Anda di halaman 1dari 11

ROP

athur queen

Dear All,

Mohon pencerahannya.
Bagaimanakah data ROP diperoleh? Apakah pemilihan bit
mempengaruhi data ROP? Bisakah data ROP mengindikasikan jenis
lithogi dari formasi yang sedang di bor? Apa saja sih gunanya data
ROP?
Terima kasih.

Nataniel Mangiwa

.Rate Of Penetration: satuannya bisa meter/hour atau minute/meter,


dari satuannya jelas bahwa ROP di dapat dari pembagian jarak
(kedalaman)/waktu atau dalam berapa menit untuk mengebor 1meter
formasi.
.Jelas bit mempengaruhi ROP.
.ROP bisa mengindikasikan kekerasan formasi yang di bor tapi tidak
menentukan jenis litologi.
.Indikasi high pressure, pemodelan d'exponent (analisa trend pressure
profile dari suatu well), untuk data development well berikut (informasi
jenis bit yg akan dipilih serta setting drilling parameter yg bisa di apply
utk optimize drilling time).

athur queen

Dear pak Nataniel,

Terima kasih pak atas penjelasannya. Saya masih penasaran,


bagaimana data ROP diperoleh. Klo ROP didapat dari pembagian
kedalaman / waktu = kecepatan. Berarti ROP merupakan hasil
perhitungan donk pak! Klo ROP merupakan hasil perhitungan, kenapa
nilai kurva ROP bervariasi terhadap kedalaman seperti halnya kurva
GR dan SP yang didapat dari hasil pengukuran wireline dan diletakkan
dalam satu kolom yang sama? Apakah data ROP mengindikasikan
kecepatan absolut penetrasi bor ato kecepatan rata-rata? Berapakah
range nilai ROP pada umumnya?
Terima kasih.

Harry Eddyarso

Dik Athur yang baik,

Saya perhatikan dari dulu dik Athur ini getol banget nanya2 soal
drilling, btw pingin jadi drilling engineer ya?? :-) Kalo iya, saya lagi
nyari drilling engineer ni, mau join?

Okay, saya coba jawab deh:

1. ROP = Rate of Penetration, ngitungnya simple aja: jarak dibagi


kecepatan. Secara manual bisa, namun secara "real time" juga bisa,
soalnya alat sekarang kan canggih2. Kalau secara manual, biasanya
mud logger akan menghitungnya dalam ft/hr atau dalam meter/hr dan
langsung di plot di mud logs nya. Semakin rapat jarak ngitungnya,
semakin detail pula chart atau ROP lognya. Pada alat2 canggih yang
menyajikan data2 real time, ROP ini langsung di plot di lognya
bersama2 dengan data2 logs yang lain pada saat drilling berlangsung.
Nilai kurva ROP bervariasi karena tingkat kekerasan formasi bisa
berlainan apalagi pada saat berganti formasi (misal dari formasi
sandstone ke shale --> informasi lithology ini didapat dari returned drill
cuttings, bukan dari ROP) atau dari formasi keras masuk ke formasi
yang porous (nah, yang kayak gini biasanya disebut sebagai "drilling
break" atau perubahan ROP yang mencolok), dsb.
2. Data ROP biasanya berlaku untuk section tertentu, dalam 1 sumur
ada beberapa section. Kalau dibilang absolut, mungkin ya ROP absolut
untuk section yang bersangkutan. Hal ini sangat penting untuk
pemilihan jenis mata bor (drilling bit) untuk section2 atau formasi2
tertentu. Sedangkan ROP rata2 biasanya hanya untuk melihat overall
drilling performance aja, tapi kurang akurat bila dipakai sebagai dasar
untuk optimizing drill bit selection untuk perencanaan ngebor secara
keseluruhan.
3. Nilai ROP bisa bervariasi lebar sekali tergantung dari tingkat
kekerasan formasi yang bersangkutan (baik dari segi jenis lithology
nya maupun porositas formasi), mulai dari > 150 ft/hr (biasanya di top
hole) sampai dengan < 0.1 ft/hr (biasanya di basement atau jenis
formasi keras lainnya, seperti: dolomite, chertz, limestone).
4. ROP gunanya untuk apa? Sebagian udah dijawab sama Mas Nataniel
di bawah ini. Tapi yang jelas, ROP diperlukan untuk:
a. Drilling performance: makin tinggi ROP, makin cepat ngebornya
selesai, makin murah pula biaya sumur tsb. Dulu waktu di ARCO kami
punya semacam KPI (Key Performance Indocator) yang kami namakan
"2000 ft Club", artinya para drilling supervisor / engineer yang pernah
ngebor lebih dari 2000ft dalam 24 jam akan dapat semacam "bintang"
begitulah. Jadi ada kebanggaan sendiri bagi yang pernah
mencapainya, terus stickernya bisa dijahit di coverall masing2 :-).
Dalam sejarahnya, malah ada yang mencapai 3000ft dalam 24 jam (di
area Laut Jawa).
b. Untuk mengetahui perubahan lapisan formasi sebelum drill cuttings
sampai ke surface dan sebelum logging dilakukan (kecuali kalau pakai
LWD yang sensor GR/Resistivity nya di bit - yang ini langsung
ketahuan). Untuk jenis2 lithologynya tetap harus lihat cuttingnya dulu,
kecuali kalo udah tau duluan dari data2 offset wells kayak di sumur2
development.

