Anda di halaman 1dari 58

EFEK ANTIINFLAMASI EKSTRAK ETANOL

RIMPANG KENCUR (Kaempferia galanga L.)


PADA TIKUS PUTIH (Rattus novergicus)
JANTAN GALUR WISTAR

Skripsi

Diajukan ke Fakultas Kedokteran Universitas Riau


sebagai pemenuhan salah satu syarat untuk
mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran

Oleh:

REZA PRIATNA
NIM. 0608113458

1
-2-
- 2 -2222

-2-

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2010
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Obat tradisional mengalami perkembangan yang semakin meningkat, terlebih

dengan munculnya isu kembali ke alam (back to nature) serta krisis ekonomi

berkepanjangan yang menurunkan daya beli masyarakat. Berdasarkan data WHO,

sekitar 80% penduduk dunia dalam perawatan kesehatannya memanfaatkan obat

tradisional yang berasal dari ekstrak tumbuhan. Banyak orang beranggapan bahwa

penggunaan obat tradisional relatif lebih aman dibandingkan obat sintesis. Walaupun

demikian bukan berarti obat tradisional tidak memiliki efek samping yang merugikan.

Masyarakat lokal memiliki pengertian yang dalam akan manfaat berbagai jenis

tumbuhan lokal. Sekitar 400 etnis masyarakat Indonesia erat kehidupannya

dengan alam dan memiliki pengetahuan tradisional yang tinggi dalam

memanfaatkan tumbuhan obat untuk perawatan kesehatan.1

Salah satu jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat

adalah kencur. Kencur termasuk salah satu tanaman temu-temuan yang banyak

digunakan sebagai bahan obat tradisional. Produk utama kencur adalah

rimpangnya yang dapat dimanfaatkan untuk bumbu dapur, obat tradisional,

2
-3-
- 3 -2222

-3-

industri kretek, industri minuman penyegar, kosmetik dan lain-lain. Dalam

pengobatan tradisional, kencur dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengobati

influenza, sakit kepala, askariasis, diare, infeksi bakteri, rematik dan lain-lain.

Rimpang kencur oleh masyarakat Jawa digunakan dalam suatu ramuan obat

bernama beras kencur yang fungsinya menghilangkan nyeri tubuh karena

berolahraga atau bekerja berat. Umumnya beras kencur dipakai dengan cara

dilumurkan pada bagian-bagian tubuh yang mengalami nyeri.2,3

Salah satu zat kimia pada rimpang kencur yang bersifat antiinflamasi

adalah kaempferol. Selain sebagai antioksidan dan antikanker, kaempferol juga

mempunyai kemampuan menghambat proses inflamasi dengan cara menghambat

ekspresi enzim cyclooxygenase-2 (COX-2). Penelitian Aroonrerk (2009) di

Thailand tentang efek antiinflamasi ekstrak etanol rimpang kencur dengan

menggunakan model in vitro mengatakan bahwa rimpang kencur terbukti

memiliki efek antiinflamasi, namun penelitian tentang efek antiinflamasi ekstrak

etanol rimpang kencur masih sangat sedikit yang telah dilakukan dan jumlah zat

kimia yang terkandung dalam kencur mungkin berbeda-beda sesuai dengan

tempat tumbuhnya sehingga daya antiinflamasi rimpang kencur juga memberikan

hasil yang berbeda pula.3,4

Obat modern yang biasa digunakan sebagai antiinflamasi adalah obat

golongan AINS (Antiinflamsi Non Steroid) yang pada umumnya mempunyai efek

samping antara lain dapat mengakibatkan tukak lambung sehingga perlu dicari

3
-4-
- 4 -2222

-4-

pengobatan alternatif yang memiliki efek samping minimal. Berdasarkan hal-hal

yang telah diuraikan di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

mengenai efek antiinflamasi dari ekstrak etanol rimpang kencur pada tikus

percobaan.

1.2 Perumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah pada penelitian ini

adalah apakah ekstrak etanol rimpang kencur (Kaempferia galanga L) memiliki

efek antiinflamasi dalam menurunkan volume edema pada kaki tikus putih jantan

galur Wistar yang diinduksi karagenan 1%?

1.3 Hipotesis penelitian

Hipotesis pada penelitian ini adalah ekstrak etanol rimpang kencur

(Kaempferia galanga L) memiliki efek antiinflamasi dalam menurunkan volume

edema pada kaki tikus putih jantan galur Wistar yang diinduksi karagenan 1%.

1.4 Tujuan penelitian

4
-5-
- 5 -2222

-5-

1.4.1 Tujuan umum

Untuk mengetahui efek antiinflamasi ekstrak etanol rimpang kencur pada

pada tikus putih jantan galur Wistar yang diinduksi karagenan 1%.

1.4.2 Tujuan khusus

1. Untuk mengukur efek antiinflamasi ekstrak etanol kencur pada berbagai

dosis pada tikus percobaan dengan cara mengukur derajat edema.

2. Untuk mengukur perbandingan efek antiinflamasi ekstrak etanol rimpang

kencur dengan obat antiinflamasi non steroid (Indometasin) terhadap

penurunan volume edema pada tikus percobaan.

1.5 Manfaat penelitian

1. Bagi peneliti

Dapat menambah pengetahuan dalam melakukan penelitian khususnya

penelitian eksperimental laboratorik serta memperluas pengetahuan

mengenai tanaman kencur dan inflamasi.

2. Bagi peneliti lain

Dapat dijadikan sebagai pembanding dan masukan untuk penelitian

selanjutnya.

3. Bagi ilmu pengetahuan

5
-6-
- 6 -2222

-6-

Mengembangkan obat-obat baru yang berasal dari tumbuhan khususnya

kencur sebagai alternatif dalam mengobati inflamasi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman kencur

2.1.1 Klasifikasi tanaman

Taksonomi tanaman kencur sebagai berikut:2

6
-7-
- 7 -2222

-7-

Kerajaan : Plantae

Divisi : Spermatophita

Sub Divisi : Angiospermae

Kelas : Monocothyledoneae

Bangsa : Zingiberales

Suku : Zingiberaceae

Marga : Kaempferia

Jenis : Kaempferia galanga L.

2.1.2 Morfologi tanaman

Tanaman kencur memiliki batang semu yang sangat pendek dan tumbuh

merumpun. Batang tersebut terbentuk dari pelepah-pelepah daun yang saling

menutupi. Daun-daunnya tumbuh tunggal, melebar dan mendatar atau menurun

mendekati permukaan tanah dengan ujung mengecil. Bentuknya lonjong, lebar 3-

6 cm dan panjang 7-12 cm. Warna daun adalah hijau segar dan bertekstur agak

tebal. Tangkai daun amat pendek dan bewarna keputihan.5,6

Bunga kencur keluar dalam bentuk buliran dari ujung tanaman di sela-sela

daun. Warna bunganya putih, ungu hingga lembayung. Buah kencur termasuk

buah kotak yang memiliki 3 ruang dengan bakal buah yang letaknya tenggelam.

Namun buah kencur sulit menghasilkan biji.2

7
-8-
- 8 -2222

-8-

Akar kencur merupakan akar tunggal yang bercabang halus dan menempel

pada umbi akar atau yang biasa disebut rimpang. Rimpang ini tumbuh memanjang

ke bawah, berdiameter sampai 1,5 cm dan tidak berserat. Rimpang kencur

memiliki bentuk bulat dan memanjang. Rimpang kencur yang masih muda,

umumnya bewarna putih, namun seiring dengan perkembangan umur, warna putih

tersebut secara berangsur-angsur akan berubah menjadi kuning atau kecokelat-

cokelatan. Kulit rimpang bewarna cokelat tua mengilap. Aroma rimpang kencur

sangat khas dan lembut.5,7

Gambar 2.1 Bagian-bagian dari tanaman kencur8,9,10

2.1.3 Ekologi dan penyebaran

Kencur dapat tumbuh hampir di seluruh daerah di Indonesia. Kencur

merupakan temu kecil yang tumbuh subur di daerah dataran rendah atau

pegunungan yang tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air.11

Iklim yang cocok untuk tanaman kencur dipengaruhi oeh beberapa faktor.

