh dan penurunan titik
beku (¨Tf) (Sukri, 1999).
Penyimpangan itu diterangkan dengan bantuan bantuaan diagram fase cair yang tealh
dibahas. Suatu caitan akan mendidih bila tekanan uapnya sama dengan tekanan luar, yaitu 1
atm. Akan tetapi jika ada zat terlarut, P atau cc¶. akibatnya, untuk mendidihà maka tekanan
uapnya turun sebesar diperlukan suhu lebih (Sukri, 1999).
Dengan menggunakan penurunan rumus yang sama dengan yang digunakan dalam keanaikan
titik didih, diperoleh bahwa penurunan titik beku juga sebanding dengan konsentrasi zat
terlarut (molalitas). Dengan penurunan rumus yang sama dengan pada kenaikan titik didih
akan diperoleh persamaan :
Tbà = -Kb m2
Kb = konstanta krioskopik atau konstanta penurunan titik beku
m = molalitas larutan
pada kenyataannya, persamaan di atas hanya berlaku untuk larutan yang mengandung zat
terlarut non volatil, tetapi juga berlaku untuk larutan yang mengandung zat terlarut volatil
(Bird, 1987 : 188).
Konsentrasi zat ialah jumlah mol per satuan volume. Satuan SI mol per meter kubik
memudahkan pekerjaan kimia sehingga molaritas yang didefinisikan sebagai jumlah mol zat
terlarut per liter larutan, yang digunakan :
Molaritas = (mol zat terlarut)/(Liter larutan ) = mol. L-1
´M´ adalah singkatan untuk ´mol perliter´ 0,1 M (dibaca 0,1 molar) larutan HCl memiliki
0,1 mol HCl (bedisosiasi menjadi ion-ionnya) per liter larutan. Molaritas merupakan cara
yang lazim untuk menyatakana komposisi larutan encer. Untuk pengukuran yang cermat, cara
ini kurang menguntungkan karena sedikit ketergantungannya pada suhu. Jika larutan
dipanaskan, atau didinginkan, volumenya berubah, sehingga jumlah zat terlarut per liter
larutan juga berubah (Oxtoby, 2001 :154).
Molalitas adalah nisbah massa dan ini tidak bergantung pada suhu. Molalitas didefinisikan
sebagai jumlah mol zat terlarut per kilogram pelarut:
Molaritas = (mol zat terlarut)/(Kilogram pelarut) = mol.Kg-1
Karena air memiliki rapatan 1,009 cm-3 pada 20 oC maka 1,00 L air bobotnya 1,00 x 103
gram atau 1,00 Kg dalam air. Jadi molaritas dan molalitas hampir sama nilainya (Oxtoby,
2001 :154).
Tekanan uap suatu zat cair menentukan titik beku (dan juga titik didih) dari zat cair itu
sendiri. Adanya zat terlarut di dalam suatu pelarut dapat menyebabkan perubahan tekana uap,
dan berarti menyebabkan perubahan titik beku (Tim Dosen Kimia Fisik, 2010 : 29).
Dengan menggunakan persamaan Cousius-Clapeyron, maka terhadap larutan ideal yang
encer berlaku :
Hf/Ràln Po/P = x T/ToTà
ln Po/P = XB
dari kedua persamaan ini diperoleh:
T/ToTàHf/R x àXB =
Hf = entalpi pembekuan; R = Tetapan gas dan XB = mol fraksi zatàDimana Tf (penurunan
titik beku) dan nilai T = To sehinggaàT = àterlarut. Jika (ToT) = To2, disubstitusi ke
persamaan di atas maka diperoleh :
Hf x XBàTf = RT2/ à
Sementara itu untuk larutan encer berlaku XB = nB/npelarut dan bila dinyatakan ke dalam ke
satuan molalitas diperoleh hitungan :
XB = nB/n pelarut = (MA/1000)m
Dengan m adalah molalitas zat terlarut, persamaan ini dapat diubah menjadi
Hf. m (Tim Dosen Kimia Fisik 2010 : 29). àTf = RT2MA/1000 à
Alat dan Bahan
Alat
Gelas kimia 1000 mL 1 buah
Gelas kimia 50 mL 1 buah
Gelas ukur 50 mL 1 buah
Tabung reaksi besar 1 buah
Thermometer -10oC ± 50oC 1 buah
Botol semprot 1 buah
Batang pengaduk 1 buah
Stopwatch 1 buah
Neraca analitik 1 buah
Bahan
Benzena (C6H6)
Naftalena (C10H8)
Es batu
Aquadest
Prosedur Kerja
Penentuan titik beku pelarut
Memasukkan 30 mL benzene ke dalam tabung reaksi besar
Menempatkan thermometer dan batang pengaduk dalam tabung reaksi tersebut
Meletakkan tabung reaksi ke dalam gelas kimia yang berisi es batu
Mengaduk larutan secara perlahan
Membaca skala thermometer (Suhu) setiap 30 detik samapai suhu konstan pada 4-5 kali
pembacaan
Mengeluarkan tabung dari gelas kimia dan dibiarkan pada suhu kamar

