Anda di halaman 1dari 84

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proyek dalam bidang ketekniksipilan mempunyai ciri khas tersendiri
khususnya dalam pelaksanaan di lapangan. Pelaksanaan pembangunan konstruksi
teknik sipil dilakukan oleh lembaga yang secara umum disebut dengan kontraktor.
Kontraktor sebagai pelaksana dari proyek mempunyai tanggungjawab yang besar
atas kualitas dari produk yang dihasilkan. Itu sebabnya kontraktor wajib
melaksanakan pekerjaan proyek dengan strategi yang baik. Untuk itu, kontraktor
harus mempunyai metode pelaksanaan proyek yang berkualitas dari segi produk,
waktu, maupun biaya yang dikeluarkan.
Proses pelaksanaan pembangunan membutuhkan perencanaan pelaksanaan
yang berupa jadwal pembangunan. Dalam studi kasus proyek pembangunan Jalan
Tol Tahap I Ruas Semarang-Bawen, Seksi II, Gedawang-Penggaron perusahaan
yang berperan sebagai kontraktor adalah PT.Waskita Karya. Jadwal pembangunan
dibuat berdasarkan konstruksi yang akan dibangun dan disesuaikan dengan batas
waktu yang ditetapkan oleh PT. Trans Marga Jateng selaku pemilik proyek.
Penjadwalan proyek secara manual tentunya sulit dilakukan pada kasus proyek
dengan item pekerjaan yang sangat banyak. Selain itu, penjadwlan secara manual
berpotensi menghasilkan kesalahan perhitungan. Kasus yang lebih rumit dapat
terjadi apabila dalam perjalanan ternyata terdapat revisi rencana yang mungkin
bisa berdampak terhadap penjadwalan proyek secara keseluruhan. Untuk
mengatasi kesulitan-kesulitan itu, diperlukan suatu alat yang dapat digunakan
untuk mempermudah penjadwalan dalam proyek. Alat yang digunakan dapat
berupa perangkat lunak yang dapat mengakomodasi kebutuhan kontraktor untuk
mengatur kegiatan agar pekerjaan yang dilaksanakan tidak terlambat.
Salah satu perangkat lunak yang cukup terkenal dalam penjadwalan adalah
perangkat lunak Microsoft Project yang dikembangkan oleh perusahaan

1
Microsoft. Akan tetapi perangkat lunak ini berharga $599.95 untuk Office Project
Standard 2007 dan $995.95 untuk Office Project Professional 2007 (sumber:
http://office.microsoft.com/en-us/products/FX101754511033.aspx) pada tanggal
27 Maret 2010 atau setara dengan Rp5.519.540 untuk Office Project Standard
2007 dan Rp9.162.740 untuk Office Project Professional 2007 dengan kurs $1
sama dengan Rp9.200 pada tanggal 27 Maret 2010 (sumber:
http://www.seputarforex.com/berita/kurs_dollar_rupiah_hari_ini.php). Tentunya
harga yang cukup mahal ini akan mempebesar pengeluaran pada proyek. Untuk
itu, pada penelitian ini penyusun menggunakan salah satu perangkat lunak
alternatif dari Microsoft Project yang sudah cukup populer karena bersifat gratis,
yaitu perangkat lunak Serena OpenProj yang berlisensi open source sehingga
dapat diunduh dari internet. Perangkat lunak ini juga sudah diunduh sebanyak
800.000 kali di 142 negara.
Perangkat lunak Serena OpenProj tentunya akan mengurangi penggunaan
perangkat lunak bajakan yang marak di Indonesia. Perangkat lunak bajakan seolah
sudah menjadi hal yang biasa di kalangan masyarakat, termasuk kontraktor.
Pembajakan perangkat lunak tentunya akan merugikan pihak-pihak pengembang
perangkat lunak seperti Microsoft, Norton, Autodesk yang perangkat lunaknya
sering dibajak. Untuk itu pemerintah mengeluarkan undang-undang yang
mengatur tentang Hak Cipta yang juga memuat tentang Hak Kekayaan Intelektual
untuk melindungi pengembang program komputer yang tertuang dalam pasal 12
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.
Maka dalam penelitian ini penyusun menggunakan perangkat lunak Serena
OpenProj yang berlisensi open source yang juga berarti gratis.

B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang di atas penyusun mengidentifikasi masalah penggunaan dari
software OpenProj untuk scheduling dan updating.

2
C. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk :
• Mempelajari pengelolaan dan metode kerja pelaksanaan pembangunan
jembatan,
• Mempelajari penjadwalan dan pengendalian waktu pelaksanaan, dan
• Mengidentifikasi potensi software Serena OpenProj untuk penjadwalan dan
pengendalian waktu.

D. Batasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada scheduling dan updating dengan menggunakan
software Serena OpenProj pada pembangunan Jembatan Susukan Proyek Jalan
Tol Semarang-Solo, Tahap I Ruas Semarang-Bawen, Seksi II Gedawang-
Penggaron.

E. Manfaat
Penelitian ini dilaksanakan dengan harapan hasilnya dapat dimanfaatkan untuk
melihat potensi dari software Serena OpenProj sebagai alat untuk scheduling dan
updating dalam proyek ketekniksipilan.

F. Metodologi Penelitian
Penelitian dilakukan dengan tahapan observasi dan implementasi software.
Observasi yang dilakukan meliputi survei keadaan lapangan, wawancara,
pengambilan data ke pihak kontraktor yang bertujuan untuk mengetahui elemen-
elemen pekerjaan, mempelajari metode kerja lapangan, serta urutan pekerjaan
yang direncanakan untuk dilaksanakan di lapangan. Setelah observasi dilakukan,
penelitian dilanjutkan dengan mengimplementasikan software Serena OpenProj
untuk scheduling dan updating pada pembanguan Jembatan Susukan Proyek
Jalan Tol Semarang-Solo, Tahap I Ruas Semarang-Bawen, Sesi II Gedawang-
Penggaron.

3
BAB 2
SCHEDULING DAN UPDATING

A. Scheduling
Soegeng Djojowirono dalam buku Manajemen Konstruksi menjelaskan
Rencana Kerja/scheduling seperti berikut.

A.1. Pengertian
Yang dimaksud dengan Rencana Kerja (time schedule) ialah suatu pembagian
waktu terperinci yang disediakan untuk masing-masing bagian pekerjaan, mulai
bagian-bagian pekerjaan permulaan sampai dengan bagian-bagian pekerjaan akhir.

A.2. Persiapan Penyusunan Rencana Kerja


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan rencana kerja antara
lain :
• Kedaan Lapangan Kerja (job site/project site)
Perlu diadakan penelitian secara cermat untuk mengetahui keadaan lokasi
pekerjaan atau lapangan kerja secara cermat karena berpengaruh terhadap
waktu yang diperlukan untuk melaksanakan bagian-bagian dari pekerjaan.
• Kemampuan Tenaga Kerja
Yang dimaksud dengan kemampuan tenaga kerja ialah meliputi
jenis/macam tenaga kerja dan jumlah tenaga kerja ialah meliputi
jenis/macam tenaga kerja dan jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan
• Penyediaan Bahan Bangunan
Macam/jenis jumlah dari bahan-bahan bangunan yang akan digunakan
untuk masing-masing bagian pekerjaan perlu diketahui dengan pasti agar
dapat diperhitungkan kebutuhan waktu yang tepat untuk
memperoleh/mendatangkan bahan-bahan tersebut di tempat pekerjaan.

4
• Alat-alat/Peralatan Pembangunan
Untuk pekerjaan-pekerjaan yang besar, pada umumnya perlu menggunakan
alat-alat/peralatan pembangunan atau alat-alat besar. Untuk itu perlu
diketahui jenis/macam dari alat kemampuan/kapasitas dan keadaan/kondisi
dari alat-alat besar tersebut.
• Gambar-gambar Kerja (Shop-drawing)
• Dalam pelaksanaan pekerjaan selain gambar-gambar rencana/gambar
bestek, masih diperlukan gambar kerja (shop drawing) untuk bagian-bagian
pekerjaan konstruksi tertentu. Untuk itu perlu diadakan inventarisasi jenis/
macam dari gambar kerja tersebut.
• Kelangsungan Pelaksanaan Pekerjaan
Dalam menyusun rencana kerja harus dapat menjamin
kelangsungan/kontinuitas pelaksanaan pekerjaan secara keseluruhan dalam
arti bagian-bagian pekerjaan dapat berjalan berurutan dan tidak saling
mengganggu kelancaran keseluruhan pekerjaan.

A.3.Bahan-bahan yang Diperlukan


Untuk menyusun Rencana Kerja diperlukan bahan-bahan yang lengkap dan
terperinci, antara lain:
1) Daftar Volume Pekerjaan
Daftar volume pekerjaan diperoleh dari perhitungan gambar-gambar
rencana/gambar bestek yang selalu memperhatikan Peraturan dan Syarat-
syarat (bestek) dan Berita Acara/Risalah Penjelasan Pekerjaan. Hasil
perhitungan berupa volume dari jenis/macam pekerjaan menurut masing-
masing satuan pekerjaan.
2) Buku Analisis
Untuk pekerjaan-pekerjaan sederhana/kecil dengan konstruksi ringan dapat
menggunakan buku analisa BOW, sedang untuk pekerjaan-pekerjaan besar,
dengan konstruksi berat terutama pekerjaan yang menggunakan peralatan
pembangunan/ alat-alat besar dapat menggunakan standarisasi analisa yang

5
lain.
Buku analisa pekerjaan/standarisasi analisa diperlukan untuk menghitung
waktu yang diperlukan untuk mengerjakan/menyelesaikan setiap satuan
pekerjaan dari masing-masing jenis/macam pekerjaan, baik menggunakan
tenaga kerja maupun menggunakan peralatan pembangunan/alat-alat besar.
3) Tenaga Kerja dan Peralatan
Kebutuhan dan kemampuan tenaga kerja untuk mengerjakan masing-
masing jenis pekerjaan perlu diperhitungkan baik mengenai jumlah maupun
kualitas/keahlian, cukup atau tidaknya persediaan tenaga setempat atau
kemungkinan harus mendatangkan tenaga dari luar daerah.
Demikian pula mengenai kebutuhan alat/peralatan/mesin-mesin
pembangunan perlu diadakan inventarisasi dengan teliti macam/jenis
peralatan yang diperlukan dan kapasitas dari masing-masing peralatan.
4) Data Lapangan
Penelitian dan pengumpulan data dari keadaan lapangan secara terperinci
sangat diperlukan. Dari hasil pengamatan keadaan lapangan dapat
diperhitungkan waktu menurut kenyataan yang diperlukan untuk
mengerjakan/menyelesaikan bagian-bagian pekerjaan.
5) Data lain
Yang dimaksud dengan data lain ialah data waktu untuk menyelesaikan
pekerjaan, yang dimuat dalam buku-buku/majalah-majalah teknik. Data ini
diperlukan sebagai penunjang dari perhitungan waktu yang telah dibuat
untuk pekerjaan sejenis.

6
A.4. Cara Menyusun Rencana Kerja
Rencana kerja disusun berdasarkan bahan-bahan/data yang telah dikumpulkan.
Pelaksanaan penyusunan dilaksanakan sebagai berikut.
1) Daftar Bagian-bagian Pekerjaan
Daftar ini berisi semua bagian pekerjaan pokok yang ada dari pembangunan
yang akan dilaksanakan, termasuk di dalamnya perincian jenis-jenis
pekerjaan dari masing-masing pekerjaan.
2) Urutan Pekerjaan
Dari daftar bagian-bagian pekerjaan pokok disusun urutan pelaksanaan
pekerjaan berdasarkan penentuan/pemilihan dari bagian-bagian pekerjaan
yang dapat dilaksanakan kemudian. Dalam hal ini tidak mengesampingkan
kemungkinan ada bagian-bagian pekerjaan yang dapat dikerjakan dalam
waktu yang bersamaan.
Pada umumnya, baik mengenai macam bagian pekerjaan maupun urutan
pelaksanaan bagian pekerjaan tergantung dari macam bangunan yang
dilaksanakan.
3) Waktu Pelaksanaan Pekerjaan
Yang dimaksud dengan waktu pelaksanaan pekerjaan ialah jangka waktu
pelaksanaan dari seluruh pekerjaan yang dihitung dari permulaan pekerjaan
sampai dengan seluruh pekerjaan selesai.
Waktu pelaksanaan pekerjaan diperoleh dari waktu yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan bagian-bagian pekerjaan yang didapat dari penjumlahan
waktu untuk menyelesaikan jenis-jenis pekerjaan yang didapat dari
penjumlahan waktu untuk menyelesaikan jenis-jenis pekerjaan dari bagian-
bagian pekerjaan yang bersangkutan.
Untuk menghitung waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan suatu
jenis pekerjaan perlu diketahui volume/jumlah dan satuan dari jenis
pekerjaan tersebut, baik yang dilaksanakan dengan tenaga kerja biasa
maupun yang dikerjakan dengan menggunakan alat/peralatan
pembangunan.

7
Waktu yang direncanakan/dihitung untuk menyelesaikan suatu jenis
pekerjaan atau suatu bagian pekerjaan harus didasarkan kepada kemampuan
sistem kerja yang wajar.
Apabila waktu pelaksanaan dari masing-masing bagian pekerjaan telah
dihitung dan bagian-bagian pekerjaan telah disusun menurut urutan yang
sesuai dengan rencana dalam pelaksanaan pekerjaan, maka akan diperoleh
Rencana Kerja secara menyeluruh dari pekerjaan bangunan yang akan
dilaksanakan.
Dalam hal ini diperhitungkan pula waktu-waktu yang diperlukan untuk
menyelesaikan gambar-gambar kerja dan mendatangkan bahan-bahan
bangunan untuk masing-masing bagian pekerjaan yang bersangkutan.

