Anda di halaman 1dari 5

ASAM NITRAT

Senyawa kimia asam nitrat (HNO3) adalah sejenis cairan korosif yang tak berwarna, dan merupakan asam
beracun yang dapat menyebabkan luka bakar. Larutan asam nitrat dengan kandungan asam nitrat lebih dari
86% disebut sebagai asam nitrat berasap, dan dapat dibagi menjadi dua jenis asam, yaitu asam nitrat
berasap putih dan asam nitrat berasap merah.
Asam nitrat atau nitric acid, dengan rumus kimia HNO3, merupakan asam kuat dan termasuk bahan kimia
berbahaya. Asam nitrat bersifat korosif. Berdasarkan sifatnya ini, maka kita perlu mengetahui potensi
bahayanya secara detail, pengaruhnya terhadap kesehatan dan cara pencegahannya.
Dalam keadaan murni, asam nitrat merupakan cairan tak berwarna. Akan tetapi, seiring dengan waktu, warna
larutan asam nitrat menjadi kekuningan. Ini disebabkan oleh akumulasi senyawa oksida nitrogen di
dalamnya.
Larutan HNO3 banyak digunakan di dalam industri, termasuk industri kimia. Salah satu penggunaannya
adalah untuk chemical cleaning pipa atau peralatan logam, yaitu untuk membentuk lapisan oksida logam.
Sehingga pada akhirnya, logam (pipa misalnya) akan terhindar dari proses oksidasi lanjutan (korosi).
Sifat
Asam nitrat murni (100%) merupakan cairan tak berwarna dengan berat jenis 1.522 kg/m³. Ia membeku pada
suhu -42 °C, membentuk kristal-kristal putih, dan mendidih pada 83 °C. Ketika mendidih pada suhu kamar,
terdapat dekomposisi (penguraian) sebagian dengan pembentukan nitrogen dioksida sesudah reaksi:
4HNO3 → 2H2O + 4NO2 + O2 (72 °C)
yang berarti bahwa asam nitrat anhidrat sebaiknya disimpan di bawah 0 °C untuk menghindari penguraian.
Nitrogen dioksida (NO2) tetap larut dalam asam nitrat yang membuatnya berwarna kuning, atau merah pada
suhu yang lebih tinggi. Manakala asam murni cenderung mengeluarkan asap putih ketika terpapar ke udara,
asam dengan nitrogen dioksida terlarut mengeluarkan uap berwarna coklat kemerah-merahan, yang
membuatnya dijuluki "asam berasap merah" atau "asan nitrat berasap". Asam nitrat berasap juga dirujuk
sebagai asam nitrat 16 molar (bentuk paling pekat asam nitrat pada temperatur dan tekanan standar).
Asam nitrat bercampur dengan air dalam berbagai proporsi dan distilasi menghasilkan azeotrop dengan
konsentrasi 68% HNO3 dan titik didih 120,5 °C pada 1 atm. Terdapat dua hidrat padat yang diketahui, yaitu
monohidrat (HNO3·H2O) dan trihidrat (HNO3·3H2O).
Nitrogen oksida (NOx) larut dalam asam nitrat dan sifat ini mempengaruhi semua sifat fisik asam nitrat yang
tergantung pada konsentrasi oksida (seperti tekanan uap di atas cair, suhu didih, dan warna yang dijelaskan
di atas).
Peningkatan konsentrasi asam nitrat dipengaruhi oleh dekomposisi termal maupun cahaya, dan hal ini dapat
menimbulkan sejumlah variasi yang tak dapat diabaikan pada tekanan uap di atas cairan karena nitrogen
oksida yang diproduksi akan terlarut sebagian atau sepenuhnya di dalam asam.
Sifat-sifat asam
Sebagai mana asam pada umumnya, asam nitrat bereaksi dengan alkali, oksida basa, dan karbonat untuk
membentuk garam, seperti amonium nitrat. Karena memiliki sifat mengoksidasi, asam nitrat pada umumnya
tidak menyumbangkan protonnya (yakni, ia tidak membebaskan hidrogen) pada reaksi dengan logam dan
garam yang dihasilkan biasanya berada dalam keadaan teroksidasi yang lebih tinggi.Karenanya, perkaratan
(korosi) tingkat berat bisa terjadi. Perkaratan bisa dicegah dengan penggunaan logam ataupun aloi anti karat
yang tepat.
Asam nitrat memiliki tetapan disosiasi asam (pKa) 1,4: dalam larutan akuatik, asam nitrat hampir sepenuhnya
(93% pada 0.1 mol/L) terionisasi menjadi ion nitrat NO3 dan proton terhidrasi yang dikenal sebagai ion
hidronium, H3O+.
HNO3 + H2O → H3O+ + NO3-
Sifat-sifat oksidasi
Reaksi dengan logam
Sebagai sebuah oksidator yang kuat, asam nitrat bereaksi dengan hebat dengan sebagian besar bahan-bahan
organik dan reaksinya dapat bersifat eksplosif. Produk akhirnya bisa bervariasi tergantung pada konsentrasi
asam, suhu, serta reduktor. Reaksi dapat terjadi dengan semua logam kecuali deret logam mulia dan aloi
tertentu. Karakteristik ini membuat asam nitrat menjadi agen yang umumnya digunakan dalam uji asam.
Sebagai kaidah yang umum, reaksi oksidasi utamanya terjadi dengan asam pekat, memfavoritkan
pembentukan nitrogen dioksida (NO2).
Cu + 4H+ + 2NO3- → Cu+2 + 2NO2 + 2H2O
Sifat-sifat asam cenderung mendominasi pada asam nitrat encer, diikuti dengan pembentukan nitrogen
oksida (NO) yang lebih diutamakan.
3Cu + 8HNO3 → 3Cu(NO3)2 + 2NO + 4H2O
Karena asam nitrat merupakan oksidator, hidrogen (H2) jarang terbentuk. Hanya magnesium (Mg), mangan
(Mn), dan kalsium (Ca) yang bereaksi dengan asam nitrat dingin dan encer yang dapat menghasilkan
hidrogen:
Mg(s) + 2HNO3(aq) → Mg(NO3)2(aq) + H2(g)
Asam nitrat mampu menyerang dan melarutkan semua logam yang ada pada tabel periodik, kecuali emas dan
platina.
Pemasifan
Kendati kromium (Cr), besi (Fe), dan aluminium (Al) akan terlarut dalam asam nitrat yang encer, asam pekat
akan membentuk sebuah lapisan logam oksida yang melindungi logam dari oksidasi lebih lanjut. Hal ini
disebut dengan pemasifan. Konsentrasi pemasifan yang umum berkisar dari 18% sampai 22% berat.
Reaksi dengan non-logam
Ketika asam nitrat bereaksi dengan berbagai unsur non-logam, terkecuali silikon serta halogen, biasanya ia
akan mengoksidasi non-logam tersebut ke keadaan oksidasi tertinggi dengan asam nitrat menjadi nitrogen
dioksida untuk asam pekat dan nitrogen monoksida untuk asam encer.
C + 4HNO3 → CO2 + 4NO2 + 2H2O
ataupun
3C + 4HNO3 → 3CO2 + 4NO + 2H2O
http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_nitrat

