Anda di halaman 1dari 14

KEBANGSAAN INDONESIA

Disusun Oleh : Yulistia Gumilang


Kelas : XI. CI
Mata Pelajaran : Kewarganegaraan

SMAN 1 CIKARANG UTARA

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah
KEBANGSAAN INDONESIA.
Saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak
kekurangan, oleh karena itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun. Dan dengan selesainya makalah KEBANGSAAN INDONESIA ini,
dapat memberi manfaat bagi pembaca maupun teman-teman. Amin…

Cikarang, April 2011

Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
 Latar Belakang
 Tujuan
 Manfaat
BAB II SUBSTANSI
BAB III PEMBAHASAN
BAB IV PENUTUP
 Kesimpulan
 Saran
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Kebangsaan Indonesia dari zaman ke zaman sudah selayaknya kita perhatikan.


Mulai dari masa – masa kelam yang telah dilalui oleh para pendahulu kita sampai
sekarang, zaman di mana kontrol sosial semakin luas dengan berbagai bentuk
aktivitasnya yang menimbulkan pertanyaan apakah nasionalisme tidak lagi penting
untuk dipahami dan dijadikan sebagai pengikat bangsa ? mahasiswa dengan
demonstrasinya, media massa dengan kebebasan persnya, bahkan lembaga
kenegaraan seperti DPR telah menunjukan kemampuan bersuara lebih keras dari
sebelumnya, menggeser persoalan lain yang dihadapi masyarakat secara nyata,
seperti keadilan, kebebasan, dan kesejahteraan. Dengan kejadian - kejadian seperti
itu perlu juga dipertanyakan bagaimana kebangsaan Indonesia di masa yang akan
datang nanti?

Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tanggung jawab saya
sebagai pelajar dalam mengerjakan tugas mata pelajaran kewarganegaraan.

Manfaat

Memberikan pengertian juga pandangan dari beberapa ahli mengenai kebangsaan


Indonesia dari zaman ke zaman, yang dapat membantu pembaca memahami dan
juga ikut berpartisipasai dalam pembangunan kebangsaan Indonesia kelak.
BAB II
SUBSTANSI
PENGERTIAN KEBANGSAAN
Bangsa (nation) atau nasional, nasionalitas atau kebangsaan,
nasionalisme atau paham kebangsaan, semua istilah tersebut dalam kajian
sejarah terbukti mengandung konsep-konsep yang sulit dirumuskan, sehingga
para pakar di bidang Politik, Sosiologi, dan Antropologi pun sering tidak
sependapat mengenai makna istilah-istilah tersebut. Selain istilah bangsa,
dalam bahasa Indonesia, kita juga menggunakan istilah nasional,
nasionalisme yang diturunkan dari kata asing “nation” yang bersinonim
dengan kata bangsa. Tidak ada rumusan ilmiah yang bisa dirancang untuk
mendefinisikan istilah bangsa secara objektif, tetapi fenomena kebangsaan
tetap aktual hingga saat ini.

Teori kebangsaan menurut para ahli :

1. Teori Otto Bauer


Persoalan : was ist eine nation, dijawab oleh Otto Bauer adalah eine
nation ist aus schicksalameinschaft erwachsene charaktergemeinschaft (suatu
bangsa ialah suatu masyarakat ketertiban yang muncul dari masyarakat yang
senasib) atau bangsa adalah suatu kesamaan perangai yang timbul karena
senasib (Rustam E. Tamburaka, 1999 : 83).
 
2. Teori Geopolitik
Teori ini bersangkutan dengan Blood and Boden Theorie (Teori Darah
dan Tanah) oleh Karl Haushofer yang dianggap sebagai sendi bagi politik
imperialisme Jerman, tetapi digunakan pula oleh kaum nasionalis di Asia,
khususnya untuk membela cita-cita kemerdekaan, persatuan bangsa, dan
tanah air. Geopolitik mendasarkan diri pada faktor-faktor geografis sebagai
suatu faktor yang konstan (Rustam E. Tamburaka, 1999 : 86).
 

3. F. Ratzel (Jerman)
Bangsa terbentuk karena adanya hasrat bersatu. Hasrat itu timbul
karena adanya rasa kesatuan antara manusia dan tempat tinggalnya (paham
geopolitik).
 