A.5. Jenis Rencana Kerja


Pada umumnya penggunaan/pemilihan jenis Rencana Kerja tergantung dari
macam/jenis pekerjaan bangunan yang dilaksanakan.
Ada beberapa jenis Rencana Kerja, antara lain :
1) Gant Chart
Rencana kerja jenis Gant Chart atau juga disebut Bar Graph Schedule
banyak dipergunakan karena mempunyai bentuk sederhana, mudah dibuat,
cepat dimengerti, dan mudah dibaca.
Bentuk dari rencana kerja ini berupa daftar urutan bagian-bagian pekerjaan
dan garis-garis lurus mendatar yang menunjukkan jangka waktu yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian-bagian pekerjaan yang
bersangkutan.
Walaupun dalam penggunaannya mudah dan praktis, Rencana kerja jenis
ini mempunyai kekurangan dan kelemahan.
Untuk melengkapi dapat ditambahkan data prosentase (%) bobot dari
volume atau anggaran biaya yang tersedia dari masing-masing bagian
pekerjaan terhadap bobot volume atau anggaran biaya pekerjaan secara
keseluruhan

8
2) Coordinate Graph
Rencana kerja jenis Coordinate Graph berupa gambar pertemuan dua
sumbu (absis dan ordinat) yang memuat bagian-bagian pekerjaan dan
waktu pelaksanaan. Dalam rencana kerja ini dapat diketahui secara
langsung hasil dari suatu bagian pekerjaan pada waktu-waktu tertentu.
Demikian pula dapat digambarkan kemajuan pelaksanaan pekerjaan
menurut (schedule progress) dan kemajuan pelaksanaan pekerjaan
menurut kenyataan (actual progress)
3) Hannum Curve
Dalam kurva hannum digambarkan grafik hubungan antara kemajuan
pelaksanaan pekerjaan dalam persen (0% s/d 100%, pada sumbu ordinat)
dan waktu pelaksanaan pekerjaan dalam satuan t (0,00t s/d t, pada sumbu
absis).
Dari penelitian dan pengamatan sejumlah besar pekerjaan bangunan
diperoleh hasil sebagai berikut :
• Kemajuan pelaksanaan pekerjaan yang dicapai pada tahap permulaan
pekerjaan sangat lambat yaitu 0,2t baru diperoleh rata-rata 5% dari
keseluruhan hasil.
• Pada tahap berikutnya tampak peningkatan kemajuan pelaksanaan
pekerjaan, yaitu pada 0,25t dicapai hasil sebesar 10%.
• Pada tahap-tahap selanjutnya kemajuan pelaksanaan pekerjaan terus
meningkat, sehingga pada 0,5t diperoleh hasil 45% dan pada 0,75 t
mencapai hasil kurang lebih 82%.
• Setelah waktu pelaksanaan mencapai 0,8t kemajuan mulai menurun
akibat sebagian besar pekerjaan telah dapat diselesaikan.
• Selanjutnya pada waktu t pekerjaan telah selesai 100%.
4) Network Schedule
Untuk pekerjaan-pekerjaan yang besar yang menggunakan tenaga kerja
cukup banyak dan bermacam-macam alat-peralatan pembangunan, maka
penyusunan rencana kerja dengan menggunakan Gant Chart atau Bar

9
Graph Schedule menjadi sulit. Untuk mengatasi hal ini dapat digunakan
rencana kerja jenis lain, yaitu Network Schedule atau yang lazim disebut
Network Planning. Dalam Network Planning yang digambarkan dalam
bentuk Network Diagram dapat disusun urutan-urutan semua kegiatan dan
bagian-bagian yang direncanakan sedemikian rupa sehingga dapat dilihat
dengan nyata hubungan antara bagian pekerjaan yang satu dengan bagian
pekerjaan yang lain. Dalam Network Diagram setiap kegiatan selalu ada
hubungan/kaitannya dengan kegiatan yang mendahului, kegiatan yang
dapat berjalan dengan bersamaan, dan kegiatan yang langsung
mendahuluinya.
A.6. Manfaat Rencana Kerja
Rencana kerja dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan, antara lain:
1) Alat koordinasi bagi pimpinan
Dengan menggunakan Rencana Kerja, pimpinan pelaksanaan pekerjaan
dapat mengadakan koordinasi semua kegiatan yang ada di lapangan mulai
dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penyelesaian dari
bagian-bagian pekerjaan.
2) Pedoman kerja para pelaksana
Para pelaksana di lapangan dapat menggunakan Rencana Kerja sebagai
pedoman kerja, terutama dalam kaitannya dengan batas-batas yang telah
ditetapkan dari Rencana Kerja untuk masing-masing bagian pekerjaan.
3) Penilaian kemajuan pekerjaan
Kemajuan pelaksanaan pekerjaan untuk setiap bagian pekerjaan dapat
dinilai dengan perantaraan Rencana Kerja dalam hubungannya dalam
ketepatan jangka waktu pelaksanaan pekerjaan.
4) Evaluasi hasil pekerjaan
Hasil pekerjaan dari masing-masing bagian pekerjaan perlu diadakan
evaluasi berdasarkan Rencana Kerja. Hasil evaluasi dapat dipergunakan
sebagai pedoman untuk melaksanakan bagian-bagian pekerjaan yang
sejenis.

10
B.7. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyusunan Rencana Kerja
Rencana kerja pada dasarnya ialah menyusun kegiatan jenis-jenis pekerjaan
dari bagian-bagian pekerjaan yang diukur berdasarkan waktu pelaksanaan untuk
masing-masing jenis pekerjaan.
Setiap pekerjaan dari suatu jenis pekerjaan memerlukan sumber daya yang
berupa tenaga kerja, peralatan, dan bahan. Ketiga sumber daya ini merupakan
sebagian dari faktor-faktor yang mempengaruhi penyusunan Rencana Kerja.
Faktor-faktor lain yang juga berpengaruh dan perlu diperhatikan dalam
penyusunan Rencana Kerja antara lain sifat konstruksi bangunan, cuaca, hari
libur, dan jangka waktu pelaksanaan pekerjaan.
1) Tenaga kerja
Faktor tenaga kerja yang tersedia atau yang harus disediakan di tempat
pekerjaan, baik mengenai kuantitas/jumlah ataupun kualitas/keahlian yang sangat
berpengaruh dalam penyusunan suatu Rencana Kerja. Penyediaan tenaga kerja
meliputi tenaga kerja biasa, tenaga terampil, dan tenaga ahli. Untuk setiap jenis
pekerjaan memerlukan tenaga kerja tertentu baik mengenai jumlah maupun
keahliannya dalam mengerjakan/menyelesaikan pekerjaan tersebut. Untuk
pekerjaan-pekerjaan yang besar dan menggunakan tenaga kerja yang cukup
banyak, perlu disusun tersendiri secara rinci rencana kerja (man power planning).

2) Peralatan
Untuk pekerjaan-pekerjaan yang besar atau pekerjaan yang menggunakan
peralatan terutama alat-alat besar, perlu diperhitungkan dengan teliti kemampuan
dari peralatan yang tersedia di tempat pekerjaan. Yang dimaksud kemampuan dari
peralatan juga kapasitas serta kondisi/keadaan dari masing-masing peralatan yang
digunakan.
Setiap jenis pekerjaan yang menggunakan peralatan, telah diketahui atau dapat
diperhitungkan jenis peralatan yang digunakan dan berapa waktu yang diperluakan
untuk menyelesaikan jenis pekerjaan tersebut.
Dari urutan bagian/jenis pekerjaan yang telah disusun dalam Rencana Kerja,

11
maka dapat pula disusun jadwal waktu kapan peralatan yang bersangkutan harus
disediakan dalam keadaan siap pakai.

3) Bahan bangunan
Pada waktu menghitung volume dari setiap jenis pekerjaan dalam penyusunan
Rencana Anggaran Biaya dapat diketahui pula jenis/macam dan jumlah/volume
dari bahan-bahan bangunan yang dipergunakan untuk keperluan penyelesaian dari
seluruh pekerjaan. Pada umumnya penyediaan bangunan di tempat pekerjaan
dilaksanakan secara bertahap. Hal ini erat hubungannya dengan penyediaan
tempat/gudang penyimpanan bahan bangunan dan juga segi pembayaran.
Yang perlu diperhatikan ialah agar selalu dijaga kelancaran pekerjaan tidak
terganggu akibat kelambatan pendatangan atau penyediaan bahan bangunan.
Untuk pekerjaan-pekerjaan besar perlu disusun tersendiri rencana kerja
penyediaan bahan-bahan bangunan yang dikaitkan dengan Rencana Kerja seluruh
pekerjaan.

4) Sifat konstruksi bangunan


Yang dimaksud dengan sifat konstruksi bangunan ialah berat atau ringannya
bagian-bagian konstruksi dari bangunan. Untuk bangunan dengan konstruksi
berat, perlu dipertimbangkan segala kemungkinan akan terjadinya kesulitan dalam
pelaksanaan. Oleh karena itu untuk setiap jenis konstruksi perlu diteliti dengan
seksama cara-cara pelaksanaan dan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
konstruksi tersebut.

5) Cuaca
Faktor cuaca dalam penyusunan Rencana Kerja perlu mendapat perhatian
khusus terutama dalam hubungannya dengan hari-hari hujan yang terjadi selama
jangka waktu pelaksanaan pekerjaan. Untuk keperluan itu, data statistik curah
hujan di daerah tempat pekerjaan dilaksanakan perlu dikumpulkan dan dipelajari
secara teliti. Banyak jenis-jenis pekerjaan yang tidak mungkin dikerjakan selama

12
hari-hari hujan. Pelaksanaan pekerjaan tidak dapat tepat sesuai Rencana Kerja,
salah satu sebabnya ialah akibat kurang memperhatikan/memperhitungkan faktor
cuaca pada waktu menyusun Rencana Kerja.

6) Hari libur
Yang termasuk hari libur yaitu hari Minggu dan hari-hari raya nasional. Jumlah
hari Minggu dapat dilihat dari kalender tahunan, sedang hari-hari raya nasional
ditetapkan oleh pemerintah yang berkisar kurang lebih 14 hari dalam satu tahun.
Menurut peraturan yang berlaku, dalam satu minggu terdapat enam hari kerja
dengan rata-rata 8 jam kerja/hari, dan dengan maksimal 40 jam/minggu.
Kelebihan dari jam kerja per minggu harus diperhitungkan sebagai kerja lembur.

7) Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan


Pada umumnya jangka waktu pelaksanaan pekerjaan selain ditentukan oleh
besar kecilnya pekerjaan, juga tergantung dari sulit/berat ringannya sifat dari
pekerjaan. Makin panjang/lama jangka waktu pelaksanaan pekerjaan makin
banyak masalah yang perlu diperhitungkan dengan teliti dalam penyusunan
Rencana Kerja. Sebaliknya makin pendek jangka waktu pelaksanaan pekerjaan
makin sedikit pula masalah yang timbul selama pelaksanaan pekerjaan.
Pelaksanaan pekerjaan, baik dalam jangka waktu pendek maupun dalam jangka
waktu panjang terdapat waktu-waktu tertentu dilaksanakan kegiatan-kegiatan
puncak dari jenis-jenis pekerjaan tertentu. Makin lama/panjang jangka waktu
pelaksanaan suatu pekerjaan makin banyak pula jenis kegiatan puncak. Waktu
kegiatan pelaksanaan puncak ini sangat berpengaruh terhadap waktu penyelesaian
seluruh pelaksanaan pekerjaan. Oleh karena itu dalam penyusunan suatu Rencana
Kerja, waktu-waktu pelaksanaan kegiatan puncak ini perlu mendapat perhatian
secara seksama. Sering terjadi kelambatan pelaksanaan pekerjaan yang tidak
sesuai Rencana Kerja semula, timbul akibat kurang
memperhatikan/memperhitungkan waktu-waktu pelaksanaan kegiatan puncak ini.

13
B. Updating
B.1. Pengertian
Updating adalah kegiatan memantau pelaksanaan dari proyek dengan
memanfaatkan rencana kerja. Kegiatan ini disebut juga dengan monitoring.
Monitoring dalam proyek dapat disertai dengan sistem pelaporan sebagai
pemantauan terhadap pelaksanaan proyek. Istimawan Dipohusodo dalam buku
Manajemen Proyek & Konstruksi Jilid 1 menjelaskan bahwa monitoring dan
pelaporan adalah alat-alat yang diperlukan untuk pengendalian dan pengawasan
proyek. Monitoring dapat diartikan sebagai mengamat-amati dan mempengaruhi
kegiatan-kegiatan pokok dan hasil pekerjaan. Pelaporan berarti memberikan
informasi kepada seseorang tentang kemajuan, masalah-masalah, dan
kemungkinan-kemungkinan di kemudian hari. Sedangkan pengawasan atau
pengendalian cenderung berarti mengambil tindakan yang perlu pada saat yang
tepat.
Monitoring berbeda dengan evaluasi, yang mana monitoring mengukur apakah
proyek masih tetap pada jalannya, sedangkan evaluasi mempermasalahkan apakah
proyek berjalan pada jalan yang benar. Monitoring proyek kebanyakan mengenai
masukan-masukan dan keluaran-keluaran, serta membandingkan hasil pekerjaan
yang dapat dicapai terhadap yang direncanakan dalam jangka proyek. Sedangkan
evaluasi pada umumnya mengenai tujuan fungsional proyek dan tujuan program,
dan memeriksa dampak jangka panjang proyek. Dengan demikian, monitoring
merupakan sebuah suatu proses yang terus menerus atau kontinu, sedangkan
evaluasi merupakan peristiwa berkala. Karena proyek biasanya menggunakan
organisasi bentukan baru bersifat adhoc (sementara), maka sistem monitoring dan
pelaporan tradisional yang biasa diterapkan pada manajemen rutin mungkin perlu
penyesuaian terhadap tuntutan keadaan proyek yang bersifat khusus tersebut.
Manajemen Proyek harus memutuskan hal-hal apa dan dimana saja yang harus
di-monitor. Ketentuan tersebut penting karena monitoring memerlukan biaya,
tenaga, dan waktu. Staf proyek tidak dapat dan memang tidak perlu me-monitor
semua segi proyek dengan bobot perhatian yang sama. Lebih baik mereka

14
memusatkan perhatian untuk me-monitor pada rambu-rambu peringatan (mile-
stones) yang penting. Mile-stones adalah seperti rambu-rambu lalu lintas di jalan
raya. Rambu-rambu tersebut adalah titik-titik di sepanjang perjalanan yang
memungkinkan kita untuk memeriksa kemajuan dan memastikan bahwa tetap
berada di lintasan jalan yang benar. Tempat-tempat yang menyataan letak dari
rambu-rambu sudah tercantum dalam Kerangka Logis dan Jadwal Pelaksanaan
baik yang merupakan jaringan kerja maupun bagan balok. Pada Kerangka Logis,
rambu-rambu peringatan terdapat pada indikator-indikator pada jenjang keluaran
dan tujuan fungsional proyek, termasuk asumsi-asumsi yang bersangkutan.
Sedangkan pada Jadwal Pelaksanaa dapat langsung diketahui. Rambu-rambu
tersebut bukan sekedar hal yang mudah diukur, tetapi berupa hal-hal yang
menentukan dan menyetakan keberhasilan proyek.