Kencur dapat tumbuh pada ketinggian 50 – 600 m di atas permukaan laut dengan

8
-9-
- 9 -2222

-9-

intensitas cahaya sedikit terlindung dari sinar matahari langsung dan curah hujan

berkisar 2.500 – 4.000 mm/ tahun. Kencur berkembang baik jika ditanam pada

jenis tanah lempung berpasir dan lempung berliat dengan struktur tanah yang

remah dan kaya humus. Suhu udara yang ideal adalah 26 – 30oC dengan tingkat

naungan 0 – 30%.11

2.1.4 Kandungan kimia

Senyawa kimia yang dikandung dalam rimpang kencur antara lain cineol,

borneol, 3-carene, camphene, kaempferol, kaempferide, cinnamaldehyde, p-

methoxycinnamate, ethylcinnamate, α-pinene, carvone, benzene, eucalyptol,

pentadecane, ß-phyllandrene, α-terpineol dan dihydro ß-sesquiphyllandrene.12

Gambar 2.2 Struktur kimia kaempferol13

2.1.5 Khasiat tanaman

Selain dikenal sebagai tanaman yang dimanfaatkan sebagai bumbu dapur,

kencur juga dikenal sebagai tanaman obat yang dapat menyembuhkan berbagai

9
- 10 -
- 10 -2222

- 10
-

macam penyakit karena khasiatnya sebagai ekspetoransia, diuretika dan

stimulansia. Sumber lain mengatakan bahwa kencur dapat mengobati batuk,

radang lambung, bengkak, muntah-muntah, tetanus, nyeri, sakit kepala, diare,

memperlancar haid, influenza dan lain-lain.5,6,7

2.1.6 Hasil penelitian tentang kencur

Penelitian terdahulu yang menggunakan tanaman kencur sebagai bahan

percobaan telah dilakukan oleh Aroonrerk (2009) dengan mengunakan model in

vitro yang menunjukkan bahwa ekstrak etanol rimpang kencur memiliki efek

antiinflamasi. Sae Wong dkk (2008) juga memperlihatkan bahwa ekstrak etanol

rimpang kencur memiliki efek antinosiseptif. Selain rimpang, daun kencur juga

mempunyai efek antiinflamasi dan antinosiseptif yang dibuktikan pada penelitian

Sulaiman dkk (2007).3,14,15

2.2 Inflamasi

Inflamasi adalah respon protektif setempat yang ditimbulkan oleh cedera

atau kerusakan jaringan, berfungsi untuk menghancurkan, mengurangi atau

mengurung baik agen pencedera maupun jaringan yang cedera itu. Dalam reaksi

inflamasi juga ikut berperan pembuluh darah, saraf, cairan dan sel-sel tubuh di

tempat jejas.16,17

Proses inflamasi mempunyai pengaruh yang menguntungkan maupun

yang merugikan. Keuntungan dari proses inflamasi adalah untuk membawa dan

10
- 11 -
- 11 -2222

- 11
-

mengisolasi trauma, memusnahkan mikroorganisme penginfeksi dan

menginaktifasi toksin serta mencapai penyembuhan dan perbaikan. Namun proses

inflamasi juga berpotensi merugikan, antara lain menyebabkan reaksi

hipersensitifitas yang mengancam jiwa, kerusakan organ progresif, pembentukan

jaringan parut dan lain-lain.17

Respon inflamasi mempunyai dua komponen utama, yaitu reaksi vaskuler

dan reaksi seluler. Banyak jaringan dan sel terlibat dalam reaksi ini, antara lain

cairan dan protein plasma, sel-sel darah, pembuluh darah dan matriks jaringan

ikat.18

2.2.1 Inflamasi Akut

Inflamasi akut merupakan reaksi segera jaringan terhadap berbagai macam

agen penyebab yang merugikan, biasanya terjadi secara tiba-tiba dan dapat

berakhir dalam beberapa jam sampai beberapa hari.16,19

Penyebab inflamasi akut adalah:19

1. Infeksi mikrobial: virus, bakteri dan parasit

2. Agen fisik: trauma fisik, ultraviolet, radiasi ion dan suhu

3. Bahan kimia iritan dan korosif

4. Reaksi hipersensitifitas

5. Benda asing

Perubahan makroskopis lokal pada inflamasi akut ialah:19

11
- 12 -
- 12 -2222

- 12
-

1. Warna kemerahan (rubor)

Jaringan yang mengalami inflamasi akut tampak bewarna merah. Warna

kemerahan ini akibat adanya dilatasi pembuluh darah kecil pada daerah

yang mengalami kerusakan.

2. Panas (kalor)

Terjadinya peningkatan suhu diakibatkan oleh meningkatnya aliran darah

yang melalui daerah tersebut.

3. Edema (tumor)

Edema timbul karena akumulasi cairan pada rongga ekstravaskuler yang

diakibatkan oleh peningkatan permeabilitas vaskuler.

4. Rasa sakit (dolor)

Trauma atau lesi di jaringan akan direspon oleh nosiseptor dengan

mengeluarkan berbagai mediator inflamasi seperti bradikinin,

prostaglandin, histamin, dan sebagainya. Mediator inilah yang

menyebabkan rasa nyeri.

5. Hilang fungsi

Inflamasi mengakibatkan berkurangnya fungsi pada daerah tersebut

dikarenakan oleh rasa sakit. Edema yang hebat secara fisik mengakibatkan

berkurangnya gerak jaringan.

12
- 13 -
- 13 -2222

- 13
-

Gambar 2.3 Patofisiologi dan gejala suatu peradangan20

Proses inflamasi memiliki dua peristiwa utama, yaitu:17

1. Perubahan pembuluh darah

Perubahan pembuluh darah dapat dipisahkan menjadi perubahan aliran

darah dan peningkatan permeabilitas membran vaskuler.

a. Perubahan aliran darah

Hal yang pertama terjadi adalah konstriksi dari arteriol, namun

peristiwa ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Hal ini mungkin

disebabkan oleh reflek neurogenik setempat. Segera setelah itu diikuti

dengan vasodilatasi arteriol. Sfingter prakapiler akan membuka dan

menyebabkan pembukaan anyaman kapiler yang sebelumnya inaktif.

Bertambahnya aliran darah (hiperemia) akan disusul oleh perlambatan

aliran darah, perubahan tekanan intravaskuler dan perubahan pada

orientasi unsur-unsur berbentuk darah. Viskositas darah akan

13
- 14 -
- 14 -2222

- 14
-

meningkat, sehingga sel-sel darah menggumpal dan tahanan terhadap

aliran darah menjadi lebih tinggi. Pembendungan aliran darah ini

membuat tekanan hidrostatis bertambah besar. Perlambatan dan

pembendungan akan tampak setelah 10-30 menit.

b. Perubahan permeabilitas membran vaskuler

Peningkatan permeabilitas vaskuler akan membuat protein protein

plasma bermolekul besar, cairan dan sel-sel darah putih keluar dari

pembuluh darah menuju ke jaringan intersisial. Hal ini juga disebut

dengan eksudasi.

Ada lima kemungkinan mekanisme meningkatnya permeabilitas

membran vaskuler, yaitu:

i. Celah di sekitar sel endotel pembuluh darah yang berkontraksi. Hal

ini diakibatkan oleh mediator-mediator antara lain prostaglandin,

histamin, leukotrien dan lain-lain.

ii. Retraksi endotelial yang diakibatkan oleh sitokin.

iii. Trauma endotelial langsung akibat dari nekrosis dan sel endotel yang

terlepas.

iv. Trauma endotelial yang diperantarai leukosit.

v. Kebocoran kapiler yang sedang melakukan regenerasi.

2. Peristiwa sel darah putih

Peristiwa-peristiwa sel darah putih pada proses inflamasi akut antara lain:

14
- 15 -
- 15 -2222

- 15
-

a. Marginasi dan susunan berlapis

Bendungan sirkulasi mikro menyebabkan sel-sel darah merah

menggumpal dan membentuk agregat-agregat yang lebih besar dari

leukosit. Menurut hukum fisika, sel darah merah akan berada di bagian

tengah dalam aliran aksial dan sel darah putih pindah ke bagian tepi

(marginasi) yang selanjutnya melekat dan melapisi permukaan endotel.

Pada alur ini berbagai mediator inflamasi kimiawi membantu adhesi

leukosit pada endotel sebagai pembuka emigrasi leukosit.

b. Emigrasi

Sel darah putih berpindah dari pembuluh darah ke jaringan intersisial

melalui proses emigrasi. Yang paling aktif berpindah adalah neutrofil

dan monosit dan yang paling lamban adalah limfosit. Eritrosit juga

dapat berpindah secara pasif oleh karena tekanan hidrostatik yang

disebut juga dengan diapédesis. Leukosit yang pertama tampak dalam

ruang perivaskuler adalah neutrofil, biasanya disusul oleh monosit.

Neutrofil mempunyai umur 24-48 jam di luar pembuluh darah. Monosit

akan menggantikan neutrofil dalam waktu 48 jam. Monosit memiliki

umur antara beberapa minggu sampai bulan.

c. Kemotaksis

Migrasi leukosit yang terarah menuju lokasi jejas yang disebabkan oleh

pengaruh-pengaruh kimia yang dapat berdifusi disebut kemotaksis.

15
- 16 -
- 16 -2222

- 16
-

Neutrofil dan monosit paling reaktif terhadap rangsang kemotaksis,

sebaliknya limfosit bereaksi lemah. Faktor-faktor kemotaksis berasal

dari sumber endogen atau eksogen. Faktor-faktor kemotaksis yang

paling penting untuk neutrofil meliputi komponen komplemen (C5a),

metabolit asam arakhidonat (leukotrien B4), produk bakterial dan

sitokin tertentu.

d. Fagositosis

Fagositosis merupakan suatu proses sel memakan partikel solid.

