Anda di halaman 1dari 26

presentasi

Sejarah

Kelompok 4
presentasi
Sejarah

Kelompok 4
KELOMPOK 2
1. Febrian edi inugroho (04)

2.Sugeng Widodo

3. Ulfa rohmah

4. Yulia safitri
Menu utama
1. Pertem puran medan area

2. Pertempuran 5 hari di semarang


Pertempuran Medan Area
Tanggal 27 Agustus 1945 rakyat Medan baru mendengar berita proklamasi
yang dibawa oleh Mr. Teuku Moh Hassan sebagai Gubernur Sumatera.
Menanggapi berita proklamasi tersebut, para pemuda dibawah pimpinan
Achmad membentuk barisan Pemuda Indonesia.
Pendaratan Sekutu di kota Medan terjadi pada tanggal 9 Oktober 1945
dibawah pimpinan T.E.D Kelly. Awalnya mereka diterima secara baik oleh
pemerintah RI di Sumatra Utara sehubungan dengan tugasnya untuk
membebaskan tawanan perang (tentara Belanda).Pendaratan tentara sekutu
(Inggris) ini di ikuti oleh pasukan NICA yang dipersiapkan untuk mengambil alih
pemerintahan. Kedatangan tentara sekutu dan NICA ternyata memacing
berbagai insiden. Sebuah insiden terjadi di hotel Jalan Bali, Medan pada tanggal
13 Oktober 1945. Saat itu seorang penghuni hotel (pasukan NICA) merampas dan
menginjak-injak lencana Merah Putih yang dipakai pemuda Indonesia. Hal ini
mengundang kemarahan para pemuda.
Akibatnya terjadi perusakan dan penyerangan terhadap hotel yang
banyak dihuni pasukan NICA. Pada tanggal 13 Oktober 1945 pemuda dan
TKR bertempur melawan Sekutu dan NICA. Kemudian pada tanggal 1
Desember 1945 Inggris mengeluarkan ultimatum kepada bangsa
Indonesia agar menyerahkan senjata kepada Sekutu. Ultimatum ini tidak
pernah dihiraukan. Pada tanggal 15 Desember 1945 Sekutu memasang
papan yang bertuliskan � Fixed Boundaries Medan Area � ( batas resmi
wilayah Medan) diberbagai pinggiran kota Medan. Tindakan Sekutu itu
merupakan tantangan bagi para pemuda.
Operasi-operasi militer Inggris semakin intensif dilaksanakan. Pada
tanggal 10 desember 1945, Sekutu dan NICA melancarkan serangan
besar-besaran terhadap kota Medan. Serangan ini menimbulkan banyak
korban di kedua belah pihak. Pada bulan April 1946, Sekutu berhasil
menduduki kota Medan. dan kantor gubernur terpaksa dipindahkan ke
kantor walikota. Markas Divisi II TKR dipindahkan pula ke Pematang
Siantar. Demikian pula Laskar-laskar Pemuda memindahkan markasnya
masing-masing ke luar kota Medan untuk mengadakan konsolidasi.
Pasukan laskar masih bertempur tanpa adanya kesatuan komando,
maupun koordinasi. Lambat laun mereka menyadari kelemahan ini
setelah beberapa kali menderita kerugian.
Atas perakasa Dewan Pertahanan Daerah, maka diundang para
komandan laskar untuk berunding di Tebing Tinggi selama 2 hari pada
tanggal 8-10 Agustus 1946 untuk membahas masalah perjuangan.
Akhirnya mereka sepakat membentuk Komando Resimen Laskar Rakyat
Medan Area (KRLMA). Konsekuensinya dari pembentukan komando ini,
Laskar-laskar dibebaskan dari organisasi induknya masing-masing.
Kapten Nip Karim dipilih sebagai Komandan dan Marzuki Lubis sebagai
Kepala Staf. Markas Komando berada di Two Rivers.KRLMA terdiri dari
5 batalyon dan 1 kompi istimewa dengan pembagian wilayah dan
tanggung jawab pasti. KRLMA terus mengadakan serangan terhadap
Sekutu diwilayah Medan. Hampir di seluruh wilayah Sumatera terjadi
perlawanan rakayat terhadap Jepang, Sekutu, dan Belanda. Pertempuran
itu terjadi di Pandang, Bukit tinggi dan Aceh.
Atas prakarsa pimpinan Divisi Gajah 10 Oktober 1946 disetujui untuk
mengadakan serangan bersama. Sasaran yang akan direbut di Medan Timur
adalah Kampung Sukarame, Sungai Kerah. Di Medan barat ialah Padang Bulan,
Petisah, Jalan Pringgan, sedangkan di Medan selatan adalah kota Matsum yang
akan jadi sasarannya. rencana gerakan ditentukan, pasukan akan bergerak
sepanjang jalan Medan-Belawan.

