Anda di halaman 1dari 30

Bab 1

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Sayuran merupakan komoditi yang berprospek cerah, karena


dibutuhkan sehari-hari dan permintaannya cenderung terus
meningkat Sebagaimana jenis tanaman hortikultura lainnya,
kebanyakan tanaman sayuran mempunyai nilai komersial yang cukup
tinggi. Kenyataan ini dapat dipahami sebab sayuran senantiasa
dikonsumsi setiap saat. Selain itu, waktu panen sayuran terhitung
cepat, hingga banyak petani lebih memilih menanam sayuran.

Istilah teknik budidaya tanaman diturunkan dari pengertian kata-


kata teknik, budidaya, dan tanaman. Teknik memiliki arti pengetahuan
atau kepandaianmembuat sesuatu, sedangkan budidaya bermakna
usaha yang memberikan hasil. Kata tanaman merujuk pada pengertian
tumbuh-tumbuhan yang diusahakan manusia, yang biasanya telah
melampaui proses domestikasi. Teknik budidaya tanaman adalah
proses menghasilkan bahan pangan serta produk-produk agroindustri
dengan memanfaatkan sumber daya tumbuhan.

Pada umumnya kegiatan budidaya tanaman terkait dengan tingkat


pengetahuan manusia pada masa itu. Relevansi dari peradaban
tersebut terwujud pada kesadaran untuk melaksanakan tindak
budidaya. Tindak awal dari dimulainya teknik budidaya dimulai dengan
menetapnya seorang peladang menempati suatu areal pertanaman
tertentu.

1.2. Tujuan

Tanaman dibudidayakan dengan maksud agar tanaman tersebut


memberikan hasil tinggi secara kuantitatif dan kualitatif. Dengan
demikian untukmencapai maksud dan tujuan dalam budidaya
tanaman, pemeliharaan varietas sangat menentukan. Selain varietas
juga perlu diperhatikan mutu benih, karenabenih merupakan biji
tanaman yang digunakan untuk tujuan pertanaman.

1
BAB 2

Teknik Budidaya Tanaman

2.1. Budidaya Tanaman Jagung

A. Syarat benih

Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih
hibryda). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih + 20-30
kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam POC NASA
(dosis 2-4 cc/lt air semalam). Pada benih jagung yang kami gunakan,
sebelumnya telah diberi pestisida sehingga benih jagung terlihat
berwarna merah muda.

B. Pengolahan Lahan

Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang


cukup banyak diambil dan dibuang, kemudian dicangkul dan diolah
dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm,
kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang
barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm. Saluran
ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek. Pada
pengolahan lahan, dilakukan dua perlakuan berbeda, yaitu satu areal
yang diberi perlakuan dengan pengolahan, yang satu lagi tidak diberi
perlakuan pengolahan lahan, sehingga dapat mengetahui bagaimana
perbedaan jagung yang tumbuh di dua perlakuan lahan yang berbeda.

2
1. Penentuan Pola Tanaman

Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan :

a. Tumpang sari ( intercropping ), melakukan penanaman lebih dari 1


tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur
seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung,
ketela pohon, padi gogo.

b. Tumpang gilir ( Multiple Cropping ), dilakukan secara beruntun


sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk
mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo,
kedelai, kacang tanah, dll.

c. Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping ): pola tanam dengan


menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok
(dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda).
Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang
panen disisipkan kacang panjang.

d. Tanaman Campuran ( Mixed Cropping ) : penanaman terdiri


beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun
larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan
terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran
seperti jagung, kedelai, ubi kayu.

2. Lubang Tanam dan Cara Tanam

Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi
1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya,
semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur
panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40x100 cm (2
tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya
25x75 cm (1 tanaman/lubang).

C. Pengolahan Lahan

3
Pada tahap pengolahan lahan, dilakukan perlakuan seperti pemberian
pupuk, penyiraman, pembubunan.

D. Hama dan Penyakit yang Muncul

Terlihat gejala-gejala serangan hama dan penyakit pada tanaman


jagung yang kami budidaya:

1. Hama

a. Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)

Gejala: daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang


terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu,
pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab: lalat bibit
dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan
bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara,
dan panjang lalat 3-3,5 mm. Pengendalian: (1) penanaman serentak
dan penerapan pergiliran tanaman. (2) tanaman yang terserang segera
dicabut dan dimusnahkan. (3) Sanitasi kebun. (4) semprot dengan
PESTONA

b. Ulat Pemotong

Gejala: tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah,


ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman
yang masih muda roboh. Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong:
Agrotis ipsilon; Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia
furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera).
Pengendalian: (1) Tanam serentak atau pergiliran tanaman; (2) cari
dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat di dalam tanah); (3)
Semprot PESTONA, VITURA atau VIREXI.

2. Penyakit

a. Penyakit bulai (Downy mildew)

Penyebab: cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta


P. philippinensis, merajalela pada suhu udara 270 C ke atas serta
keadaan udara lembab. Gejala: (1) umur 2-3 minggu daun runcing,

4
kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi
bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; (2) umur 3-
5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna
dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; (3) pada
tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua.
Pengendalian: (1) penanaman menjelang atau awal musim penghujan;
(2) pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas
tahan; (3) cabut tanaman terserang dan musnahkan; (4) Preventif
diawal tanam dengan GLIO

b. Penyakit bercak daun (Leaf bligh)

Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum. Gejala: pada daun


tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi
warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga
ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah
warna menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi
coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat.
Pengendalian: (1) pergiliran tanaman. (2) mengatur kondisi lahan tidak
lembab; (3) Prenventif diawal dengan GLI

c. Penyakit karat (Rust)

Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan P.polypora Underw.