4. Hans Kohn (Jerman)
Bangsa adalah buah hasil tenaga hidup manusia dalam sejarah. Suatu
bangsa merupakan golongan yang beraneka ragam dan tidak bias dirumuskan
secara pasti. Kebanyakan bangsa memiliki faktor-faktor obyektif tertentu
yang membedakannya dengan bangsa lain.
 
6. Teori Rudolf Kjellen
Rudolf Kjellen membuat suatu analogi/membandingkan bangsa dengan
suatu organisme biotis dan menyamakan jiwa bangsa dengan nafsu hidup dari
organisme termaksud. Suatu bangsa mempunyai dorongan kehendak untuk
hidup, mempertahankan dirinya dan kehendak untuk berkuasa (Rustam E.
Tamburaka, 1999 : 84-85).

7. Teori Ernest Renan


Pembahasan mengenai pengertian bangsa dikemukakan pertama kali
oleh Ernest Renan tanggal 11 Maret 1882, yang dimaksud dengan bangsa
adalah jiwa, suatu asas kerohanian yang timbul dari :
(1).   Kemuliaan bersama di waktu lampau, yang merupakan aspek historis.
(2). Keinginan untuk hidup bersama (le desir de vivre ensemble) diwaktu
sekarang yang merupakan aspek solidaritas, dalam bentuk dan besarnya tetap
mempergunakan warisan masa lampau, baik untuk kini dan yang akan
datang.
  Titik pangkal dari teori Ernest Renan adalah pada kesadaran moral
(conscience morale), teori ini dapat digolongkan pada Teori Kehendak,
berbeda dengan teori kebudayaan (cultuurnatie theorie) yang menyatakan
bahwa bangsa merupakan perwujudan persamaan kebudayaan: persamaan
bahasa, agama, dan keturunan. Berbeda juga dengan teori kenegaraan
(staatsnatie theorie) yang menyatakan bahwa bangsa dan ras kebangsaan
timbul karena persamaan negara. Menurut teori Ernest Renan, jiwa, rasa, dan
kehendak merupakan suatu faktor subjektif, tidak dapat diukur dengan faktor-
faktor objektif. Faktor agama, bahasa, dan sejenisnya hanya dapat dianggap
sebagai faktor pendorong dan bukan merupakan faktor pembentuk (consttuief
element) dari bangsa. Karena merupakan plebisit yang diulangi terus-
menerus, maka bangsa dan rasa kebangsaan tidak dapat dibatasi secara
teritorial, sebab daerah suatu bangsa bukan merupakan sesuatu yang statis,
tapi dapat berubah-ubah secara dinamis, sesuai dengan jalannya sejarah
bangsa itu sendiri.
 
BAB III
PEMBAHASAN

LAHIRNYA KESADARAN KEBANGSAAN


Masa lalu para pendahuli kita di warnai dengan berbagai penderitaan dan
duka terutama pergulatan hidup memenuhi keinginan penjajah disampimg
memenuhi tuntutan hidupnya sahari – hari. Dalam keadaan yang sedemikian
beratnya timbul suatu kesadaran yaitu kesadaran kebangsaan.

Kesadaran kebangsaan didasari oleh :


1. Perlakuan colonial belanda yang mengakibatkan berbagai bentuk
penderitaan rakyat.
2. Lahirnya generasi baru pada awal abad ke 20, pada masa ini pemuda
mendapatkan pendidikan terutama melalui sekolah – sekolah yang
siselenggarakan Belanda di Indonesia disamping adanya kesempatan
memperoleh pendidikan di negeri Belanda sendiri.

