Anda di halaman 1dari 15

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Putri Malu

Tanaman putri malu tumbuh liar di pinggir jalan, lapangan terlantar, dan tempat -
tempat terbuka yang terkena sinar matahari. Tumbuhan asli Amerika tropis ini dapat
di temukan pada ketinggian 1-1200 m, cepat berkembang biak, tumbuh memanjat,
atau berbaring, tinggi 0,3 - 1,5 m. Batang bulat, berambut, dan berduri tempel. Daun
berupa daun majemuk menyirip genap ganda dua yang sempurna. Jumlah anak daun
setiap sirip 5 - 26 pasang. Helaian anak daun berbentuk memanjang sampai lanset
ujung runcing, pangkal membundar, tepi rata, permukaan atas dan bawah licin,
panjang 6 - 16 mm, lebar 1 - 3 mm, berwarna hijau, umumnya tepi daun berwarna
ungu. Jika daun tersebut tersentuh, akan melipat diri . Bunga bulat, berbentuk seperti
bola, bertangkai, berwarna ungu. Buah berbentuk polong, pipih, berbentuk garis. Biji
bulat dan pipih. (Dalimartha. S, 2003).

2.1.1 Sistematika tumbuhan Putri malu (Mimosa pudica L)

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophita
Kelas : Angiospermae
Sub kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Fabales
Famili : Mimosaceae
Sub Famili : Mimosoideae
Genus : Mimosaideae
Spesies : Mimosa pudica L ( OP Sharma, 2002).

Universitas Sumatera Utara


2.1.2. Bintil akar

Macam asosiasi yang lain antara akar dan tumbuhan tingkat tinggi dan organisme
tingkat rendah dijumpai pada leguminosa. Pada akar - akarnya terdapat bintil yang
berkembang sebagai akibat penetrasi bakteri pengikat nitrogen (spesies Rhizobium) ke
dalam rambut akar. Bakteri tersebut memasuki akar terutama melalui rambut akar.
Sambil memperbanyak diri, bakteri tersebut membentuk benang infeksi dengan
terkurungnya dalam selubung dari bahan seperti gum. Benang – benang itu menembus
ke dalam akar dan merangsang sel – selnya. Jumlah sel dalam bintil meningkat mula –
mula karena pembelahan di seluruh massa sel yang bulat itu dan kemudian karena
aktivitas daerah meristematik setempat yang tidak dimasuki bakteri. Sel – sel
terdiferensiasi itu di daerah sebagain dalam, yaitu zona bakteroid, mengandung bakteri
yang dilepaskan dari benang – benang infeksi. Bintil – bintil pada tingkatan itu secara
sekilas mirip dengan primordium akar lateral. (Fahn, A., 1991).

Perkembangan bintil akar dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :


1. Konsentrasi nutrient anorganik
2. Suhu tanah (suhu sekitar 250 – 300C optimum untuk pembentukan bintil
dan pada suhu yang lebih rendah atau jauh lebih panas pembentukan bintil
akar akan terhambat).
3. Cahaya dan naungan (cahaya yang cukup banyak dapat meningkatkan
jumlah bintil sedangkan naungan akan menurunkan berat bintil akar).
4. Konsentrasi CO 2 (konsentrasi karbondioksida yang tinggi dapat
meningkatkan jumlah bintil akar).
5. Ketersedian nitrogen di dalam tanah (konsentrasi nitrogen yang tinggi
dapat mengurangi jumlah maupun berat bintil akar).(Yuwono.T, 2006).

Selama pertumbuhan bintil, bakteri mengalami transformasi ke bentuk bakteroid yang


ukurannya lebih besar daripada aslinya. Transformasi ini berhubungan dengan sintesis
leghemoglobin, nitrogenase dan enzim lain yang diperlukan untuk fiksasi N 2 . waktu
antara infeksi sampai dengan bakteri mampu memfiksasi N 2 sekitar 3-5 minggu.
Selama peroide tersebut kebutuhan karbohidrat, nutrien mineral dan asam amino
disediakan oleh inang tanpa memperoleh keuntungan. (http://elearning.unej.ac.id).

Universitas Sumatera Utara


2.2. Rhizobium sp

Rhizobium adalah salah satu contoh kelompok bakteri yang berkemampuan sebagai
penyedia unsur hara bagi tanaman. Bila bersimbiosis dengan tanaman legume,
kelompok bakteri ini akan menginfeksi akar tanaman dan membentuk bintil akar
didalamnya. Rhizobium hanya dapat memfiksasi nitrogen atmosfer bila berada di
dalam bintil akar dari mitra legumnya. Peranan Rhizobium terhadap pertumbuhan
tanaman khususnya berkaitan dengan masalah ketersedian nitrogen bagi tanaman
inangnya (Rao, N.S., Subba, 1994).