Fagositosis terdiri dari beberapa tahap, yaitu:

i. Perlekatan partikel teropsonisasi pada reseptor Fc dan C3b di

permukan leukosit.

ii. Penyelubungan oleh pseudopoda yang mengelilingi partikel yang

difagositosis, membentuk suatu fagosom.

iii. Penyatuan (fusi) granula lisosomal dengan fagosom yang

mengakibatkan degranulasi.

iv. Pemusnahan dan degradasi bakteri.

2.2.2 Mediator-mediator inflamasi

Proses inflamasi dapat berlangsung oleh karena sejumlah mediator kimia,

baik yang berasal dari plasma maupun dari dalam sel. Sebuah mediator dapat

menstimulasi pelepasan mediator lain dari sel target itu sendiri. Begitu teraktifasi

16
- 17 -
- 17 -2222

- 17
-

dan dilepaskan, sebagian besar mediator tidak berusia lama dan langsung di non-

aktifkan oleh enzima atau inhibitor.17

Beberapa mediator-mediator yang penting dalam proses inflamasi antara

lain:17

1. Amina Vasoaktif

Histamin dan serotonin yang terkandung dalam sel mast, basofil dan

trombosit dapat menyebabkan vasodilatasi dan meningkatkan

permeabilitas vaskuler. Pelepasannya dipicu oleh zat fisik, reaksi IgE

imunologik, C3a, C5a, interleukin dan kontak dengan kolagen, trombin,

ADP serta Platelet Activating Factor (PAF).

2. Protein Plasma

Berbagai macam fenomena dalam respon inflamasi diperantarai oleh tiga

faktor plasma yang saling berkaitan antara lain:

a. Sistem kinin

Aktivasi permukaan pada faktor Hageman (XII) akan menghasilkan

faktor pembekuan XIIa yang mengkonversi prekalikrein plasma

menjadi kalikrein. Kalikrein memecahkan High Molecular Weight

Kininogen (HMWK) untuk menghasilkan bradikinin. Bradikinin inilah

yang mengakibatkan terjadinya peningkatan permeabilitas vaskuler,

dilatasi arteriol, kontraksi otot polos ekstravaskuler dan rasa nyeri.

b. Sistem komplemen

17
- 18 -
- 18 -2222

- 18
-

Faktor yang berasal dari komplemen mempengaruhi berbagai fenomena

inflamasi akut antara lain:

i. Fenomena vaskuler

C3a dan C5a (anafilatoksin) meningkatkan permeabilitas vaskuler

dan menyebabkan vasodilatasi dengan dibebaskannya histamin.

ii. Kemotaksis

C5a menyebabkan adhesi neutrofil pada endotel dan kemotaksis

untuk monosit dan neutrofil.

iii. Fagositosis

C3b memudahkan fagositosis dengan cara bekerja sebagai opsonin.

iv. C5b – C9.

c. Sistem pembekuan

Sistem pembekuan juga diaktifkan oleh faktor Hageman (XII) yang

berakhir pada konversi fibrinogen menjadi fibrin oleh trombin.

Fibrinopeptida yang dilepaskan pada sistem ini dapat meningkatkan

permeabilitas vaskuler dan juga sebagai zat kemotaktik.

3. Metabolit asam arakhidonat

Prostaglandin dan leukotrien meliputi:

a. PGI2 (Prostasiklin) dan PGE2 menyebabkan vasodilatasi dan

peningkatan permeabilitas vaskuler.

b. Tromboksan A2 menyebabkan vasokonstriksi.

18
- 19 -
- 19 -2222

- 19
-

c. Leukotrien C4, D4 dan E4 menyebabkan vasokontriksi.

d. Leukotrien B4 bersifat kemotaktik yang sangat kuat.

4. Platelet Activaing Factor

Platelet Activaing Factor (PAF) dihasilkan oleh sel mast dan leukosit

lainnya. PAF menyebabkan agregasi dan pelepasan trombosit,

bronkokonstriksi, vasodilatasi, peningkatan permeabilitas vaskuler,

peningkatan adhesi leukosit dan sebagai zat kemotaksis bagi leukosit.

5. Sitokin

Interleukin-1 dan Tumor Necroting Factor mempunyai pengaruh inflamasi

antara lain meningkatkan sintesis PGI2 dan PAF, menginduksi respon fase

akut sistemik dan peningkatan pembentukan kolagen.

6. Nitrat oksida

Nitrat oksida juga dikenal sebagai Endothelium-Derived Relaxation

Factor (EDRF) dapat menyebabkan vasodilatasi, menghambat agregasi

dan adhesi trombosit dan dapat bekerja sebagai suatu radikal bebas yang

sitotoksik bagi mikroba, sel tumor dan mungkin juga sel jaringan lain.

7. Unsur lisosomal leukosit

Neutrofil memperlihatkan dua jenis utama granula, yaitu granula spesifik

dan granula azurofilik. Granula spesifik mengandung laktoferin lisozim,

fosfatase alkali dan kolagenase. Granula azurofilik mengandung

mieloperoksidase, protein kationik, hidrolase asam dan protease netral.

19
- 20 -
- 20 -2222

- 20
-

Mediator-mediator di atas menyebabkan meningkatnya permeabilitas

vaskuler, kemotaksis, degradasi matriks ekstraseluler dan lain-lain.

8. Radikal bebas turunan oksigen

Radikal bebas terdiri dari H2O2, superoksida dan hidroksil. Radikal ini

menyebabkan:

a. Peningkatan permeabilitas vaskuler

b. Inaktivasi enzim antiprotease yang mnegakibatkan aktivitas protease

tidak dapat dihentikan

c. Trauma pada beberapa jenis sel (sel tumor, leukosit dan sel parenkim)

Tabel 2.1 Penggolongan mediator-mediator radang berdasarkan fungsinya21

Fungsi Mediator
Meningkatkan permeabilitas pembuluh Histamin, serotonin, bradikinin, C3a,
darah C5a, PGE2, LTC4, LTD4,
prostasiklin, faktor Hageman
teraktivasi, fragmen kininogen dan
fibrinopeptida
Vasokontriksi TXA2, LTB4, LTC4, LTD4, C5a, N-
formilpeptida
Kontraksi otot polos C3a, C5a, histamine, TXA2, LTB4,
LTC4, LTD4, serotonin, PAF dan
bradikinin
Meningkatkan kelengketan dari sel IL-1, TNF-α, MCP, endotoxin dan
endothelial LTB4
Degranulasi sel mast C3a dan C5a
Fagosit
- Proliferasi stem sel IL-3, G-CSF dan M-CSF
- Agregasi iC3b, IgG, fibronectin dan lektin
- Kemotaksis C5a, LTB4, IL-8, PAF, histamine,

20
- 21 -
- 21 -2222

- 21
-

laminin, N-formilpeptida, fragmen


kolagen, derivate limfosit dan
fibrinopeptida
C5a, fagositosis, PAF dan IL-8
- Pelepasan granul lisosomal C5a, TNF-α, PAF, IL-8, partikel
- Produksi oksigen reaktif fagosit,dan IFN-γ
- Fagositosis C3b, iC3b, IgG dan fibronektin
- Pembentukan granuloma IFN-γ, TNF-α dan IL-1
Pirogen IL-1, TNF-α, PGE2 dan IL-6

Nyeri PGE2 dan bradikinin

2.3 Obat-obat antiinflamasi

Obat utama antiinflamasi yang sering digunakan adalah OAINS dan

glukokortikoid. Beberapa obat yang juga berperan dalam menekan inflamasi

adalah antirheumatoid agent, imunosupresan dan lain-lain.22

1. OAINS

OAINS mempunyai 3 aksi utama yang semuanya bertujuan dalam

penghambatan asam arakhidonat, enzim COX dan síntesis prostaglandin.

Aksi-aksi utama OAINS antara lain:22

a. Antiinflamasi

21
- 22 -
- 22 -2222

- 22
-

Penurunan vasodilator prostaglandin (PGE2 dan PGI2) yang dilakukan

oleh OAINS mengakibatkan berkurangnya vasodilatasi dan secara tidak

langsung mengurangi edema. Akumulasi sel leukosit pada fokus

inflamasi tidak berpengaruh.

b. Analgesik

Penurunan pembentukan prostaglandin mengakibatkan berkurangnya

sensitisasi pada nociceptic nerve endings oleh mediator inflamasi

seperti bradikinin dan 5-hidroxytryptamine. Berkurangnya sakit kepala

diduga disebabkan oleh berkurangnya prostaglandin.

c. Antipiretik

Kemungkinan disebabkan oleh penurunan mediator PGE2 yang

memiliki sifat menaikkan batas normal temperatur yang ada di

hipotalamus.

2. Antirheumatoid agent

Beberapa contoh antirheumatoid agent antara lain gold compound,

penicilinamine, sulphasalazine, 4-amino quinoline dan methotrexate.