Aseton
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Aseton, juga dikenal sebagai propanon, dimetil keton, 2-propanon, propan-2-on, dimetilformaldehida,
dan β-ketopropana, adalah senyawa berbentuk cairan yang tidak berwarna dan mudah terbakar. Ia
merupakan keton yang paling sederhana. Aseton larut dalam berbagai perbandingan dengan air, etanol, dietil
eter,dll. Ia sendiri juga merupakan pelarut yang penting. Aseton digunakan untuk membuat plastik, serat,
obat-obatan, dan senyawa-senyawa kimia lainnya. Selain dimanufaktur secara industri, aseton juga dapat
ditemukan secara alami, termasuk pada tubuh manusia dalam kandungan kecil.
Produksi
Aseton dibuat secara langsung maupun tidak langsung dari propena. Secara umum, melalui proses kumena,
benzena dialkilasi dengan propena dan produk proses kumena(isopropilbenzena) dioksidasi untuk
menghasilkan fenol dan Aseton:
C6H5CH(CH3)2 + O2 → C6H5OH + OC(CH3)2
Konversi di atas terjadi melalui zat antara kumena hidroperoksida, C6H5C(OOH)(CH3)2.
Aseton juga diproduksi melalui propena yang dioksidasi langsung dengan menggunakan katalis
Pd(II)/Cu(II), mirip seperti 'proses wacker'.
Dahulu, aseton diproduksi dari distilasi kering senyawa asetat, misalnya kalsium asetat. Selama perang dunia
I, sebuah proses produksi aseton dari fermentasi bakteri dikembangkan oleh Chaim Weizmann dalam rangka
membantu Britania dalam usaha perang. Proses ini kemudian ditinggalkan karena rendahnya aseton butanol
yang dihasilkan.
Penggunaan
Cairan pembersih
Aseton sering kali merupakan komponen utama (atau tunggal) dari cairan pelepas cat kuku. Etil asetat,
pelarut organik lainnya, kadang-kadang juga digunakan. Aseton juga digunakan sebagai pelepas lem super.
Ia juga dapat digunakan untuk mengencerkan dan membersihkan resin kaca serat dan epoksi. Ia dapat
melarutkan berbagai macam plastik dan serat sintetis.
Ia sangat baik digunakan untuk mengencerkan resin kaca serat, membersihkan peralatan kaca gelas, dan
melarutkan resin epoksi dan lem super sebelum mengeras.
Selain itu, aseton sangatlah efektif ketika digunakan sebagai cairan pembersih dalam mengatasi tinta
permanen.
Pelarut
Aseton dapat melarutkan berbagai macam plastik, melipuri botol Nalgene yang dibuat dari polistirena,
polikarbonat, dan beberapa jenis poliprolilena.[2]
dalam laboratorium, aseton digunakan sebagai pelarut aportik polar dalam kebanyakan reaksi organik,
seperti reaksi SN2. Penggunaan pelarut aseton juga berperan penting pada oksidasi Jones. Oleh karena
polaritas aseton yang menengah, ia melarutkan berbagai macam senyawa. Sehingga ia umumnya ditampung
dalam botol cuci dan digunakan sebagai untuk membilas peralatan gelas laboratorium.
Walaupun mudah terbakar, aseton digunakan secara ekstensif pada proses penyimpanan dan transpor
asetilena dalam industri pertambangan. Bejana yang mengandung bahan berpori pertama-tama diisi dengan
aseton, kemudian asetilena, yang akan larut dalam aseton. Satu liter aseton dapat melarutkan sekitas 250 liter
asetilena.[3][4]