Kesadaran kebangsaan Indonesia secara historis diakui lahir pada 20 Mei


1908. Kesadaran inilah yang membangkitkan kemauan para pendahulu kita
mendirikan berbagai perkumpulan bercorak social budaya, politik, maupun yang
bercorak kedaerahan. Proses pencarian kearah gerakan nasionalis mulai muncul ke
permukaan dengan berdirinya perkumpulan Budi Utomo pada tahun 1908
( Ahmaddani G. Martha, 1984: 12). Untunglah pada masa yang kelam ini masih
ada rasa kasih saying penjajah pada pribumi dengan sedikit perhatian untuk
pendidikan, melalui suatu politik yang disebut etische politik. Sebagai suatu
etische politik ( edukasi, irigasi, dan emgrasi ) Belanda memberikan kesempatan
kepada anak pribumi untuk memperoleh pendidikan.
Pemuda – pemuda yang telah mengenyam pendidikan tersebut mulai
membentuk organisasi dengan tujuan utama untuk memajukan taraf kehidupan
pribumi. Organisasi – organisasi yang dibangun oleh para pemuda yang telah
mengenyam pendidikan tersebut seperti Sarekat Islam, Nahdatul Ulama,
Muhamamadiyah, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, dan Jong
Minahasa. Organisasi – organisasi tersebut menyemarakan pergerakan untuk
mencapai Indonesia merdeka dan anti terhadap kolonoalisme. Kolonoalisme
membawa akibat timbulnya reaksi dari bangsa bangsa yang ada di Asia, karena
pada pokoknya Asia tidak hanya kehilangan kemerdekaan politik dan tidak hanya
menderita dalam lapangan social dan ekonominya berupa timbulnya kemelaratan
dan kesengsaraan, tetapi juga mengalami terbongkarnya beberapa akar kebudayaan
( Roeslan Abddulgani: 8).

Oleh kerena itu nasionalisme Asia memiliki 3 aspek :


1. Aspek politis yang bersifat menumbangkan dominasi politik bangsa asing
yang menjajah.
2. Aspek social-ekonomis yang bersifat menghentikan eksploitasi ekonommi
bangsa asing dan membangunkan suatu masyarakat baru bebas dari
kemelaratan dan kesengsaraan,
3. Aspek cultural yang bersifat mengidupkan kembali kepribadiannya yang
disesuai dengan perubahan zaman.

Kesadaran kebangsaan Indonesia yang telah lahir pada 20 Mei 1908 tersebut
dipertegas lagi dengan lahirnya sumpah pemuda 28 Oktober 1928 yang antara lain
menyatakan satu bangsa yaitu bangsa Indonesia. Tidak cukup sampai situ saja
kebabgsaan Indonesia juga dinyatakan lagi dalam proklamasi 17 Agustus 1945
yakni : Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia,
dan hal tersebut dinyatakan atas nama bangsa Indonesia.
Berdasarkan hal ini para pemuda bangkit untuk menyusun kekuatam
melawan penindasan dan kekejaman yang dipraktikan oleh colonial belanda.
Sedemikian kuatnya keinginan untuk bersatu melawan penjajah demi kemerdekaan
bangsa, tidak heran kalau pada 1 Juni 1945 Soekarno menawarkan Pancasila
sebagai dasar Negara dengan mendudukan sila pertama adalah nasionalisme atau
persatuan Indonesia. Jadi jelas sudah terlihat ada benang meah yang saling
berhubungan antara tahun 1908, 1928 dengan proklamasi Kemerdekaan Indonesia
tahun 1945 yakni lahirnya suatu Negara kebangsaan, yang sekarang ini disebut
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

KEBANGSAAN INDONESIA KINI

Pada masa kini control social yang semakin luas menggeser persoalan lain
yang dihadapi masyarakat secara nyata, seperti keadilan, kebebasan, dan
kesejahteraan, kemudian muncul pertanyaan apakah nasionalisme tidak lagi
penting untuk dipahami dan dijadikan sebagai pengikat bangsa ? Untuk mengatasi
permasalahan itu sangat dibutuhkan rasa kebangsaan yang akan menjadi perekat
kehidupan nasional dan menjadi bagian penting dalam kehidupan bernegara.
Rasa kebangsaan adalah kesadaran untuk bersatu sebagai suatu bangsa yang
lahir secara alamiah karena sejarah, aspirasi masa lampau, persamaan kepentingan,
rasa senasib dan sepenanggungan dalam menghadapi masa lalu dan masa kini,
serta kesamaan pandangan, harapan dan tujuan dalam merumuskan cita – cita
bangsa untuk waktu yang akan datang. Dengan demikian paham kebangsaan
bersifat sangat dinamis tergantung pada bagaimana suatu bangsa memiliki persepsi
tentang bangsanya. Kebangkitan nasional yang bertujuan untuk menempatkan
negara dan bangsa Indonesia ini sejajar dengan negara dan bangsa lain yang lebih
maju menyadarkan kita untuk memperkuat persatuan untuk menjadi bangsa yang
lebih bermartabat di mata bangsa lain yang sudah maju.
Akan tetapi untuk mencapai hal tersebut tidaklah mudah karena banyak hal
yang dialami bangsa Indonesia yang sering mengarah pada perpecahan bangsa,
terutama dengan muncuulnya berbagai pemberontakan dan keinginan untuk
memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ). Sesuatu
yang sangat ironis sekali bagi bangsa Indonesia, disatu sisi ingin persatuan lebuh
kuat, teapi di sisi lain timbul pula niat untuk memisahkan diri. Sekarang rasa
nasionalisme dan kebangsaan kita sedang diuji melaui campur tangan asing dalam
bidang politik dan ekonomi juga melaluigerakan separatis yang belum kunjung
padam.