Bakteri Rhizobium aktif dapat diketahui secara visual dari bintil – bintil bundar
di akar tanaman. Bila akar dibelah, didalamnya akan tampak warna kemerahan bila
bagian ini dipijit, akan keluar cairan kemerahan. Bakteri Rizobium akan giat
mengadakan fiksasi N pada tanah yang kandungan nitrogennya rendah dan akan
berkurang pada tanah yang kandungan nitrogennya tinggi. Bakteri Rhizobium mampu
bertahan di dalam tanah selama beberapa tahun (Ismawati.E, 2003).

Adapun ciri – ciri umum bakteri Rhizobium adalah merupakan gram negatif,
bersifat aerob, berbentuk batang dengan ukuran sekitar 0,5 – 0,9 µm x 1,2 – 3 µm.
Bakteri ini termasuk dalam famili Rhizobiaceae. Bakteri ini banyak terdapat di dalam
daerah perakaran tanaman legume dan membentuk hubungan simbiotik inang khusus
(Yuwono.T, 2006).

Di antara bakteri yang bermanfaat, Rhizobium yang paling banyak digunakan


untuk pupuk hayati. Koloni bakteri Rhizobium bersimbiosis dengan tanaman akar
leguminosa, membentuk bintil akar yang berperan dalam penyematan nitrogen.
Rhizobum yang berasosiasi dengan tanaman legume mampu menyemat 100 – 300 kg
N/ha dalam satu musim dan meninggalkan sejumlah N untuk tanaman berikutnya.
Permasalahan yang perlu diperhatikan adalah efisiensi inokulan Rhizobium untuk jenis
tanaman tertentu. Rhizobium mampu mencukupi 80% kebutuhan nitrogen tanaman
leguminosa dan meningkatkan produksi antara 10% - 25%. Tanggapan tanaman
sangat bervariasi tergantung pada kondisi tanah dan efektivitas populasi asli (Sutanto.
R, 2002).

Universitas Sumatera Utara


2.3. Simbiosis antara Rhizobium dengan Leguminosa

Simbiosis antara Rhizobium dengan leguminosa dicirikan oleh pembentukan struktur


bintil akar pada tanaman inang (leguminosa). Pembentukan bintil akar diawali dengan
sekresi produk metabolisme tanaman ke daerah perakaran yang menstimulasi
pertumbuhan bakteri. Secara umum tahap pembentukan bintil akar pada tanaman
leguminosa terjadi melalui beberapa tahapan, yaitu :
1. Pengenalan pasangan yang sesuai antara tanaman dengan bakteri yang
diikuti oleh pelekatan bakteri Rhizobium pada permukaan rambut akar
tanaman.
2. Invasi rambut akar oleh bakteri melalui pembentukan benang infeksi
3. Perjalanan bakteri ke akar utama melalui benang infeksi.
4. Pembentukan sel - sel bakteri yang mengalami deformasi, yang disebut
sebagai bakteriod, didalam sel akar tanaman.
5. Pembelahan sel tanaman dan bakteri sehingga terbentuk bintil akar.

Peletakan Rhizobium pada rambut akar dapat terjadi karena pada permukaan sel
Rhizobium dan Bradyrhizobium terdapat suatu protein pelekat (adhesion) yang disebut
sebagai rhicadhesin. Rhicadhesin adalah suatu protein pengikat kalsium yang
berfungsi dalam pengikatan kompleks kalsium pada permukaan rambut akar.
Disamping itu juga terdapat senyawa lain yang berperan dalam pengikatan bakteri
yaitu lectin yang merupakan protein yang mengandung karbohidrat.

Penetrasi awal sel bakteri ke dalam rambut akar dilakukan melalui ujung rambut akar.
Setelah bakteri melekat, rambut akan menggulung yang disebabkan oleh senyawa
yang dikeluarkan oleh bakteri yang disebut sebagai faktor Nod, selanjutnya bakteri
memasuki rambut akar dan menginduksi pembentukan benang infeksi yang kemudian
tumbuh kearah sel-sel akar. Faktor Nod yang dihasilkan oleh bakteri selanjutnya
menstimulasi pembelahan sel – sel tanaman sehingga terbentuk bintil akar
(Yuwono.T, 2006).