Penentuan titik beku larutan


Menimbang 0,8435 gram (0,25 molal) naftalena
Memasukkan zat hasil penimbangan ke dalam tabung reaksi yang berisi pelarut kemudian
mengaduk sampai larut
Memasukkan tabung reaksi ke dalam gelas kimia yang berisi es batu
Mencatat suhu larutan setiap 30 detik sampai suhu konstan pada 4-5 kali pembacaan
Menimbang kembali 1,6869 gram (0,5 molal) naftalena dan memasukkan dalam 30 mL
pelarut benzene
Megulangi cara kerja 3-4
Hasil Pengamatan
Penentuan Suhu pelarut per 30 detik
Waktu ke- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Suhu (oC) 26 23 21 19 18 16 12 9 6 6 6
Suhu konstan = 6 oC
Penentuan suhu larutan per 30 detik
m benzene = 30 mL x 0,08786 gram/mL
= 26,3580 gram
Molalitas larutan = 0,25 m
Massa benzene = 0,8435 gram
Waktu ke- 1 2 3 4 5 6 7 8
Suhu (oC) 18 9 6 4,5 4 4 4 4
.suhu konstan = 4oC

Massa naftalena = 1,687 gram


Waktu ke- 1 2 3 4 5 6 7 8
Suhu (oC) 20 11 6 5 3 3 3 3
Suhu konstan = 3 oC

Analisis Data
Penentuan massa pelarut benzene
Massa jenis benzene = 0,8786 gram/mL
Volume benzene = 30 mL
m = ȡ .v
= 0,8786 gram/mol x 30 mL
= 26,3580 gram
Penentuan massa naftalena
Mm naftalena = 128 g/mol
Massa benzena = 26,3580 gram
Larutan 0,25 molal
m = 1000/p x(massa naftalena)/Mm
0,25 molal = 1000/(26.3580 g) x(massa naftalena)/(128 g/mol)
Massa naftalena =(0,25 molal .26,3580 gram .128 g/mol)/1000
= 0,8435 garam
Larutan 0,5 molal
m = 1000/p x(massa naftalena)/Mm
0,5 molal = 1000/(26.3580 g) x(massa naftalena)/(128 g/mol)
Massa naftalena =(0,5 molal .26,3580 gram .128 g/mol)/1000
= 1,6869 garam
Penentuan Mr naftalena berdasarkan titik beku larutan
Dik ; Tf benzene = 6oC
Tf larutan 0,25 molal = 4oC
Tf larutan 0,5 molal = 3oC
M benzene = 26,3580 gram
Dit : Mr naftalena«?
Peny :
Konsentrasi larutan 0,25 molal
¨Tf = Kf x m
Kf = ¨Tf/molal
¨Tf = Tf0 - Tf
=6±4
= 3oC
Maka,
Kf = ¨Tf/molal
Kf = 2/0,25
= 8 oC/molal
Sehingga
¨Tf = Kf (m naftalena)/(Mr ) x 1000/(m benzena)
Mr = Kf (1000 m naftalena)/(m benzena. ¨Tf)
= 8 (1000 x 0,8435 gram)/(26,3580 gram. (6-4)C)
= (6748 gram C/molal)/(52,716 gram C)
= 128,0067 gram/mol
Konsentrasi larutan 0,25 molal
Kf = ¨Tf/molal
¨Tf = Tf0 - Tf
=6±3
= 3oC
Maka,
Kf = ¨Tf/molal
Kf = 3/0,25
= 6 oC/molal
Sehingga
Mr = Kf (1000 m naftalena)/(m benzena. ¨Tf)
= 6 (1000 x 1,6869 gram)/(26,3580 gram. (6-3)C)