KEBANGSAAN DI MASA DEPAN


Ada keterkaitan antara masa lalu, masa sekarang, dan masa depan dalam
setiap perjuangan untuk mencapai cita – cita, di samping ada perbedaan strategi
yang ditempuh sesuai dengan keadaan, tantangan, dan persoalan yang dihadapi.
Mungkin sekali di masa depan nanti rasa kebangsaan Indonesia kita mengalami
degradasi, kurang memiliki kebanggaan terhadap nilai – nilai bangsanya sendiri,
bahkan mungkin saja Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) ini akan
menjadi Negara – Negara kecil seperti halnya Sovyet Rusia yang telah terpecah
menjadi beberapa Negara. Untuk menutup kemungkinan Negara Indonesia pecah
maka jalan keluarnya adalah dengan jalan member daerah kedaulatan yang lebih
besar untuk menata diri.
Persoalan penting yang perlu ditata untuk menghadapi masa depan adalah
meningkatkan kesejahteraan rakyat dan kehidupan berdemokrasi. Kebangsaan
Indonesia di masa depan bukanlah nasionalisme yang bersifat fisik untuk mencapai
kemerdekaan, melainkan lebih dimaknai sebagai nasionalisme cultural yang
menghargai kemanusiaan dan kebudayaan bangsa.
Nasionalisme atau kebangsaan Indonesia penting di masa depan karene
peranannya sebagai doktrin dan salah satu dari pokok substansi ideology nasional
kita. Maka ini artinya tak lain dari pada keharusan untuk melanjutkan cita – cita
yang telah dirumuska oleh Pembukaan UUD 1945 dan terutama mengisi hal – hal
yang masih tertinggal ( Taufik Abdullah, 2001: 40). Salah satu aspek penting
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu peningkatan kehidupan yang lebih
demokratis dalam berbagai bidang sehingga masyarakat akan lebih banyak
berperan dan merasa turut memiliki.
Dapat kita ambil kesimpulan bahwa dalam membangun bangsa Indonesia di
masa depan tidak dapat dipinggirkan masalah demokratisasi.

Dan pada akhirnya kebangsaan Indonesia di masa depan sangat tergantung pada
beberapa hal pokok yaitu:
1. Bagaimana kita memperlakukan kebangsaan Indonesia sekarang ini.
2. Bagaimana perwujudan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan.
3. Bagaimana sikap bangsa Indonesia menghadapi globalisasi dan menangkap
arus informasi yang makin kuat.
4. Bagaimana komitmen bangsa untuk meningkatkan peranan pendidikan dan
media masa untuk menanamkan wawasan kebangsaan terutama bagi
generasi muda.

BAB IV
PENUTUP
KESIMPULAN
Untuk mewujudkan cita – cita bangsa Indonesia yang tidak mudah ini lah
kita perlu meneliti perkembangan kebangsaan Indonesia dari waktu ke waktu, dan
memperbaiki setiap kesalahan atau kekurangan dalam system pemerintahan
Indonesia pada masa lampau. Selain itu kita sebagai masyarakat Indonesia atau
lebih tepat bila dikatakan kita sebagai Rakyat Indonesia membantu pembangunan
dan perkembangan juga membantu memperbaiki kesalahan atau kekurangan dalam
system pemerintahan yang ada di Indonesia, tetapi bukan dengan pemberontakan
atau demonstrasi yang berlebihan.

SARAN
Gunakan pengalaman atau kejadian di masa lampau sebagai pelajaran agar
bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik lagi dan dapat meraih cita – cita
bangsa yang jauh dari kemelaratan dan kesengsaraan.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Taufik. 2001. Nasionalisme dan Sejarah. Bandung : Satya Historika
Abdulgani, Roeslan. (tanpa tahun) . Nasionalisme Asia. Jakarta : Prapanca
http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com/2011/02/pengertian-bangsa-menurut-para-ahli.html