Bakteri yang terdapat didalam akar kemudian tumbuh secara cepat dan
mengalami perubahan bentuk menjadi struktur bercabang yang disebut sebagai

Universitas Sumatera Utara


bakteroid. Bakteroid dikelilingi oleh membran sel tanaman yang disebut membran
peribakteroid. Pengikatan nitrogen baru dapat terjadi setelah terbentuk struktur
bakteroid. Jika tanaman mati maka bintil akar akan rusak sehingga bakteri terlepas
keluar dari sel - sel akar tanaman (Yuwono.T, 2006).

2.4. Proses fiksasi nitrogen udara oleh mikroba

Nitrogen hampir 80% udara yang kita hirup tapi tidak dapat kita pakai, begitu juga
semua hewan, tumbuhan, jamur, dan hampir semua bakteri. Namun nitrogen dalam
bentuk organik merupakan komponen utama tubuh semua makhluk hidup. Protein
asam nukleat, vitamin, dan berbagai molekul lain semua mengandung nitrogen.
Beberapa spesies bakteri berkemampuan khusus untuk mereduksi atau mengikat N 2
udara untuk membentuk ammonia. Ammonia ini adalah suatu produk senyawa
nitrogen yang dapat dipakai oleh tumbuhan dan mikroba sebagai bahan pembangun
untuk mensintesa asam amino, demikian pula senyawa bernitrogen lain (Jean L.Marx,
1991).

Fenomena fiksasi nitrogen atmosfer dikenal sebagai diazotrofi (diazotrophy)


atau penambatan nitrogen secara biologis (biological nitrogen fixation) sehingga
mikrobia yang mampu melakukan fiksasi nitrogen disebut sebagai diazotrof
(diazotroph) atau penambat nitrogen (Yuwono. T, 2006).

Proses pengikatan nitrogen ini merupakan salah satu dari banyak proses
biokimiawi didalam tanah yang memainkan salah satu peranan penting, yaitu
mengubah nitrogen atmosfer (N 2 atau nitrogen bebas) menjadi nitrogen dalam
persenyawaan (nitrogen terikat). Dua organisme terlibat dalam proses ini :
1. Mikroorganisme nonsimbiotik, yaitu yang hidup bebas dan mandiri di
dalam tanah
2. Mikroorganisme simbiotik, yaitu yang hidup pada akar tanaman kacang –
kacangan.

Universitas Sumatera Utara


Besarnya serta pentingnya fiksasi nitrogen hayati dapat di nilai dari perkiraan yang
dibuat baru – baru ini yang menyatakan organisme hidup mengikat nitrogen dalam
jumlah lebih besar daripada yang dilakukan oleh pabrik diseluruh dunia pada tahun
1974 jumlah nitrogen yang diikat oleh organisme hidup ialah 175 ton, sedangkan yang
dihasilkan oleh pabrik hanya 4 juta ton (Pelczar. M, 1998).

2.4.1 Fiksasi nitrogen secara nonsimbiotik.

Fiksasi nitrogen non simbiotik dilakukan oleh Clostridium pasteurium dan


Azotobakter. Clostridium bersifat anaerobik, sedangkan Azotobakter bersifat aerobik.
Kemampuan fiksasi nitrogen Clostridium jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan
kemampuan fiksasi nitrogen Azotobakter (Budiyanto.A.K, 2002).

2.4.2. Fiksasi nitrogen secara simbiotik oleh Rhizobium

Fiksasi semacam ini dilakukan oleh Rhizobium dengan leguminosae. Sebelum


memfiksasi nitrogen, bakteri ini harus tumbuh terlebih dahulu dalam jaringan akar.
Infeksi dari sitem jaringan ini oleh bakteri dikaitkan dengan pembentukan benang
infeksi yang berkembang menjadi akar rambut. Bakteri pengfiksasi nitrogen kemudian
merusak ke dalam jaringan inang melalui benang infeksi inang. Beberapa sel
kemudian diinfeksi, sehingga menyebabkan pembengkakan sel dan peningkatan
pembelahan sel, sehingga terjadilah pembentukan nodula. Dalam sistem ini terlibat
leguminosa, bakteri, dan nodula. Dalam proses ini baik bakteri maupun tanaman
mendapatkan keuntungan dari infeksi ini. Bakteri mengubah N 2 dari udara menjadi
nitrogen yang difiksasi sehingga dapat digunakan tanaman, sedangkan dipihak lain
bakteri mendapatkan zat hara dari jaringan tanaman tersebut (Budiyanto.A.K, 2002).
Menurut Saifuddin Sarif(1986) dalam “Ilmu Tanah Pertanian” jika terdapat
bakteri yang mendekati dan menyentuh akar tanaman leguminosa, ada beberapa
diantaranya yang masuk kedalam sel – sel tunggal perakaran rambut tanaman.
Perkembangan jumlah bakteri ini dapat meningkat dengan cepat karena berlimpahnya
bahan makanan yang dengan mudah dicapai dari jaringan tubuh tanaman. Bakteri
yang telah masuk membentuk benang – benang dasar pada perakaran. Dengan adanya