PABRIK ASAM OKSALAT


SELEKSI PROSES PEMBUATAN ASAM OKSALAT
A. MACAM PROSES
Secara umum, ada empat macam proses pembuatan asam oksalat dengan bahan dasar yang berbeda, yaitu:
1. Sintesis dari Natrium Formiat
2. Fermentasi glukosa
3. Peleburan alkali
4. Oksidasi karbohidrat dengan HNO3

1. Sintesis dari Natrium Formiat


Pada proses pembuatan asam oksalat dari natrium formiat ini, bahan yang dipakai adalah gas CO, Ca(OH)2,
H2SO4, dan NaOH. Proses utama pembuatan asam oksalat meliputi:
Pembuatan, pemurnian dan pengempaan gas
Udara panas direaksikan dengan kokas membentuk gas batubara, yang memiliki komponen utama CO, N2,
CO2, debu dan limbah gas lainnya.
Kokas + udara panas ----------> CO + N2 +CO2 + debu + limbah gas
Selanjutnya gas batubara (CO dan N2) dimurnikan, dikeringkan dan dikempa
Proses sintesa
Gas CO bertekanan direaksikan dengan larutan NaOH pada suhu 200oC menjadi natrium formiat
(HCOONa).
NaOH + CO -------------> HCOONa
Proses Dehidrogenasi
HCOONa diuraikan menjadi Na2C2O4 dan gas hidrogen dengan reaksi sebagai berikut :
2 HCOONa --------------> (COONa)2 + H2
Proses pengolahan plumbite
Timbal sulfat (PbSO4) bereaksi dengan Na2C2O4 menghasilkan natrium sulfat (Na2SO4) dan PbC2O4 yang
tidak larut
(COONa)2 + PbSO4 ------------> Na2SO4 + PbC2O4
Melalui pencucian dengan air, maka Na2SO4 dan PbC2O4 akan terpisahkan.
Proses pengasaman
Dalam proses pengasaman, PbC2O4 bereaksi dengan asam sulfat membentuk asam oksalat H2C2O4 dan
PbSO4 yang tidak larut.
PbC2O4 + H2SO4 --------------> (COOH)2 + PbSO4
Pengkristalan dan pengeringan H2C2O4
Larutan asam oksalat dipanaskan, diuapkan dan diembunkan untuk menghasilkan kristal asam oksalat.
2. Fermentasi Glukosa
Proses ini menggunakan jamur untuk menguraikan glukosa menjadi asam oksalat. Jamur yang digunakan
pada proses ini adalah Aspergillus Niger yang beroperasi optimum pada pH 4,5. Produk yang diperoleh
kemudian disaring, diasamkan, dan dihilangkan warnanya. Setelah itu, produk dinaikkan konsentrasinya
dengan evaporator dan hasilnya dikristalkan. Hasil dari pengkristalan dikeringkan untuk meminimalkan
kadar air dalam produk. Yield asam oksalat tergantung dari nutrient (nitrogen) yang ditambahkan.
3. Peleburan Alkali
Proses ini menggunakan bahan baku berupa bahan yang mengandung selulosa tinggi, potass serbuk gergaji,
sekam, tongkol jagung, dan lain-lain. Bahan ini dilebur dengan sodium hidroksida dan/atau potassium
hidroksida pada suhu 240 – 285 oC. Produk yang diperoleh direaksikan dengan kapur untuk mengikat
oksalat dengan kalsium. Produk ini kemudian direaksikan dengan asam sulfat untuk membentuk asam
oksalat. Reaksi-reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
Selulosa + NaOH ---------> Na2C2O4 + zat lain
Na2C2O4 + Ca(OH)2 ---------> CaC2O4 + 2 NaOH
CaC2O4 + H2SO4 ---------> CaSO4 + H2C2O4
Konversi yang diperoleh dari proses ini kurang dari 45 % dengan kemurnian produk sebesar 60 %.
4. Oksidasi karbohidrat dengan HNO3
Cara ini ditemukan oleh Scheele pada tahun 1776. Karbohidrat yang dapat digunakan pada proses ini antara
lain : gula, glukosa, fruktosa, maizena, pati gandum, pati kentang, tapioka, molasses, dan lain-lain.
Karbohidrat dihidrolisis terlebih dahulu untuk mendapatkan glukosa dengan reaksi:
(C6H10O5)n + n H2O → n C6H12O6