Secara umum mekanisme kerja antirheumatoid agent yaitu menghambat

pelepasan mediator inflamasi seperti IL-1, phospolipase A2, PAF, asam

arakhidonat dan lain-lain.22

22
- 23 -
- 23 -2222

- 23
-

3. Antagonis histamin

Antagonis histamin dapat menekan reaksi inflamasi dengan cara

penghambatan efek histamin pada reseptor (khususnya antagonis reseptor

H1), salah satunya adalah mengurangi permeabilitas kapiler. Contoh

antagonis histamin antara lain diphenhydramine, cyproheptadine,

tripelennamine, promethazine dan lain-lain.22

4. Imunosupresan

Imunosupresan yang paling sering digunakan dalam menekan reaksi

inflamasi adalah glukokortikoid. Namun, pemakaian obat ini khusus untuk

jangka lama tidak digunakan lagi karena dapat mengakibatkan efek

samping yang serius.22

Pada peristiwa awal, glukokortikoid mengurangi respon akut inflamasi

menyebabkan vasokonstriksi, mengurangi eksudasi, mengurangi jumlah

dan aktifitas leukosit dan mengurangi mediator inflamasi. Pada fase lanjut,

glukokortikoid menyebabkan penurunan jumlah dan aktifitas sel MN dan

fibroblast, menurunkan proliferasi pembuluh darah dan mengurangi

fibrosis. Mekanisme kerja glukokortikoid yaitu menghambat phospolipase

A2 menyebabkan penghambatan síntesis arakhidonat, PAF, IL-1, dan

mediator lainnya.22

5. Obat-obat antiinflamasi yang lain yaitu:22

a. 5-lipoxygenase inhibitor

23
- 24 -
- 24 -2222

- 24
-

b. Leukotriene receptor antagonists

c. PAF antagonists

d. IL-1 antagonists

Gambar 2.4 Penghambatan mediator-mediator inflamasi oleh obat-obat


antiinflamasi22

2.4 Indometasin

24
- 25 -
- 25 -2222

- 25
-

Indometasin adalah penghambat COX yang potensial dan selektif. Selain

itu, Indometasin juga menghambat phospholipase A dan C, mengurangi migrasi

PMN dan mengurangi pertumbuhan sel-sel T dan B. Dengan pemberian oral,

absorbsi Indometasin cukup baik. Sekitar 92-99% Indometasin terikat pada

protein plasma. Metabolisme Indometasin terjadi di hati dan diekskresikan dalam

bentuk asal ataupun metabolit melalui urin dan empedu. Waktu paruh plasma

kira-kira 2-4 jam.23

Efek samping Indometasin pada saluran cerna berupa nyeri abdomen,

diare, perdarahan lambung dan pankreatitis. Selain itu juga sakit kepala hebat

disertai pusing depresi dan rasa bingung, halusinasi, psikosis, agranulositosis,

anemia aplastik, trombositopenia, vasokonstriksi pembuluh darah koroner,

hiperkalemia dan alergi. Obat ini mengurangi efek natriuretik dari diuretik tiazid

dan furosemid serta memperlemah efek hipotensif obat β-bloker.24

Karena toksisitasnya, Indometasin tidak dianjurkan diberikan kepada anak,

wanita hamil, pesien dengan hangguan psikiatrik dan pasien dengan gangguan

lambung. Penggunaanya kini hanya dianjurkan apabila AINS lain kurang berhasil

misalnya pada spondilitis ankilosa, artritis pirai akut dan osteoartritis tungkai.

Dosis Indometasin yang lazim ialah 2-4 kali 50 mg sehari dan maksimal 200 mg

sehari.24

2.5 Karagenan

25
- 26 -
- 26 -2222

- 26
-

Karagenan merupakan poligalaktan sulfat berberat molekul besar berasal

dari spesies alga merah. Selain penginduksi inflamasi, karagenan juga digunakan

pada industri makanan dan juga sebagai bahan komposisi obat-obatan, kosmetik dan

pasta gigi. Penggunaan karagenan sebagai penginduksi inflamasi memiliki beberapa

keuntungan antara lain tidak meninggalkan bekas, tidak menimbulkan kerusakan

jaringan dan memberikan respon yang lebih peka terhadap obat antiinflamasi

dibanding senyawa iritan lainnya. Karagenan dibagi menjadi 3 jenis utama yaitu

karagenan lambda (λ) karagenan, kappa (k) dan iota (i). Karagenan yang sering

dipakai sebagai penginduksi inflamasi adalah karagenan lambda karena karagenan

lambda cepat menginduksi terjadinya inflamasi dan mudah untuk diinjeksikan ke

tubuh binatang percobaan. Inflamasi yang diinduksi oleh karagenan bersifat akut,

non-imun dan mudah untuk diteliti. Tanda-tanda inflamasi seperti edema, nyeri,

dan eritema terbentuk segera setelah injeksi karagenan subkutan. Pada metode uji

antiinflamasi yang diinduksi oleh karagenan, edema terjadi dikarenakan oleh

peningkatan produksi prostaglandin yang berhubungan dengan ekspresi gen COX-

2.25,26,27

2.6 Metode uji antiinflamasi

Salah satu metode uji antiinflamasi yang sering digunakan adalah

carragenan-induced hind paw edema yang ditemukan oleh Winter. Pada metode

ini, edema ditimbulkan dengan cara menyuntikkan karagenan pada telapak kaki

26
- 27 -
- 27 -2222

- 27
-

tikus. Respon inflamasi dinilai berdasarkan peningkatan besar edema pada telapak

kaki tikus yang maksimal terjadi sekitar 4 jam setelah injeksi karagenan. OAINS

yang sering dipakai sebagai kontrol positif untuk uji ini adalah Indometasin

dengan dosis 5 mg/kg BB secara oral. Indometasin menunjukkan penghambatan

produksi prostaglandin tanpa memengaruhi jumlah dari mediator-mediator lain

seperti histamin dan bradikinin yang juga dapat menimbulkan edema.28

Ada 3 cara yang dilakukan untuk mengukur besar edema antara lain

menghitung panjang keliling telapak kaki tikus, menghitung besar edema dengan

menggunakan kaliper dan menghitung besar edema dengan menggunakan

pletismometer. Pletismometer sering digunakan pada uji ini karena

pengukurannya tepat, cepat dan akurat dibandingkan dengan alat yang lain. Alat

ini memiliki 2 tabung yang saling berhubungan dan berisi cairan. Tabung A

berdiameter lebih besar daripada tabung B. Prinsip kerja dari alat ini adalah

perpindahan cairan dari tabung A ke tabung B. Perpindahan cairan yang terjadi

dengan cara menenggelamkan kaki binatang percobaan ke dalam tabung A,

direfleksikan ke tabung B yang memiliki transduser. Transduser terhubung pada

suatu alat pembaca sehingga hasilnya dapat diketahui. Pengukuran dilakukan

setiap 1 jam selama 6 jam.28

27
- 28 -
- 28 -2222

- 28
-

2.7 Kerangka teori

Berdasarkan teori-teori yang ada maka dapat dibuat kerangka teori

sebagai berikut:

Faktor-faktor penyebab inflamasi


Mekanisme kerja akut:
obat-obat • Infeksi mikrobial
antiinflamasi: • Agen fisik
• Menghambat kerja • Bahan kimia
enzim Fosfolipase A2 • Benda asing
• Menghambat kerja • Reaksi imunologis
enzim COX-1 dan
COX-2
• Menghambat kerja Inflamasi akut
enzim 5-lipoxygenase
• Menghambat kerja
enzim TXA2 sintetase
• Menghambat efek
histamin pada reseptor
• Menghambat efek
leukotrien pada
reseptor
• Menghambat efek
prostaglandin pada 28
reseptor
• Menghambat efek PAF
pada reseptor
- 29 -
- 29 -2222

Gambaran Gambaran
makroskopis: mikroskopis: - 29
- • Rubor • Perubahan
• Kalor pembuluh darah
• Tumor • Peristiwa sel
• Dolor darah putih
• Fungtiolesa • Aktivasi mediator
inflamasi

Gambar 2.5 Kerangka teori

2.8 Kerangka konsep

Ekstrak Etanol
Rimpang Kencur

Karagen Inflamasi Derajat Edema


(Induktor Inflamasi)

Gambar 2.6 Kerangka konsep

29
- 30 -
- 30 -2222

- 30
-

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan penelitian

3.1.1 Desain penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan post test only

design dengan fokus penelitian untuk melihat efek antiinflamasi yang ditimbulkan

oleh ekstrak etanol rimpang kencur (Kaempferia galanga L) pada tikus percobaan.

30
- 31 -
- 31 -2222

- 31
-

3.1.2 Tempat dan waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu

Farmasi Riau (STIFAR) pada bulan Mei 2010 sampai dengan bulan Juli 2010.

3.1.3 Variabel penelitian

3.1.3.1 Variabel bebas

Variabel bebas pada penelitian ini adalah ekstrak etanol rimpang kencur.

3.1.3.2 Variabel terikat

Variabel terikat pada penelitian ini adalah volume edema pada kaki tikus

putih.