Universitas Sumatera Utara


infeksi pada akar tanaman maka disekitarnya akan timbul nodula atau bintil akar, dan
disinilah bakteri hidup. Setiap nodula dapat mengandung berjuta – juta bakteri dan
sejumlah nitrogen yang berkumpul pada nodula. Tanaman leguminosa mengikat
atmosferik melalui akar akarnya dan tidak melalui daun – daunnya. Dalam kedaan
pertumbuhannya yang muda, akar – akar tanaman itu berkandungan nitrogen lebih
besar. Bakteri Rhizobium dalam penelitian lebih dikenal, yaitu sebagai bakteri yang
bersimbiosis dengan akar tanaman kacang – kacangan dengan membentuk nodula
(Mulyani. M, 1991).

Untuk memfiksasi nitrogen, bakteri Rhizobium menggunakan enzim nitrogenase,


dimana enzim ini akan menambat gas nitrogen di udara dan merubahnya menjadi gas
amoniak. Gen yang mengatur proses fiksasi ini adalah gen nif (Singkatan nitrogen –
fixation). Gen – gen nif ini berbentuk suatu rantai , tidak terpencar kedalam sejumlah
DNA (deoxyribonucleic acid) yang sangat besar yang menyusun kromosom bakteri,
tetapi semuanya terkelompok dalam suatu daerah (http://id.answer.yahoo.com).

Reduksi N 2 ke NH 3 di dalam nodul dari legum dikatalisis oleh enzim Nitrogenase


dalam bakteroid Rhizobium. Enzim ini dipengaruhi oleh oksigen, menyebabkan
inaktivasi yang tidak balik. Suatu hal penting yang perlu diperhatikan bila melakukan
ekstraksi dan pemurnian enzim ini ialah kondisinya yang anaerobik. Enzim ini terdiri
dari 2 protein yang mengkatalisis reduksi N 2 (tidak akan mengkatalisis reduksi N 2
tanpa yang lainnya), masing-masing dengan berat molekul 222.000 dalton dan 60.000
dalton. Sub unit yang lebih besar tersusun dari 4 sub unit. Protein yang besar juga
mengandung 2 atom Molibdenum. Protein yang kecil terdiri dari 2 sub unit yang
identik masing-masing mengandung atom besi. Aktivitas Nitrogenase dapat dimonitor
menggunakan Sodium dithionite (Na 2 S 2 O 4 ) sebagai reduktan. Mg2+ dan ATP
(adenosin triphospate) dibutuhkan untuk reduksi N 2 invitro. ADP (Adenosin
diphosphate) yang dihasilkan akan menghambat aktivitas Nitrogenase, oleh karenanya
sistem ini harus menggunakan fosforilasi ADP ke ATP ). Dengan kondisi demikian,
Nitrogenase mengkatalisis reduksi N 2 (N≡N) ke NH 3 dan juga asetilen (CH≡CH) dan
HCN (CH≡N). Reduksi asetilen ke etilen yang dapat dipisahkan dengan mudah dari
asetilen lewat gas kromatografi, reduksi ini seringkali digunakan untuk
mengestimasikan aktivitas Nitrogenase. Nitrogenase juga mendukung reduksi H+ ke

Universitas Sumatera Utara


H 2 (aktivitas hidrogenase). Nitrogenase dalam bakteroid Rhizobium hanya berfungsi
pada kondisi relatif tanpa oksigen, tetapi reduksi yang setara dengan yang dibutuhkan
untuk reduksi N 2 dibentuk dari oksidasi aerob terhadap sumber karbon dalam
bakteroid. Pengendalian masuknya oksigen untuk respirasi dicapai dengan adanya
protein pembawa O 2 , leghemoglobin yang memiliki afinitas tinggi terhadap O 2 , yang
menyediakan bakteroid dengan O 2 dan dalam bentuk yang dapat melindungi
Nitrogenase dari kerusakan. (http://elearning.unej.ac.id).

Bintil akar pada tanaman legum berwarna kemerahan seperti haemoglobin.