= (10121,4 gram C/molal)/(79,079 gram C)
= 127,9991 gram/mol
Pembahasan
Percobaan ini pada dasarnya bertujuan untuk menentukan berat molekul (Mr) naftalena
berdasarkan penurunan titik beku larutan dengan menggunakan pelarut benzene. Langkah
pertama yang dilakukan yaitu menentukan titik beku pelarut murni (benzene) dengan cara
mendinginkan benzene dalam air es sambil mengaduk larutan. Fungsi dari pengadukan
adalah agar larutan merata (suhu larutan merata). Adapun suhu konstan yang diperoleh yaitu
6oC. suhu konstan ini dinyatakan sebagai titik beku benzene. Hal ini sudah sesuai dengan
teori yang menyatakan bahwa titik beku benzene adalah 6oC.
Tahap selanjutnya yaitu menentukan titik beku larutan. Dalam percobaan ini, digunakan
larutan naftalena dengan konsentrasi berbeda yaitu 0,25 molal dan 0,5 molal. Hal ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan jumlah zat terlarut terhadap penurunan
titik beku. Pada larutan dengan konsentrasi o,25 molal digunakan naftalena sebanyak 0,8435
gram sedang 0,5 molal sebanyak 1,6869 gram. Naftalena ini kemudian ditambahkan ke dalam
larutan benzene dan diaduk dengan tujuan agar larutan selalu homogeny. Pada larutan dengan
konsentrasi 0,25 molal diperoleh titik beku larutan sebesar 4oC dengan penurunan titik beku
sebesar 2oC. sedang pada larutan dengan konsentrasi 0,5 molal diperoleh titik beku larutan
sebesar 3oC dengan penurunan titik beku sebesar 3oC.
Dari hasil analisis data, diperoleh Mr naftalena pada larutan 0,25 molal sebesar 128,0067
gram/mol dan pada larutan 0,5 molal sebesar 127,9991 gram/mol. Hasil yang diperoleh
hampir sama dengan Mr teori naftalena yaitu 128 gram/mol.
Pada percobaan ini diketahui bahwa penambahan zat terlarut/konsentrasi larutan berbanding
lurus dengan penurunan titik beku.

Kesimpulan dan Saran


Kesimpulan
Konsentrasi larutan berbanding lurus dengan penurunan titik beku larutan
Mr naftalena pada larutan 0,25 molal yaitu 128,0067 gram/mol sedang pada larutan 0,5 molal
yaitu 127,9991 gram/mol
Saran
Sebaiknya praktikan lebih teliti dalam pembacaan suhu/skala termometer
ÿ    


  
     ! "
  # #  ! ##!
!  #
    $ #!!$%&  
' $(
" )*+   ! # # ,! ! -#. $  
/$" ($0 # ))%   ! # ,! !1$ !   -  $ -#1  
23
4"($##   !   !  &
$ 1$ !  -  $ -#1  
# ( )))  ÿ! ' $  4 5'
 ÿ
!   ! #     # #   ! # &#!!4

   (
&5 (6& 

  