B.2. Format Monitoring


Istimawan Dipohusodo dalam buku Manajemen Proyek & Konstruksi Jilid 1
menjelaskan bahwa suatu rencana monitoring dan pelaporan merangkum masalah-
masalah yang secara aktif harus selalu diamati, dipengaruhi, dan dilaporkan
selama berlangsungnya pelaksanaan. Rencana dengan jelas menggariskan hal-hal:
apa saja yang perlu diketahui, kapan harus diketahui, bagaimana cara
memperolehnya, dan siapa saja yang memerlukan informasi tersebut. Untuk setiap
hal yang akan di-monitor rencana monitoring menetapkan hal-hal sebagai berikut.
(a) Saat kapan monitoring atau laporan harus dilaksanakan;
(b) indikator-indikator yang bersangkutan dengan kemajuan pekerjaan;
(c) tingkat keberhasilan yang diharapkan untuk masing-masing indikator
tersebut;
(d) sumber-sumber data untuk membuktikan indikator, dan
(e) manajer atau pejabat yang harus diberi laporan.

Selain itu, masih terdapat hal-hal khusus yang juga harus di-monitor yang pada
umumnya berkaitan dengan kemajuan pekerjaan, masalah-masalah teknis, dan

15
faktor-faktor pembiayaan, yang mungkin saja berbeda-beda dari satu proyek ke
proyek lainnya. Pada umumnya lima jenis informasi yang merupakan bagian dari
suatu rencana monitoring diperlukan dari kelompok yang disebut terakhir, yaitu:
• kegiatan-kegiatan pekerjaan proyek yang sedang dikerjakan dan
kemajuannya ke arah keluaran sesuai rencana,
• pembiayaan proyek sampai dengan saat dilaporkan dan untuk masa
kemudian,
• sumber daya yang tersedia dan penggunaannya,
• jadwal yang realistis dan penyesuaian serta perubahan yang diperlukan,
• masalah-masalah di bidang administrasi dan organisasi.

Dari kesemua hal yang harus di-monitor tersebut di atas, mungkin perlu
diingatkan bahwa untuk dapat tersusun suatu rencana monitoring yang realistis
dan praktis, pada dasarnya diinginkan menggunakan tidak selalu banyak indikator
untuk suatu masalah akan tetapi mampu memberikan jangkauan informasi seluas-
luasnya mengenai ukuran kemajuan proyek yang wajar.
Dalam menentukan dan memilih sesuatu indikator, Tim Proyek harus tahu
persis dari sumber data mana dapat diperoleh ukuran-ukuran, atau masih harus
melalui upaya untuk mendapatkannya sehingga harus terjawab pula pertanyaan
tentang bagaimana cara pengadaannya. Untuk beberapa hal, seperti informasi yang
berkaitan dengan anggaran keuangan dan pembiayaan proyek, sumbernya telah
tersedia. Demikian pula untuk indikator-indikator yang berkaitan dengan
penggunaan dan efektivitas sumber daya tentunya mudah untuk diupayakan, yaitu
dari pengelola kegiatan, pengelola proyek, ataupun Tim Monitoring. Sedangkan
untuk indikator yang lebih luas sifatnya yang merupakan data sudah terproses,
mungkin harus diupayakan bantuan dari luar proyek untuk mendapatkannya, darai
Kantor Pusat Statistik misalnya.

16
BAB 3
SERENA OPENPROJ

A. Pendahuluan
(Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/OpenProject)
OpenProj adalah perangkat lunak untuk manajemen proyek yang dapat
digunakan sebagai pengganti dari perangkat lunak Microsoft Project. Perangkat
lunak yang berbahasa Inggris ini dikembangkan oleh Projity pada tahun 2007.
Perangkat lunak ini dirilis pertama kali pada tanggal 6 Agustus 2007. OpenProj
bekerja dalam sistem operasi Java Platform sehingga perangkat lunak ini dapat
bekerja dalam sistem operasi komputer yang berbeda seperti Windows, Linux,
Macintosh, dan Unix. OpenProj keluar dari versi betanya dan merilis versi 1.0
pada 10 Januari 2008. Di akhir tahun 2008, Projity acquired (cek) oleh Serena
Software. Pada awal tahun 2009 dukungan untuk OpenProj dan pengembangan
OpenProj kelihatan cek suspended. Pada pertengahan tahun 2009 semua
pengembangan open-source muncul untuk di..cek: supended dengan semua
weblink diarahkan ke Serena dan situs www.projity.org ditutup. Akan tetapi
perangkat lunak tetap berlisensi open source sekalipun sudah bersama
pengembang Serena Software yang bersifat komersial. Versi paling stabil yang
telah dirilis adalah versi OpenProj 1.4 yang dirilis pada September 2008.
Versi OpenProj 1.4 termasuk fitur:
• Earned Value costing
• PERT graph
• Resource Breakdown Structure (RBS) chart
• Task usage report
• Work Breakdown Structure (WBS) chart

1) Popularitas
Perangkat lunak ini sudah diunduh lebih dari 800.000 kali di lebih dari 142

17
negara. Tiga bulan setelah versi betanya dirilis, rata-rata 40.000 kopi per bulan
diunduh dari SourceForge. Pada Mei 2008 jumlah total yang telah diunduh
mencapai 500.000 kopi.
2) Perbandingan dengan Microsoft Project
Jika dibandingkan dengan perangkat lunak Microsoft Project, perangkat lunak
OpenProj juga menggunakan tampilan pengguna yang mirip dengan perangkat
lunak Microsoft Project dan pendekatan yang sama untuk mengerjakan rencana
proyek, yaitu :
• Membuat daftar pekerjaan atau work breakdown structure
• Masukkan durasi pekerjaan
• Kerjakan hubungan melalui mouse drag, seleksi dan button down (cek),
atau secara manual di kolom predecessor
• Memasukkan sumber daya (resources)

Kolom-kolom yang ada pada OpenProj adalah sama dengan untuk Microsoft
Project. Biaya (cost) adalah sama seperti pekerja, hourly rate, penggunaan
meterial, dan fix cost, semuanya tersedia. Namun, terdapat perbedaan antara
keduanya dalam hal memasukkan resources, biaya, dan lainnya. Format dari file
perangkat lunak Serena OpenProj adalah berekstensi “*.pod”. Perangkat lunak ini
juga bisa membaca file yang dibuat dengan format Microsoft Project 2007 (*.mpp,
.mpx), Microsoft Project 2003 XML (*.xml), Gnome Planner (*.planner).

B. Penggunaan Perangkat Lunak


Perangkat lunak OpenProj juga beroperasi dengan fungsi-fungsi perangkat
lunak pada umumnya. Namun fungsi-fungsi lainnya juga terdapat pada perangkat
lunak sesuai kebutuhan dari perangkat lunak sebagai perangkat lunak manajemen
proyek. Fungsi-fungsi tersebut adalah sebagai berikut.

18
1) File, yang terdiri atas :

a) New Project, untuk memulai proyek yang baru,

19
b) Open, untuk membuka proyek yang sudah dibuka sebelumnya,
c) Close, untuk menutup proyek yang sedang dibaca,
d) Save, untuk menyimpan file yang sedang dibaca,
e) Save As, untuk menyimpan file yang sedang dibaca dengan nama
tertentu,
f) Print, untuk mencetak file menjadi hardcopy,
g) Print Preview, untuk melihat tampilan file yang akan dicetak,
h) PDF, untuk mengubah format dari file menjadi Portable Document
Format,
i) Exit, untuk keluar dari program.
2) Edit, yang terdiri atas :

a) Cut, untuk memotong bagian yang akan dipindahkan ke tempat lain,


b) Copy, untuk menyalin bagian tertentu,
c) Paste, untuk menempelkan bagian yang disalin atau dipotong dari
tempat lain,
d) Delete, untuk menghapus bagian tertentu,
e) Find, untuk menemukan teks atau hal lainya dengan mencari sesuai
keperluan,
f) Link, untuk menghubungkan antar pekerjaan,
g) Unlink, untuk memutuskan hubungan antar pekerjaan,

20
h) Undo, untuk membatalkan pekerjaan yang telah dikerjakan,
i) Redo, untuk melaksanakan kembali pekerjaan yang telah dibatalkan.
3) View, untuk memilih cara melihat file, terdiri atas:

a) Gantt, untuk melihat Gantt Chart pada proyek,


b) Network, untuk melihat diagram jaringan (network diagram) pada
proyek,
c) Resources, untuk melihat sumber daya yang digunakan dalam proyek,
d) WBS, untuk melihat bagan work breakdown structure pada proyek,
e) RBS, untuk melihat bagan resource breakdown structure pada proyek,
f) Reports, untuk melaporkan gambaran umum proyek,
g) Task Usage, untuk melihat detail pelaksanaan pekerjaan sampai pada
jumlah jam kerja,
h) Rosource Usage, untuk melihat penggunaan dari sumber daya yang
ada,
i) Histogram
j) Charts

21
k) Task Usage (chart)
l) Rosource Usage (chart)
4) Insert, terdapat fitur New Task/Resource yang berfungsi untuk
memasukkan pekerjaan atau sumber daya yang baru,

22
5) Tools, yang terdiri atas:

a) Change Working Calendar, yaitu untuk mengganti setelan dari


kalender kerja yang digunakan dalam proyek,
b) Assign Resources, yaitu untuk memasukkan jumlah sumber daya yang
digunakan untuk kegiatan tertentu,
c) Tracking, yaitu untuk mengecek perkembangan dari proyek maupun
permulaan dari proyek,
6) Project, yang terdiri dari:

23
a) Task/Resource Information, yaitu fitur yang berisi tentang informasi
mengenai pekerjaan atau sumber daya tertentu pada proyek,
b) Task/Resource Notes, yaitu catatan mengenai kegiatan atau sumber
daya yang digunakan dalam proyek,
c) Projects, yaitu fitur yang berisi informasi umum tentang proyek,
d) Projects Information, yaitu fitur yang berisi tentang informasi umum,
statistik, maupun catatan mengenai proyek,
e) Nama proyek yang sedang dibuka, yaitu nama proyek yang sedang
dibaca oleh program,
7) Help, yang terdiri dari:

24
a) About Serena, yaitu fitur yang memberikan informasi umum tentang
perangkat lunak,
b) Serena Help, yaitu fitur penolong yang berisi informasi mengenai
perangkat lunak,
c) Tip Of The Day, yaitu tips mengenai perangkat lunak.

Perangkat lunak Serena OpenProj juga mengakomodasi beberapa fitur yang


dalam bentuk kolom-kolom yang bermanfaat untuk perencanaan, pelaksanaan,
maupun evaluasi proyek. Beberapa dari kolom-kolom itu adalah sebagai berikut.

• Indicators, yaitu kolom yang menunjukkan indikator mengenai pekerjaan,


• Name, yaitu kolom yang berisi nama dari pekerjaan,
• Start, yaitu waktu dimulainya pekerjaan,
• Finish, yaitu waktu selesainya pekerjaan,
• Duration, yaitu durasi atau lamanya pelaksanaan pekerjaan,
• Cost, yaitu biaya yang digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan,
• Predecessor, yaitu pekerjaan yang menjadi syarat keberadaan pekerjaan

25
lain,
• Succesor, yaitu pekerjaan yang keberadaannya dipengaruhi,
• Baseline Start, yaitu rencana awal waktu dimulainya pekerjaan,
• Baseline Finish, yaitu rencana awal waktu selesainya pekerjaan,
• Baseline Duration, yaitu rencana awal durasi pelaksanaan pekerjaan,

• Baseline Cost, yaitu rencana awal biaya pelaksanaan pekerjaan,


• Actual Start, yaitu waktu kenyataan mulainya pekerjaan,
• Actual Finish, yaitu waktu kenyataan selesainya pekerjaan,
• Actual Duration, yaitu durasi kenyataan pelaksanaan pekerjaan,
• Actual Cost, yaitu biaya kenyataan pelaksanaan pekerjaan,
• Complete, yaitu kolom yang menyediakan kotak untuk mencentang
pekerjaan yang sudah selesai,
• Remaining Duration, yaitu durasi sisa yang merupakan durasi pekerjaan
yang masih harus dikerjakan,
• Remaining Cost, yaitu biaya sisa yang merupakan biaya yang masih harus
digunakan,

26
• Constraint Type, yaitu kolom yang menyediakan pilihan jenis batasan yang
pekerjaan,
• Constraint Date, adalah tanggal yang menjadi batasan sesuai dengan jenis
batasan,
• Critical, yaitu kolom yang memberikan informasi mengenai kegiatan-
kegaitan yang bersifat kritis karena merupakan kegiatan yang berpengaruh
langsung kepada waktu selesainya keseluruhan proyek,
• Deadline, yaitu kolom yang menunjukkan batasan waktu selesainya
pekerjaan,
• Early Start, yaitu waktu terawal mulainya suatu pekerjaan berdasarkan
waktu mulainya proyek,
• Early Finish, yaitu waktu terawal selesainya suatu pekerjaan berdasarkan
waktu mulainya proyek,
• Late Start, yaitu waktu paling lambat mulainya suatu pekerjaan
berdasarkan waktu selesainya proyek,
• Late Finish, yaitu waktu paling lambat selesainya suatu pekerjaan
berdasarkan waktu selesainya proyek.

C. Pembuatan schedule dan pengerjaan updating dengan menggunakan


perangkat lunak Serena OpenProj
Pembuatan schedule dengan menggunakan perangkat lunak Serena OpenProj
melalui tahap-tahap sebagai berikut.
• Menetapkan objek yang akan dibangun dan unsur-unsur bangunan.

27
• Menentukan Work Breakdown Structure (WBS) berdasarkan unsur-unsur
bangunan mulai dari pekerjaan keseluruhan sampai komponen pekerjaan
terkecil sehingga diperoleh nama-nama kegiatan komponen terkecil.
• Memasukkan data nama-nama pekerjaan ke dalam kolom name.
• Menentukan hubungan ketergantungan antar pekerjaan dengan
memasukkan jenis hubungan (SS, SF, FS, atau FS) pada kolom
predecessor serta durasi waktu lag-nya.
• Menentukan tanggal mulai dan selesainya setiap pekerjaan.

Setelah schedule selesai dibuat, schedule dapat ditampilkan dalam bentuk


Network Diagram yang menunjukkan diagram hubungan antar pekerjaan. Untuk
memasukkan rencana awal pekerjaan, tanggal yang sudah ada dapat dimasukkan
sebagai data baseline dengan tahapan Tools > Tracking > Save Baseline > pilih
baseline dan peruntukan baseline (seluruh proyek atau item pekerjaan yang
dipilih). Baseline juga dapat dihapus dengan tahapan Tools > Tracking > Clear
Baseline > pilih baseline dan penerapan penghapusan (seluruh proyek atau item
pekerjaan yang dipilih). Baseline akan terlihat pada bar chart dalam bentuk
Untuk pekerjaan updating, tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut.
• Menentukan tanggal mulai dan durasi pelaksanaan aktual terakhir dari
pekerjaan untuk waktu tertentu.
• Tahap memasukkan data adalah melalui tahapan Tools > Tracking >
Update Task > masukkan data tanggal mulai pada bagian Actual Start dan
durasi aktual pada Actual Duration.