Warna merah pada bintil akar disebabkan oleh adanya pigmen yang disebut
Leghemoglobin (LHb) yang mengandung besi. Leghemoglobin hanya ditemukan pada
bintil akar yang sehat, sedangkan tanaman yang tidak sehat mempunyai bintil akar
berwarna putih karena tidak mempunyai LHb sehingga penambatan nitrogen tidak
dapat terjadi pada bintil akar yang tidak sehat semacam itu. LHb berada diluar
membran bakteroid. Penelitian menunjukkan bahwa membran bakteroid berperan
dalam memisahkan bakteroid dari sistem penyangga oksigen. Konsentrasi LHb dapat
digunakan untuk memperkirakan efisiensi bintil akar dalam penambatan nitrogen
(N 2 ).
(Yuwono. T, 2006)

Dalam proses fiksasi nitrogen, baik nitrogenase (protein Mo-Fe) maupun


nitrogenase reduktase (protein Fe) bersifat esensial dalam penambatan nitrogen.
Protein Fe berintekrasi dengan Mg++sedangkan protein Mo-Fe mengkatalisis reduksi
N 2 menjadi NH 3 , H+ menjadi H 2 dan mengubah asitetilen menjadi etilen. Selama
penambatan nitrogen, sumber reduktan untuk transfer electron berasal dari ferredoxin
atau flavodoxin yang tereduksi. Ferrodoxin yang tereduksi memberikan electron ke
frotein Fe sehingga mereduksi protein Mo-Fe dan diikuti oleh pelepasan phosphat
anorganik (P i ). kompleks enzim nitrogenase memperoleh energi dari ATP yang
dihasilkan pada saat terjadi proses respirasi. Akhirnya, protein Mo-Fe memberikan
electron ke substrat yang dapat direduksi, misalnya N 2. Secara umum reaksi
penambatan nitrogen pada bintil akar legume dapat dituliskan dalam persamaan
sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara


Mg++
N 2 + 16 ATP + 8e- + 10 H+ 2 NH 4 + + H 2 + + 16 ADP + 16 Pi

Ammonia adalah produk stabil pertama pada proses fiksasi nitrogen. Setelah
terbentuk, ammonia kemudian ditransfer melalui membran bakteroid ke sel tanaman
yang selanjutnya akan digunakan dalam metabolisme tanaman. (Yuwono. T, 2006)

2.5. Pupuk Hayati

Nama lain pupuk hayati adalah biofertilizer. Ada yang juga menyebutnya pupuk bio.
Apapun namanya pupuk hayati bisa diartikan sebagai pupuk yang hidup. Sebenarnya
nama pupuk kurang cocok, karena pupuk hayati tidak mengandung hara. Pupuk hayati
tidak mengandung N, P, dan K. Kandungan pupuk hayati adalah mikrooganisme yang
memiliki peranan positif bagi tanaman. Kelompok mikroba yang sering digunakan
adalah mikroba-mikroba yang menambat N dari udara, mikroba yang malarutkan hara
(terutama P dan K), mikroba-mikroba yang merangsang pertumbuhan tanaman.
(http://isroi.wordpress.com).

Istilah pupuk hayati lebih tepat disebut sebagai inokulan mikrobia, seperti
yang dikemukan oleh Rao (1982). Meskipun demikian istilah pupuk hayati sudah
lebih dikenal dan sebagai alternatif bagi pupuk kimia buatan (artifical Chemical
fertilizer). Mikrobia yang umum digunakan untuk membuat formulasi suatu pupuk
hayati adalah kelompok bakteri atau jamur. (Yuwono.T, 2006).

Kelompok mikroba penambat N sudah dikenal dan digunakan sejak lama.


Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dengan tanaman dan ada juga yang bebas
(tidak bersimbiosis). Contoh mikroba yang bersimbiosis dengan tanaman antara lain
adalah Rhizobium sp. Sedangkan contoh mikroba penambat N yang tidak bersimbiosis
adalah Azosprillium sp dan Azotobacter sp. (http://isroi.wordpress.com).

Pupuk hayati berbeda dari pupuk kimia buatan, misalnya urea, TSP dan lain - ain,
karena dalam pupuk hayati komponen utamanya adalah jasad hidup yang pada

Universitas Sumatera Utara


umumnya diperoleh dari alam tanpa ada penambahan kimia, kecuali bahan kimia yang
diperlukan untuk mendukung pertumbuhan jasad hidupnya selama dalam
penyimpanan. Dalam formulasi pupuk hayati, seringkali bahkan tidak diperlukan
bahan – bahan kimia buatan karena bahan – bahan tersebut dapat diganti dengan
bahan alami misalnya gambut, kapur alam. Pupuk hayati mempunyai kelebihan
dibanding dengan pupuk kimia buatan karena bahan – bahannya berasal dari alam
sehingga tidak menimbulkan persoalan pencemaran lingkungan seperti halnya dengan
pupuk kimia buatan. (Yuwono.T, 2006).