3.1.3.3 Variabel terkendali

1. Hewan uji : kondisi, galur, jenis kelamin, berat badan dan umur

tikus

2. Tanaman : habitat dan umur tanaman kencur

3.1.4 Definisi operasional

Pada penelitian ini yang dimaksud dengan :

31
- 32 -
- 32 -2222

- 32
-

1. Ekstrak etanol rimpang kencur adalah ekstrak yang berasal dari rimpang

kencur, didapatkan dengan teknik maserasi etanol 96% dan dipekatkan

dengan rotary evaporator.

2. Inflamasi akut adalah inflamasi yang terjadi segera akibat diinduksi

dengan karagenan 1%, ditandai oleh tanda-tanda klasik salah satunya yaitu

edema pada kaki tikus putih di semua kelompok hewan coba yang diukur

dengan pletismometer setelah mendapatkan perlakuan.

3. Efek antiinflamasi adalah efek yang ditimbulkan oleh ekstrak etanol

rimpang kencur dan Indometasin dalam menurunkan edema pada kaki

tikus putih setelah diinduksi dengan karagenan 1%.

3.1.5 Subjek penelitian

Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus putih (Rattus

novergicus) jantan galur wistar yang diperoleh dari Bagian Farmakologi Fakultas

Kedokteran Universitas Gajah Mada, berumur 2-3 bulan dengan berat badan 180-

220 g/ekor.

Berdasarkan rumus: t (r-1) ≥ 15, dimana t = jumlah kelompok percobaan

dan r = jumlah minimal hewan coba, dan pada penelitian ini terdapat 6 kelompok

percobaan, didapatkan jumlah sampel minimal untuk masing-masing kelompok

percobaan adalah sebanyak 4 ekor tikus sehingga total besar subjek penelitian

yang digunakan adalah 24 ekor.29

32
- 33 -
- 33 -2222

- 33
-

3.1.6 Bahan penelitian

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rimpang kencur

sebanyak 4 kg yang berasal dari Bukit Tinggi, Sumatra Barat berumur 10-12

bulan, etanol 96%, karagenan lambda 1%, Indometasin (Dialon 100 mg produksi

Eisai Co.Ltd) dan pakan tikus.

3.1.7 Alat penelitian

Alat-alat yang diperlukan adalah pletismometer, tabung reaksi, rotatory

evaporator, kandang tikus, timbangan tikus, timbangan listrik, spuit 1 ml, sonde,

stopwatch, botol kaca berwarna gelap, beker glass, lumpang dan stanfer.

3.2 Pelaksanaan penelitian

Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorik, yaitu mengamati

pengaruh dari pemberian ekstrak rimpang kencur (Kaempferia galanga L.)

terhadap pengurangan reaksi inflamasi pada tikus putih yang diberi karagenan.

3.2.1 Pemilihan hewan coba

Hewan coba yang digunakan adalah tikus putih jantan yang sehat

sebanyak 24 ekor dengan berat badan 180-220 g/ekor. Hewan percobaan tersebut

diaklimatisasi selama 7 hari sebelum percobaan. Hewan dinyatakan sehat apabila

33
- 34 -
- 34 -2222

- 34
-

selama pengamatan tidak menunjukkan penurunan berat badan yang berarti

(<10%) dan secara visual tidak menunjukkan gejala yang tidak sehat.30

3.2.2 Pemeliharaan

Tikus diadaptasikan dengan lingkungan baru selama satu minggu. Tikus

diberi makan berupa pelet dua kali sehari dan minum seperti biasa. Alas kandang

diberi serutan kayu untuk mempercepat serapan kotoran. Kandang diletakkan di

ruangan yang berventilasi cukup pada suhu ruangan dengan sirkulasi udara yang

baik.30

3.2.3 Pembuatan ekstrak etanol rimpang kencur

Rimpang kencur yang akan dijadikan sampel dibersihkan lalu dirajang-

rajang tipis sebanyak 1 kg dan dikeringkan. Ekstraksi dilakukan secara maserasi

menggunakan etanol 96% dalam botol kaca berwarna gelap, maserasi dilakukan

selama 5 hari ditempat yang terlindung dari cahaya dan ampasnya kembali di

maserasi dengan cara yang sama sampai 3 kali, kemudian pindahkan maserat ke

dalam wadah tertutup, biarkan ditempat sejuk, terlindung dari cahaya selama 2

hari, kemudian endapkan, tuang dan saring. Seluruh maserat yang diperoleh

dikentalkan dengan rotatory evaporator sehingga didapat ekstrak kental kemudian

34
- 35 -
- 35 -2222

- 35
-

simpan ditempat sejuk dan terlindung dari cahaya. Pada penelitian ini, dari

rimpang kencur yang basah sebanyak 4 kg didapatkan 2 kg rimpang kencur yang

kering. Setelah dilanjutkan melalui proses maserasi dan pengentalan ekstrak

didapatkan ekstrak kental sebanyak 16 gram ekstrak etanol rimpang kencur31

3.2.4 Penentuan dosis ekstrak

Penentuan dosis ekstrak etanol rimpang kencur dilakukan dengan

menggunakan metode Thompson. Metode Thompson digunakan untuk

menentukan tingkat dosis antara dosis tertinggi dan dosis terendah dalam suatu

percobaan dengan menggunakan rumus:31

Keterangan: F = kelipatan dosis

N = jumlah kelompok percobaan

DT = dosis tertinggi

DR = dosis terendah

Dosis terendah yang digunakan pada penelitian ini adalah 100 mg/kgBB

dan dosis tertinggi adalah 1000 mg/kgBB. Penelitian sebelumnya telah meneliti

toksisitas akut dari ekstrak etanol rimpang kencur dengan dosis 5000mg/kgBB

dan hasilnya tidak ada tikus yang mati selama 7 hari pengamatan. Penelitian itu

35
- 36 -
- 36 -2222

- 36
-

juga mendapatkan hasil bahwa diantara dosis ekstrak etanol rimpang kencur

sebesar 50 mg/kgBB, 100 mg/kgBB dan 200 mg/kgBB, dosis 200 mg/kgBB

merupakan dosis yang paling kuat efek antiinflamasinya sehingga ada

kemungkinan bahwa dosis diatas 200 mg/kgBB mempunyai efek antiinflamasi

yang lebih besar lagi. Pada penelitian ini digunakan dosis maksimal sebesar 1000

mg/kgBB.14

Jumlah kelompok percobaan yang menggunakan ekstrak etanol rimpang

kencur pada penelitian ini adalah 4 kelompok. Dari perhitungan dengan memakai

rumus Thompson, diperoleh nilai kelipatan dosis sebesar 2,16. Setelah dilakukan

pembulatan maka didapat dosis untuk masing-masing kelompok hewan percobaan

yaitu 100 mg/kg BB, 250 mg/kg BB 500 mg/kg BB dan 1000 mg/kg BB.

3.2.5 Penentuan dosis Indometasin

Penentuan dosis obat Indometasin menggunakan tabel konversi dosis

berdasarkan perbandingan luas permukaan tubuh hewan. Dosis yang digunakan

pada tikus putih adalah 5 mg/kg BB.32

3.2.6 Pengelompokan hewan coba

36
- 37 -
- 37 -2222

- 37
-

Seluruh hewan percobaan dibagi secara acak dalam 6 kelompok. Masing-

masing kelompok akan memperoleh perlakuan yang berbeda. Pembagian

kelompok perlakuan adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1 Pengelompokan hewan coba

Kelompok Karagenan Aquades Indometasin Ekstrak Etanol Rimpang Kencur (mg/kgBB)


5 mg/kgBB 100 250 500 1000
I
(kontrol negatif)
+ + – – – – –
II
+ – + – – – –
(kontrol positif)
III
+ – – + – – –
IV
+ – – – + – –
V
+ – – – – + –
VI
+ – – – – – +

Keterangan : (+) = diberikan

(–) = tidak diberikan

3.2.7 Uji efek antiinflamasi33

37
- 38 -
- 38 -2222

- 38
-

1. Tikus dipuasakan selama 8 jam sebelum pengujian tetapi air tetap

diberikan.

2. Semua tikus diberi tanda pada maleolus lateral kaki kiri belakangnya agar

pemasukan kaki ke dalam air raksa selalu sama.

3. Pada tahap awal, kaki kiri belakang semua tikus diukur dan dinyatakan

sebagai volume kaki dasar (V0). Pada setiap pengukuran, tinggi cairan air

raksa pada pletismometer dicatat sebelum dan sesudah pengukuran.

4. Pada jam 0 diberikan perlakuan sebagai berikut:

a. Setiap tikus dalam kelompok kontrol negatif diberi aquades sebanyak

10 ml/kgBB secara oral dengan menggunakan sonde lambung.

b. Setiap tikus dalam kelompok kontrol positif diberi Indometasin dengan

dosis 5 mg/kgBB secara oral dengan menggunakan sonde lambung.

c. Setiap tikus dalam kelompok zat uji diberi zat uji sesuai dosis (100

mg/kgBB, 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan 1000 mg/kgBB) dalam

berbagai konsentrasi zat uji untuk kelompok yang berbeda yang

diberikan secara oral.