5. Data2 ROP dari offset wells tentu mempengaruhi pemilihan jenis bit
agar pemboran sumur yang sedang berlangsung LEBIH BAIK dari ROP
di sumur2 sebelumnya, sehingga biaya sumurnya bisa ditekan lebih
murah lagi. Biasanya untuk formasi2 yang empuk (soft to medium
formation) kita pake jenis bit yang "milled tooth" yang bekerja
berdasarkan prinsip "gauging" (formasinya dikerok kayak kita ngerok
kelapa) dan gerigi bit jenis ini punya kemampuan untuk "self-
sharpening" bila patah (sisa patahannya akan tetap runcing tajam).
Jadi bitnya tajam terus gak pernah aus (worn-out). Untuk formasi2
yang medium to hard, biasanya pake jenis "insert bit", itu lho drill bit
yang gigi2nya kayak peluru dan terbuat dari tungsten carbide. Prinsip
kerja dari insert bit ini adalah dengan "crushing", jadi batuan formasi
itu ditumbuk dengan gigi2 tungsten carbide yang keras itu. Nah,
setelah pecah lalu pecahannya diangkut oleh lumpur ke permukaan.
Dengan kemajuan teknologi, sekarang udah umum kita gunakan
drilling bit jenis PDC (Polycristalline Diamond Compact) bit (pake intan
buatan) yang menghasilkan ROP yang relatif tinggi. Harganya relatif
lebih tinggi di atas jenis 3-cone bit (baik insert maupun milled tooth),
tapi ROP yang dihasilkan bisa 2-3 kali lebih cepat dan kadang2 1 PDC
bit bisa dipakai di 2-3 sumur yang berbeda. Untuk formasi2 yang very
hard, biasanya dipakai jenis Diamond bit, yang gigi2nya rada kecil tapi
sangat tahan gerus, sehingga batuan yang super keraspun akan
tergerus oleh intan tsb.

Semoga cukup jelas ya Athur...

Harry Eddyarso
Dear all,

Maaf, ada kesalahan ketik yang sangat mengganggu di bawah ini,


yaitu "jarak dibagi kecepatan" yang seharusnya:"jarak dibagi waktu",
misalnya pada depth tertentu jarak 1 ft dibor dalam waktu 5 menit,
maka ROP nya = 12 ft/hr untuk 1 ft section tsb.