Hari "H" ditentukan tgl 27 Oktober 1946 pada jam 20.00, sasaran pertama
Meda timur dan Medan selatan. Tepat pada hari "H", Batalyon A Resimen Laskar
rakyat di bawah Bahar bergerak menduduki Pasar Tiga bagian Kampung
Sukarame, sedangkan Batalyon B menuju ke kota Matsum dan menduduki Jalan
Mahkamah dan Jalan Utama. Di Medan barat Batalyon 2 Resimen lasykar rakyat
dan pasukan Ilyas Malik bergerak menduduki jalan Pringgan, kuburan China dan
Jalan Binjei.
Inggris telah menyerahkan sebagian kekuasaannya kepada Belanda. Pada
saat sebagian pasukan Inggris bersiap-siap untuk ditarik dan digantikan oleh
pasukan Belanda, pasukan kita menyerang mereka. Gerakan-gerakan batalyon-
batalyon Resimen Lasykar Rakyat Medan Area rupanya tercium oleh pihak
Inggris/Belanda. Daerah Medan selatan dihujani dengan tembakan mortir.
Pasukan kita membalas tembakan dan berhasil mengehentikannya.
Sementara itu Inggris menyerang seluruh Medan selatan. Pertempuran jarak
dekat berkobar di dalam kota. Pada keesokan harinya kota Matsum bagian timur
diserang kembali. Pasukan Inggris yang berada di Jalan Ismailiah berhasil
dipukul mundur.
Sementara pertempuran berlangsung, keluar perintah pada 3 November 1946
gencetan senjata diadakan dalam rangka penarikan pasukan Inggris dan pada
gencatan senjata itu dilakukan, digunakan untuk berunding menentukan garis
demarkasi. Pendudukan Inggris secara resmi diserahkan kepada Belanda pada
tanggal 15 November 1946.
Tiga hari setelah Inggris meninggalkan kota Medan, Belanda mulai melanggar gencatan
senjata. Di pulau Brayan pada tanggal 21 November, Belanda merampas harta benda
penduduk, dan pada hari berikutnya Belanda membuat persoalan lagi dengan menembaki
pos-pos pasukan Laskar di Stasiun Mabar, juga Padang Bulan ditembaki.
Pihak Laskar membalas. Kolonel Schalten ditembak ketika meliwati di depan pos
Lasykar. Belanda membalas dengan serangan besar-besaran di pelosok kota. Angkatan
Udara Belanda melakukan pengeboman, sementara itu di front Medan selatan di Jalan
Mahkamah kita mendapat tekanan berat, tapi di Sukarame gerakan pasukan Belanda dapat
dihentikan.
Pada tanggal 1 Desember 1946 pasukan kita mulai menembakkan mortir ke sasaran
pangkalan Udara Polonia dan Sungai Mati. Keesokan harinya Belanda menyerang kembali
daerah belakang kota. Kampung Besar, Mabar, Deli Tua, Pancur Bata dan Padang Bulan
ditembaki dan di bom. Tentu tujuannya adalah memotong bantuan logistik bagi pasukan
yang berada di kota. Tapi walaupun demikian, moral pasukan kita makin tinggi berkat
kemenangan yang dicapai.
Karena merasa terdesak, Belanda meminta kepada Pimpinan RI agar tembak
menembak dihentikan dengan dalih untuk memastikan garis demarkasi yang membatasi
wilayah kekuasaan masing-masing. Dengan adanya demarkasi baru, pasukan-pasukan yang
berhasil merebut tempat-tempat di dalam kota, terpaksa ditarik mundur.
Selagi kita akan mengadakan konsolidasi di Two Rivers, Tanjung Morawa, Binjai dan
Tembung, mereka diserang oleh Belanda. Pertempuran berjalan sepanjang malam. Serangan
Belanda pada tanggal 30 Desember 1946 ini benar-benar melumpuhkan kekuatan laskar
kita. Daerah kedudukan laskar satu demi satu jatuh ke tangan Belanda. Dalam serangan
Belanda berhasil menguasai Sungai Sikambing, sehingga dapat menerobos ke segala arah.
Perkembangan perjuangan di Medan menarik perhatian Panglima Komandemen
Sumatera. Ia menilai bahwa perjuangan yang dilakukan oleh Resimen Lasykar Rakyat
Medan Area, ialah karena kebijakan sendiri. Komandemen memutuskan membentuk
komando baru, yang dipimpin oleh Letkol Sucipto. Serah terima komando dilakukan pada
tanggal 24 Januari 1947 di Tanjung Morawa. Sejak itu pasukan-pasukan TRI memasuki
Front Medan Area, termasuk bantuan dari Aceh yang bergabung dalam Resimen Istimewa
Medan Area.
Dalam waktu 3 minggu Komando Medan Area (KMA) mengadakan konsolidasi,
disusun rencana serangan baru terhadap kota Medan. Kekuatannya sekitar 5 batalyon
dengan pembagian sasaran yang tepat. Hari "H" ditentukan 15 Februari 1947 dan jam "j"
adalah pukul 06.00. Sayang karena kesalahan komunikasi serangan ini tidak dilakukan
secara serentak, tapi walaupun demikian serangan umum ini berhasil membuat Belanda
kalang kabut sepanjang malam. Karena tidak memiliki senjata berat, jalannya pertempuran
tidak berobah. menjelang subuh pasukan kita mundur ke Mariendal. Serangan umum 15
Februari 1947 ini adalah serangan besar terakhir yang dilancarkan oleh pejoang-pejoang di
Medan Area.
Sampai menjelang Agresi Militer ke I Belanda, yang mana pasukan RI di Medan Area
berjumlah yang riel sebesar 7 batalyon dan tetap pada kedudukan semula yang membagi
Front Medan Area atas beberapa sektor, ialah Medan timur, Medan selatan, Medan barat
dan Medan utara. Dan begitu pula membagi Medan atas 4 sektor yang sama, dan dengan
demikian mereka langsung berhadapan dengan pasukan kita.
Pada saat terjadi Agresi Militer Belanda ke I, Belanda melancarkan serangannya
terhadap pasukan RI ke semua sektor. Perlawanan terhadap Belanda hampir 1 minggu, dan
setelah itu pasukan-pasukan RI mengundurkan diri dari Medan Area.
2. Pertempuran 5 hari di semarang
Pertempuran 5 Hari atau Pertempuran 5 Hari di Semarang adalah
serangkaian pertempuran antara rakyat Indonesia di Semarang melawan
Tentara Jepang. Pertempuran ini adalah perlawanan terhebat rakyat
Indonesia terhadap Jepang pada masa transisi(bedakan dengan Peristiwa
10 November - perlawanan terhebat rakyat Indonesia dalam melawan
sekutu dan Belanda).