5. Setelah 1 jam, telapak kaki kiri belakang tikus disuntik dengan larutan

karagenan 1% sebanyak 0,2 ml secara intrakutan.

6. Setelah 1 jam, volume kaki kiri belakang semua tikus diukur dengan

menggunakan pletismometer. Ulangi pengikuran volume kaki kiri

belakang tikus setiap 1 jam selama 6 jam.

38
- 39 -
- 39 -2222

- 39
-

7. Volume edema telapak kaki masing-masing tikus diukur

Volume edema = Vt – V0

Keterangan: Vt = volume akhir pengukuran

V0 = volume awal pengukuran

8. Persentase edema dan inhibisi pembentukan edema dihitung dengan

rumus:

Keterangan : a = volume edema rata-rata kelompok kontrol negatif

b = volume edema rata-rata kelompok yang diberi

zat uji atau kelompok yang menjadi kontrol positif

3.3 Analisis data

Data hasil penelitian diolah dengan menggunakan metode two way anova

karena memenuhi syarat untuk lebih dari 2 kelompok tidak berpasangan, sebaran

data normal dan varian sama. Selanjutnya dilakukan analisis Tuckey test untuk

mengetahui perlakuan yang memiliki perbedaan yang bermakna atau signifikan

secara secara stastistik dengan taraf kesalahan 5%.34

39
- 40 -
- 40 -2222

- 40
-

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Data hasil penelitian

Penelitian yang dilakukan di Laboratorium Farmakologi Sekolah Tinggi

Ilmu Farmasi Riau pada bulan Mei 2010 sampai dengan bulan Juli 2010 tentang

efek antiinflamasi ekstrak etanol rimpang kencur (EERK) dosis 100 mg/kgBB,

250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan 1000 mg/kgBB dengan metode pembentukan

edema buatan pada telapak kaki tikus putih galur wistar didapatkan hasil sebagai

berikut:

40
- 41 -
- 41 -2222

- 41
-

Tabel 4.1 Volume edema rata-rata telapak kaki tikus terhadap waktu dengan
pemberian aquades (kontrol negatif), Indometasin (kontrol positif)
dan ekstrak etanol rimpang kencur setelah diinduksi karagen 1%

Keterangan:
Kelompok I : Aquades 10 ml/kgBB (kontrol negatif)
Kelompok II : Indometasin 5mg/kgBB (kontrol positif)
Kelompok III : EERK dosis 100 mg/kgBB
Kelompok IV : EERK dosis 250 mg/kgBB
Kelompok V : EERK dosis 500 mg/kgBB
Kelompok VI : EERK dosis 1000 mg/kgBB

Waktu Volume edema rata-rata pada tiap kelompok (ml)


(jam) I II III IV V VI
1 0.00425 0.00300 0.00400 0.00300 0.00200 0.00200
2 0.00800 0.00625 0.00800 0.00550 0.00325 0.00375
3 0.01025 0.00850 0.01025 0.00550 0.00400 0.00425
4 0.01300 0.00950 0.01200 0.00775 0.00450 0.00450
5 0.01400 0.01025 0.01275 0.00825 0.00550 0.00600
6 0.01475 0.01075 0.01300 0.00850 0.00575 0.00675

41
- 42 -
- 42 -2222

- 42
-

0.016
0.014
0.012
-rat(m
l)

0.01 Kontrol Negatif

0.008 Kontrol Positif

0.006 Dosis 100 mg/kg BB


Dosis 250 mg/kg BB
0.004
Dosis 500 mg/kg BB
0.002
Dosis 1000 mg/kgBB
m

0
R
d
E
e
a
tV
lu
o

1 2 3 4 5 6
Waktu (jam)
Gambar 4.1 Grafik volume edema rata-rata telapak kaki tikus terhadap
waktu dengan pemberian aquades (kontrol negatif), Indometasin (kontrol
positif) dan ekstrak etanol rimpang kencur setelah diinduksi karagen 1%

Dari data di atas, hasil penelitian menunjukkan bahwa volume edema pada

semua kelompok uji meningkat dari jam ke-1 sampai jam ke-6. Volume edema

yang dihasilkan pada masing-masing kelompok dari yang terkecil sampai yang

terbesar adalah EERK dosis 500 mg/kgBB, 1000 mg/kgBB, 250 mg/kgBB,

Indometasin, EERK dosis 100 mg/kgBB dan aquades.

Data di atas dapat juga digunakan untuk mencari nilai persentase inhibisi

pembentukan edema rata-rata pada telapak kaki tikus tiap kelompok uji. Hasil

yang didapat adalah sebagai berikut:

42
- 43 -
- 43 -2222

- 43
-

Tabel 4.2 Persentase inhibisi edema rata-rata telapak kaki tikus terhadap
waktu dengan pemberian aquades (kontrol negatif), Indometasin
(kontrol positif) dan ekstrak etanol rimpang kencur setelah
diinduksi karagen 1%

Waktu Persen inhibisi pembentukan edema pada tiap kelompok (%)


(jam) II III IV V VI
1 29 6 29 53 53
2 22 0 31 59 53
3 17 0 46 61 59
4 27 8 40 65 65
5 27 9 41 61 57
6 27 12 42 61 54

Keterangan:
Kelompok II : Indometasin 5mg/kgBB (kontrol positif)
Kelompok III : EERK dosis 100 mg/kgBB
Kelompok IV : EERK dosis 250 mg/kgBB
Kelompok V : EERK dosis 500 mg/kgBB
Kelompok VI : EERK dosis 1000 mg/kgBB

43
- 44 -
- 44 -2222

- 44
-

70

60

50

40 Kontrol Positif
Dosis 100 mg/kgBB
30
Dosis 250 mg/kgBB
20
Dosis 500 mg/kgBB
10 Dosis 1000 mg/kgBB
)m
(%
d
ib
E
aIh
nP
e
rs

0
1 2 3 4 5 6

Waktu(jam)

Gambar 4.2 Grafik persentase inhibisi edema rata-rata telapak kaki tikus
terhadap waktu dengan pemberian aquades (kontrol negatif), Indometasin
(kontrol positif) dan ekstrak etanol rimpang kencur setelah diinduksi
karagen 1%

44
- 45 -
- 45 -2222

- 45
-

Data di atas menunjukkan bahwa persen inhibisi maksimal yang didapat

pada penelitian ini adalah pada kelompok EERK dosis 500 mg/kg BB dan 1000

mg/kgBB sebesar 65%.

4.2 Analisis data hasil penelitian

Data yang telah diperoleh terlebih dahulu dilakukan uji normalitas. Hasil

yang didapat dalam uji normalitas menunjukkan bahwa distribusi data normal

(p>0.005). Untuk mengetahui kebermaknaan perbedaan nilai antar kelompok uji,

dilakukan analisis uji varian (Anova) dua arah dan dilanjutkan dengan melakukan

Tukey test. Hasil yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Perbandingan nilai volume edema antar kelompok uji dengan
menggunakan Tukey test

Perlakuan Selisih Mean Signifikans


(Mean Difference) i
Kontrol (–) vs kontrol (+) 0.00267 0.000*
Kontrol (–) vs EERK dosis 100 mg 0.00071 0.271
Kontrol (–) vs EERK dosis 250 mg 0.00421 0.000*
Kontrol (–) vs EERK dosis 500 mg 0.00658 0.000*
Kontrol (–) vs EERK dosis 1000 mg 0.00617 0.000*
Kontrol (+) vs EERK dosis 100 mg -0.00196 0.000*
Kontrol (+) vs EERK dosis 250 mg 0.00154 0.000*
Kontrol (+) vs EERK dosis 500 mg 0.00392 0.000*
Kontrol (+) vs EERK dosis 1000 mg 0.00350 0.000*
EERK dosis 100 mg vs EERK dosis 250 mg 0.00350 0.000*
EERK dosis 100 mg vs EERK dosis 500 mg 0.00588 0.000*
EERK dosis 100 mg vs EERK dosis 1000 mg 0.00546 0.000*

45
- 46 -
- 46 -2222

- 46
-

EERK dosis 250 mg vs EERK dosis 500 mg 0.00238 0.000*


EERK dosis 250 mg vs EERK dosis 1000 mg 0.00196 0.000*

EERK dosis 500 mg vs EERK dosis 1000 mg -0.00042 0.804

Keterangan:
*signifikan: terdapat perbedaan yang bermakna secara statistic (p<0,05)
BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Efek antiinflamasi ekstrak etanol rimpang kencur