Sekali lagi maaf ya. :-)

satam

Dear Pak Harry ,


Terima kasih atas penjelasannya...tapi kalau untuk drilling engineer
backgroundnya bisa gak dari instrumentasi. terus kalau memang
bisa..sertifikasi apa yang cocok untuk kursus drilling tersebut. saat ini
saya ambil instrument inspector....kira-kira apa yah yang cocok untuk
itu? maklum saya tahap pemula...

thanks atas jawabannya.

Eko Yudha

Ikut nanggapin ya,

Walaupun mata kuliah drilling engineering biasanya hanya ada di jur.


Teknik perminyakan, dalam kenyataanya temen2 dari semua jurusan
bisa menjadi drilling engineer asal punya basic fisika. Malah saya lihat
teman2 dari Tek Mesin lebih jago terutama bila menyangkut peralatan
drilling.
Oya, saya malah dengar pak Herman Lantang, sahabatnya Soe Hok
Gie yg jg aktivis 66 itu, dari Sastra UI jadi mud engineer di MI (kalo
saya gak salah) ..nah lho hehe..

Harry Eddyarso
Betul., saya pernah kerja dengan Pak Herman Lantang di rig yang
sama di tahun 1980an..., entah di Laut Jawa atau di Offshore Bali North
(lupa).

athur queen

Dear pak Harry,

Terima kasih pak atas penjelasannya. Saya masih penasaran nih


dengan ROP! Dari penjelasan bapak dan pak Nataniel mengatakan klo
ROP itu mengindikasikan kekerasan formasi yang sedang dibor. Yang
membingungkan di sini, klo ROP mengindikasikan kekerasan formasi
(formasi yang ditembus tentunya berupa batuan dan skala kekerasan
batuan itu bisa dilihat dari skala Mohs yang mengukur kekerasan
mineral dimana batuan terbentuk dari komposisi mineral tertentu)
tentunya ROP bisa donk dipakai untuk mengindikasikan jenis lithologi!

Yang jadi pikiran, klo ROP mengindikasikan drilling performance dan


kekerasan formasi, kenapa kurvanya berada pada kolom yang sama
dengan kurva GR, SP dan Caliper yang berfungsi untuk
mengindikasikan jenis lithologi? Penempatan kurva di log tidak
sembarang kan? Trus nilai ROP yang bervariasi itu memiliki range
berapa ya? Klo GR kan umumnya di set di log dari 0 - 150 ato 0 - 200
GAPI yang berarti nilai GR pada lithologi apapun gak mungkin lebih
dari 200 GAPI. Range nilai ini bisa dijadikan indikator dalam QC data
tentunya. Klo ada nilai GR yang melebihi 200 kita jadi bisa berpikir
bahwa ada yang salah dari data tersebut.(Bener gak ya?)
Terima kasih.

Best Regards,
Athur Lasmaria

PS: Sekedar ngingetin nih pak, pertanyaan saya #4: Bit belum
direspon dan tetap ditunggu lho!
Penasaran ya pak, kenapa saya tertarik dengan drilling? Sejarahnya
begini:
Di kuliah, bapak dosen pernah berkata klo geologist dan drilling
engineer sering ribut masalah perolehan data lapangan. Geologist
pengennya dapat data sedetail dan selengkap mungkin yang
terkadang mempengaruhi kinerja drilling menjadi lambat sedangkan
drilling engineer pengennya drilling cepat selesai gak peduli dengan
kelengkapan data yang dibutuhkan geologist. (Masa sih?! Kok bisa, kan
kerjanya team, ada dari berbagai disiplin ilmu yang ikut terlibat dan
lagi sering digaungkan klo kerja yang dicari adalah kemampuan untuk
bekerjasama dalam team! Sering bingung, karena gak tau dan belum
pernah ngalamin sih!)