I. JUDUL PERCOBAAN
³Penentuan Berat Molekul (Mr) Berdasarkan Penurunan Titik Beku Larutan´
II. TUJUAN PERCOBAAN
Menentukan berat molekul (Mr) Naftalena berdasarkan penurunan titik beku larutannya
dalam pelarut murni.
III. LANDASAN TEORI
Solut yang tak menguap akan merendahkan tekanan uap larutan. Fenomena ini juga
mempengaruhi sifat fisika lain dari larutan, terutama titik beku dan titik didihnya. Titik didih
normal aalah suhu di mana tekanan uap dari cairan sama dengan 1 atm. Sedanngkan titik
beku normal adalah suhu di mana garis kesetimbangan padat-cair akan berpotongan garis
tekanan 1 atm (Hiskia, 2005 : 40)
Dalam menggambarkan pengaruh zat terlarut pada penurunan tekanan uap larutan, kenaikan
titik didih dan penurunan titik beku, satu-satunya pembahasan yang kita berikan ialah bahwa
zat terlarut harus takarsiri, susunan kimia zat terlarut tidak menjadi masalah, tetapi
konsentrasi partikel zat terlarutnya yang penting. Karena itu, kita dapat menggunakan gejala-
gejala ini untuk menghitung massa molekul zat. Untuk mendapatkan massa molekul suatu zat
dengan cara percobaan harus ditentukan ddua macam nilai yaitu, massa dari zat dan jumlah
molnya. Sesudah diketahui maka perbandingan antara jumlah gram dan molnya merupakan
harga dari massa molekul zat (BM). Drai harga penurunan titik beku ¨Tb, serta konstanta
penurunan titik beku maka dapat dihitung molalitasnya zat dalam larutan dengan
menggunakan persamaan :
m= ¨Tb/Kb
Dari molalitas akan didapat jumlah mol solut per kg solven. Dengan mengalikan harga
perbandingan ini dengan jumlah kilogram solvenyang sebenarnya ada dalam larutan akan
didapat jumlah mol solut dalam larutan yang kita cari tersebut. Akhirnya massa molekul atau
berat molekul (Mr) adalah perbandingan gram solut dan mol solut (Brady, 1999 : 681)
Bila suatu zat terlarut yang tidak menguap dilarutkan dalam suatu pelarut, titik beku pelarut
berkurang. Berkurangnya ¨Tf ditentukan sebagai :
¨Tf =(RTf2 ln>X2)/(¨H peleburan)
Jika ¨Tf tidak besar sekali dan larutan tersebut ideal.
¨H peleburan adalah panas peleburan molar dari pelarut, X2 adalah fraksi mol zat terlarut
dan Tf adalah titik beku sebenarnya. Untuk larutan sangat encer dan yang bersifat ideal.
Persamaan di atas menjadi lebih sederhana, yaitu :
¨Tf =Kf .m
Di mana Kf adalah konstanta penurunan titik beku dan dinyatakan sebagai :
Kf = (MRT^2)/(¨H lebur 1000)
Di mana M adalah bobot molekul pelarut, dan m adalah molalitas zat terlarut. Dengan
bantuan penurunan titik beku, kuantitas seperti bobot molekulzat terlarut, aktivitas dan
koefisien Aaktivitas, konstanta disosiasi dari elektrolit lemah dan faktor vant hoff dapat
ditentukan (Dogra, 2008 : 552-553).
Perhitungan massa molekul relatif, yaitu :
¨Tb = Kb.m
m = mol/(kg pelarut)
W1 = berat pelarut dalam gram
W2 = berat zat terlarut dalam gram
M1 = massa molekul relatif pelarut
M2 = massa molekul relatif zat terlarut
Mol = W2/M2
m = 1000/w1 X W2/M2
¨Tb = Kb X 1000/w1 X W2/M2
Dengan cara yang mirip dapat ditentukan
¨Tf = Kf.m
¨Tf = penurunan titik beku
Kf = tetapan penurunan titik beku molal atau tetapan krioskopik
m = kemolalan
dapat disimpulkan bahwa :
Pada tekanan tetap, kenaikan titik didih dan penurunan titik beku suatu larutan encer
berbanding lurus dengan konsentrasi massa.
Larutan encer semua zat terlarut yang tidak mengion, dalam pelarut yang sama, dengan
konsentrasi molal yang sama, mempunyai titik didih atau titik beku yang sama, pada tekanan
yang sama.
Kf dan Kb diperoleh dari
Penurunan data termodinamika
Eksperimen
Dari data termodinamika
K = (RT^2)/1000L
(Hiskia,2005 : 40).
Selisih antara titik beku dengan titik beku larutan disebut penurunan titik beku. ¨Tf = titik
beku pelarut ± titik beku larutan. Penurunan titik beku , ¨Tf bila kebanyakan larutan encer
didinginkan, pelarut murni terkristalisasi lebih dahulu sebelum ada zat terlarut yang
mengkristalisasi suhu di mana kristal-kristal pertama dalam keseimbangan dengan larutan
disebut titik beku larutan. Titik beku larutan demikian selalu lebih rendah dari titik beku
berbanding lurus dengan banyaknya molekul zat terlarut (atau molnya) di dalam massa
tertentu pelarut. Jadi penurunan titik beku ¨Tf = (titik beku pelarut ± titik beku larutan) =
Kf.m. Di mana m adalah molallitas larutan. Jika persamaan ini berlaku sampai konsentrasi 1
molal, perubahan titik beku larutan 1 molal setiap non elektrolit yang tersebut di dalamnya
pelarut itu ialah Kf yang karena itu dinamakan tetapan titik beku molal (Anonim, 2010).
Tekanan uap suatu zat cair menentukan titik beku (dan juga titik didih) dari zat cair itu
sendiri. Adanya zat terlarut di dalam suatu pelarut dapat menyebabkan perubahan tekanan
uap, dan berarti menyebabkan perubahan titik beku (tim Dosen Kimia Fisik, 2010 : 29)