Pertempuran dimulai pada tanggal 15 Oktober 1945 (walau


kenyataannya suasana sudah mulai memanas sebelumnya) dan berakhir
tanggal 20 Oktober 1945.
Masuknya Tentara Jepang ke Indonesia
Pada 1 Maret 1942, tentara jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian,
tepatnya, 8 Maret, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang.
Sejak itu, Indonesia diduduki oleh Jepang.
Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah
dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki.
Peristiwa itu terjadi pada Agustus1945. Mengisi kekosongan tersebut, Indonesia
kemudian memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.
Mengenai pertempuran lima hari di Semarang ini, ada beberapa tokoh yang terlbat
adalah sbb :
1.dr. Kariadi
dr. Kariadi adalah dokter yang akan mengecek cadangan air minum di daerah
Candi yang kabarnya telah diracuni oleh Jepang. Ia juga merupakan Kepala
Laboratorium Dinas Pusat Purusara.
2.Mr. Wongsonegoro
Gubernur Jawa Tengah yang sempat ditahan oleh Jepang.
3.Dr. Sukaryo dan Sudanco Mirza Sidharta
Tokoh Indonesia yang ditangkap oleh Jepang bersama Mr. Wongsonegoro.
4.Mayor Kido
Pimpinan Batalion Kido Butai yang berpusat di Jatingaleh.
5.drg. Soenarti
Istri dr. kariadi
6.Kasman Singodimejo
Perwakilan perundingan gencatan senjata dari Indonesia.
7.Jenderal Nakamura
Jenderal yang ditangkap oleh TKR di Magelang
Perjuangan Pemuda Semarang