Gejala: pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda
berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk
berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan
memanjang. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) menanam
varietas tahan terhadap penyakit; (3) sanitasi kebun; (4) semprot
dengan GLIO.

d. Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut)

5
Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw)
Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC. Gejala: masuknya cendawan
ini ke dalam biji pada tongkol sehingga terjadi pembengkakan dan
mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan
pembungkus rusak dan spora tersebar. Pengendalian: (1) mengatur
kelembaban; (2) memotong bagian tanaman dan dibakar; (3) benih
yang akan ditanam dicampur GLIO dan POC NASA .

e. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji

Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella


zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme.
Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji
jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian
berubah menjadi warna coklat sawo matang. Pengendalian: (1)
menanam jagung varietas tahan, pergiliran tanam, mengatur jarak
tanam, perlakuan benih; (2) GLIO di awal tanam.

Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan


pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia
yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan
tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO
810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

E. Panen dan Pasca Panen

Pada tahap ini, kami belum melakukannya, namun apabila telah masuk
masa panen, maka inilah yang harus kita ketahui dan apa yang kita
lakukan saat panen adalah:

6
1. Ciri dan Umur Panen

Umur panen + 86-96 hari setelah tanam. Jagung untuk sayur (jagung
muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh (diameter
tongkol 1-2 cm), jagung rebus/bakar, dipanen ketika matang susu dan
jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen
jika sudah matang fisiologis.

2. Cara Panen

Putar tongkol berikut kelobotnya/patahkan tangkai buah jagung.

3. Pengupasan

Dikupas saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan


selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga
cendawan tidak tumbuh.

4. Pengeringan

Pengeringan jagung dengan sinar matahari (+7-8 hari) hingga kadar


air + 9% -11 % atau dengan mesin pengering.

5. Pemipilan

Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung.

6. Penyortiran dan Penggolongan

Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak
dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll).
Penyortiran untuk menghindari serangan jamur, hama selama dalam

7
penyimpanan dan menaikkan kualitas panenan.

2.2. Budidaya Tanaman Tomat

A. FASE PRA TANAM

1. Syarat Tumbuh

- Tomat dapat ditanam di dataran rendah/dataran tinggi

- Tanahnya gembur, porus dan subur, tanah liat yang sedikit


mengandung pasir dan pH antara 5 – 6

- Curah hujan 750-1250 mm/tahun, curah hujan yang tinggi dapat


menghambat persarian.

- Kelembaban relatif yang tinggi sekitar 25% akan merangsang


pertumbuhan tanaman yang masih muda karena asimilasi CO2
menjadi lebih baik melalui stomata yang membuka lebih banyak, tetapi
juga akan merangsang mikroorganisme pengganggu tanaman dan ini
berbahaya bagi tanaman

2. Pola Tanam

- Tanaman yang dianjurkan adalah jagung, padi, sorghum, kubis dan


kacang-kacangan

- Dianjurkan tanam sistem tumpang sari atau tanaman sela untuk


memberikan keadaan yang kurang disukai oleh organisme jasad
pengganggu

3. Penyiapan Lahan

- Pilih lahan gembur dan subur yang sebelumnya tidak ditanami tomat,
cabai, terong, tembakau dan kentang .

- Untuk mengurangi nematoda dalam tanah genangilah tanah dengan


air selama dua minggu

- Bila pH rendah berikanlah kapur dolomite 150 kg/1000 m2 dan


disebar serta diaduk rata pada umur 2-3 minggu sebelum tanam

8
- Buatlah bedengan selebar 120-160 cm untuk barisan ganda dan 40-
50 cm untuk barisan tunggal

- Buatlah parit selebar 20-30 cm diantara bedengan dengan kedalaman


30 cm untuk pembuangan air.

- Berikan pupuk dasar 4 kg Urea /ZA + 7,5 kg TSP + 4 kg KCl per 1000
m2 diatas bedengan, aduk dan ratakan dengan tanah

- Atau jika pakai Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg / 1000


m2 dicampur rata dengan tanah di atas bedengan.

- Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata
diatas bedengan dosis 1-2 botol/1000 m2. Hasil akan lebih bagus jika
diganti SUPER NASA (dosis ± 1-2 botol/1000 m2 ) dengan cara :

- alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air


dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan
induk tadi untuk menyiram bedengan.

- alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 lt diberi 1 sendok peres


makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 meter bedengan

- Sebarkan Natural GLIO 1-2 sachet yang telah dicampur pupuk


kandang (+ 1 minggu) merata di atas bedengan pada sore hari

- Jika pakai Mulsa plastik, tutup bedengan pada siang hari

- Biarkan selama 5-7 hari sebelum tanam

- Buat lubang tanam dengan jarak 60 x 80 cm atau 60 x 50 cm di atas


bedengan, diameter 7-8 cm sedalam 15 cm

Pada perlakuan yang kami lakukan pada tanaman tomat, dilakukan 2


perlakuan yaitu dengan menggunakan mulsa dan tanpa menggunakan
mulsa.