Data updating akan terlihat pada bar chart dalam bentuk garis hitam tebal yang
berada di tengah bar chart yang panjangnya sesuai durasi aktual. Apabila
pekerjaan sudah selesai 100%, maka tanda centang warna hijau akan muncul pada
kolom indicator.

28
BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendahuluan
Penelitian ini dilakukan dengan melaksanakan beberapa kegiatan seperti
berikut.
1. Observasi
Penyusun melakukan observasi lapangan untuk melihat langsung kondisi
di lokasi pembangunan Jembatan Penggaron. Di lapangan, penyusun
mendokumentasikan beberapa bagian dari kondisi lapangan seperti
keadaan struktur, pekerja, dan alat-alat yang digunakan dalam proses
pembangunan. Dengan demikian, kondisi di lapangan dapat diketahui guna
pengolahan data teoritis yang dikerjakan.
Penyusun melakukan wawancara kepada pihak yang mengetahui proyek
terutama pada bagian scheduling yang digunakan pada proyek. Dari
wawancara diperoleh data-data yang dibutuhkan untuk analisis yang lebih
detail dan lebih mendekati kondisi nyata di lapangan. Kondisi yang
dimaksud meliputi proses pembuatan schedule, proses pembangunan di
lapangan, kendala-kendala, maupun strategi dari kontraktor untuk
menyelesaikan proyek dengan baik.
Dari hasil observasi, penyusun mendapatkan data primer berupa metode
kerja lapangan, kendala-kendala di lapangan, dan solusi yang diterapkan
untuk menyelesaikan kendala-kendala tersebut. Data sekunder yang
didapatkan penyusun berupa gambar kerja, data schedule pembangunan,
dan data realisasi pembangunan yang berupa tanggal pekerjaan.
2. Implementasi perangkat lunak Serena OpenProj pada pekerjaan
scheduling dan updating
Penyusun menggunakan perangkat lunak Serena OpenProj untuk
pekerjaan scheduling dan updating yang sesuai dengan data yang diperoleh

29
dari observasi untuk mengetahui potensi perangkat lunak untuk digunakan
sebagai alat scheduling dan updating. Dalam bagian ini penyusun
mengolah kembali data scheduling yang sudah diperoleh mengingat data
dari kontraktor yang kurang lengkap karena memang data pekerjaan yang
sudah diselesaikan dihapus dari rencana. Hal ini ditujukan agar
penggunaan perangkat lunak sebagai alat updating dapat terlihat secara
nyata.

B. Obyek Penelitian
Objek penelitian ini adalah schedule pada pembangunan Jembatan Susukan
Pada Proyek Pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo, Tahap I Ruas Semarang-
Bawen, Seksi II Gedawang-Penggaron.

C. Tahapan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut.
1) Observasi Awal, Identifikasi Masalah dan Tujuan Penelitian
Penyusun melakukan survei keadaan untuk menemukan sesuatu yang bisa
diangkat menjadi tema penelitian. Ide penyusun kemudian dikonsultasikan
dengan pembimbing penelitian agar penelitian benar-benar sesuai dengan
standar kajian akademis. Konsultasi menghasilkan tujuan penelitian yang
menjadi target pengerjaan penelitian.
2) Studi Pustaka dan Observasi
Penyusun mencari beberapa literatur yang mendukung penelitian. Pustaka
yang dijadikan acuan dapat berasal dari buku maupun media internet.
Selain itu, penyusun juga melakukan observasi ke lapangan dan konsultasi
ke beberapa orang dari pihak kontraktor yang menangani secara langsung
pekerjaan seperti pelaksana lapangan, staf teknik, dan staf administrasi
konstruksi di kantor proyek. Studi pustaka dilakukan untuk mempelajari
scheduling, updating, dan perangkat lunak Serena OpenProj.
3) Pengumpulan Data

30
Penyusun mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian. Data-
data ini diperoleh dari kontraktor berupa file atau hasil konsultasi dengan
pihak kontraktor. Dokumen yang dikumpulkan penyusun juga termasuk
gambar teknis yang digunakan untuk pembangunan jembatan.
Pengumpulan data disesuaikan dengan kebutuhan penelitian penyusun.
4) Analisis Data
Analisis Data dilakukan sesuai dengan data yang sudah diperoleh
sebelumnya. Analisis ini menggunakan data-data untuk menemukan
konsep yang benar mengenai permasalahan yang terjadi. Dari analisis data
solusi dari permasalahan ditargetkan untuk bisa diselesaikan. Analisis data
termasuk pengolahan data yang meliputi melengkapi schedule dan input
data updating.
5) Hasil Analisis
Hasil Analisis merupakan hasil pengolahan data-data yang diperoleh. Dari
hasil ini dapat ditarik beberapa hal yang berkaitan dengan tujuan
penelitian.
6) Kesimpulan dan Saran
Dari hasil analisis dapat ditarik kesimpulan yang merangkum hal-hal
esensial dari pembahasan. Kemudian saran diberikan sesuai dengan
keadaan yang terjadi agar untuk waktu yang selanjutnya, kualitas dapat
ditingkatkan.

31
D. Bagan Tahapan Penelitian

Mulai

Observasi Awal, Identifikasi Masalah


dan Tujuan Penelitian

Studi Pustaka
dan Observasi

Pengumpulan Data

Analisis Data
-melengkapi schedule
-input data updating

Kesimpulan dan Saran

Hasil Analisis

Selesai

32
BAB 5
HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Proyek
A.1. Latar Belakang
Jalan merupakan sarana transportasi yang dibutuhkan oleh sebagian besar
manusia. Hal ini disebabkan oleh adanya kebutuhan untuk mencapai tempat
lain untuk tujuan tertentu masing-masing individu. Untuk itu, jalan dibangun
sesuai kebutuhan yang ada.
Pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo juga dilatarbelakangi oleh
kebutuhan perpindahan tempat oleh masyarakat yang mempunyai kepentingan
di Semarang atau Solo. Kebutuhan itu sebenarnya sudah diakomodasi oleh
jalan yang telah dibuat sebelumnya. Namun, kebutuhan yang ada berkembang
sesuai kemajuan peradaban manusia. Itu sebabnya, jalan tol dikembangkan
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat baik untuk kepentingan pribadi
maupun industri akan pencapaian tempat dengan waktu yang lebih singkat.
Pencapaian tempat yang singkat akan menghemat penggunaan waktu yang
juga berarti menghemat penggunaan uang. Dengan demikian, pembangunan
Jalan Tol Semarang-Solo akan meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat baik
secara personal maupun industri.

A.2. Data Proyek


Proyek Jalan tol Semarang-Solo, Tahap I Ruas Semarang-Bawen melewati
Kelurahan Gedawang, Kelurahan Susukan, dan Kelurahan Penggaron,
kecamatan Banyumanik, Kabupaten Semarang. Trase jalan tol tersebut berawal
dari Simpang Susun Semarang dan berakhir di Simpang Susun Bawen,
kecamatan Bawen. Dan nantinya jalan tol ini akan melewatkan akses jalan
utama yaitu jalan Perintis Kemerdekaan, sampai Jalan Jend.Gatot Subroto,
Kawasan Ungaran. Kantor lapangan PT.Waskita Karya terletak di Berkantor di
Jl.Urip Sumoharjo No.06 Bandarejo, Ungaran – Semarang.

33
34
A.2.1.Data Umum
Nama Proyek : Jalan Tol Semarang-Solo Tahap I Ruas
Semarang-Bawen
Lokasi : Seksi II Gedawang-Penggaron (Sta. 3+525 -
8+475)
Pemilik Proyek : PT. Trans Marga Jateng
Kontraktor : PT. Waskita Karya
Konsultan Supervisi : PT. Cipta Strada
Konsultan Perencana : PT. Virama Karya and Asc. (PT.Delta Tama
Wadja, PT.Tata Guna Patria, dan PT.Pola Agung)
Tanggal Kontrak : 13 Mei 2009
Nomor Kontrak : TMJ.KJP./V/2009/003
Nilai Kontrak : Rp365.687.562.000,00 (termasuk PPN)
Jenis Kontrak : Unit Price
Sumber Dana : PT. Trans Marga Jateng
Waktu Pelaksanaan : 395 hari kalender
Masa Pemeliharaan : 1.089 hari kalender

A.2.2.Data Teknik
Panjang Jalan : 4.950 meter (termasuk jembatan)
Lebar Jalan : 2 x 11.7 meter
Perkerasan Jalan : Rigid Pavement (t = 31 cm)
Jenis Struktur :
a. Jembatan Susukan
Panjang : 465 meter
Lebar : 2 x 12,60 meter
Fondasi : Bored Pile 120 cm (302 titik)
Gelagar Jembatan : 11 bentang @ 40 meter
b. Jembatan Penggaron
Panjang : 421 meter

35
Lebar : 2 x 12,60 meter
Fondasi : Bored Pile d 120 cm (180 titik)
Gelagar Jembatan : 10 bentang @ 40 meter
c. Overpass (4 buah) : Sta. 4+333, 4+949, 5+226, 7+713
d. Box Traffic (2 buah) : Sta. 3+772, 4+055
e. Escape Ramp (3 buah) : Sta. 3+600, 4+300, 6+950

36
A.3. Manajemen Proyek
A.3.1. Tinjauan Umum
Proyek seksi II, yaitu trase Gedawang-Penggaron direncanakan dalam
masa pelaksanaan 13 bulan kalender, yaitu mulai pada 1 Juni 2009 sampai
31 Juli 2010. Pada periode tersebut, pengelola proyek harus mampu secara
optimal menyelesaikan pekerjaan tersebut sesuai rencana dan tepat waktu.
Karena itu, manajemen harus benar-benar dirancang secara rinci, hati-hati,
dan reliable. Karena meskipun kendala terjadi, pekerjaan harus tetap
diselesaikan sesuai waktu pencapaian.

A.3.2. Unsur Pengelolaan Proyek


A.3.2.1. Pemilik proyek
Pemilik proyek atau owner adalah lembaga pemilik pekerjaan atau
disebut sebagai pemilik modal. Owner adalah pihak yang melelangkan
pekerjaannya kepada perusahaan-perusahaan untuk melaksanakan
pekerjaan, mulai dari perencana, pelaksana, sampai lembaga pengawas
pekerjaan tersebut.
Pada Proyek Jalan Tol Semarang-Bawen, PT. Trans Marga Jateng
adalah pemilik modal. PT. Trans Marga Jateng merupakan sub-
perusahaan dari PT. Jasa Marga (Persero) Tbk, yaitu perusahaan BUMN
yang bergerak khusus menangani jalan tol di kawasan Jawa Tengah.
Lingkup perusahaan meliputi perencanaan, pengelolaan, pengembangan,
pembangunan jalan tol baru, peningkatan fasilitas tol, serta bisnis lain
yang terkait dengan industri jalan tol.

37
Gambar 1.3. Struktur Organisasi Owner

38
A.3.2.2. Konsultan Perencana
Perencana merupakan badan/orang yang bertugas merencanakan apa
yang akan dikerjakan. Perencanaan ini meliputi perencanaan fisik
pekerjaan yang akan dilakukan, yang secara umum merupakan
perencanaan fisik proyek. Produk dari perencanaan ini meliputi gambar
rencana dan spesifikasi proyek.
Perencanaan jalan tol dilakukan oleh PT.Virama Karya dengan
beberapa perusahaan sebagai asisten, yaitu: PT.Delta Tama Wadja,
PT.Tata Guna Patria, dan PT.Pola Agung.

A.3.2.3 Kontraktor / Pelaksana


Kontraktor atau pelaksana adalah lembaga/orang yang bekerja
melaksanakan pekerjaan yang telah ditentukan sesuai rencana. Kontraktor
melaksanakan pekerjaan berdasarkan pada gambar dan spesifikasi
rencana yang telah direncanakan. Modal utama kontraktor sendiri terletak
pada manajemen proyek. Karena itu manajemen di sini dapat disebut
sebagai senjata utama bagi kontraktor untuk dapat secara optimal
menyelesaikan pekerjaan.
Pelaksana pekerjaan Proyek Jalan tol Semarang-Bawen Seksi II,
Gedawang-Penggaron adalah PT.Waskita Karya sebagai kontraktor
utama. PT.Waskita Karya dibantu oleh beberapa sub-kontraktor. Sub-
kontraktor ini yang langsung menangani pekerjaan di lapangan.
Hal penting yang perlu diketahui bahwa pelaksanaan tidak selalu
sesuai dengan perencanaan. Terkadang muncul kendala-kendala tertentu
atau ada hal yang memang tidak dapat dilaksanakan. Hal ini
memungkinkan kontraktor untuk mengubah sebagian atau bahkan seluruh
desain dengan kesepakatan bersama konsultan pengawas dan owner.

39
s

Gambar Struktur organisasi kontraktor

40
A.3.2.4. Konsultan Pengawas
Konsultan pengawas disebut juga sebagai konsultan supervisi, yaitu
lembaga/orang yang dalam proyek bertugas untuk mengawasi pekerjaan
yang dilaksanakan oleh kontraktor dari awal sampai proyek itu selesai.
Fungsi utama konsultan supervisi adalah untuk memastikan bahwa
pekerjaan yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang telah
disepakati sehingga proyek dapat berjalan sesuai target yang telah
direncanakan.
Konsultan supervisi pada proyek Jalan tol seksi II ini adalah PT.Cipta Strada. PT.
Cipta Strada adalah salah satu perusahaan besar konsultan konstruksi swasta yang
bergerak di bidang perencanaan, maupun di bidang supervisi.