Kebetulan, saya pernah ikutan proyek akuisisi seismik di hutan rimba


Sumatra dan jadi Assiten QC Drilling. (Malah ikutan nginap di staging
camp juga!! Wuis..., mantap bo! jalan-jalan ke hutan, ketemu pacet
dan binatang buas, liat singkapan, beraneka ragam batu, jalan di
bridging, naik jetty, rebutan nyabut pasak bumi, dikejar - kejar ama
penduduk setempat gara - gara gak ngizinin ngebor dan banyak hal
seru lainnya yang gak didapat selama kuliah, cuma tau ceritanya
doank!)

Nah, waktu di field kemaren apa yang dibilang pak dosen terbukti
dech! Sewaktu kita ngebor di daerah yang yang lithoginya sandstone,
target kedalaman bor 25 m dan jumlah hole yang dibor 20 bisa
dipastikan selalu tercapai bahkan lebih, eh pada saat drilling di daerah
yang batuannya keras (kata pak driller dan supervisor QC Drilling
waktu saya tanya lithologinya coral) susah banget untuk menembus
target kedalaman. Para crew drilling udah kerja pontang-panting tuh,
ngebor gak tembus-tembus dari 10 m, bahkan di beberapa tempat
cuma bisa sampai 5 m! Eh, pas diangkat pipanya malah kejepit! Alhasil
seharian gak nyampe 10 hole yang bisa dibor. Pulang - pulang dari
field mo masukin laporan, eh.... geologistnya malah marah - marah
karena bornya terlalu dangkal.

Berhubung baru pertama kali ke lapangan, ikut terjun dan


menyaksikan secara langsung pengambilan data serta workflow kerja
di lapangan, masih bingung dan banyak nanya sana - sini ke bapak -
bapak di lapangan, beruntung beliau - beliau baik dan mo ngajarin. Jadi
kepikiran, apa ya yang dipelajari di kampus? Kok perasaan kerjaan di
field banyakkan yang gak dipelajari ato mungkin sayanya yang kurang
mempersiapkan dan membekali diri ya?
Sepulang dari proyek, saya mulai belajar dan cari tau workflow
eksplorasi migas, mulai dari akuisisi data sampai well dinyatakan
discovery ato dry hole biar klo ada kesempatan ke lapangan lagi gak
banyak bingungnya karena dah punya gambaran dan basic knowledge
yang jelas.
So, klo ada kesempatan dan tawaran buat jadi drilling engineer kenapa
musti dilewatkan?! Mau..mau.. mau...banget!!! Horeee... bergerilya
lagi di hutan dan jadi tarzanita!!! Asyik!!!!

Eko Yudha
Nimbrung jawab ya,

>>Yang membingungkan di sini, klo ROP mengindikasikan kekerasan


formasi (formasi yang ditembus tentunya berupa batuan dan skala
kekerasan batuan itu bisa dilihat dari skala Mohs yang mengukur
kekerasan mineral dimana batuan terbentuk dari komposisi mineral
tertentu) tentunya ROP bisa donk dipakai untuk mengindikasikan jenis
lithologi! <<

ROP tidak bisa dijadikan indikasi lithologi yg berhubungan dgn skala


Mohrs karena hubungan ROP dgn kekerasan formasi adalah indirect
(alias kawannya temen). Banyak faktor yg menentukan ROP, bukan
hanya kekerasan formasi. Fakto lain yg sangat penting adalah mud
hydraulic, yaitu meliputi jenis lumpur yg digunakan, laju pemompaan
lumpur, tekanan pemompaan lumpur, ukuran nozzle di bit, diameter
lubang (bit), bahkan detail aksesoris bit yg dipakai. Data ROP dgn
faktor2 lain tsb jika dirangkum dalam satu konsep bernama D-exp bisa
juga digunakan untuk memprediksi formation pressure gradien. So,
driller bisa mengantisipasi geohazards.