9
Tanpa mulsa Dengan Mulsa

4. Pemilihan Bibit

- Pilih varietas tahan dan jenis Hybryda ( F1 Hybryd )

- Bibit berdaun 5-6 helai daun (25-30 HSS=hari setelah semai)


pindahkan ke lapangan

- Untuk mengurangi stress awal pertumbuhan perlu disiram dulu pada


sore sehari sebelum tanam atau pagi harinya (agar lembab)

B. FASE PERSEMAIAN (0-30 HSS)

- Siapkan media tanam yang merupakan campuran tanah dan pupuk


kandang 25 - 30 kg + Natural GLIO (1:1)

- Masukkan dalam polibag plastik atau contongan daun pisang atau


kelapa

- Sebarlah benih secara merata atau masukkan satu per satu dalam
polibag

- Setelah benih berumur 8-10 hari , pilih bibit yang baik, tegar dan
sehat dipindahkan dalam bumbunan daun pisang atau dikepeli yang
berisi campuran media tanam

- Penyiraman dilakukan setiap hari (lihat kondisi tanah)

- Penyemprotan POC NASA pada umur 10 dan 17 hari dengan dosis 2


tutup/tangki

10
C. FASE TANAM ( 0-15 HST=Hari Setelah Tanam )

- Bedengan sehari sebelumnya diairi ( dilep ) dahulu

- Bibit siap tanam umur 3 - 4 minggu, berdaun 5-6

- Penanaman sore hari

- Buka polibag plastik

- Benamkan bibit secara dangkal pada batas pangkal batang dan


ditimbun dengan tanah

di sekitarnya

- Selesai penanaman langsung disiram dengan POC NASA dengan dosis


2-3 tutup per + 15 liter air

- Sulam tanaman yang mati sampai berumur 2 minggu, caranya


tanaman yang telah mati, rusak, layu atau pertumbuhannya tidak
normal dicabut, kemudian dibuat lubang tanam baru, dibersihkan dan
diberi Natural GLIO lalu bibit ditanam

- Pengairan dilakukan tiap hari sampai tomat tumbuh normal (Jawa :


lilir), hati-hati jangan sampai berlebihan karena tanaman bisa tumbuh
memanjang, tidak mampu menyerap unsur-unsur hara dan mudah
terserang penyakit

- Amati hama seperti ulat tanah dan ulat grayak. Jika ada serangan
semprot dengan Natural VITURA

- Amati penyakit seperti penyakit layu Fusarium atau bakteri dan busuk
daun , kendalikan dengan menyemprot Natural GLIO dicampur gula
pasir perbandingan 1:1. Untuk penyakit Virus, kendalikan vektornya
seperti Thrips, kutu kebul (Bemissia tabaci), banci ( Aphis sp.), Kutu
persik (Myzus sp.) dan tungau (Tetranichus sp.) dengan menyemprot
Natural BVR atau Pestona secara bergantian

- Pasang ajir sedini mungkin supaya akar tidak rusak tertusuk ajir
dengan jarak 10-20 cm dari batang tomat

11
D. FASE VEGETATIF ( 15-30 HST)

- Jika tanpa mulsa, penyiangan dan pembubunan pada umur 28 HST


bersamaan penggemburan dan pemberian pupuk susulan diikuti
pengguludan tanaman

- Setelah tanaman hidup sekitar 1 minggu semenjak tanam, diberi


pupuk Urea dan KCl dengan perbandingan 1:1 untuk setiap tanaman
(1-2 gram), berikan di sekeliling tanaman pada jarak ± 3 cm dari
batang tanaman tomat kemudian ditutup tanah dan siram dengan air

- Pemupukan kedua dilakukan umur 2-3 minggu sesudah tanam


berupa campuran Urea dan KCl (± 5 gr), berikan di sekeliling batang
tanaman sejauh ± 5 cm dan sedalam ± 1 cm kemudian ditutup tanah
dan siram dengan air.

- Bila umur 4 minggu tanaman masih kelihatan belum subur dapat


dipupuk Urea dan KCl lagi (7 gram). Jarak pemupukan dari batang
dibuat makin jauh ( ± 7 cm).

- Jika pakai Mulsa tidak perlu penyiangan dan pembubunan serta


pupuk susulan diberikan dengan cara dikocorkan

- Penyiraman dilakukan pada pagi atau sore hari

- Amati hama dan penyakit seperti ulat, kutu-kutuan, penyakit layu dan
virus, jika terjadi serangan kendalikan seperti pada fase tanam

- Semprotkan POC NASA (4-5 tutup) per tangki atau POC NASA (3-4
tutup) + HORMONIK (1 tutup) setiap 7 hari sekali.

- Tanaman yang telah mencapai ketinggian 10-15 cm harus segera


diikat pada ajir dan setiap bertambah tinggi + 20 cm harus diikat lagi
agar batang tomat berdiri tegak.

- Pengikatan jangan terlalu erat dengan model angka 8, sehingga tidak


terjadi gesekan antara batang dengan ajir yang dapat menimbulkan
luka.

12
E. FASE GENERATIF (30 - 80 HST)

1. Pengelolaan Tanaman

- Jika tanpa mulsa penyiangan dan pembubunan kedua dilakukan umur


45-50 hari

- Untuk merangsang pembungaan pada umur 32 HST lakukan


perempelan tunas-tunas tidak produktif setiap 5-7 hari sekali, sehingga
tinggal 1-3 cabang utama / tanaman

- Perempelan sebaiknya pagi hari agar luka bekas rempelan cepat


kering dengan cara; ujung tunas dipegang dengan tangan bersih lalu
digerakkan ke kanan-kiri sampai tunas putus. Tunas yang terlanjur
menjadi cabang besar harus dipotong dengan pisau atau gunting,
sedangkan tanaman yang tingginya terbatas perempelan harus hati-
hati agar tunas terakhir tidak ikut dirempel sehingga tanaman tidak
terlalu pendek

- Ketinggian tanaman dapat dibatasi dengan memotong ujung


tanaman apabila jumlah dompolan buah mencapai 5-7 buah

- Semprotkan POC NASA dan HORMONIK setiap 7-10 hari sekali dengan
dosis 3-4 tutup POC NASA dan 1-2 tutup HORMONIK/tangki. - Agar tidak
mudah hilang oleh air hujan dan merata tambahkan Perekat Perata
AERO 810 dengan dosis 5 ml ( 1/2 tutup)/tangki.