IV. ALAT DAN BAHAN


Alat
Tabung reaksi besar 2 buah
Batang pengaduk 2 buah
Gelas kimia 500 ml 1 buah
Gelas ukur 50 ml 1 buah
Termometer 110 oC 2 buah
Mortar dan pastel 1 pasang
Botol semprot 1 buah
Neraca analitik 1 buah
Stopwatch 1 buah
Bahan
Benzena
Naftalena
Es batu
Tissue
Aquades
V. PROSEDUR KERJA
a. Penetapan titik beku larutan
1. Menyusun alat
2. mengukur 20 ml benzena dan memasukkan ke dalam tabung rekasi besar, menghitung
volume benzena ini ke dalam satuan massa (gram).
3. Menempatkan pula ke dalam tabung reaksi berisi pelarut, termometer beserta pengaduk.
4. Meletakkan tabung beserta isinya dalam gelas kimia 500 ml, menaburkan pecahan-pecahan
es batu di sekitar tabung dan segera menjalankan stopwatch. Melakukan pengadukan secara
perlahan, merata, dan kontinyu.
5. Melakukan pembacaan dan pencatatan skala termometer setiap 30 detik
6. Jika skala termometer memperlihatkan relatif tetap (selama 4-5 kali pembacaan terakhir).
Menghentikan percobaan dengan mengeluarkan tabung dari penangas es dan membiarkan
tabung dan isinya kembali ke keadaan suhu kamar.
b. Penetapan titik beku larutan
1. Menggerus sampel zat yang akan dilarutkan, lalu timbang zat terlarut dengan jumlah
tertentu (0,843 gram) sehingga jika dilarutkan ke dalam 30 ml benzena akan membentuk
larutan dengan konsentrasi 0,25 molal.
2. Selanjutnya melakukan langkah berikut :
a. memasukkan zat hasil penimbangan ke dalam tabung berisi pelarut dengan hati- hati dan
mengaduk sampai melarut.
b. Meletakkan tabung di tengah gelas kimia, menaburi dengan pecahan es, menjalankan
stopwatch dan selanjutnya mulailah percobaan. Melakukan pencatatan seperti yang
ditetapkan pada pelarut.
3. Menimbang lagi denga teliti 1,687 gram zat terlarut
4. Selanjutnya melakukan langkah serupa dengan langkah 2.