>>ROP mengindikasikan drilling performance dan kekerasan formasi,


kenapa kurvanya berada pada kolom yang sama dengan kurva GR, SP
dan Caliper yang berfungsi untuk mengindikasikan jenis lithologi?
Penempatan kurva di log tidak sembarang kan?<<

Kurva ROP biasanya berada sama dgn kurva GR & SP karena (menurut
saya) bisa digunakan untuk memverifikasi lithologi yg ditunjukan
GR/SP ataupun sebaliknya jika kita ingin tau kenapa performance
drilling kita naik atau turun. Contohnya apabila tiba2 kita ketemu
'drilling break' (tiba2 ROP cepat sekali), kita bisa verify dari GR/SP
apakah ini dikarenakan kita menembus shale dgn tekanan abnormal
(biasanya caprock di atas reservoir, kalo ada-red) atau ada kaena
sebab2 lain.

>>Trus nilai ROP yang bervariasi itu memiliki range berapa ya?<<
wah ini rasanya semua driller juga agak sulit jawabnya. sangat
bervariasi dari lapangan ke lapangan dan jg tergantung best practice
msg2 company. Waktu di Maxus/CNOOC sih ada yg antara 100-120
ft/jam di lubang 12-1/4", atau 80-100 ft/jam di lubang 8-1/2". Tapi
ditempat baru saya disini ada juga cuma 5 m/jam.

>>Di kuliah, bapak dosen pernah berkata klo geologist dan drilling
engineer sering ribut masalah perolehan data lapangan. Geologist
pengennya dapat data sedetail dan selengkap mungkin yang
terkadang mempengaruhi kinerja drilling menjadi lambat sedangkan
drilling engineer pengennya drilling cepat selesai gak peduli dengan
kelengkapan data yang dibutuhkan geologist<<

adalah wajar jika driller pengen drilling selesai dengan cepet karena:
1. menghemat Rig time. Harga sewa rig adalah kontributor terbesar
dari biaya sumur. So, UUD (ujung-ujungnya duit)
2. Memperkecil resiko2 lain. Karena time exposure dgn problem sumur
makin dikit.
3. drillernya pengen cepet pulang ke rumah supaya bisa ngebor di
tempat lain ...hehehe
Tapi, rasanya jaman sekarang geologist and driller udah makin akur
karena semangat teamwork di semua company makin digalakkan.
Semuanya harus dicomprimize untuk dapat hasil yg optimal..tull..gak..

Harry Eddyarso

Dear all,

Wah, sharing dari Mas Eko Yudho di bawah ini bagus sekali dan cukup
detail dan tinggal di-amin-i saja. Makasih Mas atas bantuan dan
sharing pengalamannya, terutama saat2 saya dan Moderator yang lain
sedang sibuk ngejar setoran :-)

Saya cuman pingin nambahin sedikit aja:

1. >>ROP mengindikasikan drilling performance dan kekerasan


formasi, kenapa kurvanya berada pada kolom yang sama dengan
kurva GR, SP dan Caliper yang berfungsi untuk mengindikasikan jenis
lithologi? Penempatan kurva di log tidak sembarang kan?<< RHE:
Dalam "merged overlay", selain data2 log tsb juga ditambahkan data2
resistivity dan density logs, sehingga semua kurva yang ada di
kedalaman tertentu di sepanjang sumur semakin mempermudah para
engineer dan geologists geophysicist untuk meng-interpretasi jenis
formasi berikut lithologynya, yang semua dikombinasikan dengan hasil
analisa drill cuttings yang dibawa oleh lumpur bor ke permukaan.
Hasil2 interpretasi tadi akan diperkuat / diverifikasi lagi oleh data2 dari
coring job (sidewall core atau conventional core), bila ada. Jadi ROP
bisa dibilang "hanya" sebagai salah satu parameter untuk memperkuat
interpretasi tentang jenis formasi (dan lithologynya) secara tidak
langsung. Dalam operasi drilling yang menggunakan LWD (Logging
While Drilling), data2 logs tsb bisa diperoleh secara "real time", apalagi
untuk sumur2 development.
2. Gimana tentang team work antara drilling engineer vs geologist?
RHE: Dalam operasi drilling, biasanya untuk data acquisition, orang2
drilling "tunduk" pada geologist (bahkan kadang2 petroleum engineer
juga ikut menentukan target2 tertentu), karena buat apa kita ngebor
cepet2 tapi kita tidak mendapatkan data2 sumur yang diperlukan.
Ketentuan ini terutama berlaku untuk sumur2 explorasi dan delineasi,
bahkan kadang2 drilling harus ngalah untuk berhenti dulu untuk
mendapatkan data2 drill cuttings dan atau gas readings melalui
sirkulasi "bottoms-up". Untuk sumur2 pengembangan dimana data2
formasi sudah bisa diprediksi, maka para driller diijinkan untuk
"ngebut" menyelesaikan program drilling dalam waktu yang
secepat2nya. Dalam hal2 tertentu dimana masalah HSE menjadi
"potential risks", maka orang drilling punya hak dan kuasa untuk
menolak semua permintaan geologist, bahkan dari top management
sekalipun (!). Contoh: Dalam kasus sumur Banjar Panji #1, program
awal setting depth untuk casing 9-5/8" adalah di 8500ft, tapi entah
gimana, sumur tetap di bor terus sampai kedalaman 9297ft sebelum
akhirnya berbuah bencana. Memang secara itung2an kick tolerance
masih okay, tapi itu kalau dalam keadaan normal, sedangkan BP #1
adalah sumur taruhan (wild cat atau exploratory well) yang kita tidak
pernah tau, ada apa di bawah drilling bit pada saat kita ngebor. Sebab
begitu kita menembus "troublesome formation" (misalnya loss
circulation zone): Mak blussssssss.!, .. maka sudah terlambat. Oleh
karena itu, kita harus extra hati2, bahkan harus konservatif dengan
menerapkan safety margin yang proporsional. Namanya juga sumur
taruhan.., jadi jangan terlalu berani bertaruh.. sekali kalah bisa
habis2an, bahkan fatal.....

rahman fajrianto

Apabila kita lihat dalam mudlog report-mudlog report yang ada, akan
kita lihat yang ditampilkan disana adalah kolom ROP+WOB, Cuttings
Percentage, Total Gas, Chromatograph, dan deskipsi cutting, lalu ada
juga kolom interpretasi lithologi. Menurut saya, mungkin, kolom
interpretasi lithologi yang ada disitu adalah hasil dari interpretasi
data : ROP, kandungan total gas yang ada dan cutting percentage.
Seperti halnya pada sumur yang tidak memakai jasa LWD, pada saat
driling tentunya harus ada interpretasi lithologi tanpa menggunakan
electronic log terlebih dahulu. Contoh interpretasi : ROP cepat, gas
tinggi, indikasi zona porous, dan didukung dari cutting percentage
maka lithologi yang mungkin berkembang adalah sandstone. ROP
lambat, gas rendah, dan didukung dari cutting percentage maka
lithologi yang mungkin berkembang adalah claystone.
Pertanyaannya, Seperti halnya interpretasi lithologi pada electronic
log, yang dalam satu sumur akan mempunyai shale baseline yang
berubah-ubah sesuai dengan formasi yang dilewatinya, apakah ROP
pun akan seperti itu?Maksudnya, Contoh pada Lithologi Formasi A,
didominasi oleh claystone yang sangat liat (misal : montmorilonite),
tapi Formasi "A" ini juga terdiri dari sandstone, claystone, siltstone dan
limestone... Nah, ketika si bor tersebut masuk kedalam formasi, maka
*ROP secara keseluruhan *akan melambat walaupun pada saat si bor
tersebut mendrilling lapisan tipis sandstone yang ada pada
formasi A, kira-kira apakah yang menyebabkan hal ini? apakah
dikarenakan si sandstone juga mengandung sifat2 yang ada pada
claystone(argillaceous matrix sandstone) ???