2. Pengamatan Hama dan Penyakit

13
- Ulat buah (Helicoperva armigera dan Heliothis sp.). Gejala buah
berlubang dan kotoran menumpuk dalam buah yang terserang.
Lakukan pengumpulan dan pemusnahan buah tomat terserang,
semprot dengan PESTONA

- Lalat buah (Brachtocera atau Dacus sp.).Gejala buah busuk karena


terserang jamur dan bila buah dibelah akan kelihatan larva berwarna
putih. - - Bersifat agravator, yaitu sebagai vektornya penyakit jamur,
bakteri dan Drosophilla sp. Kumpulkan dan bakar buah terserang,
gunakan perangkap lalat buah jantan (dapat dicampur insektisida)

- Busuk daun (Phytopthora infestans), bercak daun dan buah


(Alternaria solani) serta busuk buah antraknose (Colletotrichum
coccodes). Jika ada serangan semprot dengan Natural GLIO

- Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida


alami (PESTONA, GLIO, VITURA) belum mengatasi dapat dipergunakan
pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia
lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat
Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

- Busuk ujung buah. Ujung buah tampak lingkaran hitam dan busuk. Ini
gejala kekurangan Ca ( Calsium). Berikan Dolomit.

F. FASE PANEN & PASCA PANEN (80 - 130 HST)

- Panen pada umur 90-100 HST dengan ciri; kulit buah berubah dari
warna hijau menjadi kekuning-kuningan, bagian tepi daun tua
mengering, batang menguning, pada pagi atau sore hari disaat cuaca
cerah. Buah dipuntir hingga tangkai buah terputus. Pemuntiran buah
dilakukan satu-persatu dan dipilih buah yang siap petik. Masukkan
keranjang dan letakkan di tempat yang teduh

- Interval pemetikan 2-3 hari sekali.

- Supaya tahan lama, tidak cepat busuk dan tidak mudah memar, buah
tomat yang akan dikonsumsi segar dipanen setengah matang

14
- Wadah yang baik untuk pengangkutan adalah peti-peti kayu dengan
papan bercelah dan jangan dibanting

- Waspadai penyakit busuk buah Antraknose, kumpulkan dan


musnahkan

- Buah tomat yang telah dipetik, dibersihkan, disortasi dan di packing


lalu diangkut siap untuk konsumsi.

2.3. Budidaya Tanaman Bawang Merah

A. PRA TANAM

Syarat Tumbuh

Bawang merah dapat tumbuh pada tanah sawah atau tegalan, tekstur
sedang sampai liat. Jenis tanah Alluvial, Glei Humus atau Latosol, pH
5.6 - 6.5, ketinggian 0-400 mdpl, kelembaban 50-70 %, suhu 25-320 C

Pengolahan Tanah

Pupuk kandang disebarkan di lahan dengan dosis 0,5-1 ton/ 1000 m2


Diluku kemudian digaru (biarkan + 1 minggu) Dibuat bedengan
dengan lebar 120 -180 cm
Diantara bedengan pertanaman dibuat saluran air (canal) dengan lebar
40-50 cm dan kedalaman 50 cm.

Pupuk Dasar

Berikan pupuk : 2-4 kg Urea + 7-15 kg ZA + 15-25 kg SP-36 secara


merata diatas bedengan dan diaduk rata dengan tanah. Atau jika
dipergunakan Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg/ 1000 m2
dicampur rata dengan tanah di bedengan.

Siramkan pupuk SUPER NASA yang telah dicampur air secara merata di
atas bedengan dengan dosis ± 10 botol/1000 m2 dengan cara :

15
- alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dalam 3 liter air dijadikan
larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi
untuk menyiram bedengan.

- alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 lt diberi 1 sendok peres


makan Super Nasa untuk menyiram 5-10 meter bedengan. Biarkan
selama 5 - 7 hari

Pemilihan Bibit

- Ukuran umbi bibit yang optimal adalah 3-4 gram/umbi.

- Umbi bibit yang baik yang telah disimpan 2-3 bulan dan umbi masih
dalam ikatan (umbi masih ada daunnya)

- Umbi bibit harus sehat, ditandai dengan bentuk umbi yang kompak
(tidak keropos), kulit umbi tidak luka (tidak terkelupas atau berkilau)

B. FASE TANAM

Jarak Tanam

Pada Musim Kemarau, 15 x 15 cm, varietas Ilocos, Tadayung atau


Bangkok
Pada Musim Hujan 20 x 15 cm varietas Tiron

Cara Tanam

Umbi bibit direndam dulu dalam larutan NASA + air ( dosis 1 tutup/lt
air )
Taburkan GLIO secara merata pada umbi bibit yg telah direndam NASA
Simpan selama 2 hari sebelum tanam. Pada saat tanam, seluruh
bagian umbi bibit yang telah siap tanam dibenamkan ke dalam
permukaan tanah. Untuk tiap lubang ditanam satu buah umbi bibit.

C. AWAL PERTUMBUHAN ( 0 - 10 HST )

Pengamatan Hama

Waspadai hama Ulat Bawang ( Spodoptera exigua atau S. litura), telur


diletakkan pada pangkal dan ujung daun bawang merah secara

16
berkelompok, maksimal 80 butir. Telur dilapisi benang-benang putih
seperti kapas. Kelompok telur yang ditemukan pada rumpun tanaman
hendaknya diambil dan dimusnahkan. Populasi diatas ambang ekonomi
kendalikan dengan VIREXI atau VITURA . Biasanya pada bawang lebih
sering terserang ulat grayak jenis Spodoptera exigua dengan ciri
terdapat garis hitam di perut /kalung hitam di leher, dikendalikan
dengan VIREXI.