B. Metode Kerja Pelaksanaan Pembangunan Jembatan Susukan


B.1. Data Teknis Jembatan Susukan
Lokasi : Sta. 6+367 s/d Sta. 6+387
Panjang : 465 meter
Lebar : 2 x 12,60 meter
Fondasi : Bored Pile 120 cm (302 titik)
Gelagar Jembatan : 11 bentang @ 40 meter
Penyusun Struktur+ : 2 Abutmen (Abt.1 dan Abt.2 )
10 Pier (P1 s/d P10)
11 bentang @ 12 girder
Lainnya
Potongan Memanjang : (terlampir)
Potongan Melintang : (terlampir)
Volume beton :
Volume beton rencana :
Komponen Volume (m3)
Abutmen 1 Bored Pile 406.944
Lean Concrete 31.520

41
Komponen Volume (m3)
Pile Cap 207.900
Abutmen 100.490
Wing Wall 14.340
Plat Injak 23.230
Plat Lantai 256.868
Plat Precast concrete = 7 cm 651.200
Plat Precast Concrete 45.580
Diafragma 56.769
Parapet 2.370
Barrier 1.610
P1 Bored Pile 406.944
Lean Concrete 22.473
Pile Cap 502.310
Column 134.930
Pierhead 337.600
Erection Girder 420.000
Plat lantai 256.994
Plat Precast Concrete = 7 cm 651.200
Plat precast concrete 45.610
Diafragma 56.769
Parapet 29.880
Barrier 20.300
P2 Bored Pile 569.722
Lean Concrete 33.480
Pile Cap 748.460
Column 276.310
Pierhead 137.900
Erection Girder 420.000
Plat lantai 256.742
Plat Precast Concrete = 7 cm 650.880

42
Komponen Volume (m3)
Plat precast concrete 45.560
Diafragma 56.769
Parapet 30.990
Barrier 21.060
P3 Bored Pile 569.720
Lean Concrete 33.480
Pile Cap 748.460
Column 252.930
Pierhead 138.620
Erection Girder 420.000
Plat lantai 256.840
Plat Precast Concrete = 7 cm 651.120
Plat precast concrete 45.850
Diafragma 56.769
Parapet 30.990
Barrier 21.040
P4 Bored Pile 569.720
Lean Concrete 33.480
Pile Cap 748.460
Column 322.320
Pierhead 138.620
Erection Girder 420.000
Plat lantai 256.840
Plat Precast Concrete = 7 cm 651.360
Plat precast concrete 45.590
Diafragma 56.769
Parapet 30.990
Barrier 21.040
P5 Bored Pile 569.720
Lean Concrete 33.480

43
Komponen Volume (m3)
Pile Cap 751.530
Column 375.000
Pierhead 141.560
Erection Girder 420.000
Plat lantai 258.430
Plat Precast Concrete = 7 cm 655.790
Plat precast concrete 55.910
Diafragma 56.769
Parapet 30.960
Barrier 21.040
P6 Bored Pile 474.770
Lean Concrete 33.480
Pile Cap 751.530
Column 353.000
Pierhead 368.000
Erection Girder 420.000
Plat lantai 257.830
Plat Precast Concrete = 7 cm 654.800
Plat precast concrete 45.480
Diafragma 56.769
Parapet 30.960
Barrier 21.040
P7 Bored Pile 474.770
Lean Concrete 33.480
Pile Cap 748.460
Column 364.150
Pierhead 141.410
Erection Girder 420.000
Plat lantai 256.570
Plat Precast Concrete = 7 cm 651.600

44
Komponen Volume (m3)
Plat precast concrete 45.610
Diafragma 56.769
Parapet 30.960
Barrier 21.060
P8 Bored Pile 572.890
Lean Concrete 33.480
Pile Cap 751.530
Column 420.780
Pierhead 141.390
Erection Girder 420.000
Plat lantai 256.050
Plat Precast Concrete = 7 cm 650.290
Plat precast concrete 44.870
Diafragma 56.769
Parapet 30.960
Barrier 21.060
P9 Bored Pile 699.490
Lean Concrete 33.480
Pile Cap 748.460
Column 275.250
Pierhead 119.300
Erection Girder 420.000
Plat lantai 256.560
Plat Precast Concrete = 7 cm 654.130
Plat precast concrete 45.790
Diafragma 56.769
Parapet 30.960
Barrier 20.910
P10 Bored Pile 816.600
Lean Concrete 30.650

45
Komponen Volume (m3)
Pile Cap 684.560
Column 158.440
Pierhead 322.390
Erection Girder 420.000
Plat lantai 257.240
Plat Precast Concrete = 7 cm 654.100
Plat precast concrete 45.730
Diafragma 56.769
Parapet 3.580
Barrier 20.820
Abutmen 2 Bored Pile 545.300
Lean Concrete 27.950
Pile Cap 277.200
Abutmen 365.090
Wing Wall 66.650
Diafragma 23.230
Parapet 3.580
Barrier 2.440

B.2. Data Pekerja dan Alat


B.2.1. Pekerja
• Subkontraktor :
◦ Pekerjaan Penggalian untuk bored pile :
▪ Trokon untuk P7 dan P8
▪ PT. Acset Indonusa untuk A1, P1, P2, P3, P4, P5, P6, P9, P10,
A2
• Mandor :
◦ Mandor Besi : Sigit
◦ Mandor Bekisting dan cor : Sunardi
• Suplai bahan :

46
◦ Beton : PT. Beton Indotama Surya
◦ Besi : PT. Gunung Garuda Cibitung
◦ Kayu Bekisting : PT. Waskita Karya

B.2.2. Alat
• Pekerjaan Bored Pile
1) Excavator yang digunakan untuk mengangkut material galian ke
atas truk,
2) Soil Mech yang digunakan untuk membuat lubang tempat bored
pile,
3) Crane Service yang digunakan untuk mengangkut tulangan bored
pile untuk dimasukkan ke dalam lubang yang sudah tersedia,
4) Mixer yang digunakan untuk menuangkan campuran beton ke
lubang yang sudah tersedia.
• Pekerjaan Abutmen dan Pier
1) Concrete Pump yang digunakan untuk memompa adukan beton ke
lokasi tertentu yang sudah dibatasi oleh bekisting sebagai cetakan,
2) Concrete Mixer yang digunakan sebagai pengaduk sekaligus
pembawa adukan beton dari batching plant ke lokasi
pembangunan,
3) Vibrator
• Pekerjaan Upper Structure
1) Alat-alat stressing
• 2 unit Hydraulic Stressing Pump,
• 2 unit Manometer yang telah dikalibrasi
• 2 unit Pretressing Jack yang sesuai dengan tipe dan kapasitas
tendon prestress yang diperhitungkan dalam design rencana.
2) Alat-alat launching
• launcher
• Mobile Crane 15 ton 1 unit

47
• Ordenary Truck / Hub.Crane kap.5 ton
• Tower Crane
• Mobile Crane 80 s/d 100 ton 2 unit
• Bogie termasuk unit penarik 2 unit
• Genset 150 kVA 1 unit
3) Alat-alat pengecoran

B.3. Pelaksanaan Pembangunan


Struktur bangunan Jembatan Susukan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
1) Bored Pile
Bored Pile berfungsi sebagai pendukung struktur di atasnya dengan
menopang struktur tersebut oleh kuat dukung pile yang menumpu pada
tanah dengan kuat dukung yang cukup.
2) Abutmen dan Pier
Abutmen adalah bagian awal atau ujung dari suatu jembatan. Jumlah
abutmen pada jembatan ini ada 2 buah, yaitu Abutmen 1 dan Abutmen
2. Sementara Pier adalah penopang upper structure yang merupakan
jalan tol. Fungsi pier ini adalah untuk mendukung upper structure agar
tetap stabil dengan menyalurkan beban upper structure sampai ke
bored pile.
3) Upper Structure
Upper Structure terdiri atas beberapa komponen struktur yang
merupakan satu kesatuan jalan tol yang mempunyai kemiringan
tertentu.

Perencanaaan Pelaksanaan pembangunan Jembatan Susukan dilaksanakan


sebagai berikut.
1) Pekerjaan bored pile
(1) Penyiapan Lahan
Pekerjaan ini meliputi pekerjaan clearing dan mempersiapkan tanah

48
untuk digunakan sebagai lahan pembuatan bored pile. Vegetasi awal
seperti pohon liar kayu Angsana dibersihkan dari lahan.
(2) Persiapan Alat
Tahapan ini adalah mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan
untuk pekerjaan pembuatan bored pile.
(3) Bored Pile
Pekerjaan bored pile melibatkan beberapa alat dan pekerja. Pertama,
lahan yang sudah dipersiapkan diolah dengan membuat lubang-lubang
terlebih dahulu sebelum dicor. Diameter lubang dibuat sedemikian
rupa sehingga tulangan bored pile dapat dimasukkan sebelum dicor.
Untuk bored pile yang panjangnya lebih dari 12 meter, penulangan
dilakukan dengan dua tahap. Misalnya, tahap pertama, tulangan yang
panjangnya 12 meter dimasukkan terlebih dahulu. Kemudian ujungnya
diganjal terlebih dahulu untuk dilas. Kemudian, ujungnya dilas dengan
ujung dari tulangan yang akan disambung. Setelah pengelasan selesai,
ganjal dilepas dan tulangan dimasukkan. Adukan beton dimasukkan
dengan menuangkan beton.
Pada bagian-bagian tertentu pada struktur terdapat rencana pelaksanaan
uji PDA. Hal ini dapat dilihat dalam rencana awal.

2) Pekerjaan Abutmen dan Pier


(a) Pekerjaan Abutmen
(1) Footing
(1) Pabrikasi Rebar
Rebar adalah tulangan dari struktur. Tulangan tersebut
dipersiapkan terlebih dahulu sebelum nantinya dirangkai
sebagai tulangan footing. Untuk itu, tulangan diolah sedemikian
rupa di base camp sesuai kebutuhan. Pengolahan ini dapat
berupa pembengkokan atau pemotongan dari tulangan.
(2) Lantai Kerja

49
Lantai kerja adalah tempat yang digunakan oleh pekerja-pekerja
di lapangan. Lantai kerja berupa beton dengan ketebalan
tertentu agar kuat untuk dibebani pekerja.
(3) Bobok beton dan perapian top bored pile
Ujung bored pile hasil cor bored pile perlu dirapikan terlebih
dahulu sebelum dihubungkan dengan struktur beton diatasnya.
Untuk itu, beton pada ujung atas dari bored pile yang melebihi
elevasi rencana harus dihancurkan terlebih dahulu. Kelebihan
elevasi ini memang disengaja untuk kemudahan pekerjaan di
lapangan.
(4) Install Rebar Footing
Tulangan yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu kemudian
dipasang sesuai rangkaian tulangan pada gambar teknis.
Spesifikasi tulangan seperti diamater dan jenis tulangan harus
disesuaikan dengan gambar teknis tulangan footing.
(5) Pabrikasi Bekisting Footing
Bekisting adalah alat yang digunakan sebagai cetakan beton
untuk membentuk struktur sesuai dengan bentuk pada gambar
teknis. Bekisting disiapkan terlebih dahulu sebelum dipasang.
Bahan bekisting berupa kayu yang disediakan oleh kontraktor.
Bekisting ini dipersiapkan sesuai dengan dimensi dari struktur
footing.
(6) Install Bekisting Footing
Bekisting yang sudah dipersiapkan sebelumnya kemudian
dipasang sebagai cetakan beton. Pemasangan ini dilakukan
setelah tulangan dipasang terlebih dahulu sehingga pengecoran
dapat dilakukan.
(7) Cor Beton Footing
Pengecoran dilakukan setelah bekisting terpasang. Adukan
beton diantar dari batching plant yang merupakan tempat

50
produksi adukan beton dengan menggunakan truk molen.
Kemudian adukan beton dipompakan dengan menggunakan
concrete pump.
(2) ABT
(1) Install Rebar ABT + Wingwall
Tulangan untuk komponen struktur, yaitu abutmen dan
wingwall dipasang. Komponen struktur abutmen ini memang
dicor secara bertahap sehingga pemasangan tulangannya juga
bertahap, tidak dikerjakan sekalian dengan backwall.
(2) Install Bekisting ABT
Bekisting dipasang sesuai gambar teknis sehingga struktur
dapat terbentuk.
(3) Cor Beton ABT+Wingwall
Pengecoran beton dilakukan kemudian setelah bekisting
terpasang.
(4) Install Rebar Backwall
Komponen struktur abutmen selanjutnya, yaitu backwall,
kemudian dikerjakan. Tulangan dipasang terlebih dahulu
sebelum dicor.
(5) Install Bekisting Backwall
Setelah tulangan dipasang, bekisting untuk backwall dipasang
sesuai bentuk struktur pada gambar teknis.
(6) Cor Beton Backwall
Pengecoran kemudian dilakukan sesuai dimensi pada gambar
teknis.
(7) Galian Tanah Plat injak
Bagian belakang abutmen kemudian digali untuk diurug dengan
tanah yang lebih berkualitas. Hal ini bertujuan untuk menjamin
kuat dukung tanah pada belakang abutmen dapat digunakan
untuk pembebanan. Galian dilakukan membentuk ruang yang

51
nantinya akan diisi lagi dengan tanah yang lebih baik.
Penggalian dilakukan sampai kedalaman lebih dari 3 meter
dengan lebar 5 meter.
(8) Timbunan Tanah Backwall
Ruang di belakang abutmen yang telah tersedia kemudian
diurug dengan tanah granuler untuk kedalaman 0-3 meter dari
top elevasi. Sementara kedalaman lebih dari 3 meter digunakan
tanah yang cocok.
(9) Lantai Kerja Plat Injak
Lantai kerja dicor terlebih dahulu sebagai tempat kerja bagi
pekerja untuk pengerjaan plat injak. Plat injak adalah
penghubung antara rigid pavement dan jembatan.
(10) Install Rebar Plat Injak
Tulangan untuk plat injak dipasang sesuai gambar teknis.
(11) Bekisting Plat Injak
Setelah tulangan dipasang, bekisting dipasang sesuai dimensi
rencana struktur pada gambar teknis.
(12) Cor Beton Plat Injak
Pengecoran kemudian dilakukan yang akan membentuk
struktur sesuai bekisting yang terpasang.
(b) Pekerjaan Pier
Sebagai contoh, berikut adalah unsur-unsur pekerjaan P1.
(1) Pile Cap
(1) Pabrikasi Rebar Footing & Pier
Tulangan yang akan dipasang untuk struktur footing dan pier
dipersiapkan terlebih dahulu. Proses ini dapat berupa
pemotongan atau pembengkokan tulangan.
(2) Lantai Kerja
Lantai kerja dibuat sebagai tempat bagi bekerja untuk
mengerjakan struktur selanjutnya.

52
(3) Bobok Beton dan Perapian top Bored Pile
Ujung bored pile hasil cor bored pile perlu dirapikan terlebih
dahulu sebelum dihubungkan dengan struktur beton diatasnya.
Untuk itu, beton pada ujung atas dari bored pile yang melebihi
elevasi rencana harus dihancurkan terlebih dahulu. Kelebihan
elevasi ini memang disengaja untuk kemudahan pekerjaan di
lapangan.
(4) Install Rebar Footing
Tulangan yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu kemudian
dipasang sesuai rangkaian tulangan pada gambar teknis.
Spesifikasi tulangan seperti diamater dan jenis tulangan harus
disesuaikan dengan gambar teknis tulangan footing.
(5) Install Bekisting Footing
Bekisting yang sudah dipersiapkan sebelumnya kemudian
dipasang sebagai cetakan beton. Pemasangan ini dilakukan
setelah tulangan dipasang terlebih dahulu sehingga pengecoran
dapat dilakukan.
(6) Cor Beton Footing
Pengecoran dilakukan setelah bekisting terpasang. Adukan
beton diantar dari batching plant yang merupakan tempat
produksi adukan beton dengan menggunakan truk molen.
Kemudian adukan beton dipompakan dengan menggunakan
concrete pump.
(2) Pier
Pada awalnya, durasi pekerjaan pier ditentukan untuk perkiraan
saja sehingga pada perencanaan awal tidak dibedakan antara pier
bagian kiri dan bagian kanan. Akan tetapi pada pelaksanaannya,
pembangunan pier hanya menggunakan 1 alat bekisting yang
berarti penggunaan bekisting harus bergantian antara kiri dan
kanan. Penggunaan bekisting pun harus sesuai dengan urutan

53
tertentu sehingga proses pelaksanaan konstruksi dapat berjalan
dengan baik. Urutan tersebut adalah sesuai gambar berikut ini
(sebagai contoh diambil P1 yang dibagi menjadi 4 segmen).