Pada pengujian efek antiinflamasi yang menggunakan karagenan sebagai

penginduksi inflamasi, volume edema akan terus meningkat dari awal

penyuntikan karagenan, mencapai volume edema terbesar pada 6 jam setelah

penyuntikan karagenan dan tetap meningkat sampai jam ke-24. Hasil penelitian

memperlihatkan volume edema telapak kaki tikus yang terus meningkat dari jam

ke-1 sampai jam ke-6 setelah penyuntikan dan tidak ada satupun kelompok

percobaan yang mengalami penurunan volume edema sampai jam ke-6. Hal ini

mungkin terjadi karena efek inflamasi dari karagenan masih berlangsung dan

semua kelompok uji tidak mempunyai efek antiinflamasi yang cukup untuk

mengurangi volume edema yang ditimbulkan oleh karagenan. Kelompok uji

46
- 47 -
- 47 -2222

- 47
-

hanya dapat menghambat laju pertambahan volume edema yang terjadi selama 6

jam jika dibandingkan dengan kontrol negatif.35,36

Semua kelompok percobaan yang diberi EERK menunjukkan volume

edema yang lebih kecil dibandingkan dengan kelompok yang diberi aquades

(kontrol negatif) selama penelitian berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa volume edema pada kelompok EERK 100 mg/kgBB lebih kecil daripada

kontrol negatif, namun perbedaan volume edema antara kedua kelompok tidak

bermakna secara statistik. Hal ini mungkin terjadi karena jumlah zat aktif yang

terkandung dalam EERK dosis 100 mg/kgBB belum cukup untuk menimbulkan

daya antiinflamasi yang signifikan. Kelompok EERK dosis 250 mg/kgBB, 500

mg/kgBB dan 1000 mg/kgBB juga memiliki volume edema yang lebih kecil

daripada kontrol negatif tetapi perbedaan volume edema yang dihasilkan

signifikan dengan nilai p<0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa EERK dosis

250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan 1000 mg/kgBB memiliki efek antiinflamasi.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa EERK pada dosis 250 mg/kgBB sudah

dapat menimbulkan efek antiinflamasi yang signifikan terhadap kontrol negatif.

Hasil penelitian ini memperlihatkan perbandingan efek antiinflamasi

antar kelompok percobaan yang menggunakan EERK. EERK dosis 250

mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan 1000 mg/kgBB memiliki efek antiinflamasi yang

lebih besar dibandingkan dengan EERK dosis 100 mg/kgB. EERK dosis 500

mg/kgBB dan 1000 mg/kgBB juga memiliki efek antiinflamasi yang lebih besar

47
- 48 -
- 48 -2222

- 48
-

dibandingkan dengan EERK dosis 250 mg/kgBB. Hal ini dapat tejadi karena

seiring pertambahan dosis, jumlah zat aktif yang memiliki efek antiinflamasi pada

kencur makin bertambah juga sehingga menimbulkan penghambatan edema yang

signifikan terhadap kontrol negatif. Hal yang berbeda terjadi pada perbandingan

efek antiinflamasi antara kelompok EERK dosis 500 mg/kgBB dengan 1000

mg/kgBB. EERK dosis 500 mg/kgBB ternyata memiliki daya penghambatan

edema yang lebih kuat dibandingkan dengan EERK dosis 1000 mg/kgBB namun

perbedaan ini tidak bermakna secara statistik yang berarti daya antiinflamasi

kelompok EERK 500 mg/kgBB dan 1000 mg/kgBB adalah sama. Menurut teori

kependudukan reseptor, intensitas efek obat berbanding lurus dengan fraksi

reseptor yang diduduki atau diikatnya dan intensitas efek mencapai maksimal jika

seluruh reseptor telah diduduki oleh obat. Hubungan antara kadar atau dosis obat

(D) dengan besarnya efek (E) terlihat sebagai kurva log dosis-intensitas efek (log

DEC) yang berbentuk sigmoid. Teori ini menunjukkan bahwa penambahan dosis

suatu obat tidak dapat lagi menambah efek bila obat tersebut telah memberikan

efek yang maksimal.37

Penelitian ini memperlihatkan bahwa EERK dosis 250 mg/kgBB, 500

mg/kgBB dan 1000 mg/kgBB memiliki kemampuan dalam menghambat inflamasi

dengan persentase inhibisi edema maksimal sebesar 65% pada dosis 500

mg/kgBB dan 1000 mg/kgBB. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang

dilakukan oleh Sulaiman dkk dengan menggunakan model pengujian

48
- 49 -
- 49 -2222

- 49
-

antiinflamasi yang sama mengatakan bahwa daun kencur memiliki efek

antiinflamasi dengan persentase inhibisi maksimal sebesar 72% pada dosis 300

mg/kgBB. Hal di atas menunjukkan bahwa baik rimpang kencur maupun daun

kencur sama-sama memiliki kemampuan dalam menghambat pembentukan

edema.15

Pengujian efek antiinflamasi yang menggunakan karagenan sebagai

induktor edema melibatkan sintesis dan pelepasan beberapa mediator seperti

prostaglandin, terutama PGE2, histamin, bradikinin leukotrien dan serotonin.

Pembentukan edema yang diinduksi oleh karagenan ini biasanya berhubungan

dengan stadium eksudatif dari inflamasi. Edema yang diinduksi oleh karagenan

merupakan fenomena yang melibatkan bermacam-macam mediator dan telah

diteliti memiliki 2 fase. Fase pertama (early phase) berlangsung dari awal sampai

1 jam setelah penyuntikan karagen melibatkan beberapa mediator radang seperti

histamin dan serotonin yang menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh

darah. Fase kedua (late phase) berlangsung 1–6 jam setelah penyuntikan

berhubungan dengan peningkatan produksi dari prostaglandin. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa EERK menghambat pembentukan edema dari jam ke-1

sampai jam ke-6. Hal ini menunjukkan bahwa EERK diperkirakan memiliki

kemampuan dalam menghambat pelepasan dan kerja dari histamin, serotonin serta

enzim COX yang berperan dalam pembentukan prostaglandin.38,39,40

49
- 50 -
- 50 -2222

- 50
-

Skrining fitokimia dari EERK menunjukkan adanya senyawa terpenoid

dan flavonoid yang mungkin berperan dalam menghambat inflamasi pada

penelitian ini, dimana pada beberapa penelitian sebelumnya telah membuktikan

bahwa terpenoid dan flavonoid ini memiliki efek antiinflamasi. Salah satu jenis

flavonoid terkandung dalam rimpang kencur yang memiliki efek antiinflamasi

adalah kaempferol. Penelitian yang dilakukan oleh Liang dkk memperlihatkan

bahwa kaempferol dapat menghambat kerja dari enzim COX-2 dan iNOS.41,42

5.2 Perbandingan efek antiinflamasi ekstrak etanol rimpang kencur

terhadap Obat Antiinflamasi Non Steroid (Indometasin)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indometasin dosis 5 mg/kgBB

memiliki efek antiinflamasi dengan persen inhibisi berkisar antara 17–29%. Hal

ini sesuai dengan kerja dari Indometasin yaitu menghambat kerja dari enzim COX

dalam memproduksi prostaglandin. Penelitian ini juga memperlihatkan efek

antiinflamasi Indometasin yang dibandingkan dengan EERK, dimana efek

antiinflamasi Indometasin lebih kuat daripada EERK dosis 100 mg/kgBB dan

lebih lemah dibandingkan dengan EERK dosis 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan

1000 mg/kgBB. Efek antiinflamasi EERK yang lebih besar dibandingkan OAINS

(Indometasin) ini dapat menjadikan kencur sebagai kandidat obat untuk

pengobatan dalam mengatasi inflamasi dengan kelebihan efek samping minimal

dan mudah didapat. Selain sebagai antiinflamasi, kaempferol juga memiliki efek

50
- 51 -
- 51 -2222

- 51
-

gastroprotektor dengan cara menurunkan sekresi asam dan meningkatkan sekresi

musin yang disebabkan oleh adanya peningkatan produksi dari prostaglandin E

yang dilepas oleh mukosa lambung manusia. Hal ini menunjukkan bahwa

kaempferol selektif terhadap penghambatan enzim COX-2 dimana COX-2

berperan dalam menghasilkan mediator-mediator yang berperan dalam proses

inflamasi namun kaempferol tidak menghambat kerja enzim COX-1 yang telah

diketahui memiliki fungsi proteksi terhadap ginjal, lambung dan saluran cerna.43

51
- 52 -
- 52 -2222

- 52
-

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

6.1. Simpulan

1. Ekstrak etanol rimpang kencur dosis 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan

1000 mg/kgBB memiliki efek antiinflamasi.

2. Efek antiinflamasi terbaik ekstrak etanol rimpang kencur didapat pada

dosis 500 mg/kgBB dan 1000 mg/kgBB.

3. Ekstrak etanol rimpang kencur dosis 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan

1000 mg/kgBB memiliki efek antiinflamasi yang lebih besar

dibandingkan dengan OAINS (Indometasin dosis 5 mg/kgBB).

6.2. Saran

1. Menganalisis uji klinik pada manusia untuk memastikan efektivitas,

keamanan, dan gambaran efek samping yang timbul pada manusia dari

pemberian ekstrak etanol rimpang kencur dalam menghambat

inflamasi.