Glukosa yang diperoleh dicampurkan dengan larutan induk asam oksalat yang mengandung ± 50 % H2C2O4
dan kemudian direaksikan dengan HNO3 menggunakan katalis V2O5. Reaksi yang terjadi pada tahap ini
adalah :
C6H12O6 + 12 HNO3 --------> 3 C2H2O4.2H2O + 3 H2O + 3NO + 9 N2O
4 C6H12O6 + 18 HNO3 + 3 H2O ------------> 12 C2H2O4.2H2O + 9 NO2
Dalam pembuatan asam oksalat dengan proses ini, bahan dasar yang digunakan mengandung pati ± 80 %.
Setelah didapatkan produk asam oksalat, dilakukan penyaringan, pemisahan, dan pengkristalan. Konsentrasi
asam oksalat yang dihasilkan mencapai 99 % sedangkan yield dapat mencapai 95 - 97 %. Proses pembuatan
asam oksalat dengan metode ini dapat dilakukan secara batch maupun kontinyu.
http://revik45.blogspot.com/2009/03/pabrik-asam-oksalat.html
What is Oxalic Acid?
Oxalic Acid, or dicarboxylic acid is a chemical compound of Hydrogen, Carbon and Oxygen.
Within the sub-group of 'weak acids', Oxalic Acid is relatively strong. It is found naturally in varying
concentrations, occuring in many plants such as tea, rhubarb, spinach, cocoa, nuts, berries and beans.
Oxalic acid has many uses in various industries, such as construction, joinery, furniture restoration,
beekeeping and boating. However, oxalic acid can also be a very helpful chemical to use around the home.

The Chemical Formula of Oxalic Acid


Oxalic Acid in the Construction, Woodworking & Joinery Trades
The woodworking and joinery trade make extensive use of oxalic acid.
Crystals of oxalic acid rubbed onto wooden beams and floors removes unsightly stains caused by age,
exterior exposure or rust easily.
It is not only wood that oxalic acid works wonders on. It can also be used to treat, polish and repair other
materials such as stone, marble and stainless steel.
Oxalic Acid and Beekeeping
A beekeeper's worst enemy is the Varroa mite. Varroa destructor and Varroa jacobsoni are parasites that
feed off the bodily fluids of adult bees, their pupae and lavae. You can see Varroa mites with the naked eye
and they look like a small reddy brown spot on the bee's upper body. Varroa are carriers of a virus that is
particularly damaging to the bees. Bees that are infected with this virus have visible wing deformities.
Varroa were first discovered in South-East Asia around 1904, but has now spread virtually worldwide,
reaching the USA in 1987 and New Zealand in 2000.
The presence of Varroa has led to the virtual elimination of wild bee colonies and is a real problem for kept
bees in apiaries.
When the growth of a hive population is reduced the mite population growth can overtake that of the bees
and can then destroy the hive. Often, a colony will simply leave the hive under such conditions.
Oxalic acid is extremely effective for the control of Varroa mites. When applied either by spraying, trickling
or vaporizing, it is more than 95% effective. Follwing the treatment, studies have shown that the naturally
occuring levels of oxalic in the bees' honey is not effected.Therefore, beekeepers do not need to worry about
residue problems.
Oxalic acid should be prepared shortly before use and used immediately. Oxalic acid solutions in sugar syrup
can be kept for longer periods of time if the storage temperature is lower than 5°C.
http://hubpages.com/hub/OxalicAcid