7 8
5 6

3 4

1 2

Urutan di atas dikerjakan apabila pekerjaan dimulai dari kiri


terlebih dahulu. Pekerjaan dapat dimulai dengan awal pekerjaan
dari bagian kanan terlebih dahulu. Untuk itu, penyusun menyajikan
penjadwalan dengan nama A dan nama B untuk tiap bagian pier.
Dalam proses pengerjaan, terdapat 2 metode yang dipakai untuk
pengecoran, yaitu:
• Metode Shoring, yaitu metode yang menggunakan penyangga
yang menumpu pada footing. Metode ini membutuhkan rangka
besi untuk menyangga bekisting dan tangga besi sebagai tangga
untuk pekerja naik dan turun dari bangunan. Metode ini
digunakan pada P1, P4, P6, dan P10.
• Metode Bracket, yaitu metode yang menggunakan pemasangan
tempat kerja menggantung pada pier. Bekisting juga dipasang
menggantung pada pier. Untuk itu, tempat untuk menggantung
harus disediakan sebelumnya. Metode ini digunakan pada
pelaksanaan P2, P3, P5, P7, P8, dan P9.

54
Proses pelaksanaan pembangunan pier adalah sebagai berikut.
(1) Pabrikasi Bekisting Pier
Bekisting yang akan digunakan dipersiapkan terlebih dahulu.
Pembuatan pier dibagi menjadi beberapa tahap dalam bentuk
segmen-segmen. Bekisting dibuat dengan ukuran sesuai dengan
segmen yang direncanakan. Untuk P1, pier dibagi menjadi 4
segmen.
(2) Install rebar Pier segmen-1
Tulangan yang sudah disiapkan kemudian dipasang sampai
batas segmen-1.
(3) Install Bekisting Segmen – 1
Bekisting kemudian dipasang setelah tulangan terpasang.
(4) Cor Beton Pier Segmen – 1
Pengecoran dilakukan sampai pada batas segmen-1.
(5) Install rebar Pier segmen-2
Tulangan yang sudah disiapkan kemudian dipasang sampai
batas segmen-2.
(6) Install Bekisting Segmen – 2
Bekisting kemudian dipasang setelah tulangan terpasang.
(7) Cor Beton Pier Segmen – 2
Pengecoran dilakukan sampai pada batas segmen-2.
(8) Install rebar Pier segmen-3
Tulangan yang sudah disiapkan kemudian dipasang sampai
batas segmen-3.
(9) Install Bekisting Segmen – 3
Bekisting kemudian dipasang setelah tulangan terpasang.
(10) Cor Beton Pier Segmen – 3
Pengecoran dilakukan sampai pada batas segmen-4.
(11) Install rebar Pier segmen-4
Tulangan yang sudah disiapkan kemudian dipasang sampai

55
batas segmen-4.
(12) Install Bekisting Segmen – 4
Bekisting kemudian dipasang setelah tulangan terpasang.
(13) Cor Beton Pier Segmen – 4
Pengecoran dilakukan sampai pada batas segmen-4.
(3) Pier Head
(1) Pabrikasi Bracket & Bekisting Pier Head
Dalam perencanaan awal, penggunaan bracket atau shoring
belum ditentukan. Hal ini menyebabkan dalam perencanaan
hanya digunakan bracket saja. Bracket dan Bekisiting
dipersiapkan terlebih dahulu sebelum digunakan di lapangan.
(2) Install Brackets & Trusses
Bracket kemudian dipasang. Metode bracket juga
membutuhkan trusses.
(3) Pabrikasi Rebar Pier Head
Tulangan untuk pier head dipersiapkan terlebih dahulu sebelum
digunakan di lapangan.
(4) Install Rebar Pier Head
Setelah tulangan dipersiapkan, tulangan kemudian di pasang
sesuai gambar teknis.
(5) Install Bekisting
Bekisting dipasang sesuai bentuk pier head pada gambar teknis.
(6) Cor Beton Pier Head
Pengecoran dilakukan setelah bekisting terpasang sehingga
akan terbentuk struktur sesuai cetakan.

3) Pekerjaan Upper Structure


(a) PCI Girder
PCI Girder yang digunakan adalah precast prestress post-tensioned girder.
Untuk itu strand girder perlu ditarik terlebih dahulu sebelum dipakai di

56
lapangan. PCI girder pada proyek ini dicetak dalam segmen-segmen untuk
kemudian disatukan di lapangan untuk satu bentang tertentu. Untuk itu
diperlukan tempat khusus untuk merangkai segmen-segmen girder dan
melakukan pekerjaan stressing .Sebagai contoh, berikut adalah pekerjaan
Upper Structure pada PCI Girder A2-P10.
(1) Pembuatan Stressing bed
Pekerjaan stressing dilakukan pada tempat khusus. Untuk itu, perlu
disediakan tempat untuk stressing di lapangan. Lahan ini perlu
dipersiapkan sedemikian rupa untuk mengakomodasi beberapa
girder untuk Jembatan Susukan.
(2) Mortar Bearing Pad
Pengecoran mortar dilakukan pada pier head sampai mencapai
elevasi tertentu yang sesuai untuk posisi bearing pad. Bearing pad
berfungsi sebagai tumpuan girder.
(3) Install Bearing
Bearing pad dipasang pada posisi sesuai dengan gambar teknis.
(4) Setting Alat Launching
Sebelum launching girder, alat untuk launching dipersiapkan
terlebih dahulu agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
(5) Penataan Segmental Girder
Girder yang dicetak masih berupa segmental girder yang nantinya
akan disatukan sehingga menjadi satu bentang girder sesuai
bentang antar pier atau antar pier dengan abutmen. Untuk itu,
segmental girder ditempatkan pada lokasi tertentu di lapangan
yang memungkinkan untuk pekerjaan perangkaian.
(6) Install Strand
Strand berupa baja yang akan ditarik untuk menimbulkan tegangan
awal pada prestress girder. Strand dimasukkan ke dalam
selongsong sampai pada posisi yang cukup untuk dilakukan
stressing.

57
(7) Stressing
Setelah strand dimasukkan, maka strand ditarik dengan tegangan
tertentu sesuai perencanaan sehingga strand mengalami
penegangan dan menimbulkan momen negatif pada bentang girder.
(8) Patching & Potong Strand
Setelah strand terpasang, ujung dari strand dipotong. kemudian
(9) Grouting
Grouting kemudian dilakukan untuk melekatkan antara strand
dengan selongsong sehingga strand tidak bergerak-gerak lagi
setelah stressing.
(10) Cor Kepala
(11) Tower Leg
Pada saat launching, tower leg berfungsi sebagai kaki dari
launcher sehingga launcher dapat berpindah dari satu tempat ke
tempat yang lainnya. Tower leg dipasang pada pier head atau
abutmen.
(12) Launching Girder
Girder kemudian diposisikan menumpu di atas pier atau abutmen.
(13) Diapraghma
Setelah girder terpasang, kemudian diapraghma dicor di tempat.
(14) Install beton Precast
Beton precast dipasang untuk pengecoran plat beton.
(15) Install Rebar Slab
Slab berfungsi sebagai plat beton. Tulangan dari slab dipasang
terlebih dahulu sebelum pengecoran.
(16) Cor Beton Slab
Setelah tulangan terpasang, pengecoran dilakukan untuk
membentuk plat beton sesuai gambar teknis.
(17) Rebar Barrier
Barrier adalah pembatas jalan pada masing-masing jalur pada

58
jalan. Tulangan barrier dipasang terlebih dahulu sebelum
dilakukan pengecoran.
(18) Bekisting Barrier
Setelah tulangan terpasang, bekisting dipasang sebagai pencetak
untuk membentuk struktur sesuai gambar teknis.
(19) Cor Barrier
Pengecoran dilakukan untuk menghasilkan struktur beton yang
berbentuk barrier sesuai dengan gambar teknis.
(b) Flexible Pavement dan Utilitas
(1) Aspal
Aspal sebagai perkerasan lentur dibuat di atas plat beton.
(2) Marka + PJU
Setelah aspal selesai dikerjakan, marka jalan dikerjakan sesuai
rencana dan Penerangan Jalan Umum juga dibuat sebagai
penerangan di waktu yang membutuhkan seperti saat malam hari.

Hal yang perlu diperhatikan adalah proyek dikerjakan lebih awal dari kontrak
oleh kontraktor pelaksana.

C. Schedule Proyek
C.1. Master Schedule
Proyek pembangunan Jembatan Susukan pada Proyek Jalan Tol
Semarang-Solo, Tahap I Ruas Semarang-Bawen, Seksi II Gedawang-
Penggaron direncanakan dengan menggunakan master schedule sebagai
berikut.

59
60
Tabel Schedule di atas belum menampilkan rincian pekerjaan sampai
pada komponen terkecil. Rincian pekerjaan untuk rencana awal tersebut
dapat dilihat dari daftar berikut.

61
No. Nama 62 Pabrikasi Bekisting Footing
1 JEMBATAN SUSUKAN 63 Install Bekisting Footing
2 BORED PILE 64 Cor Beton Footing
3 P 06 65 ABT
4 Penyiapan Lahan 66 Install Rebar ABT + Wingwall
5 Persiapan Alat 67 Install Bekisting ABT
6 Bored Pile 68 Cor Beton ABT+Wingwall
7 A 02 69 Install Rebar Back wall
8 Penyiapan Lahan 70 Install Bekisting Backwall
9 Persiapan Alat 71 Cor Beton Backwall
10 Bored Pile 72 Galian Tanah Plat injak
11 P 10 73 Timbunan Tanah Backwall
12 Penyiapan Lahan 74 Lantai Kerja Plat Injak
13 Persiapan Alat 75 Install Rebar Plat Injak
14 Bored Pile 76 Bekisting Plat Injak
15 P 07 77 Cor Beton Plat Injak
16 Penyiapan Lahan 78 P - 01
17 Persiapan Alat 79 Pile Cap
18 Bored Pile 80 Pabrikasi Rebar Footing & Pier
19 PDA Test 81 Lantai Kerja
20 P 01 82 Perapian top Bored Pile
21 Penyiapan Lahan 83 Install Rebar Footing
22 Persiapan Alat 84 Install Bekisting Footing
23 Bored Pile 85 Cor Beton Footing
24 P 09 86 Pier
25 Penyiapan Lahan 87 Pabrikasi Bekisting Pier
26 Persiapan Alat 88 Install rebar Pier segmen-1
27 Bored Pile 89 Install Bekisting Segmen - 1
28 P 08 90 Cor Beton Pier Segmen - 1
29 Penyiapan Lahan 91 Install rebar Pier segmen-2
30 Persiapan Alat 92 Install Bekisting Segmen - 2
31 Bored Pile 93 Cor Beton Pier Segmen - 2
32 PDA Test 94 Install rebar Pier segmen-3
33 P 04 (cek) 95 Install Bekisting Segmen - 3
34 Penyiapan Lahan 96 Cor Beton Pier Segmen - 3
35 Persiapan Alat 97 Install rebar Pier segmen-4
36 Bored Pile 98 Install Bekisting Segmen - 4
37 A 01 (cek) 99 Cor Beton Pier Segmen - 4
38 Penyiapan Lahan 100 Pier Head
39 Persiapan Alat 101 Pabrikasi Bracket & Bekisting Pier Head
40 Bored Pile 102 Install Bracket & Trust
41 P 05 103 Pabrikasi Rebar Pier Head
42 Penyiapan Lahan 104 Install Rebar Pier Head
43 Persiapan Alat 105 Install Bekisting
44 Bored Pile 106 Cor Beton Pier Head
45 PDA Test 107 P - 02
46 P 02 108 Pile cap
47 Penyiapan Lahan 109 Pabrikasi Rebar Footing & Pier
48 Persiapan Alat 110 Lantai Kerja
49 Bored Pile 111 Bobok Beton & Perapian top Bored Pile
50 PDA Test 112 Install Rebar Footing
51 P 03 113 Install Bekisting Footing
52 Penyiapan Lahan 114 Cor Beton Footing
53 Persiapan Alat 115 Pier
54 Bored Pile 116 Pabrikasi Bekisting Pier
55 ABT & PIER 117 Install rebar Pier segmen-1
56 A-1 118 Install Bekisting Segmen - 1
57 Footing 119 Cor Beton Pier Segmen - 1
58 Pabrikasi Rebar 120 Install rebar Pier segmen-2
59 Lantai Kerja 121 Install Bekisting Segmen - 2
60 Bobok beton dan perapian top bored pile 122 Cor Beton Pier Segmen - 2
61 Install Rebar Footing 123 Install rebar Pier segmen-3