Ulat tanah . Ulat ini berwarna coklat-hitam. Pada bagian pucuk /titik
tumbuhnya dan tangkai kelihatan rebah karena dipotong pangkalnya.
Kumpulan ulat pada senja/malam hari. Jaga kebersihan dari sisa-sisa
tanaman atau rerumputan yang jadi sarangnya. Semprot dengan
PESTONA.

Penyakit yang harus diwaspadai pada awal pertumbuhan adalah


penyakit layu Fusarium. Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan
menguningnya daun bawang, selanjutnya tanaman layu dengan cepat
(Jawa : ngoler). Tanaman yang terserang dicabut lalu dibuang atau
dibakar di tempat yang jauh. Preventif kendalikan dengan GLIO.

Penyiangan dan Pembumbunan

Penyiangan pertama dilakukan umur 7-10 HST dan dilakukan secara


mekanik untuk membuang gulma atau tumbuhan liar yang
kemungkinan dijadikan inang hama ulat bawang. Pada saat
penyiangan dilakukan pengambilan telur ulat bawang.

Dilakukan pendangiran, yaitu tanah di sekitar tanaman didangir dan


dibumbun agar perakaran bawang merah selalu tertutup tanah. Selain
itu bedengan yang rusak atau longsor perlu dirapikan kembali dengan
cara memperkuat tepi-tepi selokan dengan lumpur dari dasar saluran
(di Brebes disebut melem).

Pemupukan pemeliharaan/susulan

Dosis pemupukan bervariasi tergantung jenis dan kondisi tanah


setempat. Jika kelebihan Urea/ZA dapat mengakibatkan leher umbi
tebal dan umbinya kecil-kecil, tapi jika kurang, pertumbuhan tanaman

17
terhambat dan daunnya menguning pucat. Kekurangan KCl juga dapat
menyebabkan ujung daun mengering dan umbinya kecil.

Pemupukan dilakukan 2 kali

( dosis per 1000 m2 ) :

- 2 minggu : 5-9 kg Urea+10-20 kg ZA+10-14 kg KCl

- 4 minggu : 3-7 kg Urea+ 7-15 kg ZA+12-17 kg KCl


Campur secara merata ketiga jenis pupuk tersebut dan aplikasikan di
sekitar rumpun atau garitan tanaman. Pada saat pemberian jangan
sampai terkena tanaman supaya daun tidak terbakar dan terganggu
pertumbuhannya. Atau jika dipergunakan Pupuk Majemuk NPK (15-15-
15) dosis ± 20 kg/ 1000 m2 diberikan pada umur ± 2 minggu.

Pengairan

Pada awal pertumbuhan dilakukan penyiraman dua kali, yaitu pagi dan
sore hari. Penyiraman pagi hari usahakan sepagi mungkin di saat daun
bawang masih kelihatan basah untuk mengurangi serangan penyakit.
Penyiraman sore hari dihentikan jika persentase tanaman tumbuh
telah mencapai lebih 90 %
Air salinitas tinggi kurang baik bagi pertumbuhan bawang merah
Tinggi permukaan air pada saluran ( canal ) dipertahankan setinggi 20
cm dari permukaan bedengan pertanaman

D. FASE VEGETATIF ( 11- 35 HST )

1. Pengamatan Hama dan Penyakit

Hama Ulat bawang, S. litura dan S. Exigua Thrips, mulai menyerang


umur 30 HST karena kelembaban di sekitar tanaman relatif tinggi
dengan suhu rata-rata diatas normal. Daun bawang yang terserang
warnanya putih berkilat seperti perak Serangan berat terjadi pada
suhu udara diatas normal dengan kelembaban diatas 70%. Jika
ditemukan serangan, penyiraman dilakukan pada siang hari, amati
predator kumbang macan. Populasi diatas ambang ekonomi kendalikan
dengan BVR atau PESTONA.

18
Penyakit Bercak Ungu atau Trotol, disebabkan oleh jamur Alternaria
porii melalui umbi atau percikan air dari tanah. Gejala serangan
ditandai terdapatnya bintik lingkaran konsentris berwarna ungu atau
putih-kelabu di daun dan di tepi daun kuning serta mongering ujung-
ujungnya. Serangan pada umbi sehabis panen mengakibatkan umbi
busuk sampai berair dengan warna kuning hingga merah kecoklatan.
Jika ada hujan rintik-rintik segera dilakukan penyiraman. Preventif
dengan penebaran GLIO.

Penyakit Antraknose atau Otomotis, disebabkan oleh jamur


Colletotricum gloesporiodes. Gejala serangan adalah ditandai
terbentuknya bercak putih pada daun, selanjutnya terbentuk lekukan
yang akan menyebabkan patahnya daun secara serentak (istilah
Brebes: otomatis). Jika ada gejala, tanaman terserang segera dicabut
dibakar dan dimusnahkan. Untuk jamur yang ada didalam tanah
kendalikan dengan GLIO

Penyakit oleh virus.

- Gejalanya pertumbuhan kerdil, daun menguning, melengkung ke


segala arah dan terkulai serta anakannya sedikit. Usahakan memakai
bibit bebas virus dan pergiliran tanaman selain golongan bawang-
bawangan.

Busuk umbi oleh bakteri.

- Umbi yang terserang jadi busuk dan berbau. Biasa menyerang


setelah dipanen. Usahakan tempat yang kering.

