Anda di halaman 1dari 3

Artikel pengertian Collaborative Team-work Learning

Artikel yang saya posting kali ini yaitu tentang pengertian Collaborative Team-work
Learning atau disingkat CL. Collaborative Team-work Learning (CL) adalah proses
belajar kelompok dimana setiap anggota menyumbangkan informasi, pengalaman,
ide, sikap, pendapat, kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya, untuk secara
bersama-sama saling meningkatkan pemahaman seluruh anggota. Metode CL
memungkinkan setiap siswa untuk memahami seluruh bagian pembahasan, tidak
seperti pada kelompok belajar yang kita kenal, yang menyebabkan hanya siswa
tertentu yang memahami materi tertentu. Metode CL juga membuat seluruh siswa
akan memiliki pemahaman yang setara akan suatu pembahasan.
Jika berbicara tentang “team”, maka serta merta terlintas dalam pikiran kita tentang
adanya “kelompok” dan “kolaborasi”. Dishon dan O’Leary mendefinisikan “team”
sebagai: “a group of two to five students who are tied together by a common purpose
to complete a task and to include every group member” . Dalam konteks ini, Benne
and Seats menegaskan bahwa premis mayor dalam suatu tim adalah bahwa setiap
orang dalam tim tersebut harus berfungsi sebagai pemain yang kooperatif dan
produktif untuk menuju tercapainya hasil yang diinginkan . Dengan sangat
menekankan pentingnya kohesivitas, Duin, Jorn, DeBower, dan Johnson
mendefinisikan “collaboration” sebagai suatu proses di mana dua orang atau lebih
merencanakan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi kegiatan bersama .
Konsep “team” dengan segala aspeknya ini harus benar-benar dipahami oleh siswa
karena menurut Ravenscroft dan Buckless, kurangnya pemahaman tentang konsep ini
dapat berakibat kurangnya kesadaran akan pentingnya kerjasama, tidak dapat
memprioritaskan tujuan tim ketimbang tujuan individu, dan pada gilirannya dapat
berakibat berbuat kesalahan dalam menyelenggarakan pertemuan, mengabaikan batas
waktu penyelesaian pekerjaan tim, kurang penuh dalam bertanggungjawab, serta
kurang dapat bekerja secara efisien .
Ada sejumlah strategi yang diajukan oleh Howard yang dapat digunakan oleh para
guru untuk membantu siswa memahami konsep dan cara kerja tim serta dapat
merangsang siswa untuk mempelajari keterampilan-keterampilan dalam kerja tim.
Strategi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Kembangkan diskusi kelas dan dorong siswa untuk berbagi pemikiran tentang
apa
ebenarnya hakikat tim serta mengapa bekerja secara tim itu penting. Bagi siswa
yang sudah sering terlibat kerja tim, baik di organisasi sosial, kegiatan
kemasyarakatan, atau organisasi lainnya dapat berbagi pengalamannya dengan
siswa lain di dalam diskusi kelas tersebut. Perlu ditekankan kepada siswa bahwa
keputusan-keputusan suatu tim harus didasarkan pada pertimbangan kemanfaatan
seluruh organisasi, dan bahwa tindakan yang meskipun mungkin bermanfaat
secara individual tetapi tidak bagi organisasi harus dihindarkan jauh-jauh.
2. Tugaskan siswa secara berkelompok untuk mencari artikel-artikel yang
berkenaan dengan kerja tim. Jika tugas ini dapat berjalan baik, kalau
memungkinkan, tugaskan mereka untuk menelusuri artikel-artikel sejenis dengan
mengakses internet. Dengan cara demikian, mereka sudah mulai belajar bekerja
secara tim, mengembangkan keterampilan semacam riset untuk memperoleh
artikel, dan akhirnya tidak hanya bermanfaat bagi pemenuhan tugas-tugas dari
guru melainkan juga untuk pengembangan diri. Konsekuensinya, gurunya juga
harus tahu bagaimana mengakses internet.
3. Bagi kelas ke dalam beberapa kelompok dan tugaskan pada setiap kelompok
untuk mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan bekerja
secara tim. Pertanyaan yang dikembangkan bisa meliputi dasar pemikiran
mengapa bekerja secara tim itu penting, strategi yang dapat digunakan untuk
memiliki anggota tim, jenis-jenis tugas dan kinerja yang perlu dipenuhi dalam
kerja tim, faktor-faktor yang mendorong anggota tim mampu bertanggungjawab
secara individual maupun kelompok. Akan lebih bagus jika pengembangan
pertanyaan-pertanyaan dalam kelas itu dikembangkan dengan menugaskan siswa
untuk melakukan survei terhadap orang-orang yang sudah terbiasa terlibat kerja
tim di lingkungan kerja mereka. Agar lebih teratur, akan lebih baik jika guru yang
bersangkutan menghubungi lebih dahulu instansi atau perusahaan yang sudah
bagus dalam mengembangkan pola kerja secara tim atau secara kooperatif dan
bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan dan dikembangkan
oleh siswa. Setidaknya, ada dua keuntungan bagi siswa jika proses seperti ini
dikembangkan: (a) siswa memperoleh informasi langsung dari tangan pertama
yakni dari para profesional; dan (b) dapat meningkatkan keterampilan mereka
dalam menelusuri informasi.
4. Datangkan profesional yang telah berpengalaman melaksanakan kerja secara
tim ke kampus untuk mendiskusikan peranan kerja tim bagi keberhasilan
instansinya atau perusahaannya serta strategi yang digunakan untuk meningkatkan
komitmen dan kohesivitas anggota timnya. Hal ini dapat membantu siswa dalam
mempersiapkan dirinya untuk mengembangkan keterampilan kerja secara tim
manakala nanti sudah memasuki dunia kerja.