2.5.1 Jenis – jenis pupuk Hayati

Legin adalah pupuk nitrogen hayati kualitas tinggi, yang berbentuk powder / bubuk
yang mengandung bakteri Rhizobium 10.000.000 – 1.000.000.000 sel per gram untuk
menginokulasi (menulari) tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea) dan Kedelai
(Glicine Max). Masa Laku 6 bulan setelah diproduksi. Kemasan dalam polycellonium
/aluminium foil berat bersih 30 g (untuk kedelai) dan 150 g (untuk Kacang
Tanah)(http://bionutrientproduk.htm).

Bio – Lestari satu kantong standar berisi 40 g untuk pertanaman 2000 m2 atau 200
g/ha. Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N 2 non-simbiotik
Rhizobium , dan fungi pelarut fosfat propagul per g bahan pembawa.Penggunaanya
Jangan tercampur dengan pupuk kimia. Pada lahan masam diperlukan pengapuran
secukupnya sampai pH 5,5 .Penyimpanan Bio-lestari harus di bawah suhu <200C dan
jauh dari sinar .Jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa. Rhizoplus satu
kantong standard berisi 30 g untuk 2000 m2, untuk 1 ha diperlukan 5 kantong
standard.

Manfaat dan Keunggulan pupuk hayati

• Merangsang pembentukan bintil akar


• Meningkatkan daya tambat nitrogen
• Meningkatkan P-tersedia dalam tanah
• Meningkatkan kesuburan tanah
• Meningkatkan efisiensi pemupukan

Universitas Sumatera Utara


• Merangsang aktivitas mikroba rizosfer
• Memperlebat dan memperkuat perakaran
• Memperkokoh dan memperkuat tanaman
• Efektif untuk kacang tanah, kedelai, dan sengon
• Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain

Keuntungan pupuk hayati

• Menghemat pemakaian pupuk


• Menghemat pestisida
• Tidak merusak tanah dan aman lingkungan (http://anekaplanta-wordpress.com)

2. 6 Teknik dasar pembuatan pupuk hayati

Pupuk hayati dibuat dengan menggunakan bebrapa komponen dasar, yaitu (1)
mikrobia yang sesuai untuk suatu jenis pupuk hayati (2) medium untuk perbanyakan
sek miroba yang akan digunakan, (3) bahan pembawa (carrier) mikrobia, dan (4)
bahan pengemas (packaging materials). Suatu pupuk hayati dapat dibuat dengan
menggunakan lebih dari satu macam mikrobia yang berbeda, baik berbeda
genus/spesiesnya maupun berbeda dalam hal peranannya sebagai pupuk hayati.
Sebagai contoh, pupuk hayati dapat dibuat dengan mencampurkan bakteri penambat
nitrogen dengan bakteri pelarut phosphat. Selain itu pupuk hayati dapat juga dibuat
dengan menggunkan satu macam mikrobia dari suatu spesies tetapi dengan strain yang
berbeda. Hal yang paling penting dalam formulasi pupuk hayati yang mengandung
lebih dari satu macam mikrobia adalah bahwa mikroba yang digunakan tidak boleh
mempunyai sifat antagonistik satu sama lain, artinya mikrobia – mikrobia tersebut
tidak saling menekan atau membunuh. Oleh karena itu jika kita akan membuat pupuk
hayati yang terdiri atas lebih dari satu macam mikroba semacam ini maka terlebih
dahulu harus dilakukan pengujian sifat antagonisme mikrobia – mikrobia tersebut. Hal
ini dapat dilakukan dengan menumbuhkan mikrobia – mikrobia yang berbeda tersebut
dalam satu medium yang sama, kemudian dianalisis pertumbuhannya untuk melihat
apakah semua mikrobia dapat tumbuh dengan optimal jika berada bersama – sama
(Yuwono. T, 2006)

Universitas Sumatera Utara


Mikrobia yang akan dikemas sebagai pupuk hayati terlebih dahulu harus
ditumbuhkan dalam medium yang sesuai sehingga dapat dihasilkan jumlah sel yang
tinggi. Kebutuhan nutrisi dalam medium perbanyakan sel bervariasi dengan macam
mikroba yang digunkan. Oleh karena itu setiap spesies mikrobia memerlukan medium
dengan komposisi yang spesifik, meskipun beberapa kelompok mikrobia yang
berbeda dapat ditumbuhkan dalam medium yang sama. Oleh karena itu jika pupuk
hayati dibuat dengan menggunkanan campuran mikroba yang berbeda, maka
sebaiknya masing – masing mikrobia ditumbuhkan secara terpisah dalam medium
yang paling Sesuai. Secara umum produksi inokulan yang akan digunakan sebagai
pupuk hayati meliputi beberapa tahapan, yaitu :

1. Isolasi dan skrining mikrobia yang akan digunakan sebagai pupuk hayati
2. Perbanyakan mikrobia dalam medium yang sesuai.
3. Pencampuran dengan bahan pembawa (carrier)
4. Pengemasan (Yuwono. T, 2006).