VI. HASIL PENGAMATAN


Data fisik dan pengukuran suhu pelarut per 30 detik
volume Suhu kamar Massa jenis Massa pelarut
30,0 ml 28,0 oC 0,8786 g/ml 26,36 gram
Waktu ke- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Suhu (oC) 18 18 14 14 11 9 9 8 7 7 6 6 6 6 6

Data konsentrasi dari pengukuran suhu per 30 detik


Konsentrasi 0,25 molal
M benzena M naftalena Molalitas larutan Suhu campuran
(benzena + naftalena)
26,3400 g 0,8428 g 0,25 molal 27,0 oC
Waktu ke- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Suhu (oC) 19 15 11 9 6 4 4 3 3 3 3 3

Konsentrasi 0,5 molal


M benzena M naftalena Molalitas larutan Suhu campuran
(benzena + naftalena)
26,3400 g 1,6857 g 0,5 molal 27,0 oC
Waktu ke- 1 2 3 4 5 6 7 8
Suhu (oC) 13 7 3 2 2 2 2 2

VII. ANALISIS DATA


Penentuan massa dari pelarut
Dik : volume benzena = 30 ml
ȇ benzena = 0,878 g/ml
Dit : massa benzena = «.?
Penyelesaian :
Massa benzena = ȡ X V
= 0,878 g/ml X 30 ml
= 26,3400 gram
Penentuan massa naftalena pada konsentrasi 0,25 molal
Dik : molal = 0,25 molal
P = 26,3400 gram
Mr = 128 g/mol
Dit : m naftalena =«.?
Penyelesaian :
m = massa/Mr X 1000/P
massa = (m X Mr X P)/1000
=(0,25 mol/g X 128 g/mol X 26,3400 gram )/1000
=0,8428 gram
Penentuan massa naftalena pada konsentrasi 0,5 molal
Dik : molal = 0,5 molal
P = 26,3400 gram
Mr = 128 g/mol
Dit : m naftalena =«.?
Penyelesaian :
m = massa/Mr X 1000/P
massa = (m X Mr X P)/1000
=(0,5 mol/g X 128 g/mol X 26,3400 gram )/1000
=1,6857 gram
Penentuan perubahan titik beku larutan (¨Tf)
Nilai ¨Tf pada 0,25 molal
Dik : Tfpelarut = 6,0 oC
Tf larutan = 3,0 oC
Dit : ¨Tf = «?
Penyelesaian :
¨Tf = Tf pelarut ± Tf larutan
= (6,0 ± 3,0) oC
= 3,0 oC =3,0 K
Penentuan harga Kf
Untuk konsentrasi 0,25 molal
Dik : ¨Tf = 3,0 K
M = 0,25 molal
Dit : Kf =«..?
Penyelesaian :
¨Tf = Kf X m
Kf =¨Tf/m
= (3 K)/( 0,25 molal)
= 12 K/molal

Penentuan berat molekul


Untuk konsentrasi 0,25 molal
Dik : ¨Tf = 3 K
Kf = 12 K/molal
WB = 0,8428 gram
Wpelarut = 26,3400 gram
Dit : M = «..?
Penyelesaian :
M = Kf X (1000 X WB)/(Wpelarut X ¨Tf)
=12 K.mol.g-1 X (1000 X 0,8428 g)/(26,3400 g X 3 K)
= 127,9878 g/mol