- Busuk umbi/ leher batang oleh jamur.

- Bagian yang terserang jadi lunak, melekuk dan berwarna kelabu. Jaga
agar tanah tidak terlalu becek (atur drainase).

19
- Untuk pencegahan hama-penyakit usahakan pergiliran tanaman
dengan jenis tanaman lain (bukan golongan Bawang-bawangan.
PESTISIDA Kimia digunakan sebagai alternatif terakhir untuk mengatasi
serangan hama-penyakit.

Pengelolaan Tanaman

- Penyiangan kedua dilakukan pada umur 30-35 HST dilanjutkan


pendagiran, pembumbunan dan perbaikan bedengan yang rusak.

- Penyemprotan POC NASA dengan dosis 4-5 tutup/tangki tiap 7-10 hari
sekali mulai 7 hari setelah tanam hingga hari ke 50-55. Mulai hari ke
35 penyemprotan ditambah HORMONIK dengan dosis 1-2 tutup/ tangki
(dicampurkan dengan NASA).

- Pengairan, penyiraman 1x per hari pada pagi hari, jika ada serangan
Thrips dan ada hujan rintik-rintik penyiraman dilakukan siang hari.

PEMBENTUKAN UMBI ( 36 - 50HST )

Pada fase pengamatan HPT sama seperti fase Vegetatif, yang perlu
diperhatikan adalah pengairannya. Butuh air yang banyak pada musim
kemarau sehingga perlu dilakukan penyiraman sehari dua kali yaitu
pagi dan sore hari.

PEMATANGAN UMBI ( 51- 65 HST )

Pada fase ini tidak begitu banyak air sehingga penyiraman hanya
dilakukan sehari sekali yaitu pada sore hari.

E. PANEN DAN PACA PANEN

Panen

> 60-90 % daun telah rebah, dataran rendah pemanenan pada umur
55-70 hari, dataran tinggi umur 70 - 90 hari.

> Panen dilakukan pada pagi hari yang cerah dan tanah tidak becek

20
> Pemanenan dengan pencabutan batang dan daun-daunnya.
Selanjutnya 5-10 rumpun iikat menjadi satu ikatan

Pasca Panen

- Penjemuran dengan alas anyaman bambu (Jawa : gedeg).


Penjemuran pertama selama 5-7 hari dengan bagian daun menghadap
ke atas, tujuannya mengeringkan daun. Penjemuran kedua selama2-3
hari dengan umbi menghadap ke atas, tujuannya untuk mengeringkan
bagian umbi dan sekaligus dilakukan pembersihan umbi dari sisa
kotoran atau kulit terkelupas dan tanah yang terbawa dari lapangan.
Kadar air 89 85 % baru disimpan di gudang.

- Penyimpanan, ikatan bawang merah digantungkan pada rak-rak


bambu. Aerasi diatur dengan baik, suhu gudang 26-290C kelembaban
70-80%, sanitasi gudang.

2.4. Budidaya Tanaman Lobak

a. Cara Tanam

Lobak ditanam dari bijinya. Bibit lobak tidak perlu didatamgkan dari
luar negeri (impor), cukup dari hasil biji sendiri karena tanaman ini
mudah berbunga dan berbiji. Biji-biji tersebut dapat ditanam langsung
di kebun tanpa disemai terlebih dulu. Untuk penanaman seluas 1 ha
diperlukan biji sebanyak 5 kg.

Menurut teori, untuk lahan seluas 1 ha diperlukan 4 kg biji dengan


daya kecambah 75%. Sebelum biji ditanam, lahan yang akan ditanami
diolah terlebih dulu dengan dicangkul sedalam 30-40 cm, kemudian
diberi pupuk kandang atau kompos 10 ton/ha. Setelah tanah diratakan,
dibuat alur dengan jarak antaralur 30 cm.

Sebaiknya alur tersebut dibuat membujur dari arah barat ke timur agar
sinar matahari masuk ke tanaman sebanyak-banyaknya. Selanjutnya
biji-biji tersebut ditaburkan tipis merata sepanjang alur, kemudian
ditutup tanah dengan tipis-tipis. Biji akan tumbuh setelah 4 hari
kemudian.

21
Setelah umur 2-3 minggu, tanaman mulai disiang sanmbil dibuat
guludan. Guludan dibuat dengan cara tanah di sepanjang barisan
tanaman ditinggikan. Sambil tanah didangir, tanaman diperjarang.
Caranya tanaman yang tumbuh kerdil dicabut dan yang subur
ditinggalkan.

Setelah diperjarang, jarak tanaman menjadi 10-20 cm. Pada umumnya


petani jarang memberikan pupuk buatan. Akan tetapi agar diperoleh
hasil yang memuaskan, tanaman lobak sebenarnya perlu diberikan
pupuk buatan.

Pupuk buatan yang perlu diberikan adalah urea, TSP dengan


perbandingan 1:2 sebanyak 6 g tiap tanaman. Pupuk di kanan-kiri
batang tanaman dengan jarak 5 cm. Dengan demikian, untuk tanaman
seluas 1 ha diperlukan 100 kg pupuk urea dan 200 kg TSP. Pupuk
sebaiknya diberikan pada waktu tanah didangir.

b. Pemeliharaan Tanaman

Tanaman lobak penting untuk dijaga dari kutu-kutu daunyang mungkin


menyerang. Hama ini dapat diberantas dengan semprotan insektisida,
seperti Kelthin 0,2% atau Decis 2,5 EC 0,2-0,3%.

c. Pemanenan

Hasil tanaman dapat dipungut setelah umbi-umbinya cuku besar, kira-


kira setelah tanaman berumur 2 bulan. Keterlambatan dalam
memungut hasil akan menyebabkan umbi menjadi kayu dan rasanya
juga tidak enak (kapus-kapus). Jika hal tersebut terjadi, umbi lobak
tidak akan laku dijual.