2.7 Tekhnik kultivasi dan perbanyakan Rhizobium

Rhizobium pada umumnya dipelihara dengan menumbuhkan dalam medium padat


Yeast Extract Manitol Agar (YEMA). Untuk menjaga kemampuan fisiologisnya agar
tidak mengalami penurunan, maka Rhizobium harus diremakajan secara berkala.
Kultur yang dipelihara inilah yang digunakan sebagai kultur induk yang digunakan
sebagai inokulum untuk perbanyakan yang akan diformulasi sebagai pupuk hayati.
Komposisi medium Yeast Extract Manitol Agar (YEMA) yang umum digunakan
untuk pemeliharaan Rhizobium adalah sebagai berikut :

Komponen Berat/Volume
K 2 HPO 4 0,5 g
MgSO4 0,2 g
NaCl 0,1 g
Manitol 10,0 g
Yeast Extract 1,0 g
Akuadest 1000 ml
Agar 20 g

Universitas Sumatera Utara


Tabel 2.7. Komposisi Medium Yeast Extrak Manitol Agar (YEMA)

Selain medium dengan komposisi seperti diatas, beberapa peneliti atau produsen
inokulan Rhizobium menggunakan medium dengan komposisi yang bervariasi .
perbanyakan medium dilakukan dengan menumbuhkan bakteri dalam medium cair
dalam skala volume yang disesuikan dengan kapasitas produksi inokulan.

Perkembangbiakan dilakukan dengan menggunakan fermentor besar dengan


ragam alat pengaturan, misalnya pH, oksigen terlarut, suhu dan shaker (penggojok).
Selai itu perbanyakan dapat juga dilakukan dengan menggunkan fermentor yang lebih
sederhana yaitu menggunakan tabung erlenmeyer meskipun tanpa peralatan khusus.
Jika perbanyakan dilakukan dengan menggunakan tabung erlenmeyer, maka harus
dilakukan penggojokan dengan alat penggojok (shaker) secara teratur yang dapat
diatur kecepatannya. Medium yang digunakan untuk perbanyakan sama dengan yang
digunakan untuk pemeliharaan kultur tetapi tanpa menggunkan agar. Meskipun
medium cair dengan komposisi seperti diatas sudah cukup untuk perbanyakan
Rhizobium, namun pengalaman menunjukkan bahwa penggunaan medium biphasik
dapat menghasilkan biomassa sel yang lebih banyak. Medium biphasik adalah
medium yang terdiri dari atas dua fase yaitu medium fase padat (medium yang
ditambah dengan agar) yang ada dibagian bawah tabung erlenmeyer. Diatas medium
padat lalu dituangkan medium fase cair dengan komposisi cair dengan komposisi
sama dengan medium padat tetapi tanpa agar.
Kultur cair Rhizobium yang sudah dibuat selanjutnya dicampur dengan bahan
pembawa (carrier material). Bahan pembawa yang dapat digunakan untuk Rhizobium
ada beberapa macam, namun idealnya dengan karakteristik :
1. Mempunyai kemampuan menahan air yang tinggi
2. Tidak toksik terhadap mikroba
3. Mendukung pertumbuhan mikroba
4. Secara umum steril atau mudah disterilkan
5. Bahan mudah diperoleh dengan harga murah
6. Mempunyai daya lekat terhadap benih
7. Secara kimiawi mempunyai komposisi yang seragam
8. Mudah didegradasi, tidak mencemari lingkungan
9. Mudah melepaskan mikroba jika digunakan ditanah

Universitas Sumatera Utara


10. Mudah dicampur dan dikemas.
Beberapa bahan pembawa yang dapat diguanakan untuk formulasi inokulan rhizobia
antara lain gambut, lignit, arang, zeolit dan lain – lain. Setelah dicampur dengan bahan
pembawa, campuran Rhizobium dengan bahan pembawa tersebut kemudian dikemas.
Inokulan yang sudah dikemas selanjutnya dapat dibawa ketempat penggunaan atau
dipasarkan (Yuwono. T, 2006).