Berita Proklamasi dari Jakarta akhirnya sampai ke Semarang. Seperti


kota-kota lain, di Semarang pun rakyat khususnya pemuda berusaha untuk
melucuti senjata Tentara Jepang Kidobutai yang bermarkas di Jatingaleh.
Pada tanggal 13 Oktober, suasana semakin mencekam, Tentara Jepang
semakin terdesak. Tanggal 14 Oktober, Mayor Kido menolak penyerahan
senjata sama sekali. Para pemuda pun marah dan rakyat mulai bergerak
sendiri-sendiri. Aula Rumah Sakit Purusara dijadikan markas perjuangan.
Para pemuda rumah sakit pun tidak tinggal diam dan ikut aktif dalam upaya
menghadapi Jepang. Sementara itu taktik perjuangan pemuda
menggunakan taktik gerilya.
 Sumber Air Minum Diracuni

Setelah pernyataan Mayor Kido, Pada Minggu, 14 Oktober 1945, pukul


6.30 WIB, pemuda-pemuda rumah sakit mendapat instruksi untuk
mencegat dan memeriksa mobil Jepang yang lewat di depan RS Purusara.
Mereka menyita sedan milik Kempetai dan merampas senjata mereka. Sore
harinya, para pemuda ikut aktif mencari tentara Jepang dan kemudian
menjebloskannya ke Penjara Bulu. Sekitar pukul 18.00 WIB, pasukan Jepang
bersenjata lengkap melancarkan serangan mendadak sekaligus melucuti
delapan anggota polisi istimewa yang waktu itu sedang menjaga sumber air
minum bagi warga Kota Semarang Reservoir Siranda di Candilama.
Kedelapan anggota Polisi Istimewa itu disiksa dan dibawa ke markas
Kidobutai di Jatingaleh. Sore itu tersiar kabar tentara Jepang menebarkan
racun ke dalam reservoir itu. Rakyat pun menjadi gelisah.
 Dr. Kariadi Terbunuh

Selepas Magrib, ada telepon dari pimpinan Rumah Sakit Purusara, yang memberitahukan
agar dr. Kariadi, Kepala Laboratorium Purusara segera memeriksa Reservoir Siranda karena
berita Jepang menebarkan racun itu. Dokter Kariadi kemudian dengan cepat memutuskan harus
segera pergi ke sana. Suasana sangat berbahaya karena tentara Jepang telah melakukan serangan
di beberapa tempat termasuk di jalan menuju ke Reservoir Siranda. Isteri dr. Kariadi, drg.
Soenarti mencoba mencegah suaminya pergi mengingat keadaan yang sangat genting itu.
Namun dr. Kariadi berpendapat lain, ia harus menyelidiki kebenaran desas-desus itu karena
menyangkut nyawa ribuan warga Semarang. Akhirnya drg. Soenarti tidak bisa berbuat apa-apa.
Ternyata dalam perjalanan menuju Reservoir Siranda itu, mobil yang ditumpangi dr. Kariadi
dicegat tentara Jepang di Jalan Pandanaran. Bersama tentara pelajar yang menyopiri mobil yang
ditumpanginya, dr. Kariadi ditembak secara keji. Ia sempat dibawa ke rumah sakit sekitar pukul
23.30 WIB. Ketika tiba di kamar bedah, keadaan dr. Kariadi sudah sangat gawat. Nyawa dokter
muda itu tidak dapat diselamatkan. Ia gugur dalam usia 40 tahun satu bulan.
 Kejadian ini merupakan penyulut utama Perang Lima Hari di Semarang.
 Kronologis