Tanaman yang terawat dapat menghasilkan umbi 15-20 ton/ha.


Bahkan ada jenis lobak
yang dapat menghasilkan umbi beratnya hingga mencapai 0,5-1 kg
tiap tanaman dan rasa umbinya pun enak dimakan.

Hasil Panen

22
Panen Pertama: 02 Desember 2010

Berat Total: 3,7 Kg

Sampel Panjang Berat

Sampel 1 27 cm 200 g

Sampel 2 26 cm 300 g

Sampel 3 26 cm 250 g

Sampel 4 25 cm 200 g

Sampel 5 25 cm 250 g

Total Berat Sampel 1,2 kg

Panen Kedua: 16 Desember 2010 (pada panen kedua diberikan dua


perlakuan, yaitu dengan dibumbun dan yang tidak dibumbun)

> Yang Dibumbun: berat total = 6,7 kg

Ciri-ciri: pada bagian ujung umbi tidak terdapat warna hijau

Sampel Panjang (cm) Berat

Sampel 1 30 1,4 kg

Sampel 2 28 1 kg

Sampel 3 28 800 g

Sampel 4 28 600 g

23
Sampel 5 25 600 g

Total Berat Sampel 4,4 kg

>Yang Tidak Dibumbun: berat total = 4,6 kg

Ciri-ciri: pada bagian ujung umbi terdapat warna hijau

Sampel Panjang (Cm) Berat

Sampel 1 28 1 kg

Sampel 2 28 800 g

Sampel 3 25 600 g

Sampel 4 25 600 g

Sampel 5 23 400 g

Total berat sampel 3,4 kg

2.4 Budidaya Tanamn Pakcoy

1. Pembibitan

- Benih ditabur pada permukaan bedengan lalu ditutup dengan tanah


setebal 1-2 cm

- Lakukan perawatan dengan penyiraman menggunakan sprayer atau


embrat

- Benih yang baik biasanya akan tumbuh setelah 3-4 hari

24
- Setelah berdaun 3-5 helai (3-4 MST) tanaman dipindah ke bedengan
penanaman

2. Pengolahan Lahan

- Tanah digembur serta dibuat bedengan, sebelumnya lahan harus


benar-benar bersih dan tidak boleh ternaungi

- Saat penggemburan diberi pupuk kandang sebagai pupuk dasar

- Penggemburan dilakukan 2-4 minggu sebelum lahan ditanami

- Lebar bedengan 120 cm, panjang sesuai ukuran petak tanah, tinggi
20-30 cm, dan jarak antar bedengan 30 cm

- Perkiraan dosis dan waktu aplikasi pemupukan disajikan pada Tabel

3. Penanaman
- pilih bibit yang baik yaitu, batangnya tumbuh tegak,daun hijau
segar dan tidak terserang hama atau penyakit
- buat lubang tanam dengan ukuran 4-8 x 6-10 cm, pindahkan
bibit ke lubang tanam dengan hati-hati dan rapikan

4. Pemeliharaan
- penyiraman dilakukan secara teratur, terutama pada musim
kemarau
- penjarangan biasanya dilakukan pada saat 2 MST
- penyulaman jika perlu
- penyiangan dapat dilakukan 2-4 kali selama pertanaman

25
- pemupukan tambahan pada saat 3 MST dengan pemberian urea
50 kg/ha, yang bisa dilakukan dengan ditabur dalam larikan lalu
ditutup dengan tanah, atau dilarutkan dalam air lalu disiramkan
pada bedengan penanaman

5. Panen

Pakcoy : 400 g

Pada panen kami ini, tanaman pakcoy banyak sekali yang mengalami
serangan hama, sehingga hasil panen tidak begitu memuaskan dan
hasilnya pun lebih sedikit. Selain itu, pakcoy yang kami tanam tidak
terlihat sehat. Timbul gejala berupa bintik-bintik pada daunnya.

2.6. Budidaya Tanaman Selada

Tanaman selada dapat tumbuh dengan baik, baik di dataran tinggi


(pegunungan) maupun di dataran rendah. Adapun daerah yang
merupakan sentra penghasil selada adalah Cipanas, Pangalengan, dan
Lembang. Didaerah pegunungan, daunnya dapat membentuk krop
yang besar. Sebaliknya di dataran rendah, tanaman ini hanya
membentuk krop yang kecil tetapi cepat berbunga. Adapun
persyaratan penting agar tanaman selada dapat tumbuh dengan baik
ialah tanah harus mengandung pasir atau lumpur (subur), suhu udara
15 – 20o C, dan derajat keasaman tanah (pH) 5 – 6,5.
Waktu penanaman seladah yang paling baik adalah pada akhir musim

26
hujan (Maret/April). Akan tetapi selada dapat pula ditanam pada musim
kemarau, asalkan cukup diberi air. Sementara pada andewi tidak baik
ditanam pada musim hujan karena tidak tahan terhadap hujan.