2.8 Uji Untuk membedakan Rhizobium dari kerabat dekatnya Agrobaktesrium

Mungkin terlihat bahwa beberapa galur Rhizobium yang keefektifannya berbeda –


beda, yang seringkali berkaitan dengan genus kerabatnya Agrobakterium, dipisahkan
dari tanaman yang sama. Jelas sekali bahwa pemisahan lebih lanjut isolat semacam itu
menjadi langkah penting.

Medium Congo Merah ; telah diketahui bahwa pada medium agar yang
dibubuhi congo merah (2,5 ml dari larutan 1 % per liter agar manitol berekstrak
khamir), rhizobia akan membentuk koloni yang putih bening, berkilauan , menonjol
dan lebih kecil dengan tepi keseluruhan utuh yang berbeda denagan koloni
Agrobakterium yang berwarna merah (Rao, N.S., Subba, 1994).

2.9. Bentonit

Bentonit merupakan salah satu jenis lempung yang banyak terdapat dibeberapa
wilayah di Indonesia, diantaranya terdapat di sebahagaian besar daerah Nusa
Tenggara, Sulawesi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera
Selatan, Jambi dan Sumatera Utara. Di Sumatera Utara bentonit ini banyak ditemui di
daerah Pangkalan Berandan, Kab. Simalungun, Kab. Karo dan sekitarnya. Bentonit
adalah sejenis lempung yang mengandung mineral montmorilonit yang bersifat
plastik. Rumus umum bentonit adalah Al 2 O 3 4SiO 2 .H 2 O. Bentonit dikenal ada dua
macam, yaitu : Na Bentonit dan Ca Bentonit. Jenis natrium bentonit dapat digunakan
dalam industri lumpur bor yaitu sebagai lumpur pembilas dalam pemboran minyak

Universitas Sumatera Utara


bumi, gas alam, dan uap panas bumi dan dapat digunakan pada minyak kelapa sawit,
industri kimia farmasi (Soedjoko, 1987).
Jenis kalsium – magnesium pada industri penyaringan lilin, minyak kelapa, industri
besi baja yaitu sebagai perekat pasir cetak dalam proses pengecoran baja, industri
kimia sebagai katalisator, zat pemutih, zat penyerap, pengisi, lateks dan tinta cetak
(Soedjoko, 1987).

Berdasarkan hasil uji laboratorium, analisa terhadap contoh bentonit yang


diambil langsung di lapangan, maka diperoleh komposisi bentonit adalah Kalsium
oksida (CaO) 0,23 %, Magnesium Oksida (MgO) 0.98 %, Alumunium Oksida
(Al 2 O 3 ) 13,45 %, Ferri Oksida (Fe 2 O 3 ) 2,18 %, Slika (SiO 2 ) 74,9 %, K 2 O 1,72 %g.
H 2 O 4 % (Proyek Kerja Dinas Pertambangan Sumatera Utara, 1999/2000).

Pemakaian bentonit terutama untuk kebutuhan industri perminyakan sebagai lumpur


pemboran dan industri makanan ternak dan pupuk, semakin besar luas permukaannya
maka makin besar pula zat – zat yang terbawa atau melekat pada bentonit. Sehingga
sifat ini dimanfaatkan sebagai bahan pembawa (Carrier) (Soedjoko, 1987).
Selain bahan pembawa utama, biasanya juga ditambahkan beberapa bahan
lain, misalnya kapur dan lempung yang fungsinya antara lain untuk megatur pH-nya
supaya sesuai dengan pH yang dibutuhkan oleh Rhizobia serta untuk memperoleh
tekstur bahan inokulan yang baik , mudah dikemas dan digunakan (Yuwono. T, 2006).

2.10. Aktivitas air (A w )

Aktivitas air adalah kebutuhan air untuk pertumbuhan mikroorganisme atau aktivitas
kimia air. Bakteri termasuk jenis bakteri yang tumbuh dengan cepat apabila keadaan
sekitarnya memungkinkan. Masing – masing jenis mikroorganisme membutuhkan
jumlah air yang berbeda untuk pertumbuhannya. Kebanyakan bakteri nonhalofilik
mempunyai tingkat pertumbuhan maksimum pada kisaran nilai A w 0,980 - 0,997,
bakteri halofilik masih dapat tumbuh pada nilai A w 0,750. Aktivitas air minimal
beberapa jenis mikroorganisme tertentu:
Organisme A w minimal
Sebagian besar bakteri 0,90
Sebagian besar khamir 0,88

Universitas Sumatera Utara