Saya pernah mendengar informasi, ada suatu sumur yang memiliki


range ROP sangat lambat, rata2 1-5 m/hr, walaupun sudah diganti
berbagai jenis bit( mulai dari bit yang sama dengan jumlah nozzle
yang berbeda, sampai type bit yang berbeda), penggunaan pump yang
sebelumnya hanya 2 menjadi 3, dan liner pump diganti ukurannya.
Kira2 apa yang menyebabkan hal ini??apakah memang karena formasi
yang sangat liat?? karena formasi yang didrilling saat itu adalah
seperti formasi A yang telah saya jelaskan diatas..

Mohon pencerahannya, mas Nathaniel, pak Harry, mas Eko dan


bapak2 serta ibu2 KMI...

Nataniel Mangiwa

Pertanyaannya, Seperti halnya interpretasi lithologi pada electronic


log, yang dalam satu sumur akan mempunyai shale baseline yang
berubah-ubah sesuai dengan formasi yang dilewatinya, apakah ROP
pun akan seperti itu?

--> bisa saja. tapi untuk base line-nya (sama seperti pada e-log jg) itu
kadang shale base line-nya harus sering2 di adjust per interval.
misalnya untuk interval 0-500m shale base-nya ada di level ROP
70m/hr, trus di yg lebih dalam 2000-2500m, shale base line based on
ROP: sekitar 30m/hr

Maksudnya, Contoh pada Lithologi Formasi A, didominasi oleh


claystone yang sangat liat (misal : montmorilonite), tapi Formasi "A" ini
juga terdiri dari sandstone, claystone, siltstone dan limestone...
Nah, ketika si bor tersebut masuk kedalam formasi, maka *ROP secara
keseluruhan *akan melambat walaupun pada saat si bor tersebut
mendrilling lapisan tipis sandstone yang ada pada formasi A, kira-kira
apakah yang menyebabkan hal ini?

--> saat driller sdg beraksi, mereka sering melakukan adjusment pada
drilling parameter mrk (WOB, pressure, dll). nah adjusment ini jarang
dilakukan dalam interval kecil (1-2m), tapi biasanya mereka pasang
pada interval yg panjang (mungkin sekitar 50m). nah jadi mereka tidak
selalu merespon kehadiran layer2 tipis dgn tindakan sesuai. kalau dari
50m interval didalamnya ada 1 atau 2m sisipan sand dan selebihnya
shale mungkin memang susah untuk mengenali ROP-nya krn
parameter drillingnya cenderung homogen. selain itu, menurut saya,
apa yg sudah anda kemukakan dibawah ini juga bisa benar adanya
dan saya setuju dgn pendapat anda.

apakah dikarenakan si sandstone juga mengandung sifat2 yang ada


pada claystone(argillaceous matrix sandstone) ???

Saya pernah mendengar informasi, ada suatu sumur yang memiliki


range ROP sangat lambat, rata2 1-5 m/hr, walaupun sudah diganti
berbagai jenis bit( mulai dari bit yang sama dengan jumlah nozzle
yang berbeda, sampai type bit yang berbeda), penggunaan pump yang
sebelumnya hanya 2 menjadi 3, dan liner pump diganti ukurannya.
Kira2 apa yang menyebabkan hal ini??apakah memang karena formasi
yang sangat liat?? karena formasi yang didrilling saat itu adalah
seperti formasi A yang telah saya jelaskan diatas.

--> ROP 1-5m/h itu berdasarkan pengalaman saya di daerah mahakam


sgt wajar jika sudah mengebor di daerah kedalaman 3000m Vertikal di
daerah sekitar Tambora. setelah saya crosscheck dgn cuttingnya
memang Calcareous Sandstone. jadi menurut saya there's nothing that
driller can do to improve the ROP, since it was very hard.