VIII. PEMBAHASAN
Pada percobaan ini untuk menentukan berat molekul (Mr) naftalena dilakukan dengan cara
berdasarkan penurunan titik beku laruutan. Oleh karena itu, hal pertama yang harus dilakukan
yaitu menentukan titik beku pelarut dan titik beku larutan larutan untuk mengetahui
penurunan titik bekunya. Pelarut yang digunakan yaitu benzena dan zat terlarut yang
digunakan yaitu naftalena. Mula-mula pelarut benzena ditentukan titik bekunya dengan cara
mendinginkan pada air es dan dilakukan pengukuran suhu sampai konstan. Dari hasil
percobaan diperoleh titik beku benzena yang konstan yaitu 6,0 oC. untuk titik beku larutan
digunakan dua macamkonsentrasi zat terlarut yaitu 0,25 molal dan 0,5 molal. Dari hasil
analisis data, pada konsentrasi 0,25 molal digunakan massa zat terlarut (naftalena) sebesar
0,8428 gram, sedangkan pada konsentrasi 0,5 molal digunakan massa zat terlarut (naftalena)
sebesar 1,6875 gram. Penentuan titik beku larutan sama perlakuannya dengan menentukan
titik beku pelarut. Tetapi pada titik beku larutan digunakan camppuran benzena dengan
naftalena. Dari hasil percobaan diperoleh titik beku larutan pada larutan pada 0,25 molal yang
konstan yaitu 3,0 K. sedangkan titik beku larutan pada 0,5 molal yang konstan yaitu 2,0 K.
Dari hasil analisis data, diperoleh ¨Tf untuk konsentrasi 0,25 molal yaitu 3,0 K dan ¨Tf
utnuk konsentrasi 0,5 molal yaitu 4,0 K. dari harga ¨Tf tersebut dapat ditentukan harga
tetapan krioskopik menggunakan persamaan ¨Tf = Kf X m. dari persamaan diperoleh harga
Kf untuk konsentrasi 0,25 molal yaitu 12 K/molal dan Kf untuk konsentrasi 0,5 molal yaitu 8
K/molal. Pada penurunan titik beku larutan terlihat bahwa semakin tinggi konsentrasi dari
naftalena maka penurunan titik bekunya semakin rendah. Hal ini telah sesui dengan teori
yang menyatakan bahwa semakin bannyak atau semakin tinggi konsentrasi naftalena yang
dilarutkan maka penurunan titik bekunya semakin rendah.
Berdasarkan hasil percobaan ini, dipeoleh berat molekul untuk zat terlarut naftalena pada
konsentrasi 0,25 molal yaitu 127,9878 g/mol. Sedangkan berat molekul zat terlarut neftalena
pada konsentrasi 0,5 molal yaitu 127,9954 g/mol. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa
hasil percobaan ini telah sesuai dengan teori. Menurut teori berat molekul (Mr) naftalena
yaitu 127,9 g/mol.
IX. KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :
Titik beku pelarut benzena yaitu 6,0 oC
Titik beku larutan pada konsentrasi 0,25 molal yaitu 3,0 oC
Titik bekku larutan pada konsentrasi 0,5 molal yaitu 2,0 oC
Perubahan titik beku larutan (¨Tf) pada konsentrasi 0,25 molal yaitu 3,0 oC atau 3,0 K
Perubahan titik beku larutan (¨Tf) pada konsentrasi 0,5 molal yaitu 4,0 oC atau 4,0 K
Berat molekul (Mr) naftalena pada konsentrasi 0,25 molal yaitu 127,9889 g/mol
Berat molekul (Mr) naftalena pada konsentrasi 0,5 molal yaitu 127,9954 g/mol
Saran
Diharapkan kepada praktikan selanjutnya untuk memperhatikandengan baik pembacaan
skalatermometer, dehingga tidak mempengaruhi keakuratan data.
Pada proses pencampuran antara zat terlarut dengan zat pelarut dilakukan pengocokan secara
kontinyu dan merata sehingga larutan dapat bercampur dengan sempurn

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Sifat Koligatif Larutan. http://annisanphusie.wordpress.com/ diakses pada
tanggal 13 April 2010.
Brady, James. 1999. Asas dan struktur. Jakarta : Bumi Aksara.
Dogra, S.K. 2008. Kimia Fisik dan Soal-soal. Jakarta : UI Press
Hiskia, Ahmad. 2005. Kimia Larutan. Jakarta : Bumi Aksara.
Tim Dosen kimia Fisik. 2010. Penuntun Praktikum Kimia Fisik I. Makassar : Jurusan kimia
FMIPA UNM.