62
124 Install Bekisting Segmen - 3 186 Cor Beton Footing
125 Cor Beton Pier Segmen - 3 187 Pier
126 Install rebar Pier segmen-4 188 Pabrikasi Bekisting Pier
127 Install Bekisting Segmen - 4 189 Install rebar Pier segmen-1
128 Cor Beton Pier Segmen - 4 190 Install Bekisting Segmen - 1
129 Install rebar Pier segmen-5 191 Cor Beton Pier Segmen - 1
130 Install Bekisting Segmen - 5 192 Install rebar Pier segmen-2
131 Cor Beton Pier Segmen - 5 193 Install Bekisting Segmen - 2
132 Install rebar Pier segmen-6 194 Cor Beton Pier Segmen - 2
133 Install Bekisting Segmen - 6 195 Install rebar Pier segmen-3
134 Cor Beton Pier Segmen - 6 196 Install Bekisting Segmen - 3
135 Install rebar Pier segmen-6 197 Cor Beton Pier Segmen - 3
136 Install Bekisting Segmen - 6 198 Install rebar Pier segmen-4
137 Cor Beton Pier Segmen - 6 199 Install Bekisting Segmen - 4
138 Pier Head 200 Cor Beton Pier Segmen - 4
139 Pabrikasi Bracket & Bekisting Pier Head 201 Install rebar Pier segmen-5
140 Install Bracket & Trust 202 Install Bekisting Segmen - 5
141 Pabrikasi Rebar Pier Head 203 Cor Beton Pier Segmen - 5
142 Install Rebar Pier Head 204 Install rebar Pier segmen-5
143 Install Bekisting 205 Install Bekisting Segmen - 5
144 Cor Beton Pier Head 206 Cor Beton Pier Segmen - 5
145 P - 03 207 Pier Head
146 Pile cap 208 Pabrikasi Bracket & Bekisting Pier Head
147 Pabrikasi Rebar Footing & Pier 209 Install Bracket & Trust
148 Lantai Kerja 210 Pabrikasi Rebar Pier Head
149 Bobok Beton & Perapian top Bored Pile 211 Install Rebar Pier Head
150 Install Rebar Footing 212 Install Bekisting
151 Install Bekisting Footing 213 Cor Beton Pier Head
152 Cor Beton Footing 214 P - 05
153 Pier 215 Pile cap
154 Pabrikasi Bekisting Pier 216 Pabrikasi Rebar Footing & Pier
155 Install rebar Pier segmen-1 217 Lantai Kerja
156 Install Bekisting Segmen - 1 218 Bobok Beton & Perapian top Bored Pile
157 Cor Beton Pier Segmen - 1 219 Install Rebar Footing
158 Install rebar Pier segmen-2 220 Install Bekisting Footing
159 Install Bekisting Segmen - 2 221 Cor Beton Footing
160 Cor Beton Pier Segmen - 2 222 Pier
161 Install rebar Pier segmen-3 223 Pabrikasi Bekisting Pier
162 Install Bekisting Segmen - 3 224 Install rebar Pier segmen-1
163 Cor Beton Pier Segmen - 3 225 Install Bekisting Segmen - 1
164 Install rebar Pier segmen-4 226 Cor Beton Pier Segmen - 1
165 Install Bekisting Segmen - 4 227 Install rebar Pier segmen-2
166 Cor Beton Pier Segmen - 4 228 Install Bekisting Segmen - 2
167 Install rebar Pier segmen-5 229 Cor Beton Pier Segmen - 2
168 Install Bekisting Segmen - 5 230 Install rebar Pier segmen-3
169 Cor Beton Pier Segmen - 5 231 Install Bekisting Segmen - 3
170 Install rebar Pier segmen-5 232 Cor Beton Pier Segmen - 3
171 Install Bekisting Segmen - 5 233 Install rebar Pier segmen-4
172 Cor Beton Pier Segmen - 5 234 Install Bekisting Segmen - 4
173 Pier Head 235 Cor Beton Pier Segmen - 4
174 Pabrikasi Bekisting Pier Head 236 Install rebar Pier segmen-5
175 Install Bekisting Pier Head 237 Install Bekisting Segmen - 5
176 Pabrikasi Rebar Pier Head 238 Cor Beton Pier Segmen - 5
177 Install Rebar Pier Head 239 Install rebar Pier segmen-6
178 Cor Beton Pier Head 240 Install Bekisting Segmen - 6
179 P - 04 241 Cor Beton Pier Segmen - 6
180 Pile cap 242 Install rebar Pier segmen-7
181 Pabrikasi Rebar Footing & Pier 243 Install Bekisting Segmen - 7
182 Lantai Kerja 244 Cor Beton Pier Segmen - 7
183 Bobok Beton & Perapian top Bored Pile 245 Install rebar Pier segmen-8
184 Install Rebar Footing 246 Install Bekisting Segmen - 8
185 Install Bekisting Footing 247 Cor Beton Pier Segmen - 8

63
248 Pier Head 310 Install Bekisting Segmen - 3
249 Pabrikasi Bracket & Bekisting Pier Head 311 Cor Beton Pier Segmen - 3
250 Install Bracket & Trust 312 Install rebar Pier segmen-4
251 Pabrikasi Rebar Pier Head 313 Install Bekisting Segmen - 4
252 Install Rebar Pier Head 314 Cor Beton Pier Segmen - 4
253 Install Bekisting 315 Install rebar Pier segmen-5
254 Cor Beton Pier Head 316 Install Bekisting Segmen - 5
255 P - 06 317 Cor Beton Pier Segmen - 5
256 Pile cap 318 Install rebar Pier segmen-6
257 Pabrikasi Rebar Footing & Pier 319 Install Bekisting Segmen - 6
258 Lantai Kerja 320 Cor Beton Pier Segmen - 6
259 Bobok Beton & Perapian top Bored Pile 321 Install rebar Pier segmen-7
260 Install Rebar Footing 322 Install Bekisting Segmen - 7
261 Install Bekisting Footing 323 Cor Beton Pier Segmen - 7
262 Cor Beton Footing 324 Install rebar Pier segmen-8
263 Pier 325 Install Bekisting Segmen - 8
264 Pabrikasi Bekisting Pier 326 Cor Beton Pier Segmen - 8
265 Install rebar Pier segmen-1 327 Install rebar Pier segmen-9
266 Install Bekisting Segmen - 1 328 Install Bekisting Segmen - 9
267 Cor Beton Pier Segmen - 1 329 Cor Beton Pier Segmen - 9
268 Install rebar Pier segmen-2 330 Pier Head
269 Install Bekisting Segmen - 2 331 Pabrikasi Bracket & Bekisting Pier Head
270 Cor Beton Pier Segmen - 2 332 Install Bracket & Trust
271 Install rebar Pier segmen-3 333 Pabrikasi Rebar Pier Head
272 Install Bekisting Segmen - 3 334 Install Rebar Pier Head
273 Cor Beton Pier Segmen - 3 335 Install Bekisting
274 Install rebar Pier segmen-4 336 Cor Beton Pier Head
275 Install Bekisting Segmen - 4 337 P - 08
276 Cor Beton Pier Segmen - 4 338 Pile cap
277 Install rebar Pier segmen-5 339 Pabrikasi Rebar Footing & Pier
278 Install Bekisting Segmen - 5 340 Lantai Kerja
279 Cor Beton Pier Segmen - 5 341 Bobok Beton & Perapian top Bored Pile
280 Install rebar Pier segmen-6 342 Install Rebar Footing
281 Install Bekisting Segmen - 6 343 Install Bekisting Footing
282 Cor Beton Pier Segmen - 6 344 Cor Beton Footing
283 Install rebar Pier segmen-7 345 Pier
284 Install Bekisting Segmen - 7 346 Pabrikasi Bekisting Pier
285 Cor Beton Pier Segmen - 7 347 Install rebar Pier segmen-1
286 Pier Head 348 Install Bekisting Segmen - 1
287 Pabrikasi Bracket & Bekisting Pier Head 349 Cor Beton Pier Segmen - 1
288 Install Bracket & Trust 350 Install rebar Pier segmen-2
289 Pabrikasi Rebar Pier Head 351 Install Bekisting Segmen - 2
290 Install Rebar Pier Head 352 Cor Beton Pier Segmen - 2
291 Install Bekisting 353 Install rebar Pier segmen-3
292 Cor Beton Pier Head 354 Install Bekisting Segmen - 3
293 P - 07 355 Cor Beton Pier Segmen - 3
294 Pile cap 356 Install rebar Pier segmen-4
295 Pabrikasi Rebar Footing & Pier 357 Install Bekisting Segmen - 4
296 Lantai Kerja 358 Cor Beton Pier Segmen - 4
297 Bobok Beton & Perapian top Bored Pile 359 Install rebar Pier segmen-5
298 Install Rebar Footing 360 Install Bekisting Segmen - 5
299 Install Bekisting Footing 361 Cor Beton Pier Segmen - 5
300 Cor Beton Footing 362 Install rebar Pier segmen-6
301 Pier 363 Install Bekisting Segmen - 6
302 Pabrikasi Bekisting Pier 364 Cor Beton Pier Segmen - 6
303 Install rebar Pier segmen-1 365 Install rebar Pier segmen-7
304 Install Bekisting Segmen - 1 366 Install Bekisting Segmen - 7
305 Cor Beton Pier Segmen - 1 367 Cor Beton Pier Segmen - 7
306 Install rebar Pier segmen-2 368 Install rebar Pier segmen-8
307 Install Bekisting Segmen - 2 369 Install Bekisting Segmen - 8
308 Cor Beton Pier Segmen - 2 370 Cor Beton Pier Segmen - 8
309 Install rebar Pier segmen-3 371 Install rebar Pier segmen-9

64
372 Install Bekisting Segmen - 9 434 Cor Beton Pier Segmen - 2
373 Cor Beton Pier Segmen - 9 435 Install rebar Pier segmen-3
374 Pier Head 436 Install Bekisting Segmen - 3
375 Pabrikasi Bracket & Bekisting Pier Head 437 Cor Beton Pier Segmen - 3
376 Install Bracket & Trust 438 Install rebar Pier segmen-4
377 Pabrikasi Rebar Pier Head 439 Install Bekisting Segmen - 4
378 Install Rebar Pier Head 440 Cor Beton Pier Segmen - 4
379 Install Bekisting 441 Pier Head
380 Cor Beton Pier Head 442 Instalasi skafolding
381 P - 09 443 Pabrikasi Rebar Pier Head
382 Pile cap 444 Install Rebar Pier Head
383 Pabrikasi Rebar Footing & Pier 445 Install Bekisting
384 Lantai Kerja 446 Cor Beton Pier Head
385 Bobok Beton & Perapian top Bored Pile 447 A-2
386 Install Rebar Footing 448 Footing
387 Install Bekisting Footing 449 Pabrikasi Rebar
388 Cor Beton Footing 450 Lantai Kerja
389 Pier 451 Bobok beton dan perapian top bored pile
390 Pabrikasi Bekisting Pier 452 Install Rebar Footing
391 Install rebar Pier segmen-1 453 Pabrikasi Bekisting Footing
392 Install Bekisting Segmen - 1 454 Install Bekisting Footing
393 Cor Beton Pier Segmen - 1 455 Cor Beton Footing
394 Install rebar Pier segmen-2 456 ABT
395 Install Bekisting Segmen - 2 457 Install Rebar ABT + Wingwall
396 Cor Beton Pier Segmen - 2 458 Install Bekisting ABT
397 Install rebar Pier segmen-3 459 Cor Beton ABT+Wingwall
398 Install Bekisting Segmen - 3 460 Install Rebar Back wall
399 Cor Beton Pier Segmen - 3 461 Install Bekisting Backwall
400 Install rebar Pier segmen-4 462 Cor Beton Backwall
401 Install Bekisting Segmen - 4 463 Galian Tanah Plat injak
402 Cor Beton Pier Segmen - 4 464 Timbunan Tanah Backwall
403 Install rebar Pier segmen-5 465 Lantai Kerja Plat Injak
404 Install Bekisting Segmen - 5 466 Install Rebar Plat Injak
405 Cor Beton Pier Segmen - 5 467 Bekisting Plat Injak
406 Install rebar Pier segmen-6 468 Cor Beton Plat Injak
407 Install Bekisting Segmen - 6 469 UPPER STRUCTURE
408 Cor Beton Pier Segmen - 6 470 PCI Girder A2 - P10
409 Install rebar Pier segmen-6 471 Pembuatan Stressing bed
410 Install Bekisting Segmen - 6 472 Mortar Bearing Pad
411 Cor Beton Pier Segmen - 6 473 Install Bearing
412 Pier Head 474 Setting Alat Launching
413 Pabrikasi Bracket & Bekisting Pier Head 475 Penataan Segmental Girder
414 Install Bracket & Trust 476 Install Strand
415 Pabrikasi Rebar Pier Head 477 stressing
416 Install Rebar Pier Head 478 Patching & Potong Strand
417 Install Bekisting 479 Grouting
418 Cor Beton Pier Head 480 Cor Kepala
419 P - 10 481 Tower Leg
420 Pile cap 482 Launching Girder
421 Pabrikasi Rebar Footing & Pier 483 Diapraghma
422 Lantai Kerja 484 Install beton Precast
423 Bobok Beton & Perapian top Bored Pile 485 Install Rebar Slab
424 Install Rebar Footing 486 Cor Beton Slab
425 Install Bekisting Footing 487 Rebar Barrier
426 Cor Beton Footing 488 Bekisting Barrier
427 Pier 489 cor Barrier
428 Pabrikasi Bekisting Pier 490 PCI Girder P10 - P9
429 Install rebar Pier segmen-1 491 Mortar Bearing Pad
430 Install Bekisting Segmen - 1 492 Install Bearing
431 Cor Beton Pier Segmen - 1 493 Setting Alat Launching
432 Install rebar Pier segmen-2 494 Penataan Segmental Girder
433 Install Bekisting Segmen - 2 495 Install Strand

65
496 stressing 558 Install beton Precast
497 Patching & Potong Strand 559 Install Rebar Slab
498 Grouting 560 Cor Beton Slab
499 Cor Kepala 561 Rebar Barrier
500 Tower Leg 562 Bekisting Barrier
501 Launching Girder 563 cor Barrier
502 Diapraghma 564 PCI Girder P6 - P5
503 Install beton Precast 565 Mortar Bearing Pad
504 Install Rebar Slab 566 Install Bearing
505 Cor Beton Slab 567 Setting Alat Launching
506 Rebar Barrier 568 Penataan Segmental Girder
507 Bekisting Barrier 569 Install Strand
508 cor Barrier 570 stressing
509 PCI Girder P9 - P8 571 Patching & Potong Strand
510 Mortar Bearing Pad 572 Grouting
511 Setting Alat Launching 573 Cor Kepala
512 Penataan Segmental Girder 574 Tower Leg
513 Install Strand 575 Launching Girder
514 stressing 576 Diapraghma
515 Patching & Potong Strand 577 Install beton Precast
516 Grouting 578 Install Rebar Slab
517 Cor Kepala 579 Cor Beton Slab
518 Tower Leg 580 Rebar Barrier
519 Launching Girder 581 Bekisting Barrier
520 Diapraghma 582 cor Barrier
521 Install beton Precast 583 PCI Girder P5 - P4
522 Install Rebar Slab 584 Mortar Bearing Pad
523 Cor Beton Slab 585 Setting Alat Launching
524 Rebar Barrier 586 Install Bearing
525 Bekisting Barrier 587 Penataan Segmental Girder
526 cor Barrier 588 Install Strand
527 PCI Girder P8 - P7 589 stressing
528 Mortar Bearing Pad 590 Patching & Potong Strand
529 Setting Alat Launching 591 Grouting
530 Penataan Segmental Girder 592 Cor Kepala
531 Install Strand 593 Tower Leg
532 stressing 594 Launching Girder
533 Patching & Potong Strand 595 Diapraghma
534 Grouting 596 Install beton Precast
535 Cor Kepala 597 Install Rebar Slab
536 Tower Leg 598 Cor Beton Slab
537 Launching Girder 599 Rebar Barrier
538 Diapraghma 600 Bekisting Barrier
539 Install beton Precast 601 cor Barrier
540 Install Rebar Slab 602 PCI Girder P4 - P3
541 Cor Beton Slab 603 Mortar Bearing Pad
542 Rebar Barrier 604 Setting Alat Launching
543 Bekisting Barrier 605 Penataan Segmental Girder
544 cor Barrier 606 Install Strand
545 PCI Girder P7 - P6 607 stressing
546 Mortar Bearing Pad 608 Patching & Potong Strand
547 Install Bearing 609 Grouting
548 Setting Alat Launching 610 Cor Kepala
549 Penataan Segmental Girder 611 Tower Leg
550 Install Strand 612 Launching Girder
551 stressing 613 Diapraghma
552 Patching & Potong Strand 614 Install beton Precast
553 Grouting 615 Install Rebar Slab
554 Cor Kepala 616 Cor Beton Slab
555 Tower Leg 617 Rebar Barrier
556 Launching Girder 618 Bekisting Barrier
557 Diapraghma 619 cor Barrier