52
- 53 -
- 53 -2222

- 53
-

2. Meneliti efek antiinflamasi rimpang kencur dengan menggunakan

metode uji antiinflamasi yang lain sehingga didapatkan mekanisme

kerja antiinflamasi rimpang kencur yang lebih tepat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Dorly. Potensi tumbuhan obat Indonesia dalam pengembangan industri


agromedisin. Bogor. 2005; [diakses 17 Desember 2009]. Diunduh dari:
http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/09145/dorly.pdf.

2. Rukmana R. Kencur. Yogyakarta: Kanisius; 1994.

3. Aroonrerk N, Kamkaen N. Anti-inflamatory activity of Quercus infectoria,


Glycyrrhiza uralensis, Kaempferia galangal and Coptis chinensis, the main
component of Thai herbal remedies for aphthous ulcer. J Health Res.
2009;23(1):17-22.

4. Lim Y H, Kim I H, Seo J J. In vitro activity of kaempferol isolated from the


Impatients balsamina alone and in combination with Erythromycin or
Clindamycin against Propionibacterium acnes. The Journal of
Microbiology.2007;45(5):473-477.

53
- 54 -
- 54 -2222

- 54
-

5. Santoso HB. Ragam & khasiat tanaman obat. Jakarta: Agromedia Pustaka;
2008.

6. Muhlisah F. Temu-temuan & empon-empon, budi daya dan manfaatnya.


Yogyakarta: Kanisius; 1999.

7. Muhlisah F. Tanaman obat keluarga (revisi). Jakarta: Niaga Swadaya; 1995.

8. Benteng. Tanaman obat. 2009; [diakses 17 Februari 2010]. Diunduh dari


http://picasaweb.google.com/surosowan.castle/TanamanObatOrg.

9. Stokes Tropicals. Kaempferia galangal. 2009 [diakses 17 Februari 2010].


Diunduh dari: http://stokestropicals.com/kaempferia%20galanga.htm.

10. Hutajulu R. Hanana Smothie. 2009 [diakses 17 Februari 2010]. Diunduh dari:
http://asiaaudiovisualexc09rinahutajulu.wordpress.com/2009/07/page/3/.

11. Rostiana O, Effendi DS. Perbenihan dan budidaya pendukung varietas unggul
kencur. Bogor: Pusat Penelitian dan Perkembangan Perkebunan; 2007.

12. Tewtrakul S, Yuenyongsawad S, Kumme S, Atsawajaruwan L. Chemical


components and biological activities of volatile oil of Kaempferia galanga l.
Songklanakarin J Sci Technol. 2005;27(Suppl.2):503-507.

13. Dzyubak S. Biologically active substances of several species of goldenrod


genus. [diakses 12 Juni 2010]. Diunduh dari:
http://www.interdiscipline.org/Biochemistry/PhD.html.

54
- 55 -
- 55 -2222

- 55
-

14. Sae-wong C, Ridtitid W, Reanmongkol W, Wongnawa M. Antinociceptive


activity of the ethanolic extract of Kaempferia galangal and its possible
mechanisms in experimental animal. Thai J Pharmacol.2008;30(2):26-35.

15. Sulaiman MR, Zakaria A, Daud A, Ng FN, Ng YC, Hidayat TM.


Antinociceptive and anti-inflammatory activities of the aqueous extract of
Kaempferia galangal leaves in animal models. J Nat Med. 2007.

16. Dorland. Kamus kedokteran Dorland. Jakarta: EGC; 2006.

17. Robbin SL. Buku saku dasar patologi penyakit. Edisi 5. Jakarta: EGC; 1999.

18. Robbin SL, Kumar V. Buku ajar patologi II. Staf Pengajar Laboratorium
Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Erlangga, alih bahasa.
Jakarta: EGC; 1995.

19. Underwood, J.C.E. Patologi umum dan sistemik. Edisi 2. Sarjadi, Editor.
Jakarta: EGC; 1999.

20. Fauziyah N. Efek antiinflamasi ekstrak etanol daun petai cina (Leucaena
glauca, benth) pada tikus putih jantan galur wistar (skripsi). Surakarta:
Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta; 2008.

21. Hulin R. Mediators of inflammation. 1995 [diakses 12 Oktober 2009].


Diunduh dari: http://nic.sav.sk/logos/books/scientific/node25.html.

55
- 56 -
- 56 -2222

- 56
-

22. Rang H. P. Pharmacology, 2nd edition. London: Churchill Livingstone; 1991.

23. Katzung. Farmakologi: Dasar dan klinis. Edisi 1. Jakarta: Salemba Medika;
2002.

24. Gunawan SG, Setiabudy R, Nafrialdi, editor. Farmakologi dan terapi. Edisi 5.
Jakarta: Gaya Baru; 2007.

25. Anggraini W. Efek antiinflamasi ekstrak etanol daun jambu biji (Psidium
guajava linn.) pada tikus putih jantan galur wistar (skripsi). Surakarta:
Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta; 2008.

26. Borthakur A, Bhattacharyya S, Dudeja PK, Tobacman JK. Carrageenan


induces Interleukin-8 production through distinct bcl10 zpathway in normal
human colonic epithelial cells. Am J Physiol Gastrointest Liver Physiol.
2007;292:829-838.

27. Jocelyne G. Carrageenan-induced paw edema in rat elicits a predominant


Prostaglandin E2 (PGE2) respone in the central nervous system associated
with the induction of microsomal PGE2 synthase-1. 2004 [diakses 5 Januari
2010]. Diunduh dari: http://www.jbc.org/content/279/23/24866.full.

28. Winyard PG, Willoughby DA. Inflammation protocols. New Jersey: Humana
Press; 2003.

29. Stell RD, Torrie JH. Principles and procedures of statistic a biometrical
approach. Tokyo: Mc Graw Hill; 1990.

56
- 57 -
- 57 -2222

- 57
-

30. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Indonesia Edisi III.


Jakarta; 1979.

31. Rustam E, Atmasari I, Yanwirasti. Efek antiinflamasi ekstrak etanol rimpang


kunyit (Curcuma domestica Val.) pada tikus putih jantan galur wistar. Jurnal
Sains dan Teknologi Farmasi. 2007; 12: 112-115.

32. Kusumawati D. Bersahabat dengan hewan coba. Yogyakarta: Gajah Mada


University Press; 2004.

33. Suryawati S, Santoso B. Penapisan farmakologi pengujian fitokimia dan


pengujian klinik. Jakarta: Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alam
Phytomedica; 1993.

34. Dahlan S. Statistika untuk kedokteran dan kesehatan. Jakarta: PT ARKANS;


2004.

35. Guay J, Bateman K, Gordon R, Mancini J, Riendeau D. Carrageenan-induced


paw edema in rat elicits a predominant Prostaglandin E2 (PGE2) respone in
the central nervous system associated with the induction of microsomal PGE2
synthase-1. The Journal of Biological Chemistry. 2004;279:24866-24872.

36. Salvemini D, Wang ZQ, Wyatt PS, Bourdon DM, Marino MH, Manning PT,
et all. Nitric Oxide: a key mediator in the early and late phase of carrageenan-
induced rat paw inflammation. British Journal of Pharmacology.
1996;118:829-838.

57
- 58 -
- 58 -2222

- 58
-

37. Setiawati A.Suyatma FD, Gunawan SG. Pengantar farmakologi.


Dalam Gunawan SG, editor. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta: Gaya
Baru; 2007.

38. Buadonpri1 W, Wichitnithad2 W, Rojsitthisak P, Towiwat P.


Synthetic curcumin inhibits carrageenan-induced paw edema in rat. J Healt
Res. 2009;23(1):11-16.

39. Niazi J, Sing P, Bansal Y, Goel RK. Anti-inflammatory, analgesic and


antipyretic activity of aqueous extract of fresh leaves of Coccinia indica.
Inflammopharmacoal. 2009;17:239-244.

40. Adedapo AA, Sofidiya MO, Afolayan AJ. Antiinflammatory and analgesic
activities of the aqueous extracts of Margaritaria discoidea (Euphorbiaceae)
stem bark in experimental animal models. International Journal of Tropical
Biology. 2009;57(4):1193-1200.

41. Mathew B, Vijayabaskar M, Mathew GE, Thomas KM. Phytochemical


evaluation and anticancer screening of rizomes of Kaempferia galangal Linn.
IntRJPharmSci. 2010;1(1)11.

42. Liang YC, Huang YT, Tsai SH, Shiau SYL, Chen CF, Lin JK. Suppression of
inducible Cyclooxygenase and inducible Nitric Oxide synthase by Apigenin
and related flavonoids in mouse macrophages. Carcinogenesis.
1999;20(10):1945-1952.

43. Goel RK, Pandey VB, Dwivedi SPD, Rao YV. Anti-inflammatory and anti-
ulcer effect of Kaempferol, a flavone, isolated from Rhamnus procubens.
Indian J Exp Biol 1988;26:121-4

58