Sekitar pukul 3.00 WIB, 15 Oktober 1945, Mayor Kido memerintahkan sekitar 1.000
tentaranya untuk melakukan penyerangan ke pusat Kota Semarang. Sementara itu, berita
gugurnya dr. Kariadi yang dengan cepat tersebar, menyulut kemarahan warga Semarang. Hari
berikutnya, pertempuran meluas ke berbagai penjuru kota. Korban berjatuhan di mana-mana.
Pada 17 Oktober 1945, tentara Jepang meminta gencatan senjata, namun diam-diam mereka
melakukan serangan ke berbagai kampung. Pada 19 Oktober 1945, pertempuran terus terjadi di
berbagai penjuru Kota Semarang. Pertempuran ini berlangsung lima hari dan memakan korban
2.000 orang Indonesia dan 850 orang Jepang. Di antara yang gugur, termasuk dr. Kariadi dan
delapan karyawan RS Purusara.
Berdasarkan kejadiannya, kronologis pertempuran lima hari di Semarang dapat dijabarkan
sebagai berikut :
1. 7 oktober : pemuda Semarang berusaha melucuti senjata Tentara Jepang di Jatingaleh. Sementara
di saat yang sama, pimpinan Jepang dan pemuda berunding mengenai penyerahan senjata.
2. 13 oktober: suasana semakin menegang dan Jepang semakin terdesak.

3. 14 oktober : Mayor Kido menolak penyerahan senjata. Pukul 06.30, Aula RS Purusara
dijadikan markas perjuangan dan pemuda mencegat serta memeriksa mobil Jepang
yang lewat. Mereka juga menyita sedan milik Kampetai. Sore harinya, pemuda
menjebloskan Tentara Jepang ke Penjara Bulu namun pukul 18.00 Jepang
melancarkan serangan mendadak kepada delapan polisi istimewa yang menjaga
Resevoir Siranda di Candi. Kedelapan Polisi itu disiksa dan sore itu juga tersiatr kabar
kalau Jepang menebar racun dalam reservoir tersebut. Selepas Maghrib, dr. Kariadi
memutuskan untuk segera memeriksa reservoir itu namun istrinya, drg. Sonarti,
mencoba mencegahnya karena ia berpendapat bahwa suasana sedang sangat
berbahaya namun tidak berhasil. Sayangnya, dalam perjalanan dr. Kariadi dan
beberapa tentara pelajar, mereka ditembak secara keji. Dr. kariadi sempat dibawa ke
rumah sakit sekitar namun tidak dapat diselamatkan. Selain kejadian di atas, pada
hari itu juga terjadi pemberontakan 4.000 tentara Jepang di Cepiring.
4. 15 oktober : pukul 03.00, Mayor Kido menyuruh 1.000 tentara untuk melakukan
penyerangan ke pusat kota mendengar berita penangjkapann Jenderal Nakamura
dan berita gugurnya dr. Kariadi menyulut kemarahan warga Semarang. Di Semarang
juga terjadi penangkapan Mr. Wongsonegoro, Dr. Sukaryo, dan Sudanco Mirza
Sidharta.

5. 16 oktober : pertempuran terus berlanjut

6. 17 oktober : Jepang berunding dengan Mr. Wongsonegoro

7. 18 oktober : Ada perundingan gencatan senjata oleh KAsman Singodimejo dan


Jenderal Nakamura. Dalam perundingan ini, Jepang ingin agar senjata yang direbut
segera dikembalikan bila tidak Jepang akan meloakukan pengeboman pada tanggal
19 oktober 1945 pukul 10.00.

8. 19 oktober : Pukul 07.45, kedatangan Sekutu di pelabuhan Semarang dengan kapal


HMS Glenry mempercepat perdamaian antara Jepang dan rakyat sehingga perang
berakhir.
 Peringatan

Untuk memperingati Pertempuran 5 Hari di Semarang, dibangun Tugu Muda


sebagai monumen peringatan. Tugu Muda ini dibangun pada tanggal 10 November
1950. Diresmikan oleh presiden Ir. Soekarno pada tanggal 20 Mei 1953. Bangunan
ini terletak di kawasan yang banyak merekam peristiwa penting selama lima hari
pertempuran di Semarang, yaitu di Jl. Pemuda, Jl. Imam Bonjol, Jl. Dr. Sutomo, dan
Jl. Pandanaran dengan lawang sewu. Selain pembangunan Tugu Muda, Nama dr.
Kariadi diabadikan sebagai nama salah satu rumah sakit di Semarang.
Semoga kita dapat
mengambil manfaat dari presentasi ini

Semoga ilmu yang kita dapat dari


materi ini dapat bermanfaat
bagi kita di dunia & akhirat
Wassalamualaikum.Wr.Wb