66
620 PCI Girder P3 - P2
621 Mortar Bearing Pad
622 Setting Alat Launching
623 Penataan Segmental Girder
624 Install Strand
625 stressing
626 Patching & Potong Strand
627 Grouting
628 Cor Kepala
629 Tower Leg
630 Launching Girder
631 Diapraghma
632 Install beton Precast
633 Install Rebar Slab
634 Cor Beton Slab
635 Rebar Barrier
636 Bekisting Barrier
637 cor Barrier
638 PCI Girder P2 - P1
639 Mortar Bearing Pad
640 Install Bearing
641 Setting Alat Launching
642 Penataan Segmental Girder
643 Install Strand
644 stressing
645 Patching & Potong Strand
646 Grouting
647 Cor Kepala
648 Tower Leg
649 Launching Girder
650 Diapraghma
651 Install beton Precast
652 Install Rebar Slab
653 Cor Beton Slab
654 Rebar Barrier
655 Bekisting Barrier
656 cor Barrier
657 PCI Girder P1 - A1
658 Mortar Bearing Pad
659 Install Bearing
660 Setting Alat Launching
661 Penataan Segmental Girder
662 Install Strand
663 stressing
664 Patching & Potong Strand
665 Grouting
666 Cor Kepala
667 Tower Leg
668 Launching Girder
669 Diapraghma
670 Install beton Precast
671 Install Rebar Slab
672 Cor Beton Slab
673 Rebar Barrier
674 Bekisting Barrier
675 cor Barrier
676 FLEXIBLE PAVEMENT + UTILITAS
677 Aspal
678 Marka + PJU

67
Schedule memuat durasi maupun tanggal pengerjaan dari masing-
masing item pekerjaan. Total durasi waktu dari rencana awal
pembangunan Jembatan Susukan adalah 330 hari kerja.

C.2. Revisi Schedule


Setelah proyek berjalan, terjadi beberapa kali revisi rencana untuk
menyesuaikan dengan keadaan lapangan. Penyusun mendapatkan 3 data
rencana yang sudah direvisi. Data revisi rencana yang didapat oleh
penyusun tidak lengkap karena sebagian pekerjaan yang sudah
diselesaikan di lapangan dihapus oleh kontraktor. Untuk itu penyusun
melengkapi data tersebut dengan acuan data rencana awal pembangunan
Jembatan Susukan dengan asumsi bahwa tanggal mulai proyek adalah
sama dengan tanggal mulai proyek pada rencana awal dan tanggal yanga
tidak ada pada rencana revisi dianggap tidak direncanakan lagi sehingga
tanggal rencana yang tercantum adalah tanggal rencana disesuaikan
dengan rencana awal atau revisi sebelumnya untuk pekerjaan yang sudah
dihapus dan rencana disesuaikan dengan tanggal yang ada pada rencana
yang sudah direvisi untuk pekerjaan yang belum dihapus. Data tersebut
adalah sebagai berikut.

1) Revisi rencana pada tanggal 6 November 2009


Dari data revisi terlihat bahwa proyek dimulai pada tanggal 1 Juli
2009 dan direncanakan selesai pada tanggal 20 Juli 2010. Hal ini
menunjukkan durasi rencana pengerjaan proyek adalah 385 hari kerja.

68
2) Revisi rencana pada tanggal 4 Januari 2010
Dari data revisi terlihat bahwa proyek dimulai pada tanggal 1 Juli
2009 dan direncanakan selesai pada tanggal 6 September 2010. Hal ini
menunjukkan durasi rencana pengerjaan proyek adalah 433 hari kerja.

69
3) Revisi rencana pada tanggal 12 Februari 2010
Dari data revisi terlihat bahwa proyek dimulai pada tanggal 1 Juli
2009 dan direncanakan selesai pada tanggal 16 Agustus 2010. Hal ini
menunjukkan durasi rencana pengerjaan proyek adalah 412 hari kerja.

70
71
D. Updating
Updating pada proyek tidak dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak.
Pekerjaan updating dilakukan kontraktor secara manual, yaitu dengan mencatat di
papan monitoring di ruangan adkont, salah satu ruangan di kantor proyek. Data
yang terdapat di papan tersebut hanya berupa data tanggal pengecoran beton
karena pengecoran merupakan aspek terakhir dari komponen-komponen struktur.
Penyusun mencatat data monitoring tersebut secara manual dan meng-input
data ke software Serena OpenProj untuk item pekerjaan yang sudah dilaksanakan
di lapangan. Berikut adalah beberapa gambar data monitoring yang dimasukkan ke
dalam software.

72
73
D. Penyebab Keterlambatan
Dari data rencana dan updating dapat terlihat bahwa proyek direncanakan
selesai terlambat dari rencana awal. Pada revisi rencana pertama, proyek
direncanakan selesai pada tanggal 20 Juli 2010 yang berarti proyek akan terlambat
55 hari dari rencana awal. Pada revisi rencana kedua, proyek direncanakan selesai
pada tanggal 6 September 2010 yang berarti proyek akan terlambat 103 hari dari
rencana awal. Sementara pada revisi rencana ketiga, proyek direncanakan berakhir
pada tanggal 16 Agustus 2010 yang berarti proyek akan terlambat 82 hari dari
rencana awal.
Revisi rencana dilakukan sesuai dengan kondisi di lapangan. Akan tetapi, revisi
rencana dilakukan tanpa meng-input data monitoring melainkan dengan
memperhatikan kondisi lapangan terbaru. Dari revisi rencana dapat terlihat
kemunduran jadwal proyek yang disebabkan oleh keterlambatan pelaksanaan di
lapangan. Keterlambatan pelaksanaan disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut.
• Cuaca yang kurang mendukung seperti hujan sehingga pelaksanaan tidak
dimungkinkan. Hal ini sangat berpengaruh kepada pelaksanaan disebabkan
jalan kerja yang tidak dicor dengan baik sehingga ketika hujan, jalan akan
becek dan tidak bisa dilalui kendaraan yang berat untuk frekuensi melintas
tinggi,
• metode pelaksanaan lapangan yang tidak seperti yang direncanakan
sebelumnya, dan
• komunikasi yang kurang antara pihak pembuat rencana (staf teknik)
dengan pihak pelaksana lapangan.

74
BAB 6
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Pendahuluan
Secara umum proyek direncanakan dimulai pada tanggal 1 Juli 2009 dan
selesai pada tanggal 26 Mei 2010. Hal ini berarti proyek akan dilaksanakan
dengan durasi 330 hari kerja pada rencana awal.

B. Work Breakdown Structure (WBS)


Work Breakdown Structure dibuat berdasarkan data rencana awal yang didapat
dari kontraktor pelaksana, konsultasi dengan pelaksana lapangan, dan data gambar
teknis yang didapat dari kontraktor. Data rencana yang telah diperoleh dari
kontraktor menjadi alat utama penyusun untuk menentukan Work Breakdown
Structure. Akan tetapi, penyusun juga memandingkan hasil Work Breakdown
Structure dengan gambar teknis untuk melihat bahwa Work Breakdown Structure
yang dibuat sudah mencakup struktur pekerjaan yang diperlukan untuk mendirikan
bangunan. Work Breakdown Structure dari pekerjaan pembangunan Jembatan
Susukan disajikan di dalam lampiran.

C. Scheduling
C.1. Subdiagram
Penyusun mengerjakan subdiagram berdasarkan data Work Breakdown
Structure dan data rencana awal yang didapat dari kontraktor. Subdiagram ini
merupakan keterkaitan antar komponen pekerjaan untuk pekerjaan-pekerjaan
tertentu. Dari hasil pengerjaan dapat dilihat dengan jelas keterkaitan antar
komponen pekerjaan yang terlihat seperti bagan alir pelaksanaan
pembangunan. Data tersebut kemudian dapat dijadikan pedoman dalam meng-
input data ke perangkat lunak Serena OpenProj. Dari pengerjaan ini juga dapat
dilihat adanya kekurangan dalam rencana awal yang sudah dibuat oleh
kontraktor yang kemudian diperbaiki oleh penyusun, yaitu dalam hal

75
keterkaitan antar komponen pekerjaan. Hasil dari subdiagram dicantumkan
pada lampiran.

C.2. Network Planning


Network Planning menyajikan data keterkaitan antar komponen pekerjaan
berupa diagram alir pekerjaan. Network Planning juga mencantumkan data
waktu mulai, waktu selesai, dan durasi dari masing-masing pekerjaan.
Pekerjaan-pekerjaan yang merupakan pekerjaan dengan waktu lintasan kritis
akan terlihat dengan kotak warna merah sementara pekerjaan yang bukan
merupakan pekerjaan dengan waktu lintasan kritis terlihat dengan warna biru.

D. Serena OpenProj
Penyusun menyajikan cara menggunakan perangkat lunak Serena OpenProj
dalam hal perencanaan untuk pembangunan Jembatan Susukan. Tahapan yang
harus dilakukan adalah sebagai berikut.
• Membuat proyek baru dengan urutan File > New Project. Kemudian nama
proyek dimasukkan beserta manajer dari proyek. Tanggal mulai proyek

76
juga dimasukkan. Kotak Forward Schedule diklik karena rencana dibuat
dengan arah maju ke masa depan.
• Memasukkan seluruh item pekerjaan ke dalam perangkat lunak mulai dari
item pekerjaan besar sampai komponen terkecilnya. Perangkat lunak
secara otomatis akan mengidentifikasi durasi, waktu mulai, dan waktu
selesai dari setiap item pekerjaan. Data tersebut dapat diganti kemudian.

• Membuat Work Breakdown Structure dengan meng-klik pada WBS view


pada toolbar di kiri jendela atau klik view > WBS, kemudian akan muncul
tampilan seperti berikut.

Dari data tersebut, item pekerjaan parent dapat diidentifikasi dengan


menghubungkan antar item pekerjaan. Penghubungan dilakukan dengan
menge-drag klik dimulai dari pekerjaan parent ke pekerjaan yang
merupakan komponen pekerjaannya. Komponen pekerjaan pertama kali
dihubungkan akan menjadi urutan terakhir pada urutan komponen
pekerjaan parent tertentu. Dengan demikian setiap komponen pekerjaan
akan terhubung dengan pekerjaan parent-nya.

77
78
• Pada tampilan tabulasi kemudian masukkan data durasi pekerjaan. Data
waktu mulai, dan waktu selesai dari setiap item pekerjaan bergantung pada
mulainya pekerjaan terawal dan hubungan antar item pekerjaan.

• Data hubungan antar pekerjaan berdasarkan subdiagram kemudian


dimasukkan untuk menentukan keterkaitan antar item pekerjaan dengan
memasukkan data predecessor atau succesor yang berupa angka urutan
pekerjaan pada komponen pekerjaan. Predecessor atau Succesor pekerjaan
parent tidak perlu ditentukan apabila durasi, waktu mulai, dan waktu
selesai pekerjaan parent tersebut bergantung sepenuhnya pada komponen
pekerjaannya. Predecessor atau Succesor dapat juga disertai waktu tunggu

79
atau waktu mempercepat (lag time) sesuai kebutuhan. Apabila semua
predecessor sudah dimasukkan, maka rencana proyek sudah selesai.

Data rencana yang ada dapat digunakan sebagai alat monitoring. Cara
melakukan kegiatan monitoring adalah dengan memasukka data aktual yang
didapat dari data realisasi lapangan. Data ini dimasukkan dengan melakukan
tahapan sebagai berikut.
• Tempatkan cursor pada item pekerjaan yang akan dimasukkan datanya.
Kemudian klik Tools > Tracking > update task. Kemudian akan muncul
jendela untuk memasukkan data realisasi lapangan.

80
• Data realisasi kemudian dimasukkan ke dalam bagian actual start dan
actual finish. Pekerjaan yang sudah selesai akan terlihat dicek dengan
tanda cek warna hijau pada bagian Indicators.

81
BAB 8
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari analisis dan pembahasan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai
berikut.
• Perencanaan scheduling harus disesuaikan dengan metode pelaksanaan di
lapangan. Apabila metode pelaksanaan di lapangan berubah, maka
perencanaan juga harus direvisi sesuai dengan kebutuhan lapangan.
• Untuk pelaksanaan konstruksi struktur bangunan yang besar, jumlah
komponen pekerjaan juga akan banyak. Untuk itu, suatu alat bantu
manajemen konstruksi yang memudahkan perencanaan maupun
monitoring proyek.
• Perangkat lunak Serena OpenProj yang berlisensi open source dan gratis
dapat berfungsi sebagai alat scheduling maupun monitoring sebagai
alternatif dari perangkat lunak komersial lain yang tentunya akan
menurunkan penggunaan dana pada proyek.
B. Saran
Dari analisis penyusun menyarankan beberapa hal sebagai berikut.
• Pada proyek pembangunan metode pelaksanaan kontraktor sebaiknya
dipantau dengan teliti seiring monitoring pada proyek, perlu komunikasi
yang baik antara pembuat schedule.
• Pembuat schedule dapat menggunakan schedule yang telah dibuat sebagai
alat monitoring. Itu sebabnya, revisi rencana, kemajuan proyek sebaiknya
dipantau juga dengan menggunakan rencana awal yang dilengkapi dengan
data monitoring pada proyek dengan menggunakan perangkat lunak
Serena OpenProj.

82
DAFTAR PUSTAKA
nama pengarang, tahun terbit, judul karangan, penerbit, tempat terbit.
Dipohusodo, I., 1996, Manajemen Proyek dan Konstruksi – Jilid 1, Kanisius,
Yogyakarta.
Djojowirono, S., 2005, Manajemen Konstruksi, Biro Penerbit KMTS FT UGM,
Yogyakarta.
Presentasi PT. Dinamik Struktural Sistem pada pekerjaan Post-Tensioning Girder
Tol Semarang-Bawen Seksi II
Presentasi Launching Gantry pada Proyek Tol Semarang-Bawen Seksi II
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
http://en.wikipedia.org/wiki/OpenProject
http://www.seputarforex.com/berita/kurs_dollar_rupiah_hari_ini.php
http://office.microsoft.com/en-us/products/FX101754511033.aspx
www.google.com

83
LAMPIRAN

84