1. Cara Tanam

Selada dikembangbiakan dengan bijinya. Dalam 1 ha lahan diperlukan


600 – 800 biji selada. Menurut teori, satu ha diperlukan 300 g biji
dengan daya kecambah 75%. Secara fisik biji-biji selada berukuran
kecil, lonjong, pipih (gepeng), dan berbulu tajam.
Tanah yang akan dipakai untuk menanam selada, terlebih dahulu
harus dicangkul sedalam 20 – 30 cm kemudian diberi pupuk kandang
sebanyak 10 ton per ha. Selain itu, lahan dibuat bedengan dengan
lebar 1 meter dan memanjang dari arah timur ke barat. Setelah
bedengan terbentuk, lalu buat alur-alur menggunakan garu. Arah
pembuiatan alur lurus ke arah timur dengan jarak antar alur 25 cm.
Pembuatan alur tersebut tidak terlalu dalam karena akar-akar selada
mengumpul di lapisan tahan atas.
Biji-biji selada dapat ditanam langsung di kebun tanpa disemaikan
terlebih dahulu. Apabila biji disemai, dijaga kelembaban tempat
persemaiannya sehingga selada tumbuh cepat dan baik. Setelah
berumur sebulan (kira-kira berdaun 4 helai), bibit dapat dipindahkan ke
kebun dengan jarak tanam 20 cm x 25 cm atau 25 cm x 25 cm.
Biji selada yang ditanam langsung, ditaburkan merata sepanjang alur
kemudian ditutup tanah tipis-tipis. Biji selada akan tumbuh 5 hari
kemudian. Setelah berumur kira-kira 1 bulan (kira-kira berdaun 3 – 5
helai), tanaman mulai diperjarang. Penjarangan dilakukan terhadap
bibit kerdil hingga jarak antar tanam menjadi 20 – 25 cm.
Setelah berumur 2 minggu dari tanam, tanaman diberi pupuk urea
sebanyak 100 kg tiap ha atau 1 g tiap tanam. Pupuk diletakan
diantara barisan tanaman.

2. Pemeliharaan Tanaman

Tanaman selada sering menghadapi ancaman serangan penyakit.


Penyakit yang penting ialah penyakit busuk akar yang disebabkan oleh
cendawan Rhizoctonia solani Khun. Penyakit ini sering menyerang

27
tanaman muda (waktu di persemaian). Akan tetapi, penyakit ini dapat
diatasi dengan semprotan larutan Benlate 0,2 – 0,5% pada tanahnya.
Selain penyakit, ada juga hama yang mengancam pertumbuhan
tanaman. Hama yang perlu diberantas ialah kutu-kutu daun
(Mysuspersicae Sulzer). Hama tersebut merupakan serangga vektor
penyakit virus yang menimbulkan kerugian dan kegagalan seluruh
tanaman. Kutu-kutu daun ini dapat diberantas dengan semprotan
Kalthane 0,2%.

3. Pemanenan

Tanaman selada dapat dipungut hasilnya setelah berumur 2 – 2,5


bulan dari waktu tanam. Memungut hasilnya dengan cara mencabut
tanaman beserta akarnya atau memotong bagian batang antara daun
terbawah dengan bagian yang di atas tanah. Tanaman yang terawat
dengan baik dan tidak terserang penyakit dapat mencapai hasil.

4. Hasil Panen

Selada: 1,1 kg

Pada selada yang kami tanam, masih tergolong sehat, namun produksi
yang dihasilkan bisa dibilang kecil. Ada kemungkinan pada jarak tanam
yang kami gunakan terlalu dekat. Selain itu, ada beberapa bibit selada
hasil persemaian yang pada saat ditanam tidak jadi.

28
BAB 3

Kesimpulan dan Saran

3.1 Kesimpulan

Teknik budidaya tanaman adalah proses menghasilkan bahan


pangan serta produk-produk agroindustri dengan memanfaatkan
sumber daya tumbuhan. Sayuran merupakan komoditi yang
berprospek cerah, karena dibutuhkansehari hari dan permintaannya
cenderung terus meningkat Sebagaimana jenistanaman hortikultura
lainnya, kebanyakan tanaman sayuran mempunyai nilaikomersial yang
cukup tinggi. Kenyataan ini dapat dipahami sebab sayuransenantiasa
dikonsumsi setiap saat.

Istilah teknik budidaya tanaman diturunkan dari pengertian


kata-kata teknik, budidaya, dan tanaman. Teknik memiliki arti
pengetahuan atau kepandaianmembuat sesuatu, sedangkan budidaya
bermakna usaha yang memberikan hasil. Kata tanaman merujuk pada
pengertian tumbuh-tumbuhan yang diusahakan manusia, yang
biasanya telah melampaui proses domestikasi.

Pupuk organik dapat bersumber dari kotoran hewan, limbah


rumah tanggaserta dari seresah tumbuhan. Namun kotoran hewan
maupun limbah rumah tanggasebagai bahan baku pupuk organik tidak
selamanya tersedia. Dengan demikian, gulma memiliki potensi yang
besar sebagai sumberbahan organik yang dapat menggantikan atau
mensubstitusi pupuk kimia dalambudidaya tanaman pertanian.

3.2 Saran

Penelitian yang sama perlu dilakukan kembali di lapangan


dengan berbagaimacam kondisi tanah untuk mengetahui pengaruh

29
pemberian pupuk organiktusuk konde dan kirinyudalam meningkatkan
pertumbuhan dan hasil tanamansawi.

Sebaiknya penelitan di lapangan menggunakan beberapa jenis


tanaman lain
yang memiliki nilai ekonimi yang lebih tinggi

Daftar Pustaka

http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-bawang-
merah.html

http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-tomat.html

http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-jagung.html

http://www.scribd.com/doc/27807069/PENDAHULUAN-1-1-Latar-
Belakang-Sayuran-Merupakan-Komoditi

http://www.scribd.com/doc/25039428/TEKNIK-BUDIDAYA-TANAMAN

http://comankadi.wordpress.com/2010/03/12/tehnik-budidaya-selada/

30